Anda di halaman 1dari 8

Akibat Diterlantarkan Pasien Jamkesmas Meninggal Medan,SHR Satu Lagi Pasien yang ditelantarkan pihak RSUP H Adam Malik

Medan, yang diman pasien tersebut peserta Jamkesmas, Roy Intan (1,2 bulan), warga Sei Semayang Lingkungan III, pasar baru, Sei Tualang Raso, Tanjung Balai akhirnya meninggal dunia, Jumat (26/3) sekira pukul 06.00 WIB.menurut ayah korban, Daud Tarihoran (35),korban sempat dirawat di rumah sakit milik pemerintah itu selama 16 jam. Anak ketiganya ini sebelumnya dirawat di RS Tanjung Balai, karena penyakit demam panas.Namun karena kondisi suhu panas tubuhnya sangat tinggi, membuat pasutri Daud dan Roslina Br Sirawat (33) merujuknya ke RSUP H Adam Malik Medan untuk mengobati penyakit anaknya. Dengan inisiatif bersama, Kamis (25/3) dinihari sekira pukul 02.00 WIB pasien yang menggunakan Jamkesmas ini pun sampai di RSUP Adam Malik dan langsung dibawa keruangan Instansi Gawat Darurat (IGD).Setelah mendapat perawatan di IGD, Roy pun dibawa keruangan Rindu B, Instalasi Anak lantai I. Namun karena perawatan RSUP H Adam Malik yang kurang memadai membuat Roy Intan meninggal dunia setelah dirawat selama 16 jam di RSUP H Adam Malik,Setelah beberapa jam dirawat diRuang rawat anak, pihak keluarga meminta agar anak ketiga tersebut dipindahkan ke IGD, namun akibat alasan penuh pihak rumah sakit menolaknya. Anakku sudah sesak nafas, aku panggil dokter untuk dirawat IGD tapi katanya penuh, ucap ibu beranak tiga ini. Menurut keterangan para pasien diruang anak Rindu B, Siti Fauziah, juga merasa kecewa atas pelayanan perawatan yang diberikan RSUP H Adam Malik. Dokternya malah marah-marah sewaktu minta dipindahkan ke

IGD.Sementara, Kabag Humas Dr Capah MKes didampingi Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi Br Saragih saat dikonfirmasi wartawan Jumat (26/3), mengatakan, pihak medis telah melakukan perawatan dengan maksimal dan kondisi pasien pun sudah memburuk saat masuk ke RS ini.Kondisi pasien tersebut sudah memburuk dan telah mengalami peradangan otak saat dirawat selama 16 jam lamanya di Ruang Rindu B bagian anak, ujarnya sambil berdalih.. ( Tarihoran ) http://www.swarahatirakyat.com/beritautama/akibat-diterlantarkan-pasienjamkesmas-meninggal Peserta Jamkesmas Gratis Berobat MEDAN - Kepala Dinas Kesehatan Medan Edwin Effendi menjelaskan bagi warga Medan yang betul-betul miskin masih punya kesempatan untuk mendapatkan kartu Medan Sehat. Hal ini diungkapkannya pada saat memimpin rapat koordinasi bersama pemilik rumah sakit provider Jamkesmas dan JPKMS (Medan Sehat), siang ini. Rumah sakit provider Jamkesmas dan Medan Sehat yang hadir di wilayah kerja Dinas Kesehatan mencapai 29 RS yaitu RS.Pirngadi dan 28 rumah sakit swasta antara lain RS.Siti Hajar, RSU Ameta Sejahtera, RS.Adven Medan, RS Mitra Sejati, RS.Sundari dan 4 Rumah Sakit di luar wilayah kerja Dinas Kesehatan kota Medan yaitu RS.H.Adam Malik, RS.Jiwa Medan, Balai Kesehatan Mata dan Balai Pengobatan penyakit paru-paru. Edwin menjelaskan lebih tegas

tentang kepesertaan Jamkesmas dan Medan Sehat telah disampaikan kepada seluruh rumah sakit yang sebelumnya melalui pemutakhiran data Jamkesmas dan Medan sehat. Rumah Sakit wajib memberikan pelayanan bagi masyarakat kota Medan yang mempunyai kartu Jamkesmas dan Medan Sehat dengan berdasarkan rujukan dari Puskesmas, kecuali emergensi (darurat). Bagi warga miskin yang tidak punya Jamkesmas dan Medan Sehat, boleh membawa surat pernyataan miskin dari camat setempat dan wajib dilayani. Tidak ada kutipan biaya apapun dari pihak rumah sakit kepada pasien misikin, dan tempat penginapan di ruang kelas 3. Jadi kalau ada pasien yang memakai kartu Jamkesmas dan Medan Sehat bisa nambah biaya kamar dan biaya obat-obatann, itu perlu dipertanyakan, dia belum tentu warga miskin yang mendapat kartu Jamkesmas ataupun Medan Sehat. Pihak Rumah Sakit harus membuat surat pernyataan apakah si pasien tersebut memakai Jamkesmas atau Medan Sehat, kalau ternyata si pasien itu tidak sebagai peserta Jamkesmas dan Medan Sehat pihak rumah sakit dapat menuntut pembayaran melalui pelayanan umum (bayar sendiri). Terhitung tanggal 1 April 2011 kartu baru Jamkesmas dan Medan Sehat telah dibagikan kepada warga, dan kartu lama tidak berlaku lagi, uajrnya.

http://waspada.co.id/index.php?option=com_ content&view=article&id=188164:pesertajamkesmas-gratisberobat&catid=14:medan&Itemid=27 Dua Bayi Tanpa Dinding Perut Dirawat di RSUP Adam Malik Medan Khairul Ikhwan - detikNews Selasa, 14/02/2012 04:17 WIB Medan Bayi laki-laki dan bayi perempuan yang lahir tanpa dinding perut kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Jl Bungalo, Medan, Sumatera Utara (Sumut). Kondisi kesehatan keduanya masih labil pada Senin (13/2/2012) malam. Bayi laki-laki berumur 4 hari yang belum diberi nama tersebut, merupakan buah hati pasangan Sunarji dan Supriati, warga Binjai, Kabupaten Langkat. Sedangkan bayi perempuan berusia 20 hari itu adalah anak pasangan Hasiholan dan Ferdinawati Sihite, warga Bahung Kahean, Kecamatan Dolok Batu Naga, Kabupaten Simalungun. Kedua bayi kini menjalani perawatan intensif di ruang perinatologi, lantai 2, RSUP Haji Adam Malik. Tim medis menempatkan bayi di box khusus dan mendapat bantuan pernafasan. Kakek bayi perempuan, Muchtar, mengatakan kelahiran cucunya berjalan normal atas bantuan bidan desa. Tidak ada tanda-tanda keanehan selama cucunya masih dalam kandungan. "Setelah lahir baru keluarga tahu si bayi lahir tanpa dinding perut. Selama kehamilan, tidak ada tanda-tanda keanehan," jelas Muchtar. Sementara Direktur RSUP Haji Adam Malik, dr Azwar Azmi menjelaskan, proses pembentukan dinding perut kedua tidak sempurna saat dalam kandungan (Ompalochele). "Bisa faktor genetik atau akibat bayi tidak mendapat asupan gizi saat dalam kandungan. Akibatnya, pembentukan seluruh organ tubuh bayi tidak sempurna," jelas Azwar. Kedua bayi lahir dari keluarga kurang mampu

dan menggunakan Jamkesmas untuk membiayai perawatan di rumah sakit tersebut. http://tribun.com/read/2012/02/14/041708/ 1841532/10/dua-bayi-tanpa-dinding-perutdirawat-di-rsup-adam-malik-medan

Pasien Jamkesmas Kecewa karena ditelantarkan di RSUP Adam Malik Medan Kompas.com LANGSA-Pasien Jamkesmas asal langsa yang dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik Medan, mengaku sangat kecewa atas pelayanan rumah tersebut, bahkan mareka dengan tegas menolak menerima rujukan dimaksud dan akhirnya terpaksa dibawa ke salah satu rumah sakit lain di Medan. Demikian keluhan keluarga pasien, Akramuddin,S.Sos, sekaligus Camat Birem Bayeun Aceh Timur kepada Rakyat Aceh, Minggu (8/1). Kekecawaan itu sungguh sangat berasalan. Pasalnya pasien askes rujukan Rumah Sakit Umum Langsa itu ditolak secara sepihak, walaupun sempat dibiarkan menginap semalam disalah satu ruangan. Namun keesokan harinya petugas rumah sakit Adam Malik meminta keluarga pasien untuk membawa pasien dimaksud keluar, dengan alasan para dokter disini tidak mau menangganinya. Menurutnya, ibundanya Hj Zainab pasien askes rujukan RSUD Langsa ke Adam Malik Medan dengan tidak tahu alasan yang jelas, mareka menolak melayani kami bahkan pihak petugas medis disana dengan kata-kata tidak enak didengar mengusir kami. \"Kalau tidak salah kami tiba di Rumah Sakit Adam Malik Medan sekira pukul 12.20 Wib, Rabu (4/1). Setiba disana terus dimasukan dalam ruangan IGD ini pun atas rujukan RSUD Langsa. Namun tiba-tiba mareka mengatakan pasien ini dibawa pulang saja dan berobat jalan.

Sementara kami binggung sengaja kita minta rujukan karena pasien sudah 4 hari lebih di RSUD Langsa belum ada perkembangan. Kok tiba-tiba disuruh obat jalan, namun kami tetap bersikeras untuk tetap dirawat dengan sedikit bersitegang akhirnya orang tua kami dibawa ke ruangan Rindu kelas 2 A.338. tanpa penanganan apapun dari pihak rumah sakit,\" ujarnya. Awalnya kami pikir karena sudah malam, para dokter sudah istirahat dan mungkin besok pagi baru ada penangganan. Namun alangkah terkejutnya kami lagi ketika keesokanan harinya tiba-tiba salah seorang petugas datang meminta kami keluar dari ruangan. Alasannya ruangan mau dipakai, sementara kami lihat ruangan lain kosong juga, kanapa kami yang disuruh keluar. Namun begitu kami tetap bertahan tidak mau, tetapi mareka terus memaksa bahkan sempat mengeluarkan katakata,percuma bapak disini, tidak ada dokter yang mau menanggani, ujar Akramudin meniru ucapan petugas medis di sana. Dengan perasaan yang pilu kami membawa keluar ibunda kami untuk dibawa ke salah satu rumah sakit di Medan. Namun tidak lagi mengunakan Askes. Ssemoga apa yang kami alami ini tidak terjadi lagi kedepan, karena sangat sakit ketika orang sakit mau berobat ditolak oleh rumah sakit. Padahal pasien tersebut salah seorang paserta jamkesmas, iImbuhnya. (ris) http://news.kompas.com/read/2008/02/14/0 41708/1841532/10/pasien-jamkesmas kecewa-karena-ditelantarkan-di-rsup-adammalik-medan

Akhirnya perawatan bagi Lisa Ramadani bayi menderita Cirrossis Hepatis terwujud . Okt 14 Posted by Reza Lubis

Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabaran akhirnya Lisa Ramadani bayi menderita Cirrosis Hepatis asal Bukit Lawang,Langkat mendapat kepastian akan kelanjutan perawatannya. Setelah melalui berbagai proses pencarian pembiayaan pengobatan terhadap Lisa Ramadani Bayi berusia 1 tahun putri dari pasangan Usman Ginting dan Sada Kata Br Sitepu penduduk Susun IV Wisata Desa Timbang Jaya Kecamatan Bohorok Kabupaten Langkat Sumatera Utara,akhirnya mendapat titik terang Lisa Besok hari Jumat tanggal 15 September 2010 dirujuk serta dirawat di RSUP H.Adam Malik,Medan.Keberangkatan Lisa dengan didampingi Ayah Bundanya,diantar oleh pihak Puskesmas Bukit Lawang yang menyediakan transportasi (Mobil Puskesmas Keliling) beserta tenaga medis yg mendampinginya.Puskesamas Bukit Lawang yang di kepalai oleh Drg.Ernani yang selama ini setiap seminggu sekali menerima kunjungan Sada Kata br.Sitepu memantau serta memeriksa kondisi Lisa dengan peralatan seadanya dan di Puskesmas inilah Lisa kerap menerima asupan gizi melalui makanan tambahan bayi dan susu.Lisa sampai saat ini hanya bisa mengkonsumsi susu formula sedikitnya selain itu Lisa tdak mampu mengkonsumsi makanan lain wa;laupun hanya sepotong roti Lisa sudah tidak mampu menghabiskannya. Dirujuk dan dirawatnya Lisa Ramadani ke RSUP H.Adam malik,Medan,mengunakan fasilitas pembiayaan kesehatan yang dikelola oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara,Jaminjan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) setelah sebelumnya di

upayakan untuk menggunakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) yang di kelolah oleh DEPKES RI,tetapi dikarenakan orang tua Lisa ,Usman Ginting tidak terdata didalam data base masyarakat tidak mampu yang berhak menerima layanan Jamkesmas maka dengan sendirinya Usman Ginting beserta keluarga tidak dapat menggunakan fasilitas tersebut.Akhirnya dengan bantuan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat (Drs.Ponidi Aswa) di pergunakanlah fasilitas pembiayaan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu yang dikelola oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. setelah sebelumnya Komisi E DPRD Sumatera Utara yang di ketuai oleh Brilian Moktar,SE mengeluarkan rekomendasi Penanganan pasien tidak mampu atas nama Lisa untuk dapat dilayani penanganan kesehatan dan pembiayaannya. Berbekal surat rekomendasi komiosi E DPRD Sumatera Utara dan surat keterangan tidak mamapu dari Kepala Desa Timbang Jaya Kecamatan Bohorok serta surat keterangan yang menerangkan keluarga Usman Ginting tergolong keluarga tidak mampu dan bermaksud berobat ke RSUP H Adam Malik yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat diajukanlah ke Bupati langkat melalui bagian Kesejahtraan Sosial (Kessos) kantor Bupati langkat untuk di terbitkan rekomendasi bahwa Lisa Ramadani berasal dari keluarga tidak mampu sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu yang di kelola oleh pemerintah propinsi Sumatera Utara (Jaminan Kesehatan Daerah=Jamkesda).

Setelah beberapa hari kemudian didapatlah surat rekomendasi Bupati Langkat tersebut,kemudian didapat informasi bahwa Bapak Usman Ginting telah mengajukan proposal bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Langkat,proposal tersebut difasilitasi oleh staff kantor camat Bohorok ibu Herawati dan diajukan pada tanggal 29 Juli 2010,berdasarklan informasi tersebut pada tanggal 8 Oktober 2010 diupayakanlah untuk mencari keterangan dan menjejaki proposal tersebut,akhirnya didapat informasi proposal tersebut telah disetujui dan menunggu diambil.Atas dasar informasi yang di peroleh tersebut kemudian dihubungi staff kantor Camat yang memfasilitasi proposal tersebut

dan disampaikan bahwa proposal bantuan tersebut telah di setujui dan dimintakan segera diambil menginggat kondisi Lisa yang semakin menurun. Akhirnya setelah segala sesuatunya telah rampung dan dilengkapi,Lisa Ramadani bayi yang menderita Cirrosis hepatis direncanakan besok Jumat tanggal 15 September akan dibawa untuk dirujuk serta dirawat dengan menggunakan fasilitas pembiayaan bagi masyarakat tidak mampu Jamkesda propinsi Sumatera Utara dan semoga Lisa mendapat perawatan yang terbaik bagi penyembuhan penyakitnya.amin. Terima kasih diucapkan kepada pihak pihak yang telah membantu terlaksananya hal tersebut diatas dan berempati kepada ananda Lisa Ramadani bayi berusia 1 tahun ((lahir pada tanggal 4 September 2009) yang menderita Cirrosis Hepatis,diantaranya : - Rekan rekan Faceboker dan Blogger yang dari awal senantiasa memberikan dukungan dan empatinya - Bapak Brilian Moktar,SE dan seluruh anggota Komisi E DPRD Sumatera Utara - Bupati Langkat dan pemerintah Kabupaten Langkat yang telah membantu terlaksananya proses pembiayaan tersebut - Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat terutama Drs.Ponidi Aswa Staff Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat - Drg Ernani Kepala Puskesmas Bukit Lawang Kecamatan Bohorok beserta paramedisnya yang senantiasa menerima dengan baik setiap kunjungan Lisa dan orang tuanya ke Puskesmas Bukit Lawang - Camat dan staff Kecamatan Bohorok terutama ibu Herawati staff kantor camat Bohorok - Ir.Waluyo Komisioner KPAID Langkat - Menanti Ginting,SE wartawan harian orbit Medan dan semua pihak yang membantu Lisa Ramadani. ANAK BANGSA : JANGAN PERNAH MENYERAH..DAN TETAP PEDULI http://rezalubis.wordpress.com/category/lisaramadani-10-bulan-penderita-gagalhati/page/2/

DPRDSU Nilai Pelayanan RS Adam Malik Belum Maksimal

MEDAN (Waspada): DPRDSU menilai Rumah Sakit Umum Pusat (RSU) H. Adam Malik belum maksimal melaksanakan fungsi pelayanannya. Indikasinya, bukan saja karena banyak keluhan masyarakat, tapi juga pilihan masyarakat berobat ke luar negeri.

Selasa (27/9), Komisi E DPRDSU melakukan rapat dengar pendapat dengan pengelola RSUP H.Adam Malik. Rapat yang dipimpin Rahmiana Delima Pulungan itu dihadiri Dirut RSUP H. Adam Malik Dr. Azwan Hakmi Lubis, SpA, M.Kes. Dia didampingi sejumlah direktur rumah sakit tersebut dan jajaran Dinas Kesehatan Sumut.

Anggota Komisi E Zulkifli Husein berharap, ke depan pengelola RSUP H. Adam Malik harus meningkatkan perannya. Terutama dalam bidang pelayanan dan penanganan penyakit.

RSUP H.Adam Malik, merupakan rumah sakit kelas A dengan fasilitas paling lengkap di Sumut dan Aceh. Tidak ada rumah sakit yang memiliki peralatan paling lengkap dibanding rumah sakit ini.

Sayangnya, sebut Zul Husein, pelayanan yang diberikan rumah sakit ini masih terbilang buruk. Indikasinya adalah banyak keluhan pasien dan tidak terbatasinya masyarakat berobat ke luar negeri.

Saat Komisi E melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Kesehatan, menurut Zul Husein, diperoleh informasi bahwa tugas utama RSUP H. Adam Malik bukan saja untuk menampung masyarakat miskin, tapi juga untuk membatasi masyarakat berobet ke luar negeri. Sekarang, masih banyak masyarakat ke luar negeri. Itu artinya peran

RSUP H. Adam Malik belum maksimal, katanya.

Anggota Komisi E lainnya Sopar Siburian mengatakan, sampai saat ini dewan masih apriori menilai kinerja RSUP H. Adam Malik. Karena pelayanannya memang belum baik. Dari data yang dimiliki dewan, setiap hari ada 45 pasien meninggal di rumah sakit itu.

Sebagai rumah sakit pendidikan, RSUP H. Adam Malik tidak pernah dijadikan sebagai alasan rendahnya kualitas pelayanan. Sampai sekarang, fungsi itu masih berjalan, karena rumah sakit USU belum beroperasi. Tidak pernah kita sebutkan itu sebagai alasan. Lagi pula, di RSUP H. Adam Malik, coass (mahasiswa praktik) tidak diizinkan menangani pasien, kata Rasyid.

Menurut Sopar, berbagai alasan diutarakan pihak rumah sakit untuk mengklarifikasi kritikan masyarakat terhadap kualitas pelayanan itu termasuk fungsi rumah sakit yang ganda. Selain sebagai pelayanan kesehatan, juga berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan. Sekarang USU sudah punya rumah sakit sendiri untuk pendidikan. Apakah alasan itu masih tetap sama, kata Sopar.

Tentang masih banyaknya masyarakat berobat ke luar negeri, Ketua Komite Medik RSUP. H Adam Malik Sally R Nasution mengatakan, hal itu terjadi karena pasien yang menderita penyakit berat membutuhkan adanya pernyataan dokter yang menyebut tidak perlu cuci darah atau operasi. Karena itu, mereka mencari alternatif ke luar negeri. Namun banyak yang kemudian kembali lagi, karena penanganannya memang harus melalui operasi atau cuci darah.

Menjawab ini, Direktur SDM RSUP H. Adam Malik dr. M.Nur Rasyid Lubis, SpB, FINACS mengakui peralatan yang mereka miliki terbilang lengkap. Namun, dibanding jumlah pasien yang membutuhkan peralatan tersebut, dinilai masih kurang. Mungkin, inilah kemudian yang masih dirasakan masyarakat sebagai kurangnya pelayanan pihak rumah sakit.

Salah satu contoh, sebut Rasyid, peralatan penyakit kanker. Menurutnya, RSUP H. Adam Malik kini menjadi pusat pelayanan kanker di Sumut. Hanya RSUP H. Adam Malik yang memiliki alat kemoterapi penyakit kanker.

Untuk diketahui, kata Sally, RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit rujukan. Banyak pasien yang masuk dengan kondisi penyakit sudah kronis. Dengan kondisi ini, umumnya pasien berpendapat bahwa cuci darah atau operasi adalah jalan terakhir. Mereka mengharapkan keterangan dokter yang menyatakan tidak perlu cuci darah atau operasi. Rapat dengar pendapat itu juga membahas masalah anggaran Dinas Kesehatan, terutama pada pos dana talangan untuk program Jamkesda. Anggota dewan Ricard Eddi M Lingga, berhadap Dinas Kesehatan mengakomodir seluruh pasien miskin. Tidak ada lagi masyarakat yang tidak tercover dalam program Jamkesmas atau Jamkesda. (m12) http://www.waspadamedan.com/index.php? option=com_content&view=article&id=14494 :dprdsu-nilai-pelayanan-rs-adam-malikbelummaksimal&catid=51:medan&Itemid=206

Karena itu, kata Rasyid, sangat banyak penderita penyakit kanker berobat ke RSUP H. Adam Malik. Sementara, kemampuan alat kemoterapi itu hanya 40 orang setiap hari. Dengan kapasitas itu, pasien yang sudah berobat baru bisa dilayani kembali pada bulan berikutnya. Kemungkinan ini membuat masyarakat kurang puas. Jadilah kita disebut kurang melayani, katanya.

Pasien Jamkesmas Dipungut Biaya Darah Medan, (Analisa). Manajemen Rumah Sakit Umum (RSU) Adam Malik Medan memungut biaya pelayanan darah dari pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Untuk 8 kantong kebutuhan, pasien membayar Rp2.040.000. Pasien Riska Aprilia, 14 warga Jalan Bukit Mas Lingkungan VI Bahagia Kel Perdamaian Kec Stabat Kab Langkat. Dia didiagnosis menderita tumor pada kaki kirinya. Rizka menjalani perawatan sejak, Kamis (6/10) dirawat di ruang Rindu II. Ayah Rizka, Supriyanto (41) menuturkan, pungutan itu dilakukan dengan pembelian 8 kantung darah. Ia diharuskan membayar Rp2 juta. "Awalnya saya bayar Rp1 juta dulu, yang Rp1 juta lagi saya susul bayarnya," ungkapnya. Kuitansi pertama, tertulis pembayaran untuk darah 4 kantong golongan B, senilai Rp 1.020.000 diterimanyu tertanggal 6 Oktober 2011 yang ditandatangani petugas RSU Bandung atas nama Mar Bangun. Kuitansi kedua untuk kebutuhan empat kantong darah golongan B juga sama yang dibayarkan, Sabtu (8/10). Padahal, Rizka siswi SMP Negeri 2 Stabat kelas 9 itu, tercatat sebagai peserta Jamkesmas dengan nomor 0000332544003. Pembayaran tersebut dipertanyakannya kepada petugas kasir. Namun, ketika itu jawaban kasir karena darah memang tidak ditanggung Jamkesmas. "Saya sudah tanyakan, harusnya Jamkesmas tidak bayar untuk darah. Tapi, kasirnya mengatakan, di rumah sakit mereka darah di luar tanggungan Jamkesmas. Jadi, terpaksa saya bayar," ungkapnya. Supriyanto yang keseharian berdagang es keliling itu akhirnya membayar juga. Hari

ketiga, sudah 6 kantong darah yang digunakan. Jatuh dari Sepeda Menurutnya, tumor itu diderita anak pertamanya dari tiga bersaudara itu sejak Maret 2011 lalu. Ketika itum Riska jatuh dari sepeda dan diurut. Namun kondisinya tidak sembuh. Dalam kondisi bengkak dan berjalan pincang, Riska tetap sekolah. Tapi, lama kelamaan, kakinya makin bengkak. Riska dibawa ke RSU Imelda Pekerja Indonesia Jalan Bilal. Hasilnya, dokter menyarankan agar kaki Riska diamputasi. Karena tak mau kehilangan satu kaki anaknya, Suprianto mencoba pengobatan alternatif. Perkembangan tidak ditunjukkan dari hasil pengobatan itu. Lalu Riska dibawa ke rumah sakit Bandung. Tapi, karena harus berobat jalan dan tidak ada uang, sempat berhenti pengobatan. Selama dalam pengobatan tersebut, lanjut Supriyanto, sudah menghabiskan Rp10 juta. Dana tersebut diperolehnya dari pinjaman kepada teman dan keluarganya. "Sepeda motor yang saya gunakan untuk jualan es saya jual. Begitu juga televisi sudah saya jual," ujarnya. Langgar Kepala Bidang Jaminan Sarana Kesehtan Dinkes Sumut Agustama menegaskan, tindakan memungut biaya kepada pasien Jamkesmas tidak dibenarkan. Termasuk pelayanan kantong darah yang jelas ditanggung klaimnya dalam Jamkesmas. Petugas RS telah melanggar ketentuan. Dimana, peserta tidak dibebankan untuk pembelian darah. "Pasien tidak dikenakan biaya apa pun yang dilayani dalam Jamkesmas," tegasnya. Ketua Unit Donor Darah PMI Medan Delyuzar menjelaskan, hal yang sama.

peserta Jamkesmas tidak dibebankan biaya untuk pembelian darah. Jika pasien atau keluarga datang ke PMI membawa surat rujukan dari rumah sakit sebagai pasien Jamkesmas, maka tidak ada pembayaran kantong darah. "Kita tidak tahu apa rumah sakit itu meminta darah untuk pasien Jamkesmas atau tidak," jelasnya http://www.analisadaily.com/mobile/read/?i d=16386

Sehat. Hanya saja menurutnya, pasien kecelakaan memang tidak ditanggung Medan Sehat. "Itu aturan dari dinas kesehatan, kalau kecelakaan tidak ditanggung Medan Sehat. Tapi kalau kata dinas kesehatan oke, ya kita oke saja. Silahkan pertanyakan hal itu ke dinas kesehatan," ucapnya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi mengklaim, semua layanan kesehatan termasuk kecelakaan ditanggung dalam JPKMS. "Siapa bilang tidak ditanggung, semuanya ditanggung termasuk kecelakaan. Kecuali sudah ditanggung Jasa Raharja, itu tidak kita tanggung lagi. Supaya tidak tumpang tindih," tegas Edwin. Pengamat kesehatan, Destanul Aulia menilai, seharusnya Pemko Medan tidak setengahsetengah dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. "Kecelakaan itu bagian dari kesakitan yang dialami masyarakat, oleh karenanya juga harus ditanggung dalam JPMKS. Dalam memberikan pelayanan tidak setengah-setengah, harus total coverage," ungkapnya. Menurutnya, pelayanan JPMKS harus dilakukan monitoring dan evaluasi agar ada perubahan dalam pelayananannya. Berdasarkan monitoring dan evaluasi tahun lalu katanya, banyak masyarakat yang tidak puas dengan pelayanan JPMKS karena coverage tidak menyeluruh, pengurusannya berbelit-belit, data base tumpang tindih.

RSU Adam Malik Tahan Pasien Miskin


MEDAN, KOMPAS.com - Rumah Sakit Umum (RSU) Adam Malik Medan menahan kepulangan Siti Afiani (14) pasien pemilik kartu Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS) dengan alasan kecelakaan yang dialami korban tidak masuk tanggungan asuransi kesehatan yang dilayani Pemko Medan itu. Siti merupakan anak dari Anas (32) warga Jalan Protokol, Kecamatan Medan Belawan. Dia mengalami kecelakaan pada 14 April lalu, mengalami patah tulang parah dibagian bahu kanan sehingga harus dirawat di ruang Rindu A selama 15 hari dirawat dirumah sakit yang sedang proses akreditasi internasional tersebut. "Kondisinya sudah baikan maka kami memutuskan untuk pulang. Tapi, kita disuruh bayar hampir Rp 5 juta, padahal sudah menunjukkan kartu Medan Sehat. Katanya, kecelakaan tidak ditanggung," kata Anas, Senin (30/4/2012). Anas mengaku, sudah coba meminta keringanan kepada pihak rumah sakit, bahkan bersedia menyicil biaya perawatan. "Sekarang saya hanya punya uang Rp 400 ribu, saya sudah minta keringanan dengan mencicil tapi tidak dibolehkan. Kalau menunggu besok pulang, pasti biayanya akan lebih besar, katanya harus ada memo dari dinas kesehatan," ujarnya. Sementara, pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan Medan terkesan saling lempar bola. Dirut RSU Adam Malik, Dr Azwan Hakmi Lubis mengatakan tidak pernah pihaknya menahan pasien, apalagi pasien yang memiliki kartu Medan

http://regional.kompas.com/read/2012/04/3 0/20585014/RSU.Adam.Malik.Tahan.Pasien.M iskin