Anda di halaman 1dari 4

Konflik Percintaan Mahasiswa sebagai Ciri Khas Novel Populer dalam Novel Cintaku di Kampus Biru Karya Ashadi

Siregar

Dari Curiculum Vitae pada sebuah media maya ashadisiregar.wordpress.com menyatakan bahwa Ashadi Siregar pernah berprofesi sebagai dosen tetap jurusan Publisistik/Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (19702010). Salah satu latar belakang pekerjaannya tersebut memengaruhi tema dalam salah satu novel karangan Ashadi. Cintaku di Kampus Biru dilahirkan oleh pengarang pada tahun 1987 sebagai pelopor novel populer Indonesia. Topik utama percintaan menghiasi alur Cintaku di Kampus Biru ini. Kisah melankolis para tokoh sebagai mahasiswa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,

diciptakan pengarang bisa dikatakan sebagai pencerminan pemikiran dan gaya hidupnya di masa lalu. Pengarang mengenyam pendidikan di Fakultas Sosial dan Politik Spesialisasi Ilmu Publisistik/Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1970. Latar belakang pendidikan tersebut menjadi unsur intrinsik novel Cintaku di Kampus Biru. Hal tersebut dibuktikan dengan latar tempat kampus UGM, Yogyakarta, pemondokan mahasiswa, taman kampus, dan lingkungan sekitar kampus yang memang dialami langsung pengarang sebagai alumni dan dosen. Latar tempat menghiasi alur novel ini memiliki situasi yang beragam berupa latar suasana sebagai pemicu konflik. Unsur ekstrinsik novel ini pun dilatarbelakangi oleh pengalaman pendidikan pengarang. Konflik percintaan sebagai nilai sosial dalam alur menyatakan pencerminan kehidupan mahasiswa di lingkungan hidup pengarang. Penilaian, pengamatan, dan partisipasi mengenai kehidupan kampus yang diisi oleh dosen, rekan mahasiswa, saingan, kedudukan, tugas, organisasi, cita, hingga masalah hati merupakan sama sekali yang dialami pengarang secara langsung sebagai mahasiswa. Hal-hal yang terjadi dalam novel merupakan fenomena kehidupan biasa yang dialami manusia terpelajar. Kenyataan bahwa mahasiswa harus memenuhi tugas, mematuhi dan menghormati dosen, mengambil peran di lingkungan pendidikan digambarkan melalui tokoh Anton Rorimpandey. Perwatakan dan pembawaan tokoh masyarakat di lingkungan pendidikan juga memengaruhi alur dalam novel sebagai pemicu ragam konflik antartokoh. Anton yang diciptakan tampan, cerdas, ambisius, dan supel oleh pengarang menjadi faktor kemunculan nilai psikologi tokoh lain. Pernyataan-pernyataan di atas dibuktikan dengan tokoh Anto memiliki perawakan ciri laki-laki ideal memudahkan dirinya mendapatkan mahasiswi dan menjalin hubungan istimewa. Macam-macam sifat dan perilaku mahasiswi yang pernah menjalin hubungan istimewa dengannya menggambarkan ketrkaitan peranan dengan kepopuleran tokoh sebagai ikon. Maka, muncullah teori labeling untuk Anton sebagai playboy atau Don Juan. Watak Anton yang mencerminkan laki-laki idaman para wanita dapat dipastikan dengan otaknya yang cerdas handal menaklukan wanita. Apalagi di zaman modern yang identik dengan stigma populer sudah dipastikan cenderung berganti-ganti pasangan. Di sinilah kritisnya pengarang mencungkil detil masalah bagaimana mahasiswa bertindak. Ashadi yang dirinya alumni lantas menjadi dosen mengerti betul bagaimana kehidupan kampusnya terutama kehidupan para penggeraknya, mahasiswa. Maka, konflik

sosial yang terjadi pada tokoh Anton mengenai kisah percintaan dan karirnya diciptakan oleh Ashadi saling berkaitan. Cita-cita Anton memengaruhi kisah cintamya, begitu sebaliknya. Hal tersebut dibuktikan dengan alur Cintaku di Kampur Biru membawa Anton sang Don Juan yang intelek pada dilema. Masalah kuliahnya dengan seorang dosen, Bu Yusnita, dan jangka studinya yang semakin mepet, sementara kekasihnya di Medan, Marini, minta diperhatikah untuk segera di nikahi. Permasalahan lain dihadapi Anto urusan organisasi intrakampus perebutan posisi ketua dewan mahasiswa tingkat universitas atau pun ketua senat mahasiswa lingkup fakultas. Keadaan-keadaan tersbut membuat Anton tertekan. Hal Ini yang mengaitkan nilai psikologi dengan nilai sosial berupa hubungan antara aspek peran dan kepopuleran tokoh dalam Cintaku di Kampur Biru. Stigma populer dalam novel ini tentu tidak kepas dari konflik sosial yang dibawa dari aspek psikologi tiap-tiap tokoh dalam novel berupa masalah-masalah percintaan. Lantas Anton seolah-olah menerapkan teori labeling yang melekat pada dirinya. Anton mencari hiburan kepada tokoh Erika. Wanita yang ditemuinya di perpustakaan. Gadis jelita, supel, dan lemah lembut menggambarkan sosok wanita idaman. Tidak bisa dipungkiri Anton menjadi sosok laki-laki yang mengisi kesepian Erika. Gadis mana yang tidak resah ditinggal jauh kekasih menuntut ilmu ke Allemani melanjutkan studi magister. Dengan adanya kedekatan tersebut, Erika mulai jatuh hati pada Anton. Mereka merasa saling terisi dan terhibur. Pada awal hubungan kedua sejoli tersebut mendapat tanggapan tidak baik dari ibunya Erika. Orang tua ini tidak menyetujui hubungan erat yang dijalankan Anton dan Erika. Namun, ciri populer yang diciptakan pengarang tetap memunculkan masalah kehidupan yang lebih intens. Terjadi perselisihan Anton dan Erika yang bisa jadi menjurus kepada kesalahpahaman. Ibunya Erika menemui Anton agar meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat Anton, lantas meminta kembali menemui Erika. Namun, Anton merasa terhina atas permintaan Ibunta Erika tersebut. Anton belum sudi untuk menemui Erika di rumahnya. Begitu alur mengalir terjadi gejala kehidupan yang tidak logis mengenai sikap yang dilakukan Ibunya Erika dan sifat gengsi Anton merupakan salah satu ciri novel populer yang ditonjolkan pengarang melalui novel ini. Pengarang tahu betul kehidupan mahasiswa membawa permasalahan pertemanan dan perdemenannya kepada orang tua. Selalu ada ego dari tiap-tiap tokoh. Corak yang berkembang dari tema utama cenderung klise. Masalah yang

dimunculkan selalu sama. Percintaan segitiga, dengan lain hati, mendua, tidak teguh terhadap satu hati menjadi topik dari tema. Begitulah esensi novel populer sehingga mudah dipahami pembaca dekat dengan kehidupan imajinasi pembaca. Suasana greget yang dimunculkan pengarang datang dari masalah yang muncul selalu sama dan terlalu umum. Hal tersebut hingga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca Mengapa, sih, harus kaya gini terus? Itulah yang pasti umum dirasakan para pembaca dan selalu disenangi. Pengarang memunculkan atau bisa dibilang menyelipkan tokoh kekasih Erika yang melanjutkan studi ke Jerman sebagai bumbu yang memicu konflik. Dalam stigma populer tokoh demikian merupakan gambaran laki-laki bergengsi karena sekolah di luar negeri. Partisipan dalam konflik ini menggugah fantasi pembaca. Pembaca terbawa hingga membayangkan dan menginginkan memiliki kekasih yang demikian. Pembaca diajak ikut merasakan kesenangan yang dialami tokoh Erika. Begitu juga dilemanya dengan rasa menyaayangkan dan menyesalkan jika melepaskan sosok laki-laki bergengsi. Kemudian juga mengenai bersatunya Anton dan Erika di akhir cerita merupakan tujuan dan fokus utama novel populer menghibur pembaca.

Anda mungkin juga menyukai