Anda di halaman 1dari 2

B.

analisis hukum islam terhadap praktik pembuatan karya tulis ilmiah akademik di yogyakarta Sebagaimana analisis yang telah di urai sebelumnya, penyusun lebih condong mengatakan bahwa akad yang terjadi pada praktik pembuatan karya tulis ilmiah akademik di yogyakarta adalah akad ijaroh. Ijaroh sendiri telah disyari'atkan dalam Islam, karena pada dasarnya manusia senantiasa terbentur pada keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, manusia antara yang satu dengan yang lain selalu terikat dan saling membutuhkan. Ijarah merupakan salah satu aplikasi keterbatasan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu boleh dikatakan bahwa pada dasarnya itu adalah salah satu bentuk aktivitas antara dua pihak atau saling meringankan, serta termasuk salah satu bentuk tolong menolong yang diajarkan agama. Dalam pelaksanaan suatu perbuatan, peraturan atau tindakan haruslah sesuai dengan kaidah islam yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Karena pada dasarnya segala perintah Agama ditetapkan untuk kebaikan (maslahah) baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, semua larangan agama ditetapkan semata-mata untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk kerusakan (mafsadah/madharat) dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pada bab pendahuluan telah disingung bahwa secara normatif, dalam peraturan akademik perguruan tinggi terdapat larangan pembuatan ataupun meminta orang lain untuk membuatkan karya tulis ilmiah akademik. Terlepas dari permasalahan akad, penyusun menimbang bahwa praktik jasa pembuatan karya tulis ilmiah akademik di yogyakarta baik pembuatan secara total (keseluruhan), per bab dan revisi, merupakan kecurangan berupa penipuan yang berimplikasi terjadinya pelanggaran kaum akademisi terhadap aturan perguruan tinggi yang bersangkutan. Islam melarang segala bentuk penipuan yang dapat merugikan pihak lain. Hadist nabi secara jelas melarang adanya penipuan seperti: Melihat dari proses pembuatan karya tulis ilmiah akademik yang terjadi di yogyakarta, bahwa sebetulnya antara penyedia jasa dan konsumen telah sama-sama mengetahui akan tujuan diadakannya akad tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut terdapat kaidah fiqhiyah sebagai berikut: Artinya: segala sesuatu itu tergantung pada tujuannya. Dalam kaidah ini, niat mempunyai konsekuensi bahwa apa saja yang terkandung dalam hati, dapat menentukan nilai dan status hukum amal yang akan maupun telah dilakukan seseorang. Oleh karena itu, terkait tujuan diadakannya objek akad tersebut telah jelas bahwa akan ada pihak yang akan dirugikan, dalam hal ini adalah perguruan tinggi. Kaitannya dengan tujuan objek akad pembuatan karya tulis ilmiah akademik, penyususn memandang bahwa akad tersebut ialah termasuk suatu tujuan yang membawa kemadharatan (dzariah). Menurut Imam al-syathibi bahwa dari segi kualitas kemafsadatannya akad tersebut tergolong perbuatan yang biasanya atau besar kemungkinan membawa kepada kemafsadatan. Oleh karena itu akad seperti ini dilarang, karena dugaan keras (zhann al-ghalib) bahwa tujuan (qashd) dalam hal ini membawa kemafsadatan yakni pelanggaran akademik (penipuan)1 dengan alasan yang terdapat dalam kaidah fikih, berbunyi: Artinya: Menolak mafsadah didahulukan daripada meraih maslahat. Jika dilihat dari motif konsumen, boleh jadi akad tersebut merupakan kemaslahatan untuk dirinya sendiri, karena dapat meringankan kewajibannya sebagai akademisi. Akan tetapi di sisi lain ada pihak yang dirugikan, tentunya mengakibatkan adanya madharat. Konsep kaidah asasi dalam fiqih menegaskan bahwa segala bentuk tindakan yang menimbulkan madharat harus dihilangkan, yakni berbunyi: Dhororu yuzalu Nabi bersabda: la dhororo...

1 Nasrun haroen. Hlm163.

: : . :