Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KIMIA LINGKUNGAN GREEN CHEMISTRY (KIMIA HIJAU)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Isu tentang polusi, limbah, pemanasan global sering diberitakan dalam media masa. Di era modern ini, isu-isu tersebut menjadi isu yang sensitif. Peningkatan kadar polutan yang relatif besar, membuat pembuat kebijakan, aktivis lingkungan dan juga masyarakat umum mulai memikirkan masa depan bumi ini. Hal ini melahirkan istilah ramah lingkungan. Dewasa ini, hampir setiap kegiatan, baik kegiatan sosial maupun industri, dituntut untuk memenuhi kriteria ramah lingkungan. Kimia merupakan salah satu disiplin ilmu yang memegang peranan penting dalam menentukan keberlanjutan kehidupan manusia di Bumi. Kondisi pembangunan industri dan kondisi saat ini masih didominasi oleh ketergantungan pada penggunaan sumber daya alam yang sebagian besar merupakan sumber daya yang tidak terbaharukan. Pembangunan selanjutnya mengganti sumber daya yang diambil dari lingkungan dengan limbah yang seringnya tidak ramah lingkungan, dan akhirnya membahayakan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Baru dalam beberapa tahun belakangan ini, Ilmu Kimia dipandang sebagai salah satu ilmu dasar yang sangat diperlukan untuk mengatasi dan kemudian menghentikan timbulnya permasalahan lingkungan dalam rangka menunjang pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan atau pembangunan lestari. Kesinambungan dalam ilmu dan teknologi dimulai ketika kita mulai berfikir bagaimana untuk memecahkan masalah atau bagaimana untuk mengaplikasikan ilmu ke dalam teknologi. Kimia sebagai ilmu dari materi dan transformasinya, berperanan penting dalam proses ini dan menjembatani ilmu fisika, material dan hayati. Hanya proses kimia yang telah dicapai melalui optimasi yang hati-hati-maksimum dalam efisiensi, akan membawa pada produksi dan produk yang berkesinambungan. Ilmuwan dan teknokrat, yang menemukan, mengembangkan dan mengoptimasi proses tersebut, oleh karenanya mereka memegang peranan penting. Kepedulian, kreativitas dan pandangan ke depan mereka dibutuhkan untuk menghasilkan reaksi dan proses kimia dengan efisiensi maksimum. Term "Kimia Hijau" telah digunakan untuk usahausaha mencapai tujuan ini Pertumbuhan industri kimia yang ramah lingkungan semakin dibutuhkan. Kecenderungan tersebut dikenal dengan istilah green chemistry atau teknologi berkesinambungan. Green chemistry muncul karena adanya pergeseran paradigma konsep tradisional tentang efisiensi konsep yang berfokus utama pada hasil reaksi kimia, yang secara ekonomis bisa mengeliminasi limbah dan menghindari pemakaian material yang bersifat toksik dan atau berbahaya. Aktivitas green chemistry diformulasikan sebagai usaha pemakaian bahan dasar (terutama yang dapat diperbaharui) secara efisien, penghilangan limbah dan penghindaran pemakaian reagen dan pelarut yang bersifat toksik dan atau berbahaya dalam industri dan aplikasi produk kimia.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah yang dimaksud dengan Green Chemistry (kimia hijau)? 2. Bagaimana konsep dari kimia hijau serta penerapannya sebagai upaya menanggulangi permasalahan dimasa mndatang?

1. Tujuan Penulisan Tujuan disusunnya makalah untuk menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Selain itu penyusunan ini juga untuk membuka jendela pengetahuan tentang green chemistry (kimia hijau) yang ada saat ini. Harapan penulis adalah agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi meraka yang membutuhkan untuk referensi ataupun bahan bacaan semata.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Green Chemistry Green chemistry (kimia hijau) adalah desain produk kimia dan proses yang mengurangi atau menghilangkan penggunaan atau generasi zat berbahaya. Green chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan produksi zatzat (substansi) toksik dan atau berbahaya. Konsep green chemistry berkaitan dengan Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, dan Kima Analitik. Bagaimanapun juga, konsep ini cenderung mengarah ke aplikasi pada sektor industri. Patut digarisbawahi di sini, bahwa green chemistry berbeda dengan environmental chemistry (Kimia Lingkungan). Green chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan, environmental chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia (Nurma, 2008).

2.2 Konsep Green Chemistry a) Lebih mengedepankan usaha mencegah timbulnya limbah dibanding usaha menangani limbah yang dihasilkan dalam proses produksi. b) c) d) e) f) g) Ekonomi atom Mengurangi pemakaian bahan kimia barbahaya dan atau toksik Mendesain produk yang lebih ramah lingkungan Meningkatkan usaha penggunaan pelarut dan bahan kimia lain yang tidak berbahaya Mendesaian pemakaian energi yang efisien Lebih mengutamakan penggunakan bahan dasar yang dapat diperbaharui.

h) Melakukan proses sintesis yang relatif lebih pendek (menghindari proses penurunan hasil sintesis) i) j) k) l) Mengutamakan reaksi katalisis dibandingkan reaksi stoikiometrik Mendesain produk yang dapat didegradasi (didaur ulang) Melakukan metode analitik pada usaha pencegahan polusi Minimalisasi potensi kecelakan kerja.

Berdasar prinsip tersebut, fokus utama green chemistry yang juga menjadi fokus utama penelitian dewasa ini adalah: a) Rute alternatif proses sintesis yang didasarkan pada efisiensi atom, dapat dicapai dengan pemakaian katalis dan biokatalis, proses sintesis alami (misalnya fotokimia dan elektrokimia) b) Kondisi reaksi alternatif yang didasarkan pada pemakaian pelarut yang mempunyai dampak kecil terhadap lingkungan, menaikkan selektifitas dan menurunkan jumlah limbah dan emisi yang dihasilkan. c) Desain, penggunaan dan produksi bahan kimia yang relatif tidak toksik yang bisa menurunkan potensi kecelakaan. d) Pemakaian bahan dasar dan reagen yang bisa meninggalkan ketergantungan pada bahan bakar minyak. e) Evaluasi bahaya yang ditimbulkan oleh proses kimia, produk kimia dan reagen serta produk samping. Green chemistry ditujukan pada dampak produk dan proses industri terhadap lingkungan. Prinsip utama dalam green chemistry adalah mencegah lebih baik daripada mengobati, sehingga tujuan Green chemistry adalah mencegah timbulnya polusi daripada menangani limbah yang terjadi. Definisi alternatif green chemistry yang lebih disukai oleh kalangan idustri adalah teknologi berkesinambungan (sustainable technologies). Teknologi berkesinambungan bertujuan untuk mempertemukan kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Teknologi berkesinambungan merupakan tujuan utama dari konsep green chemistry.

2.3

Manfaat Green Chemistry

Alasan utama dan tak bisa dibantah lagi karena hampir semua aspek dalam kehidupan sehari hari berkaitan dengan produk kimia. Kedua perkembangan produk kimia telah menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan bahkan efek-efek lain yang belum diketahui.?? Salah satu contoh adalah pemakaian pestisida DDT. Konsep Green Chemistry dapat lakukan yaitu mendorong pencegahan terhadap polusi mulai dari tingkat molekuler melalui desain sintesis dan mendukung lebih lanjut penemuan proses kimia yang lebih ramah lingkungan yang tidak hanya dapat mengurangi sisa bahan beracun

tapi menghilangkan sama sekali subtansi-substansi yang berpotensi racun dan berbahaya. Paul Anastas sang Bapak Green Chemistry bersama John C.Warner telah mengembangkan 12 prinsip Green Chemistry yang dapat menterjemahkan teori menjadi tindakan. 12 prinsip yang dijadikan pedoman untuk kampanye gerakan Green Chemistry ini adalah 1. Mencegah terjadinya limbah lebih baik daripada mengolah dan membersihkannya.

Yaitu bagaiamna kemampuan kimiawan untuk merancang ulang transformasi kimia untuk meminimalkan produksi limbah berbahaya merupakan langkah pertama yang penting dalam pencegahan polusi. Dengan mencegah generasi sampah, kita meminimalkan bahaya yang berhubungan dengan limbah, transportasi, penyimpanan dan perawatan. 2. Ekonomi atom, metoda sintesis yang efisien

Adalah sebuah konsep perancangan proses kimia yang bisa mengubah semaksimal mungkin bahan baku menjadi produk target ketimbang menghasilkan senyawa sampingan (side product). Metode sintetis seharusnya didesain untuk memaksimalkan penggabungan dari semua bahan yang digunakan dalam proses menjadi produk akhir. Pemanfaatan atom, efisiensi atom atau konsep ekonomi dari atom merupakan sarana yang sangat berguna untuk mempercepat evaluasi jumlah limbah yang dihasilkan pada proses alternatif. Efisiensi atom dihitung dari massa molekul produk dibagi dengan jumlah total massa molekul senyawa yang terbentuk pada kondisi reaksi stoikiometrik yang terlibat. Atom ekonomi bisa didekati dengan perhitungan sebagai berikut: % Atom ekonomi = (berat molekul produk target)/(berat molekul semua bahan baku) x 100% 3. Melakukan sintesis kimia yang tidak berbahaya

Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya. Memilih metode yang lebih aman dikimia adalah seperti menggunakan obeng bukan pisau untuk mengencangkan sekrup. Pisau mungkin mampu mengencangkan sekrup, tapi itu berbahaya. Contoh dari konsep ini adalah penggantian reaksi klorinasi dalam pembentukan intermediet 4-aminodifenilamina pada produksi karet dimana klorin merupakan senyawa yang beracun, yang diganti dengan rekasi kopling langsung aniline dengan nitrobenzene yang teraktifkan oleh basa. Hasil dari penggantian tersebut berupa limbah organic, anorganik, dan air yang masing-masing 70,99, dan 97% lebih kecil. 4. Mendesain senyawa kimia yang tak beracun

Produk kimia harus dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan fungsisebagaimana yang diinginkan dan memberikan toksisitas seminimal mungkin. Misalnya biosida ramah lingkungan yang berbasis pada 4,5-dikloro-2-oktil-4-isotyiazolin-3on yang dibuat oleh Albright and Wilson Americas sebagai pengganti biosida konvensional yang sangat beracun pada organism air dan manusia 5. Pemakaian pelarut dan bahan-bahan yang aman

Pelarut sangat diperlukan dalam sebagian besar reaksi karena pelarut merupakan media untuk campur, transfer panas, dan kadang mengontrol reaktifitas pereaksi. Penggunakan pelarut biasanya mengarah ke produksi limbah. Oleh karena itu penurunan volume pelarut

atau bahkan penghapusan total pelarut akan lebih baik. Dalam kasus di mana pelarut diperlukan, hendaknya perlu diperhatikan penggunaan pelarut yang cukup aman. Kebanyakan pelarut bersifat mudah terbakar atau beracun, dan hamper semuanya merupakan senyawa organic yang mudah menguap sehingga menyumbang pencemaran udara. Supercritical Carbon Dioxide adalah karbon dioksida (CO2) yang berada dalam fase cair (liquid phase),yang berada di atas ataupun pada temperatur dan tekanan kritis. Yaitu pada temperatur 31,1oC ke atas dan tekanan 73,3 atm. Zat ini banyak dimanfaatkan sebagai pelarut dalam industri,dikarenakan oleh zat ini memiliki kandungan racun yang rendah dan memiliki tidak memiliki dampak lingkungan yang berarti. Selain itu, rendahnya temperatur dari proses dan stabilitas CO2 memungkinkannya berfungsi sebagai pelarut layaknya aqua distilata. 6. Mendesain pemakaian energi yang efisien

Kebutuhan energi yang berdampak pada lingkungan dan ekonomi harus diminimalkan. Jika mungkin, metode sintetis dan pemurnian harus dirancang untuk suhu dan tekanan ruang, sehingga biaya energi yang berkaitan dengan suhu dan tekanan ekstrim dapat diminimalkan.

7.

Pemakaian bahan baku yang dapat diperbaharui

Minyak bukan merupakan sumber daya terbarukan. 90-95% dari produk yang kita gunakan (botol plastik, farmasi, cat, non-stick coating, kain, dll) berasal dari minyak. Bahan baku terbarukan (jagung, kentang, biomassa) dapat digunakan untuk membuat banyak Produk: bahan bakar (etanol dan bio-diesel), plastik dan lainnya. 8. Mengurangi senyawa turunan yang tak perlu

Derivatisasi yang tidak perlu (penggunaan kelompok blocking, proteksi / deproteksi, modifikasi sementara proses fisika / proses kimia) harus dikurangi atau dihindari jika mungkin, karena langkah-langkah seperti ini membutuhkan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah. Transformasi Sintetik yang lebih selektif akan menghilangkan atau mengurangi kebutuhan untuk proteksi gugus fungsi. Selain itu, urutan sintetis alternatif dapat menghilangkan kebutuhan untuk mengubah gugus fungsi dengan ada gugus fungis lain yang lebih sensitif. 9. Pemakaian katalis sangat baik secara stoikiometris

Secara stoikiometri katalis dengan selektivitas yang tinggi memang lebih unggul dalam reaksi. Katalis dapat memainkan beberapa peran dalam proses transformasi, antara lain dapat meningkatkan selektivitas reaksi, mengurangi suhu transformasi, meningkatkan tingkat konversi produk dan mengurangi limbah reagen (karena mereka tidak dikonsumsi selama reaksi). Dengan mengurangi suhu, kita dapat menghemat energi dan berpotensi menghindari reaksi samping yang tidak diinginkan. 10. Desain produk yang mudah terdegradasi Produk kimia seharusnya didesain hingga pada akhir fungsinya nanti mereka dapat terurai menjadi produk degradasi yang tidak berbahaya ketika mereka dilepaskan ke lingkungan. Disinilah arti pentingnya sintesis material sehari-hari yang biodegradable, misalnya biopolimer, plastik ramah lingkungan dst. 11. Pencegahan polusi lingkungan

Metodologi analitis perlu lebih dikembangkan untuk memungkinkan real-time proses monitoring dan kontrol sebelum pembentukan zat berbahaya. Waktu analisis riil untuk ahli kimia adalah proses "memeriksa kemajuan reaksi kimia seperti yang terjadi. " 12. Pencegahan terhadap kecelakaan Salah satu cara untuk meminimalkan potensi kecelakaan kimia adalah memilih pereaksi dan pelarut yang memperkecil potensi ledakan, kebakaran dan kecelakaan yang tak disengaja. Risiko yang terkait dengan jenis kecelakaan ini kadang-kadang dapat dikurangi dengan mengubah bentuk (padat, cair atau gas) atau komposisi dari reagen. 2.4 Permasalahan Besar Terkait Green Chemistry

Ada beberapa permasalahan yang akan dihadapi dimasa mendatang yaitu mengenai energi, air, makanan, lingkungan dan penyakit, yang berkaitan erat dengan kimia dan hanya dapat diselesaikan dengan konsep kimia yang baru, yaitu kimia hijau. 2.4.1 Untuk masalah energi, terbuka lebar peluang baru yang bisa dimainkan oleh kimia hijau dalam hal konversi dan penyimpanan. Dalam hal konversi energy yang berasal dari bahan bakar minyak bumi, batu bara, gas, dan biomassa, Kimia hijau dapat memberikan andil mengenai bagaimana menemukan metode efisien untuk mendapatkan syngas (CO dan H2) dari gas alam, bagaimana transformasi ramah lingkungan metana menjadi hidrokarbon yang lebih besar, dan bagaimana meningkatkan produksi bahan bakar bio dari selulosa dan komponen biomassa yang lain dengan memanfaatkan enzim tertentu. Dalam hal konversi energy dari sinar matahari menjadi energy listrik. Kimia hijau dapat berperan misalnya dalam aspek bagaimana mencari pengganti teknologi berbasis silicon yang mahal namun efisiennya rendah. Masalah kekurangan energi di dunia, dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tak dapat diperbaharui dan berpotensi merusak lingkungan seperti karbondioksida, menipisnya lapisan ozon, dampak penambangan serta bahan beracun di sekitar kita. Untuk masalah kekurangan energi ini Green chemistry dapat menjadi pendorong dalam pembuatan energi alternative seperti photovoltaics, rekayasa bahan bakar hidrogen, bahan bakar nabati atau biologis dan yang lainnya. Selain itu gerakan Green Chemistry lain ialah meningkatkan pemakaian katalis yang tepat dan mampu mengefisienkan pemakaian energi. Sebab jika alur proses sintesis dapat dipotong otomatis pemakaian energi dapat dihemat. 2.4.2 Masalah Perubahan Iklim Global.

Perubahan iklim, kenaikan suhu lautan , kimia stratosfir, dan pemanasan global adalah bidang kajian yang digarap oleh teknologi green chemistry. 2.4.3 Masalah Sumberdaya alam yang kian menipis.

Eksploitasi yang berlebihan atas sumber daya alam tak terbaharui, menyebabkan ketidakseimbangan pada skala yang memprihatinkan .Oleh karena itu pemakaian bahan bakar fosil menjadi isu utama dalam kajian Green Chemistry. Upaya-upaya yang dapat dilakukan melalui Green Chemistry ialah sintesis bahan bakar yang dapat diperbaharui secara berkesinambungan baik dari segi ekonomi dan teknologi seperti: teknologi biomassa, teknologi nanosains, biosolar, efisiensi karbondioksida , zat chitin dan pengolahan limbah. 2.4.4 Masalah Kekurangan pangan.

Ketika terjadi kelangkaan pangan maka aliran distribusi pun melemah. Sedangkan

metoda pertanian sekarang ini tak mampu lagi mengatasi masalah pangan di masa mendatang. Untuk itu perlu adanya metoda baru dalam mengatasi masalah pangan ini dan Green chemistry secara sains dapat berperan dalam teknologi produksi makanan masa depan dengan cara: Pertama, mengembangkan sejenis pestisida yang hanya berpengaruh pada organisme yang menjadi target dan dapat secara mudah terdegradasi menjadi zat tak berbahaya. Kedua, mendesain proses daur ulang sisa-sisa produk pertanian untuk dapat diolah kembali. Ketiga Menbuat sejenis fertilizer (anti pertumbuhan) yang digunakan dengan takaran sesedikit mungkin dengan tingkat keberhasilan tinggi. 2.4.5 Masalah Alam Lingkungan yang semakin terpolusi.

Penerapan Green Chemistry pada sendi-sendi penelitian dan proses produksi yang dilakukan secara konsisten dan tepat, dapat mengurangi bahkan menghilangkan senyawa beracun yang berdampak manusia, biosfir dan lingkungan sekitar.

2.5

Aplikasi Green Chemistry

Green Chemistry bukan sekedar konsep!! Cara terbaik memahami Green Chemistry tentu haruslah dari aplikasinya juga. Hal ini penting guna menepis anggapan bahwa Green Chemistry cuma Konsep yang bagus . Simak penemuan dan aplikasi Green Chemistry yang memenangkan penghargaan dari Presidential Green Chemistry Challenge Awards yang didukung ACS Green Chemistry Institute. 1. Vitamin C (asam askorbat) untuk proses pembuatan polimer. Professor Krzysztof Matyjaszewski dari Carnegie Mellon University telah mengembangkan pelarut yang aman bagi lingkungan. Proses yang ditelitinya disebut Atom Transfer Radical Polymerization (ATRP) yang biasa dilakukan untuk proses pembuatan polimer.Menariknya proses ATRP ini dilakukan dengan Vitamin C (asam askorbat) sebagai pereduksi (reduction agent).Tentu saja hal ini menghemat pemakaian katalis serta aman bagi lingkungan. 1. Gula dan minyak sayur sebagai bahan baku cat. Procter and Gamble mengembangkan cat yang yang dapat diperbaharui. Produsen cat biasanya memakai senyawa alkid sebagai bahan baku cat karena sifatnya tahan lama, mengkilap dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya bahan bangunan, industri metal, alat pertanian dan konstruksi. Namun sayangnya senyawa ini beracun. Oleh karena itu Procter & Gamble menciptakan formulasi cat berbahan baku minyak Sefose menggantikan bahan baku yang berasal dari turunan minyak bumi. Minyak Sefose dibuat dari gula dan minyak sayur yang jauh lebih aman bahkan pemakaiannya hanya separuh dari senyawa alkid. 2. Gula pati dan selulosa sebagai bahan bakar. Virent Energy Systems, Inc. membuat bahan bakar yang berasal dari Gula pati dan selulosa, Cadangan minyak bumi yang terus menipis mendorong perusahaan ini mencari bahan bakar alternatif dari sumber yang dapat diperbaharui.Dengan bahan dasar air dan katalis khusus gula pati dan selulosa dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif melalui proses yang hemat energi dan mudah dimodifikasi sesuai kebutuhan. Ini suatu terobosan yang menarik untuk mengimbangi harga minyak bumi yang tidak stabil. 1. Pemakaian enzim untuk pembuatan bahan dasar kosmetik. Eastman Chemical dikenal sebagai perusahaan yang membuat kosmetik dan perlengkapan mandi . Perusahaan seperti ini seringkali memakai asam kuat dan

pelarut yang beracun. Pemakaian bahanbahan jenis ini membutuhkan proses yang mahal . untuk mengatasi masalah ini Eastman Chemical mengembangkan teknologi pembuatan ester yang biasa digunakan sebagai bahan baku dengan secara enzimatis. Pembuatan ester dengan cara ini ternyata lebih hemat dan aman karena berbahan baku alami. 1. Kacang kedelai sebagai Bahan Pembuatan Toner printer. Umumnya toner printer dibuat dari turunan minyak bumi. Sifatnya yang sulit lepas dari kertas mempersulit proses daur ulang. Perusahaan Battelle bersama Advanced Image Resources dan badan kedelai Ohio. Menciptakan toner yang berasal dari kedelai.Toner kedelai ini memiliki kualitas yang sama dengan toner konvensional selain mudah dihapus dari kertas dan pembuatannya yang hemat energi. Tentu saja ini berita baik karena proses daur ulang jadi lebih mudah. 1. Kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan lem perekat. Lem perekat banyak dipakai di perusahaan kayu dan kertas. Namun lem perekat yang umum dipakai mengandung formaldehid yang diketahui cukup berbahaya dan bisa menyebabkan kanker. Professor Kaichang Li dari Oregon State University bersama perusahaan pengolahan hutan Columbia and Hercules Inc. Mengembangkan bahan perkat berbahan dasar kacang kedelai sebagai pengganti 47 juta pon perekat berbahan dasar formaldehid. 1. Green process ala S.C. Johnson & Son, Inc. Mulai tahun 2005 S.C. Johnson & Son, Inc, membuat sistem yang mengukur sejauh mana kandungan produk yang mereka buat memiliki pengaruh pada lingkungan dan kesehatan. Sistem ini dinamakan Greenlist. Dengan sistem ini formulasi dari suatu produk lebih mudah di modifikasi, hasilnya S.C. Johnson & Son berhasil mengurangi 4 juta pon pemakaian polyvinylidene chloride (PVDC) per tahun.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan Green Chemistry atau kimia hijau yang disebut juga sebagai sustainable chemistry (kimia yang berkelanjutan) merupakan desain produk dan proses kimia dengan mengurangi atau menghilangkan penggunaan maupun penghasilan zat berbahaya baik terhadap manusia maupun lingkungan. Konsep dari kimia hijau memungkinkan terbentuknya penyelesaian dari berbagai permasalahan yang belakangan ini disebabkan oleh sebagian besar aktifitas manusia. Aplikasi kimia hijau dalam teknologi memberikan sejumlah manfaat antara lain, mengurangi limbah, mengurangi biaya, produk yang lebih aman, dan mengurangi penggunaan energi dan sumber daya alam.

3.2 Saran Konsp kimia hijau dalam upaya pelestarian kehidupun yang sangat menarik ini diharapkan tidak hanya berhenti dalam tulisan dan hanya dipelajari dalam bangku perkuliahan saja. Namun dapat menjadi modal dalam hal pengaplikasian dan penelitian-penelitian baru terkait kimia yang ramah

lingkungan. Selain itu diperlukan pula sosialisasi mengenai kimia hijau kepada seluruh kalangan masyarakat sesuai dengan tingkat kebutuhannya sehingga akan lebih mempercepat tercapainya tujuan dari kimia hijau dalam seluruh aspek kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Aplikasi Green Chemistry yang memenangkan penghargaan dari presidential Green Chemistry Challeg Awards. http://www.epa.gov/greenchemistry/ (diakses tanggal 23 November 2012).

Nurma, 2008. Green Chemistry. http://nurma.staff.fkip.uns.ac.id/green-chemistry/ (diakses tanggal 23 November 2012).

Santosa, Sri Juari, 2008, Kimia Hijau sebagai pilar Utama Pembanunan Lestari, Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Utomo, M. Pranjoto, 2010, GREEN CHEMISTRY DENGAN KIMIA KATALISIS, Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Yogyakarta