Anda di halaman 1dari 11

Suatu larutan elektrolit kuat memiliki konduktivitas lebih tinggi dari pada larutan elektrolit lemah.

Karena dalam elektrolit kuat, zat elektrolit akan terdisosiasi sempurna menjadi ionionnya. Jumlah ion pada suatu larutan juga berpengaruh pada nilai konduktivitas larutan. Daya hantar listrik (konduktivitas) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat menghantarkan listrik. Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan atau cairan elektrolit. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan sebanding dengan nilai daya hantar molar larutan dimana hantaran molar juga sebading dengan konduktivitas larutan. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas molar (m). Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar satu molar. Pada larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah bergerak sehingga daya hantarnya semakin besar. Pada larutan yang pekat, pergerakan ion lebih sulit sehingga daya hantarnya menjadi lebih rendah. Hal lain yang mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis larutan. Pengukuran ketergantungan konduktivitas molar pada konsentrasi tertentu menunjukkan adanya 2 golongan elektrolit, yaitu elektrolit lemah dan elektrolit kuat. Sifat umum dari elektrolit kuat adalah konduktivitas akan berkurang dengan bertambahnya konsentrasi, sedangkan elektrolit lemah konduktivitas molarnya normal pada konsentrasi mendekati nol, tetapi turun tajam sampai nilai yang rendah pada saat konsentrasi bertambah. Larutan elektrolit kuat mempunyai konduktiviyaslebih tinggi daripada elektrolit lemah, hal ini karena zat elektrolit terdisosiasi secara sempurna didalam larutan, berarti larutan elektrolit kuat dapat menghantarkan listrik dengan baik. Penggolongan dengan cara ini juga bergantung pada zat terlarut dari pelarut yang digunakan. Adapun larutan elektrolit yang digunakan dalam proses lapis listrik dapat bersifat asam maupun basa.

Larutan Elektrolit Asam Dengan Garam Sederhana


Biasanya larutan elektrolit selalu rengandung garam dari logam yang akan diendapkan/dilapiskan. Sebaiknya dipilih garamgaram yang mudah larut namun anion dari garam tersebut tidak mudah tereduksi. Walaupun anion tidak ikut secara langsung dalam proses terjadinya pelapisan, tetapi jika menempel pada permukaan katoda akan merupakan gangguan bagi struktur endapan. Aktivitas dari ion logam ditentukan oleh konsentrasi dari garam logamnya, derajat disosiasi dan konsentrasi komponen lain yang ada di dalam larutan elektrolit. Jika konsentrasi logamnya tidak mencukupi untuk diendapkan, akan terbentuk endapan yang terbakar pada rapat arus yang relative rendah. Adanya ion khlorida di dalam larutan elektrolit yang bersifat asam mempunyai dua (2) fungsi utama, pertama akan memudahkan terkorosinya anoda atau mencegah pasivasi anoda dan yang kedua akan menaikkan koefisien difusi dari ion logamnya berarti menaikkan batas rapat arus (limiting current density).

Larutan Elektrolit yang Mengandung Garam Kompleks


Garam kompleks yang sering digunakan dalam proses lapis listrik adalah Sianida. Karena siano kompleks terdekomposisi oleh asam, maka larutan elektrolit harus bersifat alkali (basa). Adanya natrium atau kalium hidroksida akan memperbaiki konduktivitas dan mencegah liberasi dari asam hidrosianat oleh CO2 yang masuk ke dalam larutan elektrolit dari udara. Buffer (penyangga) dan komponen lainnya Disamping garam logamnya sebagai komponen utama, larutan elektrolit juga mengandung komponen lain, misalnya komponen yang berfungsi sebagai penyangga (mengatur pH); misal untuk rendaman nikel digunakan asam borat sebagai buffer. Sedangkan penambahan asam sulfat pada larutan elektrolit tertentu akan menaikkan konduktivitas dan mencegah hidrolisa.

Konduktivitas
Daya hantar listrik adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat menghantarkan listrik. DHL merupakan kebalikan dari hambatan listrik (R), dimana:L R = L/A Suatu hambatan dinyatakan dalam ohm disingkat , oleh karena itu DHL dinyatakan : DHL = 1/R = k A/L Dimana, k = 1/R x L/A

DHL disebut konduktivitas. Satuannya ohm-1 disingkat -1, tetapi secara resmi satuan yang digunakan adalah siemen, disingkat S, dimana S = -1 maka satuan k adalah Sm-1 atau SCm-1. Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan / cairan elektrolit. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas, sedang konduktivitas sendiri tidak dapat dapat digunakan untuk ukuran suatu larutan. Ukuran yang lebih spesifik yaitu konduktivitas molar (m). Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar satu molar, yang dirumuskan sebagai: m = k/C Dimana, k : Konduktivitas spesifik (SCm-1) C : Konsentrasi larutan (mol/L) m: Hantaran molar (SCm2mol-1)

Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan yang digunakan adalah m = 1000k C Dimana satuan-satuannya sama dengan diatas. (Tim Kimia Anorganik,2009) Besarnya daya hantar jenis dapat dicari dari tahanan larutan. Jadi dengan mengukur tahanan larutan dapat ditentukan daya hantar ekivalen. Untuk ini biasanya dipakai jembatan wheat stone. Daya hantar suatu larutan tergantung dari 1. Jumlah ion yang ada 2. Kecepatan dari ion pada beda potensial antara kedua elektroda Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan ion adalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Berat dan muatan ion Adanya hidrasi Orientasi atmosfer pelarut Gaya tarik antar ion Temperatur Viskositas (Pike,1999) Jika larutan diencerkan maka untuk elektrolit lemah -nya semakin besar dan untuk elektrolit kuat gaya tarik antar ion semakin kecil. Pada pengenceran tidak terhingga, daya hantar ekivalent elektrolit hanya tergantung pada jenis ionnya. Masing-masing ion mempunyai daya hantar ekivalent yang tergantung pada: Jumlah ion yang ada Kecepatan ion pada beda potensial antara kedua elektroda yang ada

Jumlah ion yang ada tergantung dari jenis elektrolit (kuat/lemah) dan konsentrasi selanjutnya pengenceran baik untuk elektrolit lemah/kuat memperbesar daya hantar dan mencapai harga maksimum pada pengenceran tak berhingga. (Sukardjo,1990)

Penghantar logam disebut penghantar kelas utama, dalam penghantar ini listrik mengalir sebagai electron. Tekanan dari penghantar ini bertambah dengan naiknya temperatur. Larutan elektrolit juga dapat menghantarkan listrik, penghantar ini disebut penghantar kedua. Dalam penghantar ini disebabkan oleh gerakan dari ion-ion kutub satu ke kutub lainnya. Berbeda dengan penghantar logam, penghantar elektrolit tahanannya berkurang bila temperature naik. Daya hantar listrik suatu larutan tergantung dari: 1. Jumlah ion yang ada Jumlah ion yang ada tergantung dari elektrolit (kuat/lemah) dan konsentrasi. Pengenceran larutan baik untuk elektroda memperbesar daya hantar dan mencapai harga maksimal pada pengancaran tak tarhingga. 1. Kecepatan dari ion pada beda potensial antara kedua elektroda. ( Tony Bird, 1997) Pengukuran daya hantar listrik mempunyai arti penting dalam proses-proses kimia. Pada pembuatan akuades, efisiensi dari penghilang zat terlarut yang berupa garam-garam dapat diikuti dengan mudah dengan cara mengukur daya hantar larutan selama titrasi dan dengan menggunakan grafik dapt digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Derajat ionisasi elektrolit lemah dapat ditentukan dengan pengukuran daya hantarnya. Seperti diketahui, daya hamtar berbanding lurus dengan jumlah ion yang ada dalam larutan.

Tabel jumlah ion dan m dalam pelarut air Jumlah ion 2 3 4 5 Range m 118-131 235-273 408-435 >560

Tabel jumlah ion danm dalam pelarut DMF Jumlah ion 1:1 2:1 3:1 4:1 Range m 65-90 130-170 200-240 >300

Daya hantar ekuivalen didefenisikan sebagai daya hantar satu gram ekuivalen suatu zat terlarut diantara 2 elektroda dengan jarak kedua elektroda 1 cm. Daya hantar ekuivalen pada larutan encer diberi symbol 0 yang harganya tertentu untuk setiap ion.

Pengaruh konsentrasi pada daya hantar ekuivalen, misal: Konsentrasi NaCl 0,1 0,01 0,001 ~ 0 106,7 118,5 123,7 126,4

(Sumar Hendayana,1994) Konduktivitas molar elektrolit tidak tergantung pada konsentrasi. Jika K tepat sebanding dengan konsentrasi elektrolit. Walaupun demikian pada praktiknya, konduktivitas molar bervariasi terhadap konsentrasi, salah satu alasannya adalah jumlah ion dalam larutan mungkin tidak sebanding dengan konsentrasi larutan elektrolit, misalnya konsentrasi ion dalam larutan asam lemah tergantung pada konsentrasi asam secara rumit dan penduakalian konsentrasi nominal asam itu tidak menduakalikan jumlah ion tersebut. Kedua, karena ion saling berinteraksi dengan kuat, maka konduktivitas larutan tidak tepat sebanding dengan jumlah ion yang ada. Pengukuran konduktivitas mula-mula pada konsentrasi menunjukkan adanya dua golongan elektrolit yaitu: Elektrolit kuat

Konduktivitas mula-mula elektrolit kuat hanya sedikit berkurang dengan bertambahnya konsentrasi Elektrolit lemah

Konduktivitas molar elektrolit lemah normal pada konsentrasi mendekati nol, tetapi turun tajam sampai nilai terendah saat konsentrasi bertambah. Pada percobaan akan ditentukan jumlah muatan larutan sampel dengan metode pengukuran daya hantar listriknya kemudian dilakukan pendekatan antara larutan sampel tehadap larutan standar elektrolit yang juga telah diketahui jumlah muatan ionnya. Daya hantar listrik pada larutan diukur dengan menggunakan konduktivity meter menghasilkan harga konduktivitas larutan dalam satuan scm-1 Pengukuran konduktivitas larutan standar yang telah diketahui jumlah muatan ionnya dilakukan pada beberapa jenis larutan baik elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Suatu larutan elektrolit kuat memiliki konduktivitas lebih tinggi dari pada larutan elektrolit lemah. Karena dalam elektrolit kuat, zat elektrolit akan terdisosiasi sempurna menjadi ion-ionnya. Jumlah ion pada suatu larutan juga berpengaruh pada nilai konduktivitas larutan. Daya hantar listrik (konduktivitas) adalah ukuran seberapa kuat suatu larutan dapat menghantarkan listrik. Konduktivitas digunakan untuk ukuran larutan atau cairan elektrolit. Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan sebanding dengan nilai hantar molar larutan dimana hantaran molar juga sebading dengan konduktivitas larutan. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas molar (m). Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi larutan sebesar satu molar, sehingga secara matematis dirumuskan : m = k/C Jika satuan volume yang digunakan adalah cm3 maka persamaan yang menjadi m = 1000k C Dimana, k : Konduktivitas spesifik (SCm-1)

C : Konsentrasi larutan (mol/L) m: Hantaran molar (SCm2mol-1) Dalam percobaan digunakan larutan standar dan larutan sampel dengan konsentrasi sama, sehingga C dianggap constant. Jika nilai C konstan, maka hantaran molar (M) hanya diperbaharui oleh konduktivitas larutan (K), dimana M sebanding dengan nilai K. Nilai K didapat dari hasil percobaan. Jadi, semakain tinggi konduktivitas larutan maka hantaran molar

(M) larutan tsb akan meningkat. Jumlah muatan juga berpengaruh pada hantaran molarnya. Pada kosentrasi yang sama, semakin besar jumlah muatan suatu larutan, maka akan semakin besar pula hantaran molarnya (M). Dalam suatu larutan elektrolit bila diberi dua batang elektroda inert dan diberi tegangan listrik diantaranya, maka anion-anion akan bergerak ke elektroda negatif (katoda). Proses ini merupakan fenomena transport seperti halnya yang terjadi dalam molekul gas adalah adanya pengaruh medan listrik dan molekul pelarut. Analisis kimia yang didasarkan pada daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion didalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar. Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat larutan KCl 0,01M sebagai larutan yang mengkalibrasi alat konduktivitymeter. Konduktivitymeter dikalibrasi hingga menunjukkan sekitar angka 1413 s (bias kurang atau lebih/mendekati). Dalam hal ini pelarut yang digunakan adalah aquadest. Pada percobaan ini juga menggunakan larutan blanko yaitu larutan KCL 0,01 M , yang dalam teoritis memiliki konduktivitas 1413 Scm-1, sehingga sebelum digunakan alat harus kalibasi dengan larutan. KCL 0,01 M dan diseting untuk menunjukan angka 1413 Scm-1 larutan alat digunakan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kesensitifan konduktivitymeter, apabila pengukuran larutan KCl menunjukkan 1413 s, maka alat tersebut sensitif/baik. Untuk membuat larutan KCl 0,01M, diambil 4ml KCl 0,25 lalu diencerkan dengan akuades hingga volume 100ml. Larutan ini kemudian digunakan untuk kalibrasi alat. Dimana larutan blanko KCl dimasukkan dalam gelas beker, lalu dimasukkan sebuah magnet dan diletakkan di atas stirrer. Kemudian stirrer dihidupkan, fungsi dari stirrer dan memasukkan magnet adalah agar larutan homogen. Kemudian elektroda di masukkan dalam larutan, lalu di ukur dengan konduktymeter dan di setting hingga menunjukkan angka 1413 Scm-1. . Dalam hal ini, diantara 2 elektroda terdapat 2 elektroda, yaitu katoda dan anoda, Antara kedua elektroda tersebut terdapat beda potensial akibat dari desakan electron atau aktivitas elektron. Bila kedua elektroda tersebut dihubungkan, maka akan terjadi ariran listrik dari kutub negatif ke kutub positif melalui hubungan luar. Setelah itu dibuat larutan standar. Larutan standar yang pertama, dibuat dengan mengambil 2ml larutan KCl, NaCl, KNO3, CuSO4.5H2O, NiSO4.6H2O, MgCl2, CuCl2.2H2O, AlCl3.6H2O masing-masing mempunyai konsentrasi 0,25 gram yang diencerkan dengan 100ml akuades untuk menjadika konsentrasi 5.10-3M. Semua larutan dalam konsentrasi sama yaitu 5.10-3M, sehingga dalam percobaan ini konsentrasi dianggap konstan. Larutan standar yang kedua, dibuat dengan mengambil 2ml larutan KCl, NaCl, KNO3, CuSO4.5H2O, NiSO4.6H2O, MgCl2, CuCl2.2H2O, AlCl3.6H2O masing-masing mempyunyai konsentrasi 0,125 yang diencerkan dengan 50ml metanol untuk menjadika konsentrasi 5.10-3M. Hal ini sesuai persaman V1M1=V2M2. Dalam percobaan digunakan konsentrasi larutan sama yaitu 5.10-3M. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas suatu larutan. Dari harga konduktivitas yang terukur

dapat digunakan untuk mencari harga konduktivitas molarnya sehingga dapat diketahui jumlah muatan yang terdapat dalam larutan standar. Pada larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah bergerak sehingga daya hantarnya semakin besar. Pada larutan yang pekat, pergerakan ion lebih sulit sehingga daya hantarnya menjadi lebih rendah. Hal lain yang mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis larutan. Pengukuran ketergantungan konduktivitas molar pada konsentrasi tertentu menunjukkan adanya 2 golongan elektrolit, yaitu elektrolit lemah dan elektrolit kuat. Sifat umum dari elektrolit kuat adalah konduktivitas akan berkurang dengan bertambahnya konsentrasi, sedangkan elektrolit lemah konduktivitas molarnya normal pada konsentrasi mendekati nol, tetapi turun tajam sampai nilai yang rendah pada saat konsentrasi bertambah. Larutan elektrolit kuat mempunyai konduktiviyaslebih tinggi daripada elektrolit lemah, hal ini karena zat elektrolit terdisosiasi secara sempurna didalam larutan, berarti larutan elektrolit kuat dapat menghantarkan listrik dengan baik. Penggolongan dengan cara ini juga bergantung pada zat terlarut dari pelarut yang digunakan.

jumlah ion dan m dalam pelarut air sesuai literatur:

Jumlah ion 2 3 4 5

Range m 118-131 235-273 408-435 >560 ( Ronald M. Pike,1991)

Dalam pengukuran konduktivitas spesifik larutan dipilih harga yang paling konstan karena harga konduktivitas cenderung berubah setiap saat sehingga harga yang paling konstan merupakan harga yang mendekati harga sebenarnya. Setiap pergantian larutan, alat cuci dengan akuades. Pengukuran disertai dengan pengukuran akuades (pelarut) karena harga konduktivitas spesifik merupakan koreksi dari konduktivitas larutan dengan konduktivitas pelarut k= klarutan- kpelarut Menurut batasan yang sangat sederhana, asam adalah suatu zat yang apabila dilarutkan dalam air akan terionisasi menghasilkan ion hidrogen (H+) yang merupakan satu-satunya ion positif dalam larutan. Tetapi ternyata ion H+ atau proton tersebut tidak terdapat dalam keadaan bebas di dalam larutan, melainkan setiap proton akan bergabung dengan satu molekul air melalui ikatan kovalen koordinasi menjadi hironium (H3O+).

Asam-asam yang dalam larutan terionisasi sempurna atau hampir sempurna disebut asam-asam kuat, misalnya HCl, HNO3, HI, dll. Sedangkan asam-asam yang dalam larutan hanya terionisasi sedikit disebut asam lemah, misalnya CH3COOH. Basa adalah suatu zat yang apabila dilarutkan dalam iar akan mengalami ionisasi menghasilkan ion hidroksida (OH-) sebagai satu-satunya ion negatif, misalnya NaOH, KOH, dll. Basa kuat mengalami ionisasi sempurna atau hampir sempurna menghasilkan ion OH-. Pada larutan amonium hidroksida, dalam larutan hanya terionisasi sebagian dan menghasilkan ion hidroksida sangat sedikit, sehingga disebut basa lemah. Larutan (air) dari NaCl dan senyawaan ion lain, maupun larutan air beberapa senyawaan kovalen tertentu merupakan penghantar kelistrikan yang sangat bagus. Zat yang berbeda dalam seluruhnya atau hampir seluruhnya atau dalam bentuk ion disebut elektrolit kuat. Sebaliknya, larutan air dari banyak senyawaan kovalen merupakan penghantar kelistrikan yang jelek. Larutan amonia dan asam asetat dalam air merupakan contoh zat-zat yang hanya sebagian kecil molekulnya yang larut bereaksi dengan air untuk membentuk ion,disebut elektrolit lemah. Sebagian besar zat yang terlarut itu masih berada sebagai molekul kovalen.(Keenan, 1994) Konduktansi (G) larutan merupakan kebalikan dari tahanan R; makin rendah tahanan larutan, makin besar konduktannya. Karena tahanan dinyatakan dalam ohm, maka konduktansi sampel d dinyatakan W-1. Tahanan sampel bertambah dengan pertambahan panjang l dan berkurang dengan pertambahan luas penampang lintang A. Oleh karena itu kita menuliskan: R=rx Konstanta perbandingan r disebut resistensi sampel. Konduktivitas k merupakan kebalikan resistivitas Dengan tahanan dalam W dan dimensi m, maka satuan k adalah sm-1 .Perhitungan konduktivitas secara langsung dari tahanan. Sampel dan dimensi sel l dan A tidak dapat diandalkan, karena distribusi arusnya rumit. Dalam prakteknya, sel dikalibrasikan dengan sampel yang diketahui konduktivitasnya k*, dan konstanta sel C ditentukan dengan R merupakan standar. Dimensi C adalah (panjang)-1. Jika sampel mempunyai tahanan R dalam sel yang sama, maka konduktivitasnya. Konduktivitas larutan bergantung pada jumlah ion yang ada dan kita biasa memperkenalkan konduktivitas molar Lm. Konduktivitas molar elektrolit kuat mentaati hukum Kohl Rausch yaitu bahwa konduktivitas molar sebanding dengan akar dari konsentrasi: Lm = Lom k c1/2 Lom merupakan konduktivitas molar pembatas, yaitu konduktivitas molar dalam limit konsentrasi nol (jika ion tidak saling berinteraksi. k adalah koefisien yang bergantung pada stoikiometri elektrolit. Kohlrausch juga membuktikan bahwa om dapat dinyatakan sebagai jumlah kontribusi dari ion individunya. Jika konduktivitas molar pembatas kation dinyatakan dengan l+ dan untuk anion dinyatakan dengan l-.

Konduktivitas bergantung pada jumlah ion dalam larutan, dan karenanya juga pada derajat ionisasi elektrolit a. Derajat ionisasi didefinisikan, sehingg untuk asam H4 pada konsentrasi nominal C, pada kesetimbangan: [H3O+] = aC [A-] = aC [H4] = (1-a)C

Jika konduktivitas elektrolit terionisasi sempurna hipotesa adalah L1m, sehingga hanya fraksi a sebenarnya terdapat dalam larutan sebagai ion, maka konduktivitas molar terukur m dinyatakan dengan: Lm = a L1m dan Lm = a Lom Setelah mengetahui Ka, kita dapat menggunakan persamaan a untuk meramalkan ketergantungan konduktivitas molar pada konsentrasi. Pada elektrolit lemah, dengan hukum aksimassa, maka tetapan keseimbangan antara molekul-molekul yang tidak terionisasi dengan ion-ionnya yang terdapat dalamlarutan. Hukum aksimassatidak dapat digunakan pada elektrolit-elektrolit kuat karena dalam larutan akan terionisasi sempurna sehingga di dalam larutan tidak terdapat kesetimbangan antara molekul yang tidak terionisasi dengan ion-ionnya. Karena konsentrasi air cukup besar, sehingga yang tinggal dalam larutan dapat dianggap tetap. Dari rumus tersebut di atas, terlihat apabila V bertambah besar (karena pengenceran) maka harga a juga akan bertambah besar, sebab pada suhu tetap harga Ka adalah tetap. Rumus ini lebih dikenal sebagai Hukum Pengenceran Ostwald.(Respati, 1982)Arus listrik di dalam larutan dibawa oleh ion-ion sehingga daya hantar listrik suatu larutan pada suhu tertentu besarnya tergantung pada derajat ionisasi. Tahanan jenis suatu larutan (r) adalah tahanan dari suatu larutan yang diukur pada jarak 1 cm antara elektroda-elektrodanya dan mempunyai satuan ohm (W). Kebalikan dari tahanan jenis disebut daya hantar jenis (k) yang satuannya W-1. Untuk larutan-larutan elektrolit yang sering digunakan adalah daya hantar ekivalen ( ). Daya hantar ekivalen adalah daya hantar suatu larutan yang mengandung 1 gram ekivalen suatu zat elektrolit yang terlarut antara dua buah elektroda yang ukurannya tertentu dan berjarak 1 cm. Menurut Kohlrausch, daya hantar ekivalen suatu larutan elektrolit akan naik karena pengenceran dan akhirnya akan mencapai suatu batas. Sedang menurut Arhennius, derajat ionisasi suatu larutan elektrolit akan naik karena pengeceran sehingga akhirnya akan mencapai harga: 1 yaitu ionisasi sempurna. Harga batas dari daya hantar dimana terjadi proses ionisasi sempurna dinyatakan dengan simbol atau sehingga besarnya derajat ionisasi (a) pada suatu konsentrasi dapat dinyatakan dengan rumus: = Lc/L0 Dimana adalah daya hantar ekivalen pada konsentrasi tersebut.(Bird, 1993).

Anda mungkin juga menyukai