Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien Nama Umur Pekerjaan Agama Alamat : Tn. S : 53 tahun : Swasta : Islam : Lamteumen

B. Anamnesa 1. Keluhan Utama : Luka dan bengkak pada kaki kiri

2. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 20 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku kakinya mulai bengkak. Awalnya kaki pasien tertusuk keong di tambak. Kemudian luka dibawa ke mantri. Kaki sudah diberi obat dan disuntik (pasien tidak tahu nama dan jenis obat yang disuntikkan), tetapi luka tidak sembuhsembuh dan kaki semakin membengkak dan terasa sakit. Pasien tidak ada keluhan panas. Pasien mengaku sering merasa haus dan sering buang air kecil. Pasien juga mengaku nafsu makan normal tetapi berat badan pasien tidak bertambah. Karena keluhan sakit dikakinya tidak sembuh-sembuh, pasien berobat ke Puskesmas.
1

3. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak tahu ada riwayat kencing manis, riwayat darah tinggi sejak 10 tahun. 4. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat kencing manis dan hipertensi dalam keluarga.

C. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum 2. Kesadaran 3. Tanda Vital : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : TD = 160/90 mmHg RR = 96 x/menit 4. Kulit N = 24 x/menit T = 36,8oC

: warna sawo matang, sianosis tidak ada, hemangioma tidak ada,

turgor cepat kembali, vena kolateral tidak ada, kelembaban cukup. 5. Kepala dan Leher Rambut : warna hitam, lurus, tipis, tidak mudah dicabut, alopesia tidak ada. Kepala : bentuk simetris, tidak ada trauma maupun memar. Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks cahaya (+/+) Mulut : bentuk normal, mukosa tidak anemis, lidah tidak kotor, tidak tremor, tidak ada perdarahan gusi, pharing tidak ada edema dan tidak hiperemis pupil isokhor

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, JVP tidak meningkat, pembesaran kelenjar getah bening tidak ada, kaku kuduk tidak ada.

6. Thorak Paru : I = Gerakan nafas simetris P = Fremitus raba simetris, nyeri tekan tidak ada P = Sonor, nyeri ketuk tidak ada A = Suara nafas vesikuler, Ronkhi (-), Wheezing (-) Jantung : I = Iktus, pulsasi tidak terlihat P = Batas Kanan ICS IV LPS Dextra Batas Kiri ICS VI LMC Sinistra A = S1 > S2, bising dan murmur tidak ada 7. Abdomen I = Simetris, tidak tampak pembesaran P = Hepar/Lien/Massa tidak teraba, nyeri tekan epigastrium tidak ada P = timpani, nyeri ketuk tidak ada, shifting dullness tidak ada A = Bising usus (+) normal. 8. Ekstremitas - Atas : edema, deformitas dan atrofi tidak ada. - Bawah : edema (-/+), atrofi dan deformitas tidak ada. Status lokalis ekstremitas bawah kiri : Inspeksi : tampak kaki pedis sinistra bengkak, hiperemi (+), luka (+) Palpasi : nyeri tekan positif
3

D. Pemeriksaan Penunjang GDS : 345 gr/dl E. Diagnosis Diabetes Mellitus Type II dengan Kaki Diabetes F. Terapi Glibenklamaid tab 2x1 Metformin tab 2x1 Captopril tab 12,5 2x1 G. Saran Melakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit rujukan Mengontrol pola makan Minum obat secara teratur

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Diabetes merupakan satu sindrom atau penyakit akibat dari kekurangan atau hilangnya keberkesanan hormon insulin. Insulin membolehkan glukosa memasuki sel-sel dalam badan. Sel-sel ini kemudiannya menggunakan glukosa sebagai sumber tenaga. Tanpa insulin, paras glukosa darah akan meningkat. Dalam masyarakat Melayu hanya dikenali (secara tidak tepat) sebagai kencing manis atau Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglikemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Kokmplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan infotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk. Pada dasarnya, Diabetes Mellitus di sebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal, padahal insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa didalam darah. nsulin yang di hasilkan oleh kelenjar pankreas yang terletak di lekukan usus 12 jari sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah yaitu untuk orang normal (non Diabetes ) 60-120 mg/dl waku puasa, ( 140 mg/dl waktu 2 jam seudah makan, bila terjadi gangguan pada insulin, baik secara
5

kuantitas maupu kualitas, keseimbangan tersebut akan tergantung sehingga kadar glukosa darah cendrung naik. B. Etiologi 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik

Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi

Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan

Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. b. c. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) Obesitas Riwayat keluarga
6

a. Gejala dan tanda Gejala dan tanda-tanda penyakit diabetes mellitus dapat digolongkan menjadi 2 yaitu gejala akut dan gejala kronik. 1. Gejala Akut Gejala penyakit DM pada setiap orang tidak akan selalu sama, akan tetapi gejala yang sering muncul atau pada umumnya sering timbul dengan tidak menutup kemungkinan akan timbul gejala lain: a. Pada permulaan gejala yang timbul meliputi antara lain sebagai berikut : Banyak Makan ( Polifagia )

Perasaan lapar pada pasien penyakit gula disebabkan oleh ketidakmampuan sel untuk mengambil gula dari dalam darah dan memakainya guna untuk menghasilkan Energi. Sel- sel yang kelaparan dengan gula yang banyak yang terdapat didalam darah akan terus- menerus memberikan sinyal atau akan memerintahkan kepusat rasa lapar didalam otak ingin makan sehingga pasien terus merasa lapar sekalipun makanan yang masuk kedalam usussnya melimpah atau banyak. Banyak Minum ( Polidipsia )

Pada pasien diabetes kadar gula darah dapat naik hingga mencapai nilai yang cukup tinggi. Kadar yang lebih tinggi dari 200 mg % yang akan menyebabkan darah menjadi kental Salah satu akibat adalah rasa haus yang diderita pasien sehingga membuatnya untuk minum banyak guna mengencerkan darah yang kental itu. Disamping itu juga, frekuensi kencing yang sering dan banyak yang akan memperbesar kehilangan cairan melalui ginjal sehingga menambah rasa haus yang besar yang diderita oleh orang yang menderita diabetes mellitus.

Banyak Kencing ( Poliuria )

Adapun ketiga dari gejala diatas dapat dilihat melalui bagan sebagai berikut :

KGD meningkat > 200 mg%

Konsentrasi gula meningkat / kental

Menurunnya osmolaritas dengan meningkatnya keinginan untuk minum

Sudah tidak menggunakan gula sehingga energi tidak ada

Polidipsia (banyak minum)

Sinyal lapor ke otak

Dibuang melalui ginjal berupa urine

Polifagia (banyak makan)

b. Bila keadan tersebut tidak dapat terobati lama kelamaan timbul gejala yang disebabkan oleh kurangnya insulin dan bukan polifagia, polidipsi dan poliuria ( 3P ) melainkan hanya polidipsia dan poliuria ( 2P ) dengan beberapa keluhan sebagai berikut ; Nafsu makan mulai berkurang ( tidak polifagia lagi ) bahkan kadang-

kadang disusul dengan mual jika kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl Banyak minim Banyak kencing Berat badan menurun dengan cepat ( dapat turun 4-10 kg dalam waktu 2-4

minggu ) Mudah lelah


8

Bila tidak lekas diobati akan timbul rasa mualbahkan penderita akan jatuh

koma ( tidak sadarkan diri ) dan disebut koma diabetic. Koma diabetic adalah koma pada diabetisi akibat kadar glikosa darah terlalu tinggi, biasanya melebihi ( 600 mg/dl ).

2. Gejala Kronik Kadang- kadang diabetisi tidak menunjukan gejala akut tetapi penderita

tersebut baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit DM. gejala ini disebut gejala kronik atau menahun. Gejala kronik ini yang paling sering membawa diabetis berobat pertama kali. Gejala kronik yang sering timbul adalah sebagai berikut : kesemutan gangguan penglihatan mata kabur biasanya sering ganti kasa mata kilit terasa panas atau seperti tertusuk tusuk jarum gatal disekitar kemaluan terutama wanita ereksi atau keputihan terasa tebal dikulit, sehingga kalau berjalan seperti berjalan diatas bantal

dan kasur. Kram, leleh dan mudah mengantuk Gigi mudah goyah dan mudah lepas Kemampuan seksual menurun bahkan impotent Para ibu hamil sring mengalami keguguran atau kematian janin dalam

kandungan atau berat badan bayi lebih dari 4 kg. b. Diagnosis Menurut Suyono (2002), diagnosis diabetes dipastikan bila: 1) Kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih ditambah gejala khas diabetes.

2) Glukosa darah puasa 126 mg/dL atau lebih pada dua kali pemeriksaan pada saat berbeda. Bila ada keraguan, perlu dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO) atau yang populer disebut OGTT (Oral Glukose Tolerance Test) dengan mengukur kadar glukosa puasa dan 2 jam setelah minum 75 g glukosa (Suyono, 2002). c. Klasifikasi Adapun jenis-jenis Diabetes Melitus adalah sebagai berikut : 1. Diabetes mellitus tipe 1 Diabetes mellitus tipe 1 dahulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, "diabetes yang bergantung pada insulin"), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa. Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal. Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh. Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan
10

pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder". Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. seperti "frequent hypoglycemic events". Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke "ketoacidosis". Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hypoglycemia, dapat menyebabkan "seizures" atau seringnya kehilangan kesadaran.

2. Diabetes mellitus tipe 2 Diabetes mellitus tipe 2 dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, "diabetes yang tidak bergantung pada insulin"), terjadi karena

kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin" (adanya defek respon jaringan terhadap insulin) yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatas dengan berbagai cara dan Obat Anti Diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin
11

atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines (suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. abdominal gemuk Adalah terutama aktif hormonally. Kegemukan ditemukan kira-kira 90% dari pasien dunia

dikembangkan mendiagnose dengan jenis 2 kencing manis. Faktor lain meliputi keturunan keluarga, walaupun terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak. Diabetes mellitus tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan ( lebih dari 90 % . timbulnya makin sering setelah umur 40 tahun dengan catatan pada decade ke 7 kekerapan DM mencapai 3-4 kali lebih tinggi dari pada rata- rata orang dewasa. Pada keadaan dengan kadar gula darah yang tidak trlalu tinggi atau belum ada komplikasi, biasanya pasein tidak berobat kerumah sakit atau dokter oleh karena itu biasanya orang yang mengalami DM tidak banyak terdiognosa olah medis. DM tipe 2 akan meningkat karena disebabkan oleh berbagai hal misalnya bertambahnya usia harapan hidup, berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya faktor resiko yang disebabkan oleh gaya hidup yang salah seperti kegemukan , kurang gerak atau kurang berolahraga dan pola makan yang tidak sehat.

12

Adapun Perbedaan Antara DM tipe 1 dan DM tipe 2 No 1 Diabetes tipe 1 (IDDM) jarang berlaku tetapi keadaannya lebih teruk 2 terjadi di kalangan mereka yang lebih muda antara umur 10 hingga 16 tahun 3 terjadi begitu cepat (pengeluaran insulin dari pankreas dimusnahkan). terjadi di kalangan mereka yang lebih dewasa yang berumur 35 tahun ke atas. terjadi secara perlahan-lahan (insulin yang dikeluarkan tidak mencukupi menyebabkan paras glukosa darah meningkat). 4 tidak mempunyai sejarah keluarga yang menghidap diabetes 5 tidak dikaitkan dengan kegemukan atau obesiti. 6 pesakit akan mengalami tandatanda dan gejala amaran yang serius. kejadian kegemukan sangat tinggi merupakan penyakit yang senyap, selalunya dikesan secara kebetulan atau selepas berlakunya komplikasi. 7 rawatan: pemakanan + suntikan insulin rawatan: pemakanan + senaman (menurunkan berat badan) + ubat makan + suntikan insulin (bagi kes-kes tertentu). (Petunjuk yang baik untuk menentukan atau mengesahkan penyakit diabetes ialah apabila paras glukosa melebihi 140gm/ml pada 2 kali pengambilan yang
13

Diabetes tipe 2 (NIDDM) biasa berlaku

mempunyai sejarah keluarga

berbeDa atau keputusan yang diambil dalam keadaan pesakit tidak berpuasa menunjukkan paras glukosa 200mg/ml atau lebih tinggi). 3. Diabetes mellitus gestasional Kencing manis mellitus gestasional ( gestational kencing manis mellitus, GDM) juga melibatkan suatu kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, menirukan 2 jenis tipe kencing manis di beberapa pengakuan. [Itu] kembang;kan selama kehamilan dan boleh meningkatkan atau menghilang lenyap setelah penyerahan. Sungguhpun mungkin saja penumpang sementara, gestational kencing manis boleh merusakkan kesehatan dari janin atau ibu, dan sekitar 20%50% dari wanitawanita dengan kencing manis gestational kembang;kan jenis 2 kencing manis kemudian (dalam) hidup. Gestational kencing manis mellitus (GDM) terjadi di sekitar 2%5% selama kehamilan. jenis ini sangat penting diketehui karena dampaknya pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar. Dapat menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia ( kelahiran dengan berat badan bayi yang sangat tinggi ), cacat pada bayi dan akan menyebabkan penyakit jantung pada bayi. Hal ini memerlukan pengawasan hati-hati oleh ibu pada saat kehamilan. d. Terapi obat Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benarbenar normal sulit untuk dipertahankan. Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat.
14

Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral. Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin. Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu: Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Terapi Sulih Insulin

1. Obat hipoglikemik oral Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya. Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.
15

2. Terapi Sulih Insulin Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan). Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya. Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda: 1. Insulin kerja cepat. Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan. 2. Insulin kerja sedang. Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
16

3. Insulin kerja lambat. Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam. Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana. Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada: * * Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya * * * Aktivitas harian penderita Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam. Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.

17

Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga. Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini

mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya. Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam. Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi. Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.
18

Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.

19

DAFTAR PUSTAKA Almatsier, Sunita. 2007. Penuntun Diet. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/DM/ http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=1264

20