Anda di halaman 1dari 39

PENCAPAIAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PUSKESMAS SUKARAMI PALEMBANG

Disusun oleh:

Satih Komala Sari, S.Ked Harry Wahyudhy Utama, S.ked Irma Yanti, S.ked Meita Ranika, S.Ked

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT/ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG 2007

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Puskesmas Sukarami dengan judul: Pencapaian Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Sukarami Palembang

Disusun oleh: Satih Komala Sari, S.Ked Harry Wahyudi, S.ked Irma Yanti, S.ked Meita Ranika, S.Ked

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik IKM/IKK periode 27 Nopember 2006 s.d 3 Februari 2007

Palembang, Februari 2007 Kepala Puskesmas Sukarami

Dr. Hj. Nitra Dewi 140 255 352

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Puskesmas Sukarami tepat pada waktunya. Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penyusunan laporan, baik dari isi maupun penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan tugas-tugas yang akan datang. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan bimbingan yang telah kami dapatkan sehingga laporan ini dapat terselesaikan, terutama kepada yang terhormat : 1. Bapak Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang 2. Ibu dr. Hj. Nitra Dewi, selaku Pimpinan Puskesmas Sukarami Palembang 3. Seluruh staf dan karyawan Puskesmas Sukarami yang telah memberikan bimbingan 4. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca baik mahasiswa FK UNSRI maupun staf dan karyawan Puskesmas Sukarami.

Palembang , Februari 2007 Penulis

DAFTAR ISI
Judul....................................................................................... Halaman Pengesahan........................................................................ Kata Pengantar.................................................................................. BAB I PENDAHULUAN................................................................ Latar Belakang............................................................................. Strategi, Kebijakan dan Pokok-pokok Kegiatan Program P2DBD.......................................................................................... Rumusan Masalah........................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................... Definisi......................................................................................... Etiologi......................................................................................... Patogenesa.................................................................................... 4 4 4 1 3 1 i ii iii

Daftar isi............................................................................................ iv

Klasifikasi..................................................................................... 5 Langkah Diagnosis....................................................................... 6 Komplikasi................................................................................... Prognosis...................................................................................... Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit DBD.......................... 7 7 7

Larvasiding................................................................................... 10 Pemberantasan Sarang Nyamuk................................................... 13 BAB III PROFIL PUSKESMAS SUKARAMI .......................... 15 16 16

Gambaran Umum Puskesmas....................................................... 15 Letak Geografi............................................................................. Wilayah Kerja.............................................................................. Ketenagaan.................................................................................

Visi dan Misi Puskesmas........................................................... Indikator Keberhasilan................................................................. Sarana Prasarana.......................................................................... Kegiatan dan Program................................................................. Alur Pelayanan Pengobatan dan Rujukan................................... BAB IV PEMBAHASAN.

17 18 18 19 24

Tujuan Pokok Puskesmas............................................................. 18

Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Jenis Kelamin .............. 25 Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Penatalaksanaan........... Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Umur............. .............. Distribusi Musim Penularan DBD.............................................. Pencapaian Program P2 DBD..................................................... BAB V PENUTUP Kesimpulan.................................................................................. 30 Saran............................................................................................ 30 25 26 27 27

BAB I

PENDAHULUAN I. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Biasanya ditandai dengan demam yang bersifat bifasik selama 2-7 hari, ptechia dan adanya manifestasi perdarahan. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia, jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) dari 1 Januari -10 Agustus 2005 di seluruh Indonesia mencapai 38.635 orang, sebanyak 539 penderita diantaranya meninggal dunia. Menurut catatan Dinas Kesehatan Sumsel, jumlah kasus DBD di Sumsel sebanyak 286 kasus pada Januari, dan 159 kasus pada awal sampai pertengahan Februari 2005. Jumlah penderita sejak Januari 2005 mencapai 445 kasus. Palembang merupakan kota dengan jumlah penderita DBD terbanyak, yaitu 192 orang pada Januari, dan 57 orang pada Februari 2005. Di Puskemas Sukarami didapatkan angka kejadian DBD pada tahun 2004 sebanyak 47 kasus, tahun 2005 sebanyak 57 kasus dan tahun 2006 sebanyak 57 kasus. Oleh karena itu, perlu tindak lanjut untuk menangani permasalahan ini sehingga angka penderita DBD dapat dikurangi. II. II.1. A. Strategi, Kebijakan dan Pokok-pokok Kegiatan Program P2 DBD Strategi: Pemberdayaan Masyarakat Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan kunci keberhasilan upaya pemeberantasan penyakit DBD. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat, maka upaya-

upaya KIE, social marketing, advokasi dan berbagai penyuluhan dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. B. Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas Penyakit DBD Peran sektor terkait sangat menentukan sekali dalam pemberantasan penyakit DBD. Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi stakeholder baik sebagai mitra maupun pelaku merupakan langkah awal dalam menggalang, meningkatkan dan mewujudakan kemitraan. Jejaring kemitraan dilaksanakan melalui pertemuan berkala guna memadukan berbagai sumber daya masing-masing mitra. Pertemuan berkala dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program. C. Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program Pengetahuan mengenai bionomic vektor, virologi, faktor perubahan iklim, penatalaksaan kasus harus dikuasai oleh pengelola program sebagai landasan dalam menyusun D. Desentralisasi Optimalisasi kabupaten/kota. E. Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan Lingkungan hidup yang sehat akan mengurangi angka kesakitan penyakit DBD, sehingga diperlukan adanya peningkatan mutu dari lingkungan itu sendiri melalui orientasi, advokasi, sosialisasi tentang pemberantasan penyakit DBD yang berwawasan lingkungan kepada semua pihak terkait. II.2. Kebijakan pendelegasian wewenang pengelolaan program kepada program pemberantasan DBD, sehingga diperlukan adanya peningkatan SDM misal : pelatihan, sekolah dan sebagainya.

a) Meningkatkan perilaku hidup sehat dan kemandirian terhadap P2 DBD b) Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD c) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program P2 DBD d) Memantapkan kemitraan baik lintas sektor/program, LSM, organisasi profesional dan dunia usaha

II.3.

Pokok-Pokok Kegiatan Melakukan surveilans epidemiologi dimana dilakukan kewaspadaan dini penyakit DBD melalui kegiatan penemuan dan pelaporan penderita baik dari RS, Puskemas, Pemantauan Jentik Berkala. Tatalaksana kasus Pemberantasan vektor melalui program pemberantasan sarang nyamuk Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) Penggerakan peran serta masyarakat Pelatihan guna meningkatkan SDM yang profesional terhadap petugas

(PSN)

kesehatan, petugas laboratorium, pelaksana program, petugas lapangan penyemprot, dokter puskesmas, dokter swasta, dan dokter RS Promosi DBD yaitu melalui penyuluhan media massa, pengadaan leaflet, poster dan seminar. III. Rumusan Masalah 1. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 ? 2. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan penatalaksanaan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 20042006? 3. Bagaimana distribusi penderita DBD berdasarkan umur di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 ? 4. Bagaimana distribusi musim penyebaran DBD di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006? 5. Bagaimana pencapaian program P2DBD tentang ABJ, apakah telah mencapai angka 95% di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 ?

6. Bagaimana

pencapaian

program

P2DBD

tentang

abatisasi,

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006? IV. Tujuan 1. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 2. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan penatalaksanaan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 3. Untuk mengetahui distribusi penderita DBD berdasarkan umur di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 4. Untuk mengetahui distribusi musim penyebaran DBD di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006 5. Untuk mengetahui pencapaian program P2DBD tentang ABJ, apakah telah mencapai angka 95% di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006. 6. Untuk mengetahui pencapaian program P2DBD tentang abatisasi, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penyuluhan di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Definisi Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditandai dengan demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian. II. Etiologi Virus Dengue Tipe I, II, III, IV III. Patogenesa Virus Dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi yang memberikan gejala demam dengue. Bila mendapat infeksi virus dengue berulang, maka akan terjadi reaksi yang berbeda, disebut secondary autologous infection. Hal ini menimbulkan komplek Ag-Ab yang mengakibatkan: Aktivasi komplemen C3a, C5a sehingga permeabilitas kapiler meningkat. Timbulnya agregasi trombosit Aktivasi faktor XII sehingga terjadi pembekuan intravaskuler yang meluas Kerusakan sel endotel, ekstravasi plasma, hemokonsentrasi, renjatan, efusi cairan, ensefalopati, hipoksia jaringan.

IV.

Klasifikasi Berdasarkan kapasitas diagnosis Tersangka Demam Berdarah (TDBD) Panas tinggi akut, perdarahan pada uji torniquet, tidak disertai gejala lain. Demam dengue Panas akut 2-7 hari, dengan manifestasi seperti adanya sakit kepala, sakit belakang bola mata, mialgia, atralgia, rash, manifestasi perdarahan dan leukopenia. Tidak terbukti adanya kebocoran plasma dan tidak terbukti diagnosis klinis yang lain. Demam Berdarah Dengue Minimal kriteria yang harus dipenuhi: a. bifasik. b. Tendensi perdarahan dibuktikan dengan paling sedikit satu dari uji torniquet, adanya ptekie, purpura, perdarahan gastrointestinal, perdarahan pada tempat injeksi atau tempat lain, hematemesis, dan atau melena. c. d. Trombositopenia (< 100.000/mm3) Adanya bukti kebocoran plasma yang terjadi karena kenaikan Peningkatan Ht > 20% di atas rata-rata umur, seks, dan Turunnya hematokrit setelah dilakukan volume replacement Panas dan riwayat demam akut berlangsung 2-7 hari, kadang

permeabilitas kapiler dengan manifestasi sebagai berikut: populasi terapi > 20% dari data dasar.

Bukti kebocoran plasma misalnya: efusi pleura, ascites dan

hipoproteinemia.

Menurut derajat penyakitnya Derajat I Demam, uji torniquet positif dengan gejala yang tidak spesifik. Derajat II Derajat I + perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lainnya. Derajat III Kegagalan sirkulasi ditandai dengan nadi lembut, hipotensi, takikardia, kulit dingin dan lembab, anak gelisah. Derajat IV (Dengue Shock Syndrome) Renjatan berat, nadi tidak teraba, tensi tidak terukur V. Langkah diagnosis : Badan panas, adanya manifestasi perdarahan,

Pemeriksaan klinis Pemeriksaan laboratorium

ditemukan adanya tanda efusi, hepatomegali, kegagalan sirkulasi. : Uji torniquet, hematokrit dan hitung trombosit secara berkala, serta pemeriksaan serologi, pemeriksaan LPB, albumin darah, CT, BT, PT, dan PTT serta gambaran darah tepi Pemeriksaan Penunjang minimal. Indikasi rawat bila: : foto thoraks pada dispnu untuk menelusuri penyebab lain disamping efusi pleura, USG bila ada dapat dipakai untuk memeriksa efusi pleura

Penderita tersangka demam berdarah derajat I dengan panas 3 hari atau lebih sangat dianjurkan untuk dirawat. Tersangka demam berdarah derajat I disertai dengan hiperpireksia atau tidak mau makan atau muntah-muntah atau kejang atau Ht cenderung meningkat dan trombosi cenderung menurun.

VI. VII.

Penderita tersankat demam berdarah derajat I yang tampak gelisah, nadi cepat dan kecil, tangan dingin, tekanan darah dan oliguria Seluruh penderita demam berdarah derajat II, III, dan IV. Komplikasi Perdarahan masif, ensefalopati, edema paru, DIC dan efusi pluera. Prognosis Angka kematian di Indonesia secara keseluruhan < 3%. Angka kematian DSS

di Rumah Sakit 5-10%. Kematian meningkat jika disertai komplikasi. DBD yang berlanjut pada syok atau penderita dengan komplikasi sulit diramalkan, sehingga harus berhati-hati dalam melakukan penyuluhan. VIII. Uraian Pencegahan dan Pemberantasan penyakit DBD Pendekatan terpadu terhadap pengendalian nyamuk sekarang ini adalah dengan menggunakan metode yang tepat (lingkungan, biologi dan kimiawi) yang aman, murah dan ramah lingkungan. Kegiatan pemberantasan vektor penular penyakit DBD meliputi: penyelidikan epidemiologi, penanggulangan fokus, larvasiding, pemeriksaan jentik berkala, pemberantasan sarang nyamuk. VIII.1. Penyelidikan Epidemiologi

Penyelidikan

Epidemiologi

(PE)

adalah

kegiatan

pencarian

penderita/tersangka DBD lainnya serta pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di rumah penderita/tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dengan radius sekurangkurang 100 meter ( 20 rumah), serta tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan penyakit lebih lanjut. Kegiatan PE dilakukan oleh petugas Puskesmas. Maksud dari PE adalah: Mengetahui ada/tidaknya kasus DBD tambahan dan luas penyebaran. Mengetahui kemungkinan terjadinya penyebarluasan penyakit DBD lebih lanjut di lokasi tersebut. VIII.2. Penanggulangan Fokus Penanggulangan fokus adalah kegiatan penyemprotan insektisida dan PSNDBD serta penyuluhan pada masyarakat sekitar kasus dengan radius 200 meter, dilaksanakan 2 siklus dengan interval 7 hari oleh petugas. Penanggulangan fokus ini dilakukan dengan meksud untuk mencegah/membatasi penularan penyakit. BAGAN PENANGGULANGAN FOKUS Penderita/tersangka DBD Penyelidikan epidemiologi

Ada penderita DBD lain atau 3 kasus penderita panas tanpa jelas penyebabnya dan ada jentik

YA

TIDAK

Penyuluhan PSN-DBD fogging radius 200 meter

Penyuluhan PSNDBD

Langkah-langkah pelaksanaannya: 1. Membuat peta (mapping) daerah yang akan ditanggulangi 2. Membuat tabel rumah per RT. 3. Hitung kebutuhan insektisida, bahan pelarut, peralatannya dan biaya operasional. VIII.3. Larvasiding Larvasiding adalah pemberantasan jentik dengan bahan kimia dengan menaburkan bubuk larvasida. Pemberantasan jentik Aedes aegypti dengan bahan kimia terbatas untuk wadah (peralatan) rumah tangga yang tidak dapat dimusnahkan, dibersihkan,dikurangi atau diatur. Dalam jangka panjang penerapan kegiatan larvasiding sulit dilakukan dan mahal. Kegiatan ini tepat digunakan apabila survelans penyakit dan vector menunjukkan adanya periode berisiko tinggi dan di lokasi dimana wabah mungkin timbul. Menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk pelaksanaan larvasiding sangat penting untuk memaksimalkan efektifitasnya. Terdapat 2 jenis larvasida yang dapat digunakan pada wadah yang dipakai untuk menampung air minum (TPA) yakni: temephos (Abate 1%) dan Insect growth regulators (pengatur pertumbuhan serangga) Kegiatan larvasiding meliputi: Abatisasi selektif

Abatisasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat penampungan air (TPA) baik didalam maupun diluar rumah pada seluruh rumah dan bangunan di desa/kelurahan endemis dan sporadik dan penaburan bubuk abate (larvasida) pada TPA yang ditemukan jentik dan dilaksanakan 4 kali setahun. Pelaksana abatisasi adalah kader yang telah dilatih oleh petugas Puskesnas. Tujuan pelaksanaan abatisasi selektif adalah sebagai tindakan sweeping hasil penggerakan masyarakat dalam PSN-DBD. Abatisasi massal Abatisasi massal adalah penaburan abate atau altosid (larvasida)secara serentak diseluruh wilayah/daerah tertentu disemua TPA baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh rumah/bangunan. Kegiatan abatisasi massal ini dilaksanakan dilokasi terjadinya KLB DBD. Dalam kegiatan abatisasi massal masyarakat diminta partisipasinya untuk melaksanakan pemberantasan Aedes aegypti di wilayah masing-masing. Tenaga di beri latihan sebelum melaksanakan abatisasi. VIII.4 Pemeriksaan Jentik Berkala Kegiatan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan kegiatan pengamatan dan pemberantasan terhadap vector penular DBD. Definisi operasional PJB adalah kegiatan pemeriksaan pada tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti untuk mengetahui adanya jentik nyamuk tersebut yang dilakukan secara teratur 3 bulan sekali. Sasaran wilayah kegiatan PJB adalah rumah dan tempat umum. VIII.6. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD Cara memberantas nyamuk Aedes aegypti yang tepat guna ialah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yaitu kegiatan memberantas jentik

di tempat berkembangbiaknya baik dengan cara kimia, yaitu dengan larvasida, biologi dengan cara memelihara ikan pemakan jentik atau dengan bakteri ataupun dengan cara fisik yang kita kenal dengan kegiatan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) yakni menguras bak mandi, bak WC; menutup TPA rumah tangga (tempayan, drum dll) serta mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas (kaleng, ban dll).

BAB III PROFIL PUSKESMAS I. Gambaran Umum Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah satuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu merata dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dang menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan perorangan. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan menyeluruh adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif (penyuluhan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan penyakit) maupun rehabilitatif (pemulihan kesehatan) dan ditujukan untuk semua golongan umur dan jenis kelamin. II. Letak Geografi Puskesmas Sukarami berdiri tahun 1990 dengan luas bangunan kurang lebih 200 m2, ditambah enam unit rumah dinas untuk dokter dan paramedis sehingga luas seluruhnya mencakup kurang lebih 450 m2. Lokasi Puskesmas Sukarami berada di

Jalan Kebun Bunga Kelurahan Kebun Bunga Kecamatan Sukarami, berdekatan dengan beberapa instansi seperti kantor kecamatan sukarami, kantor Kelurahan Kebun Bunga, Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan kantor KUA kecamatan Sukarami. Berjarak 1 km dari Jalan Kolonel H. Burlian Km 9. Puskesmas Sukarami dapat ditempuh dengan kendaraan umum, baik roda dua maupun kendaraan roda empat. Wilayah kerja Puskesmas meliputi tiga kelurahan : 1. Kelurahan Kebun Bunga 2. Kelurahan Sukarami 3. Kelurahan Karya Baru Luas keseluruhan wilayah tersebut adalah 2.510 km2 yang sebagian besar hanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun belum ada kendaraan umum dengan kondisi tanah perbukitan dan dataran rendah serta jumlah penduduk 78.328 jiwa. Luas wilayah kerja Puskesmas ditetapkan berdasarkan faktor-faktor : 1. Jumlah penduduk 2. Keadaan geografis 3. Keadaan sarana perhubungan 4. Keadaan infastruktur masyarakat lainnya III. Wilayah Kerja Puskesmas Sukarami 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Alang-alang Lebar dan Kelurahan Talang Betutu 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sako 3. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Talang Kelapa 4. Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srijaya IV. Ketenagaan

Sejak tahun 1990 sampai sekarang ini Puskesmas Sukarami telah dipimpin oleh tiga orang kepala Puskesmas, yaitu : 1. dr. Alfa Siti Azizah 2. dr. Anton Suwindro 3. dr. Nitra Dewi : tahun 1990 2000 : tahun 2000 2002 : tahun 2002 sekarang

Adapun pegawai yang bertugas dilingkungan Puskesmas Sukarami saat ini berjumlah 32 orang termasuk yang ditugaskan di Pustu (Puskemas Pembantu) dengan berbagai jenjang pendidikan dari SLTA sampai perguruan tinggi, baik yang berlatar belakang kesehatan maupun umum, bahkan saat ini ada beberapa orang yang sedang menempuh pendidikan pada program diploma 3 dan strata 1. Tenaga pelaksana di Puskesmas Sukarami sebagai berikut: - Dokter umum - Dokter gigi - Sajana Kesehatan Masyarakat - Akper - Perawat - Perawat gigi - Bidan - Petugas Gizi (SPAG) - Sanitarian (SpPH) - Analis Kesehatan - Asisten Apoteker - SLTA (LOPK) - SMEA -Akbid V. Visi Visi dan Misi Puskesmas : 2 orang : 1 orang : 2 orang : 6 orang : 4 orang : 3 orang : 8 orang : 1 orang : 2 orang : 1 orang : 1 orang : 2 orang : 1 orang : 1 orang

Tercapainya wilayah kerja puskesmas Sukarami yang sehat optimal tahun 2007 Misi VI. Meningkatkan sarana dan prasarana dan pelayanan bermutu prima Meningkatkan kemitraan pada semua pihak Meningkatkan sumber daya manusia di Puskesmas Sukarami Meningkatkan pemberdayaan masyarakat Menciptakan suasana nyaman dilingkungan kerja Tujuan Pokok Puskesmas 1. Menyelenggarakan segala urusan rumah tangga daerah dalam bidang kesehetan yang menjadi tanggunh jawabnya dan tugas pembantuan yang diberikan oleh pemerintah tingkat I dan pemerintah kota. 2. Pembinaan umum bidang kesehatan meliputi pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif ditetapkan oleh Gubernur 3. Pembinaan teknis upaya kesehatan dasar dan upaya pelayanan kesehatan rujukan berdasarkan kebijaksanaan teknis yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. 4. Pembinaan operasional sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Bupati / Walikota Kepala Daerah Tingkat I. VII. Indikator Keberhasilan 1. Turunnya angka kesakitan dan kematian 2. Tercapainya target pencapaian kegiatan 3. Tercapainya pemberdayan masyarakat dalam bidang kesehatan 4. Terwujudnya kerja sama terpadu lintas sektoral berdasarkan kebijaksanaan yang

VIII. Sarana dan Prasarana a. Sumber dana Retribusi 40% ASKES APBD JPS BK

b. Sarana transportasi Mobil ambulance pusling 1 unit Sepeda motor 2 unit

c. Sarana administrasi Sampai saat ini Puskesmas Sukarami memiliki satu unit komputer yang digunakan semaksimal mungkin untuk pembuatan pelaporan dan pembukuan di Puskesmas. VII. Kegiatan dan Program 1. Kesehatan Ibu dan Anak Pemeriksaan antenatal, buteki, nifas Pemeriksaan MTBS Keluarga berencana Pembinaan posyandu Pembinan TK Pemberian kapsul vitamin A

pem berian tablet penambah darah

Penyuluhan pemanfaatna pekarangan Penyuluhan PMT Pemberian makanan tambahan untuk anak sekolah Penyuluhan gilingan emas

2. Kesehatan lingkungan Penyuluhan kesehatan lingkungan sekolah, posyandu, dan Pendataan rumah sehat PHBS Pendataan TPM-TPU Penyuluhan gilingan emas pemukiman 3. P2P P2 ISPA Penyuluhan penyakit ISPA Penemuan penderita ISPA Pengobatan penderita ISPA

P2 Diare Penyuluhan penyakit diare Pengobatan penderita diare Rehidrasi rumah tangga

P2 TB paru Penyuluhan penyakit TB paru Pengobatan penderita TB paru Pemeriksaan dahak dirujuk ke puskesmas Dempo karena

puskesmas Ariodillah merupakan puskesmas satelit

DHF Penyuluhan penyakit DHF Pengobatan penderita DHF

Imunisasi Penyuluhan imunisasi Pelayanan imunisasi bayi, bumil, dan caten Pelayanan imunisasi anak SD

4. Pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan Pengobatan umum Penyuluhan peserta dan keluarga Askes Pengobatan keluarga miskin dan JPS-BK Rujukan Didalam gedung puskesmas Diluar gedung puskesmas Pendataan dan penimbangan anak TK Pendataan dan skrining anak SD kelas I Imunisasi (Bias) Rujukan kasus risiko tinggi Kunjungan rumah penderita TB paru dan lain-lain Kunjungan rumah bumil, bayi, balita berisiko tinggi Pengelolaan penyakit gigi dan mulut Penyuluhan penyakit gigi dan mulut di Posyandu

5. Penyuluhan keseatan masyarakat

6. Usaha kesehatan sekolah (UKS)

7. Perawatan kesehatan masyarakat

8. Kesehatan gigi dan mulut

Penyuluhan dan pemeriksan gigi di TK dan SD Untuk bumil, pemeriksaan Hb Pemeriksaan kehamilan dengan gravindica stick secara Sputum BTA Pemeriksaan widal Penyuluhan penyakit mata Pencarian penderita penyakit mata Pengobatan penderita penyakit mata Merujuk penderita kelainan mata

9. Laboratorium sederhana

sederhana

10. Kesehatan mata

11. Pencatatan dan pelaporan Laporan bulanan Laporan mingguan Laporan PWS KIA, Gizi, Imunisasi Laporan KB Laporan P2M Laporan tahunan Laporan stratifikasi Laporan keuangan Pendataan usia lanjut Pengobatan usia lanjut

12. Kesehatan usia lanjut

BAB IV PEMBAHASAN I. Distribusi Penderita DBD Berdasarkan jenis kelamin Dari data penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di puskesmas Sukarami didapatkan angka kejadian lebih banyak pada wanita. Tabel 1. Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Umur dari Tahun 2004 - 2006 Tahun Umur Laki-laki Perempuan Jumlah II. 2004 20 27 47 2005 28 29 57 2006 26 31 57

Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Penatalaksanaan yang Dilakukan Penatalaksanaan penderita DBD di Puskesmas Sukarami meliputi dua hal

yaitu dirawat di Rumah sakit dan tidak dirawat (perawatan dirumah). Dari data yang ada sebbagian besar penderita DBD di Puskesmas Sukarami memerlukan perawatan di rumah sakit. Tabel 2.Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Penatalaksanaan yang Dilakukan Tahun Penatalaksanaan Dirawat Tidak dirawat Dirawat dan meninggal Jumlah 2004 44 3 47 2005 55 1 1 57 2006 54 3 57

III.

Distribusi Penderita DBD Berdasarkan Umur Penderita DBD terbanyak di Puskesmas Sukarami dari tahun 2004-2006

aadalah anak-anak berusia 6-8 tahun. Distribusi lengkapnya dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Distribusi penderita DBD berdasarkan umur penderita Tahun Umur (tahun) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 12-14 14-16 16-18 18-20 20-22 22-24 24-26 26-28 28-30 2004 1 10 5 7 2 3 0 1 3 1 4 0 2 1 0 2005 2 4 7 11 2 4 6 4 3 1 2 2 3 0 2 2006 1 6 5 9 6 6 1 2 1 1 2 3 2 1 3

30-32 32-34 34-36 36-38 38-40 >40 Jumlah

1 1 1 0 1 3 47

1 0 0 0 1 2 57

1 1 0 1 0 5 57

Kasus DBD yang banyak menyerang anak usia 0-10 tahun ini mungkin dapat disebabkan karena faktor status imun anak yang masih rendah. Status imun yang rendah ini dapat dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor lain seperti faktor gizi, faktor hiegene anak dan faktor perilaku atau kebiasaan dalam keluarga. Selain itu, faktor lain yang mungkin mengakibatkan anak dengan mudah tertular penyakit ini adalah faktor lingkungan seperti rumah yang tidak bersih dari jentik, lingkungan sekolah maupun taman bermain anak. IV. Distribusi Musim Penularan DBD Diagram 1. Distribusi musim penularan DBD
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0
Ja nu Fe a ri br ua ri M ar et Ap ri l M ei Ju ni J Ag uli Se u stu pt s em b O er kt N obe op em r D es ber em be r

Jumlah Penderita

2004 2005 2006

Bulan

Dari diagram 1 dapat dilihat bahwa DBD sebagian besar terjadi pada musim penghujan yaitu Desember sampai Februari. Hal ini sangat wajar karena wilayah kerja Puskesmas Sukarami yang sebagian berupa rawa dan sering terjadi banjir memungkinkan jentik-jentik nyamuk untuk berkembang biak dengan baik. V. Pencapaian program P2DBD Dalam mengatasi penyakit demam berdarah dengue (DBD) ini puskesmas sukarami telah mengadakan program-program sesuai dengan pokok-pokok program pemberantasan penyakit DBD antara lain :

1. Larvasiding Kegiatan Abatisasi, baik selektif maupun massal dilakukan secara rutin di wilayah kerja Puskesmas Sukarami. Kegitan abatisasi dilakukan setiap empat kali dalam setahun. Pada kegiatan ini dilakukan pemberian bubuk abate secara gratis pada kelurahan wilayah kerja puskesmas sukarami. Selain itu di puskesmas sendiri disediakan bubuk abate sehingga hal ini memudahkan bagi masyarakat untuk menggunakannya. 2. Pemeriksaan jentik nyamuk berkala Kegiatan pemberantasan jentik nyamuk di puskesmas sukarami dilaksanakan secara berkala yaitu setiap 3 bulan sekali. Pemeriksaan dilakukan di 2 kelurahan yaitu kelurahan kebun bunga dan kelurahan sukarami. Setiap kelurahan diambil masing-masing 10 rumah dari 10 RT sebagai sampel. Hasil pemeriksaan jentik nyamuk dan angka bebas jentik (ABJ) dapat dilihat pada tabel 4. dari tabel dapat dilihat bahwa ABJ pada wilayah kerja puskesmas sukarami mencapai angka > 90%. Angka ini hampir mendekati target standar ABJ yaitu sebesar 95%.

Tabel 4. Angka Bebas Jentik Tahun Trimester TM I TM II TM III TM IV 2004 Jentik Jentik (+) (-) 17 183 15 185 14 186 15 185 2005 2006 ABJ Jentik Jentik ABJ Jentik Jentik ABJ (%) (+) (-) (%) (+) (-) (%) 91.5 20 180 90 15 185 92.5 92.5 16 184 92 26 374 93.5 93 14 186 93 17 383 95.75 92.5 19 181 90.5 25 375 93.75

Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa ABJ pada TM III tahun 2006 pernah melampaui target yaitu sebesar 95,75%, tetapi mengalami penurunan kembali pada TM IV tahun yang sama, yaitu 93,75%. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan karena masih kurangnya kepatuhan keluarga untuk melakukan pemberantasan nyamuk, seperti kurangnya kepatuhan untuk menjaga kebersihan tempat penampungan air maupun membersihkan tempat tinggal mereka dari barang-barang bekas yang dapat digenangi air. 3. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara fogging. Puskesmas bekerja sama dengan kelurahan untuk mengadakan fogging pada daerah-daerah dimana ABJ yang didapatkan < 90% 4. Penyuluhan Kegiatan penyuluhan tentang DBD merupakan salah satu program promosi kesehatan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sukarami. Penyuluhan tidak hanya dilakukan saat penyakit tersebut mewabah. Khusus untuk penyakit DBD program penyuluhan berkala dilakukan antara bulan Desember sampai Februari, mengingat pada bulan-bulan tersebut curah hujan cukup tinggi dan memungkinkan bertambahnya tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Penyuluhan biasanya dilakukan di sekolah, kelurahan dan kecamatan, Posyandu. Selain itu juga dilakukan

penyuluhan kepada kader-kader puskesmas di wilayah kerja puskesmas Sukarami.

BAB V PENUTUP KESIMPULAN Distribusi penderita DBD berdasarkan jenis kelamin dalam tahun 2004-2006 di Puskesmas Sukarami tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Hampir sebagian besar penderita DBD di Puskesmas Sukarami dirawat dan pada tahun 2005 didapatkan 1 orang yang dirawat yang kemudian meninggal. Kasus DBD di Puskesmas Sukarami pada tahun 2004-2005 mengenai hampir seluruh golongan umur, tetapi frekuensi terbanyak ditemukan pada usia 0-10 tahun. Distribusi musim penularan DBD adalah pada bulan Desember, Januari dan Februari. Program pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Sukarami terdiri dari kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk berkala,

abatisasi massal, pemberantasan sarang nyamuk dengan cara foging dan penyuluhan. Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004 sampai 2006 rata-rata 92,4%. Angka ini tidak mencapai target standar ABJ yaitu 95%. Angka kematian karena DBD di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dari tahun 2004 - 2006 adalah sebesar 0,62%.

SARAN 1. Meningkatkan status imun anak usia 0-10 tahun dengan cara pemberian gizi yang cukup serta meningkatkan hiegene perorangan untuk mengurangi angka kejadian DBD. 2. Meningkatkan penyuluhan mengenai pemberantasan sarang nyamuk terutama di tingkat RT dan kelurahan dan sekolah-sekolah sehingga nilai ABJ dapat lebih ditingkatkan sampai angka 95%. 3. Mengadakan kerjasama dengan praktek dokter swasta atau tempat pelayanan kesehatan lainnya yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sukarami dalam pendataan penderita DBD.

DAFTAR PUSTAKA 1. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan. Modul Pelatihan Pengelola Program DBD Kab,/ Kota dan Puskesmas. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan. Palembang; 2005 2. Bagian Penyakit Dalam UNSRI. Standar Profesi Ilmu Penyakit Dalam. Lembaga Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Palembang; 2002 3. Anonymus. Preventative Measures against Dengue Fever. Available from: http://www.expat.co.id/medical/denguefeverindonesia.html. Access on: september 14; 2005 4. Hendarwanto. Dengue. In: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 3rd ed. Balai Penerbit FK UI. Jakarta; 1999 5. Pratiknya, AW. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta; 2003

Lampiran I. Tatalaksana Kasus Tersangka DBD di Puskesmas Sukarami

Lampiran II. Alur Pengobatan dan Rujukan PKM Sukarami

Lampiran III. Struktur Organisasi Puskesmas Sukarami

Lampiran IV. Lokasi Penderita DBD di Wilayah Puskesmas Sukarami tahun 2005

Lampiran V. Lokasi Penderita DBD di Wilayah Puskesmas Sukarami tahun 2006