Anda di halaman 1dari 8

MENJALANKAN MOTOR DC 1.

1 TUJUAN - Mengetahui besar arus start yang hubungannya dengan menjaga kumparan jangkar supaya tidak cepat rusak. 1.2 PRINSIP KERJA Ketika motor pertama kali dijalan kan dari kondisi diam, kecepatan EMF lawan (E) masih sama dengan nol. Dari persamaan Ia = V-E/Ra Untuk E=0 dan Ra yang cukup kecil maka Ia yang mengalir akan cukup besar. Untuk menghindari arus jangkar (Ia) yang cukup besar ini, biasanya pada saat start dipasang tahanan mula secara seri dengan tahanan jangkar. Dengan berputarnya rotor, maka secara perlahan tegangan induksi lawan (E) akan dibangkitkan. Bersamaan dengan ini maka tahanan mula tersebut nilainya harus diturunkan. 1.2.1 Cara start dengan rheostat Prinsip dasar dari cara menjalankan dan cara menentukan nlai tahanan asut dapat dijelaskan berdasarkan gambar 1.1. dari gambar tersebut kita dapat mennetukan besarnya tahanan pada tiap-tiap stud dengan langkah-langkah berikut: Pada saat lengan A pertama kali menyentuh stud 1, maka besar arus yang mengalir adalah: Imax = V/R1

Selang beberapa lama lengan A pada stud 1 dan menjelang pindah ke stud 2, EMF lawan (E) sudah muncul, sehingga arus yang mengalir menjadi : Imin = V-E1/R1 Setelah lengan A pindah ke stud 2, maka pertama kali arus mengalir adalah: Imax = V-E1/R2 Dari persamaan tersebut dapat diperoleh hubungan: Imax/Imin = R1/R2

Setelah beberapa saat lengan A berada pada stud 2 maka EMF naik menjadi E2 dan arus mengalir menjadi: Imin = V-E2/R2 Saat pertama kali lengan A pindah ke stud 3 maka EMF naik lagi menjadi E3 dan arus yang mengalir: Imax = V-E2/R3 Dari persamaan tersebut dapat diperoleh hubungan: Imax/Imin = R1/R3 Setelah beberapa saat lengan A berada pada stud 3 maka EMF naik lagi menjadi E3 dan yang mengalir: Imin = V-E3/R3 Pada waktu lengan A pindah posisi ke stud 4 maka arus yang mengalir: Imax = V-E3/ Ra Dari persamaan diperoleh hubungan Imax/Imin = R1/R2 Jika persamaan direalisasikan maka Imax/Imin = R1/R2 = R2/R3 = R3/Ra = K Jadi: R3 = KRa R2 = K2R3 = K Ra R1 = K3Ra Dalam menentukan besarnya Imax dan Imin tergantung terhadap beban.

1.2.2 Macam-macam alat start untuk motor DC Untuk starting motor DC alat yang sering digunakan adalah three point starting rheostart, fuor point start rheostart dan automatic start. Disebut three point start rheostat karena pada terminalnya terdapat 3 buah ujung, yaitu A (armature), F (field), L (line).

Sedang pada fuor point starting rheostat terdapat 4 buah ujung yaitu L1 (line), L2 (line), F(field), dan A (armature). Baik type pertama dan type kedua dilengkapi dengan holding coil (M). Holding coil berfungsi sebagai pelindung motor bila terjadi gangguan sumber tegangan. Bila I=0 maka kemagnita npada holding coil akan hilang sehingga pegas menarik lengan (engkol) untuk kembali pada posisi off. Oleh karena itu bila tegangan sumber hidup kembali, jangkar tidak akan mengalami kerusakan. Perbedaan type ini terletak pada holding coil (M) dimana pada three point start rheostat, holding coil terpasang seri terhadap lilitan penguat magnet sedang pada four point starting rheostat holding coil terpasang parallel dengan jala-jala. Untuk type automatic start peralatannya dilengkapi dengan kontraktor yang digerakkan secara eletromagnetik. Kontak-kontak tersebut bekerja secara berurutan dan mengatur tahanan yang tersambung.

Three point start rheostat

Four point starting rheostat 1.3 ALAT YANG DIGUNAKAN - Motor DC yang terdapat dalam panel 1.4 LANGKAH PERCOBAAN 1. Catat spesfikasi motor DC yang digunakan 2. Ukur nilai R setiap stud 3. Buat rangkaian

4. Pada saat start posisi tahanan medan maksimum 5. Posisi handel start ada pada posisi start 6. Setelah switch S ditutup aturlah handel start pada setiap stud dan catat arus Ia dan Eo pada setiap stud.

1.5 PERTIMBANGAN HASIL 1. Mengapa pada motor DC disini saat pengawalan perlu diberi tahanan awal? jelaskan 2. Apa yang terjadi bila hal no 1 diatas tidak dilakukan?

PERCOBAAN 1 MENJALANKAN MOTOR DC KELOMPOK 1 : Audi Dian Erlangga Rizqi Aji Wardhana Faza Alfaradin Hamdan Kesawa N. (7511040047) (7511040049) (7511040050) (7511040060)

GAMBAR RANGKAIAN :

PA P C N

TABEL PERCOBAAN :

A 3 3 3 3 3

V 100 100 100 100 100

RPM 1150 1200 1202 1250 1270

Ea 89 92 93 93 93

AR 1,4 1,4 1,42 1,44 1,45

AF 1,6 1,6 1,58 1,56 1,55

Perhitungan Torsi: DimisalkanKa = x 1. Ea = Kam 89 = x 1150 x = 0,0774 KaIa = T 0,0774 . 1,4 = T T = 0,108 2. Ea = Kam 92 = x 1200 x = 0,07666 KaIa = T 0,07666 . 1.4 = T T = 0,107 3. Ea = Kam 93 = x 1202 x = 0,0773 KaIa = T 0,0773 . 1,42 = T T = 0,109 4. Ea = Kam 93 = x 1250 x = 0,0774 KaIa = T 0,0774 . 1,44 = T T = 0,111 5. Ea = Kam 93 = x 1270 x = 0,0732 KaIa = T 0,0732. 1,45 = T T = 0,106 Jawabandaripertimbanganhasil: 1. Pada belitan jangkar motor dc nilai tahanan sangat kecil, maka saat starting arus starting akan besar sekali mengalir pada rangkaian jangkar. Jika dibiarkan maka hal ini akan merusak belitan jangkar, komutator, dan sikat arang. Agar arus starting kecil, maka ditambahkan tahanan awal pada rangkaian jangkar Rv. Dan apabila motor telah berputar sampai dicapai putar an nominalnya tahanan awal Rv tidak difungsikan.

2. Hal ini akan menyebabkan pada saat starting arusnya akan besar sekali mengalir pada rangkaian jangkar. Jika dibiarkanakan merusak belitan jangkar, komutator dan sikat arang. Sumber: http://www.scribd.com/doc/97459650/Materi-Lengkap-Motor-DC

Analisa: Pada percobaan ini dapat diketahui bahwa setiap pergantian stud mulai dari stud 1 sampai 5 tegangan akan tetap konstan sebesar 100 volt dan armaturnya juga tetap sebesar 3. Untuk perubahan yang terjadi terlihat pada putaran rpm setiap pergantian stud yang dilakukan saat percobaan, saat nilai stud dimulai pada stud 1 putarannya adalah sebesar 1150 rpm dan pada stud 2 putarannya sebesar 1200, stud 3 putarannya 1202 dan stud 4 menunjukkan putaran 1250, untuk putaran terbesar ditunjukkan saat stud 5 yaitu 1270. Sedangkan pada Va perubahan yang terjadi hanya pada stud 1 dan stud 2, selebihnya konstan sebesar 93 volt. Pada percobaan pula dapat diketahui bahwa penjumlahan arus Armatur(Ar) dan Af akan menunjukkan besarnya armature. Kesimpulan: Perubahan besaran putaran tergantung pada stud yang ditambahkan. Semakin tinggi nilai stud maka besar pula putarannya, hal ini dapat dilihat dari percobaan yang dilakukan dimana nilai putaran semakin tinggi saat stud ditambahkan.Sedangkan untuk nilai tegangan armaturenya cenderung konstan selama penambahan stud.Dan armature dapat diketahui dengan penjumlahan dari besar nilai Ar dan Af-nya.

Anda mungkin juga menyukai