Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Salah satu agen biologi yang dapat menyebabkan penyakit infeksi yaitu Protozoa. Protozoa merupakan hewan berukuran mikroskopis yang terdiri dari satu sel. Istilah Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos berarti pertama dan zoon berarti hewan. Sel protozoa tersusun dari organelaorganela yang merupakan kesatuan lengkap dan sanggup melakukan semua fungsi kehidupan. Sebagian besar protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit pada binatang dan manusia. Klasifikasi protozoa berdasarkan alat geraknya yakni, sarcodina (bergerak secara amoboid) contoh: Entamoba histolitica, mastigophora (bergerak menggunakan flagel) contohnya: Trichomonas vaginalis, ciliate (bergerak menggunakan silia) contohnya Balantidium coli, sporozoa (tidak menggunakan alat gerak) contohnya: Plasmodium. Beberapa protozoa adalah hewan parasit yang menyerang manusia maupun hewan yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas. Untuk menginfeksi inang protozoa memiliki dua siklus hidup yakni tropozoit dan kista. Bentuk tropozoid adalah bentuk aktif dari protozoa untuk menginfeksi inang dan kista adalah bentuk pertahanan dari protozoa itu sendiri, protozoa masuk ke dalam inang juga dalam bentuk kista. Infeksi oleh protozoa didukung oleh beberapa faktor, seperti kebersihan individu; parasitnya sendiri; tuan rumah reservoir; faktor lingkungan; dan sebagainya. Salah satu yang sangat mendukung penyebaran infeksi dari protozoa yaitu faktor lingkungan, yang antara lain kepadatan penduduk; kondisi sosialekonomi; iklim; sanitasi lingkungan dan faktor kultural sangat berpengaruh terhadap meluasnya penyebaran infeksi oleh protozoa.

1.2

Skenario Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa merupakan penyebab utama

morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak pada banyak bagian dunia. Salah satu penyakit yang disebut amebiasis dapat merupakan penyebab ketiga kematian pada skala global. Prevalensi infeksi amoeba di seluruh dunia bervariasi, dari 5%81%. Di Indonesia, amebiasis kolon banyak ditemukan dalam keadaan endemi. Prevalensi di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 10-18% hal ini disebabkan oleh faktor kepadatan penduduk, hiegene individu, dan sanitasi lingkungan hidup serta kondisi sosial ekonomi dan cultural yang menunjang. 1.3 Rumusan Masalah Dari latar belakang dan scenario diatas, dapat dirumuskan beberapa masalah, antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana cara protozoa menginfeksi inangnya?

2.

Apa saja faktor yang mempengaruhi infeksi protozoa?

1.4 Tujuan Pembelajaran Dari beberapa hal diatas, tujuan pembelajaran yang ingin kami capai, antara lain sebagai berikut: 1. Menjelaskan bagaimana protozoa menginfeksi inangnya 2. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi protozoa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Protozoa berasal dari bahasa yunani, yaitu protos yang artinya pertama dan zoon yang artinya hewan. Protozoa merupakan hewan yang bersifat uniseluler, dimana setiap satu sel protozoa merupakan satu keseluruan dari organisme itu sendiri. Protoplasma dari protozoa dapat mengadakan modifikasi modifikasi atau penonjolan penonjolan yang dapat bersifat sementara atau tetap. Penonjolan penonjolan yang bersifat sementara misalnya penonjolan yang berfungsi sebagai kaki pseudopodia (Lahay, 2007). Protozoa adalah organisme uniseluler, hidup bebas atau parasit, beberapa diantaranya bersimbiosis dengan mahluk hidup lain. Pencernaan secara intraseluler di dalam vakuola makanan. Alat gerak berupa psedium, cilia, atau flagella pengambilan makanan secara holozik, saprozoik dan holophitik. Umumnya berkembang biak melalui pembelahan sel dan konjugasi. Alat gerak berupa kaki semu, flagel dan silia. Terdiri atas 4 kelas yaitu 1). Mastigopora 2). Rhizopoda 3). Sprozoa 4). Ciliata Siklus hidup parasit secara umum dapat dibedakan menjadi siklus hidup secara langsung dan tak langsung. Siklus hidup secara langsung adalah untuk melangsungkan hidup parasit memerlukan hanya satu hospes (hospes definitif) dan parasit ini memiliki fase bebas. Fungsi hidup protozoa dilakukan oleh protoplasma, suatu zat yang bergranula kasar atau halus, yang terdiri dari nukleoplasma dan sitoplasma. Sitoplasma sering terdiri atas ektoplasma, yaitu bagian luar yang tipis, dan endoplasma yaitu bagian dalam yang lebih besar. Ektoplasma mempunyai fungsi dalam pergerakan, mengambil makanan, eksresi, respirasi, dan melindungi diri. Endoplasma yang bergranula mengurus gizi sel dan karena mengandung nukleus juga mengurus reproduksi. Tiap protozoa merupakan kesatuan lengkap yang sanggup melakukan fungsi fisiologi yang dalam jasad lebih besar dapat dikerjakan oleh sel-sel khusus. Sebagian besar protozoa hidup bebas, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit,setelah menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berlainan di dalam

tubuh hospes. Manusia merupakan hospes daripada sekurang-kurangnya enam spesies amoeba, yang termasuk 4 genus, yaitu (1) Entamoeba Histolytica (2) E.Colli (3) E.Ginggivalis (4) Dientamoeba Fragilis, (5) Endolimax Nana, dan (6) Iodamoeba Butschlii. Semuanya hidup didalam rongga usus besar, tetapi hanya satu spesies yaitu Entamoeba Histolytica, merupakan parasit patogen yang penting untuk manusia. Entamoeba Histolytica dapat menyebabkan penyakit yang bernama amebiasis yang merupakan patogen kolon yang lazim di Negara berkembang, terdapat di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis. Infeksi protozoa ini ada dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk kista yang infektif dan bentuk lain yang rapuh, berupa tropozoit yang patogen. Kista sampai pada manusia melalui air dan sayur-mayur yang terkena kontaminasi dengan tinja yang infektif, melalui makanan yang dikontaminasi oleh lalat atau tangan orang-orang yang menyajikan makanan, atau karena penularan langsung dari pengandung kista. Sumber-sumber air di desa-desa kecil yang sering terkena kontaminasi dengan kotoran setempat, dapat menyebabkan infeksi. Entamoeba gingivalis merupakan protozoa yang tidak patogen dalam jumlah yang kecil, protozoa ini disebut patogen ketika terjadi keradangan gingival dan terutama ditemukan pada gigi berlubang.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Mapping

3.2

Protozoa 3.2.1 Morfologi Protozoa Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel.. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia

(kaki semu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif (Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga FKU UI). 3.2.2 Fisiologi Protozoa Fungsi hidup protozoa dilakukan oleh protoplasma, suatu zat yang bergranula kasar atau harus, yang terdiri dari nukleoplasma dan sitoplasma. Sitoplasma sering terdiri atas ektoplasma , bagian luar yang tipis, dan endoplasma, bagian dalam yang lebih besar. Ektoplasma mempunyai fungsi dalam pergerakan, mengambil makanan, ekskresi, respirasi dan melindungi diri. Alat pergerakan ialah bagian dari ektoplasma yang memanjang dan dikenal sebagai plasmodium, cilium, flagellum, atau membrane bergelombang. Endoplasma yang bergranula mengurus gizi sel dank arena mengandung nucleus juga mengurus reproduksi. Endoplasma berisi vakuola makanan, makanan cadangan, benda asing, vakuola kontraktil dan benda kromatid. Vakuola kontraktil mempunyai fungsi dalam mengatur tekanan osmose dan membuang bahan-bahan sampah. Fungsi reproduksi dan fungsi bertahan diri, dilaksanakan oleh protoplasma yang mempunyai sifat sifat khusus atau oleh bagian protoplasma dengan struktur dan fungsinya yang telah disesuaikan, yang disebut organel. Pergerakan dipergunakan untuk memperoleh makanan dan untuk bereaksi terhadap rangsangan fisik dan kimia. Protozoa bernafas secara langsung dengan mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, maupun secara tidak langsung dengan menggunakan oksigen yang dilepaskan dari persenyawaan kompleks oleh aktivitas enzim. Untuk sebagian besar kelangsungan hidup protozoa berdasarkan kekuatan reproduksi yang tinggi. Reproduksi protozoa berlangsung secara seksuil dan aseksuil. Dalam reproduksi aseksuil atau tipe belah pasang, pembelahan inti telah dimodifikasi secara mitosis dan amitosis.

3.3

Protozoa Patogen 3.3.1 Entamoeba histolytica Daur Hidup Entamoeba histolytica E.histolytica merupakan salah satu dari enam spesies Amoeba kelas rhizopoda. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit yang disebut amebiasis dengan manusia sebagai hospesnya. Dalam daur hidupnya, E.histolitica mempunyai 3 stadium, yaitu bentuk histolitika, minuta, dan kista. Bentuk histolitika dan minuta adalah bentuk trofozoit, perbedaannya terletak pada sifat dan ukurannya. Bentuk histolitika bersifat patogen dan mempunyai ukuran yang leih besar. Bentuk ini dapat hidup di jaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit, dan vagina. Sedang bentuk minuta adalah bentuk pokok (esensial). Tanpa bentuk minuta, daur hidup tidak dapat berlangsung. Lalu kista dibentuk di rongga usus besar. Bentuk ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif (Staf Pengajar Bagian Parasitologi, 2006). Patogenesis Entamoeba histolytica Patogenesis Entamoeba histolytica tergantung pada (1) resistensi hospes (2) virulensi dan kemampuan invasi amuba itu, dan (3) keadaan traktus intestinalis. Resistensi tergantung pada kekebalan bawaan, keadaan gizi dan bebas tidaknya si penderita daripada infeksi penyakit-penyakit infeksi yang melemahkan. Virulensi, kemampuan untuk invasi, jumlah amuba dan keadaan local daripada usus tempat invasi dipermudah oleh makanan yang terdiri atas karbohidrat, kerusakan fisik dan kimiawi pada mukosa, stasis dan terutama flora bakteri yang menentukan luas ulkus pada usus. Bakteri mempertinggi daya invasi amuba atau menciptakan kondisi yang mempermudah invasi itu. Siklus hidup Entamoeba histolytica Bentuk trofozoit (histolitika) memasuki mukosa usus besar yang utuh dan mengeluarkan enzim yang dapat menghancurkan jaringan (lisis). Enzim ini adalah suatu cystein proteinase yang disebut histolisin. Kemudian trofozoit memasuki submukosa dengan menembus lapisan muskularis mukosa, bersarang di submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas

daripada di mukosa usus. Akibatnya terjadi luka yang disebut ulkus ameba. Lesi ini biasanyamerupakan ulkus-ulkus kecil yang letaknya tersebar di mukosa usus, bentuk rongga ulkus seperti botol dengan lubang sempit dan dasar yang lebar, dengan tepi yang tidak teratur agak meninggi dan menggaung. Proses yang terjadi terutama nekrosis dengan lisis sel jaringan. Bila terjadi infeksi sekunder terjadilah proses peradangan. Proses ini dapat meluas di submukosa dan melebar ke lateral sepanjang sumbu usus, maka kerusakan dapat menjadi luas sekali sehingga ulkus-ulkus saling berhubungan dan terbentuk sinus sinus dibawah mukosa. Bentuk trofozoit (histolitika) ditemukan dalam jumlah besar di dasar dan dinding ulkus. Dengan peristaltis usus, bentuk ini dikeluarkan bersama isi ulkus ke rongga usus kemudian menyerang lagi mukosa usus yang sehat atau dikeluarkan bersama tinja. Tinja ini disebut tinja disentri yaitu tinja yang bercampur darah dan lendir (Staf Pengajar Bagian Parasitologi, 2006; Soewondo, 2007). Tempat yang sering dihinggapi (predileksi) adalah sekum, rektum, sigmoid. Seluruh kolon dan rektum dapat dihinggapi apabila infeksi berat.

Gambar 3.1 Tahapan penginfeksian organ oleh Entamoeba histolytica

Amebiasis Intestinal Invasi parasit ini dimulai dengan melalui kripta mukosa usus dan menyababkan terbentuknya ulkus primer. Pada ulkus primer dapat sembuh sempurna, sembuh namun meninggalkan berkas yang menetap ataupun dapat terjadi penyebaran pada lapisan mukosa dan lapisan yang lebih dalam. Penyerangan ke lapisan yang lebih dalam terhalangi oleh lapisan muskularis mukosa yang lebih resisten sehingga terjadi penyebaran ke lateral. Penyebaran ke lateral dapat menyebakan ulkus satu bergabung dengan ulkus yang lain dan membentuk sinus-sinus tempat ulkus satu dan yang lain terlihat normal padahal di bawahnya terdapat hubungan satu sama lain. Jika mukosa diatas terowongan ini lepas akan terbentuk ulkus yang lebih besar. Lepasnya mukosa tadi disertai dnegan terlepasnya parasit sehingga akan lebih meluas ke dalam. Ameba terutama di dapat didasar ulkus atau tersebar di dalam jaringan. Tampak perubahan histologist meliputi histolisis, thrombosis kapiler, infiltrasi sel bulat, dan nekrosis. Jika invasi berlanjut dapat menembus tunika serosa sehingga terjadi perforasi, perdarahan, berlanjut dengan peritonitis. Amebiasis Ekstraintestinal Invasi dapat terjadi pada pembuluh darah sehingga dapat terjadi penyebaran ke organ dimluar usus melalui aliran darah. Yang paling sering adalah penyebaran ke hati melalui vena porta. Mula-mula terjadi hepatitis ameba diffusa yang sebenarnya merupakan reaksi hati nonspesifik terhadap bakteri, toksin, virus, atau zat lain. Hati membesar dan terasa nyeri yang akan diikuti terbentuknya abses yang dapat membesar. Perluasan abses hati (secara perikontinuitatum) dapat menimbulkan abses subdiafragma yang dapat meluas e sebelah atas menembus diafragma dan terjadi abses paru-paru yang merupakan urutan kedua setelah abses hati. Selain itu, penyebaran ke organ lain dapat terjadi yaitu ke otak, limpa, vagina, prostat dan sebagainya.

Cara Pencegahan Amebiasis 1. Memasak/merebus air minum 2. Menjaga kebersihan & kerapihan lingkungan serta pembuangan sampah secara benar 3. Mencuci tangan setelah buang air 4. Menggunakan teknik aseptic 5. Memproses alat bekas pakai Pengobatan Amebiasis Sampai pertengahan abad ke 20 beberapa obat untuk disentri amuba antara lain adalah emetin hidrokhlorin, quinin, khloroquin dan dehidroemetin. Tahun 1966, dilaporkan bahwa metronidazol sangat baik untuk pengobatan amebiasis. Obat yang digunakan untuk penderita amebiasis seyogyanya punya sifat antara lain bekerja sebagai tissue amoebicide, diserap langsung ke dalam mukosa usus dan segera membunuh amuba, serta efektif membunuh kista dan trofozoit. Emetin hidrokhlorin temyata efektif bila diberikan secara parenteral karena jika diberikan per oral penyerapannya tidak optimal. Bagi penderita sakit jantung, wanita hamil dan penderita gangguan ginjal pemberian emetin tidak dianjurkan mengingat toksisitasnya tinggi. Sebaliknya dehidroemetin relatif kurang toksik dibandingkan dengan emetin dan dapat diberikan per oral. Emetin efektif membunuh E. histolityca secara langsung dalam bentuk trofozoit dibandingkan dalam bentuk kista. Dalam urin emetin dapat dijumpai 20-40 menit setelah penghentian pengobatan, sedangkan dehidroemetin lebih cepat hilangnya. Baik emetin maupun dehidroemetin efektif untuk pengobatan amebiasis ekstraintestinal (abses hati). Penderita amebiasis akut dan ekstraintestinal sebaiknya diobati dengan metronidazol. Metronidazol merupakan obat pilihan karena terbukti efektif membunuh E. histolytica baik yang berbentuk kista atau pun trofozoit. Metronidazol memberikan efek samping yang bersifat ringan seperti mual, muntah dan pusing. Sebgai contohnya pemberian obat metronidazol pada anak-anak di RS Pimgadi Medan menunjukkan hasil

10

yang memuaskan dan tidak dijumpai efek samping yang berarti pada saat pemberian maupun saat evaluasi. Pengobatan dengan pemberian metronidazol bersamaan dengan emetin temyata memberikan hasil yang lebih baik dengan tidak ditemukannya kista/trofozoit pada pemeriksaan tinja pada 62,5% penderita. Penderita amebiasis dengan abses hati yang disertai demam yang berlanjut 72 jam sesudah terapi dengan metronidazol, dapat dilakukan aspirasi non-bedah. Selain itu klorokuin dapat ditambahkan pada pengobatan dengan metronidazol atau dehidroemetin untuk pengobatan abses hati yang sulit disembuhkan. Selama kehamilan trisemester pertama, sebaiknya jangan menggunakan metronidazol, namun belum ada bukti adanya teratogenisitas pada manusia. 3.3.2 Balantidinm coli Morfologi Balantidium coli Balantidium coli merupakan suatu protozoa yang masuk dalam filum Ciliophora, kelas Kinetofragminophorea, ordo Trichostomatida, famili Balantidiae. Memiliki dua stadium, yaitu trofozoit dan kista. Merupakan protozoa besar, habitatnya pada usus besar dan yang biasa menjadi hospes adalah babi dan manusia. Balantidium coli merupakan protozoa usus manusia yang paling besar. Memiliki dua bentuk tubuh yaitu, trofozoit dan kista.
1) Bentuk trofozoit seperti kantung, panjangnya 50-200 m,

lebarnya 40-70 m dan berwarna abu-abu tipis. Silianya tersusun secara longitudinal dan spiral sehingga geraknya melingkar, sitostoma yang bertindak sebagai mulut pada B. coli terletak di daerah peristoma yang memiliki silia panjang dan berakhir pada sitopige yang berfungsi sebagai anus sederhana. Ada 2 vakuola kontraktil dan 2 bentuk nukleus. Bentuk nukleus ini terdiri dari makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berbentuk seperti ginjal, berisi kromatin, bertindak sebagai kromatin somatis/vegetatif. Mikronukleus banyak mengandung DNA, bertindak

11

sebagai nukleus generatif/seksual dan terletak pada bagian konkaf dari makronukleus.

Gambar 3.2 tropozoid Balantidium coli


2) Bentuk kista lonjong atau seperti bola, ukurannya 45-75 m,

warnanya hijau bening, memiliki makronukleus, memiliki vakuola kontraktil dan silia. Kista tidak tahan kering, sedangkan dalam tinja yang basah kista dapat tahan berminggu-minggu.

Gambar 3.3 kista Balantidium coli

12

Diagnosis Balantidium coli Diagnosis Balatidinum Coli tergantung pada behasil tidaknya menemukan trofozoit dalam tinja encer dan lebih jarang tergantung pada penemuan kista dalam tinja padat. Tinja iniharus diperiksa beberapa kali, karena pengeluaran parasit dari badan manusia berbeda-beda. Cara Penularan Balantidium coli Di selaput lendir usus besar. Bentuk vegetatif, menyebabkan abses (luka) kecil

Abses pecah

Timbul ulkus yang menggaung ada usus besar

Kolon mengalami infeksi dan bentuk kista mulai muncul

Kista dan bentk vegetatif keluar dari tubuh, berada pada tinja

Manusia terkontaminasi tinja, lalu krista tertelan

Menuju ke usus halus dan menuju kolon

Pengobatan Balantidium coli Balantidiasis dapat diobati dengan tetrasiklin 4 x 500 mgr/hari selama 10 hari atau iodokuinol 3 x 650 mgr / hari selama 20 hari obat pilihan adalah metronidazol 3 x 750 mgr/hari.

13

3.3.3 Trichomonas vaginalis Morfologi Trichomonas vaginalis Parasit ini terdapat pada genital wanita dan pria, terutama ditemukan pada saluran kencing kedua jenis kelamin tersebut. Wanita frekuensi lebih banyak dijumpai daripada pria, dan penyakit ini bersifat kosmopolit. Morfologi hanya memiliki bentuk tropozoit. Morfologi berukuran antara 15 - 20 x 10 mikron, tidak berwarna dan bentuknya cuboid. Sitoplasmanya bergranula, mempunyai membran bergelombang (um;undulating membrane) berakhir pada pertengahan tubuh, jadi berflagel. Makanannya adalah kuman-kuman, sel-sel vagina, hanya dapat hidup pada pH diatas 5,5 - 7,5.

Gambar 3.4 Trichomonas vaginalis Siklus Hidup Trichomonas vaginalis Pada wanita tempat hidup parasit ini di vagina dan pada pria di uterus dan prostat. Parasit ini hidup di makosa vagina dengan makan bakteri dan leukosit. Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat berputar-putar di antara sel-sel epitel dan leukosit dengan menggerakkan flagel antesias dan membran bergelombang. Trichomonas vaginalis berkembang biak secara belah pasang longitudinal. Di luar habitatnya, parasit mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 00C. Dalam biakan, parasit ini mati pada pH kurang dari 4,9, inilah sebabnya parasir tidak dapat hidup di sekitar vagina yang

14

asam (pH 3,8 4,4). Parasit ini tidak tahan pula terhadap desinfektans dan antibiotik. Infeksi terjadi secara langsung waktu bersetubuh melalui bentuk trofozoit pada keadaan lingkungan sanitasi kurang biak dengan banyak orang hidup bersama dalam satu rumah. Infeksi secara tidak langsung melalui alat mandi seperti : lap mandi atau alat sanitasi seperti toilet seat.

Gambar 3.5 Siklus hidup Trichomonas vaginalis Keterangan gambar ; Trichomonas vaginalis terletak di bawah saluran kelamin wanita dan di uretra dan prostate pria (1), mereplikasi dengan cara binary fission (2). Parasit ini tidak memiliki bentuk kista dan tidak dapat bertahan dilingkungan luar. Trichomonas vaginalis ditularkan antar manusia, dengan penularan utama melalui hubungan sex (3). Patologi dan Gejala Klinis Trichomonas vaginalis Setelah Trichomonas vaginalis berkembang biak cukup banyak, parasit menyebabkan degenerasi dan deskuamasi sel epitel vagina. Keadaan ini disusul oleh serangan leukosi, dan disekitar vagina tedapat banyak 15

leukosit dan parasit bercampur dengan sel-el epitel. Sekret vagina mengalir keluar vagina dan menimbulkan gejala flour albus atau keputihan. Setelah lewat stadium akut, gejala berkurang dan dapat reda sendiri. Pada pemeriksaan in speculo, tampak kelaian berupa vaginitis, dinding vagina dan porsio tampak merah meradang dan pada infeksi berat tampak pula pendarahan-pendarahan kecil. Flour tampak berkumpul di belakang porsio, encer atau sedikit kental pada infeksi campur, berwarna putih kekuning-kuningan atau putih kelabu dan berbusa.banyak flour yang di bentuk tergantung dari beratnya infeksi dan stadium penyakit. Selain gejala flour albus yang merupakan keluhan utama penderita, pruritus vagina atau vulva dan disuria (rasa pedih waktu kencing) merupakan keluhan tambahan. Infeksi dapat menjalar dan menyebabkan uretritis. Kadang-kadang infeksi terjadi tanpa gejala. Pada pria, infeksi biasanya terjadi tanpa gejala, atau dapat pula menyebabkan uretritis, prostatitis dan prostatovisikulitis. Diagnosa Trichomonas vaginalis Diagnosis berdasarkan keluhan keputihan atau flour albus, rasa panas dan gatal pada vulva/vagina dan keluarnya sekret encer, berbusa berbau tidak sedap dan berwarna kekuning-kuningan, serta adanya rasa bekas garukan karena gatal dan heperemia pada vagina. Diagnosis laboratorium di buat dengan menemukan parasit Trichomonas vaginalis pada bahan sekret vagina, sekret uretra, sekret prostat dan urine. Dengan cara pembuatan preparatnya sbb : 1) Pada wanita, diambil sekret dari vagina (diambil pada bagian yang putih). 2) Pada laki-laki dengan cara memasukan jari peranum, kemudian prostat dipijat sampai keluar sekret 1 - 2 tetes Untuk kontrol pasca pengobatan, pemeriksaan langsung dengan menggunakan mikroskop perlu di tunjang dengan melakukan pembiakan sekret vagina atau bahan lain dalam medium yang cocok. Pengobatan dan Pencegahan Trichomonas vaginalis Dasar pengobatan ialah memperbaiki keadaan vagina dengan membersihkan mukosa vagina dan menggunakan obat-obat per os dan lokal.

16

Pada saat ini metronidazol merupakan obat yang efektif untuk pengobatan trikomoniasis, baik untuk pria maupun untuk wanita.dosis per os 2x 250 mg sehari selama 5-7 hari untuk suami atau istri. Dosis lokal untuk wanita adalah 500 mg metrodizal dalam bentuk tablet vagina sehari selama 57 hari. Untuk pencegahan, karena kelaian, kasus-kasus tanpa gejala pada pria perlu mendapat pengobatan yang tuntas. Demikian pula suami dari wanita yang menderita trichomoniasis perlu di beri pengobatan yang sama seperti istrinya sampai parasit tiak di temukan lagi pada pembiakan kontrol. 3.3.4 Giardia lamblia Morfologi Giardia lamblia Trofozoit flagelata ini berbentuk seperti bola lampu, bilateral simetris, besarnya 12-15 mikron, mempunyai bagian anterior yang lebar dan membulat, sedangkan bagian posterior meruncing. Permukaan bagian dorsal cembung. Alat penghisap seperti cakram yang berbentuk ovoid dan cekung menempati tigaperempat bagian daripada permukaan vntral yang gepeng. Terdapat dua nukleus dalam kariosom besar di tengah-tengah, dua buah axostyl, dua buah blefaroplast, dua buah batang yang bila dipulas berwarna tua, dan dianggap sebagai benda parabasal, dan empat pasang flagel, meskipun pernah diperlihatkan adanya lima pasang. Kista yang berupa suatu elips, besarnya 9-12 mikron, mempunyai dinding halus dan jelass, dan mempunyai dua sampai empat inti dan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan trofozoit. Flagelata ini tinggal di duodenum dan bagian proksimal jejunum, dan kadang-kadang mungkin di dalam saluran empedu dan kandung empedu. Siklus Hidup Giardia lamblia Siklus ini akan berlanjut melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kista, apabila tertelan oleh manusia akan melewati lambung menuju duodenum. Di dalam duodenum karena enzim yang bersifat alkalis, maka kista mengalami exitasi menjadi trophozoit.

17

Trophozoit dapat keluar dari tubuh manusia bersama faeses dalam keadaan diare. Apabila keadaan di usus tidak sesuai, maka trophozoit mengalami encystasi membentuk kista, dimana kista tersebut dapat membelah menjadi 2 individu. Selain itu, kista dapat keluar bersama faeses. Trophozoit di duodenum dapat membelah secara longitudinal binary fission. Transmisi dan Patogenesis Giardia lamblia Giardia lamblia dapat ditemukan pada saluran gastrointestinal berbagai macam mamalia termasuk manusia. Protozoa ini dapat ditularkan melalui cara fecaloral maupun oral-anal. Banyak sumber air seperti danau dan sungai mengandung kista protozoa ini sebagai akibat dari kontaminasi oleh feses manusia dan hewan. Transmisi G.lamblia umum terjadi pada orang yang memiliki risiko tinggi seperti anak-anak yang berada di tempat penitipan anak, wisatawan yg mengunjungi beberapa area, homoseksual, dan orang yg sering berhubungan dengan hewan-hewan tertentu. Gejala giardiasis bervariasi dari yang asimtomatik hingga diare dan malabsorbsi. Diagnosis dengan ditemukannya kista dan trofozoit dalam feses. Metode immunofluorescece dan enzyme immuoassay sudah mulai dikembangkan untuk mendeteksi G. lamblia dalam feses. Pencegahan Penularan Giardia lamblia Pencegahannya dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
1) Mengkonsumsi air minum yang bersih yang telah menjalani

pemanasan sampai 50 sehingga dapat menginaktifkan kista. Pada umumnya G. lamblia resisten terhadap klorin, sehingga penyaringan sangat diperlukan untuk menghilangkan kontaminasi oleh protozoa patogen ini. 2) Melindungi tempat persediaan air dari hospes reservoir (berangberang dan tikus air). 3) Memasyarakatkan kebersihan individu (cuci tangan). 4) Penyediaan makanan yang bersih dan baik.

18

3.3.5 Entamoeba gingivalis Morfologi Entamoeba ginggivalis Mirip dengan E. Histoytica, tidak ada bentuk kista, di jumpai di gigi, gusi dan tonsil, 10-35 micrometer, penyebab karies, periodontitis, penularan melalui contact oral, dapat di jumpai di uterus. Entamoeba ginggivalis hidup di dalam rongga mulut terutama ditemukan pada gigi berlubang dan kantong gingival. Sifat yang paling khas yaitu adanya banyak vakuol makanan didalam sitoplasma dan juga benda-benda yang mudah dipulas, berupa sisasisa inti dari sel yang telah rusak. Amuba ini ditemukan dalam jumlah 10% pada orang-orang dengan mulut yang sehat, sampai 95% pada orang-orang dengan gigi yang rusak dan gusi yang sakit. 3.4 Faktor yang Mempengaruhi Penularan Protozoa Patogen Infeksi penyakit oleh protozoa pathogen dapat menyebar dan ditularkan kepada seseorang melalui beberapa faktor, beberapa faktor ini dapat memicu penularan protozoa pathogen, antara lain sebagai berikut: 1. Internal sifat-sifat protozoa patogen Penularan protozoa patogen dapat disebabkan dari sifat-sifat yang di bawa parasit itu sendiri yaitu berupa invektivitas, invasi, toksigenitas. Sifat invasi dan patogenitas dari parasit dengan mekanisme pertahanan inang yang tidak mencapai kesetimbagan. Jika kesetimbangan ini terganggu masing2 merupakan agresor yang potensial bagi satu sama lain. Infeksi ini dapat terjadi apabila parasit sanggup menyusup atau melalui batas pertahanan inang dan hidup di dalamnya (Noble and Noble, 1989). 2. Pemadatan penduduk Dengan adanya kepadatan penduduk, maka lingkungan sekitar semakin terganggu. Hal ini disebabkan oleh seringnya warga membuang sampah sembarangan. Sehingga hal tersebut membuat lingkungan menjadi kotor. Berbicara mengenai lingkungan, sering kali kita meninjau dari kondisi fisik. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan

19

baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab upaya menjaga lingkungan menjadi tanggungjawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak. Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat, namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kita seperti di diare, demam berdarah, malaria, TBC, cacar, dan sebagainya. 3. Higiene individu Kesehatan lingkungan individu pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif pada terwujudnya status kesehatan yang optimal pula. Penularan dan infeksi protozoa disebabkan tinja yang mengandung tinja terkontaminasi ke manusia, dan kontaminasi tinja itu masuk tertelan ke dalam tubuh. Hal ini bisa disebabkan oleh kontak tangan, dan tangan tidak dicuci dengan bersih. Oleh karena itu, higiene individu atau kebersihan individu harus dijaga. 4. Sanitasi lingkungan Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup: Perumahan, pembungan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembungan sampah, pembuangan air kotor (limbah), rumah hewan ternak (kandang). Jika sanitasi lingkungan atau pembuangan kotoran manusia tidak sehat dan tidak bersih, maka dapat menyebabkan penyebaran tinja yang mengandung kista (infektif). Hal ini disebabkan pula oleh tidak baiknya pembuangan kotoran manusia. 5. Faktor ekonomi

20

Di negara bekembang, khususnya Indonesia, faktor ekonomi ini sangat berpengaruh pada kebersihan dan kesehatan masyarakat. Kebanyakan masyarakat Indonesia, masih berada pada garis kemiskinan. Hal ini menyebabkan, masyarakat tidak memiliki tempat MCK (Mandi Cuci Kakus) yang baik di rumahnya. Oleh sebab itu, mereka memilih melakukan MCK di sungai, dan atau tempat yang tidak bersih. Selain itu, masyarakat juga tidak memiliki air bersih yang mencukupi karena tingkat ekonomi mereka masih rendah, dan belum mencukupi untuk membeli air bersih. Sehingga faktor penularan protozoa yang patogen pun semakin tinggi. 6. Faktor budaya atau kultural Kebanyakan masyarakat Indonesia, masih melakukan BAB (Buang Air Besar) di sungai atau di tanah, dimana tempat itu tidak bersih, dan bias saja terkontaminasi tinja yang mengandung kista (infektif). Kebiasaan atau kebudayaan ini masih turun-menurun sampai sekarang. Oleh sebab itu, kebiasaan ini dapat meningkatkan faktor penularan protozoa yang patogen ke manusia.

21

BAB IV KESIMPULAN Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kami tarik kesimpulan bahwa protozoa adalah hewan bersel satu yang hidup tunggal atau berkoloni. Sebagian besar protozoa hidup bebas, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit dalam tubuh hospes. beberapa protozoa yang menginfeksi manusia, misalnya: Entamoeba histolytica, Plasmodium sp., Trichomonas vaginalis, Balantidium coli, Glandia lambia, dsb. Penginfeksian protozoa parasit ini dipengaruhi oleh faktor kepadatan penduduk , hiegene individu, sanitasi lingkungan, serta kondisi sosial-ekonomi dan kultural masyarakat.

22

DAFTAR PUSTAKA

drg. IDA. Ratna D., dan drg. Niken P. 2005. Buku Ajar Parasitologi Edisi Revisi. Jember : Fak. Kedokteran Gigi Universitas Jember. Eddy Soewandojo. 2002. "Amebiasis -- Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam" Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FK UJ. H. Muslim, M. 2009. Parasitologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC. Media Litbang Kesehatan Volume 21 Nomor 1 Tahun 2011. Natadisastra, Djaenudin. 2009. Parasitologi Kedokteran Ditinjau Dari Organ Tubuh Yang Diserang. Jakarta : EGC. Neva FA, Brown HW. 1994. Basic Clinical Paraitology Sixth Edition. Prentice Hall International Editions. Soewondo, Eddy Soewandojo. 2007. Amebiasis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Staf Pengajar Bagian Parasitologi. 1998. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : Fak. Kedokteran Universitas Jakarta. Staf Pengajar Bagian Parasitologi. 2006. Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Umar Zein. "Diare Akut Infeksius Pada Dewasa". http://library.usu.ac.id/downloadlfklpenyakit.dalam.pdf. e-USU.

23