Anda di halaman 1dari 2

konstruktivisme

NTUK memulai pembahasan mengenai kontruktivisme, kita mesti memulai dari teori rasional dan teori kritik Dalam teori rasional, realisme merupakan bentuk yang paling dikenal dominan pasca Perang Dunia II. Realisme melihat aktor sebagai sesuatu yang atomic egoistic, yang selalu memiliki kepentingan, dan menganggap dunia internasional adalah anarki. Dalam kondisi anarki, negara-negara memperkuat persenjataan militer. Pada intinya, realisme bersandar pada segala sesuatu yang material. Kita sering menyebut hal tersebut dengan perspektif positivis yang menyandarkan pada data dan angka. Teori kritis menolak anggapan tersebut. Menurut teori kritis, manusia bersifat sosial, Diantara teori kritis yang menentang teori rasional adalah modernisme dan postmodernisme. Postmodernisme, diwakili Derrida, mengadopsi radical interpretivism, yang membuat segala hal sangat subjektif dengan kemungkinan kebenaran yang tak terbatas. Modernisme, diwakili madzhab Frankrut seperti Habermas menganut critical interpretivism, dengan memandang bahwa dibutuhkan beberapa kriteria untuk membedakan klaim yang masuk akal dan yang tidak ia punya minimal. Mark Hoffman membedakan modern dan postmodern dengan minimal foundationlism dan anti-foundationalism. Dengan semua itu, teori kritis ini bersifat meta-teoritikal atau sangat non-material. Di titik tengah antara rasional dan kritis itulah kontruktivisme berada. Kontruktivisme menarik apa yang dipahami realis sebagai material dan dalam waktu yang bersamaan menarik yang non-material dari teori kritis untuk digunakan mengkontruksi suatu masalah. Pertama, struktur dapat digunakan untuk mempertajam tingkah laku sosial maupun politik dari aktor individu atau negara, dan memperlihatkan bahwa struktur normatif dan ide dari sang aktor sama pentingnya dengan struktur material. Bila kaum neo-realis membentuk struktur material dari balance of power, dan Marxist melihat struktur material dari ekonomi dunia yang kapitalis, kontruktivis berargumen bahwa penyebaran ide, nilai-nilai, ataupun kepercayaan (beliefs) juga memiliki karakteristik struktural, dan hal itu dapat memperlihatkan kekuatan pengaruh aktor untuk bertindak secara sosial maupun politik. Kedua, kontruktivis beranggapan bahwa memahami bagaimana identitas aktor yang berupa struktur non-material sangat penting karena identitas memberitahukan kita tentang kepentingan (interest) dan tindakan (action). Para rasionalis percaya bahwa kepentingan aktor bisa diukur, yang berarti bahwa pertemuan satu aktor dengan aktor yang lain selalui disertai suatu preexisting set of preferences. Di sinilah kontruktivis, dengan cukup kontras, berargumen bahwa memahami bagaimana perkembangan kepentingan aktor bisa terbentuk seperti itu krusial untuk menjelaskan fenomena politik internasional hal yang diabaikan oleh para rasionalis. Dijelaskan lebih jauh,

bila para rasionalis menganggap negara A berpandangan curiga terhadap negara B, kontruktivis percaya bahwa curiga tidak akan muncul begitu saja dan penting untuk melihat bagaimana kecurigaan itu bisa sampai terbentuk. Untuk menjelaskan formasi kepentingan, kontruktivis berfokus pada identitas sosial individu atau negara. Dalam kata-kata Alexander Wendt, identitas adalah basis kepentingan. Ketiga, kontruktivis menganggap bahwa agen dan struktur saling membentuk/ mempengaruhi. Struktur normatif dan ide mungkin memperlihatkan kondisi kepentingan dan identitas aktor, namun struktur itu tidak bisa eksis tanpa dipraktekkan oleh sang aktor. Sebagai contoh, lingkungan mempengaruhi seorang akademisi untuk berkarya dalam hal akademis yang disukainya, namun tanpa agen, lingkungan akademis yang mengelilingi sang akademisi tersebut tak akan pernah ada sebelumnya. Struktur normatif dan ide dapat mempertajam kepentingan dan identitas aktor melalui tiga mekanisme, yaitu imajinasi, komunikasi, dan desakan. Pertama, kontruktivis menganggap bahwa struktur non-material berpengaruh terhadap apa yang dilihat aktor dengan kemungkinan-kemungkinan yang nyata. Institusional norma dan ide dengan demikian merupakan apa yang aktor pertimbangkan sesuai kebutuhan dan kemungkinan-kemungkinan dalam hal praktek maupun etik. Seorang perdana menteri dalam membentuk demokrasi liberal hanya akan berimajinasi dan secara serius melakukan strategi tertentu untuk meningkatkan kekuatannya, dan norma-norma kebijakan demokrasi liberal akan mengondisikan harapan-harapannya. Kedua, melalui komunikasi. Ketika seorang individu atau aktor mencari justifikasi tindakan mereka, mereka biasanya meminta untuk menetapkannya dari sesuatu yang legitimate. Seorang perdana menteri, misalnya, meminta konvensi dari pemerintahan eksekutif, dan negara mempersilahkan tindakannya berdasarkan norma kedaulatan atau misal dalam politik internasional, campur tangan ke negara lain boleh dilakukan dengan alasan hak asasi manusia. Komunikasi, seperti yang dipaparkan Wendt, merupakan saling interaksi antara identitas dan kepentingan negara. Dengan begitu sistem negara bersifat intersubjektif. Identitas kolektif yang nantinya muncul bukan bersifat merangkul, melainkan karena adanya komunikasi antar aktor. Ketiga, struktur normatif dan ide tersebut dapat mendesak tingkah laku aktor. Dengan kata lain, institusionalisasi ide dan norma tersebut bekerja sebagai rasionalisasi hanya karena mereka memiliki kekuatan moral dalam memberi konteks sosial. Onuf dan Kratochwil memberi fokus bahwa pembicaraan sehari-hari akan menuntun dan memberi konteks sikap manusia. Pembicaraan mengenai terorisme, misalnya, mencapai konteksnya yang paling tinggi dan relevan pasca Peristiwa 11 September. Padahal, terorisme bukan merupakan hal baru di dunia. Dan tidak setiap negara butuh untuk fokus pada terorisme ala Amerika. Bagi Maladewa atau Tuvalu, misalnya, terorisme bukan merupakan sesuatu yang rasional untuk diurusi. Dalam hal ini, telah terjadi speech act mekanisme mempengaruhi rasionalitas dengan istilah-istilah tertentu.