Anda di halaman 1dari 5

Menafsir Negara Indonesia [3]

Barat
Kekuasaan itu abstrak Sumbernya heterogen Akumulasi kekuasaan tidak terbatas Ambigu secara moril Orang pintar adalah yang berilmu dan bisa baca-tulis

Jawa
Kekuasaan itu konkret Sumber tunggal Konstan: turun-temurun Tidak ada hubungan dengan moral Pintar tidak harus bisa baca-tulis, tapi punya kekuatan spiritual

Patrimonial PATRON
Personal: tunggal; Basis: statis

Neo-Patrimonial
Penguasa sumberdaya: elit makelar; klien komunal (mis: Aceh & Masyumi); state-sponsored client (mis: ulama) Loyalitas & mobilisasi aktif Sumberdaya materiil (untuk ulama, negara memberi bantuan pesantren)

KLIEN PERTUKARAN

Loyalitas & pasif Proteksi & keamanan

Patrimonialisme: patuh terhadap otoritas personal yang memiliki status tradisionalnya Apa yang membuat patronase kuat? Jawab: Monopoli sumberdaya oleh negara. Elit makelar/ patron sebenarnya rapuh karena saling bertarung. Neo-Patrimonialisme dahulu, patron adalah tunggal (Soekarno, Soeharto). Pada saat ini, patron tidak lagi tunggal, yaitu melalui partai-partai. Klien bisa menghukum patron apabila patron/partai tidak bisa memenuhi sumberdaya materiil klien.

Patrimonial

Neo-Patrimonial

Mengapa neo-patrimonial lahir? 1. Negara tidak berakar, dibentuk atas dasar konsensus elit 2. Absennya ideologi & basis identitas 3. Basis kekuasaan Jawa

Tawaran kohesi sosial 1. Konsolidasi vs faksionalisasi 2. Universalisasi vs nepotisme 3. Eksklusif vs mobilisasi

Referensi:
The Idea of Power of Javanese Culture Benedict Anderson
(dalam Culture and Politics in Indonesia Claire Holt)

The State and Ethnic Politics in South East Asia David Brown