Anda di halaman 1dari 6

Isu Kontemporer dalam Politik Indonesia

Tafsiran Baru Politik Indonesia [2]

Orde Baru
Situasi rezim otoriter

Reformasi
liberalisasi politik

Pengelolaan
Titik pusat Peran negara Bentuk politik

sentralistik
negara Memaksa dengan kebijakan Regulasi kebijakan pro-bisnis (memaksa pemakaian pupuk urea & pestisida (PHT) dan Revolusi Hijau, panen 3 kali setahun); manajemen pertanian; doktrin ideologi negara + swasta Keuntungan ekonomi sebesarbesarnya

self-governance
petani Kolaborasi dengan swasta + LSM Petani melawan doktrin ideologi pertanian Orba, berhadapan dengan kolaborasi swasta + LSM + pemerintah

Aktor Tujuan

negara + swasta + LSM Perlawanan petani terhadap hegemoni

Orde Baru
Orientasi BUMN Paradigma SDA Dasar hukum Peran negara Bentuk politik Privat & kepentingan umum Public property UUD 1945 pasal 34 Berhak mengontrol dan memberikan kepada pihak lain Pusat memilki kontrol penuh Privat

Reformasi

Public goods Otonomi daerah Mendapatkan persenan dari hasil penjualan SDA Perebutan otoritas antara pusat dan daerah

Orde Baru
Bentuk pemerintahan Struktur hubungan Lokus kekuasaan Aktor anti-demokrasi Demokrasi Tujuan demokratisasi Sentralisasi Negara berhadapan dengan masyarakat Pemerintah pusat Negara Sebatas dalam hal ekonomi Tidak ada

Reformasi
Desentralisasi Bosisme lokal berhadapan dengan masyarakat. Pemerintah daerah Bosisme lokal Sebatas demokrasi prosedural Gagal

Titik masuk berbeda dari pembahasan-pembahasan

sebelumnya. Memasukkan lingkungan ke dalam masalah politik, dan memberi perhatian terhadap politik lokal. Cara menjelaskannya dengan membangun kontras antara Orde Baru dan Reformasi.

Referensi:
Striving for Self-Governance and Democracy Yunita T. Winarto
(dalam Regionalism in Post-Soeharto Indonesia)

Forest Resource Management and Self-Governance in Indonesia Semiarto A. Purwanto


(dalam Regionalism in Post-Soeharto Indonesia)

Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand and Indonesia John T. Sidel
(dalam Politicising Democracy: The New Local Politics of Democratisation