Anda di halaman 1dari 21

BAB II PEMBAHASAN

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI Hati adalah kelenjar terbesar dalam tubuh, berat rata-rata sekitar 1500 gr atau 2% berat badan orang dewasa normal. Hati merupakan organ lunak yang lentur dan terbentuk oleh struktur sekitarnya. Bagian bae=wah hati berbentuk cekung dan merupakan atap dari ginjal kanan, lambung, penkreas, dan usus. Hati memiliki dua lobus utama yaitu kanan dan kiri. Setiap lobus terbagi menjdi struktur-struktur yang disebut sebagai lobules, yang merupakan mikroskopis dan fungsional organ. Hati manusia memiliki maksimal 100.000 lobulus. Diantara lempengan sel hati terdapat kapilerkapiler yang disebut sebagai sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteria hepatica. Tidak seperti kapiler lain, sinusoid dibatasi oleh sel fagositik atau sel kupffer. Sel Kupffer merupakan system monosy makrofag, dan fungsi utamanya adalah menelan bakteri dan benda asing lain dalam darah. Sejumlah 50% makrofag dalam hati adalah sel Kupffer; sehingga hati merupakan salah satu organ penting dalam pertahanan melawan infasi bakteri dan agen toksik. Hati memiliki dua siumber suplai darah dari saluran cerna dan limpa melalui vena porta hepatica, dan dari aorta melalui arteri hepatica. Sekitar sepertiga darah yang masuk adalah darah arteria dan dua pertiganya adalah darah vena dari vena porta. Volume total darah yang melewati hati setiap menitnya adalah 1500 ml dan dialirkan melalui vena hepatica kanan dan kiri, yang selanjutnya bermuara pada vena cava inferior. Selain merupakan organ prenkim yang paling besar. Hati sangat penting untuk mempertahankan hidup dan berperan dalam hamper setiap fungsi metabolik tubuh, dan terutama bertanggung jawab atas lebih dari 500 aktivitas berbeda. Fungsi utama hati adalah membentuk dan mengekskresikan empedu. Hati berperan penting dalam metabolisme tiga makronutrien yang dihantarkan oleh vena porta pasca absorpsi dari usus.

Fungsi metaboplisme hati yang lain adalah metabolism lemak; penimbun vitamin, besi, dan tembaga; konjugasi dan ekskresi steroid adrenal dan gonad, serta detoksifikasi sejumlah zat endogen (indol, skatol, dan fenol yang dihasilkan oleh kerja bakteri pada asam amino dalam usus besar) dan zat eksogen (morfin, fenobarbital). B. DEFINISI Sirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsi arsitektur hati normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal ( Price & Wilson, 2005, hal. 493). Sirosis hati adalah penyakit kronis hati yang dikarakteristikkkan oleh gangguan struktur dan perubahan degenerasi, gangguan fungsi seluler, dan selanjutnya aliran darah ke hati. Penyebab meliputi malnutrisi, inflamasi (bakteri atau virus), dan keracunan (alcohol, karbon tetraklorida, acetaminoven). (Doenges, dkk, 2000, hal. 544) C. ETIOLOGI Etiologi bentuk sirosis masih kurang dimengerti, ada tiga pola khas yang ditemukan, yaitu : 1. Sirosis Laennec Sirosis Laennec merupakan suatu pola khas sirosis terkait penggunaan alkohol. Perubahan pertama pada hati yang ditimbulkan alkohol adalah akumulasi lemak secara bertahap di dalam sel-sel hati (ilfiltrasi lemak). Penyebab utama kerusakan hati merupakan efek langsung alkohol pada sel hati. Secara makroskopis hati membesar, rapuh, tampak berlemak, dan mengalami gangguan fungsional akibat akumulasi lemak dalam jumlah yang banyak. Pada kasus sirosis Laennec sangat lanjut, lembaran-lembaran jaringan ikat yang tebal terbentuk pada tepian lobules, membagi parenkim menjadi nodul-nodul halus. Nodul-nodul ini dapat membesar akibat aktivitas regenerasi dan degenerasi yang dikemas padat dalam kapsula fibrosa yang tebal. Penderita sirosis Laennec lebih berisiko menderita karsinoma sel hati primer (hepatoseluler)

2. Sirosis Pascanekrotik Sirosis pascanekrotik terjadi setelah nekrosis berbercak pada jaringan hati. Hepatosit dikelilingi dan dipisahkan oleh jaringan parut dengan kehilangan banyak sel hati dan diselingi dengan parenkim hati normal. Sekitar 75% kasus cenderung berkembang dan berakhis dengan kematian dalam 1 hingga 5 tahun. Sekitar 25 hingga 75% kasus memiliki riwayat hepatitis virus sebelumnya. Sejumlah kecil kasus akibat intoksikasi yang pernah diketahui adalah dengan bahan kimia industry, racun, ataupun obat-obatan seperti fosfat, kontrasepsi oral, metal-dopa, arsenic, dan karbon tetraklorida. 3. Sirosis Biliaris Kerusakan sel hati dimulai dari sekitar duktus biliaris. Tipe ini merupakan 2% pemnyebab kematian akibat sirosis. Penyebab tersering sirosis biliaris adalah obstruksi biliaris pascahepatik. Hati membesar, kerasa, bergranula halus, dan berwarna kehijauan. Ikterus selalu menjadi bagian awal dan utama dari sindrom ini, pruritus, malaabsorpsi, dan steatorea. D. MANIFESTASI KLINIS Gambaran klinis dan komplikasinya umumnya sama untuk semua tipe tanpa memandang penyebabnya, meskipun beberapa tipe sirosis individual mungkin memiliki cirri-ciri klinis dan biokimia yang agak berbeda. Masa dimana sirosis bermanifestasi sebagai masalah klinis bersifat laten, dimana perubahan-perubaha patologis bersifat lambat hingga akhirnya gejala-gejala yang tibul akan membangkitkan kesadaran akan kondisi selama masa laten yang panjang, fungsi hati mengalami kemunduran secara bertahap. Manifestasi utama dan lanjut dari sirosis merupakan akibat dari dua tipe gangguan fisiologis : gagal sel hati dan hipertensi portal, yang masingmasing memperlihatkan gejala klinis berupa : 1. Kegagalan sirosis hati a) Ikterus b) Hiperbilirubinemia tanpa ikterus c) Gangguan endokrin, disebabkan oleh kelebihan esterogen dalam sirkulasi : spider nevi, atrofi testis, ginekomastia, alopesia pada dada dan aksila, eritema palmaris

d) Gangguan hematologik, disebabkan karena kurangnya faktor pembeku darah yang diproduksi di hati, hipersplenisme, defisiensi folat, vit B12, dan besi sekunder akibat kehilangan darah, peningkata hemolisis sel darah merah : anemia, leukopenia, dan trombositopenia. e) Edema perifer, penumpukan cairan yang berlebih di ruang interstisium akibat terputusnya distribusi normal cairan tubuh. f) Asites, diakibatkan oleh hipoalbuminemia dan retensi garam dan H2O (akibat kegagalan sel hati menginaktifkan aldosteron & ADH) g) Fetor hepatikum, bau apek yang ditemukan pada napas penderita (khususnya pada pasien koma hepatikum), diduga akibat ketidakmampuan hati memetabolisme metionin h) Hepato Encelophathy, metabolisme amonia dan peningkatan kepekaan otak terhadap toksin. Merupakan keadaan terminal sirosis 2. Hipertensi portal 1) Peningkatan tekanan vena yang menetap di atas tingkat normal yaitu 6-12 cm H2O 2) Peningkatan retensi aliran darah melalui hati 3) Peningkatan aliran arteria splangnikus 4) Merangsang terbentuknya kolateral untuk menghindari obstruksi 5) Tekanan balik yang terjadi pada portal menyebabkan splenomegali 6) Asites, penimbunan caira encer intra peritoneal yng emngandung sedikit protein. Faktor utama adalah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler usus (hipertensi portal) dan penurunan tekanan osmotik koloid akibat hipoalbuminemia. Faktor lain yang berperan adalah retensi Na dan H2O dan peningkatan sintesis dan aliran limfe hati. 7) Dilatasi vena-vena sekitar umbilikus (kaput medusa) yang ditimbulkanakibat sirkulasi kolateral yang melibatkan vena supervisial dinding abdomen 8) Dilatasi anastomosis antara cabang-cabang vena mesensentrika inferior dan vena-vena rektum sering mengakibatkan hemeroid interna.

E. PATOFISIOLOGI Patofisiologi penyakit sirosis hepatis dapat terjadi dalam waktu yang singkat atau dalam keadaan yang kronis atau perlukaan hati yang terus menerus

yang terjadi pada peminum alkohol aktif. Hati kemudian merespon kerusakan sel tersebut dengan membentuk ekstra seluler matriks yang mengandung kolagen, glikoprotein, dan proteoglikans. Sel stellata berperan dalam membentuk ekstraseluler ini. Pada cidera yang akut, sel stella membentuk kembali ekstraseluler matriks ini sehingga ditemukan pembengkakan pada hati. Namun, ada beberapa parakrine faktor yang menyebabkan sel stella menjadi sel penghasil kolagen. Faktor parakrine ini mungkin dilepaskan oleh hepatocytes, sel kupffer, dan endotel sinusoid sebagai respon terhadap cidera berkepanjangan. Peningkatan deposissi kolagen pada peresinusoidal dan berkurangnya ukuran dari fenestra endotel hepatik menyebabkan kapilerisasi (ukuran pori seperti endotel kapiler) dari sinusoid. Sel stellata dalam memproduksi kolagen mengalami kontraksi yang cukup besar untuk menekan daerah perisisnusoidal. Adanya kapilarisasi dan kontraktilitas sel stellata inilah yang menyebabkan penekanan pada banyak vena di hati sehingga mengganggu proses aliran darah ke sel hati dan pada akhirnya sel hati mati, kematian hepaticytes dalam jumlah yang besar akan menyebabkan banyaknya fungsi hati yang rusak sehingga menyebabkan banyak gejala klinis. Kompresi dari vena pada hati akan dapat menyebabkan hipertensi portal yang merupakan keadaan utama penyebab terjadinya manifestasi klinis. WOC TERLAMPIR

F.

KLASIFIKASI Klasifikasi sirosis hati terdiri atas 4:

1. Klasifikasi Etiologi.

a. Etiologi yang diketahui penyebabnya 1) Hepatitis virus tipe B dan C 2) Alkohol 3) Metabolik 4) Kolestasis kronik/sirosis biliar sekunder intra dan ekstrahepatik 5) Obstruksi aliran vena hepatik, Penyakit Veno oklusif, Sindrom Budd Chiari, perikarditis konstriktiva, payah jantung kanan 6) Gangguan Imonologis, Hepatitis lupoid, Hepatitis kronik aktif. 7) Toksik dan Obat 8) Operasi pintas usus halus pada obesitas 9) Malnutrisi, Infeksi seperti malaria, sistosomiasis b. Etiologi tanpa diketahui penyebabnya. Sirosis yang tidak diketahui penyebabnya dinamakan sirosis kriptogenik /heterogenous. 2. Klasifikasi Morfologi. Secara mikroskopik sirosis dibagi atas: a. Sirosis mikronodular Ditandai dengan terbentuknya septa tebal teratur, didalam septa parenkim hati mengandung nodul halus dan kecil merata tersebut di seluruh lobul. Sirosis mikronodular besar nodulnya sampai 3 mm , sedang sirosis makronodular lebih dari 3 mm. Sirosis mikronodular ada yang berubah menjadi makronodular sehingga dijumpai campuran mikro dan makrronodular. b. Sirosis makronodular Ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi, mengandung nodul yangb besarnya juga bervariasi ada nodul besar didalamnya ada daerah yang luas dengan parenkim yang masih baik atau terjadi regenerasi parenkim. c. Sirosis campuran Umumnya sirosis hati adalah jenis campuran ini.

3. Klasifikasi fungsional a. Sirosis hati kompensata Sering disebut dengan Laten Sirosis hati. Pada atadiu kompensata ini belum terlihat gejala-gejala yang nyata. Biasanya stadium ini ditemukan pada saat pemeriksaan screening. b. Sirosis hati Dekompensata Dikenal dengan Active Sirosis hati, dan stadium ini biasanya gejala-gejala sudah jelas, misalnya ; ascites, edema dan ikterus.

G. KOMPLIKASI 1. Perdarahan gastrointestinal 2. Hipertensi portal menimbulkan varises oesopagus, dimana suatu saat akan pecah sehingga timbul perdarahan yang masih. 3. Koma Hepatikum. 4. Ulkus Peptikum 5. Karsinoma hepatosellural 6. Kemungkinan multiple. 7. Infeksi Misalnya : peritonisis, pnemonia, bronchopneumonia, tbc paru, glomerulonephritis kronis. timbul karena adanya hiperflasia noduler yang akan berubahmenjadi adenomata multiple dan akhirnya menjadi karsinoma yang

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Scan / biopsi hati : Mendeteksi infiltrat lemak, fibrosis, kerusakan jaringan hati. 2. Kolesistografi / kolangiografi : Memperlihatkan penyakit duktus empedu, yang mungkin sebagai faktor predisposisi. 3. Esofagoskopi : Dapat menunjukkan adanya varises esofagus.

4. Portografi transhepatik perkutaneus : Memperlihatkan sirkulasi sistem vena portal. 5. Bilirubin serum : Meningkat karena gangguan seluler, ketidakmampuan hati untuk mengkonjugasi, atau obstruksi bilier. 6. AST (SGOT) / ALT (SGPT), LDH : Meningkat karena kerusakan seluler dan mengeluarkan enzim. 7. Alkalin fosfatase : Meningkat karena penurunan ekskresi. 8. Albumin serum : Menurun karena penekanan sintesis. 9. Globulin (IgA dan IgG) : peningkatan sintesis 10. Darah lengkap : Hb/Ht dan SDM mungkin menurun karena perdarahan. Kerusakan SDM dan anemia terlihat dengan hipersplenisme dan defisiensi besi. Leukopenia mungkin ada sebagai akibat hipersplenisme. 11. Masa protrombin / PTT : Memanjang (penurunan sistesis protrombin). 12. Fibrinogen : Menurun. 13. BUN : Meningkat menunjukkan kerusakan darah / protein. 14. Amonia serum : Meningkat karena ketidakmampuan untuk berubah dari amonia menjadi urea. 15. Glukosa serum : Hipoglikemia diduga mengganggu glikogenesis. 16. Elektrolit : Hipokalemia menunjukkan peningkatan aldosteron, meskipun berbagai ketidakseimbangan dapat terjadi. 17. Kalsium : Mungkin menurun sehubungan dengan gangguan absorpsi vitamin D. 18. Pemeriksaan nutrien : Defisiensi vitamin A, B12, C, K, asam folat dan mungkin besi. 19. Urobilinogen urine : Ada / tidak ada. Bertindak sebagai penunjuk untuk membedakan penyakit hati, penyakit hemolitik, dan obstruksi bilier. 20. Urobilinogen fekal : Menurunkan ekskresi. I. PENATALAKSANAAN

1. Medis a) Asites Asites diterapi dengan tirah baring total dan diawali dengan diet rendah garam, konsumsi garam sebanyak 5,2 gr atau 90mmol/hari. Diet rendah garam dikombinasi dengan obat-obatan diuretik.

Awalnya dengan pemberian spironolakton dengan dosis 100-200mg sekali sehari. Respons diuretik bisa dimonitor dengan penurunan berat badan 0,5 kg/hari, tanpa adanya edema kaki atau 1 kg/ hari bila edema kaki ditemukan. Bila pemberian spironolaktin belum adekuat maka bisa dikombinasi dengan furosemide dengan dosis 20-40 mg/hari. Parasintesis dilakukan jika jumlah asites sangat besar.

b) Encephalophaty Pada pasien dengan adanya ensephalophaty hepatik dapat digunakan laktulosa untuk mengeluarkan amonia dan neomisin dapat digunakan untuk mengeliminasi bakteri usus penghasil amonia. c) Pendarahan Esofagus Untuk perdarahan esofagus pada sebelum dan sesudah berdarah dapat diberikan propanolol. Waktu perdarahan akut, dapat diberikan preparat somatostatin atau okreotid dan dapat diteruskan dengan tindakan ligasi endoskopi atau skleroterapi. 2. Keperawatan a) Pengkajian keperawatan berfokuskan pada awitan gejala dan riwayat faktorfaktor pencetus b) Status mental dikaji melalui anamnesis dan interaksi lain dengan pasien; orientasi terhadap orang, tempat dan waktu harus diperhatikan c) Kemampuan pasien untuk melaksanakan pekerjaan atau kegiatan rumah tangga memberikan informasi tentang status jasmani dan rohani J. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian a) Pengkajian berdasarkan Pola Fungsional Gordon Riwayat Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan Klien biasanya kalau sakit di rumah biasa mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter praktek yang ada dikampungnya. Klien tinggal di daerah pedesaan klien tidak minum alkohol, obat-obatan terlarang maupun jamu tradisional. Klien tidak tahu tentang penyakit yang sekarang dialami.

Pola Pemenuhan Nutrisi Metabolik Makan klien hanya sedikit, 2-3 sendok dari yang diberikan rumah sakit karena nafsu makan menurun. Merasa mual dan ingin muntah.

Pola Eliminasi Klien sulit BAB, berwarna keruh/ pekat seperti teh program terapi diuretik : ciphrofolaxic.

Pola Aktivitas dan Latihan setelah melakukan aktivitas

a. Klien mengalami kesulitan saat bernapas, dadanya terasa sesak bernapas b. Sirkulasi, pada klien terlihat oedem dengan skala 4, tidak ada nyeri. Aktivitas/ Mobilitas Tubuh klien terasa lemas, lesu untuk bergerak saja terasa berat, dada terasa sesak setelah melakukan aktivitas. Pola Tidur dan Istirahat Pola tidur klien terganggu, sering terbangun karena sesak napas, palpebra inferior berwarna kecoklatan berbeda dengan kulit wajah, klien tidak menggunakan obat sedatif. Pola Persepsi Kognitif Klien merasakan pada perutnya tetapi tidak terlalu nyeri, skala nyeri 2. Pola Persepsi Konsep Diri Klien menyadari bahwa dirinya saat mengatasi penyakit yang tidak mudah disembuhkan dan butuh proses yang lama untuk masa penyembuhan dan klien menerima terhadap penyakit yang saat ini diderita. Pola Peran dan Hubungan Kebiasaan pera dan hubungan klien terhadap keluarga dan lingkungan sekitar sebelum sakit baik setelah sakit peran dan hubungan klien dengan

lingkungan sekitar dan ke ruangan sedikit terganggu karena klien tidak dapat bergaul dengan tetangga klien. Pola Seksualitas dan Reproduksi Klien mengalami gangguan dalam toileting dan dan butuh khususnya bantuan dalam dalam membersihkan daerah kemaluannya

membersihkannya. Pola Koping dan Toleransi Stress Klien berusaha untuk tetap bersabar dan menerima dengan cara tetap menerima dan menjalankan pengobatan sesuai dengan anjuran dokter, untuk menghadapi semua ini klien selalu diberi dukungan oleh keluarga dan tetangganya sehingga klien semangat untuk sembuh.

Pola Nilai dan Kepercayaan Klien menyadari bahwa apa yang dialami saat ini adalah ujian dari Allah klien hanya bersandar menyerahkan setiap proses penyembuhan karena Allah, klien percaya Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan kekuatan klien. b) Pemeriksaan Fisik head to toe

Keadaan umum Keadaan umum Kesadaran Pemeriksaan tanda vital Tekanan darah Suhu tubuh Pernapasan :100/60 mmHg :37,5C :24X/menit :lemah :komposmetis (sadar)

Nadi 100X/menit (regular)

Kepala Rambut agak kotor, kulit kepala lembab, tidak ada lesi di kepala, wajah pucat.

Mata Sklera putih, konjungtiva pink palpebra kecoklatan, lebih gelap di kulit sekitarnya, mata cowong.

Telinga Bersih, sedikit cerumen, tidak ada lesi.

Hidung Bersih, tidak ada penyimpangan septum nadi.

Mulut Agak kotor, tidak ada lesi pada mulut.

Leher Tidak ada pembesaran kelenjar dan tyroid, tidak ada kaku kuduk.

Dada Inspeksi :bentuk dada normal Auskultasi :suara nafas ronchi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : Tampak asites, umbilikus menonjol : gelombang air : pekak beralih

Auskultasi :peristaltik usus 11 x/menit Ekstremitas Kedua kaki oedem dari lutut sampai telapak kaki, skala odem 4.

2. Diagnosa keperawatan

a) Diagnose 1: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Domain 2 :nutrisi Kelas 1 Defenisi kebutuhan Batasan karakteristik: Berat badan 20 % atau lebih dibawah ideal Kurang makan NOC : ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Defenisi tidak Hasil yang disarankan Status nutrisi Pengetahuan diet :suatu keadaan dimana individu mengalami asupan gizi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolic : :proses menelan : asupan gizi yang tidak memadai untuk memenuhi

metabolik

NOC 1: Status nutrisi Domain Kelas Skala Indikator :kesehatan psikologi (II) :nutrisi (k) :extremely compromised to not compromised :12345

Intake nutrisi Intake makanan dan cairan Energi Berat tubuh Pengukuran biokimia Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan

4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan NIC 1:status nutrisi Intervensi keperawatan yang disarankan: Pengaturan gangguan makan Defenisi diet parah dan berlebihan atau binging dan membersihkan makanan dan cairan Aktivitas : o Pantau kebiasaan makan pasien, kehilangan berat badan, dan penambahan berat badan o Batasi aktivitas fisik untuk menaikkan berat badan o Pantau berat pasien secara rutin o Pantau asupan kalori setiap hari Pengaturan nutrisi Defenisi dari :bantu untuk menyediakan keseimbangan asupan diet makanan dan cairan : pencegahan dan pengobatan pembatasan olahraga yang

Aktivitas : o Mendorong asupan kalori untuk tipe tubuh dan gaya hidup o Mendorong peningkatan asupan makanan o Mendorong peningkatan asupan protein, zat besi, dan vitamin C o Tawarkan snack o Ajarkan pasien bagaimana untuk menjaga makanan harian

NOC 2: Pengetahuan Diet Domain Kelas Skala Indikator :pengetahuan kesehatan dan kebiasaan (IV) :pengetahuan kesehatan (S) :tidak ada sampai ekstensif :12345

Mendeskripsikan tentang diet Mendeskripsikan tentang keuntungan dari pengaturan diet

Merancang tujuan untuk pengaturan diet Memilih diet Menyusun menu diet Mengembangkan kebiasaan pengaturan diet sehat Keterangan : 1. Tidak pernah melakukan 2. Jarang melakukan 3. Kadang-kadang melakukan 4. Sering melakukan 5. Selalu melakukan NIC 2 :pengetahuan diet Intervensi keperawatan yang disarankan:

Monitor Nutrisi Defenisi :mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah atau mengurangi kekurangan nutrisi. Aktivitas : o Timbang BB pasien pada interval yang spesifik o Monitor turgor kulit sesuai kebutuhan o Monitor pertumbuhan dan lingkungan o Monitor energi, penurunan fungsi organ o Monitor kalori dan pemasukan nutrisi o Kolaborasi dengan ahli gizi o Buat jadwal waktu makan Terapi Nutrisi Defenisi :administrasi makanan dan cairan untuk mendukung proses metabolisme pasien yang malnutrisi atau berisiko tinggi untuk menjadi kekurangan gizi Aktivitas : o Monitor makanan/ minuman harian dan pemasukan kalori o Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan o Lakukan pemasangan NGT jika perl o Bantu pasien duduk sebelum makan

o Mengajarkan tentang diet dan rencananya sesuai kebutuhan b) Diagnosa 2: Kelebihan Volume Cairan Domain 2 Kelas 1 Defenisi Edema Peningkatan tekanan vena :nutrisi :hidrasi : meningkatkan retensi cairan isotonik

Batasan karakteristik:

NOC: Kelebihan Volume Cairan Defenisi retensi cairan Hasil yang disarankan: Hidrasi NOC:hidrasi Domain Kelas Skala Indikator Hidrasi kulit Edema perifer tidak tampak Asites tidak tampak Demam tidak tampak Urine output batas normal Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan :kesehatan psikologi (II) :cairan dan elektrolit (G) :extremely compromised to not compromised :12345 : keadaan di mana seorang individu mengalami peningkatan dan edema

NIC : hidrasi Intervensi keperawatan yang disarankan: Manajemen cairan Defenisi : promosi keseimbangan cairan dan pencegahan komplikasi hasil dari ketidaknormalan atau tingkat cairan yang tidak diinginkan. Aktivitas : o Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa) o Monitor vital sign jika diperlukan o Monitor indikasi kelebihan cairan (krakles, peningkatan cup, edema, tekanan vena jugularis,asites ) jika diperlukan

c) Diagnose 3: Gangguan integritas kulit Domain 11 Kelas 2 :Keamanan/perlindungan :Luka fisik :Perubahan epidermis dan/atau dermis

Defenisi

Batasan karakteristik: Gangguan permukaan kulit NOC :Gangguan integritas kulit Defenisi : suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan epidermis dan /atau dermis. Hasil yang disarankan: Keseimbangan cairan Integritas jaringan:kulit dan membrane mukus

NOC 1:keseimbangan cairan Domain Kelas Skala Indikator :kesehatan psikologi (II) :cairan dan elektrolit (G) :extremely compromised to not compromised :12345

Tekanan vena dalam rentang yang diharapkan

Asites tidak tampak Edema peripheral tidak tampak Hidrasi kulit Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan

NIC 1: keseimbangan cairan Intervensi keperawatan yang disarankan: Manajemen cairan Defenisi dari :promosi keseimbangan cairan dan prevensi hasil komplikasi abnormal atau tingkat cairan yang tidak diinginkan

Aktivitas : o Monitor indikasi cairan berlebih/retensi (misalnya edema, asites) o Monitor status hidrasi o Nilai lokasi dan luas edema o Konsultasi dengan dokter jika tanda-tanda kelebihan cairan memburuk

NOC 2:integritas jaringan :kulit dan membrane mukus Domain Kelas Skala Indikator :kesehatan psikologi (II) :integritas jaringan (L) :extremely compromised to not compromised :12345

Elastisitas dalam rentang yang diharapkan Hidrasi dalam rentang yang diharapkan Tekstur dalam rentang yang diharapkan Bebas lesi

Keterangan : 1. Tidak sesuai yang diharapkan 2. Kurang sesuai yang diharapkan 3. Cukup sesuai yang diharapkan 4. Sesuai yang diharapkan 5. Sangat sesuai yang diharapkan NIC 2: integritas jaringan :kulit dan membrane mukus Intervensi keperawatan yang disarankan: Pengawasan kulit Defenisi :pengumpulan dan anlisis data pasien untuk integritas kulit dan membrane mukus mempertahankan

Aktivitas : o Monitor untuk infeksi terutama pada area edema o Monitor sumber tekanan dan friksi o Monitor kulit dan membrane mucus dari perubahan warna dan memar o Catat perubahan kulit dan jaringan mucus o Tindakan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut o Instruksikan keluarga tentang tanda kerusakan kulit

PENUTUP

A. Kesimpulan Sirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsi arsitektur hati normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal ( Price & Wilson, 2005, hal. 493). Etiologi bentuk sirosis masih kurang dimengerti, ada tiga pola khas yang ditemukan, yaitu : Sirosis Laennec, Sirosis Pascanekrotik, dan Sirosis Biliaris. Manifestasi utama dan lanjut dari sirosis merupakan akibat dari dua tipe gangguan fisiologis : gagal sel hati dan hipertensi portal, yang masing-

masing memperlihatkan gejala klinisnya. Patofisiologi penyakit sirosis hepatis dapat terjadi dalam waktu yang singkat atau dalam keadaan yang kronis atau perlukaan hati yang terus menerus yang terjadi pada peminum alkohol aktif. Adapun masalah keperawatan yang muncul dari sirosis hepatis adalah perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, perubahan volume cairan, kerusakan integritas kulit, tidak efektifnya pola pernapasan, risiko tinggi terhadap hemoragi (cidera), perubahan proses berpikir, gangguan harga diri/citra tubuh, dan kurang pengetahuan. B. Saran Telah diketahui bahwa sirosis hepatis merupakan penyakit disfungsi hati yang memiliki banyak komplikasi tidak hanya pada organ hati sendiri, namun juga terhadap organ-organ yang lainnya. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut, maka hindarilah hal-hal yang dapat memicu terjadinya kerusakan hati atau nekrosis yang nantinya dapat berujung pada kematian jika dalam keadaan yang lebih lanjut

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Sirosis Hati. http// www.docstoc.comdiakses tanggal 13 Oktober 2010 Anonim. Sirosis Hati. http//www.dexa-medica.com diakses tanggal 14 Oktober 2010 Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.1996. Nursing Interventions Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book Johnson,Marion, dkk.2000. Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-Book Juall,Lynda,Carpenito Moyet.2003.Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC Price ,Sylvia A,Lorraine M. Wilson.2003.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6 vol 2.Jakarta :EGC Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta:EGC

Wiley

dan

Blacwell.2009. Nursing

Diagnoses:

Definition

&

Classification

2009-2011,

NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd