Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lingkungan yang buruk berperan penting dalam penyebaran penyakit menular.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit tersebut antara lain sanitasi umum, temperatur, polusi udara dan kualitas air. Faktor sosial ekonomi seperti kepadatan penduduk, kepadatan hunian dan kemiskinan juga mempengaruhi penyebarannya. Demam tifoid (typhoid fever) atau tifus abdominalis merupakan salah satu penyakit menular yang berkaitan erat dengan lingkungan, terutama lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2000 terdapat 21.500.000 kasus demam tifoid di seluruh dunia, 200.000 diantaranya meninggal karena penyakit tersebut dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,9%.4 Laporan WHO tahun 2003 terdapat 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia, dimana 600.000 diantaranya meninggal (CFR 3,5%). Di negara maju kasus demam tifoid terjadi secara sporadik dan sering juga berupa kasus impor atau bila ditelusuri ternyata ada riwayat kontak dengan karier kronik. Di negara berkembang kasus ini endemik. Diperkirakan sampai dengan 90 - 95 % penderita dikelola sebagai penderita rawat jalan. Jadi data penderita yang dirawat di rumah sakit dapat lebih rendah 15 25 kali dari keadaan yang sebenarnya. Diseluruh dunia diperkirakan antara 16 16, 6 juta kasus baru demam tifoid ditemukan dan 600.000 diantaranya meninggal dunia. Di Asia diperkirakan sebanyak 13 juta kasus setiap tahunnya. Berdasarkan hasil penelitian Crump, J.A., dkk (2000), insidens rate demam tifoid di Eropa yaitu 3 per 100.000 penduduk, di Afrika yaitu 50 per 100.000 penduduk, dan di Asia yaitu 274 per 100.000 penduduk.6 Insidens rate demam tifoid di Afrika Selatan (2000) yaitu 39 per 100.000 penduduk.4 Pada tahun 2005 insidens rate demam tifoid di Dhaka yaitu 390 per 100.000 penduduk, sedangkan di Kongo dengan jumlah 42.564 kasus dan 214 diantaranya meninggal dengan CFR 0,5%. Suatu penelitian epidemiologi di masyarakat Vietnam khususnya di delta Sungai Mekong, diperoleh angka insidensi 198 per 100.000 penduduk dan di Delhi India sebesar 980 per 100.000 penduduk.

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2005, demam tifoid menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit tahun 2004 yaitu sebanyak 77.555 kasus (3,6%). Menurut hasil Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001, demam tifoid menempati urutan ke-8 dari 10 penyakit penyebab kematian umum di Indonesia sebesar 4,3%.8 Pada tahun 2005 jumlah pasien rawat inap demam tifoid yaitu 81.116 kasus (3,15%) dan menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia. Menurut laporan Subdin Pelayanan Medis Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah tahun 2006, demam tifoid menempati urutan ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit pemerintah yaitu 587 kasus (11,70%) dari 5.017 kasus. Di Jawa Barat menurut laporan tahun 2000 ditemukan 38.668 kasus baru yang terdiri atas 18.949 kasus rawat jalan dan 19.719 kasus rawat inap.

1.2. Rumusan Masalah Belum diketahui karakteristik penderita demam tifoid rawat inap di Rumah Sakit Imanuel bandung tahun 2006-2010

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui karakteristik penderita demam tifoid rawat inap di Rumah Sakit Immanuel Bandung Tahun 2006-2010 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita demam tifoid berdasarkan sosiodemografi (umur, jenis kelamin, suku, agama, pekerjaan, status perkawinan dan tempat tinggal). b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita demam tifoid berdasarkan gejala klinis. c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita demam tifoid berdasarkan komplikasi. d. Untuk mengetahui lama rawatan rata-rata penderita demam tifoid. e. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita demam tifoid berdasarkan keadaan sewaktu pulang. f. Untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan komplikasi.

g. Untuk mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan komplikasi. h. Untuk mengetahui perbedaan proporsi komplikasi berdasarkan keadaan sewaktu pulang.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Sebagai bahan informasi bagi Rumah Sakit Immanuel Bandung dalam rangka meningkatkan fasilitas serta upaya pelayanan terhadap penderita demam tifoid. 1.4.2. Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai demam tifoid.