Anda di halaman 1dari 6

HUKUM KEJAHATAN SEKSUAL Hukum yang berhubungan dengan kejahatan seksual telah diperkuat oleh adanya Undangundang Kejahatan

Seksual 1956. Beberapa kejahatan telah dikelompokan sebagai berikut :


a. Hubungan seksual yang dipaksakan, intimidasi, penipuan, penggunaan obat untuk

mendapatkan atau menfasilitasi hubungan seksual.


b. Hubungan seksual dengan anak perempuan di bawah 16 tahun. c. Hubungan seksual dengan orang cacat ( umumnya orang yang dibawah normal ). d. Berhubungan sedarah ( saudara kandung ). e. Penyerangan yang tidak wajar.

f. Penyerangan / perbuatan yang tidak senonoh. Ketentuan perjanjian lain yang dihadapi dengan penculikan, prostitusi, permintaan dan penindasan rumah pelacuran. Beberapa celah tertentu didalam Undang-undang tersebut tidak menyeluruh maka ditutup oleh Undang-undang tentang pencabulan Anak-anak, 1960. Undang-undang tersebut telah menemukan bahwa tidak ada kejahatan yang dilakukan seseorang, tanpa melakukan kekerasan, mengundang anak kecil untuk menemani dia, atau jika berlaku tidak senonoh terhadap anak kecil. Saat ini perbuatan tersebut adalah tindakan kejahatan dengan hukuman maksimum 2 tahun penjara. Dalam kesempatan ini juga diambil ( dalam bagian ke 2 ), untuk meningkatkan hukuman kejahatan bagi pelaku tindakan kejahatan seksual dengan anak perempuan dibawah 13 tahun, atau tindakan tidak layak terhadap anak perempuan dibawah umur tersebut, menjadi 7 tahun penjara untuk hukuman yang terdahulu dan 5 tahun untuk hukuman selanjutnya. Sedangkan untuk percobaan hubungan sedarah dengan anak perempuan dibawah 13 tahun juga berlaku hukuman sampai dengan 7 tahun penjara. Hubungan seksual didefinisikan oleh Undang-undang Kejahatan Seksual, 1956, s.44. Adalah tidak diperlukan untuk membuktikan penyelesaian dari suatu hubungan dengan mengeluarkan benih, tetapi hubungan seksual akan dapat dianggap lengkap dengan dibuktikan adanya penetrasi.

PEMERIKSAAN KEJAHATAN SEKSUAL Prosedur ketika akan melakukan pemeriksaan pada korban akibat pemerkosaan. Izin pemeriksaan adalah hal pertama yang harus didapatkan dari wanita atau jika anak kecil, dari orang tuanya atau yang menemaninya. Pemeriksaan seharusnya dilakukan pada

ruangan tertutup Almarhum W. H. Grace merekomendasikan agar korban diberikan tempat duduk yang paling nyaman, jika dia tidak merasa gelisah, maka keaslian dari segala keluhannya patut dicurigai. Waktu dan tanggal ketika dilakukan pemeriksaan haruslah dicatat, karena interval antara pemeriksaan dan peristiwa kejadian akan dijadikan bahan. Interval seterusnya akan memerlukan penjelasan, dan yang paling penting adalah dokter, akan mengeluarkan surat izin pemeriksaan yang menjelaskan jika ada tanda-tanda pemerkosaan. Hasil negatif pada orang dewasa didapatkan jika pemeriksaan dilakukan setelah lewat beberapa hari, wanita yang telah menikah atau jika dia sudah terbiasa melakukan hubungan seksual. Dokter akan mengambil kesempatan untuk memperhatikan gaya berjalan korban ketika memasuki ruangan pemeriksaan atau dengan tes spesifik. Dokter akan memperhatikan gerak-gerik secara umum dan kebiasaan tubuh. Apakah ketika berjalan akan terasa sakit yang disebabkan oleh luka pada alat kelamin? Apakah korban merasa gembira, menderita, atau jika merasa terganggu, sebagai konsekwensi dari keadaan setelah baru saja diperkosa? Apakah dia adalah wanita lemah atau sehat fisiknya, dan perlawanan macam apa yang bisa dia lakukan? Riwayat Penyakit Pasien Ketika korban ditemani oleh orang tua atau kawan, dokter seharusnya pertama kali mendapatkan informasi dari sebelumnya, terpisah dari sang korban, selanjutnya dokter mendengarkan penjelasan dan cerita dari sang korban dan kedua penjelasan tersebut seharusnya direkam secara detail. Pertanyaan yang lebih spesifik akan diberikan kepada kedua sumber tersebut, sehingga akan memberikan data personal dari sang korban, seperti nama, umur dan status, tanggal dan jam terjadinya insiden, rincian kejadian sepanjang kejadian, posisi dari semua orang dalam lokasi kejadian, langkah yang diambil korban untuk menolak penyerangan, dan apakah dia kehilangan kesadaran saat kejadian. Adalah sangat penting untuk mengetahui apakah pada saat kejadian sang korban sedang mengalami masa haid. Pengujian A. Pakaian Ketika sang korban dalam keadaan tanpa busana, pakaian yang dikenakan juga harus diuji. Harus dapat dipastikan apakah pakaian yang terpakai tersebut juga dipakai pada

saat kejadian. Jika iya, apakah telah terkotori oleh tanah atau rumput? Apakah terkena noda darah atau yang lainnya, apakah telah rusak, dan apakah salah satu kancingnya telah hilang? Kondisi dari sepatunya juga bisa menjadi bukti dari kebohongan cerita korban. Ketika seorang gadis bernama nannie kembali ke tempat kerjanya pada suatu malam, dia mengaku bahwa dia telah diperkosa dan pergi dengan berjalan bermil-mil. Petugas kepolisian kemudian menguji sepatunya, dan tidak ada tanda-tanda telah terpakai. Ahli bedah dari kepolisian kemudian tidak menemukan tanda-tanda pemerkosaan, dia sedang mengalami menstruasi pada sat itu. Kemudian, dari beberapa pemeriksaan yang lain dapat diindikasikan bahwa dia adalah seorang yang pembohong dan pencuri. B. Orang Secara fisik, jika dalam kasus yang melibatkan anak kecil, ketika dalam masa berkembang, terutama pada payudara dan alat kelamin, akan sangat terlihat. Apakah sang korban menawarkan pembalasan? Apakah anak tersebut terlihat lebih tua dari seharusnya, dan terlihat seperti anak berusia 16 tahun? Sangat relevan saat ini untuk memperhatikan apakah sudah memakai kosmetik atau dari cara berpakaian. Anak kecil berusia 14 atau seumurnya kadang-kadang, atau sepertinya, sudah berpakaian dan menggunakan make-up dengan cara yang seharusnya dia belum ketahui. Luka : Pertimbangan Umum Seluruh bagian dari luar tubuh korban harus diperiksa apabila terdapat luka, khususnya lecet dan memar. Detail dari setiap luka harus dicatat dan berapa kemungkinan dari umur memarnya. Apakah luka tersebut terlihat seperti terkena saat kejadian atau usaha secara paksa pada saat berhubungan? Apakah bersamaan umurnya dengan tanggal terjadinya penyerangan? Perhatian yang lebih mendalam akan diberikan kepada tangan, muka, leher, dan aspek dalam pada selangkangan. Pemerkosaan pada anak muda yang dibawah 13 tahun akan dengan mudah terpenuhi tanpa adanya luka pada bagian luar karena korbannya tidak dapat melakukan perlawanan pada saat diserang. Beberapa bahkan bersedia untuk berhubungan bahkan dia lah yang mengundangnya. Kunjungan ketempat kejadian juga sangatlah diperlukan ( Gambar. 43, p. 141, and 146, p. 437 ).

Alat Kelamin dan Payudara Payudara Satu atau kedua payudara akan mengalami memar apabila diperlakukan secara kasar. Mungkin digigit dan cetakan gigi dari si pelaku terlihat jelas, seperti pada kasus Gorringe ( lihat hal. 73 ), putingnya mungkin terlihat seperti bekas digigit. Genitalia Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan secara menyeluruh yang biasa dilakukan, tetapi padda bagian vulva dan hymen diperlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan teliti. Rambut kemaluan Sampel diperlukan dan harus diambil pada saat pemeriksaan lanjut karena rambut harus didapat tanpa pemotongan langsung pada daerah yang dicurigai. Perlengketan dari rambut dapat disebabkan oleh cairan semen yang mengering. Sampel rambut diperlukan untuk pembuktian akan hal ini dan juga untuk perbandingan dengan rambut yang ditemukan pada baju tersangka. Vulva Cedera/trauma pada vulva dapat dilihat dengan adanya sakit pada perabaan, pembengkakan, kemerahan (perubahan warna dengan sekitar), memar, dan lecet. Selaput dara Pemeriksaan selaput darah terutama pada anak, yang sulit dilakukan atau sulit dinilai / dijangkau difasilitasi dengan penggunaan pemeriksaan tertentu ( Glaister & Rentoul -1966). Robekan (luka) selaput dara yang masih baru dapat dilihat dengan adanya perdarahan pembengkakan dan proses inflamasi, tetapi jika sudah terjadi proses penyembuhan luka, perlu diperhatikan dengan seksama antara robekan selaput dara dengan bentuk bentuk yang tidak biasa dari selaput darah yang masih utuh. Liang senggama (Vagina ) Pelebaran dari liang senggama (vagina ) dapat menunjukkan akan adanya persetubuhan, tapi hal tersebut juga dapat disebabkan oleh masuknya benda asing (seperti tampon). Memar, lecet atau terkikisnya kulit dapat terjadi karena adanya paksaan dalam persetubuhan dan tidak menyatakan bahwa hal tersebut sebagai tindakan perkosaan.

Terdapat kasus-kasus menarik tentang robeknya liang senggama yang tidak disebabkan olen perkosaan. Seperti yang diilustrasikan pada kasus robeknya liang senggama (vagina) dikarenakan koitus yang biasa, yang dilaporkan oleh Victor Boney (1912). Seorang wanita dilarikan ke rumah sakit setelah dilaporkan menderita perdarahan dan peritonitis. Robekan pada fornix posterior sampai peritoneum. Dia sempat disangka melakukan aborsi kriminalis dengan menggunakan alat bantu (dia adalah seorang wanita yang telah memiliki banyak anak sebelumnya). Pada kenyataannya perdarahan tersebut terjadi dikarenakan melakukan koitus dengan posisi berdiri pada saat mabuk. Adapula kasus perforasi vagina yang disebabkan karena kelemahnya tekstur. Cairan vagina Cairan vagina dikumpulkan ( swab & fresh smear) terutama untuk menunjang pemeriksaan. Dapat untuk mendeteksi penyakit sexual yang ditularkan, menemukan sperma, dan cairan semen untuk mengarahkan akan telah terjadinya persetubuhan Pemeriksaan Terhadap Tersangka Ijin untuk pemeriksaan terhadap tersangka tidak merupakan patokan utama, seharusnya didapat oleh dokter serta ditulis dan melalui kesaksian pada pemeriksaan. Pemeriksa akan menulis tentang usia, ukuran fisik dan bentuk fisik yang terdapat pada tersangka. Pemeriksaan juga harus menjelaskan jika terdapat luka-luka ( bekas cakaran kuku/luka lecet, luka memar, dan tanda-tanda yang mengarah kepala perlawanan) Pemeriksaan cairan semen, bercak sperma pada pakaian diharapkan dapat memberikan penjelasan. Juga diperlukan pemeriksaan lanjut seperti ukuran penis, apakah pria tersebut potent/impotent. Akumulasi dari smegma kurang dapat menentukan tetapi robekan pada frenum mengarahkan atas terjadi hubungan sex. Pemeriksaan bakteriologis juga dapat dilakukan (penularan penyakit sexual yang terjadi akibat persetubuhan), pemeriksaan sampel darah juga dapat dilakukan (terutama pada kasus-kasus grouping ). Pemeriksaan terhadap baju tersangka perlu dilakukan terutama untuk menemukan adanya rambut, darah, bercak. Jika didapatkan bercak darah maka harus ditentukan milik siapa. Kesimpulan Sekarang ini memungkinkan kita untuk membuktikan adanya kekerasan dan pemaksaan pada koitus pada dewasa dan pada korban yang melakukan perlawanan. Juga untuk melakukan pembuktian apabila korban adalah anak-anak dengan didapatnya

luka/cedera terutama pada bagian genitalia, namun jika anak masih berusia dibawah 13 tahun sering didapat ketidakmampuan untuk melakukan perlawanan dan kalah jauh dengan kekuatan dari pelaku. Walaupun kesulitan untuk mendapatkan pemeriksaan barang bukti yang ada untuk menunjang akan adanya kejahatan sexual sendiri sangatlah sulit dan berkaitan dengan berbagai faktor, terutama factor ketelitian dan penanganan yang tepat bagi korban.