P. 1
Kumpulan Abstrak Seminar Nasional VII 2011 Bidang MRSA

Kumpulan Abstrak Seminar Nasional VII 2011 Bidang MRSA

|Views: 161|Likes:
Dipublikasikan oleh Dimas W. L. Pamungkas
Abstrak Seminar Nasional Teknik Sipil VII 2011
Abstrak Seminar Nasional Teknik Sipil VII 2011

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Dimas W. L. Pamungkas on Feb 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

ANALITICAL HIERARCHY PROSES (AHP) DENGAN PROGRAM CDPlus 3.0 UNTUK MENYUSUN DETITION SUPPORT SYSTEM PENGENDALIAN BANJIR DI SURAKARTA Adi Yusuf Muttaqin Dosen Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Sebelas Maret Surakarta. email : ayusmut@yahoo.co.id

ABSTRAK

Permasalahan banjir di Kota Surakarta tidak semata- mata persoalan teknis, tetapi juga terkait erat dengan masalah non teknis yaitu, kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu penyelesaian permasalahan banjir perkotaan tidak bisa diselesaikan hanya merujuk pada disiplin ilmu teknik saja tapi juga partisipasi (keterlibatan) masyarakat sangat mempengaruhi, terutama dalam hal operasional dan pemeliharaannya. Demikian juga dengan kondisi anggaran pengelolaan drainase Kota Surakarta yang rendah. Review Master Plan Drainase Surakarta Bagian Utara (2003) dan Penyusunan Database Sistem Drainase Kota Surakarata (2008) telah menunjukkan kondisi existing, permasalahan dan solusi penanggulangan pada masing-masing Sub Wilayah Pembangunan (SWP) tetapi belum mencakup penetapan prioritas rehabilitasi sesuai dengan conveyor drain dan berdasarkan variable penentunya. Untuk itu diperlukan Detition Support System (Sistem Pendukung Kebijakan) prioritas rehabilitasi dengan pendekatan Analitical Hierarchy Process (AHP), guna mempercepat proses analisis digunakan Program Komputer Criterium Decicion Plus (CDPlus 3.0). Analitical Hierarchy Process (AHP) memungkinkan pengguna untuk menentukan nilai bobot relatif dari suatu kriteria majemuk ( atau alternatif majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif, yaitu dengan melakukan perbandingan berpasangan. Mengubah perbandingan berpasangan tersebut menjadi suatu himpunan bilangan yang mempresentasikan prioritas relatif dari setiap kriteria dan alternatif dengan cara yang konsiten . Keterbatasan sumber daya manusia dan sumber dana pada Pemerintah Kota Surakarta apalagi partisipasi masyarakat dalam ikut membiayai rehabilitasi sangat rendah , maka rehabilitasi saluran drainase yang rusak sebagai upaya penanggulangan banjir harus dilaksanakan secara bertahap dan berdasarkan urutan prioritas. Sistem Pendukung Kebijakan untuk melakukan rehabilitasi jaringan drainase yang telah disususun memberikan urutan prioritas sebagai berikut : Saluran Sumber Jetis dengan skor 12,6. Saluran Nusukan Barat dengan skor 12,4. Saluran Nayu Utama dengan skor 11,4. Saluran Kedung Tungkul dengan skor 10,6. Saluran Masjid Baiturrohmah dengan skor 10,0. Saluran Ngemplak Sutan dengan skor 10,0. Saluran Sekip-Joglo-Nayu dengan skor 9,4. Saluran Jl Adisumarmo dengan skor 8,3. Saluran Nusukan Timur dengan skor 8,2. Saluran Kali Kebo dengan skor 7,5. Kata kunci : AHP, pengendalian banjir, prioritas

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-1

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

STUDI KONDISI TINGGI MUKA AIR PADA PERTEMUAN KALI BANGILTAK DAN KALI KEDUNGLARANGAN UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN GENANGAN DI KABUPATEN PASURUAN Aulia Tirtamarina1), Nadjadji Anwar2), Anggrahini3)
1)

Mahasiswa S2 MRSA Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Aulia.tirtamarina@hotmail.com 2) Dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya nadjadji@ce.its.ac.id 3) Dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya anggrahini_its@yahoo.com

ABSTRAK Kementerian Pekerjaan Umum berencana memfungsikan kembali kali Bangiltak untuk mengatasi permasalah Drainase di kabupaten Pasuruan apabila kali Porong tidak lagi dapat difungsikan sebagai saluran drainase akibat pembuangan lumpur untuk mengatasi bencana alam lumpur di Sidoarjo. Difungsikannya kembali kali Bangiltak dikhawatirkan akan menambah permasalahan genangan di kabupaten Pasuruan. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa permasalahan genangan telah terjadi di daerah kali Wrati, kali Kedunglarangan, dan kali Kuntulan. Sebelum kali Bangiltak difungsikan kembali, perlu ada penelitian untuk menyelidiki kondisi saluran masih layak untuk menerima debit tambahan. Pengaruh akibat terjadinya genangan dapat diketahui dengan melaksanakan penelitian kondisi pada daerah pertemuan antara kali Kuntulan, kali Bangiltak, dan kali Kedunglarangan serta kali kuntulan itu sendiri hingga sebelum titik pertemuan antara kali Kuntulan dan kali Avur Bawean. Rencana pemerintah untuk mengatasi permasalahan genangan yang mungkin timbul dengan pembuatan sudetan di daerah kali Wrati menuju kali Bangiltak dan sudetan di daerah kali kedunglarangan menuju kali kalanganyar juga perlu diteliti lebih lanjut penyebabnya dalam mengatasi genangan tersebut. Penelitian dilaksanakan dengan permodelan menggunakan program SMS RMA-2. Hasil permodelan kondisi eksisting akan divalidasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Berdasarkan hasil sementara pada penelitian ini didapatkan bahwa pada perpotongan antara kali Wrati, kali Bangiltak dan kali Kedunglarangan terjadi penyempitan saluran akibat besarnya sedimentasi di daerah tersebut. Besarnya arus yang mengalir dari arah kali Wrati tidak hanya membawa sedimentasi yang cukup besar pada titik perpotongan, namun juga mengakibatkan aliran dari kali Kedunglarangan sulit untuk mengalir ke kali Kuntulan Kata kunci: tinggi muka air, sudetan, SMS RMA-2,

STUDI KOMPARASI PEMAKAIAN MODEL TRANSPORTASI DAN FUZZY INTEGER TRANSPORTATION PROBLEM UNTUK OPTIMASI DISTRIBUSI AIR MINUM PDAM

Imam Suprayogi Laboratorium Plumbing dan Mekanika Fluida Fakultas Teknik, Universitas Riau, Pekanbaru 28293 E-mail : drisuprayogi@yahoo.com ABSTRAK Pengembangan wilayah merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh PDAM yang diakibatkan terjadinya pertambahan jumlah penduduk yang sangat pesat di daerah perkotaan, sedangkan jumlah air relatip terbatas untuk dapat melayani akan kebutuhan air bersih. Pengambilan keputusan dalam upaya pengembangan wilayah pelayanan air bersih, memerlukan analisa yang cermat. Model yang

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-2

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

harus dikembangkan adalah model yang mengakomodasi pola hubungan antara alokasi distribusi air minum dengan alokasi biaya yang dimiliki oleh PDAM. Metode pendekatan yang digunakan dalam proses optimasi distribusi air minum PDAM dari reservoir di Gemawang, Gedong Kuning dan Tegalrejo ke daerah pelayanan di Jogyakarta Utara, Jogyakarta Selatan, Jogyakarta Barat dan Jogyakarta Selatan adalah menggunakan studi komparasi antara model transportasi dan fuzzy integer transportation problem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh PDAM Jogyakarta menggunakan pendekatan model fuzzy integer transportation problem sebesar Rp. 1.591.320 (lebih hemat Rp.8.680), sedangkan menggunakan Model Transportasi adalah sebesar Rp.1.605.000 (lebih boros Rp. 5.000) dari anggaran biaya yang disediakan sebesar Rp.1600.000,00 oleh PDAM Jogyakarta. Kata kunci : optimasi, distribusi air minum, model transportasi, fuzzy integer transportation problem

PENYEDIAAN AIR BERSIH DI KECAMATAN DARUL MAKMUR DAN KECAMATAN TADU RAYA KABUPATEN NAGAN RAYA PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM Kustamar 1, I Wayan Mundra2 , dan Daim Triwahyono3 Dosen Jurusan Teknik Sipil, FTSP., Institut Teknologi Nasional Malang, Telp 0341-551431, email: kustamar@yahoo.co.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, FTSP., Institut Teknologi Nasional Malang, Telp 0341-551431, email: wmundra@yahoo.com 3 Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FTSP., Institut Teknologi Nasional Malang, Telp 0341-551431, email: daimtri@gmail.com
1

ABSTRAK Pertumbuhan suatu kawasan ditandai dengan meluasnya kawasan-kawasan terbangun yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan air bersih. Secara umum kebijakan penyediaan air bersih dibagi menjadi lima kelompok arahan sebagai dasar untuk memenuhi sasaran MDG baik jangka pendek maupun jangka panjang, yaitu: Peningkatan cakupan dan kualitas air bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia, Pengembangan pendanaan untuk penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dari berbagai sumber secara optimal, Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundang-undangan, Peningkatan penyediaan Air Baku secara berkelanjutan, Peningkatan peran dan kemitraan dunia usaha, swasta dan masyarakat. Nagan Raya merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh yang beribukota di Suka Makmue, merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat yang secara geografis berada di pantai barat Pulau Sumatera. Kabupaten Nagan Raya terdiri dari 8 Kecamatan, 27 mukim dan 222 desa, terbagi dalam 4 (empat) Satuan Wilayah Pengembangan (SWP). Alue Bilie merupakan pusat SWP IV yang melayani wilayah Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tadu Raya. Pelayanan air bersih penduduk Kecamatan Darul Makmur dan Kecamatan Tadu Raya pada awalnya direncanakan dipenuhi SPAM Ibu Kota Kecamatan (IKK) Alue Bilie. Namun hingga saat ini, tidak pernah dioperasikan karena lokasinya yang kurang bagus, yaitu: tidak terdapat sumber air baku dengan kuantitas dan kualitas yang mencukupi, serta lokasi instalasi pengolah air (IPA) jauh dari permukiman sehingga dibutuhkan biaya pemasangan pipa yang mahal. Dalam penelitian ini, penyediaan air bersih diupayakan melalui 2 jenis sistem, yaitu sistem perpipaan dan non-perpipaan. Penyediaan air bersih dengan sistem perpipaan dilakukan dengan memanfaatkan air sungai Tripa sebagai air baku, yang kemudian ditingkatkan kualitasnya dengan IPA yang lengkap, dan didistribusikan ke penduduk dengan sistem pipa distribusi. Penduduk yang bermukim pada wilayah yang tidak terjangkau sistem perpipaan dilayani dengan meningkatkan kualitas air sumur dengan sistem penyaringan dan pengendapan sederhana, baik pada sumur individu maupun kelompok. Kata kunci: Air bersih, Darul Makmur dan Tadu Raya, Nagan Raya, NAD

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-3

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

PENGENDALIAN SEDIMEN PADA INFRASTRUKTUR AIR DENGAN MENGGUNAKAN DERET BENDA APUNG SEBAGAI PEMBANGKIT ALIRAN TURBULEN Mamok Suprapto Dosen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No. 36A, Surakarta, Telp. O271-647069, e-mail: mamokuns@gmail.com ABSTRAK Peningkatan sedimentasi dapat mengurangi kapasitas/kinerja infrastruktur air. Untuk mengatasi masalah sedimen dilakukan pengerukan lebih sering dan adakalanya harus menggunakan alat khusus. Alternatif lain adalah dengan mengubah dimensi infrastruktur yang ada. Upaya tersebut jelas memerlukan biaya yang cukup besar. Agar infrastruktur air dapat berfungsi secara berkelanjutan, perlu solusi yang tepat dan murah. Penelitian ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sedimentasi dengan membangkitkan aliran turbulen menggunakan deret benda apung (Debapung). Penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan open flume dan pelimpah model Ogee. Open flume diberi aliran hingga aliran stabil. Setelah itu pasir diameter 2,36 mm, (lolos saringan no.8), ditaburkan pada aliran. Proses terjadinya sedimen diamati hingga relatif stabil. Awal formasi sedimen diukur dari ujung hilir model pelimpah. Pengukuran meliputi panjang dan ketebalan sedimen pada titiktitik tertentu. Setelah pengukuran selesai dilakukan, Debapung ditempatkan di permukaan aliran di hilir pelimpah. Debapung diikat dengan tali agar tidak terbawa aliran tetapi masih bisa mengikuti flukuasi aras (level) muka air. Air dialirkan kembali dengan debit yang sama dan pasir ditaburkan dan selanjutnya dilakukan pengukuran. Demikian perlakuan dan pengukuran formasi sedimen tersebut diulang dengan bedslope dari open flume yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruas open flume yang berada di bawah dan di hilir Debapung dapat terbebas dari sedimentasi. Debapung dapat berfungsi dengan baik dalam membangkitkan aliran turbulen pada beragam kecepatan aliran. Bila Debapung ditempatkan pada ruas saluran yang sering mengalami sedimentasi, maka Debapung dapat menjadi alternatif yang tepat dan murah. Infrastruktur air dapat dijaga agar dapat menjamin hasil produksi dan keberlanjutan fungsi. Namun Debapung hanya efektif dan efisien digunakan bila penampang saluran berbentuk segi empat. Kata Kunci: Debapung, infrastruktur-air, sedimen, turbulen. KAJIAN PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH MENGGUNAKAN PROGRAM EPANET V.2 PADA ZONA 4 (DAERAH PELAYANAN SUMBERAYU KECAMATAN MUNCAR KABUPATEN BANYUWANGI)
1

Nanang Saiful Rizal2 Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember, Telp 0331-336728, email:rizal.nanang@yahoo.co.id

ABSTRAK Penyediaan air bersih yang layak sangat diperlukan bagi kelangsungan kehidupan manusia, maka dengan peningkatan pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan kebutuhan akan air bersih semakin bertambah. Adapun perencanaan sistem distribusi air bersih yang kurang baik menyebabkan terjadinya kehilangan air pada saat pendistribusian, hal ini juga dapat disebabkan kurang memperhatikan peningkatan pola kebutuhan konsumen. Jaringan air bersih di wilayah Zona-4 cukup luas, maka untuk menganalisa jaringan air bersih eksisting dan proyeksi tahun 2019 diperlukan bantuan program EPANET V.2 Setelah dilakukan analisa bisa dilihat bagaimana kinerja jaringan eksisting. Jika kinerja jaringan kurang baik, maka dilakukan perubahan jaringan, penambahan valve dan perubahan diameter pipa. Setelah dilakukan analisa menggunakan program EPANET V.2 diperoleh hasil bahwa kondisi perpipaan eksisting untuk proyeksi sampai dengan tahun 2019 kurang layak, sebab dalam waktu jangka panjang dapat menyebabkan kebocoran pada jaringan perpipaan dan dapat menyebabkan terjadinya penyumpatan pada jaringan perpipaan. Setelah dilakukan simulasi dengan memasang valve dan memperkecil diameter pipa pada beberapa jaringan perpipaan, kondisi jaringan sudah lebih baik hal ini dapat dilihat dari tekanan pada titik simpul lebih kecil dari 100 mH2O dan kecepatan aliran pada pipa sudah lebih besar dari 0,1 m/s. Kata Kunci : Proyeksi, Jaringan, Pipa, EPANET

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-4

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

PEMODELAN HUJAN-DEBIT MENGGUNAKAN MODEL HEC-HMS DI DAS SAMPEAN BARU Nur Azizah Affandy1 dan Nadjadji Anwar2 Mahasiswa S2 MRSA Jurusan Teknik Sipil- FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 08113407073, email : nurazizah_5@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil- FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 0811329039, email : Nadjadji@ce.its.ac.id
1

ABSTRAK Banjir yang terjadi pada suatu wilayah DAS, disebabkan karena berkurangnya luas daerah resapan air akibat perubahan tata guna lahan yang tidak terencana dan terpola dengan baik serta tidak berwawasan lingkungan, sehingga akibat dari perubahan tata guna lahan itu mengakibatkan bertambahnya volume debit banjir rancangan yang terjadi pada DAS tersebut. Oleh sebab itu permodelan hujan-debit merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran hujan-debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Model hujan-debit dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi debit sungai melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada. Suatu wilayah DAS dibagi menjadi sub–sub DAS untuk mendapatkan informasi dan hasil running yang lebih terperinci. Dalam studi ini DAS Sampean Baru dibagi menjadi 10 sub DAS dengan luas total 718, 896 km2 dengan outlet AWLR Kloposawit. Dalam studi ini menggunakan model HECHMS karena dalam HEC-HMS terdapat fasilitas kalibrasi, kemampuan simulasi model dengan data terdistribusi, model aliran kontinyu dan kemampuan GIS. Hasil dari pemodelan tahun 2003-2007 ini, didapatkan besarnya debit puncak (peak flow) adalah sebesar 101.4 m3/det yang diakibatkan hujan yang terjadi pada tanggal 28 Februari 2003 sedangkan debit puncak dilapangan sebesar 242.78 m3/det yang diakibatkan hujan yang terjadi pada tanggal 27 Februari 2003. Sedangkan Analisa Kalibrasi dengan metode RMSE pada tahun 2005 memberikan nilai RMSE terkecil 3.7 sedangkan dengan metode Nash tahun 2006 memberikan nilai terkecil -0.2 dengan parameter karakteristik DAS Sampean baru yang berpengaruh adalah : Nilai CN, Initial Loss, Imperviousness, Time lag dan Muskingum Routing nilai K dan nilai X. Kata kunci : Pemodelan, Hujan, Debit, HEC-HMS

STUDI SEDIMENT DELIVERY RATIO MENGGUNAKAN AVSWAT-X DI DAERAH ALIRAN SUNGAI WADUK PACAL BOJONEGORO Zulis Erwanto1), Nadjadji Anwar2), dan Bambang Sarwono3)
1)

Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Jurusan Manajemen & Rekayasa Sumber Air, FTSP ITS Surabaya (e-mail : zulis_erwanto.mrsa09@yahoo.co.id) 2) Professor, Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094 (e-mail : nadjadji@ce.its.ac.id) 3) Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094 (e-mail : bbsarwono@gmail.com) ABSTRAK Akhir-akhir ini anak-anak sungai di DAS Waduk Pacal mengalami peningkatan banjir, baik frekuensi maupun kuantitas debitnya serta angkutan sedimennya (debit solid). Hal tersebut menyebabkan pendangkalan dan berkurangnya tampungan di dasar Waduk Pacal karena sedimen yang terus bertambah setiap tahunnya akibat kerusakan lahan dan pengikisan tanah di daerah hulu. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan laju erosi dan menentukan besarnya Sediment Delivery Ratio (SDR) yang terendapkan di Waduk Pacal sebagai titik kontrol erosi yang terjadi di DAS Waduk Pacal Kabupaten Bojonegoro. Untuk menganalisis hal tersebut diperlukan suatu model yang berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu menggunakan alat bantu software ArcView SWAT-X. Dengan bantuan SIG ini diharapkan mempermudah untuk menginterpretasikan suatu analisis data dalam bentuk peta zonasi laju erosi.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-5

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Dari hasil analisa spasial SIG, total tingkat laju erosi di DAS Waduk Pacal sebesar 198,46 ton/ha/th (18,04 mm/th), dengan luas lahan kategori tingkat bahaya erosi rendah sebesar 62,89% dan kategori tingkat bahaya erosi sedang sebesar 37,11% dari total area DAS Waduk Pacal yaitu sebesar 81,8 Km2. Sedangkan besarnya Sediment Delivery Ratio (SDR) DAS Waduk Pacal adalah sebesar 0,506 (50,6%), sehingga diperoleh hasil sedimen (sediment yield) rata-rata pertahunnya adalah sebesar 100,37 ton/ha/th (9,12 mm/th) atau sama dengan 747.254 m3/th. Dari hasil ini diharapkan adanya pemeliharaan DAS Waduk Pacal dengan berbagai tindakan seperti konservasi dan rehabilitasi lahan dan hutan. Kata kunci : ArcView SWAT-X, DAS Waduk Pacal, Laju Erosi, Sediment Delivery Ratio.

DEGRADASI FUNGSI EMBUNG KECIL SEBAGAI PENYEDIA AIR DI DARATAN TIMOR Denik Sri Krisnayanti3 ABSTRAK Sebagian daerah Nusa Tenggara Timur terutama P. Timor mempunyai zona yang mempunyai curah hujan rendah dan sering mengalami kekeringan setiap tahun sehingga embung menjadi sarana yang tepat untuk menanggulangi kelangkaan akan air bersih. Embung merupakan salah satu alternatif bangunan penyedia air bagi masyarakat di daratan Timor. Namun bangunan embung yang ada beberapa diantaranya berfungsi dengan baik, akan tetapi beberapa buah lainnya mengalami penurunan fungsi. Untuk menganalisis penurunan / degradasi fungsi embung dilakukan identifikasi permasalahan mencakup bangunan phisik embung, masyarakat sebagai pengguna embung dan pengelolaan operasional pemeliharaan embung. Analisis dilakukan pada 68 buah embung kecil di daratan Timor dengan usia bangunan > 8 tahun. Hasil analisis didapatkan bahwa penurunan fungsi embung disebabkan karena kerusakan pada instrumen embung rata-rata lebih dari 55%, sedimentasi sebesar 53% dan kerusakan pada spillway sebesar 40%. Sedangkan yang disebabkan karena konflik horizontal pada masyarakat sebesar 19%. Adapun dalam meningkatkan kinerja embung agar optimum fungsinya maka diperlukan perencanaan yang baik dalam pembangunan embung, pemeliharaan dan perawatan yang memadai dengan melibatkan unsur masyarakat sebagai pengguna embung dan pihak terkait sebagai pengelola operasional embung. Kata Kunci : embung, degradasi

ADAPTASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM DI JAWA TIMUR Hadi Moeljanto1 dan Ainur Rofiq2
1

PNS, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Provinsi Jawa Timur,Ahmad Yani 152 A Surabaya ,Telp 0318299585, email :hadimoeljanto@ymail.com 2 PNS, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Provinsi Jawa Timur,Ahmad Yani 152 A Surabaya ,Telp 0318299585, email :ainur.ri@gmail.com ABSTRAK Melihat kondisi cuaca akhir akhir ini sering berubah cepat karena adanya pergeseran /pergantian cuaca sebagai hasil perubahan iklim yang diakibatkan pemanasan global sehingga mengakibatkan gelombang tinggi,angin kencang,Banjir atau kekeringan serta merebaknya hama tanaman .Dari sisi sumber daya air Perubahan iklim mengakibatkan musim hujan datang lebih lambat,lebih singkat namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan resiko banjir serta perubahan pola hujan saat musim hujan periode musim hujan lebih pendek jumlah hari hujan berkurang tetapi tetapi dengan intensitas lebih tinggi akibatnya banjir sering terjadi seperti pada Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo di Kab.
3

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fak. Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Kupang, Jl. Adi Sucipto – Penfui Kupang, Telp.0380-881559/08123794142, email : denik219@yahoo.com

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-6

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Bojonegoro,Lamongan,Gresik serta WS. Brantas Kab.Trenggalek,Mojokerto,Jombang dengan permasa lahan seperti rusaknya tanggul dan tebing,Penurunan dasar sungai, Perubahan bentuk sungai. Mengingat UU SDA No. 7 tahun 2004 bahwa pengelolaan sumber daya air dalam pengertian luas mencakup lima kegiatan pokok, yaitu: Konservasi SDA, Pendayagunaan SDA ,Pengendalian Daya Rusak Air,Penyediaan sistem informasi SDA dan Pemberdayaan dan Peningkatan peran masyarakat,Swasta dan Pemerintah , Dengan mengingat pengelolaan sumberdaya air terhadap perubahan iklim diperlukan langkah Adaptasi yaitu upaya untuk mengatasi perubahan iklim baik yang sifatnya reaktif maupun antisipatif termasuk pengurangan resiko bencana yang dilakukan bersama dengan koordinasi antar sektor dan antar wilayah . Akibat dampak perubahan iklim seperti banjir,kekeringan serta pemasalahan lainnya diperlukan upaya dengan melakukan inventarisasi dan optimasi infrastruktur SDA,perbaikan jaringan hidrologi,peningkatan daya dukung DAS ,pengembangan sungai berdasar ekohidraulik ,mengatur pola operasi waduk dan penelitian geohidrologi dengan melibatkan seluruh stakeholder termasuk masyarakat. untuk mengurangi dampak/resiko yang berorientasi sumber daya air dengan mempertimbangkan faktor kondisi fisik infrastruktur ,sumber daya ekologi dan tidak lepas pada keharmonisan antara masyarakat dan lingkungannya . Kata kunci : Perubahan iklim,Pengelolaan SDA.

ESTIMASI TEGANGAN GESER DASAR UNTUK GELOMBANG IRREGULER Taufiqur Rachman4 dan Suntoyo2 Dosen Program Studi Teknik Kelautan, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Kampus UNHAS Tamalanrea Makassar, Telp 0411-585637, email: ocean_d321@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5936852, email: suntoyo@oe.its.ac.id
1

ABSTRAK The bottom shear stress of the turbulent bottom boundary layer under irregular wave over rough bed has been examined through two methods. The first is to fit logarithmic velocity profile to the measured velocity in an oscillating wind tunnel, and the second is a calculation method based on a quadratic of free stream velocity. However, an investigation of a more reliable calculation method to estimate the timevariation of bottom shear stress has not been fully dealt with. In the present study, the new method for calculating the instantaneous bottom shear stress under irregular waves proposed. The bottom shear stress of experimental result will be examined with both calculation method of bottom shear stress -based on incorporating velocity and acceleration terms all at once- and existing calculation methods. The calculation method gives a good agreement with the bottom shear stress under irregular waves from experimental results. Therefore this method can be used to an input sediment transport model under rapid acceleration in a practical application. Keywords: turbulent bottom boundary layer, bottom shear stress, irregular wave IDROLOGI INSPEKSI BENDUNGAN SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR Manyuk Fauzi Dosen Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Riau, Kampus Bina Widya Km 12,5 Simpang Baru, Pekanbaru 28293, email:graperia@gmail.com

ABSTRAK Pengertian pengendalian daya rusak air tertuang dalam UU No. 7 Tahun 2004 pasal 51 ayat (1) yaitu mencakup upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan. Penjelasan rinci tentang pengendalian daya rusak air melalui bendungan beserta waduknya tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 30 Tahun 2010 pasal 117. Pengendalian daya rusak air melalui bendungan beserta waduknya merupakan

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-7

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

kegiatan yang meliputi a). pengendalian terhadap keutuhan fisik dan keamanan bendungan dan b). pengendalian terhadap fungsi bendungan beserta waduknya. Menyangkut penyelenggara keamanan bendungan diuraikan pada pasal 138 hingga pasal 143 dalam PP yang sama. Penyelenggara keamanan bendungan meliputi a). evaluasi keamanan bendungan, b). pemantauan dan pemeriksaan terhadap kondisi bendungan, dan c). penyelenggaraan inspeksi bendungan. Penyeleggaraan inspeksi bendungan meliputi kegiatan penelitian terhadap kondisi fisik bendungan dan bangunan pelengkapnya dan pengecekan instrumen bendungan. Uraian tersebut di atas menunjukkan pentingnya peranan hidrologi jika dihubungkan dengan keberlangsungan fungsi bendungan. Analisa hidrologi dalam inspeksi bendungan sangat dibutuhkan dalam 2 hal yaitu a). verifikasi dan kalibrasi data yang tersedia guna keperluan evaluasi banjir dan ketersedian air, dan b). analisa erosi serta sedimentasi waduk. Analisa hidrologi dalam kajian ini menggunakan prosedur yang ditetapkan di dalam Panduan Perencanaan Bendungan Urugan yang dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum RI, meliputi analisa penelusuran banjir (flood routing) dan tinggi maksimum tanggul. Dalam analisa tersebut juga dikaji tingkat resiko waduk (situ) berdasarkan data teknis hasil kajian. Hasil kajian hidrologi saat kejadian menunjukkan bahwa tinggi muka air di atas pelimpah 1,03 m atau elevasi + 99,03. Dengan elevasi tanggul excisting + 100,00 m maka untuk kesimpulan keruntuhan akibat overtopping secara teoritis tidak terjadi. Dengan tujuan menurunkan tingkat resiko waduk/situ maka harus dilakukan analisa lebih lanjut. Kata kunci : hidrologi, inspeksi bendungan, pengendalian daya rusak air

INVENTARISASI PERMASALAHAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN IRIGASI Anton Dharma PM 1) dan Hadi Moeljanto 2) 1) PNS, UPT PSAWS Bondoyudo Mayang di Lumajang- Dinas PU Pengairan Propinsi Jawa Timur, Jl.Sultan Agung 3 Lumajang, mailantondp@gmail.com 2) PNS, Dinas PU Pengairan Propinsi Jawa Timur, Jl.Ahmad Yani 152A Surabaya, hadimoeljanto@ymail.com ABSTRAK Sejarah irigasi tidak pernah lepas dan selalu memegang peranan penting bagi masyarakat Indonesia yang merupakan negara agraris. Bahkan di jaman kolonial Belanda, dengan politik etisnya pada era 1900-an, irigasi menjadi salah satu program baik untuk peningkatan pendapatan perkebunan Belanda maupun untuk areal sawah bangsa pribumi. Sejarah ini sedikit dilupakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Sangat kontras dengan demikian pentingnya irigasi sebagai pendukung produksi padi yang merupakan bahan makanan pokok bangsa Indonesia. Karena dari sejarah itu kita bisa berkaca, bagaimana naik turunnya produksi padi. Bagaimana perananan pemerintah dalam pengelolaan dan bagaimana nasib petani sebagai pelaku utamanya. Paper ini menginventarisasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam kegiatan pengelolaan operasi dan pemeliharaan irigasi, baik dalam level manajerial hingga di lapangan, serta di pihak pemerintah maupun di pihak petani pemanfaat irigasi. Inventarisasi tersebut didapatkan dengan metode pustaka, wawancara dengan pelaku bidang irigasi dan pengamatan langsung di lapangan pada beberapa daerah irigasi di Jawa Timur. Dari pembahasan terlihat bahwa pengelolaan irigasi memasuki fase baru dengan adanya UU7/2004 dan PP20/2006 yang pada dasarnya adalah sebuah produk hukum yang berusaha menata pengelolaan irigasi pada kondisi yang lebih baik. Pada kenyataannya produk hukum baru ini membawa konsekuensi pada permasalahan baru yang timbul maupun permasalahan lama yang belum juga terselesaikan. Setidaknya terdapat 5(lima) bidang permasalahan yaitu Kewenangan Pengelolaan Irigasi, Operasi Irigasi, Pemeliharaan Irigasi, Petani Pemakai Air dan Lahan Irigasi. Keyword: operasi dan pemeliharaan, irigasi

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Air-8

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->