Anda di halaman 1dari 26

Aswin P 1110221004 Fauzan N 1110221127

Pembimbing : Dr. Nataliandra SpRad

tempat di mana makanan dicerna dan sejumlah kecil sari-sari makanan diserap. 1. Kardia adalah daerah pintu masuk makanan dari esofagus 2. Fundus adalah bagian atas dengan bentuknya membulat 3. Korpus adalah bagian tengah dan bagian terbesar dari gaster 4. Pilorus adalah bagian bawah, daerah yang berhubungan duodenum.
Gaster

Pylorus,

adalah bagian dari gaster yang terhubung ke duodenum, merupakan suatu daerah sfingter yang menebal di sebelah distal untuk membentuk musculus sphincter pylori. Sfingter pylorus merupakan suatu cincin otot polos yang berfungsi untuk mengatur pengosongan isi gaster melalui ostium pyloricum ke dalam duodenum.

Pylorus

terbagi menjadi 2, yaitu : pyloric antrum yang menghubungkan corpus gaster serta pyloric canal yang menghubungkan ke duodenum.

Stenosis pylorus hipertropi adalah suatu kondisi penyempitan dari pembukaan lambung ke duodenum, akibat pembesaran otot musculus sphincter pylori, yang menyebabkan muntah proyektil non-bilier parah dalam beberapa bulan pertama kehidupan. Kondisi ini biasanya berkembang pada bayi lakilaki dalam 2-6 minggu pertama kehidupan. Stenosis pilorus juga dapat terjadi pada orang dewasa dimana penyebabnya biasanya akibat jaringan parut dari ulkus peptikum kronis.

Pada

stenosis pylorus, lapisan otot sirkular menebal, yang mempersempit saluran pylorus & menyebabkan pylorus memanjang. dari perpanjangan dan penebalan otot, pylorus menyimpang ke atas mendekati kantong empedu, hal ini bermakna pada px dimana pylorus dapat dilihat berdekatan dengan kantong empedu dan anteromedial ginjal kiri.

Akibat

Penyebab

kelainan ini belum diketahui. Kelainan ini biasanya diketahui setelah bayi berumur minggu dengan gejala muntah proyektil (menyemprot) beberapa setelah minum susu dimana dimuntahkan hanya susu saja.

pasti baru 2-3 yang saat yang

Stenosis pylorus terjadi sebagai akibat dari hipertrofi dan hiperplasia lapisan otot pylorus. Nitrit oksida sintase (NOS) memediasi relaksasi otot polos non kolinergik non adrenergik sepanjang usus yang menyebabkan lapisan otot sirkuler dari lambung dan pilorus menjadi hipertofi sebagai kompensasi dari lemahnya gerakan peristaltik. Hipertrofi difus dan hiperplasia otot polos antrum dan pylorus mempersempit saluran mudah terjadi obstruksi regio antrum memanjang dan menebal dua kali dari ukuran normal.

Sebagai respon dari obstruksi aliran keluar dan gerak peristaltik yang kuat, otot-otot perut hipertrofi dan melebar. Hal tersebut menyebabkan gangguan pengosongan isi gaster ke duodenum. Semua makanan yang dicerna dan disekresi oleh gaster akan dimuntahkan kembali. Makanan yang dimuntahkan tidak mengandung cairan empedu karena makanan hanya tertampung dalam gaster saja dan tidak sampai ke duodenum. Hal ini menyebabkan hilangnya asam lambung dan akhirnya menyebabkan terjadinya hipokloremia yang mengganggu kemampuan kerja lambung untuk mensekresikan bikarbonat. Gastritis mungkin terjadi setelah stasis yang lama. Hematemesis dapat pula terjadi.

muntah

proyektil mulai umur 2-3 minggu, dan tidak berwarna hijau ( nonbilious vomiting). senantiasa menangis sesudah muntah dan akan muntah kembali setelah makan. dijumpai muntah bercampur darah oleh karena adanya iritasi pada mukosa lambung.

Bayi

Terkadang

Penurunan

berat badan yang disertai dengan penurunan turgor kulit merupakan tanda adanya dehidrasi.

Konstipasi

merupakan gejala yang sering muncul karena sedikitnya jumlah cairan yang melalui pilorus menuju usus halus.
juga tampak gelisah dan terus menangis.

Anak

Diagnosis ditegakkan melalui anamnesa riwayat yang cermat dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang radiologi juga biasanya dibutuhkan harus ada kecurigaan terjadi stenosis pilorus pada bayi muda dengan muntah parah.

Pada pemeriksaan fisik, palpasi abdomen dapat mengungkapkan massa berbentuk buah zaitun di epigastrium. Pada palpasi juga dirasakan gelombang peristaltik yang teraba jelas dan sering (atau bahkan terlihat) karena perut berusaha memaksa keluar isi lambung akibat pilorus menyempit.

Dewasa

ini sebagian besar kasus stenosis pilorus didiagnosis / dikonfirmasi dengan USG, yang menunjukkan penebalan dari otot sfingter pylorus. Penggunaan foto kontras gaster juga dapat dilakukan, dimana terlihat penyempitan pylorus yang menyebabkan kontras tidak dapat berlanjut ke duodenum.

Radiografi

abdomen mungkin menunjukkan perut berisi cairan atau udara, menunjukkan adanya obstruksi lambung. Perut yang melebar dengan incisura yang besar-besar (caterpillar sign), yang mewakili peningkatan gerak peristaltik lambung pada pasien ini. Jika pasien baru saja muntah atau memiliki tabung nasogastrik di tempat, perut sudah didekompresi dan temuan pada foto menjadi normal.

Pemeriksaan saluran cerna atas merupakan pilihan yang tepat untuk stenosis pylorus hipertrofi. Hasil yang didapatkan adalah:
Tertundanya pengosongan lambung (jika parah, hal ini

dapat mencegah barium lewat ke pilorus). Filling defect pada antrum diciptakan oleh prolaps dari otot yang hipertrofik. Mushroom atau umbrella sign (yaitu, penebalan otot yang menonjol ke dalam duodenum) Double tract sign yaitu, mukosa berlebihan dalam lumen pylorus yang sempit, menghasilkan pemisahan kolom barium menjadi 2 saluran. String sign : barium melewati saluran menyempit, menciptakan satu garis yang tipis dan memanjang

Pemeriksaan ultrasonography penting dalam mendiagnosis stenosis pilorus hipertropi, karena pemeriksaan ini menghasilkan gambaran perubahan dini yang terjadi pada HPS. Ultrasonografi memiliki sensitivitas dan spesifisitas sekitar 100%. Dalam sebuah studi oleh Leaphart dkk, ultrasonografi menegaskan stenosis pilorus hipertropi ketika ketebalan otot pilorus (MT) lebih besar dari 4 mm dan panjang saluran pilorus (CL) lebih besar dari 15 mm. Namun, pada bayi baru lahir untuk ketebalan otot pylorus (MT) nilai batasnya adalah 3,5 mm.

Teknik pemeriksaan ultrasonografi dilakukan dengan transduser 7,5 menjadi 13,5 MHz linier pada anak terlentang. Gambar melintang di epigastrium mengidentifikasi pilorus ke kiri dari kantong empedu dan antero ke ginjal kanan (lihat gambar di bawah). Perut yang membuncit atau distensi abdomen menyebabkan pilorus terdorong oleh karena itu memerlukan penempatan tabung nasogastrik untuk mendekompresi perut. Jika aspirasi lambung lebih dari 5 mL pada bayi yang telah tanpa asupan oral (NPO) selama beberapa jam menunjukkan obstruksi lambung. Posisi miring kanan posterior dan memindai dari pendekatan posterior dapat membantu untuk meningkatkan visualisasi dari pylorus.

Tanda-tanda HPS yang ditemukan pada pemeriksaan ultrasonografi, adalah sebagai berikut: MT lebih dari 4 mm Target sign pada pylorus. Panjang saluran pilorus lebih besar dari 17 mm Ketebalan pylorus (serosa ke serosa) 15 mm atau lebih besar Kegagalan saluran untuk membuka selama minimal 15 menit scanning Antral nipple sign (yaitu, prolaps mukosa berlebihan ke dalam antrum, yang menciptakan pseudomass)

Temuan

yang positif untuk sebuah pyloric stenosis hipertrofik pada pemeriksaan ultrasonografi hampir selalu menunjukkan kondisi ini. Pemeriksaan negatif palsu dapat terjadi pada awal penyakit atau pada pasien muda yang MT kurang dari 3 mm.

Penatalaksanaan

utama stenosis pylorus adalah dengan pembedahan piloromiotomi yang dikenal sebagai Ramstedts procedure (membagi otot pilorus untuk membuka outlet lambung). Ini adalah operasi yang relatif mudah yang mungkin dapat dilakukan melalui sayatan tunggal (biasanya 3-4 cm panjang) atau laparoskopi.