Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK UJI KESTABILAN DIPERCEPAT LARUTAN ASETOSAL

Tanggal Praktikum : 3 Mei 2010

Disusun oleh :

Kelompok F Pagi-Reguler 2008


Suci Trisnaeni (0806328120) Vany Priskila (0806328165) Wahyu Kurnianto (0806328171) Margaretha S.M.U. (0806327862) Devi Asrirani (0806453522)
Pembimbing : Pharm.DR. Joshita Djajadisastra, MS, PhD

Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Depok 2010

Uji Kestabilan Dipercepat Larutan Asetosal I. Tujuan Percobaan: Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat menentukan energi aktivasi dari reaksi penguraian suatu zat Menentukan waktu paruh dan waktu kadaluarsa suatu zat zat II. Dasar Teori Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien berkurang. Adakalanya hasil urai zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan zat itu optimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain adalah panas, cahaya, kelembapan, oksigen, pH, mikroorganisme dan bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam sediaan obat tersebut. Sebagai contoh : senyawa-senyawa ester dan amida seperti amil nitrat dan kloramfenikol adalah merupakan zat-zat yang mudah menguap dengan adanya lembap. Sedangkan vitamin mudah sekali menhalami oksidasi. Pada umumnya, penentuan kadar kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama sehingga praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah : Kecepatan reaksi Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi Tingkat reaksi dan cara penentuannya

Menggunakan data kinetika kimia untuk memperkirakan kestabilan suatu

Kecepatan reaksi adalah perubahan besarnya konsentrasi zat pereaksi dari zat hasil reaksi per satuab waktu. Menurut Hukum Aksi Massa, kecepatan reaksi adalah sebanding dengan hasil kali konsentrasi molar reaktannya yang masing-masing dipangkatkan dengan jumlah molekul senyawa yang melakukan reaksi tersebut. Misalnya untuk reaksi: aA + bB cC + dD Kecepatan reaksinya adalah: V = -1 d(A) = -1 d(B) = +1 d(C) = +1 d(D) a dt b dt c dt d dt a b V = k (A) (B) Reaksi penguraian asetosal dalam suasana asam akan berjalan pada orde satu semu, oleh karena itu disini hanya akan dijelaskan reaksi orde satu saja. Orde reaksi 1 Terjadi apabila kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi salah satu pereaksi. Oleh karena itu dalam hal reaksi penguraian asetosal, reaksi berjalan dimana pereaksi air berada dalam jumlah berlebih, maka konsentrasi pereaksi air diabaikan sehingga reaksi berjalan dalam orde satu semu. -dc/dt = k. C dc/C = - k.dt Setelah integrasi Maka Waktu paruh Waktu kadaluarsa : In Ct = In Co - k. t k = 2,303 t log Co/Ct : t 1/2 = 2,303 = 0,693 k. log 2 : t90 = 2.303 k. log 100/90 k = 0,105/k satuan k = detik -1

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain adalah: temperatur kekuatan ion pH pelarut yang digunakan konstanta dielektrik katalisator lain

Untuk percobaan ini faktor yang dipilih untuk mempengaruhi kecepatan reaksi adalah temperatur. Temperatur Pengaruh temperatur terhadap kecepatan reaksi dapat dilihat dari persamaan Arhennius :

k = A. e-E/RT log k = log A E 2,303 RT

Dimana : k = konstanta kecepatan reaksi A = faktor frekuensi E = energi aktivasi R = konstanta gas T = temperatur absolut

III.Alat dan Bahan Alat : Buret mikro Penjepit buret Beaker glass Pipet volumetric Statif Termometer Gelas ukur Labu takar Erlenmeyer Batang pengaduk Botol semprot Timbangan Ultrasonic Bronson Oven Waterbath

Bahan : Aquadest bebas CO2 Aquadest Es batu NaOH 0,1 N Natrium sitrat Asetosal KHP Phenolftalein (PP)

IV. Cara Kerja Buat larutan NaOH 0,1 N sebanyak 1L. Lakukan pembakuan dengan KHP yang telah dikeringkan. Timbang dengan seksama 100 mg KHP, lalu larutkan dalam erlenmeyer 100 ml dengan menggunakan air bebas CO2 20 ml hingga larut sempurna. Tambahkan 3 tetes indikator PP lalu kocok hingga homogen, tutup erlenmeyer dengan plastik. Isi buret dengan larutan NaOH 0,1 N, kemudian atur volume hingga batas 0,00 ml. Lakukan titrasi hingga tepat terjadi perubahan warna indikator PP (dari tidak berwarna menjadi merah muda). Lakukan duplo (dua kali) Hitung normalitas NaOH dengan KHP Pembuatan larutan Asetosal Timbang Na sitrat 25 g dan timbang asetosal sebanyak 12,5 g. Perbandingan asetosal : Na sitrat (1:2). (Pada praktikum ini dilarutkan 12,5 g asetosal dengan 250 ml larutan Na sitrat) Larutkan Na sitrat dalam air panas sebanyak 1/3 dari volume (volume 500ml). (Pada praktikum ini dilarutkan 12,5 g asetosal dengan 250 ml larutan Na sitrat) Dinginkan, larutkan asetosal dalam larutan Na citrat tadi. Bantu kelarutan dengan ultrasonic Bronson, kocok setiap satu menit. Masukkan ke dalam labu ukur 500 ml, ad-kan hingga batas pada labu ukur Encerkan 100 ml NaOH 1N dalam 1000 ml aquadest bebas CO2 (untuk titran NaOH 0,1 N) Pipet masing-masing sebanyak 5 ml ke dalam 3 erlenmeyer. Lakukan titrasi dengan NaOH sebagai titran. Amati TA (lakukan pada suhu kamar) Isikan sebanyak 25 ml larutan asetosal ke dalam 12 labu Erlenmeyer 50 ml. Tempatkan sejumlah 4 labu Erlenmeyer ke dalam masing-masing oven dengan suhu 400, 500, 600

Keluarkan masing-masing labu setiap 10, 40, 70 dan 100. Lalu masukkan ke dalam wadah berisi es batu selama 10 hingga mencapai suhu kamar Pipet masing-masing labu untuk tiap waktu sebanyak 5 ml ke dalm 3 labu titrasi yang telah diisi dengan aquadest bebas CO2 dingin 10 ml dan indikator PP 3 tetes Titrasi dengan NaOH. Amati TA. V. Hasil Percobaan Massa Asetosal BE = BM asetosal Volume M Asetosal = 12,5 x 1000 180,16 x 500 Di titrasi 5 ml, sehingga mol asetosal awal =VxM = 5 x 0,1388 = 0,694 mmol 1. Pembakuan NaOH Data pembakuan NaOH dengan KHP: No. 1 2 3 Berat KHP 100,8 100,2 100,8 Volume NaOH 0,00-5,65 0,00-5,60 0,00-5,65 = 0,1388 M = 12,5 gram = 180,16 = 500 ml

Perhitungan normalitas NaOH: Normalitas NaOH = (Berat KHP/BE KHP) : volume NaOH N1 N2 N3 = = = 100,8 204,22 x 100,2 204,22 x 5,60 100,8 204,22 x 5,65 = 0,0874 N = 0,0876 N = 0,0874 N

N rata-rata = 0,0874 + 0,0876 + 0,0874 = 0,0875 N 3 Karena BE NaOH = BM NaOH maka normalitas NaOH sama dengan molaritasnya.

Volume Asetosal(ml) 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Suhu (Celcius) Kamar (27) 40

Waktu (menit) I 0,00-9,15 10 40 70 100 10 40 70 100 10 40 70 100

Volume NaOH (ml) II 0,00-8,95 0,00-8,30 0,00-9,75 0,00-9,80 0,00-10,10 0,00-9,40 0,00-9,80 0,00-11,50 0,00-12,10 0,00-9,00 0,00-15,50 0,00-17,15 0,00-17,75 III 0,00-8,85 0,00-8,05 0,00-9,65 0,00-10.05 0,00-10,15 0,00-8,50 0,00-9,20 0,00-12,35 0,00-8,65 0,00-15,45 0,00-17,50 0,00-18,15

0,00-8,15 0,00-9,80 0,00-10,00 0,00-10,10 0,00-8,90 0,00-9,30 0,00-11,45 0,00-12,35 0,00-8,57 0,00-15,60 0,00-17,75 0,00-17,30

50

60

2. Titrasi Sampel

Penentuan kadar asetosal yang tersisa (Ct): Reaksi asetosal: Asetosal asam salisilat + asam asetat

mula-mula: bereaksi : sisa Rumus: :

0,694 a (0,694 a)

a a

a a

mek reaksi asetosal = mek NaOH (0,694 a) + a + a = (Vol. NaOH x N NaOH) 0,694 + a = (Vol. NaOH x N NaOH) a = mek asetosal yang terurai = (Vol. NaOH x N NaOH) - 0,694 mek asetosal yang tersisa = 0,694 a

1.

Perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu kamar: 3

Vol. NaOH rata-rata = 9,15 + 8,95 + 8,85 = 8,983 mL mek asetosal yang terurai = (8,983 x 0,0875) - 0,694 = -0,0920 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 - 0,0920 = 0,602 mmol Ct = 0,602 /5 = 0,1204 M log Ct = -0,9194 2. Perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu 40: Vol. NaOH rata-rata = 8,15 + 8,30 + 8,05 = 8,167 ml 3 mek asetosal yang terurai = (8,167 x 0,0875) - 0,694 = 0,0206 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,0206 = 0,6734 mmol Ct = 0,6734/5 = 0,1347 M log Ct = -0,8706

a. t = 10 menit

b. t = 40 menit Vol. NaOH rata-rata = 9,80 + 9,75 + 9,65 = 9,733 ml 3

mek asetosal yang terurai = (9,733 x 0,0875) - 0,694 = 0,1576 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,1576 = 0,5364 mmol Ct = 0,5364/5 = 0,1073 M log Ct = -0,9694 c. t = 70 menit Vol. NaOH rata-rata = 10,00 + 9,80 + 10,05 = 9,950 ml 3 mek asetosal yang terurai = (9,950 x 0,0875) - 0,694 = 0,1766 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,1766 = 0,5174 mmol Ct = 0,5174/5 = 0,1035 M log Ct = -0,9851 d. t = 100 menit Vol. NaOH rata-rata = 10,10 + 10,10 + 10,15 = 10,117 ml 3 mek asetosal yang terurai = (10,117 x 0,0875) - 0,694 = 0,1912 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,1912 = 0,5028 mmol Ct = 0,5028/5 = 0,1006 M log Ct = -0,9974

3. Perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu 50: a. t = 10 menit Vol. NaOH rata-rata = 8,90 + 9,40 + 8,50 = 8,933 ml 3 mek asetosal yang terurai = (8,933 x 0,0875) - 0,694 = 0,0876 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,0876 = 0,6064 mmol Ct = 0,6064/5 = 0,1213 M log Ct = -0,9161

b. t = 40 menit Vol. NaOH rata-rata = 9,30 + 9,80 + 9,20 = 9,433 ml 3 mek asetosal yang terurai = (9,433 x 0,0875) - 0,694 = 0,1314 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,1314 = 0,5626 mmol Ct = 0,5626/5 = 0,1125 M log Ct = -0,9488 c. t = 70 menit 3 mek asetosal yang terurai = (11,475 x 0,0875) - 0,694 = 0,3101 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,3101 = 0,3839 mmol Ct = 0,3839/5 = 0,0768 M log Ct = -1,1146 d. t = 100 menit Vol. NaOH rata-rata = 12,35 + 12,10 + 12,35 = 12,267 ml 3 mek asetosal yang terurai = (12,267 x 0,0875) - 0,694 = 0,3794 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,3794 = 0,3146 mmol Ct = 0,3146/5 = 0,0629 M log Ct = -1,2013 4. Perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu 60: a. t = 10 menit Vol. NaOH rata-rata = 8,57 + 9,00 + 8,50 = 8,690 ml 3 mek asetosal yang terurai = (8,690 x 0,0875) - 0,694 = 0,0663 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,0663 = 0,6277 mmol Ct = 0,6277/5 = 0,1255 M

Vol. NaOH rata-rata = 11,45 + 11,50 + 0 = 11,475 ml

log Ct = -0,9014 b. t = 40 menit Vol. NaOH rata-rata = 15,60 + 15,50 + 15,45 = 15,517 ml 3 mek asetosal yang terurai = (15,517 x 0,0875) - 0,694 = 0,6637 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,6637 = 0,0303 mmol Ct = 0,0303/5 = 0,0061 M log Ct = -2,2147 c. t = 70 menit Vol. NaOH rata-rata = 17,75 + 17,15 + 17,50 = 17,4667 ml 3 mek asetosal yang terurai = (17,4667 x 0,0875) - 0,694 = 0,8343 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,8343 = -0,1403 mmol Ct = -0,1403/5 = -0,0281 M log Ct = d. t = 100 menit Vol. NaOH rata-rata = 17,30 + 17,75 + 18,15 = 17,733 ml 3 mek asetosal yang terurai = (17,733 x 0,0875) - 0,694 = 0,8576 mmol mek asetosal yang tersisa = 0,694 0,8576 = -0,1636 mmol Ct = -0,1636/5 = -0,0327 M log Ct = -

Grafik log Ct terhadap T: Suhu 40o

Waktu (X) 10 40 70 100

log Ct (Y) 0,1347 -0,8706 0,1073 -0,9694 0,1035 -0,9851 0,1006 -0,9974 a = -0,8830 b = -0,0013 r = -0,8843 k = -2,303 x b = 0,0029939

Ct

Grafik:

Suhu 50o Waktu (X) 10 40 70 100 log Ct (Y) 0,1213 -0,9161 0,1125 -0,9488 0,0768 -1,1146 0,0629 -1,2013 a = -0,8579 b = -0.0034 r = -0,9726 k = -2,303 x b = 0,0078302 Ct

Grafik:

Suhu 60o Waktu (X) 10 40 70 100 log Ct (Y) 0,1225 -0,9014 0,0061 -2,2147 -0,0281 -0,0327 a = 1,9401 b = -0,1039 r = -1 k = -2,303 x b = 0,2392817 Ct

Grafik:

Perhitungan K Perhitungan nilai K pada masing-masing suhu: K = 2,303 t . Log Co Ct

K.t = Log Co - Log Ct 2,303 Log Ct = - K . 2,303 t + Log Co

... b = -K/2,303 K = -2,303.b 40oC a = -0,8830 b = -0,0013 K = 0,0029939 50oC a = -0,8579 b = -0.0034 K = 0,0078302 60oC a = 1,9401 b = -0,1039 K = 0,2392817

Grafik log K terhadap 1/T: T ( C) 40 50 60


o

T ( K) 313 323 333


o

1/T (X) 0,0032 0,0031 0,0030

Log K (Y) -2,5238 -2,1062 -0,6211 a = 27,7415 b = -9513,5 r = -0,9513

Grafik log K terhadap 1/T:

Penentuan Energi Aktivasi Perhitungan Energi aktivasi : Ea = -2,303 Rb = -2,303 x 8, 314 x -9513,5

= 182156,3354 joule Penentuan Nilai k pada Suhu Kamar Nilai k pada suhu kamar ( T= 27 C/300 K ) diketahui melalui persamaan : Y = a + bx Log k = 27,7415 - 9513,5 (1/ 300) = -3,9702 k = 1,0710 x 10-4 Penentuan K28 , t1/2 , dan t90: K = A -Ea/RT Log A Ea 2,303.R . 1 T

Log K =

Log K28 = a + b / (28+273) = a + b / 301 = 27,7415 - 9513,5/301 = -3,8648 K28 = 1,3652 x 10-4 t1/2 = 0,693/ K28 = 0,693/(1,3652 x 10-4) = 5076,1793 menit = 84 jam 36 menit t90 = 0,105/ K28 = 0,105/(1,3652 x 10-4) = 769,1181 menit = 12 jam 49 menit VI. Pembahasan

Semua obat memiliki rentang waktu kestabilan dimana pada masa tersebut kadar obat masih berada dalam zona layak pakai. Bila melewati waktu stabilnya, obat sudah tidak layak pakai karena sudah berkurang efeknya karena bahan aktifnya sudah terurai atau bahkan lebih berbahaya lagi bila hasil uraiannya berupa zat toksik bagi tubuh. Pada percobaan kali ini, digunakan asetosal sebagai zat yang diuji kestabilan kimianya. Metode yang dipakai untuk menentukan kadar asam dalam larutan zat adalah acidi-alkalimetri yang menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai titran. Karena larutan NaOH merupakan larutan baku sekunder, maka sebelum titrasi larutan NaOH harus dibakukan terlebih dahulu. Pembakuan NaOH menggunakan baku primer KHP kering, karena KHP bersifat tidak higroskopis, stabil, tidak mudah teroksidasi oleh udara, tidak mudah menguap dan mempunyai tingkat kemurniaan yang tinggi. Setelah pembakuan NaOH, dibuat larutan asetosal dalam larutan Na sitrat dalam air panas sebanyak 1/3 dari volume (volume 500ml). Dengan perbandingan asetosal : Na sitrat (1:2). Pada praktikum kali ini, praktikan melarutkan asetosal 12,5 g langsung ke dalam 250 ml larutan Natrium sitrat yang telah dingin. Jika melarutkan dalam keadaan panas, asetosal yang ingin dilarutkan akan terurai. Asetosal bersifat agak sukar larut dalam air, sehingga kelarutannya dibantu dengan ultrasonic Branson. Setelah semuanya larut, masukkan ke dalam labu ukur 500 ml dan tambahkan aquadest hingga batas, kemudian kocok homogen. Pipet masing-masing sebanyak 5 ml dari larutan tersebut ke dalam 3 Erlenmeyer. Lakukan titrasi dengan NaOH sebagai titran, kemudian amati TA (lakukan pada suhu kamar sebagai standar). Kemudian lanjutkan percobaan dengan mengisikan sebanyak 25 ml larutan asetosal ke dalam 12 Erlenmeyer. Tempatkan masing-masing sejumlah 4 sampel dalam keadaan tertutup ke dalam masing-masing oven dengan suhu 400, 500, 600. Suhu pada dinding dalam oven selalu bersuhu lebih tinggi dari suhu oven yang sebenarnya, maka suhu relatif oven harus selalu dijaga kestabilan dan keakuratannya. Reaksi penguraian asetosal : Asetosal asam asetat + asam salisilat

Keluarkan labu setiap 10, 40, 70 dan 100 dari masing-masing oven. Lalu masukkan ke dalam wadah berisi es batu selama 10 hingga mencapai suhu kamar. Pendinginan tiba-tiba dalam es ini bertujuan untuk menghentikan reaksi penguraian asetosal, karena pada suhu 00 dalam air asetosal tidak terurai. Pipet masing-masing labu untuk tiap waktu sebanyak 5 ml ke dalam 3 erlenmeyer untuk titrasi yang telah diisi dengan aquadest dingin 10 ml dan indikator PP 2-3 tetes. Titrasi campuran tersebut dengan NaOH, kemudian amati TA. Penambahan air dingin bertujuan untuk mencegah terjadinya tumbukan sedangkan indikator PP untuk memperjelas TA. Secara teoritis, asetosal akan terurai lebih cepat pada suhu tinggi (dalam percobaan ini adalah suhu 600C) dan dalam waktu yang lebih lama. Ada beberapa data yang menyimpang seperti pada perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu kamar didapatkan mek asetosal yang terurai ialah 0,0025 mmol. Seharusnya hasil yang didapat merupakan bilangan positif yang menunjukkan adanya penguraian asetosal. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya asetosal yang kurang melarut sempurna dan kurang ketelitian dalam membaca buret. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh perhitungan konsentrasi asetosal pada suhu 50 pada t = 10 menit, didapatkan mek asetosal yang terurai ialah 0,00512 mmol. Seharusnya hasil yang didapat merupakan bilangan positif yang menunjukkan adanya penguraian asetosal. Kesalahan yang terjadi ini kemungkinan besar disebabkan karena kesalahan praktikan dalam menjalankan prosedur dan kesalahan mengamati TA (over). Asetosal sendiri adalah zat yang mudah terurai dalam media air, sehingga walaupun belum dipanaskan, penguraian asetosal telah terjadi ketika asetosal dilarutkan dalam air. Sehingga tidak menutup kemungkinan lambatnya kerja praktikan juga mempengaruhi keakuratan data yang didapatkan. Untuk itu, cara kerja yang cepat dan tepat diperlukan untuk meminimalkan kesalahan relatif percobaan. Selain temperatur, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kecepatan reaksi adalah kekuatan ion, pH, pelarut yang digunakan, konstanta dielektrik dan katalisator lain. Dari grafik log K terhadap 1/ T dapat dilihat bahwa laju peruraian semakin cepat pada peningkatan temperatur. Dari grafik tersebut juga dapat dihitung K pada suhu kamar (270C) dari persamaan Y = a + bX, dimana Y merupakan log K dan X

Log K = 10,01987- (4201,800) T

merupakan 1/ T. Nilai a dan b didapatkan dari data-data yang sudah tersedia pada suhu 400C, 500C, 600C ( a = 11,118 dan b = -4406,5). Sehingga diperoleh persamaan

Dan K pada suhu kamar (270C = 300 kelvin) adalah 2,68947 x 10-4. Dari nilai K yang diperoleh dapat dihitung waktu paruh obat dan waktu kadaluarsanya pada suhu kamar. Dari perhitungan diperoleh waktu paruh adalah 2310 menit ~ 38 jam 30 menit dan waktu kadaluarsanya adalah 351,265 menit ~ 5 jam 51 menit 15,9 detik. VII.Kesimpulan Temperatur mempengaruhi kestabilan / kecepatan reaksi asetosal Energi aktivasi dari reaksi penguraiaan asetosal adalah 84371,88 joule K pada suhu kamar (270C / 300 k) adalah 2,68947 x 10-4 Waktu paruh asetosal adalah 2310 menit = 38 jam 30 menit Waktu kadaluarsa asetosal adalah 351,265 menit = 5 jam 51 menit 15,9 detik

DAFTAR PUSTAKA
Joshita, 2002. Buku Petunjuk Praktikum Farmasi Fisik. Departemen Farmasi UI. Martin, A. Swarbrick, J. Cammarata, A. 1993. Farmasi Fisik, terj. Joshita, ed 3, jilid 2. Jakarta : UI press