Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keperawatan sebagai profesi bersifat unik karena ilmu keperawatan selalu dan senantiasa berkembang dan sasaran pelayanannya ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Ilmu Keperawatan didasari oleh teoriteori keperawatan yang masih bisa dikembangkan dan dianalisa. Model konseptual keperawatan dikembangkan oleh para ahli keperawatan tentang keperawatan. Model konseptual keperawatan diharapkan dapat menjadi kerangka berfikir perawat, sehingga perawat perlu memahami beberapa konsep ini sebagai kerangka konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam praktik keperawatan profesional. Salah satu ahli keperawatan, Pamela G. Reed, mengusung teori Selftranscendence yang tergolong dalam kategori middle range theory. Reed mengatakan dalam teorinya bahwa ada tiga konsep mayor yaitu vulnerrability, selftranscendence dan well-being, yang mana pengembangan konsep diri dibatasi secara mulitidimensi yaitu inwardly (batiniah), outwardly (lahiriah) dan temporally (duniawi). Berdasarkan teori tersebut, terdapat dua poin intervensi yaitu: tindakan keperawatan yang secara langsung berfokus pada sumber-sumber yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap transendensi atau berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan vulnerability, hubungan antar transendensi diri dan keadaan baik/sehat B. Tujuan Penulisan Tujuan umum pada penulisan makalah ini adalah untuk memahami teori Selftrranscendence oleh Pamela G. Reed Tujuan Khusus pada penulisan makalah ini adalah menjelaskan teori selftranscendence yang dikembangkan oleh Pamela G. Reed, menganalisa kelebihan dan kekurangan teori Self-transcendence dan menganalisa alasan teori ini termasuk ke dalam middle-range theory. C. Metode Penulisan Metode penulisan menggunakan metode studi literatur yang diambil dari buku refrensi dan internet. Selanjutnya diuraikan dalam bentuk makalah ilmiah.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Biografi singkat Pamela G. Reed Pamela G. Reed, dilahirkan di Detroit, Michigan pada tahun 1973. Beliau menikah dengan Gary, suaminya, dan telah memiliki 2 putri. Reed memulai karir keperawatannya dengan bersekolah di Wayne State University, Detroit, Michigan dan tamat pada tahun 1974, lalu Reed melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di bidang kesehatan mental anak dan remaja dan pendidikan keperawatan dan berhasil menamatkan dan memperoleh gelar M.S.N pada tahun 1976. Pendidikan tinggi terakhir berikutnya, jenjang S3 (Ph.D) berhasil diselesaikannya pada tahun 1982 dengan konsentrasi mayor teori dan riset keperawatan, dengan studi minor pada perkembangan usia dewasa dan usia lanjut (lansia). Saat ini, Reed mengisi kegiatan sehari-harinya dengan mengajar pada Fakultas keperawatan University of Arizona College, Tucson. Selain mengajar, Reed juga melakukan penelitian dan memberikan pelayanan administrasi di institusi yang sama sejak tahun 1983. Pengajaran dan penelitiannya berfokus pada topik utama Well-being and Aging. Reed yang telah menerima beberapa macam penghargaan juga merupakan pioneer dalam riset-riset keperawatan dalam bidang kajian spiritualitas. (Tomey and Alligood, 2010) B. Latar belakang terbentuknya self transcendence theory Pamella G. Reed (2003) yang teorinya merupakan sintesa dari tiga sumber. Ketiga sumber yang dimaksud antara lain (1) bahwa perkembangan manusia sebagai proses sepanjang hayat dalam mencapai kedewasaan termasuk didalamnya proses menua dan proses menjelang ajal, (2) adanya factor kontekstual terhadap terjadinya ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungan sebagai sesuatu yang penting dalam pengembangan, dan (3) berdasarkan pengalaman klinik dan riset yang mengindikasikan secara klinik dilaporkan bahwa depresi pada lansia lebih sedikit disebabkan oleh penurunan sumber pengembangan dan perasaan sejahtera akibat penurunan kemampuan fisik dan kognitif daripada kelompok kesehatan lansia. Reed (1991) mengembangkan teori tentang self-transcendence dengan menggunakan strategi deductive reformulation. Strategi ini digunakan untuk membangun middle range theory menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari teori non keperawatan yang kemudian di reformulasi secara deductive dari model konsep keperawatan. Teori non keperawatan yang dipergunakan adalah life-span theory pada social kognitif dan pengembangan transpersonal orang dewasa. Prinsip dari teori life-span adalah merupakan reformulasi dari prespektif keperawatan dari Martha E. Rogers tentang konsep kesatuan system manusia.

C. Konsep kunci self transcendence theory 1. Self-Transcendence Transendensi diri berarti suatu gerak melampaui apa yang telah dicapai, suatu gerak dari yang kurang baik menjadi baik dan dari baik menjadi lebih baik. Menurut Pamela G Reed, Self Transcendence didefinisikan sebagai pengembangan konsep diri dibatasi secara multidimensi yaitu : a. Inwardly (batiniah) : Melakukan refleksi introspeksi diri terhadap pengalamanpengalaman yang telah dialami. b. Outwardly (lahiriah) : Diartikan pentingnya berinteraksi dengan lingkungannya. c. Temporally (duniawi) : Menggunakan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran untuk mencapai tujuan masa depan. Self-trancendence pada awalnya didefinisikan oleh Reed (1991) sebagai pengembangan batasan konsep diri multidimensi: inward/kedalam (terhadap wawasan yang lebih luas ke dalam kepercayaan, nilai dan mimpi seseorang) contoh melalui pengalaman introspeksi, outward/keluar (terhadap kesadaran akan hal lain dan lingkungan),dan temporal (masa lampau dan masa datang yang terintegrasi saat ini). Reed mendefinisikan secara menyeluruh, sebagai berikut : Self-transcendence mengarah pada fluktuasi batasan-batasan keluar dari seseorang (atau diri sendiri) dengan segera dan pandangan-pandangan sempit dari diri sendiri dan dunia. Fluktuasi ini adalah pandimensional, inward (terhadap kesadaran yang lebih besar dari kepercayaan/keyakinan seseorang, nilai, dan cita-cita), outward (terhadap orang lain dan lingkungan), dan temporal (terhadap pengintegrasian masa lampau dan masa depan dengan cara meningkatkan masa kini yang relatif). Tahun 2003, pola lain dari perluasan batas disatukan sehingga self-transcendence adalah kapasitas itu memperluas batasan-batasan" transpersonally (untuk berhubungan dengan dimensi di luar dirinya)"diri sendiri. Karena self-transcendence adalah pandimensional, ini memungkinkan dimensi-dimensi lain bisa ditambahkan untuk menguraikan kapasitas perluasan batas. 2. Well-Being Didefinisikan sebagai perasaan sehat secara menyeluruh baik fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritual yang menunjukkan suatu kesejahteraan dan keadaan yang baik. Well-being didefinisikan sebagai rasa feeling whole and healthy yang sesuai dengan kriteria sendiri untuk wholeness and well-being (Reed,2003). Seseorang dengan tingkat Well-being yang tinggi menunjukkan kepuasan terhadap hidup dan memiliki tingkat depresi yang rendah. Kesejahteraan (well-being) didefinisikan sebagai perasaan merasa utuh dan sehat, sesuai dengan salah satu kriteria untuk perasaan utuh dan kesejahteraannya (Reed,

2003). Reed mendefinisikan mekanisme yang mendasari kesejahteraan pada artikel tahun 1997. Dalam artikel tersebut, dia mengusulkan keperawatan semestinya proses keperawatan menuju kesejahteraan. Kesejahteraan sebagai proses keperawatan, kemudian digambarkan dengan istilah dari sintesa 2 macam perubahan : perubahan dalam kompleksitas kehidupan (contoh : peningkatan kelemahan pada lanjut usia atau hilangnya pasangan/orang yang dicintai), perubahan dalam integrasi (contoh. membentuk arti dari kejadian dalam kehidupan). 3. Vulnerability Vulnerability didefinisikan sebagai kesadaran akan kematian yang timbul seiring dengan usia dan fase kehidupan atau selama kejadian sakit dan krisis kehidupan (Reed,2003). Vulnerability merupakan kesadaran seseorang akan adanya kematian, konsep vulnerable meningkatkan kesadaran akan situasi mendekati kematian termasuk didalamnya adalah krisis kehidupan seperti disabilitas/ketidakmampuan/cacat, penyakit kronik dan terminal, kelahiran dan pengasuhan orangtua. Konsep tambahan dalam teori ini adalah faktor-faktor moderating-mediating dan poin-poin intervensi. 4. Moderating-Mediating Factors Faktor-faktor moderating-mediating adalah variabel-variabel yang bersifat personal dan kontekstual Faktor-faktor yang mempengaruhi proses transendensi diri yang berkontribusi terhadap kondisi yang baik, misalnya : jenis kelamin, usia, kemampuan kognitif, pengalaman hidup, persepsi spiritual, lingkungan sosial dan riwayat masa lalu yang dapat mempengaruhi hubugan antara vulnerability dan selftranscendence dan antara self-transcendence dan well-being. Luasnya berbagai variabel dari individu dan interaksi mereka mungkin mempengaruhi proses selftranscendence juga berkontribusi menuju kesejahteraan. Contoh variabel seperti umur, jenis kelamin, kemampuan kognitif, pengalaman hidup, perspektif spiritual, lingkungan sosial, dan kejadian histories. Variabel dari individu bisa menguatkan atau melemahkan hubungan antara vulnerability dan self-transcendence dan antara self-transcendence dengan well-being (Reed, 2003). 5. Point of Intervention Poin-poin intervensi adalah tindakan keperawatan yang memfasilitasi selftranscendence. Berdasarkan teori transendensi diri, terdapat dua point intervensi : 1. Tindakan keperawatan secara langsung berfokus pada sumber-sumber yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap transendensi diri. 2. Tindakan yang berfokus pada beberapa faktor personal dan kontekstual yang mempengaruhi hubungan antara transendensi diri dan vulnerabel ; hubungan antar transendensi diri dan keadaan baik/sehat.

Tiga hal dibangun dengan menggunakan tiga konsep dasar tersebut, yaitu : 1. Self-transcendence lebih besar pada seseorang yang menghadapi pokok persoalan akhir dari kehidupannya sendiri daripada pada orang yang tidak menghadapinya. Issue dari akhir kehidupan seseorang diinterpretasikan secara luas yang timbul dengan peristiwa kehidupan, penyakit, lanjut usia dan pengalaman lain yang meningkatkan kesadaran akan kematian. 2. Boundaries konseptual berhubungan dengan well-being. Tergantung pada sifat alamiahnya, fluktuasi dalan boundaries konseptual mempengaruhi well-being secara positif atau negatif melewati masa kehidupan. Sebagai contoh, peningkatan dalam pandangan dan perilaku self-transcendence diharapkan menjadi positif terkait dengan kesehatan jiwa sebagai suatu indikator well-being pada orang-orang yang menghadapi akhir hidupnya. 3. Faktor-faktor manusia-lingkungan berfungsi sebagai korelasi, moderator atau mediator dari hubungan antara vulnerability, self-transcendence dan well-being. D. Asumsi mayor Di dalam teorinya Reed, mengusulkan suatu model untuk membangun kerangkakerangka konseptual bahwa pendidikan keperawatan merupakan keahlian khusus klinis. di model tersebut, kesehatan diusulkan sebagai konsep utama, di sekitar yang aktivitas ilmu perawatan pengambilalihan model adalah bahwa fokus dari disiplin ilmu perawatan di bangunan dan melibatkan pengetahuan untuk mempromosikan prosesproses kesehatan. 1. Kesehatan (Health) Kesehatan, didefinisikan secara implicit sebagai proses kehidupan yang terdiri dari pengalaman positif dan negative yang digunakan oleh manusia secara kreatif dan unik untuk mencapai rasa sejahtera 2. Keperawatan (Nursing) Peran aktivitas perawat dalam merawat seseorang melalui proses interpersonal dan manajemen teraupetik terhadap lingkungan, dengan keterampilan untuk promosi kesehatan an kesejahteraan. 3. Manusia Manusia adalah seseorang yang harus dipahami sebagai individu yang sedang berkembang sepanjang hayat mereka dalam berinteraksi dengan orang lain dan dengan lingkungan dalam perubahan yang kompleks dan vital dimana hal tersebut bisa berkontribusi positif atau negative dalam mencapai kesehatan dan rasa sejahtera 4. Lingkungan Keluarga, kontak social,lingkungan fisik, dan sumber komunitas adalah lingkungan yang secara signifikan berkontribusi pada proses kesehatan yang dapat dipengaruhi

oleh keperawatan melalui manajemen interaksi terapeutik antara manusia, objek, dan aktivitas keperawatan ( Reed, 1987, p.26 ) E. Hubungan antara konsep-konsep mayor pada self transcendence theory

Model of self-transcendence theory (Tomey (2006) Model teori self transcendence mengusulkan tiga macam hubungan : 1. Peningkatan vulnerability dihubungkan dengan peningkatan self transcendence. 2. Self transcendence berhubungan secara positif dengan kesejahteraan (wellbeing). 3. Faktor-faktor personal dan eksternal bisa mempengaruhi hubungan antara vulnerability dan self transcendence dan antara self transcendence dan wellbeing. Self-transcendence dapat diintegrasikan dalam berbagai situasi hidup. Perawat dapat melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan perspektif dan akivitas refleksi diri, alturisme, harapan dan keyakinan/keimanan tentang mortalitas personal yang dikaitkan dengan peningkatan rasa sejahtera. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kelompok yang memiliki masalah yang sama, seperti contohnya gathering pada kelompok cancer, ostomate, psikoterapi dan lain-lain, dapat dijadikan media bagi seseorang untuk mencapai rasa sejahtera. Dalam kelompok tersebut mereka dapat melakukan sharing, berbagi pengalaman dan saling membantu antara satu sama lain, sehingga mereka merasa berarti. Ketika seseorang merasa berarti keberadaannya untuk orang lain maupun dirinya sendiri, maka akan timbul rasa sejahtera. Perawat dalam hal ini berperan selaku fasilitator dalam meningkatkan self-transcendence seseorang sedemikian rupa sehingga mampu menggali hal-hal positif dan membangun makna yang positif dalam diri seseorang sehingga menimbulkan rasa sejahtera ( well-being ) dalam dirinya. Perawat dapat memfasilitasi pasien-pasien untuk melakukan self-transcendence dengan memberikan kesempatan untuk merefleksikan berbagai hal, instropeksi diri, menggali keyakinan diri tentang makna hidup, melihat hal-hal positif dalam dirinya,

melakukan interaksi positif dengan lingkungannya sehingga mereka yakin bahwa mereka benar-benar merasa berarti bagi dirinya dan orang lain, mereka merasa telah melakukan kebaikan-kebaikan yang akan menjadi bekal dalam menghadapi kondisi terburuk bahkan kematian sekalipun dengan tenang dan damai, pada kondisi demikian dapat dikatakan bahwa mereka merasa sejahtera (well-being). Sebaliknya jika seseorang merasa dirinya tidak berarti, tidak bermakna bagi orang lain dan merasa tidak melakukan hal-hal positif dalam hidupnya, seseorang akan merasa gagal dan merasa sia-sia selama hidupnya sehingga akan timbul rasa tidak tenang menghadapi kondisi kritis atau menghadapi kematian terutama bagi mereka yang memiliki keyakinan akan diminta pertanggungjawaban terhadap perbuatan selama hidupnya oleh Tuhan setelah mereka meninggal, rasa takut tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya itulah yang menimbulkan rasa tidak sejahtera dalam dirinya, perawat harus mencegah perasaan pasien yang seperti itu melalui intervensi untuk menigkatkan self-transcendence yang positif sehingga tercapai rasa sejahtera (well-being). Self-transcendence merujuk pada fluktuasi persepsi yang melampaui batasbatas seseorang atau dirinya melebihi batasan pandangan tentang diri dan dunianya. Fluktuasi ini merupakan pandimensional yaitu pandangan keluar (terhadap orang lain dan lingkungan), pandangan ke dalam (terhadap kesadaran yang lebih tinggi dari kepercayaan, nilai-nilai dan mimpi-mimpinya) dan pandangan yang bersifat temporal (terhadap integrasi atau penyatuan masa lalu dan masa yang akan datang), dan Well-being, diartikan sebagai rasa yang timbul dari keseluruhan perasaan sehat, termasuk didalamnya criteria yang ditetapkan sendiri tentang keseluruhan perasaan sejahtera. Sehingga perawat dapat melakukan intervensi-intervensi untuk meningkatkan personal dan contextual factor yang mendorong seseorang untuk mampu menggali hal-hal positif mengenai pandangannya tentang vulnerability sehingga menghasilkan self-transcendende yang positif untuk mencapai rasa sejahtera (well-being).

BAB III PEMBAHASAN Salah satu mid-range theory adalah teori self transcendence yang dikembangkan oleh Pamela G. Reed. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan mengapa teori self transcendence menjadi bagian dari mid-range theory, yaitu: 1. Teori Reed mempunyai 3 konsep yaitu vulnerability, self-transcendence dan kesejahteraan (wellness) dan memiliki 2 konsep yang lain yaitu faktor personal dan lingkungan serta petunjuk intervensi. Sangat jelas digambarkan bahwa teori tersebut memiliki sedikit konsep dan variabel. 2. Teori Reed dapat diaplikasikan pada berbagai situasi dan kondisi kesehatan manusia termasuk dalam hal penyembuhan. Konsep mayor dari teori ini dapat digunakan seseorang menghadapi kejadian hidup mulai dari lahir, ancaman sakit dan menghadapi kejadian hidup mulai dari lahir, ancaman sakit dan menghadapi kematian. 3. Sebahagian konsepnya masih bersifat cukup abstrak yaitu self-transcendence, wellness, vulnerability, namun keabstrakan tersebut bisa menjadi studi ilmiah menarik untuk pengembangan teori melalui riset. 4. Teori menggunakan 3 sumber yaitu : 4.1 Konseptualisasi baru dari perkembangan manusia sepanjang proses kehidupannya. 4.2 Dari grand theory Martha Rogers tentang unitary human being, dengan teori yang diadopsi yaitu teori tentang perkembangan life span (masa kehidupan). Dimana teori ini menjelaskan bahwa manusia dalam hidupnya akan mengalami proses perkembangan yang tidak bisa diprediksikan namun tetap memiliki pola dan tujuan, ia juga mengidentifikasi bahwa akan selalu terjadi ketidakseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungannya yang merupakan kebutuhan dalam menjalankan proses perkembangan hidup. 4.3 Teori Reed juga bersumber pada pengalaman-pengalaman klinik dan riset. 5. Menggambarkan fenomena keperawatan berhubungan dengan tindakan keperawatan yang direncanakan dan juga berorientasi pada pencapaian tujuan/hasil yang berfokus pada klien/pasien. Kritisi terhadap Self Transcendence theory 1. Clarity and Consistency Clarity and consistency menjadi deskripsi kunci dari refleksi teori (Chinn & Kramer, 2004). Klarifikasi digunakan untuk mendefinisikan konsep yang sudah

ada agar mudah dimengerti antar variabel. Konsistensi diperlukan agar konsep mudah dievaluasi dari variabel yang telah digunakan. Clarity and consistency digunakan oleh Pamela untuk memperkuat variabel yang digunakan dalam teorinya yang mengambil teori yang sudah ada. Salah satu contoh konsep teori yang diadopsi oleh Pamela adalah teori Rogers tentang human beings. 2. Simplicity Simplicity atau kesederhanaan digunakan oleh Pamela untuk memiliki jumlah minimal dalam konsep dan keterkaitan antar variabel. Kesederhanaan ini dapat terlihat pada variabel self-trancendence, vulnerability, dan well-being. Secara keseluruhan konsep utama adalah hubungan yang dihasilkan oleh konsep yang minimal, bermakna dan komprehensif. 3. Generality Generality atau keumuman dijelaskan sebagai teori yang dapat diterapkan pada semua tahap perkembangan. Konsep utama Pamela dapat diterapkan pada kelahiran, pengasuhan, penyakit kronis, dan yang mengalami penyakit terminal. 4. Empirical Precesion Empricical precesion adalah ketelitian yang dimiliki sesorang berdasar pada pengalaman yang dimiliki. Ketelitian ini digunakan untuk melihat, mengobservasi kejadian tertentu yang berkaitan dengan proses keperawatan. Teori yang dikembangkan Pamela masih sedikit abstrak, tetapi sudah mengidentifikasi dari konsep yang sudah digunakan pada teori sebelumnya. 5. Derivable Consequences Self-trancendence adalah salah satu teori middle range yang dapat digunakan dalam pendidikan keperawatan, penelitian, dan praktek klinik. Teori ini berdasar dari filosofi keperawatan, penelitian dan praktik yang sudah melalui pengujian sehingga muncul pengetahuan baru yang bermanfaat dalm dunia keperawatan. Teori memberikan wawasan tentang situasi kesehatan seseorang yang relevan dengan dunia keperawatan. Kelebihan dan kekurangan : Kelebihan : 1. Baik digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terkait dengan masalah psikososial. 2. Faktor spiritual cukup dipertimbangkan dalam penyelesaian masalah klien. Kekurangan : 1. Beberapa bagan yang ditampilkan tidak menguraikan secara jelas yang menghubungkan variabel-variabel dalam bagan tersebut.

10

2. Banyak variabel dalam teori, seperti vulnerability dan transendensi diri serta kondisi sejahtera yang masih abstrak, sehingga masih dapat kesulitan diterapkan dalam praktik. 3. Pembahasan teori tidak mudah untuk dipahami sehingga sulit dicerna oleh para perawat yang akan mengaplikasikannya ke dalam praktik. 4. Terbatas digunakan hanya pada kasus-kasus yang berhubungan dengan adanya masalah psikologis dengan kurang mempertimbangkan penanganan fisiknya. Teori Pamela dapat digunakan dalam: 1. Practice Teori self-trancendence Pamela dapat digunakan dalam praktik keperawatan, terutama dalam proses pengkajian pada pasien. Teori ini sangat tepat digunakan dalam proses pengkajian karena variabel yang digunakan sudah mencakup tentang fenomena yang terjadi dimasyarakat. Perawat dapat melakukan pengkajian tentang; refleksi diri, harapan, dan pembimbing rohani pasien. Education Edukasi yang dimaksud adalah edukasi untuk perawat dan edukasi yang dapat digunakan dalam dunia pendidikan keperawatan. Self-trancendence banyak menggunkan teori-yeori yang sudah digunakan oleh para pakar sebelumnya. Pamela mengatakan kapasitas dan permasalahn pasien dapat diselesaikan bersama dengan perawat melalui pendidikan kesehatan. Research

2.

3.

Penelitian yang digunakan para peneliti tidak lepas dari variabel yang dikembangkan Pamela dalam teori self-trancendence. Variabel ini dapat digunakan dalam berbagai tempat peneltian seperti; komunitas, keluarga, jiwa, dan lain sebagainya. Penelitian yang pernah menggunakan self-trancendence membuktikan bahwa pasien memiliki hubungan yang kuat dalam menghadapi penyakitnya. Teori Reed Slef-transcendence merupakan pengembangan dari teori-teori lain yang bersumber dari grand teori dan masuk dalam middle-range teori, teori self transcendence ini sebagai suatu upaya untuk pengembangan konsep diri yang lebih baik,middle-range teori sendiri mempunyai ciri ruang lingkup yang lebih terbatas, tingkat keabstrakannya yang lebih sedikit , membahas fenomena atau konsep yang lebih spesifik, dan merupakan cerminan dari praktik. Komponen utama dalam teori ini yaitu vulnelabirity, self transendense, well-being, moderating mediating factor, point of intervention, yang mana dari komponen ini saling berhubungan sebagai sebab akibat. Teori Reed ini juga menggambarkan fenomena keperawatan berhubungan dengan tindakan keperawatan yang direncanakan dan juga berorientasi pada pencapaian tujuan atau hasil yang berfokus pada klien.

11

Teori ini bisa di aplikasikan terhadap kasus terutama yang berhubungan dengan masalah psikosial meskipun nilai keabstrakan dalam reori ini masih ada, tetapi hal itu dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya. Teori Reed dapat diaplikasikan pada berbagai situasi dan kondisi kesehatan termasuk dalam proses penyembuhan. Konsep mayor dalam teori ini dapat digunakan seseorang dalam menghadapi kejadian hidup mulai dari lahir, ancaman sakit sampai proses menghadapi kematian karena teori Reed ini bersumber dari pengalaman praktek dan riset. Walaupun terbatas dalam penerapannya teori Greed ini hanya terbatas pada kasus-kasus yang berhubungan dengan adanya masalah psikologis dengan kurang mempertimbangkan penangan pada masalah fisiknya. Tetapi perawat dapat melakukan intervensi-intervensi untuk meningkatkan personal dan contextual factor yang mendorong seseorang untuk mampu menggali hal-hal positif mengenai pandangannya tentang vulnerability sehingga menghasilkan self-transcendende yang positif untuk mencapai rasa sejahtera (well-being).

12

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Teori Self Transcendence merupakan teori yang dikemukakan oleh Pamela G. Reed yang berada dalam klasifikasi middle range theory, disebabkan oleh beberapa karakteristik middle range theory dimiliki oleh teori ini. 2. Kelebihan teori ini adalah baik digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terkait dengan masalah psikososial dan untuk faktor spiritual cukup dipertimbangkan dalam penyelesaian masalah klien. 3. Terdapat beberapa kekurangan dari teori ini baik dilihat dari segi kejelasan, banyaknya variabel, konsep utama teori, dan terdapat 2 variabel yang tidak jelas apakah termasuk dari bagian utama teori atau tidak. 4. Pembahasan teori tidak mudah untuk dipahami sehingga sulit dicerna oleh para perawat yang akan mengaplikasikannya ke dalam praktik. 5. Dapat diaplikasikan dalam beberapa ranah edukasi, riset ataupun praktik, dan dalam proses keperawatan dapat diaplikasikan pada setiap tahap proses keperawatan terkecuali evaluasi. B. Saran 1. Bagi penelitian-penelitian selanjutnya, bisa menjadi bahan peneliti untuk perbaikan teori dari ketidakjelasan dan keabstrakan yang dimiliki oleh teori ini. 2. Sebaiknya ada metoda proses keperawatan yang dijelaskan dalam teori secara implisit sehingga penerapannya dalam praktik menjadi lebih mudah dipahami dan dilaksanakan oleh perawat.

13

DAFTAR PUSTAKA Marriner Tomey, A., & Alligood, M. R. (2010). Nursing Theory and Their Work (7rd ed.). St. Louis: Mosby. Smith, M.J. & Liehr, P.R (ed.). 2008. Middle Range Theory for Nursing. 2nd edition. New York: Springer Publishing Company, LLC Madrid, M (ed.). 1997. Pattern of Rogerian Knowing. New York: National League for Nursing Gulliver, K.M. 2007. Middle-Range Theory of Self-Transcendence: A graphic representation (online). http://faculty.unlv.edu/gulliver/SelfTranscendence/Theory%20of%20SelfTranscendence%20Graphic.htm. Diakses 12 Nopember 2012 pukul 09.04 WIB.