Anda di halaman 1dari 15

Masa penyiaran

Radio yang berdaya pancar 1 kilowatt dan bekerja pada frekuensi 19,25 dan 61 meter ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.

Penyiar
Penyiar-penyiarnya adalah W. Schutz, Raden Sarsono, Abdullah Arief, M. Syah Asyik, Syarifuddin, Ramli Melayu, Syarifuddin Taib, Syamsudin Rauf, dan Agus Sam.[1]

Pesan kemerdekaan
Melalui radio inilah disiarkan pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena pada saat itu Yogyakarta yang merupakan ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia telah dikuasai Belanda. Radio ini memiliki panggilan sinyal: “Suara Radio Republik Indonesia”, “Suara Indonesia Merdeka”, “Radio Rimba Raya”, “Radio Divisi X”, “Radio Republik Indonesia”.

Membantah provokasi Belanda
Radio Rimba Raya berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia. Pada saat itu Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Dan mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi. Tapi dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan bahwa Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa. Akhirnya, akibat berita yang disuarakan itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan dengan ada berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda.

Sejarah
Kontroversi pengadaan peralatan siar
Perangkat Radio Rimba Raya itu dipesan oleh tentara Divisi Gajah I dan dibeli melalui raja penyelundup Asia Tenggara waktu itu, John Lie (seorang pahlawan nasional, Tionghoa dari Manado) yang menjadi perantara pembelian perangkat radio tersebut, menjelang Agresi Militer Belanda I bulan Juli 1947.[2] Perangkat Radio Rimba Raya itu dibeli di Malaya dan dibawa ke kota juang Bireuen. Untuk mengangkut perangkat penyiaran dari Malaya ke Aceh, John Lie menggunakan dua buah speedboat, yang satu berisi bahan makanan dan kelontong, yang satunya lagi berisi alat

Patroli Belanda terpancing lalu mengejar speedboat tersebut dan berhasil dilumpuhkan. pemancar tersebut dipindahkan ke Koetaradja (Banda Aceh) dan sempat dirangkai komponen-komponennya pada akhir tahun 1948. menyebutkan John Lie baru berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus Agresi Militer I. Syarifuddin Thaib. pemancar radio di Cot Gue sama sekali tidak pernah bisa digunakan. Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh memerintahkan alat pemancar dipindahkan ke tempat lain. dan John Ekel. Nip Xarim membeli perakatan radio itu bersama Dr. Studio siarannya berada di sebuah rumah peninggalan Belanda Peunayong. Namun karena kondisi keamanan di kawasan itu tidak baik. Tapi. seorang keturunan Tionghoa-Manado. Sejarawan UGM. Cot Gue. Baru pada bulan September 1947. dan TA Talsya menyebut John Lie-lah yang membeli peralatan tersebut. Sayangnya. Mukhtar Ibrahim membenarkan hal ini. Ketika berpapasan dengan patroli laut Belanda.pemancar radio.” yang ditulis Drs. menjabat Kepala Syahbandar Cilacap. maka oleh pejuang-pejuang Aceh. Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar dengan enak melaju menuju pantai Sumatera dan mendarat di Sungai Yu. Kabupaten Aceh Tengah. Anggota Divisi X. pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. speedboat yang berisi bahan makanan dan kelontong melaju dengan kencang untuk memberi kesan mencurigakan. Radio Rimba Raya dibawa ke Bireuen.[3] Keterangan serupa ditulis dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara. yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kolonel M. Tiba di Aceh Terlepas dari siapa yang membeli peralatan pesawat tersebut. Setelah beberapa bulan dengan pertimbangan agar bisa menyiarkan secara cepat dan luas. Sofyan. justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan. Daerah ini dianggap lebih aman karena wilayahnya bergunung dan berhutan-hutan. kecamatan Silih Nara. sebagai cadangan sewaktu-waktu bisa digunakan apabila Koetaradja direbut musuh. Sebelumnya. Muhammad TWH. Aceh Timur. perangkat radio itu direncanakan akan dibawa ke kampung Burni Bies. Gubernur Militer waktu itu dijabat Daud Beureueh. orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim. Ikmal Gopi sendiri setelah meneliti riawayat John Lie. John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan dan kemudian Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang. namun belum sempat mengudara. penjajah Belanda sedang memantau proses pengiriman perangkat radio itu. perangkat radio itu dibawa ke kampung Rime Raya yang saat itu masuk Kecamatan Timang Gajah. karena pada saat yang sama terjadi Agresi Militer Belanda II. 19 Desember 1948. Pemancarnya dipasang di kawasan pegunungan sebelah selatan Banda Aceh. Maka disepakatilah Aceh Tengah sebagai daerah tujuan. Peralatan dibeli di Malaya. Dalam situasi yang tidak mendukung itu. serta anggota Divisi X membenarkan hal ini. keterangan lain menyebutkan. Hoesein Yoesoef. Tapi Ali Hasyim.[4] .

yakni bahasa Inggris. Beres soal listrik. mengirim berbagai pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata. juga dikutip oleh All India Radio dan seterusnya disampaikan ke alamat yang dituju. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. kabel tak cukup. akhirnya Desember 1948. yakni Rime Raya (Rimba Raya). dan Arab.Peralatan “diungsikan” ke Aceh Tengah tanggal 20 Desember 1948. Belanda. akhirnya rencana yang semula menuju Burni Bies dialihkan ke tempat lain. Berkali-kali rombongan terpaksa menyingkir dari jalan raya untuk bersembunyi dari kejaran Belanda yang mengintai dengan pesawat udara. tak ada mesin listrik. Karena risiko perjalanan sangat tinggi. Daerah yang hendak dituju Burni Bies. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio. Radio Rimba Raya juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh. Selain bahasa Aceh dan bahasa Indonesia. Urdu. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi. dan berhasil ditemukan. Sebagai pemancar gerilya. waktu itu muncul kesulitan. Mulai mengudara Setelah melewati perjuangan berat dalam mendirikan Radio Rimba Raya. Perjalanan menuju Tanah Gayo dilukiskan begitu dramatis. Usaha itu gagal. istri Kolonel Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Kontak dengan India Radio Rimba Raya setiap hari juga melakukan kontak dengan perwakilan Republik Indonesia di New Delhi. Dari Radio Rimba Raya ini para pahlawan Aceh mengumandangkan pesan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya untuk terus berjuang mempertahankan negara dari penjajahan Belanda. Ny Ummi Salamah. . dalam suatu pengawalan ketat dan rahasia. Kabel dicari lagi ke Lampahan dan Bireuen. para awak radio ini juga melakukan monitor. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia yang diinformasikan. India. Cina. Daerah itu sebelumnya bernama Desa Tanoh Ilang (Tanah Merah). Kolonel Husein Yoesoef. bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia. hingga sukar dideteksi musuh. muncul masalah lain. Kolonel Husein Yoesoef sendiri kemudian mendirikan rumah di Areal Pertanian Tentara Pembangunan di Rime (Rimba) Raya. Pada awalnya pemancar tersebut dipasang di Krueng Simpo. Di tempat inilah akhirnya pemancar didirikan. lebih kurang 20 km dari Bireuen arah Takengon. Studionya berada di salah satu kamar rumah kediaman Komandan Divisi X. Radio Rimba Raya mengudara yang memberitakan bahwa Republik Indonesia masih eksis kepada dunia luar. Radio Rimba Raya juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang. Namun. Selain mengudara untuk kepentingan umum. Sender radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi. menampilkan lima bahasa. siaran Radio Rimba Raya di tengah hutan belantara Aceh Tengah itu.

607. Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 pukul 10. misalnya krisis listrik yang belum juga usai. setelah RRI Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948. Dimuseumkan Perangkat tua radio Rimba Raya itu teronggok di salah satu sudut ruang Museum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Yogyakarta.” Sama sekali tidak ada keterangan lain tentang Radio Rimba Raya di museum itu. Bagaimanapun pelaksanaan penyiaran kembali radio ini mengalami beberapa hambatan. Film ini berdurasi 90 menit. Akhir penyiaran Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah berupaya mengoperasionalkan kembali stasiun radio ini dengan membeli seperangkat alat penyiaran radio yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Bener Meriah sebesar Rp.000.318.[5] Monumen peringatan Monumen Radio Rimba Raya dibangun untuk mengenang sejarah Radio Rimba Raya yang berperan sangat besar dalam mempertahankan Indonesia dari agresi Belanda. Teregistrasi dengan No 60. Monumen tersebut terletak di Kmpung Rime Raya.000. Tertera sebuah keterangan pendek.30 WIB. Pemfilman Peristiwa heroik dan peran Radio Rimba Raya telah difilmkan dengan dibuatnya film dokumenter yang dibuat oleh Kanca Mara Production. “Pemancar hasil selundupan dari Malaya. Padahal. mengambil .Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar tanggal 20-23 Januari 1949 di New Delhi. dan satu-satunya radio yang menyuarakan keberadaan Indonesia. 287.00[7]. digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948. Radio Rimba Raya pernah menjadi penyelamat Indonesia. Materi penyiaran yang direncanakan adalah informasi dan hiburan bagi masyarakat Bener Meriah dan sekitarnya. Monumen ini diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Badan Urusan Logistik. Ironi dan menyedihkan. Tugu ini selain menjadi tempat bersejarah juga menjadi salah satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. jam kerja Radio Rimba Raya diperpanjang mengingat banyaknya berita yang harus dikirim ke wakilwakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut. Kabupaten Bener Meriah. Kecamatan Pintu Rime Gayo.[6] Pengoperasionalan kembali Sejak tahun 2008.

com/2009/05/12/radio-rimba-raya-teronggok-sepi-di-museum-tni-ad/ Perangkat penyiaran dimuseumkan di Museum TNI AD. Film sejarah itu dibuat dengan format layar lebar dengan sistem suara stereo digital.com/2009/05/12/radio-rimba-raya-teronggok-sepi-di-museum-tni-ad/ Daftar penyiar 2.org/Monumen_Radio_Rimba_Raya Monumen 7.php?action=PSCM&no=6531 Pemfilman Radio Rimba Raya .com/news/view/12384/radio-rimba-raya-belum-beroperasi 8.com/ Pembelian 3.com/ Versi lain proses pembelian 4.org/id/index.serambinews. Padang. ^ http://acehpedia.org/Monumen_Radio_Rimba_Raya#Sejarah_Radio_Rimba_Raya Sejarah Radio Rimba Raya 5. Yogyakarta.blogspot.gambar dengan setting masa lalu di Kota Jakarta. ^ http://acehlong. Persiapan pembuatan film dokumenter Radio Rimba Raya memakan waktu dua tahun lebih yang didahului dengan riset dan mulai pengambilan gambar sejak tanggal 1 Agustus 2008.acehrecoveryforum. ^ http://acehpedia. ^ http://www. Kota Bireuen.blogspot. ^ http://acehlong. 6. ^ http://rimbarayaaceh. ^ http://www. Banda Aceh (Koetaradja). ^ http://rimbarayaaceh. Yogyakarta.[8] Referensi 1. dan Takengon.

Hal inilah yang menyebabkan pihak Belanda panik. Langkat dan Tanah Karo pada tanggal 20 Desember 1948 memerintahkan pengoperasian Radio Perjuangan “Rimba Raya” dari hutan belantara di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah. Jawa. Pada akhirnya. Daud Beure-eh. yaitu di Kutaraja. Dan. dapat memperkaya diskusi kita dalam memperdalam nilai-nilai sejarah yang tertuang dalam film dokumenter Radio Rimba Raya karya sutradara Ikmal Gopi. Radio Batavia. Gubernur Militer Aceh. Pada waktu itu. bahkan dengan Radio Hilversium di Holland berlangsung sangat seru. segera dapat diisi sehingga rakyat Indonesia tidak terombang-ambing oleh isu-isu yang menafikan perjuangan republik. LONG MARCH KE MEDAN AREA (1992). Langkat dan Tanah Karo memerintahkan untuk memindahkan pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya tersebut ke kawasan hutan belantara di Dataran Tinggi Gayo yang diyakini akan sulit ditembus oleh pesawat-pesawat tempur Belanda. Mengapa? Ternyata salah satu simpul yang menyebabkan tetap tegaknya republik ini adalah sebuah perangkat radio tua. Gubernur Militer Aceh. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada L. benar-benar “menghentak” dan “membuka mata” semua orang. sedikit demi sedikit akan tersibak. Kefakuman informasi saat itu.N. sebuah film dokumenter yang berjudul “Radio Rimba Raya” membuat kita seperti bangun dari tidur. kemudian kisah-kisah heroik ini dapat ditulis kembali dalam buku sejarah perjalanan bangsa ini. Belanda. Bagaimana kisahnya. AK Jakobi.M. Mudah-mudahan. tulis Tgk. Palar. Sudarsono. Cina dan bahasa Indonesia. ternyata pihak Belanda dapat mendeteksi keberadaan pemancar ini. “Debat” udara ini juga dipantau oleh Dr. Kepala Perwakilan RI di India melalui Radio Penang di Malaya. Ikmal “Bruce” Gopi. mari kita simak tulisan Tgk. seluruh ibukota propinsi di Jawa dan Sumatera sudah diduduki oleh Belanda. Dilokasi ini pun. Siaran radio ini menggunakan bahasa Inggris. sehingga Gubernur Militer Aceh. sejarah simpul republik yang selama ini masih tersamar. Simpul itu bermula saat Tgk. mereka terus memburu dan ingin menghancurkan pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya. “Duel” udara dengan Radio Belanda di Medan. Arab. Mengapa tidak. Pada akhirnya. Langkat dan Tanah Karo memerintahkan agar pemancar itu dipindahkan ke pegunungan Cot Gue di Aceh Besar. masih terdapat pemancar radio yang kuat di Sumatera.Radio Rimba Raya Layak Dapat Gelar Pahlawan 10 November 2011 Seorang anak muda kelahiran Takengon. AK Jakobi dalam bukunya yang berjudul “ACEH DAERAH MODAL. Seperti ditulis oleh TB Simatupang dalam bukunya yang berjudul “Laporan dari Banaran (1959)” bahwa selain pemancar yang ada di Wonosari. Perburuan yang dilakukan Belanda menyebabkan lokasi pemancar Radio Perjuangan Rimba Raya selalu berpindah-pindah. Lewat karyanya. Urdu. Kepala Perwakilan RI di PBB. Suara Radio Republik Indonesia (RRI) pun sudah tidak terdengar lagi. kepada Radio Rimba Raya itu sendiri layak diberi gelar pahlawan.H. Sekian! . hanya Radio Perjuangan Rimba Raya yang dalam masa transisi masih mampu berfungsi sebagai media perjuangan. “duel” udara antara Radio Perjuangan Rimba Raya yang kadang-kadang menamakan dirinya “Suara Indonesia Merdeka” semula dipancarkan dari Krueng Simpo dekat Bireuen. dengan tambahan catatan ini.” Menurutnya.

Radio Belanda umumkan: “Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. melalui radio ini wakil presiden Hatta dan para pemimpin lainnya menyampaikan pesan kepada masyarakat. Didatangkan dari Singapura . Studio gelap itu berlokasi di Sekolah Tinggi Kedokteran di Jalan Salemba Jakarta yang memancarkan siaran luar negeri dengan call “This is the voice of free Indonesia”. tetapi Jepang bertahan karena hendak diserahkan kepada Sekutu. sejak 15 Agustus dijaga ketat Kempetai Jepang. stasiun radio yang ada di Merdeka Barat Jakarta. presiden dan wakil presiden sudah ditawan. Karena itu para pimpinan radio menyusun satu kekuatan merebut sang “primadona” guna menguasai dan menyelamatkan pemancar-pemancar yang ada di daerah. Asa Bafaqih dan Panghulu Lubis. Semua wilayah Indonesia telah dikuasai Belanda”. maka seluruh dunia mengetahui Indonesia telah Merdeka. Begitupun para pemuda pejuang yang bekerja di radio. Menurut Onong Uchjana Effendy MA. Demikian juga daerah-daerah mengetahui kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan meskipun masih samar-samar. Di sini Keresidenan Aceh wilayah Republik Indonesia masih utuh Sepenuhnya Pada masa awal kemerdekaan. juga terjadi di Medan. sarana komunikasi radio tidak ubahnya seperti “primadona” yang disandra Kempetai Jepang. Para pemimpin radio yang berkumpul di Jakarta tanggal 10 September 1945 meminta kepada Jepang agar semua stasiun radio diserahkan kepada Indonesia. tidak lama kemudian berkumandanglah di udara radio siaran dengan stasiun call “Radio Indonesia Merdeka”. Betapa tidak. Maka masyarakat Australia lebih dahulu mendengar bangsa Indonesia merdeka. Sehingga para pemuda tidak bisa menyiarkan teks proklamasi kemerdekaan yang diumumkan Soekarno-/Hatta tanggal 17 Agustus 1945. Radio “Rimba Raya” menjawab: Republik Indonesia masih tegak berdiri. Dengan adanya siaran domei itu. Begitupun para pejuang radio tidak tinggal diam. Penyanderaan ini bukan hanya terjadi di Jakarta. Berkat kegigihan pemuda radikal yang bekerja pada kantor berita “Antara” yang menjadi saksi Indonesia kantor Berita Jepang “Domei” berhasil menyiarkan teks proklamasi kemerdekaan yang dilakukan tiga serangkai Adam Malik. Salah seorang yang berjasa dalam hal ini adalah Dr Abdurrahman Saleh. bekas Hoso Kyoku menyalurkan teks proklamasi melalui siaran-siaran luar negeri yang ada di Bandung. sebuah pemancar gelap berhasil diusahakan.

Bersama pemancar ini turut serta seorang perwira Inggris bernama Joh Edward (Abdullah Inggris) serta Abubakar dan Chandra. Pejuang ini berhasil memasukkan pemancar berukuran sedang.Begitu pentingnya pemancar radio. Menurut Kapten (Purn) Nip Xarim di masa hayatnya. juga Kapten Nip Xarim melakukan hal serupa. Setelah Agresi ke dua John Lee melakukan kegiatannya melalui pantai Aceh Timur Sungai Yu. Tapi Jepang tetap menolak. Mereka ini adalah mantan tentara Inggris yang membelot ke pihak Indonesia. sebelum Belanda melancarkan Agresi pertama.00 berhasil membulatkan tekad di tengah malam membentuk suatu organisasi radio siaran bernama RRI untuk bertindak dan mengambil langkah selanjutnya baik di pusat dan maupun di daerah. M. Tetapi yang berhasil ditemukan sebuah pemancar besar berkekuatan 350 watt dan dimasukkan melalui Kuala Sungai Serapoh (Langkat). Kapten Nip Xarim dengan membawa 25 ton getah menerobos blokade Belanda menuju Singapura. Selain John Lee yang mengharungi Selat Malaka dengan boat cepatnya. Dapari Nasution dan Kamarsyah.Sani. sarana komunikasi itu akan diserahkan kepada sekutu. Roesyem. Ahmad SM. Ketika penyerahan pemancar ini Kolonel Husin Yusuf didampingi Letnan A. maka pejuang dari Sumatera Utara berusaha mendatangkan pemancar dari Singapura. Sedangkan di Aceh dikenal dengan sebutan “Aceh Syu Hodoka”. M. Kalau Sumber Daya Manusia Militer Indonesia hasil gemblengan Jepang melalui Gyugun. Pemancar berkekuatan cukup besar inilah kemudian dikenal dengan Radio Perjuangan “Rimba Raya” yang siarannya dapat didengar di seluruh negara Asia. kepala Penerangan Tentara Resimen V Divisi X. pemancar itu diantar kepada Komandan Divisi X Kolonel Husin Yusuf. Pejuang yang paling berani menerobos blokade Belanda di Selat Malaka adalah John Lee yang berpangkat Kapten Angkatan Laut. Rahman TWH. Sedangkan Pimpinan radio Aceh Syu Hodoka di . mantan kepala Radio Aceh Shu Hodoka di masa pendudukan Jepang. di samping memasukkan berbagai keperluan militer yang didaratkan melalui Labuhan Bilik. Australia dan beberapa negara Eropa.Arief. Di antara anggota Hoso Kyuku di Medan yang kemudian menjadi pejuang radio antara lain adalah Lutan St Tunaro. maka Sumber Daya Manusia di bidang radio juga hasil tempaan Jepang melalui organisasi radio yang dikenal dengan Hoso Kyuku. Abda Mufid. Ketika Batalyon “B” yang dipimpinnya ditempatkan di Langkat. Tanggal 11 September 1945 jam 24. Berdirinya RRI Tanggal 10 September 1945 para pemimpin radio berkumpul di Jakarta membicarakan tuntutan kepada Jepang agar semua kelengkapan diserahkan kepada Indonesia. Dia bermaksud mencari pemancar kecil untuk keperluan Batalyonnya. Heiho dan lain-lain.

Di awal kemerdekaan A. Pejuang radio tidak patah semangat walaupun pemancar diledakkan.Teuku Mohd Hasan memindahkan ibukota Sumatera ke P. Rahman TWH. RRI Medan memperoleh sebuah gedung . Baru saja dimulai siaran percobaan RRI Medan. Prof Mohd Yamin) diangkut ke Kampung Baru untuk dibangun RRI untuk menyuarakan “Suara Indonesia Merdeka”. izin telah diperoleh pembangunan segera dimulai. maka daerah-daerah juga bertindak menyelamatkan pemancar dan peralatan radio agar jangan sampai jatuh ke tangan Sekutu. Pemancar RRI di Kampung Baru itu diledakkan oleh Inggris.Kutaraja (Banda Aceh) adalah Said Achmad Dahlan dan A. Sayang pemancar yang berkekuatan satu (1 KW) yang berada di Sei Sikambing tidak bisa mereka angkut karena ketatnya penjagaan Jepang. Pertengahan Maret 1946 Pemerintah Sumatera di bawah pimpinan Mr. Gedung yang dijadikan lokasi RRI Medan dikepung dan ditembaki secara bertubi-tubi.Siantar. S. namun mereka berusaha membangun pemancar baru di Jalan Asia yang dilakukan Hasib. masyarakat Medan banyak menguasai ke daerah pedalaman.Siantar. pertempuran antara Lasykar dengan Inggris terjadi baik siang maupun malam. Pejuang radio Medan berusaha memindahkan dan peralatan radio yang amat penting tanpa menghiraukan akibat yang akan mereka alami. hanya seorang pejuang radio yang kena tembak di pahanya bernama Arsyad tapi tidak mengancam jiwanya. Pemancar yang dibangun di Kampung Baru dapat menjangkau siarannya untuk seluruh Sumatera Timur. Peralatan dari Jalan Serdang 28 Medan (sekarang Jln. Pejuang radio berhasil menyelamatkan diri. Berkumandang di Siantar Atas bantuan berbagai instansi pemerintah di P.Ismail dan lain-lain. Tetapi keadaan kota Medan bertambah panas. Pejuang RRI Medan Sejalan dengan langkah pimpinan RRI di Jakarta. Rahman TWH menjadi Kepala Penerangan Resimen Divisi V merupakan orang yang bertanggung jawab dalam operasional Radio Rimba Raya. Karena situasi sudah sedemikian rupa.Siantar terutama Kepala Daerah Kabupaten Simalungun Bupati Madja Poerba. Kali ini disusahkan pembangunan secara legal dengan meminta izin kepada Gubernur Sumatera dan sekutu. satu pasukan Inggris yang telah menduduki kota Medan 9 Oktober 1945 menerobos rintangan yang dibuat oleh pemuda pejuang menuju Kampung Baru. RRI Medan juga secara sangat hati-hati diungsikan ke P.

bahasa China disampaikan oleh Hie Wun bahasa Belanda oleh Syarifuddin dan bahasa Indonesia oleh penyiar radio Rimba Raya. Situasi kevakuman RRI dimanfaatkan Radio Belanda di Batavia (Jakarta) radio Hilversum di Negeri Belanda dan radio Belanda di Medan menyiarkan berita”Republik Indonesia sudah tidak ada lagi”. Presiden. Setelah Belanda melancarkan Agresinya yang kedua. Siaran bahasa Arab disampaikan oleh Abdullah Arif. 19 Desember 1948. Yogyakarta telah direbut. presiden dan wakil presiden telah ditawan disusul jatuhnya daerah-daerah kekuasaan republik ke tangan Belanda. pemerintah Republik Indonesia masih ada. Yogyakarta direbut dan diduduki. Radio Perjuangan “Rimba Raya” yang mempunyai kekuatan pemancar 350 watt. Tiap malam tampil di udara dalam 6 bahasa yaitu : bahasa Inggris. pimpinannya masih ada.di jalan Raya Siantar-Medan. (Penyiarnya John Edward tentara Inggris yang membelot ke pihak Indonesia). wakil presiden dan para Menteri ditawan. Siaran radio ini dapat didengar . Disertai alat-alat untuk keperluan siaran seperti piano. Perdana Menteri Sutan Syahrir dan Menlu H.Siantar”. Sejak itu RRI Medan bungkem di udara. Dengan direbutnya Jogyakarta dan Bukit Tinggi dengan sendirinya Radio-Radio Republik Indonesia “dibungkemkan”. RRI Medan di P. yang berlokasi di Aceh (antara Bireuen – Takengon) segera menjawab “Republik Indonesia masih ada.Siantar dalam rangkaian agresinya I yang dimulai 21 Juli 1947. Di sini Keresidenan Aceh wilayah Republik Indonesia yang masih utuh sepenuhnya. Yang pertama dilakukan pasukan elit Belanda adalah meledakkan pemancar RRI dan menghancurkan studio RRI di Siantar itu. Walaupun keadaan serba sederhana RRI Medan akhirnya berhasil mengumandangkan suaranya dengan memakai call “Di sini Radio Republik Indonesia Medan di P. “Radio Divisi X”. Wakil Presiden Hatta dan menteri lainnya ditawan di Pulau Bangka. Radio Rimba Raya menggunakan gelombang 67 dan 25 meter dengan nama panggilan : “Suara Merdeka Radio Republik Indonesia”.Siantar melaksanakan fungsinya sejak April 1946 dan berakhir 29 Juli 1947. tentara Republik Indonesia masih ada. Presiden Soekarno. Ketika Belanda masuk dan merebut P. Sesuai kebutuhan kadang-kadang digunakan signal calling “Radio Rimba Raya”. kemudian dipindahkan ke Parapat. bahasa Urdu (Hindustani) oleh Abubakar dan Chandra juga bekas tentara Sekutu yang membelot ke pihak Indonesia. Alasan Belanda. dan juga “Radio Republik Indonesia”. Brastagi. Agus Salim ditawan di Pasanggerahan Lau Gumba. piring hitam dan lain-lain. karyawannya bergerilya dan ada juga diam-diam masuk ke Medan. Tujuan siaran waktu itu ialah memupuk semangat perjuangan bangsa menentang maksud penjajahan Belanda kembali berkuasa di Indonesia dan mempertinggi pengetahuan rakyat dan keinsafan bernegara.

Pemancar ini merupakan bukti sejarah perjuangan radio mempertahankan kemerdekaan. Pemancar radio. Pemerintah India memberi dukungan sepenuhnya terhadap perjuangan rakyat Indonesia. kini ditempatkan di Museum Pusat TNI Angkatan Darat “Dharma Wiratama” Yogyakarta. Dengan pemancar yang tangguh radio perjuangan ini berhasil membentuk opini publik di luar negeri. Dirgahayu Hari Radio 11 September 2011. Juga Australia Broadcasting selalu menanyakan hal-hal yang tidak jelas kepada radio Rimba Raya. Saigon. Australia dan beberapa kota di Eropa.diberbagai kota di Semenanjung Malaya Singapura. Karena itu tidak heran “All India Radio” terus memonitor radio Rimba Raya. Perjuangan “Rimba Raya” yang dinilai berjasa itu. ***** . Manila New Delhi.

Dengan mengambil tema “Sejarah bangsa Indonesia yang terlupakan”. Acara ini di gagas oleh mahasiswa Gayo “Asrama Laut Tawar” Yogyakarta yang bekerja sama dengan Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Laut Tawar Gayo (Ipemah Lutyo) yang ada di Yogyakarta. Ditanya tentang peran Radio Rimba Raya dalam film ini dia menjawab bahwa Radio Rimba Raya merupakan benteng terakhir pertahanan Bangsa Indonesia pada saat itu. Sementara itu. timpalnya. Hardi salah seorang mahasiswa dari Sulawesi mengatakan film ini sangat menarik untuk di tonton. pemutaran film dokumenter Radio Rimba Raya kembali di putar di kota Pelajar dan Kota Budaya Yogyakarta untuk kedua kalinya setelah kegiatan yang sama dilakukan satu tahun lalu. Ikmal Gopi selaku sutradara film documenter Radio Rimba Raya menyatakan ini merupakan momentum yang tepat untuk para pemuda Indonesia khususnya pemuda Aceh dan Gayo untuk kembali meluruskan sejarah yang selama ini banyak yang masih kabur. “Tujuan kegiatan ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali sejarah bangsa Indonesia serta untuk menumbuhkan semangat pemuda Indonesia tentang pentingnya nasionalisme. Sabtu (12/11) bertempat di gedung pertemuan Balai Kota Yogyakarta. “Kita semua berharap Kementrian Pendidikan RI dapat memasukkan sejarah perjuangan Radio Rimba Raya kedalam kurikulum pendidikan sejarah agar generasi muda yang akan datang bisa mengerti dan paham akan sejarah yang sebenarnya.” kata Helmy Ranggayoni selaku ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut. “Dengan film yang mengungkap fakta sejarah ini. Dalam acara ini juga di tampilkan tarian tradisional Gayo. kita berharap kepada kalangan pemuda sebagai agent of change berperan aktif untuk meluruskan kembali sejarah bangsa ini. (Syarifuddin/03) .” harapnya. dimana seluruh wilayah Indonesia sudah dikuasai oleh pihak penjajah yang meneriakan bahwa “Indoensia masih ada” yang suaranya terdengar sampai seluruh penjuru dunia. Komponen bangsa ini harus tau peran Radio Rimba Raya (RRR) dan kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini.” tegasnya. acara ini dilaksanakan dalam rangka menyambut sumpah pemuda dan hari Pahlawan. dan bahkan dihilangkan. Didong yang ditampilkan oleh sejumlah mahasiswa Gayo Yogyakarta. Dihadiri berbagai kalangan pemuda dan mahasiswa seluruh Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pelajar/Pemuda dan Mahasiswa daerah Indonesia (IKPMDI) serta utusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa kampus yang ada di Yogyakarta.ogyakarta | Lintas Gayo – Setelah sukses di beberapa tempat di Indonesia.

Namun sangat disayangkan masih “terngiang” ditelinga dan masih ada kesan di publik terjadinya pembiaran yang tanpa alasan yang jelas dan sulit dicerna. salah Satu aset bangsa adalah sejarah. RRR adalah “juru selamat” Republik Indonesia. yang diteruskan ke luar negeri. Maka. Di wilayah Aceh. belum lama ini seusai mengunjungi Tugu RRR di Kampung Rime Raya Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah. namun juga harus dibanggakan. sejarah RRR merupakan aset Bangsa Indonesia yang bukan hanya sekedar dikenang. selanjutnya difungsikan sebagai “Benteng Terakhir” untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah yang diperjuangkan segenab rakyat Aceh. Dalam rangka survey awal Lembaga Sandi Negara untuk menelusuri teka teki RRR tersebut. adalah untuk menelusuri adanya komunikasi rahasia antara pejuang di seluruh Indonesia. Dan karena itu pula. . Budi Santoso. memaparkan tujuan kehadiran Lembaga Sandi Negara ke salah Satu Dataran Tinggi Gayo itu. Budi Santoso turut didampingi tiga orang Tim Penelusuran Sejarah Sandi yang didatangkan dari Jakarta serta salah seorang contributor media ini. tepatnya disalah Satu wilayah di Dataran Tinggi Gayo. yaitu Bener Meriah memiliki aset sejarah yang sangat berharga bagi republik ini. RRR ternyata memiliki teka-teki lain dari “kekokohan” perangkat yang berhasil diseludupkan melalui lautan lepas menuju belantara keperawanan Aceh. Adalah RRR sebagai “corong” kemerdekaan pada zaman perjuangan merebut bumi pertiwi ini dari tangan musuh.Lembaga Sandi Negara Selidiki Komunikasi Rahasia RRR Menanyakan seberapa pentingkah sejarah Radio Rimba Raya (RRR) harus diketahui publik? Sama saja kita bertanya seberapakah pentingnya kita harus mengetahui hari kelahiran kita. wajar bila tersiar opini menyia-nyiakan sejarah RRR adalah tindakan pemubajiran. Selain budaya dan pariwisata. Demikian disampaikan Kasubbag Informasi dan Media Lembaga Sandi Negara. Adalah RRR yang menyiarkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Dalam setiap pergerakan untuk memperebutkan kemerdekaan sudah tentu menggunakan komunikasi rahasia atau sandi-sandi untuk mengelabui musuh. Namun. Jakarta. Komunikasi rahasia atau sandi diduga kuat digunakan RRR saat masih mengundara untuk mengelabui musuh.

“Hal yang jarang kita sadari. Lembaga ini merupakan suatu Badan Pusat Persandian Negara Republik Indonesia dan berkedudukan langsung dibawah Presiden serta bertanggungjawab kepada Presiden. Adalah Reje Mude Tukiran Aman Jus yang merupkan salah Satu saksi sejarah RRR. agar eksistensi RRR tidak pernah hilang dari ingatan. Budi katakan starteginya adalah dengan mengumpulkan dokumen atau arsip yang berkaitan dengan RRR. Sutradara Film Dokumenter RRR. harus disadari dibalik kekuatan RRR masih ada teka-teki yang belum terjawab.” papar Budi. menjalin hubungan dengan RRR. Berdasarkan Keppres Nomor 7 Tahun 1972 yang mengatur kedudukan atau status. “Disetiap kegiatan yang sifatnya rahasia. . kemungkinan besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan lenyap ditangan musuh! Paling tidak. “Kita harus mendukung upaya ini. mengkoordinir. tentunya untuk menjalin koordinasi kesesama pejuang tidak dapat diketahui pihak lain. serta Sekretaris.Sejarah Radio Rimba Raya sangat sulit didapat secara lengkap karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa Pemerintah RI banyak menyembunyikan sejarah-sejarah sumbangsih Aceh terhadap negara ini. konon lagi musuh.” ungkap Kasubbag Informasi dan Media Lembaga ini. Disinggung kepada Budi salah Satu upaya untuk membongkar “misteri” RRR. Secara terpisah.” kata Budi. Ikmal Gopi.” tukas Budi. Kecamatan Timang Gajah. Hasil survey awal Lembaga Sandi Negara yang hanya berlangsung sehari tersebut. fungsi Lembaga Sandi Negara untuk mengatur. Ardiansyah. (Uyad Dasa) Baru kali ini berkesempatan mengunjugi monumen Radio Rimba Raya di Desa Rime Raya. fungsi. dan tugas pokok Lembaga Sandi Negara. Armawan. Tanpa RRR. Disampaikan. “Selain menghimpun keterangan dari sejumlah sumber. Negara yang telah menganut paham Pancasila ini akan “terpecah-pecah” terlepas dari bingkai NKRI. Kini.” kata Ikmal. saat dihubungi melalui telpon seluler menyampaikan sangat menaruh apresiasi dengan upaya Lembaga Sandi Negara ini. “Kalau saya demi sejarah RRR. sampai berbuih mulut ini tidak akan pernah menyerah untuk selalu menggaungkan keperkasaannya. Disebutkan. “Demi mengungkap komunikasi rahasia ini kenapa tidak mendatangi ke sejumlah museum diluar negeri!?. Lembaga Sandi Negara juga akan melakukan “gerilya” ke sejumlah area yang pada saat RRR mengudara. Selama ini RRR telah diketahui berfungsi sebagai corong kemerdekaan. Kabupten Bener Meriah.” pungkas Ikmal menegaskan. kita juga akan mencari dan mengumpulan dokumen yang memiliki keterkaitan dengan sejarah RRR. Pada saat mengunjungi Tugu RRR. disempatkan bertemu sejumlah nara sumber yang ikut berperan pada saat RRR mengudara. Lembaga ini juga sempat bertemu ramah dengan Ketua Ikatan Pemuda Tugu Radio Republik Indonesia (IPTRRRI). dan menyelenggarakan hubungan persandian secara tertutup dan rahasia antara aparatur negara baik di Pusat maupun daerah dan hubungan persandian ke luar negeri. Ikmal juga telah bertemu dengan Lembaga Sandi Negara di Jakarta.

. Tanpa diberitakannya bahwa RI masih ada di Aceh setelah Jakarta dan Yoqyakarta lumpuh oleh Agresi Militer Belanda II.Radio Rimba Raya adalah salah satu bukti sejarah kontribusi Aceh terhadap berdirinya Negara Republik Indonesia. Republik mungkin sudah tidak ada lagi.