Anda di halaman 1dari 4

MENATAP POTENSI DAN PERMASALAHAN KEMISKINAN DI ALUE KEUJRUN Oleh : Delky Nofrizal Qutni Desa Alue Keujrun merupakan

salah satu desa dari 13 desa yang berada di kemukiman menggamat, yang secara geografis administrasi berada dalam kecamatan Kluet Tengah Kabupaten Aceh Selatan,Provinsi Aceh. desa ini adalah desa yang berada di hulu sungai Kluet dan desa yang paling jauh serta desa yang terpencil yang masih menggunakan alat transportasi Speed Boat ( Stempel Bahasa Kluet), dengan luas 291.880 Ha. Jarak dari desa Alue Keujrun dengan Ibu kota Kecamatan (pasar Menggamat) adalah 17 Km. Kebaradaan speed boat ini baru ada setelah pemerintahan BJ. Habibie. Sekitar tahun 1998. Sebelum ada speed boat. Masyarakat menggunakan sanpan (perahu) dengan mengayuh sendiri menggunakan tangan. Untuk mencapat lokasi dengan menggunakan perahu tadi butuh waktu 3 sd 5 hari. Menurut lembaran Rencana Pengembangan Jangka Menengah Desa (RPJMG) Desa Alue Keujrun ini mempunyai lahan pertanian dan perkebunan yang luas 90% dari luas desa. Desa ini juga mempunyai kawasan hutan adat yang luas di mana dalam keseharianya banyak ketergantungan hidup masyarakat dengan hutan dan bertani. Secara lebih detail berdasarkan hasil pengamatan kami, kemiskinan didesa Alue kejruen ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: Faktor aksesibilitas, yaitu tidak adanya jalan dan jembatanyang menghubunkan antara desa Alue kejrun dengan pusat pertumbuhan/ Pasar Menggamat

Faktor bencana, banjir dan gangguan gajah menjadi langganan musibah yang selalu menghantui warga Alue kejrun. Pada musim tertentu kedua musibah ini akan terjadi. Jika banjir terjadi maka sarana tranportasi menggunakan speed boat tersebut tidak akan berfungsi. Begitu juga jika gangguan gajah datang maka hasil pertanian akan terancam gagal panen karena dirusak gajah. Faktor kualitas sumber daya manusia yang rendah, akibat dari tidak adanya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja. Di desa ini hanya ada satu sekolah tingkat dasar (SD). Anak-anak yang mau melanjutkan kejenjang SMP dan selanjutnya sudah harus mulai merantau meninggalkan keluarganya dan pergi ke ibukota kecamatan untuk bersekolah. Sebagian warga menyekolahkan

anaknya dengan menitip anaknya ke famili atau orang-orang yang mau membantu. Dan itu jumlahnya sangat sedikit, dari 23 anak yang sudah berusia sekolah hanya 5 orang yang melanjutkan sekolah setingkat SMP. Untuk tingkat SMU tidak ada yang bersekolah apalagi untuk jenjang sarjana. Secara keseluruhan, yang tidak bersekolah sebanyak 50 anak dari 135 anak usia sekolah. Parahnya lagi, di SD ini hanya ada 1 orang guru yang stanby. Selebihnya ada sekitar 4 orang mereka pergi bergiliran. Sehari masuk, dua minggu tidak masuk. Terkesan suka-suka mereka untuk datang mengajar, sering tidak masuk dengan berbagai alasan. Padahal mereka yang

ditempat disini adalah guru kontrak dari program khusus pemerintah untuk kawasan terpencil.

Faktor keterbatasan sarana komunikasi dan informasi, terbatasnya akses dan sarana informasi dan komunikasi menjadi masalah lain juga disini. Masyarakat terkurung dengan kebiasaan aktivitasnya sehari-hari. Terputus akses dengan dunia luar. Satu dua orang yang ada keluar untuk bekerja. Umumnya warga tidak mengenal tekhnologi pengolahan dalam pertanian. Tidak ikut perkembangan harga pasar dan produk-produk pertanian unggulan. Jadi masyarakat hanya tau menanam padi, singkong, cabe, tomat dan sebahagian kecil menanam nilam.

Faktor sarana kesehatan, desa ini memiliki gadung PUSTU yang memadai. Tapi petugas PUSTU seperti bidan dan perawat hanya ada satu kali dalam 3 bulan. Perawat ini hanya bertugas 2 sd seminggu. Setelah itu dia bisa tidak kembali 2 sampai 3 bulan (pengakuan aparat Desa bapak Yusrizal)

Faktor Konflik, merupakan wilayah bekas konflik. Desa ini saat konflik aceh tahun 1998 sd 2005 merupakan daerah tempat latihan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Situasi ini menyebabkan Desa Alue Keujruen menjadi target serangan militer. Banyak warga di tembak dan rumahnya dibakar. Akibatnya masyarakat ada sebahagian masih trauma dan belum memiiki rumah yang layak huni.

Sekalipun desa alue kejruen terpencil dan tertinggal, kawasan desa ini memiliki potensi sumber daya alam yang memadai. Sebagai wilayah dengan demografis berbatas dengan hutan belantara dan sungai ini, Alue Kejruen sangat tertangtang untuk mengembangkan potensi alam yag dimiliki. Kondisi ini tidak menyurutkan rasa optimisme masyarakat dalam upaya mengembangkan potensi yang telah ada. Hal ini terlihat dari adanya perkembangan upaya masyarakat untuk terus bertani dan menjual hasil-hasil tani nya ke pasar Menggamat. Lebih detail berikut potensi-potensi yang dimiliki Desa Alue Kejruen: Potensi Pertanian dan perkebunan Keuntungan yang dimiliki kawasan pedesaan terpencil seperti Alue Keujrun ini adalah ketersediaan lahan yang luas untuk dapat di mamfaatkan. Disamping ketersediaan lahan, masyarakat didesa sebanyak 98% bermatapencaharian pada sektor pertanian dan perkebunan. Kondisi ini tentu menjadi potensi besar untuk di tumbuh kembangkan. Karena ketersediaan sumber daya alam akan sejalan dengan ketersediaan sumber daya manusianya. Dengan dua potensi yang padu ini, maka akan mudah untuk mendesain program untuk meningkatkan jumlah dan mutu hasil pertanian dan perkebunan. Karena semua program yang berhubungan dengan sektor ini akan sesuai dengan kebutuhan dan disambut positif oleh seluruh masyarakat. untuk saat ini petani punya masalah serius dengan ketidakadanya saluran irigasi. Harapan terbesar dan mendesak adalah untuk penyediaan irigasi. Potensi perikanan Air Tawar Potensi ini seperti terlupakan oleh masyarakat Desa Alue Keujruen. Tidak ada masyarakat yang memamfaatkan potensi ini. Padahal dengan adanya sungai yang besar ini akan sangat cocok jika masyarakat memafaatkannya untuk budidaya ikan tawar. Walaupun hasil perikanan tidak sebesar perikanan di laut, namun hasil produksinya cukup memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan dan ekonomi masyarakat untuk keluar dari simpul kemiskinan.

Potensi peternakan Seperti hal nya potensi ikan tawar, sektor peternakan juga tidak diminati oleh masyarakat di Desa Alue Kejruen. Sektor peternakan ini sangat sejalan dengan sektor pertanian. Memang ada sebahagian kecil masyarakat yang memelihara ayam, bebek, kambing dan kerbau. Tapi belum menjadi sebuah matapencaharian utama, karena matapencaharian utama tetap bertani dan berkebun. Ketika ditanya apakah mereka mau mengembangkan sektor peternakan mereka tidak tertarik kerena menurut masyarakat beternak itu lama butuh waktu yang lama untuk menghasilkan (panen). Ketika dikasih tahu bahwa beternak itu masa panennya bisa dipercepat, ada yang terkejut dan menjadi tertarik.

Dari berbagai potensi yang dimiliki oleh desa Aleu Keujrun, jika dikelola secara maksimal dapat dipastikan akan menjawab berbagai permasalahan kemiskinan yang ada. Hal ini tentunya sangat dibutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Delky

Nofrizal

Qutni

adalah

Koordinator

Lembaga Solidaritas untuk Rakyat Daerah Terpencil(SuRaDT)