Anda di halaman 1dari 6

Hasil Analisis Kromatografi kolom

PRAKTIKUM ANALISIS KROMATOGRAFI KOLOM

Judul : Analisis yang telah dilakukan adalah analisis kromatografi kolom yaitu memisahkan klorofil yang ada dalam daun suji. Tujuan : Analisis ini dilakukan dengan tujuan memisahkan suatu komponen yang terdapat dalam daun suji yaitu klorofil. Prinsip Percobaan : Analisis kromatografi kolom dilakukan untuk pemisahan, pemurnian komponen dalam suatu campuran . Dalam analisis kromatografi kolom ini menggunakan metode basah yaitu dengan cara adsorben yang digunakan terlebih dahulu di buat bubur kolom. Teori Dasar : Kromatografi kolom umumnya digunakan sebagi teknik pemurnian untuk mengisolasi komponen yang diinginkan dai sutu campuran. Dalam kromatografi kolom, fase diam (adsorben padat) ditempatkan secara vertikal dalam kolom gelas dan fase gerak 9cairan) ditempatkan pada bagian atas kolom dan begerak ke bawah melewati kolom (karena gravitasi atau tekanan eksternal). Sampel yang akan dianalisis dimsukkan ke bagian atas kolom. Eluen ditambahkan ke dalam kolom dan bergerak ke bawah melewtikolom. Keseimbangan terjadi antara komponen yang teradsopsi pda adorben dengan pelarut yang terelusi mengalir melewati kolom. Klasifikasi Kromatografi Kolom

kemudian membiarkan alumina kering tersebut menyerap air sampai jumlah tertentu. Berdasarkan gatya yang bekerja pada kolom Kromatografi kolom kategori ini tergantung pada bagaimana eluen bergerak melewati kolom. 2. CAranya ialah dengan mengeringkan alumina pada suhu 360OC selma 5 jam. Partikel yang lebih kecil (mesh lebih besar) digunakan untuk kromatografi kolom tekanan sedangkan adsorben dengan ukuran partikel yang lebih besar digunakan untuk komatografi kolom gravitasi. Alumina lebih sering digunakan dalam komtografin kolom dibanding kromtografi lapis tipis. maka ukuran silika tersebut lebih kecil. b. Jika ukuran mesh lebih besar. Tekanan yang diberikan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. a. Daya adsorbsi alumina dapat diatur dengan mengatur jumlah air yang dikandung. d. terdiri dari kromatografi kolom gravitasi dan kromatografi kolom tekanan. eluen bergerak berdasarkan gaya gravitasi atau perkolasi. kolom diisi dengan gel yang permeabel sebagai fase diam. Ukuran partikel dari adsorben sngat berpengaruh pada bagaiman eluen bergerak melewati kolom.1. Komponen-komponen tersebut yang terikat pda penukar ion sebagai fase diam secara selektif akan terlepas/terelusi oleh fase gerak. Silika gel (SiO2) dan alumina (Al2O3) adalah 2 adsorben yang paling umum disunakan untuk kromatografi kolom. b. Aktivitasnya tergantung dri kadar irnya dan dinyatakan dalam skala Brockman. Kromatografi kolom tekanan . komponen yang dipisahkan secara selektif mengalami partisi antara lapisan cairan tipis pada penyangga padat yang bertindak sebagai fase diam dn eluen yang bertindak sebagai fase gerak. Pemisahan berlangsung seperti proses pengayakan yang didasarkan atas ukuran molekul dari komponen yang dipisahkan. c. komponen yang dipisahkan secara selektif teradsorbsi pada permukaan adsorben yang dipakai untuk bahan isian kolom. a. Kromatografi kolom gravitasi Dalm komatografi kolom gravitasi. Komatografi petukaran ion Kromatografi petukran ion memishkan komponen yang berbentuk ion. Komatogrfi filtrasi gel Dalam kromatografi filtrasi gel. Adsorben Dalam kromatografi kolom tekanan. Kromatografi partisi Dalm kromtografi partisi. Berdasarkan interaksi komponen dengan adsorben Kromatografi adsorbsi Dalam kromatografi adsorbsi. eluen bergerak karena adanya pemberian tekanan pada kolom.

Pelarut Pelarut mempunyai peranan yang penting dalam mengelusi sampel yang dapat menentukan keberhasilan pemisahan secaa kromatografi kolom. Contoh pengerjaan : kolom diisi dengan pelarut non polar seperti hekasana kira-kira setengah dai tinggi kolom gels. Dengan perlahan serbuk alumina ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk. Pelarut yang mampu menjalankan elusi terlalu cepat tidak akan mampu mengadakan pemisahan yang sempurna. maka diperlukan suatu alat penampung tertentu. Gunakan pipet pasteu untuk membut bubur. Pada dasarnya penampung dapat dilakukan secara manual. Metode basah Adsorben dicampur dengan pelarut. Terdapat glass woll atau kapas. Wadah eluen (fase gerak). Teruskan penambahan bubur alumina sampai habis. Pada bagian dasar dari kolom mempuny bentuk sedemikian rupa agar fase diam dapat tetap dalam keadaan statis. Sebaliknya elusi yang terlalu lambat akan menyebabkan waktu retensi yang terlalu lama. kemudian campuran dimasukkan ke dalam kolom. Teknik Pengoperasian dalam Kromatografi Kolom Peralatan a. Untuk hal ini biasanya digunakan suatu alat penampun otomatis yng dikenal sebagai kolektor. Wadah penampung Eluat dari kolom ditampung dalam bentuk fraksi-fraksi. Prosedur Untuk Kromatografi Kolom Gravitasi a. Ditimbang sebnyak 8 gram alumina dalam gelas piala sementara erlenmeyer 125 diisi 15 ml heksana. c. namun jik total volume dari eluat besar dengan setiap fraksi yang diinginkan dalam volume kecil. Ada 2 cra pengemasan kolom (packing0 dalm komtografi kolom gravitasi yaitu : 1. Sistem pelarut dengan kepolaran yang bertingkat sering juga digunakan adalah pelarut mengelusi kolom. Dalm hal ini pelarut yang pertama kali digunakan adalah pelarut non polar untuk mengelusi komponen yang kurang polar. Pengemasan Kolom Pemngemasan kolom adalah salah satu faktor penting untuk untuk mempeoleh hasil pemisahan yang baik. Keuntungan dari metode ini adalah gelembung udara dapat dihilangkan dari kolom. kemudian dengan cepat bubur tersebut dipipet dan dimasukkan ke dalm kolom. Pelarut yang lebih polah ditambahkan untuk mengelusi komponen yang lebih polar juga. Untuk peralatan komersil dilengkapi dengan pengatur tekanan. atau bahan dari pasir kuarsa yang dikemas dengan kolom. Tempatkan erlenmeyer di bawh kolom kemudian buka screw clamp dan biarkan pelarut mengalir. jangan lupa . b. Kolom Biasanya terbuat dari gelas yang berfungsi sebagai penunjang fase diam.

c. Deteksi Komponen Deteksi komponen dapat dilakukan dengan teknik analisis seperti cara-cara spektoskopi. Contoh pengerjaan : Bagian dasar dari kolom diisi dengan glass woll secukupnya. Kadang-kadang pasir juga ditmbahkan pda puncak kolom untuk mencegah dari gangguan saat pelaut baru ditambahkan. Aplikasi sampel dan Proses Elusi Sebelum sampel dimasukkan ke dalam kolom. biasanya ditambah lagi eluen sedemikian rupa hingga ketinggian fase gerak di atas fase diam 5-10 cm. Secara umum. Prosedur Untuk Kromatografi Kolom Tekanan Skala Mikro . Smpel dimasukkan pada bagian atas dari fase diam dengan bantuan pipet tetes. Gelembung udara ini harus dihindari. pelarut dikeluarkan sedemikian rupa hingga cairan di atas fase diam hmpir kering. Pinch clamp ditutup dan kolom diisi dengan pelrut. 2. Proses elusi dilakukan sampai komponen yang diinginkan keluar dari kolom. dsb. hanya dapat dinyatakan bahwa kemasan kolom yang panjang akan memberikan tingkat pemishan yang tinggi dan kolom yang lebar adalah baik untuk memisahkan komponen-komponen dalam jumlah besar. Pengumpulan ini dapat juga dilakukan secara otomatis dengan bantuan kolektor fraksi. d. Metode kering Metode ini lebih mudah tapi dapat menimbulkan adanya gelembung udara dalam kolom. Jika packing sudah selesai. tinggi cairan minimal sma dengan tinggi alumina. Pengumpulan Fraksi Pengumpulan fraksi dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan tabung reaksi yang sebekumnya diberi tanda sesuai dengan volume yang diinginkan atau pada waktu tertentu yang ditetapkan sebelumnya. KLT. Sejumlah kecil pengelusi (fase gerak) digunakan untuk mencuci sissa sampel dalam wdah sampel dan selnjutnya dimsukkan ke dalam kolom. Pinch clamp ditutup jika packing sudah selesai dan tinggi pelarut minimal sama dengn tinggi alumina. Masukkan 8 gram alumina ke dalam kolom gelas yang berisi pelarut dan biarkan pelarut mengalir. hubungkan dengan wadah fase gerak (proses elusi dilakukan) dan alirkan pengelusi sedemikin rupa sehingg ketinggian cairan di atas fse diam dipertahankan. Demikian juga hindai agar kolom tidak kering. Setelah sampel dimasukkan. Selanjutnya. Jika tidak ada prosedur tentang jumlah tiap fraksi yang harus dikumpulakn maka biasanya diambil pendekatan yakni 2-5% dari volume total (cair+padat). sulit dinyatakan secara tepat dan ini dilakukan secara coba-coba secara sistematis.penambahan pelarut heksana terus dilakukan dan pelarut heksan yang keluar dapat ditampung dan digunakan kembali untuk packing/menambah lagi alumina ke dalam kolom. Jenis fase diam yang digunakan adalah silika gel dan alumina. screw clamp ditutup. b. karena akan mengurangi resolusi dari pemisahan. Pebandingan antara volume total kolom (cair+padat) dengan diameter kolom yang optimal agar dipeoleh pemisahan yang baik.

2. 2.Kromatografi kolom tekanan skala mikro meupakan metode yang paling seing digunakan dalam laboratorium kimia organik karena mudah dilakukan dn ramah lingkungan. Pra elusi kolom Untuk digunakan pelarut non polar sepeti hekasana. Pemisahan terbaik jika jumlah sampel berkisar 25 mg. Alat yang digunakan : 1. Masukkan sampel ke dalam kolom dengan bantuan kertas. Tambahkan pelarut segar ke dalam kolom dan proses elusi pun siap dimulai. 4. b. Jika kita ingin memisahkan campuran yang mengandung lebih dari satu komponen maka kita harus mengubah kepolaran dari sistem pelarut yang digunakan sebelumnya. e. b. Bagian bawah pipet pasteur disumbat dengan kapas secukupnya. Larutan ini kemudioan dimasukkan ke dalam kolom. c. d. a. Pelarut akan bergerak dengan perlahan. Pengemasan kolom Kolom dikemas dengan metode kering. Wadah Kolom Glass woll Gelas Ukur 10 ml Corong Bahan/Pereaksi : a. Heksana ditambahkan pada bagian atas kolom (silika gel). 3. proses pra elusi dpat dipercepat dengan bantuan bulb pipet untuk mendorong pelarut melewati silika gel. Elusi kolom Proses elusi untuk kromatografi kolom tekanan berskala mikro dilakukan dengan cara menekan bulb yang ada di ujung pipet pasteur sehingga pelarut akan bergerak melewati kolom. kita dapat menggabungkan fraksi berdasarkan kesaman warna tapi jika fraksinya tidak berwarna. aseton dan sebagainya. N-Heksan Aseton . Tambahkan silika gel kering 230-400 mesh. penggabunagn fraksi dapat dilakukan bedasrkan hasil KLT. Metode kering Sampel dilarutkan salam sejumlah kecil pelaut dan tambahkan 100 mg silika gel. 1. Aplikasi sampel Metode basah Sampel dilarutkan dalam sejumlah kecil pelarut sepeti heksana. Ketika batas pelarut sudh mencapai batas bawh dari kolom. Jangan biarkan fase diam sampai mengering. Analisis fraksi Jika fraksi yang diperoleh berwarna. Tunggu sampai pelarut menguap sehingga yang tertinggal hanya serbuk kering. proses elusi selesai dan kolom siap digunakan.

. maka atasnya diberi glass woll kembali. kemudian dimasukan n-heksan dan aseton. setelah diamati hasil yang didapatkan tidak terbentuk cincin. kemudian ditambahkan 7:3 N-Heksan dan aseton sampai basah. Amatilah sampai terbentuknya cincin. kemudian dimasukkan ke dalam kromatografi kolom.c. 4. Pembuatan bubur kolom Silika gel dimasukan ke dalam beaker glass. sampai wadah kolom tersebut padat oleh kolom. setelah padat. hal ini dapat dipengaruhi karena bubur kolom yang masukan ke dalam kolom. 2. Pembahasan : Setelah dilakukan praktikum analisis kromatografi dengan cara basah ini. sehingga dapat menambah rongga udara dalam kolom tersebut. dimasukan ke dalam wadah kolom. Sample Klorofil Cara Kerja : 1. tidak padat. maka cincin tidak akan terbentuk karena terhalang oleh uadara yang ada dalam kolom. hasil yang didapatkan tidak terbentuk cincin pada kolom kromatografi. Memasukan sample ke dalam kolom kromatografi Sample yang telah dilarutkan. 3. Memasukan bubur kolom ke dalam pipet Setelah dibuat bubur kolom. Data Pengamatan : Tidak ada cincin yang terbentuk. cerat dibuka sampai silika gell semua basah. kemudian bubur yang telah basah. Kesimpulan : Jadi setelah melakukan praktikum analisis kromatografi kolom dengan metode basah. Pelarutan klorofil Sample klorofil Sample klorofil dilarutkan dalam 2 ml n-heksan dan 1 ml aseton. maka pipet diisi dengan glass woll.