Anda di halaman 1dari 13

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berusaha, memenuhi kebutuhan primer nya yaitu makanan. Dalam sejarah manusia dari tahun ketahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan diberbagai daerah yang semula makanan pokonya ketela, sagu, jagung akhirnya beralih makan nasi. Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya yang cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan. Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk indonesia. Meskipun padi dapat diganti dengan makanan lainnya, namun padi memilki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan dengan bahan makanan yang lain. Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beraas 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain : karbohidrat, protein, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping bersal mengadung unsur mineral antara lain : Kalsium, magnesium, sodium, fospor, dan lain sebagainya.

B. Tujuan Selain bermaksud memberikan pengetahuan tentang aplikasi budidaya padi secara tepat, kami juga bermaksud memberikan motivasi dengan gagasan-gagasan menarik untuk pertanian organik dan terpadu selain mempunyai dampak yang sangat positif untuk kelangsungan perekonomian petani dan hal tersebut juga sangat digalakan oleh Pemerintah.

C. Permasalahan Petani yang berasal dari Teluk Pakedai Kabupaten Pontianak yang sekarang menetap di Pontianak tepatnya di jln. Tebu gg. Musyawarah yang bernama Bapak Shirat yang biasa dikenal akrab dengan sapaan Pak Cik telah berkecimpung dalam budidaya tanaman padi cukup lama. Bapak Shirat yang dikenal akrab dengan Pak Cik ini mempunyai lahan yang cukup subur dengan luas 5000 . Berbudidaya padi yang dilakukannya ini diantaranya ialah

tanpa melakukan pengolahan tanah, pemberian pupuk dan aplikasi lainnya dilapangan.
1

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira Masalah yang dialaminya dalam budidaya padi diantaranya yaitu kurangnya tenaga mengingat pelaku hanya membudidayakan padi seorang diri yang sekedarnya dibantu oleh istrinya. Sedangkan pengolahan tanah, pengendalian gulma dan hama sangat membutuhkan banyak tenaga dan modal yang tidak sedikit serta kurangnya pengetahuan tentang penyakitpenyakit padi dan cara pengendaliannya. Lingkungan juga menjadi bahan keluhan bagi Pak Cik, dimana anak-anak warga yang bertempat tinggal tidak jauh dari sawah Pak Cik juga berperan serta dalam membantu hama merusak padi-padi di lahan yang dikelolanya yaitu dengan cara menginjak-injak padi yang dikelolanya dengan maksud mendapatkan layangan yang tidak sengaja mendarat di areal sawah yang dikelola oleh Pak Cik tersebut. Kurangnya modal menjadi faktor nomor satu (1) yang menjadi permasalah rumit baginya, dimana kebutuhan untuk membeli pupuk disitu juga ditambah kebutuhan ekonomi keluarganya yang sangat mendesak, maka dalam hal ini budidaya padi dalam pengaplikasian dilapangan sangatlah jauh dari yang diharapkan. Padi yang dibudidayakan oleh Pak Cik ialah jenis padi varietas lokal atau untuk nama yang memasyarakat didaerahnya biasanya dikenal dengan sebutan jenis padi pendek. Untuk penghasilan produksi gabah padi /7bulan sekali dihasilkan sekitar 800kg-1ton gabah kering. Pengendalian hama dan gulma yang biasa dilakukan Pak Cik ini masih menggunakan cara perlakuan fisik yang hanya mengawasi burung, tikus dan manusia dari rumahnya yang tidak jauh dari sawah, sedangkan pengendalian gulma hanya semampunya saja, mengingat lahan yang dikelola Pak Cik ini cukup luas dan tenaga yang kurang menjadi kendala bagi Pak Cik. Dalam memberantas gulma dan dari segi pengendalian penyakit padi, Pak Cik masih belum bisa mengindentifikasi secara langsung karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit padi tersebut.

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil yang kami dapatkan pada saat studi kasus kali ini ialah banyak potensi yang dapat di realisasikan untuk menjadikan pertanian secara terpadu dan mandiri di lahan milik petani yang bersangkutan ini, karena dari pengolahan lahan sampai pembudidayaan padi masih memanfaatkan kealamian tempat tanpa tercemar dari infeksi bahan kimia. Mengingat Bapak Shirat yang sangat akrab dipanggil dengan Pak Cik ini sangat terkendala dalam segi permodalan pembudidayaan padi. Kami memberikan salah satu gagasan menarik yang mungkin bisa membuka wawasan dan pola pikir Pak Cik untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk memperbaiki perekonomian keluarganya, maka bentuk gagasan yang kami tawarkan ialah memanfaatkan rumpu / gulma untuk menjadikan sebagai pupuk kompos yang berguna untuk perkembangan padi dan budidaya ikan lele dalam pertanian organik yang mendukung konsep pertanian terpadu. Disisi lain memanfaatkan drainase atau lahan yang kosong untuk budidaya ikan lele, gagasan tersebut juga dapat mensiasati kebutuhan akan ekonominya yang sangat mendesak, dimana proses pertumbuhan perawatan pemeliharaan dan panen padi masih memerlukan proses dan waktu yang cukup lama, yaitu dalam kasus ini vareitas lokal baru bisa panen hingga /7 bulan sekali, maka sembari menunggu panen padi tiba ikan lele yang dibudidayakan pun bisa dapat dua kali panen dan begitu pula sebaliknya. Untuk menciptakan pertanian organik secara terpadu dan berkelanjutan dapat terrealisasikan jika kemauan para petani itu sendiri dalam melihat peluang dan memanfaatkan lahan serta drainase yang ada untuk perkembangan ekonomi mereka. Sebelum melangkah lebih jauh tentang gagasan yang kami sarankan, kami bermaksud memberikan pengetahuan tentang teknik budidaya padi secara tepat dan terstruktur bagi Pak Cik diantaranya ialah ; 1. Teknik Budidaya Pertama-tama kami menyarankan teknik budidaya yang semestinya dilakukan seperti melakukan pengolahan tanah yang baik dengan cara membajak/mencangkul lahan tersebut, pemeliharaan dengan cara pengendalian gulma, penyulaman, irigasi,dan pemberian pupuk organik dari sisa-sisa rumput pada saat penyiangan diareal pertanaman yang selanjutnya dikomposkan dengan menggunakan karung bekas atau wadah tertutup dan dicampur bakteri MOL/EM4 untuk mempercepat proses pengomposan dalam waktu 1bulan/lebih, hal ini juga sangat bermanfaat dalam menghemat biaya tanpa harus membeli, pupuk hasil pelapukan ini

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira sangat kaya akan bahan organik dan ini sangat baik untuk kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman padi.

Maka proses pembuatan dari pupuk kompos tersebut ialah a. Mempersiapkan Alat dan Bahan yaitu : 1. Rumput atau sisa-sisa dedaunan dan jerami-jerami padi 2. Arit , pisau, cangkul dsb 3. Karung bekas 4. Kotoran sapi/ternak 5. Karung bekas

b. Metode kerja 1. PERSIAPAN RUMPUT : Potong rumput di lahan yang menggangu proses pertumbuhan tanaman dengan menggunakan sabit atau alat pemotong. 2. PENGUMPULAN : Setelah rumput dan sampah organik lainnya dipotong,

kumpulkan semua potongan rumput tersebut di satu tempat atau area yang aman dan jadikan rumput dengan potongan kecil kecil. 3. SIRAM : Setelah sampah organik tersebut dikumpulkan tempat yang aman. Ratakan rumput yang akan dibuat kompos dan setelah itu sirami secara merata dengan larutan MOL. 4. PENCAMPURAN : Aduk agar MOL tercampur lebih merata. Siram kembali dengan MOL sampai sampah terlihat basah kemudian aduk kembali. 5. PENGEMASAN : Masukkan sampah ke dalam karung, yang sebelumnya telah diangin-anginkan sebentar. Kemudian karung diikat agar tidak diacak-acak binatang. 6. PROSES : Karung disimpan ditempat yang teduh dengan intensitas cahaya yang sedikit dengan maksud untuk mempercepat proses kerja pengomposan dan Seminggu sekali karung disiram-siram dengan air, karung ditusuk-tusuk dan di bolak-balik. Dalam waktu enam minggu kompos sudah jadi dan siap digunakan. Selanjutnya kompos yang sudah jadi dapat langsung dimanfaatkan dengan cara dijemur terlebih dahulu dan di keringkan serta selanjutnya dapat di kemas menggunakan kantong plastik dan selanjutnya dapat langsung diberikan langsung ke tanaman dan bisa di komersilkan.

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira Terlepas dari itu semua, pengaplikasian dilapangan budidaya padi yang dilakukan Pak Cik sangat mempunyai peran positif dalam pertanian organik yang hanya mengandalkan pelapukan dari sisa-sisa jerami dan sejenisnya untuk kelangsungan pertumbuhan tanaman padi. Walaupun tidak semaksimal pada hasil produksinya namun hal ini dapat menjadi contoh positif bagi para petani-petani lain yang sangat ketergantungan pada pupuk-pupuk anorganik yang mempunyai berpengaruh besar pada lahan/tanah dan kelangsungan pola hidup sehat. Melihat dari pengolahan tanah dengan drainase yang baik serta tidak tercemar dari bahan-bahan kimia yang dapat merusak tanah, jauh dari jalan raya, serta jenis tanah liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Pada studi kasus kali ini kami memberikan gagasan yang mungkin bisa memotivasi Pak Cik untuk membudidayakan ikan lele di areal pertanaman padi kepunyaannya. Ikan lele adalah suatu potensi yang sangat mendukung pertanian organik untuk prospek kedepan yang lebih baik dan dapat membangun perekonomian petani mandiri dimana penggalakan konsep pertanian organik dan terpadu secara berkelanjutan sangat digalakan oleh Pemerintah. Selain itu budidaya ikan lele ini mempunyai keuntungan dalam membangun perekonomian para petani yang dimana hasil panennya dapat dijual kepada para penadah-penadah yang membutuhkan, disamping itu peran ikan lele juga dapat dalam memberantas serangga air seperti hama padi keong mas dll.

Memanfaatkan drainase untuk budidaya ikan lele mulai kami kenalkan kepada Pak Cik dengan cara ; membersihkan dan mengeruk drainase yang ada lebih dalam,

membuat keramba buatan dari kawat jaring atau jala-jala dengan panjang yang diinginkan untuk meminimkan resiko kehilangan dari hama berang-berang ular dll pemakan ikan.

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

memulai membudidayakannya dalam skala kecil

Tahap Budidaya awal bagi pemula meliputi ; memulai membudidayakan ikan lele yang sudah cukup besar

rutin memberikan pakan lele untuk mempercepat proses perkembangannya

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

Pemeliharaan tambak/kolam dengan cara air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2 malam.

a. Keuntungan Yang di Peroleh dari Budidaya Ikan Lele 1. Tahan Banting Lele termasuk ikan yang terkenal "tahan banting Untuk dapat bertahan hidup, lele tidak memerlukan kondisi atau persyaratan air khusus seperti halnya ikan air tawar Iainnya (ikan bersisik). Ikan air tawar Iain memerlukan oksigen terlarut dalam air yang cukup, sedangkan lele tidak terlalu membutuhkannya.

2. Masa Pemeliharaan Lebih Singkat Masa pemeliharaan lele Iebih singkat dibandingkan dengan masa pemeliharaan ikan air tawar Iainnya, baik pembenihan maupun pembesaran. Sebagai contoh, budi daya pembesaran lele yang dilakukan secara intensif hanya membutuhkan waktu sekitar 2 - 3 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi, tergantung padat penebarannya.

3. Teknik Pemeliharaan Cukup Sederhana

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira Dibandingkan dengan budi daya ikan bersisik, teknik yang digunakan pada pemeliharaan lele cukup sederhana. Peralatan dan bahan yang dipakai pun terbilang mudah ditemukan di sekitar kita. Namun, ada satu hal terpenting diperhatikan, yakni aspek ketelatenan.

4. Siklus Keuangan Cepat Masa pembenihan dan pembesaran lele yang relatif singkat membuat perputaran keuangan sangat cepat. Karena itu, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati keuntungan secara finansial dari hasil pemeliharaan lele.

5. Relatif Tahan Terhadap Penyakit Walaupun merupakan ikan tanpa sisik, lele dipersenjatai dengan lendir yang melapisi kulitnya. Lendir ini berguna untuk melindungi kulit atau tubuh lele, termasuk menangkal serangan penyakit. Karena itu, hindari perlakuan terhadap lele yang dapat mereduksi atau mengikis lendir di kulit lele. Jika dalam pemeliharaan lele diterapkan prinsip "mencegah lebih baik daripada mengobati" akan menghindarkan lele dari serangan berbagai penyakit.

6. Permintaan Pasar Stabil Permintaan lele, baik benih maupun konsumsi sangat stabil, bahkan terus meningkat. lmplikasinya, usaha budi daya lele seperti tidak ada matinya. Permintaan lele untuk konsumsi, terutama diserap oleh segmen warung tenda atau populer dengan warung pecel lele. b. Resiko Dalam Budidaya Ikan Lele Kelalaian yang dapat menyebabkan kematian pada ikan lele. Lingkungan ( tangan-tangan jahil oknum yang tidak bertanggung jawab ) Hama pemakan ikan seperti ( berang-berang, ular dll )

Namun sangat disayangkan jika hal ini belum dapat terealisasikan karena faktor minimnya modal petani, tenaga yang dikeluarkan dan mainsite yang masih menitik-beratkan ke arah resiko dalam pengerjaan dan pemeliharaannya. Maka hal tersebut belum bisa terpikirkan dan dilaksanakan secara profesional di lahan kepemilikan petani yang bersangkutan. Serta lingkungan maupun resiko hama-hama ikan lele dan juga termasuk tangan-tangan jahil manusia yang sangat menjadi bahan pertimbangannya untuk membudidayakan ikan lele.

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira Dari studi kasus kami kali ini, walaupun gagasan dan motovasi kami belum bisa diterima dan direalisasikan langsung oleh para petani dikarenakan banyak faktor yang masih dipertimbangkan oleh petani (Pak Cik) setidaknya sedikit banyak mungkin bisa membuka pikiran dan memberikan motivasi untuk para petani-petani yang ingin menjadikan lahan pertanian mereka menjadi lahan pertanian organik dan terpadu secara mandiri dan berkelanjutan kedepannya tanpa harus menunggu bantuan modal yang diberikan dari Pemerintah setempat.

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Modal, status lahan dan keterbatasan tenaga dari pengolahan pemeliharaan dan pengendalian hama dan penyakit menjadi kendala yang utama dalam memenuhi dan meningkatkan produktivitas hasil panen 2. Kurangnya perhatian dan bantuan dari Pemerintah setempat akan petani-petani yang sangat perlu bimbingan dan pengetahuan yang layak tentang budidaya padi. 3. Para penyuiuh-penyuluh bidang Pertanian yang tidak kunjung datang untuk memberi masukan dan gagasan-gagasan menarik untuk memotivasi para petani mandiri.

B.

Saran Sebaiknya para penyuluh-penyuluh di Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak

memperhatikan nasib-nasib para petani mandiri yang sangat membutuhkan banyak pengetahuan dan bimbingan dukungan moral dan finansi serta motivasi untuk membangun pertanian di dalam kota secara mandiri dan terpadu dan untuk meningkatkan perekonomian rakyat mengingat dimana lahan kota yang semakin sempit tetapi masih ada segelintir petani yang masih mau berusaha di bidang pertanian serta menjadikan lahan yang ditempatinya menjadi bermanfaat untuk diri pribadinya sendiri dan untuk kebutuhan pokok masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

10

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

DAFTAR PUSTAKA

Entun Santosa, 2005. Rice organic farming is a programme for strengtenning food

security

in sustainable rural deveploment, Makalah disampaikan pada seminar di kamboja ROF

11

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

12

Oleh : Ferry Alkadrie & yakop dira

13