P. 1
KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN.pdf

KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN.pdf

|Views: 257|Likes:
Dipublikasikan oleh Haqqi Silverhaq

More info:

Published by: Haqqi Silverhaq on Mar 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2013

pdf

text

original

Sections

  • PENDAHULUAN
  • Latar Belakang
  • Perumusan Masalah
  • Tujuan dan Manfaat
  • Hipotesis
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • Rumput Laut K. alvarezii
  • Jenis dan habitat
  • Budidaya K. alvarezii
  • Tabel 2 Klasifikasi kriteria lokasi budidaya rumput laut K. alvareezii
  • Metode budidaya
  • Penyediaan bibit dan pemeliharaan
  • Pasca panen
  • Penyakit Pada Tanaman Rumput Laut
  • Penyakit tumbuhan
  • Penyakit ice ice
  • Karaginan Rumput Laut
  • Mutu dan penggunaan karaginan
  • Strutur kimia dan sifat-sifat karaginan
  • Kekentalan dan pembentukan gel
  • METODE PENELITIAN
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Metode Pemeliharaan
  • Disain rakit
  • Penanaman benih
  • Gambar 3 Disain rakit dan pemasangan bibit rumput laut
  • Pengamatan Lingkungan Perairan
  • Tabel 3 Parameter, alat dan satuan pengukuran
  • Teknik Pengamatan
  • Kualitas Rumput Laut
  • Analisis Data
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Keadaan Umum Wilayah Penelitian
  • Kondisi Lingkungan Perairan
  • Faktor fisika
  • Faktor kimia
  • Faktor biologi
  • Tabel 5 Perbandingan kualitas perairan di pulau Pari tahun 1997 dan 2002
  • Analisis Komponen Utama
  • Pertumbuhan Rumput Laut
  • Gambar 18 Permukaan thallus rumput laut yang kasar
  • Pertumbuhan parsial
  • Hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara
  • Produksi Bobot Kering
  • Kandungan Karaginan
  • Kadar Air
  • Kadar Abu
  • Hubungan Karaginan dengan Unsur Hara
  • Hubungan Karaginan dengan Waktu Pengamatan
  • Simpulan
  • Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG TERKENA PENYAKIT ICE ICE DI PERAIRAN

PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU

NUR MASITA AMILUDDIN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007

PERNYATAAN MENGENAI TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu” adalah karya sendiri dan belum diajukkan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka pada bagian akhir.

Bogor, Januari 2007

(Nur Masita Amiluddin) NRP C151030221

ABSTRAK
NUR MASITA AMILUDDIN : Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyakit Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu di Bawah Bimbingan : FREDINAN YULIANDA (Ketua) dan ENAN M.ADIWILAGA (Anggota). Komoditas rumput laut K. alvarezii mempunyai prospek yang cerah dalam perdagangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Peningkatan permintaan pasar dunia terhadap jenis ini memacu perkembangan budidaya. Rumput laut K. alvarezii dewasa ini sedang giat dikembangkan oleh pemerintah melalui usaha budidaya karena selain dapat meningkatkan pendapatan nelayan juga menjadi sumber devisa negara. Rumput laut y ang dibudidayakan di pulau Pari pada tahun 2000 mulai memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas dan menjadi permasalahan sampai sekarang. Penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas ini disebabkan karena terkena penyakit ice ice (bercak putih). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas lingkungan, pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut K. alvarezii yang terkena penyakit ice ice di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. Hasil penelitian diperoleh bahwa di lokasi budidaya sebelah barat dari minggu pertama sampai minggu keempat kualitas air masih memenuhi kriteria untuk budidaya rumput laut, sehingga ada peningkatan pertumbuhan dan kandungan karaginan. Minggu kelima sampai minggu kedelapan kualitas air memburuk dan tanaman uji terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice, sehingga pertumbuhan dan kandungan karaginan menurun. Sementara l kasi budidaya o sebelah utara sudah terkena penyakit ice ice selama masa pemeliharaan. Untuk mencegah Agar penyakit ice ice tidak meluas atau berkembang, maka kegiatan budidaya dihentikan selama kualitas air memburuk dan dilakukan penanaman bila kondisi perairan kembali normal.. Kata kunci : K. alvarezii, Pertumbuhan, Karaginan , Ice ice.

Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor. tahun 2007 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor. sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun baik cetak. foto copy. mikrofilm dan sebagainya .

KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG TERKENA PENYAKIT ICE ICE DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU NUR MASITA AMILUDDIN Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sain pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 .

Judul Tesis : Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu Nama : Nur Masita Amiluddin NRP : C 151030221 Program Studi : Ilmu Perairan Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Enan M. Fredinan Yulianda M. Adiwilaga Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perairan Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Dr. Ir. Enang Harris Prof. Khairil Anwar Notodiputro Tanggal Ujian : 28 Desember 2006 Tanggal Lulus: .Sc Ketua Dr.

Lela. 7 Bapak Satir beserta petani rumput laut kelurahan pulau Pari Kab.Ir.Adiwilaga sebagai Ketua dan anggota yang dengan tulus dan sabar membimbing saya. Moh.Ir. Bapak Dr. dan Dr.sebagai penguji luar komisi atas kesediaan membantu mengarahkan penulis dalam penyelesaian tesis ini. 5 6 Bapak Dirjen Pendidikan Tinggi sebagai penyumbang dana pendidikan. . 11 Kakak dan adik-adikku tersayang : Nyong.Enan M.Hamadi B.Enang Harris selaku ketua Program Studi Ilmu Perairan beserta seluruh staf pengajar. 10 Suami dan anak-anak tercinta : Nurulvadini. 12 Semua pihak yang telah membantu penulis yang tak dapat penulis tuliskan dalam ruang yang terbatas ini. Ibu tersayang yang telah banyak berjasa dengan bantuan moriil.Husein selaku Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Syahrir Banda Naira atas ijin belajar untuk menempuh pendidikan pascasarjana. Berkat bantuan banyak pihak tesis dengan judul Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu dapat diselesaikan. Tesis ini sekaligus sebagai tugas akhir akademis dalam pendidikan di program studi Ilmu Perairan. 8 9 Teman-teman P2O LIPI Jakarta yang telah memberikan motivasinya. Nurulsavira dan Moh. 2 Seluruh jajaran Program Pascasarjana IPB yang telah membantu kelancaran selama mengikuti studi. 4 Bapak Prof. Melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1 Bapak Dr. Rusli.Dr.Safrul. 3 Bapak Prof. Nasrullah Zidan yang selalu memberikan semangat dan pengorbanan selama pendidikan.Administrasi Kepulauan. Seribu yang telah banyak membantu. Ayah tercinta (almarhum).Fredinan Yulianda M. matriil dan selalu mendoakan dalam segala studi penulis. atas segala rahmatnya.Kardio Praptokardiyo M.Ir. program Pascasarjana IPB. Ci dan Aini (Onco) yang selalu mendorong dan mendoakan penulis.Sc.Sc.PRAKATA Alhamdulilllah Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Akhirnya semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca dan yang membutuhkan. Bogor. untuk itu saran dan kritik demi penyempurnaan sangatlah diharapkan. Januari 2007 Penulis .

pendidikan m enengah pertama pada SMP Negeri 7 Ambon tahun 1982 dan pendidikan menengah atas pada SMA Negeri 3 Ambon tahun 1985.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 20 April 1967 merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari ayahanda Anas Amiluddin dan ibunda Arafia M. Pada tahun 2003 penulis mendapat kesempatan melajutkan pendidikan Pascasarja pada Program Studi Ilmu Perairan Sekolah Pascasarja Institut Pertanian Bogor. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada SD INPRES Wailela Ambon tahun 1979. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperole h dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.Saleh. . Pada tahun 1991 menyelesaikan pendidikan sarjana pada program studi menejemen sumberdaya perairan jur usan penangkapan Universitas Pattimura dengan skripsi berjudul Pengaruh Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Demersal dengan Bottom Long Line di perairan Ambon. Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir Banda Naira sejak tahun 2001 sampai sekarang.

. Kekentalan dan pembentukan gel ........................... Disain rakit ................................................................................................................................................................................... Penyakit tumbuhan .............................................................................................................. alvarezii.............. Penyediaan bibit dan pemeliharaan ...................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................ Mutu dan penggunaan karaginan ..................... Metode Pemeliharaan ...................................... Latar Belakang ........................ Hipotesis ............ TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................................................................................... Penanaman benih ....................................................................................................................................................... Penyakit Ice ice ................................................................. PENDAHULUAN .............................................. alvareezii ......... iii iv vi 1 1 2 3 3 5 5 5 6 7 9 10 11 12 12 13 15 15 16 17 18 18 19 19 19 .............................. Metode budidaya ..................................................... Tujuan dan Manfaat ........... DAFTAR GAMBAR ............................................. Karaginan Rumput Laut .................. Perumusan Masalah ........................................................ Jenis dan habitat .............................................................................................................................i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................................................................................................................... Rumput Laut K................................................................................ Komposisi kimia .......................................................................................... METODE PENELITIAN ......................... Budidaya K............................................................................................................................................. Struktur kimia dan sifat-sifat karaginan .................................................. Lokasi dan Waktu Penelitian ........... .................................. Pasca panen ..... Penyakit Pada Tanaman Rumput Laut ..............................................................

......................................................................................................................... Keadaan Umum Wilayah Penelitian ..................... Saran .................... Hubungan laju degradasi dengan suhu.......... Pertubuhan parsial .................................................................... Kualitas Rumput Laut .......................................................................................................................................................................... Pertumbuhan Rumput Laut .... Teknik Pengamatan ................................................................................................................................................................................... arus dan oksigen terlarut ................................................................................................................ Analisis Data ......................................................................... 20 21 22 24 26 26 28 28 32 36 39 39 39 45 46 47 48 49 50 51 52 54 56 56 56 57 ......................................... DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... Kandungan Karaginan................................................................................................................................................................... Faktor biologi ................................................................................. Hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara...... Hubungan Karaginan dengan Unsur Hara ......... Produksi Bobot Kering ................................................................................................................................ Kondisi Lingkungan Perairan .............. SIMPULAN dan SARAN .................. Kadar Air ............................................ Hubunga n Karaginan dengan Waktu Pengamatan ....................................................... HASIL DAN PEMBAHASAN ..... Kadar Abu .......ii Pengamatan Lingkungan Perairan .......... Simpulan ........................................ Faktor kimia .............................................................................. Analisa Komponen Utama ..................................... Pertumbuhan biomassa.................................... Faktor fisika ................................................................................................................................................................

. relatif dan sesaat rump ut laut di sebelah barat dan utara pulau Pari.......................................... 4 Rata-rata parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.............................. 3 Parameter.................. alvarezii ......... alvarezii.......................................... 5 Perbandingan kualitas perairan di pulau Pari tahun 1997 dan 2002 .........iii DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi kimia rumput laut K.......................................... 7 Bobot dan penyusutan K........................................ 6 8 21 28 38 46 48 ................ alat dan satuan pengukuran ........................... 6 Pertumbuhan mutlak........ alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari............................. .............................................. 2 Klasifikasi kriteria lokasi budidaya rumput laut K.......

....................................................................... Rata-rata kecepatan arus di lokasi budidaya sebelah barat dan utara Pulau Pari ................................................................................................................................. nitrit dan amonia di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.......................................... 50 .............................................................................................................................. 14 Sampah dan tumbuhan pengganggu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .......................................................... 19 Rumput laut yang terkena penyakit di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .............. 15 Pertumbuhan rumput laut minggu 1-4 dan minggu ke5-8 dilokasi budidaya barat pulau Pari ........................................ Rata-rata suhu perairan di lokasi sebelah barat dan utara pulau Pari ................................................................................................................................................................................................... 21 Pertumbuhan rumput laut normal di lokasi budidaya Halmahera (Kusdi 2005) ..................................................................................................... Peta lokasi penelitian pulau Pari Kepulauan Seribu ....................... 20 Beberapa cara terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice ........ 13 Kotoran dan algae penempel pada tanaman uji yang menghalangi Penyerapan ................ 17 Laju pengeroposan rumput laut tahap pertama (a) dan kedua (b) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari ........................ 11 Rata-rata kandungan total pospat dan ortho pospat di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau pari ............. Rata-rata pH di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .................................................................... Rata-rata kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara................................ 22 Rata-rata kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ................. Bagan alir analisis karaginan ............................ 4 18 20 23 29 30 31 32 33 35 36 37 37 38 40 41 43 43 44 45 10 Rata-rata nitrat................................................................. Disain rakit dan pemasangan bibit rumput laut .....iv DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Alur pikir pendekatan masalah .................... 18 Permukaan thallus rumput laut yang kasar .................................... Rata-rata kecerahan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ...................................................... 12 Luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji ...............................pulau Pari ..........................................................................

................................ 24 Rata-rata kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .................. 26 Hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari ....................................................................................v 23 Rata-rata kadar air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ....................... 25 Hubungan kand ungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi Budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari . 51 52 54 55 ............................................................................................

.............................................................................................................................................................................. 11 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .......................................................vi DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari ....................................................................................................................... Hasil uji t terhadap parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode April sampai Mei 2005 ......... kadar abu dan kadar air di lokasi sebelah barat dan utara pulau Pari periode April sampai Mei 2005 ........ Hasil pengukuran bobot Basah K.............. Hasil analisis komponen utama di lokasi budidaya sebelah barat Pulau Pari ...... kadar air dan kadar abu di lokasi sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari ... Hasil uji t terhadap pertumbuhan.......... alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat .... Hasil Pengukuran Kualitas Air di Lokasi Budidaya Sebelah Utara Pulau Pari ............................................................................ alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari .................................................... Hasil pengukuran bobot basah K................................... kandungan karaginan.......... Laju pertumbuhan harian K.. alvarezii di lokasi budidaya sebelah utarab ......................................... 12 Analysis of Variance hubungan karaginan dan Unsur hara di lokasi budidaya barat dan utara pulau Pari ............................................. 73 74 75 ..................................... Kandungan karaginan................................................................. 64 2 65 3 66 4 67 5 68 6 69 7 70 8 71 9 72 10 Hasil analisis komponen utama di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari .......................

Produksi rumput laut untuk kebutuhan ekspor umumnya berasal dari algae merah (Rhodophyceae). Komoditas rumput laut K. Negara Filipina merupakan negara pertama yang dapat meningkatkan produksi K. Bahkan menurut Doty (1973) kebutuhan rumput laut jenis K. Salah satu jenis rumput laut yang mempunyai potensi untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Kappaphycus alvarezii yang dulu dikenal sebagai Eucheuma cottonii. Rumput laut yang dibudidayakan bertujuan untuk meningkatkan hasil dalam jumlah yang cukup besar dan kontinyu dengan kualitas yang baik terutama untuk kebutuhan ekspor. K. Rumput laut K. pembentuk jel. Komoditas ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai bahan makanan dan keperluan industri. bahan pengental. Peningkatan permintaan pasar dunia terhadap jenis ini memacu perkembangan budidaya. alvarezii melalui budidaya. Perkembangan budidaya di Indonesia mulai tampak dapat memenuhi permintaan pasar sejak tahun 1980 setelah keberhasilan budidaya di perairan Selatan Bali (Nusa Penida) dan terus meluas hampir keseluruh perairan Indonesia termasuk pulau Pari. dan pengemulsi (Winarno 1996).PENDAHULUAN Latar Belakang Rumput laut atau algae merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diandalkan untuk pemasukkan devisa negara. alvarezii adalah 10 kali lipat dari persediaan alami di dunia. Jenis ini menjadi komoditas ekspor karena permintaan pasar sekitar 8 kali lebih banyak dari jenis lainnya (Sulistijo 2002). alvarezii dewasa ini sedang giat dikembangkan oleh pemerintah melalui usaha budidaya karena selain dapat meningkatkan pendapatan nelayan juga menjadi sumber devisa negara. alvarezii adalah jenis rumput laut yang diperlukan untuk usaha industri karena kandungan kappa karaginannya sangat diperlukan sebagai bahan stabilisator. Namun usaha budidaya tersebut jika tidak ada pengelolaan yang baik dan tidak memperhatikan . Masyarakat pulau pari mengenal dan menyebut jenis rumput laut ini dengan nama Eucheuma. alvarezii mempunyai prospek yang cerah dalam perdagangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri.

Sumber penyebab timbulnya penyakit ice ice yaitu penurunan kualitas lingkungan perairan. maka perlu dilakukan pengkajian usaha budidaya rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat yang merupakan perairan terbuka (luar gobah) dan utara yang merupakan perairan . maka dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil yang diperoleh. alvarezii di pulau Pari menghadapi masalah penurunan produksi dan kualitas yang tidak dapat diterima oleh pasar. Munurunnya kualitas lingkungan perairan di pulau Pari menyebabkan penurunan produksi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. sehingga sebagian besar produk tidak dapat dipanen. Perumusan Masalah Musim barat tahun 2005 usaha budidaya rumput laut K. Namun apabila lahan ditanami terus tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan karaginan pada saat rumput laut terkena penyakit ice ice. Permasalahan tersebut terjadi karena kekeroposan thallus rumput laut. Penyakit ice ice merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah dan berlangsung selama 1-2 bulan. Masalah serius yang menimbulkan kerugian cukup besar dalam budidaya rumput laut di pulau Pari adalah penyakit ice ice (bercak putih). namun diperkirakan beberapa lokasi masih mampu menunjang perkembangan budidaya rumput laut tersebut. maka akan terjadi kerugian yang berkelanjutan. Proses kekeroposan thallus yang merupakan ciri dari penyakit ice ice sangat cepat. Hal seperti ini terlihat di pulau Pari yakni para pembudidaya terus menerus menggantikan tanaman yang rusak tanpa memperhatikan kerugian dan kondisi kualitas lingkungan budidaya.2 kelestarian serta daya dukung lingkungan. setelah itu areal dapat ditanami kembali bila kondisi lingkungan sudah normal (Sulistijo 2002). Rumput laut yang dibudidayakan pada tahun 2000 mulai memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas dan menjadi permasalahan sampai sekarang.

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi dasar dalam upaya penanggulangan penyakit ice ice untuk pengembangan budidaya rumput laut K. alvarezii pada kondisi terkena penyakit ice ice di lokasi budidaya sebelah barat yang merupakan perairan terbuka (luar gobah) dan utara yang merupakan perairan tertutup (gobah) pulau Pari. . Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pertumbuhan dan kandungan karaginan dari rumput laut K. alvarezii di masa yang akan datang. apakah masih mampu menghasilkan produksi yang diharapkan. Alur pikir pendekatan masalah disajikan pada gambar 1.3 tertutup (gobah). Alvarezii yang dibudidayakan akan lebih baik di lokasi budidaya sebelah barat (luar gobah) daripada di sebelah utara (gobah) pulau Pari walaupun terkena penyakit ice ice. Hipotesis Produksi dan kualitas hasil budidaya rumput laut K.

.Unsur Hara Laju Pertumbuhan Rumput Laut Produksi Rumput Laut Intensitas Produksi Primer Unsur Hara Suhu Rumput Laut Oksigen Intensitas Serangan Arus Bakteri Ice ice Keropos Z<G Tingkat perkembangan bakteri Biomassa Gambar 1 Alur pikir pendekatan masalah.

Kadar karaginan dalam setiap species Kappaphycus berkisar anatara 54%-73% sedangkan di Indonesia berkisar antara 61. cottonii berubah menjadi K. maka nama ilmiah dari E. duri-duri pada thallus runcing memanjang dan agak jarang. Berdasarkan pada bentuk dan anatomi serta karakter biokimia. Sistimatika klasifikasi botani menurut Dawes (1981). (1987) & Kadi dan Atmadja (1988) adalah sebagai berikut : Devisi : Rhodophyta Kelas Ordo Family Genus : Rhodophyceae : Gigartinales : Solieriaceae : Kappaphycus Species : Kappaphycus alvarezii Ciri umum dari genus Kappaphycus : thallus atau kerangka tubuh bulat silindris. . 1996). Kappaphycus merupakan jenis rumput laut yang banyak dicari untuk kepentingan industri makanan. 1996 & Silva et al. Ganggang merah yang hidup di laut dan tergolong dalam Thallophyta ini tidak memperlihatkan perbedaan akar. Bold dan Wynne (1985).5%. berduri tidak teratur dan melingkari thalus. Lewis et al. alvarezii bila diklasifikasikan berdasarkan pigmentasi termasuk jenis alga merah (Rhodophyceae). cabang tidak beraturan tumbuh di bagian yang muda maupun yang tua dan diameter thallus kearah ujung sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pangkalnya (Doty. permukaan thallus licin. alvarezii Jenis dan habitat Rumput laut K. Keseluruhan tanaman merupakan batang yang dikenal sebagai thallus. Tinggi tanaman dapat mencapai 40 cm.TINJAUAN PUSTAKA Rumput Laut K. warna hijau kekuningan. abu-abu dan merah.obatan dan kosmetika di dunia karena mengandung zat karaginan yang merupakan bahan campuran (additives). alvareezii (Atmadja et al. batang dan daun seperti tanaman tingkat tinggi. 1973). dimana derivat kappa carageenan yang lebih dominan dari pada iota dan beta carageenan yang ditemukan oleh seorang ahli dari Filipina bernama alvarez. obat .5%-67.

50%.50-11. Komposisi kimia Komposisi kimia rumput laut sebagian besar terdiri dari karbohidrat.25-63. subsrat dan pergerakan air. Tabel 1 Komposisi kimia rumput laut K. protein 1. cahaya. Selanjutnya Lobban dan Harison (1994) mengatakan bahwa alga tersebut tumbuh dengan baik pada perairan terbuka dengan tingkat pergerakan arus yang tinggi.52 Team Rumput Laut BPPT dan Pusat Pengembangan Teknologi Pangan IPB (Soegiarto dan Sulistijo. 1985).95-27.90 17. lemak 4.6 Kappaphycus tumbuh pada daerah yang selalu terendam air (subtidal) atau pada daerah surut (intertidal).04 0. Di alam bebas Kappaphycus tumbuh dan berkembang dengan baik pada salinitas yang tinggi. alvareezii. Komposisi kimia menurut Soegiarto dan Sulistijo (1985) dapat dilihat pada Tabel 1.67 0.00%.00 61. Komponen Kadar air (%) Protein (%) Karbohidrat (%) Lemak (%) Serat kasar (%) Abu (%) Mineral Ca (ppm) Mineral Fe (ppm) Mineral Pb (ppm) Thiamin (mg/100g) Riboflavin (mg/100g) Vitamin C (mg/100g) Karaginan (%) Kandungan (% berat kering) 13.60-10. serat kasar 3. karbohidrat 32. sedangkan lemak dan proteinnya . Kandungan kimiawi rumput laut umumnya yang tertinggi adalah karbohidrat sekitar 60-80%.90 2.12 0.14 2. Jenis ini sangat baik tumbuh pada daerah terumbu karang (coral reef).00-11. 1981). sebab pada daerah inilah terdapat beberapa syarat untuk pertumbuhan yaitu kedalaman perairan. terutama sebagai dinding sel dan sebagai jaringan intraseluler. Menurut Kuntoro (1985) dalam Suryaningrum (1988) rumput laut mengandung air 12.09 29.92 0.50-23%.70 0.27 5.70 12. Karbohidrat merupakan komponen terbesar.40% dan abu 11.00%. mineral 10-14%.2%. lemak dan mineral (Hansen et al. juga mengandung protein.

(1) lokasi budidaya harus bebas dari pengaruh angin topan. Menurut Wei and Chin (1983) secara kimia karaginan mirip dengan agar-agar. Durant and Sanford (1970) membagi koloid menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang bernilai ekonomis tinggi yaitu agar-agar. (2) tidak mengalami fluktuasi salinitas yang besar. B2. karaginan. fukoidin dan lainnya. (3) mengandung makanan untuk pertumbuhan. Selajutnya menurut Food chemical codex USA (1974) dalam Suryaningrum (1988) membedakan agar-agar dan karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya dimana karaginan minimal mengandung 18% sedangkan agar-agar hanya mengandung sulfat sekitar 3-4%. Di Indonesia baru jenis Eucheuma dan Gracilaria saja yang dapat dibudidayakan. Indriani dan Sumiarsih (1999) mengatakan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dari usaha budidaya rumput laut hendaknya dipilih lokasi yang sesuai dengan ekobiologi (persyaratan tumbuh) rumput laut sebagai berikut. 1996). (4) perairan . karaginan. Percobaan budidaya rumput laut di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Soerjodinoto (1968) dari LON-LIPI terhadap rumput laut jenis Eucheuma di perairan gugusan pulau Pari Kepulauan Seribu (pulau Tikus) dengan menggunakan rakit dan substrat batu karang. Selanjutnya dilaporkan juga kandungan vitamin seperti vitamin A. algin dan ekonomis rendah yaitu laminarin. B6. Budidaya K. laminarin. hanya karaginan mempunyai kandungan abu tinggi dan memerlukan konsentrasi tinggi untuk membentuk larutan kental. Kajian kriteria lokasi budidaya rumput laut dari segi kondisi tata letak dan kualitas perairan sangat berperan dalam pencapaian hasil usaha budidaya rumput laut. fukoidin dll. zat besi dan iodium (Araksi et al. B12 dan C serta mengandung mineral seperti kalium. B1. pospat. algin. 1984 dalam Anggadireja et al. alvarezii Usaha budidaya terhadap beberapa jenis rumput laut telah berhasil dikembangkan di beberapa negara.7 rendah hanya 1-2% saja. Kemudian sejak tahun 1974 LON-LIPI melanjutkan percobaan budidaya rumput laut jenis Eucheuma di pulau Pari dengan mengikat bibit rumput laut pada tali nilon dikerangka rakit bambu dan kerangka lepas dasar seperti yang telah dilakukan di Philipina (Sulistijo 2002). Rumput laut merupakan sumber koloid untuk agar-agar. kalsium. natrium.

10 mg/l (Zatnika & Angkasa 1994). kondisi air jernih dengan tingkat transparansi sekitar 1. Tabel 2 Klasifikasi kriteria lokasi budidaya rumput laut K. Sementara hasil penelitian Ngangi et al.34 permil Tidak ada Tidak ada Mudah dijangkau Banyak Kriteria cukup baik Agak terlindung 30 .0.021 .5 meter termasuk cukup baik dan kecepatan arus yang baik adalah sekitar 20-30 cm/detik. pH berkisar antara 6-9 dengan kisaran optimum adalah 7.2.3 mg/l dan pospat 0. kimia dan biologi sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya.2 mg/l dan pospat antara 0. alvareezii dengan kriteria baik dan cukup baik (Tabel 2).(1996) mengadakan klasifikasi penilaian lokasi untuk budidaya hayati rumput laut K. dasar terdiri dari potongan karang mati bercampur dengan karang pasir. Minahasa mempunyai kisaran nitrat 1.32 permil Ada sedikit Ikan dan bulu babi Cukup mudah Cukup Selanjutnya dikatakan Sulistijo (1996) kondisi ekologis yang meliputi parameter lingkungan fisika. sedangkan pH untuk Kappaphycus adalah 7 . Parameter kimia antara lain : Salinitas berkisar antara 28-34 o/oo dengan nilai optimum 32 o/oo.8 harus bebas dari predator dan pencemaran industri maupun rumah tangga. Parameter fisika antara lain : sarana budidaya dan tanaman terhindar dari angin. .9 dengan kisaran optimum 7. (5) lokasi harus mudah dijangkau.0 .0.3.40 cm/detik Pasir berlumpur 6-9 3-5m 28 .0.06 mg/l. kisaran nitrat 1. Secara rinci Atmadja et al. suhu berkisaran 27-30 oC. (1996) Kriteria baik Terlindung 20 . alvareezii Parameter Keterlindungan Arus (gerakan air) Dasar perairan pH Kecerahan Salinitas Cemaran Hewan herbivora Kemudahan Tenaga kerja Sumber : Atmadja et al. kenaikan temptatur membuat rumput laut menjadi pucat kekuningan dan tidak sehat.30 cm/detik Pasir berbatu 7-9 Lebih dari 5 m 32 . kedalaman pada sistim tali rawe sekitar 200 cm.03 .2 1.5 8.3 8. (1998) mendapatkan pertumbuhan yang baik di desa Serey.

Dictyota.) (Ditjen Perikanan 2004). Tumbuhan penempel dalam koloni yang cukup besar akan mengganggu pertumbuhan rumput laut. misalnya larva bulu babi (Tripneustes sp. Hama rumput laut umumnya adalah organisme laut yang memangsa rumput laut sehingga akan menimbulkan kerusakkan fisik terhadap thallus. Acanthopora.). Hama mikro hidup menumpang pada thallus rumput laut. melayang-layang di dalam air dan kemudian menempel pada tanaman rumput laut. Laurensia. dan ikan Kerapu (Epinephellus sp. Metode budidaya Metode yang akan digunakan tergantung pada kondisi lingkungan (lahan) yang kita gunakan. Metode budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan tiga macam metode berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan yaitu : (1) lepas dasar. Penyu Hijau (Chelonia mydas). Beberapa hama makro yang sering dijumpai pada budidaya rumput laut adalah ikan Beronang (Siganus sp.). Lyngbya dan symploca (Atmadja dan Sulistijo 1977). patah ataupun habis dimakan hama. Hama penyerang rumput laut dibagi menjadi dua menurut ukuran hama. Tumbuhan penempel tersebut antara lain adalah Hipnea. Selanjutnya dikatakan metode budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp yang sudah memasyarakat di Indonesia adalah : . Amphiroa dan filamen seperti Chaetomorpha.9 Parameter biologi antara lain rumput laut atau algae yang dibudidayakan tidak terlepas dari pengaruh biologi perairan seperti hama dan penyakit. yaitu hama mikro merupakan organisme laut yang umumnya mempunyai panjang kurang dari 2 cm dan hama makro yang terdapat dilokasi budidaya dan sudah dalam bentuk ukuran besar atau dewasa. Padina.) bintang laut (Protoreaster nodosus).) yang bersifat planktonik. bulu babi (Diademasetosum sp. (2) lepas dasar dan (3) metode rakit apung. bulu babi duri pendek (Tripneustes sp. dimana thallus akan mudah terkelupas. Dari ketiga metode tersebut yang sudah direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1997) adalah metode lepas dasar dan metode rakit apung. Salah satu fungsi ekologi dari rumput laut dimana areal komonitas rumput laut dijadikan spowning area dan nursery area oleh organisme laut yang dapat menjadi hama.

penyimpanan yang baik adalah di laut . bercabang yang banyak dengan ujungnya berwarna kuning kemerahmerahan dan mempunyai batang yang tebal. Bila ditinjau dari segi biaya lebih murah dan kualitas rumput laut yang dihasilkan relatif baik tetapi pertumbuhan tanaman lebih kecil. Penyediaan bibit dan pemeliharaan Hasil panenan budidaya rumput laut baik kualitas maupun kuantitas ditentukan dari bibit yang digunakan. tidak terdapat penyakit bercak putih dan mulus tanpa ada cacat terkelupas. Secara teknis metode rakit apung ini dianggap lebih aman. Di wilayah Kepulauan Seribu metode apung dimodifikasi dengan menggunakan tali nylon sebagai pengganti bambu sehingga dapat menghemat biaya untuk pembuatan kerangka rakit bambu. Soegiarto et al. Aslan (1998) mengatakan untuk keberhasilan budidaya Eucheuma perlu diperhatikan kesehatan dari bibit tersebut dengan ciri-ciri bila dipegang terasa elastis. tidak boleh direndam air laut dalam wadah. Dalam penyediaan bibit perlu diperhatikan sumber perolehan.10 1. terutma dari ancaman kekeringan karena pasang surut air laut. Metode rakit apung Metode ini menggunakan sebuah rakit apung dan agar rakit tidak hanyut terbawa arus digunakan jangkar di dasar perairan. 2. Dijelaskan lagi oleh Sulistijo (2002) bahwa rumpun yang baik adalah yang bercabang banyak dan rimbun. sehingga kegiatan penyediaan bibit dari alam maupun dari hasil budidaya perlu direncanakan. (1978) mengatakan dengan metode rakit apung tanaman cepat tumbuh dan akan menjadi sepuluh kali lipat dari berat semula dalam waktu 4-6 minggu. Metode lepas dasar (off bottom method) K. Kedalaman air sekitar 30-50 cm pada waktu surut terendah dan arus yang cukup baik. alvarezii yang ditanam dengan menggunakan metode lepas dasar biasanya untuk dasar perairan karang berpasir tidak berlumpur tujuannya untuk menancapkan patok atau pancang. Bibit rumput laut yang terpilih tidak lebih dari 24 jam penyimpanan di tempat kering dan harus terlindung dari sinar matahari juga cemaran (terutama minyak). cara penyimpanan dan pengangkutan bibit serta mutu yang baik dan tersedia dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan petani.

yang dapat diukur dengan laju pertumbuhan. Sedangkan pemanenan secara total dengan cara mengangkat semua rumpun tanaman secara keseluruhan dan kemudian tanaman yang muda (thallus bagian ujung) dipilih kembali untuk dijadikan bibit dan bagian pangkalnya dikeringan (Anonymous 1990). angin serta suasana perairan yang dipengaruhi musim hujan atau kemarau. Saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman bibit adalah pada saat cuaca teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pagi hari atau sore hari menjelang malam (Aslan 1998). tetapi kecepatan tumbuh bibit yang berasal dari tanaman . 1996). Bibit yang diperoleh adalah bagian ujung tanaman (jaringan muda) umumnya memberikan pertumbuhan yang baik dan hasil panenan mengandung karaginan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bibit dari sisa hasil panen atau tanaman tua (Indriani dan Sumiarsih 1999). Selanjutnya dikatakan bahwa cara pertama lebih mudah. maka perlu pengawasan 2-3 hari sekali. Pemanenan rumput laut secara parsial dilakukan dengan cara memisahkan cabang-cabang dari tanaman induknya dan selanjutnya digunakan kembali untuk penanaman berikutnya. sedangkan hal lain yang penting diperhatikan adalah menghadapi serangan predator dan penyakit (Aslan 1998).5-2. Penanaman dengan sistem rakit ukuran 5 x 2 m dengan jarak tanam 25 cm dibutuhkan bibit 8 kg sedangkan sistem tali rawe tiap 100 m tali rentang dengan jarak tanam 50 cm diperlukan bibit minimal 20 kg (Sulistijo 2002). Laju pertumbuhan 3-5% per hari selama waktu penanaman memberikan indikasi pertumbuhan rumput laut yang baik. Pasca panen Rumput laut dapat dipanen dengan dua cara yaitu secara parsial dan total.11 dalam jaring agar sirkulasi air terjaga sementara. bibit yang ditanam harus diperiksa dan dipelihara dengan baik melalui pengawasan yang teratur dan kontinyu. Seminggu setelah penanaman. Selanjutnya dijelaskan bibit yang baik dan sehat pada lokasi yang sesuai akan memberikan pertumbuhan yang baik. Masa pemeliharaan rumput laut sampai saat panen apabila menggunakan metode lepas dasar berkisar antara 1.0 bulan dan bahwa pemanenan dilakukan bila rumput laut telah nencapai sekitar 4 kali berat awal (Kolang et al. Bila kondisi perairan kurang baik. seperti ombak yang keras.

Jasad renik (mikroba) tidak langsung menjadi penyebab suatu penyakit.12 induk lebih rendah dibandingkan dengan tanaman muda seperti pada pemanenan total. tapi keadaan luar telah melemahkan tumbuhan lebih dulu. Penyakit Pada Tanaman Rumput Laut Penyakit tumbuhan Semangun (1996) menjelaskan penyakit tumbuhan bila ditinjau dari sudut biologi adalah sebagai penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan bagian tubuh tidak dapat melakukan kegiatan fisiologi yang biasa. Penanganan hasil panen yang tepat sangat penting karena pengaruh langsung terhadap mutu dan harga penjualan di pasaran. siap untuk dipasarkan. Penyakit tidak akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengn bagian tubuh yang rentan. (3) pencucian dilakukan dengan air laut selama 5 menit. sinar matahari dan unsur hara sangat mempengaruhi proses tersebut. Beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam proses pengeringan hasil panen adalah : (1) setelah penimbangan berat basah kemudian ditebar untuk dikeringkan diatas para-para. penyebab penyakit akan berkembang dan mengadakan penetrasi masuk ke dalam jaringan membentuk toksin yang merusak sel-sel tumbuhan. Penyakit hanya akan terjadi jika terdapat tumbuhan yang rentan. Kondisi ini menyebabkan interaksi antara parasit dengan tumbuhan inang yang disebut infeksi. patogen yang virulen. dan lingkungan yang sesuai. (5) selalu ditutupi pada malam hari atau pada saat hujan (6) Setelah benar-benar kering dimasukkan ke dalam karung dan ditimbang. Pada kondisi yang mendukung. tetapi sebaliknya jika parasit mengadakan . (4) dijemur kembali selama 0.5-1 hari. kelebihan cara kedua selain kecepatan tumbuh bibit lebih tinggi juga karaginan yang dikandungnya lebih tinggi. sehingga jasad dapat masuk atau juga oleh penyebabpenyebab yang bekerja terus menerus dalam waktu yang lama. (2) setelah 2-3 hari rumput laut yang sudah cukup kering kemudian dicuci. baik kuantitas maupun kualitas. Lingkungan seperti kelembaban. sementara dari sudut ekonomi penyakit adalah ketidak mampuan tumbuhan untuk memberikan hasil yang cukup. tetapi lingkungan tidak mendukung. suhu.

keseluruhan tanaman menjadi pucat dan permukaan thallus menjadi kasar. Bercak putih (ice ice) merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti dengan musim panas yang dapat merusak areal tanaman sampai mencapi 60-80% dan lamanya 1-2 bulan (Sulistijo 2002). sehingga tanaman menjadi lemah (tidak sehat). Interaksi antara parasit dan tumbuhan inang terlihat dengan adanya gejala penyakit dan biasanya gejala penyakit akan segera tampak setelah terjadinya infeksi. Tanda . Penyakit ini menyerang Eucheuma spp. lambat. dll. suhu. Penyakit ice ice Penyakit pada tanaman rumput laut pertama kali diketahui pada thun 1974 di Filipina dengan gejala yang dilaporkan adanya bercak pada thallus yang terinfeksi selanjutnya berwarna putih dan mati kemudian hancur. Penyakit pada rumput laut ini terjadi di daerah-daerah dengan kecerahan tinggi dan dikenal sebagai ice ice dengan gejala timbulnya bercak-bercak pada sebagian thallus. maka penyakit ice ice pada tanaman rumput laut terjadi karena infeksi mikroba pada saat tanaman menjadi rentan. Sebagaimana tentang "Aging effect" pada rumput laut yang ditandai dengan penurunan pertumbuhan per satuan waktu. Bila keadaan ini terus berlanjut.13 penetrasi pada badan tumbuhan yang tidak rentan. permukaan thallus menjadi kasar dan pucat.tanda ini nampak sebulan atau beberapa waktu setelah penanaman yang ditandai dengan cabang– cabang tanaman sedikit. terutama disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan arus. kecerahan. lama kelamaan akan kehilangan warna sampai menjadi putih dan terputus (Anonymous 2004). di lokasi budidaya dan berjalan dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini disebabkan karena adanya perubahan lingkungan yang ekstrim dan tidak dapat ditolirir. maka infeksi tidak akan terjadi. Rumput laut yang terkena penyakit ice ice ini sebelumnya memperlihatkan adanya gejala pertumbuhan yang . Bila dikaitkan dengan penyakit tumbuhan. maka akan terjadi kekeroposan thallus sebagai ciri dari penyakit ice ice yang mengakibatkan kegagalan panen.

Sampai sekarang belum ditemukan cara untuk membasmi penyakit ice-ice. namun patogenitas bakteri tersebut belum diketahui. sehingga tidak menyebabkan gejala penyakit ice ice. sehingga semua tanaman rumput laut yang dibudidayakan di pulau Pari terkena penyakit ice ice dan menurunkan harga dipasaran. alvarezii ini pernah dilakukan oleh Laboratorium mikrobiologi P2O . Kemudian dilanjutkan dengan penelitian uji patogenitas dari 8 jenis bakteri tersebut yang hasilnya menunjukkan hanya 5 bakteri yang dapat menimbulkan penyakit ice ice.LIPI dan hasilnya diduga ada 8 jenis bakteri yang menimbulkan penyakit ice ice. Vibrio granii. Bacillus cereus dan Vibrio agarliquefaciens.14 Infeksi mikroba penyebab penyakit ice ice sudah menjalar pada lokasi perairan budidaya di pulau Pari. sehingga dalam budidaya perlu pemantauan lingkungan perairan dan memperhatikan musim dimana budidaya harus dihentikan untuk sementara. Pseudomonas icthyodermis dan Bacillus megaterium tidak memiliki patogenitas. ini didahului dengan rendahnya unsur hara diperairan karena dengan berkembangnya rumput laut jenis lain akan mengakibatkan penurunan unsur hara yang diperlukan oleh pertumbuhan Kappaphycus (Direktorat Jederal Perikanan 1992). Terjadinya penyakit dipengaruhi oleh berkembangnya jenis rumput laut lain yang menempel atau epifit. Hasil uji patogenitas terhadap kelima bakteri tersebut dilanjutkan dan ditemukan bakteri yang memiliki daya patogenitas tertinggi adalah Vibrio agarliquefaciens (Nasution 2005). Sampai saat ini belum ada metoda yang dapat diterapkan untuk mengendalikan penyakit ice ice tetapi untuk mengurangi kerugian. maka tanaman harus dipanen sesegera mungkin kalau penyakit telah berjangkit. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memonitor adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pseudomonas fluorescens. namun upaya yang dilakukan adalah berhenti menanam pada saat musim penyakit. Penelitian terhadap bakteri yang menyebabkan penyakit pada K. . terutama pada saat terjadinya perubahan lingkungan disamping itu dilakukan penurunan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar matahari (Direktorat Jenderal Perikanan 2004). Lima bakteri tersebut adalah Pseudomonas nigricaciens. Sementara bakteri Pseudomonas gelatica.

pencegah kristalisassi dan penggumpal (Glickman 1983). obat-obatan. . penyegar ruangan dan lain-lain (Guiseley et al. Pengolahan Kappaphycus menjadi karaginan dalam skala besar. sampai sekarang baru bisa ditangani oleh Amerika Serikat. roti.5. Kualitas standar apabila mempunyai berat kering bersih 70% dan penyusutan karaginan rumput laut bersih 40% serta kekuatan gelnya 1. FCC (Food Chemical Codex) dan EEC (European Economic Community) (Sanderson 1981). pengental. Denmark dan Perancis sedangkan skala kecil oleh Jepang. Karaginan pertama kali diekstrasi dari Chondrus crispus pada tahun 1844 oleh Schmidt. Kandungan karaginan rumput laut jenis Eucheuma sp berkisar antara 54. telah dikeluarkan oleh Fao (Food Agriculture Organication). tekstil. minuman . Karaginan merupakan hidrokoloid dari rumput laut yang paling penting dalam produk pangan karena sifat karaginan yang dapat berfungsi sebagai stabilisator.00.5-67. sedangkan kualitas rendah apabila berat kering bersih hanya 60%.60. pengemulsi. pembentuk gel. pasta gigi. kembang gula. Di luar bidang pangan karaginan banyak digunakan sebagai bahan pembantu dalam industri kosmetik.0-72. makanan diet. Spanyol. makanan bayi (Chapman and Chapman 1980). Mutu dan penggunaan karaginan Standar mutu karaginan yang diakui. Selanjutnya membagi kualitas rumput laut menjadi 2 golongan yaitu kualitas standar dan rendah. Korea. cat. tetapi produk secara komersial baru dimulai tahun 1973. Pada industri pangan karaginan digunakan dalam industri susu.15 Karaginan Rumput Laut Mutu rumput laut erat kaitannya dalam menentukan tingkat harga di pasaran. pengikat. pengalengan.8% di Tanzania dan di Indonesia berkisar antara 61. penyusutan karaginan bersih 30% dan kekuatan gel 0. 1980). keramik. Menurut Doty (1987) kualitas rumput laut di Indonesia masih rendah. sehingga jumlah produksi yang dapat diterima masih terbatas karena rendahnya kualitas rumput laut tersebut. India dan Filipina Chapman and Chapman (1980).

Identifikasi dilakukan dengan sidik jari (finger print) yaitu dibandingkan dengan spektrum standar yang dibuat pada kondisi yang sama dan identifikasi gugus fungsional dan mencocokkan dengan tabel. Gula-gula seperti misalnya sukrosa atau dektrose pada konsentrasi jenuh menghambat kelarutan karaginan. viscositas.6 anhydrogalaktosa dan gugus ester sulfat. (1955) kelarutan karaginan dipengaruhi oleh adanya gugus 3. iota-karaginan larut dalam air panas dan lambda-karaginan larut dalam air dingin tanpa dipengaruhi adanya ion (Glickman 1964).dan lambda-karaginan larut dalam larutan gula jenuh dalam keadaan panas. pembentukan gel. adanya senyawa organik yang larut dalam air. adanya ion. Lebih lanjut Zabik and Aldrich (1968) menyatakan bahwa lambda-karaginan mengandung sedikit 3. Semua karaginan larut dalam susu panas. Doty (1987) membedakan Kappa sedangkan pada iota lebih dari 30%. Lambda karaginan tidak mempunyai gugus 3. Sifat-sifat karaginan meliputi kelarutan. Identifikasi jenis karaginan dilakukan dengan menggunakan sinar infra merah untuk mengetahui gugus fungsional. sedangkan iota-karaginan dan iota-karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya pada kappa mengandung sulfat kurang dari 28%. Kappa-karaginan larut dalam larutan garam natrium. sedangkan iota-karaginan dihasilkan oleh E u c h e u m a s p i n o s u m G u i s e l e y et al. tipe ion yang berhubungan dengan polimer. garam dan tipe ion (Tawle 1973).16 Strutur kimia dan sifat-sifat karaginan Menurut Reen (1986) kappa.6-anhydrogalaktosa. . dan reaksi karaginan dengan protein. Kappa. sedangkan dalam susu dingin lambda-karaginan mempunyai kelarutan yang tinggi. (1980) membedakan struktur kappa dan lambda-karaginan berdasarkan kandungan 3. kelarutan karaginan di dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu. Kelarutan pada susu ini disebabkan karena ketidak pekaan terhadap ion kalium dan kalsium serta tingginya kandungan sulfat (Glickman 1969).6-anhydrogalaktosa dan kandungan sulfat. sehingga larut dalam air dingin. sedangkan kappa sebaliknya.6-anhydrogalaktosa dan banyak sulfat. Menurut Smith et al.karaginan dihasilkan oleh rumput laut jenis E u c h e u m a c o t t o n i i .

sebaliknya dengan bertambahnya temperatur kekentalan karaginan semakin berkurang dan perubahan ini bersifat eksponensial. adanya larutan lain dan adanya hidrokoloid lain yang tidak membeku (Towle 1973). 1980). sedangkan ion-karaginan membentuk gel yang elastis dengan adanya ion calsium (Guiseley et al. artinya membentuk gel pada saat pendinginan dan mencair kembali jika . Kappa dan iota. Kondisi gel pada karaginan dapat bervariasi dari keras. calsium dan amonium.karaginan tidak membentuk gel dengan ion Na. Menurut Rees (1969) pembentukan gel pada karaginan disebabkan terjadinya perubahan susunan molekul yaitu perubahan bentuk molekul koloid karaginan yang lurus menjadi bentuk tiga dimensi. konsentrasi. berat molekul dan ion logam yang ikut terlarut (Towle 1973). tipe ion yang ada. dipanaskan. tetapi dengan ion kalium. Kappa-karaginan dengan ion kalium membentuk gel yang kaku. Kekentalan dan pembentukan gel Larutan karaginan bersifat kental dan kekentalannya dipengaruhi oleh konsentrasi. temperatur. tipe karaginan. lunak dan elastis. Menurut Sharma (1981) pembentukan gel pada karaginan dipengaruhi oleh adanya ion logam.17 sukar larut jika dibandingkan dengan kedua karaginan tersebut di atas (Tawle 1973). Karaginan dapat membentuk gel secara reversible. rapuh. Selanjutnya dikatakan kekentalan karaginan naik secara logaritmik jika konsentrasi larutan karaginan meningkat. Tekstur ini tergantung beberapa variabel antara lain sifat karaginan. Perubahan tersebut akan bersifat reversible apabila pemanasan dilakukan pada kondosi optimum kestabilan karaginan yaitu pH 9 dengan pemanasan tidak terlalu lama.

alvarezii yaitu lokasi budidaya barat (luar gobah) dan lokasi budidaya utara (gobah) pulau Pari. . Penelitian mulai dari minggu pertama bulan Mei sampai dengan akhir bulan Juni 2005 untuk pengumpulan data lapangan dan dilanjutkan dengan analisis laboratorium selama 1 bulan. Lokasi penelitian yang dipakai untuk penanaman rumput laut K. Gambar 2 Peta lokasi penelitian pulau Pari Kepulauan Seribu.18 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kawasan budidaya pulau Pari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta (Gambar 2).

E). Penghubung antar bambu digunakan tali nilon Polyethylen (P. berukuran masing . jerigen atau gabus dengan bendera sebagai pelampung induk dipasang pada saat penebaran dan pemberat (jangkar) dipasang pada tiap rakit dengan menggunakan tali nilon berdiameter 9 mm (Gambar 3). Pelampung botol plastik dipasang pada ke empat sudut rakit sebagai penahan di permukaan.masing 120 x 120 cm dari bahan bambu sebagai kerangka tempat penanaman rumput laut.6 meter. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat diketahui parameter yang mempengaruhi pertumbuhan dan .19 Metode Pemeliharaan Metode yang digunakan adalah metode rakit apung. Metode rakit apung adalah penanaman yang dilakukan di permukaan air dengan menggunakan rakit yang mengikuti gerakan naik turunnya air. Disain rakit dan pengikatan benih rumput laut dilakukan di darat. Penanaman benih Sepuluh buah rakit ditebar pada kedalaman 30 cm di bawah permukaan air yaitu 5 buah rakit di lokasi budidaya sebelah barat dan 5 buah rakit di lokasi budidaya sebelah utara pada kedalaman laut 4 . sehingga total bobot bibit yang diperlukan untuk penanaman pada 10 buah rakit adalah 20 kg rumput laut K. karena sukar untuk menancapkan pancang. Bahan-bahan yang digunakan adalah potongan bambu berdiameter 10 cm yang dirangkai dengan menggunakan tali nilon berdiameter 8 mm. alvareezii. Keuntungan dari metode ini adalah pemangsaan oleh biota dasar dapat dikurangi karena tanaman berada di atas jangkauan predator dan pencahayaan yang diterima lebih besar untuk proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman lebih baik. Disain rakit Penelitian ini menggunakan 10 buah rakit. Tali nilon berdiameter 4 mm dianyam (tali ris) pada rakit dengan jarak anyam 30 cm. Metode ini digunakan pada dasar perairan yang keras. Rumput laut yang dijadikan benih adalah bagian ujung tallus (yang masih muda) dari lokasi budidaya pulau Tikus yang ditimbang dengan bobot masingmasing ikatan 125 g dan diikat pada anyaman tali ris dengan bantuan tali rafia. Tiap rakit diperlukan 16 ikatan bibit rumput laut (2 kg).

nitrit. Salinitas diukur dengan menggunakan hand refraktometer. diamati meliputi parameter fisika. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer. nitrat. menggunakan ‫״‬stopwacth‫ ״‬gabus dan tali. alvarezii selanjutnya.20 kandungan karaginan dari dua lokasi yang berbeda saat rumput laut terkena penyakit ice ice sebagai imformasi untuk pengembangan budidaya rumput laut K. total pospat dan ortho pospat. kimia dan biologi. kecerahan diukur dengan menggunakan Secchidisc. Gambar 3 Disain rakit dan pemasangan bibit rumput laut. . Pengamatan Lingkungan Perairan Pengamatan lingkungan perairan dilakukan setiap minggu pada siang hari pukul 11. Parameter kimia yang diamati adalah salinitas oksigen terlarut (DO).30 WIB bersamaan dengan pengamatan tanaman uji. nitrat. total pospat dan ortho pospat diukur dengan menggunakan Spektrofotometer. DO diukur dengan menggunakan titrasi (in situ). arus. kecerahan yang diukur langsung di lapangan (in situ). pH. pH diukur dengan menggunakan pH meter dan. nitrit. Pengamatan dilakukan sebanyak 8 kali selama penelitian. Parameter lingkungan perairan yang Parameter fisika yang arus diukur dengan diamati adalah suhu. amonia. amonia.

21 Pengambilan air contoh untuk pengamatan pH. Sebelum dianalisis air contoh terlebih dulu disimpan pada suhu rendah dalam peti es. Selajutnya air contoh di bawa ke laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan (ProLing) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Parameter biologi berupa biota pengganggu dan sampah diamati secara visual.1 g. Pengamatan terhadap tanaman dilakukan sekali setiap minggu pada kedua lokasi budidaya bersamaan dengan pengukuran parameter lingkungan sampai minggu kedelapan (hari tanam kelima puluh enam). total pospat dan ortho pospat dengan menggunakan botol plastik berwarna putih berukuran 250 ml. kimia dan biologi dirincikan pada Tebel 3. alat dan satuan pengukuran Parameter FISIKA Suhu Kecepatan arus Kecerahan KIMIA Oksigen terlarut Salinitas pH NO2-N NH3-N Total pospat Ortho pospat BIOLOGI Biota pengganggu Sampah Teknik Pengamatan Karakteristik pertumbuhan diamati dengan penimbangan bobot tanaman satu ikatan untuk mengetahui pertambahan bobot. Tabel 3 Parameter. nitrit. Pengukuran bobot tanaman menggunakan alat timbangan plastik 2 kg dengan ketelitian 0. Waktu perjalanan dari lokasi penelitian ke laboratorium Proling kurang lebih 7 jam. Pengukuran parameter lingkungan fisika. nitrat. amonia. Air contoh diambil pada kedua lokasi budidaya masing-masing 5 titik sampel di permukaan air dekat rakit rumput laut. Setiap rakit Alat Termometer Tali benda terapung dan stopwatch Secchi disc. dan tali Botol BOD Hand refraktometer pH meter Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer (visual) (visual) Satuan °C cm/detik M mg/l 0 /00 mg/l mg/l mg/l mg/l .

Isopropanol ditambahkan (± 15 ml) dan dibiarkan semalam. kadar air dan abu. lalu ditimbang dengan menggunakan . Penentuan konsentrasi karaginan rumput laut dinyatakan dalam persentase bobot karaginan terhadap bobot kering rumput laut mengikuti metode Ainswort dan Blanshard (1980) dan Furia (1981). Agar hasilnya berkualitas tinggi rumput laut dijemur di atas para-para dan tidak boleh ditumpuk.22 diambil sampel sebanyak 2 ikat secara acak. setelah kering diblender hingga halus kemudian diayak untuk memisahkan bagian yang kasar dan yang halus (Gambar 4). kotoran dan bahanbahan asing lainnya. Ekstrasi alga kemudian disaring melalui penyaring selulosa dalam kertas saring berlipat. Algae dikeringkan dalam oven pada suhu 100 °C selama 2 jam. Hasil yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan cara pemanasan menjadi 50 ml. Rumput laut yang telah kering ditimbang dengan menggunakan timbangan digital untuk mendapatkan data bobot kering (bobot kering angin). Pada penelitian ini sampel dianalisis di Laboratorium Kimia Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor. Rumput laut yang akan diambil karaginannya tidak boleh terkena air tawar (dapat merusaknya) karena air tawar akan melarutkan karaginan. Selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ºC selama 2 jam. Sampel rumput laut yang telah dikeringkan dengan penjemuran pada sinar matahari di bawah ke Laboratorium untuk dianalisis. Pengambilan sampel dengan memanen total yaitu mengangkat dua ikatan tanaman pada masing-masing rakit dan ditimbang sebagai data bobot basah kemudian dilakukan penjemuran + 3 hari. Tepung yang dihasilkan diambil 1 g untuk direbus (diekstraksi) dengan air panas (85 . Kualitas Rumput Laut Kualitas rumput laut yang diamati meliputi kandungan karaginan. Hasil ekstrak ini kemudian disaring dengan kain putih tipis lalu tambahkan isopropanol 96% (± 15 ml) kemudian dimasukkan kedalam wadah kecil yang telah ditimbang sebelumnya. sehingga tiap lokasi penanaman diambil 10 ikatan rumput laut untuk pemantauan pertumbuhan. Prosedur analisis sebagai berikut : Algae K. alvareezii dicuci dan dibersihkan dari pasir.9 selama 4 jam.95 °C) dalam suasana agak basa dengan pH 8 .

Berat hasil penimbangan dikurangi dengan berat wadah pada waktu kosong. Penentuan kadar abu dilakukan dengan proses pembakaran dari rumput laut kering angin dengan menggunakan alat oven pada suhu 600 °C selama 1 hari. maka di peroleh berat karaginan bersih (g). . Gambar 4 Bagan alir analisis karaginan. Berat kering angin adalah bobot produk rumput laut setelah dikeringkan dengan penjemuran pada sinar matahari. Kadar air dari rumput laut kering angin dianalisis untuk penentuan kadar air yang dilakukan dengan pengeringan dalam oven selama 12 jam dengan suhu 100 °C.23 timbangan analitik.

Untuk mendapatkan persentase karaginan dihitung menurut (Ainsworth and Blanshard 1980) dengan rumus sebagai berikut : Karaginan = berat karaginan x 100% berat sampel algae Untuk mendapatkan presentase kadar air dan kadar abu dihitung menurut (Patadjai 1993) dengan rumus sebagai berikut: Kadar air = kehilangan bobot x 100% berat contoh Bobot abu x 100% berat contoh Kadar abu = Hasil olahan data disajikan dalam bentuk gambar dan tabel. 3 Untuk melihat perbedaan parameter di lokasi budidaya sebelah barat dan utara dilakukan uji beda dengan menggunakan uji t student (Bengen 2000). x 2 = rata-rata contoh 2. x 1 = rata-rata contoh 1. kadar air dan kadar abu.hitung sebagai berikut : dimana. s2 = simpangan baku contoh 2 . s1 = simpangan baku contoh 1. Pertumbuhan mutlak = Wt1 – Wt0 b. 2002) dengan rumus sebagai berikut : a.24 Analisis Data 1 Analisis pertumbuhan akan dilihat secara partumbuhan parsial yaitu pertumbuhan yang dilihat antar waktu yang dinyatakan menurut (Affandi et al. Hipotesis Ho = tidak terdapat perbedaan nyata antara lokasi barat dan utara H1 = terdapat perbedaan nyata antara lokasi barat dan utara Rumus t . Pertumbuhan relatif = Wt 1 − Wt 0 x 100% Wt 0 Dimana : Wt = Pertumbuhan pada waktu t Wt0 = Pertumbuhan pada waktu awal 2 Analisis kualitas rumput laut meliputi kandungan karaginan.

n1+ n2-2.05) dengan bantuan program komputer Statistical Software Minitab versi 13. . tolak Ho 4 Untuk melihat karakterisrik kedua lokasi budidaya digunakan analisis PCA dengan menggunakan sover EXTAT versi 06. 6 Untuk analisis hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan digunakan regresi kuadratik dan linear.05). terima Ho t hit > ttab (α = 0. n1+ n2-2.05). Hasil analisis diuji dengan analisis ragam (Anova) untuk melihat beda nyata pada taraf (P<0.25 Kaidah keputusan : t hit < ttab (α = 0. 5 Untuk analisis hubungan pertumbuhan dan karaginan dengan unsur hara menggunakan analisis regresi ganda.

Kecepatan angin pada musim barat bervariasi antara 7-20 knot bertiup dari barat laut dan musim timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot bertiup dari timur laut. Dalam pembagian kelurahan. Laju pertambahan penduduk rata-rata 2.26 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan daerah tingkat II di Propinsi DKI Jakarta yang baru dibentuk melalui UU No. Pada musim barat dan musim timur terjadi pergerakan arus dari timur ke barat. aktivitas perekonomian (Bapeda DKI 2001). sehingga membawa banyak kotoran (sampahsampah) dari darat yang membahayakan kelangsungan organisme perairan. Luas Kepulauan Seribu (daratan dan perairan) 6 997. Penelitian tentang karang diperoleh hasil bahwa sebagian karang mengalami stress Pertambahan penduduk dibeberapa pulau diantaranya pulau Pari cukup tinggi karena didorong oleh . 55 tahun 2001. Wilayah kepulauan Seribu adalah sebuah kecamatan yang ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten Administratif dengan 2 kecamatan dan 6 kelurahan.5-2 jam perjalanan menggunakan kapal motor. Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil di perairan laut sebelah utara DKI Jakarta. Transportasi laut yang terdekat adalah melalui Rawasaban (Tangerang) ± 1.April dengan hari hujan rata-rata 20 hari/bulan dan curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari.92% per tahun dengan laju pertumbuhan pada periode 1998-1999 cukup tinggi yaitu 5.50 km2 sekitar 10 kali luas daratan Propinsi DKI Jakarta dengan luas 864.5-5 jam ) dari Jakarta. pulau Pari termasuk kecamatan Kepulauan Seribu selatan yang terdiri dari 10 buah pulau.59 ha dan jumlah pulau sebanyak 110 buah. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember . Lokasi penelitian berada pada pulau Pari sekitar 35 km (± 3. 34 tahun1999 dan PP No. Musim pancaroba terjadi pada April-Mei dan Oktober-Nopember. Keadaan angin di Kepulauan Seribu terbagi menjadi angin musim barat (Desember-Maret) dan angin musim timur (Juni-September).65%. Musim kemarau berlangsung antara bulan Mei-Oktober yang kadang-kadang masih terdapat hujan antara 4-10 hari per bulan dan curah hujan terkecil terjadi pada bulan Agustus.

sedangkan tahun 1998 jumlah pembudidaya 876 orang dengan produksi 3. sehingga budidaya rumput laut K. Beberapa tahun ini rumput laut K. sehingga jalur transportasi keluar masuk pulau Pari pun mengalami kesulitan. Jumlah pembudidaya dan produksi pada tahun 1997 berjumlah 164 orang dengan produksi 642 ton. sehingga banyak sampah yang masuk dan tertahan pada lahan maupun tanaman budidaya. dilakukan secara . sehingga kegiatan budidaya mulai terhenti. Kondisi ini mengakibatkan semakin padat lahan budidaya.27 akibat kondisi perairan yang kurang mendukung bersamaan dengan kematian masal algae laut yang menjadi sumber penghasilan utama nelayan pulau Pari (Johan 2001). alvarezii merupakan sumber penghasilan utama dari masyarakat kepulauan Seribu mulai memperlihatkan infeksi penyakit yang cukup serius terutama di pulau Pari. Perairan yang bersifat open access terjadi dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut yang dilakukan dengan cara mematok sendiri oleh petani. Kondisi ini perlu diperhatikan untuk pengembangan budidaya rumput laut dimasa yang akan datang.432 ton. Alvarezii di pulau Pari dapat berkesinambungan. Akibat dari padatnya lokasi perairan dengan tanaman rumput laut.

10 Sumber Pustaka Atmadja et al.021 0.28 Kondisi Lingkungan Perairan Kehidupan rumput laut atau algae dalam kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh faktor dalam maupun faktor dari luar.5 .15-2.0-8.96 0.4 31.152 0.14 2.272 0.6. Parameter Arus Kecerahan Suhu pH Salinitas Oksigen terlarut Nitrat Orthopospat Satuan cm/dtk m ºC ppm mg/l mg/l mg/l Barat 2. Kecepatan arus secara tidak langsung menjadi penentu suplai unsur hara.5 27 .96-6. Tabel 4 Perbandingan parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari dengan parameter ideal.00410. kimia dan biologi perairan.50-5. 1994) Zatnika & Angkasa (1994) Faktor fisika Arus Kecepatan arus merupakan faktor penentu lama waktu keberadaan substansi gas.1114 0.2 0.25 30-31 7.62-2.90-4.3-32.8 .29 7-9 32 – 34 4.0060 0. .1097 0.52 27-30 8.2-32.0080 Utara 1. unsur hara terlarut dan padatan partikel berada pada suatu habitat dan kolom air.25-2.8 3. (1996) Direktorat Jenderal Perikanan (1997) Mubarak dan Wahyuni (1981) Zatnika (1988) Atmadja et al.86 0. pembersih / pengangkut padatan partikel yang dapat menempel pada rumput laut dan mengatasi kenaikan tempratur air laut yang tajam.0 .2 1.30 1.4 31.0054 Ideal 20 .1-7. Hasil pengukuran dan pemantauan parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari selama penelitian dan parameter ideal dirincikan pada Tabel 4 dan Lampiran 1 & 2. (1996) Zatnika (1988) Zatnika & Angkasa.56 2.5 3. Faktor luar yang mempengaruhi perkembangan rumput laut adalah faktor fisika.3. Gambaran tentang biofisik air laut penting diketahui karena dapat mempengaruhi perkembangan rumput laut.

7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Barat Utara Gambar 5 Rata-rata kecepatan arus di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. sehingga kondisi rumput laut berada pada kondisi tidak sehat. alvarezii adalah 20-30 cm/det. Kondisi arus di kedua lokasi tidak memenuhi kriteria lahan budidaya. Secara statistik kecepatan arus di kedua lokasi berbeda sangat nyata. kecepatan arus di lokasi barat mulai minggu kesatu sampai minggu keempat hampir sama dengan kecepatan arus + 5 cm/det kemudian menurun sampai minggu kedelapan.56 cm/det dengan ratarata 4. (1996) kecepatan arus yang baik untuk budidaya K.20. Kecepatan arus di lokasi utara dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan terus terjadi penurunan yaitu dari 2.179.88 cm/det dan standar deviasi 0.66 cm/det (Gambar 5 Lampiran 1 & 2).14 cm/det dengan rata-rata 1. Kecerahan Kecerahan perairan merupakan salah satu faktor penting untuk pertumbuhan algae. sebab rendahnya kecerahan mengakibatkan cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan berkurang.5 cm/det dan standar deviasi 1. sedangkan lokasi budidaya utara kecepatan arus berkisar antara 1.10 cm/det menjadi 1. (Lampiran 3). Intensitas sinar yang diterima secara sempurna oleh thallus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis. Menurut Admadja et al.50-5.29 Kecepatan arus di lokasi barat berkisar antara 2.62-2. Kondisi arus di kedua lokasi budidaya selama pemeliharaan tidak memenuhi kriteria budidaya. namun lokasi budidaya di sebelah barat lebih baik dari lokasi budidaya sebelah utara. tetapi Kec Arus (cm/det) .

lokasi budidaya barat tergolong lebih baik dari lokasi utara karena masih terdapat kondisi air yang jernih.5 m dan bila dibandingkan dengan kriteria kesesuaian lahan budidaya. Kecerahan pada lokasi barat dari minggu kesatu sampai minggu kelima berfluktuasi kemudian stabil. Kecerahan di lokasi utara dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan dapat dikatakan stabil. dimana kecerahan tertinggi di lokasi budidaya barat.25 m dengan rata-rata 2. Suhu Rumput laut mempunyai kisaran suhu yang spesifik karena adanya enzim pada rumput laut yang tidak dapat berfungsi pada suhu yang terlalu dingin maupun terlalu panas Dawes (1981). Tingkat kecerahan di kedua lokasi masih di atas 1.15-2. sedangkan di lokasi budidaya utara berkisar antara 2. Berdasarkan pemantauan. Suhu perairan mempengaruhi laju .5 m cukup baik bagi pertumbuhan rumput laut dan yang terbaik adalah 5 m ke atas. 3 Kecerahan (m) barat Utara 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 w aktu pengamatan (minggu) Gambar 6 Rata-rata kecerahan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Kecerahan perairan di lokasi barat dan utara secara statistik berbeda sangat nyata (Lampiran 3).23 m dan standar deviasi 0. Hal ini didukung oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1997) bahwa kondisi air yang jernih dengan tingkat transparansi sekitar 1. Kecerahan di lokasi budidaya barat berkisar antara 2. maka tergolong cukup baik.30 sebaliknya adanya cahaya matahari yang berlebihan mengakibatkan tanaman menjadi putih.34 m dan standar deviasi 0.035 (Gambar 6 Lampiran 1 & 2).52 m dengan rata-rata 2.25-2. karena hilangnya protein.102.

31

fotosintesis dan dapat merusak enzim serta membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi. Pada suhu yang rendah, membran protein dan lemak dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal didalam sel, sehingga mempengaruhi kehidupan rumput laut, seperti kehilangan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fotosintesis dan respieasi (Laning, 1990). Kisaran suhu di lokasi budidaya sebelah barat berkisar antara 27-30 °C dengan rata-rata 28,6 °C dan standar deviasi 1,59, sedangkan suhu di lokasi utara berkisar antara 30-31 °C dengan rata-rata 30,2 °C dan standar deviasi 0,67 (Gambar 7 Lampiran 1 & 2).

34 33 32 Suhu ( oC) 31 30 29 28 27 26 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu pengamatan (minggu) 8

Barat utara

Gambar 7 Rata-rata suhu perairan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Secara statistik suhu di kedua lokasi budidaya berbeda sangat nyata (Lampiran 3). Suhu di lokasi barat pada minggu kesatu sampai minggu kelima berkisar antara 27 - 28 °C dan meningkat pada minggu keenam sampai minggu kedelapan menjadi 30 °C. Suhu di lokasi utara pada minggu kesatu sampai minggu kedelapan mempunyai kisaran suhu yang tinggi yaitu 30 - 31 °C. Kisaran suhu di lokasi barat masih cukup baik bagi peruntukan budidaya Eucheuma dengan kisaran. Hal ini didukung oleh Mubarak dan Wahyuni (1981) bahwa kisaran suhu antara 27-29 °C memberikan laju pertumbuhan Eucheuma, rata-rata di atas 5%. Kisaran suhu di lokasi utara yang cukup tinggi antara 30-31 °C sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman uji. Perbedaan suhu di kedua lokasi diduga karena letak lokasi dimana lokasi barat agak terbuka yaitu

32

berhadapan dengan laut lepas. Sementara di lokasi utara (gobah) agak tertutup karena terhalang oleh pulau, sehingga lokasi barat lebih baik daripada lokasi utara. Hal ini didukung oleh Nontji (1993) bahwa di gobah (lagoon) yang terperangkap dijumpai suhu yang panas dan apabila air surut pada siang hari kadang-kadang bisa mencapai 35 °C. Suhu perairan yang tinggi akan mengakibatkan thallus rumput laut pucat kekuning- kuningan yang menyebabkan rumput laut tidak sehat dan inilah salah satu kondisi bisa terinfeksi bakteri ice ice (Sulistijo 1996).

Faktor kimia pH
pH merupakan faktor penting dalam kehidupan rumput laut diantara faktor-faktor lingkungan lainnya. Setiap organisme mempunyai toleransi tertentu terhadap pH, sama halnya dengan rumput laut yang memerlukan kondisi pH perairan yang khas untuk kehidupannya. Nilai pH di lokasi barat berkisar antara 8,0-8,4 dengan rata-rata 8,2, dan standar deviasi 0,1455, sedangkan di lokasi utara berkisar antara 7,1-7,4 dengan rata-rata 7,3 dan standar deviasi 0,0807 (Gambar 8 Lampiran 1 & 2). Kadar pH selama masa pemeliharaan di kedua lokasi budidaya tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman uji. Menurut Chapman (1962) hampir seluruh algae menyukai kisaran pH 6,8-9,6, sehingga pH bukanlah masalah bagi pertumbuhannya. pH yang baik bagi kehidupan dan pertumbuhan Eucheuma sp. berkisar antara 7-9 dengan kisaran optimum 7,3-8,2. (Zatnika 1988).
Barat utara

9 8 pH 7 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu)

Gambar 8 Rata-rata pH di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.

33

Oksigen terlarut
Oksigen dihasillkan dari tanaman rumput laut dan menjadi kelanjutan kehidupan biota perairan karena dibutuhkan oleh hewan dan tanaman air, termasuk bakteri untuk respirasi. Fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan diwaktu siang hari sebagai hasil dari proses fotosintesis. Proses pertukaran oksigen antara udara dan laut dipengaruhi oleh difusi, pergantian air yang ada di permukaan dan oleh gelembung udara yang terjadi pada saat turbulensi (Sijabat 1973 in Kusdi 2005). Kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya barat berkisar antara 3,966,96 mg/l dengan rata-rata 5,59 mg/l dan standar deviasi 0,10, sedangkan di lokasi budidaya sebelah utara kisaran oksigen terlarut antara 3,90-4,86 mg/l dengan ratarata 4,63 mg/l dan standar deviasi 0,03 (Gambar 9 Lampiran 1 & 2). Perbedaan kandungan oksigen kedua lokasi tersebut secara statistik berbeda nyata. Oksigen terlarut di lokasi barat dari minggu kesatu sampai minggu keempat berkisar antara 6,52-6,78 mg/l kemudian menurun pada minggu kelima sampai minggu kedelapan dengan kisaran 3,96-4,5 mg/l. Kandungan oksigen terlarut di lokasi utara pada minggu kesatu sampai minggu kedelapan tidak ada perbedaan yang menyolok dari rata-rata 4,6 mg/l. Perbedaan oksigen pada kedua lokasi budidaya ini diduga karena gerakan air di lokasi utara sangat rendah, sehingga lokasi budidaya barat masih lebih baik. Hal ini diacu dengan pernyataan Zatnika (1988) bahwa oksigen terlarut untuk lahan budidaya berkisar antara 4,8 - 6,2 mg/l (Tabel 4).

8 O ksigen terlarut (mg/l) 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu)

Barat Utara

Gambar 9 Rata-rata kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.

Konsentarasi nitrat di lokasi budidaya barat berfluktuasi dan tertinggi pada minggu ketiga yaitu 0.0 .1814 mg/l dengan rata-rata 0.0113 mg/l dengan rata . nitrit dan amonia di lokasi budidaya barat berturut-turut berkisar antara 0. Hal ini sangat nampak pada kegiatan Nitrogen NO3-.272 mg/l dengan rata-rata 0. Rata . namun lokasi budidaya sebelah barat masih lebih baik daripada lokasi budidaya sebelah utara. .0110 mg/l dengan rata-rata 0.1714-0.170.3.0105 dan amonia 0.2 (Tabel 4). protein dan lemak. sedangkan lokasi budidaya utara berkisar antara 0. budidaya di perairan pulau Pari.1998. sedangkan konsentrasi nitrat di lokasi budidaya utara selama masa pemeliharaan dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan lebih rendah dan relatif sama (Gambar 10 Lampiran 1 dan 2).1802. sehingga akan meningkatkan laju pertumbuhan.1105 mg/l.dan NH3 Konsentrasi nitrat. nitrit 0.rata konsentrasi nitrat di kedua lokasi budidaya rendah sekali bila dibandingkan dengan konsentrasi yang ideal 1.1706-0. Apabila perairan mengalami kekurangan unsur hara.152-0.1097-0.rata 0.1772 mg/l. dan amonia 0.1821 mg/l dengan rata-rata 0.27 mg/l kemudian menurun sampai minggu kedelapan yaitu 0. reproduksi dan pembentukan cadangan makanan berupa kandungan zat-zat organik seperti karbohidrat. maka akan mengakibatkan pertumbuhan rumput laut lambat dan tidak sehat. NO2. nitrit 0. Bila difusi makin banyak akan mempercepat proses metabolisme.0109.34 Peranan unsur hara Unsur hara (N dan P) diperlukan diperlukan rumput laut untuk pertmbuhan.0108-0. Masuknya unsur hara ke dalam jaringan tubuh rumput laut melalui proses difusi pada seluruh bagian permukaan tubuh rumput laut.0102-0.1114 mg/l dengan rata-rata 0.

25 N itrat (m g/l) 0.rata 0.195 Amonia (mg/l) 0.116-0.0080 mg/l dengan rata-rata 0. nitrit dan amonia di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. Ortho pospat di lokasi budidaya barat berkisar antara 0. 1992).35 0. namun di lokasi budidaya barat masih lebih baik daripada lokasi budidaya sebelah utara.05 0 0 1 2 3 4 5 6 7 w aktu pengamatan (minggu) 8 Barat Utara Barat Utara N itr it ( m g /l) 0.2 0.175 0.0041-0.185 0.0060.0049 (Gambar 11 Lampiran 1 dan 2).0062 mg/l dengan rata-rata 0. . Pospat Total pospat dan ortho pospat Pospat merupakan unsur penting bagi semua aspek kehidupan terutama berfungsi dalam transformasi energi metabolik yang perannya tidak dapat digantikan oleh unsur lain (Kuhl 1974).15 0.1225 dan lokasi budidaya sebelah utara berkisar antara 0. Kandungan orhto pospat berada pada konsentrasi sangat rendah bila dibandingkan dengan konsentrasi ortho pospat yang ideal (Tabel 4).008 0.005 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Barat Utara 0.0054 mg/l dengan rata-rata 0.014 0.136 mg/l dengan rata. Secara statistik kandungan orhto pospat di kedua lokasi budidaya berbeda nyata. Unsur P di perairan terdapat dalam senyawaan pospat dalam bentuk organik dan anorganik.0074 dan lokasi utara 0.165 0.3 0.0056-0. Kandungan total pospat di lokasi budidaya sebelah barat berkisar antara 0. namun hanya ortho pospat yang terlarut dalam air dan dapat langsung digunakan oleh organisme nabati (Haryadi et al.011 0.155 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (mg/l) Gambar 10 Rata-rata nitrat.1 0.0060-0.

Binatang-binatang ini pada awalnya hanya memakan tumbuhan penempel di sekitar tanaman tetapi kemudian memakan Kappaphycus. Gambar 11 Rata-rata kandungan total pospat dan ortho pospat di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. ada juga tumbuhan yang menjadi pesaing bagi pertumbuhan K. pencemaran dan penyakit. . Fungsi ekologis dari rumput laut sebagai pendukung kehidupan akuatik di laut yaitu sebagai makanan dan pelindung binatang akuatik selalu mempengaruhi persporaan rumput laut. Selain predator ikan. kepulauan Seribu pada bulan Mei dan Oktober-Nopember merupakan musim ikan baronang dalam jumlah besar yang dapat merugikan nelayan rumput laut ( Sulistijo 2002). Saat pengamatan dilakukan. Di samping itu tumbuhan penempel seperti tunikata yang menutupi thallus rumput laut akan menyerap nutrisi dan menghalangi proses fotosintesis. banyak ditemukan benih ikan baronang dan algae penempel di kedua lokasi penelitian barat dan utara hal ini diduga sedang terjadi musim pemijahan ikan baronang di perairan pulau Pari. Faktor biologi Algae yang dibudidayakan tidak terlepas dari pengaruh biologi perairan seperti predator.36 Kekurangan pospat akan lebih kritis bagi tanaman akuatik termasuk tanaman algae dibandingkan dengan kekurangan nitrogen di perairan karena walaupun ketersediaan pospat sering melimpah dalam bentuk berbagai senyawa pospat namun hanya dalam bentuk ortho pospat (PO4) yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman akuatik. alvarezii dan tumbuh pada rakit penelitian. Gangguan ini dapat mengakibatkan tanaman menjadi tidak sehat dan dengan mudah terinfeksi bakteri penyebab ice ice pada bagian yang tertutup total oleh koloni tunikata.

sedangkan ikan baronang yang memakan thallus mulai menyerang pada minggu kelima.37 Tumbuhan penempel di lokasi barat mulai kelihatan pada minggu ketiga. Gambar 12 Luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji. Sementara di lokasi utara mulai dari minggu kedua sudah banyak terdapat tumbuhan penempel dan luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji serta sampah disekitar rakit (Gambar 13). Gambar 13 Kotoran dan algae penempel pada tanaman uji Perbedaan tingkat keberhasilan di kedua lokasi budidaya diduga karena pengaruh dari kondisi kualitas lingkungan budidaya. sehingga tanaman di lokasi barat masih ada pernambahan bobot sedangkan pada lokasi utara tidak ada pernambahan bobot. Kondisi tanaman uji menunjukkan adanya serbuk putih pada luka bekas gigitan ikan dan mulai menjalar ke bagian thallus sekitar bekas gigitan karena infeksi bakteri ice ice (Gambar 12). dedaunan dan ranting yang menyangkut pada rakit penelitian di lokasi budidaya ( gambar 14). . Tumbuhan pengganggu dan sampah di kedua lokasi berupa limbah rumah tangga seperti plastik.

Arus b.003 0.027 sedang banyak ada/tinggi ‰ mg/l mg/l mg/l . Namun dari parameterparameter kualitas lingkungan yang diamati selama masa pemeliharaan diacu dengan hasil pengukuran biofisik kualitas perairan dari penelitian IPB (1997) menunjukkan kualitas lingkungan perairan semakin menurun hampir tidak sesuai untuk lahan budidaya (Tabel 4). Nitrat d.006 0. Komunitas makro alga b. Hewan-herbivor Lingkungan c. Tabel 5 Perbandingan kualitas perairan di pulau Pari tahun 1997 dan 2002 Parameter Fisika a.Pencemaran Sumber: Besweni (2002) Satuan cm/det °C Tahun 1997 10 29 7 32 0.007 0.38 Gambar 14 Sampah dan tumbuhan pengganggu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Secara historis lahan budidaya rumput laut di pulau Pari lebih efisien dibanding lahan budidaya di gugusan pulau Pari. Salinitas c.03 30 0.001-0. pH b.001-0. Suhu Kimia a.005 banyak sedang tidak ada Tahun 2002 < 10 30-32 8-8.012-0.002 0.Phosphat e.Timah hitam (Tb) Biologi a.

nitrat dan kecerahan dengan kontribusi sebesar 29.kimia perairan pada setiap stasiun pengamatan. (Lampiran 10C). Hasil korelasi antar variabel terlihat bahwa di lokasi budidaya sebelah utara variabel berperan utama dalam membentuk sumbu F1 adalah suhu dengan kontribusi sebesar 15.24%.39 Analisis Komponen Utama Analisis komponen utama dilakukan untuk menggambarkan korelasi karakteristik fisika .63% dan variabel kecerahan dan total fosfat berperan utama dalam membentuk sumbu F3 (Lampiran 9C). Pertumbuhan Rumput Laut Perkembangan biomassa Pertumbuhan rumput laut seperti halnya pertumbuhan algae akan mengikuti pola pertumbuhan logistik (ekperimen maksimal) yaitu pada mulanya meningkat linear sampai tingkat maksimal mendekati plateau.87%.4%.28%. kecerahan.27%.20% dan 20. 16. dan F2 adalah total pospat.34%.12% dan 12.80% dan 14. F2 dan F3) baik di lokasi budidaya sebelah barat maupun utara. Korelasi antar variabel terlihat bahwa di lokasi budidaya sebelah barat variabel berperan utama membentuk sumbu F1 adalah oksigen terlarut dan arus dengan kontribusi sebesar 14. Pertumbuhan rumput laut K. Lokasi budidaya utara dicirikan oleh suhu. Terlihat bahwa informasi penting terpusat pada tiga sumbu utama (Fl. 23. 20. Uraian di atas dapat dinyatakan bahwa kualitas lingkungan fisika kimia di sebelah barat dicirikan oleh arus dan oksigen. F2 dan F3) mempunyai kontribusi sebesar 44.91% dari total ragam sebesar 85% (Lampiran 9B).03% dan 13. (Lampiran 10B). Pertumbuhan rumput .50%. Di lokasi budidaya sebelah barat masing-masing sumbu mempunyai kontribusi sebesar 56. nitrat dan total pospat. Sedangkan di lokasi budidaya sebelah utara masing-masing sumbu (F1. alvarezii yang diamati selama 8 minggu di kedua lokasi budidaya barat dan utara pulau Pari memperlihatkan dua tahap pembentukan biomassa yaitu tahap pertama (minggu 1-4) dan tahap kedua (minggu 5-8).62% dari total ragam sebesar 80. variabel ortho-pospat berperan utama dalam membentuk sumbu F2 dengan kontribusi sebesar 39.

3g dan mengikuti pola hubungan linear yaitu Y = 28.64x + 291.4 dan minggu ke 5-8 di lokasi budidaya barat pulau Pari.40 laut ditentukan oleh faktor kecerahan.15 g/minggu. namun pertumbuhan yang semestinya dalam keadaan pesat mendadak menurun setelah mencapai puncak pada minggu keempat Lokasi budidaya barat pertumbuhan biomassa dari minggu kesatu sampai minggu keempat meningkat dari 125 ke 206. Bobot basah yang dihasilkan merupakan suatu produksi pembentukan biomassa yang ditentukan oleh laju pertumbuhan (G) x bobot biomassa ( B ). sehingga produksi rumput laut ditentukan oleh laju pertumbuhan (G) x laju pengkroposan (z) dan ( B ).8) mengakibatkan pembentukan biomassa menurun.88 (gambar 15).66 R2 = 0. unsur hara (N dan P) dan keadaan biomassa.3 .15x + 91.4).9708 − 250 Bobot basah (g) 200 150 100 50 0 5 6 Bobot basah (g) 250 200 150 100 50 0 1 2 R2 = 0. Kondisi seperti ini mengakibatkan rumput laut terkena penyakit ice ice (pengkroposan). maka kondisi biomassa dalam keadaan rentang terhadap penyakit. Sehubungan dengan proses laju pertumbuhan. Selanjutnya dari minggu kelima sampai minggu kedelapan terjadi penurunan biomassa dari 206.6g serta mengikuti pola hubungan linear . temperatur.8823 3 4 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Waktu pengamatan (m inggu) Gambar 15 Pertubuhan rumput laut minggu ke 1.3 ke130. Pada tahap awal G > z (minggu 1 . sehingga masih terdapat pertumbuhan biomassa.15x + 91. maka penanaman rumput laut dengan bobot awal yang sama di kedua lokasi budidaya (125 g) menunjukkan karakter pertumbuhan yang tidak normal. Apabila keadaan biomassa rumput laut mengalalami tekanan − lingkungan.3 y = -20. Lokasi budidaya barat masih terlihat adanya pertambahan bobot. R2 = 0. y = 28. Laju pertumbuhan dari minggu pertama sampai minggu keempat sebesar 28. Apabila pengkroposan meningkat maka G < z (minggu 5 .

48g / minggu. Pada tahap pertama (minggu ke1-4) terjadi penurunan yang mendatar dari 125 ke 89.99 (gambar 17). .5 ke 31. sehingga faktor produksi. Pembentukan biomassa setelah minggu kelima lebih didominasi oleh penurunan bobot basah karena meningkatnya infeksi bakteri penyebab penyakit ice ice.8g / minggu meningkat pada minggu kelima sampai kedelapan menjadi -14.52 .8x + 127. y = -14. Pembentukan biomassa pada tahap pertama sampai tahap kedua memberikan indikasi laju pertumbuhan lebih kecil dari laju pengkroposan.97g dan mengikuti pola hubungan linear yaitu Y = -9.7 . Keterkaitan hubungan pembentukan biomassa dengan unsur hara dan atau pengkroposan dengan faktor lingkungan akan dibahas pada hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara dan laju degradasi dengan kualitas lingkungan perairan. sehingga terjadi penurunan biomassa (biomassa mengalami pengkroposan).3g dan mengikuti pola hubungan linear Y = -14.9288 Bobot basah (g) 90 70 50 30 10 5 6 3 4 7 8 Waktu pengam atan (m inggu) Waktu pengam atan (m inggu) Gambar 17 Laju pengkroposan rumput laut tahap pertama (a) dan kedua (b) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.93 (gambar17).64x + 291.64g / minggu. R2 = 0.7 R2 = 0.48x + 153. Persamaan tersebut memberikan indikasi bahwa laju pengkroposan semakin meningkat yaitu pada minggu pertama sampai minggu keempat -9.41 yaitu Y = . kecerahan. Pada tahap kedua (minggu ke5-8) terus mengalami penurunan yang tajam dari 71. tempratur dan unsur hara menjadi tereliminir.9934 Bobot basah (g) 140 120 100 80 60 40 20 1 2 y = -9.8x + 127.66 . R2 = 0. R2 = 0.97 (Gambar 15).48x + 153.20. Laju pengkroposan mulai dari minggu kelima sampai minggu kedelapan sebesar -20.52 R2 = 0. Keadaan tersebut diperkirakan karena meningkatnya aktivitas bakteri penyebab penyakit ice ice.

sedangkan di lokasi budidaya utara yang merupakan perairan tertutup (berada di gobah) yang kurang mendapat gerakan air. dimana lokasi budidaya barat yang merupakan perairan terbuka (berada diluar gobah buka) yang masih mendapat gerakan air. aktivitas sel diarahkan untuk pertumbuhan yaitu melakukan pembelahan dan pembesaran sel. sehingga mempengaruhi hasil panen. unsur hara. suhu air. sehingga pasokan nutrien yang diperlukan tidak terpenuhi. Secara biologi tanaman tidak mampu melakukan kegiatan fisiologinya secara normal. Kondisi ini dapat pulih apabila tidak ada komplikasi yang berkelanjutan. Bila dikaitkan dengan ilmu pemyakit tumbuhan. permukaan thallus menjadi kasar (Gambar 18).42 Kondisi rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat maupun utara dari hasil pemantauan memberikan indikasi bahwa rumput laut mengalami stress. Dapat dijelaskan tentang permsalahan tersebut bahwa akibat pengaruh musim yang mempengaruhi faktor-faktor ekologis seperti intensitas cahaya. sehingga tidak mampu berkembang dan secara ekonomi tanaman tidak mampu memberikan hasil yang cukup. percabangan sedikit. akibat sebagian besar hasil budidaya terkena penyakit ice ice diikuti kualitas produk yang tidak dapat diterima oleh pasaran. sehingga tanaman dengan cepat terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice. baik kuantitas maupun kualitasnya. jika keadaan ini terus berlanjut maka terjadi pertumbuhan yang lambat karena sel-sel tanaman tidak dapat berfungsi dengan baik (DirJen. Diantara pengaruh yang ditimbulkan adalah "Aging effect" yang ditandai dengan perubahan morfologi yaitu tanaman menjadi kurus. Kondisi ini diperburuk dengan adanya . Perikanan 1997). maka tanaman uji dalam kondisi lemah / rentan terhadap penyakit. Secara umum bobot basah rumput laut pada kondisi yang normal dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan dan secara nyata dimulai pada minggu kedua sampai minggu ketuju bersamaan dengan meningkatnya kandungan karaginan. Pada musim barat 2005 terjadinya gagal panen. Perbedaan tingkat keberhasilan ini diduga karena posisi kedua lokasi budidaya. Hal ini dipermudah dengan keadaan lingkungan yang mendukung patogen. Hal ini didukung oleh Salisbury dan Ross (1992) bahwa pada jaringan muda rumput laut.

sehingga infeksi bakteri penyebab ice ice lebih cepat.43 gigitan ikan yang membuat jalan masuk bakteri ke bagian jaringan dalam. alvarezii yang terkena penyakit (b) bagian cabang tanaman yang terkena penyakit . Penyakit yang timbul pada musim panas dan arus lemah ini ditandai dengan warna pucat pada tanaman secara keseluruhan kemudian hilang warna pada cabang-cabang dan akhirnya menjadi keputih-putihan. Penyakit ice ice terjadi oleh pengaruh beberapa jenis rumput laut lain yang menempel. Lobban dan Harison 1994). Gambar 19 Rumput laut yang terkena penyakit di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari (a) Bagian ujung tanaman K. sehingga mengakibatkan kehilangan bobot tanaman (Gambar 19). Gambar 18 Permukaan thallus rumput laut yang kasar. rendahnya unsur hara di perairan dan oleh biota air starfish (Trono 1992. Penyakit rumput laut muncul karena adanya substansi pelindung intraseluler pada saat rumput laut mengalami tekanan lingkungan. sedangkan bagian cabang yang terinfeksi akan retak dan putus jatuh ke laut. Jaringan tanaman pada bagian yang terkena penyakit menjadi lunak dan hancur. sehingga menyebabkan kegagalan panen.

44 Tanaman budidaya akan lebih cepat terinfeksi apabila terdapat banyak bekas luka karena akan menjadi jalan masuk bagi bakteri patogen. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan infeksi bakteri penyebab penyakit ice ice pada thallus dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu terinfeksi pada luka bekas pemotongan (stek untuk bibit). : (a) bekas pemotongan (stek untuk bibit) (b) luka akibat gigitan ikan (c) luka karena ikatan bibit terlalu erat (d) masuk melalui pori-pori thallus . luka akibat ikatan bibit terlalu erat dan masuk melalui pori-pori thallus (Gambar 20). d c Gambar 20 beberapa cara terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice. luka akibat gigitan ikan.

787 -13.60 Utara Mutlak (g) -11 -2 -12 -12 -18 -13 -14 -12 Relatif (%) 1.84 8.321 -24.45 Pertumbuhan parsial Pertumbuhan parsial rumput laut adalah pertubuhan yang terjadi antar waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk pertumbuhan mutlak.562 -5.040 -2. Gambar 21 Pertumbuhan rumput laut normal di lokasi budidaya Halmahera (Kusdi 2005).074 -7.20 -30. relatif dan sesaat rumput laut di sebelah barat dan utara pulau Pari Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 Barat Mutlak (g) 1. relatif dan sesaat (tabel 6).661 32. relatifnya 1.805 -11.10 -15. . Pada minggu pertama sampai minggu keempat masih terdapat pertumbuhan parsial yang didukung oleh kecerahan. Pertumbuhan rumput laut tersebut ternyata tidak berlanjut mengikuti pola pertumbuhan logistik (normal) seperti hasil penelitian Kusdi (2005) (Gambar 21). suhu.349 -16.290 -18.472 – 32. Tabel 6 Pertumbuhan mutlak.15 50.10g.486 -29. unsur hara dan kondisi biomassa.473 15.049 Relatif (%) -9.30 -19.025 Pertumbuhan parsial rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu pertama sampai minggu keempat semakin meningkat dengan pertumbuhan mutlaknya 1.626 -20.21 21.84 – 50.111 -8.074%.472 6.60 -10.

Pertumbuhan parsial mutlak berkisar antara -12 – -18g.562 – -16. Biomassa rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu pertama sampai keempat laju pertumbuhannya masih lebih besar dari laju pengkroposan.025%. relatif -18. relatif -09.626%. Laju pengkroposan biomassa melampaui laju pertumbuhan rumput laut. Sebaliknya minggu kelima sampai minggu kedelapan di lokasi barat dan atau lokasi utara memperlihatkan laju pengkroposan lebih besar dari laju pembentukan biomassa. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan rumput laut pada akhirnya merupakan perpaduan antara laju pembentukan biomassa dan laju pengkroposan. sehingga pertumbuhan parsial berubah menjadi menurun. Degradasi biomassa rumput laut tersebut terindikasi dari warna thallus yang pucat secara keseluruhan kemudian hilang warna dan akhirnya menjadi keputih-putihan.20 – -30. Pertumbuhan parsial di lokasi budidaya utara dari minggu pertama sampai minggu keempat cenderung negatif dengan pertumbuhan mutlak berkisar antara -2 – -12g. maka total biomassa rumput laut cenderung semakin menurun.040 – -11.787%. Jaringan tanaman pada bagian yang terkena penyakit menjadi lunak dan hancur.46 Sementara mulai minggu kelima sampai minggu kedelapan kondisi biomass mengalami pengkroposan karena telah terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice. ortho pospat) serta laju pengkroposan dengan suhu.321 – -29. Hubungan antara laju pertumbuhan dengan unsur hara(nitrat. relatif -7. Pertumbuhan negatif terus berlanjut dari minggu kelima sapai kedelapan. arus dan tempratur akan dibahas pada topik selanjutnya. Pertumbuhan parsial yang bersifat negatif (terjadi pengkroposan). Hal ini terjadi sebagai akibat infeksi bakteri ice ice semakin meningkat. Penurunan/pengkroposan mutlak rumput laut berkisar antara -10. Hasil analisis regresi berganda terhadap laju pertumbuhan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari pada minggu pertama sampai minggu keempat ternyata memenuhi persamaan regresi ganda y = -281 + 1551 nitrat + 14596 ortho pospat dengan nilai koefisien . Hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara Untuk melihat hubungan laju pertumbuhan rumput laut dengan unsur hara dilakukan analisis regresi berganda.30g.

2%. lokasi budidaya utara minggu ke1-ke4 y = -981 + 19. Suhu dan oksigen terlarut berperan terhadap perkembangan populasi bakteri penyebab ice ice dalam mendegradasi biomassa rumput laut. arus dan oksigen terlarut ternyata memenuhi persamaan regresi ganda. Hubungan degradasi / pengkroposan biomassa dengan suhu. dan minggu ke5-ke8 y = 1489 + 45. dengan suhu perairan yang tinggi.1 suhu + 25. Hasil uji variance diperoleh P-value lebih kecil dari (0.05) dan ortho pospat 0.001 (P<0. arus dan oksigen memberikan indikasi bahwa ketiga faktor lingkungan tersebut secara langsung berperan terhadap intensitas perkembangan bakteri ice ice dalam pengrusakan biomassa rumput laut.arus dan oksigen terlarut Seperti telah dijelaskan diatas. Hal ini didukung oleh Sulistijo (2002) Tingkat degradasi biomassa rumput laut bahwa penyakit ice ice timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti mencerminkan tingkat perkembangan populasi dan intensitas pengkroposan .14 oksigen dengan R = 99%.7 suhu dengan R = 98.3 arus – 6.9%. Dari nilai koefisien masing-masing suhu.05) (Lampiran 11).3 suhu + 4.47 determinasi R = 83%. Persamaan regresinya sebagai berikut : Lokasi budidaya barat minggu ke5-ke8 y = 1852-10 oksigen-7.05) berati regresi tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel terikat yang berpengaruh terhadap variabel bebas atau dapat dikatakan nitrat dan ortho pospat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan.001 ((P<0.52 oksigen dengan R = 98.79 arus – 34. Hasil uji variance (Lampiran 12) dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa ketiga variabel yaitu suhu. arus dan oksigen terlarut berpengaruh terhadap laju pengkroposan biomassa. Hubungan degradasi dengan suhu. maka di lokasi budidaya barat dan utara telah terjadi pengkriposan biomassa yaitu di lokasi barat di minggu ke5 sampai ke8 dan lokasi barat di minggu ke1 sampai minggu ke8.74 arus +8. Nilai koefisien masingmasing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap y adalah nitrat sebesar 0. Dengan demikian disimpulkan bahwa hasil analisis tersebut terindikasi bahwa ketersediaan unsur hara (nitrat dan ortho pospat) secara interaksi bersama menentukan laju pertumbuhan. Kecepatan arus berperan terhadap lama waktu penempelan dan penyebaran yang mengkontaminasi keseluruhan biomassa rumput laut.

1 156.92 5. Pengeringan ini bertujuan untuk menurunkan kadar air rumput laut basah + 90% menjadi rumput laut kering dengan kadar air + 20% ( Suryaningrum 1988). Kondisi ini terjadi di lokasi budidaya utara karena hilangnya bagian-bagian rumput laut dan diganti dengan tunas baru.2 130.7 111.2 9.5 150.7 178.1 10.61 91.54 Utara 95.19 93.71 94.74 93.34 91.3 190.41 91.28 95.88 5.6 11.20% sampai dengan 93. Dari uraian tersebut.48 rumput laut. Produksi Bobot Kering Bobot kering rumput laut didapat dari pengeringan terhadap rumput laut basah dengan cara penjemuran pada sinar matahari.15 6.89 5.3 kering Barat Utara 5. sedangkan laju degradasi / pengkroposan di lokasi budidaya barat minggu ke5-k8 dan di utara minggu ke1-k8 ditentukan oleh faktor suhu. Menurut Noor (1991) kadar air rumput laut segar berkisar antara 85 .8 135. Lokasi budidaya barat dari minggu kesatu sampai minggu keempat penyusutan berkurang dari 95.5 89.7 71.19 94.99 Sumber : Hasil penelitian yang diolah . maka dapat dinyatakan bahwa laju pertumbuhan biomassa rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu ke1-ke4 ditentukan oleh keberadaan nitrat dan ortho pospat.5 58.2 5.82 92.1 7.91 5.9 6.90%.83 94.53 80.3 101.3 16 14.95 Penyusutan (%) Barat 95. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.4 17. Pengamatan (munggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Bobot (g) Basah Barat Utara 125 125 126.93 5. Lokasi budidaya utara dari minggu pertama sampai minggu kedelapan nilai penyusutan terus berkurang.08 94.72 89. sedangkan pada minggu kelima sampai kedelapan penyusutannya tetap yaitu 91% ( Tabel 7).85 86.2 206.94 5.61 91.6 113.4 44.9 5. Tabel 7 Bobot dan penyusutan K.20 95.34%.1 31.arus dan oksigen terlarut memicu perkembangan populasi bakteri dalam menginfeksi dan mendegradasi biomassa rumput laut.

77% kemudian menurun di minggu kelima seterusnya sampai minggu kedelapan hingga mencapai kandungan karaginan terendah 4. Rahardjo (2000) mendapatkan panen yang baik dengan biomassa dan kandungan karaginan tertinggi pada waktu pemeliharaan selama 6 minggu di lokasi pulau Tidung Kepulauan Seribu. alvarezii dari minggu kesatu sampai minggu keenam tidak mendapatkan perbedaan yang berarti terhadap kandungan karaginan. alvarezii di lokasi budidya sebelah barat pulau Pari mengalami peningkatan sampai minggu keempat.46% terus meningkat dan mencapai puncak di minggu keempat dengan persentase 16. Mengacu dari kondisi tanaman uji. . Alvarezii cenderung mengalami peningkatan menurut lama penanaman dan kualitas terbaik kandungan karaginan maximum dicapai pada usia 35 hari atau minggu kelima (Kusdi 2004). Kandungan Karaginan Proses panen baik berdasarkan waktu atau bobot tidak menjamin mutu rumput laut. 1978). Satari (1998) melalui penelitiannya dengan variasi waktu pemeliharaan K. Kandungan karaginan K. tetapi sebaliknya terus mengalami penurunan hingga mencapai kandungan karaginan terendah sebesar 1. Pada minggu kesatu kandungan karaginan 9.23% (Gambar 22 dan Lampiran 8). sehingga akan tumbuh tunas yang baru. Selanjutnya Sulistijo (1994) . Kandungan karaginan K. Jaringan rumput laut yang lebih tua dapat mengakumulasi deposit garam-garam yang menyebabkan unsur keringnya semakin tinggi (Simpson et al. tetapi mutu rumput laut ditentukan oleh mutu bibit dan kualitas perairan.51%. Menurut Dawes (1974) berat kering tumbuhan muda lebih rendah daripada tumbuhan tua. Kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah utara mulai minggu kesatu sampai minggu kedelapan tidak ada peningkatan kandungan karaginan. maka bobot kering tanaman yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh lama penanaman karena tanaman selalu berada pada kondisi tanaman muda. Pola kandungan karaginan yang diperoleh pada penelitian di kedua lokasi budidaya barat dan utara tidak sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya.49 Tanaman uji yang terkena penyakit akan hancur dan putus juga ujungujung thallus yang dimakan ikan.

Dalam perdagangan. 20 Karaginan (% ) 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan(minggu) Barat utara Gambar 22 Rata-rata kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. kimiawi dan biologi juga kondisi lingkungan tempat tumbuhnya karaginofit tersebut. Perbedaan kandungan keraginan pada kedua lokasi tersebut diduga karena perbedaan kualitas lingkungan masing-masing. namun perbedaan ini tidak memperlihatkan kualitas yang baik sesuai standar kualitas K. Alvarezii untuk diterima pasaran dalam maupun luar negeri. Kandungan karaginan di kedua lokasi budidaya secara statistik berbeda sangat nyata (Lampiran 6).50 menyatakan waktu pemeliharaan 45 hari kandungan karaginan mencapai maximum yaitu 52. Kadar Air Kadar air pada rumput laut merupakan komponen kimia penting yang berhubungan dengan mutu rumput laut. sehingga lama pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap kandungan karaginan. Thallus rumput laut yang sudah terkena penyakit akan keropos dan hancur kemudian akan digantikan dengan tunas-tunas yang baru. kadar air rumput laut kering untuk industri . Kadar air yang cukup tinggi akan menyebabkan menurunnya kualitas karaginan yang dihasilkan.70% dan kadar air 24. Menurut Soegiarto et al. Kadar air yang dimaksud adalah besarnya persentase kadar air persatuan bobot kering angin produk rumput laut. Kandungan karaginan dari tanaman uji di kedua lokasi sangat rendah disebabkan karena penyakit ice ice.42%. Mukti (1987) menyatakan persentase kandungan karaginan dalam rumput laut karaginofit berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan yaitu lingkungan fisika. (1978) bahwa standar kualitas Eucheuma untuk dipasarkan dalam dan luar negeri kandungan karaginan 25%.

maksimum 22. Nilai kadar abu diperoleh setelah dilakukan proses pembakaran atau pengabuan dalam alat pembakaran (tanur). maksimum .70%. Menurut Hirao (1971) bahwa kadar abu pada rumput laut berkisar antara 15 . maka semakin tinggi pula kadar abu yang dihasilkan saat pembakaran. 1978). sedangkan bahan lainnya habis menguap saat pembakaran. Secara statistik kadar air di lokasi budidaya berbeda nyata (Lampiran 6).40%.10%.08%.82% dan minimum 20.30%. Namun kadar air setelah pengeringan di laboratorium dengan vacum dryer di peroleh nilai persentase yang masih memenuhi standar pemasaran (Gambar 23). Kadar abu dalam tanaman rumput laut ditentukan oleh bahan penyusun jaringan dimana semakin tinggi bahan serat dan senyawa-senyawa yang mengandung karbon dalam jaringan.83% dan minimum19. 30 barat utara Kadar air (%) 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu (minggu) Gambar 23 Rata-rata kadar air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Kadar Abu Kualitas hasil panen rumput laut ditentukan pula oleh persentase kadar abu karena kadar abu yang relatif tinggi akan menyebabkan rendahnya kualitas hasil panen.51 pangan dan farmasi yang memenuhi syarat mutu dari Departemen Perdagangan adalah maximum 32% (Soegiarto et al. maksimum 23. Bagian jaringan rumput laut berupa serat dan bahan-bahan yang mengandung karbon serta beberapa mineral tersisa menjadi abu setelah proses pembakaran. Kadar abu di kedua lokasi budidaya cukup tinggi yaitu di lokasi budidya sebelah barat pulau Pari kadar abu rata-rata sebesar 20. Sedangkan kadar air rata-rata di lokasi budidaya utara sebesar 21. Kadar air rata-rata di lokasi budidaya sebelah barat sebesar 20.76%.

78%. Persentase kadar abu yang cukup tinggi ini juga menunjukkan besarnya kandungan mineral pada rumput laut yang tidak terbakar selama pengabuan.23% dan minimum 10.52 22.9%. 30 Kadar abu (%) 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu (minggu) barat utara Gambar 24 Rata-rata kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.09%. maksimum 26.17> F tab. maka selisihnya adalah garam dan kontaminan lain yaitu pada lokasi barat 3. sebesar 9.09%.05) dengan (Fhit. Sementara di lokasi budidaya sebelah utara kadar abu rata-rata sebesar 22.48).3% dan minimum 16. Kadar abu rumput laut bersih dari Eucheuma cottonii yang dilaporkan oleh BPPT adalah 17. Sementara kadar abu yang diperoleh di lokasi budidaya sebelah barat adalah 20.78%. Hubungan Karaginan dengan Unsur Hara Hasil regresi ganda menunjukkan adanya hubungan antara karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat yang dijelaskan dengan nilai determinasi sebesar 84.21% dan lokasi utara 5. sebesar 5. Kadar abu yang diperoleh pada penelitian ini bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh BPPT sebasar 17. (Gambar 24).30% dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah utara adalah 22. Kadar abu terutama terdiri dari garam natrium yang berasal dari air laut yang menempel pada thallus rumput laut yang terjadi pada proses pengeringan. Data hasil analisis regresi berganda kandungan karaginan . Kadar abu di kedua lokasi budidaya sebelah barat dan utara secara statistik berbeda nyata (Lampiran 6).69%.6% dan sangat nyata (p<0. Kadar abu berbeda dikedua lokasi disebabkan karena tanaman uji yang dibudidayakan di kedua lokasi budidaya banyak terdapat alga penempel dan kotoran-kotoran.64%.

Kisaran ortho-pospat yang diperoleh di kedua lokasi budidaya sangat rendah.05) yang berarti bahwa nitrat dan amonia bukan merupakan faktor pembatas terhadap peningkatan kandungan karaginan (lampiran 12).780 dan 0. Dengan demikian disimpulkan bahwa variabel yang sangat berpengaruh terhadap kandungan karaginan rumput laut di kedua lokasi budidaya adalah ortho pospat. Koefisien variasi masing-masing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap nilai Y adalah ortho pospat yang dapat dijelaskan dengan 0.007 (P<0.5).05). Tabel nilai koefisien menunjukkan bahwa nitrat dan amonia tidak nyata (p>0.52 > Ftab. . Hasil regresi ganda menunjukkan adanya hubungan karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah utara yang dijelaskan dengan nilai determinasi sebesar 79. Persamaan tersebut menunjukkan terdapat satu atau lebih parameter yang berpengaruh terhadap peningkatan karaginan. Koefisien variasi masing-masing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap nilai Y adalah ortho pospat yang dapat dijelaskan dengan 0.48). sebesar 5. namun lokasi budidaya sebelah barat lebih baik. sedangkan nitrat dan amonia masing-masing 0.7+39.020 (P<0.943 (P>0. ortho-pospat dan amonia. sebesar 6.130 dan 0.53 dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari diperoleh persamaan sebagai berikut Karaginan = 21. Data hasil analisis regresi berganda kandungan karaginan dengan unsur hara diperoleh persamaan sebagai berikut : Karaginan = -149+252 Nitrat +6049 ortho pospat +527 amonia. sedangkan nitrat dan amonia masing-masing 0.05). Persamaan tersebut menggambarkan bahwa terdapat satu atau lebih parameter yang berpengaruh terhadap peningkatan dan penurunan karaginan.05) yang berarti bahwa nitrat dan amonia bukan merupakan faktor pembatas terhadap peningkatan kandungan karaginan (lampiran 13). Variabel unsur hara yang berpengaruh terhadap karaginan adalah nitrat.6% dan sangat nyata (p<0. sehingga masih terjadi penambahan peningkatan kandungan karaginan.5).2 nitrat +4321 ortho pospat -276 amonia.801 (P>0.05) dengan ( Fhit. Tabel nilai koefisien menunjukkan bahwa nitrat dan amonia tidak nyata (p>0.

5268 x2+4. R2 = 0.5268x + 4. Terjadinya penurunan kandungan karaginan pada minggu kelima sampai minggu kedelapan ini akibat terkena penyakit ice ice yang merusak struktur jaringan dalam dimana terdapat kadungan karaginan. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan waktu pengamatan diikuti dengan peningkatan kandungan karaginan sampai batas tertentu kemudian cenderung menurun seiring dengan bertambahnya waktu. Karaginan (%) .1873 R = 0. Hal ini sesuai dengan Kusdi (2004) bahwa hubungan waktu pengamatan dengan kandungan karaginan di semua perlakuan interaksi asal thallus dan bobot bibit berbentuk pola hubungan kuadratik.1581 x+6.1873. Penurunan kandungan karaginan ini disebebkan karena perubahan kondisi perairan yang terlihat mulai dari minggu ke lima pada masa pengamatan.54 Hubungan Karaginan dengan Waktu Pengamatan Analisis regresi hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan pada lokasi budidaya sebelah barat menunjukkan pola hubungan kuadratik (Gambar 25).1581x + 6. Semakin lama waktu pengamatan maka semakin tinggi kandungan karaginan sampai batas tertentu.7587 2 2 Gambar 25 Hubungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari. 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Waktu pengamatan (minggu) y = -0. dengan persamaan sebagai berikut : Y = 0.7587. Hasil penelitian pada minggu keempat merupakan batas terjadinya penambahan kandungan karaginan sedangkan pada minggu selajutnya terjadi penurunan kandungan karaginan yang disebabkan kondisi lingkungan perairan yang tidak mendukung.

dengan persamaan sebagai berikut : Y = 8.9238–0.948%. .0615x + 8.5268x. r = 0.9238 R = 0.55 10 Karaginan (%) 8 6 4 2 0 0 2 4 6 y = -1. Analisis regresi hubungan kandungan karaginan pada lokasi budidaya sebelah utara memberikan gambaran pola hubungan linier (Gambar 26).948 2 8 10 Waktu pengamatan (minggu) Gambar 26 Hubungan kandungan keraginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari. Hal ini menunjukan bahwa bertambahnya waktu pengamatan diikuti penurunan kandungan karaginan.

56

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
1 Kualitas air di lokasi budidaya rumput laut K. alvarezii sebelah barat yang merupakan perairan terbuka di minggu pertama sampai minggu keempat masih memenuhi kreteria untuk budidaya rumput laut. dan menurun pada minggu kelima sampai minggu kedelapan. Sedangkan di lokasi sebelah utara pulau Pari yang merupakan perairan tertutup, kualitas air buruk dari minggu pertama sampai minggu kedelapan. 2 Pertumbuhan Rumput laut K. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat (luar gobah) dan utara (gobah) pulau Pari tidak memenuhi pola pertumbuhan logistik normal mencapai biomassa maksimal. 3 Lokasi budidaya sebelah barat dari minggu ke1-ke4 masih mengalami pertumbuhan yang dipengaruhi oleh nitrat dan ortho pospat, Selanjutnya mulai minggu ke5-ke8 mengalami pengkroposan, sementara lokasi budidaya sebelah utara dari minggu k1-k8 biomassa rumput laut langsung mengalami pengkroposan. terlarut. 4 Karaginan sebagai indikasi kualitas rumput laut sebagai produk akhir di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari selalu mengalami penurunan. Pengkroposan biomassa rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari dipengruhi oleh suhu, arus dan oksigen

Saran
1 Perlu adanya penelitian terhadap karakteristik biofisik perairan selama beberapa tahun untuk mendapatkan data yang lebih akurat terhadap budidaya rumput laut K. alvarezii di pulau Pari. 2 Agar penyakit ice ice tidak meluas atau berkembang, maka kegiatan budidaya dihentikan selama kualitas air memburuk dan dilakukan penanaman bila kondisi perairan kembali mendukung usaha budidaya.

57

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto dan Liviawaty. 1993. Budidaya Rumput Pengelolaannya.Penerbit Bharatara, Jakarta.

Laut

dan

Cara

Ainsworth PA. and Blanshard JMV. 1980. Effect of Thermal Processing on Structure and Rheological of Carrageenan/Carob Gum Gels. Journal of Texture Studies 11 (149). Anggadiredja J, S Irawati, dan Kusmiyati. 1996. Potensi dan Manfaat Rumput Laut Indonesia dalam Bidang Farmasi. Seminar Nasional Industri Rumput Laut. Jakarta. p. 49-62. Anggoro S. 1994. Petunjuk Teknis Budidaya Laut. Direktorat Bina Sumber Hayati. Departemen Pertanian, Jakarta. Anonimous. 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Puslitbang Perikanan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Aslan LM. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Jakarta. Atmadja WS, A Kadi, Sulistijo dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi – LIPI, Jakarta. Atmadja WS dan Sulistijo. 1977. Usaha Pemanfaatan Bibit Stek Alga Laut Euchema spinosum (L) J. AGRADH di Pulau-pulau Seribu Untuk Dibudidayakan. Dalam: Teluk Jakarta, Sumberdaya, Sifat-sifat Oseanologis Serta Permasalahannya. Editor: M. Hutomo, K Romimohtarto dan Burhanudin. LON LIPI, Jakarta: hal 433-449. Bapeda Propinsi DKI Jakarta 2001. Pengelolaan Laut Lestari. Lembaga Penelitian ITB. Jakarta. Bengen DG. 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisa Data Biofisika Sumberdaya Pesisir. PKSPL –IPB Bogor. Besweni. 2002. Kajian Ekologi Ekonomi Pengembangan Budidaya Rumput Laut DI Kepulauan Seribu (STUDI KASUS DI GUGUSAN P. Pari). Thesis IPB. Bogor. Bold HC, and MJ Wynne. 1985. Introduction to Alggae Structure and Reproduction. 2nd ed. Englewood Cliffs NJ: Prentice-Hal, 706 pp. Chapman VJ. 1962. The Algae. Mc McMillan and Co Ltd. London. 383-411. Chapman V J. and DJ Chapman. 1980. Seaweeds and Their Uses. Third Edition. Chapman and Hall, London. N.Y.

58

-----------1987. The Production And Use of Eucheuma In Case Studies of Seven Commercial Seaweed Resources. M.S. Doty. J.F. Coddy and B.Santelices (Eds). FAO Fisheries Technical Paper 281. Dawes C J, A C Matheieson and D. P. Chenney, 1974. Ecological Studies of Floridean Eucheuma (Rhodophyta, Gigartinales. I. Seasonal Growth and Reproduction. Bull. Mar. Sci., 24 : 235 – 273. Dawes CJ. 1981. Marine Botany. John Wiley and Sons University of South Florida. New York. 268 p. Direktorat Jenderal Perikanan. 1992. Suatu Tinjauan Tentang Teknologi Produksi Jenis Rumput Laut Tropis yang Bernilai Ekonomis. 43 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 1997. Pedoman Teknis Pemilihan Lokasi Budidaya Rumput Laut. Ditjen Perikanan. Jakarta. 20 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 2004. Hama dan Penyakit Rumput Laut. Doty MS. 1971. Measurement of Water Movement in References to Benthic Algae Growth. Bot Mar. XIV; 32-35. ------------- 1973. Eucheuma Farming for Carrageenan. Univ. Hawai Sea Grant Report. UNIHI SEAGRANT-AR 73-02: 21. Durant NW and FR Sanford. 1970. Fhycocoloids. Berau of Commercial Fisheries Div. of Publ. Washington. Eidman HM. 1991. Studi Efektivitas Bibit Algae Laut (Rumput Laut), Salah Satu Upaya peningkatan Produksi Budidaya Algae Laut (Eucheuma sp). Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan. IPB. Emor DW. 1993. Peranan Unsur N dan P Bagi Pertumbuhan Rumput Laut di Perairan Pantai. Karya llmiah. Fakultas Perikanan-Universitas Sam Ratulangi, Manado. Furia TE. 1964. Food Hydrocollooids. Vol 1. CRS Press Inc. Boca Raton Florida. _______ 1981. Hand Book of Food Addives. 2nd. ed. Vol 1. CRC Pres. Florida. 308. Glickman M. 1969. Gum Technology in the Food Industry. Academic Press, New York. Guiseley KB, NF Stanley and F.M. Whitehouse. 1980. Carrageenan. Hand Book of Water Soluble Gums and Resins. R.L. Davids on (ed). Mc Grow Hill Book Company.N. Y. Toronto, London.

Hasil-Hasil pengamatan hidrologi di perairan sekitar Pulau Lancang. Overseas Tecnical Cooperation Agency Govermment of Japang. Hutabarat J. Bogor. Tesis Program Studi Ilmu Perairan. Algae Physiology and Biochemstry. Melbourne. M. 320 p. Limnologi. Tingkat Keberhasilan Transplantasi Karang Batu pada Lokasi yang berbeda di Gugus Pulau Pari Kabupaten Pulau Seribu. T. Kolang M. Ilahude AG dan Liasaputra. Tesis Program Studi Ilmu Kelautan. Jakarta. L1 W. LON LIPI Jakarta. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. dan H Korah. New York. California Sea Grant. 10. Kimia dan Geologi Tahun 1975 – 1979. Jepara. Kuhl A. Penuntun Praktikum dan Analisa Kualitas Air. Program Pascasarjana IPB. Tokyo. PT. 1995. Penebar Swadaya. Dinas Perikanan Sulawesi Utara. 1977. Bogor Hirao S. Kusdi HIK. PPPO LIPI Jakarta. 1971. London. Blackwell Scientific Publications. 2001. College Program Publ. Produksi. Budidaya dan Pasca Panen. Kastoro. Depok.). 1996. Fakultas Perikanan IPB. 1982. Hunter WD. Workshop Budidaya Laut: Evaluasi Kondisi Bio Hydrography dalam Penentuan Lokasi Budidaya Laut. Edinburgh. Botanical Monographs. Inc. 1980. FE Fackard and WT Doyle. X Lalu. Yokoseki (Eds). Co. Oxford. Manado. Bogor Kadi A dan WS Atmadja. 14 hal. Naguchi. 1974. Hirao. Program Pascasarjana IPB. Penelitian Adaptif Peningkatan Mutu Rumput Karagenopit dengan Pencucian Alkali. Budidaya. Panduan Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. S. 2004. Sebaran Normal Parameter Hidrologi di Teluk Jakarta. T. Indriani H dan E Sumiarsih. A. Rumput Laut (Algae) Jenis. Kajian Pertumbuhan. IPB (1997). 1999. Phosphorus. 1981. In Okada.. Reproduksi. Produksi Rumput Laut Eucheuma cotoni dan Kandungan Karaginan di Perairan Maluku Utara. D. Ismail A. Suzuki and M.Laut. Vol. INN Suryadiputra dan Widigdo. 1988. p:G36-654. Stewart (Ed.59 Hansen JE. MacMillan Publ. 1970 Aquatic Productivity. Johan O. Jakarta. Seaweed in Untilization of Marine Products. 1992. . Marine Culture of Red Seaweeds. Pengelolaan dan Pemasaran Rumput Laut. Haryadi S. P. Pengkajian Fisika. E.

Pengaruh Senyawa Hidroksida dan Usia Tanam Terhadap Kualitas Bahan Baku Rumput Laut. . Pen.P. London. Patogenitas Beberapa Isolat Bakteri Terhadap Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Asal Pulau Pari. Kajian Intensifikasi dan Analisis Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii di Desa Bentenan-Tumbak Kecamatan Belang Propinsi Sulawesi Utara. Algal Physiologi and biochemisty. Nasution MH 2005. Faktor Lingkungan Budidaya Rumput Laut di Desa Serey Kecamatan Likupang Minahasa. 1998. Luning K. New York. 1993. Patadjai RS. 1990. Melboume. Jakarta. Ngangi ELA. Laut Nusantara. Bull. Inc. Mukti ED. Ekstraksi Analisa Sifat Fisika Kimia Karaginan dari Rumput Laut Laut Jenis Eucheuma cottonii. Pengaruh Pupuk TSP Pertumbuhan dan Kualitas Rumput Laut Gracilaria gigas Harv. Inc. Prosesing Temu Karya Ilmiah Pasca Panen Rumput Laut. Their Environment. Oxford. In W. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Seaweed. Edinburgh. Ngangi ELA. Bogor. Cambridge Univ. Perikanan. 1981. The Regulation of Morphological Plasticity on Tropical Reef Algae by Herbivor. 493p. Stewart (Ed). Morris I. PJ Harison. Ecology 68 pp. 2001. John Wiley and Sons. Pacitan dan Kemungkinan Pengembangannya. Biogeography and Ecophysiology. Penerbit Djambatan. Jakarta. Laporan Penelitian Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi. Nitrogen Asimilation and Protein Synthetis. I(2) : 157-166. Tesis Program Studi Ilmu Perairan. P:583-609. Moore AB. Kepulauan Seribu. Vol 10. Press New York. Botanical Monographs. A Wiley Interscience Publication.1987. Mubarak H dan I Wahyuni. Blackwell Scientific Publication. Tesis Program Studi Ilmu Kelautan. Jusuf dan JD Kusen. Program Pascasarjana IPB. . Percobaan Budidaya Rumput Laut di Perairan Lorok. Lobban CS.60 Lewis SM. Bogor. Fateta IPB Bogor. NY. Program Pascasarjana IPB. Noor DZ 1991. 1958. 1994. Nontji 1993. Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakrata. Lembaga Penelitian Perikanan Laut.D. Seaweed Ecology and Physiology. Marine Ecology. 1974. JN Norris and RB Searles 1987. Manado. John Wiley and Sons.

1352 – 1260. San Francisco Academy of Sceincer. 1981. Jakarta. 2000. PT. AC Neish. Produksi dan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. 5 (1) : 59. Desember 1997. 2000. Kandungan Karaginan Eucheuma pada Berbagai Usia Panen. Terjemahan Diah. Ujung Pandang. Sanderson GR. Sharma SC. Edinburg Scottl and 24: 279-282 Reen DW. PF Shacklock and DR Robon. Simpson FJ. Semarak Rumput Laut di Pulau Tidung. Food Technology 35 (7) : 50. Botanica Marina 21:229-235. Penerbit ITB. In Advance Carbohydrat Chemistry. RL dan Sumaryono. Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Budidya Sumberdaya Perikanan Sebagai Perwujudan Konsep Benua Maritim Indonesia. Phylosaccharides in Foods. Summary Report. Trubus No. Silva PC. Studies on Heterogenity of Carrageenan. National Academic Press. Cataloque of the Benthic Marine Algae of the India Ocean. Thn XXX. In San Francisco Bay. Ed. Gramedia Indonesia. 1996. 1996.1969. The Binthic Algae Flora of Central San Francisco Bay. Fisiologi Tumbuhan. Structure Confirmation and Mechanism in the Formation of Polysaccharide Gels and Net Works. Bandung: 584 hal. Jakarta. . Soegiarto A dan Sulistio 1985. Maret 200. Rees DA. Satari R. Gum and Hidrocolloids in Oil Water Emultions. Uses of Marine Algae in Biotechnology and Industry. 364. 30 . 1998. 1992. 754 hal. Univ.C. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. 1978. AN Hiiel and AS Fenin. Yayasan Sosial Tani Membangun. Silva PC. Of California Press. Rumput Laut: Komoditas Unggulan. The Urbanized Estuary (pp 287-345). 1979. 1981. 1955. J. 1986.61 Rahardjo A. Biochemistry. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Can. Semangun H. Salisbury FB dan CW Ross. Smith DF. Washington D. Food Technology. Chem. Sediadi dan Budihardjo U. LON-LIPI Jakarta. The Cultivation of Chondrus Crispus Effect of pH and Growth and Production of Carrageenan. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II. Basson PW and Moe RL. Workshop on Marine Algae Biotechnology.

Perkembangan Budidaya Rumput Laut di Indonesia.L. 1973. Bd . 171 188. 2nd ed. Potensi dan Usaha Budidayanya. LON-LIPI. Program Rehabilitasi dan Pengelaan Trumbu Karang. 310 pp [4. Hal 120-151. Mubarak. The Harfest Quality of alvarezzi Culture by Floating Method in Pari Island North Jakarta. Jurnalisti. Soerjodinoto. . Rumput Laut (Algae): Manfaat. Pari. Trono GC. 1992. Kajian Sifat . Thesis IPB. Strickland dan Parson 1968. Trono GC. Bogor.2002.6. Suatu Tinjauan Tentang Tehnologi Produksi Jenis Rumput Laut Tropis yang Bernilai Ekonomis. R. Supit SD.1996. Nitrogen assimilation in: R. Suryaningrum TD. Academik Press. Dirjen Perikanan Jakarta. N. Y. --------.62 Soegiarto A. Fortes 1988. Jakarta. Fish . Miller.5. WS Atmadja. Manila. Towle GA.Sifat Mutu Komoditi Rumput Laut Budidaya Jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. Bogor. 1962. 1989. Permasalahan dan Pengelolaan Trumbu Karang di Indonesia. Skripsi Fakultas Pertanian IPB. Wistler and Be. 100 hal. 1988. Karakteristik Pertumbuhan dan Kadungan Keragenan Rumput Laut Eucheuma alvarezii yang Berwarna Abu-abu. A. Suharsono. 167.3]. Research and Development Center for Oceanology Indonesia Institut of Science. Jakarta. Jakarta. Sulistijo dan H. Canada Bull. Penelitian Budidaya Rumput Laut (Algae Makro/Seaweed) di Indonesia. Trorino dan F. Jakarta. Coklat dan Hijau yang Ditanam di goba Labangan Pasir P.2. Dalam. Jakarta.7. Philippine Seaweeds. Pengenalan Jenis-Jensi Runput Laut. 1994. Sulistijo. National Book Stone Inc. Puslitbang Oseanologi LIPI. Dit.. London.G. 1968. New York. S. Syret PJ. Hidral. 1978. Res. 1986.1. --------. Jakarta. (eds) Academic Press. A Practical Handbook of Seawater Analysis.N. Pidato Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Akuakultur Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Carrageenan In Industrial Gums. Levin and Phisiology and Biochemisty of Alge. Masalah Kultivasi Eucheuma di Pseudo Atol pulau Pari.

Press National. Zatnika A. The “Ice ice” Problem in Seaweed Farming. Teknologi Budidaya Rumput Laut. International Seaweed Syimposium 10 : 625-630. Laboratorium Ilmu-ilmu Kelautan UI IPB dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI). 1996. 1981. Winarno F G. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. University of Singapore. J. 1988. Gel Strenght of Kappa-Carrageenan as Affected by Cation. 1968. Proc. Food Sci : 12 : 91 . Zatnika A dan Angkasa WI. Zabil ME and J Ridrich. 1994. Seaweed of Singapore. Wei FL and WY Chin. LS Sanmiel and GS Jacinto. Singapore University. . Prospek Pengembangan Rumput Laut di Indonesia Dalam Seminar Laut Nasional II.97. Makalah pada Seminar Pekan Akuakultur V.63 Uyenco F. Kantor Menteri Negara KLH. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. 1983.tim Rumput Laut BPP Teknologi Jakarta.

38 6.3 8.1726 0.3 0.0097 0.24 4.1821 0.01032 0.88 6.125 0.1706 0.1193 0.0 0.76 2.0080 8 31 32.2 5.2 30 31.0070 1 27.5 2.0060 7 30 31.194 0.0080 0.0070 .240 0.0070 Rata-rata 28.170 0.0090 0.136 0.8 31.2 27 29 29.2 0.1803 0.02 2.1 8.01118 0.116 0.1821 0.4 31.1811 0.0112 0.208 0.76 4.71 31.272 0.0080 0.121 0.8 3.52 2.0105 0.1736 0.3 2.8 6.96 2.25 8.0102 0.208 0.0094 0.65 Lampiran 1 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Parameter kualitas air Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) Nilai parameter kualitas air pada minggu ke… 2 3 4 5 6 27.126 0.4 0.18 6.182 0.0 0.56 5.172 0.0106 0.1803 0.24 5.6 31.6 3.52 8.14 2.0070 0.1998 0.152 0.122 0.3 8.52 4.3 8.6 31.59 2.3 8.2 5.1721 0.08 2.0074 0 27.1190 0.8 31.5 4.1772 0.6 5.1 8.118 0.96 2.2 8.4 32 5.0113 0.01098 0.1225 0.3 2.1 3.25 2.18 0.74 6.34 8.

21 7.68 2.89 4.1097 0.1113 0.9 1.0047 8 31.74 1.0061 0.2 31.9 1.15 7.0041 30.94 4.8 1.80 2.25 7.14 4.0046 31.21 7.10 4.62 4.0061 0.0108 0.0109 0.0059 0.1099 0.0053 30.1098 0.2 0.0108 0.3 0.0062 0.3 0.74 4.2 31.0109 0.4 31.4 31.2 31.3 1.90 2.1109 0.1802 0.3 0.0108 0.1814 0.66 Lampiran 2 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari Parameter kualitas air Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) 0 30.0052 30.1099 0.3 0.1813 0.0109 0.74 2.0048 Rata-rata 7 31.58 2.0061 0.0049 .25 7.0060 0.1814 0.1114 0.56 31.4 0.70 2.25 7.63 2.25 7.0110 0.86 2.0108 0.1812 0.1111 0.0054 Nilai parameter kualitas air pada minggu ke… 2 3 4 5 6 30.66 3.1714 0.25 7.2 31.0 31.0053 1 30.94 4.82 2.1 0.5 1.1812 0.1814 0.1105 0.0059 0.0059 0.1813 0.0 32.24 7.23 7.58 2.2 0.90 4.4 31.0056 0.4 2.0059 0.96 4.9 1.0108 0.6 1.2 0.0049 30.3 0.0110 0.1104 0.4 2.1813 0.

9200 2.9200 2.7051 3.9200 2.7500 1.7500 99% 2.9200 Simpulan ** ** ** ** ** ** tn ** ** tn tn ** = sangat nyata tn = tidak nyata .7500 1.5856 11.1212 20.0004 0.7500 1.5900 17.7500 1.9200 2.67 Lampiran 3 Hasil uji t terhadap parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode Mei sampai Juni 2005.7500 1.1938 Hasil Uji t-tab 95% 1.9200 2.7500 1.1229 0.9675 4.9200 2.9200 2. Parameter Arus Kecerahan Suhu pH Salinitas DO Nitrat Ortho-P Amonia Nitrit Total-P Ket t-hit 44.9200 2.7500 1.7500 1.7500 1.3814 3.9200 2.5742 31.7500 1.4133 0.9200 2.

5 154.6 1306 130.9 190.84 6 184.5 155.5 1562 2063 1907 135.5 7 153.5 146.8 138.3 1250 1268.05 156.9 162.9 208.3 125 126. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Pengamatan (minggu) 2 3 4 5 135.9 137.8 132.8 125 130.9 159.5 206.5 155.6 1350.2 139.3 204.9 163.5 105.5 125 125.9 1502 150.2 126.3 192.6 .5 152.6 137.4 125 126.2 127.8 143.8 157.5 186 1805 180.7 197.5 133.5 127.7 138.8 157.6 187.9 200 185.3 207.5 125 126.4 189.5 146.4 132.7 131.9 186.6 128.6 215.9 196.2 8 134.6 151.3 133.3 190.7 0 1 125 127.4 159.5 220.5 203.8 157.1 130.4 125 126.7 188.6 153.2 206.5 134.6 209 196.68 Lmpiran 4 Hasil pengukuran bobot basah K.8 176.6 128.5 125 126.8 125 127 125 126.5 182.8 193.5 208.3 185.7 154.5 153.3 125 125.5 178.4 133.3 174.5 195 132.

5 114.5 20.5 313 31.9 32.3 101.6 105.9 109.5 111.2 114.5 50.9 47.8 46.7 102.9 76.7 114.7 113.9 56.6 116.3 50.7 43.5 28.1 8 41.8 441 44.5 74.7 116.5 48.5 60.5 93. alvarezii setiap minggu di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.8 65.69 Lampiran 5 Hasil pengukuran bobot basah K.5 89.9 82.0 43.5 97.3 .9 39.5 22.4 39.5 68.5 114.0 85.5 115.6 77.0 103.7 96.8 106.4 7 53.0 100.9 10.7 100.0 98.7 12.5 114.5 112.5 6 69.7 71.3 112.9 49.0 584 58.7 Pengamatan (minggu) 2 3 4 5 114.9 100.7 111.7 85.6 108.7 71.8 56.0 105.8 68.5 74.9 26.5 37.8 1113 1015 897 715 111.6 98.5 35.8 78.7 70.9 87.7 99. Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Rata-rata 0 125 125 125 125 125 125 125 125 125 125 1250 125 1 115.7 80.9 42.4 114.3 35.2 81.5 104.4 1137 113.7 53.5 113.5 91.4 61.

96 120.70 Lampiran 6 Hasil uji t terhadap bobot basah.18 6.10 2.75 1.55 2.42 4.13 7.92 2.10 2. Bobot basah (Minguan) 1 2 3 4 5 6 7 8 Ket ** = sangat nyata * = nyata t-hit 6.55 2.75 1.10 99% 2.92 2.30 JHasil Uji t-tab 95% 2.42 Hasil Uji t-tab 95% 1.55 2.54 7.10 2. kadar air dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode Mei sampai Juni 2005.10 2.10 2.52 2.10 2.55 2.75 99% 2.55 Simpulan ** ** ** ** ** ** ** * Parameter Karaginan Kadar abu Kadar air Ket t-hit 26.92 Simpulan ** ** ** ** = sangat nyata .55 2.27 8.55 2.28 63. Kandungan karaginan.10 2.36 5.55 2.

2 16.2 21.9 19.1 156.08 22.1 1.55 26.3 Bobot basah (g) 125 113.2 22.3 82.89 1.71 Lampiran 8 Kandungan karaginan.5 58.0 Kadar Abu (%) 17.9 3.8 13.7 Kandungan Karaginan (%) 8.2 21.32 1.23 4.6 155.6 4.26 23.88 22.06 Kadar Abu (%) 16.9 3.8 13.68 Kadar Air (%) 20.4 44.0 126.24 23.6 9.8 16.2 22.1 31.5 10.6 21.7 71.23 26.7 180.5 8.2 206.99 20.2 130.3 21.8 20.21 23 25.3 101.52 7. kadar air dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari (a) Pengamatan (minggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata (b) Pengamatan (minggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata Bobot basah (g) 125.82 23.9 Kadar Air (%) 20.2 13.5 150.25 6.7 111.99 7.78 20.7 9.2 21.24 21.8 19.6 22.78 .1 19.23 20.3 190.9 20.12 20.21 22.1 23.8 135.5 21.8 20.5 89.94 Kandungan Karaginan (%) 8.54 25.4 21.1 21.6 20.

63 F3 0.16 4.188 0.923 0.875 F3 -0.193 0.06 41.91 7.98 2.808 -0.45 0.03 0.34 16.07 0.803 0.30 .091 0.50 14.006 -0.702 0.954 -0.66 3.19 2.255 0.096 -0.76 1.27 0.126 -0.92 0.215 0.82 10.60 13.06 2.73 12.768 -0.55 0.199 0.482 -0.28 0.055 0.51 0.53 4. Akar ciri representasi ragam pada sumbu utama Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 Akar Ciri 6.28 3.083 -0.94 9.00 0.57 0.03 16. F1 13.93 1.72 Lampiran 9 Hasil analisis komponen utama lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari A. Korelasi antara variabel dengan sumbu utama F1 Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) -0.66 3.45 Kumulatif % 56 72 85 93 97 99 100 100 C.105 0.89 8.04 12.92 0.22 0.955 0.12 12.20 1.153 0.030 0.437 0.61 0.57 1.74 2.47 12.568 0.89 39.441 0.05 %Total ragam 56.068 B.55 F2 0.44 0.264 -0.915 0. Kontribusi antara variabel pada sumbu utama Variabel Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) .513 -0.20 42.194 F2 0.276 0.38 0.14 7.974 0.

5 -1 -1.5 -1 -0.5 -1.5 1 1.5 0 0.5 -.5 -1.5 Amoniak (mg/l) Salinitas pH Suhu Nitrat Arus DO 0 Kec Nitrit -0.5 1 1.5 -1 -0.5 0 0.5 -.axis F2 (17 %) --> 0.axis F1 (53 %) --> .5 1 Kec Total-P -. Sebaran kualitas air (F1 x F2) dan Korelasi antara Variabel (F1 x F3) di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Variables (axis F1 and F2: 71 %) 1.73 D.5 Salinitas Nitrit Amoniak (mg/l) Suhu pH Nitrat Ortho-P DO Arus 0 -0.axis F1 (53 %) --> Variables (axis F1 and F3: 67 %) 1.5 1 Ortho-P Total-P -.axis F3 (14 %) --> 0.5 -1 -1.

857 0.240 5.209 1.969 17.372 0.81 100.140 1. Korelasi antara variabel dengan sumbu utama Parameter Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) F1 0.099 0.234 0.673 0.87 65.230 0.62 8.466 2.186 -0.275 1.010 14.406 6.544 23.603 29.018 7.122 0.603 -0.66 80.74 Lampiran 10 Hasil analisis komponen utama lokasi budidaya sebelah utara pulau Par i A.343 0.987 0.557 6.324 -0.547 16.451 0.720 0.313 1.208 F3 -0.201 B Akar ciri representasi ragam pada sumbu utama Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 %Total Ragam 44.393 18.142 13.115 2.191 0.906 -0.00 C Kontribusi antara variabel pada sumbu utama Parameter Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) F1 15.57 99.10 99.023 -0.855 -0.079 2.224 0.53 0.018 20.87 20.526 -0.19 Kumulatif % 44.307 .083 0.681 8.562 8.555 -0.622 F2 4.22 6.037 0.360 0.406 1.711 0.758 9.718 -0.205 0.629 -0.737 F3 0.80 14.693 0.149 29.540 0.761 0.887 F2 0.328 0.07 4.564 0.28 88.273 5.570 0.576 5.50 94.71 0.

5 1 1.5 -1.5 1 Total-P Nitrat -.75 D.5 1 Nitrit -.5 -1 -0.axis F3 (15 %) --> 0.5 -1 -1. Variables (axis F1 and F2: 66 %) 1.5 -1.5 -.5 -. Sebaran kua litas air (F1 x F2) dan (F1 x F3) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.5 pH Nitrat -1 -1.5 pH Arus DO Ortho-PSalinitas 0 Nitrit Kec Amoniak (mg/l) Suhu -0.5 0 0.axis F1 (45 %) --> .5 DO Salinitas 0 Ortho-P Arus Total-P Amoniak (mg/l) Kec Suhu -0.axis F2 (21 %) --> 0.5 0 0.5 -1 -0.axis F1 (45 %) --> Variables (axis F1 and F3: 59 %) 1.5 1 1.

019 -7.001 0.9 F 115.1 13.001 Persamaan Regresi : BB = 1852 .001 0.70 P 0.11 -9.89 P 0.691 -10.2 55.9 MS 1613.7 4894.3 62.78 -9.477 0.800 1.3 -34.44 233.000 0.23 1550. dengan suhu.002 0.7888 SE Coef 166.000 SE Coef 48.1 7505.76 Lampiran 12 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dengan unsur hara (nitrat.9 14596 SS 7194.06 P 0.79 Arus .9% Predictor Constant Suhu Oksigen Arus DF 3 4 7 SS 4839.7 3.6 MS 3597.7 Suhu .6 5 311.8601 T 11.34.66 6.7.281 + 1551 nitrat + 14596 ortho-P (minggu ke5-ke8) Source Regression Residual Total R-Sq = 98.0 2179 T -5.10 Oksigen .2 F 57.000 Coef 1852.13 -6.001 Persamaan Regresi : BB = . arus dan oksigen terlarut minggu ke5-ke8 di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari (minggu ke1-ke4) Source DF Regression 2 Residual 5 Total 7 R-Sq = 83% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Coef -281.002 0.82 P 0.81 6. ortho pospat) minggu ke1-ke4.

993 3.008 0.8) Source Regression Residual Total R-Sq = 99% Predictor Constant Suhu Oksigen Arus DF 3 4 7 SS 1786.08 2.143 25.1 suhu + 25.61 4. arus dan oksigen di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari (minggu ke1-ke4) dan (minggu ke5-ke8) (Minggu 1 .48 F 71.2% Predictor Constant Suhu Arus Oksigen DF 3 4 7 SS 317.335 SE Coef 307 10.733 T -3.4) Source Regression Residual Total R-Sq = 98.10 4.49 1805.33 MS 595.008 Persamaan Regresi : BB = -981 + 19.3 suhu + 4.52 oksigen (Minggu 5 .001 Coef -980.5211 1.24 MS 105.2 8.24 -3.329 0.62 F 128.524 SE Coef 318.7419 8.84 18.77 1.31 9.85 4.3 arus .7 19.001 0.037 0.003 Persamaan Regresi : BB = -1489 + 45.27 P 0.6.10 -6.92 P 0.08 6.43 P 0.30 5.14 oksigen .279 4.74 arus + 8.000 Coef -1489.94 323.037 0.013 0.2 45.83 P 0.938 T -4.77 Lampiran 12 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dengan suhu.63 1.042 0.

11 0.29 4.35 P 0.536 0.78 Lampiran 13 Analysis of Variance hubungan karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Barat Source Regression Residual Error Total R-Sq = 84.277 MS 17.67 39.22 4321 -276.018 Coef 21.07 P 0.1 SE Coef 32.860 2.130 0.64 1283 204.352 3.020 0.913 0.6% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Amonia DF 3 5 8 SS 53.581 13.786 MS 34.055 18.035 Coef -149 252.52 P 0.66 1.60 21.6% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Amonia DF 3 5 8 SS 103.696 67.007 0.1 T 0.1 1391 7060 T -0.731 121.746 F 9.5 6049 527 SE Coef 1293 856.35 0.739 F 6.780 0.234 Utara Source Regression Residual Error Total R-Sq = 79.943 .17 P 0.81 3.37 -1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->