Anda di halaman 1dari 12

BERANDA TENTANG SITUS KONTRIBUTOR BERGABUNG MITRA KAMI KONTAK

Nama:
Daftar Lupa kata kunci?

Password:

Login

Artikel Info Latihan Tanya Pakar Tokoh Kimia Materi Belajar Tabel Periodik Reaksi Organik
Tuesday, February 19, 2013 5:24

Cari Artikel

RSS Artikel RSS Komentar

Go

Beri Rating: Sebarkan:


Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Custom Color(RGB(50,89,216)), Border: : (No border)

Validasi Metode Analisis


Kata Kunci: akurasi, batas Deteksi, Batas Kuantitasi, Kecermatan,kekuatan, keseksamaan, Ketangguhan metode, Linearitas, Spesifisitas,validasi Ditulis oleh Wahyu Riyadi pada 24-03-2009

Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Custom Color(RGB(50,89,216)), Border: : (No border)

Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya. Validasi biasanya diperuntukkan untuk metode analisa yang baru dibuat dan dikembangkan. Sedangkan untuk metode yang memang telah tersedia dan baku (misal dari AOAC, ASTM, dan lainnya), namun metode tersebut baru pertama kali akan digunakan di laboratorium tertentu, biasanya tidak perlu dilakukan validasi, namun hanya verifikasi. Tahapan verifikasi mirip dengan validasi hanya saja parameter yang dilakukan tidak selengkap validasi. Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode analisis adalah sebagai berikut: 1. Accuracy (Kecermatan) Accuracy adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya. Accuracy dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Accuracy dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery) atau metode penambahan baku (standard addition method). Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan murni ditambahkan ke dalam plasebo (semua campuran reagent yang digunakan minus analit), lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar standar yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya). Recovery dapat ditentukan dengan cara membuat sampel plasebo (eksepien obat, cairan biologis) kemudian ditambah analit dengan konsentrasi tertentu (biasanya 80% sampai 120% dari kadar analit yang diperkirakan), kemudian dianalisis dengan metode yang akan divalidasi. Tetapi bila tidak memungkinkan membuat sampel plasebo karena matriksnya tidak diketahui seperti obat-obatan paten, atau karena analitnya berupa suatu senyawa endogen misalnya metabolit sekunder pada kultur kalus, maka dapat dipakai metode adisi. Dalam metode adisi (penambahan baku), sampel dianalisis lalu sejumlah tertentu analit yang diperiksa (pure analit/standar) ditambahkan ke dalam sampel, dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya (hasil yang diharapkan). Pada metode penambahan baku, pengukuran blanko tidak diperlukan lagi. Metode ini tidak dapat digunakan jika penambahan analit dapat mengganggu pengukuran, misalnya analit yang ditambahkan menyebabkan kekurangan pereaksi, mengubah pH atau kapasitas dapar, dll.

Dalam kedua metode tersebut, recovery dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang sebenarnya. Biasanya persyaratan untuk recovery adalah tidak boleh lebih dari 5%. 2. Precision (keseksamaan) Precision adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Presicion diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi). Precision dapat dinyatakan sebagai repeatability (keterulangan) atau reproducibility (ketertiruan). Repeatability adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. Repeatability dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal. Reproducibility adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium-laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan analis yang berbeda pula. Analisis dilakukan terhadap sampel-sampel yang diduga identik yang dicuplik dari batch yang sama. Reproducibility dapat juga dilakukan dalam laboratorium yang sama dengan menggunakan peralatan, pereaksi, dan analis yang berbeda. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif (RSD) atau koefisien variasi (CV) 2% atau kurang. Akan tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel, dan kondisi laboratorium. Dari penelitian dijumpai bahwa koefisien variasi meningkat dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis. Ditemukan bahwa koefisien variasi meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi analit. Pada kadar 1% atau lebih, standar deviasi relatif antara laboratorium adalah sekitar 2,5% ada pada satu per seribu adalah 5%. Pada kadar satu per sejuta (ppm) RSDnya adalah 16%, dan pada kadar part per bilion (ppb) adalah 32%. Pada metode yang sangat kritis, secara umum diterima bahwa RSD harus lebih dari 2%. Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit enam replika sampel yang diambil dari campuran sampel dengan matriks yang homogen. Sebaiknya keseksamaan ditentukan terhadap sampel sebenarnya yaitu berupa campuran dengan bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) untuk melihat pengaruh matriks pembawa terhadap keseksamaan ini. Demikian juga harus disiapkan sampel untuk menganalisis pengaruh pengotor dan hasil degradasi terhadap keseksamaan ini. 3. Selektivitas (Spesifisitas) Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam

matriks sampel. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan. Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi. Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya. Jika cemaran dan hasil urai tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat diperoleh, maka selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara menganalisis sampel yang mengandung cemaran atau hasil uji urai dengan metode yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian seperti kromatografi, analisis kelarutan fase, dan Differential Scanning Calorimetry. Derajat kesesuaian kedua hasil analisis tersebut merupakan ukuran selektivitas. Pada metode analisis yang melibatkan kromatografi, selektivitas ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs). 4. Linearitas dan Rentang Linearitas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima. Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit. Dalam beberapa kasus, untuk memperoleh hubungan proporsional antara hasil pengukuran dengan konsentrasi analit, data yang diperoleh diolah melalui transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis regresinya. Dalam praktek, digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya antara 50 150% kadar analit dalam sampel. Di dalam pustaka, sering ditemukan rentang konsentrasi yang digunakan antara 0 200%. Jumlah sampel yang dianalisis sekurang-kurangnya delapan buah sampel blanko. Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX. Hubungan linier yang r = +1 atau 1 bergantung pada arah garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy). Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan matematik tersebut dapat diukur

5. Batas Deteksi (Limit of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quatification) Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan Q = (k x Sb)/Sl Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi) k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi Sb = simpangan baku respon analitik dari blangko Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope (b pada persamaan garis y = a+bx) Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada persamaan garis linier y = a + bx, sedangkan simpangan baku blanko sama dengan simpangan baku residual (Sy/x.) a. Batas deteksi (LoD) Karena k = 3, Simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka: LoD = (3 Sy/x)/ Sl b. Batas kuantitasi (LoQ) Karena k = 10, Simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka: LoQ = (10 Sy/x)/Sl Cara lain untuk menentukan batas deteksi dan kuantitasi adalah melalui penentuan rasio S/N (signal to noise ratio). Nilai simpangan baku blanko ditentukan dengan cara menghitung tinggi derau pada pengukuran blanko sebanyak 20 kali pada titik analit memberikan respon. Simpangan baku blanko juga dihitung dari tinggi derau puncak ke puncak, jika diambil dari tinggi puncak derau atas dan bawah (Np-p) maka s0 = Np-p/5 sedangkan kalau dari puncak derau bawah saja (puncak negatif) maka s0 = Np/2, selanjutnya perhitungan seperti tersebut di atas. 6. Ketangguhan metode (ruggedness) Ketangguhan metode adalah derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis sampel yang sama dalam berbagai kondisi uji normal, seperti laboratorium, analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu, hari yang berbeda, dll. Ketangguhan biasanya dinyatakan sebagai tidak adanya pengaruh

perbedaan operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji. Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi operasi normal antara lab dan antar analis. Ketangguhan metode ditentukan dengan menganalisis beningan suatu lot sampel yang homogen dalam lab yang berbeda oleh analis yang berbeda menggunakan kondisi operasi yang berbeda, dan lingkungan yang berbeda tetapi menggunakan prosedur dan parameter uji yang sama. Derajat ketertiruan hasil uji kemudian ditentukan sebagai fungsi dari variabel penentuan. Ketertiruan dapat dibandingkan terhadap keseksamaan penentuan di bawah kondisi normal untuk mendapatkan ukuran ketangguhan metode. Perhitungannya dilakukan secara statistik menggunakan ANOVA pada kajian kolaboratif yang disusun oleh Youden dan Stainer. 7. Kekuatan (Robustness) Untuk memvalidasi kekuatan suatu metode perlu dibuat perubahan metodologi yang kecil dan terus menerus dan mengevaluasi respon analitik dan efek presisi dan akurasi. Sebagai contoh, perubahan yang dibutuhkan untuk menunjukkan kekuatan prosedur HPLC dapat mencakup (tapi tidak dibatasi) perubahan komposisi organik fase gerak (1%), pH fase gerak ( 0,2 unit), dan perubahan temperatur kolom ( 2 3 C). Perubahan lainnya dapat dilakukan bila sesuai dengan laboratorium. Identifikasi sekurangkurangnya 3 faktor analisis yang dapat mempengaruhi hasil bila diganti atau diubah. Faktor risinal ini dapat diidentifikasi sebagai A, B, dan C. Perubahan nilai faktor-faktor ini dapat diidentifikasi dengan a, b, dan c. Lakukan analisis pada kondisi yang telah disebutkan pada pemeriksaan ketangguhan. Nilai Penetapan faktor eksperimental #1 #2 #3 #4 A atau a A A a a B atau b B b B b C atau c C c c C Untuk menentukan efek perubahan A, banding rata-rata hasil (#1 + #2)/2 dengan (#3 + 4)/2, Untuk efek perubahan B, bandingkan (#1 + #3)/2 dengan (#2 +#4)/2 dan seterusnya.

Kata Pencarian Artikel ini:

validasi metode, validasi metode analisis, METODE VALIDASI, linearitas adalah, validasi metode analisa, validasi metode analisis pdf, validasi analisis, parameter validasi metode analisis, accuracy adalah, validasi metode adalah Cari Artikel
Go

Artikel ini termasuk kategori: Kimia Analisis dan memiliki 13 Komentar sejauh ini .
Anda dapat mengikuti perkembangan artikel melalui RSS 2.0 feed .

Formatted: Font: (Default) Verdana, 12 pt, Font color: Custom Color(RGB(50,89,216)), Border: : (No border)

Anda dapat mengirimkan komentar , atau taut balik dari situs pribadi .
Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

neil edwin says:

March 28, 2009 at 11:47 am

ass.. mav sya mau komen untuk memvalidasi zat kimia itu foodgrade pa tidaknya gmna,,ex: isopropanol sya lum tau apakh aman digunakan untuk pelarut pa tidak

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

Wahyu Riyadi says:

March 30, 2009 at 3:22 pm

maksud untuk memvalidasi di sini untuk mengetahui bukan?? kalau untuk mengetahui apakah suatu bahan foodgrade atau tidak, tanyakan saja ke supliernya langsung. Misalnya isopropanol. Coba diliat product numbernya, lalu tanyakan isopropanol dengan product number sekian apakah foodgrade atau tidak.. kalau ada yang bisa menambahkan, silahkan..

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

NurFa IcHa says:

October 15, 2009 at 6:12 pm

sy tertarik dengan artikel andakl bs tolong anda jelaskan lebih mendalam dengan contoh yang lebih konkret ttg parameter Kekuatan (Robustness) dlm validasi metode analisis

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

Eries says:

October 23, 2009 at 11:22 am

Pak say mau tanya lab analisis kimia yang ada di Jakarta dimana yah saya mau membuat campuran kimia Terima kasih atas jawaban dan bantuannya

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

arif says:

November 17, 2009 at 3:41 pm

mas kok kata2nya persis sama kaya buku Analisis Fisiko Kimia karangan Dr.Harmita, Apt dosen saya..???? tolong kalo nulis artikel ditulis loh sumbernya, mohon diperhatikan karena penting biar gak melanggar hak cipta

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

wahyu says:

February 18, 2011 at 4:07 pm

mas Arif, tulisan ini adalah hasil translate dari sebuah artikel berbahasa inggris, sama sekali bukan copas dari buku analisis fisika kimia, Dr Harmita. Apabila ada kemiripan kata2, barangkali dosen anda menggunakan sumber yang sama saat menulis bukunya.

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

Iwan Setiawan says:

December 4, 2009 at 3:59 pm

Apa bedanya LOD dan LOQ? Minta contohnya dong?

Reply

Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

handono says:

January 14, 2010 at 5:02 am

YTH Pengasuh / moderator chemistry, saya mohon penjelasan : saya akan melakukan uji coba pembuatan pupuk dari bahan pospat dari alam saya akan jadikan kosentrasi yang tinggi sampai kadar 30 % kandungan pospat alam 10-15%, dan juga akan saya gunakan untuk pembuatan pupuk NPK denagan kadar N12-P12-K12 tentu proses ini tdk mempengaruhi kerusakan pada tanah dsb. dan apabila tau tentang buku pembuatan dengan analisa chemical yang tepat kami mengucapkan terima kasih

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

UTAMI DEWI says:

March 21, 2010 at 8:14 pm

sang membntu nehg bwt tgs kmpuuusss

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

dian says:

December 8, 2010 at 8:44 pm

Mohon pencerahannya untuk validasi metode analisa kjeldahl pada tanah dan daun serta validasi metode analisa unsur mikro dan makro dalam tanah dan daun. Many thanks yall:)
Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

tiwi says:

January 20, 2011 at 6:36 pm

mas kalau saya mau mengukur serapan dan mencari panjang gel maksimum dari ekstrak yang diberi pelarut apakah harus tetap validasi metode?

Reply

Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

dewi says:

March 16, 2011 at 7:44 pm

saya mw nanya.. analisis validasi itu melipti apa aja ya dan bisa berikan slh satu contoh analisis validasi

Reply Formatted: Font: (Default) Verdana, 9 pt, Font color: Gray-80%

esty octiana sari says:

September 23, 2012 at 6:23 am

terima kasih artikelnya mudah dipahami. Saya mau tanya ttg cara menentukan LOD, bagaimana kalo sinyal blanko=0?

Reply

Beri Komentar
Anda Member Chem-is-try.org? Silahkan login disini Nama: Kata Kunci: Belum menjadi member? Beri komentar disini: Nama : (wajib) Email : (wajib) (tidak dipublikasi) Website: Komentar:
Kirim

Kirim

Reset

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Penentuan Larutan dengan Serium (IV)

Pendahuluan Sistem diagnostik DNA MITRA DAN MEDIA

MENJADI FANS CHEM-IS-TRY.ORG


Chem-is-try.org - Situs Kimia Indonesia - on Facebook

TENTANG ARTIKEL INI: Penulis: Wahyu Riyadi

Populer Terbaru Komentar Tag

Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?Dengan 662 Komentar Sejak 2005-07-11 00:00:00 Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana?Dengan 260 Komentar Sejak 2006-03-23 00:00:00 Cerpen Kimia : Catatan Harian NatriumDengan 188 Komentar Sejak 2009-04-12 18:00:40 Cerpen Kimia : Arsen Si Pembunuh BayaranDengan 177 Komentar Sejak 2009-06-21 10:45:44 Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011Dengan 121 Komentar Sejak 2009-0319 10:00:00 BERLANGGANAN Anda dapat berlangganan artikel melalui email:
Ketik Email An

Klik

Berlangganan melalui fasilitas RSS RSS Artikel RSS Komentar FEATURED LINKS

Belanja Makanan Hak Cipta 2008 Chem-Is-Try.Org | Situs Kimia Indonesia |. All rights reserved .

BERBAGAI PENDEKATAN PADA PENAKSIRAN BATAS DETEKSI DAN BATAS KUANTISASI SUATU METODE ANALISIS INSTRUMEN
Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXIX, No. 4, Desember, 2004 Gray literature from JBPTITBPP / 2007-02-14 18:47:58 Oleh : Slamet Ibrahim Surantaatmadja, Dr., Laboratorium Kimia Farmasi (slametibrahim@yahoo.com ) Dibuat : 2004-12-00, dengan 2 file Keyword : Batas deteksi, Batas kuantisasi, Analisis instrumen

Url : http://acta.fa.itb.ac.id Pendahuluan: Di antara keunggulan teknik analisis menggunakan instrumen adalah kemampuannya mendeteksi dan menentukan kadar analit yang sangat kecil dibandingkan dengan metode analisis klasik. Walaupun demikian untuk menganalisis analit yang berkadar sangat rendah dimana sinyal instrumen yang diberikan analit sangat lemah atau hampir sama dengan derau atau latar belakang, diperlukan suatu kriteria yang menggambarkan kehandalan metode. Pada analisis sampel yang mengandung analit sangat rendah, kesulitan dalam mengambil keputusan akan dialami karena adanya keraguan antara sinyal analit atau derau. Ketidakpastian dan keraguan inilah yang memicu penggunaan kriteria kinerja metode analisis yang disebut batas deteksi (limit of detection, LOD) dan batas kuantisasi (limit of quantitation, LOQ). Batas deteksi dan batas kuantisasi metode perlu ditentukan kalau metode tersebut digunakan untuk menganalisis sampel yang mengandung analit berkadar rendah, seperti pada analisis obat dalam cairan tubuh, analisis metabolit sekunder dalam kultur jaringan, analisis pada uji disolusi obat, analisis dalam penetapan uji batas dan lain-lain [1,12,13,15,20,24]. Batas deteksi sangat penting dalam analisis sesepora (trace analysis) untuk menentukan jumlah kontaminan yang ada di bawah atau di atas batas yang diperbolehkan. Batas deteksi merupakan kriteria untuk pemilihan metode tersebut. Biasanya suatu metode akan dipilih jika batas deteksinya sepersepuluh dari batas konsentrasi yang diperbolehkan. Misalnya jika batas kadar timbal dalam air ledeng 0,05 mg dm-3 (50 bpt) maka metode analisis yang dipilih adalah metode yang mampu mengukur kadar timbal dibawah batas tersebut hingga 0,005 mg dm-3 atau memberikan batas deteksinya 5 bpt [12]. Penaksiran dan perhitungan batas deteksi dan batas kuantisasi masih mengundang perdebatan karena perbedaan interpretasi definisi dan cara penentuannya. Secara umum batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terkecil yang memberi sinyal instrumen yang berbeda secara "nyata" dari sinyal blangko dan sinyal latar belakang. Sedangkan batas kuantisasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terkecil yang dapat dikuantisasi secara cermat dan seksama. WHO dan USP mendefinisikan batas deteksi sebagai kadar analit terkecil dalam sampel yang dapat dideteksi tapi tidak perlu ditetapkan sebagai kadar yang tepat sedangkan batas kuantisasi sebagai kadar analit terkecil yang dapat diukur secara kuantitatif dengan kecermatan dan keseksamaan yang dapat diterima [20,24]. Interpretasi inilah yang memicu perdebatan dalam penentuan dan penaksiran batas deteksi serta batas kuantisasi [211,14-18,19-23]. Tulisan ini akan memaparkan beberapa pendekatan untuk menaksir dan menghitung batas deteksi dan batas kuantisasi metode analisis dan cara-cara perhitungannya yang biasa dilakukan, baik melalui pengolahan statistika maupun yang non statistika.