P. 1
KEJANG DEMAM SEDERHANA

KEJANG DEMAM SEDERHANA

|Views: 48|Likes:
Dipublikasikan oleh Dengue Puji

More info:

Published by: Dengue Puji on Mar 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/11/2013

pdf

text

original

KEJANG DEMAM SEDERHANA

I. PENDAHULUAN Banyak sarjana telah sepakat dalam penelitian bahwa 3 % - 5 % dari seluruh anak di bawah umur 5 tahun pernah mengalami kejang dan sebagian besar menderita kejang demam. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak, terutama golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. Meski hal ini telah banyak diteliti, masih terdapat perbedaan pendapat mengenai pengertian kejang demam, hubungannya dengan sindroma epilepsy, manfaat pengobatan maintenance dan prognosis jangka panjang dari anak yang menderita kelainan ini. Mengapa anak yang menderita demam dapat megalamo kejang, sedang anak yang lain tidak, masih belum diketahui pasti. Berbagai hipotesis telah diajukan, antara lain mengatakan bahwa secara genetika ambang kejang anak berbeda-beda.

II. DEFINISI Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 380 C), yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.

III. PATOFISIOLOGI Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, sel otak memerlukan energi yang di dapat dari hasil metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa, yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang permukaan dalamnya adalah lipoid dan permukaan luarnya adalah ionic. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh iuon kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lain kecuali ion klorida (Cl - ). Akibatnya konsentrasi K+ didalm sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk

menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NaK-ATP ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran dapat diubah oleh adanya : 1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler 2. Rangsangan yang datang mendadak, misalnya : mekanis, kimiawi atau aliran dari sekitarnya. 3. Perubahan patofisiologi membran karena penyakit atau keturunan Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10 C mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% - 15% dan akibatnya kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak berumur 9 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari sekuruh tubuh, disbanding orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran, dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi K+ maupun Na+ melalui membran, akibatnya terjadi lepasan muatan listrik yang demikian besar sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang di sebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang mulai pada suhu 380 C. Sedangkan pada ambang kejang yang tinggi, kejang baru baru terjadi pada suhu 400 C atau lebih. Maka dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah, sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada suhu berapa penderita kejang. Kejang demam berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnoe, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot-otot skelet, yang akhirnya terjadi hipoksia, hiperkapnia,asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobic, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh semakin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian tersebut adalah faktor penyebab terjadinya kerusakan neuron otak, selama berlangsungnya kejang lama. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi ‘’matang’’ di kemudian hari, sehingga terjadi

serangan epilepsy yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan antomis di otak, sehingga terjadi epilepsy.

IV. MANIFESTASI KLINIS Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan dapat disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya ; tonsillitis, ototis media akut, bronchitis, furunkolitis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsungnya singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berupa tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri, begitu kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Livingstone (1945-1963) membuat kriteria dengan membagi kejang atas 2 golongan, yaitu: 1. Kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) 2. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsy trigger of by fever) Dahulu di Sub Bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, RSCM, Jakarta di gunakan modifikasi criteria Livingstone sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana sebagai berikut : 1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 4 tahun 2. Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit 3. Kejang bersifat umum 4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang adalah normal 6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan 7. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali Kejang demem yang tidak melebihi salah satu atau lebih dari ke tujuh kriteria diatas di golongkan pada epilepsy yang diprovokasi oleh demam. Dengan menggunakan kriteria tersebut, ternyata sangat banyak pasien yang termasuk dalam golongan epilepsy yang di provokasi demam, dengan konsekuensi bahwa pasien-pasien ini harus mendapat pengobatan rumat. Banyak pasien yang hanya menunjukkan kelainan EEG, sedangkan criteria lain dapat dipenuhi. Juga sulit sekali untuk melakukan anamnesis berapa lama

demam sudah berlangsung sebelum pasien mengalami kejang. Saat ini istilah epilepsy yang di provokasi demam telah di tinggalkan. Pasien kejang demam tidak lagi dibagi menjadi kejang demam sederhana dan epilepsy yang di provokasi demam, tetapi dibagi menjadi pasien yang tidak perlu pengobatan rumat dan pasien yang memerlukan pengobatan. V. DIAGNOSIS BANDING KEJANG DEMAM 1. Epilepsi yang di provokasi oleh demam, jika diagnosis tidak memenuhi salah satu dari criteria Livingstone 2. Ensefalitis, dijumpai suhu yang mendadak naik, sering dijumpai hiperpireksia, kesadaran menurun dan kejang bersifat umum 3. Meningitis, dijumpai kejang yang bersifat umum

VI. KOMPLIKASI 1. Terulangnya kejang Frekuensi terulangnya kejang 25 – 50%, umumnya terjadi pada 6 bulan pertama setelah kejang pertama. 2. Epilepsi Risiko yang dihadapi anak sesudah kejang tergantung faktor : a. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga. b. Kelainan perkembangan atau saraf sebelum anak menderita kejang demam c. Kejang yang berlangsung lama atau fokal Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor diatas, maka di kemudian hari anak akan mengalami kejang tanpa demam 13%, jika terdapat 1 atau tidak ada sama sekali faktor di atas, maka serangan kejang tanpa demam hanya 2% - 3%. 3. Hemiparesis Biasanya terjadi pada penderita kejang lebih dari ½ jam. 4. Kematian Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosis baik dan kematian tidak terjadi. Angka kematian 0,74% dan 0,46%.

VII. PENANGGULANGAN 1. Memberantas kejang secepat mungkin

• -

Pemberian diazepam intra vena Menekan kejang 80% - 90% Efek terapeutik 30 detik – 5 menit Efek toksik hampur tidak dijumpai Dosis pemberian : - < 10 kg 0,5 – 0,75 mg/kgBB minimal 2,5 mg 10 – 20 kg 0,5 mg/kgBB minimal 7,5 mg > 20 kg 0,5 mg/kgBB

-

Cara pemberian : Di berikan perlahan ± 1 ml/menit dan pada bayi 1 mg/menit Suntikan I secar IV, tunggu 15 menit, jika masih kejang lakukan suntikan ke II (dengan dosis yang sama) secara IV, tunggu 15 menit. Jika masih kejang lakukan suntukan ke III (dengan dosis yang sama) secara IM, jika masih kejang beri Phenobarbital atau peraldehide secara intra vena.

• -

Pemberian diazepam melalui rectum Dosis pemberian : - < 10 kg : 5 mg - > 10 kg : 10 mg Cara pemberian : Anak/bayi dalam posisi miring atau menungging, rectiol yang ujungnya, dioleskan dengan Vaseline kemudian dimasukkan ke rectum sedalam 3 – 5 cm. Kemudian rectiol di pijat sampai kosong selanjutnya untuk beberapa menit lubang anus di tutup dengan merapatkan kedua m. gluteus. Bila kejang tidak berhenti 15 menit kejang masih berlanjut dapat diberikan secara IV dengan dosis 0,3 mg / kgBB.

2. Memberikan pengobatan maintenance • Phenobarbital Diberikan langsung setelah kejang terhenti dengan diazepam Dosis awal : Neonatus 1 bulan – 1 tahun > 1 tahun 30 mg 50 mg 75 mg secara IM

Dosis maintenance : 8 – 10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis kadar 10 20 Ugr/ml yaitu kadar efektif dalam darah tercapai dalam 48 – 72 jam. Selama keadaan belum memungkinkan anti konvulsan di beri secara suntikan dan bila membaik diteruskan secara oral

-

Lanjutan pengobatan maintenance tergantung pada keadaan penderita Pengobatan ini di bagi atas 2 bagian, yaitu : A. Profilaksis Intermitten Untuk mencegah terulangnya kejang - Di beri obat campuran anti konvulsan dan anti piretik Phenobarbital  dosis : 4-5 mg/kg/hari Aspirin  60 mg / tahun / kali, 3 kali Untuk bayi < 6 bulan 10 mg/bulan/kali, 3 x sehari kadar maksimal dalam darah darah tercapai dalam 2 jam pemberian obat. - Obat yang lebih ampuh dan banyak digunakan saat ini adalah diazepam, baik secara oral atau rectal. Pada waktu anak mulai terasa panasnya, diazepam dapat segera di berikan - Tiap diberi sampai kemungkinan anak untuk kejang demam sederhana sangat kecil yaitu sampai umur 4 tahun.

B.

Profilaksis jangka panjang Untuk menjamin dosis terapeutik yang lebih stabil dan cukup dalam darah dan untuk mencegah terulangnya kejang Diberikan pada keadaan : 1. Epilepsi yang di provokasi oleh demam 2. Keadaan yang telah disepakati pada konsnsus bersama (1980) ialah pada semua kejang demam yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : - Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsy, retardasi perkembangan dan mikrosefali - Bila kejang lebih dari 15 menit, bersifat lokal atau diikuti kelainan saraf yang sementara atau menetap - Bila terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetic pada orang tua atau saudara kandung

- Pada kasus tertentu dianggap perlu yaitu jika kadang-kadang terdapat kejang berulang atau kejang demam pada bayi berumur < 12 bulan. 1. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang Phenobarbital - Dosis : 4 – 5 mg/kgBB/hari - Bila hiperpireksia lakukan hibernasi dengan kompres es atau alcohol Obat untuk hibernasi adalah : Klorpromazin 2 – 4 mg/kgBB/kali dibagi dalam 3 dosis Prometasin 4 – 6 mg/kgBB/kali dibagi dalam 3 dosis - Untuk mencegah edema otak diberikan kortikosteroid yaitu kortison dosis : 20 – 30 mg/kgBB dalam 3 dosis atau glukokortikoid misalnya deksamethason: 0,25 – 0,5 mg/kgBB/6 Jam sampai keadaan membaik. BAGAN PEMBERANTASAN KEJANG
1. Segera diberikan Dizepam intra vena (dosis rata-rata 0,3 mg/kgBB) Atau Diazepam rectal, dosis : < 10 kg 5 mg rectiol > 10 kg 10 mg rektiol Bila kejang tidak berhenti tunggu 15 menit Dapat diulang dengan dosis / cara yang sama Kejang berhenti Berikan Phenobarbital  Dosis awal : neonatus : 30 mg/IM - 1 bln – 1 thn : 50 mg/IM - > 1 thn : 75 mg/IM  Pengobatan maintenance 4 jam kemudian : • • 2. Bila diazepam tidak tersedia : Langsung memakai Phenobarbital dengan dosis awal dan selanjutnya diteruskan dengan pengobatan maintenance Hari I + II : Phenobarbital 8-10 mg/kgBB/2 dosis Hari berikutnya : Phenobarbital 4-5 mg/kgBB/2 dosis

-

Efek samping jangka panjang : perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur (suka tidur) kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur

2.

Sodium Valproat / Asam Valproat (Epilim, Depakene) - Dosis, 20 – 30 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis - Gejala toksik : rasa mual, kerusakan hepar, pankretitis - Menurunkan risiko terulangnya kejang lebih memuaskan dari Phenobarbital - Kekurangannya : harga jauh lebih mahal dari Phenobarbital

3.

Phenytoin (Dilantin) - Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkkan gangguan sifat berupa hiperaktif - Hasil tidak memuaskan

4.

Mencari dan mengobati penyebab - Penyebab kejang sederhana maupun epilepsy yang di provokasi oleh demam biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotika penting untuk mengobati infeksi tersebut - Pemeriksaan Punksi Lumbal Dikerjakan pada anak dengan kejang demam yang pertama : untuk menyingkirkan faktor infeksi otak misalnya meningitis - Pemeriksaan yang intensif meliputi Punksi Lumbal Darah lengkap misalnya : glucose, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen darah dan faal hati

- Pemeriksaan khusus yaitu : X foto tengkorak, EEG (Elektro Ensefalo Grafi) dan arteriografi. Jika pemeriksaan sebelumnya tidak memuaskan atau untuk melengkapi data. 3. Pengobatan penunjang Membuka semua pakaian yang ketat Posisi kepala miring untuk mencegah aspirasi isi lambung Membebaskan jalan napas, jika perlu lakukan intubasi atau trakeostomi, penghisapan lendir yang teratur Pemberian oksigen Mengawasi fungsi vital (kesadran, suhu, tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung) Monitoring cairan IVFD kelainan metabolic dan elektrolit, jika terdapat tanda TIK meninggi jangan diberi cairan dengan kadar natrium yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA 1. Behrman, Kliegman, Arvin. Ilmu Kesehatan Anak. Nelson .1996 ; 3 : 2053-60 2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani W.I, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran. 2000 ; 2 : 434-35 3. Soetomenggolo T.S, Ismael S. Neurologi Anak, 2000 ; 2 : 244-51 4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ilmu Kesehatan Anak, 1985 ; 2 : 847-54

STATUS ORANG SAKIT
I. Anamnesis Pribadi OS Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Suku BB masuk Tgl masuk MR : BAGUS SANTOSO : 2 tahun 5 bulan : Laki-laki : Rahmadsyah 247/307 Medan : Islam : Jawa : 11 kg : 18 Juni 2003 : 29-31-71

II.

Anamnesis mengenai Orang tua OS AYAH Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Penyakit Perkawinan : : : : : : AYATEN 40 tahun Sarjana Wiraswasta I IRT I IBU NUR’AINUN SIREGAR 37 tahun SMA

III.

Riwayat Kelahiran OS Cara lahir : Spontan

Tanggal lahir Tempat lahir Ditolong oleh BB lahir/PBL

: 17 Pebruari 2001 : Rumah bersalin : Bidan : 4000 / 51 cm

IV.

Riwayat Bersaudara 1. Laki-laki, 11 tahun, sehat 2. Perempuan, 7 tahun, sehat 3. Laki-laki, 2 atahun 5 bulan,  OS

V.

Riwayat Imunisasi 1. BCG 2. DPT 3. Polio :1x :3x :4x 4. Campak 5. Hepatitis :1x : (-)

VI.

Anamnesis Makanan 0 – 2 bulan 2 – 4 bulan 4 – 8 bulan 8 – 12 bulan 12 bulan - sekarang ASI semaunya PASI semaunya + bubur susu PASI + Nasi Tim saring PASI + Nasi Tim dihaluskan Nasi biasa + Lauk pauk (menu keluarga) + buah + PASI

VII.

Tumbuh Kembang Anak - Belajar mengangkat kepala - Mengikuti objek dengan mata 0 – 3 bulan - Melihat muka orang dan tersenyum - Bereaksi terhadap suara atau bunyi Dapat duduk dengan dibantu 3 – 6 bulan - Berusaha meraih benda - Menaruh benda di mulut

Dapat tengkurap dan berbalik sendiri 6 – 9 bulan Dapat berjalan dengan dibantu Merangkak - Berdiri sendiri tanpa dibantu - Dapat berjalan dengan dibantu 9 – 12 bulan Menirukan suara, belajar mengatakan satu atau dua kata Berjalan Menyusun 2 atau 3 kata 12 – 18 bulan Mengucapkan 5 – 10 kata Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing Naik turun tangga Menunjuk mata dan hidungnya 18 – 24 bulan 24 bulan - sekarang Belajar makan sendiri Bermain dengan anak lain Besosialisasi

VIII.

Penyakit yang pernah diderita Kejang demam

IX.

Anamnesis Penyakit

Keluhan Utama Telaah -

: Kejang :

Kejang dialami OS sejak 1 hari yang lalu, frekuensi kejang 2 kali,jarak kejang pertama dengan kejang berikutnya ± 12 jam, lama kejang kurang dari 15 menit perkali kejang, kejang seluruh tubuh, setelah kejang OS sadar. Kejang pertama timbul 16 jam setelah demam. Riwayat kejang demam dialami OS 1 kali ± 7 8 bulan yang lalu, riwayat kejang pada keluarga tidak dijumpai.

-

Demam dialami OS sejak 1 hari yang lalu, demam mendadak tinggi naik turun tapi tidak pernah mencapai normal, menggigil tidak dijumpai.

-

Buang air besar (+) N Buang air kecil (+) N, terakhir pada pukul 12.00 WIB

RPT TPO
X.

: Tidak jelas : Tidak jelas

Pemeriksaan Fisik

Status Present KU/KP/KG Sensorium HR RR Temperatur BB masuk : SedangSedang /Baik : Compos mentis, Rewel : 118 x / menit : 32 x / menit : 39 0 C : 11 kg Ikterus Anemi Cyianosis Dyspnoe Oedema : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

Status Lokalisata • Kepala • • UUB Mata Hidung Telinga Mulut : : : Simetris fusi formis, retraksi intercostalis (-) : Stem fremitus kiri = kanan : Sonor di seluruh lapangan paru kiri dan kanan : : tertutup rata, rambut hitam tidak mudah dicabut : RC +/+, pupil isokor ki = ka : Pernapasan cuping hidung (-), secret (-) : Tidak ada kelainan : Tonsil / faring : hiperemis

Leher Toraks Inspeksi Palpasi Perkusi

Pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-), hiperpigmentasi (-)

Auskultasi : SP = vesikuler, desah (-), ronki (-) • Abdomen : Inspeksi Palpasi : Simetris : Soepel, nyeri tekan (-), turgor kulit kembali cepat Hati Lien Perkusi : Timpani : tidak teraba : tidak teraba

Auskultasi : Peristaltik (+) N

• • •

Ekstremitas Superior Inferior

: Pols 118 x/menit, reguler, T/V cukup : Oedem (-)

Genitalia: Laki-laki  t.a.k Refleks Fisiologis : Kiri Biceps Triceps KPR APR + + Kiri Babinsky Chaddock Schaeffer Oppenheim Gordon ::::+ + + + Kanan Kanan + +

Refleks Patologis :

Rangsang Meningeal : Kaku kuduk Kernig Brudzinsky I + II Lasseque

Status Neurologi a. Saraf otak b. Sistem Motorik Kekuatan otot Neuromuskular Involuntary movement c. Koordinasi d. Sensibilitas : Baik : Baik : Tidak ada kerusakan : : Baik : Baik : Baik : Tidak ada

Pertumbuhan otot

XI.

Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 18 Juni 2003 : • Darah : Hb Leukosit LED Trombosit Difftel • • • Urine : Feces : LP : : 11 gr% : 7000 / mm : 34 mm/jam : Cukup : 0 / 0 / 4 / 57 / 38 / 1 %

Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilkaukan pemeriksaan Tidak dilkaukan karena orang tua OS tidak bersedia

XII.

Diagnosis Banding 1. Kejang Demam Sederhana + Tonsilopharingitis 2. Kejang Demam Kompleks + Tonsilopharingitis

XIII.

Diagnosis Kerja Kejang Demam Sederhana + Tonsilopharingitis
Penatalaksanaan

XIV.

-

Bed rest IVFD Dextrose 5 %, NaCl 0,45 % 8 gtt/i mikro Diazepam 3 mg / kali beri / IV (bila kejang) Kejang teratasi : Phenobarbital dosis awal 75 mg / im

4 jam kemudian : Phenobarbital 40 mg / 12 jam / im (selama 2 hari) Hari ke –3 : Phenobarbital 20 mg / 12 jam / im XV. USUL 1. 2. 3. Pemeriksaan EEG Lumbal Punksi Konsul THT Standacillin 550 mg / 12 jam / IV Paracetamol 3 x 120 mg (K/P) Diet MI 1100 kkal dengan 22 gr protein

XVI.

Prognosis Baik FOLLOW UP

STATUS PRESENT - Keadaan Umum - Kejang - Sensorium - Pulse - Frekuensi napas - Temperatur - KU/KP/KG Pemeriksaan fisik - Kepala Mata - Mulut - Telinga - Hidung Le her To raks Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi - Jantung - Paru - Abdomen - Inspeksi - Palpasi - Perkusi - Auskultai Hepar Lien Genitalia Ekstremitas

Tanggal 19 Mei 2003 CM 112 x/mnt 32 x / menit 37,80 C Sedang/sedang/Baik Rambut tidak mudah dicabut RC+/+, pupil isokor T/F Hiperemis t.a.k PCH (-), secret (-) KGB (-), Kaku kuduk (-) Simetris fusiformis, interkostal (-) SF ka=ki Sonor di-2 lap paru SP=vesikuler , desah (-),

Tanggal 20 Mei 2003 CM 140 x / menit 30 x / menit 380 C Sedang/sedang/Baik Rambut tidak mudah dicabut RC+/+, pupil isokor T/F Hiperemis t.a.k PCH (-), secret (-) KGB (-), Kaku kuduk (-) retraksi

retraksi Simetris fusiformis, interkostal (-) SF ka=ki Sonor di-2 lap paru SP=vesikuler , desah (-),

Frekuensi 112 x/mnt, reguler, Frekuensi 140 x/mnt, reguler, desah (-) desah (-) 32x/mnt, reguler, ronki (-) 30x/mnt, reguler, ronki (-) Simetris Soepel, turgor kulit kembali cepat Timpani Peristaltik (+) N Tidak teraba Tidak teraba tak Sup:pols 112x/mnt,T/V Inf : oedem (-) KIRI KANAN Simetris Soepel, turgor kulit kembali cepat Timpani Peristaltik (+) N Tidak teraba Tidak teraba T.a.k Sup:pols 140x/mnt,T/V Inf : oedem (-) KIRI KANAN -

cukup

cukup

Refleks Patologis - Babinsky - Chaddock - Schaeffer

- Gordon - Oppenheim - Hoffman Ransang Meningeal - Kaku kuduk - Kernig - Brudzinsky I - Brudzinsky II Refleks Fisiologis - Biceps - Triceps - APR - KPR

KIRI + + + +

-

KIRI + + + +

-

KANAN + + + +

KANAN + + + +

Kejang Demam sederhana + Tonsilofaringitis Diagnosis Bed rest 2. IVFD D5%+ NaCl 0,45%  8 gtt/mnt 3. Phenobarbital 40 mg/12jam/im 4. Standacillin 550 mg/12jam/iv 5. Paracetamol 3x120 mg/oral(K/P) 6. Diet ML 1100 kkal dgn 22 gr protein

Kejang Demam sederhana + Tonsilofaringitis 1. Bed rest 2. IVFD D5%+ NaCl 0,45%  8 gtt/mnt 3. Phenobarbital 20mg/12jam/im 4. Standacillin 550 mg/12jam/iv 5. Paracetamol 3x120 mg/oral(K/P) 6. Diet ML 1100 kkal dgn 22 gr protein

Penatalaksanaan

STATUS PRESENT - Keadaan Umum - Kejang - Sensorium - Pulse - Frekuensi napas - Temperatur - KU/KP/KG Pemeriksaan fisik - Kepala Mata - Mulut - Telinga - Hidung Le her To raks Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi - Jantung - Paru - Abdomen - Inspeksi - Palpasi - Perkusi - Auskultasi - Hepar - Lien - Genitalia - Ekstremitas Refleks Patologis

Tanggal 21 Mei 2003 (-) CM 120 x/ menit 28 x / menit 370 C Sedang/sedang/Baik Rambut tidak mudah dicabut RC+/+,pupil isokor T/F Hiperemis (+) t.a.k PCH (-), secret (-) KGB (-), Kaku kuduk (-) Simetris interkostal (-) fusiformis,retraksi

Iktus teraba Sonor di-2 lap paru SP= vesikuler,desah (-), ronki(-), Frekuensi 120x/mnt, reguler, desah (-) 28x/mnt, reguler, ronki (-) Simetris Soepel, turgor kulit kembali cepat Timpani Peristaltik (+) N Teraba 1 cm bac, tepi tajam,konsistensi kenyal,permukaan rata,nyeri tekan (-) Tidak teraba T.a.k Sup:pols 120x/mnt,T/V cukup Inf : oedem (-) KIRI KANAN -

- Babinsky - Chaddock - Schaeffer - Gordon - Oppenheim - Hoffman Ransang Meningeal - Kaku kuduk - Kernig - Brudzinsky I - Brudzinsky II Refleks Fisiologis - Biceps - Triceps - APR - KPR Diagnosis

KIRI + + + +

-

KANAN + + + +

Kejang Demam sederhana + Tonsilofaringitis PBJ Penatalaksanaan

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->