Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Sediaan farmasi sangat jarang digunakan dalam bentuk bahan aktif murni, tetapi hampir selalu diberikan dalam suatu formula tertentu dengan menggunakan berbagai bahan tambahan atau eksipien dan dengan teknologi manufakturing yang tepat sehingga dihasilkan suatu sediaan farmasi yang berkualitas. Teknologi farmasi diterapkan untuk mengembangkan suatu formula sediaan dan prosedur yang dapat diterapkan secara umum pada semua tahap proses produksi (pelarutan, penggerusan, pencampuran, dan lain sebagainya), yang spesifik pada setiap bentuk sediaan. Kapsul adalah sediaan padat yang terbungkus dalam satu cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin, tetapi dapat juga dibuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Asam mefenamat merupakan obat analgetik golongan AINS Non Selektif. Semua AINS bekerja mengikat COX (cyclooxygenase), untuk AINS Non Selektif seperti asam mefenamat berarti menghambat COX1 dan COX2 sehingga dapat menimbulkan iritasi lambung. Oleh karena itu, jika menggunakan obat golongan ini harus diminum setelah makan dan tidak digunakan pada orang yang menderita gastritis dan harus hati hati pada lansia.

Kebanyakan obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri atau rasa sakit tidak hanya berkhasiat sebagai analgetik saja, tetapi juga mempunyai khasiat sebagai antipiretik dan anti inflamasi. Analgetik adalah obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri atau rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan panas dan Antiinflamasi adalah obat yang merangsang atau menyebabkan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak dan gangguan fungsi organ. Granula adalah gumpalan gumpalan dari partikel partikel yang lebih kecil. Ukuran biasanya berkisar antara ayakan 4 12, walaupun demikian granula dari macam mcam ukuran lubang ayakan mungkin dapat dibuat tergantung pada tujuan pemakaiannya. Granula mengalir baik dibanding dengan serbuk, bentuk granul biasanya lebih stabil secara fisik dan kimia dari pada serbuk saja. Metode granulasi basah membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat/pengikat sebagai pengganti pengompakan, teknik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah.

B.

Tujuan 1. Asam mefenamat dibuat dalam bentuk granul untuk memperbaiki sifat alir dari asam mefenamat yang kurang baik.

2. Dibuat dalam bentuk kapsul untuk menutupi rasa yang kurang enak dari asam mefenamat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Definisi nyeri Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan

dengan ancaman kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat bahaya tentang adanya gangguan di jaringan seperti peradangan, rematik, encok atau kejang otot (Tjay, 2008). Rasa sakit ini merupakan sensasi yang timbul oleh karena stimulus atau rangsangan yang berasal dari gangguan-gangguan atau kerusakan jaringan yang akan mengakibatkan terlepasnya mediator nyeri. Zat ini akan merangsang reseptor nyeri yang terdapat pada ujung-ujung saraf bebas seperti pada kulit dan selaput lendir yang akan diteruskan oleh saraf sensorik ke susunan saraf pusat dan akan diteruskan ke thalamus. Sehingga kita merasakan nyeri. Jadi rasa sakit ini penting untuk melindungi tubuh. Oleh karena adanya rasa sakit maka kita akan berusaha untuk menghindarkan ataupun menyelamatkan diri (Anwar, 1973). Menurut (Tjay, 2008) berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu dengan: a. Analgetika perifer, yang kerjanya menghambat terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer b. Anestetika lokal, yang berfungsi merintangi penyaluran rangsangan di sarafsaraf sensoris
4

c. Analgetika sentral ( narkotika ), yang memblokir pusat nyeri di SSP dengan anestesi umum d. Antidepresiva trisiklis, yang digunakan pada nyeri kanker dan saraf.

Kebanyakan obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri atau rasa sakit tidak hanya berkhasiat sebagai analgetik saja, tetapi juga mempunyai khasiat sebagai antipiretik dan anti inflamasi. Analgetik adalah obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri atau rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan panas dan Antiinflamasi adalah obat yang merangsang atau menyebabkan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak dan gangguan fungsi organ (Anwar, 1973).

B.

Granulasi Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme

pengikatan tertentu. Dapat juga diartikan, granulasi adalah proses pembuatan ikatan partikel-partikel kecil membentuk padatan yang lebih besar atau agregat permanen melalui penggumpalan massa, sehingga dapat dibuat granul yang lebih homogen dari segi kadar, massa jenis, ukuran serta bentuk partikel. Adapun fungsi granulasi adalah untuk memperbaiki sifat aliran dan kompressibilitas dari massa cetak tablet, memadatkan bahan-bahan, menyediakan campuran seragam yang tidak memisah, mengendalikan kecepatan pelepasan zat aktif, mengurangi debu, dan memperbaiki penampakan tablet. Untuk beberapa zat aktif tertentu, proses
5

granulasi dapat dilewati jika zat aktif memenuhi syarat untuk langsung dikempa. Metode ini disebut kempa langsung. Metode ini mengurangi lamanya proses pembuatan tablet melalui proses granulasi,tapi sering timbul beberapa kendala yang disebabkan sifat aktif itu sendiri atau eksipien. Macam-macam granulasi :

1. Granulasi Basah Granulasi basah adalah metode yang dilakukan dengan cara membasahi massa tablet menggunakan larutan pengikat sampai terdapat tingkat kebasahan tertentu, lalu digranulasi. Metode ini dapat digunakan untuk zat aktif yang sukar larut dalam air atau pelarut yang digunakan tahan terhadap pemanasan dan kelembaban. Umumnya digunakan untuk zat aktif yang sulit dicetak karena mempunyai sifat aliran dan kompressibilitas yang jelek. Oleh karena itu, pada metode ini diperlukan zat, pengikat, penghancur, pengisi, lubrikan dan eksipien lain. Keuntungan granulasi basah : 1) Dapat meningkatkan kohesifitas dan kompresibilitas serbuk dengan

penambahan bahan pengikat. 2) Dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang sulit mengalir dan sulit dikompresi 3) Distribusi dan keseragaman kandungan baik bagi zat aktif yang mudah larut dandosis kecil. 4) Zat warna dapat lebih homogen karena terlebih dahulu dilarutkan dalam cairan pengikat.
6

5) Serbuk dapat ditangani tanpa menghasilkan kontaminasi udara (debu dari serbuk). 6) Mampu mencegah pemisahan komponen campuran selama proses. 7) Dapat memperbaiki kecepatan disolusi zat aktif yang sukar larut serta dapat menghasilkan kecepatan pelepasan yang termodifikasi dengan pemilihan bahan pengikat dan bahan pembawa yang cocok.

Kerugian granulasi basah adalah : 1) Membutuhkan tempat yang luas, biaya yang tinggi, alat dan waktu yang banyak. 2) Memungkinkan terjadinya kehilangan bahan selama pemindahan ke unit proses lainnya. 3) Kemungkinan terjadinya kontaminasi silang lebih besar. 4) Tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab.

2. Granulasi Kering Granulasi kering adalah metode yang dilakukan dengan cara membuat granul secara mekanis tanpa bantuan pengikat basah atau pelarut pengikat. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan lembab, serta tidak tahan air atau pelarut yang digunakan. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan mesin slug dan mesin rol. Prinsip granulasi kering adalah menciptakan ikatan antara partikel-partikel dengan pemberatan secara mekanik. Ikatan yang mungkin timbul antar partikel-partikel tergantung dari sifat serbuk serta campuran.
7

Keuntungan metode granulasi kering adalah : 1) Memerlukan tahap proses yang lebih sedikit sehingga mengurangi kebutuhan akanproses validasi. 2) Waktu hancur lebih cepat karena tidak diperlukannya larutan pengikat. 3) Tidak memerlukan pengeringan sehingga tidak terlalu lama pengerjaannya. 4) Dapat digunakan untuk zat aktif dosis besar yang peka terhadap panas dan lembab.

Kerugian metode granulasi kering adalah : 1) Perlu mesin khusus untuk pembuat slug. 2) Tidak dapat mendistribusikan warna dengan homogen. 3) Tidak dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak larut. 4) Kemungkinan terjadinya kontaminasi silang lebih cepat. 5) Keseragaman kandungan lebih sulit dicapai

Evaluasi granul 1. Waktu alir Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk mengalir dalam suatu alat. Sifat alir ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas bahan pelicin, mudah tidaknya granul mengalir dan sifat permukaan granul. Semakin kecil ukuran partikel granul akan memperbesar daya kohesinya sehingga akan menyulitkan aliran karena granul akan mengalir dalam bentuk gumpalan. Untuk menentukan sifat aliran, digunakan sudut kemiringan aliran yaitu sudut
8

yang dihasilkan bila suatu zat berupa serbuk dibiarkan mengalir bebas dari atas corong kedasar. Sudut tersebut akan membentuk suatu kerucut yang kemudian sudut kemiringannya diukur. Semakin datar sudut yang dihasilkan, artinya sudut kemiringannya semakin kecil semakin baik sifat aliran serbuk tersebut (Voigt,1994). Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat alir granul adalah bentuk dan ukuran partikel granul, distribusi ukuran partikel, kekasaran atau tekstur permukaan, penurunan energi permukaan dan luas permukaan. Ukuran partikel granul makin kecil akan memperbesar daya kohesinya, sehingga granul akan menggumpal dan menghambat kecepatan alirnya (Banker dan Anderson,1994). Granul dimasukkan ke dalam corong alat uji waktu alir. Penutup corong dibuka sehingga granul keluar sambil dinyalakan stopwatch dan ditampung pada bidang datar. Waktu alir granul dicatat dan sudut diamnya dihitung dengan mengukur diameter dan tinggi tumpukan granul yang keluar dari mulut corong. Waktu alir dipersyaratkan dengan sudut diam tidak lebih dari 30 derajat. 2. Sudut diam Sudut diam yaitu sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Bila sudut diam lebih kecil dari 30 biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas,bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 40 biasanya mengalirnya kurang baik. Besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk, ukuran dan kelembaban granul. Granul akan mudah mengalir jika mempunyai sudut diam kurang dari 40(Banker dan Anderson,1994). 3. Uji kompresibilitas / pengetapan
9

Pengetapan menunjukkan penurunan volume sejumlah granul atau serbuk akibat hentakan (tapped) dan getaran (vibrating). Makin kecil indeks pengetapan maka semakin kecil sifat alirnya. Granul dengan indeks pengetapan kurang dari 20% menunjukkan sifat alir yang baik (Fassihi dan Kanfer, 1986).

C.

Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras

atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai (Depkes RI, 1995). Mothes dan Dublanc, dua orang Perancis, biasa dihubungkan dengan penemuan kapsul gelatin. Paten mereka didapatkan pada bulan Maret dan Desember 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian, berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi. Kapsul yang terdiri dari dua bagian ditemukan oleh James Murdock dari London (1848), dan dipatenkan di Inggris pada tahun 1865 (Lachman, 1994).

Macam-macam kapsul 1. Kapsul gelatin keras (Capsulae gelatinosae operculatae), yang mengandung gelatin, gula, dan air. Kapsul dengan tutup diberi warna-warna. Diberi tambahan warna adalah untuk dapat menarik dan dibedakan warnanya. Menurut besarnya, kapsul diberi nomor urut dari besar ke kecil sebagai berikut:
10

No. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Kapsul harus disimpan dalam wadah gelas yang tertutup kedap, terlindung dari debu, kelembaban dan temperatur yang ekstrim (panas). 2. Kapsul lunak (Soft capsules). Kapsul lunak yang tertutup dan diberi warna macam-macam. Perbedaan komposisi kapsul gelatin lunak dengan kapsul gelatin keras yaitu gula diganti dengan plasticizer yang membuat lunak, 5% gula dapat ditambahkan agar kapsul dapat dikunyah. Sebagai plasticizer digunakan gliserin dan sorbitol atau campuran kedua tersebut, atau polihidris alkohol lain. 3. Kapsul cangkang keras. Kapsul cangkang keras biasanya diisi dengan serbuk, butiran, atau granul. Bahan semi padat atau cairan dapat juga diisikan ke dalam kapsul cangkang keras, tetapi jika cairan dimasukkan dalam kapsul, salah satu teknik penutupan harus digunakan untuk mencegah terjadinya kebocoran. Kapsul cangkang keras dapat diisi dengan tangan. Cara ini memberikan kebebasan bagi penulis resep untuk memilih obat tunggal atau campuran dengan dosis tepat yang paling baik bagi pasien. Fleksibelitas ini merupakan kelebihan kapsul cangkang keras dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul cangkang lunak (Ditjen POM, 1995).

11

Keuntungan dan kerugian sediaan kapsul Menurut Syamsuni (2006), kapsul mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut: a. Keuntungan sediaan kapsul: 1. Bentuknya menarik dan praktis. 2. Cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi obat yang berasa dan berbau tidak enak. 3. Mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam lambung sehingga obat cepat diabsorpsi. 4. Dokter dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pasien. 5. Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan zat tambahan atau penolong seperti pada pembuatan pil maupun tablet.
12

b. Kerugian sediaan kapsul: 1. Tidak dapat untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori kapsul tidak dapat menahan penguapan 2. Tidak dapat untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembab). 3. Tidak dapat untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul. 4. Tidak dapat diberikan untuk balita. 5. Tidak dapat dibagi-bagi.

Cara pengisian kapsul Ada 3 cara pengisian kapsul, yaitu : 1. Dengan tangan Merupakan cara paling sederhana yaitu dengan tangan tanpa bantuan alat lain. Caranya : a. Serbuk dibagi terlebih dahulu ke kertas perkamen sesuai dengan jumlah yang diminta dalam resep. b. Serbuk yang sudah dibagi sama rata dimasukkan ke dalam badan kapsul lalu ditutup. 2. Dengan Alat bukan mesin Alat yang dimaksud adalah obat pengisi kapsul yang terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. Dengan menggunakan alat ini akan di dapatkan kapsul yang lebih beragam dan pengerjaannya lebih cepat.

13

Caranya : a. Buka bagian-bagian kapsul b. Badan kapsul dimasukkan dalam lubang pada bagian alat yang tidak bergerak (tetap) c. Taburkan serbuk yang akan dimasukkan dalam kapsul, lalu ratakan dengan kertas film. d. Tutup kapsul dengan cara merapatkan atau menggerakkan bagian alat yang bergerak

3. Dengan mesin Alat ini digunakan untuk memproduksi kapsul secara besar-besaran dan menjaga keseragaman kapsul dimana alat ini otomatis. mulai dari membuka, mengisi sampai menutup kapsul.

Evaluasi kapsul 1. Uji keseragaman bobot Menurut FI III, uji keseragaman bobot untuk kapsul berisi obat kering adalah sbb : Timbang 20 kapsul lalu timbang lagi satu persatu. Keluarkan isi semua kapsul,timbang selurung bagian cangkang kapsul. Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A dan untuk 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan kolom B.

14

BOBOT RATA-RATA ISI KAPSUL 120 mg atau kurang Lebih dari 300 mg

PENYIMPANGAN BOBOT ISI KAPSUL (%) A 10% 7,5% 20% 15% B

2. Uji keseragaman sediaan Menurut FI IV : Keseragaman sediaan, yang dapat ditetapkan dengan salah satu atau dari dua metode, yaitu keragaman bobot atau keseragaman kandungan. Persyaratan ini digunakan untuk sediaan mengadung satu zat aktif dan sediaan yang mengandung dua atau lebih zat aktif. a. Keragaman Bobot Dilakukan untuk produk yang mengandung zat aktif 50mg atau lebih yang merupakan 50%atau lebih dari bobot sediaan. Keseragaman dari zat aktif lain, jika jumlahnya lebih kecil, ditetapkan dengan persyaratan keseragaman kandungan. Cara untuk kapsul keras : Timbang seksama 10 kapsul, satu persatu, beri identitas tiap kapsul, keluarkan isi tiap kapsul dengan cara yang sesuai. Timbang seksama tiap cangkang kapsul kosong dan hitung bobot netto dari isi tiap kapsul dengan cara mengurangkan bobot cangkang kapsul dari masing- masing bobot kapsul. Dari hasil penetapan kadar, hitung zat aktif masing- masing dari 10 kapsul dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen.

15

b. Keseragaman Kandungan Persyaratan ini dapat diterapkan pada sediaan padat (termasuk sediaan padat steril) tanpa mengandung zat aktif atau inaktif yang ditambahkan. 3. Uji Disolusi Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing monografi. Bila pada etiket dinyatakan bahwa sediaan bersalut enterik, sedangkan dalam masing-masing monografi, uji disolusi atau uji waktu hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan bersalut enterik, maka digunakan cara pengujian untuk sediaan lepas lambat seperti yang tertera pada uji Pelepasan Obat, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi. 4. Uji Waktu Hancur Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet atau kapsul digunakan sebagai tablet isap atau dikunyah atau dirancang untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang jelas di antara periode pelepasan tersebut. Tetapkan jenis sediaan yang akan diuji dari etiket serta dari pengamatan dan gunakan prosedur yang tepat untuk 6 unit sediaan atau lebih.

16

Uji waktu hancur tidak menyatakan bahwa sedia-an atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan masa lunak yang tidak mempunyai inti yang jelas, kecuali bagian dari penyalut atau cangkang kapsul yang tidak larut.

D. Formulasi 1. Asam mefenamat

- Rumus Molekul : C15H15NO2 - Berat Molekul : 241.29 - Pemerian : serbuk hablur putih atau hampir putih. Melebur pada suhu lebih kurang 2300C disertai peruraian. - Kelarutan : larut dalam alkali hidroksida, agak sukar larut dalam klorofom, sukar larut dalam etanol dan methanol, praktis tidak larut dalam air. - Persyaratan Kadar : mengandung asam mefenamat tidak kurang dari 90.0% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket. - penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya

Asam mefenamat merupakan derivat asam antranilat dan termasuk kedalam golongan obat Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS). Dalam
17

pengobatan, asam mefenamat digunakan untuk meredakan nyeri dan rematik. Obat ini cukup toksik terutama untuk anak-anak dan janin, karena sifat toksiknya, Asam mefenamat tidak boleh dipakai selama lebih dari 1 minggu dan sebaiknya jangan digunakan untuk anak-anak yang usianya di bawah 14 tahun (Munaf,1994).

Farmakologi asam mefenamat Asam mefenamat mempunyai khasiat sebagai analgetik dan anti inflamasi. Asam mefenamat merupakan satu-satunya fenamat yang menunjukkan kerja pusat dan juga kerja perifer. Mekanisme kerja asam mefenamat adalah dengan menghambat kerja enzim sikloogsigenase (Goodman, 2007).

Farmakokinetika dan efek samping asam mefenamat Tablet asam mefenamat diberikan secara oral. Diberikan melalui mulut dan diabsorbsi pertama kali dari lambung dan usus selanjutnya obat akan melalui hati diserap darah dan dibawa oleh darah sampai ke tempat kerjanya. konsentrasi puncak asam mefenamat dalam plasma tercapai dalam 2 sampai 4 jam. Pada manusia, sekitar 50% dosis asam mefenamat diekskresikan dalam urin sebagai metabolit 3-hidroksimetil terkonjugasi. dan 20% obat ini ditemukan dalam feses sebagai metabolit 3-karboksil yang tidak terkonjugasi (Goodman, 2007).

18

Efek samping dari asam mefenamat terhadap saluran cerna yang sering timbul adalah diare, diare sampai berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung, selain itu dapat juga menyebabkan eritema kulit, memperhebat gejala asma dan kemungkinan gangguan ginjal (Setiabudy, 2009).

Dosis Menurut DOI edisi 10 *oral Dewasa : 500 mg sebagai permulaan, bersama makanan, diikuti dengan 250mg setiap 6 jam sekali sesuai dengan keperluan, selama tidak lebih dari

Menurut BNF 61, March 2011 - Dewasa leih dari 18 tahun : 500 mg 3 kali sehari - Anak 12-18 tahun, rasa nyeri akut seperti dismenorea, menorrhagia : 500mg 3 kali sehari

2. Polivinil pirolidon Povidon adalah hasil polimerisasi 1-vinilpirolid-2-on. Dalam berbagai bentuk polimer dengan rumus molekul (C6H9NO)n, bobot molekul berkisar antara 10.000 hingga 700.000 - Pemerian : serbuk halus berwarna putih sampai putih kekuningkuningan, tak berbau atau hampir berbau, higroskopis.
19

- Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam kloroform P, kelarutan tergantung dari bobot molekul rata-rata; praktis tidak larut dalam eter P. - Khasiat dan penggunaan : zat tambahan - Konsentrasi sebagai tablet binder, tablet diluent, coating agent 0,5-5% - Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat

3. Amylum manihot / pati singkong Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilissima Pohl (Familia Euphorbiaceae) - Pemerian : serbuk sangat halus, putih - Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol - Mikroskopik : butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak; butir kecil diameter 5 m sampai 10 m, butir besar bergaris tengah 20 m sampai 35 m; hilus di tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga; lamela tidak jelas, konsentris; butir majemuk sedikit, terdiri dari 2 atau 3 butir tunggal yang tidak sama bentuknya. - Batas mikroba : tidak boleh mengandung Escherichia coli; lakukan penetapan menggunakan 1,0 g - Konsentrasi sebagai pengikat 5-25% dan penghancur 3-15% - Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat

20

4. Talcum Talcum adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang

mengandung sedikit alumunium silikat. - Pemerian : serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu. Berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran. - Kelarutan : praktis tidak larut dalam asam dan basa cair, pelarut organik dan air. - Konsentrasi sebagai glidant dan tablet lubricant 1-10% - OTT : tidak tercampur dengan bahan-bahan amonium - Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

5. Lactose

Rumus molekul : C12H22O11 Berat molekul : monohidrat 360,31 ; anhidrat 342,30 Pemerian : Serbuk atau massa hablur, keras, putih, atau putih krem. Tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau.

21

Kelarutan : mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih; sangat sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.

Batas mikroba : angka lempeng total tidak lebih dari 100 per g dan tidak boleh mengandung Salmonella sp dan Escherichia coli

Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.

Laktosa memiliki gugus karbonil yang berpotensi bebas pda residu glukosa. Laktosa adalah disakarida pereduksi. Selama proses pencernaan, laktosa mengalami proses hidrolisis enzimatik oleh laktase dari sel-sel mukosa usus. Laktosa, atau sering juga disebut sebagai gula susu, adalah bagian dari susu yang memberikan rasa manis dengan tingkat kemanisan lebih rendah dari sukrosa. Laktosa berfungsi untuk membantu penyerapaan natrium dan kalsium. Juga memberikan efek positif terhadap fisiologis usus, termasuk efek prebiotik, melunakkan kotoran dan membantu mengikat air.

22

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Tempat Dan Waktu 1. Tempat Praktikum dilakukan di Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi Solid Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. 2. Waktu Praktikum di laboratorium dilaksanakan pada bulan desember 2012.

B. Alat dan Bahan Praktikum 1. Alat Praktikum Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : lumpang dan alu, pipet tetes, beacker glass, gelas ukur, batang pengaduk, termometer, spatel, baskom plastik, ayakan nomor 12 dan 16, hot plate, oven, granule le tester, Desintegration tester, taped density, stopwatch, timbangan analitik.

2. Bahan Praktikum Bahan yang digunakan adalah Asam mefenamat, polivinil pirolidon, amylum manihot, talcum, dan lactosa.

23

C. Trial produksi Rancangan formula : R/ Asam mefenamat Polivinil pirolidon Amylum manihot Talcum Lactosa ad 500mg 5% 8% 5% 700mg

D. Perbaikan trial Rancangan formula : R/ Asam mefenamat Polivinil pirolidon Amylum manihot Talcum Lactosa ad 500mg 5% 12% 5% 700mg

E. Prosedur Praktikum 1. Pembuatan granul a. Menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan. b. Menggerus bahan yang berbentuk serbuk dalam mortir hingga halus. c. Menimbang bahan-bahan obat yang akan dibuat menjadi sediaan.

24

d. Asam mefenamat dimasukkan ke dalam wadah baskom, kemudian ditambahkan lactosa dan amylum manihot, dicampur dengan

menggunakan tangan sampai homogen (massa 1) e. PVP yang telah dilarutkan dengan air panas dimasukkan ke dalam massa 1 sedikit demi sedikit sambil diremas-remas. f. Campuran diaduk dan diremas dengan tangan sampai terbentuk massa yang dapat dikepal. g. Bila dikepal atau dipatahkan bisa tetapi tidak patah atau hancur berantakan, atau yang biasa disebut banana breaking (seperti mematahkan buah pisang). h. Dilakukan pengayakan basah dengan menggunakan ayakan nomor 12, lalu ditimbang beratnya. i. Dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 50 oC selama 24 jam. j. Diayak kembali dengan menggunakan ayakan nomor 16 lalu ditimbang beratnya. k. Granul yang telah jadi diletakkan di dalam wadah kemudian dilakukan evaluasi granul.

2. Evaluasi granul a. Waktu alir Granul dimasukkan ke dalam corong uji waktu alir. Penutup corong dibuka sehingga granul keluar dan ditampung pada bidang datar. Waktu alir granul dicatat dan sudut diamnya dihitung dengan mengukur
25

diameter dan tinggi tumpukan granul yang keluar dari mulut corong. Waktu alir dipersyaratkan dengan sudut diam tidak lebih dari 30 derajat. Untuk 100 g granul atau serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik, maka akan mengalami kesulitan saat waktu penabletan. b. Sudut diam Setelah dilakukan uji waktu alir, diukur diameter tumpukan granul dibidang horizontal dengan penggaris. Diukur pula tinggi tumpukan dari bidang horizontal. Lalu dihitung sudut diam dengan rumus tan = h/r dengan h adalah tinggi kerucut dan r adalah jari-jari bidang dasar kerucut

3. Pengisian kapsul a. Granul yang telah dibuat ditambahkan dengan Talcum, kemudian dicampur sampai homogen. b. Disiapkan cangkang kapsul nomor 0. c. Dilakukan pengisian kapsul sampai 30 kapsul dengan menggunakan alat bukan mesin.

4. Evaluasi kapsul a. Keragaman bobot (FI IV) Timbang seksama 10 kapsul, satu persatu, beri identitas tiap kapsul, keluarkan isi tiap kapsul dengan cara yang sesuai. Timbang seksama tiap cangkang kapsul kosong dan hitung bobot netto dari isi tiap kapsul
26

dengan cara mengurangkan bobot cangkang kapsul dari masing- masing bobot kapsul. Dari hasil penetapan kadar, hitung zat aktif masingmasing dari 10 kapsul dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. b. Keseragaman bobot (FI III) Timbang 20 kapsul lalu timbang lagi satu persatu. Keluarkan isi semua kapsul,timbang selurung bagian cangkang kapsul. Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. c. Waktu hancur (FI III) Masukkan 1 kapsul pada masing-masing tabung dari keranjang, masukkan satu kasa berukuran 10 mesh yangditempatkan pada permukaan lempengan atas dari rangkaian keranjang pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air bersuhu 37 2 sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam masing-masing monografi. Amati kapsul dalam batas waktu yang dinyatakan dalam masing-masing monografi, semua kapsul harus hancur, kecuali bagian dari cangkang kapsul.

27

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil Rancangan Formula 1 kapsul R/ Asam Mefenamat PVP Amylum Manihot Talk Laktosa ad 500 mg 5% 8% 5% 700 mg

Perbaikan Formula R/ Asam Mefenamat PVP Amylum Manihot Talk Laktosa ad 500 mg 5% 12 % 5% 700 mg

Formula 1 batch (70 kapsul) R/ Asam Mefenamat PVP Amylum Manihot Talk 35 g 5% 12 % 5%
28

Laktosa

ad

49 g

Perhitungan: Asam Mefenamat : 500 mg x 70 = 35 g PVP : 5 % x 49 g = 2,45 g

Amylum Manihot : 12 % x 49 g = 5,88 g Talk Laktosa : 5 % x 49 g = 2,45 g : 49 g (35+2,45+5,88+2,45) g = 3,22 g

Evaluasi Granul 1. Waktu Alir Perlakuan 1 = 10 detik Perlakuan 2 = 10 detik 2. Sudut Diam Perlakuan 1 t = 3,2 cm d = 13 cm tan = h / r = 3,2 / 6,5 = 0,4923 = 24,7024

Pelakuan 2 t = 3,1 cm d = 12 cm tan = h / r = 3,1 / 6 = 0,5166 = 25,0169

Evaluasi Kapsul 1. Keseragaman Bobot Bobot Penyimpangan (gram) 0,6175 0,6141 0,6181 0,6181 (%) 16,0175 15,2710 15,9526 15,8714

Bobot (gram) 0,6219 0,6114 0,6106 0,6195

Penyimpangan (%) 16,5206 14,7030 14,6705 16,0986


29

0,6174 0,6281 0,6047 0,6067 0,6046 0,6225

15,8065 17,5916 13,7779 14,1350 13,8266 16,9750

0,6213 0,6092 0,6217 0,6162 0,6277 0,6122

16,2609 14,4920 16,6504 15,4495 17,4456 13,9727

Jumlah bobot 20 kapsul = 12,3235 Rata-rata bobot 1 kapsul = 12,3235/20 = 0,6162 2. Waktu Hancur 1. 2 menit 10 detik 2. 1 menit 55 detik 3. 2 menit B. Pembahasan Pada penelitian ini dilakukan pembuatan granul dari zat aktif Asam Mefenamat. Berdasarkan uji waktu alir yang telah dilakukan sebelumnya terhadap Asam Mefenamat, dapat disimpulkan bahwa Asam Mefenamat memiliki sifat alir yang kurang baik, sehingga perlu diperbaiki. Cara memperbaiki sifat alir suatu zat aktif salah satunya adalah dibuat ke dalam bentuk granul. Untuk membuat sebuah granul diperlukan beberapa bahan tambahan, yaitu bahan pengikat, bahan pengisi, bahan penghancur (disintegrant) dan glidan. Bahan pengikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah PVP (Polivinilpirolidon). PVP memiliki kelebihan dapat meningkatkan kelarutan zat aktif yang tidak larut dalam air. Konsentrasi PVP sebagai pengikat berkisar antara 0,5-5%. Bahan pengisi yang digunakan adalah Laktosa. Untuk bahan penghancur digunakan Amylum Manihot. Amylum dapat digunakan sebagai bahan penghancur dengan
30

konsentrasi sebesar 3-15%. Sedangkan glidan yang digunakan adalah Talk. Glidan diperlukan untuk memperbaiki sifat alir dari granul sehingga memudahkan pada proses pengemasan granul ke dalam cangkang kapsul. Pembuatan granul dilakukan dengan cara, membuat suatu larutan dengan mecampurkan PVP dengan ml air panas, aduk homogen. Asam Mefenamat dicampur dengan Amylum Manihot dan Laktosa sampai homogen. Larutan PVP yang telah dibuat sebelumnya, ditambahkan kedalam campuran zat

aktif,desintegrant dan bahan pengisi tersebut sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang dapat dikepal dan dipatahkan tetapi tidak hancur berantakan (banana breaking). Pada pengerjaan trial produksi massa yang terbentuk terlalu lunak dan tidak dapat dipatahkan sehingga dilakukan penambahan konsentrasi Amylum Manihot hingga didapatkan massa yang dapat dipatahkan atau sesuai yang dikehendaki. Massa yang telah terbentuk kemudian diayak dengan ayakan no.12. Sebelumnya, loyang yang digunakan untuk wadah mengeringkan granul ditimbang terlebih dahulu beserta alumunium foil yang melapisinya. Granul yang sudah diayak ditempatkan sebagai massa basah lalu ditimbang beserta loyangnya. Granul dikeringkan dalam oven pada suhu 50C. Setelah dikeringkan selama 24 jam atau granul tidak gosong, granul ditimbang kembali untuk mengetahui % susut pengeringan yang didapat dan diayak dengan ayakan mesh no. 16. Granul yang telah diayak ditimbang kembali untuk mengetahui bobot granul yang diperoleh.

31

Penelitian dilanjutkan dengan evaluasi granul. Tujuan evaluasi granul adalah untuk mengetahui apakah granul dapat mengalir dengan baik atau tidak. Uji evaluasi granul terdiri dari waktu alir dan sudut diam. Pengujian waktu alir digunakan granul 50 gram, lalu ditambahkan Talkum sebagai glidan. Alat yang digunakan dalam pengujian adalah granule le tester . Pengujian dilakukan sebanyak 2 kali dan didapat hasil waktu yang tercatat yaitu 10 detik; 10 detik dan didapat waktu rata-ratanya 10 detik. Berdasarkan referensi sifat alir granul yang baik memiliki waktu alir tidak lebih dari 10 detik. Hal ini membuktikan bahwa granul mempunyai sifat alir yang baik. Sudut diam adalah sudut yang terjadi antara himbunan pertikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk, ukuran dan kelembaban granul (Wedke & Jacobson, 1989). Metode yang digunakan dalam uji sudut diam sama seperti pada uji waktu alir. Sudut diam didapat dengan mengukur tinggi kerucut dan jari-jari kerucut tan = h/r. Pada perlakuan sebanyak tiga kali diperoleh data 24,7024 ; 25,0169. Persyaratan granul dengan sifat alir yang baik adalah 25 - 45, sehingga granul tersebut dapat dikatakan memenuhi syarat sudut diam. Setelah dilakukan evaluasi granul, proses produksi dilanjutkan dengan pengisian kapsul. Kapsul yang digunakan adalah jenis kapsul keras. Kapsul keras terdiri dari tutup dan badan kapsul, tersedia dalam bentuk kosong, isinya biasanya padat, cara pakai per oral, dan bentuk hanya satu macam. Kapsul yang digunakan adalah kapsul nomor 0 dengan kapasitas volume 0,85 ml.

32

Pengisian dilakukan dengan menimbang granul sebanyak jumlah bobot untuk 1 batch yaitu 70 kapsul x 700 mg. Alat yang digunakan adalah jenis alat bukan mesin yang dinamakan capsule filling. Bagian badan dari kapsul keras ditempatkan pada alat capsule filling. Granul yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam cangkang kapsul sama rata dan tutup semua kapsul dengan bagian tutupnya. Evaluasi kapsul merupakan proses lanjutan dari pengisian kapsul. Evaluasi kapsul dilakukan untuk mendapatkan kapsul yang bagus dan memenuhi persyaratan. Evaluasi untuk kapsul terdiri dari evaluasi keseragaman bobot, waktu hancur, disolusi dan keseragaman sediaan. Namun, karena keterbatasan alat dan waktu yang dilakukan hanya uji keseragaman bobot dan waktu hancur. Untuk uji keseragaman bobot, 20 kapsul yang telah berisi granul ditimbang, kemudian kapsul ditimbang satu persatu. Setelah itu dikeluarkan isi dari kapsul dan ditimbang kembali cangkang kapsul yang telah kosong satu persatu, sehingga dapat diperoleh bobot obat yang ada pada tiap kapsul. Dari data tersebut juga dapat diperoleh bobot rata-rata kapsul yaitu seberat 0,6162 g. Berdasarkan tabel Farmakope Indonesia Edisi III, jika bobot rata-rata lebih dari 120 mg, maka % penyimpangan pada kolom A sebesar 7,5% dan kolom B sebesar 15%. Dari hasil praktikum, diketahui ada kapsul yang %

penyimpangannya lebih dari 7,5%

dan 2 kapsul

lebih dari 15%. Hal ini

menandakan kapsul yang dibuat tidak memenuhi syarat keseragaman bobot. Hasil tersebut kemungkinan terjadi karena kurang seragamnya bobot granul yang

33

dimasukkan pada tiap kapsul, atau kurang bersihnya cangkang kapsul saat ditimbang kembali sehingga masih ada serpihan granul yang menempel. Untuk pengujian waktu hancur, dilakukan dengan menggunakan alat Desintegration Tester. Dalam penggunaannya, digunakan media air dengan suhu 37C. Kemudian, kapsul dimasukkan ke dalam masing-masing chamber (6 kapsul). Amati berapa waktu hancur kapsul yang diperlukan. Dari pengujian

waktu hancur secara triplo (3 kali), didapatkan waktu hancur kapsul yaitu 2 menit 10 detik, 1 menit 55 detik dan 2 menit. Persyaratan menurut FI III, kecuali dinyatakan lain waktu hancur kapsul tidak boleh lebih dari 15 menit. Hal ini membuktikan bahwa kapsul granul Asam Mefenamat yang dibuat, memenuhi syarat waktu hancur. Pengemasan dilakukan selanjutnya setelah evaluasi. Kapsul yang tersisa sebanyak 30 kapsul dikemas dalam sebuah wadah botol plastik yang memenuhi syarat sebagai wadah yang baik untuk penyimpanan kapsul. Wadah tersebut kemudian dilapisi oleh box dan disertakan juga brosur untuk kemudahan informasi konsumen.

34

BAB V PENUTUP

A.

Kesimpulan

Asam mefenamat memiliki sifat alir yang tidak bagus, salah satu cara untuk memperbaiki sifat alir adalah dengan granulasi. Metode granulasi yang digunakan adalah granulasi basah. Pada granulasi digunakan amilum sebagai penghancur, laktosa sebagai bahan pengisi, pvp sebagai bahan pengikat, dan talcum sebagai glidant. Evaluasi granul terdiri dari uji waktu alir, uji sudut diam, dan kompresibilitas. Pada praktikum diperoleh hasil uji waktu alir tidak lebih dari 10 detik dan sudut diam berkisar antara 25 - 45, dari hasil tersebut dapat disimpulkan granul asam mefenamat memenuhi syarat. Evaluasi kapsul terdiri dari uji waktu hancur, uji keseragaman bobot, uji disolusi. Pada praktikum diperoleh hasil uji waktu hancur tidak lebih dari 15 menit, diperoleh hasil penyimpangan % bobot 1 kapsul lebih dari 7,5% dan % bobot rata-rata 2 kapsul lebih dari 15% pada uji keseragaman bobot. Dari data tersebut dapat disimpulkan kapsul asam mefenamat memenuhi syarat waktu hancur tetapi tidak memenuhi syarat keseragaman bobot.

B.

Saran Proses pemasukkan granul ke dalam kapsul dilakukan dengan hati-hati

agar didapatkan

sediaan kapsul yang memenuhi syarat keseragaman bobot.

Kapsul asam mefenamat dikemas dalam wadah yang tertutup baik dan tidak terkena sinar matahari langsung.

35

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1975.Farmakope Indonesia Edisi ketiga. Jakarta : Departemen kesehatan RI Anonim, 1995. Farmakope Indonesia Edisi ke empat. Jakarta : Departemen kesehatan RI Anonim. 2002.Data Obat Di Indonesia. Jakarta: Grafidian Medipress Anief, moh. 1988. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gajah Mada university Press. Aulton, Michael.E, Diana. M. Collent. 1991. Pharmaceutical Practice. Singapore: ELBS Syamsuni A, 2007. Ilmu Resep. Jakarta : penerbit buku kedokteran EDC. Voight, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Ed. Ke-5. Jogja: UGM Press Wade,Ainley, Paul.J.Weller. 1994. Handbook Of Pharmaceutical Excipient Second Edition Washington: American Pharmaceutical Association http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22623/4/Chapter%20II.pdf

36