Anda di halaman 1dari 17

Gigi tiruan berfungsi untuk meningkatkan kemampuan dalam mengunyah, berbicara dan memberikan dukungan untuk otot wajah.

Meningkatkan penampilan wajah dan senyum. Gigi tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh (Full Crown) dan gigi tiruan sebagian (Partial Crown). Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi menjadi gigi tiruan lepasan / Removable (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan gigi tiruan cekat / Fixed / GTC (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen). Gigi tiruan cekat atau disingkat dengan GTC diklasifikasikan menjadi dua yaitu crown dan bridge. Secara keseluruhan gigi tiruan cekat dapat bertujuan untuk mencapai pemulihan kembali kondisi-kondisi yang abnormal pada pengunyahan, pemugaran dari sebagian atau seluruh alat pengunyahan termasuk bagian yang mengalami kerusakan, pencegahan terjadinya kerusakan selanjutnya pada gigi-gigi lainnya dan jaringan lunak sekitarnya, kondisi yang menjamin keutuhan alat pengunyahan untuk waktu yang selama mungkin Gigi dapat hilang karena karies yang melanjut, penyakit periodontal atau kerusakan karena trauma. Gigi yang hilang harus cepat diganti untuk menjaga kesehatan mulut. Biasanya jembatan lebih disenangi oleh penderita dari geligi tiruan lepasan. Sesuai dengan kasus yang ada bahwa pasien dengan riwayat pernah menggunakan gigi tiruan lepasan namun pasien merasa tidak nyaman dalam penggunaannya. Sehingga berdasarkan latar belakang di atas, kami membahas mengenai kasus gigi tiruan jembatan, dengan diawali dalam menegakkan diagnosa, dan rencana perawatannya. 2.1 Definisi Gigi Tiruan Menurut Glossary of Prosthodontics (dalam Rahmawan, 2008)) gigi tiruan adalah bagian prostodonsia yang menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang atau seluruh gigi asli yang hilang dengan gigi tiruan dan didukung oleh gigi, mukosa atau kombinasi gigi-mukosa ada yang dapat dan ada yang tidak dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Gigi tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh (Full Crown) dan gigi tiruan sebagian (Partial Crown). Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi menjadi gigi tiruan lepasan / Removable (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan gigi tiruan cekat / Fixed / GTC (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen). Gigi tiruan cekat atau disingkat dengan GTC diklasifikasikan menjadi dua yaitu crown dan bridge. Crown Prosthetic adalah cabang ilmu prothesa yang mempelajari tentang penggantian gigi asli sebagian atau seluruhnya dengan satu crown pengganti. Crown adalah suatu restorasi berupa crown penuh atau sebagian dari satu gigi yang terbuat dari logam, porselen, akrilik atau kombinasi. Bridge / Jembatan adalah disebut juga fixed partial denture yaitu suatu prothesa (geligi tiruan) yang menggantikan kehilangan satu atau lebih gigi asli yang terbatas dan tertentu, dilekatkan secara permanen dengan semen didukung sepenuhnya oleh 1 atau lebih gigi atau akar gigi yang telah dipersiapkan. Menurut Martanto (1981) ada beberapa istilah dalam ilmu mahkota dan jembatan yaitu: 1. Mahkota (Crown) adalah suatu restorasi berupa mahkota penuh atau sebagian dari suatu gigi yang dibuat dari logam, porselen, atau kombinasi.

2. Jembatan (Bridge) adalah prothesa (geligi tiruan) yang menggantikan kehilangan satu atau lebih gigi asli yang terbatas dan tertentu, dilekatkan secara permanen dengan semen didukung sepenuhnya oleh 1 atau lebih gigi atau akar gigi yang telah dipersiapkan. 3. Jembatan Lepas (Removable Bridge) adalah protesa sebagian dimana daya kunyah seluruhnya didukung oleh gigi-gigi asli yang masih ada dan dilekatkan padanya dengan pengait / attachment lain yang memungkinkan jembatan ini dibuka-pasang 4. geligi Tiruan Sebagian (Partial Denture) adalah protesa yang mengganti satu atau lebih dari satu gigi yang disangga sebagian besar oleh gusi. Protesa ini dipertahankan pada tempatnya dengan cangkolan atau attachment lainnya. 2.2. Tujuan Perawatan Gigi Tiruan Jembatan Menurut Prayitno (dalam Taqwim 2008), tujuan dari perawatan gigi tiruan jembatan yaitu: 1. Mencari Keserasian oklusi.

Harus ada kecocokan geligi terhadap sendi temporomandibula. Ini terjadi kalau mandibula dapat menutup langsung dalam oklusi sentris tanpa danya kontak prematur mandibula. Jadi ada keserasian antara geligi dengan sendi dan otot kunyah. Kondisi seperti ini disebut kompatibilitas oklusi. 2. Peningkatan Fungsi Bicara / Fonetik Alat bicara dibagi dalam dua bagian. Pertama, bagian yang bersifat statis, yaitu gigi, palatum dan tulang alveolar. Kedua yang bersifat dinamis, yaitu lidah, bibir, vulva, tali suara dan mandibula. Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi suara penderita, misalnya pasien yang kehilangan gigi depan atas dan bawah. Kesulitan bicara dapat timbul, meskipun hanya bersifat sementara. Dalam hal ini geligi tiruan dapat meningkatkan dan memulihkan kemampuan bicara, artinya ia mampu kembali mengucapkan katakata dan berbicara dengan jelas, terutama bagi lawan bicaranya. 3. Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan. Jika ada gigi yang hilang otomatis pola kunyah terganggu, atau terselipnya makanan di bagian yang tidak bergigi 4. Pelestarian Jaringan mulut yang masih tinggal. Pemakaian geligi tiruan berperan dalam mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi. 5. Pencegahan Migrasi Gigi. Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang kosong tadi. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya menyebabkan renggangnya gigi lain. Dengan demikian terbukalah kesempatan makanan terjebak disitu, sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental. Hal ini menimbulkan peradangan jaringan periodontal dan dekalsifikasi permukaan proksimal gigi. Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinya overerupsi gigi antagonis dengan akibat serupa. Kapan overerupsi ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada rahang lawannya, maka akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari.

6. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah. Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tinggal. Kondisi ini memperburuk kondisi

periodontal, apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya gigi jadi goyang dan miring, terutama ke labial untuk gigi depan atas. Kapan perlekatan periodontal gigi-gigi ini kuat, beban berlebih tadi akan menyebabkan abrasi berlebih pula pada permukaan oklusal / insisal atau merusak restorasi yang dipakai. Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perlu waktu lama. Overerupsi gigi pada kondisi tertentu dapat pula menyebabkan terjadinya kontak oklusi premature atau interfernsi oklusal. Pola kunyah jadi berubah, karena pasien berusaha menghindari kontak prematur ini. Meskipun beban oklusal sekarang berkurang. Perubahan pola ini mungkin saja menyebabkan disfungsi otot kunyah.

7.

Manfaat Psikologik.

Terutama kehuilangan gigi depan dapat membawa dampak psikologik pada penderita yaitu karena estetika terganggu. Terutama berhubungan dengan profesi penderita yang harus selalu berhadapan dengan publik, misal penyiar tv atau guru dan lain-lain.

8.

Pemulihan Fungsi Estetika

Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik, baik yang disebabkan hilangnya, berubah bentuk, susunan, warna maupun berjejalnya gigi geligi. Tampaknya banyak sekali pasien yang dapat menerima kenyataan hilangnya gigi, dalam jumlah besar sekalipun, sepanjang penampilan wajahnya tidak terganggu. Penderita dengan gigi depan malposisi, pr otr usif atau berjejal dan tak dapat diperbaiki dengan perawatan ort odonti k , tetapi tetap ingin memperbaiki penampilan wajahnya, biasanya dibuatkan suatu geligi tiruan i mi di at yang dipasang langsung segera setelah pencabutan gigi.

2.3 Akibat kehilangan gigi Akibat kehilangan gigi tanpa penggantian menurut aryanto (dalamRahmawan, 2008) adalah:

1.

Migrasi dan Rotasi Gigi

Hilangnya kesinambungan pada lengkung gigi dapat menyebabkan pergeseran, miring atau berputarnya gigi. Karena gigi ini tidak lagi menempati posisi yang normal untuk menerima beban yang terjadi pada saat pengunyahan, maka akan mengakibatkan kerusakan struktur periodontal. Gigi yang miring lebih sulit dibersihkan, sehingga aktivitas karies dapat meningkat.

Pada kasus ini, gigi tiruan jembatan akan dibuatkan, namun gigi tetangga telah bermigrasi kedaerah gigi yang hilang tersebut. Menurut Prayitno (1991), bila sebuah gigi miring dapat menyulitkan arah pasang jembatan dengan full crown sebagai retainer, arah pasang dalam kondisi itu sebaiknya dibuat

tegak lurus terhadap bidang oklusal. Jika daam hal itu terlalu banyak jaringan keras gigi yang harus dibuang, maka sebaiknya dibuatkan mahkota teleskop sebagai retainer. Gigi yang condong dapat disebabkan oleh hilangnya gigi tetangganya, sehingga gigi miring ke arah ruang gigi yang missing. Tapi bila kecondongan itu tidak banyak, enamel gigi tetangga yang miring tersebut dapat dikorbankan, tetapi bila harus membuang lebih dari 50% ketebalan enamel, lebih baik dibuatkan mahkota teleskop saja. Mahkota teleskop adalah mahkota yang terdiri atas suatu selungkup dari logam yang akan disemen dahulu pada tempatnya. Diatasnya kemudian dibuatkan mahkota penuh pengecoran yang pada gilirannya disemen juga pada tempatnya, diselungkup tadi. Dalam penerapannya sebagai retainer, selungkup logamnya terlebih dahulu diberi bentuk preparasi mahkota penuh pengecoran yang poros preparasinya disesuaikan dengan poros preparasi gigi penyangga yang lain. Sistem teleskop ini dapat juga diterapkan pada bagian pontik jembatan. Maka bagian teleskop yang menyerupai preparasi mahkota penuh diikutkan pada salah satu retainer jembatan itu, sedang bagian lain dari teleskop (pontik teleskop) diikutkan pada retainer satunya Gambar 1.1 bentuk pontik teleskop

2.

Erupsi berlebih.

Bila gigi sudah tidak memiliki antagonis lagi, maka akan terjadi erupsi berlebih (over eruption). Erupsi berlebih dapat terjadi tanpa atau disertai pertumbuhan tulang alveolar. Bila hal ini terjadi tanpa disertai pertumbuhan tulang alveolar, maka struktur periodontal akan mengalami kemunduran sehingga gigi mulai extrusi . Kapan terjadinya hal ini disertai pertumbuhan tulang alveolar berlebih, maka akan menimbulkan kesulitan jika pada suatu hari penderita perlu dibuatkan geligi tiruan lengkap. 3. Penurunan Efisiensi Kunyah

Mereka yang sudah kehilangan banyak gigi, apalagi yang belakang, akan merasakan betapa efisiensi kunyahnya menurun. Pada kelompok orang yang dietnya cukup lunak, hal ini mungkin tidak terlalu berpengaruh, saran pada masa kini banyak jenis makanan yang dapat dicerna hanya dengan sedikit proses pengunyahan saja. 4. Gangguan pada Sendi Temporo-mandibula.

Kebiasaan mengunyah yang buruk, penutupan berlebih (over closure), hubungan rahang yang eksentrik akibat kehilangan gigi, dapat menyebabkan gangguan pada struktur sendi rahang.

5.

Beban Berlebih pada Jaringan Pendukung.

Bila penderita sudah kehilangan sebagian gigi aslinya, maka gigi yang masih ada akan menerima tekanan mastikasi lebih besar sehingga terjadi pembebanan berlebih. Hal ini mengakibatkan kerusakan membaran periodontal dan akhirnya gigi tadi manjadi goyang dan akhirnya terpaksa dicabut. 6. Varian bicara

Kehilangan gigi depan atas dan bawah seringkali menyebabkan kelainan bicara, karerna gigi khususnya yang depan termasuk bagian organ fonetik. 7. memburuknya Penampilan

Menjadi buruknya penampilan karena kehilangan gigi depan akan megurangi daya tarik wajah seseorang, apalagi dari segi pandang manusia modern. 8. terganggunya Kebersihan Mulut.

Migrasi dan rotasi gigi menyebabkan gigi kehilangan kontak dengan tetangganya, demikian pula gigi yang kehilangan lawan gigitnya. Adanya ruang interproksimal tidak wajar ini, mengakibatkan celah antar gigi mudah disisipi makanan. Dengan sendirinya kebersihan mulut jadi terganggu dan mudah terjadi plak. Tahap berikutnya terjadi karies gigi. Pada tahap berikut terjadinya karies gigi dapat meningkat. 9. Atrisi

Pada kasus tertentu dimana membran periodontal gigi asli masih menerima beban berlebihan, tidak akan mengalami kerusakan, bahkan tetap sehat. Toleransi terhadap beban ini bisa berwujud atrisi pada gigi-gigi tadi, sehingga dalam jangka waktu panjang akan terjadi pengurangan dimensi vertikal wajah pada saat kondisi gigi beroklusi sentrik.

10. Efek Terhadap Jaringan Lunak Mulut Bila ada gigi yang hilang, ruang yang ditinggalkannya akan ditempati jaringan lunak pipi dan lidah. Jika bertahan lama, hal ini akan menyebabkan kesulitan adaptasi terhadap geligi tiruan yang

kemudian dibuat, karena terdesaknya kembali jaringan lunak tadi dari tempat yang ditempati protesis. Dalam hal ini, pemakaian geligi tiruan akan dirasakan sebagai suatu benda asing yang cukup mengganggu.

2.4

Keuntungan dan Kerugian Pemakaian Gigi Tiruan Jembatan

Pada pembuatan gigi tiruan jembatan ada beberapa keuntungan yaitu: 1. Karena dilekatkan pda gigi asli sehingga tidak mudah lepas atau tertelan 2. Dirasakan seperti gigi asli oleh penderita 3. Memiliki efek splinting untuk mempertahankan posisi gigi 4. Tidak ada kawat sehingga permukaan email tidak aus 5. Melindungi gigi terhadap tekanan 6. Mendistribusikan tekanan fungsi keseluruh gigi sehingga menguntungkan jaringan gigi. Beberapa kerugiannya yaitu: 1. Membutuhkan pengasahan permukaan gigi pada mahkota gigi yang masih utuh untuk dijadikan gigi penyangga 2. Ditempatkan permanen sehingga sulit untuk mengontrol plak gigi (dapat dicegah dengan emnggunakan dental floss) 3. Dapat menyebabkan peradangan mukosa bawah pontik

2.5

Indikasi dan Kontra indikasi umum

Menurut Prayitno (1991) ada beberapa indikasi dan kontraindikasi dalam perawatan gigi tiruan jembatan yaitu: 1. Usia penderita: 20 s / d 50 tahun

Kontra indikasi untuk usia di bawah 20 tahun karena: Foramen apikal yang masih terbuka dan bisa fraktur Saluran akar masih lebar sehingga preparasi terbatas

Proses pertumbuhan masih aktif dapat dilihat pertumbuhan gigi dengan rontgen Dapat menghambat pertumbuhan tulang Kontraindikasi untuk usia diatas 50 tahun karena:

2.

Sudah terjadi resesi gingiva dan terlihat servikal gigi Terjadi perubahan jaringan pendukung & resobsi tulang alveolar secara fisiologis Varian jaringan yang bersifat patologis Sikap Penderita & kondisi psikologis

Yang terpenting dalam menentuan dibuat tidaknya suatu jembatan pada seorang penderita adalah sikapnya terhadap pearwatan gigi serta motivasinya. Gaya pasien terbagi dalam tahap-tahap psikologis saat anamnesa yaitu: - Klas 1: filosofi (pasien kooperatif) - Klas 2: Pasien banyak bicara dan ingin tahu (exciting) - Klas 3: Histerical - Klas 4: Indeferen (acuh tak acuh, pada pasien ini harus banyak komunikasi) 3. Kondisi keuangan, pendidikan & pekerjaan]

Keuangan dapat juga menjadi pertimbangan. Pada umumnya gigi tiruan lepasan lebih murah dibanding jembatan, tingkat pendidikan, wawasan dan intelektualitas berpengaruh dalam merencanakan suatu perawatan. 4. Penyakit sistemik

Pada penderita dengan epilepsi sebaiknya direncanakan pembuatan jembatan dari gigi tiruan lepasan, sebab kemungkinan dapat terjadi fraktur pada gigi tiruan lepasan tersebut, dan kemungkinan dapat tertelan, bila penyakit sedang kambuh. Penyakit sistemik lainnya seperti penyakit jantung. 5. Kondisi Periondisium

Harus dipastikan melalui hasil foto rontgen tidak ada kelainan

Indikasi khusus: 1. Gigi penyangga: Vital & non vital dengan perawatan saluran akar Jaringan periodontal sehat

Bone support baik Bentuk akar yang panjang Posisi dan inklinasi yang baik dalam lengkung rahang Bentuk dan besar anatomis gigi normal Mahkota gigi punya jaringan email dan dentin yang sehat

2. Gigi antagonis: oklusi normal

3. Gigi tetangga: 2.6 Tipe Bridge 1. Fixed-fixed bridge : kedua konektor bersifat rigid dapat digunakan untuk gigi anterior dan posterior. Gambar 1.2 fixed-fixed bridge Tidak mengalami rotasi, migrasi, miring

2. Fixed Movable bridge : salah satu konektor bersifat rigid disemenkan dan konektor lainnya non rigid (semi fixed-fixed bridge) tanpa disemenkan dapat digunakan untuk gigi anterior dan posterior Gambar 1.3 fixed Movable bridge

3.

Cantilever bridge :

a. Kaku: Jembatan cantilever kaku memiliki pontik yang kokoh bersatu hanya pada satu ujungnya dengan retainer atau beberapa retainer (yang dapat dihubungkan menjadi satu) Gambar 1.4 Cantilever Bridge - Kaku

b. Lengan spring yang diperpanjang: memiliki pontik yang dipasang pada salah satu ujung dari lengan spring logam yang panjang dimana ujung yang lainnya dihubungkan degan retainer (atau beberapa retainer yang berhubungan). Gambar 1.5 Cantilever - Lengan Spring / Spring Bridge

4. Compound bridge jembatan yang terdiri atas kombinasi berbagai tipe jembatan. Pada gambar di bawah jembatan cekat-cekat memiliki ekstensi cantilever mesial yang kaku Gambar 1.6 Compound Bridge

2.7 Komponen Gigi Tiruan Jembatan Menurut Allan & Foreman (1994), suatu jembatan terdiri dari 4 bagian yaitu: 1. Penyangga (Abutment) disebut pendukung retainer, dapat bervariasi tergantung faktor seperti membran periodontal, panjang & jumlah akar. Penyangga yang berada di antara 2 penyangga lainnya disebut intermediate abutment. 2. retainer merupakan restorasi (mahkota, inlay, pasak / Dowel) yang menghubungkan jembatan dengan penyangga

3. Pontik / Dummy adalah gigi buatan pengganti dari gigi yang hilang, dapat dibuat dari porselen, akrilik atau logam atau kombinasi. Beberapa macam bentuk pontik: Suddle pontik : Disain menyerupai gigi asli yang menggantikan seluruh gigi yang hilang tanpa mengubah bentuk anatomi Ridge lap pontik : Bentuk pontik berkontak dengan dasar mukosa bagian labial atau bukan saja atau bagian palatal atau lingual menggantung Hygiene pontik : Menggantung atau tidak berkontak : bentuk dan dasar pontik yang berkontak dengan mukosa lebih kecil dari

Conical pontik pada ridge lap pontik

4. Penghubung (Joint atau Connector) adalah alat yang mencekatkan pontik ke retainer. Dapat bersifat kaku (rigid) yaitu disolder atau yang tidak kaku (non-rigid) seperti kunci-kunci atau stressbreaker (alat penyerap daya untuk mengurangi beban yang harus dipikul oleh penyangga) 5. S (Sadel): daerah antara gigi-gigi abutment. Yang terutama adalah tulang alveolar yg ditutupi jar.lunak. tulang alveolar akan berubah kontur selama beberapa bulan setelah hilangnya gigi. Kontur dan tekstur sadel akan mempengaruhi desain pontik

Gambar 1.7 dan 1.8 komponen Jembatan

Keterangan: P = Pontik R = retainer S = Sadel C = Konektor A = Abutment 2.8 Tipe retainer Retainer adalah bagian dari gigi tiruan yang dilekatkan pada penyangga / menghubungakan gigi tiruan dengan gigi penyangga.Retainer berfungsi untuk memegang / menahan agar gigi tiruan tetap stabil dan meyalurkan beban kunyah ke gigi penyangga 2.8.1 Extra corona retainer Retainer meliputi bagian luar mahkota gigi terbagi atas ful crown dan partial crown a. Full crown

Indikasi: gigi penyangga masih vital gigi tiruan jembatan panjang / pendek gigi penyangga pendek intermediate abutment pasca terapi perio

b.

Partial crown

Indikasi: Jembatan pendek (kehilangan gigi 1 atau 2) Tekanan kuyah ringan / normal Bentuk & besar gigi penyangga normal Salah satu gigi penyangga miring 2.8.2 Intra corona retainer

Preparasi dan bahan retainer sebagian besar ada di dalam dentin atau dalam badan mahkota. Bentuknya: Inlay (Mesio-oklusal/Distooklusal / MOD). Indikasi: Jembatan pendek minimal kehilangan 2 gigi Tekanan kunyah ringan / normal Gigi penyangga karies kelas II Bentuk gigi penyangga normal

2.8.3 Intra Radikuler retainer = Dowel crown-mahkota pasak Preparasi dan retensi sebagian besar di dalam saluran akar Indikasi: Jembatan pendek Tekanan kunyah ringan / normal Splint abutment Bentuk gigi penyangga normal

2.9 Faktor yang mempengaruhi Retensi retainer 1. Gigi yang terlibat: mahkota gigi yang besar memberi peluang untuk mendapatkan retensi yang luas pula untuk bedia semen. Bentuk gigi yang konus biasanya tidak memberikan retensi yang baik untuk retainer. 2. Luas permukaan retainer: Luas permukaan retainer, terutama dinding aksial menentukan besarnya retensi yang dapat diperoleh. 3. Derajat kesejajaran preparasi: derajat pengerucutan (konvergensi) bidang aksial (searah poros akar gigi) sangat berpengaruh pada retensi yang dapat dicapai. Penyudutan bidang aksial sebesar 10 derajat menghasilkan retensi yang hanya dari penyudutan sebesar 5 derajat. 4. Ketegaran retainer: Pengalaman klinik membuktikan bahwa mahkota jaket terbuat dari akrilik lebih cepat terlepas dari yang terbuat dari porselen, karena porselen lebih tegar dari akrilik 5. Semen yang digunakan: Derajat retensi semen tergantung pada daya ikatnya, daya tekan, daya rentangdan ketebalan lapisan semen (umumnya 0,05 mm) 6. Bahan retainer: dapat menggunakan bahan paduan logam non mulia, juga dapat dipadukan dengan porselen 2.10 Pontik / Dummy

Fungsinya menggantikan gigi asli yang hilang. Jenis-jenisnya: 1. 2. 3. 4. Sadle pontic Ridge Lap pontic (indikasiluas, kombinasi sanitary & sadle) Sanitary Pontic Conical pontic

2.11 Abutment Jenis gigi penyangga: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Single Double Multiple Erminal Intermediate Splinted (menahan agar idak mobility)

Faktpr yang mempengaruhi gigi penyangga: 1. Hukum Ante: Luas ligamen periodontal gigi penyangga besar atau sama dibanding gigi yang hilang 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Gunakan gigi penyangga pada kedua sisi diastema Perbandingan mahkota dan akar Span / ukuran panjang diastema Lengkung rahang Tekanan kunyah Anatomi gigi & posisi gigi Vitlitas gigi Prinsip Preparasi gigi penyangga: 1. 2. 3. Mempertahankan struktur biologis gigi Retensi & resistensi Mempertahankan struktur eksternal

BAB III PEMBAHASAN

Kasus: Seorang pasien laki-laki berusia 45 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah dengan keluhan kehilangan gigi belakang kanan bawah dan pasien sudah memakai gigi tiruan lepasan dan merasa tidak nyaman karena sering masuknya makanan antara gigi asli dan gigi palsunya. Pada pemeriksaan intra oral kehilangan gigi 45, gigi 44 mengalami migrasi ke distal, sehingga ruang 45 lebih kecil dari 44 dan gigi 46 karies pada bagian mesial dengan kedalaman sampai dentin. oklusi normal dan foto rontgen normal. Pertanyaan: 3 4 Apa rencana perawatan pada pasien di atas dan buatlah disain gigi tiruannya! Jelaskan cara kerja dari tahap preparasi sampai gigi tiruan diinsersikan!

3.1 Identifikasi pasien

Umur: 45 Tahun Jenis Kelamin: Laki-laki 3.2 Diagnosa 3.2.1 Pemeriksaan subjektif Anamnesa a. Keluhan utama pasien:

kehilangan gigi belakang kanan bawah dan pasien sudah memakai gigi tiruan lepasan dan merasa tidak nyaman karena sering masuknya makanan antara gigi asli dan gigi palsunya.

3.2.2 Pemeriksaan Tujuan General: Jasmani: Sehat Rohani: Komunikatif dan kooperatif

Lokal: Ekstra Oral: Muka: Simetris Pipi: Simetris Bibir: Simetris

Intra Oral: Palatum: Normal Mukosa: Normal Gingiva: Normal Oklusi: Normal Gigi 45: missing

Gigi 44: vital, migrasi sedikit ke distal (arah kecondongan tidak banyak dan tidak mempengaruhi arah pasang pontik pada bidang oklusal) Gigi 46: vital, karies media (sampai dentin)

3.2.3 Pemeriksaan Penunjang A. Pemeriksaan rontgen foto periapikal Pada gigi 44: terlihat pergeseran arah akar ke arah mesial, tidak ada kelainan periapikal B. Pemeriksaan rontgen foto bite wing Pada gigi 46: Karies media yg sampai dentin, tidak ada kelainan periapikal

5. BAHAN GIGI TIRUAN CEKAT BRIDGE


Gigi tiruan berdasarkan bahan yang digunakan : 1. All porcelain bridge Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini. Kelebihannya adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan permukaannya mengkilat. Bahan porselen sulit dibedakan dengan gigi yang asli. Kekuatannya lebih besar daripada akrilik tetapi tidak sekuat logam. Kekurangan dari bahan porselen ini bersifat rapuh dan sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat diletakkan pada permukaan kunyah gigi belakang. Biasaya juga digunakan untuk gigi yang memerlukan estetik tinggi. Bahan porselen ini tidak cocok digunakan pada pasien dengan kebiasaan buruk bruxism karena gesekan yang terus menerus dengan gigi antagonisnya akan menyebabkan porcelain cepat pecah. 2. All acrylic bridge Bahan akrilik biasanya digunakan untuk pembuatan mahkota jaket sementara (menunggu mahkota jaket permanen). Bahan akrilik biasanya dikombinasikan dengan logam karena sifat bahan akrilik tidak kuat menahan beban kunyah. Kelebihan dari bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli, namun mudah berubah warnanya. Harganya pun murah tetapi tampilan menarik. Kontraindikasi dari bahn ini adalah tidak digunakan pada gigi yang memiliki beban kunyah yang besar karena kekerasan akrilik hanya 1/16 kekerasan dentin. Gigi tiruan yang menggunakan bahan ini juga tidak cocok digunakan pada penderita dengan bruxism. 3. All metal bridge Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas mempunyai kekuatan yang sangat bagus bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun, keuntungan yang lain adalah logam dan emas tidak korosif dan tidak berkarat. Tetapi gigi tiruan dari bahan logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi asli. Biasanya diindikasikan pada gigi posterior dan kontraindikasinya adalah gigi abutmen yang digunakan mempunyai ketebalan dentin yang kecil.

Gold Crowns Keuntungan: - metode simple karena struktur gigi yang dkurangin lebih minimal. - Lebih tahan lama pada saat tekanan berat seperti menggigit dan mengunyah. - Mudah menyesuaikan sesuai daerah di mana gigi dan mahkota memenuhi - Sehat lingkungan untuk jaringan gusi Kerugian: - estetik kurang karena warna gigi tidak seperti gigi asli. 4. Kombinasi (porselen dan metal) Porcelain fuse to metal adalah jenis hibrida antara mahkota logam dan mahkota porselen. Mereka terutama dipilih untuk gigi depan tetapi tidak menutup kemungkinan juga digunakan pada gigi posterior. Porcelen fuse to metal ini lebih kuat daripada all porselen bridge. Meskipun porcelen fuse to metal dipilih untuk penampilan yang sangat baik karena keestetikannya, ada beberapa kelemahan utama yang terkait dengan logam menyatu di dalamnya. Berikut adalah beberapa kelemahan dicatat oleh pengguna dan dokter gigi mahkota ini: Ketidaknyamanan-gigi mungkin sensitif setelah prosedur. Jika gigi dimahkotai masih mengandung beberapa saraf, saraf yang akan sensitif terhadap panas dan dingin. Ada beberapa kasus di mana permukaan mahkota menciptakan keausan pada gigi antagonisnya. Hal ini kadang-kadang menjadi begitu menonjol sehingga tidak dapat diawasi. Bagian porselen bisa terkelupas mati dan logam yang mendasari dapat terlihat sebagai garis gelap 5. In Ceram (keramik bridge) Terbuat dari porselen alumina yang sangat tangguh. Memiliki estetika yang sangat baik dan cukup kuat untuk dapat disemen dengan semen gigi tradisional. SPINELL - untuk kasus anterior unit tunggal yang memerlukan estetika unggul dan tembus. ALUMINA - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 3-unit jembatan. Zirkonia - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 5-unit jembatan.

Anda mungkin juga menyukai