Anda di halaman 1dari 5

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana

Freez Home Lifestyle Catatan Artikel

Catatan Rumahkayu
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ketika daunilalang dan sukangeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta... 0inShare

Myanmar, Subway dan Jaring Pengaman (Yang Tak Ada)


OPINI | 23 January 2013 | 00:50 Dibaca: 89 Komentar: 0 1 inspiratif Suatu hari beberapa tahun yang lalu AKU dan suamiku berbagi halaman koran. Ada berita tentang beberapa peristiwa pemberontakan di Myanmar di koran tersebut. Myanmar, ketika itu, masih berada di bawah pemerintahan militer ( pemerintahan sipil di Myanmar baru berangsur terbentuk setelah pemilihan umum tahun 2010, kekuasaan militer lalu berangsur- angsur berkurang dan secara formal tak lagi terlibat dalam pemerintahan pada tahun 2011. ) Aku, sambil masih menatap koran yang kupegang, bertanya sekilas pada suamiku, Yangon itu aman nggak? Suamiku, juga masih sambil membaca baris- baris kalimat dalam halaman koran menjawab, Mungkin aman. Kayaknya kerusuhannya di pinggiran, bukan di situ.

Jeda sejenak. Aku sama sekali belum mengatakan apa- apa lagi ketika suamiku berkata begini, Kalau kamu ingin kesana, hati- hati. Militer yang berkuasa disana. Kalau dibilang matikan handphone, matikan saja, nggak usah terlalu banyak tanya kenapa atau apa alasannya harus dimatikan. Haaaaa? Aku terbahak. Sekian lama menikah dengan suamiku, masih saja aku terkejut dan takjub jika dia seakan dapat membaca pikiranku seperti itu. Mmm, sambil masih tertawa- tawa kutanyakan padanya, Tau darimana aku ingin pergi ke Yangon? Suamiku tersenyum tak menjawab. Kembali meneruskan membaca koran. Aku penasaran. Memangnya aku sudah bilang aku ingin pergi ke sana? tanyaku lagi. Suamiku menggeleng. Nah, belum kan? Jadi tau darimana aku mau minta ijin untuk pergi ke sana? Suamiku tertawa lagi. Hes cool, as usual. He he he. Wis tho, jawabnya, Sudahlah. Pokoknya benar begitu kan? Aku mengangguk. Memang sebetulnya pertanyaan tentang Yangon kuajukan sebab aku berniat minta ijin untuk pergi ke Myanmar. Boleh? tanyaku. Dia mengangguk. Boleh, jawabnya, Asal ya itu tadi, kamu mesti tau, kalau urusannya dengan tentara, ngga perduli kamu benar atau salah, kalau mereka mau bilang kamu salah ya salah. Jadi kalau kamu mau kesana, hati- hati dan jangan terlalu banyak tanya. Aku terbahak lagi. Lelaki terkasih itu, seperti biasa, memahami aku sampai hal- hal terkecil dalam diriku.

Aku yakin bahwa saat itu aku sama sekali belum mengatakan niatku untuk pergi ke Myanmar padanya. Bahkan dia juga tak tahu bahwa ada kawan baikku yang tinggal di Yangon. Seingatku, dia memang belum pernah bertemu dengan kawanku yang ini, dan aku belum pernah menceritakan hal itu kepadanya. Tapi memang beberapa saat sebelumnya telah kuberitahukan pada suamiku bahwa ada rencana training yang terjadwal bagiku di Bangkok. Dan dia tampaknya dapat menarik kesimpulan bahwa aku berniat mengunjungi Myanmar setelah training di Bangkok nanti. Ada penerbangan langsung dari Bangkok ke Yangon. Tak ada rute itu dari Jakarta. Kawan baikku yang tinggal disana telah berulang kali mengundangku untuk datang. Telah kubayangkan sebuah perjalanan eksotis. Kubayangkan mengunjungi Shwedagon Paya, stupa emas yang besar, kubayangkan kenikmatan menikmati pagoda, candi- candi serta menelusuri jalan- jalan dengan bangunan berarsitektur kolonial Inggris yang bersejarah di sana Kubayangkan

Gambar: www.mekongresponsibletourism.or *** Tentang peringatan jangan terlalu banyak tanya dan penekanan bahwa yang berkuasa di sana rezim militer itu.. ha ha. He knows me very well, my husband. Suamiku dalam banyak saat memberikan cukup ruang bagiku untuk bergerak. Baru jika dirasanya perlu, dia memberikan peringatan di muka kepadaku tentang hal- hal yang perlu kuperhatikan atau kuwaspadai.

Mengenai Myanmar, dia tahu bahwa aku tak dibesarkan atau dididik dengan gaya militer dimana perintah hanya diberikan satu arah dan bahwa kebebasan berpendapat sangat dibatasi atau dinihilkan. Dia juga tidak besar dengan cara begitu, suamiku itu. Tapi dia bertindak praktis dalam hal ini. Aku ingin mengunjungi suatu negara dimana militer berkuasa dan aturan yang berlaku mungkin sangat berbeda dengan nilai- nilai yang kuanut. Dan karenanya dia merasa perlu memperingatkan aku lebih dahulu agar menurut saja dengan peraturan disana. Baiklah, aku mengangguk. Akan kuingat pesan itu. Sayangnya, kemudian training itu dibatalkan. Aku tak jadi ke Bangkok, dan perjalanan ke Myanmar tertunda juga. Tak lama setelah itu kudengar bencana alam terjadi di Myanmar. Ada banyak bangunan bersejarah roboh. Kemudian beberapa saat setelah itu, gempa bumi terjadi di Myanmar. Keinginanku untuk pergi ke sana terus tertunda dan belum terwujud hingga saat ini *** Ah gila kamu yang bener! Lalu, Ya ampun tahu nggak sih, itu bahaya sekali ! Yang naik kereta itu kan orang kulit hitam semua, serem banget. Kalau ada apa- apa gimana. Aduh, kamu ini dst dst dsb dsb Komentar semacam itu bertubi- tubi menghampiriku kala sepulang dari Atlanta kuceritakan pada beberapa kawan pengalamanku bepergian naik kereta bawah tanah sendiri disana. Semua, tanpa kecuali, kawanku yang mendengar cerita bahwa aku mencoba bepergian dengan subway sendiri berkomentar senada dengan itu. Dan aku menjadi heran. Suamiku biasanya kan memperingatkan padaku hal- hal apa yang menurutnya berbahaya, atau perlu dihindari. Tapi jika naik subway sendiri di Atlanta begitu berbahayanya, mengapa tak kudengar peringatan sama sekali, tak sepatah katapun, dari suamiku tentang subway ini? Suamiku pernah tinggal di Amerika selama beberapa bulan untuk suatu pelatihan. Sesuai jadwal program pelatihannya, dia berpindah tinggal di beberapa kota yang berbeda. Jadi kurasa dia cukup mengenal kondisi umum Amerika. Dan sebab dia tidak memperingatkan apapun tentang subway, waktu semua kawanku mengatakan naik subway sendirian itu mengerikan dan berbahaya, aku malah ingin mencobanya (hehe!). Asumsiku, sebab sebelumnya tak ada peringatan dari suamiku, maka kategorinya aman. Jadi, kulakukan itu.

Lalu kuterima reaksi tercengang, protes, ngeri, bahkan setengah marah dari kawan- kawanku. Karena heran, kuceritakan pada suamiku bahwa aku naik subway sendirian saat aku berada di Atlanta, dan semua orang yang mendengar ceritaku bereaksi seakan- akan hal tersebut sangat berbahaya, tapi mengapa ya, jika memang hal tersebut seberbahaya itu, koq tak kudengar peringatan apapun dari dirinya sebelum aku berangkat ke Atlanta ketika itu? Dan, aduh.. Jawaban suamiku sungguh diluar dugaanku. Ini katanya, Waktu di Amerika dulu, aku ngga sempat nyobain naik kereta bawah tanah, kata suamiku. Oh ya ampun, hahaha. Jadi, kali itu suamiku tak memperingatkan karena memang dia tidak paham situasinya, entah aman atau tidak. Waduuuhhhh.. he he he.. Padahal selama ini kalau ingin bertindak yang aneh-aneh batasku berhenti adalah apa yang sudah dikatakan untuk tak dilakukan oleh suamiku, haha. Tapi kali itu, jaring pengaman tak tersedia seperti biasa, rupanya, he he..

Laporkan Tanggapi

Siapa yang menilai tulisan ini? 1