Anda di halaman 1dari 1

Sindonews.

com - Pemerintah Israel tidak menanggapi serius ancaman serangan balasan yang dilontarkan oleh pemerintah Suriah dan Iran, Senin (4/2/2013). Ancaman serangan balasan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad, saat mengadakan pertemuan dengan Saeed Jalili, Sekretaris Dewan Keamanan Tertinggi Nasional Iran, di Suriah, akhir pekan lalu. "Israel tidak menanggapi serius gertakan dan ancaman yang dilontarkan oleh Suriah dan Iran. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda peringatan baru terhadap Israel. Namun, Israel siap untuk menanggapi berbagai bentuk agresi. Seperti kita ketahui, Iran memiliki kemampuan dan juga berniat menyerang Israel," kata Juru Bicara Menteri Luar Negeri Israel, Yigal Palmor kepada Xinhua. "Belum ada penambahan pasukan di Utara Israel, tapi kami telah mempersiapkan sistem pertahanan rudal kami untuk menghadapi setiap kemungkinan agresi yang datang," ungkap Palmor. Sebelumnya, Presiden Assad mengatakan, kekuatan yang dimiliki oleh militer Suriah saat ini mampu menghadapi ancaman dan agresi terhadap Suriah. Menanggapi peryataan Assad, Jalili menekankan dukungan pemerintah Iran terhadap Suriah untuk menghadapi serangan Israel. Jalili juga menggarisbawahi pentingnya memerangi komplotan dan konspirasi asing yang bertujuan untuk mengacaukan negara. Dia juga meyakinkan Assad, bahwa muslim dunia akan berdiri di sisi pemerintah Suriah saat mereka melawan rezim Zionis. Angkatan Udara Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Jamraya, di perbatasan Ibu Kota Damaskus, Rabu (30/1/2013) pagi waktu setempat. Sedikitnya dua warga Suriah dilaporkan tewas, sementara lima orang lainya terluka akibat serangan itu. Ini merupakan serangan pertama yang dilancarkan Israel ke Suriah dalam kurun waktu 22 bulan. Tentara Suriah mengatakan, serangan yang dilancarkan oleh Israel sangat agresif. Mereka membombardir pusat penelitian militer hingga membuat gedung hancur dan merusak area di sekitarnya.

Sindonews.com - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mencap Israel sebagai negara teroris. Ungkapan tersebut merupakan tanggapan atas serangan udara yang dilancarkan oleh Angkatan Udara Israel ke sebuah pusat penelitian militer di perbatasan Ibu Kota Damaskus, Rabu (30/1/2013) pagi waktu setempat. "Seperti yang sudah saya katakan berulangkali, Israel adalah negara yang memiliki mental teroris. Saat ini, tidak pemberitahuan apa dan di mana aksi mereka akan dilancarakan," ungkap Erdogan, seperti dilansir Al-jazeera, Senin (4/2/2013). Ungkapan Erdogan tersebut merujuk pada pernyataan yang dilontarkan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak pada konferensi keamanan di Munich, Jerman. "Ini bukti lain, bahwa ketika kami mengatakan sesuatu, maka kami bersungguh-sungguh akan melakukannya. Kami mengatakan, tak seharusnya dibiarkan senjata-senjata dari Suriah masuk ke Libanon untuk Hizbullah, saat Presiden Bashar al-Assad jatuh, kata Barak. Tindakan mereka membuktikan bahwa Israel bertindak seperti seorang anak manja yang meminta semua keinginannya harus segera dipenuhi, lanjut Erdogan. Sementara itu, Pemerintah Suriah tidak tinggal diam menghadapi serangan AU Israel yang menewaskan dua orang warganya. Kementrian Luar Negeri (Kemlu) Suriah mengirimkan surat kepeda Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mengutuk Serangan tersebut. "Kami menyerukan DK PBB untuk mengecam serangan mencolok yang dilakukan oleh Israel di wilayah berdaulat Suriah. Serangan tersebut merupakan pelanggaran atas isi piagam PBB dan perjanjian hukum internasional 1974, kami menuntut DK PBB mengeluarkan resolusi yang relevan," ungkap Kemlu Suriah dalam suratnya.