SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . yang semula berupa catatan-catatan kuliah. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. unit lahan. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. parameter penafsir lahan. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. sehingga menjadi suatu buku. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. survei sumberdaya lahan. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. Bab III. kimia lahan serta geomorfologi lahan. kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. kegunaan klasifikasi lahan. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. Surabaya. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. maka saran-saran. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. kacang-kacangan. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen.fisik. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . IV. kesesuaian lahan. V. prosedur klasifikasi. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna.

8. 2. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.4 Kondisi Permukaan lahan 2.2.5.2.2.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.1.1. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan .7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2.1.4. 3.1 Aspek Tanaman 2.4. 2.4.4.4.4.8.3.6.4.1 Bentuk Lahan 2. 2. 3. 2. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.4.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.8. Penggunaan Lahan 1. 2.5 Tanah 2.3 Kondisi Drainase 2. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2. 3. 2.4.7.3.

1.1. 8.1. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6.1. 4. 4. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7.3. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7.2. 8.2.4.2.2. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5. Penilaian Kesuburan Tanah 6.3.3.2. 8.1.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5.4. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5. 4. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan . Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8.

5.4.3. 2. 5. 5. 2. 5. 2. 5. 2. 5.11.1.6. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .7. 2.6. 2.5.2.8.2.10.3.Daftar Tabel 2. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan.4.5. 5. 2. 2.9. 2. 2.1.8.7 5.

2. 5.5. 7.3. 6. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.4. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan .10. 7.5.9. 7. 7. 7.1.1.

Daftar Gambar 1.1. 4. 3. 3. 7.1.1.1.1. 5.1. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii . 2.2.

Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. daerah industri. pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). tanah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 . tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. jalan untuk transportasi. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. 1986). Di lain pihak. Dengan demikian. seperti untuk pertanian. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. daerah pemukiman. relief.Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. Akibatnya. 2001).

tanah. lereng permukaan tanah. tumbuhtumbuhan. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. Untuk aktivitas pertanian. 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. (Wahyunto et al. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya..1995). Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. 1975). hewan dan kependudukan. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. 1. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. iklim. Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi. 2001). Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. keadaan politik. keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). lokasi industri.Sumberdaya Lahan 1.2. air. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. keadaan pasar dan transportasi. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah.1.

Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. Pertama. Sebagai contoh. Kedua. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 . demografi dan budaya. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. Menurut McNeill et al. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. Akibatnya. Ketiga. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. ekonomi. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan.Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya.

65% pada tahun 1990.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. 1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah.05% dan meningkat menjadi 14. iklim mikro. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. pencemaran. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi.46%. Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya. penduduk. Penelitian terhadap struktur ekonomi. Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 . Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum.Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit.

Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. hasil penelitian terdahulu. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . tipe batuan. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta.Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. erosi dsb). Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada.

Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. baik foto maupun citra satelit. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari. Batasan Unit Lahan. 2. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. perangkat pengelola data. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi. Pertanyaan selanjutnya adalah. Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer.1. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2.2. perangkat penafsiran foto udara. Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut.

Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan.3. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. Dengan demikian. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut.

Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya.1. sungai dsb. misalnya desa. jalan.16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. 2. Tabel 2. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000.1. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T.

Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. 4. Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar. Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit). Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. 2.4.

1. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Pada perisalahan hutan. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. 1977) dan Kucera (1988). 2. lereng tengah atau lereng bawah. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. lereng atas. Pada skala detil misalnya. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap.4. Aspek Tanaman 5. Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). 4. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit.

Jadi informasi ini sangat dibutuhkan. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Tabel 2. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut.2. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 .Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi.4. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2. Kemiringan dan Arah Lereng. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan.2.

3. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan. Kondisi Drainase. 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . jenis tanaman dan kedalaman tanah. misalnya.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2.15% =2 15 .3. Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah.4.25 % = 3 25% .100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 .Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi. kondisi drainase. informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah. Klasifikasi Kelas Kelerengan. Biasanya pada topografi yang berbeda. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. Dalam buku ini. Tabel 2. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil.

misalnya. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . karena kapur dapat meloloskan air. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. Kondisi drainase jelek. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks.4. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut. Tabel 2. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun. dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. maka kondisi drainasenya makin buruk.

Air cepat hilang dari tanah. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim. informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. Disamping itu. 2. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap.Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Air mudah hilang. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. solum tanah bebas dari bercak. Bagi pengelola hutan. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. hal ini adalah erosi dan pengikisan. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda.4.4. tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. terdapat bercak-bercak pada horizon B. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi.

20 20 . maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal.80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2.10 10 . Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk. Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya. Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri.Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif. iklim.40 40 . Dengan demikian apabila suatu. Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi.40 40 .5. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya. Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 .4. Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut. Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail. Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia.20 20 . Tabel 2.10 10 . vegetasinya. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .80 Prosentase Singkapan 0 1 . Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia.60 60 .5. lahan mempunyai jenis tanah Entisol.60 60 .

6. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan .4. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit. Kode Great Group Tanah. Tabel 2. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah. misalnya. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit.6. akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur.

misalnya penterasan. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. dapat digunakan Peta Geologi. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan. yaitu batuan beku. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Pada prakteknya. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. tekanan. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global.

kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah. Pada tanah yang dangkal. Tabel 2. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. kedalaman tanah mempunyai pola umum. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah.7. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir.7. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya.4. Pada satu unit lahan. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah.

Akibat lebih jauh. tipe batuan dan bentuk lahan. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis.15 cm 15 . Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 . kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen. misaInya drainase.60 cm 60 .8.Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi. silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah.90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Seperti haInya kondisi permukaan. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. kemiringan lereng. maka pembentukan tanahnya lambat. debu dan lempung/ Sand. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. Tabel 2.30 cm 30 . Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. kondisi drainase.5. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah. Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar.

9. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan. Tabel 2. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang.6. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor.

Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. koensim. translokasi karbohidrat. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. Ca merupakan komponen dinding sel. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman. Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0.Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Magnesium (Mg). sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini.1 satuan. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. asam nukleat dan substrat metabolisme. Kalsium (Ca). sintesa protein dan lain-lain. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . beberapa penyusun protein.

Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun.2 0. Tabel 2.5 2.8.25 26 . Parameter ini sangat dinamis.1997). Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.01-5.0.1.2.40 > 40 Tinggi 0.40 21 .0 > 1. alkalis 7.3 .1 .60 > 60 26 .50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .1 . Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.1 0.0 1.0.0 > 8.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .4 .6-6.6-7.51-0.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.10. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.Masam Netral < 4.5 4.1 .5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.35 > 35 46 . Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .5 5.5 > 1.21-0.5 6.0 0.25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .7 Mg (me/ 100 g) < 0.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 .8 .1 .3 0.24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0.6-8.1 0.00 N (%) < 0.1. Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah.60 > 60 25 .20 51 .0.10 0.0.00 2.45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .7.60 > 60 41 .6 .5-5.00 0.01 -3.4 0.20 21 .0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 . Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK.00-2. Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.75 > 0.5 Na (me/100 g) < 0.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S. 00 1.4 . Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.Masam Masam A.70 31 -60 A.0 2.10-0.25 > 25 41 .20 0.0 11 .75 16 .00 > 5.1.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.

erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion).1. ringan. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . walaupun ada. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion). yaitu diabaikan. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. akibat adanya pengolahan tanah. Sifat Geomorfologi 2. Sedangkan erosi angin.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi.8. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman. Tabel 2. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan.11. Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut. tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. sedang dan berat.8. jurang (gully erosion). Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. erosi parit (rill erosion).

Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu. lahan dan iklim. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. kemiringan lereng dan arah lereng. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. jumlah bulan basah. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. hujan antar petak juga. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. Informasi hujan yang diperlukan dalam. Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. Fenomena perbedaan pola. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. dalam hal ini curah hujan. karena terbatasnya stasiun meteorologi. 2. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim.2. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir.8. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan.

Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ). Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. Gambar 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. tetapi data curah hujan biasanya tersedia. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun.1. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan. Khusus tentang penakar hujan. tergantung pada dasar penentuannya.200 mm sebulan. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 . Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan. bulan lembab antara 100 .

2. 2 3 (Faktor Pembobot). 2.3 = Tinggi hujan di stasiun 1.Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan .A1 + P2.2.3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1. 3 A1.A2 + P3.

Lahan. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai. Ekonomis diperoleh diterapkan. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. dari kelayakan usaha yang akan 3. 2. 2. Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1.1.Klasifikasi Lahan 3.

4. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. 3. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. politik dan administrasif. meliputi aspek sosial. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi.Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. 3. (b) Alami. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi.2.3. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. ekonomi.

2. . 4. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). Klasifikasi satu faktor. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. 6. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif.Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. (bid. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural). Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. mengembangkan. Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. 3. Generalsi beda butuh klasifikasi beda).

Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3.1. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya. 2. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih. Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah). Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. (pendekatan dari bawah ke atas). Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3.

2.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis. Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . politik. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3. sosial.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. perkebunan. 1990). Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. yaitu: Klas.1. hutan produksi dsb). Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept. Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. Sub Klas dan Unit. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. Jadi.

memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. VIe2 dsb. mempunyai hasil potensial yang hampir sama. masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. karena telah dibuat teras bangku datar. Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. karakteristik tanah (s). 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. kebasahan (w). Contoh Sub kelas Vie. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e). 0 kelas I .1. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang. - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). 4. 3. Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian.ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi).Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. iklim (c) dan gradien (g). Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. 2. Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL.

kesuburan meningkat. irigasi. 5. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. misalnya GWT turun. (Kelas. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. 4. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . 3. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata.

irigasi. Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd. dan pengendalian banjir 7. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya. fasilitas.2.kebasahan berlebih setelah drainase .Banjir .Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. padas. batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan .Letusan gunung api . Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al. penahanan air. jarak. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. mineral liat . alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng. Jaringan drainase yang luas. 4. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd. tekstur.Gerakan massa tanah/longor . Keragaan (performance) lahan. karakteristik tanah.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) .Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan.

lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 .Kerentanan.Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur.Karakteristik tanah (tekstur.Setelah drainase. erosi tebing sungai . . : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . struktur) ringan .Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang.Iklim < menguntungkan (ringan). untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb. lapis dan jurang) .Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya.Jeluk. sedang (60-90 cm) . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan . kebasahan ringan (Horison B bercak) . Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah.Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun. .Rentan terhadap Pengendapan. maka perlu upaya konservasi khusus. sedang tehadap erosi alur.

bulan kering 5 bulan Berturut.Setelah drainase. erosi tebing sedang . .Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan). kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). sangat < menguntungkan.Karakteristik fisik tanah. kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). berat.Jeluk. CH > 200/bulan. kebasahan dan kebecekan.) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. sehingga perlu konservasi intensif. alur dan longsor. .Setelah drainase.Setelah drainase. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan.Rentan pengendapan. dangkal (30-60 cm) .Kondisi iklim yang tak menguntungkan. Berturut. .Kerentanan terhadap deposisi.Kesuburan alami rendah .Sifat rentan terhadap erosi lapis. CH > 200/bulan.Jeluk. erosi tebing sungai. . sedang . : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. berat . .Klasifikasi Kemampuan Lahan . berat .Karakteristik tanah yang tak menguntungkan. . 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. bulan kering 5 bulan. sangat dangkal (15-30 cm) . Iklim < menguntungkan (ringan).

Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun. Jeluk. kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Klasifikasi Kemampuan Lahan .Kesuburan alami rendah . dangkal (< 15 cm).Jeluk. dangkal (10-15 cm). dangkal < 10 cm Kesuburan alami. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. terdapat banyak batu . rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan. .) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk.) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang.

agroforestry. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. dan hutan. dan hutan. CH < 100 mm/bulan. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan.4. pada rumput. 4.3. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. Hanya konservasi DAS 4. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Sesuai untuk perlindungan DAS. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. padang rumput atau hutan. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian.Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. pada rumput dan hutan. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry. atau hutan. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras.

Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 . sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan. struktur. tekstur dll) Iklim.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

4). Gunakan Tabel 3.2) dan tingkat banjir (Tabel 3.6).5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2.6). Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3. Ikliim. Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3. kedalaman tanah (Tabel 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 .9).Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. 1b.3).1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi. tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3. Gunakan Tabel 3. dan Gradien 1a.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. 1c. Tanah. Gunakan Tabel 3.

tanah. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan . iklim.lanjutkan ke LANGKAH 3. LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a. Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c .lanjutkan ke LANGKAH 3. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan.lanjutkan ke LANGKAH 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras. Gunakan Tabel 3.lanjutkan ke LANGKAH 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d.lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g . ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s . kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w .

Inceptisol.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa.lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H. dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 . I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Entisol.

1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar . Fall.lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) . atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V.lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump. Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras .namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan . II. VI. sedang.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I. Flow. VII.lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK . atau Tanah longsor adalah ringan. atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan .

Gambar 4. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 .1.Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e.

w (drainase). sesuai (S2). Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. w. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. s (tanah). g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim).Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). a (keasaman). Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. yaitu e (erosi). Oleh karena. Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan. tanaman keras. yaitu : sangat sesuai (S I). Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). 1994) dan metode Webb (1984). e. g dan sd) atau sebaliknya. metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s).

manusia. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. 5. 2. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pupuk. tanah. Intensitas modal 4. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. pabrik. 7.bibit. Tingkat Teknologi yang Tersedia. ketrampilan dll.1. Kebutuhan Infra Struktur.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. alat & mesin. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu. hewan atau mesin 6. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim. Intensitas tenaga kerja 5. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. hidrologi dan vegetasi. pasar. Pasar (market oriented). dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. 3. tk pendidikan. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain. konsultan dll. 8. Sumber tenaga.

1. 10. Contoh Kebutuhan oksigen dll. Pemupukan. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. ketahanan erosi. per produksi. kapasitas menahan air. per luas. perseorangan. CH. tekstur. ? Luas lahan per petani. dll. Luas dan Pemilikan Lahan. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. perkapita. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. dilakukan sekali. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Ketersediaan air. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. Tingkat Pendapatan. kelompok dll. Sistem Pemilikan Lahan. penambahan BO dll. 2. reklamasi tanah dll. 11.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. slope. lokasi terpisah atau menyatu. Jaringan irigasi. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama.

Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. 5. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. Terdapat empat kategori. Terdapat dua order yaitu: 1. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. lereng) teknis tidak b. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih.2. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. Pemberantasan gulma. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. yaitu: 1. 2. pembuatan saluran drainase dll. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Ordo 2. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. Pertimbangan yang dipakai: a. Ekonomis. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi.

Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. dan menambah input. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. e. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. b. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. yaitu: a. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. c. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . mk dapat dipakai bersama sama. b. d. Misl. bahaya erosi dll. Kekurangan air. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. pembatas berpengaruh pada output. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn.

Tabel 5.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1. menjabarkan tujuan evaluasi. S2e-2 N1e. S3n-1. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x. N1n - 5.pendekatan yang digunakan . Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas.macam penggunaan yang direncanakan . S3n-2. Konsultasi awal. data yang tersedia sebagai dasar evaluasi. misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. S2n-2.Apa tujuan evaluasi .3. S3n-3 dll.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1. N2w S3n-1.luas dan batas daerah yang dievaluasi . S2w S2e-1. S3t N2t. S3n-2 dll Unit S2e. .data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi . S2n-1. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan.

Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . 4. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Penutup. Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas). Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5. persyaratan dan pembatasnya.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. produksi. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi. evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. . Satuan lahan dan kualitas lahan. menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi.intensitas dan skala penelitian . penggunaan saat ini dll. (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama. Klasifikasi kesesuaian lahan c.

Ada Netral-A.2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan .hls Sdg-rdh T.25 25-50 > 50 pH Ksr. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 . rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S.Alkalis Ada S.Masam & Alkalis Tabel 5. asumsi. data.3.Masam T. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5. Ada Masam-A.4.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan.sdg.1.

7.5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 .sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.6.8. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.

10.en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.9. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Kadar Ca. Tekstur tanah b. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. pH (H2O) rasio 1:1 c. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 . Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. Mg. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. serta tempat penyedia air.1. Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d.Klasifikasi Kesuburan 6. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. gudang dan penyuplai unsur hara. 4. 3. 1982 dan Sanchez and Boul.

1. Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah. pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5. bila pH (H2O) 1:1 < 5. Kadar Al terekstrak 1 N KCl.0 b. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain . 1983) Tabel 6. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org). Fe2O3 bebas.Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO. bila kadar liat > 35% c.

kadar liat > 35 % : Organik.2. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat.Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6.

kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa. tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. aridik. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah.15 : Alofan dominan. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0. xerik. : KTK rendah. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. dicirikan Kdd < 0. : Kering. dicirikan pH > 7.

Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe. subtipedan modifier scr berurutan. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil.5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng.Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 . dicirikan pH (H2O) < 3.

Tabel 7. BUDAYA W.1.Api Abadi . ALAM W.Tofografi Unik . Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata.Taman Laut .1.Kawah Gunung Api . Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama . 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 . PARIWISATA (OBYEK) W.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih .Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket. BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7. ILMU W.1.Evaluasi Lahan Non Pertanian 7. AGRO W. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain.Ngarai .

2.Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .Penginapan .Sun Shine Suhu udara Cuaca .Transportasi .Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Komunikasi .Hiburan Malam . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Angin Tabel 7.Salju abadi .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Keuangan .Keperluan Sehari-hari .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Sinar Matahari .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Untuk Berobat .Keamanan .Sun set .

l. fsl.lambat 0-2% sl.2.7 mm  Pasir : 4.liat. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S.liat berpasir.berpasir halus. sicl = lemp.berpasir. l = lempung.Lambat.1. sdg A.01 .074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 . Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. scl = lemp. cl =lemp. Sc = liat berpasir.berpasir sangat halus.Buruk GW A.074 mm  Debu : < 0.Lambat >6% sc. sic.2.2. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA.baik. sicl.01 – 0.Cepat. sic = liat berdebu.berdebu. sil > 100 cm 0% 2–6% cl. s = pasir.1 % Batu (25 mm . c. vfsl = lemp. s.1 % S.3 % 0.Buruk. vfsl.0 – 4. Baik & A. Buruk > 50 cm S. Baik & a. ls = pasir berlemp. 7. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A.7 mm – 0.Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7.liat berdebu. scl.3.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7. plastisitas. org < 50 cm > 20 % >3% > 0. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm. c = liat. ls 50 – 100 cm < 20 % 0. BC dan BO 7. fsl = lemp.Buruk.2. sil = lemp.sepat. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials).

09) Tinggi (> 0. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan . CL dng PI < 15 CH.03) Tinggi (> 0.03-0. GC. (USDA.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. SC OL.09) CL dng PI > 15. OH.4. MH. GP.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. SP.03Rendah (< 0.03) Sedang (0. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. GM. OH.09) 0. GW. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0. SW.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7.09) Tabel 7. SM. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.5.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

2 0. t s r sr . sr = sangat rendah.2 4. td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s b sb Bahaya banjir (f) .25 >25 st = sangat tinggi. data.Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .15 15 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) . k = kasar.C-organik > 1.2-7. ak = agak kasar.6 td st.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .8-5.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Penggunaan Lahan d.8 / > 7.P2O5 .Singkapan batuan (%) <5 5 . t. at s t st Media perakaran (r) .Tekstur s.15 15 . <8 8 .Lereng (%) .pH H20 5. t = tinggi. ah h ak k . h = halus. s r sr td .K2O st. t. ah = agak halus.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .8 Toksisitas(xc) .2-7.Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) .KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .8 .1.Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . s r sr td . Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .40 >40 .2 < 0. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Bahan.N-Total st.6 < 4.Bahaya erosi sr r. r = rendah.2 / 7. s = sedang.Drainase b.

Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus.Bahan.4 . h = halus.15 15 .2-8.st r-s sr .Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .35 < 20 .pH H20 5.75 Retensi hara (n) .Penggunaan Lahan e. k = kasar. sr = sangat rendah.2 < 0.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .Tekstur h. Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .8 / >8.Lereng (%) .C-organik > 1. r = rendah.8 Toksisitas(xc) .2 0.sr td .8 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .1. Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 . t = tinggi.2-8.2 4.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) .40 .P2O5 st t-s r .25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.15 15 .N-Total t . ak = agak kasar.Drainase b s t Media perakaran (r) .K2O st.75 25 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .55 . data.8-5.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) .4 <4. s r .16 16-30 .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) . <8 8 . s = sedang. kasar (%) < 15 15 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . t.2/8.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . ah s ak .

15 15 .N-Total st.5. <8 8 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .55 > 55 . h = halus.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . s r .5 .st r-s sr td .75 20 – 24 / 75 . s ah h k .Tekstur ak. at st Media perakaran (r) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .75 < 25 Retensi hara (n) .6.6.8 Toksisitas(xc) .pH H20 5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .C-organik > 1.Singkapan batuan (%) <5 5 . ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . k = kasar.5 / 6 2 . r = rendah.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .K2O st t-s r sr .2 < 0.40 >40 .sr td td . t. s = sedang. td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Drainase b.35 35 .35 < 20 .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 . t = tinggi. Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . kasar (%) < 15 15 .Bahan. sr = sangat rendah. ah = agak halus.15 15 .8 .2 5.2 0.Loreng (%) .P2O5 . ab s t.Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) .Penggunaan Lahan f.2 / > 6.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .2 .16 16-30 >30 .75 25 . data.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .25 >25 st = sangat tinggi.8 t .1.8 < 5.

Loreng (%) . ah = agak halus.6. s < 15 > 75 s ah 15 .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . Gandum S1 21. Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .16 r-s 5 .8 t . s = sedang.5 / 6 2-6.Bahan.8 sr td r < 0. r = rendah.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .N-Total . kasar (%) .Batuan di permukaan (%) .2-5. s r .90 < 20 / > 90 b.Kejenuhan Basa (%) .5 .st r-s st. t = tinggi.35 50 . data.55 25 .75 20 – 24 / 75 .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 .75 < 20 < 5. at h 35 .15 5 .8 . t.8 4-6 15-20 16-30 b 15 .25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .P2O5 .Tekstur .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . k = kasar.40 15 .1.2 / > 6. ak = agak kasar.KTK liat (cmol) . h = halus.Drainase Media perakaran (r) . .2 0.pH H20 . ab ak.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.Penggunaan Lahan g.K2O .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .2 5.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .sr st t-s > 1.35 5.75 t.Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .C-organik Toksisitas(xc) .

3-5.15 15 . Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .K2O st. sc Media perakaran (r) . at s t st.3/ > 8. s ah ak k .5 <1.C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 .P2O5 st t.5/8.Penggunaan Lahan h. <8 8 .Drainase b.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . s r sr .5-9.4 td ≤ 0.4 Toksisitas(xc) .N-Total st.Lereng (%) .Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) . s r sr td .40 >40 .Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus.Tekstur h.5/8.Batuan di permukaan(%) <5 5 . t = tinggi.5-8. data. h = halus.5 / >9.5 .5-2.15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 .5 5. td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t.5 1. ak = agak kasar. sr = sangat rendah.Bulan kering (bln) 8-4 2.5-4 / 8-8.3 < 5.Bahaya erosi sr r.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) . s = sedang.2-8. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .s r sr . s b sb Bahaya banjir (f) .25 >25 st = sangat tinggi. k = kasar.Bahan.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .3 td . r = rendah.t.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) .pH H20 5.

Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 .Lereng (%) . sr = sangat rendah. r = rendah.N-Total td td td td . at s t st Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) . t = tinggi.Bahan.C-organik > 0.Penggunaan Lahan i.5 5. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .5/6.40 >40 .Tekstur ah. <3 3-8 8-15 > 15 . ak = agak kasar.Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .KTK liat (cmol) >16 td td .Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td .5-7.pH H20 5.Drainase b. s b sb Bahaya banjir (f) . ah = agak halus. s = sedang.Bahaya erosi sr r.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5 < 5.5 td .8 .8 td td Toksisitas(xc) . h = halus. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .0 / > 7. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .0-5.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . data.P2O5 td td td td ≤ 0.5-6.K2O td td td td . s ak h k . k = kasar.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .

5 / >7.Bahan.K2O r sr td td . s b sb Bahaya banjir (f) .C-organik > 0. h = halus.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . <8 8-15 15-30 >30 .0-7.0-7.4 Toksisitas(xc) .pH H20 5. t = tinggi. r = rendah. ab at s.) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .4 td ≤ 0.Batuan di permukaan (%) <5 5 . s = sedang.5 td . ah = agak halus.Bahaya erosi sr r.Singkapan batuan (%) <5 5 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .15 15 .P2O5 r sr td td .Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) .Tekstur ak. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .0-5. 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan . c Media perakaran (r) .Drainase b. k = kasar. Iles-Iles (Amorphophalus sp.15 15 .0 4.Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi. s ah h k . t st.5 <4. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Penggunaan Lahan j.0 / 7. ak = agak kasar.Lereng (%) .N-Total r sr td td .40 >40 . sr = sangat rendah.

N-Total st. ah = agak halus. s r sr td . r = rendah.2 < 0.2.40 >40 .Lereng (%) .2 0.0 td st. Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 .6-7.4-5.16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . t s r sr . t.1.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .5 1.Singkapan batuan (%) <5 5 .K2O st.25 >25 st = sangat tinggi. r sr td td . c Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . s ah ak k . k = kasar. s.Salinitas (dS/m) <1 1-1.6 5. t = tinggi.C-organik > 1. t. s b sb Bahaya banjir (f) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) . at s t st.0 < 5.5-2.4 / > 8.8 .6 / 7.Drainase b. ak = agak kasar.Bahaya erosi sr r.0 > 2. td = tidak ada data. sr = sangat rendah. Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan 8.15 15 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .6-8.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .Bahan. s = sedang.8 Toksisitas(xc) . <8 8 .Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .P2O5 . h = halus.0 Sodositas (xn) .pH H20 5.Tekstur h.15 15 . Tanaman Kacang-Kacangan a.

Drainase Media perakaran (r) . .8-5.pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st.15 5 . td = tidak ada data.K2O .1.8 / > 7.C-organik Toksisitas(xc) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .6 sr sr r < 0.25 . s st. ak = agak kasar. h = halus. at s.2 2-4 10 -15 8 . s = sedang.15 t ak 35-55 50-75 td td < 4. s 5 .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . ah < 15 > 100 > 16 > 20 5.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . t = tinggi.Lereng (%) .Batuan di permukaan (%) .Bahan.Kejenuhan Basa (%) . 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2-7.N-Total .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . t > 1. sr = sangat rendah.P2O5 . t.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi.Tekstur . ah = agak halus. Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b. kasar (%) . k = kasar.2 / 7.8 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .16 r. t.40 15 .Penggunaan Lahan b.KTK liat (cmol) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . r = rendah.6 r r s 0.2 st. s st.2-7. c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4.

16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .40 >40 . td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .Penggunaan Lahan c.5 2.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . h = halus.Bahan.8-6.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . k = kasar. sr = sangat rendah.5-3.Salinitas (dS/m) < 2.15 15 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 .15 15 .5 3.0-7.25 >25 st = sangat tinggi. c Media perakaran (r) . Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .C-organik > 1.55 > 55 . kasar (%) < 15 15 . ak = agak kasar.2 < 0.8 / > 8.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .1.Tekstur h.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . t = tinggi.5-8. s r . s = sedang.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .pH H20 6.st r-s sr td .Batuan di permukaan(%) <5 5 .K2O st t-s r sr .35 < 20 .P2O5 .0 t .8 . ah = agak halus.5 5.0/7. r = rendah. <8 8 .5-6.sr td td .8 Toksisitas(xc) .Drainase b.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .2 0.Lereng (%) .N-Total st.Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 . ah s ak k .0 < 5.60 20-50 < 20 Retensi hara (n) . at s t st. t.0 >6 Sodositas (xn) .

4 / > 8.40 15 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. s < 15 > 75 > 16 > 35 5.35 50 . h = halus.8 1-1.6 / 7.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .P2O5 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .1. sr = sangat rendah. t = tinggi.st st.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . t. Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .KTK liat (cmol) . 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s st > 1.Penggunaan Lahan d.Bahan.Tekstur . td = tidak ada data. .2 < 0.5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 .50 st.8 .Singkapan batuan (%) ≤16 20 . c k > 55 < 25 - . s = sedang. ah = agak halus.75 t ak 35 .6-8.Batuan di permukaan(%) .0 < 5.pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.K2O .C-organik Toksisitas(xc) .15 5 . at h.35 < 20 5.6-7.4-5. r = rendah.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .N-Total .6 t .Loreng (%) .Kejenuhan Basa (%) . kasar (%) .15 1.0 r-s sr r .2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .sr td t-s r 0. ak = agak kasar.55 25 . k = kasar.Drainase Media perakaran (r) .16 r-s 5 .5 May-09 8 .

Penggunaan Lahan e.40 >40 .55 > 55 .8 Toksisitas(xc) .6 5. s = sedang.Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .2 0.4-5.Loreng (%) . t = tinggi.Drainase b.K2O st t-s r sr .1.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . td = tidak ada data.15 15 .6 / 7.N-Total st. s ah ak k .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 . ak = agak kasar.4 / > 8.8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .6-8.2 < 0.5-2 >2 Sodositas (xn) .sr td td . k = kasar.75 25 .0 < 5. kasar (%) < 15 15 . h = halus.6-7.15 15 . r = rendah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . t. ab s t st.Tekstur h.P2O5 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Salinitas (dS/m) <1 1-1.35 35 . s r .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Bahan. sr = sangat rendah.Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .0 t . Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .C-organik > 1.16 16-30 >30 .pH H20 5. c Media perakaran (r) .75 < 25 Retensi hara (n) . ah = agak halus.5 1. <8 8 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .st r-s sr td .25 >25 st = sangat tinggi.

s r sr td .Bulan kering (bln) 2. sr = sangat rendah.C-organik > 0.Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.K2O st t. h = halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 .2-7.Penggunaan Lahan 8.8 / > 8.5-4 4-5 5-6 >6 .Bahaya erosi sr r.P2O5 ≤ 0.8 td Toksisitas(xc) .15 15 . s b sb Bahaya banjir (f) . ah = agak halus. s r sr .Singkapan batuan (%) <5 5 .N-Total st. 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan .KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 .25 >25 st = sangat tinggi. Tanaman Perkebunan a.Kejenuhan Basa (%) < 20 td td . Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s = sedang.0 < 4.pH H20 5. s r sr td . td = tidak ada data.t.Lereng (%) .8 . t. r = rendah. t = tinggi.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) .2 / 7.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td . <8 8 .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) .Tekstur ah.15 15 .8-5. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . s h ak k .5 4.5-8. at s t st.Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 .Drainase b.Bahan.40 >40 .16 16-30 >30 . sc Media perakaran (r) .0 td st.3. k = kasar.

Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi.2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2.5 < 1.C-organik Toksisitas(xc) .1-1.P2O5 .8 td 8-16 r.8-2.0-7.Batuan di permukaan(%) .0-7. s = sedang.Curah Hujan (mm) .0 td td td > 1.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 .6 td td td < 0.8-1.Tekstur .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Lereng (%) .KTK liat (cmol) .5 1.5-6.Drainase Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . h = halus.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan b. .Kejenuhan Basa (%) . sr = sangat rendah. td = tidak ada data. kasar (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 .6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . ak = agak kasar. ah = agak halus.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .5 / > 7.Bahan.Singkapan batuan (%) td td td 0.8 1. ah < 15 > 150 >16 > 35 6. t = tinggi.1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5. at h.0/7. r = rendah.K2O . Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b. k = kasar.N-Total .

4 td ≤ 0. <8 8-16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . ah = agak halus.0 td .6-6. td = tidak ada data. t st.C-organik > 0. s b sb Bahaya banjir (f) .pH H20 6.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .15 15 .P2O5 r sr td td .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) .6 5.0 / 7.Bahan.0-7. k = kasar. s = sedang. Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .15 15 .Curah Hujan (mm) .Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) . c Media perakaran (r) . ah s ak k .25 >25 st = sangat tinggi. 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 . h = halus.Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) .4 Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .N-Total r sr td td .6-8.Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 .Drainase b.40 >40 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Tekstur h. sr = sangat rendah. ab at s.Lereng (%) . r = rendah. ak = agak kasar.K2O r sr td td .0 < 5.Penggunaan Lahan c.6 / > 8.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Bahaya erosi sr r.

Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 .st r sr td .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Curah Hujan (mm) . t = tinggi.Batuan di permukaan(%) <5 5 . kasar (%) < 15 15 .40 >40 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . r = rendah. ah = agak halus. c Media perakaran (r) . h = halus.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Penggunaan Lahan d.P2O5 . s = sedang.8 ≤ 0.pH H20 5.Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) . Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . k = kasar. t st.sr td td .Bahan.Tekstur h. ab at s. t.Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .15 15 . sr = sangat rendah. <8 8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .0 t .K2O st t-s r sr .5 4.2-5.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . s r .35 35 .C-organik > 0.16 16-30 >30 .8 Toksisitas(xc) .25 >25 st = sangat tinggi.55 > 55 . ak = agak kasar.N-Total st.15 15 .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Drainase b.5-7.0 / 6.Loreng (%) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .2 / > 7.0-6.0 < 4. td = tidak ada data. s ah ak k .Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .

Bahan.5 td 0.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .5 / 7.sr td .6-7.8 .P2O5 .55 .6 6. k = kasar.pH H20 5. ak = agak kasar. t = tinggi. kasar (%) < 15 15 .Drainase b s at Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan e. ah = agak halus.Salinitas (dS/m) < 0.Curah Hujan (mm) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .K2O st t-s r .15 15 .5-2. Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .1.N-Total st.Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .2 0.35 35 .25 st = sangat tinggi. r = rendah. >6 < 20 / > 90 t.6-6.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .35 < 20 .Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .40 . s r .C-organik > 1.15 15 . s ah ak . h = halus.Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 . s = sedang. <8 8 . c k > 55 < 50 - td td sr > 2.Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) .8 Toksisitas(xc) .3 < 5.Tekstur h.Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .2 < 0.4 t .0 Sodositas (xn) .st r-s sr . td = tidak ada data.0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t.Loreng (%) .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .16 16-30 / 16-50 .

0 4.40 >40 .5-5. Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .C-organik > 0. r = rendah.P2O5 . td = tidak ada data. ah s ak k .Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 . sr = sangat rendah.5 / > 6. ah = agak halus.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .15 15 . c Media perakaran (r) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Drainase b s at t. t s r sr . <8 8 . s r sr td .Penggunaan Lahan f. s = sedang.0 1.KTK liat (cmol) td td td td .0 > 2. t = tinggi. h = halus. s b sb Bahaya banjir (f) .16 16-30 >30 .8 td td ≤ 0.5 td st.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .0-2.pH H20 5. ak = agak kasar.0-6.N-Total st.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5 0.Lereng (%) . t.0 Sodositas (xn) .0-6.0 / 6.5 < 4.5-1. k = kasar.Bahan.Salinitas (dS/m) < 0.25 >25 st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 . s r sr td .K2O st. t.Curah Hujan (mm) .8 Toksisitas(xc) .Bahaya erosi sr r.Tekstur h.Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 .

t = tinggi. s h ak k .Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .40 >40 .Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .55 > 55 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .N-Total st.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data.0-5. h = halus.25 >25 st = sangat tinggi.15 15 .Bahan. sr = sangat rendah.st r-s sr td .5 / 7.Singkapan batuan (%) <5 5 . t.Curah Hujan (mm) .16 16-30 >30 .0 < 5. c Media perakaran (r) .C-organik > 1.5 .8-8.0 t .8 .pH H20 5.0 / > 8. ah = agak halus.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan g.Tekstur ah.8 5. <8 8 . Kina (Cinchora spec. s = sedang.2 0.sr td td . ak = agak kasar. k = kasar.2 < 0. s r .K2O st t-s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Drainase b. t st.P2O5 .8 Toksisitas(xc) .7. r = rendah.35 35 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . ab at s.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .35 < 20 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Loreng (%) .1. kasar (%) < 15 15 .div.15 15 .

Bahan.55 > 55 . kasar (%) < 15 15 . ah s ak k .pH H20 5. t. ak = agak kasar.sr td td .KTK liat (cmol) td td .Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 .8 Toksisitas(xc) .K2O st t-s r sr .Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) .5-8.2 / 7. ab s t.Drainase b.8 td ≤ 0.C-organik > 0. Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . r = rendah.Batuan di permukaan (%) <5 5 . ah = agak halus.25 >25 st = sangat tinggi. h = halus.8 / > 8. t = tinggi.0 < 4.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.0 t .Tekstur h.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .50 < 25 Retensi hara (n) .st r-s sr td . at st.75 25 . td = tidak ada data. s = sedang.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan h.Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .P2O5 .40 >40 .35 35 .2-7.15 15 . c Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) .8-5.16 16-30 >30 .Loreng (%) .5 4. <8 8 .15 15 . k = kasar. s r . Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .N-Total st.Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .

8-4.Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .8 / > 5.pH H20 4. td = tidak ada data. kasar (%) < 15 15 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .8-1.Loreng (%) . k = kasar. s r .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . h = halus.55 > 55 . ak = agak kasar.5 0.Drainase b.Bahan.sr td td . <8 8 .Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) .8 t .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . c Media perakaran (r) .P2O5 .C-organik > 1.Batuan di permukaan(%) <5 5 . t.8 < 3. sr = sangat rendah.40 >40 .35 35 .5-5.Tekstur h.Penggunaan Lahan i.15 15 .N-Total st.5 3.8 Toksisitas(xc) . ab at t.5 < 0.Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 .Curah Hujan (mm) .Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi. s st.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .5-5.5 / 5.16 16-30 >30 . Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .st r-s sr td .15 15 . s = sedang.K2O st t-s r sr . ah = agak halus.25 >25 st = sangat tinggi. ah s ak k . r = rendah.

at h.Drainase Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Lereng (%) .pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b. s.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . r = rendah.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .5 / > 7.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .N-Total .KTK liat (cmol) .C-organik Toksisitas(xc) . c k > 55 < 50 td td td . t. ah = agak halus. Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0 / 6.0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4.2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0. t.Batuan di permukaan(%) . ak = agak kasar. sr = sangat rendah. s st. r st. h = halus.K2O .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s f1 5 .5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.1.0-7.5 td st. s = sedang.Curah Hujan (mm) . Kapuk (Caiba pantandra G.8 .5-5.0-6.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 .Tekstur .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.15 5 . td = tidak ada data. . t = tinggi.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Bahan.40 15 .P2O5 . kasar (%) . t > 1.15 sr td r < 0.16 r.Kejenuhan Basa (%) .Singkapan batuan (%) st. ah < 15 < 100 > 16 > 35 5.Penggunaan Lahan j.2 4-6 15-20 8 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . k = kasar.

kasar (%) < 15 15 .0-5.K2O st t-s r sr .Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus.15 15 .pH H20 t .0 < 4.4 Toksisitas(xc) .0-8. t st.Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) . 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s ah ak k . <8 8 .40 >40 .Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) . sr = sangat rendah.15 15 . ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .16 16-30 >30 .Batuan di permukaan (%) <5 5 . td = tidak ada data. c Media perakaran (r) .st r-s sr td .N-Total st.sr td td . r = rendah.Lereng (%) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang.0 .55 > 55 . t = tinggi.0 / > 8.Drainase b.0-7.0/7.25 >25 st = sangat tinggi.Bahan.C-organik > 0.0 4. k = kasar.Singkapan batuan (%) <5 5 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5. h = halus.4 td td ≤ 0. s r .35 35 . t.Tekstur h.Penggunaan Lahan k. Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ab at s.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .P2O5 .

25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi.Tekstur h. k = kasar.8 Toksisitas(xc) .P2O5 .C-organik > 0. ah s ak k .Drainase b s at t. c Media perakaran (r) . sr = sangat rendah. kasar (%) < 15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.pH H20 t . s = sedang.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .sr td td .Bahan. <8 8 . td = tidak ada data. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .40 >40 .Singkapan batuan (%) <5 5 .0-5.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .st r-s sr td .8 ≤ 0.Loreng (%) .0-6.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .0 5. s r .3 / > 6. h = halus.Curah Hujan (mm) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 .15 15 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .0 Sodositas (xn) .3 / 6.5 < 5.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.Penggunaan Lahan l.K2O st t-s r sr . ah = agak halus.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .35 35 .5 . r = rendah. ak = agak kasar. t.3-6.Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .55 > 55 .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 .N-Total st.

N-Total . 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan .P2O5 . r = rendah.55 25-50 < 35 <5.25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. h = halus.Tekstur .16 r-s td 5 . Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .4 5-8 Oct-09 8 . c k > 55 < 25 - .pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b.40 15 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s < 15 > 75 > 16 > 50 5. s st > 0. ab h.Bahan.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . ak = agak kasar. sr = sangat rendah.sr t-s ≤ 0.0-5. k = kasar.Batuan di permukaan (%) . t ak 35 . t = tinggi.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .C-organik Toksisitas(xc) .st st. ah = agak halus.5 / >8.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . kasar (%) . t.4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .CH harian (mm) .KTK liat (cmol) .5/7. td = tidak ada data.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s.K2O . .5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .15 5 .0-8. s = sedang.15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 .35 50-75 ≤16 35-50 5.Drainase Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan m.0 st.5-7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Singkapan batuan (%) t .Kejenuhan Basa (%) .Loreng (%) .

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Kejenuhan Basa (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .C-organik Toksisitas(xc) .Drainase Media perakaran (r) . at h.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0.8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5.Tekstur . t = tinggi.Lereng (%) . k = kasar.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.8-8. .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .8 / > 8. sr = sangat rendah.8-6.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.Penggunaan Lahan c.0-7.40 15 .15 td td td < 0. Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Bahan. kasar (%) . c k > 55 < 20 td td td .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.Batuan di permukaan(%) .K2O .0 td st.8-1.N-Total . ah = agak halus.2 2-3 20-35 8-16 r. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) .Singkapan batuan (%) r r r > 1. s = sedang.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5.8 3-5 35-50 16-30 b td 15 .15 5 . s 5 .0/7. r = rendah. h = halus.P2O5 . 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

ah = agak halus. ak = agak kasar. s b sb Bahaya banjir (f) .2 0.2 < 0.0 / 7.Lereng (%) . at s t st.Bahan.N-Total st. s h ak k .8-8.Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) . Bawang Putih (Allium sativum L. sr = sangat rendah.K2O st. r = rendah. t.Batuan di permukaan(%) <5 5 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .0 < 5.Penggunaan Lahan d. <8 8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .8 / > 8. t s r sr . r sr td td .40 >40 . k = kasar.16 16-30 >30 .1. s r sr td .8-6.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0-7. c Media perakaran (r) .pH H20 6.Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .8 Toksisitas(xc) .8 5.15 15 .Bahaya erosi sr r.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) .15 15 .P2O5 .25 >25 st = sangat tinggi. h = halus. td = tidak ada data.Tekstur ah.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td .Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) . t = tinggi.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang. s.0 td st. t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 .8 .Drainase b.C-organik > 1.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .

at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6.Singkapan batuan (%) st.0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5.5-6.6 td td s h. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5. t = tinggi.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . . sr = sangat rendah. t.8 0.Kejenuhan Basa (%) . h = halus.5 / > 8.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 . t > 0.15 5 . c k > 60 < 30 td td td .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Lereng (%) .15 sr sr r td 1.5-1. ah = agak halus. Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan e.0 15-20 8 .0-7.Curah Hujan (mm) .Tekstur .25 td td sr td > 2.C-organik Toksisitas(xc) . kasar (%) .40 15 . s st.KTK liat (cmol) .0-2.Bahan.N-Total .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .16 r.0 20-25 16-30 b f1 15 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Batuan di permukaan(%) .8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0. r = rendah.0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.0 / 7. 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ak = agak kasar.K2O . t. s = sedang. s 5 .6-8.0 td td st. s st. td = tidak ada data.Drainase Media perakaran (r) .pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b. k = kasar.

Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 . k = kasar.Bahan. r = rendah.5-6.0 < 5. t. ak = agak kasar. h = halus. c Media perakaran (r) .55 > 55 .K2O st t-s r sr .C-organik > 0.35 35 .Drainase b.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .15 15 . <8 8 .0-7. s r . td = tidak ada data.N-Total st.8 ≤ 0.Penggunaan Lahan f. at s t st.sr td td .6 5.Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) .8 td td Toksisitas(xc) .15 15 .25 >25 st = sangat tinggi.Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 .40 >40 .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) . s ak k .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 / 7.P2O5 . sr = sangat rendah.Tekstur ah h.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .5 / > 8. ah = agak halus. s = sedang. kasar (%) < 15 15 .pH H20 t .6-8.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .0 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . Paprika (Capsicum sp.Lereng (%) .16 16-30 >30 . t = tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.st r-s sr td .

pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b. ah 15 .Bahan. t = tinggi.st st.Batuan di permukaan(%) . .5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r . c k > 55 < 25 - . at s < 15 > 75 > 16 > 500 6.KTK liat (cmol) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . h = halus.8 < 4.C-organik Toksisitas(xc) .Kejenuhan Basa (%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .8 4.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t. ak = agak kasar.0 st.Drainase Media perakaran (r) . k = kasar. kasar (%) .8-6.K2O .P2O5 . Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.8-8. 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .50 <35 < 5.40 15 .8 / > 8.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .75 ≤ 16 35-50 5.0 / 7. s = sedang. sr = sangat rendah.8 s h.35 50 .0 t ak 35 .16 r-s 5 .Loreng (%) .55 25 . r = rendah.N-Total .0-7. td = tidak ada data.15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 . ah = agak halus.Penggunaan Lahan g.Curah Hujan (mm) .5-7 15-20 8 .Tekstur .sr t-s ≤ 0.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) t .15 5 . s st > 0.

8 4.5-7 td 8 .55 25-50 < 35 < 5.Tekstur s . t = tinggi.0 td 50-60 / > 95 t ak 35 . ah = agak halus.0 td < 50 st.25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.35 50-75 ≤16 35-50 5. ak = agak kasar. r = rendah. k = kasar.Curah Hujan (mm) 350-800 . ah 15 . td = tidak ada data.Loreng (%) .8 / > 8. Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .8 .15 5 .K2O st .KTK liat (cmol) > 16 . c k > 55 < 25 - r-s r .sr t-s ≤ 0.8-8.0-7. Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 .8 Toksisitas(xc) .Kejenuhan Basa (%) > 50 6. s = sedang.Batuan di permukaan(%) <5 .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.5 Sodositas (xn) .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h.40 15 .0 / 7.8-6. kasar (%) < 15 . h = halus.st .Penggunaan Lahan h.Drainase b. <8 .Bahan. t.P2O5 .Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 .Salinitas (dS/m) < 4.N-Total st. s . at Media perakaran (r) .pH H20 t .Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) .C-organik > 0.Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) .16 r-s 5 .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) .

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Batuan di permukaan(%) .8 4. ak = agak kasar.6 st.N-Total .0 / 7.Bahan.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b.0 5.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .16 r-s 5 .CH harian (mm) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . t.5 20-35 8 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s = sedang.Tekstur .Kejenuhan Basa (%) .C-organik Toksisitas(xc) . .Penggunaan Lahan l.7 / > 7.5-7 35-50 16-30 b 15 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . c k > 55 < 25 - 6.35 40-60 ≤16 20-35 r-s r .Drainase Media perakaran (r) . k = kasar. ah = agak halus. Sawi (Brassica rugosa F.Singkapan batuan (%) sr td r < 0.25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.55 25-40 < 20 < 5.40 15 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .KTK liat (cmol) .) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 . t = tinggi.6 .0-7.2 < 1.15 5 .2 1.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . td = tidak ada data.Loreng (%) .st st.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 .15 < 20 / > 90 t h 35 .sr t-s 0.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . kasar (%) .0-7.P2O5 . h = halus. s st > 1. at ak.7-6. ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .5-4.K2O .8-1. sr = sangat rendah. r = rendah.

s = sedang.25 st = sangat tinggi.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .35 35 . h = halus.2 0.Drainase b.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi.15 15 .2 < 0.5-4.Bahan.8-1.st r-s sr .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .sr td .pH H20 t .0-7.Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 . s r .0 5.K2O st t-s r .40 . k = kasar.Curah Hujan (mm) .5 1.Penggunaan Lahan m. Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .N-Total st.Loreng (%) .P2O5 . ah = agak halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-7 Sodositas (xn) . r = rendah.0 / 7. at s t Media perakaran (r) .8 Toksisitas(xc) . ah s h . td = tidak ada data.Salinitas (dS/m) < 1.5 4. N <4 / >35 <150/>1000 st. kasar (%) < 15 15 . <8 8 . ak = agak kasar.0-7. t.C-organik > 1. c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .16 16-30 .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .15 15 .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) .6 . sr = sangat rendah.7-6.6 < 5.55 .7 / > 7.Tekstur ak.

s = sedang.C-organik > 1.0 td st.0 td <20 / >90 t ak 35 .Tekstur ah.Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) . s . sr = sangat rendah.pH H20 6.0-7.8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .Curah Hujan (mm) 400-700 .5 / >8.35 50-75 ≤16 20-35 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .5-8.2 Toksisitas(xc) .Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .5-6. <8 . at Media perakaran (r) .55 25-50 < 20 <5.15 5 . kasar (%) < 15 . t = tinggi. ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) < 35 . r = rendah.15 sr td r < 0.Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .sr t-s 0.0/7.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .KTK liat (cmol) > 16 .st .Penggunaan Lahan n.25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 . c k > 55 < 25 - r-s r . ah = agak halus.Drainase b.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .8-1.Loreng (%) .Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) .40 15 .Bahan. h = halus. s . td = tidak ada data. t.K2O st .Batuan di permukaan(%) <5 .16 r-s td 5 .N-Total st.5 t .2 5-8 15-25 8 . Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .P2O5 . k = kasar.

t. ah = agak halus. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .Drainase b. kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 .Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) . h = halus. k = kasar. td = tidak ada data.2 0.Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .pH H20 td st.s r sr .t. s b sb Bahaya banjir (f) .C-organik > 1.P2O5 . r = rendah.N-Total st. sc Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .Tekstur ah.2 < 0.0 .8-1.2 / > 8.6/7.0 5.Bulan kering (bln) td td td td .Lereng (%) . s r sr td .Batuan di permukaan (%) <5 5 .2-5. sr = sangat rendah.25 >25 st = sangat tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) <5 5 . at s t st. s ak h k .Bahaya erosi sr r.Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.6-7. s r sr .16 16-30 >30 .15 15 .0-8.K2O st t.Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) . t = tinggi.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) .Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 .15 15 .0 < 5.Bahan.Penggunaan Lahan o.8 Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . ak = agak kasar.40 >40 . <8 8 . s = sedang. 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

N-Total .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1.KTK liat (cmol) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . .Batuan di permukaan(%) .5-4.Curah Hujan (mm) . s = sedang.8 4. h = halus.Singkapan batuan (%) td td td < 0. c k > 55 < 20 td td td 6.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Tekstur . k = kasar. t = tinggi. kasar (%) .5 20-35 8-16 r.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0. ak = agak kasar. at ak. sr = sangat rendah.0 5.7-6.Penggunaan Lahan p.0-7.C-organik Toksisitas(xc) .2 < 1. s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5.) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Kejenuhan Basa (%) .K2O . Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 .7 / > 7.0-7.8-1.Lereng (%) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Bahan. r = rendah.6 td td st.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .2 1.P2O5 .5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.6 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b.0/7. ah = agak halus. Lobak (Raphanus astuvus L.Drainase Media perakaran (r) . td = tidak ada data.

.). dan N. 1984. 1994. Bachri. R. Depar-temen Pertanian. D. Vol. 1991. H. S. 46. 1998. World Bank. International Workshop on Sustainable Land Management. Dumanski. (ed. S. and John Wiley. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. Environment Working Paper No. Vol. Eswaran. 1999. 85 p. UK.). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian.C. Ottawa. 1991. Vol. and Ofori. J. Building on Bruntland. N.. 205-225. Anonymous. International Workshop on Sustainable Land Management. Terminal report UNDP – FAO. 17-18 Februari 1998. Costanza. Agricultural Institute of Canada. and Dumanski. pp. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. Chichester. 1994. FAO. Wood. Indonesia. Nomor 1. Suharta. Rome.. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 . VIII + 55h. (eds. Subagjo. 1995. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. An FAO study. H. Marwan H. 2000.Referensi REFERENSI Alexandratos. R. 1: Workshop Summary. J. (eds. _____. C. and El Serafy. Agricultural Institute of Canada. R.). Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. Anny Mulyani. Daly. H. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. Pushparajah E. Ottawa. Rome. The Organizing Committee. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Versi 3. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah. Washington D. dan D. 2: Plenary Papers. In: Environmentally Sustainable Economic Development. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. The Organizing Committee. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Djaenudin. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management.18. World Agriculture: towards 2010.C. Goodland. Djaenudin.

1999. Soil Resilience and Sustainable Land Use. Land evaluation for forestry. _____. Widiatmaka dan A. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. Rome. A framework for land evaluation. and Herdt. Yogaswara. FAO. 1976. CAB International. paper given at Cali LQI workshop. FAO. Wageningen. Hardjowigeno. 1977. (R.C. Rome.)). A. FAO Soils Bulletin 32. I. Lyman. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. The Netherlands. Soil Resources Development and Conservation Services. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. L.. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. Soils Bulletin 52. Jurusan Tanah. FAO.Referensi FAO. S. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Peru. 129-140. D. _____. Rome. H. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah.). _____. and Szabolcs. Forestry Paper 48. Soils Bulletin 32. 237 p. Rome. Soils Bulletin 58. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. Publication 22. 1983. P. CIP.I. Karama. Yogyakarta. _____. Washington. No. A framework for land evaluation. _____. 1994. Brinkman and A. D. FAO. Harrington. Rome. Melitz. S. J. World Bank.(eds. 1994. FAO. Fakultas Pertanian. A framework for land evaluation. 1996. Wageningen. and Dumanski. Guidelines for land-use planning. 123 p. UK. Also. Smyth.. Subagjo. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. IRLI Publ. Land and Water Development Division. Young (eds. 1991. M. 22. 1986. Rome.J.J. 1994. Djaenudin. 1993b. 1993a. dan S.). Rome. IPB. (eds. _____. FAO. June. World Soil Resources Report 73. ILRI. 72 p. D. viii + 87 h. R. Jones P. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. 150 p. The sufficiency concept in land evaluation.J. J. Lima. and Winograd. Unpub. 1976. _____. Development Series 1. Harijogjo.74 p Greenland. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. Wallingford. 96 p. 1984. 1988.

A. Rossiter. 63 p. 22-23 Sept. Sitorus RPJ..C. 74 p. Environmental performance monitoring indicators. 1992. Dept. World Soil Resources Report 73. ISRIC. 1995. Cornell University. World Bank Discussion Paper 315. Wageningen. Geogr. C. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. 1991. Methodology for Soil Resource Inventories. Measuring Progress. Inform. Crop. Rome.. Wageningen. 1994. Survei Sumberdaya Lahan Smith. The Netherlands. Land Quality Indicators. Uses of soil information system. Oldeman. & Atmospheric Sciences. Nairobi. G..E Estes. 1994a. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD).C. O'Connor.A. A. J. A.R.Referensi Moore. pp. 1987.T. Dumanski.C. Global extent of soil degradation.C. Nining Wahyuningsih.. 1977. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. 3 map sheets and explanatory note. L.J.L. & S. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management. Wageningen.W.. Hamblin. College of Agriculture & Life Sciences. Washington D. Int. Towards Environmentally Sustainable Development.W. 1994b. UNEP. and Young. Lecture Notes: Land Evaluation. 2003. Pieri. A User-Oriented Workshop. World Bank. 2nd revised ed. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. Bie (eds. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. D. Hakkeling. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor.L. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. 2000. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). Oldeman. J. The Netherlands. A. 1993. Buenos Aires. Rossiter. T. Washington D. & J. Puslittan. J. R.G. 19-36. 1994. FAO. Star. and Sombroek. Menon. W. D.). S. World Bank. and Dumanski. R.R. 1994. System 1 (1) : 13-31. J. 18-26 Jan.. J. 1978. G. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . of Soil. In: Bi-annual Report 1991-1992. and ISRIC. Smyth. 103 h. J.

H. Stewart (eds. xviii + 225 h. h 4-14. Harian Kompas 15 Oktober 1995. Land Evaluation. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. Widjaja Adhi. & A. Dalam: G. & FAO. ITC publ. Jakarta. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. 12-30. UNCED. pp. 1975. Alih Fungsi Lahan Pertanian. Subagyo. J. Meijerink.M. IITA. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia.). 1968. 8. Enschede. constraints and future needs. & G. 1964. 69h. 7. ILWIS. Ssouth Melbourne. 294 p. Rome. Soil Survey Interpretation and its use. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Assoc.). United Nations. 1993. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Technical Monograph No. Ibadan. 1967. Stewart (ed. R.R.C h 7-14. Valenzuela. CSIRO Symposium. Nigeria. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. M. Macmillan of Australia. Soil Research Institute. UC Berkeley. C.R.A. C. Iii + 31 h. Land Evaluation. Bogor..). Student Stors. 1995. ILWIS. 1993. Deptan. Handbook of soil evaluation.A. 1 Soil Management Support Services. Constraints and Opportunities. 1988. Overview. Balitbang.E. G. FAO.J.Referensi Soepraptohardjo. Velenzuela. Washington. Dalam: A. H dan IPG. Steele. New York. Soil Buletin No. No. 1998. H 1-10. Storie. D. Soni Harsono. W.G. Sombroek.G. Stewart. Robinson (eds.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful