SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. yang semula berupa catatan-catatan kuliah. unit lahan. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. parameter penafsir lahan. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. survei sumberdaya lahan. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . sehingga menjadi suatu buku.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda.

Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. IV. Surabaya. kegunaan klasifikasi lahan. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. prosedur klasifikasi. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. kacang-kacangan. maka saran-saran. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan.fisik. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . V. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. kimia lahan serta geomorfologi lahan. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. kesesuaian lahan. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. Bab III.

3.8.4 Kondisi Permukaan lahan 2.4.3 Kondisi Drainase 2. 2. 2. 2.5. 3.1 Bentuk Lahan 2.1.2.7.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.3.1.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1. Penggunaan Lahan 1. 3.8.4.4.8.1. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2.4.6. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan .2. 2. 2.4.3.1 Aspek Tanaman 2.2.4.5 Tanah 2. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2. 2.4.4.4.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2.

4.4. Penilaian Kesuburan Tanah 6. 8. 4.2.3.3.2.1.2.1. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7. 8. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5.4.2. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5.2.1.3. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan .1. 8.1. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8. 4.

11. 5. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan. 5.8. 2. 2. 5. 5. 2. 2.6. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .3.7.4.4.1.8.3.5. 2. 5.5.1. 5.2. 2.10. 2.9. 5. 2. 2. 2.Daftar Tabel 2.7 5.2.6.

9. 7.5.1.2.1.5. 7. 6. 7. 7. 5. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan .3.4. 7.10. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.

1.1.1. 4. 3.1. 3.Daftar Gambar 1. 7. 5. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii .2.1.1. 2.

daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. relief. Akibatnya. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 . Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. seperti untuk pertanian. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. 1986). jalan untuk transportasi. Di lain pihak.Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. tanah. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. daerah pemukiman. Dengan demikian. daerah industri. 2001).

faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. 1. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan.2. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. iklim. Untuk aktivitas pertanian.1995). tanah.. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. lokasi industri. 1975). Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan.Sumberdaya Lahan 1. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya. tumbuhtumbuhan. 2001). keadaan politik. lereng permukaan tanah. hewan dan kependudukan. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari.1. 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi. Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah. air. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. keadaan pasar dan transportasi. (Wahyunto et al. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal.

Kedua. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. Akibatnya. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 . lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup.Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. Ketiga.. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi. Menurut McNeill et al. ekonomi. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. Pertama. demografi dan budaya. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Sebagai contoh.

Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi. Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0. 1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. iklim mikro.65% pada tahun 1990. penduduk. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.05% dan meningkat menjadi 14. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13. pencemaran. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. Penelitian terhadap struktur ekonomi. Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan .46%.

Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 . sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum.Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh).

erosi dsb). hasil penelitian terdahulu. namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta. Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada.Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . tipe batuan. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit.

2. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi. Batasan Unit Lahan. perangkat pengelola data. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2. Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. Pertanyaan selanjutnya adalah. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. perangkat penafsiran foto udara. 2. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari. Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut.1. baik foto maupun citra satelit. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform).

disarankan batas petak menggunakan batas alam. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. 2.3. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan. Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. Dengan demikian.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara.

16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan.1. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T. Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000.1. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . sungai dsb. 2. jalan. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. misalnya desa. Tabel 2. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip.

Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit).Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1.4. Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. 4. Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng. 2. Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 .

biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. lereng tengah atau lereng bawah. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum. 4. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. Pada skala detil misalnya. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. lereng atas. 1977) dan Kucera (1988). Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). Pada perisalahan hutan. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. Aspek Tanaman 5. bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit.4.

Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 .2.4. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2. Kemiringan dan Arah Lereng. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Jadi informasi ini sangat dibutuhkan.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Tabel 2. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan.2. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes.

Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. Klasifikasi Kelas Kelerengan. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . Kondisi Drainase.100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 .15% =2 15 . yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat.4. Dalam buku ini. misalnya. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 .Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan.25 % = 3 25% .3. kondisi drainase.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2. akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. Biasanya pada topografi yang berbeda. jenis tanaman dan kedalaman tanah. karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah.3. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah. Tabel 2. 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. maka perkembangan tanahnya juga berbeda.

sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut.4. Tabel 2. karena kapur dapat meloloskan air. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. maka kondisi drainasenya makin buruk. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. Kondisi drainase jelek. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. misalnya. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun.

terdapat bercak-bercak pada horizon B. Disamping itu. Bagi pengelola hutan. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen. hal ini adalah erosi dan pengikisan. solum tanah bebas dari bercak. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Air cepat hilang dari tanah.4. 2. Air mudah hilang. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim.Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama.4. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda.

20 20 .80 Prosentase Singkapan 0 1 .60 60 . Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya. vegetasinya. Tabel 2. Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 . Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu.40 40 . Dengan demikian apabila suatu.4. Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah.40 40 . sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. lahan mempunyai jenis tanah Entisol. Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk.5. iklim.10 10 . Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail.60 60 . Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi. maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2. Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri.5. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya. Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia.20 20 .Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif.10 10 . Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia.

misalnya.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah. Kode Great Group Tanah. Tabel 2. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut.4. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit.6. akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut.6. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur.

Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. misalnya penterasan. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. yaitu batuan beku. dapat digunakan Peta Geologi. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. tekanan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan. Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. Pada prakteknya. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur.

4. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Pada satu unit lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. Tabel 2. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. kedalaman tanah mempunyai pola umum. Pada tanah yang dangkal.7. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak.7. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah.

Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah.60 cm 60 . maka pembentukan tanahnya lambat. Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Akibat lebih jauh.30 cm 30 . jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. misaInya drainase. kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen. kondisi drainase. tipe batuan dan bentuk lahan. debu dan lempung/ Sand. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 . Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar.5. kemiringan lereng.90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara. Seperti haInya kondisi permukaan. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah.Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut.15 cm 15 . Tabel 2. silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah.8. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah.

Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Tabel 2. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah.6. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2.9. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. asam nukleat dan substrat metabolisme. translokasi karbohidrat. Unsur N merupakan penyusun semua protein. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). koensim. sintesa protein dan lain-lain. Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. Magnesium (Mg). Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. Ca merupakan komponen dinding sel. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). beberapa penyusun protein. Kalsium (Ca).1 satuan. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total).Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman.

70 31 -60 A.0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 .00 > 5. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.10.6-6.8.5-5.Masam Netral < 4.5 4.5 5.45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .4 0.00-2.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.0 1.6-8.Masam Masam A.20 51 .40 21 .1.01-5.1 . Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun. Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .60 > 60 25 .0 > 1.5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .60 > 60 26 .0 > 8.2. Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 . Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK.7.51-0.40 > 40 Tinggi 0.1997).0.0 2. 00 1.5 > 1.10 0. Tabel 2.0.1 0. Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.1 0.20 21 .10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0.0.1.7 Mg (me/ 100 g) < 0. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1. Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut. Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan. Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah.0 0.8 .20 0.3 0.6 .1 .5 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.01 -3.5 Na (me/100 g) < 0.00 N (%) < 0. Parameter ini sangat dinamis.75 16 .60 > 60 41 .1 .25 > 25 41 .75 > 0.4 .3 .0.25 26 . alkalis 7.0 11 .35 > 35 46 .1 .10-0.50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .21-0.5 6.1.4 .6-7.00 0.00 2.2 0.

Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. akibat adanya pengolahan tanah. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion). Tabel 2. jurang (gully erosion). Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. Sifat Geomorfologi 2. ringan. walaupun ada. Sedangkan erosi angin.8. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. yaitu diabaikan. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman.8. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut. Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2.1. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion). erosi parit (rill erosion).11. sedang dan berat.

Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. Fenomena perbedaan pola. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2. Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. lahan dan iklim. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. Informasi hujan yang diperlukan dalam. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. jumlah bulan basah. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim.8. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. kemiringan lereng dan arah lereng. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. karena terbatasnya stasiun meteorologi. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. dalam hal ini curah hujan. hujan antar petak juga. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman.2. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi.

Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 . Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. tetapi data curah hujan biasanya tersedia. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun.Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan.200 mm sebulan. bulan lembab antara 100 . Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. Gambar 2. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). Khusus tentang penakar hujan. Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ).1. tergantung pada dasar penentuannya.

A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2.3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.A2 + P3.Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1. 2 3 (Faktor Pembobot).A1 + P2.3 = Tinggi hujan di stasiun 1.2. 2. 3 A1.

Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. 2. dari kelayakan usaha yang akan 3.1. Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. Lahan. Ekonomis diperoleh diterapkan. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. 2.Klasifikasi Lahan 3. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama. Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai.

ekonomi. (b) Alami. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. meliputi aspek sosial.3. 3.4. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan.2. politik dan administrasif. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. 3. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan.

. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. 4. 2. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. Klasifikasi satu faktor.Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural). Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. (bid. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. 3. mengembangkan. 6. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1.

Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih. Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3.1. (pendekatan dari bawah ke atas). Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah). Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3. dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. 2. Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi.

Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . politik. Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham.2. sosial. 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3.

sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. hutan produksi dsb). Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. 1990). Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. yaitu: Klas. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim.1. Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Sub Klas dan Unit. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL. Jadi. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. perkebunan.

karena telah dibuat teras bangku datar. Contoh Sub kelas Vie. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. 0 kelas I . masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat).1. karakteristik tanah (s). 4. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang. Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e). 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian. memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. mempunyai hasil potensial yang hampir sama.Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. 2.ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi). - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. iklim (c) dan gradien (g). kebasahan (w). Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. 3. VIe2 dsb.

Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. 3. (Kelas. kesuburan meningkat. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. 4. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. misalnya GWT turun. 5. irigasi.

Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) .Gerakan massa tanah/longor .Letusan gunung api . Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan . dan pengendalian banjir 7. fasilitas. karakteristik tanah. tekstur. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan . penahanan air. jarak. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. mineral liat . irigasi. 4. Jaringan drainase yang luas.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya.Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd.Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan. Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd. padas. Keragaan (performance) lahan. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi.2. Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al.Banjir .kebasahan berlebih setelah drainase .

Kerentanan. erosi tebing sungai .Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun. Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan .Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya. sedang (60-90 cm) . untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb. lapis dan jurang) .Rentan terhadap Pengendapan. maka perlu upaya konservasi khusus. .Karakteristik tanah (tekstur. Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi.Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang.Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur. : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 . kebasahan ringan (Horison B bercak) .Setelah drainase. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah.Iklim < menguntungkan (ringan).Jeluk. sedang tehadap erosi alur. struktur) ringan . .

Berturut. . berat .Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. berat. : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. CH > 200/bulan. sedang . . .Jeluk.Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan). erosi tebing sedang . berat .Kerentanan terhadap deposisi. erosi tebing sungai. . 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). sangat < menguntungkan.) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan. .Kondisi iklim yang tak menguntungkan.Jeluk. .Rentan pengendapan. Iklim < menguntungkan (ringan). bulan kering 5 bulan Berturut.Sifat rentan terhadap erosi lapis. sehingga perlu konservasi intensif.Karakteristik fisik tanah.Setelah drainase. kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). sangat dangkal (15-30 cm) . CH > 200/bulan.Karakteristik tanah yang tak menguntungkan.Klasifikasi Kemampuan Lahan . bulan kering 5 bulan.Setelah drainase.Setelah drainase. dangkal (30-60 cm) . alur dan longsor.Kesuburan alami rendah . kebasahan dan kebecekan.

Jeluk. (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan. kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Jeluk.Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun. rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . dangkal (< 15 cm). dangkal < 10 cm Kesuburan alami. terdapat banyak batu .) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase. dangkal (10-15 cm).) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk. .Kesuburan alami rendah .Klasifikasi Kemampuan Lahan .

4. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry. pada rumput. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. 4. CH < 100 mm/bulan. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. Sesuai untuk perlindungan DAS. agroforestry. dan hutan. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. Hanya konservasi DAS 4. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. dan hutan. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. padang rumput atau hutan. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku.3. atau hutan. pada rumput dan hutan.

pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 . tekstur dll) Iklim. Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien.Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. struktur.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil. sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Gunakan Tabel 3. kedalaman tanah (Tabel 2. 1c.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 . 1b.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. dan Gradien 1a.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3.6).4).9). Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3.3). Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan. Ikliim. Gunakan Tabel 3. Gunakan Tabel 3. Tanah.2) dan tingkat banjir (Tabel 3. tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3.6).

Gunakan Tabel 3. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s .lanjutkan ke LANGKAH 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2.lanjutkan ke LANGKAH 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan.lanjutkan ke LANGKAH 3. Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan . iklim. tanah. kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a. 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras.lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c . ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g .

I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol.lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Inceptisol. dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa. Entisol.1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .

Flow.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V. Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras . VII.lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3. atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . II. Fall.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump.Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) . atau Tanah longsor adalah ringan. VI. atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan . sedang.namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar .

1. Gambar 4. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 .Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e.

yaitu : sangat sesuai (S I). g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim). Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. Oleh karena. hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). e. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. a (keasaman). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP.Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. s (tanah). sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. yaitu e (erosi). 1994) dan metode Webb (1984). Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. sesuai (S2). Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. w (drainase). w. metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. tanaman keras. Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. g dan sd) atau sebaliknya.

Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. pasar. hewan atau mesin 6. 2. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu. konsultan dll. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain. hidrologi dan vegetasi. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. ketrampilan dll.1. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim. pabrik. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. manusia. 3. Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. tk pendidikan. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. Tingkat Teknologi yang Tersedia. 5. alat & mesin. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Sumber tenaga. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. Kebutuhan Infra Struktur. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. tanah.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. 7.bibit. Intensitas tenaga kerja 5. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. Intensitas modal 4. 8. Pasar (market oriented). pupuk.

dilakukan sekali. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. perkapita. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. tekstur. Tingkat Pendapatan. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. kelompok dll. Ketersediaan air. per produksi. dll. 11. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. penambahan BO dll. Jaringan irigasi. perseorangan. lokasi terpisah atau menyatu. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. ketahanan erosi. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. slope. 1. Sistem Pemilikan Lahan. 2. Contoh Kebutuhan oksigen dll. CH. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. Pemupukan. kapasitas menahan air.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. ? Luas lahan per petani. reklamasi tanah dll. Luas dan Pemilikan Lahan. per luas. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . 10.

2. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. lereng) teknis tidak b. Pertimbangan yang dipakai: a. yaitu: 1. pembuatan saluran drainase dll. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. 5. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan.2. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. Pemberantasan gulma. Ordo 2. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. Terdapat empat kategori. Ekonomis. Terdapat dua order yaitu: 1. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

c. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. b. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. yaitu: a. Kekurangan air. e. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. Misl. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. bahaya erosi dll. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 .Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. pembatas berpengaruh pada output. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. b. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. d. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. mk dapat dipakai bersama sama. dan menambah input.

. S2w S2e-1.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan . misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. S3t N2t.luas dan batas daerah yang dievaluasi . S3n-2.macam penggunaan yang direncanakan . S3n-1.data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi . S2e-2 N1e. S2n-2. Tabel 5. Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x.pendekatan yang digunakan .Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas.Apa tujuan evaluasi . data yang tersedia sebagai dasar evaluasi. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1. menjabarkan tujuan evaluasi. N2w S3n-1.1. N1n - 5. Konsultasi awal.3. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan. S3n-3 dll. S3n-2 dll Unit S2e. S2n-1.

Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan.intensitas dan skala penelitian . Satuan lahan dan kualitas lahan. penggunaan saat ini dll. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . 4. persyaratan dan pembatasnya. Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. . produksi.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas). Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. Penutup. evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. Klasifikasi kesesuaian lahan c. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi. pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada.

Alkalis Ada S.1. data.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan. asumsi.2. Ada Netral-A.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5.hls Sdg-rdh T.Masam T. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar. rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5. Ada Masam-A. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 .cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S.sdg. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S.4.25 25-50 > 50 pH Ksr.3. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Masam & Alkalis Tabel 5.

8.sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5.6. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar . berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 .7.5.

en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.9.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2.10.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.

1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Tekstur tanah b. Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. pH (H2O) rasio 1:1 c. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman.Klasifikasi Kesuburan 6. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. Mg. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al. Kadar Ca. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. 3. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. 1982 dan Sanchez and Boul. serta tempat penyedia air. 4. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 .1. Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. gudang dan penyuplai unsur hara. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2.

pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO. bila pH (H2O) 1:1 < 5. Fe2O3 bebas.0 b. Kadar Al terekstrak 1 N KCl. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain . Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah.1. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org). Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5.Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a. bila kadar liat > 35% c. 1983) Tabel 6.

2. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. kadar liat > 35 % : Organik. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1.Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung.

2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah. dicirikan Kdd < 0. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. : Kering. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. aridik.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. dicirikan pH > 7.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. : KTK rendah. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah. xerik. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi.15 : Alofan dominan. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 . subtipedan modifier scr berurutan. Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. dicirikan pH (H2O) < 3.Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi.5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil.

BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W.1.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih .Api Abadi .Tofografi Unik . BUDAYA W. Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata. 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 . Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain.Taman Laut .Ngarai .Evaluasi Lahan Non Pertanian 7.1.Kawah Gunung Api . ILMU W. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7.Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket. PARIWISATA (OBYEK) W. ALAM W. AGRO W. Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama . Tabel 7.1.

Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Transportasi . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .Angin Tabel 7.Sun set .Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Sun Shine Suhu udara Cuaca .Untuk Berobat .2.Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Keperluan Sehari-hari .Keuangan .Hiburan Malam .Penginapan .Sinar Matahari . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Salju abadi .Keamanan .Komunikasi .Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.

sil = lemp. org < 50 cm > 20 % >3% > 0.liat berdebu.berpasir.2.Buruk. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7.7 mm  Pasir : 4. s. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt. vfsl = lemp.2.074 mm  Debu : < 0.Cepat. scl = lemp.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp.Buruk.berpasir sangat halus.berpasir halus. sdg A.Lambat. Baik & a. sic = liat berdebu. Buruk > 50 cm S. BC dan BO 7. sic. fsl = lemp.7 mm – 0.Lambat >6% sc. scl.01 .sepat. vfsl. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S. fsl. cl =lemp. plastisitas.1 % Batu (25 mm . Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA.1.3.baik.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 . sil > 100 cm 0% 2–6% cl. c.1 % S.lambat 0-2% sl. Baik & A.l.berdebu. ls = pasir berlemp.Buruk GW A. sicl = lemp. s = pasir. c = liat.2.01 – 0. ls 50 – 100 cm < 20 % 0. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm. l = lempung.liat. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A.Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7.3 % 0. Sc = liat berpasir. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. sicl.2.liat berpasir. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials). 7.0 – 4.

09) 0. SC OL.03-0. SP.03Rendah (< 0. SW.5. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. MH. CL dng PI < 15 CH.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan .03) Sedang (0. OH.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0. GW.09) CL dng PI > 15.4. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. SM.03) Tinggi (> 0. OH. (USDA.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL. GM. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.09) Tabel 7. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. GC.09) Tinggi (> 0. GP.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

t s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . ah h ak k . data.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .2 / 7.C-organik > 1.2 0.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .40 >40 .15 15 .25 >25 st = sangat tinggi. k = kasar. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .2-7. s r sr td .2-7. s = sedang. td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan .8 / > 7.6 < 4.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) . at s t st Media perakaran (r) .KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . h = halus.2 < 0.16 16-30 >30 . t = tinggi.8 .Tekstur s.15 15 . r = rendah.8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus. <8 8 .2 4.Singkapan batuan (%) <5 5 . ak = agak kasar. t.Drainase b.P2O5 . sr = sangat rendah. s r sr td .pH H20 5.N-Total st.Lereng (%) . t. Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bahaya erosi sr r.Penggunaan Lahan d.1.6 td st.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .8-5.Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) .K2O st. s b sb Bahaya banjir (f) .Bahan.

ak = agak kasar.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .8 .4 <4.40 . <8 8 .sr td .P2O5 st t-s r .pH H20 5.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Tekstur h.75 25 .55 .25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.K2O st.Lereng (%) . t.35 35 .15 15 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) .Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . ah s ak . r = rendah.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .35 < 20 .C-organik > 1. s = sedang. Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan e.Singkapan batuan (%) <5 5 . k = kasar.16 16-30 .Drainase b s t Media perakaran (r) .2 < 0.Bahan.8 / >8.N-Total t . ah = agak halus. data.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .2 4. Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .4 .2-8.8 Toksisitas(xc) .2/8. sr = sangat rendah.15 15 .2 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .75 Retensi hara (n) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) .8-5.2-8. kasar (%) < 15 15 .1. h = halus.st r-s sr . t = tinggi.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) . s r .

sr td td .Drainase b. s r .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus.1.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .K2O st t-s r sr .15 15 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) . sr = sangat rendah.6.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .8 t .15 15 . ak = agak kasar.P2O5 .16 16-30 >30 .75 25 .35 35 .Loreng (%) .st r-s sr td . at st Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 . s ah h k .Tekstur ak.75 < 25 Retensi hara (n) .pH H20 5.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) <5 5 . t.Bahan.35 < 20 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .40 >40 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .6.Batuan di permukaan (%) <5 5 .55 > 55 .2 5.8 < 5.75 20 – 24 / 75 .2 / > 6. td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan . <8 8 . h = halus.8 . data. kasar (%) < 15 15 .5 . Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . r = rendah. t = tinggi.25 >25 st = sangat tinggi.Penggunaan Lahan f.5 / 6 2 .N-Total st.8 Toksisitas(xc) .C-organik > 1. ab s t. s = sedang.2 0.5.2 .Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) . k = kasar.2 < 0.

25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 . Gandum S1 21.5 / 6 2-6.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .6. data.15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.P2O5 .8 sr td r < 0.5 .2 5. t = tinggi.15 5 . ak = agak kasar.Batuan di permukaan (%) . k = kasar.55 25 .N-Total . h = halus.C-organik Toksisitas(xc) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Bahan.2 0.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s < 15 > 75 s ah 15 .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ab ak.35 50 .75 t.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 .Penggunaan Lahan g. ah = agak halus.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .16 r-s 5 .Drainase Media perakaran (r) .sr st t-s > 1.8 . r = rendah. at h 35 .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 .K2O .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 . s r .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 .90 < 20 / > 90 b.40 15 .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .Kejenuhan Basa (%) .Tekstur .35 5.8 t .Loreng (%) . sr = sangat rendah.75 20 – 24 / 75 .1.KTK liat (cmol) .2 / > 6. kasar (%) . . t.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . s = sedang.75 < 20 < 5.2-5.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .st r-s st.

5/8.5/8.t.5 .Lereng (%) . t.K2O st. s b sb Bahaya banjir (f) . k = kasar. <8 8 .5 1. h = halus.Drainase b.P2O5 st t.C-organik > 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-4 / 8-8. ah = agak halus.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 .4 td ≤ 0.5 / >9. s = sedang.40 >40 .Bulan kering (bln) 8-4 2.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) .Bahan. r = rendah.2-8.3 td .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) . s ah ak k .15 15 .5-2. data. sc Media perakaran (r) .3 < 5.5 5.Penggunaan Lahan h.5 <1.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.N-Total st. at s t st. Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s r sr td .3-5.25 >25 st = sangat tinggi.5-9. s r sr .s r sr . td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . ak = agak kasar.Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur h.Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .4 Toksisitas(xc) .pH H20 5.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 . t = tinggi.Bahaya erosi sr r. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) .15 15 .3/ > 8.5-8.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .

8 . s ak h k .Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi.8 td td Toksisitas(xc) . at s t st Media perakaran (r) .Tekstur ah. t = tinggi.C-organik > 0.N-Total td td td td .KTK liat (cmol) >16 td td .Bahaya erosi sr r.Penggunaan Lahan i.Bahan.5-6.5-7.Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td . ah = agak halus.5 < 5.0-5.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .40 >40 .5 5. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 . Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 / > 7.Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .Drainase b. sr = sangat rendah.K2O td td td td . <3 3-8 8-15 > 15 .Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) . k = kasar.5 td . s b sb Bahaya banjir (f) .5/6.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .pH H20 5. data.Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 . ak = agak kasar.P2O5 td td td td ≤ 0. r = rendah. h = halus.Lereng (%) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .

Tekstur ak. h = halus.Bahaya erosi sr r. s b sb Bahaya banjir (f) .0-7.Batuan di permukaan (%) <5 5 .40 >40 .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .15 15 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .5 <4.25 >25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .5 / >7.4 Toksisitas(xc) . 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Lereng (%) .P2O5 r sr td td .Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .0-5.) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .15 15 . ab at s.Penggunaan Lahan j. k = kasar. <8 8-15 15-30 >30 .0 4.pH H20 5.Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .K2O r sr td td .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . s ah h k . r = rendah.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . Iles-Iles (Amorphophalus sp.Bahan.Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) . ah = agak halus.4 td ≤ 0.0-7. ak = agak kasar. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .C-organik > 0. t st.Drainase b. t = tinggi. s = sedang. td = tidak ada data.0 / 7. sr = sangat rendah.5 td .N-Total r sr td td . c Media perakaran (r) .

KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . r sr td td . sr = sangat rendah.Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) <1 1-1.8 Toksisitas(xc) .8 .0 < 5. k = kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Lereng (%) .6-7. t s r sr .1. at s t st.6-8.6 5.40 >40 . c Media perakaran (r) .0 Sodositas (xn) . Tanaman Kacang-Kacangan a.5 1.C-organik > 1.Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) . t.15 15 . td = tidak ada data.Bahan.2 0.K2O st. t = tinggi.Drainase b.pH H20 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 . Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus. r = rendah. s ah ak k .4 / > 8.0 > 2.6 / 7.Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .4-5.Bahaya erosi sr r. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .25 >25 st = sangat tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . s r sr td . ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .0 td st.Penggunaan Lahan 8.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) . s. s = sedang. h = halus.2 < 0.15 15 .16 16-30 >30 .Singkapan batuan (%) <5 5 .N-Total st.5-2.P2O5 .2. t. s b sb Bahaya banjir (f) .Tekstur h. <8 8 .

s = sedang.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4.C-organik Toksisitas(xc) . ak = agak kasar.6 sr sr r < 0.1.15 5 . t. sr = sangat rendah.2-7. at s. ah = agak halus. .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . t = tinggi. s st.8 / > 7.8 .Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi. s st. s 5 .Lereng (%) .15 t ak 35-55 50-75 td td < 4. Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.Drainase Media perakaran (r) . 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . kasar (%) .pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st. r = rendah. t.25 .2 2-4 10 -15 8 .8 4-6 15-20 16-30 b 15 . k = kasar.N-Total .Penggunaan Lahan b.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Kejenuhan Basa (%) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .16 r.P2O5 .2 / 7.40 15 . td = tidak ada data.Bahan. ah < 15 > 100 > 16 > 20 5.Batuan di permukaan (%) . h = halus. t > 1.8-5.Tekstur .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .2 st.KTK liat (cmol) .6 r r s 0.K2O .2-7.

td = tidak ada data.Drainase b.P2O5 .1.5-6.5 2.40 >40 .15 15 . Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Tekstur h.0 t .pH H20 6.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . t.2 0.Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .5-3. c Media perakaran (r) .Singkapan batuan (%) <5 5 .sr td td . ah = agak halus.35 < 20 .0/7.15 15 .55 > 55 . k = kasar.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .5 3. ah s ak k .Bahan.5 5.25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi. ak = agak kasar. <8 8 .35 35 .8 / > 8.5-8.C-organik > 1.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Penggunaan Lahan c.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0 >6 Sodositas (xn) .8 .2 < 0. r = rendah. h = halus.Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0-7. s r .8-6.Batuan di permukaan(%) <5 5 .st r-s sr td . kasar (%) < 15 15 .8 Toksisitas(xc) .60 20-50 < 20 Retensi hara (n) . sr = sangat rendah.Lereng (%) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 . s = sedang.0 < 5.N-Total st.16 16-30 >30 . at s t st.K2O st t-s r sr .Salinitas (dS/m) < 2.

td = tidak ada data.Loreng (%) .pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.Penggunaan Lahan d.KTK liat (cmol) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .40 15 .5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 . t.25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Batuan di permukaan(%) . at h.2 < 0.35 50 .4 / > 8.8 .6 / 7.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . c k > 55 < 25 - .15 5 .N-Total . .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .K2O . s = sedang. Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .6-8.Singkapan batuan (%) ≤16 20 . 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan .C-organik Toksisitas(xc) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .6 t .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . h = halus.75 t ak 35 .16 r-s 5 . sr = sangat rendah.5 May-09 8 . k = kasar.4-5.Drainase Media perakaran (r) . ah = agak halus. t = tinggi.Bahan. ak = agak kasar.sr td t-s r 0.0 < 5.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Tekstur .15 1.1. s st > 1.8 1-1.st st.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Kejenuhan Basa (%) .55 25 . kasar (%) .35 < 20 5.2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 . s < 15 > 75 > 16 > 35 5.0 r-s sr r .P2O5 .50 st.6-7. r = rendah.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .Salinitas (dS/m) <1 1-1. h = halus.4-5.C-organik > 1.Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . <8 8 .8 Toksisitas(xc) .16 16-30 >30 .Drainase b. s ah ak k .P2O5 . s r . r = rendah. t = tinggi.1.5-2 >2 Sodositas (xn) .0 t .4 / > 8.6-8.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .6 / 7. sr = sangat rendah.55 > 55 .Bahan.35 35 .40 >40 . ab s t st. ah = agak halus. s = sedang. kasar (%) < 15 15 .8 .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .sr td td .K2O st t-s r sr .0 < 5. td = tidak ada data.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 .Tekstur h.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . k = kasar.pH H20 5. t.Penggunaan Lahan e.5 1.2 0.6 5.15 15 .6-7.15 15 . ak = agak kasar.N-Total st.75 < 25 Retensi hara (n) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .75 25 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Loreng (%) .2 < 0. c Media perakaran (r) .st r-s sr td .25 >25 st = sangat tinggi.

s r sr td . Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .N-Total st. ah = agak halus. t = tinggi. Tanaman Perkebunan a. k = kasar.16 16-30 >30 .40 >40 .Lereng (%) .Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 . 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Tekstur ah. s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan 8.2 / 7.5 4. t.Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) .t.8-5.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td .8 / > 8.Drainase b.5-4 4-5 5-6 >6 . sr = sangat rendah. s = sedang.15 15 .8 .Kejenuhan Basa (%) < 20 td td .0 < 4. ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .P2O5 ≤ 0.3.2-7.KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 . s h ak k . s r sr .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . <8 8 .8 td Toksisitas(xc) . s r sr td . sc Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) .15 15 .0 td st.Bulan kering (bln) 2. td = tidak ada data. h = halus. at s t st.Bahan.pH H20 5.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .K2O st t.5-8. r = rendah.C-organik > 0.Singkapan batuan (%) <5 5 .25 >25 st = sangat tinggi.Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Bahaya erosi sr r. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .

1-1.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang.8 1.5 < 1.5-6.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . ah = agak halus.Singkapan batuan (%) td td td 0.Curah Hujan (mm) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .8-2.0-7.8-1.N-Total . . h = halus.Kejenuhan Basa (%) . k = kasar.0 td td td > 1.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2. td = tidak ada data.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 . at h.Lereng (%) .0-7.Bahan.Drainase Media perakaran (r) . s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi. Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b. kasar (%) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Tekstur .KTK liat (cmol) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0/7.Batuan di permukaan(%) .5 1. r = rendah.P2O5 . t = tinggi.K2O .2 td > 30 sb > f1 >40 >25 . ah < 15 > 150 >16 > 35 6. sr = sangat rendah.8 td 8-16 r.6 td td td < 0.6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan b.C-organik Toksisitas(xc) . ak = agak kasar.1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.5 / > 7.

Singkapan batuan (%) <5 5 . s b sb Bahaya banjir (f) .15 15 .Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 . ak = agak kasar. 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t = tinggi. Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .Bahaya erosi sr r.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .C-organik > 0.6-8.Drainase b.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.0 / 7. h = halus.P2O5 r sr td td . ab at s.Penggunaan Lahan c.N-Total r sr td td . sr = sangat rendah.40 >40 . k = kasar.K2O r sr td td .15 15 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Lereng (%) .6 / > 8.Bahan. c Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) . r = rendah.4 Toksisitas(xc) . td = tidak ada data.0 td .6 5.0-7.Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) . s = sedang.pH H20 6.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur h.Batuan di permukaan(%) <5 5 . <8 8-16 16-30 >30 . ah s ak k .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0 < 5. ah = agak halus.6-6.4 td ≤ 0.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . t st.

5 4. s = sedang. c Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . sr = sangat rendah.st r sr td . t st.Penggunaan Lahan d.15 15 . td = tidak ada data.25 >25 st = sangat tinggi. t.C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 .K2O st t-s r sr .2-5.0 t . s ah ak k .8 ≤ 0.Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) . kasar (%) < 15 15 .16 16-30 >30 . ab at s.Drainase b.5-7. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Singkapan batuan (%) <5 5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .40 >40 .P2O5 . ah = agak halus.0 / 6. <8 8 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .Bahan. k = kasar.Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Loreng (%) .55 > 55 .N-Total st.8 Toksisitas(xc) . t = tinggi.Batuan di permukaan(%) <5 5 . ak = agak kasar.15 15 .35 35 . s r . r = rendah.0 < 4. h = halus.Tekstur h.sr td td .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .2 / > 7.0-6.Curah Hujan (mm) .pH H20 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .

Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .8 Toksisitas(xc) .P2O5 .Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) .35 35 .25 st = sangat tinggi.Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .sr td . t. sr = sangat rendah. <8 8 . s ah ak . k = kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .2 0.K2O st t-s r .35 < 20 .Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .Salinitas (dS/m) < 0.5 td 0.6 6.st r-s sr .Tekstur h.4 t . td = tidak ada data. h = halus.3 < 5.Bahan.15 15 .5 / 7.1.40 .2 < 0.Curah Hujan (mm) .15 15 .6-7.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . kasar (%) < 15 15 .C-organik > 1. ak = agak kasar.55 .Drainase b s at Media perakaran (r) .6-6. c k > 55 < 50 - td td sr > 2.16 16-30 / 16-50 .Loreng (%) . t = tinggi.8 .0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o . ah = agak halus.N-Total st.5-2. s r . r = rendah.Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 . s = sedang.pH H20 5.0 Sodositas (xn) .Singkapan batuan (%) <5 5 . >6 < 20 / > 90 t.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Penggunaan Lahan e.

8 Toksisitas(xc) . sr = sangat rendah.Bahaya erosi sr r.Bahan. t. td = tidak ada data.pH H20 5.Drainase b s at t.5-5.Tekstur h.5 td st. t.Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .5 / > 6. s r sr td .N-Total st.5 < 4.Curah Hujan (mm) .15 15 . ah = agak halus.0 1.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) <5 5 . kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 . ak = agak kasar. t = tinggi.0 > 2.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Lereng (%) . Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .C-organik > 0.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .25 >25 st = sangat tinggi.0-6. s b sb Bahaya banjir (f) . s r sr td .Salinitas (dS/m) < 0.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td . k = kasar.Penggunaan Lahan f.5 0.0 4. <8 8 . r = rendah.0 / 6.15 15 . t s r sr .8 td td ≤ 0.40 >40 .K2O st.0 Sodositas (xn) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 .5-1. c Media perakaran (r) . h = halus.KTK liat (cmol) td td td td . s = sedang.P2O5 .16 16-30 >30 .0-2. ah s ak k .0-6.

0 / > 8.15 15 .8 . s = sedang.Curah Hujan (mm) .2 0.Bahan. r = rendah.35 35 .35 < 20 .8 5.Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) .2 < 0. h = halus. Kina (Cinchora spec.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . s h ak k .Batuan di permukaan(%) <5 5 .N-Total st.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus.55 > 55 . c Media perakaran (r) .1.P2O5 .Drainase b.pH H20 5.Penggunaan Lahan g.K2O st t-s r sr .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) <5 5 .0 t .8-8. td = tidak ada data. s r .8 Toksisitas(xc) .0 < 5.25 >25 st = sangat tinggi.16 16-30 >30 .Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .5 / 7.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . <8 8 . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .div.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .40 >40 . ak = agak kasar. ab at s. sr = sangat rendah. k = kasar.Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) .0-5. t = tinggi.st r-s sr td . kasar (%) < 15 15 .15 15 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .7.sr td td . t.Loreng (%) .Tekstur ah.C-organik > 1.5 . t st.

kasar (%) < 15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .8 Toksisitas(xc) .15 15 .st r-s sr td .K2O st t-s r sr .35 35 . sr = sangat rendah. t = tinggi. k = kasar.0 t .KTK liat (cmol) td td . r = rendah.15 15 .Drainase b.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .5 4.Singkapan batuan (%) <5 5 .Penggunaan Lahan h. at st. <8 8 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang.5-8. Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .2 / 7.25 >25 st = sangat tinggi. h = halus.8 td ≤ 0.Tekstur h. Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .75 25 .Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) . t.pH H20 5.0 < 4. s r .sr td td .55 > 55 .Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 .P2O5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .40 >40 .2-7.Loreng (%) .8 / > 8.50 < 25 Retensi hara (n) .Batuan di permukaan (%) <5 5 .N-Total st. ab s t.C-organik > 0.Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) . ah = agak halus.Bahan.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data. c Media perakaran (r) .8-5.16 16-30 >30 . ah s ak k . ak = agak kasar.

5 < 0.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . s r .5 0.55 > 55 . t.Loreng (%) .8-1. k = kasar.40 >40 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ah s ak k .C-organik > 1.8 < 3. c Media perakaran (r) . r = rendah. kasar (%) < 15 15 . s st. 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan .P2O5 .15 15 .15 15 .5-5.8 Toksisitas(xc) . t = tinggi.st r-s sr td .Curah Hujan (mm) .5 3.Penggunaan Lahan i.Batuan di permukaan(%) <5 5 .25 >25 st = sangat tinggi.Bahan.Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) .35 35 .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .N-Total st. s = sedang. <8 8 .Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 .Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 .Drainase b.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . h = halus.16 16-30 >30 . ah = agak halus.sr td td .5 / 5.Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur h. ak = agak kasar.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .K2O st t-s r sr .8 / > 5.pH H20 4.5-5. Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . td = tidak ada data.8-4. ab at t.Singkapan batuan (%) <5 5 .8 t . sr = sangat rendah.

5-5.Lereng (%) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 .Bahan. s. Kapuk (Caiba pantandra G.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 . h = halus.P2O5 .0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4.Singkapan batuan (%) st.Drainase Media perakaran (r) .16 r.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0-6. k = kasar. at h. s = sedang.0 / 6.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .KTK liat (cmol) . t > 1. s st.1.Tekstur . t.2 4-6 15-20 8 .15 sr td r < 0.8 . r st.Batuan di permukaan(%) . kasar (%) .0-7. td = tidak ada data. c k > 55 < 50 td td td .15 5 . sr = sangat rendah.Curah Hujan (mm) . .C-organik Toksisitas(xc) .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .40 15 .5 td st. ak = agak kasar. ah < 15 < 100 > 16 > 35 5.K2O .Kejenuhan Basa (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . r = rendah.2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0.Penggunaan Lahan j.5 / > 7.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . ah = agak halus.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . t = tinggi. s f1 5 .5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b.N-Total .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi. t.

0/7. Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . k = kasar.0-8.0 / > 8. s = sedang. r = rendah.0-7.0 < 4.pH H20 t .Tekstur h. h = halus. ab at s.25 >25 st = sangat tinggi. c Media perakaran (r) .Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .40 >40 .C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5. td = tidak ada data.Drainase b.Bahan. t = tinggi. t.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . t st.0 4.35 35 .st r-s sr td .0 . sr = sangat rendah.K2O st t-s r sr . kasar (%) < 15 15 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . s ah ak k .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .15 15 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) . <8 8 .4 Toksisitas(xc) .16 16-30 >30 .P2O5 .Lereng (%) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .55 > 55 .Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 .sr td td .Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) . ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 .0-5.N-Total st. s r . 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Penggunaan Lahan k.4 td td ≤ 0. ah = agak halus.

Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.sr td td .Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Penggunaan Lahan l.35 35 .0 5.15 15 . c Media perakaran (r) .3 / > 6.Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . sr = sangat rendah.0-6. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 . t = tinggi. ah s ak k . s = sedang.Curah Hujan (mm) .3-6.K2O st t-s r sr . <8 8 .55 > 55 . ah = agak halus. t. h = halus.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.0-5.25 >25 st = sangat tinggi.P2O5 .C-organik > 0.5 < 5. ak = agak kasar.8 Toksisitas(xc) .st r-s sr td .3 / 6.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .Loreng (%) .Bahan.Batuan di permukaan(%) <5 5 .40 >40 .pH H20 t .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .N-Total st. td = tidak ada data.8 ≤ 0.5 . s r .0 Sodositas (xn) .Drainase b s at t. k = kasar.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .15 15 .Tekstur h. kasar (%) < 15 15 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 . r = rendah.

5 / >8.16 r-s td 5 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . td = tidak ada data.15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 . t = tinggi.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Bahan. kasar (%) .4 5-8 Oct-09 8 .5/7.K2O .Singkapan batuan (%) t . ab h.Kejenuhan Basa (%) .4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .st st. 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t ak 35 .0 st.5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .0-5. s st > 0.25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. s < 15 > 75 > 16 > 50 5. c k > 55 < 25 - .Batuan di permukaan (%) .C-organik Toksisitas(xc) .Tekstur .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s. k = kasar. h = halus. t. ak = agak kasar.N-Total .40 15 .sr t-s ≤ 0.5-7. s = sedang.KTK liat (cmol) .55 25-50 < 35 <5.15 5 . r = rendah.CH harian (mm) . sr = sangat rendah.P2O5 .Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan m. ah = agak halus. Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .35 50-75 ≤16 35-50 5.0-8. .pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b.Loreng (%) .Drainase Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

0-7.N-Total .8-6. 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2 2-3 20-35 8-16 r.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.Penggunaan Lahan c. kasar (%) .0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5. at h.Tekstur .C-organik Toksisitas(xc) .8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5.Drainase Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s = sedang.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Batuan di permukaan(%) . t = tinggi.Lereng (%) .0/7.8-1.Kejenuhan Basa (%) . td = tidak ada data.Bahan.15 5 . sr = sangat rendah.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0. ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) . .K2O .Singkapan batuan (%) r r r > 1. s 5 . c k > 55 < 20 td td td .40 15 .8 3-5 35-50 16-30 b td 15 .8-8.8 / > 8. r = rendah.15 td td td < 0. ak = agak kasar.P2O5 . Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .0 td st. k = kasar. h = halus.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . ah = agak halus.

) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s r sr td .0 td st.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . t.N-Total st. t.8-8.40 >40 . td = tidak ada data.C-organik > 1.25 >25 st = sangat tinggi.pH H20 6. Bawang Putih (Allium sativum L. <8 8 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 .8 Toksisitas(xc) . s.2 0.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang.0 < 5. t = tinggi.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .8-6. k = kasar.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Singkapan batuan (%) <5 5 . t s r sr . ak = agak kasar.Drainase b.8 / > 8.15 15 .0-7.Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) .Bahaya erosi sr r.Lereng (%) . r = rendah.K2O st.0 / 7.2 < 0.Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) . ah = agak halus. c Media perakaran (r) . at s t st. r sr td td .8 5. s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan d. s h ak k .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) .15 15 .8 .Bahan.Tekstur ah.P2O5 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .1.16 16-30 >30 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) . h = halus. sr = sangat rendah.

s st.15 5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data.Singkapan batuan (%) st.0 15-20 8 .0 / 7.8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0.5-1.40 15 .16 r.K2O .Kejenuhan Basa (%) .6 td td s h.0-2.N-Total . s st. at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6.0 td td st. t. 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan . c k > 60 < 30 td td td . t > 0.Bahan. t.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5. ak = agak kasar. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5. sr = sangat rendah.KTK liat (cmol) .5-6.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b.0-7. t = tinggi.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .C-organik Toksisitas(xc) . .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s 5 . k = kasar.0 20-25 16-30 b f1 15 .25 td td sr td > 2.6-8.8 0. Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Lereng (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Drainase Media perakaran (r) .15 sr sr r td 1.5 / > 8.P2O5 .Batuan di permukaan(%) .Penggunaan Lahan e. h = halus.0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Tekstur . r = rendah. s = sedang. ah = agak halus.Curah Hujan (mm) . kasar (%) .

Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) .Tekstur ah h.Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 . s r .25 >25 st = sangat tinggi.6 5.P2O5 .55 > 55 .5-6.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) . r = rendah.sr td td .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.0 .0 / 7.N-Total st.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .K2O st t-s r sr .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 .6-8.Penggunaan Lahan f.Lereng (%) . k = kasar.st r-s sr td . t = tinggi.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . at s t st.Bahan. <8 8 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . c Media perakaran (r) .0 < 5.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) . sr = sangat rendah. Paprika (Capsicum sp.Drainase b. s = sedang. h = halus. ak = agak kasar.16 16-30 >30 .8 ≤ 0.pH H20 t .0-7. ah = agak halus.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s ak k . t.Batuan di permukaan(%) <5 5 . td = tidak ada data. kasar (%) < 15 15 .5 / > 8. Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 .15 15 .40 >40 .35 35 .C-organik > 0.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .8 td td Toksisitas(xc) .Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .

Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Batuan di permukaan(%) . td = tidak ada data.sr t-s ≤ 0.pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b.C-organik Toksisitas(xc) . 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .75 ≤ 16 35-50 5. sr = sangat rendah. t. Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0 st.0 t ak 35 .Curah Hujan (mm) . ak = agak kasar.55 25 .8-6.8 s h.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .st st.25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.15 5 .Bahan.0 / 7.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . k = kasar.P2O5 . s st > 0. h = halus.KTK liat (cmol) .Tekstur .35 50 .8 < 4. t = tinggi. s = sedang.40 15 .Penggunaan Lahan g.Singkapan batuan (%) t .8-8.Drainase Media perakaran (r) .16 r-s 5 .N-Total .5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .8 4. at s < 15 > 75 > 16 > 500 6. kasar (%) . ah 15 .5-7 15-20 8 .50 <35 < 5.15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 .K2O . ah = agak halus.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . c k > 55 < 25 - .Kejenuhan Basa (%) .8 / > 8.Loreng (%) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . .0-7. r = rendah.

Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.8 4. k = kasar.Tekstur s .Penggunaan Lahan h.pH H20 t .N-Total st.16 r-s 5 .0 td < 50 st.0-7. <8 .C-organik > 0. h = halus.Curah Hujan (mm) 350-800 .st . td = tidak ada data. s = sedang. c k > 55 < 25 - r-s r .K2O st .Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) . kasar (%) < 15 .15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 .8-6.Drainase b.8 / > 8.Kejenuhan Basa (%) > 50 6. s .P2O5 . t.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .sr t-s ≤ 0. r = rendah.8 Toksisitas(xc) .25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 . at Media perakaran (r) .Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .8-8.5 Sodositas (xn) .0 / 7.Batuan di permukaan(%) <5 .40 15 .Salinitas (dS/m) < 4.0 td 50-60 / > 95 t ak 35 .15 5 .35 50-75 ≤16 35-50 5.Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h.5-7 td 8 .8 . sr = sangat rendah.Loreng (%) .Bahan.KTK liat (cmol) > 16 . ah 15 . ah = agak halus.55 25-50 < 35 < 5.

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 .Singkapan batuan (%) sr td r < 0.8 4.15 < 20 / > 90 t h 35 .5-4.55 25-40 < 20 < 5. s = sedang. k = kasar. kasar (%) .Batuan di permukaan(%) . ak = agak kasar.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b.8-1.2 1.) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .K2O .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5 20-35 8 .st st.16 r-s 5 . t = tinggi.Tekstur .40 15 .P2O5 .0-7. h = halus.Drainase Media perakaran (r) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .KTK liat (cmol) . at ak.7 / > 7.7-6. sr = sangat rendah.6 st.2 < 1.15 5 .CH harian (mm) . td = tidak ada data. . c k > 55 < 25 - 6.6 .0 / 7.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 .Bahan.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . r = rendah.sr t-s 0. ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .Kejenuhan Basa (%) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . s st > 1.C-organik Toksisitas(xc) .0-7.35 40-60 ≤16 20-35 r-s r . ah = agak halus.0 5.Loreng (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. Sawi (Brassica rugosa F.Penggunaan Lahan l.5-7 35-50 16-30 b 15 .N-Total .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .

35 35 .Bahan.Salinitas (dS/m) < 1.5-7 Sodositas (xn) .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) . h = halus.Tekstur ak.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .N-Total st. <8 8 .8 Toksisitas(xc) .0 5.pH H20 t .Batuan di permukaan(%) <5 5 . ah = agak halus. ah s h . sr = sangat rendah. s = sedang.15 15 .P2O5 .6 < 5. at s t Media perakaran (r) . td = tidak ada data.Loreng (%) .55 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.0 / 7.st r-s sr .5 4.5 1.Penggunaan Lahan m.Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 .8-1.5-4. k = kasar.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .0-7.Singkapan batuan (%) <5 5 .K2O st t-s r .25 st = sangat tinggi.7-6. r = rendah. c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .C-organik > 1.sr td . t. t = tinggi.40 .Curah Hujan (mm) . N <4 / >35 <150/>1000 st.Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .6 .2 < 0. kasar (%) < 15 15 .2 0.0-7.15 15 .7 / > 7.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . s r .Drainase b. Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .16 16-30 .

Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .st .5-6.sr t-s 0.0 td <20 / >90 t ak 35 .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .N-Total st.15 sr td r < 0.Curah Hujan (mm) 400-700 .P2O5 .Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .55 25-50 < 20 <5.KTK liat (cmol) > 16 .35 50-75 ≤16 20-35 5. at Media perakaran (r) . Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 .2 Toksisitas(xc) . <8 .Drainase b.5 t . t.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) . sr = sangat rendah.Loreng (%) .Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) .40 15 .Kejenuhan Basa (%) < 35 .Batuan di permukaan(%) <5 .16 r-s td 5 .2 5-8 15-25 8 .8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .Bahan.25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .5 / >8. r = rendah. ak = agak kasar. s .K2O st . t = tinggi.pH H20 6.0 td st.8-1.Tekstur ah. s . s = sedang. c k > 55 < 25 - r-s r . k = kasar. ah = agak halus.0/7.Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) . h = halus.15 5 .C-organik > 1.5-8.Penggunaan Lahan n.0-7. kasar (%) < 15 .Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) . td = tidak ada data.

114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .P2O5 . s = sedang.15 15 .C-organik > 1.0 < 5.Singkapan batuan (%) <5 5 .16 16-30 >30 .t.pH H20 td st.6/7.0 .2 / > 8.N-Total st.Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) .2-5. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .0-8.Tekstur ah. ah = agak halus.8 Toksisitas(xc) .Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5. ak = agak kasar. s b sb Bahaya banjir (f) . s r sr td . sr = sangat rendah. s ak h k .s r sr .2 < 0.0 5.Bulan kering (bln) td td td td .Penggunaan Lahan o. at s t st.25 >25 st = sangat tinggi.Lereng (%) . s r sr .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) .Bahan.Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 . td = tidak ada data.6-7.Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) .40 >40 . t = tinggi.Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .15 15 . sc Media perakaran (r) .2 0.K2O st t. t.Drainase b. h = halus.Bahaya erosi sr r.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .8-1. <8 8 . r = rendah. k = kasar.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) . kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 .

Bahan.Kejenuhan Basa (%) . h = halus.N-Total .Drainase Media perakaran (r) . Lobak (Raphanus astuvus L.0-7.K2O .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.7-6.) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . .0-7. ak = agak kasar.P2O5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 . c k > 55 < 20 td td td 6.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .5-4.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0/7.Penggunaan Lahan p.6 td td st.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.Singkapan batuan (%) td td td < 0.KTK liat (cmol) .Curah Hujan (mm) .5 20-35 8-16 r.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . at ak. k = kasar. kasar (%) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .2 1. ah = agak halus.8 4. td = tidak ada data. s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5.Tekstur .C-organik Toksisitas(xc) .6 .7 / > 7.2 < 1.0 5.Batuan di permukaan(%) . t = tinggi. ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1.pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b.8-1.Lereng (%) . s = sedang. r = rendah.

). J. Chichester. and Ofori.). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. R. Costanza. 1991. Suharta. (ed. Anonymous. D. Depar-temen Pertanian. Ottawa. Pushparajah E. 46. 1998.. Goodland. (eds. S.Referensi REFERENSI Alexandratos. and Dumanski. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. Marwan H. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian.18. 1999. An FAO study. H. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. VIII + 55h. The Organizing Committee. 205-225. R. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. N. 85 p. Terminal report UNDP – FAO. 17-18 Februari 1998.). Environment Working Paper No. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah. 2: Plenary Papers. Versi 3. Dumanski. World Bank. Eswaran.. UK. 1984. 1991. Vol. 2000. S. Agricultural Institute of Canada. H. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. Agricultural Institute of Canada. _____. H. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 . 1994. 1: Workshop Summary. Bachri. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. 1995. and El Serafy. Djaenudin. FAO. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. Subagjo. Washington D. 1994. pp. World Agriculture: towards 2010. Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian.C. R. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. International Workshop on Sustainable Land Management. C. (eds. Rome.C. International Workshop on Sustainable Land Management. and John Wiley. Nomor 1. Anny Mulyani. Djaenudin. In: Environmentally Sustainable Economic Development. Rome. Ottawa. J. Vol.. dan D. Building on Bruntland. Daly. Vol. Wood. dan N. The Organizing Committee.

(eds. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. Subagjo. Young (eds. 1993b. Lima. FAO. IRLI Publ. 237 p. June. 1993a. Harijogjo. Rome. 1991. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. A. Brinkman and A. Rome. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. Jurusan Tanah. dan S. S. 1977. Lyman. Soil Resilience and Sustainable Land Use. The Netherlands. _____. A framework for land evaluation. Forestry Paper 48. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems.Referensi FAO. Soils Bulletin 52. Fakultas Pertanian. Wageningen. World Bank. Also. 1984. J. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. (R. viii + 87 h. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. 1983. 1976. H. _____. P. Rome. 1976. 72 p.J.J. Rome. 123 p. D. The sufficiency concept in land evaluation. Widiatmaka dan A. paper given at Cali LQI workshop. J. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Washington. Karama. FAO. 1994.). CAB International. 1988. (eds. _____. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach.I. Development Series 1. CIP. Peru. Jones P. Rome. IPB. _____. and Herdt. 1996. Soil Resources Development and Conservation Services. A framework for land evaluation. FAO.. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. Yogaswara. FAO Soils Bulletin 32. D. UK. FAO.). Melitz. ILRI. Djaenudin. Rome. Wageningen. Rome. and Szabolcs. L. 96 p.J. M. 22. Guidelines for land-use planning. 1994. No. Land and Water Development Division. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. Harrington.)).. Soils Bulletin 32. FAO. _____. Land evaluation for forestry. 1999. Hardjowigeno. 129-140. R. 1994. A framework for land evaluation. I.74 p Greenland. World Soil Resources Report 73. and Dumanski. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. FAO. Soils Bulletin 58. Unpub. Wallingford. 150 p. S. Smyth. Yogyakarta. D. _____. and Winograd. _____. 1986. Publication 22.C.

Centre for Agricultural Publishing and Documentation.T. D. and Dumanski. O'Connor. J. & S. Bie (eds.R. Rossiter. 1994a. 2nd revised ed. System 1 (1) : 13-31.). 1992. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. 22-23 Sept. Oldeman.C. Puslittan. G. 1991. R. J. A. 1994. Geogr. 1978. T. J. Methodology for Soil Resource Inventories. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. & J. A. Nining Wahyuningsih. 1995.G. Washington D. Dumanski. FAO. G.. Buenos Aires. S. D. Pieri. 1994. Star. Lecture Notes: Land Evaluation.E Estes. and ISRIC. 18-26 Jan.L. Dept. A. Hakkeling. 74 p. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). Nairobi.C. Wageningen. Global extent of soil degradation. Environmental performance monitoring indicators. World Soil Resources Report 73. J. W. In: Bi-annual Report 1991-1992. A User-Oriented Workshop. C. A. 1994. Smyth.W. The Netherlands.. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD).R. UNEP. J. World Bank. Land Quality Indicators. 19-36. Wageningen. of Soil. 1987. Wageningen. World Bank. Oldeman. Inform.. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. ISRIC. and Sombroek. World Bank Discussion Paper 315. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. Cornell University. 1994b. pp.W. R. Towards Environmentally Sustainable Development. Rome. Uses of soil information system. 1993. Int.C. J. Survei Sumberdaya Lahan Smith. L.Referensi Moore. 2003. Sitorus RPJ. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management. Menon.A. 3 map sheets and explanatory note. 103 h.J.. and Young. 1977. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . & Atmospheric Sciences.. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. 2000..C. Rossiter.L. The Netherlands. College of Agriculture & Life Sciences. Hamblin. Washington D. 63 p. Crop. Measuring Progress.

Valenzuela. Macmillan of Australia.A. Stewart (eds. Alih Fungsi Lahan Pertanian. H 1-10. Bogor. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.Referensi Soepraptohardjo. 8.).M. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. UNCED. 1988. Technical Monograph No.A. Washington. Jakarta. Soil Buletin No. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development. Meijerink. 294 p. & G. ILWIS. Stewart. 1998. 1964. G. Ssouth Melbourne. Subagyo. United Nations.R. ITC publ. Nigeria. Handbook of soil evaluation. 69h. Widjaja Adhi. Enschede. Velenzuela. Soni Harsono. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. & A. Robinson (eds. Dalam: G. M. CSIRO Symposium.G. Stewart (ed. J. ILWIS.E. Student Stors. 1993. Soil Survey Interpretation and its use. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2.).H. Harian Kompas 15 Oktober 1995.). 1995. New York. C. Land Evaluation. Ibadan. 1967. FAO. Dalam: A. h 4-14. Rome. 12-30. Storie. R. Overview. Soil Research Institute. No. Constraints and Opportunities. UC Berkeley. 1993. Iii + 31 h.J. Deptan.R. & FAO. Assoc. Sombroek. 1975.G. C. Steele. IITA. 1 Soil Management Support Services. Balitbang.C h 7-14. 1968. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan .. constraints and future needs. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. D. W. xviii + 225 h. 7. Land Evaluation. H dan IPG. pp.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful