SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. unit lahan. survei sumberdaya lahan. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. sehingga menjadi suatu buku. Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. parameter penafsir lahan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. yang semula berupa catatan-catatan kuliah. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan.

kegunaan klasifikasi lahan. maka saran-saran. kimia lahan serta geomorfologi lahan. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. V. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. Bab III. prosedur klasifikasi. kacang-kacangan.fisik. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. IV. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. Surabaya. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. kesesuaian lahan.

4.3. 3.8.1.2.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.4.8. 2. Penggunaan Lahan 1. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.2.1. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2.3 Kondisi Drainase 2.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.4.1 Bentuk Lahan 2.5 Tanah 2.4.2.4.4.6.4. 3. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan . Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.4 Kondisi Permukaan lahan 2. 3. 2. 2.8.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2. 2. 2.4.4.5.7.3.1 Aspek Tanaman 2.1. 2.

4. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan . Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5. 8. Penilaian Kesuburan Tanah 6. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4.2.2.1.2. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5.3. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7.4.1. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6. 8. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8.1.3. 4.2.1. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5. 4.2.1. 4.3. 8.

5.1. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan. 2.5.4. 2.8. 5.5.2.7. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .8.4. 2. 2. 5.11. 5. 5.6.1. 2. 5. 5. 2.9. 2.2.10. 2.3.3.6.7 5.Daftar Tabel 2. 2. 2.

4. 7. 5.1.5.10. 6. 7. 7.3.9. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.2.5. 7. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan .1. 7.

Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii .2. 3. 3.1.Daftar Gambar 1. 2.1.1.1. 4. 7.1.1. 5.

2001). Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 . daerah pemukiman. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. 1986). Akibatnya. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. Dengan demikian. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. daerah industri. relief. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. jalan untuk transportasi.Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. tanah. seperti untuk pertanian. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Di lain pihak.

tanah. hewan dan kependudukan.1995). Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya.Sumberdaya Lahan 1. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. lokasi industri.2. iklim. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. 1. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. tumbuhtumbuhan. 2001). 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. lereng permukaan tanah. Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi. air. keadaan politik. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). keadaan pasar dan transportasi. penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. Untuk aktivitas pertanian. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink.1. (Wahyunto et al. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda.. keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan. Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. 1975).

Sebagai contoh. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. ekonomi. Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Kedua. Menurut McNeill et al. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 .Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. Akibatnya. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. Pertama. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun.. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. Ketiga. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. demografi dan budaya. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan.

1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi.46%. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya.65% pada tahun 1990. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. pencemaran. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Penelitian terhadap struktur ekonomi.05% dan meningkat menjadi 14. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah. iklim mikro. penduduk. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13.

Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum. Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 .

Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. hasil penelitian terdahulu. Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. erosi dsb). Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. tipe batuan. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru.

1. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari. 2. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2.2. baik foto maupun citra satelit. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. perangkat pengelola data. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. Batasan Unit Lahan. Pertanyaan selanjutnya adalah. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan. perangkat penafsiran foto udara.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi.

Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan. Dengan demikian. 2. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut.3.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan.

Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T. Tabel 2.1. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. sungai dsb. misalnya desa.1. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000. Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000. jalan.16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan.

Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . 4. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. 2. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar. Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng.4. Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit).

Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. Aspek Tanaman 5. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes.1. lereng tengah atau lereng bawah. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik. biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Pada perisalahan hutan. Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). 2. lereng atas. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. 1977) dan Kucera (1988). 4.4. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit. Pada skala detil misalnya. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum.

2. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. Kemiringan dan Arah Lereng. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 . Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Tabel 2. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi.4.2. Jadi informasi ini sangat dibutuhkan. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan.

3.4. karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan. Dalam buku ini. kondisi drainase. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . Kondisi Drainase. akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda.15% =2 15 . misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . misalnya. Tabel 2. jenis tanaman dan kedalaman tanah. Biasanya pada topografi yang berbeda. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng.3.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi.25 % = 3 25% . klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. Klasifikasi Kelas Kelerengan.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat.100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 .Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil.

Tabel 2. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. karena kapur dapat meloloskan air. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. Kondisi drainase jelek. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. misalnya.4. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. maka kondisi drainasenya makin buruk.

Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama. informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. terdapat bercak-bercak pada horizon B. Air mudah hilang. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi.4. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen. hal ini adalah erosi dan pengikisan. tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. Disamping itu. 2. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap.4. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. Bagi pengelola hutan. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. Air cepat hilang dari tanah. solum tanah bebas dari bercak.

Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya.10 10 . vegetasinya. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut.80 Prosentase Singkapan 0 1 .Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu. Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia.20 20 . Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail.40 40 . Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar.10 10 .80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2.40 40 . Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia.60 60 . Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 .4. lahan mempunyai jenis tanah Entisol. iklim. maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk.5. Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri.5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 . Dengan demikian apabila suatu. Tabel 2.60 60 . Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah.20 20 .

akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut. misalnya.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur.6. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit.4. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit. Tabel 2. Kode Great Group Tanah. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan . No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2.6.

Pada prakteknya. yaitu batuan beku. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. tekanan. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. misalnya penterasan. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. dapat digunakan Peta Geologi. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata.

Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah. Tabel 2. Pada satu unit lahan. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Pada tanah yang dangkal.4. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan .7. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah.7. kedalaman tanah mempunyai pola umum.

8. Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. kemiringan lereng. silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi.60 cm 60 . drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . Seperti haInya kondisi permukaan. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis. Tabel 2. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah.15 cm 15 .30 cm 30 . Akibat lebih jauh. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah.90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. misaInya drainase. debu dan lempung/ Sand. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. maka pembentukan tanahnya lambat. kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 .5. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. tipe batuan dan bentuk lahan. kondisi drainase.

6. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan.9. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan. Tabel 2. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut.

Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. Magnesium (Mg). klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman. Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. beberapa penyusun protein. Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). koensim. asam nukleat dan substrat metabolisme. Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Ca merupakan komponen dinding sel. translokasi karbohidrat. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). sintesa protein dan lain-lain.1 satuan. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . Kalsium (Ca).

00 2.25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .0. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.1 0. Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.4 .75 16 .4 .00 0.1 . Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.7.0.01 -3.20 21 .0 1.70 31 -60 A. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu. alkalis 7.Masam Netral < 4.5 > 1.01-5. 00 1.6 .50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .5-5.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 .5 6.8.60 > 60 41 .7 Mg (me/ 100 g) < 0. Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah. Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak. Parameter ini sangat dinamis.1. Tabel 2.35 > 35 46 .4 0.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .75 > 0. Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK.0 2.20 51 .5 Na (me/100 g) < 0.Masam Masam A.45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .6-7.1 .24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0. Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2 0.0 > 8.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 .51-0.00-2.10.0 11 .60 > 60 25 .10-0.5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.2.0.40 21 .8 .1.0 0.6-8.60 > 60 26 .6-6.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.25 26 .5 5.25 > 25 41 .0 > 1.3 0.1997). Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan.3 .10 0.1.5 4.21-0.00 N (%) < 0.1 .1 0.40 > 40 Tinggi 0.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.0.20 0.5 2.00 > 5.1 .

walaupun ada. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan. Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar. tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan.8. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. Sifat Geomorfologi 2. ringan.1. jurang (gully erosion). Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. sedang dan berat. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. Sedangkan erosi angin.11. yaitu diabaikan.8. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion). akibat adanya pengolahan tanah. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion). erosi parit (rill erosion). Dalam kaitannya dengan aspek tanaman.

Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim. lahan dan iklim. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan .8. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. 2. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. karena terbatasnya stasiun meteorologi. jumlah bulan basah. kemiringan lereng dan arah lereng. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. dalam hal ini curah hujan. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan.2. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. hujan antar petak juga. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan. Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. Fenomena perbedaan pola. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. Informasi hujan yang diperlukan dalam.

Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. Gambar 2. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei. maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ). tetapi data curah hujan biasanya tersedia. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 .1.Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. tergantung pada dasar penentuannya. bulan lembab antara 100 . Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun. Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). Khusus tentang penakar hujan. Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan.200 mm sebulan. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm.

A2 + P3.Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1. 2.3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.3 = Tinggi hujan di stasiun 1. 3 A1.A1 + P2.2. 2 3 (Faktor Pembobot).2.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama. dari kelayakan usaha yang akan 3. Lahan. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. 2. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). 2. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai.1. Ekonomis diperoleh diterapkan. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil.Klasifikasi Lahan 3.

Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. 3. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. meliputi aspek sosial. 3. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas.2. politik dan administrasif. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. ekonomi. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan.Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan.4.3. (b) Alami. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda.

Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan.Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. (bid. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. 2. Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. mengembangkan. Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural). 6. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1. Klasifikasi satu faktor. . Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. 4. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. 3. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda.

2. Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3. dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. (pendekatan dari bawah ke atas). Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih. Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3. Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah).1. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah.

politik. sosial.2.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3. Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham.

Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. perkebunan. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. hutan produksi dsb). Jadi. Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . yaitu: Klas.1.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. 1990). Sub Klas dan Unit. Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb.

Contoh Sub kelas Vie. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). 2. 3. VIe2 dsb. Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang.Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. karakteristik tanah (s). kebasahan (w). 4. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e).ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi). Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian. 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1. 0 kelas I . iklim (c) dan gradien (g). karena telah dibuat teras bangku datar. mempunyai hasil potensial yang hampir sama.

tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. irigasi. misalnya GWT turun. 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. (Kelas. Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. kesuburan meningkat. 3. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. 4. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan.

batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Gerakan massa tanah/longor . Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan . Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. mineral liat .Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya.Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. Jaringan drainase yang luas. jarak.Banjir . dan pengendalian banjir 7. padas. Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) .2. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. fasilitas. penahanan air. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd. Keragaan (performance) lahan.kebasahan berlebih setelah drainase .Letusan gunung api . karakteristik tanah. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi. tekstur. 4. irigasi. Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al. alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng.

: Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi.Iklim < menguntungkan (ringan). maka perlu upaya konservasi khusus. . . lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 .Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang. sedang tehadap erosi alur. sedang (60-90 cm) .Setelah drainase. untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb.Rentan terhadap Pengendapan. erosi tebing sungai .Kerentanan.Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya.Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah. lapis dan jurang) . kebasahan ringan (Horison B bercak) . struktur) ringan . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas.Karakteristik tanah (tekstur.Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur.Jeluk. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan .

Klasifikasi Kemampuan Lahan . sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan. .Karakteristik tanah yang tak menguntungkan. .Sifat rentan terhadap erosi lapis.Kondisi iklim yang tak menguntungkan. .Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun.Setelah drainase. . kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). . sangat < menguntungkan. sehingga perlu konservasi intensif.Karakteristik fisik tanah.Setelah drainase. 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kerentanan terhadap deposisi.Jeluk. : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Setelah drainase. dangkal (30-60 cm) . alur dan longsor. berat.) KPL IV : Punya pembatas fisik berat.Kesuburan alami rendah .Jeluk.Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. bulan kering 5 bulan Berturut. berat . CH > 200/bulan. kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A).Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan). berat . Berturut. CH > 200/bulan. sedang . . Iklim < menguntungkan (ringan). sangat dangkal (15-30 cm) . erosi tebing sedang . erosi tebing sungai. kebasahan dan kebecekan. bulan kering 5 bulan.Rentan pengendapan.

Klasifikasi Kemampuan Lahan . (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan. .Jeluk. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase.Kesuburan alami rendah .) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. dangkal (< 15 cm). Jeluk.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. dangkal (10-15 cm). rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . dangkal < 10 cm Kesuburan alami.) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk. terdapat banyak batu . pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun.

Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan. pada rumput. dan hutan. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. Sesuai untuk perlindungan DAS. Hanya konservasi DAS 4. 4. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. padang rumput atau hutan.3. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. agroforestry. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry.4. atau hutan. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. CH < 100 mm/bulan. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan . sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. dan hutan. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. pada rumput dan hutan.

Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil. tekstur dll) Iklim. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 . sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. struktur.Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan. Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi. tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3.6). kedalaman tanah (Tabel 2. Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3. Tanah.9). Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 .3). 1b.4). Gunakan Tabel 3.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2.6). Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3. Ikliim. 1c.2) dan tingkat banjir (Tabel 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. Gunakan Tabel 3. dan Gradien 1a. Gunakan Tabel 3.

ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s . dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c .lanjutkan ke LANGKAH 3. kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . iklim. 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras. Gunakan Tabel 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan.lanjutkan ke LANGKAH 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d.lanjutkan ke LANGKAH 3. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g . tanah.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2.lanjutkan ke LANGKAH 3. LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a.

lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa. Entisol.lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol. I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Inceptisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 .1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .

Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras .lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) .lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I.lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan . atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . VII. sedang. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump.1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar . atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan . VI. Flow. atau Tanah longsor adalah ringan.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V.Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3. Fall. II.

Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 . Gambar 4.1.Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e.

sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). e.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). tanaman keras. Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). g dan sd) atau sebaliknya. w (drainase). yaitu e (erosi).Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. a (keasaman). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan. Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. Oleh karena. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. 1994) dan metode Webb (1984). Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. sesuai (S2). Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. yaitu : sangat sesuai (S I). Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . s (tanah). g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim). w.

Intensitas tenaga kerja 5. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. pabrik. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan.bibit. Sumber tenaga. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. 5. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . hewan atau mesin 6. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. 7. Intensitas modal 4. tanah. Kebutuhan Infra Struktur.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. Tingkat Teknologi yang Tersedia. pasar. konsultan dll. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. pupuk. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain.1. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. ketrampilan dll. 8. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu. alat & mesin. manusia. Pasar (market oriented). 3. Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. 2. hidrologi dan vegetasi. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. tk pendidikan.

10. kelompok dll. CH. perseorangan. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan. dilakukan sekali. lokasi terpisah atau menyatu. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. dll. Jaringan irigasi. Tingkat Pendapatan. Contoh Kebutuhan oksigen dll. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. Sistem Pemilikan Lahan. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. ? Luas lahan per petani. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. 11. Pemupukan. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. Ketersediaan air. penambahan BO dll. slope. ketahanan erosi. Luas dan Pemilikan Lahan. 2. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. per luas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . perkapita. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. per produksi. reklamasi tanah dll. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. 1. kapasitas menahan air. tekstur.

atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. Ordo 2.Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. 5. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pembuatan saluran drainase dll. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. 2. Terdapat dua order yaitu: 1. lereng) teknis tidak b. Ekonomis. Terdapat empat kategori. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. Pertimbangan yang dipakai: a.2. Pemberantasan gulma. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. yaitu: 1. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya.

b.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. Misl. Kekurangan air. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. bahaya erosi dll. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. b. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. mk dapat dipakai bersama sama. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. c. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. d. yaitu: a. e. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. dan menambah input. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. pembatas berpengaruh pada output. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum.

pendekatan yang digunakan . S3n-3 dll. S3t N2t.macam penggunaan yang direncanakan . misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. menjabarkan tujuan evaluasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas. Tabel 5. S2w S2e-1. Konsultasi awal. S2n-1.luas dan batas daerah yang dievaluasi . Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x. N1n - 5.Apa tujuan evaluasi . . Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas. N2w S3n-1. S3n-1. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan. data yang tersedia sebagai dasar evaluasi.1. S2e-2 N1e. S2n-2. S3n-2.3. S3n-2 dll Unit S2e. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan .data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi .

dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi. evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3.intensitas dan skala penelitian . persyaratan dan pembatasnya. menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. . Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5. penggunaan saat ini dll. Satuan lahan dan kualitas lahan. 4.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas). Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi. Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan. Penutup. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. Klasifikasi kesesuaian lahan c. produksi. (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama.

rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S.2. data. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 .sdg.1. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S.Masam & Alkalis Tabel 5.3.hls Sdg-rdh T. asumsi. Ada Masam-A.25 25-50 > 50 pH Ksr. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar. Ada Netral-A.4.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5.Masam T.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Alkalis Ada S.

Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.8. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th.7. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5.sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.6. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar .5.

en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .9.10. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.

Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. pH (H2O) rasio 1:1 c. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. Mg. serta tempat penyedia air.Klasifikasi Kesuburan 6. gudang dan penyuplai unsur hara. Kadar Ca. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. 1982 dan Sanchez and Boul. 3. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al.1. 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Tekstur tanah b. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 . 4. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah.

pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. bila pH (H2O) 1:1 < 5. Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah.1. 1983) Tabel 6. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5. Fe2O3 bebas. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO. bila kadar liat > 35% c. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org).0 b. Kadar Al terekstrak 1 N KCl. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain .Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a.

Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . kadar liat > 35 % : Organik. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat.2. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung.

xerik. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. dicirikan pH > 7. : Kering.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0. dicirikan Kdd < 0. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam. aridik. tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. : KTK rendah. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah.15 : Alofan dominan.

Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe. dicirikan pH (H2O) < 3. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 .5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng.Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. subtipedan modifier scr berurutan. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil.

1. Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata. BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. ALAM W.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih .Ngarai .Taman Laut .Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket. BUDAYA W.Evaluasi Lahan Non Pertanian 7. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7. Tabel 7. PARIWISATA (OBYEK) W.1.Tofografi Unik . Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain. ILMU W. AGRO W.Api Abadi .1. 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 . Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama .Kawah Gunung Api .

Keperluan Sehari-hari .Sun Shine Suhu udara Cuaca .Untuk Berobat .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Salju abadi .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Keuangan .Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Sinar Matahari .Sun set .Transportasi .Komunikasi .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Penginapan . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .Hiburan Malam .Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Keamanan .2.Angin Tabel 7.

Baik & a.01 .2. org < 50 cm > 20 % >3% > 0.baik. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7.l. s.1 % S. sil > 100 cm 0% 2–6% cl. ls 50 – 100 cm < 20 % 0.Lambat. c = liat. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials). scl = lemp. s = pasir.sepat.3 % 0. sicl = lemp.7 mm  Pasir : 4.berpasir halus. sic. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt. sic = liat berdebu. vfsl = lemp.berpasir.Buruk GW A.berdebu.3. fsl = lemp. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A. Buruk > 50 cm S.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 . ls = pasir berlemp.liat berdebu. Baik & A. l = lempung. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm.2.Lambat >6% sc.1 % Batu (25 mm .Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7.Buruk. 7.2. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. plastisitas. Sc = liat berpasir. sdg A.liat.liat berpasir.1. BC dan BO 7. fsl. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA. sicl.Buruk.berpasir sangat halus. scl.7 mm – 0.0 – 4. cl =lemp. c.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp.Cepat. vfsl.01 – 0. sil = lemp.2.074 mm  Debu : < 0.lambat 0-2% sl.

SW. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. OH.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7.09) Tabel 7. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. SP. GP. SC OL. GC.03Rendah (< 0.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. OH. (USDA.03) Tinggi (> 0. GM. CL dng PI < 15 CH. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.5. SM. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan .4.09) CL dng PI > 15. MH.09) 0.09) Tinggi (> 0.03-0.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL. GW. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0.03) Sedang (0.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

ah = agak halus. td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t.KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .8-5.Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) . Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . t.K2O st. s r sr td .Singkapan batuan (%) <5 5 .1.8 Toksisitas(xc) .2 4.8 .2-7. k = kasar.Drainase b.15 15 .Bahan.6 < 4.25 >25 st = sangat tinggi.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . data. h = halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 . sr = sangat rendah.16 16-30 >30 .40 >40 .Lereng (%) .8 / > 7.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .2 0. at s t st Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .6 td st.P2O5 .Penggunaan Lahan d.2 < 0. s r sr td .2-7.Tekstur s.pH H20 5. r = rendah.N-Total st. t s r sr . ah h ak k .Bahaya erosi sr r.15 15 . s = sedang.2 / 7.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . <8 8 . s b sb Bahaya banjir (f) .C-organik > 1.Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . ak = agak kasar. t = tinggi.

C-organik > 1.2/8.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .K2O st. r = rendah.75 Retensi hara (n) .16 16-30 .8 / >8. ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 . Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .1.35 < 20 .Tekstur h. h = halus.pH H20 5.P2O5 st t-s r . ah = agak halus.Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .8 .55 .Penggunaan Lahan e.4 <4.35 35 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .2 4.8 Toksisitas(xc) .2 0. t.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) .75 25 .Singkapan batuan (%) <5 5 .2-8.25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. sr = sangat rendah.4 . ah s ak .Bahan.40 .Lereng (%) . t = tinggi.15 15 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . k = kasar.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Drainase b s t Media perakaran (r) .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) . data.8-5.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) . s r . s = sedang.st r-s sr .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .N-Total t .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) . kasar (%) < 15 15 . <8 8 .2-8.2 < 0.sr td .

Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) .16 16-30 >30 . kasar (%) < 15 15 .55 > 55 .8 t . k = kasar.Loreng (%) .15 15 . s r . ah = agak halus.P2O5 . td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2 < 0.35 35 .1.25 >25 st = sangat tinggi. ak = agak kasar.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Batuan di permukaan (%) <5 5 .8 Toksisitas(xc) . h = halus. sr = sangat rendah.75 20 – 24 / 75 .8 < 5. at st Media perakaran (r) . s = sedang.2 / > 6.5 .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 .Tekstur ak.Drainase b.6.Singkapan batuan (%) <5 5 .Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) . t.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .75 25 . r = rendah. ab s t.sr td td .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .15 15 .Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) .8 .N-Total st. data.5 / 6 2 .K2O st t-s r sr .pH H20 5.75 < 25 Retensi hara (n) .Bahan. <8 8 . t = tinggi.Penggunaan Lahan f.5.2 0. s ah h k .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .2 .2 5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .40 >40 .C-organik > 1.6.35 < 20 .st r-s sr td .

h = halus.6. data.90 < 20 / > 90 b.75 < 20 < 5. ak = agak kasar.2-5.pH H20 .KTK liat (cmol) .40 15 .15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. t. r = rendah.Loreng (%) .Bahan. kasar (%) .75 20 – 24 / 75 .2 0.N-Total .2 / > 6. s r .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 .25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .35 5.K2O .5 / 6 2-6. t = tinggi.Tekstur .5 .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 . ab ak. . s = sedang.Drainase Media perakaran (r) . at h 35 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.P2O5 .st r-s st.8 .75 t.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .15 5 .C-organik Toksisitas(xc) .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .Batuan di permukaan (%) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .55 25 .35 50 .2 5. ah = agak halus.16 r-s 5 .8 t .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .1. k = kasar. s < 15 > 75 s ah 15 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8 sr td r < 0. Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .Kejenuhan Basa (%) .sr st t-s > 1. Gandum S1 21.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Penggunaan Lahan g.

5 .40 >40 .15 15 . sc Media perakaran (r) .N-Total st. s = sedang. k = kasar. s r sr td .C-organik > 0.Drainase b.s r sr .Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) . h = halus.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) .16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .Bahaya erosi sr r.5/8.5-9.3 < 5.Bahan.3-5.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .5-8.3 td .4 Toksisitas(xc) .4 td ≤ 0.Bulan kering (bln) 8-4 2.pH H20 5.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 .2-8.Lereng (%) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . r = rendah.5 1. t = tinggi.5 5. <8 8 .Tekstur h. ah = agak halus.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .5-2. s r sr . sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan h. Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ak = agak kasar.K2O st. data.5 <1.5/8.5-4 / 8-8.15 15 .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) . s b sb Bahaya banjir (f) .t.Singkapan batuan (%) <5 5 .Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .3/ > 8. t. at s t st.Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) .P2O5 st t.5 / >9. s ah ak k .25 >25 st = sangat tinggi.Batuan di permukaan(%) <5 5 . td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 .8 td td Toksisitas(xc) .Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang.KTK liat (cmol) >16 td td . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .N-Total td td td td .5 td .Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td .Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi.P2O5 td td td td ≤ 0. s b sb Bahaya banjir (f) .K2O td td td td .Bahan.0-5.8 . at s t st Media perakaran (r) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .Drainase b.5 < 5. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .5-6. <3 3-8 8-15 > 15 . t = tinggi.0 / > 7.Bahaya erosi sr r. sr = sangat rendah.Lereng (%) .Tekstur ah.5 5.40 >40 .C-organik > 0.5-7. r = rendah. s ak h k .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . ah = agak halus. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . h = halus. data.5/6.pH H20 5.Penggunaan Lahan i.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . k = kasar. ak = agak kasar.

C-organik > 0.Bahan. s b sb Bahaya banjir (f) .0-7.pH H20 5. t st.N-Total r sr td td . c Media perakaran (r) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Tekstur ak.0 4.Singkapan batuan (%) <5 5 .40 >40 . 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Iles-Iles (Amorphophalus sp.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .5 / >7.25 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr r.Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . r = rendah.K2O r sr td td . <8 8-15 15-30 >30 .Penggunaan Lahan j.15 15 .Batuan di permukaan (%) <5 5 . sr = sangat rendah. ah = agak halus. td = tidak ada data.Drainase b.) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .4 td ≤ 0. t = tinggi.5 <4.Lereng (%) .P2O5 r sr td td . s = sedang. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .4 Toksisitas(xc) .5 td .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . ab at s. ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .15 15 . s ah h k . k = kasar.Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) .0 / 7.0-7. h = halus.0-5.

40 >40 .Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .4 / > 8. t.Bahaya erosi sr r.Tekstur h.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .P2O5 . ah = agak halus. Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 .2 0.8 .8 Toksisitas(xc) .5-2.6-8.K2O st.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) . s r sr td . c Media perakaran (r) .Lereng (%) . at s t st.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . s ah ak k . h = halus. <8 8 .Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .N-Total st.pH H20 5.16 16-30 >30 .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan 8.Singkapan batuan (%) <5 5 . t. Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s.25 >25 st = sangat tinggi. Tanaman Kacang-Kacangan a. t = tinggi.1.15 15 .5 1.Batuan di permukaan(%) <5 5 .0 Sodositas (xn) . td = tidak ada data.15 15 .C-organik > 1. k = kasar.6 5.0 < 5.4-5.Drainase b. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . ak = agak kasar.6-7.Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) . r sr td td .2 < 0.6 / 7. s = sedang. r = rendah.Salinitas (dS/m) <1 1-1.0 td st.2.0 > 2.Bahan. sr = sangat rendah. t s r sr .

td = tidak ada data. 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan .40 15 .Penggunaan Lahan b.8 4-6 15-20 16-30 b 15 .2-7.2-7.Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) . c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Drainase Media perakaran (r) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .N-Total .8 .K2O . h = halus.16 r.P2O5 . .Tekstur .2 2-4 10 -15 8 . r = rendah. ah = agak halus.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . kasar (%) .pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st.Bahan.15 5 . t = tinggi. s = sedang. t > 1.C-organik Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan (%) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . ak = agak kasar. s st. t.8-5. sr = sangat rendah. at s. k = kasar.Lereng (%) .Kejenuhan Basa (%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s 5 . Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .6 sr sr r < 0.15 t ak 35-55 50-75 td td < 4. s st.1.6 r r s 0. ah < 15 > 100 > 16 > 20 5.2 st. t.25 .2 / 7.8 / > 7.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .

25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi.40 >40 .5 2. Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Tekstur h. k = kasar.Bahan. sr = sangat rendah.8-6.0 >6 Sodositas (xn) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Penggunaan Lahan c.8 / > 8.5-8.16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .8 .Singkapan batuan (%) <5 5 . td = tidak ada data.C-organik > 1.Salinitas (dS/m) < 2. <8 8 .8 Toksisitas(xc) . s = sedang.P2O5 . c Media perakaran (r) .N-Total st.5-6.0/7.5-3.Drainase b.0 < 5.2 0. ah s ak k . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 .15 15 .K2O st t-s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .2 < 0.5 5.Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .15 15 .0 t .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . s r .35 35 .st r-s sr td . kasar (%) < 15 15 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .55 > 55 .1. at s t st.pH H20 6. ah = agak halus. ak = agak kasar. h = halus. t.35 < 20 .5 3.Batuan di permukaan(%) <5 5 .sr td td .60 20-50 < 20 Retensi hara (n) . r = rendah.Lereng (%) .0-7.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .

t. s = sedang.st st.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .6 t .6-7.2 < 0.50 st.6-8.35 50 . kasar (%) . s < 15 > 75 > 16 > 35 5.0 < 5.Kejenuhan Basa (%) . k = kasar. td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .75 t ak 35 .K2O .55 25 .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .1. .Loreng (%) .Tekstur . sr = sangat rendah. Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.8 .Drainase Media perakaran (r) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . ak = agak kasar.15 5 .Batuan di permukaan(%) .N-Total .4 / > 8. r = rendah.0 r-s sr r .Bahan. t = tinggi. c k > 55 < 25 - .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .C-organik Toksisitas(xc) .40 15 . at h.Singkapan batuan (%) ≤16 20 .P2O5 . 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . s st > 1. h = halus.15 1.2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .5 May-09 8 .5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 . ah = agak halus.35 < 20 5.sr td t-s r 0.16 r-s 5 .8 1-1.KTK liat (cmol) .6 / 7.Penggunaan Lahan d.4-5.

k = kasar.6-7. s ah ak k .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . td = tidak ada data. ab s t st. Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .6-8. kasar (%) < 15 15 .N-Total st. r = rendah.K2O st t-s r sr .Bahan.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .15 15 .55 > 55 .40 >40 .C-organik > 1.4 / > 8. ak = agak kasar.5-2 >2 Sodositas (xn) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Loreng (%) .8 . c Media perakaran (r) .sr td td .75 < 25 Retensi hara (n) .8 Toksisitas(xc) .25 >25 st = sangat tinggi.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . t.st r-s sr td .0 t .Drainase b.pH H20 5. <8 8 .6 5.Batuan di permukaan(%) <5 5 .16 16-30 >30 . h = halus.2 0.P2O5 .0 < 5.15 15 .Salinitas (dS/m) <1 1-1. Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s = sedang.Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .6 / 7.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 .4-5.1.Tekstur h.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . sr = sangat rendah.35 35 .75 25 . ah = agak halus.5 1.2 < 0. t = tinggi.Penggunaan Lahan e. s r .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .

Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .K2O st t.Bahaya erosi sr r.2-7.0 < 4.8-5.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td .t.KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 . 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .16 16-30 >30 .pH H20 5. t. at s t st. ak = agak kasar. k = kasar. r = rendah. s b sb Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 . s = sedang.15 15 .C-organik > 0. td = tidak ada data.8 td Toksisitas(xc) .5-4 4-5 5-6 >6 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . sr = sangat rendah.5-8.8 / > 8.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .N-Total st.15 15 .2 / 7.Bahan. ah = agak halus.Drainase b.Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) .Tekstur ah.5 4.25 >25 st = sangat tinggi.s r sr td .Batuan di permukaan(%) <5 5 . h = halus. <8 8 .P2O5 ≤ 0.Lereng (%) .Bulan kering (bln) 2. Tanaman Perkebunan a. t = tinggi.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . s r sr td .Penggunaan Lahan 8. s h ak k .40 >40 . s r sr .0 td st. sc Media perakaran (r) .8 .Kejenuhan Basa (%) < 20 td td .3.

P2O5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 .N-Total . .0/7. s = sedang.C-organik Toksisitas(xc) . t = tinggi.6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .0 td td td > 1. s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi. td = tidak ada data.5 1.1-1.6 td td td < 0.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 .8 1.Bahan.5 / > 7. ah < 15 > 150 >16 > 35 6.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . ah = agak halus.1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.Tekstur .8-1.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .5-6.Batuan di permukaan(%) .8-2.0-7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah. at h. r = rendah.Curah Hujan (mm) . Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b. h = halus.Kejenuhan Basa (%) .2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2.Penggunaan Lahan b. kasar (%) .KTK liat (cmol) . k = kasar.Drainase Media perakaran (r) .Lereng (%) .5 < 1.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8 td 8-16 r. ak = agak kasar.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) td td td 0.K2O .0-7.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .

sr = sangat rendah. ak = agak kasar.Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .15 15 . c Media perakaran (r) .0 td .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur h.40 >40 .0 / 7.Penggunaan Lahan c.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . s b sb Bahaya banjir (f) .Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) . <8 8-16 16-30 >30 . 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . ab at s.Drainase b.6-8.Singkapan batuan (%) <5 5 .4 td ≤ 0.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .6-6.K2O r sr td td .0 < 5.Curah Hujan (mm) .6 / > 8. ah s ak k . r = rendah.Bahaya erosi sr r.25 >25 st = sangat tinggi. t st.Bahan.C-organik > 0.0-7. t = tinggi. td = tidak ada data.Lereng (%) .P2O5 r sr td td .6 5. Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus.15 15 .pH H20 6. h = halus. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .4 Toksisitas(xc) . s = sedang.Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 .N-Total r sr td td . k = kasar.

td = tidak ada data.0 / 6.st r sr td .Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .0-6. t = tinggi. ab at s.Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 .35 35 .16 16-30 >30 .25 >25 st = sangat tinggi.0 t .N-Total st. t. s r .Drainase b.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) .pH H20 5.55 > 55 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .40 >40 . <8 8 .5 4.K2O st t-s r sr .Penggunaan Lahan d.Singkapan batuan (%) <5 5 .P2O5 .Bahan.Loreng (%) . ak = agak kasar. ah = agak halus.Tekstur h.15 15 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . kasar (%) < 15 15 .2 / > 7.Curah Hujan (mm) .2-5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .0 < 4.sr td td . k = kasar.C-organik > 0. h = halus. sr = sangat rendah. s = sedang.5-7. c Media perakaran (r) . t st.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .8 ≤ 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . s ah ak k . r = rendah. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .8 Toksisitas(xc) .

0 Sodositas (xn) .40 .Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 .Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .3 < 5. <8 8 . k = kasar.Singkapan batuan (%) <5 5 .55 .4 t .sr td .pH H20 5. t. Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .6 6.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Curah Hujan (mm) .5-2.6-6.Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) .5 td 0.35 35 . kasar (%) < 15 15 . s = sedang.Drainase b s at Media perakaran (r) .P2O5 . r = rendah.st r-s sr . sr = sangat rendah.8 Toksisitas(xc) .35 < 20 . ah = agak halus.25 st = sangat tinggi.Loreng (%) . c k > 55 < 50 - td td sr > 2.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . td = tidak ada data.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .15 15 . ak = agak kasar.8 .Tekstur h. h = halus.K2O st t-s r .Batuan di permukaan(%) <5 5 .6-7.Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan e.2 < 0. >6 < 20 / > 90 t.2 0. s ah ak .Bahan.5 / 7.Salinitas (dS/m) < 0.16 16-30 / 16-50 . s r . t = tinggi.1.15 15 .N-Total st.C-organik > 1.0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

KTK liat (cmol) td td td td .15 15 . <8 8 . t. s = sedang.5 / > 6.C-organik > 0.Drainase b s at t. k = kasar. t.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0-2.25 >25 st = sangat tinggi. ak = agak kasar. c Media perakaran (r) . h = halus. td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 . s b sb Bahaya banjir (f) .Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .Bahan. Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 / 6.Bahaya erosi sr r. sr = sangat rendah.Lereng (%) .40 >40 .0-6.0 1.5-1.Salinitas (dS/m) < 0.Tekstur h.Batuan di permukaan(%) <5 5 .K2O st.0-6.0 > 2. t s r sr .15 15 .Penggunaan Lahan f.8 td td ≤ 0.5 < 4.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5-5.Curah Hujan (mm) .Singkapan batuan (%) <5 5 . s r sr td .5 td st.8 Toksisitas(xc) .16 16-30 >30 . ah = agak halus.0 4. s r sr td .0 Sodositas (xn) .P2O5 .pH H20 5. r = rendah. t = tinggi.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td .N-Total st. ah s ak k .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 . kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 .5 0.

t.Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi.16 16-30 >30 .5 .35 35 . s h ak k .1. h = halus.8 .2 < 0. ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . s = sedang. sr = sangat rendah.7.Bahan.Drainase b.div.0 < 5. c Media perakaran (r) . s r .2 0. k = kasar. <8 8 .sr td td .Singkapan batuan (%) <5 5 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . Kina (Cinchora spec. ah = agak halus.Loreng (%) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 15 .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0-5.25 >25 st = sangat tinggi.8 Toksisitas(xc) .0 t . ab at s.C-organik > 1.55 > 55 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .0 / > 8.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .P2O5 . r = rendah.Curah Hujan (mm) . t st.Penggunaan Lahan g.K2O st t-s r sr .N-Total st. td = tidak ada data.35 < 20 .40 >40 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) .8 5.st r-s sr td .5 / 7. kasar (%) < 15 15 .pH H20 5.8-8.Tekstur ah.

Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 . ak = agak kasar.Loreng (%) . ah s ak k .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . h = halus.50 < 25 Retensi hara (n) . t.C-organik > 0.5 4.75 25 .KTK liat (cmol) td td .40 >40 . ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) . s = sedang. r = rendah.Drainase b. td = tidak ada data.Bahan. ab s t.25 >25 st = sangat tinggi.8-5.Singkapan batuan (%) <5 5 . <8 8 .Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .2-7.0 t .8 td ≤ 0.Tekstur h.8 / > 8.5-8.Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 . s r . t = tinggi.35 35 .8 Toksisitas(xc) . at st. sr = sangat rendah.2 / 7.N-Total st.Penggunaan Lahan h.st r-s sr td .P2O5 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .pH H20 5.0 < 4.15 15 .sr td td . c Media perakaran (r) .16 16-30 >30 .15 15 . Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .55 > 55 . kasar (%) < 15 15 . k = kasar.K2O st t-s r sr .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .

td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 . <8 8 .5 / 5. c Media perakaran (r) . ab at t.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .P2O5 .Drainase b.8-4. s r .Curah Hujan (mm) .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .8 Toksisitas(xc) . s = sedang.55 > 55 .16 16-30 >30 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . ah = agak halus.5 0.8 / > 5.Penggunaan Lahan i.Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 .15 15 . t = tinggi. r = rendah.8-1.N-Total st. s st.Bahan.5 3.5-5. sr = sangat rendah.8 t . t. kasar (%) < 15 15 .Loreng (%) .Tekstur h. k = kasar.40 >40 .8 < 3. ak = agak kasar. h = halus.C-organik > 1.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .sr td td .25 >25 st = sangat tinggi.st r-s sr td .Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) .K2O st t-s r sr .pH H20 4.5 < 0.5-5.Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) . ah s ak k .35 35 .Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .

pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b. s = sedang. Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 .0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4.Curah Hujan (mm) .Lereng (%) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . c k > 55 < 50 td td td .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . s.8 . t > 1. kasar (%) .5-5.P2O5 .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 sr td r < 0.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 .C-organik Toksisitas(xc) .0-6.15 5 .Batuan di permukaan(%) .Kejenuhan Basa (%) .2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . t.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Tekstur .N-Total .5 td st. s f1 5 . ah < 15 < 100 > 16 > 35 5. Kapuk (Caiba pantandra G. t.Singkapan batuan (%) st.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t = tinggi. r st.16 r.5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4. r = rendah.K2O .40 15 .2 4-6 15-20 8 . at h. . td = tidak ada data. s st. ah = agak halus. sr = sangat rendah. h = halus.0-7.5 / > 7. ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Penggunaan Lahan j.Bahan.Drainase Media perakaran (r) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . k = kasar.1.KTK liat (cmol) .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.0 / 6.

KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .K2O st t-s r sr . s ah ak k .0 . r = rendah.25 >25 st = sangat tinggi. t st. sr = sangat rendah. ak = agak kasar. h = halus.0/7.Bahan.Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 . t. ah = agak halus.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .16 16-30 >30 .Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang.15 15 . k = kasar.sr td td . c Media perakaran (r) .0-5.Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) . <8 8 .Lereng (%) .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Singkapan batuan (%) <5 5 .4 td td ≤ 0.Drainase b. td = tidak ada data.Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) .pH H20 t .4 Toksisitas(xc) .0 / > 8.Penggunaan Lahan k.N-Total st.Batuan di permukaan (%) <5 5 .15 15 . Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .55 > 55 . t = tinggi.0-8. kasar (%) < 15 15 .35 35 .0 < 4.st r-s sr td .0 4. s r . 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan .40 >40 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0-7. ab at s.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5.C-organik > 0.Tekstur h.P2O5 .

C-organik > 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 . kasar (%) < 15 15 .16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .0 Sodositas (xn) .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .3 / > 6.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.Curah Hujan (mm) .35 35 .8 ≤ 0. t = tinggi.15 15 .0-5. k = kasar.0 5. ak = agak kasar. <8 8 . t.5 < 5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 .3 / 6.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .sr td td .P2O5 .st r-s sr td . s = sedang.Drainase b s at t.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 . sr = sangat rendah. ah = agak halus.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .25 >25 st = sangat tinggi.8 Toksisitas(xc) .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5. h = halus.pH H20 t . ah s ak k .3-6.Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . c Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan l.Singkapan batuan (%) <5 5 .55 > 55 .N-Total st.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Loreng (%) . s r .40 >40 .Tekstur h. td = tidak ada data. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .5 .0-6.K2O st t-s r sr .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .15 15 .Bahan. r = rendah.

Kejenuhan Basa (%) .pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Batuan di permukaan (%) .Bahan.4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r . c k > 55 < 25 - . sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan m.0-8. ab h.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .C-organik Toksisitas(xc) .5-7.15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 .0 st. . t ak 35 . t = tinggi.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .5 / >8.N-Total .P2O5 .35 50-75 ≤16 35-50 5.5/7.40 15 . k = kasar.0-5. s < 15 > 75 > 16 > 50 5.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . t. s = sedang.st st. td = tidak ada data.25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.KTK liat (cmol) .16 r-s td 5 . s st > 0.K2O .Loreng (%) .Singkapan batuan (%) t .5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 . Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ak = agak kasar. h = halus.Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Drainase Media perakaran (r) .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s. ah = agak halus. kasar (%) .sr t-s ≤ 0. r = rendah.Tekstur .4 5-8 Oct-09 8 .55 25-50 < 35 <5.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .15 5 .CH harian (mm) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8 3-5 35-50 16-30 b td 15 .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . ak = agak kasar.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . at h.K2O . .pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.Drainase Media perakaran (r) . r = rendah. h = halus.8-1.0 td st. sr = sangat rendah.8-8.C-organik Toksisitas(xc) .0/7.KTK liat (cmol) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Lereng (%) .P2O5 .8-6.15 td td td < 0.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0.2 2-3 20-35 8-16 r.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0-7.0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5.Penggunaan Lahan c.Kejenuhan Basa (%) . ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.Bahan. td = tidak ada data.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 5 .Tekstur . kasar (%) . s 5 . 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang.8 / > 8.N-Total .40 15 . ah = agak halus.8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5.Singkapan batuan (%) r r r > 1.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . k = kasar.Batuan di permukaan(%) . c k > 55 < 20 td td td . t = tinggi.

s r sr td .8 Toksisitas(xc) .pH H20 6. sr = sangat rendah.P2O5 .25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi.8 5. ak = agak kasar. h = halus.Penggunaan Lahan d. Bawang Putih (Allium sativum L. t.15 15 . <8 8 .2 < 0.N-Total st.0-7.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .8 / > 8.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 < 5. s b sb Bahaya banjir (f) . c Media perakaran (r) . t.8-6.Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) .Tekstur ah.16 16-30 >30 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) .8-8.15 15 . r = rendah.K2O st.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) . ah = agak halus. at s t st. td = tidak ada data. t s r sr . k = kasar.0 / 7.8 . s h ak k .Singkapan batuan (%) <5 5 .Drainase b.2 0.Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) . s. r sr td td . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Bahan. s = sedang.Bahaya erosi sr r.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .C-organik > 1.40 >40 .1.0 td st.Lereng (%) .

sr = sangat rendah.0-7.0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . ak = agak kasar.5-1. c k > 60 < 30 td td td .N-Total .6-8. s = sedang.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . kasar (%) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .C-organik Toksisitas(xc) . k = kasar.Bahan.5-6.16 r. Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ah = agak halus. r = rendah. t = tinggi.P2O5 .0 / 7.pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b.0-2.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . s 5 . td = tidak ada data.Curah Hujan (mm) .Tekstur .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .5 / > 8.15 sr sr r td 1.0 15-20 8 .Lereng (%) . s st.25 td td sr td > 2.Drainase Media perakaran (r) .0 td td st.40 15 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) .Kejenuhan Basa (%) . t > 0. t. 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 5 .0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0.Singkapan batuan (%) st. t. s st.Batuan di permukaan(%) . h = halus.8 0.0 20-25 16-30 b f1 15 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5.6 td td s h. .K2O .Penggunaan Lahan e.

) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .P2O5 .Lereng (%) .6 5.5 / > 8. ah = agak halus.sr td td .40 >40 . at s t st.Batuan di permukaan(%) <5 5 .0-7.25 >25 st = sangat tinggi.5-6. r = rendah. td = tidak ada data.16 16-30 >30 .55 > 55 .8 td td Toksisitas(xc) .N-Total st.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s ak k .15 15 . t = tinggi.8 ≤ 0.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .Drainase b.0 .Bahan.Tekstur ah h.Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 .6-8. c Media perakaran (r) . ak = agak kasar.pH H20 t .Penggunaan Lahan f. h = halus. k = kasar. sr = sangat rendah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 . s r .Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 . kasar (%) < 15 15 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) .0 / 7. t.K2O st t-s r sr .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .st r-s sr td . s = sedang.C-organik > 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .15 15 .0 < 5.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . Paprika (Capsicum sp. <8 8 .

Singkapan batuan (%) t .35 50 .40 15 . Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8-8.55 25 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .C-organik Toksisitas(xc) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . k = kasar.pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b.16 r-s 5 . kasar (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .8-6. ah 15 . at s < 15 > 75 > 16 > 500 6.Batuan di permukaan(%) .5-7 15-20 8 . ah = agak halus.N-Total . t.15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 .8 < 4.KTK liat (cmol) .75 ≤ 16 35-50 5.P2O5 . s st > 0.0 t ak 35 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . sr = sangat rendah.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .8 / > 8.0-7.K2O .st st.Penggunaan Lahan g.8 4.Bahan. ak = agak kasar.Drainase Media perakaran (r) .Tekstur .15 5 . r = rendah.25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. td = tidak ada data.0 / 7. s = sedang.0 st.5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .8 s h.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .50 <35 < 5.sr t-s ≤ 0. t = tinggi.Kejenuhan Basa (%) . c k > 55 < 25 - . 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Loreng (%) . h = halus.Curah Hujan (mm) .

55 25-50 < 35 < 5.35 50-75 ≤16 35-50 5.KTK liat (cmol) > 16 . k = kasar. ah 15 .15 5 .5-7 td 8 . at Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) .sr t-s ≤ 0.0 / 7. r = rendah.8 / > 8.Loreng (%) .Tekstur s .Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 .Salinitas (dS/m) < 4. s = sedang.K2O st .25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) . h = halus. sr = sangat rendah.16 r-s 5 .0 td 50-60 / > 95 t ak 35 .N-Total st.Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .0 td < 50 st.C-organik > 0.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .8-8.8 4.st . s .Penggunaan Lahan h.Bahan.Curah Hujan (mm) 350-800 .P2O5 .5 Sodositas (xn) .8 .8-6.Kejenuhan Basa (%) > 50 6. kasar (%) < 15 . t.Drainase b.Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h. t = tinggi.40 15 . Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .pH H20 t . ak = agak kasar. ah = agak halus. <8 .15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 . c k > 55 < 25 - r-s r .Batuan di permukaan(%) <5 .0-7.8 Toksisitas(xc) . td = tidak ada data.

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

8 4.sr t-s 0.K2O .0-7.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Tekstur . Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 . t. h = halus.15 < 20 / > 90 t h 35 .0 / 7.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 .8-1.Batuan di permukaan(%) .5-4.C-organik Toksisitas(xc) .2 < 1.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b. ah = agak halus.Kejenuhan Basa (%) . ak = agak kasar.5 20-35 8 .st st.2 1. r = rendah.6 .Penggunaan Lahan l.15 5 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .16 r-s 5 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .CH harian (mm) .25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.0 5. kasar (%) .N-Total .Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0-7.5-7 35-50 16-30 b 15 .35 40-60 ≤16 20-35 r-s r .Bahan. Sawi (Brassica rugosa F. at ak. s st > 1.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .P2O5 . t = tinggi.6 st.7 / > 7.) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .55 25-40 < 20 < 5. s = sedang.Loreng (%) .Singkapan batuan (%) sr td r < 0. .Drainase Media perakaran (r) .40 15 .KTK liat (cmol) . td = tidak ada data. k = kasar. c k > 55 < 25 - 6.7-6. sr = sangat rendah.

r = rendah.K2O st t-s r .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .15 15 .Salinitas (dS/m) < 1.7 / > 7.16 16-30 .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .7-6.8 Toksisitas(xc) .25 st = sangat tinggi.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .8-1. at s t Media perakaran (r) .Drainase b. ah = agak halus.5 4.Bahan.st r-s sr .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .2 < 0. ah s h .0 / 7.Curah Hujan (mm) .35 35 .Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) . k = kasar. t.pH H20 t . s r .P2O5 . td = tidak ada data.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) . sr = sangat rendah.5 1.0 5.5-7 Sodositas (xn) .sr td . c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0-7.Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi.6 < 5.6 .5-4. N <4 / >35 <150/>1000 st.N-Total st.Loreng (%) .Penggunaan Lahan m.15 15 . h = halus.40 .C-organik > 1.55 .0-7. <8 8 .Tekstur ak. kasar (%) < 15 15 . ak = agak kasar. s = sedang.2 0.

td = tidak ada data.KTK liat (cmol) > 16 .8-1.0-7.0 td <20 / >90 t ak 35 .Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) . r = rendah.Tekstur ah.K2O st .0 td st.0/7. h = halus.sr t-s 0.Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 .15 5 .25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi. ah = agak halus. t = tinggi.Penggunaan Lahan n.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) .55 25-50 < 20 <5. s .Drainase b.2 Toksisitas(xc) . s .Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) . at Media perakaran (r) .pH H20 6.Loreng (%) .5-6.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .5 t .N-Total st.P2O5 . t. k = kasar.15 sr td r < 0.8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .Curah Hujan (mm) 400-700 .Bahan.st .2 5-8 15-25 8 .Kejenuhan Basa (%) < 35 . kasar (%) < 15 .5-8. ak = agak kasar.40 15 .Batuan di permukaan(%) <5 . s = sedang. Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o . <8 .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) . sr = sangat rendah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) . c k > 55 < 25 - r-s r .C-organik > 1.5 / >8.16 r-s td 5 .35 50-75 ≤16 20-35 5.

16 16-30 >30 .C-organik > 1. s = sedang. s r sr td .t.Bahaya erosi sr r. td = tidak ada data. r = rendah.pH H20 td st.Penggunaan Lahan o. at s t st.15 15 .Bahan.P2O5 .40 >40 .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) . kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 . k = kasar. ak = agak kasar.Bulan kering (bln) td td td td . Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 . sr = sangat rendah.2 / > 8. t.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Tekstur ah.0 < 5.Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) . s b sb Bahaya banjir (f) .0-8. <8 8 .Lereng (%) .15 15 . 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Drainase b.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) . sc Media perakaran (r) .2 < 0.6/7.0 .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) .Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.8-1. t = tinggi.K2O st t.Singkapan batuan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) . s ak h k . s r sr .2 0.8 Toksisitas(xc) .25 >25 st = sangat tinggi.Batuan di permukaan (%) <5 5 .Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus. h = halus.2-5.N-Total st.Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 .0 5.s r sr .6-7.

6 td td st.N-Total . Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 . t = tinggi. kasar (%) .8-1.Drainase Media perakaran (r) .6 .C-organik Toksisitas(xc) . s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5.Lereng (%) .5 20-35 8-16 r. h = halus.Tekstur . c k > 55 < 20 td td td 6. at ak.5-4.2 < 1.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .K2O .P2O5 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .8 4. r = rendah.) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0 5.Bahan. k = kasar.5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.KTK liat (cmol) .0-7. s = sedang. ak = agak kasar.7 / > 7. td = tidak ada data.Curah Hujan (mm) .7-6.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0. Lobak (Raphanus astuvus L. .Batuan di permukaan(%) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) td td td < 0.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Penggunaan Lahan p.0/7.Kejenuhan Basa (%) .2 1. sr = sangat rendah.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1.pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b. ah = agak halus.0-7.

The Organizing Committee. R. Indonesia. S. Wood. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 .). 46. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. Vol. Dumanski. Goodland. Agricultural Institute of Canada. D. 1999.C. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. Vol. J. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. Anny Mulyani.). Terminal report UNDP – FAO. Costanza.. 85 p.C. World Bank. Ottawa. Marwan H. Nomor 1. 1984. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah. Agricultural Institute of Canada. 17-18 Februari 1998. R. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. 1994. Subagjo. Versi 3. 205-225. (ed. 1: Workshop Summary. International Workshop on Sustainable Land Management. Eswaran. UK. Depar-temen Pertanian. International Workshop on Sustainable Land Management.).. Anonymous. 1998. Bachri. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Rome. Djaenudin. _____. and El Serafy. 1995.18. VIII + 55h. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1991. and Dumanski. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. pp. C. Daly. Vol. H. R. 2: Plenary Papers. Rome. 2000. An FAO study. Chichester. Environment Working Paper No. H. and Ofori. 1994.. (eds. In: Environmentally Sustainable Economic Development. S. 1991. Pushparajah E. dan D. J. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. (eds.Referensi REFERENSI Alexandratos. World Agriculture: towards 2010. The Organizing Committee. Suharta. and John Wiley. FAO. Djaenudin. Washington D. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. N. Ottawa. H. dan N. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. Building on Bruntland.

FAO.(eds. Subagjo. 1994. 1991. Rome. and Dumanski.I. and Szabolcs. dan S. FAO.Referensi FAO. _____. 1988. _____. 1994. Lima. paper given at Cali LQI workshop. 1996. Jones P. ILRI. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . No. FAO. FAO Soils Bulletin 32. UK. H. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. and Winograd. (R. I. P. and Herdt.74 p Greenland. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. _____. World Bank. (eds. Guidelines for land-use planning. Lyman. Rome. Jurusan Tanah. FAO. IRLI Publ. J. _____. Smyth. L. Peru. _____. M. Karama. CIP. Washington. 1983. Soils Bulletin 32. 1976. Wageningen. S. S. Brinkman and A. Soil Resources Development and Conservation Services. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. Wallingford. A framework for land evaluation. Forestry Paper 48. Hardjowigeno. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. IPB. Land evaluation for forestry.)). FAO. 1984. 129-140. Wageningen. 237 p. Yogaswara. Land and Water Development Division. Yogyakarta. 1999. 22. A.C. 1993b.. The Netherlands. 1993a. 1986. R. Rome. Publication 22. viii + 87 h. CAB International.J.J. 1977. 96 p. Fakultas Pertanian. Rome. Also. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. Harrington. D. June. 150 p. FAO. Soils Bulletin 58. Djaenudin. Unpub. Melitz.). World Soil Resources Report 73. The sufficiency concept in land evaluation. 1976. D.. 1994. _____. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. A framework for land evaluation. A framework for land evaluation. D. _____. Young (eds.J. J. Development Series 1. Soils Bulletin 52. Rome. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. Rome. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia.). 72 p. Soil Resilience and Sustainable Land Use. Widiatmaka dan A. Harijogjo. 123 p. Rome.

Washington D. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. and Sombroek. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. Measuring Progress. J. G.Referensi Moore. J. Rossiter.L. Cornell University.A. Nining Wahyuningsih. Washington D. R. J. Land Quality Indicators. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. Smyth. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management. R. Geogr. A. Buenos Aires. 2003.C. & J. O'Connor. 1991.. Crop. Dept..J. World Bank. A. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD). Sitorus RPJ. 1994. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. S. Oldeman. 1987.).G..C. Star. 1995.C. Dumanski.R. 1994a.. World Soil Resources Report 73. Rome. 3 map sheets and explanatory note. FAO. 63 p. 1977. Wageningen. Inform. System 1 (1) : 13-31. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Hamblin. 1978. 1994b.R. A. & S. Puslittan. 22-23 Sept. Methodology for Soil Resource Inventories. Wageningen. C. J. Uses of soil information system.L. & Atmospheric Sciences. 1993. J. of Soil.W. Bie (eds. D. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). World Bank Discussion Paper 315. J. pp. 103 h. The Netherlands. 2000.W. College of Agriculture & Life Sciences.E Estes.. and Young. ISRIC.T. Oldeman. 1994. Environmental performance monitoring indicators. Lecture Notes: Land Evaluation. A User-Oriented Workshop.. A. 19-36. World Bank. The Netherlands. Menon. Rossiter. In: Bi-annual Report 1991-1992. and Dumanski. Hakkeling. Survei Sumberdaya Lahan Smith. L. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. 74 p. 18-26 Jan. Wageningen. 2nd revised ed. Int. G. Nairobi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . 1992. D. 1994. Global extent of soil degradation. W. T. and ISRIC. UNEP.C. Towards Environmentally Sustainable Development. Pieri.

R.H. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. Jakarta. 1998. Subagyo. C. & A. Steele. Student Stors. Soil Survey Interpretation and its use.). Velenzuela. Deptan. Stewart.R. Bogor. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. xviii + 225 h. Land Evaluation. D. 1993. W. H dan IPG. Meijerink. 1964. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. Macmillan of Australia. Constraints and Opportunities. 1968. Handbook of soil evaluation.A. Assoc. & G. Storie. ILWIS. Enschede.. Dalam: A.C h 7-14. 12-30.G. Soil Buletin No. New York. Overview. CSIRO Symposium. United Nations. ITC publ.). IITA. Nigeria. Rome. Washington. UC Berkeley. UNCED. 1993.A. Ssouth Melbourne. Dalam: G. ILWIS. 1975. 1967. Soil Research Institute.G. C. & FAO. Widjaja Adhi. R. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Valenzuela.E. 1995. J. pp. Stewart (ed. H 1-10.Referensi Soepraptohardjo. Land Evaluation. Iii + 31 h. 7. Soni Harsono. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development.). FAO.J. 1988. Robinson (eds. Harian Kompas 15 Oktober 1995. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. 1 Soil Management Support Services. Technical Monograph No. Balitbang. No. h 4-14. Stewart (eds. Ibadan. constraints and future needs. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Sombroek. G. 69h. M. 8. Alih Fungsi Lahan Pertanian.M. 294 p.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful