SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. survei sumberdaya lahan. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. sehingga menjadi suatu buku. unit lahan. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. parameter penafsir lahan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. yang semula berupa catatan-catatan kuliah. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka.

mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. kegunaan klasifikasi lahan. Surabaya. kimia lahan serta geomorfologi lahan. IV. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. kacang-kacangan. prosedur klasifikasi. Bab III. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. maka saran-saran. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. kesesuaian lahan. V.fisik. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan.

Penggunaan Lahan 1.4.4. 3.7. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2. 2.5.3.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.1.1 Bentuk Lahan 2.4.3 Kondisi Drainase 2.8. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan .4. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.1 Aspek Tanaman 2.1.2.4. 2.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2.3. 3.2.8.6. 3.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2. 2.1. 2.5 Tanah 2.8.4. 2.2.4.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.4 Kondisi Permukaan lahan 2.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.4. 2.4.

2.3. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5.1. 8.1.3. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4. 4.1. 4.2. Penilaian Kesuburan Tanah 6.2.1. 8. 8.2.3.4.2. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7. 4. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7.1. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan .4. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8.

2. 5.2.3.5.1. 2. 2. 5. 5.11. 2.4.1.3.8.Daftar Tabel 2.8.6.5. 5. 2. 2. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan.7.4. 5. 5. 2. 5.7 5.6.10. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .9. 2. 2.2. 2.

4.1. 7. 7. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan .3.10.5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.2.5. 7.9. 7. 7. 6. 5.1.

1.Daftar Gambar 1. 4. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii .1. 5.1.1.1. 7.1.2. 3. 3. 2.

secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. Akibatnya. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. 1986).Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. seperti untuk pertanian. daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. relief. jalan untuk transportasi. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. tanah. 2001). daerah industri. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. Di lain pihak. daerah pemukiman. Dengan demikian. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 .

Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. 1975).Sumberdaya Lahan 1.1. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. (Wahyunto et al. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah. keadaan pasar dan transportasi. lereng permukaan tanah. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. iklim. 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. 1. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. tumbuhtumbuhan. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. keadaan politik. Untuk aktivitas pertanian. 2001). tanah. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. air. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan. hewan dan kependudukan. lokasi industri.2. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya.. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda.1995).

memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. Pertama. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. Ketiga. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 . Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. Sebagai contoh. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. ekonomi. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. Menurut McNeill et al. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. demografi dan budaya. Kedua. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi.Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik.. Akibatnya. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan.

pencemaran.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). penduduk. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah. Penelitian terhadap struktur ekonomi. Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0.65% pada tahun 1990. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya.46%.05% dan meningkat menjadi 14. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. iklim mikro.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 . Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum.Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh).

tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 .Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. hasil penelitian terdahulu. erosi dsb). Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. tipe batuan. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta.

Pertanyaan selanjutnya adalah. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. baik foto maupun citra satelit. perangkat penafsiran foto udara. 2. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. Batasan Unit Lahan. perangkat pengelola data. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan.1. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi.

Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan. Dengan demikian.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. 2. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan.3. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan.

16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan.1. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T. 2. sungai dsb. jalan. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . misalnya desa. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada.

Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope.4. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng. Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. 2. 4. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit).

1. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik. Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). Pada skala detil misalnya. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. 2. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. lereng atas. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan . lereng tengah atau lereng bawah. bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. 4. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Pada perisalahan hutan. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. 1977) dan Kucera (1988). biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. Aspek Tanaman 5.4. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap.

Jadi informasi ini sangat dibutuhkan. Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. Tabel 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 . Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes.2. Kemiringan dan Arah Lereng. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2.2.4.

500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2.15% =2 15 . Biasanya pada topografi yang berbeda.3.4.Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Dalam buku ini. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. Tabel 2. Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya.25 % = 3 25% . misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. Klasifikasi Kelas Kelerengan. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah. kondisi drainase.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . Kondisi Drainase. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut.100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 . 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah. misalnya. jenis tanaman dan kedalaman tanah. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi.3. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan.

Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. misalnya. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. Kondisi drainase jelek. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. maka kondisi drainasenya makin buruk. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut.4. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. karena kapur dapat meloloskan air.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. Tabel 2. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 .

mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Air mudah hilang. terdapat bercak-bercak pada horizon B. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim. solum tanah bebas dari bercak.4. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. Air cepat hilang dari tanah. Bagi pengelola hutan. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen.Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. Disamping itu. 2.4. hal ini adalah erosi dan pengikisan. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C.

iklim. Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia. Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah. Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu.20 20 .20 20 . maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal.40 40 .5. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya. Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia. Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail.4. Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 . Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur.60 60 .40 40 .Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .80 Prosentase Singkapan 0 1 . Dengan demikian apabila suatu. Tabel 2. Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk. Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi.80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar. vegetasinya.10 10 .60 60 .5. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan.10 10 . Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya. lahan mempunyai jenis tanah Entisol. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut.

6. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut.6. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan . misalnya. Kode Great Group Tanah. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit.4. akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Tabel 2. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah.

misalnya penterasan. yaitu batuan beku. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. dapat digunakan Peta Geologi. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. tekanan. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. Pada prakteknya. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan.

kedalaman tanah mempunyai pola umum. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. Pada tanah yang dangkal. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tabel 2.7. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak. kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah.4. Pada satu unit lahan. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman.7.

maka pembentukan tanahnya lambat. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah. kemiringan lereng. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. Tabel 2.5. tipe batuan dan bentuk lahan. Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar.30 cm 30 . Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah. Akibat lebih jauh. debu dan lempung/ Sand.60 cm 60 . Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi. Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi.Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu.15 cm 15 . Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 .8. kondisi drainase. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah.90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. Seperti haInya kondisi permukaan. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 . silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. misaInya drainase. kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen.

Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan.6. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan .9.

Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman.Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. Kalsium (Ca). Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. sintesa protein dan lain-lain. Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Ca merupakan komponen dinding sel. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). asam nukleat dan substrat metabolisme. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. translokasi karbohidrat. Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Magnesium (Mg). koensim. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan.1 satuan. sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. beberapa penyusun protein. Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman.

0.10 0.5 6. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.6 .40 21 .00 N (%) < 0.35 > 35 46 .0 2.20 0.8 . Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah.25 26 .0 0.6-7.0.5 4. Tabel 2.00-2. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.0.1 0.1997).Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.2. Parameter ini sangat dinamis. Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK. 00 1.4 .1.3 0.75 16 .2 0.1 0.6-6.60 > 60 26 .60 > 60 41 . Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun.50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .6-8.0 > 1.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 .10-0.20 21 .40 > 40 Tinggi 0.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.4 .00 > 5.4 0.1 .5 > 1.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0.0 1.5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.01 -3.5 Na (me/100 g) < 0.1 . Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0.7.10. Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan.45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .60 > 60 25 . Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.Masam Masam A.25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .1 .5-5.8.5 2. alkalis 7.0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 .20 51 .00 0.0 > 8.00 2.3 . Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.0 11 .7 Mg (me/ 100 g) < 0.Masam Netral < 4.1 .70 31 -60 A. Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.5 5.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.25 > 25 41 .1.1.01-5.21-0.51-0.75 > 0.

tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. Sedangkan erosi angin. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi.8. Tabel 2. erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion). jurang (gully erosion).1. Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut.11. erosi parit (rill erosion). Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. walaupun ada. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. akibat adanya pengolahan tanah. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion). Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. yaitu diabaikan. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia.8. Sifat Geomorfologi 2. sedang dan berat. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. ringan.

Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. karena terbatasnya stasiun meteorologi. lahan dan iklim. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. jumlah bulan basah. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya.8. Informasi hujan yang diperlukan dalam. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. Fenomena perbedaan pola. hujan antar petak juga. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah.2. dalam hal ini curah hujan.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu. kemiringan lereng dan arah lereng. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir.

maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ). Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan.1. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. tergantung pada dasar penentuannya.200 mm sebulan. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 . tetapi data curah hujan biasanya tersedia. Gambar 2. Khusus tentang penakar hujan. bulan lembab antara 100 .Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan.

2.A1 + P2. 3 A1.2.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1.Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1.2.3 = Tinggi hujan di stasiun 1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2 3 (Faktor Pembobot).3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.A2 + P3.

Ekonomis diperoleh diterapkan. Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. 2. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. dari kelayakan usaha yang akan 3. Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. 2. Lahan. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama.Klasifikasi Lahan 3. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 .1.

Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. ekonomi. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan.3. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan . (b) Alami. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. 3. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. meliputi aspek sosial. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. politik dan administrasif. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3.Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. 3.2. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas.4. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan.

Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. 4. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. (bid. Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural).Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan. mengembangkan. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Klasifikasi satu faktor. . 3. Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. 2. 6. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi.

Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah). dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. (pendekatan dari bawah ke atas). 2. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih. Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi. Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya.1. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

politik. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham.2. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3. sosial.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis.

Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. Jadi. Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. hutan produksi dsb). Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. yaitu: Klas. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 .Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept.1. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. Sub Klas dan Unit. perkebunan. 1990).

3.1.Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. kebasahan (w). Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama.ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi). Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang. Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian. 0 kelas I . Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 4. karena telah dibuat teras bangku datar. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. 2. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e). karakteristik tanah (s). memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. iklim (c) dan gradien (g). Contoh Sub kelas Vie. masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. VIe2 dsb. mempunyai hasil potensial yang hampir sama.

Contoh: Intensitas pengelolaan sama. Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. irigasi. 3. 4. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. kesuburan meningkat. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . (Kelas. Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. misalnya GWT turun. 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL.

Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. padas.Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. mineral liat . jarak.Banjir . 4. Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan . Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya.Gerakan massa tanah/longor . Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd. Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd. dan pengendalian banjir 7. alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng. Keragaan (performance) lahan.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) . irigasi. karakteristik tanah. penahanan air. tekstur. fasilitas. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi.Letusan gunung api . Jaringan drainase yang luas.kebasahan berlebih setelah drainase . batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2.

maka perlu upaya konservasi khusus. lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 . kebasahan ringan (Horison B bercak) . : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas. Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi. erosi tebing sungai .Karakteristik tanah (tekstur. .Rentan terhadap Pengendapan.Setelah drainase. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah. . lapis dan jurang) .Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur. sedang (60-90 cm) .Iklim < menguntungkan (ringan).Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun.Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya.Kerentanan.Jeluk. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan . struktur) ringan . sedang tehadap erosi alur. untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb.Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang.

Kerentanan terhadap deposisi.Sifat rentan terhadap erosi lapis. CH > 200/bulan. CH > 200/bulan. Iklim < menguntungkan (ringan). .) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). Berturut.Karakteristik fisik tanah. berat. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan. kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). dangkal (30-60 cm) . erosi tebing sungai.Setelah drainase.Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. berat .Jeluk. erosi tebing sedang . .Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Setelah drainase.Rentan pengendapan. . sedang . sangat < menguntungkan. : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Jeluk. kebasahan dan kebecekan. . bulan kering 5 bulan.Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan). bulan kering 5 bulan Berturut. alur dan longsor.Karakteristik tanah yang tak menguntungkan.Kesuburan alami rendah . . .Setelah drainase. berat . sangat dangkal (15-30 cm) . sehingga perlu konservasi intensif. 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kondisi iklim yang tak menguntungkan.Klasifikasi Kemampuan Lahan .

sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase. (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun.) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. terdapat banyak batu . rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Klasifikasi Kemampuan Lahan . Jeluk. dangkal (10-15 cm). pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Jeluk. .) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk. dangkal (< 15 cm).Kesuburan alami rendah . dangkal < 10 cm Kesuburan alami.

Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. agroforestry. 4. CH < 100 mm/bulan. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry. dan hutan. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. padang rumput atau hutan.3. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pada rumput. pada rumput dan hutan. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. dan hutan. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian.4. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. Hanya konservasi DAS 4. atau hutan. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat.Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. Sesuai untuk perlindungan DAS. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan.

Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. struktur.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 . sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan. Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien. tekstur dll) Iklim.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Tanah.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi. dan Gradien 1a.3).1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. 1c. Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. kedalaman tanah (Tabel 2. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2. Gunakan Tabel 3. Ikliim.6).2) dan tingkat banjir (Tabel 3. Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3.9).6). Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 . Gunakan Tabel 3.4). tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3. 1b. Gunakan Tabel 3.

lanjutkan ke LANGKAH 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. tanah. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2.lanjutkan ke LANGKAH 3. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s . kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a. ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras. Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c .lanjutkan ke LANGKAH 3. iklim. Gunakan Tabel 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d.lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g .

lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 . Inceptisol.lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Entisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa.

4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump. Flow.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V.namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan . atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan .Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) . Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras . II. VI. Fall. atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . sedang. VII.lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3.1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar . atau Tanah longsor adalah ringan.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I.

Gambar 4.Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e.1. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 .

yaitu e (erosi).1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. w. Oleh karena. a (keasaman). hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. 1994) dan metode Webb (1984). metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. sesuai (S2). Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. s (tanah). yaitu : sangat sesuai (S I). Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. w (drainase).Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim). Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. tanaman keras. Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan. g dan sd) atau sebaliknya. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. e. Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan.

Sumber tenaga. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. alat & mesin. Pasar (market oriented). Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. konsultan dll.1. 3. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu.bibit. Intensitas tenaga kerja 5. 8. pabrik. pasar. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. tanah. 5. manusia. ketrampilan dll. Tingkat Teknologi yang Tersedia. 2. Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. Intensitas modal 4. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain. pupuk. tk pendidikan. hewan atau mesin 6. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. Kebutuhan Infra Struktur. hidrologi dan vegetasi. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 7. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim.

Tingkat Pendapatan. ketahanan erosi. perkapita. Ketersediaan air. per produksi. perseorangan. ? Luas lahan per petani. Sistem Pemilikan Lahan. slope. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. tekstur. lokasi terpisah atau menyatu. 11. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. dilakukan sekali. per luas. reklamasi tanah dll. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. kelompok dll. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. Jaringan irigasi. penambahan BO dll. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. Pemupukan. 1. dll. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. 2. 10. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. Luas dan Pemilikan Lahan. CH. Contoh Kebutuhan oksigen dll. kapasitas menahan air.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Pemberantasan gulma. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. pembuatan saluran drainase dll.2. Ekonomis. 2. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3. lereng) teknis tidak b. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya. yaitu: 1. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. Pertimbangan yang dipakai: a. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Ordo 2. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. Terdapat dua order yaitu: 1. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. Terdapat empat kategori. 5. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4.

S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. d. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. b. Misl. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. bahaya erosi dll. e. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. mk dapat dipakai bersama sama. pembatas berpengaruh pada output. b. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. Kekurangan air. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. c. yaitu: a. dan menambah input. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a.

data yang tersedia sebagai dasar evaluasi. Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas.macam penggunaan yang direncanakan .data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi .Apa tujuan evaluasi . .pendekatan yang digunakan .luas dan batas daerah yang dievaluasi . N2w S3n-1. misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1.1. S3n-2.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Konsultasi awal. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x. S3n-1. S3t N2t. S2n-2. menjabarkan tujuan evaluasi. S2e-2 N1e.3. S3n-3 dll. S2w S2e-1. N1n - 5. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan. S2n-1. Tabel 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas. S3n-2 dll Unit S2e.

Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. persyaratan dan pembatasnya. Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5. Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Penutup. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah.intensitas dan skala penelitian . Satuan lahan dan kualitas lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. Klasifikasi kesesuaian lahan c. produksi. evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. 4. penggunaan saat ini dll. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi. . (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas).

Masam & Alkalis Tabel 5.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S. rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5.3. data. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5. asumsi. Ada Netral-A.Alkalis Ada S.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan.4.Masam T. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan .hls Sdg-rdh T.2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar.25 25-50 > 50 pH Ksr.sdg. Ada Masam-A.1.

sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.8. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar .Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5.7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 .5.6.

Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.9.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.10.

Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. Mg. serta tempat penyedia air.Klasifikasi Kesuburan 6. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. pH (H2O) rasio 1:1 c. 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. 1982 dan Sanchez and Boul. 4. gudang dan penyuplai unsur hara. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. 3. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. Tekstur tanah b. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 .1. Kadar Ca. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al.

Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah. pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org). bila pH (H2O) 1:1 < 5. 1983) Tabel 6. bila kadar liat > 35% c. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO.Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5.1. Fe2O3 bebas. Kadar Al terekstrak 1 N KCl. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain .0 b.

2. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2.Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6. kadar liat > 35 % : Organik.

dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . xerik.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. dicirikan pH > 7. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. : Kering. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah. tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. aridik. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley.15 : Alofan dominan. dicirikan Kdd < 0. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. : KTK rendah. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0.

Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe.5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 . subtipedan modifier scr berurutan.Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil. dicirikan pH (H2O) < 3.

Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama .Ngarai .Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih . BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. AGRO W.Kawah Gunung Api .1. Tabel 7. ALAM W. Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata.Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket. BUDAYA W. PARIWISATA (OBYEK) W. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain.Evaluasi Lahan Non Pertanian 7.Api Abadi .1. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7.Tofografi Unik . 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 .Taman Laut .1. ILMU W.

Keamanan .Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Untuk Berobat .Hiburan Malam . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Keuangan . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .Salju abadi .2.Transportasi .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Sun Shine Suhu udara Cuaca .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Keperluan Sehari-hari .Sun set .Angin Tabel 7.Sinar Matahari .Penginapan .Komunikasi .

1. BC dan BO 7. sil = lemp. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S.Buruk GW A.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 .Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7.l.074 mm  Debu : < 0.7 mm – 0. Baik & a. sicl = lemp. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A.0 – 4.berpasir sangat halus. sil > 100 cm 0% 2–6% cl. s. scl = lemp. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7. Baik & A. fsl = lemp.2.01 – 0. vfsl = lemp. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm.lambat 0-2% sl.sepat.Buruk.Lambat. 7.1 % Batu (25 mm .berpasir halus.berdebu. ls 50 – 100 cm < 20 % 0.2. s = pasir.Lambat >6% sc. sdg A. Buruk > 50 cm S. c = liat.7 mm  Pasir : 4.liat berdebu. cl =lemp. c. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA. sic = liat berdebu.2. ls = pasir berlemp.3.Cepat. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. vfsl.01 . l = lempung. org < 50 cm > 20 % >3% > 0. fsl. Sc = liat berpasir.2. plastisitas. sic.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp. scl. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt.liat berpasir.3 % 0.liat.Buruk.berpasir. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials).baik.1 % S. sicl.

(USDA. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.09) Tabel 7. OH.09) Tinggi (> 0. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA.09) CL dng PI > 15.03) Tinggi (> 0.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7. SW.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0. OH. CL dng PI < 15 CH. SM. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.03) Sedang (0.03-0.09) 0. GM. MH. SP.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL. SC OL. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan . PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0. GW.5. GC.4.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. GP.03Rendah (< 0.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

r = rendah.C-organik > 1. ah = agak halus.Singkapan batuan (%) <5 5 .Penggunaan Lahan d.8 Toksisitas(xc) .P2O5 .Bahan.6 td st.N-Total st. k = kasar.8 . h = halus. s = sedang.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . s r sr td .2-7. s r sr td .6 < 4.2 0.16 16-30 >30 .2 < 0. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . t s r sr .KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .Tekstur s. t = tinggi.8-5.2 4.Lereng (%) .K2O st.Drainase b.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .2 / 7.Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . data.8 / > 7. t.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .1. s b sb Bahaya banjir (f) . ah h ak k . td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan . <8 8 .Bahaya erosi sr r. at s t st Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .15 15 .15 15 .25 >25 st = sangat tinggi. t. ak = agak kasar.40 >40 . Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .pH H20 5. sr = sangat rendah.2-7.

4 . t = tinggi. k = kasar.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .2 4. ak = agak kasar.40 . s = sedang. kasar (%) < 15 15 .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) .55 .35 < 20 .8-5.Batuan di permukaan(%) <5 5 . t. sr = sangat rendah.4 <4.Bahan.Penggunaan Lahan e. data. Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . r = rendah.2-8.sr td .pH H20 5.35 35 .25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.Lereng (%) .75 25 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .K2O st.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) .15 15 .16 16-30 .Drainase b s t Media perakaran (r) .st r-s sr .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 . ah = agak halus.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .2/8.1.N-Total t .2-8. s r . <8 8 .2 < 0.2 0. ah s ak .8 / >8.8 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) .Tekstur h.C-organik > 1.Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . h = halus.8 Toksisitas(xc) .75 Retensi hara (n) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .P2O5 st t-s r .

Loreng (%) .1.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .K2O st t-s r sr .75 25 .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) . <8 8 .25 >25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .5.Drainase b.55 > 55 .Penggunaan Lahan f. kasar (%) < 15 15 . ak = agak kasar. r = rendah. t = tinggi.2 / > 6.8 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .8 < 5. td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . s = sedang.2 5.75 20 – 24 / 75 .2 0.6.35 35 .40 >40 .Bahan.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .6.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . k = kasar.N-Total st. t.2 < 0. ab s t.5 .C-organik > 1. sr = sangat rendah. s r .5 / 6 2 .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 .Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) . h = halus.2 .sr td td .35 < 20 .P2O5 .8 t .15 15 .16 16-30 >30 . data. ah = agak halus.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) . Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s ah h k .pH H20 5.st r-s sr td .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Tekstur ak. at st Media perakaran (r) .15 15 .8 Toksisitas(xc) .75 < 25 Retensi hara (n) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .

s < 15 > 75 s ah 15 .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .Bahan.75 20 – 24 / 75 . kasar (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . data.8 t . at h 35 . r = rendah.st r-s st.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . t = tinggi.15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. s = sedang.35 5.sr st t-s > 1.35 50 .Penggunaan Lahan g.Loreng (%) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Drainase Media perakaran (r) .6. h = halus. s r .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 .Tekstur .Kejenuhan Basa (%) .C-organik Toksisitas(xc) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .16 r-s 5 .90 < 20 / > 90 b.2-5.2 / > 6.8 .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .2 5. sr = sangat rendah.5 . t.5 / 6 2-6. ab ak.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .2 0.8 sr td r < 0.75 t.25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .1. ah = agak halus. Gandum S1 21. ak = agak kasar.15 5 .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 . . k = kasar.pH H20 .75 < 20 < 5.55 25 .Batuan di permukaan (%) .40 15 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .KTK liat (cmol) .P2O5 .N-Total .K2O .

Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) .Bulan kering (bln) 8-4 2.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .s r sr .5 1. h = halus.4 Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .pH H20 5.15 15 .Drainase b.3 < 5.5/8.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi.N-Total st.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 . sc Media perakaran (r) .Bahaya erosi sr r. sr = sangat rendah. at s t st. s r sr td .Lereng (%) .Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) .15 15 .K2O st. r = rendah.3-5.Bahan. s b sb Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar.5-2.3 td .5-8.C-organik > 0.2-8. s = sedang.Penggunaan Lahan h.5 .t.5-9.Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) . Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .P2O5 st t.5 / >9. ah = agak halus.4 td ≤ 0.Tekstur h. t.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5 5. data.5 <1. k = kasar.40 >40 . s ah ak k .3/ > 8.5-4 / 8-8.5/8.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) . s r sr . td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Singkapan batuan (%) <5 5 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . <8 8 .

Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 . t = tinggi.5/6.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .40 >40 .Drainase b.C-organik > 0.5-7.5-6.P2O5 td td td td ≤ 0.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .Tekstur ah.N-Total td td td td . <3 3-8 8-15 > 15 .Bahaya erosi sr r.Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .Bahan.8 .Penggunaan Lahan i. s = sedang.K2O td td td td .pH H20 5.Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .0-5.Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td . at s t st Media perakaran (r) . sr = sangat rendah.5 td . s b sb Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar. ah = agak halus. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .5 5. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .8 td td Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) >16 td td . r = rendah.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . h = halus.Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi. data. s ak h k .0 / > 7. k = kasar.Lereng (%) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .5 < 5.

15 15 . t = tinggi. s b sb Bahaya banjir (f) .Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s ah h k . Iles-Iles (Amorphophalus sp. c Media perakaran (r) .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) . k = kasar.Lereng (%) .C-organik > 0.Bahaya erosi sr r.15 15 . ah = agak halus.pH H20 5. <8 8-15 15-30 >30 . ak = agak kasar.Bahan.40 >40 .5 / >7.Singkapan batuan (%) <5 5 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . sr = sangat rendah.Batuan di permukaan (%) <5 5 .0-7.5 td .0-7. td = tidak ada data.P2O5 r sr td td .0 4. r = rendah.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . ab at s.Tekstur ak.25 >25 st = sangat tinggi.K2O r sr td td .Drainase b. t st.0-5. 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . s = sedang. h = halus.Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .5 <4.4 td ≤ 0.0 / 7.Penggunaan Lahan j.N-Total r sr td td . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .4 Toksisitas(xc) .

<8 8 .P2O5 .Bahan. r sr td td . t.0 > 2. t.6-7.8 Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Lereng (%) . ah = agak halus. r = rendah.0 td st.6-8. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 . sr = sangat rendah. t s r sr .Singkapan batuan (%) <5 5 .pH H20 5. ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . s. td = tidak ada data.Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .5-2.N-Total st. s = sedang.Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .0 < 5.Salinitas (dS/m) <1 1-1.Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .40 >40 .15 15 .4 / > 8.1.6 5.0 Sodositas (xn) . s ah ak k . Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .6 / 7.15 15 .2 0.5 1.4-5.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .2 < 0.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . k = kasar.16 16-30 >30 .25 >25 st = sangat tinggi. Tanaman Kacang-Kacangan a.C-organik > 1.2. at s t st. h = halus.Tekstur h.Bahaya erosi sr r.8 . c Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .K2O st. s b sb Bahaya banjir (f) . t = tinggi.Drainase b. s r sr td .Penggunaan Lahan 8.

s 5 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . t = tinggi. td = tidak ada data.2-7. h = halus.8 / > 7.8-5. sr = sangat rendah.P2O5 .Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .Penggunaan Lahan b. kasar (%) .2 / 7. t. t. s st.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Lereng (%) . t > 1.2 2-4 10 -15 8 .2 st.16 r. .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Batuan di permukaan (%) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 t ak 35-55 50-75 td td < 4.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Drainase Media perakaran (r) . r = rendah. 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ak = agak kasar.Bahan. at s.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . s st. c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4. ah < 15 > 100 > 16 > 20 5. ah = agak halus. k = kasar.Tekstur .8 . s = sedang.2-7.1.K2O .25 .15 5 . Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.6 sr sr r < 0.Kejenuhan Basa (%) .C-organik Toksisitas(xc) .N-Total .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .6 r r s 0.pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st.KTK liat (cmol) .40 15 .

5 2.2 < 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .st r-s sr td .5 5.5 3.Singkapan batuan (%) <5 5 .C-organik > 1.Lereng (%) .N-Total st.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 15 .Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .pH H20 6. t = tinggi.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . c Media perakaran (r) .Drainase b.16 16-30 >30 . r = rendah.Bahan.40 >40 . ah = agak halus.Penggunaan Lahan c. ah s ak k . t.5-6. <8 8 . ak = agak kasar. s = sedang.1.60 20-50 < 20 Retensi hara (n) . at s t st.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .P2O5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 .8 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .5-3.0 >6 Sodositas (xn) . k = kasar.Salinitas (dS/m) < 2.0 < 5. s r .Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) . sr = sangat rendah. kasar (%) < 15 15 .35 35 .K2O st t-s r sr .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .2 0. h = halus.25 >25 st = sangat tinggi.8 Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Tekstur h.5-8.0-7.35 < 20 .55 > 55 .8-6.sr td td .8 / > 8.0/7. td = tidak ada data.0 t .

at h.35 50 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Kejenuhan Basa (%) .KTK liat (cmol) .16 r-s 5 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .6-8. .K2O . h = halus.Bahan.15 1.Drainase Media perakaran (r) .Tekstur .8 1-1.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5 May-09 8 .8 . 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan .75 t ak 35 .40 15 .P2O5 .35 < 20 5.Penggunaan Lahan d.55 25 . s st > 1. ak = agak kasar. s < 15 > 75 > 16 > 35 5. t.2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.6 / 7. sr = sangat rendah.5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 . r = rendah.6 t .Batuan di permukaan(%) .0 r-s sr r . t = tinggi. s = sedang.0 < 5.C-organik Toksisitas(xc) .4 / > 8.6-7.Singkapan batuan (%) ≤16 20 .sr td t-s r 0.pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.N-Total .1.Loreng (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .15 5 .50 st. kasar (%) . td = tidak ada data. k = kasar. ah = agak halus. c k > 55 < 25 - .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .st st.2 < 0.4-5.

Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .K2O st t-s r sr .4-5.Loreng (%) .6 5.Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .55 > 55 . td = tidak ada data.pH H20 5. <8 8 .2 < 0.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .1. ak = agak kasar.75 25 .25 >25 st = sangat tinggi.6 / 7. Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Singkapan batuan (%) <5 5 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . t = tinggi.40 >40 .8 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .2 0.16 16-30 >30 .Bahan.8 Toksisitas(xc) .st r-s sr td . h = halus.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 . t.4 / > 8.6-7. s r . s ah ak k .0 < 5. s = sedang.C-organik > 1. sr = sangat rendah.35 35 . ah = agak halus. c Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .sr td td .Drainase b.6-8.15 15 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .N-Total st.0 t .Salinitas (dS/m) <1 1-1.5-2 >2 Sodositas (xn) .5 1. k = kasar. kasar (%) < 15 15 .Tekstur h.75 < 25 Retensi hara (n) . ab s t st.P2O5 . r = rendah.Penggunaan Lahan e.15 15 .

Bahan.Penggunaan Lahan 8.16 16-30 >30 . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .s r sr td .KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 .0 td st.5-4 4-5 5-6 >6 .2 / 7.Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td . ah = agak halus. sr = sangat rendah.Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 .2-7. r = rendah.K2O st t.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .8 td Toksisitas(xc) .P2O5 ≤ 0.Lereng (%) . k = kasar.8 .5 4. s r sr td .t. t = tinggi.3.8-5. s = sedang.25 >25 st = sangat tinggi.Tekstur ah. Tanaman Perkebunan a. s h ak k .8 / > 8.15 15 .C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) < 20 td td . ak = agak kasar.Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) .0 < 4. at s t st.Bahaya erosi sr r.Singkapan batuan (%) <5 5 . t. s b sb Bahaya banjir (f) .Bulan kering (bln) 2.N-Total st. h = halus. sc Media perakaran (r) . 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 15 .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .40 >40 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . td = tidak ada data.Drainase b.5-8.pH H20 5. <8 8 . s r sr .

Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 . ak = agak kasar. sr = sangat rendah.Tekstur .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . r = rendah. t = tinggi. td = tidak ada data. Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b.8 td 8-16 r. s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi.KTK liat (cmol) . at h.1-1.Drainase Media perakaran (r) .K2O . k = kasar.5 1.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .5-6.8-2.8-1.1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.8 1.N-Total .6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . h = halus. s = sedang.Curah Hujan (mm) .Bahan.0 td td td > 1.C-organik Toksisitas(xc) .P2O5 .5 / > 7.Batuan di permukaan(%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Kejenuhan Basa (%) .2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2. ah < 15 > 150 >16 > 35 6.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5. kasar (%) .5 < 1.0-7.Lereng (%) .Singkapan batuan (%) td td td 0.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0-7.Penggunaan Lahan b.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . .0/7.6 td td td < 0. ah = agak halus.

Batuan di permukaan(%) <5 5 . k = kasar.40 >40 .25 >25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .6 5.4 td ≤ 0. t = tinggi.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . c Media perakaran (r) .15 15 .Penggunaan Lahan c.Lereng (%) .15 15 .Bahaya erosi sr r.Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .Tekstur h. t st. h = halus.0-7. s = sedang. s b sb Bahaya banjir (f) . ah = agak halus.0 / 7.P2O5 r sr td td .6-8.K2O r sr td td . ak = agak kasar.6 / > 8.0 < 5.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ab at s. r = rendah.0 td .6-6.pH H20 6.Drainase b. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) . <8 8-16 16-30 >30 .C-organik > 0. td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 . ah s ak k .Curah Hujan (mm) . sr = sangat rendah.Bahan.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) . Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .4 Toksisitas(xc) .N-Total r sr td td .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .

sr td td . ak = agak kasar.Drainase b. ab at s.16 16-30 >30 . s = sedang.Tekstur h. r = rendah.Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) .8 ≤ 0.15 15 . ah = agak halus. t st. s r .Loreng (%) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Penggunaan Lahan d.35 35 . sr = sangat rendah.2-5.st r sr td . <8 8 .0 t .P2O5 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . c Media perakaran (r) .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 . h = halus.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .0-6. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .pH H20 5.2 / > 7.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .5-7. kasar (%) < 15 15 .Bahan. t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .5 4.0 / 6.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . td = tidak ada data.0 < 4.Curah Hujan (mm) .C-organik > 0. k = kasar.55 > 55 .40 >40 .Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .N-Total st. s ah ak k .K2O st t-s r sr .Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .25 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . t = tinggi.8 Toksisitas(xc) .15 15 .

Penggunaan Lahan e.15 15 .0 Sodositas (xn) .pH H20 5. k = kasar. t = tinggi.K2O st t-s r . h = halus.40 .8 .35 35 .4 t . sr = sangat rendah.15 15 .Loreng (%) .Curah Hujan (mm) .25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 .5 / 7.Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) . c k > 55 < 50 - td td sr > 2.6-6.Tekstur h.sr td .N-Total st.Bahan. ah = agak halus.2 < 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .8 Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .3 < 5. td = tidak ada data. s ah ak .C-organik > 1.5 td 0.0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan .35 < 20 . Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o . ak = agak kasar. s r .Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang.5-2.16 16-30 / 16-50 .Salinitas (dS/m) < 0.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .Drainase b s at Media perakaran (r) .6 6. <8 8 . r = rendah.6-7.P2O5 . >6 < 20 / > 90 t.55 . t.st r-s sr .2 0.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .1.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . kasar (%) < 15 15 .

Bahan.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .0 Sodositas (xn) .8 td td ≤ 0.Penggunaan Lahan f. k = kasar.15 15 . s r sr td .0 / 6. c Media perakaran (r) . sr = sangat rendah.Drainase b s at t.Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 .8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus.16 16-30 >30 . t.0 > 2.0 1.K2O st. ah s ak k . td = tidak ada data.Salinitas (dS/m) < 0.0 4. Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Tekstur h. t s r sr .P2O5 .40 >40 . s = sedang.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Lereng (%) .0-6.KTK liat (cmol) td td td td . s r sr td .5-1.0-6.5-5. t.pH H20 5.5 / > 6. kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 . t = tinggi.5 < 4. r = rendah.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td .Curah Hujan (mm) .5 td st.N-Total st. Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 .C-organik > 0.15 15 . h = halus. <8 8 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Bahaya erosi sr r.Singkapan batuan (%) <5 5 .5 0.25 >25 st = sangat tinggi. ak = agak kasar. s b sb Bahaya banjir (f) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .0-2.

8 5.8 Toksisitas(xc) .8 . kasar (%) < 15 15 .Penggunaan Lahan g.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bahan.Drainase b.35 35 . c Media perakaran (r) .55 > 55 .16 16-30 >30 .0 < 5. k = kasar. t st.35 < 20 .2 < 0. t = tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .0 t .7.2 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .K2O st t-s r sr .8-8.Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) .0-5. ab at s.Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) . sr = sangat rendah.Singkapan batuan (%) <5 5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . s h ak k . ah = agak halus.N-Total st.Tekstur ah.5 / 7.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .1.P2O5 .st r-s sr td . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 15 .Loreng (%) . h = halus. s = sedang. td = tidak ada data.C-organik > 1. s r .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . Kina (Cinchora spec.15 15 .sr td td .div.0 / > 8. r = rendah. t. <8 8 .40 >40 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .5 .pH H20 5.Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .25 >25 st = sangat tinggi.

35 35 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .C-organik > 0. s r . Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) .Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) .75 25 .Bahan.K2O st t-s r sr .pH H20 5. ah s ak k .8 Toksisitas(xc) .15 15 . c Media perakaran (r) .P2O5 . t.Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) . <8 8 .15 15 .50 < 25 Retensi hara (n) .5-8.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . at st.2-7.Tekstur h.Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .16 16-30 >30 .8 / > 8. r = rendah.Drainase b. ah = agak halus.Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 .0 < 4.25 >25 st = sangat tinggi. td = tidak ada data.8 td ≤ 0.Loreng (%) .Singkapan batuan (%) <5 5 .0 t .40 >40 . s = sedang. ab s t.Penggunaan Lahan h. ak = agak kasar.sr td td .8-5. k = kasar.st r-s sr td . t = tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . sr = sangat rendah.2 / 7. Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .5 4. kasar (%) < 15 15 .55 > 55 .KTK liat (cmol) td td .N-Total st. h = halus.

8 / > 5.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .15 15 .sr td td .N-Total st.5 3.5 < 0.st r-s sr td . ak = agak kasar.8 t .Penggunaan Lahan i.Tekstur h.8-4.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ab at t.Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 . t = tinggi.25 >25 st = sangat tinggi.5-5.40 >40 . s st.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) . kasar (%) < 15 15 .Bahan.8 < 3. h = halus.pH H20 4.5 0.8 Toksisitas(xc) . sr = sangat rendah. r = rendah.Singkapan batuan (%) <5 5 .5 / 5. td = tidak ada data.5-5. s r . s = sedang.Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 . k = kasar. <8 8 . Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . c Media perakaran (r) .K2O st t-s r sr .C-organik > 1. ah s ak k . ah = agak halus.P2O5 . t.Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .8-1.16 16-30 >30 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Curah Hujan (mm) .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .15 15 .55 > 55 .35 35 .Drainase b.Loreng (%) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .

r = rendah.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b. k = kasar.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . h = halus.5-5.Singkapan batuan (%) st. s.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang. ah < 15 < 100 > 16 > 35 5. t.P2O5 .15 sr td r < 0.5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.1. s st.Tekstur . ak = agak kasar.5 / > 7.40 15 .8 .C-organik Toksisitas(xc) .Curah Hujan (mm) . s f1 5 .Kejenuhan Basa (%) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . sr = sangat rendah.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Bahan. ah = agak halus.Drainase Media perakaran (r) . c k > 55 < 50 td td td . at h. t = tinggi.K2O .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.16 r.2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0.0-6.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0-7.Batuan di permukaan(%) .Penggunaan Lahan j. Kapuk (Caiba pantandra G. . t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 .KTK liat (cmol) .2 4-6 15-20 8 .N-Total .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4. td = tidak ada data.15 5 .Lereng (%) . t > 1.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 . r st.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . kasar (%) .5 td st.0 / 6.

0 / > 8. s ah ak k .K2O st t-s r sr . <8 8 . ah = agak halus.st r-s sr td .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . ab at s.pH H20 t .0/7.0 4.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .0-7.Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan k.0 .Bahan. t st.Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 .C-organik > 0. td = tidak ada data.16 16-30 >30 . c Media perakaran (r) .Lereng (%) .0-8.4 Toksisitas(xc) . s = sedang.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .4 td td ≤ 0.Batuan di permukaan (%) <5 5 .Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .40 >40 . ak = agak kasar.0 < 4.P2O5 . 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan .N-Total st.15 15 . kasar (%) < 15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5. t. h = halus.15 15 .55 > 55 .0-5. t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 .Drainase b. k = kasar. s r . r = rendah.sr td td . sr = sangat rendah.25 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) .Tekstur h.

0 Sodositas (xn) .pH H20 t .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.Bahan. t = tinggi.3-6.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .40 >40 .0 5.K2O st t-s r sr . c Media perakaran (r) .0-6.Loreng (%) . s = sedang. s r .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .25 >25 st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 . td = tidak ada data.5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar. h = halus.55 > 55 .st r-s sr td .3 / > 6.P2O5 . t.Tekstur h.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . <8 8 .15 15 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .Penggunaan Lahan l.N-Total st. ah s ak k .8 ≤ 0. sr = sangat rendah.Drainase b s at t. kasar (%) < 15 15 .8 Toksisitas(xc) .3 / 6.0-5.Batuan di permukaan(%) <5 5 . ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 .sr td td .15 15 . k = kasar. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .5 < 5.35 35 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Curah Hujan (mm) .Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2. r = rendah.C-organik > 0.

C-organik Toksisitas(xc) .5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .sr t-s ≤ 0.KTK liat (cmol) .Drainase Media perakaran (r) .16 r-s td 5 .4 5-8 Oct-09 8 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5-7.0-5.Penggunaan Lahan m. Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .15 5 . t. s < 15 > 75 > 16 > 50 5.Singkapan batuan (%) t . sr = sangat rendah.pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b. c k > 55 < 25 - . s = sedang.K2O . ab h.Loreng (%) . r = rendah.CH harian (mm) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0-8.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s. kasar (%) .0 st.Batuan di permukaan (%) . .5 / >8. td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Kejenuhan Basa (%) .40 15 .Tekstur .P2O5 . 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan . k = kasar. ak = agak kasar. s st > 0.st st. t ak 35 .N-Total .5/7.35 50-75 ≤16 35-50 5. h = halus.15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 . ah = agak halus.Bahan.25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.55 25-50 < 35 <5.

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

KTK liat (cmol) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . s 5 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Singkapan batuan (%) r r r > 1. s = sedang. td = tidak ada data. Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ah = agak halus.8 / > 8.8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5. r = rendah. t = tinggi. ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.40 15 .Penggunaan Lahan c.Drainase Media perakaran (r) .Tekstur .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . at h. h = halus.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0.15 td td td < 0.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .15 5 .0-7.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. c k > 55 < 20 td td td . kasar (%) .8-1.2 2-3 20-35 8-16 r. ak = agak kasar.K2O .0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . sr = sangat rendah.Bahan.8 3-5 35-50 16-30 b td 15 .N-Total . .0 td st.Lereng (%) .8-8.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Batuan di permukaan(%) .Kejenuhan Basa (%) .8-6. k = kasar.0/7.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.C-organik Toksisitas(xc) .P2O5 . 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

2 < 0.Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) . s b sb Bahaya banjir (f) .0 / 7. Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 .15 15 . t s r sr .8 . ah = agak halus.Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.40 >40 .C-organik > 1.0 td st. r sr td td . r = rendah.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .0-7.15 15 . s r sr td .8 Toksisitas(xc) . s = sedang. c Media perakaran (r) .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . t. ak = agak kasar.Singkapan batuan (%) <5 5 .K2O st.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td . t. h = halus.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .8 / > 8. sr = sangat rendah.N-Total st. Bawang Putih (Allium sativum L.Batuan di permukaan(%) <5 5 . k = kasar.P2O5 .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .8-8.2 0.Tekstur ah.Drainase b. t = tinggi.Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) .Bahaya erosi sr r.Bahan.0 < 5. s h ak k .Penggunaan Lahan d. <8 8 . s.pH H20 6.16 16-30 >30 .8 5. td = tidak ada data. at s t st.1.Lereng (%) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) .8-6.

at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . s 5 .8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0.KTK liat (cmol) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0-2. k = kasar.0-7. s st. sr = sangat rendah. t = tinggi.Drainase Media perakaran (r) .16 r.K2O . c k > 60 < 30 td td td .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . ak = agak kasar.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data.Batuan di permukaan(%) . kasar (%) .0 15-20 8 . 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan .40 15 .Curah Hujan (mm) .15 sr sr r td 1. t > 0.C-organik Toksisitas(xc) .0 / 7.25 td td sr td > 2.Penggunaan Lahan e.0 td td st.Lereng (%) .Bahan.5-6.Kejenuhan Basa (%) .N-Total .Singkapan batuan (%) st.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . .8 0. t. h = halus. ah = agak halus. t. r = rendah.P2O5 .0 20-25 16-30 b f1 15 .6 td td s h.5-1. s st. s = sedang.pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b.5 / > 8.Tekstur . Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .15 5 .0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5.6-8.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .40 >40 .25 >25 st = sangat tinggi.0 < 5.15 15 . t = tinggi. at s t st.16 16-30 >30 .0 . k = kasar.6 5.P2O5 . sr = sangat rendah. s r . c Media perakaran (r) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 .C-organik > 0.sr td td .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bahan.pH H20 t .35 35 . t.st r-s sr td .Tekstur ah h. s ak k .0-7.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .8 td td Toksisitas(xc) .Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) .8 ≤ 0. kasar (%) < 15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6. r = rendah. Paprika (Capsicum sp.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .K2O st t-s r sr .Lereng (%) . td = tidak ada data.Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan f.0 / 7.5-6.Drainase b.Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 . ak = agak kasar.5 / > 8.6-8. h = halus.N-Total st.55 > 55 . <8 8 . s = sedang. ah = agak halus.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .

Singkapan batuan (%) t .8 < 4.P2O5 . sr = sangat rendah. r = rendah.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . td = tidak ada data.Tekstur .Kejenuhan Basa (%) . ah 15 .55 25 .50 <35 < 5. c k > 55 < 25 - . at s < 15 > 75 > 16 > 500 6. 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahan.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8-8. t = tinggi.25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.8 / > 8. ak = agak kasar.sr t-s ≤ 0.Drainase Media perakaran (r) .Batuan di permukaan(%) .15 5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . .40 15 . Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan g.st st.KTK liat (cmol) . k = kasar.8 4.75 ≤ 16 35-50 5.35 50 . kasar (%) . ah = agak halus.0-7. s = sedang.15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 .0 st.pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .8-6.K2O . t.8 s h.5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .Loreng (%) . s st > 0.5-7 15-20 8 .16 r-s 5 .0 t ak 35 .N-Total .Curah Hujan (mm) . h = halus.0 / 7.C-organik Toksisitas(xc) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .

Curah Hujan (mm) 350-800 . ak = agak kasar.8 4.15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 . c k > 55 < 25 - r-s r . at Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 . h = halus.8 Toksisitas(xc) .55 25-50 < 35 < 5.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 t .5-7 td 8 .KTK liat (cmol) > 16 .0 td < 50 st.0-7. ah 15 .K2O st .sr t-s ≤ 0.Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h.35 50-75 ≤16 35-50 5.0 td 50-60 / > 95 t ak 35 .P2O5 . r = rendah.16 r-s 5 .0 / 7.Kejenuhan Basa (%) > 50 6.Loreng (%) .5 Sodositas (xn) .Salinitas (dS/m) < 4. td = tidak ada data.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .15 5 .Bahan. ah = agak halus. sr = sangat rendah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 . s = sedang.8 / > 8.N-Total st.8-8.Tekstur s .Drainase b. s .Penggunaan Lahan h.Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .8-6.Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) .8 . t = tinggi.st . k = kasar.Batuan di permukaan(%) <5 . Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .40 15 . t.C-organik > 0.25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. <8 .Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) .

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Singkapan batuan (%) sr td r < 0.5-4. s st > 1.2 1. t = tinggi.N-Total .0-7.Tekstur .6 st.15 < 20 / > 90 t h 35 . r = rendah.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 .15 5 .K2O .2 < 1. k = kasar.) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .5-7 35-50 16-30 b 15 .55 25-40 < 20 < 5.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Batuan di permukaan(%) .Loreng (%) .25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .6 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0 5.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 . c k > 55 < 25 - 6.40 15 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .8-1.st st.35 40-60 ≤16 20-35 r-s r . td = tidak ada data.Bahan.7-6.KTK liat (cmol) .sr t-s 0. Sawi (Brassica rugosa F. . ah = agak halus. s = sedang. Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 .8 4.0-7.16 r-s 5 .CH harian (mm) .C-organik Toksisitas(xc) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . t. sr = sangat rendah.7 / > 7.Kejenuhan Basa (%) . at ak.5 20-35 8 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b. h = halus.Penggunaan Lahan l.Drainase Media perakaran (r) . ak = agak kasar. kasar (%) .0 / 7.

5 1.Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.40 .35 35 .2 < 0.Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 . ak = agak kasar.0-7.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .P2O5 .st r-s sr .8 Toksisitas(xc) .5 4. N <4 / >35 <150/>1000 st.5-7 Sodositas (xn) .15 15 .Tekstur ak. t = tinggi.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .7 / > 7.5-4. s r .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ah = agak halus.0-7.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Loreng (%) .25 st = sangat tinggi. h = halus.Drainase b. <8 8 .Penggunaan Lahan m.55 . r = rendah. kasar (%) < 15 15 . at s t Media perakaran (r) . Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .0 5. sr = sangat rendah. s = sedang.N-Total st.pH H20 t .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .0 / 7.16 16-30 . td = tidak ada data.7-6.6 < 5.2 0.Bahan. k = kasar.Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 . c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .8-1.Curah Hujan (mm) .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . ah s h . t.C-organik > 1.6 .sr td .K2O st t-s r .Salinitas (dS/m) < 1.

55 25-50 < 20 <5.Drainase b. kasar (%) < 15 . t.8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .5 / >8.Tekstur ah. s .Kejenuhan Basa (%) < 35 .Curah Hujan (mm) 400-700 .P2O5 .25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.0 td st.8-1.5-6.0 td <20 / >90 t ak 35 .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .15 sr td r < 0.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan n.Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) .st .5-8.KTK liat (cmol) > 16 .2 5-8 15-25 8 .0/7. ah = agak halus. r = rendah. at Media perakaran (r) .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .K2O st .pH H20 6.Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 .40 15 .sr t-s 0.16 r-s td 5 .2 Toksisitas(xc) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .15 5 .0-7.35 50-75 ≤16 20-35 5. k = kasar. Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .N-Total st. sr = sangat rendah. <8 . td = tidak ada data. ak = agak kasar.Bahan.Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) <5 .5 t . s .Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) . t = tinggi. h = halus. c k > 55 < 25 - r-s r . s = sedang.C-organik > 1.Loreng (%) .

Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) . sc Media perakaran (r) .15 15 .2 / > 8. t = tinggi.P2O5 .Lereng (%) .Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 . s r sr .0-8. 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2 0.N-Total st. ak = agak kasar. s r sr td .0 < 5.8 Toksisitas(xc) . kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) . <8 8 .Tekstur ah. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .8-1. s = sedang.0 5.Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5. s b sb Bahaya banjir (f) . td = tidak ada data.2-5. h = halus.40 >40 .Bulan kering (bln) td td td td .K2O st t.25 >25 st = sangat tinggi.Drainase b.Batuan di permukaan (%) <5 5 . at s t st. k = kasar.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .15 15 .s r sr .C-organik > 1.Singkapan batuan (%) <5 5 .t.Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .16 16-30 >30 . t.Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) . sr = sangat rendah.Bahan.6/7.Penggunaan Lahan o. ah = agak halus.0 .pH H20 td st.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .2 < 0. s ak h k .6-7. r = rendah.Bahaya erosi sr r.

ak = agak kasar.Penggunaan Lahan p.6 . sr = sangat rendah.KTK liat (cmol) .2 < 1. Lobak (Raphanus astuvus L. r = rendah.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Singkapan batuan (%) td td td < 0. ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1. Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 .K2O .6 td td st.N-Total .0-7. k = kasar.2 1.Bahan.Curah Hujan (mm) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .5 20-35 8-16 r. c k > 55 < 20 td td td 6.P2O5 .Tekstur .0/7. at ak.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . td = tidak ada data.0-7.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .8 4.5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Kejenuhan Basa (%) . . ah = agak halus.pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b. h = halus.0 5.5-4.Drainase Media perakaran (r) .Batuan di permukaan(%) .7-6.) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .C-organik Toksisitas(xc) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . s = sedang.Lereng (%) . s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5. t = tinggi.7 / > 7.8-1.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0. kasar (%) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .

1: Workshop Summary. Vol. Nomor 1. 85 p. Washington D.).). In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. (eds. The Organizing Committee. An FAO study. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. D. R. 1995. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah.Referensi REFERENSI Alexandratos. 46. FAO. 205-225. 1984. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. UK. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. Rome. Environment Working Paper No. Terminal report UNDP – FAO. Dumanski. 1991. Anonymous. C. Suharta. Agricultural Institute of Canada. Subagjo. S. International Workshop on Sustainable Land Management. Vol. Goodland. and Ofori. VIII + 55h. In: Environmentally Sustainable Economic Development. Pushparajah E. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Costanza. J. Depar-temen Pertanian. Indonesia. and Dumanski. Chichester. The Organizing Committee. dan D. Bachri. _____.. Djaenudin. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. International Workshop on Sustainable Land Management. R. Ottawa. H. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. 17-18 Februari 1998. (ed. Eswaran.C. Wood. and John Wiley. R. Marwan H. World Bank. and El Serafy. 2000. (eds. Vol. 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Anny Mulyani.). H. 1999. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 .. J. dan N. Ottawa. Rome. N. 1994. H. S.. Djaenudin. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Building on Bruntland. World Agriculture: towards 2010. 1998.18. Daly. pp. 1991. 2: Plenary Papers.C. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. Agricultural Institute of Canada. Versi 3.

1994. 1994. Smyth. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. 129-140. 1991. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. Melitz. No.J. (eds. IPB. Wallingford. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. FAO. J. Brinkman and A. Young (eds. World Bank. CAB International. Harijogjo. M. S. Yogaswara. UK. H. FAO. The Netherlands. Rome. Hardjowigeno.I. Soils Bulletin 58. Widiatmaka dan A. A framework for land evaluation. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. 1993a. Soils Bulletin 52. FAO. Rome. Washington. 96 p. D. _____. Rome. 237 p. CIP. Rome. Soils Bulletin 32. Lyman. The sufficiency concept in land evaluation. FAO. 1999.J. A. Subagjo. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. P. Land and Water Development Division. Rome.). Soil Resilience and Sustainable Land Use. Yogyakarta. FAO. R. 1988. Rome. 1996. Peru. _____. Development Series 1. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. S.. (R. I. viii + 87 h. FAO Soils Bulletin 32.Referensi FAO. 72 p. 150 p. Publication 22. 123 p. _____. 1994. Guidelines for land-use planning. Jones P. Karama. L. Wageningen. Soil Resources Development and Conservation Services. Land evaluation for forestry. J. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. paper given at Cali LQI workshop.74 p Greenland.C. 1976. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. Fakultas Pertanian. _____. FAO. Harrington. Also.(eds. dan S. 22.)). Rome. A framework for land evaluation. Wageningen. _____. Forestry Paper 48. _____. D.J.. 1986. 1977. D. 1976. Jurusan Tanah. Lima. Djaenudin. ILRI. and Szabolcs. 1984. _____. and Winograd. 1993b. 1983. World Soil Resources Report 73. IRLI Publ. Unpub. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . and Dumanski.). and Herdt. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. June. A framework for land evaluation.

Pieri. Rome. Uses of soil information system. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. Puslittan. J. Rossiter. Cornell University. Inform. Wageningen. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management. Sitorus RPJ. 103 h. 1995. World Bank Discussion Paper 315. World Bank.C. System 1 (1) : 13-31. Oldeman. and Young. O'Connor.A. Measuring Progress. 1994b.C. In: Bi-annual Report 1991-1992. World Bank. pp. ISRIC..G. 1994. 1994. Rossiter. of Soil.Referensi Moore. Oldeman. Washington D. Lecture Notes: Land Evaluation.E Estes.. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. Hamblin.W. 1991. J. Dumanski. D. Environmental performance monitoring indicators. 19-36. L. A User-Oriented Workshop. Wageningen. Nining Wahyuningsih.L. A. The Netherlands. D. 63 p.R.T. and Dumanski. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. 18-26 Jan. UNEP. 3 map sheets and explanatory note. J. A. T.. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. 1993.. Survei Sumberdaya Lahan Smith. W. Buenos Aires. & S. R. Star. & J. 74 p. G. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). Land Quality Indicators.W. C. 1987. Smyth. Bie (eds. A. 2nd revised ed.L.J. and ISRIC. Methodology for Soil Resource Inventories. Global extent of soil degradation. Menon. & Atmospheric Sciences. Nairobi. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan.C. Int. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. Hakkeling. 1994. Wageningen. S. Geogr. J. FAO. The Netherlands. Towards Environmentally Sustainable Development. R.C. 1977. J. World Soil Resources Report 73. 1994a. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD).). J. 22-23 Sept. A. College of Agriculture & Life Sciences. and Sombroek. 2003. Crop.. 1978.. Dept. 2000. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan.R. Washington D. 1992. G.

Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia.J. Alih Fungsi Lahan Pertanian. UNCED. Subagyo. Rome. Soil Survey Interpretation and its use. & A.). Overview. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. No. Jakarta.G. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development.H. Balitbang. 1995. Harian Kompas 15 Oktober 1995. J. 1988. Bogor. h 4-14. Sombroek. D. CSIRO Symposium. Stewart (eds.Referensi Soepraptohardjo. 69h. 294 p. Ssouth Melbourne. W. Soil Research Institute. ITC publ.G. Iii + 31 h. Student Stors. M. Soil Buletin No. Handbook of soil evaluation. 1975. Meijerink. C. Constraints and Opportunities. Dalam: A. Stewart. G.. C.R. Storie. Widjaja Adhi. Land Evaluation. Deptan. ILWIS. Valenzuela. 1993.C h 7-14. Washington. R. UC Berkeley.M.). United Nations. Robinson (eds. Stewart (ed. IITA. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. & G. & FAO. Ibadan.A. 1993. Soni Harsono. xviii + 225 h. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. 1968. Land Evaluation. 1 Soil Management Support Services.R. Nigeria. 12-30. Technical Monograph No. pp. Enschede. Velenzuela. constraints and future needs. 8. H dan IPG. Dalam: G. Steele. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements.E. 7. 1967. Assoc.A. 1998. New York. FAO. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 1964.). H 1-10. Macmillan of Australia. ILWIS.