SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

unit lahan. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. parameter penafsir lahan. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. sehingga menjadi suatu buku. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . yang semula berupa catatan-catatan kuliah. survei sumberdaya lahan.

Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. kacang-kacangan. Surabaya. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. kegunaan klasifikasi lahan. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. kimia lahan serta geomorfologi lahan. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. IV. Bab III. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. V. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. maka saran-saran. kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan.fisik. kesesuaian lahan. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. prosedur klasifikasi. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. dan VI mempelajari klasifikasi lahan.

4 Kondisi Permukaan lahan 2.8.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.4.3.4.4.5. 3.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2. 3. 2.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.3 Kondisi Drainase 2.1.2.4. 2.1 Bentuk Lahan 2. 2.1.4.8. Penggunaan Lahan 1.4.6.2.4.4. 2.8.2.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2.3.1 Aspek Tanaman 2. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2.4.7.1. 2.5 Tanah 2. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2. 3. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.

1.2.1.4. 4. 4.2. 8. 8. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8.3. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan . Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5. 8.1. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7.2.3.3. 4.1.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4.2.2.1. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6. Penilaian Kesuburan Tanah 6. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5.4.

3. 5. 2.6. 2.2. 2. 5.4. 2. 2.2. 5. 5.6.5. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan. 5.8.1.8.1. 5.3. 2. 2.11. 2.7. 5. 2. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .5.4.Daftar Tabel 2.9. 2.10.7 5.

7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.4. 7.9. 7.1. 7. 6.5.5. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan . 5.2.10. 7.3.1.

3. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii . 2. 5. 7.1.2.1.1.Daftar Gambar 1. 4.1.1.1. 3.

daerah pemukiman. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). Akibatnya. daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. tanah.Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. 1986). air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Dengan demikian. relief. tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. daerah industri. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. seperti untuk pertanian. 2001). pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. jalan untuk transportasi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 . Di lain pihak. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi.

Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. keadaan pasar dan transportasi. Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. tanah. hewan dan kependudukan. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Untuk aktivitas pertanian. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. iklim. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. (Wahyunto et al. lokasi industri. lereng permukaan tanah. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. keadaan politik.. 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2. 1975). Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi.1. 1. 2001).Sumberdaya Lahan 1. tumbuhtumbuhan. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya. air. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan.1995). penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah.

perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. Kedua. Pertama. Menurut McNeill et al. Ketiga. Akibatnya.. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. ekonomi. Sebagai contoh. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 .Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. demografi dan budaya. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia.

Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah. pencemaran. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. iklim mikro. 1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Penelitian terhadap struktur ekonomi. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi. penduduk.05% dan meningkat menjadi 14. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0.46%. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya.65% pada tahun 1990. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin.

Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum. Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit. Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 .

Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. hasil penelitian terdahulu. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. erosi dsb). namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. tipe batuan. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan.

perangkat pengelola data. baik foto maupun citra satelit. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. perangkat penafsiran foto udara.1. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi. Batasan Unit Lahan. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan.2. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). 2. Pertanyaan selanjutnya adalah. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut.

3. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Dengan demikian. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . 2. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut.

1. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan.1.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip.16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. 2. misalnya desa. sungai dsb. jalan. Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000. Tabel 2. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng.4. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit). Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. 2. 4. Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope.

Pada perisalahan hutan. Pada skala detil misalnya. Aspek Tanaman 5. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum.1. bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. lereng tengah atau lereng bawah. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. 4.4. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. lereng atas. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. 2. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. 1977) dan Kucera (1988). Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya.2. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Jadi informasi ini sangat dibutuhkan. Kemiringan dan Arah Lereng.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 .4. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Tabel 2. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan.2. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2.

Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. kondisi drainase. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. Tabel 2.3. Biasanya pada topografi yang berbeda. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. Dalam buku ini.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . misalnya. misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . Kondisi Drainase. Klasifikasi Kelas Kelerengan. informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat.100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 .25 % = 3 25% . akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian.4. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan.15% =2 15 . 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah. Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya.3.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil. jenis tanaman dan kedalaman tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah.

Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. maka kondisi drainasenya makin buruk.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut. karena kapur dapat meloloskan air. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. misalnya. dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun.4. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. Kondisi drainase jelek. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . Tabel 2.

Air mudah hilang. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. Air cepat hilang dari tanah.4.Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama. terdapat bercak-bercak pada horizon B. hal ini adalah erosi dan pengikisan. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda. 2. Bagi pengelola hutan. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Disamping itu. solum tanah bebas dari bercak. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap.4.

lahan mempunyai jenis tanah Entisol. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut. Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu. Dengan demikian apabila suatu. Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail. maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal. Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi. Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri.60 60 .80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2.20 20 .20 20 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .60 60 .40 40 . Tabel 2. Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 . vegetasinya.Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif.10 10 . Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk.5.40 40 . Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia. Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya.4.10 10 . Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya. iklim.80 Prosentase Singkapan 0 1 .5. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah.

Kode Great Group Tanah. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut. misalnya. Tabel 2. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2.4. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah.6. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur.6. akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik.

Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. Pada prakteknya. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan. tekanan. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. yaitu batuan beku. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. dapat digunakan Peta Geologi. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. misalnya penterasan. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara.

kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah.7. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Pada tanah yang dangkal. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya.4. Pada satu unit lahan. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. Tabel 2.7. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. kedalaman tanah mempunyai pola umum.

Akibat lebih jauh. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 .90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. maka pembentukan tanahnya lambat. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi. debu dan lempung/ Sand. Tabel 2.15 cm 15 . Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. kemiringan lereng. Seperti haInya kondisi permukaan. misaInya drainase. kondisi drainase. tipe batuan dan bentuk lahan. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah. kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen.30 cm 30 .Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut.60 cm 60 . Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis. maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara.5.8.

6. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan.9. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

translokasi karbohidrat. asam nukleat dan substrat metabolisme. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman. beberapa penyusun protein. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim.Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. koensim. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. sintesa protein dan lain-lain. Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. Kalsium (Ca). Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah.1 satuan. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). Ca merupakan komponen dinding sel. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. Magnesium (Mg).

3 0.5 6.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.00 N (%) < 0.0 11 .24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0.40 21 . Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.1.45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 . Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.20 51 .2.5 2.00 > 5.6-6.1 .10 0.00-2.1.0.00 0. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun.7.0.5 4.4 0.21-0.8 .01 -3.0.50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 . Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1 0.60 > 60 25 .1 .70 31 -60 A.25 > 25 41 .0 > 8.6 . Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.4 .51-0.5-5.01-5.40 > 40 Tinggi 0.20 0.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.Masam Masam A.75 > 0. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.8.0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 . alkalis 7.6-8.5 Na (me/100 g) < 0.0 > 1. Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.10.5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.2 0.1 0.25 26 .0 1.7 Mg (me/ 100 g) < 0.20 21 .5 5.0.0 2.00 2.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .1.10-0.3 .1 . Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah.6-7.Masam Netral < 4.60 > 60 26 .75 16 .4 .25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .1997).1 .35 > 35 46 .0 0. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.5 > 1. Parameter ini sangat dinamis. 00 1.60 > 60 41 . Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan.

11.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman. Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. yaitu diabaikan. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. Sedangkan erosi angin. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak.8. Sifat Geomorfologi 2. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion). Tabel 2. akibat adanya pengolahan tanah.1. erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion). tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar.8. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan. walaupun ada. ringan. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia. erosi parit (rill erosion). sedang dan berat. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . jurang (gully erosion).

Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. karena terbatasnya stasiun meteorologi. Informasi hujan yang diperlukan dalam. kemiringan lereng dan arah lereng. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain.8. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. jumlah bulan basah. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. hujan antar petak juga. dalam hal ini curah hujan. lahan dan iklim.2. Fenomena perbedaan pola. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan. 2. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu.

Gambar 2. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei.Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun. Khusus tentang penakar hujan. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. tergantung pada dasar penentuannya.1. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. bulan lembab antara 100 . Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 . Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan. tetapi data curah hujan biasanya tersedia. maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ).200 mm sebulan.

A1 + P2. 3 A1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan .A2 + P3. 2. 2 3 (Faktor Pembobot).Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1.2.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1.3 = Tinggi hujan di stasiun 1.2.3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.

Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. dari kelayakan usaha yang akan 3.1. Ekonomis diperoleh diterapkan. Lahan. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama. 2. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). 2. Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1.Klasifikasi Lahan 3. Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih.

KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural.4.3. meliputi aspek sosial. 3. politik dan administrasif. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. ekonomi. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas. (b) Alami. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan. 3.2. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan.

Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. Klasifikasi satu faktor. 6. menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. 3. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. 4. mengembangkan. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). 2. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1. (bid. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. . Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan. Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural).Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas.

dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2.1. Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. (pendekatan dari bawah ke atas). Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi. Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3. Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah).

sosial. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3.2. politik.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis.

Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL. Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept.1. perkebunan.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. yaitu: Klas. Jadi. Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. Sub Klas dan Unit. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. 1990). Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . hutan produksi dsb). Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian.

Contoh Sub kelas Vie. karena telah dibuat teras bangku datar. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang.Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. 0 kelas I . mempunyai hasil potensial yang hampir sama. iklim (c) dan gradien (g).ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi). Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian. 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. 2. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e).1. memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). karakteristik tanah (s). Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. 3. VIe2 dsb. - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. kebasahan (w). Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. 4. Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1.

4. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. (Kelas. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. 3. 5. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. irigasi. kesuburan meningkat. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata. Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. misalnya GWT turun.

kebasahan berlebih setelah drainase . fasilitas. karakteristik tanah. tekstur.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) . Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd.Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. Jaringan drainase yang luas. dan pengendalian banjir 7. padas.Banjir . KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi. Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al. batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan . irigasi. jarak.Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan. 4.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. mineral liat .Letusan gunung api .2. Keragaan (performance) lahan. Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd. Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan . alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi.Gerakan massa tanah/longor . penahanan air.

Karakteristik tanah (tekstur. untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb.Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur. lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 . kebasahan ringan (Horison B bercak) .Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya. Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi.Setelah drainase. sedang tehadap erosi alur. sedang (60-90 cm) .Kerentanan. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan .Iklim < menguntungkan (ringan). struktur) ringan . maka perlu upaya konservasi khusus. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah. : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . erosi tebing sungai . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas. . . lapis dan jurang) .Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun.Jeluk.Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang.Rentan terhadap Pengendapan.

Iklim < menguntungkan (ringan).Kondisi iklim yang tak menguntungkan. bulan kering 5 bulan.Setelah drainase. . sangat dangkal (15-30 cm) . berat.Jeluk. dangkal (30-60 cm) .Klasifikasi Kemampuan Lahan . .Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. sedang . kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). alur dan longsor.Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan). CH > 200/bulan. Berturut. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan.Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. erosi tebing sungai. . sangat < menguntungkan.Setelah drainase. . sehingga perlu konservasi intensif. . berat . CH > 200/bulan.Jeluk.Rentan pengendapan.) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. .Setelah drainase. 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kerentanan terhadap deposisi. : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen . erosi tebing sedang .Karakteristik fisik tanah. kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A).Karakteristik tanah yang tak menguntungkan.Kesuburan alami rendah . bulan kering 5 bulan Berturut. berat .Sifat rentan terhadap erosi lapis. kebasahan dan kebecekan.

) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk. (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan. dangkal (< 15 cm).Kesuburan alami rendah . kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. . dangkal < 10 cm Kesuburan alami.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Jeluk. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase. terdapat banyak batu .Klasifikasi Kemampuan Lahan . Jeluk.) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . dangkal (10-15 cm).Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun.

Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian.3. pada rumput. Hanya konservasi DAS 4. agroforestry. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pada rumput dan hutan. dan hutan. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry. Sesuai untuk perlindungan DAS.4.Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. 4. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. CH < 100 mm/bulan. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. padang rumput atau hutan. atau hutan. dan hutan.

tekstur dll) Iklim. Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien. sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. struktur.Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 . pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

3). Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3. Gunakan Tabel 3. dan Gradien 1a. 1c. Gunakan Tabel 3. Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3. Ikliim.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2.4). Tanah. 1b.9).1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.2) dan tingkat banjir (Tabel 3.6). kedalaman tanah (Tabel 2. Gunakan Tabel 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi.6).1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3. Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 .

10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras.lanjutkan ke LANGKAH 3. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan . LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d. ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g .1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2. ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . iklim.lanjutkan ke LANGKAH 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s .lanjutkan ke LANGKAH 3. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar. tanah.lanjutkan ke LANGKAH 3. Gunakan Tabel 3. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c .

lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 . I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa. Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK . Inceptisol. Entisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.

II. VI. VII. atau Tanah longsor adalah ringan. atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan .lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK .1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar .lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I. Fall.namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan .lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V.lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump. atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras .lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) . Flow. sedang.

1. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 . Gambar 4.Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e.

sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). 1994) dan metode Webb (1984). misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. s (tanah). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan. sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. w (drainase). Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. Oleh karena. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. tanaman keras. Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . g dan sd) atau sebaliknya. yaitu e (erosi). Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. e. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. sesuai (S2). yaitu : sangat sesuai (S I). metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. w. g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim). itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching.Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. a (keasaman).

Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. pabrik. 2. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hasil: bentuk barang atau bentuk lain.bibit.1. hidrologi dan vegetasi. Tingkat Teknologi yang Tersedia. 5. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. manusia. pupuk. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. 7. Sumber tenaga. 8. alat & mesin. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. tk pendidikan. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. hewan atau mesin 6. Pasar (market oriented). Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. ketrampilan dll. tanah. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. konsultan dll. pasar. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim. Intensitas tenaga kerja 5. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. Kebutuhan Infra Struktur. 3. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. Intensitas modal 4.

per luas. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Sistem Pemilikan Lahan. Jaringan irigasi. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. slope. Pemupukan. perkapita. lokasi terpisah atau menyatu. Contoh Kebutuhan oksigen dll. Luas dan Pemilikan Lahan. 1. penambahan BO dll.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. tekstur. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. 10. perseorangan. kelompok dll. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan. 11. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. per produksi. 2. CH. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. Ketersediaan air. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. dilakukan sekali. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. kapasitas menahan air. ? Luas lahan per petani. Tingkat Pendapatan. ketahanan erosi. dll. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. reklamasi tanah dll. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 .

Terdapat empat kategori. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. lereng) teknis tidak b. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. 2. Terdapat dua order yaitu: 1. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. Ordo 2.Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya. Pertimbangan yang dipakai: a. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. 5. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Pemberantasan gulma. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. Ekonomis. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. yaitu: 1.2. pembuatan saluran drainase dll.

Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. e. bahaya erosi dll. Misl. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. c.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. d. pembatas berpengaruh pada output. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. yaitu: a. dan menambah input. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. mk dapat dipakai bersama sama. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. Kekurangan air. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. b. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. b.

data yang tersedia sebagai dasar evaluasi. menjabarkan tujuan evaluasi. S2e-2 N1e. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1. N2w S3n-1. S2w S2e-1. S2n-2. Tabel 5. . Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas. S3n-3 dll.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan . S2n-1.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas.3. misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. S3t N2t. S3n-1.pendekatan yang digunakan . S3n-2 dll Unit S2e. N1n - 5.luas dan batas daerah yang dievaluasi .data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi .1. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan. Konsultasi awal.macam penggunaan yang direncanakan .Apa tujuan evaluasi . S3n-2.

persyaratan dan pembatasnya. evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. penggunaan saat ini dll. Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. . menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. Penutup.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas).intensitas dan skala penelitian . Klasifikasi kesesuaian lahan c. (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama. Satuan lahan dan kualitas lahan. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. produksi. 4.

sdg. Ada Netral-A. rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 .hls Sdg-rdh T.1.25 25-50 > 50 pH Ksr.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S.4. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan. asumsi.2. Ada Masam-A. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5.Masam & Alkalis Tabel 5.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5.Masam T.Alkalis Ada S. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan . sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S.3. data.

Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5.6.5. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th.8.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 .

Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.10.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.9.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.

pH (H2O) rasio 1:1 c. Tekstur tanah b. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2. Mg. Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. Kadar Ca.Klasifikasi Kesuburan 6. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al. serta tempat penyedia air. gudang dan penyuplai unsur hara. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 . 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. 3. 1982 dan Sanchez and Boul. Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. 4.1.

≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org).0 b. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO.1. Fe2O3 bebas. 1983) Tabel 6. Kadar Al terekstrak 1 N KCl. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain .Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a. bila kadar liat > 35% c. Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah. bila pH (H2O) 1:1 < 5. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5. pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d.

2. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. kadar liat > 35 % : Organik.Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung.

Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah. aridik. tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. xerik. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. dicirikan pH > 7. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam.15 : Alofan dominan.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. dicirikan Kdd < 0. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. : KTK rendah. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. : Kering. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium.

Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 .Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. subtipedan modifier scr berurutan. dicirikan pH (H2O) < 3. Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe.5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng.

BUDAYA W.Taman Laut .Kawah Gunung Api .Api Abadi . Tabel 7. ILMU W. ALAM W.Tofografi Unik .1.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih .Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket.1.Ngarai .Evaluasi Lahan Non Pertanian 7. BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. AGRO W. 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 . Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain. Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama .1. PARIWISATA (OBYEK) W. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7.

Transportasi .Keuangan .Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Keperluan Sehari-hari .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Salju abadi .Sun Shine Suhu udara Cuaca .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Untuk Berobat .Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Angin Tabel 7.Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Penginapan .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Komunikasi .Hiburan Malam .Sinar Matahari .Sun set . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .2.Keamanan .

2. scl = lemp. c.2. sdg A. sil > 100 cm 0% 2–6% cl. l = lempung.Lambat >6% sc.0 – 4.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp.liat berdebu.Cepat. sic = liat berdebu.3. sil = lemp. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials). scl. ls = pasir berlemp. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt.liat. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A.berpasir. fsl = lemp. Baik & a. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7. s. s = pasir. sicl = lemp. c = liat. fsl.lambat 0-2% sl.1 % Batu (25 mm .7 mm – 0.Buruk GW A. org < 50 cm > 20 % >3% > 0. sic.1. 7. vfsl = lemp.074 mm  Debu : < 0. Buruk > 50 cm S.liat berpasir. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA. vfsl. Baik & A. ls 50 – 100 cm < 20 % 0.01 .l.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 .Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7.berpasir halus.7 mm  Pasir : 4. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm.Lambat. Sc = liat berpasir. cl =lemp.Buruk. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S.Buruk.3 % 0.01 – 0. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75.2.1 % S.baik. BC dan BO 7.2.berdebu.sepat.berpasir sangat halus. sicl. plastisitas.

CL dng PI < 15 CH. OH. MH.09) 0. (USDA. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7.5.03) Tinggi (> 0.09) Tabel 7. OH.09) Tinggi (> 0. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan . GM. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. GW. SW.03-0.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0. GC.09) CL dng PI > 15.03Rendah (< 0.03) Sedang (0. SP.4. SM. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. GP. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. SC OL.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan d.2 / 7.Bahan.pH H20 5.K2O st. t = tinggi. <8 8 .Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) .N-Total st. data.C-organik > 1.2 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 . s r sr td .16 16-30 >30 .2-7. t. k = kasar.Drainase b.KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .Bahaya erosi sr r.6 < 4.Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .P2O5 . s r sr td . td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2 < 0.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .2-7.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) . at s t st Media perakaran (r) .6 td st.1.15 15 .8 . t s r sr . ak = agak kasar.8-5.2 4. ah h ak k . r = rendah.8 / > 7. s = sedang.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .15 15 .Tekstur s. s b sb Bahaya banjir (f) .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .25 >25 st = sangat tinggi.Lereng (%) . h = halus. Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . t. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .40 >40 .

35 < 20 .Penggunaan Lahan e.35 35 .2 < 0.8 Toksisitas(xc) .sr td .Tekstur h.4 .N-Total t .8 .1.st r-s sr . sr = sangat rendah. ah = agak halus. r = rendah.C-organik > 1.Batuan di permukaan(%) <5 5 . s r .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .16 16-30 . k = kasar.2/8.4 <4. t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .2 0. ak = agak kasar. <8 8 .Bahan.8 / >8.Drainase b s t Media perakaran (r) .75 25 .8-5. data.2-8.15 15 . h = halus.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) .75 Retensi hara (n) .2 4. Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .15 15 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) . t.pH H20 5.Lereng (%) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ah s ak .55 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .2-8.P2O5 st t-s r .Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . s = sedang. kasar (%) < 15 15 .40 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .K2O st.

5 / 6 2 . data.6.25 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . ab s t.st r-s sr td . t = tinggi.2 / > 6.35 35 .Loreng (%) .Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) .2 .1. Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . <8 8 .N-Total st.55 > 55 .Drainase b.2 0.75 25 . ak = agak kasar. s ah h k .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 .sr td td .K2O st t-s r sr .8 < 5.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 .8 .75 20 – 24 / 75 . kasar (%) < 15 15 .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) .8 Toksisitas(xc) . r = rendah.Bahan. k = kasar.40 >40 .Penggunaan Lahan f. td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan . at st Media perakaran (r) .C-organik > 1.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .Tekstur ak.35 < 20 . t.2 5.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .pH H20 5.8 t . s = sedang. sr = sangat rendah.6.2 < 0.75 < 25 Retensi hara (n) . s r .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .P2O5 . h = halus.16 16-30 >30 .5 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) . ah = agak halus.5.

8 t .P2O5 .5 . s = sedang.K2O .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 . r = rendah.40 15 . k = kasar.Batuan di permukaan (%) .75 20 – 24 / 75 .Penggunaan Lahan g.Loreng (%) .2-5.90 < 20 / > 90 b.2 5.2 0.16 r-s 5 . h = halus.15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Bahan. kasar (%) .55 25 .8 4-6 15-20 16-30 b 15 . t = tinggi.sr st t-s > 1.1. ak = agak kasar. Gandum S1 21. at h 35 .Kejenuhan Basa (%) .35 50 .35 5.5 / 6 2-6.15 5 .st r-s st. s < 15 > 75 s ah 15 . data.Drainase Media perakaran (r) .N-Total .75 < 20 < 5. ab ak. t.25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .6. ah = agak halus. sr = sangat rendah. s r .KTK liat (cmol) .8 sr td r < 0.75 t.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 .2 / > 6.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Tekstur . .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .C-organik Toksisitas(xc) .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .8 .

sr = sangat rendah.5 <1.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .5-8.5 5.5 1.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .K2O st. k = kasar.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .5 .t.s r sr .15 15 .3 < 5.5-2. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .40 >40 .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) .Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) . ah = agak halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 . ak = agak kasar.4 td ≤ 0.3 td .Singkapan batuan (%) <5 5 .4 Toksisitas(xc) .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) .pH H20 5.5-9.C-organik > 0.5/8. t.2-8.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 . s r sr td .Lereng (%) . r = rendah.N-Total st. data. td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahan.Tekstur h.25 >25 st = sangat tinggi.5-4 / 8-8. Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bulan kering (bln) 8-4 2.Bahaya erosi sr r. s = sedang. t = tinggi.3/ > 8.Drainase b. s b sb Bahaya banjir (f) .P2O5 st t. at s t st.3-5. s r sr . s ah ak k .Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) . sc Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan h.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) . <8 8 .15 15 .5/8. h = halus.5 / >9.

Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 . t = tinggi.K2O td td td td . sr = sangat rendah. s = sedang. <3 3-8 8-15 > 15 .5-7.Bahan. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .0-5.Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .5-6.Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi.40 >40 .5 < 5. s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan i.8 td td Toksisitas(xc) .Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td .0 / > 7.C-organik > 0.Lereng (%) .5 td . ak = agak kasar.N-Total td td td td .5 5. k = kasar. r = rendah. h = halus. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .5/6. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 . s ak h k .8 .P2O5 td td td td ≤ 0.pH H20 5. ah = agak halus. data.Bahaya erosi sr r. at s t st Media perakaran (r) .KTK liat (cmol) >16 td td .Tekstur ah.Drainase b.

K2O r sr td td .0 4. td = tidak ada data. ah = agak halus.0-5.4 Toksisitas(xc) . Iles-Iles (Amorphophalus sp.Bahaya erosi sr r.N-Total r sr td td .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .15 15 . k = kasar.0-7.Bahan.Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Drainase b. <8 8-15 15-30 >30 .Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . ak = agak kasar.Tekstur ak.Singkapan batuan (%) <5 5 .5 td .5 <4. r = rendah.Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) . ab at s. t = tinggi. s ah h k .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .P2O5 r sr td td .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .15 15 . sr = sangat rendah.Batuan di permukaan (%) <5 5 .0-7. t st. 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan . h = halus. s b sb Bahaya banjir (f) . c Media perakaran (r) .4 td ≤ 0.Penggunaan Lahan j.Lereng (%) .0 / 7. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . s = sedang.25 >25 st = sangat tinggi.5 / >7.pH H20 5.C-organik > 0.40 >40 .

Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . ah = agak halus. c Media perakaran (r) . r sr td td . s b sb Bahaya banjir (f) . Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . <8 8 .40 >40 . Tanaman Kacang-Kacangan a.1.Lereng (%) .0 td st.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . td = tidak ada data.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . t.4 / > 8.0 Sodositas (xn) .25 >25 st = sangat tinggi.2. r = rendah.C-organik > 1. s = sedang.15 15 . h = halus.15 15 .2 0. t s r sr .5-2.4-5. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .pH H20 5. k = kasar.8 .0 > 2. s. Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 .8 Toksisitas(xc) .P2O5 .Tekstur h. at s t st. ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .K2O st.N-Total st. t = tinggi.Bahan.6-7.Penggunaan Lahan 8.6 5.6 / 7.0 < 5.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .Bahaya erosi sr r.5 1. s r sr td . s ah ak k .2 < 0. sr = sangat rendah. t.Salinitas (dS/m) <1 1-1.16 16-30 >30 .Drainase b.Singkapan batuan (%) <5 5 .6-8.

8 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t = tinggi.pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st. kasar (%) .2 st. k = kasar. s 5 . . h = halus.6 sr sr r < 0.K2O .Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi. ah = agak halus.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . r = rendah.2-7.Tekstur . Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.Batuan di permukaan (%) . 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t > 1.P2O5 .N-Total .Lereng (%) .Drainase Media perakaran (r) .15 t ak 35-55 50-75 td td < 4. s st.16 r.KTK liat (cmol) . sr = sangat rendah.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .2 / 7.C-organik Toksisitas(xc) .1.Kejenuhan Basa (%) .2-7. at s. ah < 15 > 100 > 16 > 20 5.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8 / > 7. td = tidak ada data.6 r r s 0. c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4.8-5.25 .Bahan.40 15 . s = sedang.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan b.2 2-4 10 -15 8 .15 5 . t. s st. t.

pH H20 6.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .5-6.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .N-Total st.5 2.Kedalaman tanah (cm) > 60 50 . ak = agak kasar.8-6. t = tinggi.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .35 < 20 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . kasar (%) < 15 15 .K2O st t-s r sr .P2O5 .15 15 .C-organik > 1.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . td = tidak ada data.25 >25 st = sangat tinggi.Drainase b.0 >6 Sodositas (xn) .0-7. r = rendah.40 >40 .60 20-50 < 20 Retensi hara (n) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . h = halus.Bahan. <8 8 . ah s ak k .sr td td . t.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .5-3.8 Toksisitas(xc) .35 35 .2 < 0.16 16-30 >30 .0 t .5-8. at s t st. ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .5 5.8 / > 8. Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .55 > 55 .Tekstur h.5 3.0/7.Salinitas (dS/m) < 2.0 < 5.2 0. s = sedang.15 15 .st r-s sr td .Lereng (%) .Penggunaan Lahan c.1.8 . s r . c Media perakaran (r) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 . k = kasar.

15 5 .6 t . td = tidak ada data.K2O .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8 . at h. . sr = sangat rendah. kasar (%) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. s < 15 > 75 > 16 > 35 5.1. 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan . t.Tekstur .Kejenuhan Basa (%) .40 15 .16 r-s 5 . k = kasar.5 May-09 8 .15 1.N-Total .35 < 20 5. Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 < 0.50 st.0 r-s sr r . s st > 1.C-organik Toksisitas(xc) .sr td t-s r 0.4 / > 8.0 < 5. c k > 55 < 25 - .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .4-5.Loreng (%) .Drainase Media perakaran (r) .pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.6 / 7. ah = agak halus.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi.6-7.35 50 .6-8.5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 .st st. h = halus. r = rendah.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) ≤16 20 .P2O5 .Penggunaan Lahan d.8 1-1.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .KTK liat (cmol) .55 25 .Bahan.Batuan di permukaan(%) .2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .75 t ak 35 . ak = agak kasar. s = sedang.

Bahan.75 25 .P2O5 . <8 8 .5-2 >2 Sodositas (xn) .pH H20 5.75 < 25 Retensi hara (n) .4 / > 8.40 >40 . Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .15 15 . r = rendah. s r . s ah ak k .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .16 16-30 >30 . h = halus.15 15 . ak = agak kasar. Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .6-8. t = tinggi.Drainase b. td = tidak ada data. s = sedang. c Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) . t.C-organik > 1.Salinitas (dS/m) <1 1-1.6 5.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Loreng (%) .55 > 55 .2 < 0.35 35 .25 >25 st = sangat tinggi.1. k = kasar.0 t . sr = sangat rendah.6 / 7.4-5.N-Total st.6-7. kasar (%) < 15 15 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ab s t st.0 < 5.K2O st t-s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 .Singkapan batuan (%) <5 5 .sr td td .8 .2 0. ah = agak halus.st r-s sr td .Tekstur h.8 Toksisitas(xc) .5 1.Penggunaan Lahan e.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .

Drainase b.s r sr td . t = tinggi. s r sr .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) . at s t st.16 16-30 >30 . ak = agak kasar.5-8.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Tekstur ah.N-Total st.8 . s = sedang.t.8 td Toksisitas(xc) .Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 .Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 .0 td st. s b sb Bahaya banjir (f) .0 < 4. Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bulan kering (bln) 2.Penggunaan Lahan 8. k = kasar. s r sr td . s h ak k . ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) . r = rendah. sc Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .2 / 7.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td .Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5 4.2-7.Bahan.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Lereng (%) .P2O5 ≤ 0.Bahaya erosi sr r.5-4 4-5 5-6 >6 . Tanaman Perkebunan a. sr = sangat rendah. 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 15 . t.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .K2O st t.pH H20 5.8-5.25 >25 st = sangat tinggi.KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 .40 >40 . <8 8 . h = halus.C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) < 20 td td . td = tidak ada data.3.8 / > 8.

2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 .5 / > 7.P2O5 . s = sedang.N-Total .Bahan. h = halus.Lereng (%) .5-6.Curah Hujan (mm) .6 td td td < 0.8 td 8-16 r. r = rendah.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . k = kasar.Penggunaan Lahan b. .5 < 1.6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ah < 15 > 150 >16 > 35 6.Singkapan batuan (%) td td td 0.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.8 1. td = tidak ada data.0-7.8-2.Batuan di permukaan(%) .Kejenuhan Basa (%) .8-1.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .1-1.KTK liat (cmol) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . kasar (%) .0/7.C-organik Toksisitas(xc) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .5 1.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5. t = tinggi. at h.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 .Tekstur .K2O . ak = agak kasar. Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b. s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi.0-7.0 td td td > 1. sr = sangat rendah.Drainase Media perakaran (r) . ah = agak halus.

C-organik > 0.Singkapan batuan (%) <5 5 .Tekstur h.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Lereng (%) .0-7. c Media perakaran (r) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .0 / 7.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Penggunaan Lahan c. s = sedang. ab at s.Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .Bahaya erosi sr r.6-8.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 .6-6.6 5. ah = agak halus.4 td ≤ 0. <8 8-16 16-30 >30 . t st. t = tinggi.K2O r sr td td .P2O5 r sr td td .4 Toksisitas(xc) . td = tidak ada data. h = halus.15 15 . ah s ak k . k = kasar.40 >40 .0 < 5. s b sb Bahaya banjir (f) .Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) .Drainase b.6 / > 8. sr = sangat rendah.pH H20 6.Curah Hujan (mm) . Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .N-Total r sr td td .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . r = rendah. ak = agak kasar. 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .15 15 .25 >25 st = sangat tinggi.Bahan.0 td .

Tekstur h. t st. s r .8 ≤ 0. <8 8 . sr = sangat rendah.8 Toksisitas(xc) . s ah ak k .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 .55 > 55 .Bahan.Loreng (%) .5-7. k = kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .16 16-30 >30 . t = tinggi.P2O5 .25 >25 st = sangat tinggi. c Media perakaran (r) . Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .5 4.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .2-5. s = sedang. t.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .N-Total st. h = halus. r = rendah.Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Drainase b.15 15 .40 >40 . td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .0 t .0 / 6.st r sr td .Curah Hujan (mm) . ah = agak halus.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 . ab at s. ak = agak kasar. kasar (%) < 15 15 .15 15 .0-6.2 / > 7.K2O st t-s r sr .Penggunaan Lahan d.0 < 4.C-organik > 0.sr td td .pH H20 5.

8 Toksisitas(xc) . s = sedang.16 16-30 / 16-50 .5-2.0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan .40 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .2 0.Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .3 < 5.K2O st t-s r .Penggunaan Lahan e. c k > 55 < 50 - td td sr > 2. s ah ak .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .C-organik > 1.P2O5 .Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) . h = halus. r = rendah.4 t . kasar (%) < 15 15 .pH H20 5.2 < 0.Salinitas (dS/m) < 0.6-7.6 6.6-6.Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) . s r .st r-s sr .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ak = agak kasar. sr = sangat rendah.sr td .Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .35 < 20 .0 Sodositas (xn) .Loreng (%) .25 st = sangat tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .15 15 .Curah Hujan (mm) . td = tidak ada data.Bahan.5 td 0.8 . k = kasar.35 35 . t = tinggi.Tekstur h.5 / 7.55 .Drainase b s at Media perakaran (r) .Singkapan batuan (%) <5 5 .1.N-Total st. Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o . ah = agak halus. t. <8 8 .15 15 . >6 < 20 / > 90 t.

s r sr td . ak = agak kasar.25 >25 st = sangat tinggi. ah = agak halus.0-2.0 Sodositas (xn) . ah s ak k .pH H20 5.5 < 4. kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 .8 Toksisitas(xc) .Drainase b s at t.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi. t.8 td td ≤ 0.5-1. td = tidak ada data. t s r sr . sr = sangat rendah.16 16-30 >30 . h = halus.Curah Hujan (mm) .Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 .Lereng (%) .5-5.KTK liat (cmol) td td td td .N-Total st.Batuan di permukaan(%) <5 5 .0-6.Bahan.0 > 2.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .Singkapan batuan (%) <5 5 . Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 1. Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 . s b sb Bahaya banjir (f) .Salinitas (dS/m) < 0. s = sedang.5 0. t.Tekstur h. r = rendah.P2O5 . <8 8 .15 15 .0-6. s r sr td .0 4.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td .15 15 .C-organik > 0.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .5 td st.Bahaya erosi sr r.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0 / 6. k = kasar.5 / > 6.40 >40 .Penggunaan Lahan f. c Media perakaran (r) .K2O st.

Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) . ah = agak halus.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .15 15 .0 t .Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) .st r-s sr td .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .15 15 . s r .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .35 < 20 .25 >25 st = sangat tinggi. k = kasar.sr td td .Penggunaan Lahan g. s h ak k .55 > 55 . td = tidak ada data. s = sedang.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah.N-Total st.Drainase b.0 / > 8.P2O5 .8 Toksisitas(xc) .8 5.2 < 0. Kina (Cinchora spec.2 0. ak = agak kasar.0 < 5.Curah Hujan (mm) .pH H20 5. c Media perakaran (r) . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Loreng (%) .5 / 7. kasar (%) < 15 15 . t st.40 >40 .Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .7.16 16-30 >30 .35 35 . t.0-5.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . h = halus.K2O st t-s r sr .8-8.Tekstur ah.div.Bahan.5 .8 . t = tinggi.1.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . ab at s.C-organik > 1. <8 8 . r = rendah.Batuan di permukaan(%) <5 5 .

Penggunaan Lahan h.8-5.15 15 . h = halus.25 >25 st = sangat tinggi.55 > 55 . Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .KTK liat (cmol) td td .Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .2 / 7. td = tidak ada data.50 < 25 Retensi hara (n) .8 / > 8. r = rendah. ah = agak halus.2-7. sr = sangat rendah.8 Toksisitas(xc) . c Media perakaran (r) .0 < 4.st r-s sr td . s = sedang. s r . kasar (%) < 15 15 .Bahan.Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) . ak = agak kasar. Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .N-Total st.0 t .Loreng (%) .15 15 . t = tinggi.40 >40 .Batuan di permukaan (%) <5 5 . <8 8 .K2O st t-s r sr . k = kasar.pH H20 5.P2O5 .75 25 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) .Drainase b.Singkapan batuan (%) <5 5 .Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 .35 35 .16 16-30 >30 .8 td ≤ 0.sr td td . ah s ak k . ab s t. t.Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) .5 4.C-organik > 0.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Tekstur h.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .5-8. at st.

s r . t. r = rendah.Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan .55 > 55 .5 3.5-5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .pH H20 4. s = sedang.Drainase b.C-organik > 1.Loreng (%) .8 < 3. Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Batuan di permukaan(%) <5 5 .5 < 0.5 0.Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 . sr = sangat rendah. k = kasar.15 15 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . c Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 15 .25 >25 st = sangat tinggi.35 35 . h = halus.5-5. td = tidak ada data.8-1. ah = agak halus. ah s ak k .8-4.16 16-30 >30 .N-Total st.P2O5 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur h.sr td td .Singkapan batuan (%) <5 5 .Bahan.K2O st t-s r sr . s st. t = tinggi. ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) . <8 8 .Curah Hujan (mm) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Penggunaan Lahan i.40 >40 .8 t .15 15 .5 / 5.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .8 Toksisitas(xc) .st r-s sr td .8 / > 5. ab at t.

ah = agak halus.15 5 .Lereng (%) .5 td st.16 r. t. k = kasar.Bahan.5 / > 7.40 15 .0-6.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 . h = halus.Batuan di permukaan(%) .2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 .) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . s f1 5 .C-organik Toksisitas(xc) .0 / 6.1.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi. t > 1.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .N-Total .P2O5 .Curah Hujan (mm) .K2O .Singkapan batuan (%) st.Kejenuhan Basa (%) .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4. r = rendah. ak = agak kasar. at h.5-5. s.Drainase Media perakaran (r) . . kasar (%) .5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.8 .2 4-6 15-20 8 . Kapuk (Caiba pantandra G. s st.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Tekstur . ah < 15 < 100 > 16 > 35 5.0-7. sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan j. t. c k > 55 < 50 td td td . r st.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) . s = sedang.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .15 sr td r < 0.

s r . c Media perakaran (r) .Bahan.Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 .0-7. kasar (%) < 15 15 .4 td td ≤ 0.0-8. Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Lereng (%) .pH H20 t .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . r = rendah.4 Toksisitas(xc) .C-organik > 0.0-5.P2O5 .55 > 55 .16 16-30 >30 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5.sr td td .Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0 < 4.35 35 .Tekstur h.Penggunaan Lahan k.Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) . sr = sangat rendah. ak = agak kasar.40 >40 . k = kasar. t st. t. 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang. h = halus.Drainase b.K2O st t-s r sr .15 15 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .st r-s sr td . s ah ak k .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . t = tinggi.0/7. ah = agak halus. <8 8 . ab at s.0 4.15 15 .Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) .0 / > 8.25 >25 st = sangat tinggi.0 .Singkapan batuan (%) <5 5 . td = tidak ada data.N-Total st.

0 Sodositas (xn) . t. td = tidak ada data.P2O5 .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . c Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) .0-6. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .25 >25 st = sangat tinggi. ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.3 / > 6.5 . ah = agak halus.40 >40 .Loreng (%) .Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 . ah s ak k .3 / 6.Bahan.Drainase b s at t.N-Total st. k = kasar.0 5. h = halus.st r-s sr td .8 ≤ 0.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.Penggunaan Lahan l.3-6. t = tinggi. kasar (%) < 15 15 .35 35 .sr td td . <8 8 .pH H20 t .Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .55 > 55 .K2O st t-s r sr .8 Toksisitas(xc) .5 < 5.C-organik > 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 .15 15 . sr = sangat rendah. s r .Tekstur h.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .15 15 .Batuan di permukaan(%) <5 5 .0-5. r = rendah. s = sedang.

98 Evaluasi Sumberdaya Lahan .sr t-s ≤ 0.P2O5 .15 5 .0-5.55 25-50 < 35 <5.Batuan di permukaan (%) .KTK liat (cmol) . t = tinggi.K2O .Kejenuhan Basa (%) . t.5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.CH harian (mm) .pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b. s < 15 > 75 > 16 > 50 5.5-7.N-Total . td = tidak ada data.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .0 st.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . ab h. k = kasar. . c k > 55 < 25 - .Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . r = rendah. sr = sangat rendah.0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s.5 / >8.C-organik Toksisitas(xc) . ah = agak halus.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Drainase Media perakaran (r) .15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 .40 15 .Loreng (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Tekstur . ak = agak kasar. h = halus.16 r-s td 5 . s = sedang.4 5-8 Oct-09 8 .st st.Bahan.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r . s st > 0.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .0-8.Penggunaan Lahan m. kasar (%) .5/7.Singkapan batuan (%) t . t ak 35 .35 50-75 ≤16 35-50 5.

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

Lereng (%) .8 3-5 35-50 16-30 b td 15 .KTK liat (cmol) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . kasar (%) .8-8. Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ah < 15 > 50 > 16 > 35 6. s = sedang.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0/7.15 td td td < 0. td = tidak ada data.Drainase Media perakaran (r) . h = halus.8-1. t = tinggi.K2O .Penggunaan Lahan c. s 5 .2 2-3 20-35 8-16 r.0 td st.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0. 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Tekstur .15 5 .8 / > 8.C-organik Toksisitas(xc) . at h.40 15 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Bahan.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .P2O5 .Singkapan batuan (%) r r r > 1.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.8-6.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. ah = agak halus. k = kasar. . sr = sangat rendah.0-7. ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) .N-Total .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Batuan di permukaan(%) .8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5.0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5. c k > 55 < 20 td td td . r = rendah.

Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . Bawang Putih (Allium sativum L. k = kasar.0 / 7.0 < 5.16 16-30 >30 .8 Toksisitas(xc) . t.pH H20 6.25 >25 st = sangat tinggi.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Lereng (%) .8 / > 8.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .K2O st. t s r sr . r = rendah.Bahan. s b sb Bahaya banjir (f) .8-6. sr = sangat rendah. at s t st. c Media perakaran (r) .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Penggunaan Lahan d.8-8.15 15 .N-Total st.Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) . s.Singkapan batuan (%) <5 5 . ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td .2 < 0. s r sr td .Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) .P2O5 . <8 8 .Drainase b. t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 . s h ak k . ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) .0 td st.Tekstur ah. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .2 0. r sr td td .8 5.0-7. td = tidak ada data.40 >40 . s = sedang.Bahaya erosi sr r. h = halus. t = tinggi.8 .C-organik > 1.1.

5-6.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 sr sr r td 1.8 0.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .6 td td s h. t > 0. ah = agak halus.Curah Hujan (mm) .0 15-20 8 .0 td td st.0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5. at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5 / > 8. .Tekstur .Kejenuhan Basa (%) .5-1. ak = agak kasar. t = tinggi.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Singkapan batuan (%) st.40 15 . 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Penggunaan Lahan e. t.P2O5 .0 20-25 16-30 b f1 15 .Drainase Media perakaran (r) .0-7.0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. s = sedang.15 5 .Lereng (%) .6-8.pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b.C-organik Toksisitas(xc) . kasar (%) . t.0-2.Batuan di permukaan(%) .KTK liat (cmol) .16 r. c k > 60 < 30 td td td .N-Total .Bahan.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . s st. s st.8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0. k = kasar. sr = sangat rendah.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0 / 7. s 5 . td = tidak ada data.K2O . h = halus. Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . r = rendah.25 td td sr td > 2. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5.

5 / > 8.6 5.Batuan di permukaan(%) <5 5 .Tekstur ah h. ak = agak kasar.25 >25 st = sangat tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 .sr td td . s = sedang.Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . <8 8 .Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 . kasar (%) < 15 15 .Drainase b.0 .Bahan.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) . ah = agak halus.55 > 55 .pH H20 t .N-Total st.st r-s sr td .8 ≤ 0. s ak k .C-organik > 0.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data.15 15 .5-6. k = kasar. t.0 < 5.0 / 7. c Media perakaran (r) . Paprika (Capsicum sp.16 16-30 >30 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Lereng (%) . t = tinggi.P2O5 . r = rendah.8 td td Toksisitas(xc) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .40 >40 . h = halus.35 35 . sr = sangat rendah.K2O st t-s r sr . s r .Penggunaan Lahan f.Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) .6-8. at s t st.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) .0-7.15 15 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .

k = kasar.0 t ak 35 . td = tidak ada data.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .8-6.Bahan.5-7 15-20 8 .35 50 . ah 15 . sr = sangat rendah. ah = agak halus.8 s h.0 st.15 5 . h = halus.55 25 .pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .C-organik Toksisitas(xc) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t = tinggi.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .0 / 7.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .KTK liat (cmol) . c k > 55 < 25 - . s = sedang. at s < 15 > 75 > 16 > 500 6.Batuan di permukaan(%) .Kejenuhan Basa (%) .Curah Hujan (mm) .N-Total .P2O5 .Tekstur .8 / > 8.K2O .8 < 4.50 <35 < 5.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . .8-8. ak = agak kasar.st st.sr t-s ≤ 0. Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . kasar (%) . t.16 r-s 5 .40 15 .Singkapan batuan (%) t .15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 .Drainase Media perakaran (r) . s st > 0.Penggunaan Lahan g.75 ≤ 16 35-50 5. r = rendah.0-7.5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .Loreng (%) .25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.8 4.

Loreng (%) .8 / > 8.25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.8-6. t.Kejenuhan Basa (%) > 50 6.Drainase b.0 / 7. td = tidak ada data.Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .0 td 50-60 / > 95 t ak 35 .40 15 . h = halus.8 .st . c k > 55 < 25 - r-s r .35 50-75 ≤16 35-50 5.Tekstur s .8-8.Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) . s . s = sedang.0 td < 50 st. ak = agak kasar.C-organik > 0. r = rendah.sr t-s ≤ 0. ah = agak halus.5 Sodositas (xn) .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .Penggunaan Lahan h.pH H20 t .15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 .5-7 td 8 . sr = sangat rendah. t = tinggi.Bahan.Curah Hujan (mm) 350-800 . ah 15 . <8 .Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) .P2O5 .Salinitas (dS/m) < 4.K2O st .0-7.8 4.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .55 25-50 < 35 < 5.15 5 .Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) . k = kasar.N-Total st.KTK liat (cmol) > 16 . at Media perakaran (r) . kasar (%) < 15 .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h.Batuan di permukaan(%) <5 . Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .16 r-s 5 .8 Toksisitas(xc) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 .

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

K2O .2 < 1. t = tinggi.15 5 .0-7.15 < 20 / > 90 t h 35 .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0-7.C-organik Toksisitas(xc) .Singkapan batuan (%) sr td r < 0.40 15 . k = kasar. Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 .Bahan. td = tidak ada data.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Batuan di permukaan(%) .KTK liat (cmol) . at ak.Penggunaan Lahan l.5 20-35 8 .Tekstur .P2O5 .6 st.2 1. ak = agak kasar.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 . t.sr t-s 0.0 / 7.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . r = rendah. s st > 1.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .35 40-60 ≤16 20-35 r-s r .5-7 35-50 16-30 b 15 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . kasar (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . c k > 55 < 25 - 6.Kejenuhan Basa (%) .CH harian (mm) .6 . .N-Total .8-1. h = halus. Sawi (Brassica rugosa F. s = sedang.7 / > 7.25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. sr = sangat rendah.Loreng (%) .16 r-s 5 .8 4.Drainase Media perakaran (r) .) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b. ah = agak halus.5-4.st st.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .7-6.0 5. ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .55 25-40 < 20 < 5.

c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan . td = tidak ada data.5 1. k = kasar.Drainase b.8-1.N-Total st.Bahan.Salinitas (dS/m) < 1.Loreng (%) . s = sedang.0-7.5-7 Sodositas (xn) . ah s h . <8 8 . ak = agak kasar. kasar (%) < 15 15 .16 16-30 .15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6. t = tinggi.5 4.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .25 st = sangat tinggi.35 35 .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) .55 .6 < 5. at s t Media perakaran (r) .2 0.7 / > 7. t.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Curah Hujan (mm) . s r .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .0 / 7. N <4 / >35 <150/>1000 st.40 .K2O st t-s r .0 5.sr td .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .P2O5 .Tekstur ak.pH H20 t . r = rendah. Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .15 15 .st r-s sr . sr = sangat rendah.7-6.Singkapan batuan (%) <5 5 .8 Toksisitas(xc) .5-4. ah = agak halus.6 . h = halus.C-organik > 1.Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 .Penggunaan Lahan m.0-7.Batuan di permukaan(%) <5 5 .2 < 0.

kasar (%) < 15 . t.Batuan di permukaan(%) <5 .P2O5 . k = kasar.16 r-s td 5 . <8 .5 / >8.8-1. sr = sangat rendah. Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o . td = tidak ada data.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .0-7.C-organik > 1.0/7.Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .pH H20 6.35 50-75 ≤16 20-35 5. at Media perakaran (r) . c k > 55 < 25 - r-s r .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 .8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .5-8. t = tinggi.0 td st. ak = agak kasar.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) . s . ah = agak halus.Curah Hujan (mm) 400-700 .Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .Kejenuhan Basa (%) < 35 .2 5-8 15-25 8 . r = rendah.KTK liat (cmol) > 16 .25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) .Loreng (%) .5 t .15 5 .sr t-s 0.K2O st .Tekstur ah.40 15 .Penggunaan Lahan n. h = halus. s . s = sedang.5-6.15 sr td r < 0.2 Toksisitas(xc) .Bahan.Drainase b.Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) .0 td <20 / >90 t ak 35 .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .N-Total st.55 25-50 < 20 <5.st .

0-8. sc Media perakaran (r) . ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) . td = tidak ada data.0 5.40 >40 .2 0. 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) . <8 8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .Bulan kering (bln) td td td td .2 < 0. t. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .0 < 5.2 / > 8.Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 . s ak h k .pH H20 td st.6/7.K2O st t. t = tinggi.2-5. s b sb Bahaya banjir (f) . s r sr . s = sedang. kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 .Bahan. s r sr td .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Penggunaan Lahan o.N-Total st.Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5. k = kasar.C-organik > 1.6-7.Batuan di permukaan (%) <5 5 .Bahaya erosi sr r.Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .8-1. ak = agak kasar.16 16-30 >30 .Drainase b.25 >25 st = sangat tinggi.15 15 . h = halus.15 15 . sr = sangat rendah. at s t st.P2O5 .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) . r = rendah.8 Toksisitas(xc) .0 .Lereng (%) .Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) .Tekstur ah.s r sr .t.

t = tinggi.pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b.0 5.2 < 1. ak = agak kasar. Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 .7 / > 7.Kejenuhan Basa (%) . .5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0. r = rendah. kasar (%) .6 . s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5. Lobak (Raphanus astuvus L.7-6. h = halus.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Lereng (%) . td = tidak ada data.Bahan.0/7.C-organik Toksisitas(xc) . s = sedang.Penggunaan Lahan p.2 1.5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Drainase Media perakaran (r) .8 4.N-Total .) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) . c k > 55 < 20 td td td 6.Singkapan batuan (%) td td td < 0. ah = agak halus.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .5-4.Tekstur .5 20-35 8-16 r. sr = sangat rendah.Curah Hujan (mm) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0-7.6 td td st.0-7.K2O .KTK liat (cmol) . k = kasar. ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1.8-1.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . at ak.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 .

H. The Organizing Committee. 2: Plenary Papers. and Ofori. Costanza. Vol. Eswaran. 1991. Dumanski. 1984. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah. 85 p. UK. R. Rome.. World Bank. dan D. Indonesia. Djaenudin. 1994. Nomor 1. FAO. Suharta. and John Wiley. (eds. Environment Working Paper No. An FAO study. Depar-temen Pertanian. International Workshop on Sustainable Land Management. Ottawa. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. Vol. D. Anny Mulyani. pp. N. Subagjo. Rome. Agricultural Institute of Canada.C.). Chichester.). Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. _____. The Organizing Committee. 1: Workshop Summary. Bachri. H. 2000. In: Environmentally Sustainable Economic Development. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. J. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 . J. 205-225. 17-18 Februari 1998. R. H.Referensi REFERENSI Alexandratos. C. Versi 3. Wood. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. dan N. Pushparajah E.18. and Dumanski. 46. Washington D. 1994. VIII + 55h. 1999. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century.C. (ed. 1995. Djaenudin.). Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. S. 1998. Building on Bruntland. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang.. Daly. 1991. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. R. Anonymous. Vol. Terminal report UNDP – FAO.. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (eds. S. Ottawa. Agricultural Institute of Canada. International Workshop on Sustainable Land Management. and El Serafy. Goodland. Marwan H. World Agriculture: towards 2010.

Lima. J. _____. and Herdt. S. and Dumanski. Soils Bulletin 58. 1977. A framework for land evaluation. FAO. Yogyakarta. FAO Soils Bulletin 32. R. 1996. Development Series 1.(eds. Yogaswara. Widiatmaka dan A.. Soil Resilience and Sustainable Land Use. Karama. and Winograd. D. A framework for land evaluation. UK. paper given at Cali LQI workshop. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. Rome. 1994. L. CIP. _____. Jurusan Tanah. Hardjowigeno. _____. Publication 22. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. 123 p. FAO.). Young (eds. dan S. Wageningen. Rome. J.74 p Greenland. Harijogjo. viii + 87 h. 1993b. 1984. Rome. M. (eds. A. 22. _____. FAO. I. 150 p. S. D.J. Rome. Jones P. Land evaluation for forestry. _____. FAO. Fakultas Pertanian. ILRI.Referensi FAO. H.J. Lyman. Rome. _____. Forestry Paper 48. 1994. and Szabolcs.J. 72 p. Rome. 1994. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. Soils Bulletin 52. 1988. June. 96 p. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. Wallingford. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. CAB International. 129-140. IPB. (R. Guidelines for land-use planning. FAO. Melitz. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. The Netherlands. The sufficiency concept in land evaluation. 1976. FAO. A framework for land evaluation. Rome. P. Harrington. Washington. 237 p. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. 1993a.. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . No.C. 1991. 1986.).)). Brinkman and A. Peru.I. Wageningen. 1999. Soil Resources Development and Conservation Services. 1983. Djaenudin. Smyth. _____. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. Unpub. Land and Water Development Division. IRLI Publ. Soils Bulletin 32. D. Subagjo. World Soil Resources Report 73. 1976. World Bank. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. Also.

Rome. pp. R. and Young. 1994b. A. Oldeman. Dumanski. Wageningen. S.. Rossiter. & Atmospheric Sciences. Bie (eds. J. Washington D. C. World Bank Discussion Paper 315. and ISRIC. D. 74 p. R. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. Inform. J. Menon. Survei Sumberdaya Lahan Smith.T. and Sombroek. J. Nining Wahyuningsih. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. UNEP. 1977..E Estes. J. W.).. 103 h. A. 19-36. & J. Int. O'Connor. 3 map sheets and explanatory note. 2003. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. Geogr.R. Crop. Pieri. 1994. 1993. Oldeman. 1994a.W. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD). 2nd revised ed. Hakkeling. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). of Soil.C. Global extent of soil degradation. L. A. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. Towards Environmentally Sustainable Development. 1994. World Bank. Uses of soil information system. Hamblin. Lecture Notes: Land Evaluation. Land Quality Indicators. Rossiter. Washington D.Referensi Moore. Smyth. 1978. G. J. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly.C. World Bank. System 1 (1) : 13-31. G.. Cornell University. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 ..J. 1994. 1987. J. D. 1992. & S. T. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management.R. In: Bi-annual Report 1991-1992.C. Methodology for Soil Resource Inventories.. A.C.G. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. World Soil Resources Report 73. Puslittan. Dept. and Dumanski. FAO. Environmental performance monitoring indicators. 1995. Nairobi. 22-23 Sept.A. 63 p. The Netherlands. Buenos Aires.L. College of Agriculture & Life Sciences. 18-26 Jan. Sitorus RPJ. A User-Oriented Workshop.L. 1991. ISRIC. The Netherlands. Measuring Progress. Wageningen. Star.W. 2000. Wageningen.

G.). Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. Robinson (eds. Dalam: A. 294 p. & A. ILWIS. 1993.). Subagyo. 1 Soil Management Support Services. & G. Assoc. M. New York. Bogor. Storie.A. 8. H dan IPG. Soil Research Institute.Referensi Soepraptohardjo. No. Valenzuela. Land Evaluation. Alih Fungsi Lahan Pertanian. 1993. ITC publ. Meijerink. 69h. 1998. constraints and future needs. ILWIS. 1975. Soil Survey Interpretation and its use. Handbook of soil evaluation.. Constraints and Opportunities. Student Stors. H 1-10. Dalam: G. D. Macmillan of Australia. Stewart. Washington. Velenzuela. J.A. United Nations. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Stewart (eds. 1988. UC Berkeley.J. W.E. Overview. Technical Monograph No. Widjaja Adhi. Deptan.G. Ssouth Melbourne. h 4-14. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia.). 7. Nigeria. Iii + 31 h. Enschede. 1995.R. G. Steele.C h 7-14. Rome. Stewart (ed.R. R. 1968. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. xviii + 225 h.H. FAO. CSIRO Symposium. Sombroek. pp. 12-30. Land Evaluation. Jakarta. & FAO.M. C. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. Harian Kompas 15 Oktober 1995. Soni Harsono. C. 1964. Ibadan. UNCED. 1967. IITA. Soil Buletin No. Balitbang.