P. 1
Buku Evaluasi Sbd Lahan

Buku Evaluasi Sbd Lahan

|Views: 515|Likes:
Dipublikasikan oleh Febriani Safitri

More info:

Published by: Febriani Safitri on Mar 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2015

pdf

text

original

SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

sehingga menjadi suatu buku. Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. parameter penafsir lahan. pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah. unit lahan. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. survei sumberdaya lahan. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. yang semula berupa catatan-catatan kuliah. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda.

kegunaan klasifikasi lahan. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . kimia lahan serta geomorfologi lahan. kacang-kacangan. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. kesesuaian lahan. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. maka saran-saran. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. Surabaya. Bab III. kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua. V. prosedur klasifikasi. IV.fisik.

2.5 Tanah 2. 2. 2. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.8. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2. 3.4. 3. 2.3.2. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2.4.1. 3.5.4.2.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.1 Bentuk Lahan 2.4. 2.4.4.8. 2.3 Kondisi Drainase 2. Penggunaan Lahan 1.3.4 Kondisi Permukaan lahan 2.8.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2.4.1 Aspek Tanaman 2.6. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan .1.7.4.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.1.4.2.

3. 4. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5.1. 4. 8.1.2.4. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6. 8. 8. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4.2. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5.2.3. 4.4. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7.2.1.3. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan .1.1.2. Penilaian Kesuburan Tanah 6.

4.1.2.11. 2. 2.2. 5. 5. 2. 2.1. 2.5.8.7 5. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan. 5.9.8.Daftar Tabel 2. 5. 5. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v . 2.3.6.10. 2.7.5. 2. 2.4. 5. 2.3.6. 5.

1. 6.4. 7.1.10. 7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. 7. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan .2.5.5. 7.3.9. 5. 7.

7. 4. 5.2.Daftar Gambar 1. 2. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii .1.1.1. 3.1.1.1. 3.

sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. Di lain pihak. pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 . daerah pemukiman. seperti untuk pertanian. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. tanah. 2001). Dengan demikian. daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. 1986).Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. Akibatnya. daerah industri. jalan untuk transportasi. relief. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim.

lereng permukaan tanah. penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi.2. Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya. tumbuhtumbuhan. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. keadaan politik. air. (Wahyunto et al. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. 1975). Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi.1995). Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. 2001). atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan.1.. keadaan pasar dan transportasi. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan. hewan dan kependudukan. Untuk aktivitas pertanian. 1.Sumberdaya Lahan 1. iklim. tanah. lokasi industri. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis.

Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. Menurut McNeill et al.Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. Kedua. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. Ketiga. Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Sebagai contoh. demografi dan budaya. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 . Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. ekonomi. Akibatnya. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan. Pertama.. transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja.

1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. iklim mikro. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya.65% pada tahun 1990. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0. pencemaran.05% dan meningkat menjadi 14. Penelitian terhadap struktur ekonomi. penduduk. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan.46%. Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman.

Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum. Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai. Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 . sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit.

Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. tipe batuan. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. erosi dsb).Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. hasil penelitian terdahulu. Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi.

Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama.2. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Pertanyaan selanjutnya adalah. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. baik foto maupun citra satelit.1. Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan. perangkat penafsiran foto udara. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2. 2. Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut. perangkat pengelola data. Batasan Unit Lahan. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra.

Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak.3. 2. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama. Dengan demikian. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara.

Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000.1. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. jalan. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. 2. 10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. sungai dsb. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T.16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada. misalnya desa.

2.4. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar. Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. 4.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit). Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng.

Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. 1977) dan Kucera (1988). Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap. 4. Pada perisalahan hutan. Aspek Tanaman 5. Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. 2. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik.4.1. lereng tengah atau lereng bawah. bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum. Pada skala detil misalnya. lereng atas. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape).Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal.

1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes.2.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi.2. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Tabel 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 . Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan. Jadi informasi ini sangat dibutuhkan.4. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan. Kemiringan dan Arah Lereng.

informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan. jenis tanaman dan kedalaman tanah. misalnya panjang lereng dan bentuk lereng. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. Tabel 2. Klasifikasi Kelas Kelerengan. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. Kondisi Drainase.15% =2 15 .3. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi.4.Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. Biasanya pada topografi yang berbeda. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil.3.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2. Dalam buku ini. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. kondisi drainase. misalnya.100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 . Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah.25 % = 3 25% . Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 .

Tabel 2. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut. misalnya. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. maka kondisi drainasenya makin buruk. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. Kondisi drainase jelek. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi.4. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks.Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun. karena kapur dapat meloloskan air. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar.

tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. hal ini adalah erosi dan pengikisan. informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. Disamping itu. Air cepat hilang dari tanah. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. solum tanah bebas dari bercak. Air mudah hilang. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim. terdapat bercak-bercak pada horizon B. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi. Bagi pengelola hutan. 2. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda. maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen.4. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap.4. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama.

vegetasinya. Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya.10 10 .4. Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu.40 40 . Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar.80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah. lahan mempunyai jenis tanah Entisol.5.20 20 . Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi. Tabel 2. Dengan demikian apabila suatu. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .10 10 . Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail.60 60 .5. Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri.80 Prosentase Singkapan 0 1 . maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal. Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia.40 40 . iklim. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya.60 60 .20 20 .Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif. Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia. maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 . Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk.

akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik.4. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Tabel 2. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit. misalnya. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2.6. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit.6. Kode Great Group Tanah. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut. 18 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. Pada prakteknya. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000. tekanan. dapat digunakan Peta Geologi. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . misalnya penterasan. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. yaitu batuan beku. Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga.

kedalaman tanah mempunyai pola umum. pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Tabel 2. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. Pada tanah yang dangkal.7. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah.4.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman. Pada satu unit lahan.7. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak.

kondisi drainase. misaInya drainase.30 cm 30 . Tabel 2. silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. maka pembentukan tanahnya lambat. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. Akibat lebih jauh. Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. debu dan lempung/ Sand. Seperti haInya kondisi permukaan.15 cm 15 .Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 .5. tipe batuan dan bentuk lahan. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi.60 cm 60 .90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis. kemiringan lereng.8. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara.

Tabel 2. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan .6. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut.9. tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan. Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang.

Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman.Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. beberapa penyusun protein. Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. asam nukleat dan substrat metabolisme. Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. translokasi karbohidrat. Kalsium (Ca). sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. koensim.1 satuan. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. Magnesium (Mg). Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. sintesa protein dan lain-lain. Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. Ca merupakan komponen dinding sel.

7.60 > 60 41 .00 > 5.5 > 1.6-6.5 4.2.Masam Netral < 4. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.1.25 26 . Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun.8 . Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan.51-0.35 > 35 46 .20 21 .0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.0 2.4 0.21-0.1 . Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 .3 0.7 Mg (me/ 100 g) < 0.4 .45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .0.1 0.0.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .01 -3. Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan.24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0. alkalis 7.1997).20 51 .60 > 60 25 .00 2.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.10-0.0 > 8.0. 00 1.1 .25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .1 .01-5.8.10.25 > 25 41 .70 31 -60 A.1.5 2.2 0.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat. Tabel 2.20 0.1 .10 0.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 .40 21 . Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.0 0. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.5 6.0 11 .6-7. Parameter ini sangat dinamis.1.50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .5 Na (me/100 g) < 0.4 .0 > 1.00 0.5 5.0.60 > 60 26 .75 16 . Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah.1 0.3 .40 > 40 Tinggi 0.00-2.Masam Masam A.6-8.0 1.5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.00 N (%) < 0.6 . Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.75 > 0.5-5.

akibat adanya pengolahan tanah.8. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion).11. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar. Tabel 2. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi.1. Sedangkan erosi angin. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. Sifat Geomorfologi 2. erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion). Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan. jurang (gully erosion). Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi. ringan. erosi parit (rill erosion). walaupun ada. sedang dan berat. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi. tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. yaitu diabaikan. Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut.8.

Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya. Fenomena perbedaan pola. lahan dan iklim. hujan antar petak juga. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. kemiringan lereng dan arah lereng. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2. Informasi hujan yang diperlukan dalam. Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. jumlah bulan basah. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan.8. Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. dalam hal ini curah hujan. karena terbatasnya stasiun meteorologi. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. 2. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan.

bulan lembab antara 100 .200 mm sebulan. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. tergantung pada dasar penentuannya. Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan.1. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm). tetapi data curah hujan biasanya tersedia. Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai. maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ). Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. Gambar 2. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. Khusus tentang penakar hujan. Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 .Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei.

A1 + P2.3 = Tinggi hujan di stasiun 1. 3 A1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 2 3 (Faktor Pembobot).2.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1. 2.3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1.2.A2 + P3.Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1.

1. Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. Ekonomis diperoleh diterapkan. 2. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . Lahan. 2. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). dari kelayakan usaha yang akan 3. Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis. Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan.Klasifikasi Lahan 3. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama.

Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.2. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. 3. politik dan administrasif. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan.3.4. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan. meliputi aspek sosial. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. 3. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. ekonomi. (b) Alami.

penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural). Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. (bid. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan. . Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. 4. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). 6. mengembangkan. Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan.Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. 2. Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). Klasifikasi satu faktor. 3. Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1.

2.1. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. (pendekatan dari bawah ke atas). 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya. Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi. dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah). Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3. Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui.

dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3.2. politik. 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. sosial. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 .

1990). yaitu: Klas. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept. Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1. Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya.1. Sub Klas dan Unit. hutan produksi dsb). Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. perkebunan. Jadi. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari.

1. masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang. mempunyai hasil potensial yang hampir sama. Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e). Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). 4. memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1. Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. 0 kelas I . iklim (c) dan gradien (g). 3. kebasahan (w).ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi).Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . karena telah dibuat teras bangku datar. 2. Contoh Sub kelas Vie. karakteristik tanah (s). VIe2 dsb.

misalnya GWT turun. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. (Kelas. 3. kesuburan meningkat. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. 4. 5. Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. irigasi. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2.

Jaringan drainase yang luas. Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. mineral liat .2.Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan. pemilikan lahan dan ketrampilan petani. 4. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi. fasilitas.Gerakan massa tanah/longor . Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd. irigasi. batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Keragaan (performance) lahan. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya. padas. dan pengendalian banjir 7. karakteristik tanah.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) .Banjir . alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng. Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al.Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk. penahanan air. tekstur. jarak.kebasahan berlebih setelah drainase . Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd.Letusan gunung api . Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan .

lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 . sedang (60-90 cm) . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas.Rentan terhadap Pengendapan.Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun. struktur) ringan .Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan . .Iklim < menguntungkan (ringan). Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi. kebasahan ringan (Horison B bercak) . erosi tebing sungai .Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur. sedang tehadap erosi alur.Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya. : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb.Setelah drainase. lapis dan jurang) . tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah. .Kerentanan. maka perlu upaya konservasi khusus.Karakteristik tanah (tekstur.Jeluk.

40 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kondisi iklim yang tak menguntungkan. sehingga perlu konservasi intensif. berat .Setelah drainase. dangkal (30-60 cm) . : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. berat. Iklim < menguntungkan (ringan).Jeluk. kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). erosi tebing sedang . bulan kering 5 bulan. .Kesuburan alami rendah . sedang . Berturut.Karakteristik fisik tanah. .Setelah drainase.Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. . CH > 200/bulan.Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan).Kerentanan terhadap deposisi. bulan kering 5 bulan Berturut. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan.Klasifikasi Kemampuan Lahan . kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). sangat < menguntungkan. berat . .Karakteristik tanah yang tak menguntungkan.Rentan pengendapan. erosi tebing sungai.Setelah drainase.Jeluk.) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. . kebasahan dan kebecekan. CH > 200/bulan.Sifat rentan terhadap erosi lapis. alur dan longsor. sangat dangkal (15-30 cm) . .

Jeluk.Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun. . rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan . terdapat banyak batu . dangkal (10-15 cm). pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk. dangkal (< 15 cm).Kesuburan alami rendah .) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. dangkal < 10 cm Kesuburan alami. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase. kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. Jeluk.Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Klasifikasi Kemampuan Lahan . (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan.

Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Hanya konservasi DAS 4. CH < 100 mm/bulan. Sesuai untuk perlindungan DAS. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry.3. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. dan hutan. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku.Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. pada rumput. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. agroforestry. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan. Kelas ini sesuai untuk padang rumput.4. padang rumput atau hutan. 4. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. pada rumput dan hutan. atau hutan. dan hutan. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan.

Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien. pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan. tekstur dll) Iklim.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil. struktur.Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 .

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. kedalaman tanah (Tabel 2.6).3).Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi.2) dan tingkat banjir (Tabel 3. 1c.4). Gunakan Tabel 3. Gunakan Tabel 3. dan Gradien 1a. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3. Tanah. Gunakan Tabel 3. 1b. Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 .6). Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3. Ikliim.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2.9). tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3.

lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g . iklim. 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras.lanjutkan ke LANGKAH 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan .1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2.lanjutkan ke LANGKAH 3. kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s .Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d. ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c .lanjutkan ke LANGKAH 3. Gunakan Tabel 3. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. tanah. LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a. ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar.

lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK . Inceptisol.1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol. I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . Entisol.

II. Fall. VI.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I. sedang.1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar . VII. Flow. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump. atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan .Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan. Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras .namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan . atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3. atau Tanah longsor adalah ringan.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V.lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) .

Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e. Gambar 4. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 .1.

kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim). Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 .Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. g dan sd) atau sebaliknya. Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. a (keasaman). s (tanah). Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. w (drainase). Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. 1994) dan metode Webb (1984). tanaman keras. e. w. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. sesuai (S2). yaitu : sangat sesuai (S I). sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan. metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. Oleh karena. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan. yaitu e (erosi). Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat.

Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim. pabrik. pupuk. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. 5. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan .bibit. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain. 7.1. Pasar (market oriented). Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. 8. hidrologi dan vegetasi. Intensitas tenaga kerja 5. Intensitas modal 4. Sumber tenaga. tanah. konsultan dll. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. alat & mesin. hewan atau mesin 6. tk pendidikan. manusia. 3. 2. Kebutuhan Infra Struktur. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu. ketrampilan dll. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. pasar. Tingkat Teknologi yang Tersedia. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya.

per produksi. tekstur. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . kelompok dll. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. lokasi terpisah atau menyatu. dll. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. Contoh Kebutuhan oksigen dll. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. kapasitas menahan air. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Sistem Pemilikan Lahan. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. dilakukan sekali. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. 2. Jaringan irigasi. 11. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. 1. ? Luas lahan per petani. perseorangan. Pemupukan. 10. ketahanan erosi. per luas. perkapita. Tingkat Pendapatan. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan. penambahan BO dll. Ketersediaan air. reklamasi tanah dll. CH. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. Luas dan Pemilikan Lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. slope.

keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. Pertimbangan yang dipakai: a. Ekonomis. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. Pemberantasan gulma. 5. 2. Terdapat dua order yaitu: 1. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Ordo 2. lereng) teknis tidak b.2. pembuatan saluran drainase dll. Terdapat empat kategori. yaitu: 1. Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output.

sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. b. Kekurangan air. yaitu: a. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. pembatas berpengaruh pada output. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. mk dapat dipakai bersama sama. b. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. d. N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. e. c. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. dan menambah input. bahaya erosi dll.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. Misl. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas.

N2w S3n-1. S2n-2. S2e-2 N1e.luas dan batas daerah yang dievaluasi .3. . S3n-1. menjabarkan tujuan evaluasi. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan.1. Tabel 5. misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan . S3n-3 dll. Konsultasi awal. data yang tersedia sebagai dasar evaluasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas. S2n-1.macam penggunaan yang direncanakan .Apa tujuan evaluasi . N1n - 5. S2w S2e-1. S3n-2 dll Unit S2e. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x.data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi .pendekatan yang digunakan . Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1. S3n-2. S3t N2t.

Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi. menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. Penutup.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas). Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. 4. . (kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama. produksi.intensitas dan skala penelitian . pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi. persyaratan dan pembatasnya. Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. Klasifikasi kesesuaian lahan c. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 . evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. penggunaan saat ini dll. Satuan lahan dan kualitas lahan. Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5.

Masam T.1.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5.4. asumsi.25 25-50 > 50 pH Ksr. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S.Masam & Alkalis Tabel 5.Alkalis Ada S. Ada Masam-A.3. data.2.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 .sdg. Ada Netral-A. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar.hls Sdg-rdh T. rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5.

Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5.6.sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar .Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.8. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 .5.

en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3.9.10.

Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. Mg. pH (H2O) rasio 1:1 c. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 . 1982 dan Sanchez and Boul. Kadar Ca. 3. 4. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e. gudang dan penyuplai unsur hara. Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. Tekstur tanah b. serta tempat penyedia air. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah.Klasifikasi Kesuburan 6.1. 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2.

Kadar Al terekstrak 1 N KCl. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5.1.0 b. Fe2O3 bebas. bila kadar liat > 35% c.Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a. 1983) Tabel 6. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain . Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org). bila pH (H2O) 1:1 < 5. pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah.

Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6. Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 . kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2.2. kadar liat > 35 % : Organik.

kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0. aridik.15 : Alofan dominan. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. dicirikan Kdd < 0. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah. xerik. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. dicirikan pH > 7. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi. : Kering.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa. tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. : KTK rendah. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic.

subtipedan modifier scr berurutan.Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. dicirikan pH (H2O) < 3. Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 .5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng.

1. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7. BUDAYA W. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain.1.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih . 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 .Ngarai . ALAM W.1.Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket.Taman Laut . Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama . ILMU W.Api Abadi . Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata. AGRO W.Kawah Gunung Api . BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. PARIWISATA (OBYEK) W.Tofografi Unik . Tabel 7.Evaluasi Lahan Non Pertanian 7.

Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Keamanan .Sinar Matahari .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Keperluan Sehari-hari .Sun Shine Suhu udara Cuaca . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Transportasi .Salju abadi .Sun set .Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .2.Penginapan .Komunikasi .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Hiburan Malam .Untuk Berobat .Keuangan .Angin Tabel 7. Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .

01 – 0.Lambat >6% sc. Baik & a. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA. 7. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm.berpasir sangat halus.Buruk GW A. Baik & A.liat.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp. vfsl. c.Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7. ls = pasir berlemp.2. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. cl =lemp. c = liat.berpasir. vfsl = lemp. BC dan BO 7. org < 50 cm > 20 % >3% > 0. l = lempung. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials).baik.2.2.3 % 0. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S.7 mm  Pasir : 4. sil = lemp.3. Buruk > 50 cm S. plastisitas.Cepat.berdebu. ls 50 – 100 cm < 20 % 0. scl = lemp.lambat 0-2% sl.2. sdg A.1 % Batu (25 mm .1 % S.sepat.Lambat. sic = liat berdebu. scl.berpasir halus.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 .Buruk. s.074 mm  Debu : < 0.7 mm – 0.1. s = pasir. sil > 100 cm 0% 2–6% cl.liat berpasir. fsl. Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt. Sc = liat berpasir. sicl = lemp. sic.01 .l.0 – 4. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A. fsl = lemp. sicl.liat berdebu.Buruk.

Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. CL dng PI < 15 CH.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7. GP.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. GW.09) Tabel 7. SW. GM.03-0. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0.09) 0. SM. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt. GC.03) Sedang (0. OH.4. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.03) Tinggi (> 0. (USDA. SP. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan .5.5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0. MH. SC OL.09) CL dng PI > 15.09) Tinggi (> 0.03Rendah (< 0. OH. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .16 16-30 >30 .8-5. s r sr td . k = kasar. h = halus.pH H20 5. at s t st Media perakaran (r) .8 Toksisitas(xc) .2 0.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr r. t.Singkapan batuan (%) <5 5 . ak = agak kasar.8 / > 7.40 >40 . t = tinggi. r = rendah.15 15 . t s r sr .2 / 7.Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td .2-7.KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .Bahan.15 15 . td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ah h ak k .2 < 0.Penggunaan Lahan d.K2O st. s r sr td . Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .Lereng (%) . sr = sangat rendah.Drainase b.Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) . s b sb Bahaya banjir (f) .P2O5 .6 < 4.Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s = sedang. t.2 4.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .N-Total st.Tekstur s.6 td st.1. data.8 .2-7.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .C-organik > 1.Batuan di permukaan(%) <5 5 . <8 8 .

Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . r = rendah. Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .75 Retensi hara (n) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .35 < 20 .2 < 0.Bahan.Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) .8 Toksisitas(xc) .pH H20 5.Penggunaan Lahan e.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi. ah s ak .Batuan di permukaan(%) <5 5 .2/8.8-5. ah = agak halus. k = kasar.8 / >8.2-8.P2O5 st t-s r .16 16-30 .75 25 . h = halus. data.Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Drainase b s t Media perakaran (r) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .C-organik > 1.2-8.Singkapan batuan (%) <5 5 .Tekstur h. ak = agak kasar.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .N-Total t . s = sedang.8 .2 0. s r . <8 8 .15 15 . kasar (%) < 15 15 .1. t = tinggi.55 . sr = sangat rendah.35 35 .4 . t.sr td .40 .2 4.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) .Lereng (%) .15 15 .st r-s sr .4 <4. Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) .K2O st.

2 5. s ah h k .Loreng (%) .P2O5 . r = rendah.N-Total st.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .2 . td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang.2 / > 6.C-organik > 1.2 0.25 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) . <8 8 . ak = agak kasar. Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . t = tinggi. data.8 < 5.Drainase b. h = halus.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .75 < 25 Retensi hara (n) .35 < 20 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .5 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .1. s r .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 . at st Media perakaran (r) .15 15 .Tekstur ak.Batuan di permukaan (%) <5 5 .15 15 .6.sr td td .pH H20 5.K2O st t-s r sr . ah = agak halus.6.5 / 6 2 .8 t .Singkapan batuan (%) <5 5 .35 35 .75 25 .st r-s sr td .8 .40 >40 .90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) .Bahan. t.2 < 0.Penggunaan Lahan f.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.5.55 > 55 .75 20 – 24 / 75 .8 Toksisitas(xc) . kasar (%) < 15 15 . ab s t. k = kasar.16 16-30 >30 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .

15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.55 25 .28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Batuan di permukaan (%) .35 50 .8 .75 20 – 24 / 75 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . at h 35 .6. k = kasar.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .35 5.1.pH H20 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 . ak = agak kasar.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . s r .Tekstur . s < 15 > 75 s ah 15 . r = rendah.P2O5 .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan g.KTK liat (cmol) . t.90 < 20 / > 90 b.Loreng (%) .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .8 sr td r < 0. t = tinggi.2-5. data.K2O .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .2 0.16 r-s 5 .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .Drainase Media perakaran (r) .5 / 6 2-6. ah = agak halus.2 / > 6. Gandum S1 21.25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .Kejenuhan Basa (%) .Bahan.C-organik Toksisitas(xc) .75 < 20 < 5.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 . h = halus.5 . kasar (%) .15 5 .40 15 .75 t.2 5.8 t . s = sedang. sr = sangat rendah.N-Total .st r-s st. ab ak. .sr st t-s > 1.

t. <8 8 .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .C-organik > 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-4 / 8-8.5 1.5-9.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) .3 td .K2O st.N-Total st.Drainase b.Bulan kering (bln) 8-4 2.5-2.Penggunaan Lahan h. sr = sangat rendah.Lereng (%) .Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) . s ah ak k .Bahaya erosi sr r.5 / >9.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . s r sr .4 Toksisitas(xc) .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus.40 >40 .5-8. s r sr td . r = rendah.Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) .2-8. sc Media perakaran (r) .s r sr .Singkapan batuan (%) <5 5 .3 < 5. t.25 >25 st = sangat tinggi. s b sb Bahaya banjir (f) . s = sedang.Bahan.3-5.Tekstur h.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .5 5.5 .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) .pH H20 5. h = halus. k = kasar. td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ak = agak kasar.3/ > 8.5/8. data.P2O5 st t.5 <1.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 . t = tinggi.5/8. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .15 15 .15 15 .4 td ≤ 0. at s t st.Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .

P2O5 td td td td ≤ 0.0 / > 7. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .8 .Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 . s = sedang.5 td . h = halus.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . s b sb Bahaya banjir (f) . t = tinggi. ak = agak kasar. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .C-organik > 0.5-6. sr = sangat rendah.5-7.Penggunaan Lahan i.Bahaya erosi sr r.Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi. s ak h k .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .40 >40 .Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .KTK liat (cmol) >16 td td .5/6.Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td .Drainase b.5 5.N-Total td td td td . r = rendah.Lereng (%) . <3 3-8 8-15 > 15 . data.K2O td td td td .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .5 < 5.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 5.Tekstur ah.0-5. k = kasar.8 td td Toksisitas(xc) . ah = agak halus. at s t st Media perakaran (r) .Bahan.

80 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahaya erosi sr r.4 td ≤ 0. ah = agak halus. ak = agak kasar.0-7.Drainase b. s ah h k .Bahan. sr = sangat rendah.0-5.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .5 / >7. s = sedang.40 >40 . ab at s.pH H20 5.5 <4. td = tidak ada data.15 15 .5 td .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . Iles-Iles (Amorphophalus sp. t st. c Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan j.N-Total r sr td td .0 / 7.K2O r sr td td .Lereng (%) . h = halus. r = rendah.Singkapan batuan (%) <5 5 .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi.0-7.0 4.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .P2O5 r sr td td .15 15 . k = kasar.Tekstur ak.4 Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan (%) <5 5 .25 >25 st = sangat tinggi.C-organik > 0.) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . s b sb Bahaya banjir (f) . <8 8-15 15-30 >30 .Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) .

5 1.15 15 . td = tidak ada data.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .6 5. Tanaman Kacang-Kacangan a.P2O5 .4-5. s ah ak k .15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 . h = halus. r sr td td .Batuan di permukaan(%) <5 5 .6 / 7. s b sb Bahaya banjir (f) . t.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .Salinitas (dS/m) <1 1-1. t.0 Sodositas (xn) .N-Total st. t = tinggi.Tekstur h.Drainase b. r = rendah.40 >40 .Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.8 Toksisitas(xc) .16 16-30 >30 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 .Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .8 . s r sr td .Bahan.C-organik > 1.K2O st.0 < 5.5-2. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . at s t st.6-8.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.Bahaya erosi sr r.6-7.0 td st.2. k = kasar. Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Penggunaan Lahan 8.Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .0 > 2.Lereng (%) . <8 8 .2 0.pH H20 5. s.25 >25 st = sangat tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . t s r sr . ah = agak halus.4 / > 8.1. c Media perakaran (r) .2 < 0. s = sedang.

K2O .KTK liat (cmol) . t. 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan . k = kasar. Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.6 sr sr r < 0.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . r = rendah.40 15 . . c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4. ah = agak halus.8 4-6 15-20 16-30 b 15 .8 / > 7. h = halus.16 r. s 5 . at s.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Lereng (%) . t > 1.1.Kejenuhan Basa (%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi.25 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .2-7. ah < 15 > 100 > 16 > 20 5.Bahan.P2O5 . kasar (%) .2 / 7. ak = agak kasar. t.8 .pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st.8-5. s st. s = sedang. s st.2-7. sr = sangat rendah.Drainase Media perakaran (r) .C-organik Toksisitas(xc) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Batuan di permukaan (%) . td = tidak ada data.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 2-4 10 -15 8 .15 5 .6 r r s 0.2 st.15 t ak 35-55 50-75 td td < 4.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t = tinggi.N-Total .Penggunaan Lahan b.Tekstur .

5 5.8 Toksisitas(xc) .P2O5 . c Media perakaran (r) .st r-s sr td .2 < 0. at s t st.0-7.Lereng (%) . <8 8 .35 < 20 .sr td td . Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .25 >25 st = sangat tinggi. r = rendah.Salinitas (dS/m) < 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 .15 15 . h = halus.C-organik > 1.Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .0 < 5.15 15 .Drainase b.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 6.1.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . sr = sangat rendah.8 / > 8.35 35 . t.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . s = sedang.16 16-30 >30 .60 20-50 < 20 Retensi hara (n) . td = tidak ada data.55 > 55 .0 t .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . k = kasar.K2O st t-s r sr .0/7.5 2.2 0.Bahan. kasar (%) < 15 15 .Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .5-6. ah = agak halus.0 >6 Sodositas (xn) . s r .8 . ak = agak kasar.5 3.Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .Penggunaan Lahan c.40 >40 .N-Total st.8-6.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-3. ah s ak k .5-8.Tekstur h.

4 / > 8.15 1.K2O .Loreng (%) .35 50 .6-8.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .st st.Penggunaan Lahan d.0 < 5.40 15 . h = halus.sr td t-s r 0.8 . at h.Tekstur .6 t .50 st.KTK liat (cmol) .16 r-s 5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 .N-Total . k = kasar.pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b.Kejenuhan Basa (%) .0 r-s sr r .Batuan di permukaan(%) .6-7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .15 5 .1.75 t ak 35 . ak = agak kasar.Singkapan batuan (%) ≤16 20 .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . s < 15 > 75 > 16 > 35 5. 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 < 0.Drainase Media perakaran (r) .35 < 20 5. c k > 55 < 25 - .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.6 / 7. sr = sangat rendah. kasar (%) .2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .4-5. td = tidak ada data.55 25 .8 1-1. s = sedang. ah = agak halus. r = rendah.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Bahan.5 May-09 8 .5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 .C-organik Toksisitas(xc) . t. s st > 1. t = tinggi.

P2O5 .25 >25 st = sangat tinggi.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .75 25 .6 5.pH H20 5. k = kasar.15 15 .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.K2O st t-s r sr . Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .st r-s sr td .75 < 25 Retensi hara (n) . t.N-Total st.5 1.Salinitas (dS/m) <1 1-1.15 15 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .8 .4 / > 8.2 0.55 > 55 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .Loreng (%) . c Media perakaran (r) .6 / 7.35 35 .2 < 0. s = sedang.Penggunaan Lahan e. h = halus.0 t .Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) . td = tidak ada data. ab s t st.0 < 5.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 .C-organik > 1.Tekstur h. sr = sangat rendah. kasar (%) < 15 15 .6-8. s ah ak k .sr td td .8 Toksisitas(xc) .16 16-30 >30 . r = rendah.4-5. s r .1.Bahan. Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .40 >40 .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Drainase b. ah = agak halus. t = tinggi.5-2 >2 Sodositas (xn) .Singkapan batuan (%) <5 5 .6-7. <8 8 .

kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .3. ah = agak halus.Lereng (%) .15 15 .8-5.2 / 7.N-Total st.16 16-30 >30 . r = rendah.Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 .5-8.C-organik > 0. s r sr .P2O5 ≤ 0. s h ak k .8 .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) .Drainase b.Penggunaan Lahan 8. s b sb Bahaya banjir (f) . sc Media perakaran (r) .25 >25 st = sangat tinggi.5-4 4-5 5-6 >6 .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . at s t st.KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 . s r sr td .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td .0 < 4.15 15 .s r sr td . Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bahan. t.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .5 4.Singkapan batuan (%) <5 5 .0 td st.pH H20 5.2-7. ak = agak kasar.Bulan kering (bln) 2.8 td Toksisitas(xc) .t. 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi.Kejenuhan Basa (%) < 20 td td . <8 8 .Bahaya erosi sr r.K2O st t. h = halus. td = tidak ada data.Tekstur ah. sr = sangat rendah. s = sedang.Batuan di permukaan(%) <5 5 .40 >40 .Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) . Tanaman Perkebunan a.8 / > 8. k = kasar.

ah < 15 > 150 >16 > 35 6.8 td 8-16 r. .Kejenuhan Basa (%) .0-7.2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2.6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .K2O .Batuan di permukaan(%) . t = tinggi.5 < 1.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 . Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b.0/7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.Singkapan batuan (%) td td td 0.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . h = halus. ah = agak halus.Drainase Media perakaran (r) . r = rendah.8-1.5-6.N-Total .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 .1-1. kasar (%) . at h.Curah Hujan (mm) .Tekstur . sr = sangat rendah. s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi.Penggunaan Lahan b.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5.Bahan.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .6 td td td < 0.8-2.5 1. s = sedang.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .0-7.C-organik Toksisitas(xc) . ak = agak kasar.8 1. Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 . td = tidak ada data.0 td td td > 1.5 / > 7.KTK liat (cmol) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . k = kasar.Lereng (%) .

6 5.N-Total r sr td td .Lereng (%) .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .pH H20 6. h = halus. Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) .15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . t = tinggi.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .K2O r sr td td .4 Toksisitas(xc) .0-7. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . ah = agak halus. r = rendah. ak = agak kasar. <8 8-16 16-30 >30 .4 td ≤ 0.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Bahan.6-8.6-6. c Media perakaran (r) .40 >40 . td = tidak ada data.Bahaya erosi sr r.Singkapan batuan (%) <5 5 .P2O5 r sr td td .0 td . sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan c.Curah Hujan (mm) .Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) . s = sedang. ah s ak k . 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan .6 / > 8.0 / 7. k = kasar. t st. s b sb Bahaya banjir (f) .25 >25 st = sangat tinggi.Drainase b.Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) . ab at s.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Tekstur h.0 < 5.C-organik > 0.Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 .

0 < 4.16 16-30 >30 . ah = agak halus.35 35 . Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . sr = sangat rendah.15 15 .K2O st t-s r sr . s = sedang.Batuan di permukaan(%) <5 5 .sr td td .8 ≤ 0.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) . t. r = rendah.5 4.2-5. s r . td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 . k = kasar.N-Total st.pH H20 5.0 / 6.Drainase b.Singkapan batuan (%) <5 5 .Curah Hujan (mm) .P2O5 .0-6.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Bahan.Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 . ab at s.Tekstur h.C-organik > 0.55 > 55 . c Media perakaran (r) . t = tinggi. ak = agak kasar.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . t st.st r sr td . kasar (%) < 15 15 .5-7.40 >40 .15 15 . h = halus. Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 .Loreng (%) .Penggunaan Lahan d.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .8 Toksisitas(xc) .2 / > 7. <8 8 .25 >25 st = sangat tinggi.0 t . s ah ak k .

25 st = sangat tinggi.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .Penggunaan Lahan e.Batuan di permukaan(%) <5 5 . s = sedang. <8 8 .Tekstur h.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . kasar (%) < 15 15 .55 .35 < 20 .1.5-2.K2O st t-s r .2 < 0.8 Toksisitas(xc) .4 t .C-organik > 1.15 15 .8 .sr td . k = kasar.35 35 .5 td 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan .pH H20 5.2 0. c k > 55 < 50 - td td sr > 2. >6 < 20 / > 90 t.Loreng (%) .Salinitas (dS/m) < 0.0 Sodositas (xn) .st r-s sr .Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 . Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Bahan.Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) . t.6-6.15 15 .6-7.5 / 7.Curah Hujan (mm) . s r .16 16-30 / 16-50 . td = tidak ada data. s ah ak .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) .6 6.Drainase b s at Media perakaran (r) . t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 . r = rendah. sr = sangat rendah.N-Total st. ak = agak kasar.Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .40 . h = halus. ah = agak halus.3 < 5.P2O5 .

Salinitas (dS/m) < 0.Drainase b s at t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 .5 0.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . h = halus.Singkapan batuan (%) <5 5 .0-2. <8 8 .5-5.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td . ah s ak k . k = kasar. kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 .Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 .0 > 2.40 >40 . t. ah = agak halus. s = sedang. t s r sr .Lereng (%) . s b sb Bahaya banjir (f) .KTK liat (cmol) td td td td . Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . td = tidak ada data.pH H20 5.Tekstur h.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5-1.8 Toksisitas(xc) . s r sr td .P2O5 .0 1.16 16-30 >30 .5 td st.Penggunaan Lahan f.5 < 4. r = rendah.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .0 4. t.15 15 .Batuan di permukaan(%) <5 5 . s r sr td .Curah Hujan (mm) . c Media perakaran (r) .0 / 6.0-6.5 / > 6.0-6.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .K2O st.C-organik > 0.N-Total st.0 Sodositas (xn) .Bahaya erosi sr r.8 td td ≤ 0.Bahan. ak = agak kasar. sr = sangat rendah.15 15 .25 >25 st = sangat tinggi. t = tinggi.

5 / 7.40 >40 .0 t .Singkapan batuan (%) <5 5 . s = sedang. h = halus.25 >25 st = sangat tinggi. ah = agak halus. <8 8 . sr = sangat rendah.pH H20 5.Loreng (%) .st r-s sr td .15 15 .7. Kina (Cinchora spec.Tekstur ah.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . s h ak k .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Curah Hujan (mm) .N-Total st.5 . t st.8 .Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahan. c Media perakaran (r) .sr td td . ab at s.16 16-30 >30 .35 35 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) . kasar (%) < 15 15 .K2O st t-s r sr .div.0 / > 8. t = tinggi. r = rendah.8-8.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 . ak = agak kasar.Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .2 < 0. td = tidak ada data.P2O5 .Drainase b.C-organik > 1.Penggunaan Lahan g.15 15 .1.35 < 20 .55 > 55 .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) .2 0.8 Toksisitas(xc) .0 < 5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . t.8 5.0-5.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . s r . k = kasar.

8 / > 8.Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .15 15 . t. k = kasar.40 >40 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .5 4.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .st r-s sr td .Bahan. sr = sangat rendah.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) .35 35 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .55 > 55 .2-7.5-8.8 td ≤ 0.Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) .8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus.Drainase b.0 t . s = sedang.Batuan di permukaan (%) <5 5 .KTK liat (cmol) td td .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) .25 >25 st = sangat tinggi. <8 8 .15 15 .N-Total st. Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ab s t. kasar (%) < 15 15 .0 < 4.Singkapan batuan (%) <5 5 . s r .C-organik > 0. c Media perakaran (r) .Loreng (%) .50 < 25 Retensi hara (n) . td = tidak ada data. ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 .pH H20 5. h = halus.K2O st t-s r sr .Penggunaan Lahan h. t = tinggi.2 / 7. at st.16 16-30 >30 .75 25 .P2O5 . ah s ak k . r = rendah.8-5.sr td td .Tekstur h.

N-Total st. ak = agak kasar.pH H20 4.Singkapan batuan (%) <5 5 .5 / 5. s = sedang.8 < 3. ab at t. kasar (%) < 15 15 .8 t .5 3.Curah Hujan (mm) . td = tidak ada data.Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 .15 15 .8-4. r = rendah.Loreng (%) .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .sr td td . k = kasar.8-1.35 35 .16 16-30 >30 .Drainase b. ah s ak k . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahan. ah = agak halus. c Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) . sr = sangat rendah.C-organik > 1.15 15 . t.5 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 . Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .8 Toksisitas(xc) . <8 8 .K2O st t-s r sr .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) . s st.5 < 0.5-5.40 >40 .Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 . s r . h = halus.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .P2O5 .st r-s sr td .Tekstur h.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .25 >25 st = sangat tinggi.8 / > 5.55 > 55 .Penggunaan Lahan i.5-5. t = tinggi.

Kapuk (Caiba pantandra G. r = rendah. t > 1.Tekstur .0-6.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . t.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . h = halus.C-organik Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan(%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . k = kasar.Singkapan batuan (%) st. t = tinggi.15 5 .5-5. td = tidak ada data.Drainase Media perakaran (r) .5 td st.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 .N-Total . ah = agak halus.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .0-7. sr = sangat rendah.2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0. r st.Lereng (%) . s = sedang.KTK liat (cmol) .15 sr td r < 0.Curah Hujan (mm) .40 15 .0 / 6.P2O5 . c k > 55 < 50 td td td .16 r.1. s st.2 4-6 15-20 8 . ak = agak kasar.Kejenuhan Basa (%) . at h.25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4. .5 / > 7. kasar (%) . ah < 15 < 100 > 16 > 35 5.Bahan.K2O . s.5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.Penggunaan Lahan j.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .8 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . t. s f1 5 .

ah = agak halus.st r-s sr td .4 td td ≤ 0.pH H20 t .Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 .15 15 .Drainase b. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Tekstur h.0 < 4. ak = agak kasar.0 / > 8. Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . t st.4 Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5.Singkapan batuan (%) <5 5 .C-organik > 0. t = tinggi.Penggunaan Lahan k.35 35 . t.Lereng (%) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . sr = sangat rendah. s = sedang.sr td td . s r . kasar (%) < 15 15 . c Media perakaran (r) .25 >25 st = sangat tinggi.0 4.16 16-30 >30 .0-7.15 15 .N-Total st. k = kasar. <8 8 . r = rendah.Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .0/7.P2O5 .55 > 55 . s ah ak k .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Bahan.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .40 >40 .0-8. ab at s. 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0-5.Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) . h = halus.0 .K2O st t-s r sr .

Drainase b s at t.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .15 15 . s = sedang. <8 8 .40 >40 .0-6. c Media perakaran (r) .N-Total st. t = tinggi.3 / > 6.8 ≤ 0.Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.Singkapan batuan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 . td = tidak ada data.3-6. k = kasar.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 . kasar (%) < 15 15 .K2O st t-s r sr .Bahan.Loreng (%) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Tekstur h.8 Toksisitas(xc) .Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .0 Sodositas (xn) .pH H20 t .35 35 . sr = sangat rendah.5 < 5.5 . ak = agak kasar.55 > 55 .st r-s sr td .3 / 6. h = halus. s r .0-5. t.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .25 >25 st = sangat tinggi.C-organik > 0.Curah Hujan (mm) . Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .0 5. r = rendah.15 15 .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . ah s ak k .sr td td .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .P2O5 . ah = agak halus.Penggunaan Lahan l.

ah = agak halus.pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b. Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .4 5-8 Oct-09 8 .N-Total . ab h. r = rendah.Bahan. s st > 0.Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . t. c k > 55 < 25 - .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0-8. h = halus.35 50-75 ≤16 35-50 5.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .15 5 . sr = sangat rendah.0 st.Loreng (%) . t ak 35 . kasar (%) .5-7.KTK liat (cmol) .4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r . td = tidak ada data.5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .5 / >8.C-organik Toksisitas(xc) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .K2O .P2O5 .CH harian (mm) .16 r-s td 5 . 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang. .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s.Drainase Media perakaran (r) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi.40 15 .5/7.25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi. s < 15 > 75 > 16 > 50 5. k = kasar.0-5.st st.Tekstur .Penggunaan Lahan m. ak = agak kasar.15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 .Kejenuhan Basa (%) .sr t-s ≤ 0.55 25-50 < 35 <5.Batuan di permukaan (%) .Singkapan batuan (%) t .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0/7.8-1.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Drainase Media perakaran (r) .Singkapan batuan (%) r r r > 1.2 2-3 20-35 8-16 r. ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.15 td td td < 0.8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Bahan.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Tekstur .8 / > 8.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0. ak = agak kasar. Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .15 5 . ah = agak halus. s = sedang.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . c k > 55 < 20 td td td .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Kejenuhan Basa (%) . kasar (%) . 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0 td st.8 3-5 35-50 16-30 b td 15 . sr = sangat rendah. at h.8-8. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) .0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5.40 15 . s 5 .Penggunaan Lahan c. t = tinggi.8-6.0-7. k = kasar.C-organik Toksisitas(xc) . .P2O5 .Batuan di permukaan(%) . r = rendah.Lereng (%) .N-Total .K2O . h = halus.

8 .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) . Bawang Putih (Allium sativum L.Bahan. r sr td td .pH H20 6. Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 . h = halus. k = kasar.Penggunaan Lahan d.Drainase b. t = tinggi. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . at s t st. s b sb Bahaya banjir (f) .2 < 0.2 0.0 / 7. t.8-6.25 >25 st = sangat tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .15 15 .N-Total st.C-organik > 1. <8 8 . ah = agak halus.P2O5 . td = tidak ada data.K2O st.0 < 5.Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) . s. t s r sr .Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) .15 15 . sr = sangat rendah.16 16-30 >30 .8 Toksisitas(xc) .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Batuan di permukaan(%) <5 5 . ak = agak kasar.8 / > 8.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td . s = sedang. s r sr td .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .8-8.Lereng (%) . c Media perakaran (r) .1. r = rendah.0-7.Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) .Bahaya erosi sr r.0 td st.40 >40 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) . s h ak k .Tekstur ah.8 5. t.

s st.Kejenuhan Basa (%) . s 5 .Drainase Media perakaran (r) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Lereng (%) .pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b.15 5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Penggunaan Lahan e. h = halus.5-1.5 / > 8. ak = agak kasar.P2O5 . t = tinggi. sr = sangat rendah. at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6.Bahan.40 15 .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) .K2O .Singkapan batuan (%) st. kasar (%) . ah = agak halus. t > 0.25 td td sr td > 2.15 sr sr r td 1.Tekstur .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . .0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5.Batuan di permukaan(%) . t. s st.C-organik Toksisitas(xc) . c k > 60 < 30 td td td . r = rendah.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .5-6.0-7. 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan .6 td td s h. k = kasar.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .16 r.0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.0-2.0 20-25 16-30 b f1 15 .0 td td st.Curah Hujan (mm) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . t.N-Total .8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5. s = sedang.0 15-20 8 .0 / 7.8 0. td = tidak ada data.6-8.

Singkapan batuan (%) <5 5 .Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) . h = halus.25 >25 st = sangat tinggi.Bahan. t.6 5. td = tidak ada data. Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .55 > 55 .Drainase b.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6. kasar (%) < 15 15 .5 / > 8.Lereng (%) .15 15 .N-Total st. s ak k .35 35 . k = kasar. Paprika (Capsicum sp. sr = sangat rendah.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi.15 15 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .Penggunaan Lahan f. r = rendah.Tekstur ah h.P2O5 .0 < 5.8 ≤ 0. at s t st.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) .pH H20 t .6-8. s r . <8 8 .0 / 7.st r-s sr td .0 . s = sedang. ak = agak kasar.8 td td Toksisitas(xc) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . c Media perakaran (r) .0-7.C-organik > 0.Batuan di permukaan(%) <5 5 .40 >40 .Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 . ah = agak halus.5-6.Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .K2O st t-s r sr .sr td td .16 16-30 >30 .

Bahan.40 15 .55 25 .5-7 15-20 8 .Penggunaan Lahan g. ak = agak kasar.8-6.N-Total .Drainase Media perakaran (r) .pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . kasar (%) .0 t ak 35 .35 50 .50 <35 < 5. c k > 55 < 25 - .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .KTK liat (cmol) . ah = agak halus.15 5 .C-organik Toksisitas(xc) .0 / 7. sr = sangat rendah. 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .8 s h.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .75 ≤ 16 35-50 5.K2O .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . ah 15 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Tekstur .8 < 4.8-8. t = tinggi.Singkapan batuan (%) t .5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . k = kasar. t.st st. s st > 0. td = tidak ada data. at s < 15 > 75 > 16 > 500 6.16 r-s 5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .8 4. Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .0-7.8 / > 8.Batuan di permukaan(%) .P2O5 .Kejenuhan Basa (%) . h = halus.25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 . s = sedang.Curah Hujan (mm) . r = rendah.Loreng (%) .sr t-s ≤ 0.0 st. .

8 .8 4.15 5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 .Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) .Penggunaan Lahan h.K2O st .16 r-s 5 . ah = agak halus.8 Toksisitas(xc) .8-8.0-7.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .5 Sodositas (xn) . t = tinggi.0 td < 50 st.Loreng (%) . r = rendah.55 25-50 < 35 < 5.5-7 td 8 . h = halus. td = tidak ada data. kasar (%) < 15 .0 / 7. ah 15 . k = kasar. Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .st .pH H20 t .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h. s . ak = agak kasar.Tekstur s .Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .sr t-s ≤ 0. <8 .8-6.40 15 . s = sedang.Curah Hujan (mm) 350-800 .Bahan.25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. sr = sangat rendah.C-organik > 0.Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) . at Media perakaran (r) .0 td 50-60 / > 95 t ak 35 . c k > 55 < 25 - r-s r .KTK liat (cmol) > 16 . t.Salinitas (dS/m) < 4.Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .N-Total st.15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 .P2O5 .Batuan di permukaan(%) <5 .Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) .Drainase b.Kejenuhan Basa (%) > 50 6.8 / > 8.35 50-75 ≤16 35-50 5.

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

7 / > 7.0 5.Drainase Media perakaran (r) .15 < 20 / > 90 t h 35 .0-7. . c k > 55 < 25 - 6.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .7-6.Loreng (%) .N-Total .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .2 < 1.5-7 35-50 16-30 b 15 . r = rendah.K2O . ah < 15 > 60 > 16 > 35 t . s = sedang.15 5 . t = tinggi.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 . at ak.st st.sr t-s 0.Batuan di permukaan(%) .0 / 7.5 20-35 8 . k = kasar. ah = agak halus.Tekstur .Bahan.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 .Kejenuhan Basa (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .0-7.35 40-60 ≤16 20-35 r-s r . h = halus.KTK liat (cmol) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .CH harian (mm) .40 15 . td = tidak ada data. s st > 1.8 4. Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 .55 25-40 < 20 < 5. Sawi (Brassica rugosa F. sr = sangat rendah.8-1.25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.16 r-s 5 . kasar (%) .C-organik Toksisitas(xc) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . ak = agak kasar.Penggunaan Lahan l.Singkapan batuan (%) sr td r < 0.6 .) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 1. t.6 st.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .5-4.

h = halus.Curah Hujan (mm) . kasar (%) < 15 15 .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . ah s h .K2O st t-s r .5 4. ak = agak kasar.Singkapan batuan (%) <5 5 .0 5.8 Toksisitas(xc) .0 / 7.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.5 1.5-7 Sodositas (xn) .15 15 . td = tidak ada data.7-6.N-Total st. at s t Media perakaran (r) . N <4 / >35 <150/>1000 st.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Salinitas (dS/m) < 1.6 .C-organik > 1.st r-s sr .2 < 0.16 16-30 .P2O5 . t.Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .sr td .0-7. Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Tekstur ak.55 . c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .40 . t = tinggi. sr = sangat rendah.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan m.0-7. <8 8 .35 35 .Drainase b.Bahan. ah = agak halus.2 0.pH H20 t . s = sedang.Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 .8-1.6 < 5.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . r = rendah.25 st = sangat tinggi.Loreng (%) .7 / > 7.15 15 .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) . s r . k = kasar.5-4.

0 td st.16 r-s td 5 . td = tidak ada data. at Media perakaran (r) .Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .pH H20 6.Loreng (%) .15 5 . r = rendah.Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.0/7.st . s . Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 .Penggunaan Lahan n. ah = agak halus.55 25-50 < 20 <5. k = kasar. <8 .K2O st .Curah Hujan (mm) 400-700 . kasar (%) < 15 . h = halus.Batuan di permukaan(%) <5 .8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 .2 Toksisitas(xc) . sr = sangat rendah.5 t .P2O5 .40 15 .5-8.0-7. s .Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) . t.N-Total st.Drainase b.15 sr td r < 0.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) .2 5-8 15-25 8 . c k > 55 < 25 - r-s r .KTK liat (cmol) > 16 .8-1.Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) . t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 .35 50-75 ≤16 20-35 5. s = sedang.C-organik > 1.Bahan.Kejenuhan Basa (%) < 35 .Tekstur ah.5 / >8.sr t-s 0.0 td <20 / >90 t ak 35 . ak = agak kasar.5-6.

sc Media perakaran (r) .Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .2 0.8 Toksisitas(xc) . ak = agak kasar.Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) .Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 .2 / > 8.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .s r sr .2 < 0. h = halus. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .2-5.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) . <8 8 . kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 . s = sedang.6-7.8-1.Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.Bahaya erosi sr r.K2O st t.P2O5 .Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) . s r sr .Penggunaan Lahan o.6/7.t. s ak h k . 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Batuan di permukaan (%) <5 5 . t.pH H20 td st.0 5.Drainase b. td = tidak ada data. s r sr td .16 16-30 >30 .0 .15 15 .40 >40 .0-8.Bahan.Singkapan batuan (%) <5 5 .0 < 5.Bulan kering (bln) td td td td . s b sb Bahaya banjir (f) . at s t st.Tekstur ah.15 15 . t = tinggi. r = rendah.C-organik > 1.N-Total st. sr = sangat rendah. ah = agak halus.Lereng (%) . k = kasar.

Bahan.8-1.2 < 1.Kejenuhan Basa (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8 4.Penggunaan Lahan p.N-Total .P2O5 . kasar (%) .C-organik Toksisitas(xc) .Curah Hujan (mm) .Drainase Media perakaran (r) . s = sedang.Singkapan batuan (%) td td td < 0.0/7. ah = agak halus.0-7.Batuan di permukaan(%) .0 5. . ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1. td = tidak ada data.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 . ak = agak kasar.2 1. h = halus. k = kasar.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . c k > 55 < 20 td td td 6.Tekstur .7-6. sr = sangat rendah.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . r = rendah. t = tinggi.5-4.5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Lereng (%) .) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .6 td td st. at ak.6 .0-7.pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b.KTK liat (cmol) . s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5. Lobak (Raphanus astuvus L.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .5 20-35 8-16 r.7 / > 7.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0.K2O .

Building on Bruntland. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. dan D. Washington D. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 . VIII + 55h. FAO. Eswaran. Terminal report UNDP – FAO. International Workshop on Sustainable Land Management. and El Serafy. Anonymous. dan N. International Workshop on Sustainable Land Management. N. Anny Mulyani. Pushparajah E. Rome. 2000. H. Marwan H. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. C. R. 46. 85 p. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century.C. (eds.C. S. 1998. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. Chichester. 1999. UK. and Ofori. Indonesia. Costanza. 1994.. 1991. Nomor 1. Rome. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah. World Agriculture: towards 2010. and Dumanski.. J.). Djaenudin. (eds. Wood. Ottawa. Subagjo.18. World Bank. The Organizing Committee. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. Bachri.. R. 17-18 Februari 1998. Versi 3. Vol.Referensi REFERENSI Alexandratos. Vol. Djaenudin.). Suharta. Vol. Agricultural Institute of Canada. 1994. In: Environmentally Sustainable Economic Development. D. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Environment Working Paper No. 205-225. Dumanski. Agricultural Institute of Canada. Depar-temen Pertanian. Daly. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. (ed. S. Ottawa. H. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. and John Wiley. 2: Plenary Papers. pp. _____. 1995. J. H. Goodland. The Organizing Committee. An FAO study. 1: Workshop Summary. R. 1991. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1984.).

). A. Karama. CIP. The Netherlands. The sufficiency concept in land evaluation. Harrington. dan S. Publication 22. Unpub. Development Series 1. 1993b.(eds. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. Soils Bulletin 32. A framework for land evaluation. Washington. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. Djaenudin. Soil Resources Development and Conservation Services. Peru. Wallingford. Soils Bulletin 58. (eds. World Bank. and Dumanski. 1994. Lyman. Soil Resilience and Sustainable Land Use. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . paper given at Cali LQI workshop. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. Widiatmaka dan A. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. D. P. Also. H. Rome.J. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. 1991. 1996. Land and Water Development Division. Rome. Rome. 123 p. World Soil Resources Report 73. No. 1999.C. J. (R. Rome. UK. Guidelines for land-use planning.J. 1984. 1988. and Szabolcs. Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. and Herdt.. FAO. J. and Winograd. FAO. Young (eds. 1986. Jurusan Tanah.). CAB International. 1983. D. viii + 87 h. Fakultas Pertanian. A framework for land evaluation. Yogyakarta. Lima.I. L. _____. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. _____. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research. 1976. 22. Smyth. FAO. _____. D. IRLI Publ. _____. A framework for land evaluation. I. _____. June. 72 p.J. Harijogjo. Yogaswara. S. IPB. 1977. Rome. Rome.)). 1976. Rome. FAO. FAO. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. R. 237 p. S. Soils Bulletin 52. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. Land evaluation for forestry. Subagjo. 129-140. Wageningen. Jones P.74 p Greenland. FAO Soils Bulletin 32. 1993a. Forestry Paper 48. 96 p. 1994. 150 p. Melitz. Wageningen. ILRI.. _____. 1994.Referensi FAO. Brinkman and A. _____. FAO. M. Hardjowigeno.

1994.. World Bank. In: Monitoring Progress on Sustainable Development. J. 1993. S.R. 1991. G. 1987. College of Agriculture & Life Sciences. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management. In: Bi-annual Report 1991-1992. D.. FAO. A. The Netherlands. 2000. & Atmospheric Sciences. Centre for Agricultural Publishing and Documentation. G. Menon. 63 p. and Young.A.L. 1995. Geogr. 3 map sheets and explanatory note. A. Pieri. 1994. 1994a. D. Buenos Aires. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD). J. Environmental performance monitoring indicators.Referensi Moore. Wageningen. Wageningen. World Bank.E Estes. Cornell University.T. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. 1977.. Rossiter. A. pp.C.W. 22-23 Sept. 19-36. Bie (eds. Dumanski.L. C. Global extent of soil degradation. of Soil. Land Quality Indicators. Sitorus RPJ. Nairobi. Star. A. J. and Sombroek. J. 2nd revised ed. 1992. Crop.G. 18-26 Jan. 1994. Towards Environmentally Sustainable Development. Washington D.W. Methodology for Soil Resource Inventories.J.. System 1 (1) : 13-31. Measuring Progress. L. ISRIC. Wageningen. Uses of soil information system. R. W. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . Rossiter. Survei Sumberdaya Lahan Smith. Rome. Oldeman. J. Puslittan. Int. 1994b. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). World Bank Discussion Paper 315. Oldeman. & S. Dept. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. 74 p.. and ISRIC. & J.C. J. O'Connor. R. Washington D. 103 h. World Soil Resources Report 73. Inform. UNEP. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Smyth. A User-Oriented Workshop. 2003. Lecture Notes: Land Evaluation. 1978. T. Nining Wahyuningsih. The Netherlands.).R. Hakkeling. Hamblin..C.C. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. and Dumanski.

Rome.R. Harian Kompas 15 Oktober 1995.. 1993.).R. H 1-10. 69h. Dalam: A. C.G. Sombroek. Jakarta. h 4-14. 1988. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. 1993. Ibadan. IITA. 1975.C h 7-14. ITC publ. pp. Stewart. D. CSIRO Symposium. Iii + 31 h. constraints and future needs. Dalam: G.J. H dan IPG. Soil Research Institute. 294 p.M. Stewart (eds. United Nations. G. 7. Robinson (eds. Valenzuela. Subagyo. Alih Fungsi Lahan Pertanian. Nigeria. Widjaja Adhi. Student Stors. Land Evaluation. New York. Ssouth Melbourne.). 1 Soil Management Support Services. W. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Soil Survey Interpretation and its use. Land Evaluation.H. 1995. Meijerink. J. ILWIS. 1967.). & G. Constraints and Opportunities. No.G. 8. Handbook of soil evaluation. Soni Harsono. 12-30. & FAO.A. Deptan. Bogor. Washington. 1998. Steele. C. UC Berkeley. In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development. Technical Monograph No. FAO. ILWIS. Soil Buletin No.Referensi Soepraptohardjo.A. Balitbang. xviii + 225 h. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. Storie. Velenzuela. M. Assoc. UNCED. Macmillan of Australia. Enschede. 1964. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. Stewart (ed. 1968. Overview. & A.E. R. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->