SISWANTO lahir di Malang tahun 1963. Lulus Sarjana Pertanian Universitas Brawijaya Malang tahun 1988.

Menjadi staf pengajar jurusan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang sejak tahun 1989 sampai 1991. Pada Tahun 1991 merangkap sebagai staf pengajar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sampai sekarang. Gelar Magister Teknik diperoleh dari Institut Teknologi 10 November Surabaya tahun 2003. Sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Tanah pada tahun 2003 sampai 2007. Kepala bagian Perencanaan Evaluasi dan Laporan Administrasi Akademik Biro Administrasi Akademik UPN “veteran” Jawa Timur hingga sekarang. Tahun 2008 diperintahkan oleh Pimpinan Universitas untuk menempuh pendidikan jenjang Sarjana Jurusan Informatika. Buku yang pernah diterbitkan adalah Pengatar Sistem Informasi Geografik, sedangkan karya ilmiah yang dipublikasikan adalah: Karakteristik Hidroulik Erosi Tanah Menggunakan Hujan Buatan (Basic Hydrology). Studi Kesesuaian Lahan Tanaman Melon di Tiga Sentra Produksi Melon, Studi Kelas Kesesuaian Lahan Tanaman Tebu Lahan Kering.

ISBN : 978-979-3100-94-4

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN

Siswanto

Penerbit UPN Press Jl. Raya Rungkut Madya Gununganyar Surabaya 60294

Siswanto

Penerbit UPN Press

EVALUASI SUMBERDAYA LAHAN Disusun oleh : Ir. Siswanto, MT. Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur ISBN Tahun Setting Desain Sampul dan Gambar : 978-979-3100-94-4 : 2006 : Sucipto : Farid F.

Dilarang keras mengutip, menjiplak atau mengkopi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa seijin penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Untuk: Istri dan Anak-anakku Tercinta .

pengalaman penulis dalam memberikan kuliah. yang semula berupa catatan-catatan kuliah. unit lahan. Bab I dari buku ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan pengertian tentang sumberdaya lahan. Sebelumnya penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Agronomi Fakultas Pertani-an Universitas Muhammadiyah Malang mulai tahun 1989. Untuk keperluan mengajar mata kuliah Survei dan Evaluasi Lahan penulis berusaha menyusun bahan kuliah.PENGANTAR Penulis menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sejak tahun 1991. Disamping itu mahasiswa dapat mempelajari lebih dahulu materi yang akan diberikan dalam kuliah berikutnya. Bab II menjelaskan inventarisasi sumberdaya lahan. sehingga menjadi suatu buku. penggunaan lahan dan perubahan-perubahan penggunaan lahan. Dari tahun ke tahun bahan kuliah tersebut selalu diperbaiki dan disempurnakan. sehingga pada waktu kuliah akan lebih mudah menangkap penjelasan dosen. Materi yang terkandung dalam buku ini merupakan rangkuman dari beberapa buku referensi seperti yang diberikan dalam daftar pustaka. parameter penafsir lahan. Masingmasing buku tersebut mempunyai penekanan materi yang berbeda. penelitian dan melaksanakan pekerja-an yang terkait dengan masalah evaluasi lahan. Dengan adanya buku ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari materi evaluasi lahan yang diberikan pada saat kuliah. survei sumberdaya lahan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk mengisi kelangkaan kepustakaan dalam bahasa Indonesia. memberikan pengertian mendasar tentang evaluasi lahan dan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan dan melaksanakan penelitian. kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan i . Buku ini memiliki penekanan pada klasifikasi lahan. Sudah cukup banyak buku tentang evaluasi lahan terutama yang berbahasa Inggris dan terjemahan dari buku asing.

Surabaya.fisik. kritik dan koreksi sangat diharapkan sebagai masukan untuk perbaikan. selain mengikuti kuliah dan penjelasan yang disampaikan oleh dosen. prosedur klasifikasi. kemampuan lahan dan kesuburan lahan. Desember 2006 Siswanto ii Evaluasi Sumberdaya Lahan . IV. perkebunan dan hortikultura diberikan pada Bab VIII. Bab VII mempelajari klasifikasi lahan untuk keperluan non pertanian. Penulis menyadari bahwa isi buku ini masih jauh dari sempurna. sedang persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman pangan. mahasiswa harus rajin mempelajari kembali bahan kuliah tersebut di rumah. maka saran-saran. kesesuaian lahan. Bab III. Selain itu penulis sarankan juga untuk lebih banyak membaca artikel-artikel evaluasi lahan yang dapat di unduh dari internet baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. kegunaan klasifikasi lahan. V. Pada kesempatan ini penulis ingin memberikan saran kepada mahasiswa dalam mempelajari materi kuliah. dan VI mempelajari klasifikasi lahan. kacang-kacangan. kimia lahan serta geomorfologi lahan. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.

1 Bentuk Lahan 2.8.2. 3. 2.4.1. 2. Pengertian Klasifikasi Lahan Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Kegunaan Klasifikasi Lahan Klasifikasi Lahan Evaluasi Sumberdaya Lahan .Isi Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB 1 SUMBERDAYA LAHAN 1.2.6.4.4. Penggunaan Lahan 1.4.8.4 Kondisi Permukaan lahan 2. 2.1.5 Tanah 2. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Batasan Unit Lahan Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Penafsiran Parameter 2.2 Aspek Iklim i iii v vii 1 2 2 7 8 8 9 11 12 13 14 16 17 18 20 21 22 24 25 25 26 29 29 30 30 30 iii 2. 2.3. 3.7 KedaIaman Tanah Sifat Fisik Tanah Sifat Kimia Tanah Kondisi Erosi Sifat Geomorfologi 2.4. Perubahan Penggunaan Lahan BAB 2 INVENTARISIR SUMBERDAYA LAHAN 2. 3. BAB 3 KLASIFIKASI LAHAN 3.4.4.3 Kondisi Drainase 2.1.6 Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit 2.7.5.1 Aspek Tanaman 2.3.2.4.4. 2.2 Kemiringan dan Arah Lereng 2.8. 2.

2.2.3. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah BAB 7 KLASIFIKASI LAHAN NON PERTANIAN 7. 4. Pengertian Evaluasi Kesesuaian Lahan 5. Struktur Klasifikasi KPL Pembatas Fisik KPL Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan 35 36 38 42 42 51 52 54 56 61 61 63 67 67 69 71 71 81 86 100 117 BAB 5 KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN 5.1.1.3.1.4.2.4. 4. 8. Prosedur Evaluasi Lahan BAB 6 KLASIFIKASI KEMAMPUAN KESUBURAN TANAH 6.3.BAB 4 KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN 4.1. Tanaman Pangan Tanaman Kacang-kacangan Tanaman Perkebunan Tanaman Hortikultura DAFTAR PUSTAKA iv Evaluasi Sumberdaya Lahan . 8. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Teknik Sipil BAB 8 PERSYARATAN PENGGUNAAN LAHAN 8. 4.1. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan 5. 8.2. Penilaian Kesuburan Tanah 6. Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata 7.2.

3. 2.3.7. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan Klasifikasi Kelas Kelerengan.8. 2. 5.2. 2. 5. 2.6.Daftar Tabel 2.1.5. 2.5.10.4. 5. 5. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Kode Great Group Tanah Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Kode Tekstur dan Struktur Tanah Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemungkinan Adanya Banjir 10 13 14 15 17 18 20 21 22 24 25 56 58 58 58 59 59 59 59 Evaluasi Sumberdaya Lahan v .9. 5. 2. 5.8.7 5.1.11.6.2. 2. 2.4. 2. 5. 2.

5. 7.5.5. 7. 6.9.4.3. Kesesuaian Lahan untuk Jalan 60 60 62 67 68 69 70 70 vi Evaluasi Sumberdaya Lahan . 7.1.2. 7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Matching Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Fasilitas Wisata yang Mungkin dapat Menarik Wisatawan Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.10.1. 7.

7. 2. 4.1. 3. 3.1.2.1. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian 4 27 32 33 49 58 67 Evaluasi Sumberdaya Lahan vii .1. 5.1.Daftar Gambar 1.1.

Akibatnya. 1986). daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. daerah industri. tingkat dan intensitas pencemaran yang berat dan kerusakan lingkungan lainnya. jalan untuk transportasi. Dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. Hal ini berimplikasi pada semakin berkurangnya ketahanan pangan. relief. tanah. air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. secara keseluruhan aktifitas kehidupan cenderung menuju sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan kapasitas daya dukung yang menurun. permintaan akan sumberdaya lahan terus meningkat akibat tekanan pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita (Rustiadi. sumberdaya lahan yang berkualitas tinggi menjadi berkurang dan manusia semakin bergantung pada sumberdaya lahan yang bersifat marginal (kualitas lahan yang rendah). pengelolaan sumberdaya lahan seringkali kurang bijaksana dan tidak mempertimbangkan aspek keberlanjutannya (untuk jangka pendek) sehingga kelestariannya semakin terancam. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim. Dengan demikian.Sumberdaya Lahan Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia. 2001). daerah pemukiman. seperti untuk pertanian. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather. Di lain pihak. Evaluasi Sumberdaya Lahan 1 .

keadaan politik. Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis. air. faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah. Penggunaan lahan secara umum tergantung pada kemampuan lahan dan pada lokasi lahan. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan.1995). 2 Evaluasi Sumberdaya Lahan . tumbuhtumbuhan.Sumberdaya Lahan 1. (Wahyunto et al. keadaan pasar dan transportasi. Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi. Untuk aktivitas pertanian. Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya. tanah. hewan dan kependudukan.1. khususnya untuk daerah-daerah pemukiman. maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko. Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi. lokasi industri. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan. kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Penggunaan Lahan Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual (Vink. atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. 1. lereng permukaan tanah. iklim..2. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal. 2001). keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan. 1975). Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian.

transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Kedua. Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaan lahan. memberikan peluang dalam meningkatkan urbanisasi daerah perkotaan. meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup. Para ahli berpendapat bahwa perubahan penggunaan lahan lebih disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Akibatnya.Sumberdaya Lahan pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupan yang lebih baik. Menurut McNeill et al. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan.. Pertama. sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang menga-lami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. perubahan teknologi transportasi meningkatkan efisiensi tenaga kerja. Menurut Adjest (2000) di negara Afrika Timur. Sebagai contoh. Ketiga. Teknologi juga berperan dalam menggeser fungsi lahan. demografi dan budaya. (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik. teknologi transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas pada suatu daerah. perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab perubahan penggunaan lahan. perubahan teknologi telah membawa perubahan dalam bidang pertanian melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja. ekonomi. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertum-buhan penduduk. Konsekwensi lainnya adalah berpengaruh Evaluasi Sumberdaya Lahan 3 . Grubler (1998) mengatakan ada tiga hal bagaimana teknologi mempengaruhi pola penggunaan lahan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi.

iklim mikro. 1999) Perubahan penggunan lahan di suatu wilayah merupakan pencerminan upaya manusia memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan. Menurut Suratmo (1982) dampak suatu kegiatan pembangunan dibagi menjadi dampak fisik-kimia seperti dampak terhadap tanah.05% dan meningkat menjadi 14.65% pada tahun 1990. Skenario Perubahan Penggunaan Lahan (dimodifikasi dari Bito dan Doi. pencemaran. Penelitian yang membahas tentang perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap biofisik dan sosial ekonomi telah banyak dilakukan.46%.Sumberdaya Lahan terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin. yang dilakukan Somaji (1994) menyatakan bahwa pada tahun 1984 wilayah industri berperan sebanyak 13. dampak terhadap kesehatan lingkungan dan dampak terhadap sosial ekonomi yang meliputi ciri pemukiman. Penelitian Janudianto (2003) 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Nilai ini dicapai akibat dari kecepatan alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian selama kurun waktu 1981-1990 sebanyak 0. dampak terhadap vegetasi (flora dan fauna). Modernisasi Polulasi Meningkat Kebijakan Industrialisasi Hutan (+) Hutan (-) Lahan Kering (+) Lahan Kering (-) Padang Rumput (+) Padang Rumput (-) Lahan Tidur (+) Lahan Tidur (-) Degradasi Lahan Gambar 1. Perubahan penggunaan lahan tersebut akan berdampak terhadap manusia dan kondisi lingkungannya. Penelitian terhadap struktur ekonomi. penduduk. pola lapangan kerja dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.

sedangkan peningkatan luas pemukiman dan kebun campuran meningkatkan selisih debit. Penurunan luas hutan dan luas sawah meningkatkan selisih debit maksimum-minimum.Sumberdaya Lahan menjelaskan perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Ciliwung Hulu didominasi oleh kecenderungan perubahan lahan pertanian (sawah) menjadi lahan pemukiman dan perubahan hutan menjadi lahan perkebunan (kebun teh). Evaluasi Sumberdaya Lahan 5 . Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan penggunaan lahan di DAS Ciliwung Hulu berpengaruh nyata terhadap peningkatan selisih debit maksimum-minimum sungai.

namun yang sering terjadi adalah suatu kegiatan pengumpulan data-data mati. Perisalahan lapangan kemungkinan masih bisa digunakan terutama data-data karakteristik tanah dan lahan yang sifatnya permanen tersebut sebetulnya juga suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan. hasil penelitian terdahulu.Inventarisir Sumberdaya Lahan Hudson (1992) menyebutkan bahwa tidak ada orang yang merencanakan suatu industri tanpa mempelajari terlebih dahulu berapa banyak bahan baku yang tersedia. erosi dsb). tipe batuan. Inventarisasi sumber daya lahan adalah inventarisasi informasi fisik tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengelolaan lahan dan konservasi tanah. artinya banyak data terkumpul yang tidak saling mengkait dan tidak ada telaah lebih jauh dari data tersebut. jenis tanah dsb) dan faktor yang bersifat dinamis (misalnya kondisi vegetasi. Tindakan pengelolaan dan konservasi merupakan penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. tetapi selama ini data lahan hanya digunakan untuk Evaluasi Sumberdaya Lahan 7 . Demikian pula pengelolaan hutan rakyat dan hutan tanaman perlu mengetahui potensi aktual lahan hutan yang sekarang dikelola sehingga dapat direncanakan langkah-langkah yang perlu di ambil untuk penyempurnaan pengelolaan berikutnya. Sering perisalahan lapangan atau survei-survei lainnya. Secara umum faktor-faktor yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua grup yaitu faktor yang bersifat permanen (misalnya bentuk lahan. Petunjuk teknis ini akan membahas tentang ISDL yang dilaksanakan melalui survei lapangan yang didukung penafsiran foto udara dan peta dasar serta peta tematik yang ada. Sebenamya aktivitas inventarisasi sumber daya lahan bukan suatu hal yang baru. survei lapangan yang dibantu dengan penafsiran foto udara dan klasifikasi citra satelit. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti peta-peta.

zoom transferscope Perangkat pengelola data: terdiri dari perangkat keras (komputer. Penafsiran foto udara atau klasifikasi citra satelit pada tahap persiapan dititikberatkan untuk membatasi satuan lahan yang mempunyai karakteristik fisik yang sama. Peralatan penafsiran foto udara: stereoskop cermin dan saku.2. kegiatan ISDL sebetulnya juga telah banyak dilaksanakan yaitu melalui kegiatan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka proses produksi yang lestari.1. Dalam hal ini digunakan satuan bentuk lahan (landform). Hasil dari tahap ini akan 8 Evaluasi Sumberdaya Lahan . perangkat penafsiran foto udara. 2. Hasil risalah lapangan yang lalu juga terjadi data-data terkumpul hanya digelar tanpa pendayagunaan lebih lanjut. baik foto maupun citra satelit. Batasan Unit Lahan. Pembatasan unit lahan dilakukan melalui penafsiran citra. faktor-faktor manakah yang perlu untuk dikumpulkan dalam kaitannya dengan pengelolaan hutan dan bagaimana caranya. perangkat pengelola data. Hal ini sering dilakukan terhadap data-data hasil perisalahan lapangan. Bahan: Peta topografi atau rupa bumi Foto udara skala Alat:     Peralatan tulis dan untuk penafsiran foto Peralatan lapangan untuk survei tanah. Dalam proses perencanaan pengelolaan hutan.Inventarisir Sumberdaya Lahan menyajikan gambaran umum lokasi. Bahan dan Alat yang Dibutuhkan Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk kegiatan inventarisasi sumber daya lahan terdiri dari peta dan foto udara. Pertanyaan selanjutnya adalah. printer dan plotter) 1 : 50 000 sebagai peta dasar 1 : 50 000 atau lebih besar 2.

Penafsiran foto udara pada hakekatnya adalah usaha mendapatkan informasi melalui foto udara sehingga dapat memudahkan dan menyederhanakan pemantauan perubahan di lapangan. langkah berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi pelaksanaan identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut di lapangan. survei inventarisasi sumber daya lahan dan pengelolaan data dasar hasil survei merupakan sualu satuan rangkaian kegiatan. Jadi penafsiran foto udara tidak dapat menggantikan kegiatan survei lapangan namun harus dilakukan untuk memudahkan kegiatan risalah tersebut. disarankan batas petak menggunakan batas alam. Jumlah titik atau tempat yang didiskripsikan di setiap unit lahan tergantung Evaluasi Sumberdaya Lahan 9 . Untuk itu dibutuhkan pengetahuan tentang medan yang akan di survei dan latar belakang pengetahuan tentang parameter yang akan diidentifikasi di foto udara. Dengan demikian maka kegiatan penafsiran foto udara. Dengan demikian.Inventarisir Sumberdaya Lahan menjadi masukan data yang berupa data grafis pada SIG. Hasil dari kegiatan penafsiran foto udara dan evaluasi lahan di lapangan merupakan data terbaru yang perlu dikelola dan ditata untuk proses lebih lanjut. Dengan demikian evaluasi lahan dapat dilakukan melalui inventarisasi sumber daya lahan di setiap unit lahan yang telah dibatasi pada tahap pembatasan unit lahan. Survei inventarisasi sumberdaya lahan dilaksanakan dengan mendiskripsikan setiap unit lahan di lapangan dan memanfaatkan bahan informasi yang diperoleh dari penafsiran foto udara. Proses identifikasi dan penilaian parameter fisik lahan tersebut disebut evaluasi lahan. Survei Inventarisasi Sumber Daya Lahan Setelah mengetahui parameter fisik lahan yang akan dirisalah di lapangan dan keterkaitan antar paramater tersebut. Dalam pelaksanaan evaluasi lahan sangat dibutuhkan penafsiran atau interpretasi foto udara. 2.3. Satuan lahan ini selanjutnya dapat untuk referensi batas petak. sehingga setiap petak akan mempunyai karakteristik fisik yang sama.

10 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Persiapan Siapkan stereoskop cermin Siapkan pasangan foto udara yang akan digunakan untuk penafsiran Siapkan kertas transparansi dan pena transparansi Siapkan peta-peta dasar yang berupa peta topografi skala 1 : 50 000. Mendalam Semi Detil Peta Dasar 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 5 000 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 Jumlah Observasi 2-4 4-8 8. jalan. Identifikasi Lokasi Identifikasikan lokasi dengan penandaan gambaran yang mudah ditentukan. Identifikasikan lokasi tersebut pada peta-peta dasar yang ada.1.Inventarisir Sumberdaya Lahan pada skala surveinya. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan Tingkat Survei Tinjau T. Tempelkan kertas transparansi di atas foto udara dengan selotip. Prosedur pembatasan unit lahan dapat diuraikan sebagai berikut: 1. sungai dsb. Hubungan antara skala survei dan jumlah titik sampel pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.16 (Unit/100 ha) Peta Laporan 1 : 100 000 1 : 50 000 1 : 20 000 1 : 500 000 1 : 100 000 1 : 50 000 Ketelitian 75 75-90 90 Kecepatansurvei 600-1000 300-600 100-300 (ha/harl) Sumber: Modifikasi dari Arsyad (1989) Unsur Survei Detil 1: 2 000 1: 5 000 16-32 1 : 5 000 1 : 10 000 97 < 100 Berikut adalah uraian tentang identifikasi masing-masing parameter di lapangan yang akan digunakan pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. misalnya desa.1. Tabel 2. 2. peta petak skala 1 : 5 0 000 dan peta geologi skala 1 : 25 0 000.

Unit yang ada dibagi lagi berdasarkan jenis tanaman dan kelompok umur tanaman yang ada. Penafsiran Parameter Parameter fisik yang dikumpulkan dalam inventarisasi sumber daya lahan terdirl dari: 1. Satuan terkecil yang diperoleh tersebut merupakan unit lahan yang akan dinilai parameter-parameter fisik lahannya Transfer Batas Unit Lahan ke Peta Dasar.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. Delineasi Unit Lahan Batasi tiap-tiap satuan bukit dan dataran sebagai satu satuan bentuk lahan (landform unit). 2. Aspek Lahan:     Bentuk lahan Kemiringan dan arah lereng Kondisi drainase Kondisi permukaan 2. Setiap satuan bentuk lahan dibagi lagi menjadi beberapa unit berdasarkan keseragaman kemiringan lereng. Hasil penafsiran f6to udara perlu ditransfer ke peta dasar.4. Peta dasar yang digunakan adalah peta petak skala 1 : 25 000 atau 1 : 50 000 Perlu dicatat bahwa foto udara yang digunakan mungkin mempunyal skala yang berbeda dengan peta dasar sehingga dibutuhkan alat bantu yang disebut Zoom trasfer-scope. Aspek Tanah  Jenis tanah  Tipe batuan dan kedalaman regolit  Kedalaman tanah  Sifat fisik tanah  Keasaman tanah (pH tanah) Evaluasi Sumberdaya Lahan 11 . 4.

Bentuk Lahan Bentuk lahan (landform) menguraikan tentang jenis-jenis terrain khusus dan menempatkan satuan peta inventarisasi ke dalam bentang lahan (landscape). Kondisl Erosi  Jenis dan tingkat erosi  Persentase lahan tererosi dalam satu satuan lahan.1. Bentuk lahan memberikan gambaran pada kita tentang kondisi lokasi secara umum. Klasifikasi bentuk lahan dapat diperoleh dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Penilaian parameter bentuk lahan akan disesuaikan dengan skala surveinya. misalnya bentuk lahan yang bergunung akan mempunyai jenis-jenis tanah tertentu. biasanya kelerengannya curam dan solum tanahnya relatif dangkal. Pada perisalahan hutan.Inventarisir Sumberdaya Lahan 3. lereng atas. Melalui informasi bentuk lahan juga dapat diperoleh gambaran karakteristik lahan yang lain. Sedangkan skala tinjau cukup disajikan bukit saja. 1977) dan Kucera (1988).4. Sebaliknya bentuk lahan aluvium akan memberi gambaran tentang kondisi yang datar dengan drainase yang kurang baik. 2. teksturnya halus dan solum tanahnya dalam. Pada skala detil misalnya. 4. Cara yang mudah untuk identifikasi di foto udara menggunakan bentang lahan dan kelerengan (topografi). Aspek Tanaman 5. yang digunakan adalah skala semi detil 12 Evaluasi Sumberdaya Lahan . bentuk lahan bukit (hill) dapat dirinci menjadi puncak bukit. Aspek iklim  Rata-rata hujan setahun (dari rekaman data 10 tahun terakhir)  Jumlah bulan basah dalam setahun  Jumlah bulan kering dalam setahun Keterkaitan masing-masing parameter dan cara identifikasinya diuraikan pada bab berikut. lereng tengah atau lereng bawah. Disarankan untuk menggunakan klasifikasi Kucera (1988) karena lebih sederhana tetapi lengkap.

Kode A21 A22 A23 A25 A29 A35 A36 A42 P30 P60 H1 H3 H7 H9 M1 M2 M6 K54 K73 Sub Sistem Narrow River Valley Broad River Valley Meander Belt Recent Terraces Floadplain Alluvial Colluvial Fan Colluvial Fan Closed Basin River Terrace Piedmont Plain Issolated Hillock Hill Slope Escarpment Summit Area Plateau Montain Slope Talus Slopes/Fans Reservoir Gorge Sistem Alluvial Alluvial Plain Hill Mountains Miscelleneous 2. Evaluasi Sumberdaya Lahan 13 . Jadi informasi ini sangat dibutuhkan.2.4. misalnya untuk penentuan fungsi lindung dan budidaya. sehingga diskripsi bentuk lahan perlu diuraikan detil. Kode dan Klasifikasi Bentuk Lahan.2. 1977) dan Kucera (1988) seperti pada Tabel berikut. Tabel 2. Parameter kelerengan juga digunakan untuk klasifikasi beberapa keperluan. Klasifikasi bentuk lahan yang digunakan untuk penilaian kemampuan dan kesesuaian lahan di adopsi dari Katalog Bentuk Lahan (Desaunettes. Kemiringan dan Arah Lereng.Inventarisir Sumberdaya Lahan didukung dengan foto udara 1 : 50 000 atau lebih besar lagi. Informasi kemiringan dan arah lereng sangat diperlukan bagi pengelolaan lahan. untuk keperluan pengelolaan termasuk pengelolaan hutan.

100 m) Cekung Cukup panjang (I 00-200m) Lurus Panjang (200 . kondisi drainase. Tabel 2. Kondisi Drainase.3. klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi di sektor kehutanan.Inventarisir Sumberdaya Lahan Keterkaitan kelerengan lahan dengan parameter lain cukup dominan. jenis tanaman dan kedalaman tanah. Klasifikasi Kelas Kelerengan.500 m) Kompleks Sangat panjang (> 500 m) Klasirikasi Panjang Lereng 2. Setiap departemen akan mempunyai klasifikasi sendiri sesuai tujuannya. misalnya panjang lereng dan bentuk lereng.45% = 4 > 45 % =5 Klasifikasi Bentuk Lereng Sangat pendek (<50m) Cembung Pendek (50 . misalnya. Biasanya pada topografi yang berbeda.4. informasi tambahan tentang lereng perlu dicatat. karena perbedaan lereng akan mempengaruhi kecepatan pelapukan batuan menjadi tanah.3. akan berbeda dengan klasifikasi yang ditujukan untuk ekstensifikasi pertanian. Klasifikasi kemiringan lereng dalam buku ini di runut dari klasifikasi menurut Direktorat Jenderal RRL Departemen Kehutanan seperti tabel berikut. Panjang Lereng dan Bentuk Lereng Klasirikasi Kelerengan 0-8% =1 8 . 14 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Perbedaan perkembangan tanah juga berarti ada perbedaan karakteristiknya. yang berarti kemiringan lerengnya berbeda. Perkembangan tanah juga dipengaruhi oleh arah lereng. maka perkembangan tanahnya juga berbeda. Bila ditujukan untuk menentukan areal transmigrasi.25 % = 3 25% . Dengan demikian maka kemiringan lereng biasanya mengandung konsekuensi perbedaan tekstur tanah. Ada beberapa klasifikasi kemiringan lereng yang penggunaannya tergantung tuiuan pada klasifikasi tersebut. Parameter kondisi drainase perlu dicatat dalam kaitannya untuk penentuan klasifikasi baik kemampuan maupun kesesuaian lahan. Untuk survei sumber daya lahan tingkat detil. Dalam buku ini.15% =2 15 .

Diskripsi Kondisi Tanah untuk Penentuan Kondisi Drainase Deskripsi Kondisi Tanah Air tanah berada di permukaan tanah > 5 bulan per tahun. Tabel 2.4. Bercak dan horizon reduksi sampai dekat permukaan tanah Air tanah berada dekat tetapi tidak di atas permukaan tanah > 3 bulan pertahun. maka kondisi drainasenya makin buruk.Inventarisir Sumberdaya Lahan Parameter ini dibutuhkan mengingat pengaruhnya yang besar pada pertumbuhan tanaman. dimungkinkan adanya cekungan atau dataran di sepanjang lereng tersebut. karena sulit untuk dibuat kuantitatif Jadi klasifikasi akan didasarkan pada deskripsi penciri yang ada. Sering ada bercak pada horizon A bagian bawah. sedangkan batuan induk vulkanik umumnya didominasi oleh tekstur halus yang sulit dilalui air. karena kapur dapat meloloskan air. Bercak-bercak ada pada horizon A bagian bawah atau di bawah horizon A Profil tanah basah untuk periode yang cukup lama dan terjadi kekeringan tetapi sebentar. Klasifikasi kondisi drainase dinyatakan dalam suatu keadaan yang nisbi. Pada daerah aluvial biasanya mempunyal drainase yang relatif jelek daripada pada daerah miring. misalnya. Makin banyak bercak dan makin dekat posisinya ke permukaan. Kondisi drainase jelek. Keterkaitan parameter ini dengan parameter fisik lainnya cukup besar. Kondisi drainase pada lahan dengan batuan induk kapur akan berbeda dengan batuan vulkanik. sehingga kondisi drainase di cekungan maupun dataran di lereng akan berbeda dengan kondisi drainase umum di lereng tersebut. Kriteria penilaian kondisi drainase dapat dilihat pada tabel berikut. Namun demikian pada lereng bukit yang bentuknya kompleks. Kondisi Drainase (Permebilitas) Sangat jelek (sangat lambat) Kelas 1 Drainase jelek (lambat) 2 Drainase agak jelek (agak lambat) 3 Evaluasi Sumberdaya Lahan 15 . dicirikan oleh adanya bercak-bercak (moding) di profil tanah.

maka dapat diidentikasi bahwa daerah tersebut terjadi karena pengangkatan oleh tenaga endogen. Air mudah hilang. Apabila batuan permukaan dan singkapan batuan tersebut terjadi pada daerah datar. terdapat bercak-bercak pada horizon B. mengandung arti luasan lahan tidak 16 Evaluasi Sumberdaya Lahan . informasl kondisi permukaan ini sangat diperlukan karena persentase singkapan dan batuan permukaan yang besar terhadap unit lahan. Bagi pengelola hutan. persentase batuan tersingkap yang cukup luas mengurangi jumlah tanaman per satuan luas karena pada bebatuan tersebut tidak mungkin dilaksanakan penanaman. hal ini adalah erosi dan pengikisan. Sedangkan bila kondisi tersebut terjadi pada lereng bukit dimungkinkan fenomena tersebut terjadi karena tenaga eksogen. Dengan demikian apabila suatu lokasi mempunyai kelerengan yang terjal dan persentase singkapan batuan besar maka dapat dikatakan tingkat erosi yang terjadl juga tinggi. tidak mungkin dilaksanakan pengolahan tanah yang baik karena adanya gangguan tersebut. Disamping itu. Terjadinya kondisi tanah yang berbatu dan tersingkap dapat disebabkan oleh dua tenaga yang berbeda.4. tetapi tidak cepat dan terjadi bercak pada horizon C. Kondisi Permukaan lahan Drainase sedang (sedang) 4 Drainase agak baik (agak cepat) Drainase baik (Cepat) 5 6 Kondisi permukaan lahan dinyatakan dalam persentase batuan singkapan (badrock) dan adanya batu di permukaan (rockness) terhadap luas unit lahan Informasi kondisi permukaan lahan yang menyangkut batuan singkapan dan bebatuan di permukaan sangat diperlukan dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk penerapan tumpangsari tanaman semusim.Inventarisir Sumberdaya Lahan Profil tanah hanya basah sedikit tetapi dalam periode yang cukup lama. 2.4. Pada kondisi tanah yang berbatu atau tersingkap. Air cepat hilang dari tanah. solum tanah bebas dari bercak.

60 60 . iklim.10 10 . Dengan demikian apabila suatu.20 20 . Prosentase Batuan Permukaan dan Singkapan Prosentase Batuan 0 1 .5. Evaluasi Sumberdaya Lahan 17 .Inventarisir Sumberdaya Lahan produktif. sedangkan Vertisol hanya bisa terjadi pada daerah dataran dan atau berkapur. Tanah Jenis tanah akan sangat dipengaruhi oleh jenis batuan induk. lahan mempunyai jenis tanah Entisol. Perhitungan luasan lahan tidak produktif atau terdegradasi sangat penting karena mempengaruhi efisiensi produksi.40 40 .5.20 20 . Persentase batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dinyatakan dari banyaknya batuan atau singkapan dalam luasan areal tertentu.40 40 . maka akan dapat diidentifikasi jenis-jenis tanah di lapangan. Hal ini dissebabkan adanya proyek khusus yang besar.80 Prosentase Singkapan 0 1 . Dengan berbekal pengetahuan dari diskripsi profil tanah pada peta tanah.4. Namun demikian informasi yang diperoleh dari peta tetap bisa dimanfaatkan terutama diskripsi profil tanahnya. Informasi jenis tanah biasanya dapat diperoleh dari peta tanah yang tersedia. Klasifikasi batuan dipermukaan dan atau singkapan batuan dapat dilihat dalam tabel berikut. Apapun metode klasifikasi yang digunakan jenis tanah akan selalu berkaitan dengan karakteristik fisik lahannya. Tabel 2. vegetasinya. maka kedalaman tanah tersebut umumnya dangkal.10 10 . Klasifikasi tanah yang umum dilaksanakan menggunakan US Soil Taxonomy atau klasifikasi Indonesia.80 > 80 Kelas 0 1 2 3 4 5 6 2.60 60 . Cara klasifikasi tanah yang umum digunakan akan diuraikan tersendiri. Pada umumnya peta tanah yang ada mempunyai skala kecil (1:100 000 atau 1:250 000) hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang dipetakan secara detail.

18 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Kode Great Group Tanah.6. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Keterangan Plinthaqualfs Tropaqualfs Rhodudalfs Tropudalfs Haplustalfs Paleustalfs Plinthustalfs Fluvaquents Psammaquent Sulfaquents Tropaquents Tropofluvents Ustifluvents Troporthents Ustorthents Quartzipsamment Tropopsamment Ustipsamment Tropofibrists Tropofolists Sulfihemists Tropohemists Troposaprists Dystrandepts Eutrandepts No 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Keterangan Hydrandepts Placandepts Vitrandepts Andaquepts Plinthaquepts Sulfaquepts Tropaquepts Ustochrepts Dystropepts Eutropepts Humitropepts Sombritopepts Ustropepts Rendolls Argiustolls Calciustolls Haplustolls Paleustolls Gibbsiaquox Ochraquox Plinthaquox Umbraquox Acrohumox Gibbsihumox Haplohumox No 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Keterangan Sombrihumox Acrorthox Eutrorthox Gibbsiorthox Haploahox Sombriorthox Umbriorthox Acrustox Eutrostox Sombriustox Haplustox Tropaquods Placaquods Tropohumods Placohumods Troporthods Placorthods Paleaquults Plinthaquults Tropaquults Umbraquults Palehumults Plinthohumults Sombrihumults Tropohumults Paleudults No 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 Keterangan Plinthudults Tropudults Haplustuls Paleustults Plinthustults Chromudea Pelludeqs Chromuster Pellusterts Hydraquent Haplaquents Hapludolls Cryofolists Cryohemists Cryofibrists Cryorthents Cryoquepts Halaqupets Durandepts Argiaquolls Albaqualfs Rhodustalfs Albaquults Rhodudults Hapludults Calciorthids 2.4. Pengelolaan tanah yang berkembang dari batu kapur. Oleh karena itu tipe batuan sering digunakan untuk kriteria klasifikasi kemampuan lahan pada tingkat Unit. Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit. misalnya. Adanya perbedaan tipe batuan pembeda tanah akan membedakan cara pengelolaan tanah tersebut.6. akan berbeda dengan pengelolaan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Tipe batuan penting untuk diketahui karena menentukan parameter yang lain. Tabel 2. Kode great Group Tanah Menurut US Soil Taxonomi seperti dalam tabel berikut.Inventarisir Sumberdaya Lahan Adapun pembeda antara peta tanah dengan hasil survei yaitu batas tiap jenis tanah.

Evaluasi Sumberdaya Lahan 19 . Pada kedalaman regolit dangkal dari 50 cm dipertimbangkan sebagai pembatas ekstrim untuk sebagian besar spesies pohon-pohonan. Tipe batuan akan menentakan bentuk lahannya. Pengaruh lebih jauh adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Batuan beku/vulkanik (igneous rocks) adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mengeras atau membeku. Masing-masing tipe batuan mempunyai watak sendiri-sendiri sehingga parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan tertentu akan mempunyai watak yang berbeda terhadap parameter yang dipengaruhi oleh tipe batuan lain. sehingga di selidiki dan diukur di lapangan. Pada prakteknya. sehingga perlu dirinci pada saat survei lapangan. tekanan. tegangan geser atau lingkungan kimiawi. kedalaman regolit diukur sampai pada kedalaman dimana struktur masa batuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Peta tersebut dapat diperoleh di Museum Geologi Bandung dan untuk wilayah Jawa telah tersedia dengan skala I : 250 000.Inventarisir Sumberdaya Lahan Secara umum tipe batuan dibagi menjadi tiga. Pengukuran kedalaman regolit diukan mulai dari permukaan lahan sampai suatu kedalaman tanah dimana batuan dasar setempat mulai berada. Jenis tanah juga sangat ditentukan oleh tipe batuan karena tanah terbentuk dari pelapukan batuan. batuan beku atau batuan metamorf Sedangkan batuan malihan/metamorf (metamorphic rocks) adalah batuan yang telah mengalami perubahan struktur kimia atau mineral sebagai akibat dari perubahan temperatur. Informasi yang diperoleh dari peta ini masih bersifat global. Tanah yang terbentuk dari batuan kapur akan mempunyai kepekaan terhadap erosi yang berbeda dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan vulkanik. Kedalaman regolit agak sulit diperkirakan di foto udara. dapat digunakan Peta Geologi. Disamping itu kedalaman regolit sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. yaitu batuan beku. Informasi kedalaman regolit diperlukan untuk pertimbangan perlakuan lahan. Untuk mempermudah Identifikasi tipe batuan di lapangan. Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah sedimen yang mengalami konsolidasi dari hasil erosi yang terangkut dari batuan endapan. batuan sedimen dan batuan malihan (metamorf). misalnya penterasan.

pasir berkapur  Batuan lempung hitam Kode lv lw lc ls Kedalaman Regolit < 10 cm 10 – 20 cm 20 – 40 cm 40 – 60 cm 60 – 80 cm 80 – 100 cm 100 – 200 cm > 200 cm Kode 0 1 2 3 4 5 6 7 2 Sl Sf Sc Sb 2. Tanah dangkal akan terbatas kemampuannya dalam menyediakan air dan unsur hara lainnya. Pada tanah yang dangkal. faktor kedalaman tanah sangat diperhitungkan dan menentukan. Pada klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan. kedalaman tanah mempunyai pola umum.Inventarisir Sumberdaya Lahan Selain berpengaruh pada praktek konservasi tanah dan pertumbuhan tanaman. Dibukit biasanya mempunyai kedalaman tanah terbesar dibandingkan lereng tengah. kapur kurang padu  Batuan sedimen halus Alluvium/Colluvium  Batuan sedimen pasir. KedaIaman Tanah Kedalaman tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Tabel 2. Dengan mengikuti pola 20 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Pada satu unit lahan.7. Demikian pula tanah di lereng atas umumnya lebih dangkal dibandingkan dengan lereng tengah. kedalaman regolit juga mempengaruhi kondisi drainase tanah. Disamping itu kedalaman tanah sangat menentukan lahan bisa diolah atau tidak.7. Klasifikasi dan Kode Untuk Tipe Batuan dan Kedalaman Regolit Tipe Batuan 1 Batuan Beku  Batuan beku yang masih padu  Batuan beku pelapukan lanjut  Batuan beku pelapukan sedang  Batuan pasir pelapukan sedang Batuan Sedimen  Batuan kapur.4. pengelolaan tanah justru justru akan membalik sub soil ke atas yang berakibatterganggunya pertumbuhan tanaman.

90 cm > 90 cm Kelas 1 2 3 4 5 6 2.15 cm 15 . misaInya drainase. Klasifikasi dan Kode Kedalaman Tanah Deskripsi kedalaman Tanah Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Kedalaman Tanah < 10 cm 10 . kedalaman tanah juga dapat berubah karena tenaga endogen dan tenaga eksogen. jenis tanah dan kemiringan lereng telah disinggung terdahulu. walaupun perubahannya tidak secepat parameter erosi. tipe batuan dan bentuk lahan. Pada lereng yang terjal tekstur tanah biasanya lebih kasar dibandingkan dengan daerah yang datar karena partikel halus telah terkikis dan diendapkan di daerah yang datar.8.60 cm 60 . silt dan clay) sedangkan struktur tanah adalah bentuk spesifik dari agregat tanah. drainase daerah miring akan lebih baik dibandingkan dengan daerah Evaluasi Sumberdaya Lahan 21 . Seperti haInya kondisi permukaan. kondisi drainase. Tabel 2.Inventarisir Sumberdaya Lahan umum tersebut. maka pembentukan tanahnya lambat. Jadi parameter ini juga bisa dikatakan parameter yang dinamis.5. Tekstur tanah relatif tidak berubah tetapi struktur tanah mudah berubah terutama apabila ada pengolahan tanah. Dilai pihak kedalaman tanah juga dapat berubah karena adanya pengikisan atau erosi. Sifat Fisik Tanah Sifat fisik tanah yang penting untuk pengelolaan lahan dan dideskripsikan di lapangan mencakup tekstur tanah dan struktur tanah. maka kedalaman tanah dapat diidentifikasikan dengan penaksiran foto udara. Tekstur tanah dapat didifinisikan sebagai perbandingan antara fraksi tanah (pasir. Akibat lebih jauh. kemiringan lereng. Pada daerah dengan tingkat pelapukan yang rendah. Keterkaitan kedalaman tanah dengan parameter lain. Parameter ini sangat berkaitan dengan parameter lainnya antara lain. Klasifikasi kedalaman tanah seperti tabel dibawah.30 cm 30 . debu dan lempung/ Sand.

tetapi pada prinsipnya sulit untuk dilaksanakan. sedangkan bentuk lahan akan mempengaruhi tenaga eksogen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah. Cara penilaian sifat-sifat fisik tanah tersebut dilapangan akan diuraikan lebih jauh pada petunjuk praktek lapangan. Tabel 2. Klasifikasi tekstur dan struktur tanah diuraikan pada tabel berikut. Kode Tekstur dan Struktur Tanah Tektur Tanah Pasir Pasir Berlempung Lempung Berpasir Lempung Lempung Berdebu Debu Lempung Liat Berpasir Lempung Berliat Lempung Liat Berdebu Liat Berpasir Liat Liat Berdebu 3 2 1 0 0 2 1 1 1 2 2 2 Kode S LS SL L SiL Si SCL CL SiCL SC C SiC Struktur Tanah Columnar Prismatik Blocky Nutty Platty Crumb Granular Kode Col Pris Blk Nutt Plat Cr Gr 2. Sifat Kimia Tanah Bahan penting yang diabsorbsi tanaman dan dipindahkan dari tanah adalah air dan unsur hara. Ketelitian penentuan tekstur di lapangan tergantung pengalaman surveyor. Penilaian struktur tanah hanya bisa dilaksanakan di lapangan.6.Inventarisir Sumberdaya Lahan datar. Tanaman dapat mengalami kekurangan (defisiensi) unsur hara bila unsur tersebut tidak terdapat dalam tanah atau unsur tersebut terdapat dalam jumlah cukup tetapi sangat sedikit terlarut atau tidak tersedia untuk menopang kebutuhan 22 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tipe batuan akan mempengaruhi komposisi fraksi tanah yang pada akhirnya akan berpengaruh pada tekstur tanah.9. Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan secara teliti di laboratorium tetapi dalam ISDL ini tekstur tanah dapat dinilai di lapangan melalui metode Sidik Cepat Ciri tanah di Lapang.

Hal ini disebabkan karena pengaruh pH yang sangat besar terhadap kesesuaian lahan dan pertumbuhan tanaman. sintesa protein dan lain-lain. Dalam kegiatan ini yang diukur adalah unsur hara makro saja. Kondisi kesuburan tanah ditunjukkan oleh kandungan unsur hara tanah. Pengukuran pH dilakukan pada horison A maupun B dengan menggunakan alat-alat testing lapangan sederhana pada ketelitian 0. sehingga semakin besar nilai KTK maka akan semakin banyak kation yang dapat diperEvaluasi Sumberdaya Lahan 23 . Dampak kekurangan unsur hara terhadap pertumbuhan tanaman juga berlangsung dalam jangka panjang dibandingkan dengan tanaman semusim. pH tanah berhubungan erat dengan Jumlah kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). sedangkan Mg merupakan penyusun klorophyl dan ensim aktivator. Kapasitas tukar kation (KTK) menggambarkan jumlah/ besarnya kation yang dapat dipertukarkan. berperan dalam struktur dan permeabilitas membran. translokasi karbohidrat. asam nukleat dan substrat metabolisme. Ca dan Mg ini merupakan salah satu dari unsur hara makro. koensim. Unsur N merupakan penyusun semua protein. Oleh karena itu sifat kimia tanah hanya digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan pada tanaman semusim. Keasaman tanah yang dinyatakan dalam Eksponen Hidrogen (pH) merupakan aspek kimia tanah yang tetap diperlukan dalam kegiatan ini. Unsur P berperan dalam transfer energi sebagai bagian dari adenosin tripospat. Meskipun parameter pH merupakan faktor yang dinamis. Unsur K meskipun penting tetapi hanya sedikit peranannya sebagai penyusun komponen tanaman. Kalsium (Ca).Inventarisir Sumberdaya Lahan tanaman. Phosphor (P205 tersedia) dan Kalium (K20 tersedia). Unsur-unsur makro tersebut adalah Nitrogen (N total). Fungsi utama adalah untuk pengaturan mekanisme seperti fotosintesis. tetapi tetap diperlukan dalam kaitannya dengan pengelolaan lahan. klorophyl di dalam koensim dan asam-asam nukleat. Magnesium (Mg).1 satuan. Tanaman tahunan relatif lebih tahan terhadap defisiensi unsur hara. Ca merupakan komponen dinding sel. Unsur hara tanah yang diukur di sini adalah merupakan unsur hara esensial yang terdiri dari unsur makro dan mikro. beberapa penyusun protein.

1 .5 4.0 Ca (me/ 100 g) <2 2-5 6 .20 0.1 .45 K20 HCI 25 % (mg/100 g) < 10 10 .10-0.6-8.0.25 26 .7 Mg (me/ 100 g) < 0.6-7.70 31 -60 A.40 > 40 Tinggi 0.3 .0.51-0.1997).4 .5 Na (me/100 g) < 0.6-6.1 0.75 > 0.01 -3.1 .00 0.5-5.20 21 .7.75 16 .21-0.35 > 35 46 .60 > 60 41 .25 > 25 41 .1.4 0.0. Sedangkan bahan organik (BO/C-org) menunjukkan besarnya kandungan bahan organik tanah. Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (Puslittanak.00 > 5.40 KTK (mg/ 100 g) <5 5 -16 17 .50 C/N <5 5 -10 11 -15 P205 HCI (mg/100 g) < 10 21 .Masam Netral < 4.5 6.60 > 60 25 .24 Susunan Kation K (me/ 100 g) < 0. Sangat Rendah Sedang Rendah C (%) < 1.1 . Semakin banyak BO maka struktur tanah akan semakin baik dan akan mempengaruhi KTK. Oleh karena itu perlu dicatat bahwa informasi jenis dan tingkat erosi hasil perisalahan adalah kondisi 24 Evaluasi Sumberdaya Lahan .6 .00 2. karena kondisi erosi bisa berubah drastis setiap waktu.4 .0 > 1.0.5 5.2.5 > 1.25 P205 Olsen (ppm) < 10 10 .60 > 60 26 .3 0.40 21 . Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa erosi biasanya terjadi cukup besar pada saat awal penebangan atau pembukaan lahan sampai tanaman berumur 2 tahun.10 Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 36-50 Kejenuhan Al (%) < 10 10-20 21 -30 pH H20 S.20 51 .Masam Masam A.0 > 20 > 70 > 60 Alkalis > 8.00-2.0 0. Tabel 2.1.40 P205 Bray I (ppm) < 10 10 -15 16 .5 Sifat Tanah Sangat Tinggi 3.1.0 1.8 .8.0 11 .10 0. Parameter ini sangat dinamis.00 N (%) < 0.5 2.01-5. Kondisi Erosi Erosi merupakan pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjulan. Hasil penilaian Sifat Sifat tanah dapat dilihat dalam tabel berikut.1 0. Identifikasi erosi di lahan hutan diperlukan untuk mengetahui jenis dan tingkat erosi serta persentase luasan tererosi pada satuan peta sehingga upaya konservasi tanah yang efektif dapat direncanakan. 00 1.Inventarisir Sumberdaya Lahan dipertukarkan sehingga ketersediaan hara tanaman akan semakin meningkat.0 > 8.0 2. alkalis 7.2 0.10.

ringan. Klasifikasi jenis dan tingkat erosi diuraikan pada tabel berikut.8. Kode untuk Jenis dan Tingkat Erosi Jenis Erosi Erosi Permukaan Erosi Parit ErosiJurang Erosi Tebing Sungai Kode Sh Rl GI St Tingkat erosi Diabaikan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Kode SR R S B SB Kelas 0 1 2 3 4 2. tidak begitu banyak terjadi di Indonesia. sedang dan berat. Dalam kaitannya dengan aspek tanaman. Pembaruan (updating) data parameter ini perlu sering dilakukan mengingat cepatnya perkembangan tanah tererosi. erosi juga akan banyak terjadi di lahan yang terbuka setelah penebangan sebelum adanya semak. Erosi yang dibahas dalam disini adalah erosi yang disebabkan karena air. tergantung dari sifat fisik dan batuan pembentuknya. Sifat Geomorfologi 2. Sedangkan erosi angin.1. walaupun ada. Perlu dicatat pula bahwa penanaman sistem tumpangsari juga mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya erosi.8. yaitu erosi permukaan/ lembar(sheet erosion).11. sehingga identifikasi kondisi tanaman bisa digunakan sebagai indikator kondisi Evaluasi Sumberdaya Lahan 25 . Dengan demikian maka kondisi erosi selain terkait dengan bentuk lahan juga terkait dengan sifat tanah dan tipe batuan. Secara umum dikenal empat jenis erosi tanah oleh air. Pada dasarnya setiap tanah mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda terhadap erosi. Pembagian tingkat erosi dilakukan secara kualitatif. Aspek Tanaman Inventarisasi parameter tanaman dilakukan karena kinerja tanaman yang ada merupakan pencerminan kondisi lahan. jurang (gully erosion). yaitu diabaikan. erosi parit (rill erosion). Tabel 2. erosi tebing sungai (streambank erosion) dan longsoran (landslide erosion).Inventarisir Sumberdaya Lahan pada saat dilakukan survei lapangan. akibat adanya pengolahan tanah. Pada umumnya erosi tanah banyak terjadi di lahan miring daripada dilahan datar.

Secara alamiah pertumbuhan tanaman tergantung pada kondisi tanah. Dengan demikian informasi hujan dapat dikaitkan dengan parameter yang lain. lahan dan iklim. Bagi areal hutan tanaman yang sudah beroperasi.Inventarisir Sumberdaya Lahan lahan saat itu. merupakan bukti keterkaitan iklim mikro. kegiatan ini adalah: rata-rata curah huian setahun dari data 10 tahun terakhir. hujan antar petak juga. sehingga kegiatan ini lebih banyak mengumpulkan data sekunder. dengan kondisi fisik lahan terutama bentuk lahan. dalam hal ini curah hujan. Aspek Iklim Anasir iklim yang dibahas dalam kesempatan ini hanya curah hujan. parameter iklim memerlukan pencatatan data dalam kurun waktu yang relatif panjang. karena terbatasnya stasiun meteorologi. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa antar petak dalam satu bagian bisa mempunyai pola dan curah hujan yang berbeda tergantung elevasi dan arah lerengnya.8. Mengingat bahwa areal hutan banyak terletak di pegunungan.2. jumlah bulan kering dan jumlah hari hujan setiap bulannya. 26 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kemiringan lereng dan arah lereng. Berbeda dengan parameter lain yang bisa dikumpulkan langsung di lapangan. Oleh karena itu diperlukan beberapa stasiun hujan pada satu bagian hutan agar rekaman hujan dapat mencerminkan kondisi realistis. informasi kinerja tanaman juga sangat penting sebagai sarana pemantauan di tiap petak atau anak petak. 2. Informasi ini penting terutama bagi lokasi baru yang akan dibuka untuk tanaman. Fenomena perbedaan pola. maka sangat dimungkinkan terpengaruh hujan orografis. jumlah bulan basah. Oleh karena itu kegiatan ISDL juga perlu mengumpulkan informasi tentang iklim. Parameter iklim yang penting dalam klasifikasi ini adalah suhu. Akibatnya pola hujan dan distribusi hujan antar petak sangat berlainan. Dengan demikian maka penanganan areal yang bermasalah yang ditandai dengan buruknya kinerja tanaman dapat segera direncanakan berdasarkan informasi ini. Informasi hujan yang diperlukan dalam.

maka dapat digunakan metode poligon Thiessen ( Gambar ). Di lain pihak penentuan bulan kering pada klasifikasi kesesuaian lahan didasarkan pada kebutuban air tanaman keras. biasanya terdapat beberapa penakar hujan pada suatu wilayah yang disurvei. tetapi data curah hujan biasanya tersedia. Bulan basah dan bulan kering yang digunakan untuk klasifikasi kemampuan lahan ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk tanaman pangan. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 100 mm per bulan. Dalam hal ini bulan kering adalah curah hujan < 75 mm dan bulan basah > 75 mm per bulan. dan banyaknya bulan basah dan bulan kering selama setahun. Pembagian wilayah hujan dengan metode poligon Thiessen Hujan rata-rata seluruh daerah aliran sungai dapat dihitung dengan persamaan berikut: Evaluasi Sumberdaya Lahan 27 . Terdapat beberapa metode penentuan bulan basah dan bulan kering. Data tentang suhu dan temperatur biasanya agak sulit dijumpai.Inventarisir Sumberdaya Lahan temperatur dan curah hujan. sedangkan bulan basah adalan curah hujan > 200 mm. Data curah hujan yang penting untuk klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan mencakup data hujan setahun (dalam mm).1. Khusus tentang penakar hujan. Gambar 2. tergantung pada dasar penentuannya.200 mm sebulan. Untuk menentukan hujan rata-rata diareal yang diwakili oleh masing-masing penakar hujan. bulan lembab antara 100 .

Inventarisir Sumberdaya Lahan PR = (P1.A3) / (A1 + A2 + A3) Keterangan: PR = Tinggi hujan rata-rata DAS P1. 3 A1.2.2.A2 + P3. 2 3 (Faktor Pembobot).A1 + P2.3 = Tinggi hujan di stasiun 1. 28 Evaluasi Sumberdaya Lahan .3 = Luas daerah yang diwakili di stasiun 1. 2.

1. Data lahan diperoleh survei lahan Penggunaan lahan. Pertimbangan yang digunakan untuk delininiasi satuan lahan adalah: 1. Sifat dapat direproduksikan bersifat sangat subyektif yang berhubungan dengan kesamaan sifat dari kejadian yang berbeda pada satuan lahan yang sama. Pengertian Klasifikasi Lahan KLASIFIKASI LAHAN: sebagai pengaturan satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasar sifat-sifat lahan or kesesuaiannya untuk berbagai penggunaan. Lahan. Ekonomis diperoleh diterapkan. 2. Klasifikasi lahan merupakan pengembangan sistem logika berbagai macam lahan berdasar sifat lahan yang dapat diamati secara langsung atau sifat yang ditetapkan karena penyidikan (Kesuburan tanah). Sifat yang dapat dikenal yaitu sifat yang berhubungan dengan pengembangan identitas dari satuan-satuan lahan dan sifat pembeda yang dibutuhkan untuk dipilih.Klasifikasi Lahan 3. dari kelayakan usaha yang akan 3. Pada dasarnya evaluasi lahan membutuhkan keterangan yang menyangkut 3 aspek: 1. Evaluasi lahan berfungsi memberikan pengertian ttg hubungan antara kondisi lahan dan penggunaannya serta memberikan kpada perencana berbagai perbandingan dan alternatif pilihan penggunaan yang dapat diharapkan berhasil. kehutanan dan disiplin ilmu lain yang sesuai. 2. Sedangkan manfaat evaluasi lahan adalah menilai kesesuaian lahan bg suatu penggunaan tertentu serta Evaluasi Sumberdaya Lahan 29 . Keterangan penggunaan lahan diperoleh dari keterangan agronomis.

(b) Alami. Keperluan Prosedur Klasifikasi Lahan Untuk memberikan pengelompokkan yang sahih bagi aktivitas ilmiah yang sedang dilakukan. mengorganisasikan & mengkomunikasikannya untuk keperluan pengambilan keputusan. Untuk keperluan ini informasi dikelompokkan menjadi dua yaitu: (a) Kultural. Kegunaan Klasifikasi Lahan Adalah untuk mengumpulkan informasi. Klasifikasi penting dalam usaha mengerti dan mengelola sumberdaya lahan.4.2. kemudian obyek yang diukur dialokasikan ke dalam kelas-kelas. Langkah pertama: kriteria klasifikasi harus ditentukan.Klasifikasi Lahan memprediksi kensekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan. ekonomi. KLASIFIKASI: Pengelompokkan obyek tertentu yang sama atau sejenis dan pemisahan obyek yang berbeda. sehingga untuk yang sama tidak perlu pengulangan deskriptif & interpretasi. 3. Data deskriptif & data yang diinterpretasikan digabungkan menjadi satuan kelas.3. Identifikasi obyek selanjutnya diikuti dengan delineasi (gambar) lahan ke bentuk kegiatan pemetaan (regionalisasi) 3. 3. Klasifikasi Lahan Untuk memberi kemungkinan melakukan penyedikan mengenai obyek-obyek yang diklasifikasikan. sedangkan penempatan obyek ke dalam sistem tsb disebut identifikasi. meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Hasil dari proses ini adalah sistem klasifikasi. politik dan administrasif. meliputi aspek sosial. karena klasifikasi dapat menciptakan keteraturan 30 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Klasifikasi berdasar satu faktor dan berdasar faktor ganda. Evaluasi Sumberdaya Lahan 31 5. Tidak tergantung pada obyek yang sedang dipikirkan. 3. Klasifikasi merupakan persyaratan bg semua pemikiran konsepsi. Kegunaan utama dari klasifikasi adalah untuk membangun kelas-kelas. Klasifikasi mempunyai tingkat penggunaan yang berbeda-beda. Klasifikasi satu faktor. sedang yang diperuntukkan untuk keperluan yang lebih terbatas disebut buatan (artificial). Klasifikasi yang diperuntukkan untuk sejumlah besar penggunaan disebut alami (natural). Prinsip Umum dalam klasifikasi lahan: 1. merupk klasifikasi yang menggunakan hanya satu faktor dalam mengklasifikasikan.Klasifikasi Lahan data yang akan diinterpretasi serta mengurangi jumlah kenjadi lebih kecil dari jumlah total obyek melalui pembentukan kelas-kelas. dimana kita dapat membuat generalisasi induktif. Tetapi ada sejumlahah sistem klasifikasi yang berbeda dalam dasar pemikiran sesuai keperluan. penggunaan dan interpretasi obyek yang dipelajari. (bid. Kelas-kelas ttn yang dibangun akan selalu timbul dalam hubungannya dng keperluan ttn. Berbagai macam metode klasifikasi yang dikenal: 1. Contoh: Klasifikasi lokasi yang didasarkan pada pengukuran produk tivitas. Sebaliknya klasifikasi berdasar faktor ganda. Generalsi beda butuh klasifikasi beda). mengembangkan. Klasifikasi yang diadopsi untuk setiap perangkat obyek tergantung dari bidang ttn dimana generalisasi induktif tsb dilakukan. 2. 6. 4. . menggunakan bbrp faktor dalam mengklasifikasikan obyek yang sedang dipelajari. Tak ada satupun sistem klasifikasi yang bersifat idela (absolut) untuk setiap perangkat obyek ttn.

Tipe pd tingkat yang lebih I A B C II D tinggi Tipe pd tingkat yang lebih rendah Obyek/individu 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Gambar 3. Klasifikasi berdasar agregasi dan berdasar penguraian Agregasi dimulai dari sejumlahah individu kemudian dng menggunakan peraturan tertentu mengalokasikan kedalam kelompok/klas menurut tingkat kesamaannya pada kriteria yang dipilih.Klasifikasi Lahan Contoh: tipe tanah. Sebaliknya klasifikasi hirarki menggunkan bbrp tingkat dalam bentuk hirarki yang membentuk kelas-kelas ordo dari obyek yang dipelajari sehingga hubungan diantara mereka dapat diketahui. Masing-masing tingkatan yang lebih tinggi merupakan agregasi dari anggota yang ada dibawahnya.1. (pendekatan dari bawah ke atas). 2. Klasifikasi Tingkat Tunggal dan Hirarki 3. dapat disederhanakan ke dalam sejumlah kecil sifat yang menonjol yang dapat digunakan mengidentifikasi macam dan interpretasikan untuk berbagai keperluan. Klasifikasi tingkat tunggal dan klasifikasi hirarki Klasifikasi tingkat tunggal hanya menggunakan satu tingkat dalam klasifikasi. 32 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Penguraian dimulai dari satuan yang luas dibagi ke dalam satuan-satuan kecil (pendekatan dari atas ke bawah).

Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham. politik. dan ekonomis KESESUAIAN LAHAN KEMAMPUAN LAHAN NILAI LAHAN PENGGUNAAN LAHAN OPTIMUM Gambar 3. sosial.2. 1981) Evaluasi Sumberdaya Lahan 33 . 1981) FAKTOR LINGKUNGAN ALAMI Karakteristik Lahan KUALITAS LAHAN Faktorfaktor teknis.Klasifikasi Lahan Pentahapan dlm Evaluasi Lahan secara Tidak Langsung (Burnham.

Tingkat terendah adalah Unit yang merupakan pengelompokan lahan yang mempunyai respon sama terhadap sistem pengelolaan tertentu. hasil klasifikasi ini dapat digunakan untuk menentukan arahan penggunaan lahan secara umum (misalnya untuk budidaya tanaman semusim. Kemampuan penggunaan lahan adalah suatu sistematika dari berbagai penggunaan lahan berdasarkan sifat-sifat yang menentukan potensi lahan untuk berproduksi secara lestari. Sub Klas dan Unit.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1.1. Apabila makin besar faktor penghambatnya dan makin tinggi Klasnya maka akan semakin terbatas pula penggunaannya. 1990). Sistem klasifikasi ini membagi lahan menurut faktor-faktor penghambat serta potensi bahaya lain yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. KPL : Dikelompokkan menjadi VIII Kelas dimana: I – IV : Cocok digunakan untuk budidaya tanaman pertanian V – VII : Tidak cocok untuk pertanian. Evaluasi Sumberdaya Lahan 35 . Kehutanan tahun 1988-1990 di BTPDAS Surakarta (Fletcher dan Gibb. sedangkan Sub Klas menunjukkan jenis faktor penghambat. hutan produksi dsb). cocok untuk padang rumput dan hutan produksi VIII : Tidak sesuai untuk padang rumput dan hutan produksi tapiuntuk hutan konservasi DAS. Di areal HTI hasil klasifikasi ini terutama akan bermanfaat untuk alokasi areal sistem tumpangsari. perkebunan. Pengelompokan Klas didasarkan pada intensitas faktor penghambat. Jadi. Lahan diklasifikasikan atas dasar penghambat fisik. Secara umum sistem ini menggunakan delapan Klas. Klasifikasi Kemampuan Penggunaan Lahan (KPL) menggunakan metoda yang dikembangkan oleh USDA dan telah diadaptasikan di Indonesia melalui Proyek Pemetaan Sumber Daya Lahan kerjasama antara Land Care Research New Zealand dengan Dept. yaitu: Klas. Ada tiga kategori dalam klasifikasi KPL.

VIe2 dsb. 36 Evaluasi Sumberdaya Lahan . - beberapa satuan peta mempunyai kemiripan respon thd pengelolaan yang sama. memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh VIe1.ekstrem kelas VIII (Kelas KPL ditulis dalam huruf Romawi). kebasahan (w). 4.Klasifikasi Kemampuan Lahan Sistem KPL tersebut dikembangkan untuk daerah beriklim sedang dengan mendasarkan pada budidaya tanaman pertanian tanpa teras yang dikerjakan secara mekanis. Contoh Sub kelas Vie. karena telah dibuat teras bangku datar. masih sangat terbatas karena sistem tersebut tidak mempertimbangkan penggunaan tenaga kerja manusia dan atau tenaga hewan untuk pengelolaan lahan pertanian pada teras datar yang dibuat dengan tenaga manusia. Di daerah Tropika Kerangka Kerja KPL. iklim (c) dan gradien (g). 2. Struktur Klasifikasi KPL KKPL dikelompokkan menjadi 3 tingkat yaitu: 1. Sub Kelas KPL : menunjukkan jenis pembatas utama yaitu erosi (e). Mengingat Kelas KPL V dan VI memerlukan upaya konservasi tanah secara intensif dan berkesinambungan. Satuan KPL: Pengelompokkan inventarisasi yang. mempunyai hasil potensial yang hampir sama. Di Indonesia Budiaya Pertanian telah dimasukkan ke Kelas KPL V dan VI. karakteristik tanah (s). 0 kelas I . 3.1. Kelas KPL : Mengungkapkan derajat pembatas (penghambat). Dengan pemikiran teras bangku telah mengurangi derajat lereng bagi tanaman pertanian.

Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai termasuk pemeliharaannya. lahan dinilai sesuai dengan tingkat pembatas yang tersisa stl perbaikan dilakukan. irigasi. Contoh: Intensitas pengelolaan sama. kesuburan meningkat. Apabila layak untuk mengurangi/menghilangkan pembatas fisik secara nyata. Diasumsikan tingkat pengelolaan di atas rata-rata. KLP adalah penilaian bersifat interpretasi berdasar atas sifat fisik lahan permanen 2. tingkat produksi Kelas III lebih tinggi IV 6. misalnya GWT turun. (Kelas.Klasifikasi Kemampuan Lahan SECARA RINGKAS KOMPONEN KLASIFIKASI KPL. 5. Penilaian KPL suatu wilayah dapat berubah karena adanya reklamasi secara permanen merubah keadaan alami dan faktor pembatas. 3. Evaluasi Sumberdaya Lahan 37 . Sub Kelas dan Satuan) Kelas I e II III IV V VI VII VIII w s c g Derajat pembatas Sub Kelas Jenis utama pembatas Kemiripan Satuan IVs1 IVs2 IVs3 IVs4 kebutuhan Kelola & konservasi ASUMSI DAN PENILAIAN KPL Asumsi yang digunakan adalah: 1. KPL bukan suatu penilaian produktivitas thd tanaman ttn nisbah input/output bisa membantu menetapkan Kelas KPL. 4.

Hampir semua sifat tanah yang menghambat perakaran tanaman (jeluk.Kemiringan lereng (diperbaiki dengan tan.Klasifikasi Kemampuan Lahan Misalnya. padas. Jaringan drainase yang luas. irigasi. fasilitas.Iklim yang kurang cocok (perubahan iklim mendadak) . Pembatas ini ada dalam Sub Kelas KPL dan sifatnya dapat permanen atau berubah (changeable) Pembatas Permanen tsb: Sifat jenis batuan . jarak. Banjir Batuan dipermukaan dan di zone perakaran erosi lapis. batuan & iklim) Penghilangan faktor pembatas tergantung pada: 38 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Namun dalam “kesesuaian” hasil survei KPL sangat ideal digabungkan dengan faktor sosial ekonomi. Berteras) Pembatas berubah yang dapat diperbaiki al. 4. penahanan air.kebasahan berlebih setelah drainase . Pembatas Fisik Pembatas fisik adalah karakteristik lahan yang mempunyai akibat kerugian thd. KPL tidak dipengaruhi oleh faktor lokasi. alur akibat kerentanan dari kombinasi pembatas permanen (lereng. mineral liat . pemilikan lahan dan ketrampilan petani.2. dan pengendalian banjir 7.Gerakan massa tanah/longor . tekstur.Banjir . Kekurangan hara/keracunan yang tidak berat Kebasahan tanah atau kerentanan thd. Keragaan (performance) lahan. karakteristik tanah.Letusan gunung api .

. tidak layak atau tidak ekonomis bila ada dibawah kemampuan petani dan memerlukan subsidi pemerintah. : Tidak ada faktor pembatas fisik yang berarti : Mempunyai pembatas fisik ringan antara lain: . Untuk dihilangkan/ modifikasi harus dipertimbangkan: * Pantas (reasonable) Layak (feasible) Ekonomis (economic) Penghilangan/modifikasi pembatas dinilai tidak pantas. sedang tehadap erosi alur. Maka Kondisi lahan yang dimikian dapat dikelompokkan ke kelas KPL yang lebih tinggi. lapis dan jurang Evaluasi Sumberdaya Lahan 39 . erosi tebing sungai .Kadang kebanjiran selama 12 jam s/d 2 hari dan tidak lebih dari selaki dalam 1 tahun.Rentan terhadap Pengendapan.Iklim < menguntungkan (ringan).Kerentanan (susceptibility) ringan oleh erosi (alur.Pembatas fisik pembuatan teras untuk kemiringan 15% diabaikan KPL I KPL II KPL III : Pembatas fisik sedang. struktur) ringan . untukmemutuskan Melihat faktor pembatas tsb.Klasifikasi Kemampuan Lahan - jenis dan tingkatnya. kebasahan ringan (Horison B bercak) . lapis dan jurang) . sedang (60-90 cm) . .Kerentanan.Setelah drainase.Jeluk. maka perlu upaya konservasi khusus. bulan kering sampai 5 bulan Berturut CH < 100/bulan .Karakteristik tanah (tekstur.

. .Kesuburan alami rendah KPL V Iklim < menguntungkan (ringan).Jeluk. sangat dangkal (15-30 cm) .Jeluk. Berturut. berat .) KPL IV : Punya pembatas fisik berat. alur dan longsor. dangkal (30-60 cm) .Karakteristik tanah yang tak menguntungkan. bulan kering 5 bulan Berturut.Sifat rentan terhadap erosi lapis. . . bulan kering 5 bulan. CH > 200/bulan. 40 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kebasahan dan kebecekan.Banjir 1-2 hari dan terjadi rata-rata sekali/th.Setelah drainase. CH > 200/bulan. erosi tebing sedang .Karakteristik fisik tanah. sehingga perlu konservasi intensif.Banjir 2-4 hari rata-rata sekali/tahun. berat .Kondisi iklim yang tak menguntungkan. . berat. sedang (Bulan kering berturut 6 bulan dan CH < 100mm/bulan. kondisi kebasahan ekstrim (bercak di Horision A). kondisi kebasahan tanah sedang (sering ada bercak di Hor A/dibawah horisan A). erosi tebing sungai.Kerentanan terhadap deposisi.Rentan pengendapan. . Iklim < menguntungkan (ringan).Setelah drainase. : Bahaya erosi diabaikan sampai ringan Kerentanan erosi diabaikan untuk dibawah vegetasi tahunan permanen .Kesuburan alami rendah .Setelah drainase. sedang . sangat < menguntungkan.Klasifikasi Kemampuan Lahan .

dangkal < 10 cm Kesuburan alami. dangkal (10-15 cm). . dangkal (< 15 cm).) KPL VI : Dibawah vegetasi tahunan pembats fisik sedang. (S  65%) Kerentanan erosi dibawah vegetasi tahunan. Jeluk.Jeluk.) KPL VII : Tidak sesuai untuk segala jenis pengolahan dengan pembatas berat Dibawah vegetasi tahunan rentan erosi Lereng curam sampai terjal (45-85%) Kebasahan berat (drainase tanah jelek) Banjir > 15 hari rata-rata sekali per tahun Jeluk.Banjir 4-8 hari dan terjadi rata sekali per tahun. kondisi kebasahan permanen Banjir 8-15 hari dan terjadi rata-rata sekali/th. terdapat banyak batu . pada lahan datar/agak miring terdapat banyak batu Kesuburan alami rendah Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan.Kesuburan alami rendah .Klasifikasi Kemampuan Lahan . rendah 41 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Pembatas iklim ringan untuk rumput dan hutan produksi dengan (Bulan Kering berturut 6-7 bulan dan CH < 100 mm/bulan. sedang Rentan erosi partikel diabaikan pada tan semusim berteras Lereng curam (35-65%) setelah ekstrim drainase.

Sesuai untuk silvopasture (agroforestry rumput) pada Rumput. Kelas VI : hanya sesuai untuk budidaya tan. CH < 100 mm/bulan.3. Kelas V : sesuai untuk budidaya pertanian dengan teras agroforestry.4. Kelas VII : mempunyai faktor pembatas berat. yang mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman tanpa teras. pada rumput dan hutan. atau hutan. Hanya konservasi DAS 4. Pertanian dimana kedalaman tanah dan lereng memungkinkan tanaman pertanian/agroforestry pola kayu/tanaman semusim pada teras bangku. Kelas tsb sesuai untuk tanaman pertanian pada teras. Kelas I – IV : ditetapkan untuk budidaya pertanian tanpa teras. Kelas VII : tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu/tan. dan hutan. 4. Semusim dan sesuai untuk agroforestry pola kayu/rumput. padang rumput atau hutan.Klasifikasi Kemampuan Lahan - Pembatas iklim berat (BK 4-7 bulan. dan hutan. pada rumput. Sesuai untuk perlindungan DAS. agroforestry. Kelas ini sesuai untuk padang rumput. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Tingkat terluas dari KPL adalah “Kelas” yaitu ada 8 kelas (I VIII) yang disusun dalam urutan sesuai dengan peningkatan faktor pembatas atau ancaman (bahaya) bila digunakan untuk pertanian. sehingga tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman Pertanian. KPL VII : Tidak sesuai u/ sgl jenis budidaya tan. Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Ada 5 pembatas yang digunakan untuk sub kelas KPL yaitu: (e) Erodibilitas/Bahaya erosi (w) Kebasahan yang menghambat pertumbuhan tanaman karena aerasi (<) 42 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

Pembatas oleh unsur iklim yang kurang menguntungkan Gradien. tekstur dll) Iklim.Kemudian nilai kls & sub kls awal Tentukan kelayakan penterasan Nilai tata guna lahan yang diinginkan Tetapkan kerentanan thd. sudut lereng Langkah-Langkah Penilaian Kelas dan Sub Kelas Kemam-puan Lahan seperti berikut: BAGAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN LAHAN KEBASAHAN TANAH IKLIM LERENG Nilai kelas KPL u/ 2 masing pembatas fisik Pilih KPL yang menunjukkan derajat pembatas fisik >. struktur. pembatas dalam zone perakaran tanaman (kesuburan.Klasifikasi Kemampuan Lahan s) (c) (g) Soil. erosi Nilai Kelas dan Sub Kelas KPL akhir KUNCI Pembatas Fisik Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4 TANAH LERENG Evaluasi Sumberdaya Lahan 43 .

Klasifikasi Kemampuan Lahan 44 Evaluasi Sumberdaya Lahan .

1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas kebasahan tertinggi. kedalaman tanah (Tabel 2. 1c. 1b. Evaluasi Sumberdaya Lahan 45 .2) dan tingkat banjir (Tabel 3.5 dan kode batuan singkapan (Tabel 2. Perkiraan tingkat kebasahan permanen setelah drainase (Tabel 3. Gunakan Tabel 3. Tentukan tingkat karakteristik fisik tanah (Tabel 3.3).4).6).1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas Tanah tertinggi. Ikliim.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan dengan derajat pembatas lklim tertinggi. Perkiraan lamanya periode kering dan periode basah secara terus menerus yang membatasi pertumbuhan tanaman (Tabel 3. Tanah. Gunakan Tabel 3.Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 1 : Cara menilai Kelas dan Sub Kelas dengan faktor pembatas Kebasahan.6). tingkat toksisitas dan kesuburan tanah (Tabel 3.9). Gunakan Tabel 3. dan Gradien 1a.

ELSE IF menunjukkan faktor pembatas Iklim THEN SUB KELAS-p adalah c . ELSE IF menunjukkan faktor pembatas tanah THEN SUB KELAS-p adalah s .lanjutkan ke LANGKAH 3.lanjutkan ke LANGKAH 3. ELSE menunjukkan faktor pembatas gradien THEN SUB KELAS-p adalah g . ELSE KELAS-p adalah II sampai VIII IF menunjukkan faktor pembatas kebasahan 2b THEN SUB KELAS -p adalah w . LANGKAH 2 : Mendapatkan Kelas Kemampuan Lahan (KLAS-P) dan Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan (SUB KELAS-p) Permulaan 2a.lanjutkan ke LANGKAH 3.1 untuk menetapkan Kelas Kemampuan Peng-gunaan Lahan maksimum yang ditunjukkan oleh faktor Lereng terbesar (Tabel 2. kebasahan atau iklim Sub kelas ini adalah SUB KELAS-p . Gunakan Tabel 3. Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan berapa dengan pembatas tertinggi yang ditunjukkan oleh faktor kebasahan. 10) dalam kaitannya dengan pengelolaan teras.lanjutkan ke LANGKAH 3. tanah. Tentukan SUB KELAS-p IF KELAS-p adalah I THEN taksirlah faktor pembatas mana yang lebih besar.Klasifikasi Kemampuan Lahan 1d. iklim. dan gradien? Kelas tersebut adalah KELAS-p. 46 Evaluasi Sumberdaya Lahan .lanjutkan ke LANGKAH 3.

I THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .Klasifikasi Kemampuan Lahan LANGKAH 3 : Menilai apakah pembuatan teras layak atau tidak 3a IF KELAS-p adalah VII atau VIII THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b IF jenis tanahnya Vertisol THEN IF lerengnya A-D THEN pembuatan teras LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE kelayakan teras belum diketahui amati teras-teras pada jenis tanah yang serupa. Entisol.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya H.lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE IF kedalaman perakaran tanaman <60 cm THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .1 THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK .lanjutkan ke LANGKAH 3b ELSE IF jenis tanahnya Alfisol. Inceptisol. dan tentukan kelayakannya IF pembuatan teras LAYAK THEN lanjutkan ke LANGKAH 4 Evaluasi Sumberdaya Lahan 47 .lanjutkan ke LANGKAH 4 ELSE lerengnya E. Mollisol atau Ultisol THEN IF lerengya A-G THEN pembuatan teras LAYAK .

namakan kelas ini KELAS-e 4d IF KELAS-P lebih besar dari pada KELAS-e 48 Evaluasi Sumberdaya Lahan .lanjutkan ke LANGKAH 3b 3b IF KELAS-p adalah IV dan Lerengya E THEN KELAS-p adalah V LANGKAH 4 : Menilai pengaruh erosi Penggunaan Lahan.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSEIF KELAS-padalah I.1 untuk menentukan Kelas Kemampuan Penggunaan lahan dengan derajat pembatas erosi terbesar .lanjutkan ke LANGKAH 4c budidaya 4c Gunakan Tabel 3.lanjutkan ke LANGKAH 4b 4b IF Pernbuatan teras LAYAK THEN Nilai kerentanan erosi pada budidaya tanaman pertanian dengan teras bangku datat (B1) atau teras bangku miring ke belakang (Br) .Klasifikasi Kemampuan Lahan ELSE pembuatan teras TIDAK LAYAK . VII. II.lanjutkan ke LANGKAH 4c ELSE KELAS-p adalah V. Ill atau lV THEN Nilai kerentanan erosi pada tanaman pertanian tanpa teras . atau berat THEN pembuatan teras TIDAK LAYAK . VI. Flow. Fall. atau Tanah longsor adalah ringan. 4a terhadap Kemampuan IF Kerentanan terhadap Slump. sedang. atau VIII THEN Nilai kerentanan erosi pada vegetasi tahunan .

Klasifikasi Kemampuan Lahan THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-p dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-p ELSE KELAS-p sama atau lebih kecil daripada KELAS e THEN Kelas Kemampuan Penggunaan Lahannya adalah KELAS-e dan Sub Kelasnya adalah SUB KELAS-e. Gambar 4.1. Hubungan Bulan Basah dan Bulan Kering Evaluasi Sumberdaya Lahan 49 .

misalnya metode FAO (1976) yang dikembangkan di Indonesia oleh Puslittanak (1997). metode Plantgro yang digunakan dalam penyusunan Rencana Induk Naslonal HTI (Hacket. sesuai marjinal (S3) dan tidak sesual (N). yaitu : sangat sesuai (S I). sedangkan Plantgro dan Webb lebih pada. a (keasaman). e. Metoda FAO lebih menekankan pada pemilihan jenis tanaman semusim. Ada tujuh jenis penghambat Yang dikenal. s (tanah). 1994) dan metode Webb (1984). Evaluasi Sumberdaya Lahan 51 . hambatan yang sulit untuk ditangani (c dan s). Klas kesesuaian lahan terbagi menjadi empat tingkat. Sub Klas pada klasifikasi kesesualan lahan ini juga mencerminkan jenis penghambat. Dengan demikian klasifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan akan saling melengkapi dan memberikan informasi yang menyeluruh tentang potensi lahan. kesesuaian Lahan lebih menekankan pada kesesuaian lahan untuk jenis tanamanan tertentu. w. tanaman keras. Masing-masing mempunyai penekanan sendiri dan kriteria yang dipakai juga berlainan.Klasifikasi Kemampuan Lahan Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan yang merupakan klasifikasi tentang potensi lahan untuk penggunaan secara umum. yaitu e (erosi). Dengan demikian seluruh hambatan Yang ada pada suatu unit lahan akan disebutkan semuanya. Akan tetapi dapat dimengerti bahwa dari hambatan yang disebutkan ada jenis hambatan ang mudah (seperti a. g dan sd) atau sebaliknya. Pada klasifikasi kesesuaian lahan tidak dikenal prioritas penghambat. Pada prinsipnya klasifikasi kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara memadukan antara kebutuhan tanaman atau persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan. itu klasifikasi ini sering juga disebut species matching. sesuai (S2). w (drainase). Ada beberapa metoda yang dapat digunakan untuk pelaksanaan klasilikasi kesesuaian lahan.1991 dan National Masterplan Forest Plantation/NMFP. Oleh karena. g (kelerengan) sd (kedalaman tanah) dan c (lklim).

Sumber tenaga. Hasil: bentuk barang atau bentuk lain. Intensitas modal 4. konsultan dll. Pasar (market oriented). tk pendidikan. 3. Kebutuhan Infra Struktur. alat & mesin. 52 Evaluasi Sumberdaya Lahan . pupuk. ketrampilan dll. Satuan Peta Lahan: suatu lahan yang dipetakan berdasar sifat-sifat tertentu. Untuk itu maka unit lahan Yang mempunyai faktor penghambat c atau s sulit untuk diperbaiki keadaannya. dimana smp batas ttn mempengaruhi penggunaan lahan. Tipe Penggunaan Lahan (TPL/land utilization type: penggunaan lahan yang diuraikan/dijelaskan secara lebih rinci dibanding MPL. 2.1.Klasifikasi Kemampuan Lahan Dengan demikian maka hasil akhir dari klasifikasi ditetapkan berdasarkan klas terjelek dengan memberikan seluruh hambatan yang ada. hewan atau mesin 6. 5. Intensitas tenaga kerja 5. hidrologi dan vegetasi.bibit. 7. pabrik. TPL mempunyai beberapa unsur pokok: 1. 8. Tingkat Kemampuan Teknologi & Sikap Mental Pemakai Lahan. Macam Penggunaan Lahan (MPL/kind of land use: pembagian penggunaan lahan terutama di pedesaan secara kasar. Dipetakan berdasar survei sumberdaya lahan. pasar. Klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan melalui sortasi data karakteristik lahan berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk setiap jenis tanaman. Tingkat Teknologi yang Tersedia. Perubahan klasifikasi menjadi setingkat lebih baik dimungkinkan terjadi apabila seluruh hambatan Yang ada pada unit lahan tersebut dapat diperbaiki. manusia. Untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan untuk komersial. tanah. Pengertian Dasar Evaluasi Kesesuaian Lahan Lahan : Suatu lingkungan fisik yang terdiri dr iklim.

Klasifikasi Kemampuan Lahan 9. 1. ? Luas lahan per petani. perkapita. CH. Luas dan Pemilikan Lahan. tanpa pengeluaran biaya yang cukup tinggi. kapasitas menahan air. 10. kelompok dll. penambahan BO dll. Pemupukan. Perbaikan Lahan: Segala kegiatan yang mengakibatkan perubahan-perubahan kualitas lahan sehingga sifatnya menjadi menguntungkan untuk penggunaan lahan tertentu. Persyaratan Penggunaan Lahan: Sekelompok kualitas lahan yang menentukan tingkat produksi dan kondisi pengelolaan untuk macam penggunaan lahan yang dimaksud. per luas. Jaringan irigasi. reklamasi tanah dll. lokasi terpisah atau menyatu. Perbaikan skala sedang:perbaikan dilakukan pada kualitas lahan pembatas yang sifatnya ringan. Contoh Kebutuhan oksigen dll. tekstur. Kriteria Pengenal: Suatu variabel yang berpengaruh thd masukan kepada suatu TPL atau thd keluaran (hasil) dari TPL yang bersangkutan. 11. Pembatas(limitations): kualitas lahan yang dinyatakan sebagai kriteria pengenal yang memberi pengaruh negatif thd suatu macam penggunaan lahan. dll. Kualitas Lahan: Kumpulan atau gabungan bbrp sifat lahan yang sangat berpengaruh thd lahan apabila diterapkan suatu TPL pada lahan tsb. dilakukan sekali. Sistem Pemilikan Lahan. Ketersediaan air. 2. perseorangan. perubahan yang terjadi dirasakan dalam waktu relatif lama. Sifat Lahan : Suatu sifat dr lahan yang biasanya dapat diukur atau ditaksir. Variabel dapat berupa kualitas lahan atau sifat lahan atau gabungannya. Tingkat Pendapatan. per produksi. Evaluasi Sumberdaya Lahan 53 . ketahanan erosi. slope. Perbaikan ini membutuhkan masukan besar yang bersifat tidak kembali. Perbaikan skala besar : perbaikan menyeluruh secara permanen thd suatu kualitas lahan sehingga mempengaruhi penggunaan lahan.

Sub kelas : Mencerminkan macam pembatas/macam perbaikan yang perlu 4. Terdapat dua order yaitu: 1.Klasifikasi Kemampuan Lahan 3. Penggunaan lahan secara memungkinkan (irigasi. Kelas : Mencerminkan macam kesesuaian : Mencerminkan tingkat kesesuaian dalam ordo 3. input yang diberikan jauh lebih besar dibanding output. 54 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2. lereng) teknis tidak b. Tidak Sesuai (N) : Lahan memiliki pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaannya untuk tujuan tertentu. Unit : Mencerminkan perbedaan kecil dalam penge-lolaan padasub kelas Ordo : Menggambarkan apakh lahan sesuai atau Tidak sesuai untuk penggunaan lahan yang dipilih. Ekonomis. Perbaikan skala kecil: perbaikan yang mempunyai pengaruh kecil atau tidak permanen atau kedua-duanya. Pemberantasan gulma. Ordo 2. keuntungan memuaskan stl diper-hitungkan masukan yang diberikan. Terdapat empat kategori. Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan Struktur klasifikasi kesesuaian lahan dikenal 4 kategori yaitu dari yang paling tinggi smp yag paling rendah. 5. yaitu: 1. 2. Sesuai (S) : Lahan dapat digunakan secara lestari untuk suatu tujuan penggunaan tertentu tanpa atau dengan sedikit kerusakan thd sumberdaya alamnya. pembuatan saluran drainase dll. atau dikatakan sebagai perbaikan lahan yang mungkin dilakukan pemakai lahan secara perorangan. Pertimbangan yang dipakai: a. Kelas : Pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaianya.

N2 (Tidak Sesuai Selamanya/Permanently Not Suitable) : Lahan mempunyai yang bersifat permanen. bahaya erosi dll. Pembatas Tidak dapat diperbaiki dng pengelolaan dan modal normal. e. kesesuaian lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas yaitu: Ordo a. Pembagian menjadi sub kelas hendaknya dipertahankan sesedikit mungkin. N1 (Tidak Sesuaia Saat ini (Currently Not Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang lebih serius but ada kemungkinan untuk diatasi. pembatas berpengaruh pada output.Klasifikasi Kemampuan Lahan Kelas diberi simbol nomor urut dibelakang sibol ordo. Bila dijumpai dua pembatas yang sama serius. S1 (Sangat Sesuai/Highly Suitable) : Lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk penggunaan lahan lestari atau hanya mempunyai pembatas yang Tidak berarti bagi produksi dan tidak menaikkan input. sehingga mencegah segala kemungkinan penggunaan lestari. Satu pembatas yang menyebabkan lahan masuk dalam kelas ttn. Misl. dan menambah input. sebaiknya dipilih menjadi kriteria penentu sub kelas. Sub Kelas Kesesuaian mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 55 . Kekurangan air. d. c. asal dapat membedakan secara nyata kebutuhan pengelolaan untuk memperbaiki lahan akibat adanya pembatas yang bermacam-macam. Pembatas untuk setiap subkelas hendaknya dipilih yang paling menentukan sehingga jumlahah pembatas dalam suatu subkelas juga dipertahankan minimum. b. mk dapat dipakai bersama sama. Pembatas mengurangi output dan meningkatkan input. yaitu: a. S2 (Cukup Sesuai/Moderately Suitable) : Lahan mempunyai pembatas yang agak serius untuk penggunaan secara lestari. S3 (Sesuai marginal/Marginally Suitable) : Lahan mempunyai pembatas serius untuk penggunaan lestari. Terdapat 2 pedoman untuk menentukan sub kelas. sehingga Tidak memung-kinkan penggunaan lestari. b.

menjabarkan tujuan evaluasi.macam penggunaan yang direncanakan .pendekatan yang digunakan . S3n-3 dll.Apa tujuan evaluasi . Unit diberi simbol angka yang ditulis dibelakang simbol subkelas.data dan asumsi yang dipakai sebagai dasar evaluasi .3. Kerangka Klasifikasi Kesesuaian Lahan KATEGORI Ordo Sesuai (S) Kelas Sangat Sesuai (S1) Sukup Sesuai (S2) Sesuai Marginal (S3) Tidak Sesuai (N) Tidak Sesuai Saat ini (N1) Tidak Sesuai Selamanya (N2) Sub Kelas S3x. S2e-2 N1e.luas dan batas daerah yang dievaluasi . S2w S2e-1. S3n-2. misalnya S2n : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara S2ne : Kelas S2 dengan faktor pembatas ketersediaan hara dan bahaya erosi Simbol yang ditulis didepan menggambarkan pembatas yang lebih dominan Tingkat unit : merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas. S3t N2t. Prosedur Evaluasi Lahan Prosedur evaluasi lahan meliputi beberapa tahap yaitu: 1.jenis klasifikasi yang digunakan 56 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Tabel 5. data yang tersedia sebagai dasar evaluasi. .1. Konsultasi awal. S3n-2 dll Unit S2e. S2n-2. Unit dalam satu subkelas mempunyai kesesuaian yang sama dan mempunyai tingkat pembatas yang sama dalam subkelas dan hanya berbeda dalam produksi atau input pada pengelolaan. N2w S3n-1. S3n-1. S2n-1. N1n - 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan Jenis pembatas ditunjukkan oleh simbol huruf kecil yang ditulis setelah simbol kelas.

(kualitas lahan dan persyaratan penggunaan lahan harus dalam intensitas atau skala yang sama. Satuan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik tanah. Analisa sosial ekonomi (perhitungan sistem usaha tani/studi kelayakan) b. persyaratan dan pembatasnya. Penutup. Data yang digabungkan adalah: Penggunaan lahan. Setelah itu baru diikuti dengan perincian sifat dan kualitas lahan masing-masing satual evaluasi.Klasifikasi Kemampuan Lahan 2. menginventarisir persyaratan penggunaan lahan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi pembatas penggunaan lahan yang ada. pada tahap ini ditentukan satuan lahan yang akan digunakan sebagai batas satuan evaluasi. Satuan lahan dan kualitas lahan. Pembaningan Penggunaan Lahan dan Kualitas Lahan. Satuan lahan dan kualitas lahan Kondisi sosial dan ekonominya 3. dalam prosedur ini yang dilakukan adalah: a. produksi. Klasifikasi kesesuaian lahan c. Cara pembandingan adalah membandingkan masukan dan keluaran yaitu: a b Secara langsung (percoban Lapang) Metode simulasi (menggunakan model matematik yang membuat hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) Penaksiran empiris (dengan asumsiada hubungan antara keuntungan dengan kriteria evaluasi) c 5.pentahapan proses evaluasi Pernggunaan lahan (persyaratan dan pembatas). evaluasi lahan pada dasarnya adalah penggabungan dan pembandingan berbagai data yang terkumpul dengan persyaratan penggunaan untuk menghasilkan klasifikasi kesesuaian lahan. Penulisan laporan Evaluasi Sumberdaya Lahan 57 .intensitas dan skala penelitian . . 4. penggunaan saat ini dll.

3.Masam T.cepat 3 Sedang-halus Keras & sdt kompak Terhambat Tabel 5. asumsi.hls Sdg-rdh T. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Oksigen bagi Tanaman Land Quality Tekstur Struktur Drainase 1 Kasar.cepat 2 Sedang-halus Sedang Agak baik /S.sdg.4. rencana evaluasi Iter asi RENCANA PENGGUNAAN LAHAN SATUAN PETA LAHAN PERSYARATAN Requirements MATCHING LAHAN vs PENGGUNAAN LAHAN Analisis sosial ekonomi & amdal KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN PENYAJIAN HASIL (Laporan) KUALITAS LAHAN Gambar 5. sedang-halus Porous & gembur Baik-sedikit S. Ada Masam-A.Alkalis Ada S.Klasifikasi Kemampuan Lahan KONSULTASI AWAL Tujuan.Masam & Alkalis Tabel 5. Ada Netral-A.25 25-50 > 50 pH Ksr. Bagan Evaluasi Kesesuaian Lahan Tabel 5.1. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Unsur hara Tanaman Tingkat 1 2 3 Tekstur Ksr Ksr % BO Sdg Rdh KTK Sdg Sdg Rdh % KB % CaCO3 Fiksasi tinggi tinggi Rdh 0 .2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketersediaan Air bagi Tanaman Land Quality 1 2 3 Tekstur Sedang-halus Kasar Kasar % BO Tinggi Sedang Rendah Solum Dalam ( > 50 cm ) Dalam ( > 50 cm ) Sedang (25-50 cm) 58 Evaluasi Sumberdaya Lahan . data.

5.7. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan untuk Dipanan Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar – Sedang Sedang – Halus Halus Konsistensi Tidak lekat (basah) Gembur & halus (kering) Agak lekat (basah) Agak keras (kering) Lekat (basah) Keras (kering) Tabel 5.6. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemudahan Untuk Diolah Land Quality 1 2 3 Tekstur Kasar . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kemung-kinan Adanya Banjir Land Quality 1 2 3 Tidak Pernah Kadang-kadang terjadi banjir (1 x dalam 5 th.sedang Sedang-halus Halus Kelerengan (%) Batuan di Permukaan 0–8 0 – 16 > 16 Tidak ada Ada Ada Tabel 5.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.8. berlangsung singkat) Agak sering sampai selalu terjadi Frekuensi Banjir Evaluasi Sumberdaya Lahan 59 . Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Kedalaman Efektif Tanah Land Quality 1 2 3 Jeluk Mempan (cm) Dalam ( > 50 cm) Sedang (20 – 50 cm) Dangkal ( < 20 cm) Tabel 5.

10.p TPL n S1 S1 S1 S1 S2 S2 S3 S2 S3. Matching Antara Kualitas Lahan Vs Persyaratan TPL Kualitas Lahan Ketersedia Oksigen Ketersedia Hara Ketersedia Air Jeluk Kemudah diolah Kemudah Panen Bahaya banjir Ketahan Erosi Kls Kesesuaian Simbol TPL 1 o n m s p h f e S1 N2 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N2. Pemberian Angka untuk Kualitas Lahan Ketahanan terhadap Erosi Land Quality 1 2 3 Struktur Lapisan Atas Kuat dan stabil Sedang Lemah Kelerengan (%) 0–8 0 – 16 > 16 Tabel 5.n TPL2 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.f 60 Evaluasi Sumberdaya Lahan .en TPL 3 S1 N1 S1 S1 S2 S1 S1 N1 N1.eph TPL 5 S1 S1 S1 S1 S3 S2 S1 S2 S3.Klasifikasi Kemampuan Lahan Tabel 5.en TPL 4 S1 S1 S1 S1 S2 S2 S1 S2 S2.9.

4. K dan Na terekstrak NH4OAc pH 7 d. 3. Kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan ditentukan oleh kesuburan kimia dan fisika tanah. Kriteria penilaian sifat dan penentu kendala kesuburan mengikuti Klasifiakasi Kemampuan Kesuburan Tanah (Sanchez et al. Inventarisasi data dan pengambilan contoh tanah di lapang 2. Data ini diperoleh langsung dilapang (diskripsi tanah) dan analisis contoh tanah di laboratorium.1. 1985) Penilaian dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Evaluasi kesuburan tanah dilakukan pada seri-seri tanah yang didasarkan pada sifat fisik dan kimia tanah dari profiltanah. Kadar Ca. gudang dan penyuplai unsur hara. Analisis contoh tanah di laboratorium Evaluasi Kesuburan Tanah Pelaporan hasil Untuk evaluasi kesuburan tanah diperlukan data sifat fisik dan kimia tanah smp kedalaman 60 cm. Mg. Tekstur tanah b. 1982 dan Sanchez and Boul. Retensi P terekstrak Ca(H2PO4)2 1000 ppm Evaluasi Sumberdaya Lahan 61 . Analisis contoh tanah di laboratorium ditujukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai sifat fisik dan kimia tanah yang meliputi: Analisis Umum: a. pH (H2O) rasio 1:1 c. Penilaian Kesuburan Tanah Dibidang Pertanian “Tanah” merupakan faktor penting yang menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman yang dibudidayakan karena tanah merupakan media tumbuh bagi tanaman. KTK terekstrak NH4OAc pH 7 e.Klasifikasi Kesuburan 6. serta tempat penyedia air.

1. K2O T tanpa R T dengan R S tanpa R S dengan R S R R dengan R R dengan S T tanpa ≥2 S R R S dengan R Tingkat Kesuburan Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Rendah Tinggi Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sedang Sedang Rendah Evaluasi Sumberdaya Lahan Kombinasi Lain T tanpa T dengan R T tanpa S tanpa R R Kombinasi Lain Kombinasi Lain . Kadar Al terekstrak 1 N KCl. ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 (C-Org). pH (1 N NaF) bila tanah diduga banyak mengandung alofan d. Dari hasil analisis tanah dilapang dan dilaboratorium di interpretasikan hasilnya menurut Kriteria Penilaian Sifat-Sifat Kimia Tanah (CSR-FAO. bila pH (H2O) 1:1 < 5. 1983) Tabel 6. Fe2O3 bebas. bila kadar liat > 35% c. Kombinasi Beberapa Sifat Kimia Tanah & Tingkat Kesuburannya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 62 KTK T T T T T T T T T T T T T T S S S KB T T T T T T T S S S S R R R T T T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 P2O5. Daya Hantar Listrik (DHL) pada 25o bila tanah berkadar garam tinggi Evaluasi Kesuburan tanah ditunjukkan untuk menilai sifat dan menentukan kendala utama kesuburan seri tanah serta mencari alternatif pemecahannya dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah.Klasifikasi Kesuburan Analisis Khusus atau bersyarat a.0 b.

Subtipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur or adanya lapisan tidak tembus akar di lapisan bawah (20-50 cm) S : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir Evaluasi Sumberdaya Lahan 63 .Klasifikasi Kesuburan 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 S S S S S R R R R R R R SR S S S R R T T T T S S R T ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 ≥2 T tanpa S tanpa 3 T R R R R R Sedang Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Sedang Rendah Rendah Sangat Rendah SR = Sangat Rendah Kombinasi Lain Kombinasi Lain T tanpa S tanpa T tanpa T dengan R Kombinasi Lain Kombinasi Lain Semua Kombinasi Semua Kombinasi R= Rendah T = Tinggi S = Sedang 6.2. Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah (FCC) FCC pada dasarnya terdiri dari tiga kategori yaitu: 1. ketebalan lps BO smp 50 cm lebih dari 30% 2. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. Tipe : terdiri dari 4 kelas yang mencerminkan tekstur lapisan olah (0 – 20 cm) S L C O : Berpasir yaitu berlempung setara dng tekstur pasir or pasir : Berlempung. kadar liat > 35 % : Organik.

dicirikan pH (NaF) > 10 : Tanah bersifat vitrik : Cadangan mineral K rendah. dicirikan oleh % Fe2O3 bebas dbagi % kadar liat > 0. dicirikan Kdd < 0. dicirikan oleh KTK ef < 4 me/100 g : Keracunan Aluminium. dicirikan oleh kejenuhan Na ≥ 15% pada 0-50 cm : Keracunan Aluminium. aridik. xerik. dicirikan regim kelebaban termasuk ustik. kadar liat < 35% but Tidak termasuk pasir or pasir berlempung : Berliat. kadar liat > 35 % : Batuan atau lapisan tanah tidak tembus akar 3. : KTK rendah. dicirikan kejenuhan Al berkisar 10-60 % pada 0-50 cm : Fiksasi P o/ Fe tinggi.15 : Alofan dominan.Klasifikasi Kesuburan L C R : Berlempung. Modifier : terdiri dari 16 kelas yang mencerminkan sifat tanah yang menjadi faktor pembatas or kendala kesuburan tanah.2 me/100 g pada 0-50 cm : Tanah bereaksi basa. warna tanah/karatan dng chroma < 2pada lapisan 0-60 cm : Pergleyic. dicirikan pH > 7.3 pada 0-50 cm : Tanah bergaram tinggi. dicirikan oleh DHL ≥ 4 mmhos/cm : Kadar Na tinggi. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pada 0-50 cm : Bereaksi masam. g g* d e a h I x v k b s n c 64 : Gley. dicirikan kejenuhan aluminium > 60% pd 0-50 cm Evaluasi Sumberdaya Lahan . tanah sering jenuh air selama > 200 hari/th tanpa ada karatan berwarna coklat. : Kering.

Klasifikasi Kesuburan h „ “ ( ) : Kadar sulfat tinggi. subtipedan modifier scr berurutan.5 : Volume butir tanah ukuran > 2 mm berkisar antara 1535% pada 0-20 cm : Volume butir tanah ukuran > 2 mm lebih besar dari 35% pada 0-20 cm : Kemiringan lereng. Kode subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20-50 cm) mempunyai tekstur yang berbeda dengan tekstur lapisan atas (0-20 cm) atau terdapat lapisan Tidak tembus akar (R) Kode tipe dan subtipe ditulis dengan huruf besar sedang kode modifier ditulis dng huruf kecil. Angka yang ditulis dalam tanda ini menyatakan kisaran kemiringan lereng tanah Unit merupakan kls FCC yang ditulis dng kombinasi kode dari tipe. Jumlahah kode kelas modifier yang ditulis tergantung dari jumlahah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Evaluasi Sumberdaya Lahan 65 . dicirikan pH (H2O) < 3.

1.Kawah Gunung Api . ILMU W.Sumber Air panas Wisata Alam Pantai Pasir Putih .Evaluasi Lahan Non Pertanian 7. MEDIS OLAH RAGA KONVENSI Gambar 7.Taman Laut . BURU PARIWISATA (MAKSUD) REKREASI W. 6 Evaluasi Sumberdaya Lahan 67 . Tabel 7. AGRO W. PARIWISATA (OBYEK) W. Bagan Evaluasi Lahan Untuk Non Pertanian Evaluasi Obyek Wisata yang mungkin ditemukan sebagai dasar Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk pariwisata.1.Ngarai .1. BUDAYA W. ALAM W.Tofografi Unik . Evaluasi Lahan Untuk Pariwisata Pariwisata: Kegiatan bepergian di dalam negeri/luar negeri untuk berkunjung ke tempat yang menarik dengan tujuan bersantai atau tujuan lain.Hutan Mangrove Ada/tidak ada 2 Baik 3 Kualitas Sedang Buruk 4 5 Ket. Jenis Obyek Wisata yang Perlu Dievaluasi Jenis 1 Wisata Alam Panorama .Api Abadi .

Keperluan Sehari-hari .Sinar Matahari .Umum Ada/tidak ada 2 Mungkin dapat Menarik Kualitas Baik Sedang Buruk 3 4 5 Ket.Untuk Berobat .Hiburan Malam .Angin Tabel 7.Salju abadi .Hiburan Siang Fasilitas Penginap+Makan .2.Untuk Kenang-kenangan Fasilitas Hiburan .Sun Shine Suhu udara Cuaca .Tempat Makan Fasilitas Infra Struktur .Tempat Ketenangan Fasilitas Belanja .Penginapan .Keamanan .Evaluasi Lahan Non Pertanian Iklim .Keuangan . 6 68 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Komunikasi .Transportasi .Sun set . Fasilitas Wisata yang Wisatawan Jenis 1 Fasilitas Rekreasi Tempat Piknik Tempat Bermain Tempat Kemah Mendaki Gunung Golf Jogging Fasilitas Kesehatan .

ls 50 – 100 cm < 20 % 0. Baik & a.Lambat. Baik & A. 1968) Sifat Tanah Kelas Kesesuaian dan Faktor Penghambat Baik Drainase Banjir Permeabilitas Lereng Tekstur Permukaan Jeluk smp batuan Kerikil & Kerakal (2 mm – 25 mm) Cpt.60 mm) 0 % Batuan (> 60 mm) 0% Sil = lemp.baik. fsl.7 mm  Pasir : 4.2.Buruk. s = pasir. sic = liat berdebu.liat berpasir. cl =lemp.01 . org < 50 cm > 20 % >3% > 0.1 % S. sil > 100 cm 0% 2–6% cl. c. Klasifikasi Unified Tanah dikelaskan berdasar gradasi butir < 75 mm. s.Buruk. Sc = liat berpasir. sicl = lemp.0 – 4.berpasir.Cepat.Buruk GW A. BC dan BO 7.074 mm Evaluasi Sumberdaya Lahan 69 . scl = lemp.l. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Teknik Sipil Klasifikasi tanah untuk teknik sipil didasarkan pada Sistem Unified dan AASHTO (American Assosiation of State Highway and Transportation Officials). Dasar klasifikasi kedua sistem tersebut adalah Gradasi Ukuran Butir dan Sifat Rheologi Tanah (Atterberg) 7. vfsl. sdg A. sil = lemp. GW < 50 cm Sekali/th Lebih sekali/th S. scl. plastisitas.berpasir sangat halus.7 mm – 0.berdebu.074 mm  Debu : < 0. fsl = lemp.Lambat >6% sc.3.1 % Batu (25 mm . Buruk > 50 cm S.lambat 0-2% sl. sicl.Evaluasi Lahan Non Pertanian Tabel 7. 7.liat. ls = pasir berlemp.2. Klasifikasi Kesesuaian Lahan Untuk Lapangan Bermain (USDA.2.sepat. sic.1.berpasir halus. GW > 75 cm Tidak pernah Sedang Buruk A.liat berdebu.01 – 0. l = lempung.3 % 0. vfsl = lemp. Ukuran Butir dikelompokkan  Kerikil : 75. c = liat.2.

03-0.09) Tinggi (> 0. (USDA.09) Tabel 7. Kesesuaian Lahan for Gedung Tanpa Ruang Bawah Tanah maks 3 lt.03) Sedang (0. SW.5 cm) Longsor Kesesuaian Lahan Sedang Buruk Tanpa Jarang Sering > 75 30 – 75 < 30 Sedang (0. SP.5. PT > 15 < 50/< 50/> 50 Ada Buruk 4 Jarang-sering Rendah (< 0. SM.09) CL dng PI > 15. GM. OH.03Rendah (< 0.03) Tinggi (> 0. GC. 1983) Sifat Tanah 1 Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. 1983) Sifat Tanah Banjir Air Tanah (cm) COLE Kelas Butir (Unfied) Lereng (%) Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak Kedalan Padas (cm) Tebal/Tipis Batu/Kerikil (7. PT <8 8 – 15 > 15 Baik > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 < 50/< 50/> 50 Ada 70 Evaluasi Sumberdaya Lahan .5 cm) Longsor Tanpa > 75 <8 > 100/> 50 > 100/> 50 < 25 Kesesuaian Lahan Baik 2 Tanpa 45 – 75 8 – 15 50 – 100/< 50 50 – 100/< 50 25 – 50 Sedang 3 < 45 OL.Evaluasi Lahan Non Pertanian  Liat : < 0. Kesesuaian Lahan untuk Jalan (USDA. SC OL.09) 0.074 mm dengan plastisitas tinggi  Kandungan Bahan Organik Tabel 7. CL dng PI < 15 CH. OH. GP. MH.4. GW.

Penggunaan Lahan

8.1. Tanaman Pangan a. Padi Sawah
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) - Singkapan batuan (%) S1 24-29 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

22-24 / 29-32 18-22 / 32-35 < 18 / > 35

33-90 at, ab h, ah <3 > 50 > 16 > 50 5.5-8.2 r s st, t > 1,2 <2 < 10 <1 sr FO <5 <5

30-33 t, b s 3-15 40-50 < 16 35-50 4.5-5.5/8.2-.5 sr r s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 1-2 td 5 - 15 5 - 15

< 33 / > 90 st, s ak 15-35 25-40 td < 35 < 4.5 / > 8.5 td sr r < 0,8 4-6 15-20 2-4 td 15 - 40 15 - 25

td c k > 35 < 25 td td td td td sr

>6 > 20 >4 s > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

71

Penggunaan Lahan

b.

Jagung

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 20-26 26-30 16-20 / 30-32 < 16 />32 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 500-1200 400-500/1200-1600 300-400/>1600 < 300 Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at s t st, c Media perakaran (r) - Tekstur h, s ah ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) < 60 60-140 140-200 > 200 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td - Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td - pH H20 5.8-7.8 5.5-5.8 / 7.8-8.2 < 5.5 / > 8.2 td - N-Total st, t, s r sr td - K2O st, t, s, r sr td td - P2O5 st, t s r sr - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus. td = tidak

72

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

c.

Padi Gogo
S1 24-29 600-1200 24 - 75 b, ab ak, s < 15 > 75 > 16 > 35 5,5 - 6,2 t - st st, t, s st > 1,2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-24/29-32 18-22/32-35 N < 18/>35 < 400

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 - N-Total - K2O - P2O5 - C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 20 – 24 / 75 - 90 < 20 / > 90 s ah 15 - 35 50 - 75 ≤16 20 - 35 5,2-5,5 / 6 2-6,8 r-s r - sr t-s 0,8 - 1,2 2-4 10 -15 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 t, at h 35 - 55 25 - 50 < 20 < 5,2 / > 6,8 sr td r < 0,8 4-6 15-20 16-30 b 15 - 40 15 - 25

st k > 55 < 25 -

td td sr

>6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25
td = tidak ada

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

73

s r sr td .Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .8 .2-7. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . ah = agak halus. k = kasar. s r sr td .Batuan di permukaan(%) <5 5 .2 0.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .Singkapan batuan (%) <5 5 .2 4.N-Total st. t. t.6 < 4.Bahan.Bahaya erosi sr r.Drainase b. data.8 Toksisitas(xc) .15 15 .8-5. t s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 20 < 20 td td . ah h ak k .pH H20 5.15 15 .16 16-30 >30 .P2O5 .K2O st. s = sedang.2 < 0. ak = agak kasar.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . t = tinggi. at s t st Media perakaran (r) .2-7. r = rendah. <8 8 .8 / > 7. sr = sangat rendah.6 td st.2 / 7. td = tidak ada 74 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Penggunaan Lahan d.25 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) 22-28 20-22 / 28-30 18-20 / 30-35 < 18/>35 Ketersediaan air (w) . Ketela Pohon Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . h = halus.Tekstur s.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .C-organik > 1.Lereng (%) .KTK liat (cmol) > 16 < 16 td td .40 >40 .Curah Hujan (mm) 1000-2000 600-1000/2000-3000 500-600/3000-4000 <500/>4000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . s b sb Bahaya banjir (f) .1.

k = kasar.2-8.Tekstur h. data.Drainase b s t Media perakaran (r) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .2/8. Evaluasi Sumberdaya Lahan 75 .N-Total t .Curah Hujan (mm) 800-1500 600-800 400-600 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Bahan. ah = agak halus.25 N > 35 < 400 st k > 55 < 25 - td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 Bahaya erosi (e) .4 <4.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .40 .15 15 .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . s r .35 35 . t.pH H20 5. ah s ak .Penggunaan Lahan e.Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 Sodositas (xn) . s = sedang.8 / >8.st r-s sr .16 16-30 .C-organik > 1. kasar (%) < 15 15 .35 < 20 .75 25 .P2O5 st t-s r .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Temperatur rerata ( C) 22-25 25-30 30-35 Ketersediaan air (w) .K2O st. <8 8 .sr td .75 Retensi hara (n) .2-8.8-5.4 .2 0. ak = agak kasar. r = rendah.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .Lereng (%) . Ubi Jalar Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .15 15 .Genangan FO Penyiapan Lahan (lp) .1.Singkapan batuan (%) <5 5 . sr = sangat rendah. h = halus. t = tinggi.2 < 0.55 .2 4.8 Toksisitas(xc) .8 .

8 t .6.35 35 . h = halus.Temperatur rerata ( C) 24-29 22-24/29-32 18-22/32-35 <18 / >35 Ketersediaan air (w) . k = kasar.K2O st t-s r sr .Batuan di permukaan (%) <5 5 .75 25 .Curah Hujan (mm) 600-1200 1200-1400 / 500-600 > 1400 / 400-500 < 400 Kelembaban udara (%) 24 .2 5.Genangan FO > F1 Penyiapan Lahan (lp) .C-organik > 1.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .5 / 6 2 .Salinitas (dS/m) <2 2-4 4-6 >6 Sodositas (xn) .Singkapan batuan (%) <5 5 .40 >40 .Bahan.35 < 20 .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . r = rendah. sr = sangat rendah.90 < 20 / > 90 Ketersediaan oksigen (o) .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .N-Total st.5 . s r .55 > 55 . at st Media perakaran (r) .8 Toksisitas(xc) .8 < 5.Tekstur ak. ak = agak kasar.75 < 25 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.Drainase b. td = tidak ada 76 Evaluasi Sumberdaya Lahan .5.6. Padi Tadah Hujan Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . kasar (%) < 15 15 .2 0.pH H20 5.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .Loreng (%) . <8 8 . data. ab s t.2 < 0.15 15 . t = tinggi.2 / > 6.75 20 – 24 / 75 . t.Penggunaan Lahan f. s ah h k .8 .sr td td .15 15 .16 16-30 >30 .st r-s sr td .1.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) .P2O5 .2 . ah = agak halus. s = sedang.

s = sedang. .55 25 .2-5. data.pH H20 . ah = agak halus.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 2-4 10 -15 8 .15 td td sr >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 td = tidak ada st = sangat tinggi.N-Total .2 5.35 50 .Loreng (%) .8 t .Tekstur .8 sr td r < 0.75 t.1.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Penggunaan Lahan g. at h 35 .Drainase Media perakaran (r) .sr st t-s > 1.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .75 20 – 24 / 75 . kasar (%) .Batuan di permukaan (%) .40 15 .2 / > 6.15 5 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Bahan.st r-s st.28 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .5 . ab ak.8 .Singkapan batuan (%) 20 – 22 / 28 .25 st k > 55 < 25 - > 16 ≤16 > 35 20 .6.5 / 6 2-6.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .35 5.2 0.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .P2O5 .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .C-organik Toksisitas(xc) . t = tinggi. Gandum S1 21. ak = agak kasar. h = halus. s r .90 < 20 / > 90 b. t.16 r-s 5 .30 15-20 / 30-34 <15 / >34 < 400 600-1200 1200-1400 / 500-600 >1400 / 400-500 24 . k = kasar. sr = sangat rendah.Kejenuhan Basa (%) .K2O . s < 15 > 75 s ah 15 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .KTK liat (cmol) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 77 .75 < 20 < 5. r = rendah.

3/ > 8.15 15 .5-4 / 8-8. <8 8 .C-organik > 0. k = kasar. s r sr td .t.s r sr . s r sr .3 td .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi. td = tidak ada 78 Evaluasi Sumberdaya Lahan .2-8.3-5. ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-2.5 . r = rendah.Curah Hujan (mm) 200-1200 1200-2000 > 2000 < 200 . s ah ak k . sr = sangat rendah.5 5. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 < 25 Retensi hara (n) .Tekstur h.5-9.15 15 .4 td ≤ 0.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .40 >40 .Bahaya erosi sr r.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 . h = halus. s b sb Bahaya banjir (f) . at s t st.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .5-8. t.Drainase b.P2O5 st t.Kelembaban udara (%) 75-80 > 85 td < 75 Ketersediaan oksigen (o) .Penggunaan Lahan h.4 Toksisitas(xc) .Bahan. Tanaman Sorgum Bicolor Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .5/8. s = sedang. data.5 1. sc Media perakaran (r) .5/8. ah = agak halus.Temperatur rerata ( C) 18-25 / 27-30 15-18 / 30-35 < 15 / > 35 25-27 Ketersediaan air (w) .Singkapan batuan (%) <5 5 .Salinitas (dS/m) <8 8-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .25 >25 st = sangat tinggi.N-Total st.5 <1.pH H20 5.Bulan kering (bln) 8-4 2.Lereng (%) .K2O st.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 20 20-28 28-35 > 35 Bahaya erosi (e) .3 < 5.5 / >9.

data.Temperatur rerata ( C) 25-32 22-25 / > 32 20-22 < 20 Ketersediaan air (w) .Tekstur ah.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .pH H20 5. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .8 td td Toksisitas(xc) .5/6. ah = agak halus.KTK liat (cmol) >16 td td .0 / > 7. s = sedang.K2O td td td td .5 td .Lereng (%) .N-Total td td td td . <3 3-8 8-15 > 15 . t = tinggi.8 .5-6. k = kasar. s ak h k .Kejenuhan Basa (%) > 35 < 35 td td .5 < 5. Talas (Colocasia esculenta) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . sr = sangat rendah. at s t st Media perakaran (r) .5 5.Alkalinitas/ESP < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) ≤ 16 .Singkapan batuan (%) <2 2-10 25-Oct >25 st = sangat tinggi.Curah Hujan (mm) >45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .0-5.Bahan. ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) <3 3-15 15 .Drainase b.C-organik > 0.Penggunaan Lahan i.40 >40 .Bahaya erosi sr r.P2O5 td td td td ≤ 0. h = halus. r = rendah. td = tidak ada Evaluasi Sumberdaya Lahan 79 .5-7.Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . s b sb Bahaya banjir (f) .

0-7.Drainase b.Tekstur ak.5 / >7.5 <4. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .0-5. h = halus.P2O5 r sr td td .25 >25 st = sangat tinggi. Iles-Iles (Amorphophalus sp.K2O r sr td td .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . sr = sangat rendah. s = sedang.N-Total r sr td td . ah = agak halus.Singkapan batuan (%) <5 5 . c Media perakaran (r) .Temperatur rerata ( C) 26-30 18-32 td <18 / >32 Ketersediaan air (w) .Bahan.0-7. s ah h k .0 4. 80 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ak = agak kasar.40 >40 . ab at s.4 Toksisitas(xc) .15 15 .Penggunaan Lahan j.15 15 . r = rendah. t = tinggi. s b sb Bahaya banjir (f) .pH H20 5.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . td = tidak ada data.Batuan di permukaan (%) <5 5 .0 / 7. t st.C-organik > 0.) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . <8 8-15 15-30 >30 .Curah Hujan (mm) 2000-3000 3000-5000 / 1000-2000 td <1000 / >5000 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . k = kasar.4 td ≤ 0.Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Lereng (%) .Genangan f0 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .Salinitas (dS/m) <5 5-8 8-10 > 10 Sodositas (xn) .Bahaya erosi sr r.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .5 td .

5 1. c Media perakaran (r) . s ah ak k . td = tidak ada data. ak = agak kasar. r sr td td .40 >40 .K2O st. at s t st. t. r = rendah. s = sedang.1.Singkapan batuan (%) <5 5 . k = kasar.6-8.4 / > 8.Penggunaan Lahan 8. ah = agak halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 .6 / 7.Drainase b.Temperatur rerata ( C) 24-12 10-12 / 24-27 8-12 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) .Lereng (%) .Tekstur h.Bahan.0 < 5.16 16-30 >30 . s r sr td . <8 8 .2 < 0. t. s b sb Bahaya banjir (f) .Bahaya erosi sr r.Kedalaman tanah (cm) < 75 50-75 20-50 > 200 Retensi hara (n) .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td . Tanaman Kacang-Kacangan a.pH H20 5.2 0.6 5. t = tinggi.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .8 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 81 .Salinitas (dS/m) <1 1-1.8 Toksisitas(xc) .N-Total st. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . t s r sr .2.C-organik > 1.0 > 2.15 15 .0 Sodositas (xn) . s.P2O5 .Alkalinitas/ESP <5 5 -8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .5-2.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350/600-1000 250-300/>1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36/>90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .0 td st. h = halus.15 15 . sr = sangat rendah.4-5.6-7.Genangan f1 f1 > f3 Penyiapan Lahan (lp) . Buncis (Phaseolus vulgaris) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .25 >25 st = sangat tinggi.

25 . kasar (%) .C-organik Toksisitas(xc) .2-7.Kejenuhan Basa (%) .8-5. ah = agak halus.40 15 . s 5 . t = tinggi.8 / > 7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) . sr = sangat rendah.Penggunaan Lahan b.Batuan di permukaan (%) . s st.2 <2 < 10 <8 sr FO <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 30-32 N Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ak = agak kasar. t.8 .15 t ak 35-55 50-75 td td < 4.P2O5 .K2O . at s.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .8 4-6 15-20 16-30 b 15 .6 sr sr r < 0.Drainase Media perakaran (r) . ah < 15 > 100 > 16 > 20 5. td = tidak ada data.KTK liat (cmol) . k = kasar. . t > 1.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .16 r.2 2-4 10 -15 8 .2 / 7. t.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .pH H20 16-18 / 32-35 <16 / >35 < 200 td st.2-7. c k > 55 < 50 td td td td td sr 250-300 / 900-1300 200-250 / > 1300 80-90 > 90 s h 15-35 75-100 < 16 < 20 4. Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) S1 20-30 300-900 < 80 b.Tekstur .Bahan. s st.6 r r s 0.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .1.Singkapan batuan (%) >6 > 20 >30 sb > F1 >40 >25 st = sangat tinggi.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . 82 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang.2 st.Lereng (%) . h = halus.N-Total . r = rendah.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .15 5 .

0 < 5.55 > 55 . h = halus.C-organik > 1.5-8.5 5.0-7.Lereng (%) . r = rendah.K2O st t-s r sr . sr = sangat rendah.16 16-30 >30 .Singkapan batuan (%) <5 5 .sr td td .8 Toksisitas(xc) . t.5-6.2 < 0.N-Total st.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .8 / > 8.pH H20 6. ah = agak halus.Tekstur h. s = sedang. t = tinggi.25 >25 st = sangat tinggi.5 2. td = tidak ada data.Drainase b.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 200-300 / 800-1000 <200/>1000 Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . s r . <8 8 .0 t .Bahan.1.5-3.35 < 20 . k = kasar. c Media perakaran (r) .st r-s sr td .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .15 15 . Kacang Kapri (Pisum sativum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah s ak k .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .5 3.P2O5 .0/7.2 0.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ak = agak kasar.40 >40 .15 15 .Temperatur rerata ( C) 14-20 10-14 / 20-23 8-10 / 23-25 < 8 / > 25 Ketersediaan air (w) .35 35 . kasar (%) < 15 15 .Salinitas (dS/m) < 2.60 20-50 < 20 Retensi hara (n) .8 .Kedalaman tanah (cm) > 60 50 .Penggunaan Lahan c. at s t st.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .0 >6 Sodositas (xn) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 83 .8-6.

t = tinggi.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Tekstur . t. ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . sr = sangat rendah.4-5.35 50 .Penggunaan Lahan d.5 May-09 8 .Loreng (%) .16 r-s 5 . s st > 1.Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .55 25 .6-7.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .15 1. . ah = agak halus. 84 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Singkapan batuan (%) ≤16 20 .C-organik Toksisitas(xc) .sr td t-s r 0.0 r-s sr r .N-Total . Kacang Hijau (Phaseolus radiatus LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .6 t .8 1-1.KTK liat (cmol) . td = tidak ada data. s = sedang.2 <1 <5 <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27 N 8-10 / 27-30 <8 / >30 < 250 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 75-90 > 90 s ah 15 .P2O5 .Drainase Media perakaran (r) .75 t ak 35 .8 .15 5 . r = rendah.2 < 0.6-8.st st. k = kasar.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Bahan.Kejenuhan Basa (%) .35 < 20 5.40 15 .4 / > 8.1.5-2 12-Aug 16-30 b f1 15 .0 < 5. c k > 55 < 25 - .25 td td sr >2 > 12 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.pH H20 S1 24-12 350-600 42-75 b. s < 15 > 75 > 16 > 35 5. at h.50 st. kasar (%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . h = halus.6 / 7.K2O .

Kacang Panjang (Vigna sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 . r = rendah.1.st r-s sr td . <8 8 .Penggunaan Lahan e.4-5.Kedalaman tanah (cm) > 75 50 . s = sedang.Bahan.5 1.Tekstur h.6 5.Temperatur rerata ( C) 12-24 10-12 / 24-27 8-10 / 27-30 <8 / >30 Ketersediaan air (w) . ak = agak kasar.Batuan di permukaan(%) <5 5 .16 16-30 >30 .0 t .6-8.75 25 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .sr td td . s ah ak k .4 / > 8.Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 < 250 Kelembaban udara (%) 42-75 36-42 / 75-90 30-36 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .15 15 .K2O st t-s r sr .15 15 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 85 . s r .N-Total st. sr = sangat rendah.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . h = halus. k = kasar.8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus.C-organik > 1. kasar (%) < 15 15 .55 > 55 .6 / 7. t.P2O5 .0 < 5. t = tinggi.Singkapan batuan (%) <5 5 .6-7.pH H20 5.40 >40 .Salinitas (dS/m) <1 1-1.Drainase b. ab s t st.2 < 0.5-2 >2 Sodositas (xn) .8 .2 0.Loreng (%) . c Media perakaran (r) .25 >25 st = sangat tinggi.75 < 25 Retensi hara (n) . td = tidak ada data.35 35 .Alkalinitas/ESP <5 5-8 8-12 > 12 Bahaya erosi (e) .

Bulan kering (bln) 2.Kejenuhan Basa (%) < 20 td td .Bahaya erosi sr r.15 15 .0 td st.pH H20 5.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 15 td td > 15 Bahaya erosi (e) . k = kasar. Jambu Mete (Anacardium occidentale) Kelas Kesesuaian Lahan Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . ah = agak halus. t. s r sr td .0 < 4.Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .s r sr td .8 . h = halus. sc Media perakaran (r) .K2O st t. s r sr .C-organik > 0.Bahan. Tanaman Perkebunan a.16 16-30 >30 . r = rendah.Tekstur ah. at s t st. <8 8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .P2O5 ≤ 0. 86 Evaluasi Sumberdaya Lahan . s = sedang.Temperatur rerata ( C) 28-30 30-35 <25 / >35 25-28 Ketersediaan air (w) .8 / > 8. s b sb Bahaya banjir (f) .8 td Toksisitas(xc) . t = tinggi.N-Total st.Batuan di permukaan(%) <5 5 .40 >40 .2-7.2 / 7.t.3.Drainase b. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .KTK liat (cmol) td td td ≥ 20 .Penggunaan Lahan 8. ak = agak kasar.25 >25 st = sangat tinggi.Curah Hujan (mm) 1200-1500 800-1200/1500-2000 500-800/2000-2500 <500/>2500 .5-4 4-5 5-6 >6 .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) td . td = tidak ada data.Lereng (%) .8-5.15 15 . s h ak k . sr = sangat rendah.5 4.5-8.

Bahan.Singkapan batuan (%) td td td 0.8 1.2 td 16-30 b td 15-40 15-25 >4 < 30 / > 85 st k > 55 < 50 td td td td td td td > 2.Drainase Media perakaran (r) . h = halus.8-1.8 td 8-16 r. td = tidak ada data.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . Evaluasi Sumberdaya Lahan 87 .Penggunaan Lahan b. s = sedang.0 td td td > 1.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .C-organik Toksisitas(xc) .N-Total .1 td <8 sr f0 <5 <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-25/28-32 2500-3000 2-3 35-40 / 65-75 s s 15-35 100-150 ≤ 16 20-35 5.0-7.Curah Hujan (mm) .KTK liat (cmol) .Batuan di permukaan(%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .8-2.6 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .P2O5 .5-6. ah = agak halus.Kejenuhan Basa (%) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .5 < 1.5 / > 7. r = rendah.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .6 td td td < 0.5 1. t = tinggi.0/7.pH H20 N <20 / >35 32-35 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 3-4 30-35 / 75-85 t ak 35-55 50-100 td < 20 < 5. sr = sangat rendah.2 td > 30 sb > f1 >40 >25 .Tekstur . .0-7.Lereng (%) . ah < 15 > 150 >16 > 35 6. kasar (%) . Kakao (Theobroma cacao) S1 25-28 1500-2500 1-2 40-65 b. at h. ak = agak kasar.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . s td 5-15 5-15 st = sangat tinggi. k = kasar.K2O .1-1.

ah s ak k .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 25-50 < 25 Retensi hara (n) . <8 8-16 16-30 >30 .15 15 .4 Toksisitas(xc) .Lereng (%) . kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 . ab at s.C-organik > 0. Kapas (Gossypium hirsutum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .pH H20 6. sr = sangat rendah.Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi. h = halus.Salinitas (dS/m) < 10 10-12 12-16 > 16 Sodositas (xn) .Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 65 65-75 75-80 > 80 Ketersediaan oksigen (o) .Temperatur rerata ( C) 26-28 22-26 / 28-30 30-35 < 22 / > 35 Ketersediaan air (w) 1000-1500 700-1000/1500-1750 600-700/1750-2200 < 500 / >2200 .K2O r sr td td .Penggunaan Lahan c. t st.Alkalinitas/ESP < 20 20-30 30-40 > 40 Bahaya erosi (e) . ak = agak kasar.6-6.25 >25 st = sangat tinggi.0 td . r = rendah.0-7.N-Total r sr td td . s b sb Bahaya banjir (f) .40 >40 .P2O5 r sr td td .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 td .6 / > 8.Tekstur h.0 < 5.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .15 15 .6-8.Bahan. 88 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Curah Hujan (mm) . ah = agak halus. s = sedang.0 / 7.6 5.Bahaya erosi sr r. c Media perakaran (r) .4 td ≤ 0. k = kasar. td = tidak ada data.Drainase b.

Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .Genangan f0 f1 f2 > F3 Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) 25-28 22-25 / 28-32 20-22/32-35 < 20 / > 35 Ketersediaan air (w) 1700-2500 1450-1700/2500-3500 1250-1450/3500-4000 <1250 / >4000 .2 / > 7.sr td td .K2O st t-s r sr .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 . r = rendah.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .0 < 4.8 Toksisitas(xc) .Bahan.Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) . td = tidak ada data. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . s = sedang. t st.Penggunaan Lahan d. s r .0 t .P2O5 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . c Media perakaran (r) . t = tinggi.st r sr td .15 15 .55 > 55 . s ah ak k .25 >25 st = sangat tinggi.16 16-30 >30 .15 15 .40 >40 .5-7.Bulan kering (bln) <2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) .pH H20 5.0-6.Kedalaman tanah (cm) > 100 50-100 25-50 < 25 Retensi hara (n) .Drainase b.C-organik > 0. h = halus.Batuan di permukaan(%) <5 5 . k = kasar. ah = agak halus.Loreng (%) . sr = sangat rendah.2-5. t.Singkapan batuan (%) <5 5 . <8 8 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 89 . kasar (%) < 15 15 .Tekstur h. ab at s.N-Total st.0 / 6.8 ≤ 0.5 4.35 35 .

Temperatur rerata ( C) 16-22 15-16 / 22-24 14-15 / 24-26 Ketersediaan air (w) 700-1600 600-700 / 1600-1750 100-600/1750-2000 .5-2. ah = agak halus.Bulan Kering (bln) 1-4 < 1 / 4-5 5-6 Kelembaban udara (%) 40-70 30-40 / 70-80 20-30 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .6-7.Drainase b s at Media perakaran (r) .55 .40 . s r .Curah Hujan (mm) .K2O st t-s r . >6 < 20 / > 90 t. s ah ak .N-Total st.0 Sodositas (xn) . h = halus.P2O5 .Tekstur h. c k > 55 < 50 - td td sr > 2. ak = agak kasar.Alkalinitas/ESP td td td Bahaya erosi (e) .Loreng (%) .4 t . r = rendah.Batuan di permukaan(%) <5 5 . <8 8 . t.16 16-30 / 16-50 .Bahan.sr td .2 < 0.Salinitas (dS/m) < 0.35 < 20 . sr = sangat rendah.Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) . s = sedang.C-organik > 1. Kopi Arabika (Coffea arabica) N < 14 / > 26 < 100 / > 2000 Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . t = tinggi.6-6.35 35 .5 / 7.st r-s sr .5 td 0.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 Retensi hara (n) .15 15 .Penggunaan Lahan e. td = tidak ada data.25 st = sangat tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .2 0.1. k = kasar.8 Toksisitas(xc) .Genangan f0 f0 f0 Penyiapan Lahan (lp) .3 < 5.6 6.Singkapan batuan (%) <5 5 .pH H20 5.8 .15 15 .0 td >30 / > 50 sb > f1 >40 >25 90 Evaluasi Sumberdaya Lahan . kasar (%) < 15 15 .

Tekstur h.5 td st.8 td td ≤ 0. Evaluasi Sumberdaya Lahan 91 . ah s ak k .5-1.5 < 4.0 Sodositas (xn) . t = tinggi.0 > 2.KTK liat (cmol) td td td td .16 16-30 >30 .Singkapan batuan (%) <5 5 .5 0.5-5.Temperatur rerata ( C) 26-30 24-26 /30-34 22-24 <22/>34 Ketersediaan air (w) 2500-3000 2000-2500/3000-3500 1500-2000/3500-4000 <150 />4000 . s = sedang.Bahaya erosi sr r. <8 8 .0-6.Lereng (%) .Batuan di permukaan(%) <5 5 . s r sr td .pH H20 5.Kejenuhan Basa (%) < 35 35-50 > 50 td .8 Toksisitas(xc) . t. ah = agak halus.0 / 6.0-2.15 15 .15 15 . k = kasar.Kedalaman tanah (cm) > 150 100-150 50-100 < 50 Retensi hara (n) .25 >25 st = sangat tinggi.0 1.Curah Hujan (mm) .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . Karet (Havea brasiliensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . h = halus. kasar (%) < 15 15-35 35-60 > 60 .0 4. td = tidak ada data. t.N-Total st.40 >40 . ak = agak kasar.C-organik > 0. sr = sangat rendah.P2O5 . r = rendah.0-6. s r sr td .Salinitas (dS/m) < 0.Bulan kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .5 / > 6. s b sb Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan f.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Bahan.Drainase b s at t. c Media perakaran (r) .K2O st. t s r sr .

7.Loreng (%) . ab at s. t = tinggi.K2O st t-s r sr . s h ak k .40 >40 . t st. kasar (%) < 15 15 . 92 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 15 .8 Toksisitas(xc) .0 t .P2O5 . Kina (Cinchora spec. ah = agak halus. r = rendah.2 0.5 / 7. ak = agak kasar.8-8.2 < 0.Singkapan batuan (%) <5 5 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .Bahan.8 5.55 > 55 .pH H20 5.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .5 . td = tidak ada data.Temperatur rerata ( C) 18-21 17-18 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 .Tekstur ah.0 < 5. c Media perakaran (r) .N-Total st. s r . s = sedang.35 35 .Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) .1. k = kasar. <8 8 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20 .0 / > 8.st r-s sr td .35 < 20 .15 15 .0-5.8 .Penggunaan Lahan g.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . t.Drainase b.Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) .Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) .16 16-30 >30 .Curah Hujan (mm) .25 >25 st = sangat tinggi.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .sr td td . sr = sangat rendah.Batuan di permukaan(%) <5 5 . h = halus.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .C-organik > 1.div.

0 t .N-Total st.8 / > 8.Singkapan batuan (%) <5 5 .2-7. c Media perakaran (r) . ab s t. s = sedang.5 4.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) . t = tinggi.Temperatur rerata ( C) 25-28 23-25 /28-32 20-23 / 32-35 <20 / >35 Ketersediaan air (w) .Kejenuhan Basa (%) > 20 td ≤ 20 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-4 4-6 >6 Kelembaban udara (%) > 60 50-60 < 50 Ketersediaan oksigen (o) . at st.0 < 4.75 25 .sr td td .Tekstur h.2 / 7. t.K2O st t-s r sr .55 > 55 . k = kasar.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . h = halus.8 Toksisitas(xc) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50 .15 15 .P2O5 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 93 .Penggunaan Lahan h. sr = sangat rendah.Bahan.8 td ≤ 0.pH H20 5.50 < 25 Retensi hara (n) .C-organik > 0.15 15 .35 35 .st r-s sr td .Curah Hujan (mm) 2000-3000 1300-2000/3000-4000 1000-1300/4000-5000 <1000 / >5000 . kasar (%) < 15 15 .8-5. Kelapa (Cocos nicifera) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . <8 8 . ah s ak k .Drainase b. s r .5-8.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Loreng (%) . ah = agak halus.KTK liat (cmol) td td .16 16-30 >30 .40 >40 . td = tidak ada data. r = rendah.Salinitas (dS/m) < 12 12-16 16-20 > 20 Sodositas (xn) . ak = agak kasar.25 >25 st = sangat tinggi.

st r-s sr td .35 35 .5 / 5. ah s ak k .Kejenuhan Basa (%) < 20 20-35 > 35 .8 t .Genangan f0 f1 f2 > f3 Penyiapan Lahan (lp) .5-5. t.Curah Hujan (mm) . ah = agak halus. k = kasar.5 < 0.Singkapan batuan (%) <5 5 . 94 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Loreng (%) .Penggunaan Lahan i.N-Total st. r = rendah.8-4.P2O5 .Bulan Kering (bln) 0-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) 60-70 50-60 < 50 ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .8 < 3.5 0.5-5.K2O st t-s r sr .Drainase b. c Media perakaran (r) .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . ab at t. sr = sangat rendah.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .8 Toksisitas(xc) .sr td td . ak = agak kasar. s = sedang.Temperatur rerata ( C) 19-21 17-19 / 21-24 14-17 / 24-27 <14 / >27 Ketersediaan air (w) 2500-4000 1800-2500/4000-5000 1300-1800/5000-6000 <1300 / >6000 . h = halus.8 / > 5.C-organik > 1. s r .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-4 >4 Sodositas (xn) .5 3.Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) . kasar (%) < 15 15 .Tekstur h.Bahan.40 >40 .Alkalinitas/ESP <8 8-10 10-15 > 15 Bahaya erosi (e) .Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .25 >25 st = sangat tinggi. <8 8 .pH H20 4. t = tinggi. td = tidak ada data.16 16-30 >30 . s st.8-1. Teh (Camellia sinensis) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .55 > 55 .15 15 .

Singkapan batuan (%) st.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Bahan. h = halus.Kejenuhan Basa (%) .K2O . Evaluasi Sumberdaya Lahan 95 . t.5 td st.8 6-8 20-25 16-30 b f2 15 .0 td s s 15-35 75-100 ≤ 16 20-35 4.KTK liat (cmol) . s f1 5 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .25 td td sr >8 > 25 >30 sb > f3 >40 >25 st = sangat tinggi.2 4-6 15-20 8 . kasar (%) .Curah Hujan (mm) .Penggunaan Lahan j. c k > 55 < 50 td td td .0 / 6.0-7.) S1 26-28 1000-1500 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . s st.Tekstur . ak = agak kasar. k = kasar.0-6. t = tinggi.16 r.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 22-26 / 28-30 20-22 / 30-35 N <20/>35 700-1000/1500-1750 500-700/1750-2500 <500 / >2500 td b.40 15 . r st. sr = sangat rendah. ah = agak halus. . ah < 15 < 100 > 16 > 35 5.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .15 sr td r < 0.Lereng (%) .2 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r sr s 0.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .Batuan di permukaan(%) .N-Total . Kapuk (Caiba pantandra G. td = tidak ada data. r = rendah.P2O5 . s = sedang. s. t.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .5-5.C-organik Toksisitas(xc) .1.8 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . t > 1.5 / > 7. at h.15 5 .Drainase Media perakaran (r) .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .5 td t ak 35-55 50-75 td < 20 < 4.

35 35 .55 > 55 . kasar (%) < 15 15 .C-organik > 0. s = sedang.0/7. h = halus. <8 8 .Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .4 td td ≤ 0. s ah ak k .25 >25 st = sangat tinggi.Kejenuhan Basa (%) > 50 35-50 < 35 5. s r . t st.Batuan di permukaan (%) <5 5 . td = tidak ada data.40 >40 .K2O st t-s r sr . r = rendah.Alkalinitas/ESP < 10 10 -15 15-20 > 20 Bahaya erosi (e) . k = kasar.0-7.P2O5 . sr = sangat rendah.Salinitas (dS/m) <5 8-May 10-Aug > 10 Sodositas (xn) .0 / > 8.15 15 .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .0 4.Bahan.sr td td .pH H20 t . ah = agak halus. t. ab at s. t = tinggi. c Media perakaran (r) .Tekstur h.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) . 96 Evaluasi Sumberdaya Lahan .0-5.4 Toksisitas(xc) .0 < 4.Singkapan batuan (%) <5 5 .0 .N-Total st.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .0-8.Drainase b.16 16-30 >30 . ak = agak kasar.Penggunaan Lahan k.Curah Hujan (mm) 1500-2500 2500-3000 1250-1500/3000-4000 <1250/>4000 . Melinjo (Gnetum gnemon LINN) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .st r-s sr td .15 15 .Lereng (%) .Bulan Kering (bln) 1-2 2-3 3-4 >4 Kelembaban udara (%) > 70 td td ≤ 70 Ketersediaan oksigen (o) .Temperatur rerata ( C) 25-28 20-25/28-32 32-35 <20/>35 Ketersediaan air (w) .

Penggunaan Lahan l.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .P2O5 .Singkapan batuan (%) <5 5 . t = tinggi.sr td td . td = tidak ada data.Batuan di permukaan(%) <5 5 .15 15 .Bahan.Tekstur h.Temperatur rerata ( C) 22-25 25-28 19-22 / 28-32 <19 / >32 Ketersediaan air (w) 2000-3000 1750-2000/3000-3500 1500-1750/3500-4000 <1500 />4000 .5 . c Media perakaran (r) .0 5.Salinitas (dS/m) <1 td 1-2 > 2.st r-s sr td .N-Total st.Alkalinitas/ESP td td td td Bahaya erosi (e) .Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) .3 / 6.35 35 .Bulan Kering (bln) 2-3 3-5 5-6 >6 Kelembaban udara (%) 45-80 35-45 / 80-90 30-35 / > 90 < 30 Ketersediaan oksigen (o) . s r . r = rendah.25 >25 st = sangat tinggi.16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 .8 Toksisitas(xc) .40 >40 . k = kasar.K2O st t-s r sr . ah = agak halus.0-6.pH H20 t .0-5. ak = agak kasar.3 / > 6. ah s ak k . <8 8 . Evaluasi Sumberdaya Lahan 97 .C-organik > 0.5 < 5. Kopi Robusta (Coffea canephora) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Loreng (%) . kasar (%) < 15 15 .55 > 55 .Genangan f0 f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .Curah Hujan (mm) .8 ≤ 0.3-6.Drainase b s at t. s = sedang. h = halus. t. sr = sangat rendah.15 15 .Kejenuhan Basa (%) > 20 ≤ 20 5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .0 Sodositas (xn) .

Kejenuhan Basa (%) .0 30-50 1200-1400 < 30 < 1200 s. ab h.5/7.15 5 . t.Penggunaan Lahan m. ak = agak kasar. r = rendah.4 <5 < 10 <8 sr f0 <5 <5 r-s r . t = tinggi.35 50-75 ≤16 35-50 5. h = halus.5-7.5 / >8.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . s < 15 > 75 > 16 > 50 5.Batuan di permukaan (%) .5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 22-24 / 30-32 21-22/32-34 <21 / >34 50-60 / > 70 1400-1800 > 70 at ah 15 .0-5.0 st. . k = kasar. td = tidak ada data.Tekstur . c k > 55 < 25 - .CH harian (mm) .25 > 10 > 20 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Loreng (%) .st st.sr t-s ≤ 0. 98 Evaluasi Sumberdaya Lahan . sr = sangat rendah.16 r-s td 5 .40 15 .P2O5 .Singkapan batuan (%) t .K2O .55 25-50 < 35 <5.KTK liat (cmol) .4 5-8 Oct-09 8 .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . t ak 35 .N-Total .Bahan.C-organik Toksisitas(xc) .Drainase Media perakaran (r) .15 sr td r td td sr 8-10 15-20 16-30 b f1 15 . Tebu (Saccharum officinarum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o . ah = agak halus. s st > 0. s = sedang.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Sinar MT (jam/th) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . kasar (%) .pH H20 S1 24-30 > 60 > 1800 ≤ 70 b.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .0-8.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .

Penggunaan Lahan

n.

Tembakau (Nicotiana tobacum)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 22-28 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 600-1200 - Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-75 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab Media perakaran (r) - Tekstur ak, s - Bahan. kasar (%) < 15 - Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 - Kejenuhan Basa (%) < 35 - pH H20 5.5-6.2 t - st - N-Total st, t, s - K2O st - P2O5 - C-organik > 1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <2 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 10 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 - Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) - Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 - Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 20-22 / 28-30
500-600 / 1200-1400

N

15-20 / 30-34 <15 / >34
400-500 / > 1400 < 400

td 20-24 / 75-90 at ah 15 - 35 50-75 ≤16 20-35
5.2-5.5 / 6.2-6.8

td < 20 / > 90 t, s h 35 - 55 25-50 < 20
< 5.2 / > 6.8

td

st, c k > 55 < 25 -

r-s r - sr t-s 0.8-1.2 2-4 10-15 8 - 16 r-s td 5 - 15 5 - 15

sr td r < 0.8 4-6 15-20 16-30 b td 15 - 40 15 - 25

td td sr

>6 > 20 >30 sb > f1 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

99

Penggunaan Lahan

8.4. Tanaman Hortikultura a. Asparagus (Asparagus afficinalis L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 18-25 Ketersediaan air (w) - Bulan kering (bln) td td td td 1000-2000 500-1000/2000-3000 250-500/3000-4000 <250 />4000 - Curah Hujan (mm) - Kelembaban udara (%) 36-42 30-36 < 30 > 42 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, at at t, s st, sc Media perakaran (r) - Tekstur ah, s h ak k - Bahan. kasar (%) 0-15 15-35 35-55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 - Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 td - pH H20 st,t,s r sr - N-Total st, t, s r sr td - K2O st t, s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 0.8-1.2 < 0.8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) 0-4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP (dS/m) 0-15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . <8 8 - 16 16-30 >30 - Bahaya erosi sr r, s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan (%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

100

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

b.

Bayam (Amarantus sps.)
Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20 S1 12-24
350-600

Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-12 / 24-27

N

8-10 / 27-30 < 8 / > 30

300-350 / 600-1000 250-300 / >1000 <250 / >1000

td 42-75 b, at h, s < 15 > 75 >16 > 50
5.6-7.6

td 75-90 s ah 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 td td td 0.8-1.2 1-1.5 5-8 8-16 r, s td 5-15 5-15

td > 90 t ak 35-55 20-50 td < 35 td td td < 0.8 1.5-2 8-12 16-30 b f1 15-40 15-25

td td st, c k > 55 < 20 td td
td

5.4-5.6 / 7.6-8.0 < 5.4 / > 8.0

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Lereng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

td td td > 1.2 < 1.0 <5 <8 sr f0 <5 <5

td td td td > 2.0 > 12 > 30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

101

8-1.Bahan.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .8-6. td = tidak ada data. s 5 . sr = sangat rendah.Drainase Media perakaran (r) .Singkapan batuan (%) r r r > 1. s = sedang.0/7.0 td st.P2O5 . ah < 15 > 50 > 16 > 35 6.0-7. 102 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Kejenuhan Basa (%) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . t = tinggi.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) . ah = agak halus.Tekstur .Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .8 td s s 15-35 30-50 ≤ 16 20-35 5. r = rendah.Penggunaan Lahan c.N-Total .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .15 td td td < 0.8 3-5 35-50 16-30 b td 15 . .Curah Hujan (mm) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .15 5 .8-8.40 15 . k = kasar.pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 18-20 / 25-30 300-350 / 600-800 N <15 / >35 <250/>1600 15-18 /30-35 250-300 / 800-1600 td b.8 / > 8. c k > 55 < 20 td td td .K2O .2 <2 < 20 <8 sr f0 <5 <5 sr sr sr 0.C-organik Toksisitas(xc) .Batuan di permukaan(%) . ak = agak kasar. kasar (%) .Lereng (%) .0 td t ak 35-55 20-30 td < 20 < 5.25 td td td >5 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .KTK liat (cmol) . h = halus. at h. Bawang Merah (Allium cepa) S1 20-25 350-600 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 2-3 20-35 8-16 r.

0 / 7. t = tinggi.2 < 0.K2O st.P2O5 .C-organik > 1.N-Total st.0 td st. s h ak k . s = sedang. h = halus.8-8.8 . s r sr td . td = tidak ada data. r sr td td . s b sb Bahaya banjir (f) .Bahaya erosi sr r. k = kasar.15 15 . Bawang Putih (Allium sativum L. s. at s t st.25 >25 st = sangat tinggi. ak = agak kasar.KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Curah Hujan (mm) 350-600 300-350 / 600-800 250-300 / 800-1600 < 250 / > 1600 Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) .Bahan.8-6.Penggunaan Lahan d.Lereng (%) .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 > 50 Bahaya erosi (e) .2 0. Evaluasi Sumberdaya Lahan 103 . sr = sangat rendah. kasar (%) < 15 15-35 35-55 > 55 .1.Drainase b.Singkapan batuan (%) <5 5 . t. r = rendah.Batuan di permukaan(%) <5 5 . c Media perakaran (r) .Tekstur ah.40 >40 .) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o . t s r sr .pH H20 6.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 td . <8 8 . t.16 16-30 >30 .Kedalaman tanah (cm) < 50 30-50 20-30 < 20 Retensi hara (n) .Genangan f0 td td > f1 Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) 25-10 5-10 / 25-30 2-5 / 30-35 < 2 / > 35 Ketersediaan air (w) .8 Toksisitas(xc) .Salinitas (dS/m) <2 2-3 3-5 >5 Sodositas (xn) .8 5.0-7.15 15 .0 < 5.8 / > 8. ah = agak halus.

Singkapan batuan (%) st. h = halus.N-Total .0 td td t ak 35-60 30-50 td > 50 < 5.0 15-20 8 . t. Cabai (Capsicum annuum) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .6-8.Tekstur .16 r.Curah Hujan (mm) . r = rendah.P2O5 .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) . .40 15 .C-organik Toksisitas(xc) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) . s = sedang.15 5 .0-7.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .0 td td st. t.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .Lereng (%) .0-2.0 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.pH H20 S1 21-27 600-1200 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 16-21 / 27-28 500-600 / 1200-1400 N 14-16 / 28-30 <14/>30 400-500 / > 1400 < 400 td td b. kasar (%) . t = tinggi. at ah < 15 > 75 > 16 < 35 6. s 15-35 50-75 ≤ 16 35-50 5.6 td td s h. t > 0.Penggunaan Lahan e.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .K2O . s 5 .Drainase Media perakaran (r) .Kejenuhan Basa (%) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .25 td td sr td > 2. c k > 60 < 30 td td td .Bahan.5-1.0 / 7. sr = sangat rendah.KTK liat (cmol) .15 sr sr r td 1. k = kasar.Batuan di permukaan(%) .0 20-25 16-30 b f1 15 . ak = agak kasar. 104 Evaluasi Sumberdaya Lahan . ah = agak halus. s st. s st.5 / > 8.8 0.8 <3 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r r s ≤ 0. td = tidak ada data.5-6.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .

Paprika (Capsicum sp.6-8. s = sedang. <8 8 .40 >40 .Bulan Kering (bln) td td td td Kelembaban udara (%) td td td td Ketersediaan oksigen (o) . r = rendah. td = tidak ada data.0-7. t = tinggi. s r . kasar (%) < 15 15 .15 15 .0 < 5.KTK liat (cmol) > 16 ≤16 . s ak k .Singkapan batuan (%) <5 5 .Curah Hujan (mm) 600-1200 500-600 / 1200-1400 400-500 / > 1400 < 400 .25 >25 st = sangat tinggi. t. Evaluasi Sumberdaya Lahan 105 .st r-s sr td .35 35 .55 > 55 .Tekstur ah h.Penggunaan Lahan f.15 15 .Temperatur rerata ( C) 18-26 16-18 / 26-27 14-16 / 27-28 <14/>28 Ketersediaan air (w) . h = halus.P2O5 .8 td td Toksisitas(xc) . k = kasar.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-7 >7 Sodositas (xn) .5 / > 8. ah = agak halus. sr = sangat rendah.Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6. ak = agak kasar.N-Total st.Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) .5-6.Drainase b.C-organik > 0.Bahan.) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o .Lereng (%) .0 .0 / 7.16 16-30 >30 .Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) .Batuan di permukaan(%) <5 5 .pH H20 t . c Media perakaran (r) .6 5.sr td td .8 ≤ 0. at s t st.Genangan f0 f1 > f2 Penyiapan Lahan (lp) .K2O st t-s r sr .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) .

Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . t.Tekstur . r = rendah.50 <35 < 5.25 td td sr > 10 > 25 >30 sb > f2 >40 >25 st = sangat tinggi.sr t-s ≤ 0.Penggunaan Lahan g. h = halus.Singkapan batuan (%) t . c k > 55 < 25 - .75 ≤ 16 35-50 5.0 / 7.5 < 15 <8 sr f0 <5 <5 r-s r .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) . kasar (%) .0-7.Loreng (%) .Genangan Penyiapan Lahan (lp) .16 r-s 5 .Batuan di permukaan(%) .40 15 . sr = sangat rendah.8 < 4.8-6.8-8.0 t ak 35 . s = sedang.N-Total . ah = agak halus. td = tidak ada data.P2O5 .8 s h. k = kasar.st st. t = tinggi. .35 50 .Curah Hujan (mm) .Bahan.Kejenuhan Basa (%) .K2O . Kubis (Brasica oleracea) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .0 st.15 5 . s st > 0.55 25 .KTK liat (cmol) .8 / > 8.pH H20 S1 13-24 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 N 5-10 / 30-35 <5 / >35 < 250 td 350-800 300-350 / 800-1000 250-300 / >1000 td td td 65-90 60-65 / 90-95 50-60 / > 90 b. ak = agak kasar.Drainase Media perakaran (r) . at s < 15 > 75 > 16 > 500 6. 106 Evaluasi Sumberdaya Lahan .15 sr td r td 7-10 20-25 16-30 b f1 15 . ah 15 .C-organik Toksisitas(xc) .5-7 15-20 8 .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .8 4.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .

Kejenuhan Basa (%) > 50 6.Penggunaan Lahan h.Bulan kering (bln) td Kelembaban udara (%) 65-90 Ketersediaan oksigen (o) .15 sr td r td td sr 10-Jul td 16-30 b 15 . k = kasar.C-organik > 0. c k > 55 < 25 - r-s r .0 / 7.Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) . ak = agak kasar.K2O st . t.KTK liat (cmol) > 16 .8 / > 8. ah = agak halus.Loreng (%) .8-6.Bahan.8-8.0 td 50-60 / > 95 t ak 35 . Brokoli (Brasica oleracea fa asaparagodes) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .25 > 10 td >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi.Curah Hujan (mm) 350-800 .5 Sodositas (xn) .P2O5 .Drainase b.8 4.5-7 td 8 .N-Total st.Salinitas (dS/m) < 4.0 td < 50 st.55 25-50 < 35 < 5.15 5 . r = rendah.pH H20 t .Batuan di permukaan(%) <5 .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . h = halus. sr = sangat rendah. td = tidak ada data.8 . kasar (%) < 15 .Temperatur rerata ( C) 13-14 Ketersediaan air (w) . ah 15 .8 Toksisitas(xc) .35 50-75 ≤16 35-50 5. t = tinggi.sr t-s ≤ 0. <8 .0-7.Tekstur s .Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 10-13 / 24-30 300-350 / 800-1000 N <5 / >35 < 250 5-10 / 30-35 250-300 / > 1000 td 60-65 / 90-95 s h. Evaluasi Sumberdaya Lahan 107 .16 r-s 5 . s = sedang. at Media perakaran (r) . s .Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .40 15 .st .Alkalinitas/ESP td Bahaya erosi (e) .

Penggunaan Lahan

i.

Mentimun (Cucumis sativus L.)
S1 22-30 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N

Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) - Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) - Drainase Media perakaran (r) - Tekstur - Bahan. kasar (%) - Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) - Kejenuhan Basa (%) - pH H20

20-22 / 30-32 18-20 / 32-35 <18 / >35 < 200

400-700 300-400/700-1000 200-300 / >1000 24-80 b, at s < 15 > 100 20-24 / 80-90 s ah 15 - 35 75-100 < 20 / > 90 t h, ah 35 - 55 50-75

st, c k > 55 < 50 -

- N-Total - K2O - P2O5
- C-organik Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . - Bahaya erosi Bahaya banjir (f) - Genangan Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) - Singkapan batuan (%)

> 16 ≤16 > 35 20 - 35 < 20 5.8-7.6 5.5-5.8/7.6-8.0 < 5.5 / > 8.0 t - st r-s sr st, t, s r - sr td st t-s r > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 <4 < 15 <8 sr f0 <5 <5 4-6 15-20 8 - 16 r-s 5 - 15 5 - 15 6-8 20-25 16-30 b f1 15 - 40 15 - 25

td td sr

>8 > 25 >30 sb > f2 >40 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

108

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Penggunaan Lahan

j.

Pare (Momordica sharantia L.)
Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2500 500-1000/2500-4000 250-500/4000-6000 < 250/> 6000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 20 - 35 < 20 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8.0 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1,2 0,8 - 1,2 < 0,8 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25

st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

109

Penggunaan Lahan

k.

Petai (Parkia speciosa H.)

Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o - Temperatur rerata ( C) 18-25 15-18 / 25-30 10-15 / 30-35 <10 / >35 Ketersediaan air (w) - Curah Hujan (mm) 1000-2000 500-1000 / 2000-3000 250-500/3000-4000 <250/>4000 - Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) > 42 36-42 30-36 < 30 Ketersediaan oksigen (o) - Drainase b, ab at t, s st, c Media perakaran (r) - Tekstur s, ah h ak k - Bahan. kasar (%) < 15 15 - 35 35 - 55 > 55 - Kedalaman tanah (cm) > 100 75-100 50-75 < 50 Retensi hara (n) - KTK liat (cmol) > 16 ≤16 - Kejenuhan Basa (%) > 35 < 20 20-35 - pH H20 5.5-7.8 5.0-5.5 / 7.8-8 < 5.0 / > 8.0 t - st r-s sr td - N-Total st, t, s r - sr td td - K2O st t-s r sr - P2O5 - C-organik > 1.2 < 0.8 0.8-1.2 Toksisitas(xc) - Salinitas (dS/m) <4 4-6 6-8 >8 Sodositas (xn) - Alkalinitas/ESP < 15 15-20 20-25 > 25 Bahaya erosi (e) - Loreng (%) . <8 8 - 16 16-30 / 16-50 >30 / > 50 - Bahaya erosi sr r-s b sb Bahaya banjir (f) - Genangan f0 > f1 Penyiapan Lahan (lp) - Batuan di permukaan(%) <5 5 - 15 15 - 40 >40 - Singkapan batuan (%) <5 5 - 15 15 - 25 >25
st = sangat tinggi, t = tinggi, s = sedang, r = rendah, sr = sangat rendah, td = tidak ada data, k = kasar, ak = agak kasar, ah = agak halus, h = halus.

110

Evaluasi Sumberdaya Lahan

r = rendah. c k > 55 < 25 - 6.Loreng (%) . .0-7.15 < 20 / > 90 t h 35 .CH harian (mm) .5-4.sr t-s 0.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 20-40 / 80-90 s s 15 . kasar (%) .Drainase Media perakaran (r) .6 .pH H20 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 13-16 / 22-28 200-250 / 400-600 N < 4 / > 35 <150/>1000 4-13 / 28-35 150-200 / 600-1000 40-80 b.0 5.0 / 7.Singkapan batuan (%) sr td r < 0. ak = agak kasar.Bahan.KTK liat (cmol) .N-Total . t = tinggi.st st. Sawi (Brassica rugosa F.40 15 . s st > 1.15 5 . k = kasar.Penggunaan Lahan l.Bln Kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) . t.Tekstur .Kejenuhan Basa (%) .K2O .7 / > 7.Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .5 20-35 8 . sr = sangat rendah.C-organik Toksisitas(xc) . s = sedang.) S1 16-22 250-400 Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .8 4. Evaluasi Sumberdaya Lahan 111 .7-6.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .16 r-s 5 .6 st.2 1.25 td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 st = sangat tinggi. at ak.P2O5 .Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .2 < 1.8-1. td = tidak ada data.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) . h = halus. ah = agak halus. ah < 15 > 60 > 16 > 35 t .Batuan di permukaan(%) .55 25-40 < 20 < 5.35 40-60 ≤16 20-35 r-s r .5-7 35-50 16-30 b 15 .0-7.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) .

Bahan.5 1.55 .P2O5 .N-Total st.Drainase b.Penggunaan Lahan m. c k > 55 < 25 - td td sr >7 > 50 >30 sb > f1 >40 >25 112 Evaluasi Sumberdaya Lahan .Bahaya erosi sr r-s b Bahaya banjir (f) .5-4.40 .Loreng (%) .Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) .0 5.8 Toksisitas(xc) . at s t Media perakaran (r) . r = rendah.2 < 0.6 .Tekstur ak.5 4.0 / 7.Kedalaman tanah (cm) > 60 40-60 25-40 Retensi hara (n) .7-6. ak = agak kasar.Curah Hujan (mm) . s r . k = kasar.sr td . Kailan ( ) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 Temperatur (t) o .Alkalinitas/ESP < 20 20-35 35-50 Bahaya erosi (e) .6 < 5. h = halus. t = tinggi.15 15 .25 st = sangat tinggi.0-7.C-organik > 1. t.Bulan Kering (bln) Kelembaban udara (%) < 20 / > 90 40-80 20-40 / 80-90 Ketersediaan oksigen (o) .16 16-30 . sr = sangat rendah.K2O st t-s r . ah s h .Salinitas (dS/m) < 1. <8 8 .Singkapan batuan (%) <5 5 .8-1.0-7.Batuan di permukaan(%) <5 5 .5-7 Sodositas (xn) .st r-s sr .pH H20 t .2 0. kasar (%) < 15 15 .Temperatur rerata ( C) 16-22 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 Ketersediaan air (w) 250-400 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 .KTK liat (cmol) > 16 ≤16 .Kejenuhan Basa (%) > 35 20-35 < 20 6.15 15 . td = tidak ada data. ah = agak halus. s = sedang. N <4 / >35 <150/>1000 st.7 / > 7.35 35 .

r = rendah.Salinitas (dS/m) <5 Sodositas (xn) . c k > 55 < 25 - r-s r .C-organik > 1.5-6. kasar (%) < 15 .st .0/7.Genangan f0 Penyiapan Lahan (lp) . k = kasar.Singkapan batuan (%) <5 Kelas Kesesuaian Lahan S2 S3 N 16-18 / 26-30 13-16/30-35 <13 / >35 300-400 / 700-800 200-300 / >800 <200 td 20-24 / 80-90 s h 15 . h = halus.Bulan Kering (bln) td Kelembaban udara (%) 24-80 Ketersediaan oksigen (o) . t.KTK liat (cmol) > 16 . <8 .Bahan.55 25-50 < 20 <5.Bahaya erosi sr Bahaya banjir (f) .Penggunaan Lahan n. at Media perakaran (r) .5 t .Kedalaman tanah (cm) > 75 Retensi hara (n) .sr t-s 0.0 td <20 / >90 t ak 35 .pH H20 6. Terung (Solanum melongana L) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan S1 Temperatur (t) o .2 5-8 15-25 8 .40 15 . t = tinggi.25 td td sr > 10 > 35 >30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.5-8.15 sr td r < 0.N-Total st.16 r-s td 5 .Curah Hujan (mm) 400-700 .P2O5 . td = tidak ada data.0-7.2 Toksisitas(xc) .5 / >8.15 5 .8-1.8 8-10 25-35 16-30 b f1 15 . s .Tekstur ah.Batuan di permukaan(%) <5 .Temperatur rerata ( C) 18-26 Ketersediaan air (w) .Alkalinitas/ESP < 15 Bahaya erosi (e) .Kejenuhan Basa (%) < 35 .Loreng (%) .35 50-75 ≤16 20-35 5. s = sedang.K2O st . s . Evaluasi Sumberdaya Lahan 113 . sr = sangat rendah. ah = agak halus.0 td st.Drainase b. ak = agak kasar.

s = sedang.Kejenuhan Basa (%) 20-35 < 20 td ≥ 35 5.8 Toksisitas(xc) . ah = agak halus.0 < 5.Curah Hujan (mm) > 45 / >80 30-45 / 65-80 20-30 / 50-65 < 20 / < 50 .s r sr .25 >25 st = sangat tinggi. s b sb Bahaya banjir (f) . t.6/7. s r sr .K2O st t.P2O5 . ak = agak kasar.Temperatur rerata ( C) 16-18 Ketersediaan air (w) .Genangan f0 td f1 f3 Penyiapan Lahan (lp) .Drainase b. Kentang (Solanum tuberosum) Persyaratan Penqgunaan/ Kelas Kesesuaian Lahan Karakteristik Lahan S1 S2 S3 N Temperatur (t) o 14-16 / 18-20 12-14 / 20-23 < 12 / > 23 .2 0.2 / > 8. kasar (%) > 15 15-35 35-55 > 55 . s ak h k .KTK liat (cmol) > 16 td td ≤ 16 .Bulan kering (bln) td td td td .0 . sc Media perakaran (r) .Penggunaan Lahan o. sr = sangat rendah.Kelembaban udara (%) ≤ 20 > 20 Ketersediaan oksigen (o) .Lereng (%) .Kedalaman tanah (cm) > 75 50-75 30-50 < 30 Retensi hara (n) . at s t st.Alkalinitas/ESP (dS/m) < 25 25-35 35-45 > 45 Bahaya erosi (e) .40 >40 .Bahan.Bahaya erosi sr r.Salinitas (dS/m) <3 3-5 5-6 >6 Sodositas (xn) . t = tinggi.pH H20 td st.Singkapan batuan (%) <5 5 . k = kasar.8-1.6-7.N-Total st.15 15 .t. r = rendah.15 15 .Batuan di permukaan (%) <5 5 .Tekstur ah.0 5. td = tidak ada data. s r sr td .2-5. h = halus.0-8. 114 Evaluasi Sumberdaya Lahan . <8 8 .16 16-30 >30 .C-organik > 1.2 < 0.

0 5. t = tinggi.Temperatur rerata ( C) Ketersediaan air (w) . h = halus.Kedalaman tanah (cm) Retensi hara (n) .KTK liat (cmol) . s = sedang.Bahaya erosi Bahaya banjir (f) .Kejenuhan Basa (%) .Penggunaan Lahan p.2 1. kasar (%) . ak = agak kasar.K2O . td = tidak ada data.C-organik Toksisitas(xc) .Salinitas (dS/m) Sodositas (xn) .Tekstur .Singkapan batuan (%) td td td < 0.6 td td st. Evaluasi Sumberdaya Lahan 115 . k = kasar.5 20-35 8-16 r.Batuan di permukaan(%) .8-1.) Persyaratan Penqgunaan/ Karakteristik Lahan Temperatur (t) o .2 < 1.Bahan.Genangan Penyiapan Lahan (lp) .7-6.0-7.Bulan kering (bln) Kelembaban udara (%) Ketersediaan oksigen (o) .pH H20 S1 16-22 250-400 Kelas Kesesuaian Lahan S1 S1 13-16 / 22-28 4-13 / 28-35 S1 4 / 35 150 / 1000 200-250 / 400-600 150-200 / 600-1000 td 40-80 b. s td 5-15 5-15 td < 20 / > 90 t h 35-55 20-50 td < 20 < 5.7 / > 7.Drainase Media perakaran (r) . .Curah Hujan (mm) . ah < 15 > 75 >16 > 35 td td td > 1. Lobak (Raphanus astuvus L.6 .N-Total . c k > 55 < 20 td td td 6.5-4.5 < 20 <8 sr f0 <5 <5 td 20-40 / 80-90 s s 15-35 50-75 ≤ 16 20-35 td td td 0. sr = sangat rendah. ah = agak halus.8 4. at ak.0/7.0-7. r = rendah.5-7 35-50 16-30 b 15-40 15-25 td td td td >7 > 50 > 30 sb f2 >40 >25 st = sangat tinggi.Alkalinitas/ESP Bahaya erosi (e) .P2O5 .Lereng (%) .

Rome. R. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Costanza. International Workshop on Sustainable Land Management.). Daly. Subagjo. dan D. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. and John Wiley. S. J. Djaenudin. Bachri. VIII + 55h.Referensi REFERENSI Alexandratos. Indonesia. 1995. In: Environmentally Sustainable Economic Development. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol. The Organizing Committee. World Agriculture: towards 2010. dan N. Prospek dan Peluang Pengembangan Informasi Spasial Sumber Daya Alam Daerah dalam periode Pasca Proyek LREP II dan MREP di Daerah.18. Environment Working Paper No. Versi 3. R. R. Evaluasi Sumberdaya Lahan 117 .). World Bank. and Ofori. 1994. Wood.. and Dumanski. 1: Workshop Summary. 1999. Building on Bruntland. The Organizing Committee. Terminal report UNDP – FAO. (ed. 1991. _____. 46. 205-225. Agricultural Institute of Canada. C. Depar-temen Pertanian. 2000.C. Eswaran. In: Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. UK. An FAO study. Ottawa. Vol. (eds. N.C. pp. Chichester.). Suharta. Land resources evaluation with emphasis on the outer island. Anny Mulyani. Ottawa. Vol.. The Ecological Economics of Sustainability: Investing in Natural Capital. Anonymous. Pushparajah E. (eds. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. D. 1984. 2: Plenary Papers. FAO. Washington D. Iklim Sebagai Salah Satu Faktor Penentu Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Tanaman pangan Lahan Kering di Daerah Pantura Jawa Barat Bagian Timur. H. Goodland. S. J. Agricultural Institute of Canada. 17-18 Februari 1998. Lokakarya Pengintegrasian Pengelolaan Proyek LREP-MREP Ujung Pandang. Indicators and their Utilization in a Framework for Evaluation of Sustainable Land Management. Nomor 1. H. Rome. 1994. 1991. International Workshop on Sustainable Land Management.. Proceedings of the International Workshop on Sustainable Land Management for the 21st Century. 85 p. 1998. Dumanski. H. Djaenudin. and El Serafy. Marwan H.

Wageningen. FESLM: an international framework for evaluating sustainable land management. No. Land evaluation for forestry. Guidelines for land-use planning. Yogaswara.)). Soil Survey and Evaluation 6 (1): 9 – 19. 1999. A framework for land evaluation. UK. A framework for land evaluation. Harrington. 96 p.).J. Young (eds. Lima.C. Djaenudin. Hardjowigeno. dan S.). 22. Also. The sufficiency concept in land evaluation. Melitz. Rome. CIP. Karama. P. Peru. 1983. Rome.J.. Rome. ILRI. Publication 22. _____. The Netherlands. 1994. Rome. 1988. Rome. World Soil Resources Report 73.74 p Greenland. 1991. 1976. 1993a. and Dumanski. CAB International. Soils Bulletin 32. Yogyakarta. Development Series 1. 150 p. Unpub. 1994. 123 p.J. Penilaian Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Kacang Tanah Tingkat Semi Detil di Wilayah Propinsi D. Subagjo. D. 1984. J. Wageningen. Soils Bulletin 52. Lyman. CIPRockefeller Conference on Farmers and Food Systems. Operationalizing Sustainability: A Total Factor Productivity Approach. and Herdt. H. Soils Bulletin 58. FAO. _____. D. _____. (eds. Jones P. viii + 87 h.. IRLI Publ. World Bank. 118 Evaluasi Sumberdaya Lahan . Wallingford. 1996. Jurusan Tanah. J.I. 1993b. S. S. 1976.Referensi FAO. _____. Widiatmaka dan A. June. _____. Guidelines: land evaluation for rainfed agriculture. 129-140. (R. FAO. 1986. Smyth. Forestry Paper 48. Harijogjo. and Szabolcs. Guidelines: land evaluation for extensive grazing. 1977. Rome. and Winograd. IPB. L. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Tanah. 72 p. R.(eds. FAO. Fakultas Pertanian. paper given at Cali LQI workshop. 1994. A. M. FAO Soils Bulletin 32. 237 p. D. I. Land and Water Development Division. Risalah Seminar Nasional Prospek Pengem-bangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. Washington. Rome. Soil Resources Development and Conservation Services. _____. _____. FAO. FAO. Soil Resilience and Sustainable Land Use. FAO. A framework for land evaluation. Brinkman and A. Sense and Sensibility: Sustainability as an Objective in International Agricultural Research.

19-36.. International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC). 63 p. Environmental performance monitoring indicators. 74 p. and Sombroek.W. Wageningen. Requirement and Priciples For the implementation and construction of largescale geographi information system. Survei Sumberdaya Lahan Smith. Wageningen.J. 1977. R. Global extent of soil degradation. and Young.. A. Nairobi. 3 map sheets and explanatory note. pp.. 1991. 1995. The Netherlands.L. Menon. G. ISRIC. Washington D. PPPH dan Konservasi Alam O'Connor. 2nd revised ed. Rossiter.R. The Netherlands. 1994b. Int.A. and ISRIC. & S. FESLM: An international framework for evaluating Sustainable land management.L.Referensi Moore. Geogr. Dumanski. Hakkeling. Star. D. Measuring Progress. World Soil Resources Report 73.W. 103 h. Crop. W. 2000. World Bank. Paper given at IUCN 19th Session of the General Assembly. J. FAO. Pedoman Teknis Klasifikasi Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan. World Bank. of Soil. System 1 (1) : 13-31. J.. L. 1993. A. Puslittan. & Atmospheric Sciences. Wageningen.. In: Bi-annual Report 1991-1992.T. Sistem Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Uses of soil information system. Bie (eds.C. C. S. R. College of Agriculture & Life Sciences. D. Rome. J. 22-23 Sept. A User-Oriented Workshop. Pieri. Washington D. World Map of the Status of Human-induced Soil Degra-dation (GLASOD). Methodology for Soil Resource Inventories. Smyth. Lecture Notes: Land Evaluation. Oldeman. 1994. Cornell University. World Bank Discussion Paper 315. Dept. A. Buenos Aires. 1987.R. G. 1994. 18-26 Jan. Oldeman. 1992. Evaluasi Sumberdaya Lahan 119 . A.C. Towards Environmentally Sustainable Development.C. Nining Wahyuningsih. Centre for Agricultural Publishing and Documentation.C. 1994. J. Sitorus RPJ..). 1994a. & J. Land Quality Indicators. In: Monitoring Progress on Sustainable Development.G. Inform. UNEP. J. 1978.E Estes. Hamblin. 2003. Rossiter. O'Connor. and Dumanski. J. T.

Technical Monograph No. W. H dan IPG. Soil Buletin No. ILWIS. Widjaja Adhi. Soni Harsono. Deptan.A. Land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Constraints and Opportunities. Valenzuela. Stewart. Sombroek. FAO. J.H. constraints and future needs.R. G. CSIRO Symposium. R. Stewart (eds.Referensi Soepraptohardjo. 1975. Robinson (eds. Steele.). D. C. & G. 7. United Nations. 1 Soil Management Support Services. 1998. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Enschede. 120 Evaluasi Sumberdaya Lahan . 1995. ITC publ. Harian Kompas 15 Oktober 1995. IITA. M. Alih Fungsi Lahan Pertanian. Storie. New York. Velenzuela. 1993.R. Ssouth Melbourne. 1967. ILWIS. 1993. Dalam: A. Rome. Soil Survey Interpretation and its use.G. Macmillan of Australia. UNCED. 8.. Subagyo. Nigeria. 12-30. & A. Dalam: G. Agricultural use of the physical resources of Africa: achievements. Bogor.C h 7-14. Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. H 1-10. 294 p. Soil Research Institute.J. Agenda 21: Programme of Action for Sustainable Development. Land Evaluation. 1964. Land Evaluation. & FAO.A. Overview. pp. 69h. Iii + 31 h. Student Stors. Washington.G. Balitbang. Jakarta. C. UC Berkeley.M.). In: Sustainable Food Production in Sub-Saharan Africa 2. Meijerink. h 4-14. xviii + 225 h. 1988. Ibadan.E. 1968. Handbook of soil evaluation. Stewart (ed. No.). Assoc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful