Anda di halaman 1dari 3

Sejarah pergolakan dan perubahan sosial di banyak negara, mencatat peranan gerakan mahasiswa yang sangat menentukan.

Mereka tampil sebagai inspirator melalui gagasan dan tuntutannya. Mereka tampil sebagai garda-depan dengan keberaniannya dan senantiasa dikenang sebagai pahlawan melalui pengorbanannya. Catatan gerakan mahasiswa pun banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Di kawasan Eropa terjadi beberapa negara, yaitu: di Hungaria, revolusi menuntut kemerdekaan yang dimotori oleh Dewan Mahasiswa Revolusioner; di Yunani, mahasiswa berhadapan dengan rezim Papandreou menuntut Kebebasan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan HAM; dan peristiwa lain yang terjadi di Prancis dan Jerman. Di daerah Amerika, juga terjadi pergolakan-pergolakan yang dimotori mahasiswa, seperti di Paraguay, Kuba, Haiti, dll. Di benua afrika, terjadi revolusi Aljazair dan juga gerakan mahasiswa di Sudan. Sedangkan di Asia, terjadi di negara Turki dan Korea Selatan. Kunci kekuatan kaum pelajar dan mahasiswa adalah: (1) idealisme, (2) kecerdasan, (3) sikap kritis dan kepekaan sosial, (4) keberanian dan (5) pengorbanan. Siapapun yang mengkaji sejarah dakwah Islam yang dipimpin para Nabi, akan menemukan bahwa pemuda menjadi tulang-inti kekuatan perjuangan dakwah. Ini membuktikan kebenaran Al-Quran seperti pada QS. Ar-Ruum ayat 54 yang menempatkan masa muda sebagai masa kekuatan. Jika merujuk pada Al-Quran, banyak sekali kisah tentang para pemuda, seperti: sosok Ibrahim muda yang cerdas dan kritis terhadap kemapanan ideologi yang telah menyesatkan kaumnya; tengok juga Daud muda, yang merobiohkan tirani Jalut; tentang Ashabul-Ukhdud, sekumpulan pemuda yang berontak melawan kekuasaan kuffar di tengahtengah masyarakat; simak juga keberhasilan di tangan Yusuf muda yang menjadi menteri Mesir; dan akhirnya, sosok terbaik, Rasulullah Muhammad saw. yang sudah ikut perang Fujjar di usia 17 tahun. Pribadi-pribadi besar yang ditampilkan oleh Al-Quran ternyata memiliki keunggulan kepribadian yang bukan saja kuat, tetapi sangat dibutuhkan oleh zamannya. Inilah rahasia pertama kekuatan para pemuda. Selain keunggulan personal, Al-Quran juga menampilkan sisi kekuatan lain, yaitu keunggulan dalam mengorganisasi kekuatan. Sejumlah orang yang berkepribadian unggul, tidak akan mampu melakukan perubahan besar, manakala kekuatan kolektif mereka tidak terorganisir dengan efektif. Kisah Ashabul-Kahfi dalam Surah Al-Kahfi ayat 13 dan 14- meliputi contoh terbaik dalam membangun dan mengorganisasi kekuatan dakwah. Setidaknya ada lima faktor yang prinsipil dalam mengorganisir kekuatan perjuangan, yaitu: Faktor kekuatan asas perjuangan, yaitu Aamanuu bi-Rabbihim.

Faktor kekuatan konsep dan metode perjuangan, yaitu wa-Zidnaahum Hudaa. Faktor kekuatan persatuan, yaitu wa-Rabathna ala Quluubihim Faktor kekuatan sikap dan posisi perjuangan, yaitu idz-Qaamuu Faktor kekuatan Aksi dan Opini

Dakwah Thulabiyah adalah bagian internal dari dakwah Islam secara umum. Maka tujuannya pun sama dan sejalan dengan tujuan dakwah Islam. Tujuan dakwah Islam bisa dirumuskan sebagai berikut: Membangun kembali identitas Islam pada masyarakat muslim yang tercermin dalam keyakinan dan kepribadiannya sebagai Individu Muslim.

Merangkai kembali unsur-unsur persatuan, persaudaraan dan kekuatan Islam untuk membangun Ummatun Wahidah. Mengokohkan fikrah dan syariat Islam dalam semua sistem kehidupan umat untuk melahirkan Khairu Ummah. Mengembalikan peran umat sebagai guru dunia dan mercusuar peradaban umat manusia sehingga Islam menjadi Rahmatan Lil-Alamin.

Hal yang khusus dari dakwah thulabiyah adalah segmentasi unsur kekuatan yang dihimpunnya, yaitu kalangan pelajar dan mahasiswa. Segmen pelajar dan mahasiswa sebagai obyek dakwah, mengarahkan tujuan dan sasaran dakwah thulabiyah menjadi lebih spesifik. Dalam hal ini, kekhususan dakwah thulabiyah meliputi: Kekhususan segmentasi obyek dakwah secara sosio-demoggrafis; yaitu komunitas kaum muda, terdidi, idealis, dinamis, terbuka dan progresif.

Kekhususan wilayah akademik dan peran intelektualnya; yaitu komunitas yang bergumul dengan pemikiran, mengkritisi realitas sosial sebagai obyek kajian dan merespon dinamika kehidupan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekhususan peluang mobilitas vertikal dan horisontal dalam wilayah sosial, ekonomi dan politik; yaitu para pemuda dalam siklus hidupnya memiliki kesempatan dan kemampuan untuk bergerak di masyarakat bawah dalam bentuk

aktivitas pengabdian, bergerak ke lingkungan profesi dan pelaku ekonomi, serta bergerak ke lingkungan birokrasi dan organisasi politik. Dari rumusan tujuan ini maka sasaran operasional dakwah thulabiyah bisa dijabarkan sebagai berikut: Terbangunnya secara luas kesadaran dan pemahaman islam di kalangan masyarakat sekolah dan kampus.

Tersiapkannya kader-kader dakwah thulabiyah yang siap mengemban misi keilmuan, keintelektualan, dakwah dan peran-peran perubahan. Terbangunnya iklim kehidupan keilmuan dan kebebasan dakwah di sekolah dan kampus. Terdayagunakannya secara efektif dan efisien berbagai sarana untuk pengembangan dakwah, pembangunan pemikiran dan opini Islami, serta untuk penyadaran dan pendidikan politik masyarakat. Berkembangnya berbagai infrastruktur gerakan berupa lembaga atau unit kegiatan- untuk mengefektifkan wilayah penaruh dan memperbesar kekuatan perubah bagi misi dakwah Islam. Terbangunnya hubungan dan kerjasama dengan berbagai unsur yang memungkinkan bagi perwujudan sasaran-sasaran kerja di bidang keilmuwan, profesi, dakwah dan sosial-politik.

Mencermati tujuan dan sasaran dakwah yang besar ini, muncul pertanyaan kenapa amanah ini mesti diberikan kepada mereka?. Jawabannya, karena dalam diri mereka berhimpun berbagai unsur kekuatan yang dibutuhkan, yaitu: Kekuatan Pemuda (quwwatus-syabaab)

Memberi tanpa berpihak (atho bilaa tahazzub) Kelompok yang selalu bekerja (qaumun amaliyun) Pria dan Wanita (al-maratu war-rijal) Syura tanpa sikap diktator (syuro bilaa istibdaad) Bersifat internasional (alamiyyah)

Mata rantai medan dakwah thulabiyah diawali dari dakwah di tingkat SLTP. Dakwah di tingkat SLTP lebih diorientasikan pada penyiapan kader-kader awal Islam. Kemudian berlanjut dakwah di tingkat SLTA. Orientasi dakwah di SLTA akan mengarahkan bentuk aktivitas dakwah di SLTA tidak sebatas pada penyiapan atas pembinaan kader semata. Tetapi lebih jauh pada penyiapan organisasi dakwah yang kokoh dan pemberdayaan peran-peran sosial-kemasyarakatan. Setelah itu, maka berlanjut dakwah di Perguruan Tinggi. Aktivitas dakwah kampus adalah tiang bagi Amal Thulabi, puncak aktivitasnya dan medan yang paling banyak hasil dan pengaruh bagi masyarakat. Untuk itu, urgensi dakwah kampus sangat besar. Setelah di kampus, seperti dijelaskan di awal, bahwa dakwah thulabiyah bersifat intregratif dengan keseluruhan kerja harakah Islamiyah. Oleh karena itu, sebagai bagian dari kesinambungan gerak dan keterkaitan peran, amal thulabi mesti bersentuhan dengan aktivitas dakwah di berbagai institusi kemasyrakatan yang lain. Salah satu ciri utama dienul-islam adalah syumuliyah atau kemenyeluruhannya. Bahkan dalam syumuliyah al-Islam ada ciri takamuliyah atau keintegralan ajaran-ajarannya. Dakwah Islam, dengan demikian, adalah dakwah yang mesti bersifat syumuliyah dan takamuliyah. Prinsip-prinsip dalam manajemen dakwah: Prinsip satu visi dan misi

Prinsip keterikatan individu dengan tujuan bersama Prinsip satu kepemimpinan Prinsip kepemimpinan yang bertanggung jawab Prinsip rantai kepemimpinan Prinsip pembagian kerja Prinsip ketepatan dan ketetapan jabatan/tugas Prinsip kedisiplinan Prinsip sentralisasi dan otonomi Prinsip ketepatan/proporsionalitas

Prinsip obyektifitas Prinsip inisiatif dan konstruktuif Prinsip penghargaan Prinsip keprajuritan dan loyalitas

Tahapan manajemen dakwah: 1. Perencanaan (takhtith) 2. 3. 4. Pengorganisasian (tanzhim) Pengarahan dan dorongan (taujih dan tahfidz) Kontrol dan Evaluasi (muraqabah dan muhasabah)

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah adalah contoh manajemen dakwah yang luar biasa, yang mencakup aspek perencanaan yang dalam, pengorganisasian yang rapi, pengendalian yang cermat, dan evaluasi yang komprehensif. Hasilnya? Manajemen yang efektif dalam hijrah, menghasilkan perubahan monumental dalam sejarah dakwah Islam pertama.