Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1 % penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki biasanya antara 15-25 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi. (Amir, 2010) Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka berada dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama dalam fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala penyakit biasanya terlihat jelas oleh orang lain. (Amir, 2010) Di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia seumur hidup dilaporkan secara bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 %; konsisten dengan angka tersebut, penelitian Epidemological Catchment Area (ECA) yang disponsori oleh National Institue of Mental Helath (NIHM) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 1,3 %. (Kaplan dkk, 1997) Skizofrenia adalah sama-sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi, dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Lakilaki mempunyai onset lebih awal daripada wanita. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun; untuk wanita usia puncak adalah 25 sampai 35 tahun. Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang. (Kaplan dkk, 1997)

1.2

Tujuan 1. Untuk menambah wawasan Mahasiswa tentang gangguan psikotik khususnya skizofrenia katatonik . 2. Untuk meningkatkan keterampilan Mahasiswa tentang bagaimana cara memberikan pelayanan keperawatan kepada klien.

3.

Untuk memudahkan Mahasiswa dalam proses belajar mengajar pada mata kuliah keperawatan jiwa.

1.3

Manfaat 1. Dengan memahami isi makalah berarti mahasiswa akan dapat mengetahui apa dan bagaimana skizofrenia katatonik . 2. Mahasiswa akan mengetahui bagaimana gangguan psikotik khususnya skizofrenia katatonik . 3. Mahasiswa akan mengetahui bagaimana peran perawat dalam penanganan klien dengan skizofrenia katatonik .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Skizofrenia katatonik dapat dimanifestasikan dalam bentuk stupor (ditandai dengan retardasi psikomotor, mutisme, kelakuan seperti lilin (postur), negativisme, regiditas atau kegaduhan (legitasi psikomotor yang ekstrim yang dapat menyebabkan kelelahan atau kemungkinan melukai diri sendiri/orang lain bila tidak segera ditanggulangi. (Maramis, 2004) Skizofrenia katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolic, alcohol obat-obatan serta dapat juga terjadi gangguan afektif. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk untuk mendiagnosa shizofrenia. Timbulnya pertama kali antara umur 15 30 tahun biasanya akut serta sering didahului stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik. (Maramis, 2004)

2.2

Tanda dan Gejala Ciri utama pada Skizofrenia tipe katatonik adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik, aktivitas motor yang berlebihan, sama sekali tidak mau berbicara, gerakan-gerakan yang tak terkendali, mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang lain (echopraxia). Tanda dan gejala nya juga dapat berupa :

1.

Gaduh gelisah katatonik : Terdapat hiperaktifitas motorik tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Klien terus berbicara atau bergerak dan menunjukan steroitipi, manerisme, grimas,Mologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum, sehingga mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps atau kadang-kadang terjadi kematian (kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat penyakit badaniah : jantung, paru-paru dan sebagainya). Seorang yang mulai membaik pada shizofrenia gaduh gelisah katatonik berulang-ulang minta dipulangkan dari Rumah

Sakit. Pikiran ini diantaranya melalui berbagai macam cara, sehingga sudah merupakan perceivable. 2. Stupor katatonik : Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkungan. Emosinya seperti dangkal. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti : a. b. c. Mutisme kadang-kadang dengan mata tertutup. Muka tanpa mimik seperti topeng. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari, kadang-kadang sampai beberapa bulan. d. e. Bila diganti posisinya penderita ditantang : Negativisme. Makanan ditolak , air ludah tidak ditelan, sehingga terkumpul didalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan dejection ditahan. f. Terdapat grimas dan katalepsi. Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.

2.3

Etiologi Etiologi skizofrenia katatonik kurang lebih sama dengan etiologi kizofrenia pada umumnya yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Keturunan Sistem endokrin Sistem metabolism Susunan saraf pusat Teori Adolf Meyer Teori Sigmund Freud Eugen Bleuler Shizofrenia sebagai satu sindroma Shizofrenia suatu gangguan psikosomatik. (Hawari, 2009)

2.4

Prognosis Secara umum prognosis untuk skizofrenia katatonik mempertimbangkan hal-hal berikut :

1. 2. 3.

Kepribadian pre psikotik Timbulnya serangan shizofrenia akut lebih baik Jenis-jenis shizofrenia : jenis hebefrenik dan simpleks sama jeleknya, penderita menuju kearah kemunduran mental.

4. 5. 6. 7.

Umur :makin muda prognosis makin jelek Pengobatan makin cepat makin baik Fakktor pencetus : adanya bourgeois pencetus lebih baik Keturunan : dalam keluarga ada penderita lebih jelek. (Maslim, 2002)

2.5

Diagnosis Skizofrenia Katatonik Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia katatonik, pedoman diagnostiknya sebagai berikut :

1. 2.

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia. Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya : (a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara) (b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal ) (c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh) (d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakan kearah yang berlawanan) (e) Rigiditas ( mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakkan dirinya) (f) Fleksibilitas cerea/ waxy flexibility ( mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar), dan

(g)

Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimatkalimat.

3.

Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi gangguan afektif. (Maslim, 2002)

2.6

Pengobatan Prinsip pengobatan skizofrenia katatonik sama pengobatan skizofrenia secara umum yaitu : 1. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Farmakoterapi NAMA GENERIK Clorpromazine Haloperidol Perfenazin Flufenazin Risperidon Pimozid Sulpirid Tioridazin Trifluperazin Levomeprazin Flufenazin dekanoat SEDIAAN Tablet 25 dan 100 mg, injeksi 50 mg/ml Tablet 0,5 mg, 1,5 mg,5 mg Injeksi 5 mg/ml Tablet 2, 4, 8 mg Tablet 2,5 mg, 5 mg Tablet 1, 2, 3 mg Tablet 1 dan 4 mg Tablet 200 mg Injeksi 50 mg/ml Tablet 50 dan 100 mg Tablet 1 mg dan 5 mg Tablet 25 mg Injeksi 25 mg/ml Inj 25 mg/ml DOSIS ANJURAN 150 - 600 mg/hari 5 - 15 mg/hari 12 - 24 mg/hari 10 - 15 mg/hari 2 - 6 mg/hari 1 - 4 mg/hari 300 - 600 mg/hari 1 4 mg/hari 150 - 600 mg/hari 10 - 15 mg/hari 25 - 50 mg/hari 25 mg/2-4 minggu

Tabel 1 : Daftar nama obat generik,sediaan serta dosis anjurannya.(dikutip dari kepustakaan 7)

Pemilihan obat antipsikosis didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu :

Pada dasarnya semua obat antipsikosis mempunyai efek primer yang sama pada dosis ekivalen. Perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping : sedasi,

otonomik dan ekstrapiramidal) Pemilihan jenis obat mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya, jenis obat tertentu sudah terbukti efektif dan dapat ditolelir dengan baik, efek sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Apabila gejala negatif lebih menonjol dari pada gejala positif, pilihan antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan.

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan :

Onset efek primer (klinis) sekitar 2-4 minggu dan efek sekunder sekitar 2-6 jam Waktu paruh 12-14 jam (pemberian obat 1-2x/hari) Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping (dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien.

2. 3.

Terapi elektorkonvulsi Psikoterapi dan rehabilitasi (suportif) Psikoventilasi : Pasien dibimbing untuk menceritakan segala permasalahannya, apa yang menjadi kekhawatiran pasien kepada therapist, sehingga therapist dapat memberikan problem solving yang baik dan mengetahui antisipasi pasien dari faktor faktor pencetus. Persuasi : Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol dan minum obat dengan rutin. Sugesti : Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh (penyakit terkontrol). Desensitisasi : Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di dalam lingkungan kerja untuk meningkatkan kepercayaan diri. (Ritonga, SR)

4.

Sosioterapi : Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya sehingga tercipta dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif untuk membantu proses penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala. (Ritonga, SR) Hobotomi pre frontal. (Maslim, 2002)

BAB III PEMBAHASAN

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi berbagai fungsi individu, seperti afeksi dan kognitif. Penderita Skizofrenia juga dapat digolongkan dalam beberapa jenis berdasarkan gejala khas yang paling dominan. Tiap jenis selalu ditandai dengan gejala positif dan negatif yang berbeda porsinya. Gejala positif adalah penambahan dari fungsi normal, contohnya halusinasi yaitu persepsi panca indera yang tidak sesuai kenyataan. Sedangkan gejala negatif berarti pengurangan dari fungsi normal seperti kehilangan minat dan menarik diri dari lingkungan sosial. Hingga saat ini penyebab utama Skizofrenia masih menjadi perdebatan di kalangan ahli psikiatri maupun psikologi. Karna itu untuk dapat memahaminya diperlukan multiperspekif yaitu dari sisi biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

4.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA

Amir N. Skizofrenia. In : Elvira S.D, Hadisukanto G Editors. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta; Badan Penerbit FKUI. 2010. p. 170-176. Hawari, dadang, 2009, Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia,Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Kaplan, Sadock, Grebb. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Prilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu 7th ed. Jakarta; Binarupa Aksara, 1997 Maslim, Rusdi. 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ-III. Jakarta: departemen kesehatan RI.

http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-katatonik.htm, diakses pada tanggal 21 Februari 2013

http://www.vdshared.com/kesehatan/34-dunia-manusia/111-jenis-jenis-skizofrenia.html, diakses pada tanggal 21 Februari 2013

http://www.scribd.com/doc/78309802/TIPE-skizofrenia, diakses pada tanggal 20 Februari 2013

Ritonga S.R. Terapi Efektif untuk Skizofrenia katatonik. Available from url : http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Terapi+Efektif+untuk+Skizofrenia+kata tonik

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32884/4/Chapter%20II.pdf, diakses pada tanggal 20 Februari 2013

http://repository.upi.edu/operator/upload/s_psi_0704949_chapter2.pdf, tanggal 21 Februari 2013

diakses

pada