Anda di halaman 1dari 4

Sisi Negatif dari Pembentukan RSBI dan SBI

SEBAGAIMANA yang diamanahkan oleh pemerintah dalam UUD 1945 pada pasal 31 yang menyatakan, pertama, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Kedua, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ketiga, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan iman dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal tersebut seakan terlihat jelas bahwa pendidikan wajib diikuti oleh semua bangsa tanpa diskriminasi di dalamnya. Jika kita lihat berita yang mengejutkan pendidikan nasional baru-baru ini tentang keputusan MK yang menghapuskan RSBI dan SBI, tentu timbul pelbagai pertanyaan. Apakah pendirian RSBI dan SBI masih layak diterapkan di Indonesia dengan mengacu pada pasal 31 tersebut? Kita bisa analisis dengan berbagai argumen dan fakta yang ada. RSBI dan SBI pada awalnya terbentuk ketika keluarnya Pasal 50 ayat 3 UU No 20 tahun 2003. Pada tujuannya, RSBI dan SBI adalah bagus. Pemerintah melalui Kemendikbud menginginkan pendidikan di Indonesia bisa setara dengan negara lain. RSBI dan SBI pun menjamin kualitas pendidikannya karena didukung dengan kurikulum bertaraf Internasional dan fasilitas yang lengkap. Seiring berjalan berjalannya waktu, penulis melihat bahwa lahir dampak negatif dari pendirian RSBI dan SBI bagi pendidikan nasional. Dampak negatif tersebut antara lain adalah, pertama, terjadi jurang pemisah antara siswa yang memiliki ekonomi ke atas dan siswa miskin. Pasalnya siswa miskin sulit menikmati pendidikan di RSBI dan SBI karena biayanya sangat tinggi. Kedua, tergerusnya rasa nasionalisme. Keharusan menggunakan bilingual bahasa Indonesia dan Inggris secara perlahan akan membuat nasionalisme bangsa melalui bahasa Indonesia berkurang karena jarang dipakai lagi. Ketiga, penghapusan bahasa daerah akan melunturkan budaya bangsa, karena para pelajar nantinya bisa lupa dengan budaya dan bahasa daerahnya sendiri.

Kebijakan Tanpa Kesiapan lapangan Pemerintah melalui Direktorat pendidikan nasional hanya menjalankan apa yang sudah ditetapkan UU tanpa kesiapan lapangan. Kebijakan pembentukan RSBI dan SBI yang dibuat pemerintah dengan kurangnya kesiapan lapangan tersebut ternyata berimplikasi kurang efektif bagi pembentukan RSBI dan SBI. Penulis mencatat ada beberapa ketidakefektifan dari kebijakan pembentukan RSBI dan SBI tersebut. Pertama, dalam UU yang ada bahwa setiap kota dan kabupaten harus memiliki minimal satu RSBI dan SBI. Tentu kebijakan ini seolah memaksakan bagi kota dan kabupaten yang ada di Indonesia. Bisa kita lihat ketika kota dan kabupaten yang memiliki ekonomi terbelakang, tentu kebijakan ini akan mempengaruhi pendidikan di kota dan kabupaten tersebut. Takutnya

dengan UU tersebut, kota dan kabupaten tidak terlalu siap untuk menyiapkan RSBI dan SBI. Jika terbentuknya RSBI dan SBI hanya dilakukan asal-asalan, tentu ini akan mempengaruhi kualitas RSBI dan SBI tersebut. Bisa jadi kualitas RSBI dan SBI yang ada di kota dan kabupaten tersebut masih kalah dengan kualitas sekolah reguler biasa yang ada di kota-kota besar yang notabene memiliki ekonomi yang sangat baik. Kedua, terlihatnya pemanfaatan yang didapat dari dana orang tua siswa. Salah satu pemanfaatan dana tersebut adalah uang transpor kepada sekolah dan guru yang notabene adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang sudah mendapatkan gaji cukup dan tunjangan yang cukup besar pula. Kemudian tentang dari dana yang disubsidi oleh pemerintah kepada RSBI dan SBI habis dengan begitu saja namun tidak sejalan dengan program sekolah. Kita bisa lihat program liburan para guru dan staf sekolah ke keluar negeri setiap tahun. Dana yang mereka pakai untuk liburan pun patut kita pertanyakan. Apakah murni dari kantong mereka atau memakai dana sisa subsidi sekolah. Inti dari duduk perkara ini, penghapusan RSBI dan SBI harus kita sambut dengan bahagia bahwa dunia pendidikan kita akhirnya tidak memiliki garis pemisah antara si kaya dan si miskin kembali. Dan siswa yang tidak mampu bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan siswa yang lainnya.

Keberadaan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), yang diamanatkan dalam Pasal 50 ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) digugat sejumlah perwakilan masyarakat ke Mahkamah Konstitusi (MK) akhir Januari lalu. Tidak sedikit pula masyarakat yang memberikan cibiran, walaupun RSBI telah berlangsung lima tahun. Gugatan atau cibiran terhadap keberadaan RSBI bukan tanpa dasar. Mereka melihat bahwa hasil lulusan RSBI tidak beda dengan sekolah tersebut ketika masih menyandang sekolah standar nasional (SSN). Dasar lainya adalah besarnya biaya penyelenggaraan pendidikan RSBI. Biaya sekolah di RSBI memang tidak murah untuk ukuran kebanyakan masyarakat di negeri ini. Pada jenjang SMP, orang tua siswa bisa dikenai pungutan hingga jutaan rupiah, sedangkan SPP bisa di atas Rp. 250.000 per bulan. Pada hal, bila bersekolah di SMP negeri non RSBI, semua serba gratis. Tidak ada uang masuk atau uang gedung, begitu pula tidak ada SPP atau uang buku. Semua sudah ditutupi oleh program biaya operasional sekolah (BOS). Masyarakat harus merogoh kantong lebih dalam bila anaknya memilih melanjutkan ke SMP/SMA berstatus RSBI. Oleh karena itu, tidak salah kalau dikatakan RSBI = Sekolah Bertarif Internasional. Biaya tinggi agar diterima di RSBI telah menyebabkan anak dari keluarga miskin tidak mampu bersekolah di RSBI. Walaupun dalam ketentuan telah diatur, siswa berprestasi dari kelangan keluarga miskin/kurang mampu diakomudir 20 % untuk bisa masuk di RSBI. Namun aturan ini tidak seindah seperti yang diharapkan, siswa berprestasi dari kalangan keluarga miskin tidak selamanya bisa diterima oleh pihak penyelenggara RSBI. Disamping itu, mereka juga harus menanggung beban pisikologis bila melanjutkan sekolah di RSBI. Di sana mereka akan bergaul dengan siswa dari kalangan kaya/mampu dan elit. Dalam penyelenggaraan atau pengelolaan pendidikan, pemerintah memberikan perlakuan

yang berbeda. Peserta didik yang bersekolah di RSBI mendapat perlakuan lebih/istimewa. Sedangkan perlakuan istimewa tidak diberikan kepada siswa yang bersekolah di sekolah non RSBI. Berdasarkan atas kenyataan itu, RSBI sesungguhnya telah menimbulkan diskriminasi dan kastanisasi dalam dunia pendidikan.

Belum lagi reda debat tentang Kurikulum 2013, kini dunia pendidikan dihebohkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang memvonis bahwa proyek Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dan Sekolah Bertaraf Internasional bertentangan dengan UUD 1945. Kedua perkara itu menarik perhatian masyarakat luas terutama karena nalarnya dinilai tidak nyambung dan bertentangan dengan pemahaman umum tentang tujuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Salah satu di antara banyak pokok keberatan, baik terhadap Kurikulum 2013 maupun proyek RSBI/SBI, meskipun dimaksudkan untuk peningkatan kualitas, pada praktiknya penghapusan bahasa daerah dan penggunaan bahasa Inggris justru dinilai melemahkan jati diri bangsa. Proyek pembuangan Kritik lain terhadap proyek RSBI/SBI, yang lantas menjadikan sekolah eksklusif dan mahal, adalah melahirkan diskriminasi kaya-miskin dan meniadakan kewajiban negara menyelenggarakan pendidikan bermutu bagi seluruh warga negara. Kehebohan ini untuk kesekian kali membuktikan bahwa pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tampaknya tak paham tentang arti dan tujuan pendidikan, apalagi dalam hubungannya dengan kebudayaan. Lahirnya berbagai keputusan yang aneh itu juga menunjukkan bahwa mereka tak paham fungsi Kemdikbud. Satu-satunya hal yang mereka pahami tampaknya adalah bahwa ada dana triliunan rupiah yang harus segera digelontorkan. Untuk itu, dibuatlah berbagai program sebagai proyek pembuangan uang. Diberitakan, dalam kurun 2006-2010, Kemdikbud telah menyubsidi 1.172 RSBI/SBI dengan dana Rp 11,2 triliun! Proyek itu juga menyedot dana yang tak sedikit dari pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk itu, kiranya Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi segera mengusut peruntukan dan aliran seluruh dana itu, serta menghukum berat para koruptor apabila ternyata mereka berpesta pora dalam proyek itu. Hakim konstitusi Akil Mochtar seusai persidangan di Gedung Mahkamah Konstitusi pada 8 Januari lalu tegas mengisyaratkan bahwa kehadiran Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dijadikan payung hukum bagi proyek RSBI/SBI terkesan dipaksakan. Undang-Undang Sisdiknas itu tidak memberikan penjelasan, tiba-tiba pasal itu muncul begitu saja sehingga (harus) dibatalkan, kata Akil. Jadi, keberadaan norma dalam pasal itu tak memiliki penjelasan dalam pasal-pasal sebelumnya. Fakta adanya pasal siluman ini

mengingatkan pada berbagai modus kongkalikong antara eksekutif dan legislatif dalam sejumlah kasus korupsi. KPK harus turun tangan. Rakyat sudah letih Setelah MK menyatakan RSBI/SBI inkonstitusional dan harus dibubarkan, Mendikbud M Nuh secara normatif menyatakan menghormati dan akan melaksanakan keputusan MK. Namun, pada saat yang sama, ia menyerukan agar para guru dan siswa RSBI/SBI tetap berkegiatan seperti biasa. Hal serupa dinyatakannya terhadap keputusan Mahkamah Agung beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa ujian nasional harus dihentikan. Namun, hingga kini ia berkeras menyelenggarakan ujian nasionalsuatu hal yang menunjukkan pembangkangan hukum. Semua kemelut itu, selain membingungkan dan menyedihkan, bisa dimaklumi jika juga membangkitkan rasa apatis sekaligus amarah publik. Hendak dididik jadi apa sebenarnya bangsa kita? Sudah 67 tahun merdeka, tetapi pemerintah tak juga mampu merumuskan dan membuat desain besar pendidikan bangsa yang jelas, bernas, dan holistik. Sebuah kebijakan pendidikan yang bisa dipahami akal sehat dan mudah dilaksanakan di lapangan di semua unit pendidikan serta adil bagi seluruh rakyat. Rakyat sudah letih menjadi bangsa pariah dunia yang moralnya ambruk oleh semeru korupsi, yang pemerintahannya begitu lemah tanpa visi, yang kementerian pendidikannya begitu limbung tanpa arah. Kerusakan bangsa ini hanya bisa dihentikan jika, pertama-tama, Kemdikbud dan Kementerian Agama yang juga menangani institusi pendidikan sebagai mercusuar intelektualitas dan moralitas berhenti menjadi sarang koruptor. Kedua, Kemdikbud dan Kementerian Agama harus mengibarkan visi membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak mulia, dan kukuh jati diri; serta misi membangun lembaga pendidikan nasional yang membuat anak didik bahagia belajar dan cinta belajar sepanjang hayat. Ketiga, semua pihak harus sadar bahwa semua itu tak akan mewujud jika tak dimulai dengan penanganan ekstra serius terhadap pendidikan anak usia dini!