Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kelangsungan hidup sel tumbuhan bergantung pada kemampuannya untuk menyeimbangkan pengambilan dan pengeluaran air. Pengambilan atau pengeluaran air oleh suatu sel terjadi melalui osmosis, yaitu transpor pasif air melewati membran semipermeabel. Dalam kasus sel hewan, sudah cukup bagi kita jika kita tahu apakah larutan ekstraseluler itu hipotonik atau hipertonik terhadap cairan sel; air akan bergerak akibat osmosis dari arah hipotonik ke hipertonik. Akan tetapi dalam kasus sel tumbuhan, kehadiran dinding sel menjadi faktor kedua yang mempengaruhi osmosis tersebut. Pengaruh gabungan dari kedua faktor ini konsentrasi zat terlarut dan tekanandisebut potensial air, disingkat dengan PA atau dengan huruf Yunani (psi). Hal yang paling penting yang harus dipelajari adalah bahwa air akan bergerak melewati membran dari larutan dengan PA yang lebih tinggi ke larutan dengan PA lebih rendah. Komponen potensial dalam potensial air mengacu pada energi potensial, yaitu kapasitas untuk melakukan kerja ketika air bergerak dari daerah dengan PA lebih tinggi ke daerah dengan PA lebih rendah (Ismail, 2006). Peranan air sebagai pelarut ini penting sekali artinya bagi kehidupan tumbuhan. Struktur molekul protein dan asam nukleat dapat berlangsung karena adanya air di sekitarnya. Potensial osmotik suatu larutan lebih menyatakan status larutan yang dinyatakan dalam satuan konsentrasi, satuan tekanan atau satuan energi. Potensial osmotik air murni memiliki nilai = 0, sehingga jika digunakan satuan tekanan maka nilainya menjadi 0 atm atau 0 bar. Potensial osmotik cairan sel dapat diukur dengan mudah bila nilai potensial tekanan cairan sel sama dengan nol, yaitu pada saat sel mengalami plasmolisis. Pada proses plasmolisis dikenal istilah plasmolisis insipien yaitu kondisi dimana protoplasma hampir terlepas dari dinding sel. Volume sel yang mengalami plasmolisis sama dengan palsmolisis yang mengalami plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien dapat ditentukan dengan melihat jumlah sel yang terplasmolisis dari populasi sel yang teramati.
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 1

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan percobaan Penentuan Potensial Air Jaringan Tumbuhan ini, dimana jaringan tumbuhan yang akan digunakan adalah umbi lapis bawang merah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase sel yang terplasmolisis? 2. Berapakah konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami plasmolisis? 3. Bagaimanakah cara menghitung tekanan osmosis sel cairan sel dengan metoda plasmolisis? C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat diketahui tujuan dari percobaan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel adalah sebagai berikut :
1. Untuk menjelaskan

pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap

prosentase sel yang terplasmolisis. 2. Untuk mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami plasmolisis 3. Untuk menghitung tekanan osmosis sel cairan sel dengan metoda plasmolisis.

BAB II
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 2

KAJIAN PUSTAKA Dalam tanah dan tubuh tumbuhan tingkah laku dan pergerakan air didasarkan atas suatu hubungan energi potensial. Air mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja, yaitu akan bergerak dari daerah dengan energi potensial tinggi ke daerah dengan energi potensial rendah. Energi potensial dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energi potensial air murni. Secara kimia, air dalam tumbuhan dan tanah biasanya tidak murni itu disebabkan oleh adanya bahan terlarut dan secara fisik dibatasi oleh berbagai gaya, seperti gaya tarik-menarik yang berlawanan, gravitasi, dan tekanan. Maka dari itu energi potensialnya lebih kecil dari pada energi potensial air murni (Gardner, 1991). Potensial Air merupakan energi yang dimiliki air untuk bergerak atau untuk mengadakan reaksi. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat kemampuan molekulmolekul air untuk melakukan difusi. Pada potensial air, air bergerak dari potensial tinggi ke potensial rendah (dari larutan encer ke larutan pekat, larutan encer lebih banyak mengandung air daripada larutan pekat). Dalam fisiologi tumbuhan, potensial kimia air atau potensial air (PA) merupakan konsep yang sangat penting. Ralph O. Slatyer (Australia) dan Sterling A Taylor (Utah State University) pada tahun 1960, mengusulkan bahwa potensial air digunakan sebagai dasar untuk sifat air dalam sistem tumbuhan-tanah-udara. Potensial air merupakan sesuatu yang sama dengan potensial kimia air dalam suatu sistem, dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa PA air murni dinyatakan sebagai (0) nol (merupakan konvensi) dengan satuan dapat berupa tekanan (atm, bar) atau satuan energi. Difusi air melintasi membran semipermeabel dinamakan osmosis. Molekul air dapat berdifusi secara bebas melintasi membran, dari larutan dengan gradien konsentrasi larutan rendah ke larutan dengan gradien konsentrasi larutan tinggi (Ismail, 2006). Status energi bebas air adalah suatu pernyataan Potensial air, suatu ukuran daya yang menyebabkan air bergerak kedalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, jaringan tumbuhan, tanah atau atmosfir, atau suatu bagian dari bagian lain dalam suatu sistem. (Ismail, 2009). Osmosis merupakan difusi air yang melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana air lebih banyak ke daerah yang lebih sedikit . Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air , yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 3

dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi yang sama. Energi bebas zuatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang berpotensial kimia lebih kecil (Ismail, 2006). Osmosis adalah difusi melalui membran semipermeabel. Contoh proses osmosis adalah masuknya larutan ke dalam sel-sel endodermis. Dalam tubuh organisme multiseluler, air bergerak dari satu sel ke sel lainnya dengan bebas. Selain air, molekul-molekul yang berukuran kecil seperti O2 dan CO2 juga mudah melewati membran sel. Molekul-molekul tersebut akan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Jika telah mencapai keseimbangan konsentrasi zat di kedua sisi membran maka proses osmosis akan berhenti. (Anonim, 2009). Struktur dinding sel dan membran sel berbeda. Membran memungkinkan molekul air melintas lebih cepat daripada unsur terlarut; dinding sel primer biasanya sangat permeable terhadap keduanya. Memang membran sel tumbuhan memungkinkan berlangsungnya osmosis, tapi dinding sel yang tegar itulah yang menimbulkan tekanan. Sel hewan tidak mempunyai dinding, sehingga bila timbul tekanan didalamnya, sel tersebut sering pecah, seperti yang terjadi saat sel darah merah dimasukkan dalam air. Sel yang turgid banyak berperan dalam menegakkantumbuhan yang tidak berkayu (Salisbury, 1995). Prinsip osmosis: transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensi rendah) solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hypertonic solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti, atau malah berbalik arah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press.Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi. Komponen solvent murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponenberkandunagn solut tinggi memiliki entropi yg tinggi juga. Mengikuti Hukum Termo II: setiap perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi maksimum, maka solvent akan mengalir menuju tempat yg mengandung solut lebih banyak, sehingga total entropi akhir yang diperoleh akan maksimum. Solvent akan kehilangan entropi, dan solut akan menyerap entropi. "Orang miskin akan semakin miskin, sedang yang kaya akan semakin kaya". Saat kesetimbangan tercapai, entropi akan maksimum,
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 4

atau gradien (perubahan entropi terhadap waktu) = 0. Ingat: pada titik ekstrim, dS/dt=0 (Wibosono, 2009). Plasmolisis adalah suatu proses lepasnya protoplasma dari dinding sel yang diakibatkan keluarnya sebagian air dari vakuola (Salisbury and Ross, 1992). Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Sel daun Rhoeo discoloryang dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-benang protoplasme yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah (Salisbury, 1995). Keadaan volume vakuola dapat untuk menahan protoplsma agar tetap menempel pada dinding sel sehingga kehilangan sedikit air saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari dinding sel. Peristiwa plasmolisis seperti ini disebut plasmolisis insipien. Plasmolisis insipien terjadi pada jaringan yang separuh jumlahnya selnya mengalami plasmolisis. Hal ini terjadi karena tekanan di dalam sel = 0. potensial osmotik larutan penyebab plasmolisis insipien setara dengan potensial osmotik di dalam sel setelah keseimbangan dengan larutan tercapai (Salisbury and Ross, 1992).

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 5

BAB III METODE PERCOBAAN A. Jenis Penelitian


Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 6

Jenis penelitian pada percobaan Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel ini adalah eksperimental.
B. Variabel-Variabel

Variabel-variabel dalam percobaan Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel ini adalah sebagai berkut :
1. Variabel Kontrol

: Jenis umbi lapis bawang merah, Jumlah

sayatan umbi lapis bawang merah, waktu perendaman.


2. Variabel Manipulasi 3. Variabel Respon

: Konsentrasi larutan sukrosa : Jumlah sel yang terplasmolisis, prosentase sel

yang terplasmolisis, nilai potensial osmotik cairan sel. C. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel ini adalah sebagai berikut : 1. Umbi lapis bawang merah yang jaringan epidermisnya mengandung cairan sel yang berwarna 2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M ; 0,26 M ; 0,24 M ; 0,22 M ; 0,20 M ; 0,18 M ; 0,16 M dan 0,14 M 3. Mikroskop 4. Kaca arloji atau cawan petri 8 buah 5. Kaca benda dan kaca penutup
6. Pisau silet, pipet

7. Gelas beaker 100 ml D. Langkah Kerja

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 7

1. Siapkan 8 buah kaca arloji, isi masing-masing dengan 5 ml larutan sukrosa yang telah disediakan dan diberi label pada masing-masing kaca arloji berdasarkan konsentrasi larutan. 2. Ambil umbi lapis bawang merah, kemudian sayatlah lapisan epidermis yang berwarna dengan pisau atau silet. Usahakan hanya menyayat selapis sel.
3. Rendamlah sayatan-sayatan epidermis tersebut pada kaca arloji yang sudah berisi

larutan sukrosa dengan konsentrasi tertentu. Setiap konsentrasi diisi dengan jumlah sayatan yang sama. Catat waktu mulai perendamannya. 4. Setelah 30 menit, sayatan diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop 5. Hitung jumlah seluruh sel pada satu lapang pandang, jumlah sel yang terplasmmolisis dan prosentase jumlah sel terplasmolisis terhadap jumlah sel seluruhnya.
E. Desain Percobaan

5 ml sukrosa 0,28 M 5 ml sukrosa 0,26 M 5 ml sukrosa 0,24 M 5 ml sukrosa 0,22 M 5 ml sukrosa 0,20 M 5 ml sukrosa 0,18 M 5 ml sukrosa 0,14 M 5 ml sukrosa 0,12 M Mikroskop BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah dan Prosentase Sel yang Terplasmolisis Masingmasing dimasukkan ke dalam 8 kaca arloji Kaca arloji 8 buah Dimasukkan

Catat waktu (30 menit)

Sayatan epidermis dengan jumlah sayatan yang sama

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 8

A. DATA Tabel 4.1 : Hasil Pengamatan Pengaruh Konsentrasi Larutan Sukrosa Terhadap Sel Umbi Lapis Bawang Merah yang Terplasmolisis. Konsentrasi Sukrosa (M) 0,28 0,26 0,24 0,22 0,20 0,18 0,16 0,14 Sel Awal (sel) 332 220 272 344 228 261 192 95 Sel Terplasmolisis (sel) 123 80 80 100 44 40 24 10 % Sel Terplasmolisis 37,0 36,4 29,4 29 19,3 15,3 12,5 10,5

Keterangan : % sel terplasmolisis faktor 2 B. GRAFIK

C. ANALISIS DATA Berdasarkan data dari tabel dan grafik 4.1 di atas, dapat diketahui bahwa besarnya konsentrasi larutan sukrosa berpengaruh terhadap prosentase sel umbi lapis
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 9

bawang merah yang terplasmolisis. Pada larutan sukrosa konsentrasi 0,28 M, sel yang terplasmolisis sebesar 37% dengan pemfaktoran 2 sebesar 74%. Larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,26 M, dapat ditemukan sel yang terplasmolisis sebesar 36,4% dengan pemfaktoran 2 sebesar 72,8%. Sedangkan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M; 0,16; dan 0,14 ditemukan sel yang terplasmolisis berturut-turut sebesar 29, 4% dengan pemfaktoran 2 sebesar 58,8%, 29% dengan pemfaktoran 2 sebesar 58%, 19,3% dengan pemfaktoran 2 sebesar 38,6%, 15,3% dengan pemfaktoran 2 sebesar 30,6% 12,5% dengan pemfaktoran 2 sebesar 25%, dan 10,5% dengan pemfaktoran 2 sebesar 10,5%. Selain itu, berdasarkan grafik 4.1 dapat diketahui pula bahwa sel terplasmolisis yang memiliki prosentase sebesar 50% adalah larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,21M. D. PEMBAHASAN Pada saat epidermis umbi lapis bawang merah disayat, dijumpai sel berwarna merah keunguan pada sel-sel umbi lapis bawang merah. Hal ini disebabkan kondisi sel saat itu adalah dalam keadaan isotonis. Karena kondisi isotonis ini, maka kondisi air dan tekanan juga stabil dan mengakibatkan pigmen warna terjaga kondisinya dan berwarna merah keunguan. Setelah sayatan-sayatan umbi lapis bawang merah dimasukkan ke dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,28 M; 0,26 M; 0,24 M. 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M, 0,16 M, dan 0,14 M sel-sel umbi lapis bawang merah kehilangan warna merah keunguannya dan berubah menjadi warna putih. Hal ini menunjukkan sel-sel umbi lapis bawang merah mengalami plasmolisis. Kondisi ini disebabkan karena sel-sel umbi lapis bawang merah diletakkan pada larutan sukrosa yang bersifat hipertonis (potensial air rendah) terhadap sitoplasma, sehingga air di dalam sel yang bersifat hipotonis (potensial air tinggi) akan berdifusi keluar dan mengakibatkan berkerut dan terlepasnya dinding sel umbi lapis tersebut. Perubahan warna yang terjadi juga disebabkan oleh pengaruh plasmolisis, sehinga pigmen warna menyebar kedalam sel, dan mengakibatkan warna menjadi putih. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada atau tidaknya plasmolisis menjadi indikator dari ada atau tidaknya osmosis yang terjadi. Dari pengamatan ini, dapat diketahui larutan sukrosa yang memiliki konsentrasi yang berbeda yaitu 0,28 M ; 0,26 M ; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M;
Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel Page 10

0,16; dan 0,14 dapat ditemukan prosentase sel umbi lapis yang terplasmolisis secara berturut-turut sebesar 37% dengan pemfaktoran 2 sebesar 74%, 36,4% dengan pemfaktoran 2 sebesar 72,8%, 29, 4% dengan pemfaktoran 2 sebesar 58,8%, 29% dengan pemfaktoran 2 sebesar 58%, 19,3% dengan pemfaktoran 2 sebesar 38,6%, 15,3% dengan pemfaktoran 2 sebesar 30,6% 12,5% dengan pemfaktoran 2 sebesar 25%, dan 10,5% dengan pemfaktoran 2 sebesar 10,5%. Selain itu, dapat diketahui pula bahwa sel terplasmolisis yang memiliki prosentase sebesar 50% adalah larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,21 M. Data-data tersebut menunjukkan larutan sukrosa dengan molaritas paling tinggi memiliki prosentase sel terplasmolisis yang paling tinggi pula, dan sebaliknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi larutan sukrosa berpengaruh terhadap banyaknya sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis. Semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa maka semakin besar pula prosentase sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis, dimana larutan sukrosa yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami plasmolisis adalah larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,21 M. Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi molekul air disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula tekanan osmosisnya. Menurut Kimball (1983) bahwa proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang dengan masuknya air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Tekanan osmotik sel cairan sel umbi lapis bawang merah pada percobaan ini sebagai berikut:

Keterangan : TO M T : Tekanan Osmotik : Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis : Temperatur mutlak

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 11

E. DISKUSI 1. Jelaskan mengapa terjadi plasmolisis. Dukung dengan data yang Anda peroleh. Sel umbi lapis bawang merah terjadi plasmolisis karena sel umbi lapis bawang merah diletakkan pada larutan sukrosa yang bersifat hipertonis (potensial air rendah) terhadap sitoplasma, sehingga air di dalam sel yang bersifat hipotonis (potensial air tinggi) akan berdifusi keluar dan mengakibatkan berkerut dan terlepasnya dinding sel umbi lapis tersebut. Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan, sel umbi lapis bawang merah sebelum diletakkan di dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M. 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M, 0,16 M, dan 0,14 M berturut-turut berjumlah 332, 220, 272, 344, 228, 261, 192, dan 95 sel. Namun, setelah sel umbi lapis tersebut dimasukkan ke dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M. 0,22 M, 0,20 M, 0,18 M, 0,16 M, dan 0,14 M, terjadi penurunan jumlah sel akibat sel mengalami plasmolisis, dimana sel-sel umbi lapis secara berturut-turut berjumlah 123, 80, 80, 100, 44, 40, 24, dan 10 sel.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 12

Konsentrasi larutan sukrosa berpengaruh terhadap banyaknya sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis. Semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa maka semakin besar pula prosentase sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis. Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% dari jumlah sel mengalami plasmolisis adalah larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,21 M, dimana tekanan osmotiknya sebesar 5,20

DAFTAR PUSTAKA Kurniawan, 2012. Laporan Praktikum Plasmolisis. Diakses tanggal 17 September 2012 dari http://ml.scribd.com/doc/39735932/Laporan-Praktikum-Biologi-Plasmolisis

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 13

Naufal, 2012. Potensial Osmotik Fisiologi Tumbuhan. Diakses tanggal 17 September 2012 dari http://ofalnaufal.wordpress.com/2012/03/31/potensial-osmotik-fisiologitumbuhan/ Sari, 2012. Plasmolisis. Diakses tanggal 17 September http://dunianyasari.blogspot.com/2011/08/biolab-plasmolisis.html 2012 2012 dari dari

Yulianto, 2011. Konsep Biologi. Diakses tanggal 17 September http://konsepbiologi.wordpress.com/2011/07/16/osmosis-dan-difusi/ http://sketsaistjourney.wordpress.com/2011/04/03/difusi-osmosis-plasmolisis/ tanggal 17 September 2012

Diakses

http://bakhrul-25-rizky.blogspot.com/2012/03/biologi-laporan-praktikum-biologi.html Diakses tanggal 17 September 2012 http://ratihkuspriyadani.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-fisiologi-tumbuhan.html Diakses tanggal 17 September 2012 http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/suyitno-aloysius-drs-ms/osmosis-danpenyerapan-zat-pada-tumbuhan.pdf Diakses tanggal 17 September 2012 http://nisa-biopendidikan.blogspot.com/2011/06/potensial-osmotik-cairan-sel.html tanggal 17 September 2012 Diakses

LAMPIRAN

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 14

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,14 M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,16 M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,18 M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,20 M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,22M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,24 M

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 15

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,26 M

Sel umbi lapis bawang merah yang terplasmolisis pada larutan sukrosa 0,28 M

Sel umbi lapis bawang merah yang normal

Laporan Penentuan Tekanan Osmotik Cairan Sel

Page 16