Anda di halaman 1dari 9

MENYIKAPI FENOMENA KEHIDUPAN BERAGAMA HINDU DI JAMAN KALIYUGA

Oleh: NI NENGAH SUDIATI Npm: a. Pendahuluan Om Asato m sad gamaya tamaso m jyotir gamaya Mrtyor m amrtam gamaya (Brhad Aranyaka Upanisad I.3.28) Terjemahan : Om, Tuntunlah kami dari ketidaknyataan menuju yang nyata Tuntunlah kami dari kegelapan menuju yang terang Tuntunlah kami dari kefanaan menuju keabadian Persaingan hidup di jaman ini membuat banyak sekali perubahan dalam semua aspek hidup, bahkan itu agama. Laju progresitas rasio manusia menimbulkan kemajuan yang seiring dengan kekalutan dalam kehidupan beragama. Begitu banyaknya orang berkoar mengatakan beragama itu harus begini, beragama itu harus begitu. Lalu bagaimana caranya menghadapi fenomena kehidupan beragama di Jaman Kaliyuga ini? Setiap agama memiliki kitab suci masing-masing yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan kehidupannya, kita tidak harus pusing memikirkan orang agama lain menyebut kita apa sebab tiap agama punya standar beragama tersendiri. Demikian halnya kita sebagai umat beragama Hindu. Dalam kitab-kitab suci kita telah termaktub berjuta-juta ajaran moralitas, ajaran keagamaan sebagai tuntunan dalam hidup. Tapi tatkala hal ini dicampuri dengan unsur kefanatisan adat dan budaya akan lain jadinya. Kelemahan umat kita dalam berpikir realistis dan terlalu chauvinis dengan adat di daerah membuat pikiran umat kita bercabang yang berujung pada prilaku yang berada di luar jalur penegakan kebebasan. Dan seiring perubahan jaman yang berpengaruh pada pola pikir, seringkali kehidupan yang semakin kompleks, kemilau kemewahan dunia material dan keinginan untuk mencapai kenikmatan, seringkali memaksa manusia untuk semakin jauh dari ajaran dan nilai-nilai agama. Semakin jauhnya manusia dari ajaran-ajaran agama karena memang

manusia terlahir dari ke-papa-an dan di belenggu dari awidya. Namun demikian keadaannya berbahagialah kita dapat menjelma menjadi manusia sebagai mehluk tertinggi, karena manusia dapat memperbaiki diri dari segala perbuatan buruk menjadi perbuatan baik. Jaman Kaliyuga ini manusia melupakan wiweka, sehingga pikiran umat terseliput oleh sifat rajas dan tamas yang membuat adanya perselisihan dengan umat sedharma. Banyak kasus yang telah terjadi yang amat mencoreng citra umat Hindu khususnya di Bali semisal sengketa tapal batas, pelarangan penguburan, dan kasus-kasus kesepekang lain. Mengapa umat kita harus saling caplok dengan saudara? Sementara kita begitu ramah dengan penduduk pendatang yang kita tidak tahu seluk beluk mereka. b. Apa Yang Salah Dengan Cara Kita Beragama Saat ini adalah saat yang baik bagi umat beragama untuk melakukan refleksi dan interospeksi secara jujur. Selama ini, bila ada masalah di wilayah agama, biasanya penyebabnya dicari di wilayah lain seperti : politik, ekonomi, hukum, budaya dll. Kita berupaya melindungi wilayah sakral ini. Tapi dengan melempar kesalahan ke tempat lain, kita tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Agama yang diyakini oleh masing-masing pemeluknya sebagai tuntunan atau pedoman tertinggi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian lahir batin, di dunia ini dan di dunia setelah kematian, tampak telah gagal memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia, masyarakat dan bangsa Indonesia. Alih-alih membantu memecahkan masalah, agama, tampak bagi sebagian orang, justru sebagai sumber masalah. Seorang mahasiswa Hindu yang sedang studi S3 di satu universitas di Jepang, menerima pertanyaan yang bernada penuh keheranan dari rekan-rekannya orang Jepang : Mengapa di Indonesia terjadi pertikaian, kekerasan antar kelompok yang berdasarkan agama? Bukankah agama seharusnya mendorong manusia untuk mencapai kedamaian? Ada dua hal yang hebat mengenai Indonesia. Pertama para pengusahanya. Yang kedua terorisnya. Mengapa para pengusaha Indonesia hebat? Mereka mampu lolos dari semua jerat hukum. Dan teroris itu? Dengan melihat perbuatan

mereka sepanjang tahun 2000, dan berpuncak pada pengeboman di Legian Kuta pada tanggal 12 Oktober 2002, yang memakan korban jiwa hampir 200 orang dan masih disusul lagi dengan pengeboman hotel JW Marriot, Jakarta pada tanggal 5 Austus 2003, para teroris ini telah membuat nama Indonesia manjadi terkenal di seluruh dunia. Pujian ini tentu membuat kita prihatin sekali. Mengapa bangsa Indonesia yang religius ini menerima nasib seperti itu? Apakah kehidupan beragama kita tidak mampu menumbuhkan moralitas? Mahatma Gandhi mengatakan agama tanpa moralitas, hanyalah tong kosong yang nyaring bunyinya. Biasanya alasan yang diberikan untuk menjawab anomali di atas adalah bahwa kehidupan beragama kita masih sangat ritualistik, formalistik, legalistik, dan dogmatik. Apapun definisi dari istilah-istilah ini, yang dimaksud tampaknya adalah, bahwa kehidupan beragama kita baru menyentuh kulit-kulitnya saja, belum masuk ke dalam jiwa atau batin kita. Belum menyentuh hati nurani kita. Ajaran-ajaran agama belum terinternalisasi dalam kehidupan kita. Kehidupan beragama kita sangat ritualis dan formalistik, ritual-ritual kita lebih banyak berisi social ambitions dari pada social responsibilities. Kita rajin melakukan ritual supaya diterima oleh lingkungan kita. Ritual-ritual itu juga dimaksudkan untuk menunjukkan status sosial. Makin sering kita melakukan ritual, makin tinggi kedudukan kita di mata masyarakat dalam hal kesalehan. Besar kecilnya upakara juga dimaksud untuk menunjukkan jabatan, kedudukan dan kesuksesan secara materi. Ada keyakinan umum bahwa ritual itu, lebih dari tindakan kita, akan membawa kita kepada keselamatan, akan membawa kita ke surga. Ritual itu akan menghapus kesalahan atau dosa yang kita lakukan terhadap orang lain. Ini adalah cara beragama yang tidak dewasa. Dr Jalaludin Rakhmat memper-tanyakan mengapa orang-orang saleh sering menampakkan prasangka lebih besar dari orang yang kurang saleh. Ia merujuk kepada apa yang disebut oleh para psikolog sebagai the great paradoxes of the psychology of religion. Mereka tidak mengerti mengapa agama yang mengajarkan persaudaraan di antara sesama manusia melahirkan para pemeluk yang memiliki tingkat prasangka yang tinggi. Penelitian demi penelitian

menunjukkan ada hubungan yang erat antara perilaku beragama (seperti rajin beribadah, pergi ke gereja atau masjid) dengan prasangka, prejudice. Secara sederhana, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa makin rajin orang beribadah, makin besar prasangkanya pada kelompok manusia lain. Prasangka adalah pandangan menghina terhadap kelompok lain. Anggotaanggota kelompok lain dianggap inferior, lebih rendah derajatnya, tidak sepenuhnya dianggap manusia.Untuk itu kepada kelompok lain itu digunakan label-label atau gelar-gelar yang melepaskan mereka dari sifat kemanusiaannya. Kita menyebut mereka munafik, kafir, sesat, pengikut setan dan lain-lainnya. Setelah dicabut dari sifat kemanusiaannya mereka tidak lagi patut dikasihani dan karena itu boleh saja difitnah, dirampas haknya, dianiaya, atau sedikitnya dicampakkan kehormatannya. Mereka dianggap sumber dari segala sifat buruk : malas, immoral , tidak jujur, licik, bodoh, kejam dan sebagainya. Semua agama mengenal dan memerintahkan missi. Tapi missi yang agresif merupakan ancaman bagi kedamaian dan keselarasan hubungan masyarakat. Mendatangi rumah-rumah penduduk, melemparkan brosur-brosur keagamaan ke rumah-rumah orang yang berlainan agama, menggunakan lembaga sosial sebagai selubung untuk mengagamakan orang yang sudah beragama, sangat potensial menimbulkan ketegangan dan perpecahan dalam masyarakat. Idealnya, tidak boleh melakukan penyebaran agama kepada orang yang sudah beragama. Penyebaran agama kepada orang yang sudah beragama, pada intinya menunjukkan sikap yang salah. Kita memandang orang lain, yang di luar agama kita, sebagai orang sesat yang harus diselamatkan, atau bahkan orang kafir yang layak untuk ditiadakan. Pandangan semacam ini, menunjukkan sikap superioritas semu, merupakan persemaian bagi sikap memandang rendah kepada orang lain, bahkan bisa diduga sebagai bibit bagi ajaran kebencian dan kekerasan. Seharusnya siar agama ditujukan ke dalam, untuk meningkatkan kualitas umat masing-masing. Mengapa perlu ada perlombaan dalam jumlah umat? Apa gunanya kuantitas bila kualitas rendah? Kepercayaan bahwa keselamatan atau surga hanya menjadi monopoli satu kelompok orang atau satu agama adalah sebuah khayalan yang menyedihkan.

Sekarang apa yang harus dilakukan? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki cara kita beragama. Agar pohon yang bagus menghasilkan buah yang bagus. Pertama, para pemimpin agama hendaknya mendorong umatnya masingmasing untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab atas hidupnya di dunia ini. Mengapa Jepang, yang tidak terlalu religius kalau dilihat dari semarak ibadah, bisa begitu maju? Bangsa Jepang tidak menggantungkan semua hal kepada Tuhan. Mereka menyadari keadaan kehidupannya di dunia ini sepenuhnya tergantung pada dirinya sendiri. Mereka mengambil tanggung jawab penuh terhadap hidupnya di dunia ini. Mereka juga tidak mau menyerahkan penilaian atas tindakannya semata-mata kepada Tuhan. Sebab pengadilan semacam itu terlalu lama, dan bahkan tidak pasti kapan pengadilan itu akan datang. Mereka menyerahan pengadilan atas tindakan-tindakannya pada hati nuraninya. Dan pengadilan hati nurani ini bisa terjadi tiap hari, atau tiap saat. Sesuai dengan perbuatannya demikianlah seseorang jadinya. Dia yang berbuat baik menjadi baik dia yang berbuat buruk menjadi buruk. Dengan perbuatan suci ia menjadi suci, dengan perbuatan jahat ia menjadi hina. Yang lain mengatakan bahwa manusia terdiri dari keinginan-keinginan. Sebagaimana keinginannya, demikianlah kehendaknya, sebagaimana kehendaknya, demikianlah ia bertindak, tindakan apapun yang ia lakukan itulah hasil yang ia peroleh. Demikian dikatakan oleh Brhad-aranyaka Upanisad IV IV.4.5. Kedua, mengenai missi, seharusnya dilakukan meniru apa yang dilakukan oleh bunga mawar. Mahatma Gandhi mengatakan, mawar tidak pernah berteriakteriak tentang kehebatan dirinya, atau membujuk-bujuk apa lagi memaksa orang lain, untuk datang kepada dirinya, tetapi karena baunya yang harum orang akan mendekat kepadanya. Mudah-mudahan dengan demikian praktek agama akan membawa bangsa ini kepada kesejahteraan dan kedamaian. c. Agama Bali atau Hindu? Lain masalah yang lalu, ada lagi masalah yang timbul dari saudara-saudara kita tentang identitas keagamaan yang sebenarnya tidak perlu untuk dipusingkan dan menimbulkan pronlema. Kita agama Bali atau Hindu?

Pergumulan pencarian identitas agama orang Bali telah berlangsung lama dan belum terselesaikan hingga kini. Masalah pertama adalah bagaimana hubungan agama dan adat, bagaimana memisahkan fungsi keduanya. Kedua, bagaimana hubungan antara agama yang dipeluk orang Bali dan Hinduisme. Hingga masa kolonialisme berakhir, kaum intelektual di Bali belum benarbenar sepakat mengenai apa dan bagaimana agama Bali yang mereka anut. Bahkan ketika Indonesia merdeka dan Hindu diterima sebagai agama resmi di Indonesia, perdebatan terus berlangsung. Perdebatan lebih melebar pada masalah Balinisasi Hindu di satu pihak dan Indonesianisasi Hindu di pihak lain. Konflik baru lainnya juga muncul akibat adanya kelompok yang meginginkan Hindu di Bali benar-benar kembali ke Weda secara murni. Tapi, beberapa kelompok lain menginginkan Hindu tetap berada dalam posisinya sekarang. Inilah, konon, cikalbakal perpecahan Parisada Hindu Dharma menjadi kelompok Campuan dan kelompok Besakih. Perdebatan seperti ini adalah wajar dan biasa saja, ungkap I Wayan Westra, tokoh muda Bali. Ia malah menuduh kapitalisme telah mencoba melakukan penyeragaman terhadap cara berpikir orang Bali. Westra justru mengkhawatirkan pola penyeragaman. Hal yang sama dikemukakan Raka Santeri, intelektual Bali. Menurutnya, Bali tidak pernah berusaha mengubur konflik, sebab nanti kebenaranlah yang bakal memenangi konflik itu. Ruh konflik itu, menurut Raka Santeri, dulu hingga sekarang tetap sama, adanya kelompok yang stagnan dan kelompok yang menginginkan kemajuan. Esensinya, maukah PHD (Parisadha Hindu Dharma) menerima perbedaan? Maukah PHD tidak hanya dipimpin pendeta, tetapi digerakkan organisator yang profesional? tanya Raka Santeri. Selama ini, katanya, masyarakat Bali mengklaim diri memeluk agama Hindu Dharma, padahal praktik kesehariannya lebih dekat pada Hindu Bali. Hindu Dharma itu lebih universal. Acuannya Weda. Hindu Bali lebih banyak dilandasi adat dan tradisi. Kalau benar masyarakat Bali beragama Hindu Dharma, hendaknya unsur adat Bali dikurangi dan universalitas agama Hindu-lah yang lebih ditonjolkan. Menurut Nyoman Wijaya (dosen Unud), jika masyarakat Bali benar-benar ber-Hindu Dharma, yang unsur universalitas agama Hindu-nya

ditonjolkan, akan terjadi perubahan signifikan dalam kebudayaan dan pandangan hidup masyarakat Bali. Dengan sendirinya kita akan meninggalkan kasta. Begitu juga dengan budaya dominasi lelaki atas perempuan akan hilang, Kalau masyarakat Bali benar-benar ingin beragama Hindu Dharma dengan kecenderungan pada universalitas ajarannya, harus berani meninggalkan keangkuhan kedaerahan. Orang Hindu itu tidak hanya orang Bali,. Kalau ada agama yang dapat merangkul segala jenis kepercayaan, adat istiadat, dan budaya maka itu adalah Hindu. itulah sebabnya agama Bali adalah Hindu, karena dengan sebagai Hindu ia tetap ada. Jangan memikirkan dan berdebat tentang masalah ini, percayai apa yang kita amalkan dan amalkan apa yang kita percayai. Kita tidak harus Hindu, kita tidak harus Bali. Kita bisa jadi siapa saja. Tapi tolong, bila kita bermain dalam Hindu Bali cukupkan perdebatan ini karena semakin membingungkan orang Bali. d. Penerapan Agama Hindu di Jaman Kaliyuga Jaman Kaliyuga adalah jaman dimana keadaan tidak menentu, kacau atau tidak harmonis, bingung, Pada saat yang sama penerapan ajaran agama mendapat porsi yang sangat sedikit. Pada Kepustakaan Lontar Rogha Sanghara Bumi pada lampiran I B, dalam terjemahan disebutkan jaman Kaliyuga ditandai dengan peristiwa dimana para Dewa meninggalkan bumi dengan digantikan oleh para Bhuta menguasai bumi ini dan pada saat itu dunia mengalami kerancuan, ketidak harmonisan, malapetaka dan arah yang tidak menentu. Periode berlangsungnya/kapan, berapa lama setiap jaman berlangsung? Pembagian jaman secara valid tidak diketahui batasnya dengan pasti. Yang perlu mendapat perhatian dalam kehidupan di dunia ini adalah bahwa kondisi pada pengaruh ke empat jaman terutama jaman Kali senantiasa ada, dan seberapa porsi pengaruh pada diri manusia tergantung pada perilaku manusia itu sendiri karena manusia merupakan pelaku utama terhadap keadaan harmoni maupun disharmonipada diri manusia terdapat sifat Dewa maupun Kala . Adapun yang wajib kita amalkan dalam kehidupan beragama di Jaman Kaliyuga ini adalah:

BHAKTI : Kasih sayang yang Murni kepada Tuhan, sesama umat manusia maupun lingkungan. TRESNA : Sikap bersahabat dengan orang lain atau cinta kasih, saling mengasihi satu sama lain. ASIH : Bersikap welas asih pada semua makhiuk, hal ini dapat dilakukan dengan cara berperilaku yang baik, bahwa pada prisipwa kita tidak beda dengan yang lainnya . Hal ini ditegaskan dalam Veda yang dinyatakan dalam satu kalimat sutra yaitu ; Wasudewa Kutumbhakam : Semua mahluk berasal dari satu sumber yaitu Tuhan (Vasudeva) ; Semua mahkluk adalah saudara . Dalam kepustakaan lontar Agastya Parwa disebutkan tiga bentuk prilaku untuk mewujudkan harmoni di jagat raya ini serta jalan menuju nirvana (sorga) antara lain : TAPA : Melakukan pengendalain diri baik fisik maupun mental. Dimana yang dimaksud adalah mengontrol atau mengendalikan hawa nafsu atau sifat keduniawian. YAJNA : Melaksanakan Agnihotra yang utama , yaitu pemujaan kehadapan Sanghyang Siwagni (Tuhan Yang Maha Esa). Dimana dalam arti luasnya adalah melaksanakan Panca Yadnya dengan penuh pengabdian, ketulus ikhlasan, dan keyakinan. KERTHI : Melaksanakan pelayanan, yang direalisasikan dalam bentuk membangun tempat pengobatan (apotik,klinik dan rumah sakit), membangun tempat suci/pura/candi/, tempat peristirahatan, mengeloia tanah dengan baik/bercocok tanam (bertani), mengelola air minum dan kepentingan

pengairan(pancuran) dan membuat penyimpanan air, kolam, waduk, bendungan (telaga), atau pengabdian lain yang tentunya berfaedah bagi banyak orang. e. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dalam penyampaian seminar ini antara lain: 1. Fanatisme terhadap agama dan mengesampingkan agama lain adalah salah satu sebab kenapa adanya perselisihan dan disintegritas antar agama

begitupula kita terlalu memusingkan agama lain ketimbang penanaman nilai agama yang moderat dalam hati kita. 2. Kita terlalu menggembar-gemborkan keutamaan agama kita, tanpa menilai apa kelemahan dan keutamaan agama lain serta melupakan esensi penting lain di luar agama yang juga hendak kita benahi. 3. Umat terlalu memusingkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan yang sekiranya membingungkan saudara yang lain.
4. Terlalu mencampur adukan urusan adat, budaya, sifat kedaerahan, dan

kepentingan dalam urusan agama yang menjadi akar adanya pertikaian dalam tubuh kehidupan itu sendiri. 5. Kehidupan beragama di jaman Kaliyuga penuh dengan kekalutan, kegalauan, pertentangan, dan disharmonisasi. Dimana kita perlu lebih meningkatkan bhakti kepada Tuhan, cinta kasih dan pengorbanan kepada sesama, dan pelestarian alam lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA Khrisna, Ida Bagus Wika. 2009. Hindu Raya-- Menjaga Sradha Menebar Dharma. wordpress.com nn. 2007. Agama Bali Atau Hindu? http://www.kampungblog@wordpress.com Arixs.2009. Hindu Bukan Hanya Bali. http://www.iwbdenpasar.com Suwandha, I.N dan N.P. Putra.2004. Apa Yang Salah Dalam Cara Kita Beragama. http://www.ilovebali.com Patera, AA Ketut.2005. Penerapan Agama Hindu di Jaman Kaliyuga. http://www.ilovebali.com