Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Inflamasi adalah respon dari suatu organisme terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin,serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi. Radang mempunyai tiga peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi : memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan performa makrofaga menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.

Respon peradangan dapat dikenali dari rasa sakit, kulit lebam, demam, dll. yang disebabkan karena terjadi perubahan pada pembuluh darah di area infeksi : pembesaran diameter pembuluh darah, disertai peningkatan aliran darah di daerah infeksi. Hal ini dapat menyebabkan kulit tampak lebam kemerahan dan penurunan tekanan darah terutama pada pembuluh kecil. aktivasi molekul adhesi untuk merekatkan endotelia dengan pembuluh darah. kombinasi dari turunnya tekanan darah dan aktivasi molekul adhesi, akan memungkinkan sel darah putih bermigrasi ke endotelium dan masuk ke dalam jaringan. Proses ini dikenal sebagai ekstravasasi.

Bagian tubuh yang mengalami peradangan memiliki tanda-tanda sebagai berikut : tumor atau membengkak

calor atau menghangat dolor atau nyeri rubor atau memerah functio laesa atau daya pergerakan menurun, dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan.

Anti inflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. Mediator yang dilepaskan antara lain histamin, bradikinin, leukotrin, Prostaglandin dan PAF. Peradangan umumnya dibagi dalam tiga fase, yaitu : 1. Peradangan akut, adalah respons awal dari luka jaringan yang diperantai oleh pelepasan mediator dan biasanya mendahului perkembangan respons imun. 2. Respons imun, terjadi bila sel yang mempunyai kemampuan imunolog diaktivasi untuk menimbulkan respons terhadap organism asing atau zat antigenic yang dilepaskan selama peradangan akut atau kronis. Akibat dari respons imun mungkin bermanfaat bagi hospes, karena hal ini menybabkan organism yang menyerang difagositosis atau dinetraisasikan. Di lain pihak akibatnya mungkin menjadi buruk jika hal ini menyebabkan peradangan kroonis tanpa resolusi dari proses yang merugikan tang mndasarinya. 3. Peradangan kronis, melibatkan pelepasan sejumlah mediator yang tidak menonjol pada respons akut. Salah satu kondisi yang sangat penting yang melibatkan mediator mediator ini adalah arthritis rematoid, dimana peradngan kronis mengakibatkan sakit serta kerusakan tulang dan tulang rawan yang dapat menimbulkan cacat yang berat yang dimana terjadi perubahan sistemik yang mengakibatkan singkatnya kehidupan.

Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah "non

steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika.

Jenis obat Anti-inflamasi Nonsteroid

Obat anti-inflamasi nonstreoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretika, dan anti-inflamasi. OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi peradangan-peradangan di dalam dan sekitar sendi seperti lumbago, artralgia, osteoartritis, artritis reumatoid, dan gout

artritis. Disamping itu, OAINS juga banyak pada penyakit-penyakit non-rematik, seperti kolik empedu dan saluran kemih, trombosis serebri, infark miokardium, dan dismenorea. OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping.15 Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu OAINS sering juga disebut sebagai obat-obat mirip aspirin (aspirin-like drug). Aspirin-like drugs dibagi dalam lima golongan, yaitu: 1.Salisilat dan salisilamid, derivatnya yaitu asetosal (aspirin), salisilamid, diflunisal 2.Para aminofenol, derivatnya yaitu asetaminofen dan fenasetin

3. Pirazolon , derivatnya yaitu antipirin (fenazon), aminopirin (amidopirin), fenilbutazon danturunannya. 4.Antirematik nonsteroid dan analgetik lainnya, yaitu asam mefenamat dan meklofenamat, ketoprofen, ibuprofen, naproksen, indometasin, piroksikam, dan glafenin 5.Obat pirai, dibagi menjadi dua, yaitu :

(1) obat yang menghentikan proses inflamasi akut, misalnya kolkisin, fenilbutazon, oksifenbutazon, dan (

2) obat yang mempengaruhi kadar asam urat, misalnya probenesid, alupurinol, dan sulfinpirazon.

Sedangkan

menurut

waktu

paruhnya,

OAINS

dibedakan

menjadi:

1. AINS dengan waktu paruh pendek (3-5 jam), yaitu aspirin, asam flufenamat, asam meklofenamat, asam mefenamat, asam niflumat, asam tiaprofenamat, diklofenak, indometasin, karprofen, ibuprofen, dan ketoprofen.

2. AINS dengan waktu paruh sedang (5-9 jam), yaitu fenbufen dan piroprofen. 3. AINS dengan waktu paruh tengah (kira-kira 12 jam), yaitu diflunisal dan naproksen. 4. AINS dengan waktu paruh panjang (24-45 jam), yaitu piroksikam dan tenoksikam. 5. AINS dengan waktu paruh sangat panjang (lebih dari 60 jam), yaitu fenilbutazon dan oksifenbutazon.

Karagenan Uji utama yang sering dipakai dalam menapis zat antiradang nonsteroid baru, mengukur kemampuan suatu snyawa untuk mngurangi edema local pada cengkraman tikus yang disebabkan oleh suntikan zat pngiritasi karagenanm yaitu suatu muktopolisakarida yang diperolh dari rumput laut Irlandia, Chondrus crispus. Zat antiradang yang paling banyak digunakan di klinik untuk mnkan dma macam ini. Sifat antiradang indometasin, yaitu zat antiradang nonsteroid yang banyak dipakai, pada mulanya ditentukan uji karagenan. Karagenan polisakarida dari algae, suatu ekstrak rumput laut , yang memiliki sejumlah manfaat , terutama dalam industry makanan dan sejenisnya. Karagenan adalah suatu senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium dan magnesium atau kalsium sulfat dengan galaktosa dan kopolimr 3,6 anhidrogalaktosa. Menurut Guiseley et. Alkaragenan adalah polisakarida rantai lurus (linier) yang terdiri dari D-glukosa 3,6 anhidrogalaktosa dan ester sulfat. Berdasarkan kandungan sulfatnya, karagenan dibedakan menjadi 2 fraksi kappa karagenan dengan kandungan sulfat kurang dari 28% dan iota karagenan dengan kandungan sulfa lebih dari 30%. Secara prinsip fraksi fraksi karagenan ini berbeda dalam nomor dan posisi grup ester.

Tanaman sirsak (Annona muricata) Tanaman sirsak memiliki nama spesies Annona muricata Linn., merupakan salah satu tanaman dari kelas Dicotyledonae, keluarga Annonaceae, dan genus Annona. Nama sirsak

berasal dari bahasa Belanda, yakni Zuurzak yang berarti kantong asam. Tanaman buah tropis ini didatangkan ke Nusantara oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19. Tanaman sirsak merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun jika kondisi air terpenuhi selama pertumbuhannya. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di Benua Amerika, yaitu hutan Amazon (Amerika Selatan), Karibia, dan Amerika Tengah. Banyak sekali kandungan senyawa bioaktif fitokimia yang ditemukan dalam tanaman sirsak. Salah satu komponen bermanfaat yang terpenting adalah annonaceous acetogenins. Penelitian pertama mengenai sifat sitotoksik acetogenins dilakukan oleh Universitas Purdue, di West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat. Penelitian lain yang membuktikan khasiat kandungan acetogenins di berbagai negara dibiayai oleh Lembaga Institut Kanker Nasional, Amerika Serikat. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa sebanyak 20 tes laboratorium menemukan bahwa daun dan batang Annona muricata Linn. memiliki sitotoksitas terhadap sel kanker . Acetogenins adalah senyawa poliketida dengan struktur C-34 atau C-37 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 2-propanol pada C-2 untuk membentuk suatu lakton. Senyawa ini memiliki 350 senyawa turunan yang ditemukan pada keluarga Annonaceae dan sebanyak 82 di antaranya ada di dalam sirsak. Acetogenins telah terbukti sebagai senyawa sitotoksik terbesar dalam membunuh sel kanker. Bahkan, annonaceous acetogenins sering disebut sebgai inhibitor I atau penghambat pertumbuhan sel kanker paling kuat.

Salah satu khasiat ekstrak sirsak yaitu dapat mengobati inflamasi. Inflamasi atau peradangan merupakan respon perlindungan yang dilakukan oleh sel darah putih dan senyawa kimia lain di dalam tubuh terhadap serangan virus dan bakteri akibat cedera atau kerusakan jaringan. Sejak berabad-abad yang lalu, daun sirsak telah dimanfaatkan oleh suku asli Peru untuk mengobati inflamasi dengan cara diminum seperti the. Hasil penelitian di Brazil pada tahun 2010 menyebutkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak memiliki aktivitas anti-inflamasi pada hewan percobaan .

DAFTAR PUSTAKA Guyton, A. C. 2006. Textbook of medical physiology 11th edition. Elsevier Inc. Philadelphia. Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta. Katzung, Bertram G., 1986, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta Tan, H. T. dan Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta. H. Sarjono, Santosodan Hadi R D., 1995, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.