P. 1
Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah

Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah

4.67

|Views: 10,389|Likes:
Dipublikasikan oleh Biodiversitas, etc
Diversity of Mangrove Plants in Northern and Southern Coast of Central Java
Diversity of Mangrove Plants in Northern and Southern Coast of Central Java

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Biodiversitas, etc on Feb 26, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN MANGROVE DI PANTAI UTARA DAN SELATAN JAWA TENGAH

TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Lingkungan

Disusun oleh:

AHMAD DWI SETYAWAN A 0112001

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2005

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN MANGROVE DI PANTAI UTARA DAN SELATAN JAWA TENGAH

Disusun oleh:

AHMAD DWI SETYAWAN NIM.: A 0112001

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing: PEMBIMBING I

Prof. Drs. Indrowuryatno, M.Si.

Tanggal: .............................................

PEMBIMBING II

Drs. Wiryanto, M.Si.

Tanggal: .............................................

Mengetahui/Menyetujui: A.n. Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana

Al. Sentot Sudarwanto, S.H., M.H. NIP. 131 568 280 ii

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN MANGROVE DI PANTAI UTARA DAN SELATAN JAWA TENGAH

Disusun oleh:

AHMAD DWI SETYAWAN NIM.: A 0112001

Telah disetujui oleh Tim Penguji: Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

Ketua Sekretaris

: Prof. Drs. Haris Mudjiman, M.A., Ph.D. : Al. Sentot Sudaryanto, S.H., M.H..

....................... ................. ....................... .................

Anggota

: 1. Prof. Drs. Indrowuryatno, M.Si.

....................... .................

2. Drs. Wiryanto, M.Si.

....................... .................

Mengetahui/Menyetujui:

Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Direktur Program Pascasarjana

: Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si. NIP. 131 947 768 : Prof. Drs. Haris Mudjiman, M.A., Ph.D. NIP. 130 344 454

....................... .................

....................... .................

iii

PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini, saya: Nama NIM : Ahmad Dwi Setyawan : A0112001

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul: “Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah” adalah betul-betul karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya dalam tesis ini diberi tanda sitasi dan ditunjukkan dalam Daftar Pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, 2 Oktober 2004 Yang membuat pernyataan

Ahmad Dwi Setyawan

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Untuk 60 Tahun Indonesiaku Merdeka! & Para Pejuang Tanzim Al-Qaedah Al-

v

KATA PENGANTAR

Segala puji milik Alloh SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang menciptakan harapan, kekuatan, dan kesabaran, atas ijin-Nya naskah tesis ini dapat disusun sebagaimana direncanakan. Shalawat dan salam bagi sang Nabi, Muhammad SAW. Naskah laporan penelitian tesis ini berjudul

“Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah”. Judul ini dipilih mengingat masih terbatasnya tulisan yang secara khusus membahas ekosistem mangrove di Propinsi Jawa Tengah. Dengan tulisan ini penulis berharap dapat turut menyumbangkan buah pikiran kepada para pihak, khususnya para pakar, birokrat, dan pengambil kebijakan yang terkait dengan kawasan pesisir Propinsi Jawa Tengah. Dalam penulisan naskah ini penulis dibantu banyak pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si. dan Al. Sentot Sudarwanto, S.H., M.H. selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Lingkungan PPS UNS Surakarta, atas bantuannya pada masa-masa akhir studi penulis. 2. Prof. Drs. Indrowuryatno, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I dan Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan PPS UNS Surakarta periode 1998-2003, atas bimbingan dan dorongan yang luar biasa untuk menyelesaikan studi secara cepat. 3. Drs. Wiryanto, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang tiada segan untuk turun ke lapangan membantu koleksi data serta memberikan bimbingan secara terus-menerus dalam penulisan naskah. 4. Drs. Kusumo Winarno, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Lingkungan PPS UNS Surakarta periode 1998-2003, atas bantuan analisis vi

laboratorium dan masukan-masukan yang sangat berharga bagi naskah ini. 5. Dr. Tjut Sugandawaty Djohan, M.Sc. yang telah memberi inspirasi untuk meneliti ekosistem mangrove, serta komunikasi ilmiah yang sangat berharga di muara Sungai Bogowonto dan Segara Anakan. 6. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. yang telah memberi masukan yang sangat berarti dalam menginterpretasikan pola pita isozim. 7. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Sugiyarto, M.Si. yang telah berkenan membaca manuskrip awal dan memberikan saran perbaikan atas naskah ini. 8. Drs. H. Soepadmo (Alm.), Hj. Amrin Salami, dan keluarga yang membantu secara material dan moral selama penulis melaksanakan studi. 9. Ari Susilowati, S.Si., M.Si., Cahyanto Mukti, S.Si., Ainur Rohimah, S.Si., Asriyati Asih Lestari, dan Sugito atas bantuan koleksi data, baik di lapangan maupun di laboratorium. 10. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebut satu per satu yang telah membantu penulisan naskah ini. Penulis menyadari, naskah tesis ini masih terdapat kelemahan meskipun telah diusahakan sedapat mungkin untuk meminimalkannya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan masukan dan petunjuk dari semua pihak, khususnya para pakar senior dalam penelitian ekosistem mangrove, demi sempurnanya tulisan ini apabila kelak dipublikasikan. Akhirnya penulis berharap, tesis ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Amin. Surakarta, 2 Oktober 2004 Penulis

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

.....................................................................................

i ii iii iv v vi

HALAMAN PENGESAHAN TIM PEMBIMBING ...................................... HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI .............................................. HALAMAN PERNYATAAN ....................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI .................................................................................................. viii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xxii ABSTRAK .................................................................................................... xxiii

ABSTRACT ................................................................................................... xxvi BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... A. Latar Belakang ......................................................................... B. Rumusan Masalah .................................................................... C. Tujuan Penelitian ..................................................................... D. Manfaat Penelitian ................................................................... BAB II KAJIAN TEORI ........................................................................... A. Kajian Teori ............................................................................. 1. Definisi Biodiversitas (Keanekaragaman Hayati) .............. 1 1 5 6 7 8 8 8 9 11

2. Definisi Mangrove .................................................................. 3. Sebaran Ekosistem Mangrove ................................................

viii

4. Manfaat Ekosistem Mangrove 5. Kerusakan Ekosistem Mangrove 6. Komponen Lingkungan Mangrove

........................................... ....................................... ................................... ........................

17 29 32 44 51 53 63 67 73

7. Adaptasi Tumbuhan dan Hewan Mangrove 8. Zonasi Ekosistem Mangrove 9. Komponen Biotik Mangrove

............................................... .............................................

10. Komposisi dan Struktur Vegetasi, serta Diagram Profil Vegetasi .................................................................................... 11. Keanekaragaman Genetik dan Kekerabatan Sonneratia alba Berdasarkan Pola Pita Isozim Esterase dan Peroksidase ......... 12. Parameter Lingkungan ............................................................ 13. Jenis-jenis Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove dan Penggunaan Lahan di Sekitarnya, serta Upaya Restorasinya ........................................................................ B. Penelitian Sejenis yang Relevan .............................................. C. Kerangka Pemikiran ................................................................ BAB III METODE PENELITIAN ............................................................

81 87 88 89 89 92 93 93 95

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................... B. Data dan Sumber Data .............................................................. C. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... D. Populasi, Sampel, dan Subyek Penelitian ................................ E. Instrumen Penelitian (Bahan dan Alat) ..................................

F. Cara Penelitian .......................................................................... 100 G. Teknik Analisis Data ................................................................ 113 H. Definisi Operasional BAB IV ............................................................... 115

HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 117 A. Rona Lingkungan ..................................................................... 117 ix

1. Lingkungan Fisik (Abiotik) .................................................... 117 2. Lingkungan Biotik .................................................................... 123 3. Lingkungan Sosial-Ekonomi (Kultur) ...................................... 130 B. Deskripsi Area Penelitian ........................................................ 133 C. Keanekaragaman Spesies dan Sebaran Tumbuhan Mangrove .. 136 1. Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Mangrove ...................... 136 2. Sebaran Lokasi Pertumbuhan .................................................... 143 D. Komposisi, Struktur Vegetasi, dan Profil Vegetasi Mangrove 147

1. Komposisi dan Struktur Vegetasi ............................................ 147 2. Diagram Profil Vegetasi .......................................................... 160 E. Keanekaragaman Genetik Sonneratia alba ............................... 181 1. Keanekaragaman Genetik dan Kekerabatan Sonneratia alba ... 181 2. Struktur Genetik dan Restorasi Habitat .................................... 195 F. Parameter Lingkungan ............................................................. 200 1. Karakter Fisika-Kimia .............................................................. 200 2. Logam Berat Fe, Pb, Cd, dan Cr .............................................. 206 3. Unsur Nutrien ......................................................................... 217

G. Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove dan Penggunaan Lahan di Sekitarnya, serta Upaya Restorasinya .... 226 1. Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove .......... 232 2. Penggunaan Lahan di Sekitar Ekosistem Mangrove ................ 242 3. Kerusakan Ekosistem Mangrove dan Upaya Restorasinya ...... 249 H. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa; Studi Kasus Pesisir Rembang dan Segara Abakan Cilacap .................................................................... 257 1. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang .............................................................................. 257 x

2. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Segara Anakan .......... 270 BAB V PENUTUP .................................................................................... 295 A. Kesimpulan .............................................................................. 295 B. Implikasi ................................................................................... 299 C. Saran ......................................................................................... 300 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ................................................................................... 302

.................................................................................................. 337

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pemanfaatan tumbuhan mangrove (SNM, 2003)

.......................

18 24 33 43 128 135 137

Tabel 2. Manfaat obat beberapa spesies tumbuhan mangrove dan penggunaannya (SNM, 2003) ..................................................... Tabel 3. Keterkaitan antara faktor lingkungan dengan penyebaran beberapa spesies pohon mangrove secara alami (SNM, 2003) ..... Tabel 4. Penyebaran spesies mangrove berdasarkan penggenangan (SNM, 2003) .............................................................................................. Tabel 5. Tumbuhan dan hewan khas pada setiap kabupaten/kota seluruh di Propinsi Jawa Tengah (Bappedal, 2003) ..................................... Tabel 6. Luas kawasan mangrove area penelitian ...................................... Tabel 7. Keragaman spesies tumbuhan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ...................................................................... Tabel 8. Frekuensi relatif spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ................................................................................ Tabel 9. Nilai penutupan spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ................................................................................ Tabel 10. Nilai penting spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah .......................................................................................... Tabel 11. Kenekaragaman jenis tumbuhan yang memberi bentuk diagram profil vegetasi ................................................................................ Tabel 12. Hasil pengukuran karakter fisik-kimia pada kawasan ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ....................... Tabel 13. Kadar logam berat Fe, Cd, Cr, dan Pb di lingkungan mangrove pantai utara dan selatan Jawa Tengah ...........................................

148

150

152 161 201 207

xii

Tabel 14. Hasil pengukuran unsur nutrien pada kawasan ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ...................... Tabel 15. Pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ..................................................... Tabel 16. Penggunaan lahan di sekitar (di luar tegakan) ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ................... Tabel 17. Kegiatan restorasi ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah ......................................................................

218 228 229 230

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Distribusi mangrove dunia (dari total luas 18.107.700 ha). Keterangan: A. Indo-Pasifik Barat, B. Amerika - Afrika Barat (FAO 1985; Spalding dkk., 1997) ........................................ Gambar 2. Distribusi luasan hutan mangrove di Asia Tenggara dengan luas keseluruhan sekitar 61.250 km2 (A); dan jumlah spesies pada setiap negara (B) (Spalding dkk., 1997) ....................... Gambar 3. Distribusi luasan hutan mangrove di Indonesia (FAO, 1985) .... Gambar 4. Sebaran ekosistem mangrove di Jawa (Whitten dkk., 2000) .... Gambar 5. Daur nutrien dan hubungan ketergantungan dalam ekosistem mangrove (Berjak dkk., 1977 dalam SNM, 2003) ................. Gambar 4. Morfologi khas tumbuhan mangrove ...................................... Gambar 5. Tipe ekosistem mangrove ......................................................... Gambar 6. Bentuk spesifikasi akar pada mangrove. A. Akar papan, Heritiera, Xylocarpus. B. Akar pasak: Avicennia, Sonneratia. C.Akar penyangga: Rhizophora. D. Akar lutut: Bruguiera .... Gambar 7. Biji/propagul berbagai spesies tumbuhan mangrove ............... Gambar 8 Komunitas mangrove ................................................................ Gambar 9 Tipe habitat mangrove ............................................................

12

14 15 16 39 21 22

47 49 59 59 59 60 88 91 104

Gambar 10. Fisiografi lingkungan mangrove ............................................ Gambar 11. Morfologi khas tumbuhan mangrove .................................... Gambar 12. Kerangka pemikiran .............................................................. Gambar 13. Peta sebaran lokasi penelitian .................................................. Gambar 14. Posisi belt transect dan plot kuadrat pada setiap stasiun penelitian ................................................................................. Gambar 15. Diagram vertikal dan horizontal profil vegetasi di 20 lokasi di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A. Wulan, B. Sigrogol, C. Serang, D. Bulak, E. Telukawur, F. Tayu, G. Juwana, H. Pecangakan, I. Pasar Bangi, J. Lasem, xiv

K. Bogowonto, L. Cakrayasan, M. Lukulo, N. Cincingguling, O. Ijo, P. Bengawan, Q. Serayu, R. Tritih, S. Motean, T. Muara Dua; 1. Avicennia spp., 2. Sonneratia spp., 3. Rhizophora spp., 4. Excoecaria agallocha, 5. Aegiceras, 6. Nypa fruticans, 7 (-), 8. Xylocarpus spp., 9. Bruguiera spp.; Sumbu panjang: x = 60 m, sumbu pendek: y = 10 m, sumbu tegak: z = 20 m ................................................................. Gambar 16. Variasi genotipe S. alba di pantai utara dan selatan Jawa Tengah: A. berdasarkan pita isozim esterase; B. berdasarkan pita isozim peroksidase .......................................................... Gambar 17. Pita isozim esterase S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A = Wulan (WUL), B = Juwana (JUW), C = Pasar Banggi (PAS), D = Bogowonto (BOG), E = Motean (MOT), F = Muara Dua (MUA) ............................ Gambar 18. Pita isozim peroksidase S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A = Wulan (WUL), B = Juwana (JUW), C = Pasar Banggi (PAS), D = Bogowonto (BOG), E = Motean (MOT), F = Muara Dua (MUA) ........................... Gambar 19. Dendrogram hubungan kekerabatan S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah berdasarkan pita isozim esterase. Keterangan: WUL = Wulan, JUW = Juwana, PAS = Pasar Banggi, BOG = Bogowonto, MOT = Motehan, MUA = Muara Dua. Pada kelompok VII = pita isozim tidak muncul. Gambar 20. Dendrogram hubungan kekerabatan S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah berdasarkan pita isozim peroksidase. Keterangan: WUL = Wulan, JUW = Juwana, PAS = Pasar Banggi, BOG = Bogowonto, MOT = Motehan, MUA = Muara Dua. Pada kelompok VII = pita isozim tidak muncul ................................................................................... Gambar 21. Penurunan luas laguna Segara Anakan 1903-2000 (ECI, 1994) ....................................................................................... Gambar 22. Sebaran lokasi penelitian berdasarkan letak dan batas peta administratif kabupaten di Propinsi Jawa Tengah ................. Gambar 23. Tipe topografi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ................... Gambar 24. Tipe geologi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ..................... Gambar 25. Tipe fisiografi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ...................

167

183

183

184

185

186 275 338 339 339 340

xv

Gambar 26. Tipe iklim Schmidt-Ferguson pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ....................................................................................... Gambar 27. Tipe agroklimat pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ................ Gambar 28. Curah hujan tahunan di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ..... Gambar 29. Jumlah bulan kering di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ...

340 341 341 342 342 343 343 344 344 345 345 346 346 347 347 348 348 349 350 351 352 353

Gambar 30. Daerah aliran sungai (DAS) pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ... Gambar 31. Tipe permukaan air tanah pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) .. Gambar 32. Tipe penggunaan lahan pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ..... Gambar 33. Sebaran kepadatan penduduk di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) ........................................................................................ ..... Gambar 34. Sebaran pemukiman penduduk di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000) .............................................................................. ......... Gambar 35 (Plate 1). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Demak ... Gambar 36 (Plate 2). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Jepara .... Gambar 37 (Plate 3). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Pati .. Gambar 38 (Plate 4). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Rembang .... Gambar 39 (Plate 5). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Kulonprogo Gambar 40 (Plate 6). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Purworejo . Gambar 41 (Plate 7). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Kebumen .. Gambar 42 (Plate 8). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Cilacap .. Gambar 43. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Wulan ............... Gambar 44. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Sigrogol ............. Gambar 45. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Serang ............... Gambar 46. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Bulak ................ Gambar 47. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Telukawur ........ xvi

Gambar 48. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Tayu .................... Gambar 49. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Juwana ................ Gambar 50. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Pecangakan ....... Gambar 51. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Pasar Banggi ....... Gambar 52. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Lasem ................. Gambar 53. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Bogowonto ....... Gambar 54. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Cakrayasan ........ Gambar 55. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Wawar, Purworejo (tidak terdapat ekosistem mangrove) ................... Gambar 56. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Lukulo ................ Gambar 57. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Cingcingguling ... Gambar 58. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Ijo........................ Gambar 59. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Bengawan .......... Gambar 60. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di Serayu ............... Gambar 61. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi di laguna Segara Anakan, Cilacap (Tritih, Motean, Muara Dua) ....................... Gambar 62. Lokasi penelitian Wulan .......................................................... Gambar 63. Lokasi penelitian Sigrogol ..................................................... Gambar 64. Lokasi penelitian Serang .....................................................

354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 368 368 368 368 368 369 369 369 369

Gambar 65. Lokasi penelitian Bulak .......................................................... Gambar 66. Lokasi penelitian Telukawur .................................................. Gambar 67. Lokasi penelitian Tayu ............................................................ Gambar 68. Lokasi penelitian Juwana .....................................................

Gambar 69. Lokasi penelitian Pecangakan ............................................... Gambar 70. Lokasi penelitian Pasar Banggi ............................................... Gambar 71. Lokasi penelitian Lasem ......................................................... xvii

Gambar 72. Lokasi penelitian Bogowonto ................................................. Gambar 73. Lokasi penelitian Cakrayasan..................................................... Gambar 74. Lokasi penelitian Lukulo .....................................................

369 369 369 369 370 370 370 370 370 370 371 371 371 371 371 371 371 371 371 372 372 372 372 372 372

Gambar 75. Lokasi penelitian Cingcinggguling ........................................ Gambar 76. Lokasi penelitian Ijo ............................................................... Gambar 77. Lokasi penelitian Bengawan..................................................... Gambar 78. Lokasi penelitian Serayu ........................................................ Gambar 79. Lokasi penelitian Tritih .......................................................... Gambar 80. Lokasi penelitian Motean .....................................................

Gambar 81. Lokasi penelitian Muara Dua ................................................. Gambar 82. Avicennia alba ........................................................................ Gambar 83. Avicennia marina ................................................................... Gambar 84. Avicennia officinalis ............................................................... Gambar 85. Sonneratia alba ...................................................................... Gambar 86. Sonneratia caseolaris .............................................................. Gambar 87. Sonneratia ovata ..................................................................... Gambar 88. Bruguiera cylindrica ............................................................... Gambar 89. Bruguiera gymnorrhiza ........................................................... Gambar 90. Bruguiera parviflora .............................................................. Gambar 91. Bruguiera sexangula ............................................................... Gambar 92. Ceriops decandra ................................................................... Gambar 93. Ceriops tagal ........................................................................... Gambar 94. Lumnitzera littorea .................................................................. Gambar 95. Nypa fruticans ....................................................................... Gambar 96. Rhizophora apiculata ............................................................. xviii

Gambar 97. Rhizophora mucronata ........................................................... Gambar 98. Rhizophora stylosa ................................................................ Gambar 99. Acrostichum aureum ............................................................... Gambar 100. Acrostichum speciosum........................................................... Gambar 101. Aegiceras corniculatum........................................................... Gambar 102. Aegiceras floridum ................................................................. Gambar 103. Excoecaria agallocha ........................................................... Gambar 104. Heritiera littoralis ................................................................ Gambar 105. Osbornia octodonta .............................................................. Gambar 106. Pemphis acidula .................................................................

372 372 373 373 373 373 373 373 373 373 374 374 374 374 374 374 374 374 375 375 375 375 375 375 375

Gambar 107. Scyphiphora hydrophyllacea ................................................ Gambar 108. Xylocarpus granatum ........................................................... Gambar 109. Xylocarpus moluccensis ........................................................ Gambar 110. Xylocarpus rumphii ............................................................. Gambar 111 Acanthus ilicifolius ..............................................................

Gambar 112 Barringtonia asiatica ............................................................ Gambar 113 Calophyllum inophyllum Gambar 114 Calotropis gigantea Gambar 115 Cerbera manghas .....................................................

............................................................. ................................................................

Gambar 116 Clerodendrum inerme ........................................................... Gambar 117 Derris trifoliata ..................................................................... Gambar 118 Finlaysonia maritima ........................................................... Gambar 119 Hibiscus tiliaceus .................................................................

Gambar 120 Ipomoea pes-caprae ............................................................. Gambar 121 Pandanus tectorius ............................................................. xix

Gambar 122. Pongamia pinnata Gambar 123. Scaevolia taccada

.............................................................. ...............................................................

375 376 376 376 376 376 376 376 376 377 377 377 377 377 377 378 378 378 378 378 378 378 379 379 379

Gambar 124. Sesuvium portulacastrum ..................................................... Gambar 125. Spinifex littoreus .................................................................. Gambar 126. Stachytarpheta jamaicensis..................................................... Gambar 127. Terminalia catappa .............................................................. Gambar 128. Thespresia populnea ............................................................ Gambar 129. Vitex ovata ..........................................................................

Gambar 130. Cyperaceae ........................................................................... Gambar 131. Strata bibit Rhizophora di Pasar Banggi ................................ Gambar 132. Strata bibit Avicennia di Wulan ............................................ Gambar 133. Strata pohon Rhizophora di Pasar Banggi ............................. Gambar 134. Strata pohon Rhizophora di Bulak ........................................ Gambar 135. Strata anak pohon Sonneratia di Wulan ................................ Gambar 136. Dominasi semak-semak A. ilicifolius pada lahan terbuka ..... Gambar 137. Daun S. alba dari Wulan ..................................................... Gambar 138. Daun S. alba dari Juwana ..................................................... Gambar 139. Daun S. alba dari Segara Anakan ......................................... Gambar 140. Akar penyangga Rhizophora ................................................ Gambar 141. Akar pensil Sonneratia Gambar 142. Akar lutut Bruguiera ..................................................... .....................................................

Gambar 143. Akar papan/banir Xylocarpus ................................................. Gambar 144. Tambak ikan bandeng di Juwana ......................................... Gambar 145. Tambak garam di Pasar Banggi ............................................ Gambar 146. Jaring apung di Wulan ..................................................... xx

Gambar 147. Perahu nelayan di Segara Anakan

.....................................

379

Gambar 148. Penebangan kayu dan konversi ke pertambakan di Pecangakan.... 379 Gambar 149. Penebangan kayu dan konversi ke pertambakan di Wulan .... Gambar 150. Pemanenan kayu bakar di Wulan ........................................ Gambar 151. Penggembalaan ternak di Lukulo .......................................... Gambar 152. Buah A. ilicifolius sebagai bahan obat hepatitis .................... Gambar 153. Gumuk pasir sebagai bahan baku semen ............................... Gambar 154. Potensi ekowisata di Pasar Banggi ......................................... Gambar 155. Potensi pendidikan di Bogowonto .......................................... Gambar 156. Sawah di sekitar ekosistem mangrove di Cingcingguling ..... Gambar 157. Pelabuhan ikan di Juwana ..................................................... Gambar 158. Sampah domestik di Wulan..................................................... Gambar 159. Tipikal pemukiman di Segara Anakan ................................... Gambar 160. Hambatan pertumbuhan bibit Rhizophora di Pasar Bangi oleh: A. sampah plastik, B. rumput laut Ulva. ........................ Gambar 161. Papan penunjuk restorasi ekosistem mangrove. A. Pasar Banggi (2002, berhasil); B. Lukulo (2000, gagal) .................. 379 380 380 380 380 380 380 380 380 381 381 381 381

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Diskripsi lokasi penelitian ..................................................... Lampiran 2. Batas administratif dan data kependudukan di setiap kecamatan pada kedelapan kabupaten yang menjadi lokasi penelitian ................................................................................ Lampiran 3. Bentuk lanskap dan penutupan vegetasi/lahan pada setiap lokasi penelitian berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001 .. Lampiran 4. Penampakan fisiografi dan fisiognomi setiap lokasi penelitian ................................................................................. Lampiran 5. Keanekaragaman spesies tumbuhan mangrove mayor, minor, dan sebagian tumbuhan asosiasi yang ditemukan di lokasi penelitian (sebagian gambar bersumber dari Kitamura dkk., 1997) ............................................................................. Lampiran 6. Struktur vegetasi mangrove pada beberapa lokasi penelitian .. Lampiran 7. Keanekaragaman bentuk morfologi daun S. alba .................. Lampiran 8. Bentuk morfologi akar napas (pneumatofora) tumbuhan mangrove ................................................................................ Lampiran 9. Pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya ...... Lampiran 10. Pedoman Wawancara .......................................................

338

345

349 368

371 377 378 378 379 382

xxii

ABSTRAK

Ahmad Dwi Setyawan. 2004. Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa Tengah. Surakarta: Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. Keanekaragaman dan sebaran spesies tumbuhan dipengaruhi oleh asal-usul, sejarah populasi, evolusi, dan faktor-faktor lingkungan, termasuk biogeografi, ekologi reproduksi dan cara penyebaran biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (i) Keanekaragaman spesies dan sebaran mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah; (ii) Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove; (iii) Keanekaragaman genetik populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim; (iv) Parameter lingkungan, meliputi: (a) salinitas air, suhu (air dan sedimen), pH (air dan sedimen), DO air, dan karakter tanah; (b) kandungan bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-); dan (c) kandungan logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb); serta (v) Pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dilakukan pada 20 habitat mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah, pada bulan Juli s.d. Desember 2003. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa: (i) Di pantai utara dan selatan Jawa tengah ditemukan tumbuhan mangrove sebanyak 55 spesies (27 familia), terdiri dari mangrove mayor (17), minor (12), dan tumbuhan asosiasi (26), dengan bentuk habitus pohon (32), semak (13), dan herba (10). Tumbuhan mangrove mayor dengan lokasi sebaran paling luas adalah Rhizophora mucronata (16), diikuti S. alba (15), Nypa fruticans (12), Avicennia alba (11), dan A. marina (11). Tumbuhan mangrove minor paling luas lokasi sebarannya adalah Acrostichum aureum (11). Tumbuhan asosiasi mangrove yang lokasi sebarannya paling luas adalah Acanthus ilicifolius (16), Derris trifoliata (15), Calotropis gigantea (13), Hibiscus tiliaceus (11), Terminalia catappa (11), dan Ipomoea pes-caprae (10). Sedangkan spesies-spesies lainnya ditemukan kurang dari 10 lokasi. Lokasi dengan keanekaragaman spesies paling banyak adalah Wulan (35), diikuti Motean dan Muara Dua (masing-masing 29), Bogowonto (19), Pasar Banggi (18), Tritih (17), Sigrogol (15), Juwana dan Ijo (masing-masing 14), Cakrayasan (12), Lasem dan Serang (masing-masing 11), Bulak, Telukawur, Cingcingguling dan Bengawan (masing-masing 9), Pecangakan (8), Serang (6), dan Tayu (5). (ii-a) Secara umum strata pohon yang sekaligus memiliki strata anak pohon dan bibit pohon, serta strata semak yang sekaligus memiliki strata bibit semak, apabila diperbandingkan dalam satu spesies yang sama maka nilai pentingnya cenderung tetap. Pada tiga besar tumbuhan mangrove mayor, yaitu Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp. nilai penting pada strata pohon secara berturut-turut adalah 0,190, 0,136, dan 0,058; strata anak pohon 0,163, 0,126, dan 0,213, strata bibit pohon 0,186, 0,113, dan 0,235. Oleh karenanya kelestarian tumbuhan mangrove di Jawa Tengah diperkirakan akan terjamin, meskipun dalam kondisi disturbansi, selama tidak xxiii

terjadi perubahan-perubahan lingkungan secara besar-besaran dalam skala luas. Data ini sekaligus menunjukkan tingginya pengaruh antropogenik, yang menyebabkan disturbansi ekosistem, sehingga tegakan tidak mencapai klimaks, dengan nilai penting tumbuhan muda relatif tinggi. (ii-b) Diagram profil vegetasi secara vertikal dan horizontal menunjukkan tingginya pengaruh antropogenik, vegetasi didominasi tumbuhan muda, yang hanya memiliki (1)-2-(3-4) strata kanopi. Gangguan oleh aktivitas manusia menyebabkan sebagian besar vegetasi dalam kondisi suksesi sekunder, dan hampir tidak ada yang berada dalam kondisi klimaks. Area yang tercakup di dalam belt transect yang digunakan untuk menyusun diagram tersebut seringkali terdapat celah kanopi, tanah kosong akibat penebangan, atau bahkan tanah yang telah diubah menjadi kegunaan lain, terutama sawah dan tambak. Adanya resisitensi tumbuhan muda untuk terus bertahan, pada lingkungan yang mengalami disturbansi ini memberikan harapan akan tetap lestarinya tumbuhan mangrove di Jawa Tengah, namun apabila terjadi perubahan lingkungan secara besar-besaran dalam skala luas, boleh jadi lingkungan ini akan sepenuhnya rusak. (iii) Pengujian keanekaragaman genetik S. alba dengan isozim esterase secara keseluruhan memunculkan 9 pita, dengan 12 variasi genotipe, sedangkan isozim peroksidase memunculkan 6 pita, dengan 11 variasi genotipe. Dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita esterase menunjukkan adanya 13 kelompok, yang menyatu pada tingkat kesamaan 67% (kecuali kelompok ke-13 yang tidak memunculkan pita esterase). Adapun dendrogram berdasarkan pola pita peroksidase menunjukkan adanya 12 kelompok, yang juga menyatu pada tingkat kesamaan 66% (kecuali kelompok ke12 yang tidak memunculkan pita peroksidase). Individu S. alba dari lokasi yang sama atau berdekatan umumnya memiliki keanekaragaman genetik yang cenderung sama, mengingat pertukaran genetik di dalam satu populasi atau di antara populasi yang berdekatan umumnya lebih tinggi dari pada dengan populasi lain, sehingga populasi S. alba dari pantai utara memiliki kesamaan genetik yang lebih tinggi di antara sesamanya dibandingkan dengan populasi dari pantai selatan, begitu pula sebaliknya populasi dari pantai selatan memiliki kesamaan genetik yang lebih tinggi di antara sesamanya dibandingkan dengan populasi dari pantai utara. (iv-a) Suhu air berkisar antara 26,0oC (Telukawur) s.d. 37,6oC (Lasem), dengan rata-rata 30,95oC. Derajat keasaman (pH) air bervariasi antara 6,94 (Ijo dan Muara Dua) s.d. 8,29 (Wulan), dengan rata-rata 7,56. Adapun pH sedimen bervariasi antara 6,19 (Tayu) s.d. 8,13 (Wulan), dengan rata-rata 7,35. Kadar DO air berkisar antara 2,84 mg/L (Muara Dua) s.d. 20,00 mg/L (Tayu), dengan rata-rata 8,836 mg/L. Salinititas air bervariasi antara 0,4% (Muara Dua) s.d. 4,5% (Wulan), dengan rata-rata 2,82%. Tipe tanah sedimen berkisar antara lempung, lempung-lumpur, lempung-pasir, lempung-pasir putih, dan lumpur. Warna sedimen tanah bervariasi antara merah, kelabu, kelabu-merah, hitam-merah dan hitam-putih. Tekstur tanah bervariasi antara becek dan padat. (iv-b) Kadar Fe bervariasi antara 42,682 mg/100g (Bulak) s.d. 282,098 mg/100g (Lukulo), dengan rata-rata 225,853 mg/100g. Kadar Cd bervariasi antara 0,0662 mg/100g (Tayu) s.d. 0,3270 mg/100g (Bulak) dengan rata-rata 0,1215 mg/100g. Kadar Cr bervariasi antara 0,3042 mg/100g (Bengawan) s.d. 3,0808 (Lukulo), dengan ratarata 1,0583 mg/100g. Kadar Pb bervariasi 0,7026 mg/100g (Cingcingguling) s.d. xxiv

2,1304 mg/100g (Serayu) dengan rata-rata 1,3885 mg/100g. Kadar tersebut relatif tinggi, namun masih pada kisaran baku mutu yang diperkenankan. (iv-c) Kadar bahan organik total bervariasi antara 8,308% (Wulan) s.d. 15,361% (Bulak), adapun rata-ratanya adalah 11,260%. Kadar NO3- bervariasi antara 0,327 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 0,671 mg/100g (Bulak), dengan rata-rata 0,4224 mg/100g. Kadar NH4+ bervariasi antara 0,276 mg/100g (Wulan) s.d. 0,409 mg/100g (Ijo), dengan rata-rata 0,2847 mg/100g. Kadar PO43- bervariasi antara 4,73 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 8,39 mg/100g (Ijo) dengan rata-rata 6,80 mg/100g. Hal ini mengindikasikan belum adanya eutrofikasi pada sedimen tanah di lingkungan mangrove Jawa Tengah. Kadar nitrogen masih berada jauh di bawah kisaran baku mutu limbah cair, sedangkan kadar fosfat yang tinggi merupakan konsekuensi dari keberadaan mangrove di lingkungan laut, fosfat bukan faktor pembatas dan keberadaannya melimpah. Oleh karena itu, belum terjadi eutrofikasi pada sedimen tanah mangrove di Propinsi Jawa Tengah. (v) Pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove, mencakup perikanan, kayu, bahan pangan, pakan ternak, bahan obat, bahan baku industri, serta pariwisata dan pendidikan. Adapun penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, mencakup perikanan/tambak, pertanian, serta kawasan pengembangan dan bangunan. Kegiatan antropogenik tersebut telah menurunkan peran ekologi, ekonomi dan sosial budaya ekosistem mangrove, oleh karena itu perlu dilakukan restorasi. Upaya restorasi yang cukup berhasil terjadi di Pasar Banggi, keberhasilan ini tampaknya karena pengikutsertaan masyarakat dalam manajemennya. Kegiatan restorasi yang gagal terjadi di Cakrayasan dan Lukulo; penyebab utama kegagalan ini tampaknya adalah kesalahan pemilihan bibit dan tiadanya pemeliharaan yang cukup berarti. Kata kunci: keanekaragaman, distribusi, tumbuhan mangrove, pantai utara, pantai selatan, Jawa Tengah

xxv

ABSTRACT

Ahmad Dwi Setyawan. 2004. Diversity of Mangrove Plants in Northern and Southern Coast of Central Java. Surakarta: Graduate Program of Environmental Science, Sebelas Maret University. Distribution and diversity of plants species were influenced by origins, historical population, evolution, and environmental factors, such as biogeography, ecological reproduction, and seed dispersal. The study was intended to observe: (i) The diversity and the distribution of mangrove plants species on southern and northern coast of Central Java. (ii) The structure, the composition and the diagram profile of mangrove vegetation. (iii) The genetic diversity of Sonnerata alba population based on its isozyme patterns. (iv) The environmental parameters including: (a) the water salinity, the temperature of water and sediment, the pH value of water and sediment, the water DO, and the character of soil. (b) the content of total organic matter (TOM), nitrate (NO3-), ammonium (NH4+), phosphate (PO43-), and (c) the contents of heavy metal (Fe, Cd, Cr, and Pb); and also (v) the direct use in the mangrove ecosystem and the land use in its surrounding, and restoration activities. This was descriptive research that was done qualitatively and quantitatively, in 20 sites of mangrove habitat of northern and southern coast of Central Java. The summary could be drawn from the results of the study that: (i) There was 55 species (27 families) of mangrove plants in Central Java, composed by major (17), minor (12), and association (26) plants, with habits i.e. trees (32), shrubs (13), and herbs (10). The species of major mangrove plant with the broadest range of site distribution were Rhizophora mucronata (16), followed by S. alba (15), Nypa fruticans (12), Avicennia alba and A. marina (each was 11). The species of minor mangrove plant with the broadest range of site distribution was Acrostichum aureum (11). The associative plant of mangrove with the broadest range of site distribution was Acanthus ilicifolius (16), Derris trifoliata (15), Calotropis gigantea (13), Hibiscus tiliaceus (11), Terminalia catappa (11), and Ipomoea pes-caprae (10). The other species were distributed in less than 10 sites. The location with the most varied species diversity was Wulan (35), the next was Motean and Muara Dua (each was 29), Bogowonto (19), Pasar Banggi (18), Tritih (17), Sigrogol (15), Juwana and Ijo (each was 14), Cakrayasan (12), Lasem and Serang (each was 11), Bulak, Telukawur, Cingcingguling and Bengawan (each was 9), Pecangakan (8), Serang (6), and the last was Tayu (5). (ii-a) In common the trees strata which also have saplings strata and strata seedlings; and shrubs strata which also have strata of seedlings, if they were compared to the same species then their important value tend to be stable. In the big three of mangrove major plants, i.e. Avicennia spp., Sonneratia spp., and Rhizophora spp., the important value of trees strata subsequently were 0,190, 0,136, and 0,058; the saplings strata were 0,163, 0,126, dan 0,213; and the seedlings strata were 0,186, 0,113, and 0,235. So it was predictable that in the disturbance condition, the preservation of mangrove was xxvi

guaranteed, as long as there was no great change on a broad scale. This data also indicated that there was high anthropogenic activities caused ecosystem disturbance, so the trees stand did not arrive climax yet, the important value of young plants was high enough. (ii-b) The diagram profile of vegetation showed the height of anthropogenic influence, where the vegetation was dominated by young plants, there were only (1)-2-(3-4) strata of canopy (storey). Human disturbance caused most of the vegetation was in the secondary succession, almost it has not in the climax condition. The area in the belt transect that used to build diagram usually have canopy gap or bare land caused by logging, or to be converse into another land use, especially sawah (rice field) and tambak (fish pond and salt extraction). The resistance of young plant gives hope to the sustainability of the mangrove plant in Central Java, but width scale of environmental changes can degraded this habitat completely. (iii) The individual of S. alba of the same or near location has the same genetic diversity in common, because the genetic change on a same population was higher than on a different population. Therefore, the populations of S. alba from northern coast had higher similarity each others than southern coast one, on the other way the populations from southern coast had higher similarity each others than northern coast one. (iva) The water temperature ranged from 26.0oC (Telukawur) to 37.6oC (Lasem) with the average temperature of 30.95oC. The acidity degree (pH) of water was in the range of 6.94 (Ijo and Muara Dua) to 8.29 (Wulan), with the average of 7.56. The acidity degree of sediment varied from 6.19 (Tayu) to 8.13 (Wulan) with the average of 7.35. The DO content of water varied from 2.84 mg/L (Muara Dua) to 20.00 mg/L (Tayu) with the average of 8.836 mg/L. the water salinity was in the range of 0.4% (Muara Dua) to 4.5% (Wulan) with the average of 2.82%. The type of sediment varied from clay, clay-silt, clay-sand, clay-white sand, and silt. The color of sediment varied from red, gray, gray-red, black-red, and black-white. The soil texture varied from soft to hard soil. (iv-b) The Fe content varied from 42.682 mg/100g (Bulak) to 282.098 mg/100g (Lukulo) with the average of 225.853 mg/100g. The Cd content varied from 0.0662 mg/100g (Tayu) to 0.3270 mg/100g (Bulak) with the average of 0.1215 mg/100g. The Cr content varied from 0.3042 mg/100g (Bengawan) to 3.0808 mg/100g (Lukulo) with the average of 1.0583 mg/100g. The Pb content varied from 0.7026 mg/100g (Cingcingguling) to 2.1304 mg/100g (Serayu) with the average of 1.3885 mg/100g. This result indicated that the content of heavy metals was high enough, but still below the recommended standard quality of sewage. (iv-c) The content of total organic material varied from 8.308% (Wulan) to 15.361% (Bulak) with the average of 11.260%. The NO3- content varied from 0.327 mg/100g (Cincingguling) to 0.671 mg/100g (Bulak) with the average of 0.4224 mg/100g. The NH4+ content varied from 0.174 mg/100g (Wulan) to 0.409 mg/100g (Ijo) with the average of 0.2847 mg/100g. The PO43- content varied from 4.73 mg/100g (Cincingguling) to 8.39 mg/100g (Ijo) with the average of 6.80 mg/100g. This result indicated that the content of nitrogen was far below the recommended standard quality of sewage. The high concentration of phosphate was the consequence of marine environment in mangrove ecosystem, that phosphate was not limiting factor and there was in great quantities. It can be concluded that was not eutrophycation yet in soil sediment of xxvii

mangrove environment in Central Java Province. (v) The direct use in the mangrove ecosystem included fishery, forestry, food stuff, cattle woof, medicinal stuff, industrial material, and also tourism and education. The land use around mangrove ecosystem included fishery/embankment, agriculture, and the area of developing and building. The anthropogenic activities had been degraded mangrove ecosystem, it was called for restoration. The mangrove restoration had been done success in Pasar Banggi, but it failed in Cakrayasan and Lukulo. The failure can be caused by mistake in seedling species selection and not existing maintain of the seedlings. The success can be improved by participation of local people in its management. Keywords: diversity, distribution, mangrove plants, northern coast, southern coast, Central Java.

xxviii

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tumbuhan mangrove memiliki habitus pohon atau semak dengan bentuk dan ukuran beragam. Tumbuhan ini mudah dikenali karena tumbuh pada kawasan pantai di antara rata-rata pasang dan pasang tertinggi, serta beberapa di antaranya membentuk sistem perakaran yang sangat menyolok (Ng dan Sivasothi, 2001). Komunitas mangrove terdiri dari tumbuhan, hewan, dan mikrobia, namun tanpa kehadiran tumbuhan mangrove, kawasan tersebut tidak dapat disebut ekosistem mangrove (Jayatissa dkk., 2002). Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain sebagai sumber kayu bakar, bahan bangunan, bahan makanan, dan obat-obatan (Tanaka, 1992; MoE, 1997a; Bandaranayake, 1998). Hutan ini tumbuh di area pasang-surut kawasan tropis dan sub-tropis, seperti pantai yang dangkal, muara sungai, delta, rawa belakang/burit (back swamp), dan laguna (Ng dan Sivasothi, 2001). Ekosistem mangrove memiliki fungsi ekologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya yang beragam, namun sejumlah besar area ekosistem mangrove dunia telah musnah karena pertambakan, pengambilan kayu, sedimentasi dan reklamasi, pencemaran lingkungan, bencana alam, dan lain-lain (Knox dan Miyabara, 1984; Nybakken, 1993). Kemampuan hutan untuk menyimpan dan mensekuestrasi karbon, menjadi perhatian dunia sehubungan dengan upaya mitigasi emisi CO2. Kegiatan manusia

1

2

dan gangguan alam, seperti konversi hutan ke penggunaan di luar kehutanan, serta degradasi hutan akibat pemanenan berlebih, kebakaran, meledaknya hama dan penyakit, dan lain-lain dapat menyebabkan hutan menjadi sumber CO2. Hal ini terjadi karena produktivitas primer dari fotosintesis dilampaui oleh total respirasi serta oksidasi tumbuhan, tanah dan sisa-sisa bahan organik (Brown, 2002). Dalam skala global, perubahan penutupan hutan akan menaikkan emisi gas CO2 ke atmosfer sehingga menyumbang terjadinya efek rumah kaca (Houghton, 1999; Houghton dan Hackler, 2001). Pembukaan ekosistem mangrove diyakini turut menyumbangkan emisi CO2 ke atmosfer mengingat ekosistem ini kaya akan bahan organik, baik yang terkumpul sebagai autochtonous dari lingkungan mangrove itu sendiri maupun sebagai allochtonous dari kawasan sungai dan laut di sekitarnya. Kawasan pantai utara dan selatan Jawa Tengah, merupakan bagian pulau Jawa yang secara dinamis mengalami perubahan. Pertambahan penduduk dan kepadatannya yang tinggi menyebabkan besarnya kebutuhan akan lahan, sehingga hampir semua ekosistem alami diubah menjadi ekosistem antropogenik. Sebagian besar habitat mangrove di Jawa telah mengalami degradasi, namun pulau Jawa masih menyisakan ekosistem mangrove yang alami, sehingga dapat menjadi sumber biji/propagul untuk merestorasi ekosistem yang rusak, terutama di beberapa kawasan taman nasional (Setyawan dkk., 2003; 2004). Di pantai utara Jawa Tengah, sedimen dari sungai dan laut terendapkan pada lokasi-lokasi tertentu yang terlindung dan membentuk tidal flat (tanah lumpur pasang surut). Di pantai selatan, sedimen yang terbawa sungai dan laut

3

mengendap di muara sungai membentuk tanggul dan gumuk pasir (sand dune) (Steenis, 1958; 1965; Whitten dkk., 2000). Hal ini menyebabkan pola genangan dan salinitas di kedua kawasan tersebut berbeda, sehingga penampakan vegetasi mangrovenya juga berbeda. Kawasan tidal flat di pantai utara memiliki pola genangan harian sesuai dengan pasang surut laut, sehingga salinitasnya mengikuti aliran air laut ini. Pola genangan di muara-muara sungai di pantai selatan lebih variatif. Pada musim kemarau rendahnya debit air sungai menyebabkan tanggul/gumuk pasir di muara sungai tidak dapat ditembus, sehingga air sungai menggenangi laguna dan salinitasnya menurun. Pada musim hujan besarnya debit air sungai menyebabkan membukanya tanggul/gumuk pasir dan laguna terhubung langsung dengan laut, sehingga terjadi genangan harian sejalan dengan pasangsurut air laut dan salinitasnya lebih bervariasi (Steenis, 1958; 1965). Dalam setiap tahun, genangan penuh ini berlangsung sekitar 4-6 minggu (Djohan, 1999). Laguna Segara Anakan juga memiliki pola genangan harian sejalan dengan pasang-surut air laut, namun pada musim hujan fluktuasi genangan harian berkurang karena besarnya volume air tawar dari sungai-sungai yang bermuara ke dalamnya (MoE, 1997b). Di pantai utara mangrove tidak hanya tumbuh di muara sungai, namun terutama pada kawasan tidal flat, sedangkan di pantai selatan hanya tumbuh di muara sungai; namun di pantai selatan terdapat kawasan mangrove terluas di Jawa, yaitu laguna Segara Anakan, Cilacap, yang terbentuk karena adanya perlindungan dari gelombang laut oleh pulau Nusakambangan dan masukan air

4

tawar dari sungai Citanduy, Jeruk Legi-Donan, Cimeneng/Cikonde, dan lain-lain (Winarno dan Setyawan, 2003). Tumbuhan melakukan adaptasi terhadap kondisi lokal habitatnya sehingga terbentuk keanekaragaman hayati, baik pada tingkat genetik, spesies, maupun ekosistem. Salah satu bukti adanya keanekaragaman genetik sebagai bentuk tanggapan terhadap kondisi lokal tampak pada kegagalan eksperimen penanaman Sonneratia alba dengan bibit dari Segara Anakan Cilacap ke muara Sungai Bogowonto pada tahun 1997 (Tjut Sugandawaty Djohan, 2001, komunikasi pribadi). Bibit tersebut mati akibat penggenangan, sedangkan bibit lokal tetap dapat bertahan hidup. Eksistensi makhluk hidup di suatu lingkungan sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan abiotik, biotik, dan kultur masyarakat. Faktor lingkungan abiotik diperkirakan mempengaruhi sebaran, keanekaragaman spesies, dan kemelimpahan (penutupan) vegetasi mangrove di setiap lokasi, baik di pantai utara maupun pantai selatan Jawa Tengah, meskipun hal ini tentunya juga dipengaruhi oleh faktor biotik seperti kompetisi dan herbivori, serta faktor sosial budaya yang tampak pada jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan jenis-jenis penggunaan lahan oleh masyarakat di sekitar dan masyarakat yang tinggal di hulu sungai (daerah aliran sungai). Penelitian keanekaragaman hayati tumbuhan mangrove di pesisir Jawa Tengah secara komprehensif dengan mengintegrasikan penelitian

keanekaragaman hayati pada tingkat genetik, spesies dan ekosistem; serta dikaitkan dengan kondisi lingkungan fisika-kimia, potensi eutrofikasi oleh unsur

5

nutrien dan pencemaran lingkungan oleh limbah logam berat; serta aktivitas pemanfaatan ekosistem mangrove, penggunaan lahan dan upaya restorasi yang telah dilakukan, diharapkan dapat menjadi landasan pengelolaan ekosistem mangrove di propinsi ini secara lestari dan berkelanjutan, sehingga dapat turut memberi sumbangan terhadap kesejahteraan masyarakat. Untuk itu penelitian ini dilakukan.

B. Rumusan Masalah Pertanyaan terhadap permasalahan penelitian ini meliputi: 1. Bagaimana keanekaragaman spesies dan sebaran mangrove di pantai utara (mulai dari Rembang s.d. Demak) dan pantai selatan Jawa Tengah (mulai dari Kulonprogo s.d. Cilacap)? 2. Bagaimana komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah? 3. Bagaimana keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah? 4. Bagaimana parameter lingkungan pada kawasan mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah, meliputi: a. Parameter fisika-kimia: salinitas air, suhu (air dan sedimen), pH (air dan sedimen), DO air, dan karakter tanah, b. Parameter nutrien: kadar bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-), dan

6

c. Parameter pencemaran lingkungan: kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). 5. Bagaimana jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasi ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah?

C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. Mengetahui keanekaragaman dan sebaran mangrove di pantai utara (mulai dari Demak s.d. Rembang) dan pantai selatan Jawa Tengah (mulai dari Purworejo s.d. Cilacap). 2. Mengetahui komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah. 3. Mengetahui keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah. 4. Mengetahui parameter lingkungan pada kawasan mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah, meliputi: a. Parameter fisika-kimia: salinitas air, suhu (air dan sedimen), pH (air dan sedimen), DO air, dan karakter tanah, b. Parameter nutrien: kadar bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-), dan

7

c. Parameter pencemaran lingkungan: kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). 5. Mengetahui jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasi ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah.

D. Manfaat Penelitian Pengetahuan mengenai kondisi terkini ekosistem mangrove di Jawa Tengah dapat memberikan manfaat teoritis berupa sumbangan bagi

pengembangan ilmu pengetahuan, terkait dengan upaya penyelamatan (save it), penelitian (study it), dan pemanfaatan (use it) sumberdaya ekosistem mangrove dunia secara aman dan lestari. Adapun secara praktis, pengetahuan ini diharapkan dapat digunakan sebagai landasan pengelolaan sumberdaya ekosistem mangrove di Jawa Tengah, mengingat ekosistem mangrove memiliki nilai ekologi, sosialekonomi, dan sosial-budaya, yang sangat tinggi. Pengelolaan secara tepat diharapkan dapat menjaga kelestariannya, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya masyarakat yang kehidupannya tergantung pada kesehatan dan sustainabilitas ekosistem mangrove, seperti nelayan pantai dan petambak. Ekosistem mangrove yang terjaga akan berdampak secara keseluruhan terhadap ekosistem padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem pantai.

8

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori 1. Definisi Biodiversitas (Keanekaragaman Hayati) Istilah “biodiversitas” mulai diperkenalkan pada tahun 1980-an, sebagai kepanjangan dari “biological diversity” (keanekaragaman hayati; kehati) (Wilson, 1988). Konvensi keanekaragaman hayati (Convention on Biological Diversity, CBD) mengartikan biodiversitas sebagai: keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks-kompleks ekologi yang mereka menjadi bagiannya; mencakup keanekaragaman di dalam spesies, di antara spesies, dan pada ekosistem (CBD, Pasal 2), sehingga mencakup keanekaragaman genetik (di dalam spesies), keanekaragaman spesies (di antara spesies), dan keanekaragaman ekosistem (Groombridge, 1992; BDP, 2001). Keanekaragaman genetik adalah frekuensi dan keragaman gen di dalam dan di antara populasi spesies yang sama. Keanekaragaman genetik merupakan hasil evolusi selama jutaan tahun, sehingga informasi genetik yang terbentuk merupakan sumberdaya yang tidak tergantikan. Kehilangan biodiversitas genetik bersifat permanen. Keanekaragaman spesies adalah gabungan dari jumlah spesies (kekayaan; richness) dan jumlah individu di dalam spesies (kemelimpahan; abundance). Spesies adalah kelompok organisme yang dapat berkawin secara bebas dan menghasilkan keturunan fertil. Perpindahan dari aras keanekaragaman

8

9

genetik ke spesies tidak selalu jelas karena evolusi dan isolasi populasi merupakan proses yang lambat dan selalu diperbaharui. Keanekaragaman ekosistem adalah variasi di dalam dan di antara berbagai ekosistem. Ekosistem adalah kompleks dinamis dari komunitas tumbuhan, hewan dan mikrobia dengan lingkungan nonhayatinya, yang berinteraksi sebagai sebuah unit fungsional (BDP, 2001). Secara tradisional keanekaragaman hayati didekati melalui karakter morfologi, namun sifat ini memiliki banyak keterbatasan mengingat sedikitnya jumlah ciri-ciri yang dapat dianalisis. Karakter ini berdasarkan sifat fenotipe, sehingga ragam genetik yang diperoleh masih bersifat dugaan, serta dipengaruhi plastisitas fenotipe dan faktor lingkungan. Pada tingkat populasi, penggunaan sifat morfologi untuk menganalisis keanekaragaman hayati semakin tidak berarti, karena tingginya persamaan ciri morfologi dan semakin sedikitnya sifat pembeda yang dapat diungkapkan (Bhattacharyya dan Johry, 1998; Lawrence, 1951).

2. Definisi Mangrove Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Melayu manggi-manggi dan bahasa Arab el-gurm menjadi mang-gurm, keduanya sama-sama berarti Avicennia (api-api), pelatinan nama Ibnu Sina, seorang dokter Arab yang banyak mengidentifikasi manfaat obat tumbuhan mangrove (Jayatissa dkk., 2002; Ng dan Sivasothi, 2001). Sedang menurut MacNae (1968) kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Portugis mangue (tumbuhan laut) dan bahasa Inggris grove (semak-belukar), menjadi mangrove yakni semak-belukar yang tumbuh di tepi laut. Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang-surut maupun untuk individu-individu

10

spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. FAO (1982; 1994), merekomendasikan penggunaan kata mangrove baik untuk individu spesies tumbuhan maupun komunitas tumbuhan di daerah pasang surut. Hutan mangrove atau mangal adalah sejumlah komunitas tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis dan sub-tropis, didominasi tumbuhan bunga terestrial berhabitus pohon dan semak, dapat menginvasi dan tumbuh di kawasan pasang surut, yaitu daerah antara pasang tertinggi sampai ketinggian rata-rata air laut, dengan tanah bersalinitas tinggi dan anaerob (MacNae, 1968; Chapman, 1976; Tomlinson, 1986; Aksornkoae, 1993; Nybakken, 1993; Kitamura dkk., 1997). Hutan mangrove dapat pula didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, dan muara sungai) yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas berbagai tumbuhan, hewan, dan mikrobia yang berinteraksi dengan lingkungan di habitat mangrove (SNM, 2003), namun tanpa hadirnya tumbuhan mangrove, kawasan ini tidak dapat disebut ekosistem mangrove (Jayatissa dkk., 2002). Dalam bahasa Indonesia hutan mangrove disebut juga hutan pasang surut, hutan payau, rawa-rawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering digunakan adalah hutan mangrove, hutan bakau, atau hutan payau (Kartawinata, 1979; SNM, 2003), namun untuk menghindari kesalahan literasi dianjurkan penggunaan istilah

11

mangrove karena bakau adalah nama lokal untuk anggota genus Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun oleh banyak genus dan spesies tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (SNM, 2003).

3. Sebaran Ekosistem Mangrove a. Sebaran Ekosistem Mangrove Dunia Tumbuhan mangrove diperkirakan berasal dari Indo-Malaysia, kawasan pusat biodiversitas mangrove dunia. Spesies ini terbawa arus laut ke seluruh pantai daerah tropis dan sub-tropis dunia, pada garis lintang 25oLU dan 25oLS, karena bijinya dapat mengapung. Dari kawasan Indo-Malaysia, mangrove tersebar ke barat hingga India dan Afrika Timur, serta ke timur hingga Amerika dan Afrika Barat (Atlantik). Penyebaran mangrove dari pantai barat Amerika ke laut Karibia, terjadi pada jaman Cretaceous atas dan Miocene bawah, antara 66-23 juta tahun yang lalu, melewati selat yang kini menjadi tanah genting negara Panama. Penyebaran ke timur diikuti penyebaran ke utara hingga Jepang dan ke selatan hingga Selandia Baru, sehingga sebagai perkecualian, mangrove ditemukan di Selandia Baru (38oLS) dan Jepang (32oLU). Cara penyebaran ini menyebabkan mangrove di Amerika dan Afrika Barat memiliki luas dan keragaman lebih rendah, karena harus melewati Samudera Pasifik, sedangkan mangrove di Asia, India, dan Afrika Timur memiliki keragaman lebih tinggi (Walsh, 1974; Tomlison, 1986). Hal ini menginspirasi Walsh (1974) untuk membagi dunia mangrove menjadi dua kawasan utama, yaitu Indo-Pasifik Barat yang meliputi Asia, India dan Afrika Timur, serta Amerika - Afrika Barat (Gambar 1.).

12

B

A

A merika 27% A s ia Tenggara & Selatan 41% 3 6 .6 3 %

2 3 .3 6 %

Indonesia (42.550 km2) Brazil (13.400 km2) A ustralia (11.500 km2) Nigeria (10.515 km2) Kuba (7.848 km2)

7.36%

India (6.700 km2) M alaysia (6.424 km2) Banglades (5.767 km2)

Afrika Barat 16% Afrika Timur & Timur Tengah 6% A ustralia & Oseania 10%

6.31% 2.92% 2.96% 3.17% 3.53% 5.77% 4.31% 3.68%

Papua Nugini (5.399 km2) M eksiko (5.315 km2 Lain-lain (66.727 km2)

Gambar 1. Distribusi mangrove dunia (dari total luas 18.107.700 ha). Keterangan: A. Indo-Pasifik Barat, B. Amerika - Afrika Barat (FAO, 1985; Spalding dkk., 1997).

Mangrove dari kawasan Indo-Pasifik Barat terkenal sangat beragam, terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di Amerika - Afrika Barat hanya sekitar 12 spesies. Tumbuhan Rhizophora dan Avicennia, dua genus utama mangrove, diwakili spesies yang berbeda di kedua kawasan tersebut, mengindikasikan adanya spesiasi yang mandiri. Di Indo-Pasifik Barat ditemukan A. officinalis, A. marina, R. mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, dan S. alba,

13

sedangkan di Atlantik ditemukan A. nitida, R. racemosa, R. mangle, R. harrissonii, dan Laguncularia racemosa (Marius, 1977; Aksornkoae, 1996). Luas ekosistem mangrove dunia sangat beragam tergantung metode dan referensi yang dijadikan acuan. Dengan teknologi remote sensing luas ekosistem mangrove dunia diperkirakan sekitar 18,1 juta ha (Spalding dkk., 1997). Sedangkan sumber lama menyebutkan bahwa luas ekosistem mangrove dunia sekitar 15,9 juta ha (FAO, 1982), data yang diperbaharui luasnya sekitar 16,9 juta ha (Saenger dkk., 1983). Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Dari 15,9 juta ha mangrove dunia tersebut, sekitar 4,25 juta ha (27%) berada di Indonesia (FAO, 1982).

b. Sebaran Ekosistem Mangrove Indonesia Indonesia merupakan negara besar, terdiri lebih dari 17.000 pulau, dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km (Hadianto, 1998), dengan kondisi geomorfologi dan hidrologi yang beragam sehingga memungkinkan terbentuknya berbagai tipe ekosistem mangrove. Sekitar 61.250 km2 atau sepertiga mangrove dunia terdapat di Asia Tenggara, 42.550 km2 terdapat di Indonesia (Spalding dkk., 1997) (Gambar 2.). Ekosistem mangrove hanya mencakup 2% daratan bumi, sehingga secara global sangat langka dan bernilai dalam konservasi (Ong, 2002). Ekosistem ini merupakan bagian dari wilayah pesisir, pertemuan darat dan laut, yang mencakup 8% permukaan bumi (Birkeland, 1983; Ray dan McCormick, 1994; Clark, 1996).

14

10.89% 6.43% 4.48% 4.29% 1.44% 0.29% 0.01% Indonesia (42.550 km2) Malaysia (6.420 km2) Myanmar (3.790 km2) Thailan (2.640 km2) Vietnam (2.530 km2) Kamboja (850 km2) Brunei (170 km2) 72.17% Singapura (6 km2) 36 24 45 31 35 29 5 29

A

B

Gambar 2. Distribusi luasan mangrove di Asia Tenggara dengan luas keseluruhan sekitar 61.250 km2 (A) dan jumlah spesies pada setiap negara (B) (Spalding dkk., 1997).

Ekosistem mangrove di Indonesia umumnya terpencar-pencar dalam kelompok-kelompok kecil, sebagian besar terletak di Irian Jaya (Papua) (Gambar 3.). Mangrove tumbuh pada berbagai substrat seperti lumpur, pasir, terumbu karang dan kadang-kadang pada batuan, namun paling baik tumbuh di pantai berlumpur yang terlindung dari gelombang dan mendapat masukan air sungai. Tumbuhan mangrove di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dapat mencapai tinggi 50 m dengan diameter 50 cm, meski umumnya hanya setinggi 25 m dengan diameter 18 cm (Soemodihardjo dan Ishemat, 1989). Di seluruh Indonesia jumlah tumbuhan mangrove sekitar 47 spesies (MoE, 1997b). Informasi lain menyatakan jumlahnya lebih dari 37 spesies (Soemodihardjo dan Ishemat, 1989) atau 45 spesies (Spalding dkk., 1997). Spesies utama berasal dari genera Avicennia, Rhizophora, Sonneratia, Bruguiera, Ceriops, Excoecaria, Heritiera, Lumnitzera, Nypa fruticans, Xylocarpus, dan Aegiceras (Soemodihardjo dan Sumardjani, 1994).

15

A
2.35% 2.35% 9.02% 1.22% 0.13% Irian (2.943.000 ha) Sumatera (667.340 ha) 15.70% Kalimantan (383.450 ha) Maluku (100.000 ha) Sulaw esi (99.830 ha) 69.23% Jaw a dan Bali (51.890 ha) Nusa Tenggara (5.510 ha)

B Gambar 3. Sebaran ekosistem mangrove di Indonesia. A. Pada setiap propinsi (SNM, 2003). B. Pada setiap pulau/kepulauan (FAO, 1985).

c. Sebaran Ekosistem Mangrove di Jawa Pada masa lalu ekosistem mangrove ditemukan sangat melimpah di pantai utara Jawa, dan sebagian pantai selatan yang terlindung dari deburan ombak laut. Ekosistem ini tumbuh mulai dari Banten hingga Jepara, kawasan pesisir Pati dan Rembang, delta Solo-Brantas, Segara Anak-Teluk Grajakan-Alas Purwo, sekitar Pulau Sempu, Segara Anakan-Cilacap, dan Ujung Kulon (Whitten dkk., 2000) (Gambar 4.)

16

Gambar 4. Sebaran ekosistem mangrove di Jawa (Whitten dkk., 2000).

Pada tahun 1985, ekosistem mangrove di pulau Jawa seluas 170.500 ha, namun pada tahun 1997 tinggal 19.077 ha. Di Jawa Tengah pada masa yang sama luasannya berkurang dari 46.500 ha hingga tinggal 13.577 ha. Apabila ekstensifikasi tambak dengan mengubah ekosistem mangrove terus dilakukan, maka kemungkinan besar akan sangat sulit menemukan ekosistem mangrove di Jawa (Giesen, 1993). Jawa masih menyisakan ekosistem mangrove alami, yang menyimpan cukup banyak spesies mangrove, sehingga dapat menjadi sumber biji untuk merestorasi ekosistem yang rusak, terutama di beberapa kawasan taman nasional, antara lain TN Baluran dan TN Alas Purwo di Jawa Timur, serta TN Ujung Kulon di Banten. Di lepas pantai utara Jawa, terdapat dua taman nasional laut yang juga menyimpan ekosistem mangrove, yaitu TNL Karimunjawa dan TNL Kepulauan Seribu (Setyawan dkk., 2003; 2004). Di Jawa Tengah, ekosistem mangrove terutama tumbuh di Kepulauan Karimunjawa, sepanjang pesisir pantai utara Jawa, dan di laguna Segara Anakan. Pada masa lalu hutan Segara Anakan merupakan ekosistem mangrove terluas di

17

Jawa, luasnya mencapai 15.145 ha (Wirjodarmodjo dkk., 1979) atau bahkan 21.500 ha (Sasaki dan Sunarto, 1994). Pada masa kini luasnya sulit diprediksi akibat tingginya sedimentasi hingga terbentuk dataran-dataran baru yang diinvasi mangrove, serta banyaknya perubahan peruntukan area vegetasi mangrove lama yang telah mapan (Setyawan dkk., 2002; Winarno dan Setyawan, 2003). Tingkat perubahan habitat yang sangat tinggi menyulitkan upaya untuk mengukur luasan ekosistem mangrove dan rawa-rawa air tawar di sekitarnya (Silvius dkk., 1987). TNL Karimunjawa memiliki 25 spesies mangrove, antara lain: Bruguiera, Rhizophora, Ceriops, Sonneratia, Avicennia, dan Xylocarpus (Martoyo, 2000). Di pantai selatan Jawa Tengah terdapat 29 spesies mangrove. Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Avicennia alba dan N. fruticans merupakan spesies yang paling sering ditemukan (Setyawan dkk., 2002).

4. Manfaat Ekosistem Mangrove Ekosistem ini memiliki peran/fungsi/manfaat ekologi, sosial-ekonomi, dan sosia-budaya yang sangat penting. Sebagian besar peran ini diberikan oleh tumbuhan mangrove (Setyawan, 2002). Ekosistem mangrove menghasilkan sejumlah barang dan jasa yang tidak seluruhnya dapat dipasarkan. Beberapa di antaranya diteruskan sebagai pelayanan untuk ekosistem pantai dan lepas pantai. Nilai ini sulit ditentukan dan sering tidak disadari, sehingga area mangrove sering diubah untuk menghasilkan produk ekonomi yang langsung laku di pasaran, misalnya pertambakan. Produk-produk yang dihasilkan secara langsung dan tidak langsung dari tumbuhan mangrove disajikan pada Tabel 1.

18

Tabel 1. Pemanfaatan tumbuhan mangrove (SNM, 2003). No. Spesies 1
1.

Manfaat 3
Bahan obat Bahan obat Papan, lem, kayu untuk ikan asap, madu, tanin pengawet jala, tanin penyamak kulit, rempah-rempah dari kulit, sayuran, obat. Perabot rumah tangga, kayu bakar, balok, tiang pancang, racun ikan, kertas (berbagai macam), madu. Tiang, pagar, pipa, papan, lem, pakan ternak, pupuk hijau, penumbuk padi. Kayu bakar, balok, pancang, tiang, pagar, pipa, papan, lem, kayu untuk ikan asap, racun ikan, kertas, pakan ternak, pupuk hijau, manisan umbut, obat. Tiang pagar, pipa, papan, lem. Kayu bakar, arang, kayu, tangga, bantalan jalan kereta, bahan bangunan kapal, tiang pancang dok, balok, lantai, papan, tiang, pagar, pipa, papan, sepih, lem pasak, madu obat. Kayu bakar, bahan bangunan kapal, balok, pancang, kayu untuk ikan asap, kertas, pakan ternak, pupuk hijau, sayuran, madu, sabun Kayu bakar, arang, kayu tangga, kontruksi berat, bantalan jalan kereta, bahan bangunan kapal, tiang pancang dok, balok, pancang lantai, panel, pancang pagar, pipa, papan, lem pasak, pakan ternak, pupuk hijau, umbut dan perabot rumah tangga. Kayu bakar, kayu untuk ikan asap, kertas pakan ternak, pupuk hijau, sayuran, penumbuk padi. Kayu bakar, tanin penyamak kulit, madu Serat sintesis, bahan pencelup pakaian Kayu bakar, arang kayu, tangga, tugal, balok, tiang, bangunan, pancang untuk perangkap ikan, tanin untuk penyamak kulit, upacara keagamaan Seperti di atas ditambah tiang, pagar, pipa Kayu bakar, arang, kayu, tangga, tugal, balok, pancang tanin untuk penyamak kulit, kertas. Sama seperti di atas ditambah tanin penyamak kulit, rempahrempah dari kulit kayu, sayuran, obat, dempul, kemenyan. Kayu bakar, kertas Kayu, tangga, kertas Arang, bahan pencelup pakaian, pakan ternak, pupuk hijau Kayu bakar bangunan berat, balok, pancang, tanin untuk penyamak kulit, madu Kayu bakar, kayu, tangga, tugal, bangunan kapal, balok, pancang, tanin pengawet jala dan penyamak kulit, bahan pencelup pakaian, kertas (berbagai jenis), bahan pengganti teh, obat. Kayu bakar, arang, kayu, tangga, pancang bangunan kapal, balok, lantai, papan, madu, perkakas, gagang alat-alat rumah tangga, obat kuat.

2
Acantus A.ebracteatus Vahl A.ilicifolius L Aegialitis rotundifolia Roxb Aegiceras corniculatum L. Blanco Avicennia A. alba Blume

2. 3. 4.

A. eucalyptifolia Zipp A. germinans L

A. marina Vierh A. nitida Jacg

A. officinalis L A. schaueriana Staph & Leechman 5. Bruguiera B. cylindrica (L) Blume B. gymnorrhiza (L) Lam. B. parviflora (Roxb) Wight&Arn B. sexangula (Lour) Poiret 6. Camptostemnon C. philippinensis Becc C. schultzii Mast Ceriops C. decandra (Griff) Ding Hou C. tagal (Perrottet) Robinson Conocarpus erectus L

7.

8.

19

1 9. 10.

2 Cynometra ramitumbuhan L Excoecaria agallocha L Heritiera H. fomes Buch. Ham H. littolaris Aiton ex Dryander

3 Kayu bakar, kontruksi berat, lantai, papan, madu. Kayu tangga, lantai, papan, pelampung, racun ikan, kertas, kotak, kayu, rempah-rempah dari kulit, madu, mainan, korek api, kemenyan. Kayu tangga, kontruksi berat, bahan bangunan kapal, tiang pancang dok, balok, lantai, papan, alat rumah tangga, korek api. Kayu bakar, kayu, tangga, konstruksi berat, bantalan jalan kereta api, bahan banguan kapal, tiang pancang dok, balok, lantai, papan, tiang pagar, pipa, lem, tanin pengawet jala, gagang alat rumah tangga, penumbuk padi. Kayu bakar Kayu bakar, arang, pancang, tiang, pagar, pipa, papan, lem, tanin penyamak kulit, gagang alat rumah tangga. Obat Kayu bakar, kontruksi berat, bantalan jalan kereta, bahan bangunan kapal, pancang dok, balok, lantai, tiang, pagar, papan, pipa, kayu serpih, lem, pancang perangkap ikan, kayu untuk ikan asap, gagang alat rumah tangga. Seperti diatas Atap, tikar, pancang perangkap ikan, pelampung, jas hujan, topi, payung, gula, cuka, minuman fermentasi, manisan, pembungkus rokok, obat, keranjang. Tiang, pagar, pipa, papan, lem Tanin untuk pengawet jala dari benang, bahan pencelup pakaian, tanin untuk penyamak kulit, kerajinan kayu Kayu bakar, arang, kayu, tangga, kontruksi, bantalan jalan kereta api, tugal, tiang, balok, pancang dok, balok, pagar, pipa, papan, lem, pancang perangkap ikan, alat rumah tangga. Kayu bakar, arang, kayu, tangga, kontruksi, bantalan jalan kereta, tugal, bahan bangunan kapal, balok, pabcang dok, pancang, lantai, papan, tiang pagar, pipa, papan, lem, pasak. Seperti di atas ditambah pancang perangkap ikan, tanin pengawet jala dan penyamak kulit, pakan ternak, pupuk hijau, bahan pengganti teh, madu, pegangan alat rumah tangga. Seperti di atas ditambah tanin penyamak kulit, kertas, pupuk hijau, pakan ternak, minuman fermentasi, manisan, madu, obat, mebel. Kayu bakar, arang, kayu, tangga, bahan bangunan, bantalan jalan kereta api, tugal, bangunan kapal, pancang dok, balok, lantai papan, pipa, tiang pagar, lem, pasak papan, pancang bubu ikan, penyamak jala dan kulit, gagang alat rumah tangga, kerajinan kayu. Kayu bakar, arang Kayu bakar Kayu bakar, tiang pagar, pipa papan, lem, gagang alat rumah tangga.

11.

12. 13. 14.

Kandelia candel (L) Druce Leguncularia racemosa Gaetun. F Lumnitzera L. littorea (Jacl) Voigt

15.

L. racemosa Willd Nypa fruticans van Wurmb. Phoenix poludosa Roxb. Rhizophora R. apiculata Blume

16. 17.

R. harrisonii Leechman R. mangle L.

R. mucronata Lam. R. racemosa G. Meyer

18.

R. stylosa Griff R. xselala (Salvoza) Tomlinson Scyphyphora hydrophyllacea Gaernt

20

1 19.

2 Sonneratia S. alba J. Smith S. caseolarris (L) Engl. S. apetala Buch-Ham Xylocarpus X. granatum Koenig

20.

X. moluccensis (Lam) Roem

3 Topi Pancang perangkap ikan, pelampung, bahan pencelup pakaian, pakan ternak, pupuk hijau, cuka, manisan, sayuran, mebel. Pasak, pelampung, kertas, pakan ternak pupuk hijau, cuka, manisan, sayuran mebel. Kayu bakar, kayu, tangga, bangunan berat, bangunan kapal, mebel. Bahan pencelup pakaian Kayu bakar, kayu, tangga, bantalan jalan kereta api, bangunan kapal, pancang dok, balok, lantai, papan, tiang pagar, pipa, lem, bahan pencelup, pakaian, kertas, mebel, gagang alat rumah tangga, mainan, kerajinan kayu, ukiran, pensil. Seperti di atas.

a. Manfaat Sosial-Ekonomi Ekosistem mangrove memiliki nilai sosial-ekonomi, dan ekologi dan sosial-budaya sangat penting (Bennett dan Reynolds, 1993). Ekosistem ini memiliki nilai sosial-ekonomi berupa: kayu bangunan, kayu bakar, kayu lapis, bubur kertas, tiang telepon, tiang pancang, bagan penangkap ikan, dermaga, bantalan jalan kereta api, kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, atap, tannin, bahan obat, gula, alkohol, asam asetat, protein hewani, madu, karbohidrat, bahan pewarna dan lain-lain (Hamilton dan Snedaker, 1984; IPIECA, 1993; Spaninks dan Beukering, 1997; Bandaranayake, 1998; Dahdouh-Guebas dkk., 2000; Manassrisuksi dkk., 2001; Ng dan Sivasothi, 2001; Ong, 2002). Kajian analisis biaya dan manfaat ekosistem mangrove menunjukkan nilai ekonomi total (total economic value; TEV) mencapai triliunan rupiah (Ruitenbeek, 1992). Nilai ekonomi total ekosistem mangrove per tahun di Pulau Madura Rp. 49 trilyun, Jawa Barat Rp. 1,357 trilyun, dan di seluruh Indonesia Rp. 820 trilyun (Republika, 23/07/2002). Sebagian manfaat ekonomi penting mangrove diuraikan lebih terperinci di bawah:

21

1) Kayu dan Produk Kayu Kayu. Secara tradisional kayu mangrove banyak digunakan untuk memasak, membangun rumah dan perahu. Kayu N. fruticans digunakan untuk dermaga karena tahan kebusukan dan hewan pelubang, sedangkan daunnya untuk atap. Tiang utuh Rhizophora merupakan hasil ekosistem mangrove paling utama, dengan masa panen pendek (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Kayu Rhizophora dan Avicennia memiliki nilai kalor tinggi, sehingga sangat sesuai untuk kayu bakar dan arang. Di Indonesia pembuatan arang dari kayu mangrove secara komersial telah dilakukan sejak tahun 1887 (Ng dan Sivasothi, 2001), sedangkan di Malaysia sejak 1902 (Watson, 1928). Arang. Rhizophora apiculata dan R. mucronata dapat menghasilkan arang berkualitas tinggi, karena berat, padat, keras, bernilai kalori tinggi (7.300 kalori per gram), dan berjelaga sedikit. Ekspor arang dari Indonesia di tahun 1980 sebesar 42.920 metrik ton; sedangkan jumlah produksi arang antara 1978-1980 sekitar 52.000 metrik ton per tahun (SNM, 2003). Kayu bakar. Kayu mangrove masih merupakan sumber bahan bakar yang penting bagi penduduk pantai. Spesies pohon yang umum digunakan sebagi kayu bakar adalah: Ceriops, Avicennia, Xylocarpus, Excoecaria, Bruguiera, dan Lumnitzera. Pada tahun 1979 produksi kayu bakar dari ekosistem mangrove di Sulawesi Selatan sebesar 26.339 m3, sedangkan antara tahun 1973-1976 jumlah ekspor kayu bakar dari Riau sebesar 700-1.500 m3 per tahun (SNM, 2003). Tiang. Tiang terutama digunakan untuk tiang pancang, perancah, dan perangkap ikan. Di Indonesia untuk kebutuhan tersebut digunakan Rhizophora

22

dan Ceriops tagal untuk tiang pancang, sedangkan di Thailand digunakan Excoecaria agallocha. Di Matang, Malaysia, penjarangan lahan mangrove seluas 2000 ha menghasilkan 3-4 juta tiang pancang per tahun. Pada tahun 1987, hutan mangrove Indonesia menghasilkan 170.000 tiang pancang (SNM, 2003). Serpih kayu (chips). Penggunaan kayu mangrove sebagai serpih kayu hanya dilakukan di Indonesia dan Malaysia, digunakan sebagi bahan baku rayon. Pada tahun 1978, ekspor kayu mangrove gelondongan Rhizophora dari Aceh dan Riau sebanyak 382,737 m3. Di Indonesia, pembuatan serpih kayu dari hutan mangrove telah dihentikan sejak 1990. Sebaliknya Malaysia mencadangkan 4000 ha hutan mangrovenya khusus untuk memproduksi serpih kayu (SNM, 2003). Bubur kayu (pulp). Kayu mangrove penghasil utama bubur kayu adalah Avicennia, Bruguiera, dan Camptostemon. merupakan penghasil utama bubur kayu. Pada tahun 1979 ekspor bubur kayu dari Riau dan Aceh masing-masing sebesar 63.000 m3. Pada tahun 1990-an sebagian besar bubur kayu di Indonesia dihasilkan dari hutan tumbuhan industri seperti Eucalyptus, Acacia, Gmelina, Terminalia, dan Paraserianthes. Kualitas bubur kertas mangrove relatif rendah, sehingga sejak tahun 1996 mulai ditinggalkan (SNM, 2003).

2) Bahan Pangan Mangrove menyediakan bahan pangan dari tumbuhan itu sendiri maupun hewan-hewan yang menggunakannya sebagai habitat. Produk kawasan mangrove yang langsung dapat dimakan antara lain: madu, lilin, ikan, buah-buahan, minuman dan gula. Daun Osbornia octodonata berguna sebagai bumbu masakan.

23

Daun muda Acrostichum dan buah Avicennia marina berguna sebagai sayuran. Buah Kandelia candel dan Bruguiera gymnorrhiza mengandung pati untuk makanan pokok. Batang Metroxylon sagu berguna sebagai makanan pokok. N. fruticans menghasilkan gula, alkohol, dan cuka. Ekstrak kayu Avicennia alba dan A. officinalis menghasilkan tonikum (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Ekosistem mangrove sangat berpotensi sebagai penghasil madu. Spesies mangrove yang disukai lebah madu adalah Avicennia, Ceriops, Aeglialitis, dan Excocaria. Kawasan seluas 2000 km2 mangrove Sundarbans, di perbatasan India dan Bangladesh mampu memproduksi 20 ton madu per tahun dari (SNM, 2003).

3) Bahan Obat-obatan Beberapa spesies mangrove mengandung bahan aktif yang bernilai obat (Tabel 2). Kulit kayu mangrove mengandung metabolit sekunder tanin (polifenol), terutama pada famili Rhizophoraceae. Tanin digunakan dalam penyamakan kulit, pewarna, bahan penguat jala tradisional, bahan obat tradisional, dan lain-lain. Tanin memiliki sifat sitotoksis, antineoplastis, dan antimikrobia, yang diperlukan untuk sintesis obat-obatan modern. Tumbuhan mangrove juga merupakan sumber saponin, alkaloid dan flavonoid. Saponin memiliki aktivitas biologi sebagai spermisida dan moluskisida. Ekstrak akar sangga R. apiculata mengandung saponin yang dapat menghambat pertumbuhan larva nyamuk. Ekstrak Aegiceras dapat untuk meracuni ikan (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001).

24

Tabel 2. Manfaat obat beberapa spesies tumbuhan mangrove dan penggunaannya (SNM, 2003). No. Spesies
1. Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata

Manfaat
Air rebusan kayu dapat digunakan sebagai obat pelangsing, anti mencret dan anti muntah. Cacahan kayu yang ditempelkan pada luka baru dapat menghentikan pendarahan. Daun muda yang dikunyah berguna sebagai homeostasi dan anti septik. Kulit kayu sebagi obat pelangsing dan air rebusannya dapat digunakan untuk pembersih luka. Kulit kayu merupakan obat pelangsing yang kuat dengan rasa yang sedikit kurang enak. Digunakana secara oral, air esktraknya bersifat anti mencret, anti muntah dan anti pengaruh disentri. Cacahan kulit kayu dapat bersifat homestasi. Galih kayu secara umum dapat mempertahankan kebugaran tubuh. Apabila direbus bersama gulih kayu Cassia, airnya dapat diminum untuk mempercepat penghentian menstruasi. Biji dapat digunakan secara oral, untuk menyembuhakan diare dan kolera. Air ekstraknya digunakan untuk pembersih luka. Asap dari pembakaran kayu digunakan untuk mengobati penyakit kusta. Galih kayu bersifat anti perut kembung dan mengurangi getah bening. Serbuk basah yang ditempelkan pada kulit akan bersifat anti piretik dan anti radang. Daun bersifat anti epilepsi apabila digunakan secara oral. Air ekstrak daun digunakan untuk pencuci luka dan anti parasit pada kulit. Daun yang masih segar dapat melindungi luka dari infeksi. Daun yang direndam dalam air hangat bila digunakan pada kulit yang terluka akan mengurangi peradangan. Air ekstrak dari akar yang dikeringkan rasanya pahit, dapat digunakan untuk menyembuhkan pilek, radang hati, pembengkakan hati (hepatomegaly), pembengkakan limpa (splenomegaly) dan luka trauma. Batang, akar dan daun berperan sebagi obat pencuci perut dan dapat mengurangi pengaruh penyakit kekurangan gizi pada anak-anak. Mandi air ekstrak rebusan kulit kayu dan akar dapat mengurangi gejala flu, alergi pada kulit dan penyakit lain. Jika dimakan akan mengembalikan parut pada kulit akibat penyakit cacar; kulit kayu segar yang digunakan pada luka bernanah atau luka kronis akan mempercepat penyembuhan; apabila dicampur jahe dapat digunakan untuk mengobati infeksi pada mata; apabila dimakan dapat menyembuhkan penyakit malaria. Kulit kayu segar yang dicampur dengan kunyit dan gula tebu memiliki pengaruh anti radang dan dapat digunakan untuk pengobatan haemorkhoid. Campuran tersebut apabila dicampur dengan asam jawa dan madu, serta diberikan secara oral dapat menormalkan kondisi bibir. Kudis dapat diobati dengan campuran buah dan daun segar yang dioleskan pada kulit. Air ekstrak kulit kayu dapat membersihkan luka kronis. Akar muda berguna sebagai tonik. Bunga segar yang direbus dengan susu segar, setelah dingin digunakan untuk membersihkan infeksi telinga.

2. 3.

Ceriops tagal Ceriops decandra

4.

Avicennia alba, Avicennia officinalis Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis Excoecaria agallocha

5. 6.

7.

Clerodendrom inerme

8.

Derris trifoliata

9.

Acanthus ilicifolius, Acanthus embractheatus

10.

Thespresia populnea

11.

Hibiscus tiliaceus

25

b. Manfaat Ekologi dan Sosial-Budaya Nilai ekologi mangrove paling utama adalah sebagai tempat pemijahan (spawning ground), asuhan (nursery ground), mencari makan (feeding ground), dan bersarang berbagai spesies ikan, udang, kerang, burung dan biota lain. Di samping itu berperan pula sebagai penyerap/sekuestrasi karbon, menyaring dan menangkap bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari erosi, intrusi air laut, dan tekanan badai, membentuk daratan baru, menjaga kealamian habitat, serta memiliki fungsi sosial sebagai area konservasi, pendidikan, ekoturisme, dan identitas budaya (Thom, 1967; Tomlison, 1986; Sukardjo, 1985; Howe dkk., 1992; IPIECA, 1993; Tanaka, 1994; Spaninks dan Beukering, 1997; Anonim, 2001b; Manassrisuksi dkk., 2001; Ng dan Sivasothi, 2001; Ong, 2002). Nilai penting ini masih sering diabaikan (Coulter dkk., 2001). Sebagian manfaat ekologi dan sosial-budaya mangrove diuraikan secara lebih terperinci di bawah:

1) Perikanan Mangrove menyuplai pakan ke komunitas laut melalui rantai makanan dan serasah mangrove (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Kegiatan perikanan dalam ekosistem mangrove jarang memerlukan modifikasi ekosistem. Ikan bandeng dan belanak yang merupakan sumber protein berkualitas tinggi, menggunakan mangrove muara sebagi habitat dan sumber pakan. Keberhasilan atau kegagalan suatu perikanan seringkali tergantung pada ekosistem mangrove, betapapun sistem tersebut dipengaruhi berbagai kegiatan yang umumnya tidak berkaitan dengan perikanan, seperti kegiatan di daerah aliran sungai (SNM, 2003).

26

Sumber pakan utama organisme mangrove adalah partikel organik dari dekomposisi serasah mangrove (daun, batang, dan bunga). Di Indonesia produksi serasah mangrove berkisar antara 6-9 ton/ha/tahun berat kering; sekitar 50% dikirimkan ke perairan dangkal di sekitarnya. Selama proses dekomposisi, kadar protein serasah mangrove meningkat dan menjadi sumber pakan organisme penyaring, pemakan partikulat, dan pemakan deposit, seperti Molluska, kepiting dan cacing. Konsumen primer ini menjadi makanan konsumen tingkat dua berupa ikan-ikan kecil, dan selanjutnya dimakan oleh predator lain yang membentuk konsumen tingkat tiga. Di samping itu terdapat spesies-spesies Crustaceae penting seperti udang yang secara langsung memakan partikulat bahan organik dan memakan konsumen tingkat pertama. Sebagian besar daerah muara berair keruh dengan penetrasi cahaya rendah serta produktivitas primer juga rendah, sehingga serasah mangrove menentukan tingkat produksi keseluruhan. Stadia muda beberapa spesies ikan penting, khususnya udang, akan berkumpul di perairan dangkal mangrove yang menyediakan cukup pakan. Sekitar 160 kg udang dapat dihasilkan oleh 1 ha mangrove (SNM, 2003). Perikanan tangkap. Kegiatan perikanan di area mangrove biasanya dilakukan dalam skala kecil, menggunakan alat tangkap tradisional, seperti bubu, pancing, dan jala, dengan tingkat produksi rendah. Pada tahun 1973 ekosistem mangrove Segara Anakan hanya menyumbangkan 7% dari total produksi perikanan lepas pantai Cilacap. Pada tahun 1977 total hasil tangkapan laut Indonesia sekitar 1.489.000 ton, spesies yang bergantung pada mangrove sekitar 46.638 ton (3%). Spesies ikan yang umum ditangkap adalah belanak (Mugil

27

dussumieri), kakap putih (Lates calcarifer), mujair (Oreochromis mossambica), belut tambak (Ophichthus microcephalus), sembilang (Plotosus canius) dan bandeng (Chanos chanos). Udang dan kepiting penting mencakup Penaeus merguiensis, P. monodon, Metapenanaeus dan Scylla serrata. Molluska penting mencakup kerang (Anadara) dan tiram (Crassostre commercialis) (SNM, 2003). Perikanan budidaya. Bentuk paling umum budidaya perairan di pantai Indonesia adalah tambak, yang banyak dilakukan di Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan. Produksi udang air payau (Penaeus monodon, P. Merguiensis, dan Metapenaeus) di Indonesia meningkat dari 27.595 ton pada tahun 1983 menjadi 140.131 ton pada tahun 1991. Rata-rata pertumbuhan tahunan pada periode tersebut adalah 24%. Pada tahun 1995 hasilnya menurun menjadi 79.494 ton. Hal ini disebabkan benih yang buruk, letak tambak yang tidak tepat, persiapan tambak yang buruk, terbatasnya infrastruktur, pengelolaan air yang buruk, dan meningkatnya penyakit (SNM, 2003). Konversi area mangrove menjadi tambak udang merupakan ancaman terbesar ekosistem mangrove di Indonesia. Pada tahun 1977, luas tambak sekitar 174.605 ha; tahun 1993 menjadi 268.743 ha (54%). Tambak yang ditinggalkan sulit berubah menjadi hutan mangrove kembali secara alami, karena adanya tanggul-tanggul yang menghalangi arus pasang surut. Area ini dapat ditumbuhi E. agallocha, Avicennia, N. fruticans, Acrostichum, dan Pluchea indica, membentuk semak-semak bernilai komersial rendah dan sulit beregenerasi menjadi ekosistem mangrove yang khas. Restorasi dengan spesies komersial membutuhkan pembongkaran tanggul yang menghalangi aliran pasang surut (SNM, 2003).

28

2) Pertanian Potensi untuk mengkonversi ekosistem mangrove menjadi lahan pertanian sangat terbatas, karena salinitas tanah sangat tinggi, adanya kandungan sulfida yang berpotensi menjadi asam sulfat, keasaman yang ekstrim, serta tingginya kandungan ion Fe dan Al yang dapat mengikat unsur-unsur lain. Potensi untuk pertanian meningkat ke arah darat karena masukan air tawar. Konversi tambak terbengkalai menjadi lahan pertanian produktif dapat dilakukan dengan menghilangkan tingkat keasaman dan salinitas yang tinggi serta bahan-bahan beracun. Hal ini membutuhkan waktu lama dan biaya mahal (SNM, 2003).

3) Fungsi ekologi lainnya Proteksi pantai. Akar/pneumatofora dan batang mangrove dapat mengurangi kecepatan arus air, menahan sedimen dan mencegah siltasi pada lingkungan laut, sehingga menjaga stabilitas garis pantai. Mangrove dapat menjadi daerah penyangga untuk mengurangi kerusakan akibat badai dan gelombang laut (tsunami) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Pengolah limbah. Bahan pencemar dan sampah secara alamiah dapat terbenam dan terurai dalam ekosistem mangrove. Demikian pula kelebihan nutrisi kimia dari area pertanian, seperti nitrat dan fosfat, dapat ditangkap dan di daur ulang di ekosistem mangrove, sehingga tidak mencemari perairan pantai. Namun volume limbah yang berlebihan dapat meracuni dan merusak ekosistem mangrove, misalnya tumpahan minyak bumi (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

29

4) Tradisi/Budaya, Ekowisata dan Pendidikan Masyarakat asli pesisir pantai, selama ratusan tahun menggunakan ekosistem mangrove sebagai tempat mencari nafkah dan memenuhi berbagai kebutuhan dasar, sehingga terbentuk budaya tradisional yang terkait dengan ekosistem ini. Misalnya Cerbera manghas digunakan untuk membuat topeng dalam perayaan tradisional di Sri Langka. Kehidupan liar mangrove juga merupakan atraksi wisata yang menarik, misalnya keberadaan burung-burung air dan burung-burung migran (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Pariwisata merupakan salah satu potensi pemanfaatan mangrove yang tidak merusak. Kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali ke alam memberi prospek cerah bagi wisata alam, termasuk mangrove, sehingga dapat mendorong upaya konservasi mangrove. Peluang tersebut meningkat pada area mangrove yang berdekatan dengan area wisata yang sudah berhasil. Dalam hal ini, dapat dikembangkan atraksi sederhana, seperti titian kayu atau jembatan gantung di antara pohon mangrove untuk mengamatinya. Hal ini juga dapat digunakan untuk tempat pendidikan konservasi dan ekologi (SNM, 2003).

5. Kerusakan Ekosistem Mangrove a. Ancaman Kelestarian Ekosistem Mangrove Dunia Di seluruh dunia aktivitas manusia telah mengurangi luasan ekosistem alami dan menurunkan keanekaragaman hayati hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Keanekaragaman hayati kawasan tropis merupakan yang tertinggi di dunia (Ligtvoet dkk., 1996). Ekosistem mangrove diperkirakan menempati 75% luas kawasan pantai tropis (Chapman, 1976), tetapi tekanan antropogenik telah

30

menurunkan luas hutan ini secara global hingga di bawah 50% dari luas awal (Saenger dkk., 1983; Spalding dkk., 1997). Penurunan luasan mangrove paling cepat dan dramatis terjadi di Asia Tenggara (Gomez 1988; Aksornkoae, 1993). Di Indonesia luas hutan ini terus menurun dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.237.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 11 tahun (19821993), terjadi penurunan ekosistem mangrove lebih dari 50% dari total luasan semula (Dephut, 1994; Soenarko, 2002). Penurunan luasan ekosistem mangrove disebabkan oleh pembangunan tambak udang, ikan, dan garam (Terchunian dkk., 1986; Primavera, 1993), penebangan hutan secara berlebih (Walsh, 1974; Hussein, 1995; Semesi, 1998), pertambangan, pencemaran, pembendungan sungai (Lewis, 1990), pertanian, bencana alam (Nybakken, 1993; Jimenez, 1985; Knox dan Miyabara, 1984), serta tumpahan minyak (Ellison dan Farnsworth, 1996), namun yang terakhir ini belum banyak didokumentasikan (Burns dkk., 1994; 1999). Degradasi ekosistem mangrove didorong tingginya pertambahan penduduk, kurangnya perhatian pemerintah; peraturan yang tidak jelas; teknik penebangan hutan yang tidak lestari; serta lemahnya sumberdaya manusia dan alokasi dana (Choudhury, 1996). Penurunan luasan mangrove mendorong terjadinya intrusi air laut dan erosi pantai (abrasi), sehingga menurunkan produktivitas perairan pantai (Aksornkoae, 1993). Untuk mengatasi hal ini banyak negara mengkampanyekan upaya konservasi, manajemen, dan restorasi ekosistem mangrove (Manassrisuksi dkk., 2001; Hong dan San, 1993). Kehidupan yang lestari tergantung pada

31

berlanjutnya ekosistem alami yang menyediakan sumberdaya bagi manusia. Kawasan alami dan dilindungi harus beragam dan menyertakan berbagai kelompok habitat yang khas, sehingga nilai sosial-ekonomi dan ekologinya juga beragam. Kawasan lindung dapat menjadi sumber bahan baku kehidupan seharihari masyarakat setempat, sarana wisata, menjadi identitas budaya dan spiritual, serta memberikan jasa ekologi bagi lingkungan di sekitarnya (Miller, 1999).

b. Ancaman Kelestarian Ekosistem Mangrove di Jawa Aktivitas pertambakan, penebangan hutan, sedimentasi dan reklamasi, serta pencemaran lingkungan merupakan ancaman utama kelestarian ekosistem mangrove di Jawa (Hasmonel dkk., 2000; Ligtvoet dkk., 1996). Jawa merupakan kawasan dengan penduduk paling padat di dunia (Ligtvoet dkk., 1996), 60% peduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta tinggal di pulau yang luasnya hanya seperlima luas negeri (Hadianto, 1998), sehingga tingkat perubahan habitat alami sangat tinggi, termasuk untuk permukiman (Silvius dkk., 1987). Kebanyakan kota-kota besar dunia terletak di pantai. Di Indonesia 75% kota yang ditinggali 100.000 penduduk terletak di tepian pantai, tempat ekosistem mangrove juga berada (Choudhury, 1996). Di ibukota negara Jakarta, upaya perluasan kawasan permukiman ke arah selatan terbentur kendala alam berupa kawasan puncak yang menjadi daerah penyangga sumberdaya air. Upaya perluasan kota ke arah utara dengan mereklamasi kawasan pantai, tampaknya menjadi pilihan yang paling memungkinkan, namun perlu didukung pembentukan ekosistem mangrove baru untuk menjaga keberlanjutan fungsi ekologinya

32

(Ligtvoet dkk., 1996). Terlebih sebagian pantai utara telah mengalami pencemaran, eksploitasi sumber daya yang berlebih, dan degradasi habitat akibat pembangunan di wilayah pantai dan laut lepas (Butar-Butar, 1996).

6. Komponen Abiotik Lingkungan Mangrove a. Komponen Abiotik Lingkungan Mangrove Struktur dan fungsi ekosistem mangrove, komposisi dan distribusi spesies, serta pola pertumbuhan organisme mangrove sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi mangrove dalam jangka panjang adalah fluktuasi pasang surut dan ketinggian rata-rata permukaan laut. Adapun keseluruhan faktor yang mempengaruhi ekosistem mangrove mencakup: topografi dan fisiografi pantai, tanah, oksigen, nutrien, iklim, cahaya, suhu , curah hujan, angin dan gelombang laut, pasang-surut laut, serta salinitas. Pada kondisi pasang surut optimal, mangrove dapat tumbuh jauh ke pedalaman (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Di Kalimantan, ekosistem ini dapat menjorok hingga 150 km ke hulu sungai, bahkan di sungai Kapuas hingga 240 km (Steenis, 1958). Keterkaitan antara faktor lingkungan dengan penyebaran spesiesspesies mangrove disajikan pada Tabel 3.

1) Topografi dan Fisiografi Pantai Formasi mangrove yang luas umumnya terdapat di dataran lumpur pantai (mudflat) dan delta muara yang terlindung. Topografi pantai merupakan faktor penting yang mempengaruhi komposisi spesies, distribusi spesies dan luas

33

ekosistem mangrove. Karakteristik pantai dipengaruhi oleh penggenangan pasang, sedimentasi, dan sifat sedimen. Dataran lumpur dan muara dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai yang umumnya terkait dengan kesuburan dan mendukung keragaman tumbuhan dan hewan. Semakin datar pantai dan semakin besar pasang surut, maka semakin lebar ekosistem mangrovenya (SNM, 2003).

Tabel 3. Keterkaitan antara faktor lingkungan dengan penyebaran beberapa spesies pohon mangrove secara alami (SNM, 2003).
Zonasi Pinggir pantai Pola pasang surut Harian Frekuensi penggenangan (hari/bulan) > 20 Salinitas 10-30 Tipe tanah Koral, berpasir, lempung berpasir Berdebu sampai liat berdebu Spesies Avicennia marina, Sonneratia caseolaris, Rhizophora stylosa, R. apiculata A. alba, A. officinalis, R. mucronata, Aegiceras corniculatum, A. floridum, Bruguiera gymnorrhiza, B. sexangula, Ceriops tagal, C. decandra, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Xylocarpus granatum A. alba, B. sexangula, C. tagal, E. agallocha, Heritiera littoralis, Scyphiphora hydrophylacea, Xylocarpus granatum, X. mekongensis, Nypa fruticans Muara sungai: Avicennia marina, A. officinalis, Aegiceras corniculatum, A. floridum, Camptostemon philipinensis, R. apiculata, R. apiculata, R. mucronata, R. stylosa Hulu sungai: A. alba, A. officinalis, Aegiceras corniculatum, A. floridum, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, B. parviflora, C. philippinensis, E. agallocha, H. littoralis, N. fruticans, R. mucronata, R. apiculata, X. granatum, X. mekongensis

Tengah

Harian

10-19

10-30

Pedalaman

Tergenang hanya saat pasang purnama Jarang tergenang: air tawarpayau

4-9

0-10

Pinggir sungai

2

0-10

Berdebuliat berdebu sampai liat Berpasir sampai liat berdebu

34

Pada dataran pantai yang sempit, mangrove tumbuh sempit, memanjang mengelilingi pulau, seperti di Nusa Tenggara. Pada daerah pantai dengan gelombang laut yang besar dan tidak terlindung, misalnya di pantai selatan Jawa, vegetasi mangrove sulit tumbuh. Area mangrove yang luas dengan lebar mencapai beberapa kilometer biasanya terdapat di pantai yang luas, seperti teluk Bintuni, Papua, berupa formasi mangrove pada daerah delta; dan pantai timur Sumatera berupa formasi mangrove pada daerah pantai laut pedalaman (SNM, 2003).

2) Tanah Vegetasi mangrove umumnya tumbuh pada tanah lumpur, namun berberapa spesies dapat tumbuh di tanah berpasir, koral, tanah berkerikil, dan tanah gambut. Tanah mangrove mempunyai ciri-ciri selalu basah, mengandung garam, oksigen sedikit, dan kaya bahan organik. Pembentukan tanah mangrove dipengaruhi: (i) faktor fisik, seperti transport nutrien oleh arus pasang surut dan aliran sungai, (ii) faktor fisik-kimia, seperti agregasi berbagai partikel, dan (iii) faktor biotik, seperti produksi dan perombakan bahan organik (SNM, 2003). Tanah mangrove tersusun atas pasir (sand), lumpur/debu (silt) dan tanah liat (clay) dengan komposisi berbeda-beda. Topsoil tanah mangrove biasanya bertipe pasir atau lempung. Topsoil pasir berwarna lebih terang, porous, dapat dilewati air pada saat pasang dan mengalami aerasi pada saat surut, sedangkan topsoil lempung berwarna lebih gelap, kurang porous dan tidak teraerasi dengan baik. Tanah subsoil selalu jenuh air dan hanya teraerasi sedikit, sangat kaya bahan organik, namun terurai sangat lambat. Tanah ini berwarna abu-abu gelap atau

35

hitam (gleying), bersifat asam, dan berbau menyengat (telur busuk) menunjukkan adanya hidrogen sulfida (H2S) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Berdasarkan kedalamannya, tanah mangrove dibagi dalam dua kelas, yaitu (ii) kedalaman 0-10 m, tanah berwarna kelabu hijau, hijau, hijau kelabu hingga kuning kelabu dan berstektur berat, dan (ii) kedalaman ≥ 10 cm, tanah berwarna kelabu berbintik-bintik coklat dan bertekstur berat. Berdasarkan letaknya, tanah mangrove dibagi dalam dua kategori, yaitu: (i) daerah dekat laut dengan pH ≥ 5,5 dan densitas rendah (0,6); (ii) daerah dekat darat dengan pH hampir netral dan mengandung belerang (SNM, 2003). Kondisi tanah merupakan penyebab terbentuknya zonasi hewan dan tumbuhan, misalnya kepiting yang berbeda menempati kondisi tanah yang berbeda pula, di sisi lain tumbuhan Avicennia dan Sonneratia hidup dengan baik pada tanah berpasir, sedangkan Rhizophora lebih menyukai lumpur lembut, adapun Bruguiera menyukai tanah lempung yang mengandung sedikit bahan organik. Adanya kalsium dari cangkan Molluska dan karang lepas pantai menyebabkan air di ekosistem mangrove bersifat alkali. Namun tanah mangrove bersifat netral hingga sedikit asam, karena aktivitas bakteri pereduksi belerang dan sedimentasi tanah lempung yang asam (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Susunan dan kerapatan spesies mangrove sangat dipengaruhi tekstur dan konsentrasi ion tanah. Lahan mangrove dengan tanah yang mengandung liat dan debu lebih banyak memiliki tegakan lebih rapat. Tanah dengan konsentrasi kation Na>Mg>Ca atau K, tegakan dikuasai Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, atau Bruguiera. Tanah dengan konsentrasi kation Mg>Ca>Na atau K tegakan

36

didominasi N. fruticans. Tanah dengan konsentrasi kation Ca>Mg>Na atau K tegakan didominasi Melaleuca (SNM, 2003). Tanah mangrove umumnya mengadung zat besi dan bahan organik yang tinggi. Keberadaan belerang membuat tanah menjadi rentan terhadap asam sulfat karena oksidasi. Pada kondisi anaerob, belerang dari air laut direduksi menjadi hidrogen sulfida (H2S) atau pirit (FeS2) oleh bakteri-bakteri perombak belerang, seperti Desulfovibrio dan Desulfomaculum. Drainase dan aerasi sedimen yang mengandung pirit mendorong terjadinya oksidasi dan formasi asam sulfat (H2SO4), melalui rekasi kimia: 2FeS2 + 2H2O + 7O2 à 2FeSO4 + H2SO4. Ketika reaksi tersebut terjadi – misalnya pada pembuatan tambak atau sawah – pH tanah turun menjadi ≤ 3, sehingga menghambat produksi petambakan, pertanian, dan regenerasi ekosistem mangrove. Pencucian asam dari tanah ke sungai oleh hujan dapat menyebabkan kematian massal ikan (Dunn, 1975 dalam SNM, 2003).

3) Oksigen Tanah mangrove umumnya berupa lumpur yang selalu jenuh air, sehingga hampir tidak memiliki rongga udara untuk menyerap oksigen. Jumlah oksigen terlarut dalam perairan mangrove umumnya lebih rendah daripada di laut terbuka. Kandungan ini semakin rendah pada tempat yang kelebihan bahan organik, mengingat oksigen diserap untuk peruraian bahan organik, sehingga terbentuk zona anoksik. Oksigen pada permukaan sedimen (sediment water interface) digunakan bakteri untuk mengurai bahan organik dan respirasi. Oksigen ini diperoleh dari sirkulasi pasang-surut dan pengaruh atmosfer. Di bawahnya, dalam

37

kondisi anoksik tumbuh bakteri anaerob yang dapat mengurai bahan organik dan menghasilkan H2S (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Untuk mengatasi kekurangan oksigen, tumbuhan mangrove beradaptasi melaui sistem perakaran yang khas. Kekurangan oksigen juga dipenuhi oleh adanya lubang-lubang dalam tanah yang dibuat oleh hewan, misalnya kepiting. Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan tanah, keanekaragaman tumbuhan dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen terlarut harian tertinggi terjadi pada siang hari dan terendah pada malam hari. Konsentrasi oksigen terlarut di ekosistem mangrove 1,7-3,4 mg/L, lebih rendah dibandingkan di luar ekosistem mangrove yang besarnya 4,4 mg/L (SNM, 2003).

4) Nutrien Nutrien mangrove dibagi atas nutrien inorganik dan organik. Nutrien inorganik yang penting adalah N (sering terbatas), P, K, Mg, dan Na. Sumber nutrien inorganik adalah hujan, aliran permukaan, sedimen, air laut, dan bahan organik yang terdegradasi. Nutrien organik berasal dari bahan-bahan biogenik yang didegradasi mikrobia (SNM, 2003). Nutrien ekosistem mangrove dihasilkan oleh ekosistem itu sendiri (autochthonous), serta dari sungai atau laut di sekitarnya (allochthonous). Hujan secara teratur menyapu detritus dari tepian pantai dan daerah aliran sungai ke dalam mangrove. Pada saat pasang, laut membawa bahan organik atau organisme tersuspensi ke ekosistem mangrove yang pada saat surut akan tersaring tanah (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Mangrove merupakan komunitas paling produktif di dunia (Clough, 1992). Sebagian besar biomassa mangrove dihasilkan dari serasah ( ± 90%), yang

38 selanjutnya disimpan dalam sedimen ( ± 10%), terdekomposisi (± 40%), atau terbawa ke ekosisten lain (± 30%) (Duarte dan Cebrián, 1996). Biomassa ini merupakan makanan organisme detritus (Manassrisuksi dkk., 2001). Ekosistem mangrove mendukung sejumlah besar kehidupan melalui rantai makanan (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993; Clough, 1992). Tumbuhan mangrove merupakan lumbung daun yang kaya nutrien yang akan diuraikan oleh fungi dan bakteri atau langsung dimakan kepiting. Detritus merupakan sumber pakan bagi Molluska, kepiting, udang dan ikan, yang selanjutnya dimakan hewan yang lebih besar. Nutrien yang dilepaskan ke dalam air selama periuraian serasah juga dimakan plankton dan alga. Detritus mangrove merupakan sumber utama karbon untuk berbagai spesies laut yang terhubung dalam jaring-jaring makanan bersama dengan plankton dan alga (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993; Clough, 1992). Ekosistem mangrove, rumput laut dan karang disatukan oleh massa air yang mengalir pada saat pasang surut, dan hewan yang hidup di kedua habitat tersebut. Berbagai ikan dan udang yang biasa ditemukan di lepas pantai menggunakan mangrove pada sebagian siklus hidupnya. Sebaliknya kepiting lumpur (Thalassina anomala) yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di mangrove dan bergerak ke laut saat bertelur. Aliran pasang surut membawa nutrien dari mangrove ke rumput laut dan karang. Ekosistem mangrove juga dapat mencegah sedimentasi berlebih pada ekosistem rumput laut dan terumbu karang, sehingga mencegah kematian (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Daur nutrien di lingkungan mangrove disajikan pada Gambar 5.

39

Gambar 5. Daur nutrien dan hubungan ketergantungan dalam ekosistem mangrove (Berjak dkk., 1977 dalam SNM, 2003). 5) Iklim Sebagian besar daerah pantai Indonesia beriklim tropis basah, dengan kelembaban, angin musim, curah hujan, dan temperatur tinggi, sehingga mencegah akumulasi garam-garam tanah. Kondisi di atas dataran terbuka dan di bawah kanopi hutan sangat berbeda. Dataran lumpur yang tersinari matahari langsung pada saat laut surut menjadi sangat panas dan memantulkan cahaya, sedangkan permukaan tanah di bawah kanopi tetap sejuk. Kelembaban ekosistem mangrove lebih rendah daripada hutan tropis pada umumnya karena adanya angin. Suhu dan kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman spesies (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

40

6) Cahaya Tumbuhan mangrove umumnya membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi. Kisaran intensitas cahaya optimal untuk pertumbuhan mangrove adalah 3000-3800 kkal/m2/hari. Pada saat bibit, tumbuhan mangrove memerlukan naungan. Intensitas cahaya 50% dapat meningkatkan daya tumbuh bibit R. mucronata dan R.apiculata. (ii) Intensitas cahaya 75% mempercepat pertumbuhan bibit B. gymnorrhiza. (iii) Intensitas cahaya 75% meningkatkan tinggi bibit R. mucronata, R. apiculata dan B. gymnorrhiza. Laju pertumbuhan tahunan dari R. mucronata, R. apiculata dan Bruguiera, dengan naungan lebih rendah daripada dengan sinar matahari penuh, sedangkan laju kematiannya lebih tinggi. Cahaya berpengaruh terhadap perbungaan dan perkecambahan mangrove, tumbuhan di luar gerombol menghasilkan lebih banyak bunga dan biji (SNM, 2003).

7) Suhu Suhu penting dalam proses fisiologi, seperti fotosintesis dan respirasi. Pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu rata-rata > 20oC dan perbedaan suhu musiman tidak melebihi 5oC, kecuali di Afrika Timur yang perbedaan suhu musiman mencapai 10oC. Ekosistem mangrove di Sumatera Timur tumbuh pada suhu rata-rata bulanan berkisar 26,3o-28,7oC (Kusmana, 1993 dalam SNM, 2003). Pertumbuhan optimum Avicennia marina pada suhu 18-20oC, R. stylosa, Ceriops, E. agallocha dan Lumnitzera racemosa pada suhu 26-28oC, Bruguiera pada suhu 27oC, Xylocarpus pada suhu 21-26oC dan X. granatum pada suhu 28oC (Hutching dan Saenger, 1987 dalam SNM, 2003).

41

8) Curah Hujan Jumlah, durasi, dan distribusi curah hujan merupakan faktor penting yang mengatur perkembangan dan distribusi tumbuhan. Curah hujan juga

mempengaruhi faktor lingkungan lain, seperti suhu dan salinitas habitat mangrove. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmid-Ferguson, ekosistem mangrove di Indonesia tumbuh pada daerah dengan tipe curah hujan A, B, C, dan D, dengan nilai Q yang bervariasi mulai 0-73,7% (Kartawinata, 1977 dalam SNM, 2003). Tumbuhan mangrove umumnya tumbuh baik di daerah dengan curuh hujan ratarata 1500-3000 mm/tahun, namun juga tumbuh pada daerah yang bercurah hujan tinggi, yaitu 4000 mm/tahun yang tersebar selam 8-10 bulan (Aksornkoae, 1993).

9) Angin dan Gelombang/Ombak Laut Angin berpengaruh terhadap ekosistem mangrove melalui gelombang dan arus laut, yang dapat menyebabkan abrasi dan meningkatkan evapotranspirasi. Angin kuat juga dapat menghalangi pertumbuhan, namun diperlukan dalam polinasi dan penyebaran bibit. Pada daerah pantai yang biasa terkena angin, tajuk pohon mangrove biasanya patah dan pepohonannya lebih pendek. Gelombang laut merupakan penyebab penting abrasi dan suspensi sedimen. Pada pantai berpasir dan berlumpur, gelombang dapat membawa partikel pasir dan sedimen laut. Partikel besar atau kasar akan mengendap, terakumulasi membentuk pantai berpasir. Keberadaan mangrove di pesisir pantai dapat melindungi kerusakan pantai akibat gelombang dan arus laut. Di teluk Grajagan, Banyuwangi, ekosistem mangrove dapat reduksi tinggi gelombang laut dari 1,09 m menjadi 0,7340 m (Pratikto dkk. 2002 dalam SNM, 2003).

42

10) Pasang-surut Laut Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas area mangrove. Salinitas air meningkat pada saat pasang naik, dan menurun pada saat pasang surut. Hal ini dapat membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi horizontal. Pada area yang selalu tergenang hanya R. mucronata yang tumbuh baik, sedang Bruguiera dan Xylocarpus jarang mendominasi area ini. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa air tawar dan laut, sehingga mempengaruhi distribusi vertikal spesies mangrove. Ekosistem mangrove yang tumbuh di daerah pasang harian memiliki struktur dan kesuburan yang berbeda dari daerah semi-diurnal atau pasang campuran. Rentang pasang surut dapat mempengaruhi sistem perakaran mangrove. Di daerah dengan rentang pasang yang lebar, pneumatofora Rhizophora, Sonneratia, dan Aegialites tumbuh lebih tinggi daripada di daerah yang rentangnya sempit (SNM, 2003).

11) Salinitas Mangrove merupakan vegetasi yang bersifat salt-tolerant bukan saltdemanding, sehingga dapat tumbuh dengan baik di air tawar. Keberadaan mangrove di habitat laut kemungkinan disebabkan: (i) penyebaran biji/propagul mangrove terbatas oleh pasang surut, (ii) anakan mangrove kalah bersaing dengan tumbuhan darat, dan (iii) mangrove dapat mentoleransi kadar garam (SNM, 2003). Salinitas kawasan mangrove bervariasi, 0,5-35 ppt, karena adanya pasang surut dan aliran sungai. Air tawar memiliki salinitas 0-0,4 ppt. Air payau merupakan air pada derajat oligohalin (0,5-5 ppt) hingga mesohalin (5-18 ppt), sedangkan air laut

43

umumnya berderajat polihalin (18-30 ppt). Pada saat laut surut, kolam-kolam yang terbentuk dapat menjadi hipersalin (>30 ppt), karena evaporasi. Sungaisungai kecil dalam ekosistem mangrove bersifat oligohalin, semakin ke arah daratan semakin tawar (Ng dan Sivasothi, 2001). Tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah dengan salinitas 10-30 ppt. Salinitas yang sangat tinggi, ± 35 ppt, berpengaruh buruk karena dampak negatif tekanan osmotik. Namun beberapa spesies dapat tumbuh di daerah dengan salinitas sangat tinggi. A. marina dan E. agallocha dapat tumbuh di daerah dengan salinitas 63 ppt, Ceriops, 72 ppt., Sonneratia 44 ppt., R. apiculata 65 ppt, dan R. stylosa 74 ppt (SNM, 2003). Watson (1928), de Haan (1931) dan Chapman (1944 dalam SNM, 2003) membuat korelasi antara salinitas, frekuensi genangan pasang dan spesies pohon mangrove, seperti disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Penyebaran spesies mangrove berdasarkan penggenangan (SNM, 2003).
Tipe Pasang/Kelas Penggenangan Watson (1928) 1. All high tides Kelas Penggenangan (salinitas dan frekuensi pasang) de Haan (1931) Payau sampai asin, salinitas 10-30 ppt, selalu tergenang A1. 1-2 kali/hr, minimal 20 hr/bln A2. 10 -19 hr/bln Frekuensi Penggenangan Spesies Pohon Chapman Dominan (1944) Avicennia, 530-700+ kali Sonneratia per tahun 400-530 kali per Rhizophora, tahun Bruguiera Xylocarpus, Heritiera, 150-250 kali per Lumnitzera, tahun Bruguiera, Scyphyphora 4-100 kali per Spesies marginal, tahun halophyta N. fruticans, Oncosperma, Cerbera

2. Medium high tides 3. Normal high A3. 9 hr/bln tides 4. Spring tides only A4. Beberapa hr/bln

5. Storm high tides B. Air tawar sampai payau only B1. Jarang tergenang pasang

44

7. Adaptasi Tumbuhan dan Hewan Mangrove a. Adaptasi Tumbuhan Mangrove Proses evolusi menyebabkan spesies mangrove memiliki beberapa sifat biologi yang khas sebagai bentuk adaptasi. Adaptasi tumbuhan mangrove terutama ditujukan untuk mengatasi salinitas, kondisi tanah lumpur dan reproduksi.

1) Salinitas Kebanyakan tumbuhan memiliki toleransi sangat rendah terhadap salinitas, sehingga tidak mampu tumbuh di dalam atau di dekat air laut. Hal ini terjadi karena kebanyakan jaringan makhluk hidup lebih encer daripada air laut, air dari dalam jaringan dapat keluar akibat proses osmosis, sehingga tumbuhan kekeringan, menjadi layu, dan mati. Lingkungan yang keras ini menyebabkan diversitas ekosistem mangrove cenderung lebih rendah daripada umumnya hutan tropis (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Tumbuhan mangrove tumbuh paling baik pada lingkungan air tawar dan air laut dengan perbandingan seimbang (1:1). Salinitas yang tinggi pada dasarnya bukan prasyarat untuk tumbuhnya mangrove, terbukti beberapa spesies mangrove dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan air tawar. Di pulau Christmas, B. cylindrica tumbuh selama ribuan tahun pada danau air tawar, di Kebun Raya Bogor B. sexangula tumbuh selama ratusan tahun pada lingkungan air tawar. Terhentinya penyebaran mangrove ke perairan tawar tampaknya disebabkan ketidakmampuan untuk berkompetisi dengan spesies lain. Adaptasi terhadap salinitas dilakukan melalui ekskresi, ultrafiltrasi, dan akumulasi garam (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

45

Ekskresi garam (salt extrusion/salt secretion). Tumbuhan mangrove mengekskresikan garam dengan kelenjar garam pada daun. Konsentrasi garam dalam getah biasanya tinggi, sekitar 10% di atas air laut. Garam yang diekskresikan akan diterbangkan angin atau hujan, sehingga daun mangrove berasa asin. Mekanisme ini dilakukan Acanthus, Avicennia, Aegiceras, Aegialitis, Sonneratia, Laguncularia dan Rhizophora (SNM, 2003, Ng dan Sivasothi, 2001). Ultrafiltrasi/mencegah masuknya garam (salt exclusion). Tumbuhan mangrove dapat mencegah masuknya garam, melalui saringan membran sel di permukaan akar yang mampu mencegah lebih dari 90% garam. Garam yang tetap terserap diekskresikan oleh kelenjar garam, dibuang melalui transpirasi lewat stomata; atau disimpan dalam jarungan tua yang hampir mati. Mekanisme ini dilakukan Rhizophora, Ceriops, Sonneratia, Lumnitzera, Avicennia, Bruguiera, Excoecaria, Aegiceras, dan Acrosticum (SNM, 2003, Ng dan Sivasothi, 2001). Akumulasi garam (salt accumulation). Tumbuhan mangrove seringkali menyimpan Na dan Cl pada kulit kayu, akar dan daun tua. Daun penyimpan garam umumnya sukulen dan pengguguran daun ini dapat mengeluarkan kelebihan garam. Mekanisme ini terdapat pada Excoecaria, Lumnitzera, Avicennia, Osbornia, Rhizophora, Sonneratia, dan Xylocarpus (SNM, 2003).

2) Tanah Lumpur Tumbuhan mangrove beradaptasi secara khusus terhadap tanah mangrove yang gembur, asin, dan selalu tergenang (kekurangan oksigen; anaerob). Tumbuhan mangrove beradaptasi dengan membentuk struktur pneumatofora (akar nafas). Akar yang menjulang di atas tanah ini dipenuhi aerenkim dan lentisel)

46

sehingga dapat menyerap oksigen. Akar ini juga berfungsi untuk mengait pada tanah lumpur. Bentuk akar nafas berbeda-beda, yaitu akar penyangga (stilt, prop), akar pasak (snorkel, peg, pencil), akar lutut (knee, knop), dan akar papan (ribbon, plank) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993) (Gambar 6). Akar penyangga (sangga). Pada Rhizophora akar panjang dan bercabang-cabang muncul dari pangkal batang. Akar ini dikenal sebagai prop root dan pada akhirnya akan menjadi stilt root apabila batang yang disangganya terangkat hingga tidak lagi menyentuh tanah. Akar ini memiliki pangkal yang luas untuk aerasi dan bertahan di lumpur (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Akar pasak. Pada Avicennia dan Sonneratia, pneumatofora merupakan cabang tegak dari akar horizontal yang tumbuh di bawah tanah. Pada Avicennia bentuknya seperti pensil atau pasak, umumnya hanya setinggi 30 cm, sedangkan pada Sonneratia dapat membentuk massa kayu setinggi 3 m, kebanyakan setinggi 50 cm (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Akar lutut. Pada Bruguiera dan Ceriops akar horizontal tumbuh sedikit di bawah permukaan tanah, dan secara teratur dan berulang-ulang tumbuh ke atas lalu kembali ke bawah, sehingga berbentuk seperti lutut yang ditekuk. Bagian di atas tanah (lutut) untuk aerasi dan bertahan di lumpur. Lumnitzera memiliki akar lutut kecil seperti akar pasak (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Akar papan (banir). Pada Xylocarpus granatum dan Heritiera akar horizontal tumbuh melebar ke atas membentuk akar pipih seperti papan. Bagian vertikal berguna untuk aerasi dan berpijak di tanah lumpur (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

47

Gambar 6. Bentuk spesifikasi akar pada mangrove. A. Akar papan, Heritiera, Xylocarpus. B. Akar pasak: Avicennia, Sonneratia. C.Akar penyangga: Rhizophora. D. Akar lutut: Bruguiera

3) Sistem Reproduksi Pembungaan dan polinasi. Kebanyakan spesies mangrove di daerah subtropis, seperti Australia berbunga pada musim semi dan musim panas. Polen kecil yang tidak bertangkai, memungkinkan polinasi dengan bantuan angin, serangga dan burung. Polen bertangkai seperti pada N. fruticans, polinasi dilakukan serangga tertentu. Aegiceras, Cynometra, dan Avicennia berbunga harum sehingga menarik serangga polinator. Bunga Sonneratia mekar pada malam hari sehingga polinasi dilakukan kelelawar pada malam hari (SNM, 2003). Penyebaran dan pembentukan propagul. Mangrove merupakan tumbuhan penghasil biji (spermatophyta), dan bunganya sering kali menyolok. Biji mangrove relatif lebih besar dibandingkan biji tumbuhan lain dan seringkali berkecambah ketika masih melekat di pohon induk (vivipar). Pada saat jatuh, biji

48

mangrove biasanya akan mengapung pada air laut (walaupun tenggelam pada air tawar) dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat disebarkan air. Biji beberapa spesies mangrove dapat mengapung lebih dari setahun dan tetap mampu tumbuh. Kecepatan pertumbuhan biji tergantung iklim dan kesuburan tanah. Biji yang terdampar di tempat terbuka karena pohon mangrove tua telah mati dapat tumbuh sangat cepat, sedang biji yang tumbuh pada tegakan mangrove mapan umumnya akan mati karena adanya naungan. Aegiceras menyebarkan propagulnya pada saat pasang tinggi, sedangkan Avicennia pada saat pasang rendah. Kebanyakan mangrove di daerah subtropis menghasilkan propagul masak pada musim panas, pada daerah tropis mangrove berbunga dan berbuah umumnya pada awal musim kemarau (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993) (Gambar 7). Embryo vivipari dan kriptovivipari. Vivipari adalah kondisi embryo yang tumbuh, memecah kulit biji, dan keluar dari buah pada saat masih melekat pada tumbuhan induk, misalnya Bruguiera, Ceriops, Kandelia, dan Rhizophora. Kriptovivipari (Yunani: kryptos, tersembunyi) adalah kondisi embryo yang tumbuh dan memecah kulit biji, namun tidak keluar dari kulit buah hingga lepas dari tumbuhan induk, misalnya Aegiceras, Avicennia, Aegialitis, Acanthus, Laguncularia, Pelliciera, dan N. fruticans (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Vivipari merupakan mekanisme untuk mengantisipasi habitat yang tergenang dan berlumpur, yakni dengan mempercepat perakaran, pengaturan kadar garam, keseimbangan ion, daya apung, dan memperlama waktu memperoleh nutrisi dari induk (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

49

Gambar 7. Biji/propagul berbagai spesies tumbuhan mangrove.

b. Adaptasi Hewan Mangrove Hewan mangrove beradaptasi terhadap lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh makanan, mengelabuhi predator, menghindari pengaruh negatif air pasang, mengatasi salinitas yang tinggi dan lain-lain. Adaptasi dilakukan baik oleh hewan dari darat, dari perairan tawar, maupun dari laut. Adaptasi beberapa spesies hewan mangrove tersebut diuraikan secara ringkas berikut ini: Adaptasi morfologi. Hewan mangrove memiliki bentuk tubuh khusus untuk beradaptasi pada habitat berlumpur dan tergenang. Ikan gelodok (Periopthalmus) yang karakteristik mangrove tropis, beradaptasi terhadap kondisi aerob dan anaerob. Ikan ini berjalan dengan meloncat di tanah dan memanjat pohon dengan siripnya. Banyak kepiting mangrove memperlihatkan adaptasi

50

morfologi dalam bernafas ketika berada di darat. Kepiting intertidal memiliki insang lebih kecil daripada kepiting akuatik. Beberapa cacing polychaeta yang hidup di mangrove (seperti familia Spionidae dan Eunicidae) dan beberapa cacing nereid memiliki insang sepanjang tubuh untuk respirasi (SNM, 2003). Adaptasi tingkah laku. Banyak spesies hewan laut berwarna samar, hidup di dalam liang atau di bawah kayu, untuk mencegah kekeringan dan melarikan diri dari pemangsa. Crustaceae menggali liang untuk berlindung, mencari makan dan menarik pasangan. Liang ikan gelodok memiliki beberapa kegunaan termasuk tempat berlindung dari predator, berlindung dari pasang besar dan pengeringan serta sebagai tempat menunggu mangsa. Sejumlah kepiting mangrove, termasuk Scylla serrata melakukan migrasi dengan keluar pada musim semi dan awal musim panas di antara perakaran mangrove atau di antara dataran rumput laut. Sebelum akhir musim panas kepiting tersebut telah tumbuh lebih besar. Selama musim dingin mereka berpindah dari daerah intertidal ke daerah subtidal, tetapi kemungkinan dapat kembali ke wilayah intertidal dalam waktu singkat selama pasang tinggi untuk mencari makan. Beberapa Gastropoda yang hidup di liang hanya aktif pada malam hari atau saat siang berawan (SNM, 2003). Adaptasi reproduksi. Kepiting lumpur melakukan migrasi ekstensif selama siklus hidupnya. Setelah kawin di musim semi, kepiting betina pindah dari pantai yang dangkal ke lepas pantai (30 km) berkedalaman sekitar 300 m. Migrasi ini dapat menyebarkan larva dan kemungkinan berhubungan dengan perbedaan tekanan pemangsaan antara lepas pantai dan ekosistem mangrove. Pada akhir fase pelagik, kepiting muda kembali ke mangrove (SNM, 2003).

51

Adaptasi fisiologi. (i) Nutrisi. Tumbuhan mangrove dapat dimakan secara langsung oleh hewan atau setelah serasah terdekomposisi. Kepiting sesarmid Chiromanthes onychophorum dan C. dussumieri, memakan hampir seluruh daun mangrove. Beberapa sesarmid mengambil daun yang baru jatuh dan membawanya ke dalam liang. Kepiting ini dapat mengatasi kandungan tanin pada daun; memilih daun yang kandungan taninnya rendah atau telah terurai; atau secara fisiologi mampu mencerna tanin. (ii) Respirasi. Bivalvia dan beberapa cacing polychaeta dapat bertahan lama tanpa oksigen. Spesies Crustaceae tertentu dapat meregulasi metabolisme aerobik dalam merespon kekurangan oksigen, karena adanya struktur yang dapat menyekat jaringan respirasi dari habitat sekitarnya. (iii)

Osmoregulasi. Hewan di habitat mangrove terbiasa dengan fluktuasi salinitas. Salinitas dapat melebihi air laut pada saat hari panas selama pasang rendah dan dapat tawar pada musim hujan atau banjir. Permeabilitas kulit kepiting muara dan terestrial cenderung lebih rendah dibanding spesies akuatik sejati. Pada kondisi alami, usus cacing dan hewan lain terdapat lumpur untuk mempertahankan kondisi ionik dan osmotik berbeda dari lingkungan sekitarnya (SNM, 2003).

8. Zonasi Ekosistem Mangrove Tumbuhan mangrove umumnya membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai ke arah daratan. Zonasi ini mencerminkan tanggapan ekofisiologi tumbuhan mangrove terhadap perubahan gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk dapat sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) atau kompleks (beberapa zonasi) (SNM, 2003). Penyebab zonasi adalah kombinasi berbagai

52

faktor seperti salinitas, kondisi tanah, tingkat genangan, ketersediaan propagul, dan kompetisi antar spesies. Tumbuhan mangrove memiliki tanggapan yang berbeda-beda terhadap faktor-faktor tersebut, sehingga tumbuh dalam zonasi yang karakteristik. Beberapa spesies mangrove tumbuh di garis pantai atau sebaliknya jauh ke hulu sungai (Ng dan Sivasothi, 2001). Pada ekosistem mangrove yang sudah dipengaruhi kegiatan manusia, zonasi sulit ditentukan. Dalam hal ini ketersediaan propagul diduga lebih berpengaruh daripada faktor lain, dataran lumpur yang baru terbentuk akan didominasi tumbuhan yang propagulnya paling banyak sampai di tempat tersebut. Faktor lingkungan yang mempengaruhi zonasi antara lain (SNM, 2003): a) Pasang surut yang menentukan ketinggian permukaan air, salinitas air dan tanah; serta dapat menyebabkan kerusakan terhadap bibit. b) Tipe tanah yang menentukan tingkat aerasi, tinggi permukaan air dan drainase. c) Salinitas tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi terhadap kadar garam. d) Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit. e) Pasokan dan aliran air tawar. Ekosistem mangrove di daerah tropis relatif heterogen. Spesies yang tumbuh di bibir pantai cenderung berhabitus rendah, sedang yang jauh berhabitus tinggi. Ekosistem mangrove alami membentuk zonasi tertentu. Zonasi ini berbeda dari satu tempat ke tempat lain tergantung faktor lingkungan, serta dapat pula menggambarkan tahapan suksesi, mengingat ekosistem mangrove selalu berubah akibat sedimentasi dan abrasi. Daya adaptasi dari setiap spesies tumbuhan mangrove terhadap keadaan habitat akan menentukan komposisi spesies penyusun.

53

Zonasi diidentifikasi berdasarkan individu spesies mangrove atau kelompok spesies dan dinamakan sesuai dengan spesies yang dominan (SNM, 2003). Umumnya zona paling luar didominasi Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora, bagian tengah didominasi B. gymnorrhiza, bagian ketiga didominasi Xylocarpus dan Heritiera, bagian dalam didominasi B. cylindrica, Scyphiphora hydrophyllacea, dan Lumnitzera, sedangkan bagian transisi didominasi Cerbera manghas (de Haan dalam Steenis, 1958). Pada masa kini pola zonasi tersebut jarang ditemukan karena tingginya laju perubahan habitat akibat pembangunan tambak, penebangan hutan, sedimentasi/ reklamasi, dan pencemaran lingkungan (e.g. Walsh, 1974; Lewis, 1990; Primavera, 1993; Nybakken, 1993), meskipun masih dapat dirujuk pada pola zonasi tersebut (Sasaki dan Sunarto, 1994).

9. Komponen Biotik Mangrove a. Hewan Mangrove Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai hewan, yang menjadikannya sebagai tempat tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. Penelitian mengenai hewan mangrove di Indonesia masih terbatas, baik bidang kajian maupun lokasinya. Di pulau Jawa antara lain dilakukan di Teluk Jakarta, Tanjung Karawang, Segara Anakan Cilacap, Segara Anak Banyuwangi, dan Pulau Rambut (SNM, 2003). Ekosistem mangrove merupakan bentuk pertemuan lingkungan darat dan laut (ekoton), sehingga hewan dari kedua lingkungan ini dapat ditemukan di dalamnya. Sebagian kecil hewan menggunakan mangrove sebagai satu-satunya habitat, sedang lainnya berpindah-pindah berdasarkan

54

musim, tahapan siklus hidup, atau pasang surut (Tomlinson, 1986). Hewan mangrove dapat dibedakan atas hewan darat, hewan perairan tawar dan hewan laut (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001).

1) Hewan dari Darat Hewan darat yang mengunjungi mangrove umumnya tergolong vertebrata, seperti burung, amfibia, reptilia, dan mammalia. Burung. Mangrove merupakan habitat penting bagi burung migran dan tempat berlindung pada musim kemarau atau apabila hutan di dekatnya ditebang. Burung air yang sering mengunjungi mangrove antara lain: jabiru, bangau, heron, sedangkan burung daratan yang sering berkunjung adalah kutilang, burung madu, dan raja udang (Ng dan Sivasothi, 2001). Di Segara Anak, Jawa Timur terdapat sekitar 30 spesies burung, di ekosistem mangrove Muara Cimanuk, Jawa Barat terdapat 28 spesies burung. Di pulau Rambut, terdapat 56 spesies burung, terdiri dari 18 burung air dan 38 bukan burung air (SNM, 2003). Amfibia. Katak jarang dijumpai di kawasan mangrove. Airnya yang asin barangkali kurang cocok dengan kondisi kulit katak yang relatif tipis. Spesies katak yang kadang-kadang dapat ditemukan di kawasan mangrove adalah Rana cancrivora (Ng dan Sivasothi, 2001). Reptilia. Spesies reptilia yang sering dijumpai di mangrove adalah biawak (Varanus salvator), kadal (Mabouya multifasciata), berbagai spesies ular seperti Boiga dendrophila dan buaya muara (Crocodilus porosus) (SNM, 2003). Buaya muara bersarang di area mangrove dan sungai-sungai kecil di sekitarnya. Pada saat pasang reptil ini menuju mangrove untuk mencari makan. Di kawasan

55

mangrove terdapat beberapa spesies ular yang menggunakannya sebagai habitat utama; demikian pula kadal dan biawak yang memakan insekta, ikan, kepiting dan kadang-kadang burung (Ng dan Sivasothi, 2001). Mammalia. Primata yang terdapat di area mangrove Jawa dan Sumatera adalah Macaca fascicularis, sedang di Kalimantan adalah Nasalis larvatus yang langka dan endemik. Pada beberapa lokasi konservasi seperti CA Angke-Kapuk, TN Baluran dan TN Ujung Kulon dijumpai Presbytis cristata (SNM, 2003). Kelelawar buah (kalong) sering membentuk koloni besar di ekosistem mangrove dan bergelantungan di siang hari. Mammalia lain yang dapat dijumpai antara lain berang-berang, bajing, tikus, dan celeng (Ng dan Sivasothi, 2001).

2) Hewan dari Perairan Tawar Hewan air tawar pada ekosistem mangrove termasuk ke dalam kelompok vertebrata dengan jumlah spesies yang terbatas. Menurut Hutching dan Saenger, (1987 dalam SNM, 2003) di mangrove terdapat buaya air tawar (Crocodylus johnstone), dan kura-kura berkulit alur (Carettochelys inscupta).

3) Hewan dari Laut Hewan dari laut di area mangrove didominasi Molluska (Bivalvia dan Gastropoda), Crustacea (Brachyura) dan ikan. Berdasarkan habitatnya, hewan ini tergolong dalam dua tipe yaitu: (i) infauna yang hidup di kolom air, terutama berbagai spesies ikan dan udang, dan (ii) epifauna yang menempati substrat baik yang keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun yang lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang dan berbagai spesies invertebrata lainnya (SNM, 2003).

56

Hewan laut di area mangrove memiliki dua pola penyebaran (SNM, 2003): a) Hewan yang menyebar secara vertikal (di batang dan daun pepohonan), yakni berbagai spesies Molluska, misalnya Littorina scrabra, Cerithidea, Nerita birmanica, Chthalmus witthersii, Murex adustus, Balanus amphitrite, Crassosraea cuculata, Nannosesarma minuta, dan Clibanarius longitarsus. b) Hewan yang menyebar secara horizontal (di atas atau di dalam tanah) yang menempati berbagai tipe habitat sebagai berikut: (1) Zona pedalaman: Birgus latro, Cardisoma carnifex, Thalassina anomala, Sesarma, Uca lactea, U. bellator, dan lain-lain. (2) Hutan Bruguiera dan Ceriops: Sarmatium, Helice, Ilyoggrapsus, Sesarma, Metopograpsus frontalis, Cleistosma, Thalassina anomala, Utica, Telescopium telescopium, Uca, Cerithidea, dan lain-lain. (3) Hutan Rhizophora: Metopograpsus latifrons, Macrophthalmus,

Telescopium telescopium, dan lain-lain. (4) Zona pinggir pantai dan saluran: Scartelaos viridus, Macropthalmus latrillei, Boleophthalmus chrysospilos, Rachypleus gigas, Telescopium telescopium, Epixanthus dentatus, Eurycarcinus integrifrons, dan lain-lain. Ekosistem mangrove memberi lima tipe habitat bagi hewan (SNM, 2003): a) Tajuk pohon yang dihuni oleh burung, Mammalia dan serangga. b) Lobang genangan air pada batang yang dihuni serangga (terutama nyamuk). c) Permukaan tanah sebagai habitat siput/kerang dan ikan gelodok. d) Lobang pada tanah sebagai habitat kepiting dan katak. e) Saluran-saluran air sebagai habitat buaya dan ikan/udang.

57

Custacea. Crustacea seperti remis, udang dan kepiting sangat melimpah di ekosistem mangrove. Salah satu yang terkenal adalah kepiting lumpur (Thalassina anomala) yang dapat membentuk gundukan tanah besar di mulut liangnya, serta kepiting biola (Uca) yang salah satu capitnya sangat besar. Terdapat sekitar 60 spesies kepiting di ekosistem mangrove. Kebanyakan memakan dedaunan, lainnya memakan alga atau detritus di sedimen tanah dan membuang sisanya dalam gumpalan-gumpalan pelet (Ng dan Sivasothi, 2001). Molluska. Molluska, beserta Arthropoda, merupakan inverterbrata paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove, baik Gastropoda maupun Bivalvia (Ng dan Sivasothi, 2001). Ikan. Kebanyakan ikan yang hidup di mangrove juga ditemukan di laut sekitar pantai. Ikan ini tinggal di ekosistem mangrove pada waktu atau stadia tertentu, misalnya pada saat muda dan musim kawin. Terdapat pula spesies ikan tawar yang dapat hidup di area mangrove. Ikan gelodok (Gobiidae; Periophthalmodonidae) merupakan hewan yang habitatnya terbatas di area mangrove. Mereka membentuk lubang dalam tanah dan dapat berenang seperti ikan dengan menggunakan sirip pektoral, tetapi juga dapat memanjat pohon atau melewati tanah dengan sirip tersebut (Ng dan Sivasothi, 2001).

b. Tumbuhan Mangrove Vegetasi mangrove berperan besar dalam ekologi ekosistem ini, tumbuhan mangrove mayor merupakan penyusun utamanya (Lugo dan Snedaker, 1974; Hamilton dan Snedaker, 1984; Tomlinson, 1986). Identifikasi komposisi vegetasi mangrove merupakan prasyarat untuk memahami semua aspek struktur dan fungsi

58

mangrove, sebagaimana kondisi biogeografi, konservasi, dan manajemen (Jayatissa dkk., 2002). Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan atau ekoton antara komunitas laut dengan komunitas perairan tawar di pantai dan daratan, sehingga memiliki kekhasan tersendiri (Dahuri dkk., 1996). Komunitas ini sangat berbeda dengan komunitas laut, namun memiliki beberapa persamaan dengan komunitas daratan dengan terbentuknya rawa-rawa air tawar sebagai zona antara (Ng dan Sivasothi, 2001; Tomlinson, 1986) (Gambar 8). Terdapat dua tipe utama habitat mangrove, yaitu tipe sungai (riverine) dan tipe laut (marine). Tipe sungai terbentuk di sepanjang tepian sungai dan anakanak sungai. Struktur hutan di muara sungai didominasi tumbuhan mangrove, dan ke arah hulu secara gradual digantikan komunitas hutan tropis. Kondisi ini ditemukan pada kebanyakan muara sungai di Indonesia. Sungai membawa air tawar dan nutrien dari daerah aliran sungai ke habitat mangrove. Tipe laut terbentuk pada pantai tanpa sungai, sebagian besar air berasal dari laut, masukan air tawar sedikit, hanya dari aliran permukaan. Struktur ekosistem mangrove terbentuk di tepi pantai dan semakin ke dalam terdapat hutan tropis, yang menghindari tanah asin, misalnya di Gili Sulat, NTB dan pantai utara Australia. Kedua lingkungan ini memiliki tipe salinitas yang berbeda (Gambar 9.) (AMSA, 2000). Lugo dan Snedaker (1974) mengklasifikasikan komunitas mangrove menjadi lima berdasarkan kondisi fisiografinya, yaitu: fringing, basin, overwash, riverine, dan supra-tidal flat (Gambar 10).

59

Gambar 8 Komunitas mangrove.

Gambar 9 Tipe habitat mangrove.

Gambar 10. Fisiografi lingkungan mangrove.

60

1) Ciri-ciri Tumbuhan Mangrove Tumbuhan mangrove memiliki ciri-ciri (i) tumbuhan berpembuluh (vaskuler), (ii) beradaptasi pada kondisi salin, dengan mencegah masuknya sebagian besar garam dan mengeluarkan atau menyimpan kelebihan garam, (iii) beradaptasi secara reproduktif dengan menghasilkan biji vivipar yang tumbuh dengan cepat dan dapat mengapung, serta (iv) beradaptasi terhadap kondisi tanah anaerob dan lembek dengan membentuk struktur pneumatofor (akar napas) untuk menyokong dan mengait, serta menyerap oksigen selama air surut (Nybakken, 1993; Whitten dkk., 2000; Odum, 1971) (Gambar 11.).

Gambar 11. Morfologi khas tumbuhan mangrove.

Tumbuhan mangrove berbentuk pohon dan semak dengan bentuk dan ukuran beragam. Hampir semuanya termasuk dikotil, kecuali sejumlah kecil

61

spesies seperti N. fruticans. Mangrove mudah dikenali karena tumbuh pada area di antara rata-rata pasang dan pasang tertinggi, serta pembentukan akar yang sangat menyolok untuk menyokong dan mengait. Sebagian sistem akar terletak di atas tanah dan berfungsi untuk menyerap oksigen selama surut. Acrostichum merupakan satu-satunya Pterydophyta terestrial mangrove (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

2) Pengelompokan Vegetasi Mangrove Tomlinson (1986) menggolongkan vegetasi mangrove menjadi mangrove mayor, minor dan tumbuhan asosiasi. (i) Tumbuhan mangrove mayor (true mangrove) berhabitat sepenuhnya di kawasan pasang surut, dapat membentuk tegakan murni, beradaptasi terhadap salinitas melalui pneumatofora, embryo vivipar, mekanisme filtrasi dan ekskresi garam, secara taksonomi berbeda dengan tumbuhan darat setidaknya hingga tingkat genus, antara lain: Avicennia, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, N. fruticans, Rhizophora, dan Sonneratia. (ii) Tumbuhan mangrove minor tidak mampu membentuk komponen utama yang menyolok, jarang membentuk tegakan murni, dan hanya menempati tepi habitat, misalnya: Acrostichum, Aegiceras, Excoecaria, Heritiera, Osbornia, Pemphis, Scyphiphora, dan Xylocarpus. (iii) Tumbuhan asosiasi mangrove adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, tidak hanya ditemukan di ekosistem mangrove, merupakan vegetasi transisi ke daratan atau lautan, dan dapat berinteraksi dengan mangrove mayor, seperti Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, Ipomoea pes-caprae, Sesuvium portucalastrum,

62

Salicornia arthrocnemum, Cocos nucifera, Metroxylon sagu, Dalbergia, Pandanus tectorius, Hibiscus tiliaceus, dan lain-lain. Chapman (1984 dalam SNM, 2003) mengelompokkan tumbuhan mangrove menjadi dua golongan, yaitu: tumbuhan mangrove inti dan pinggiran. (i) Tumbuhan mangrove inti adalah: tumbuhan mangrove yang mempunyai peran ekologi utama dalam formasi mangrove, contoh: Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Avicennia, N. fruticans, Xylocarpus, Derris, Acanthus, Lumnitzera, Scyphiphora, Smythea dan Dolichandrone; (ii) Tumbuhan mangrove pinggiran adalah: tumbuhan mangrove yang secara ekologi berperan dalam formasi mangrove, tetapi tumbuhan tersebut juga berperan penting dalam formasi hutan lain, contoh: Excoecaria agallocha, Acrostichum aureum, Cerbera manghas, Heritiera littorelis, Hibiscus tiliaceus, dan lain-lain.

3) Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove Tumbuhan mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Terdapat berbagai macam klasifikasi tumbuhan mangrove. Menurut Tomlinson (1986), secara taksonomi mangrove meliputi 16-24 familia terdiri dari 54-75 spesies. Sedangkan menurut Field (1996), spesies mangrove sejati sekurang-kurangnya terdiri dari 17 familia, meliputi sekitar 80 spesies, dimana 50-60 diantaranya memberi kontribusi nyata dalam pembentukan ekosistem mangrove. Menurut Lovelock (1993) di dunia terdapat 69 spesies mangrove tergolong dalam 20 familia. Menurut Hutching dan Saenger (1987 dalam SNM, 2003) terdapat lebih dari 20 familia tumbuhan mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies.

63

Jumlah

tumbuhan

mangrove

di

Indonesia

masih

diperdebatkan.

Keragaman spesies mangrove pada setiap lokasi berbeda-beda, di seluruh Indonesia jumlahnya sekitar 47 spesies (MoE, 1997b). Informasi lain menyatakan jumlahnya sekitar 89 spesies , yang terdiri atas 35 spesies pohon, 5 spesies terna, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit dan 2 spesies parasit (Soemodihardjo et al, 1993), atau lebih dari 37 spesies (Soemodihardjo dan Ishemat, 1989) atau 45 spesies (Spalding dkk., 1997). Spesies utama berasal dari genera Avicennia, Rhizophora, Sonneratia, Bruguiera, Ceriops, Excoecaria, Heritiera, Lumnitzera, N. fruticans, Xylocarpus, dan Aegiceras (Soemodihardjo dan Sumardjani, 1994). Formasi hutan mangrove terdiri dari empat genus utama, yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, dan Bruguiera (Nybakken, 1993; Chapman, 1992), terdapat pula Aegiceras, Lumnitzera, Acanthus ilicifolius, Acrostichum aureum, dan Pluchea indica (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1965). Pada perbatasan ekosistem mangrove dengan rawa air tawar tumbuh N. fruticans dan beberapa spesies Cyperaceae (Sukardjo, 1985; Odum, 1971).

10. Komposisi dan Struktur Vegetasi, serta Diagram Profil Vegetasi a. Komposisi dan Struktur Vegetasi Vegetasi mangrove dapat mencapai lebar beberapa kilometer, tumbuh mulai dari tepi pantai hingga ratusan kilometer ke hulu sungai (Chapman, 1992; Wainwright, 1984). Pada sungai-sungai besar formasi hutan ini dapat menjorok hingga ratusan kilometer ke daratan. Di pulau Kalimantan, hutan ini menjorok hingga 150 km ke hulu, bahkan di sungai Kapuas hingga 240 km (Steenis, 1958).

64

Sekitar 60-75% panjang garis pantai daerah tropis ditumbuhi mangrove (Walsh, 1974). Komposisi dan struktur vegetasi mangrove berbeda-beda, secara spasial maupun temporal akibat pengaruh geofisik, geografi, geologi, hidrologi, biogeografi, iklim, faktor edafik dan kondisi lingkungan lainnya (Bandaranayake, 1998). Suksesi pada ekosistem mangrove sangat aktif, karena arus pasang surut memungkinkan masuknya sedimen dan invasi berbagai spesies dengan tingkat adaptasi yang berbeda-beda. Ekosistem mangrove bersifat dinamis, setiap tempat memiliki komposisi spesies tersendiri. Ekosistem ini memiliki kemampuan tinggi untuk kembali terbentuk setelah kerusakan hebat selama pola hidrologi kembali stabil dan tersedia sumber bibit (Manassrisuksi dkk., 2001). Perubahan fisik di dalam ekosistem mangrove seperti pengeringan, pembangunan kanal-kanal air dan pemakaian pupuk dalam pengelolaan tambak, menyebabkan perubahan habitat mangrove (Tanaka, 1992), sehingga komposisi dan struktur hutan dapat berubahubah (Odum, 1971). Deposisi sedimen dalam jumlah besar juga dapat mempengaruhi ketinggian tanah, sehingga mempengaruhi sebaran dan komposisi tumbuhan mangrove (Callaway dan Zedler, 1998). Struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan merupakan faktor penting yang mempengaruhi perpindahan aliran materi, energi dan keanekaragaman hayati (Dubayah dkk., 1997). Kanopi hutan merupakan faktor pembatas bagi kehidupan tumbuhan, karena dapat menghalangi penetrasi cahaya ke lantai hutan (Walters dan Reich, 1997; Fahey dkk., 1998). Pengetahuan tentang struktur dan komposisi vegetasi hutan dapat menjadi dasar untuk memprediksi kemungkinan perubahan

65

lingkungan yang akan terjadi di masa depan (Aumeeruddy, 1994). Kesempatan sebuah pohon untuk mencapai kanopi hutan tergantung penampakan anak pohonnya (Clark dan Clark, 1991; Kobe dkk., 1995). Variasi ketersediaan sumberdaya ini beserta perbedaan kemampuan antar spesies anak pohon dalam menggunakannya dapat mempengaruhi komposisi dan struktur vegetasi hutan (Latham, 1992; Pacala dkk., 1996). Perbedaan kemampuan antara spesies anakan pohon dalam menoleransi naungan mempengaruhi dinamika hutan (Finzi dan Canham, 2000). Pada kondisi cahaya rendah, perbedaan kecil dalam pertumbuhan pohon muda dapat menyebabkan perbedaan mortalitas yang besar (Kobe dkk., 1995), sehingga mempengaruhi kemelimpahan relatifnya (Pacala dkk., 1996). Tumbuhan sering dibedakan berdasarkan habitusnya menjadi pohon, semak, dan herba. Pohon memiliki diameter batang > 10 cm, semak memiliki diameter < 10 cm, tetapi tingginya > 1,5 m, sedangkan herba memiliki tinggi < 1,5 m. Dalam hal ini anak pohon dapat dikategorikan sebagai semak, sedangkan bibit pohon dan bibit semak dapat dikategorikan sebagai herba (Kusmana dan Istomo, 1995). Kondisi lingkungan di masa depan dapat diprediksi dari komposisi dan struktur biota pada saat ini. Spesies atau komunitas tertentu yang unik dalam melakukan interaksi di dalam ekosistem dapat digunakan sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas lingkungan, mengidentifikasi permasalahan kawasan, dan memberikan peringatan awal berbagai perubahan yang cenderung terjadi di masa depan. Pengetahuan tentang pola pertumbuhan berbagai vegetasi hutan dapat menjadi dasar untuk memprediksi kemungkinan perubahan lingkungan yang akan terjadi di masa depan (Aumeeruddy, 1994).

66

b. Diagram Profil Vegetasi Stratifikasi kanopi merupakan salah satu konsep tertua dalam ekologi hutan tropis. Konsep ini telah dikembangkan sejak permulaan abad ke-19, meskipun masih terdapat perdebatan eksistensinya (Whitmore, 1985; Smith, 1973; Richards, 1996). Beberapa peneliti menyatakan adanya stratifikasi pada kanopi hutan (Ashton dan Hall, 1992; Davis dan Richards, 1933), namun peneliti lain tidak menemukannya (Paijmans, 1970; Mildbraed, 1922 dalam Richards, 1996). Penyebab utama kerancuan ini adalah kesubyektivan definisi dan metode yang digunakan. Istilah stratifikasi digunakan untuk menunjukkan tiga perbedaan yang saling terkait, yaitu: stratifikasi vertikal biomassa (Ashton dan Hall, 1992), stratifikasi vertikal kanopi (Grubb dkk., 1963), dan stratifikasi vertikal spesies (Oliver, 1978). Stratifikasi boleh jadi ada berdasarkan salah satu definisi, tetapi tidak ada berdasarkan definisi lainnya. Misalnya, biomassa dapat saja terstratifikasi, tetapi kanopi tidak dapat ditentukan, atau kanopi spesies yang sama terletak pada strata yang berbeda (Baker dan Wilson, 2000). Namun ada atau tidaknya strata kanopi, konsep stratifikasi tetap merupakan alat yang sangat berguna untuk mengkaji distribusi vertikal tumbuhan dan hewan (Halle dkk., 1978). Metode tertua dan paling banyak digunakan untuk mengkaji

stratifikasi/arsitektur kanopi adalah diagram profil hutan secara vertikal dan horizontal (Baker dan Wilson, 2000). Teknik ini pertama kali diterapkan oleh Watt (1924 dalam Baker dan Wilson, 2000) pada hutan temperate, sedangkan Davis dan Richards (1933) adalah orang pertama yang menerapkannya pada hutan tropis.

67

Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, biasanya dengan panjang 40-70 m dan lebar 10 m, tergantung densitas pohon. Kemudian ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif (Baker dan Wilson, 2000; Aumeeruddy, 1994). Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan (Grubb dkk., 1963; Ashton dan Hall, 1992). Stratifikasi hutan tropis memiliki beberapa variasi, tetapi umumnya terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan pertama terdiri dari pepohonan dengan ketinggian 30-45 m, lapisan kedua terdiri dari pepohonan dengan ketinggian 18-27 m, lapisan ketiga terdiri dari pepohonan dengan ketinggian 8-24 m, lapisan semak terdiri dari anak pohon dan semak dengan ketinggian < 10 m, serta lapisan herba (Euwise, 1980). Hingga kini diagram profil hutan masih merupakan standard untuk mengidentifikasi stratifikasi kanopi hutan, meskipun memiliki beberapa kekurangan, yaitu interpretasinya dapat subyektif, membutuhkan banyak tenaga untuk mengerjakannya, dan dipengaruhi kondisi lokasi (Baker dan Wilson, 2000).

11.

Keanekaragaman

Genetik

dan

Kekerabatan

Sonneratia

alba

Berdasarkan Pola Pita Isozim Esterase dan Peroksidase a. Keanekaragaman Genetik Habitat mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah telah mengalami isolasi geografi dalam jangka panjang. Perpindahan biji/propagul

68

maupun materi genetik lain (serbuk sari) secara alamiah dari pantai selatan ke utara atau sebaliknya hampir tidak mungkin terjadi karena adanya barier alam, yakni tanah Jawa. Di pantai selatan sendiri perpindahan biji dari satu muara sungai ke muara sungai lainnya juga sulit terjadi mengingat besarnya ombak laut selatan, sedangkan di pantai utara perpindahan biji antar pantai lebih mudah karena lemahnya ombak Laut Jawa. Ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah memiliki kondisi lingkungan non biotik dan biotik yang berbeda, di samping itu kawasan ini berbatasan langsung dengan area tempat aktivitas masyarakat, maka diperkirakan kondisi mangrove juga dipengaruhi oleh kegiatan manusia, sehingga dimungkinkan setiap lokasi memiliki

keanekaragaman tumbuhan mangrove yang berbeda-beda, baik pada tingkat genetik, spesies, maupun ekosistem. Pada saat ini ekosistem mangrove di Jawa Tengah umumnya terpisahpisah dalam kelompok-kelompok kecil dan lebih terisolasi. Populasi yang kecil dan terisolasi lebih peka terhadap gangguan lingkungan (Shields, 1993; Caro, dan Laurenson, 1994; Caughley, 1994). Degradasi dan fragmentasi habitat merupakan penyebab utama kepunahan spesies (Falk, 1992), karena dapat mengurangi ukuran populasi dan menarik kedatangan spesies asing (Opdam dkk., 1994). Fragmentasi juga secara cepat dapat mengubah interaksi antar populasi di dalam satu spesies, interaksi antar spesies dan interaksi antara spesies dengan lingkungan abiotik (Cooperrider, 1991; Thompson, 1996), serta menaikkan inbreeding dan hanyutan genetik (Barrett dan Kohn, 1991; Ellstrand dan Elam, 1993; Young dkk., 1996). Variasi genetik terkait dengan tingkat isolasi spesies dan fragmentasi tumbuhan

69

(Treuren dkk., 1991; Godt dan Hamrick, 1993). Seleksi alam dapat menyebabkan terjadinya diferensiasi isozim di antara populasi (Aitken dan Libby, 1994), yang juga berpengaruh luas terhadap sifat morfologi (Antonovics, 1971). Perbedaan genetik dapat mencerminkan hubungan kekerabatan antara tumbuhan yang merupakan sinergi dari keseimbangan aliran gen, hanyutan genetik, dan seleksi alam (Max dkk., 1999). Keanekaragaman dan distribusi tumbuhan dipengaruhi oleh asal-usul, sejarah populasi, evolusi, dan faktor-faktor lingkungan seperti sebaran geografi (biogeografi), ekologi reproduksi dan cara dispersal (Armbruster dan Schwaegerle, 1996; Purps dan Kadereit, 1998).

b. Keunikan Sonneratia alba dan Kerabat Dekatnya Salah satu tumbuhan mangrove yang penyebarannya sangat luas adalah Sonneratia alba. Dalam populasi tumbuhan ini, terdapat variasi bentuk daun yang cukup menyolok (Lampiran 7; Gambar 137-139.). Di Jawa terdapat pula S. ovata, dan S. caseolaris sebagai kerabat dekatnya (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968; Whitten dkk., 2000). Ketiganya dapat melakukan hibridisasi dan menghasilkan keturunan fertil, sehingga sering menyulitkan identifikasi secara morfologi; hal ini menarik untuk diteliti (Tomlison, 1986). Hibridisasi alami sering terjadi pada banyak kelompok tumbuhan bunga (Angiospermae) (Knobloch, 1972; Ellstrand dkk., 1996). Hibridisasi merupakan masalah yang cukup mengganggu pada konsep spesies berdasarkan isolasi reproduktif, dan

70

dapat mengaburkan pembedaan di antara unit-unit ekologi (Mayr, 1992; Gornall, 1997). Perbedaan morfologi yang umum digunakan untuk membedakan ketiga spesies Sonneratia adalah bunga, buah, daun, dan batang. Bunga S. caseolaris, yakni petala dan tangkai sari hampir sepenuhnya berwarna merah, sedangkan pada S. alba petala dan tangkai sari hampir sepenuhnya berwarna putih, meskipun bagian pangkalnya kadang-kadang berwarna merah, pada S. ovata petala dan tangkai sari sepenuhnya berwarna putih (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1968; Ng dan Sivasothi, 2001). Buah S. caseolaris, umumnya pipih dengan arah bukaan kelopak mendatar dan dasar buah tidak menonjol, sedangkan buah S. alba umumnya membulat dengan dasar buah menonjol dan kelopak membalik, pada S. ovata buah membulat dengan dasar buah tidak menonjol dan kelopak menutupi buah (Whitten dkk., 2000). Daun S. alba umumnya bulat dengan ujung melekuk ke dalam, sedangkan daun S. ovata bulat dengan ujung membulat, adapun daun S. caseolaris umumnya lebih pipih dengan ujung meruncing, namun variasi bentuk daun dapat pula ditemukan pada S. alba (Tomlison, 1986). Bentuk batang S. alba biasanya lebih kuat, besar, dan tegak dengan kulit kayu lebih halus dan lebih putih dibandingkan kedua spesies lainnya (Ng dan Sivasothi, 2001). Di Jawa Tengah, S. alba mampu tumbuh pada habitat reliks mangrove, yang spesies lain tidak tumbuh, khususnya di pantai selatan yang berpasir, sehingga berpotensi untuk restorasi (rehabilitasi) (Setyawan dkk., 2002). Eksperimen penanaman S. alba dengan bibit dari Segara Anakan Cilacap ke muara Sungai Bogowonto oleh Djohan pada tahun 1997, mengalami kegagalan

71

akibat penggenangan, sedangkan bibit lokal yang tumbuh secara alami tetap dapat bertahan (Tjut Sugandawaty Djohan, 2001, komunikasi pribadi). Hal ini menunjukkan adanya keanekaragaman genetik, sebagai tanggapan terhadap kondisi lingkungan, meskipun bukti morfologi sulit digunakan untuk

membedakannya. Di musim kemarau muara Sungai Bogowonto mengalami penggenangan sekitar 4-6 minggu, karena terbentuknya gumuk/tanggul pasir yang membendung muara sungai. Bendungan ini akan jebol dengan sendirinya pada musim hujan, ketika volume air melimpah. Tumbuhan S. alba di atas dapat bertahan selama dua tahun hingga tahun 1999. Pada tahun 1997-1998 tidak terjadi genangan yang cukup berarti karena rendahnya curah hujan dan debit air sungai, namun pada musim kemarau tahun 1999, terjadi lagi genangan selama enam minggu sebagaimana tahun-tahun normal sebelumnya, sehingga hampir semua populasi S. alba dari Segara Anakan Cilacap terendam dan mati. Menurut McPhaden (1999), badai ENSO (El Nino South Oscillation) pada tahun, 19971998 merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, suhu permukaan laut naik sebesar 1-4oC serta menimbulkan kekeringan dan kebakaran hebat di Indonesia.

c. Penggunaan Isozim dalam Keanekaragaman Genetik Keanekaragaman genetik pada suatu populasi dapat ditelusuri

menggunakan penanda genetik yang didasarkan pada separasi elektroforesis protein/isozim dan DNA (McDonald dan McDermont, 1993). Data isozim dan DNA sangat berguna apabila sifat pembeda morfologi tumpang tindih (Karp dkk., 1996). Isozim adalah enzim-enzim yang memiliki molekul aktif dan struktur

72

kimia yang berbeda tetapi mengkatalis reaksi kimia yang sama (Tanksely, 1983; Beer dkk., 1993; Murphy dan Phillips, 1993). Isozim diproduksi dalam sitosol, organel, atau pada keduanya; umumnya berasal dari bagian vegetatif (Weeden dan Wendel, 1989). Istilah isozim atau isoenzim pertama kali diperkenalkan oleh Market dan Moller (1959, dalam Acquaah, 1992). Isozim dapat dipisahkan dengan metode elektroforesis pada gel pati atau gel poliakrilamid, hasilnya berupa zimogram pola pita yang diperoleh setelah dilakukan pewarnaan histokimia. Zimogram hasil elektroforesis bercorak khas sehingga dapat digunakan sebagai ciri untuk mencerminkan perbedaan genetik (Indriani dkk., 2002). Metode ini sangat berguna untuk studi tingkatan taksa yang rendah, seperti spesies, sub-spesies, dan populasi (Crawford, 1983, 1989; Riesenberg dkk., 1988; Brown, 1990), termasuk identifikasi varietas dan hibridanya (Pierce dan Brewbaker, 1973; Beer dkk., 1993; Murphy dan Phillips, 1993), sehingga sangat penting dalam kajian biologi populasi tumbuhan (Tanksely, 1983; Wendel dan Weeden, 1989; Comps dkk, 2001). Isozim biasanya diatur oleh gen tunggal dan bersifat kodominan dalam pewarisan sifat (Arulsekar dan Parfitt, 1986). Isozim dapat mendeteksi tiga kondisi genetik dan biokimia yang berbeda, yaitu: (i) allel ganda pada lokus tunggal, (ii) allel tunggal atau ganda pada lokus ganda dan (iii) isozim sekunder (Rothe, 1994; Micales dan Bonde, 1995). Pita-pita ini dikode oleh lebih dari satu lokus gen struktural, apabila dikode allel yang segregasi pada lokus tunggal disebut allozim (Brown, 1990). Allel adalah unit keanekaragaman genetik, sebagaiman spesies adalah unit keanekaragaman ekologi (Butlin dan Tregenza,

73

1998). Isozim banyak digunakan karena metodenya mudah, murah, cepat, polimorfisme diperoleh dari molekul tunggal (Auler dkk., 2002). Menurut Suranto (1991), penggunaan data isozim untuk studi populasi lebih baik menggunakan beberapa enzim daripada hanya satu.

12. Parameter Lingkungan a. Karakteristik fisik ekosistem mangrove Ekosistem mangrove terbentuk karena adanya perlindungan dari ombak, masukan air tawar dari sungai, sedimentasi, aliran air pasang surut, dan suhu yang hangat (Goldman dan Horne, 1983; Walsh, 1974). Proses internal pada komunitas ini seperti fiksasi energi, produksi bahan organik dan daur nutrien sangat dipengaruhi oleh proses eksternal seperti suplai air tawar dan aliran pasang surut, suplai nutrien dan stabilitas sedimen (Blasco, 1982). Faktor utama yang mempengaruhi komunitas ini adalah salinitas, tipe tanah, dan resistensi terhadap arus air dan gelombang laut (Chapman, 1992; Steenis, 1958). Faktor-faktor ini bervariasi dari tepi laut ke daratan, sehingga terbentuk zonasi (Giesen, 1991). Komunitas mangrove memiliki rentang toleransi yang luas terhadap garam, mulai dari true halophyte yang sangat tahan hingga glycophyte yang sangat rentan (Barbour dkk., 1987). Salinitas dipengaruhi oleh aliran pasang surut dan musim (Goldman dan Horne, 1983). Tipe tanah berpasir cenderung didominasi Avicennia, sedangkan tanah berlumpur didominasi Sonneratia, sehingga keduanya cenderung membentuk komunitas yang terpisah. Pantai yang

74

terbuka umumnya ditumbuhi Avicennia dan Sonneratia, sedangkan Rhizophora menempati sungai-sungai kecil di bagian yang agak hulu (Chapman, 1992).

b. Pencemaran Logam Berat Sebagian besar ekosistem mangrove di Jawa telah mengalami degradasi. Degradasi ekosistem mangrove umumnya disebabkan pembangunan tambak, penebangan hutan, sedimentasi/ reklamasi, dan pencemaran lingkungan (Walsh, 1974; Lewis, 1990; Nybakken, 1993; Primavera, 1993). Salah satu bentuk pencemaran lingkungan di kawasan mangrove dan pantai adalah pencemaran logam berat, yang akhir-akhir ini menjadi isu hangat. Pencemaran Hg di Teluk Minamata, Jepang (1953), merupakan tonggak awal perhatian dunia terhadap pencemaran logam berat. Kasus terbaru adalah pencemaran As dan Hg di Teluk Buyat, Sulawesi Utara (Polii dkk., 2001; Suhendrayatna, 2001). Kawasan muara dan pesisir pantai umumnya menjadi tempat utama pembangunan permukiman dan industri, sehingga menjadi tempat pembuangan berbagai limbah termasuk logam berat (e.g. Lam dkk., 1997; Kasuba dan Rozgaj, 2000; Suzuki dkk., 2001). Meskipun secara alami logam berat merupakan penyusun lingkungan perairan dan beberapa di antaranya sangat penting bagi kehidupan organisme, dalam konsentrasi tinggi logam berat dapat mengancam kehidupan komunitas muara (Lorenzon dkk., 2000). Toksisitas logam berat tidak hanya ditentukan oleh konsentrasinya tetapi lebih pada sifat-sifat kimia atau bioavailabilitasnya, misalnya keberadaannya sebagai ion-ion bebas (e.g. Blust dkk., 1992; Jackson dkk., 2000; Nair dan Robinson, 2001). Hal ini dipengaruhi oleh

75

beberapa faktor seperti salinitas dan kemampuan membentuk kompleks (e.g. Blaudez dkk., 2000; Jackson dkk., 2000; Heugens dkk., 2001; Philp, 2001). Menurut US. EPA (US. Environmental Protection Agency) dalam Novotny (1995), terdapat 13 jenis logam berat yang berbahaya bagi makhluk hidup, yaitu: antimon (Sb), arsen (As), berilium (Be), kadmium (Cd), kromium (Cr), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni), selenium (Se), perak (Ag), stronsium (Sr), dan seng (Zn). Beberapa jenis logam berat merupakan komponen penting dalam ekosistem. Cu dan Zn dibutuhkan bagi kehidupan, namun logam berat lainnya seperti Pb dan Hg tidak diketahui fungsi biokimianya (Pinto dkk., 2003). Logam berat di lingkungan dapat berasal dari sumber alami maupun sumber buatan/ aktivitas antropogenik. Logam berat yang menjadi bahan pencemar umumnya berasal dari sumber antropogenik (Adriano, 1986; Bilos dkk., 2001; Pinto dkk., 2003). Sumber alami dapat berupa pelapukan batu-batuan, aktivitas gunung berapi, badai pasir, semburan ombak laut dan partikel-partikel hayati. Adapun sumber antropogenik mencakup limbah pertambangan, industri, pertanian, transportasi, dan limbah domestik. Kontaminasi dari sumber antropogenik terus meningkat karena meningkatnya eksplorasi pertambangan dan industrialisasi (Jones dkk., 2000; Bilos dkk., 2001; Pinto dkk., 2003). Limbah cair dari kawasan permukiman dan industri merupakan sumber utama pencemaran di perairan, adapun gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran di udara (Adriano, 1986; Storelli dkk., 2001). Limbah ini dapat terbawa jauh dari sumber asalnya (Pinto dkk., 2003). Limbah di udara pada akhirnya akan terdeposisi dari atmosfer, lalu bersama-sama limbah cair dan

76

padat akan terangkut oleh air hujan, sungai dan laut ke lingkungan mangrove dan pantai, serta terendap dan terakumulasi pada sedimen tanah (Kim dkk., 1998; Prange dan Dennison, 2000). Sedimen merupakan material yang tersusun atas detritus, partikel organik dan inorganik, dengan sifat-sifat fisika, kimia dan biologi yang beragam. Sebagian besar logam berat dalam sedimen dapat mengalami perubahan ke bentuk larutan, baik melalui presipitasi sebagai oksida atau karbonat, maupun melalui pembentukan campuran padat dengan logam lain (Kim dkk., 1998; Li dkk., 2000). Logam berat dapat terserap biota melalui in-take langsung maupun rantai makanan (Prange dan Dennison, 2000; Pinto dkk., 2003). Biota yang mengakumulasi logam berat antara lain makroalgae, organisme bentos, dan padang lamun (Prange dan Dennison, 2000; Storelli dkk., 2001). Logam berat merupakan bahan pencemar yang berbahaya karena bersifat toksik dan dapat mempengaruhi berbagai aspek ekologi dan biologi (Dahuri dkk., 1996; Suhendrayatna, 2001). Mekanisme toksisitas logam berat tidak selalu jelas, namun kebanyakan terkait dengan tingkat oksidasinya. Logam berat dapat menyebabkan kerusakan oksidatif, melalui peningkatan konsentrasi oksigen reaktif (radikal bebas) dalam sel, serta penurunan kapasitas antioksidasi sel. Organisme merespon logam berat dengan membentuk berbagai antioksidan, termasuk berbagai jenis enzim dan senyawa dengan berat molekul rendah (Pinto dkk., 2003). Pembuangan limbah logam berat ke lingkungan muara dan pantai mendapat perhatian serius dari para pemerhati lingkungan, karena (i) beracun bagi organisme dan persisten di lingkungan akuatik; (ii) kebanyakan berasal dari

77

sumber antropogenik yang terus meningkat; (iii) informasi mengenai perilaku dan biotoksisitasnya masih terbatas; dan (iv) terjadi akumulasi dan biomagnifikasi pada organisme akuatik (Cohen dkk., 2001). Dari sudut pandang toksikologi, partikulat logam berat yang terbawa udara dapat mempengaruhi kesehatan. Partikel-partikel kecil (è ≤ 10 mm) yang terhirup bersama dengan udara pernafasan dapat terserap alveoli paru-paru. Pb, Cd, dan Cr merupakan partikelpartikel logam berat yang banyak terhirup dan mempengaruhi kesehatan masyarakat (Bilos dkk., 2001).

c. Kandungan Nutrien Proses pembangunan secara nyata telah menyebabkan berubahnya penggunaan lahan/habitat, kandungan kimia udara, tanah dan air, laju dan keseimbangan proses-proses biokimia, serta keanekaragaman hayati (Vitousek dkk., 1997). Perubahan penggunaan lahan sangat mempengaruhi siklus nutrien dan dapat mempengaruhi masa depan ekosistem perairan tawar dan laut. Hutan tropis banyak diubah menjadi lahan pertanian atau dibuka dan dibiarkan menjadi lahan kritis, sehingga sering kali kurang efisien dalam menyerap karbon dan elemen lain, mengubah siklus hidrologi setempat dan kehilangan sejumlah besar unsur nutrien seperti nitrogen dan fosfor melalui pelindihan aliran permukaan. Hal ini berdampak pada ekosistem akuatik yang secara berkala mendapat masukan berlebih sedimen, air, dan nutrien dari daratan (Downing dkk., 1999). Salah satu aktivitas manusia yang berpengaruh nyata terhadap siklus nutrien adalah peningkatan sumbangan unsur nutrien nitrogen (N) dan fosfor (P).

78

Sumbangan ini berasal dari limbah domestik dan pertanian, termasuk kotoran ternak dan pupuk, meningkatnya aliran permukaan akibat pembukaan lahan untuk pertanian dan permukiman, serta pembakaran bahan bakar fosil (Cole dkk., 1993; Nixon, 1995; Howarth, 1998). Ketersediaan nutrien sering kali menjadi faktor pembatas produktivitas primer. Dari semua nutrien yang ada, nitrogen dan fosfor merupakan dua unsur yang paling sering membatasi pertumbuhan produsen primer (Hauxwell dkk., 2001). Ekosistem perairan tawar dan laut memiliki perbedaan pola siklus kedua nutrien tersebut. Fosfor merupakan faktor pembatas produktivitas primer pada lingkungan perairan tawar, sedangkan nitrogen merupakan faktor pembatas pada lingkungan perairan laut (Smith, 1984; Downing dkk., 1999; Hauxwell dkk., 2001), sehingga terjadi perubahan besar komposisi komunitas pada kawasan mangrove dan terumbu karang. Perubahan siklus nitrogen berdampak besar terhadap ekosistem akuatik (Downing dkk., 1999). Secara alamiah nutrien terdapat di alam dan mendukung terbentuknya ekosistem yang subur, namun aktivitas manusia dapat meningkatkan masukan nutrien hingga tingkat yang tidak diinginkan (Hauxwell dkk., 2001). Aktivitas manusia dapat meningkatkan jumlah nitrogen dan fosfor, serta mempengaruhi siklus biogeokimianya (Schlesinger, 1991; Vitousek dkk., 1997). Kelebihan nutrien ini memasuki ekosistem muara dan perairan pantai melalui sungai, air tanah, dan transpor udara (Howarth dkk., 1996; Nixon dkk., 1996). Kesehatan ekosistem pantai sangat terancam akibat berlebihnya nutrien ini (eutrofikasi) (Hauxwell dkk., 2001). Nutrien pada ekosistem mangrove tidak hanya dihasilkan

79

oleh ekosistem itu sendiri (autochthonous), tetapi juga berasal dari sungai atau laut di sekitarnya (allochthonous) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Di samping kedua unsur nutrien inorganik, nitrogen dan fosfor, ekosistem mangrove dapat menyimpan sejumlah besar nutrien organik/detritus (Matsui, 1998; Fujimoto dkk., 1999), bahkan pada ekosistem mangrove tertentu ketebalan sedimen yang kaya bahan organik dapat mencapai beberapa meter (Twilley dkk., 1992; Lallier-Verges dkk., 1998). Tingginya produksi daun dan serasah, serta cepatnya laju penguraian detritus menyebabkan ekosistem mangrove menjadi salah satu ekosistem yang paling produktif dan mendukung berbagai kehidupan liar dengan kemelimpahan tinggi (Aksornkoae, 1986; Ong, 1995). Sekitar 30-60% total produksi primer ekosistem mangrove adalah serasah (Bunt dkk., 1979). Serasah daun sangat penting dalam menjaga rantai makanan yang berbasis detritus (Ong dkk., 1984; Lee, 1995). Sifat kimia detritus mangrove berubah selama dekomposisi dan penuaan (Rice dan Tenore, 1981). Dedaunan yang jatuh ke dalam air dan basah akan segera mengalami pelindihan bahan organik, termasuk karbon organik, nitrogen organik, dan tanin (Newell dkk., 1984; Robertson, 1988; Steinke dkk., 1993a, b). Ekosistem mangrove merupakan jalur penting bagi siklus bahan organik di lingkungan tropis, khususnya karbon. Ekosistem mangrove memiliki

produktivitas primer sangat tinggi, serta dapat mempengaruhi dan mengatur siklus nutrien, selanjutnya mengirimkan bahan organik ke laut terbuka dan lingkungan akuatik di sekitarnya, dalam bentuk serasah dan bahan organik partikulat atau terlarut (Clough, 1992; Lee, 1995; Lovelock, 1993; Jickells 1998; Ng dan

80

Sivasothi, 2001); dapat pula melalui perumputan yang dilakukan herbivora, sehingga dipindahkan dalam bentuk energi (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Tumbuhan mangrove dapat meningkatkan sedimentasi bahan terlarut selama banjir dan mengendapkan material allochtonous (Furukawa dkk., 1997). Sekitar 90% partikel bahan organik yang memasuki kawasan pantai diendapkan ke dalam sedimen melalui flokulasi kimia, adsorbsi dan deposisi fisik akibat pertemuan air tawar dan air laut (Lisitzyn, 1999). Peningkatan nutrien antropogenik dalam jumlah besar dapat

mempengaruhi komposisi dan kemelimpahan produsen primer, sehingga berdampak pada siklus biogeokimia nutrien secara keseluruhan (Worm dkk., 2000). Tumbuhan mangrove sangat penting dalam penyampuran nutrien dan partikulat di kawasan pantai, karena dapat memperlambat arus, memperkuat deposisi dan menyerap nutrien (Levin dkk., 2001). Keragaman spesies yang tinggi dapat membantu keberlanjutan produktivitas melalui stabilisasi komunitas dalam berbagai kondisi lingkungan (McNaughton, 1993). Peningkatan pembuangan limbah di sungai yang dikombinasi dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam sungai menyebabkan meningkatnya nutrien di kawasan muara (Wosten dkk., 2003). Proses biogeokimia pada sedimen di kawasan muara sangat bervariasi tergantung beberapa faktor, seperti: sumber bahan organik dari laut dan darat; variasi salinitas, proses remineralisasi sediment anoksik, adanya makrohewan bentos, dan kondisi redoks sedimen (Burdige, 2001), sehingga status nutrien dapar bervariasi antar tempat.

81

Tumbuhan mangrove berpotensi untuk mitigasi kelebihan nitrogen dan fosfor, karena dapat melepaskan kedua unsur tersebut selama pertumbuhannya. Di samping itu, sedimen mangrove merupakan habitat yang cocok bagi bakteri denitrifikasi, untuk mengubah NO3 - menjadi gas N2. Hal ini dapat mengurangi kelebihan nutrien bagi produsen primer di pantai dan mencegah eutrofikasi di laut (Hauxwell dkk., 2001).

13. Jenis-jenis Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove dan Penggunaan Lahan di Sekitarnya, serta Upaya Restorasinya a. Pemanfaatan dan Penggunaan Lahan Ekosistem ini memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi, dan sosia-budaya yang sangat penting. Fungsi ekologi ekosistem mangrove meliputi tempat sekuestrasi karbon, remediasi bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari abrasi, intrusi air laut, dan tekanan badai, menjaga kealamian habitat, menjadi tempat bersarang, pemijahan dan pembesaran anakan berbagai spesies ikan, udang, kerang, burung dan hewan lain, serta pembentuk daratan. Fungsi sosialekonomi ekosistem mangrove meliputi kayu bangunan, kayu bakar, kayu lapis, bubur kertas, tiang telepon, tiang pancang, bagan penangkap ikan, dermaga, bantalan kereta api, kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, atap huma, tannin, bahan obat, gula, alkohol, asam asetat, protein hewani, madu, karbohidrat, dan bahan pewarna, serta memiliki fungsi sosial-budaya sebagai area konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya. Tingkat kerusakan ekosistem mangrove dunia, termasuk Indonesia, sangat cepat dan dramatis. Ancaman utama

82

kelestarian ekosistem mangrove adalah kegiatan manusia, seperti pembuatan tambak (ikan dan garam), penebangan hutan, dan pencemaran lingkungan. Di samping itu terdapat pula ancaman lain seperti reklamasi dan sedimentasi, pertambangan dan sebab-sebab alam seperti badai. Restorasi ekosistem mangrove mendapat perhatian secara luas mengingat tingginya nilai sosial-ekonomi dan ekologi ekosistem ini. Restorasi ini berpotensi besar menaikkan nilai sumber daya hayati mangrove, memberi mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan pantai, menjaga biodiversitas dan produksi perikanan, dan lain-lain (Setyawan, 2002). Pemanfaatan ekosistem mangrove dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pemanfaatan ekosistem secara keseluruhan (jasa ekologi) dan pemanfaatan produk yang dihasilkannya. Secara tradisional, masyarakat lokal menggunakan mangrove untuk memenuhi berbagai keperluan secara lestari, tetapi meningkatnya jumlah penduduk dapat menyebabkan terjadinya tekanan yang tidak terbaharukan pada sumber daya ini. Referensi tertua mengenai pemanfaatan tumbuhan mangrove berasal dari tahun 1230 di Arab, yakni penggunaan bibit (seedling) Rhizophora sebagai sumber pangan, getah untuk mengobati sakit mulut, batang tua untuk kayu bakar, tanin dan pewarna, serta menghasilkan minuman yang memiliki efek afrodisiak bagi lelaki dan pengasihan bagi perempuan (Bandaranayake, 1998).

b. Penginderaan Jauh dalam Identifikasi Penggunaan Lahan Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, area, dan fenomena, dengan cara

83

analisis data melalui peralatan tanpa kontak langsung dengan obyek. Data ini dapat diperoleh melalui foto udara dan citra satelit, yakni menggunakan mekanisme sensor yang diletakkan pada ketinggian tertentu untuk mendeteksi dan mencatat radiasi yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Vanderyighelen dan Kunneke, 1997). Data untuk manajemen lingkungan dapat diperoleh dari studi lapangan dan remote sensing. Studi lapangan cenderung lebih mahal dan memerlukan tenaga lebih banyak, namun dapat menghasilkan data yang lebih detail. Survei udara lebih cepat dan lebih murah, namun seringkali terkendala masalah keamanan, mengingat kawasan tertentu tidak boleh dipotret dari udara, disamping membutuhkan cuaca yang baik dan jarang dilakukan secara periodik. Adapun satelit dapat melakukan pengambilan data secara rutin, cepat dan terus-menerus, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi di suatu lingkungan. Namun citra satelit cenderung kurang detail dan resolusinya rendah, sehingga kadang-kadang digunakan secara komplementer dengan foto udara, terutama untuk lokasi yang sempit (Vanderyighelen dan Kunneke, 1997). Pada saat ini terdapat beberapa satelit yang diluncurkan untuk mendapatkan data, dengan tujuan pengelolaan sumberdaya alam, pemantauan dan perencanaan lingkungan, serta mitigasi bencana alam, misalnya LANDSAT, NOAA, dan SPOT. Sejak diluncurkan tahun 1972, LANDSAT telah digunakan untuk berbagai penelitian, mencakup: penggunaan lahan, pembuatan peta vegetasi, studi tanah, eksplorasi geologi dan lain-lain. Pada citra satelit, jarak antara dua titik yang masih dapat dibedakan (resolusi) dinyatakan dengan pixel

84

('picture element'). Satu pixel citra satelit LANDSAT memiliki resolusi 79 m x 79 m untuk MS (multispectral analysis), dan 30 m x 30 m untuk TM (tematic mapper) (Vanderyighelen dan Kunneke, 1997). Sistem informasi geografi (SIG) atau geographic information system (GIS) didefinisikan sebagai pengorganisasian semua fasilitas, termasuk perangkat keras komputer dan kelengkapannya, perangkat lunak, data geografis, dan personel, untuk secara efisien menangkap, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis, dan menyajikan semua bentuk data dan informasi geografi (Vanderyighelen dan Kunneke, 1997). GIS dapat pula didefinisikan sebagai sistem manajemen database yang dapat secara simultan memberikan data spasial dalam bentuk grafik, seperti peta, beserta keterangan data seperti label dan diskripsi yang berbeda-beda dalam peta tersebut, yakni seperangkat peralatan untuk mengelola informasi berbagai hal yang terkait dengan suatu lokasi. Unsur utama GIS mencakup: (i) masukan data, verifikasi, dan penyuntingan; (ii) penyimpanan data, mengambil kembali, dan mengelolanya; (iii) manipulasi dan analisis data; serta (iv) keluaran hasil (Guarino, 2002).

c. Restorasi Ekosistem Mangrove Penanaman dan pengelolaan mangrove memiliki sejarah panjang di Asia Tenggara (Watson, 1928), meskipun catatan tertua mengenai manajemen mangrove sebagai penghasil kayu terdapat di Sundarbans, suatu ekosistem mangrove seluas 6.000 km2 di perbatasan India dan Banglades (Asia Selatan), yang dikelola sejak 1769 (Chowdhury dan Ahmed, 1994). Ekosistem mangrove

85

seluas 40.000 ha di Matang, Malaysia yang dikelola sejak 1902 untuk menghasilkan kayu bakar (Watson, 1928), merupakan contoh tertua dan terbaik manajemen ekosistem mangrove (Khoon dan Eong, 1995). Tujuan utama restorasi mangrove adalah mengelola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi pada ekosistem mangrove, serta mencegahnya dari kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut (Anonim, 2001a). Restorasi diperlukan apabila ekosistem yang terdegradasi telah berubah jauh, sehingga tidak dapat memperbaharui diri secara alami ke kondisi semula, dan tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya (Stevenson dkk., 1999; Morrison, 1990). Pada kondisi ini, homeostasis ekosistem terhenti secara permanen, sehingga menghambat proses suksesi sekunder untuk menyembuhkan area yang rusak (Stevenson dkk., 1999). Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya landskap, mempertahankan keberlanjutan produksi sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu), melindungi kawasan pantai, serta fungsi sosial budaya (Watson, 1928; Field, 1996; Morrison, 1990; Lewis, 1992, Aksornkoea, 1996; Stevenson dkk., 1999). Tujuan restorasi perlu ditetapkan berdasarkan masukan dari para pihak dan merupakan konsensus bersama, sehingga mendapat dukungan secara luas (Fitzgerald, 1997), tanpa dukungan para pihak setempat keberhasilan restorasi dalam jangka panjang sangat kecil (Primavera dan Agbayani, 1996). Di Indonesia, restorasi mangrove diawali di Sinjai, Sulawesi pada tahun 1985 diprakarsai sekelompok nelayan. Kesuksesan upaya ini mendorong restorasi mangrove di seluruh Indonesia (Choudhury, 1996). Di atas kertas, rehabilitasi

86

mangrove mendapatkan perhatian cukup besar dalam Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia (SNM, 2003), namun implementasi di lapangan tampaknya masih jauh dari harapan. Kegagalan beberapa kegiatan restorasi ditengarai karena pendekatan “proyek” yang menyebabkan lemahnya manajemen pelaksanaan. Di Jawa, sejarah restorasi ekosistem mangrove tidak banyak dicatat, namun berbagai individu dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta, diyakini terlibat dalam kegiatan ini. Salah satu contoh restorasi ekosistem mangrove yang dilakukan secara kontinyu dan cukup berhasil adalah penanaman Rhizophora spp. di sepanjang pantai utara Rembang, khususnya di kecamatan Rembang kota, dengan mengikutsertakan masyarakat setempat dalam manajemen pengelolaannya (Setyawan dkk., 2004). Upaya restorasi mangrove dengan pola serupa, yakni memberi peran aktif kepada masyarakat juga dilakukan di Probolinggo, Jawa Timur (Sudarmadji, 2003, komunikasi pribadi). Tampaknya pelibatan aktif masyarakat merupakan salah satu unsur utama keberhasilan pengelolaan kawasan pesisir (Suara Pembaruan, 03/03/2002). Kegiatan restorasi lahan mangrove di Jawa dengan ukuran yang signifikan, antara lain juga telah dilakukan di teluk Jakarta, Muara Angke, Bekasi, Indramayu, Pemalang, Tegal, dan Demak dengan dipelopori oleh Yayasan Mangrove Indonesia (SNM, 2003). Kegiatan restorasi juga dilakukan di Segara Anakan oleh Badan Pengelola Kawasan Segara Anakan (BPKSA) (Suara Pembaruan, 19/04/2003), muara sungai Porong oleh Pemerintah Kabupaten

87

Sidoarjo (Republika, 15/07/2002), Telukawur-Semat, Jepara oleh Universitas Diponegoro Semarang (Suara Merdeka, 09/04/2003), dan lain-lain.

B. Penelitian Sejenis yang Relevan Salah satu informasi utama mengenai keanekaragaman spesies tumbuhan mangrove di Jawa disajikan oleh Backer dan Bakhuizen van den Brink (1968). Setelah itu kajian mengenai tumbuhan mangrove di Jawa sering dilakukan, bahkan menjadi salah satu tipe vegetasi yang paling sering diteliti, namun penelitian ini umumnya hanya terkait dengan komposisi dan struktur komunitas di suatu lokasi (periksa antara lain Whitten dkk., 2000). Kajian yang secara khusus mempelajari keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove di seluruh Jawa Tengah dengan membandingkan kondisi vegetasi mangrove di pantai utara dan selatan, serta dikaitkan dengan kondisi lingkungan fisika-kimia, kandungan nutrien, dan pencemaran logam berat masih jarang dilakukan. Penelitian yang terkait dengan keanekaragaman genetik pada tingkat populasi, misalnya populasi S. alba juga belum dilakukan. Kajian mengenai pengaruh antropogenik yang berupa jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan jenisjenis penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya juga masih jarang dilakukan. Bahkan hingga kini tidak terdapat buku yang secara khusus diterbitkan sebagai panduan pengenalan lapangan mangrove di Jawa, meskipun untuk pulaupulau kecil seperti Bali dan Lombok sudah dilakukan (Kitamura dkk., 1997).

88

C. Kerangka Pemikiran Keanekaragaman dan sebaran tumbuhan dipengaruhi oleh asal-usul, sejarah populasi, evolusi, dan faktor-faktor kontemporer lingkungan seperti sebaran geografi (biogeografi), ekologi reproduksi dan cara dispersal (Purps dan Kadereit, 1998). Setiap lokasi pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan biotik, abiotik, dan kultur yang berbeda-beda sehingga memungkinkan terbentuknya tipe komunitas yang berbeda-beda pula. Ekosistem mangrove di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah memiliki kondisi lingkungan yang berbeda-beda sehingga diduga juga ditinggali oleh spesies tumbuhan mangrove dengan keanekaragaman yang berbeda-beda pula. Mengingat kawasan mangrove ini berbatasan langsung dengan area tempat berlangsungnya aktivitas masyarakat, maka diperkirakan kondisi mangrove juga dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Kerangka pemikiran penelitian ini dijelaskan dalam diagram alir (Gambar 12):
LINGKUNGAN

ABIOTIK

BIOTIK

KULTUR

Pantai Utara

Pantai Segara Selatan Anakan

HABITAT MANGROVE

Keanekaragaman & Distribusi

KEKAYAAN EKOSISTEM

Gambar 12. Kerangka pemikiran.

89

BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli s.d. Desember 2003. Penelitian lapangan dilakukan pada 20 lokasi di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Berdasarkan survei pendahuluan pada bulan Maret s.d. Mei 2002, serta Oktober s.d. Nopember 2002 setiap lokasi tersebut memiliki satu atau lebih spesies tumbuhan mangrove mayor, sehingga pada masa lalu diperkirakan merupakan ekosistem mangrove. Penelitian laboratorium dilakukan di Laboratorium Jurusan Biologi FMIPA UNS, serta Sub-Lab Biologi dan Sub-Lab Kimia, Laboratorium Pusat MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Pengambilan sampel di pantai utara Jawa Tengah dilakukan pada 10 lokasi mulai dari Demak s.d. Rembang, meliputi: (1) Wulan, Demak (2) Sigrogol, Demak (3) Serang, Demak (4) Bulak, Jepara, (5) Telukawur, Jepara, (6) Tayu, Pati, (7) Juwana, Pati, (8) Pecangakan, Rembang, (9) Pasar Bangi, Rembang, dan (10) Lasem, Rembang; sedangkan pengambilan sampel di pantai selatan Jawa Tengah dilakukan pada 10 lokasi mulai dari muara Sungai Bogowonto s.d. Segara Anakan, yaitu (11) Bogowonto, perbatasan Kulonprogo dan Purworejo (12) Cakrayasan, Purworejo, (13) Lukulo, Purworejo, (14) Cincingguling, Kebumen, (15) Ijo, Kebumen, (16) Bengawan, Cilacap, (17) Serayu, Cilacap, (18) Tritih, Cilacap (19) Motean, Cilacap, dan (20) Muara Dua, Cilacap (Gambar 13. dan 22). Lokasi ke-4, 5, 9, dan 10 terletak langsung di tepi pantai dan jauh dari muara

89

90

sungai besar, lokasi ke-18, 19, 20 terletak di laguna Segara Anakan, sedangkan lokasi sisanya terletak di muara sungai. Lingkungan permukiman di kawasan Segara Anakan disebut dengan Kampung Laut. Kesemua lokasi tersebut terletak di Propinsi Jawa Tengah, kecuali Bogowonto yang terletak di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (periksa Lampiran 1, 2, 3, dan 4). Dari keduapuluh lokasi tersebut dipilih enam lokasi untuk penelitian keanekaragaman genetik populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita esterase dan peroksidase. Tiga lokasi terletak di pantai utara Jawa Tengah, yaitu (1) Wulan (WUL), (2) Juwana (JUW), (3) Pasar Banggi (PAS), dan tiga lokasi sisanya di pantai selatan Jawa Tengah, yaitu (4) Bogowonto (BOG), (5) Motean (MOT), dan (6) Muara Dua (MUA). Pemilihan keenam lokasi tersebut didasarkan pada ketersediaan bibit S. alba. Berdasarkan survei pendahuluan pada bulan Maret s.d. Mei 2002, serta Oktober s.d. Nopember 2002 setiap lokasi tersebut sekurangkurangnya memiliki 20 individu S. alba.

91

5 4 3 1 2

6 7 8 9

10

18-20 17

16 15 14

13 12 11

Gambar 13. Peta sebaran lokasi penelitian.

92

B. Data dan Sumber Data 1. Data Primer Data primer mencakup data yang diamati atau diukur langsung dengan peralatan tertentu atau wawancara. Data primer yang dikoleksi dengan peralatan tertentu meliputi: a. Keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove. b. Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove. c. Keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi S. alba berdasarkan pola pita isozim. d. Parameter lingkungan, meliputi: salinitas, suhu (air dan sedimen), pH (air dan sedimen), DO air, karakter tanah, kandungan bahan organik, nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-), dan kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). Adapun data primer, yang dikoleksi melalui wawancara dan pengamatan langsung adalah: e. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan jenisjenis penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya.

2. Data Sekunder Data sekunder, yakni data yang sudah tersedia meliputi: a. Peta topografi pulau Jawa (US Army Map Service, 1963-1965). b. Buku Profil Daerah Kabupaten dan Kota (Litbang Kompas, 2001-2004). c. Citra satelit Landsat TM7 periode pemotretan Juli s.d. September 2001 (Lampiran 3; Gambar 43-61).

93

C. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.

D. Populasi, Sampel, dan Subyek Penelitian 1. Populasi penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah populasi tumbuhan pada ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah, termasuk Segara Anakan Cilacap.

2. Sampel penelitian Sampel dalam penelitian ini adalah: a. Seluruh spesies tumbuhan mangrove pada 20 lokasi di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. b. Seluruh populasi S. alba pada 6 lokasi terpilih untuk diuji keanekaragaman pola pita isozimnya. c. Sedimen tanah dan air di kawasan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. d. Ekosistem buatan di dalam dan di sekitar kawasan mangrove. 3. Subyek penelitian Subyek penelitian ini adalah: a. Spesies tumbuhan mangrove. b. Struktur vegetasi tumbuhan mangrove. c. Pola pita isozim S. alba.

94

d. Parameter lingkungan. e. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya.

4. Teknik sampling a. Keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove. Pada keduapuluh lokasi penelitian, dilakukan identifikasi keanekaragaman

tumbuhan dengan metode survei (penjelajahan). b. Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove. Di keduapuluh lokasi penelitian, pada tempat-tempat dengan tingkat

keanekaragaman dan kekayaan spesies tumbuhan mangrove tertinggi secara purposif dibuat belt transect dengan ukuran 10X60 m2, dengan tiga ulangan. Setiap belt transect dibagi lagi dalam 6 subplot kuadrat masing-masing berukuran 10X10 m2. Dilakukan tiga kali ulangan. c. Keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim. Pada enam lokasi yang telah ditentukan diambil 20 individu bibit (seedling) S. alba untuk diuji keanekaragaman pola isozimnya. Bibit ditanam di rumah kaca Sub-Lab Biologi, Laboratorium Pusat MIPA UNS Surakarta, dengan tanah dari lingkungan mangrove asalnya, hingga tumbuh tunas baru. d. Parameter lingkungan. Pada setiap lokasi dipilih lima titik secara acak dengan jarak sekurang-kurangnya 10 m untuk mengukur parameter lingkungan. Faktor lingkungan yang dapat diukur secara in situ, maka diukur

95

secara terpisah pada kelima titik tersebut dan ditentukan reratanya, adapun untuk faktor lingkungan yang harus diukur secara ex situ, maka sampel dari kelima titik disatukan dan diukur sebagai sampel komposit di laboratorium. e. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya. Pada setiap lokasi, dilakukan wawancara (in-depth interview) dengan sekurang-kurangnya 10 orang penduduk dan aparat pemerintah setempat untuk mengetahui jenisjenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya.

5. Kegiatan penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

E. Instrumen Penelitian (Bahan dan Alat) 1. Keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove Untuk mengetahui keanekaragaman dan distribusi tumbuhan mangrove dilakukan tiga kegiatan utama mencakup koleksi, identifikasi dan pembuatan herbarium. a. Koleksi. Alat yang digunakan adalah: ransel, gunting tumbuhan, pisau, beliung, pensil, buku koleksi lapangan, etiket gantung, peta topografi, kompas dan teropong. Dalam hal ini diperlukan pula perahu motor sebagai sarana transportasi di kawasan mangrove, khususnya di Wulan dan Segara Anakan yang luas.

96

b. Identifikasi. Alat yang digunakan adalah: mikroskop, mikroskop stereo, lampu penyorot, lensa pembesar, cawan petri, jarum pemisah, pisau dan pinset, dan buku identifikasi. c. Pembuatan herbarium. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan herbarium kering adalah: sasak, kertas koran, kertas kardus, tali, gunting, pisau, oven, kertas herbarium, label herbarium, amplop herbarium, etiket herbarium dan lem/selotip bening. Sedangkan pada pembuatan herbarium basah diperlukan: botol kaca bening, gelas ukur, alkohol 70%, dan air.

2. Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove Alat yang digunakan untuk analisis komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi pada dasarnya sama dengan pengukuran keanekaragaman dan distribusi di atas ditambah peralatan untuk membuat plot kuadrat meliputi: meteran, tali plastik, dan patok.

3. Keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim Penelitian ini dimulai dengan koleksi bibit S. alba yang selanjutnya ditanam di rumah kaca, dilanjutkan dengan dengan prosedur elektroforesis yang mencakup koleksi daun, pembuatan buffer, pembuatan larutan stok, pembuatan gel, ekstraksi daun, pelaksanaan elektroforesis, dan pembuatan pewarna isozim (esterase dan peroksidase). Prosedur elektroforesis merujuk pada Weeden dan Wendel (1989), Crawford (1990), dan Suranto (1991).

97

a. Koleksi bibit dan penanaman di rumah kaca. Material penelitian berupa daun S. alba yang diperolah dari penanaman bibit di rumah kaca. Alat dan bahan yang diperlukan: rumah kaca, ember plastik ukuran 10 L, tanah dari lingkungan mangrove, humus, dan air. b. Koleksi daun.. Bahan yang diperlukan untuk pengawetan koleksi daun adalah air dingin dan/atau es batu. Alat yang digunakan meliputi: gunting tumbuhan atau pisau tajam, kantung plastik dengan klip (atau tali karet), dan termos es. Alat yang diperlukan di laboratorium adalah lemari pendingin suhu 4oC. c. Pembuatan buffer. Tank buffer: bahan yang diperlukan adalah boric acid (asam boraks), borax (boraks), dan akuades. Buffer ekstraksi sampel: bahan yang diperlukan adalah sistein, asam askorbat, sukrosa, boraks buffer pH 8,4. Running buffer: bahan yang diperlukan adalah TAE (Tris-Acetic-Acid EDTA) 50x. d. Pembuatan larutan stok. Larutan "L": bahan yang diperlukan adalah Tris, SDS, akuabides, dan HCl. Larutan "M": bahan yang diperlukan adalah Tris, SDS, HCl, dan akuabides. Larutan "N": bahan yang diperlukan adalah akrilamid, bisakrilamid, dan akuabides. Loading dye: bahan yang diperlukan adalah gliserol, bromphenol blue, dan akuades. e. Pembuatan gel. Gel pemisah: bahan yang diperlukan adalah TEMED, APS, iso-butanol, dan akuades. Stacking gel: bahan yang diperlukan adalah TEMED, APS, dan akuades. f. Ekstraksi daun. Alat yang diperlukan adalah: cawan porselen, kristal es, dan sentrifus.

98

g. Pelaksanaan elektroforesis. Alat yang diperlukan adalah mortar, cawan porselen, termometer, sentrifus, mikropipet, timbangan analitik, pipet volumetri, gelas ukur, gelas beker, labu erlenmeyer, slot dengan 10 sumuran, nampan plastik, penunjuk waktu (jam), serta apparatus elektroforesis mini vertical slab cell BIO-RAD USA model Protean III. h. Pembuatan pewarna isozim. Esterase: bahan yang diperlukan adalah αnaftil asetat, aseton, buffer fosfat, dan fast blue BB salt. Peroksidase: bahan yang diperlukan adalah o-Dianisidine, aseton, buffer asetat, dan H2O2.

4. Parameter lingkungan Parameter lingkungan yang diukur secara in situ di lapangan meliputi: suhu air dan sedimen, pH air dan sedimen, kadar salinitas, DO air, dan karakter tanah. Sedangkan parameter lingkungan yang diukur secara ex situ di laboratorium meliputi: kadar bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-), dan kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). a. Pengukuran kualitas lingkungan in situ. Suhu air dan sedimen diukur dengan termometer Hg (skala 0-100oC), pH air dan sedimen diukur dengan pH meter elektris merek Ciba-Corning, Jepang, kadar salinitas diukur dengan refraktometer merek N.O.W, 0-100 ppt, Jepang, DO air diukur dengan DOmeter model 42D SN-730692, Jerman, karakter tanah yang mencakup tipe, warna, dan tekstur diamati secara visual. b. Preparasi sampel tanah. Alat yang digunakan meliputi: soil core, ember plastik, kantung plastik hitam atau botol polietilen, nampan plastik, kipas

99

angin, timbangan, mortar porselen, saringan stainless steel atau nilon berdiameter 0,5 mm dan 2 mm. c. Pengukuran kadar bahan organik total (BOT). Bahan yang diperlukan adalah: K2Cr2O7, H2SO4, H3PO3 85%, indokator difenilamin, akuades, dan FeSO4 1N. Alat yang digunakan meliputi: timbangan analitik, gelas arloji, gelas beker 50 ml, gelas ukur 10 ml, pipet, labu erlenmeyer 50 ml, dan labu titrasi. d. Pengukuran kadar nitrat (NO3-). Bahan yang diperlukan adalah: pelarut ekstraktan, asam fenol disulfonat, larutan ammonium, larutan nitrat standard, campuran bubuk Ca(OH)2 dan MgCO3. Alat yang digunakan: timbangan analitik, gelas arloji, cawan evaporasi, pipet volumetri 100 ml, labu erlenmeyer 500 ml, shaker, penangas air, dan spektrofotometer AAS (Atomic Absorbance Spectrophotometry). e. Pengukuran kadar ammonium (NH4+). Bahan kimia yang diperlukan adalah: KCl 10%, MgO 10%, indikator asam borat 2%, larutan standar H2SO4 0,01 N. Alat yang digunakan: timbangan analitik, labu erlenmeyer 300 ml, shaker, corong gelas, kertas Whatman 42, gelas arloji, pipet volumetri 20 ml, buret, oven, dan alat destilasi semi-mikro Kjehldal. f. Penentuan kadar fosfat (PO43-). Bahan kimia yang diperlukan adalah: HClO4 dan HNO3 pekat, larutan HCl, larutan molibdat-vanadat, HNO3 2N, larutan fosfat standard (P 20 ppm; 250 ppm). Alat yang digunakan: labu Kjeldahl 100 ml, apparatus digesti elektris, pipet, corong gelas, kertas

100

Whatman 42, pipet volumetri 100 ml, tabung gradasi 20 ml, labu volumetri 200 ml dan spektrofotometer AAS. g. Pengukuran kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). Bahan kimia yang digunakan adalah: H2O2 20%, dan asam hidroklorat. Alat yang digunakan adalah botol polipropilen, timbangan analitik, corong, kertas saring Whatman 42, gelas ukur 50 ml, penunjuk waktu, dan spektrofotometer AAS.

5. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya. Alat dan bahan yang digunakan meliputi: daftar pertanyaan (pedoman wawancara; periksa Lampiran 10), alat perekam audio dan video, kamera, dan alat tulis.

F. Cara Penelitian 1. Keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove a. Koleksi. Koleksi dilakukan secara random dengan metode survei

(penjelajahan), baik bersamaan dengan pelaksanaan sampling vegetasi atau tersendiri. Spesimen segar hasil koleksi segera diidentifikasi dan dicatat sifatsifat morfologinya. Sebagian diawetkan, difoto penampakan umum, bunga dan buah, serta dibuat deskripsinya. b. Identifikasi. Identifikasi spesies mangrove mayor, minor, dan tumbuhan asosiasi merujuk pada pustaka-pustaka: Backer dan Bakhuizen van den Brink (1963; 1965; 1968), Kitamura dkk., (1997), Ng dan Sivasothi (2001), serta

101

Tomlison (1986). Identitas tumbuhan yang meragukan dicocokkan dengan spesimen kering koleksi Herbarium Bogoriense, Bogor. c. Pembuatan herbarium. Herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, sehingga sulit dikeringkan dan cenderung membusuk, misalnya buah. Sedang herbarium kering digunakan untuk spesimen yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar. Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk herba disertakan seluruh habitus. 1) Herbarium kering: Spesimen dibersihkan, lalu dimasukkan dalam kertas koran, apabila terlalu besar dapat dilipat, atau dipotong sebagian. Setiap 510 lembar kertas koran dijepit dengan sepasang sasak. Lalu dipanaskan dalam oven dengan suhu 40-45oC selama 5-7 hari, hingga terasa kaku. Pemanasan yang terlalu lama menyebabkan spesimen mudah patah. Spesimen dilem pada kertas herbarium ukuran 11,5X16,5 inch. (± 29X43 cm). Di pojok bawah kertas herbarium diberi etiket tempel berisi: nama kolektor, tanggal koleksi, familia, genus, spesies, nama daerah, nama pendeterminasi, tanggal determinasi, pulau tempat koleksi, lokasi, ketinggian, habitat dan catatan tambahan berupa keadaan morfologi khas yang hilang setelah spesimen dikeringkan seperti warna dan bentuk. 2) Herbarium basah: Spesimen dicuci bersih dari kotoran dan dimasukkan dalam botol kaca bening berisi alkohol 70%. Ukuran botol disesuaikan

102

kondisi spesimen dan diberi etiket tempel. Botol ditutup rapat dan disimpan di dalam lemari koleksi yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung.

2. Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove a. Diagram profil vegetasi. Pada setiap lokasi dibuat profil hutan secara vertikal dan horizontal, memanjang dari arah bibir pantai atau muara sungai ke arah daratan dengan menggunakan belt transect, dengan tiga kali ulangan. Pemilihan titik untuk meletakkan belt transect didasarkan atas kekayaan dan keanekaragaman spesies tumbuhan di tempat tersebut, serta dengan mempertimbangkan penampakan umum tegakan, sehingga profil diagram yang dibuat dapat mewakili vegetasi mangrove di lokasi tersebut. Ukuran belt transect 60x10 m2, di dalamnya dibuat 6 plot kuadrat, masing-masing berukuran 10x10 m2 untuk memudahkan penghitungan. Arah memanjang transek dari laut atau muara sungai menuju ke daratan dinyatakan sebagai sumbu x, sedangkan arah melebar transek dinyatakan sebagai sumbu y, adapun arah ke atas dinyatakan sebagai sumbu z, sehingga diperoleh sumbu panjang: x = 60 m, sumbu lebar: y = 10 m, sumbu tegak: z = 20 m. Penentuan sumbu tegak yang hanya 20 m, didasarkan kenyataan bahwa pepohonan mangrove di lokasi penelitian umumnya bertinggi < 20 m. Belt transect ini juga digunakan dalam analisis komposisi dan struktur vegetasi. Semua spesies pohon, anak pohon, dan semak di dalam plot diambil sampelnya untuk herbarium dan diidentifikasi, sebagaimana penelitian

103

keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove. Selanjutnya semua pohon, anak pohon, dan semak (è ≥ 5 cm) diberi nomor dan ditentukan posisinya terhadap sumbu x dan y, lalu diukur tinggi total, tinggi cabang pertama, lebar dan panjang kanopi, dan diameter setinggi dada (diameter at breast high; DBH; 130 cm), serta digambar posisi vertikalnya pada kertas grafik, Pohon yang tumbang dicatat panjang, diameter, dan posisinya terhadap sumbu x dan y, serta digambar. Di laboratorium data ditabulasi, gambar masing-masing individu pohon dan semak disatukan berdasarkan posisinya dan dibuat gambar diagram profil vegetasi secara vertikal, dilanjutkan diagram profil vegetasi secara horizontal dengan memproyeksikan kanopi ke permukaan lantai hutan. Berdasarkan profil hutan ini ditentukan jumlah strata hutan yang terbentuk (Baker dan Wilson, 2000; Aumeeruddy, 1994). Penentuan jumlah strata sangat tergantung keputusan pribadi peneliti (Grubb dkk., 1963). Dalam penelitian ini, stratifikasi ditentukan berdasarkan modus tinggi kanopi, kemudian dibuat jangkauan tertentu yang tidak bertumpang tindih dengan strata di bawah atau di atasnya. b. Komposisi dan struktur vegetasi. Pengambilan data vegetasi dilakukan di dalam belt transect yang digunakan untuk menggambar diagram profil vegetasi di atas, sehingga pada setiap belt transect terdapat 6 plot kuadrat untuk setiap strata, yaitu: (i) habitus pohon (10x10 m2), (ii) habitus semak dan anak pohon (5x5 m2), serta (iii) habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon (1x1 m2) (Gambar 14). Selanjutnya topografi (fisiografi) dan bentuk kehidupan (fisiognomi) dipotret.

104

Pohon:
60 m
Sumbu y

10 m

10x10 m2

10x10 m2

10x10 m2

10x10 m2

10x10 m2

10x10 m2

10 m

Sumbu x

Semak:
5m 5x5 m2 5x5 m2 5x5 m2 5x5 m2 5x5 m2 5x5 m2

5m

Herba:
5m 1x1m2 1x1m2 1x1m2 1x1m2 1x1m2 1x1m2

1m

Gambar 14. Posisi belt transect dan plot kuadrat pada setiap stasiun penelitian.

Pada setiap lokasi dari keduapuluh lokasi penelitian dibuat 18 plot kuadrat, sehingga terdapat 360 plot untuk setiap strata habitus. Semua spesies tumbuhan di dalam plot diidentifikasi dan diambil sampelnya untuk herbarium. Diukur nilai penutupan dan frekuensi setiap spesies pada setiap strata habitus. Data komposisi dan struktur vegetasi ditampilkan dalam bentuk nilai penting. Nilai penting merupakan penjumlahan nilai penutupan dan frekuensi relatif yang dibagi dua (Odum, 1971; Barbour dkk., 1987).

105

3. Keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim a. Koleksi bibit dan penanaman di rumah kaca. Pada enam lokasi yang telah ditentukan diambil 20 individu bibit S. alba untuk diuji keanekaragaman pola isozimnya. Bibit ditanam di rumah kaca dengan komposisi tanah dari lingkungan mangrove asal dan humus (1: 1), hingga tumbuh tunas baru. b. Koleksi daun. Dipilih daun urutan ketiga dari ujung cabang yang pertumbuhannya optimum dengan penampilan, umur dan ukuran yang relatif seragam. Daun yang dipetik dimasukkan ke dalam kantung plastik (hitam) dan diikat rapat dengan tali karet. Koleksi ini untuk sementara dapat disimpan dalam termos es yang telah diisi es batu/air es, namun selanjutnya harus disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 4oC. Daun dapat bertahan dalam penyimpanan selama-lamanya 14 hari, setelah itu isozim tidak aktif lagi. Sebaiknya daun digunakan sebelum lewat tujuh hari pasca pemotongan. Penyimpanan dalam bentuk ekstrak daun pada lemari pendingin bersuhu 4oC dapat mempertahankan enzim selama 30 hari. c. Pembuatan buffer. Buffer yang diperlukan meliputi tank buffer, buffer ekstraksi, dan running buffer. 1) Tank buffer. Tank buffer dibuat dengan melarutkan: asam boraks 14,4 g dan boraks 31,5 g , dalam akuades hingga mencapai volume 2 liter. 2) Buffer ekstraksi sampel. Buffer sampel dibuat dengan melarutkan 0,018 g sistein, 0,021 g asam askorbat, dan 5 g sukrosa (PA) dalam 20 ml boraks

106

buffer pH 8,4. Perbandingan antara buffer ekstraksi dengan sampel daun adalah 3:1, dalam satuan µl buffer ekstraksi dan µg sampel daun. 3) Running buffer. Running buffer yang digunakan ialah TAE (Tris-AceticAcid EDTA) 50x yang diencerkan sampai konsentrasi 1x. d. Pembuatan larutan stok. Untuk menyiapkan gel akrilamid, terlebih dahulu dibuat larutan stok yaitu: larutan “L”, “M”, “N”, dan loading dye (penanda warna). 1) Larutan "L": Sebanyak 27,2 g Tris dan 0,6 g SDS dilarutkan dalam 120 ml akuabides, diatur sampai pH 8,8 dengan menambahkan HCl, lalu ditambahkan akuabides hingga volumenya 150 ml. 2) Larutan "M": Sebanyak 9,08 g Tris dan 0,6 g SDS dilarutkan dalam 140 ml akuabides, diatur sampai pH 6,8-7,0 dengan penambahan HCl, lalu ditambahkan akuabides hingga volumenya 150 ml. 3) Larutan "N": Sebanyak 175,2 g akrilamid dan 4,8 g bisakrilamid dilarutkan dalam 400 ml akuabides dan buat volumenya hingga 600 ml. 4) Loading dye: Sebanyak 250 µl gliserol ditambah 50 µl bromphenol blue dilarutkan dalam 200 µl akuades. e. Pembuatan gel. Penyiapan cetakan gel dimulai dengan merangkai cetakan gel, yaitu cetakan kaca yang dilengkapi spacer (pemisah) yang ditempatkan di belakang cetakan kaca yang berukuran lebih kecil. Cetakan kaca tersebut dipasang pada casting frame, selanjutnya dipasang pada casting stand. Untuk membuat discontinuous gel 12,5%, bahan yang dicampur ialah:

107

1) Gel pemisah: Sebanyak 3,15 ml larutan "L", 5,25 ml larutan "N", 4,15 ml H2O, 5 µl TEMED, dan terakhir dicampurkan dengan 10 µl APS (baru) konsentrasi 10%. Gel pemisah dituang pada cetakan, lalu ditambahkan isobutanol jenuh. Setelah terbentuk gel yaitu kurang lebih 45 menit, isobutanol jenuh tersebut diserap dengan kertas hisap dan dibuang, lalu dibilas dengan air dan diserap kembali air yang tersisa dengan kertas hisap. Setelah itu disiapkan bahan-bahan untuk pembuatan stacking gel. 2) Stacking gel: Sebanyak 1,9 ml larutan "M", 1,15 ml larutan "N", 4,5 ml H2O, 5 µl TEMED, dan 10 µl APS 10% (baru) dicampur. Setelah stacking gel dituang di atas gel pemisah, sisir dipasang. Apabila telah terbentuk gel, sisir dilepas dari cetakan. Gel yang telah terbentuk dipindahkan ke clamping frame dan dimasukkan ke dalam buffer tank, diisi dengan running buffer sampai terendam. f. Ekstraksi daun. Jaringan segar daun dimasukkan dalam buffer ekstraksi, dengan perbandingan 1:3 (w/v), yakni 68 µg (0,068 g) sampel daun dilumatkan dalam 204 µl (0,204 ml) buffer ekstraksi. Lalu digerus dalam cawan porselen yang diletakkan di atas serpihan-serpihan kristal es, agar tetap dingin (4oC). Sampel yang akan digunakan disentrifus dengan kecepatan 8500 rpm selama 20 menit pada suhu 4oC, lalu direndam dalam serutan kristal es. Supernatan yang terbentuk segera di masukkan dalam slot gel elektroforesis. g. Pelaksanaan elektroforesis. Sebanyak 10 µl supernatan sampel daun diambil dengan mikropipet, ditambah loading dye dan sample loading guide, lalu ditempatkan pada sumuran gel yang telah tercetak. Lalu sampel

108

dielektroforesis awal dengan menggunakan tegangan 200 volt, 60 mA selama 5 menit sampai sampel memasuki gel pemisah. Kemudian sampel dielektroforesis lanjutan dengan tegangan listrik konstan 150 V, 400 mA, selama 90-120 menit. Elekroforesis diakhiri apabila penanda warna bromofenol biru mencapai sekitar 56 mm dari slot ke arah anoda. Setelah itu gel dipindah ke nampan plastik dan diwarnai dengan pewarna enzim. h. Pembuatan pewarna. Pola pita isozim dideteksi menggunakan dua sistem enzim yaitu peroksidase (PER) dan esterase (EST). Adapun langkah pembuatannya sebagai berikut: 1) Peroksidase. Sebanyak 0,0125 g o-Dianisidine dimasukkan dalam erlenmeyer dan dilarutkan dengan 2,5 ml aseton, lalu ditambahkan 50 ml 0,2 M buffer asetat pH 4,5 kemudian ditambahkan 2 tetes H2O2. Gel yang telah dielektroforesis direndam dalam larutan pewarna selama + 10 menit sambil digoyang perlahan-lahan setiap 2 menit. Setelah pola pita muncul, pewarna dibuang dan dibilas dengan akuades. Gel direkam gambarnya dengan kamera atau scanner. 2) Esterase. Sebanyak 0,0125 g α-naftil asetat dimasukkan dalam erlenmeyer dan dilarutkan dengan 2,5 ml aseton, kemudian ditambahkan 50 ml 0,2 M buffer fosfat pH 6,5 dan 0,0125 g fast blue BB salt. Gel yang telah dielektroforesis dimasukkan dalam larutan pewarna tersebut dan diinkubasi selama 10 menit sambil digoyang secara perlahan-lahan setiap 2 menit. Setelah pola pita muncul, pewarna dibuang dan dibilas dengan akuades. Gel direkam gambarnya dengan kamera atau scanner.

109

4. Parameter lingkungan Pengukuran parameter lingkungan dilakukan secara langsung di tempat (in situ) dan pengukuran di laboratorium (ex situ). a. Pengukuran parameter lingkungan in situ. Suhu air dan sedimen diukur dengan termometer pada siang hari antara pukul 09.00-15.00 wib. Pengukuran pH dilakukan dengan pH meter elektris. Pengukuran kadar salinitas dengan refraktometer. Pengukuran DO air dilakukan dengan DO-meter elektris. Karakter tanah diamati secara visual. Pengukuran parameter lingkungan ex situ meliputi kadar bahan organik total, nitrat, amonium, dan fosfat. Prosedur pengukuran parameter tersebut merujuk pada Hidayat (1978), Prawirowardoyo, dkk., (1987), dan Tan (1996). b. Preparasi sampel tanah. Sampel sedimen tanah diambil dengan soil core di kedalaman + 20 cm dari permukaan sedimen pada lima titik yang ditentukan secara random, lalu dicampur dan diaduk secara merata dalam ember plastik. Proporsi sedimen tanah dari kelima titik tersebut relatif sama, dengan hasil akhir sekitar 1-2 kg basah. Sisa-sisa akar, batu dan material organik dibuang dan disaring dengan saringan berdiameter lubang 2 mm, lalu dilanjutkan dengan saringan berdiameter lubang 0,5 mm. Sampel tanah siap untuk dianalisis. Apabila tanah tidak segera dianalisis maka perlu disimpan dalam plastik hitam, udara dalam plastik dikeluarkan, diikat rapat dan dimasukkan dalam lemari pendingin (4oC).

110

c. Pengukuran kadar bahan organik. Sebanyak 1 g sampel tanah kering angin dimasukkan dalam gelas beker 50 ml, ditambah 10 ml K2Cr2O7 dan 10 ml H2SO4 dengan gelas ukur, lalu dikocok hingga homogen. Didiamkan 30 menit hingga larutan menjadi dingin. Ditambahkan 5 ml H3PO3 85% dan 1 ml indikator difenilamin, lalu ditambahkan akuades hingga volume mencapai 50 ml, dikocok hingga homogen dan dibiarkan mengendap. Sebanyak 5 ml larutan yang jernih diambil dengan pipet dan dimasukkan dalam labu erlenmeyer 50 ml, dan ditambah 15 ml akuades. Kemudian dititrasi dengan FeSO4 1N hingga berwarna kehijauan. Langkah tersebut dilakukan pula tanpa sampel tanah sebagai blanko. d. Pengukuran kadar nitrat (NO3-). Sebanyak 20 g sampel tanah ditimbang dan dimasukkan dalam labu erlenmeyer 500 ml yang telah diisi 100 ml larutan ekstraktan. Ditambah 0,7 g campuran Ca(OH)2 dan MgCO3, serta ditutup dengan sumbat karet. Lalu digojok selama 10 menit dengan shaker, dibiarkan beberapa menit dan disaring dengan kertas saring Whatman 42. Dipipet 25 ml ekstrak ke cawan penguap dan dikeringkan di atas penangas air. Setelah dingin ditambahkan 2 ml asam fenol disulfonat dengan pipet dan cawan diputar-putar hingga merata, didiamkan 10 menit. Ditambahkan 15 ml akuades dan diaduk hingga seluruh residu terlarut. Lalu ditambahkan larutan NH4OH dan diaduk hingga berwarna kuning alkali. Dipindahkan ke dalam labu volumetri 100 ml dan ditambahkan akuades hingga tanda. Kemudian absorbansi diukur dengan spektrometer AAS pada panjang gelombang 410

111 mµ. Proses di atas lakukan pula terhadap larutan nitrat standard (NO3-: 20 ppm; 250 ppm). e. Pengukuran kadar ammonium (NH4+). Sebanyak 20 g sampel tanah ditimbang dan dimasukkan dalam labu erlenmeyer 200 ml yang telah diisi 100 ml KCl 10%, lalu digojok selama 30 menit dengan shaker dan disaring dengan kertas saring Whatman 42. Setelah itu labu erlenmeyer 100 ml berisi 5 ml asam borat 2% sebagai indikator diletakkan di bawah kondensor. Sebanyak 20 ml larutan dipipetkan ke dalam labu Kjeldahl, ditambahkan 10 ml suspensi magnesium oksida 10% dan dibersihkan dengan akuades. Didistilasi selama 5 menit, hingga hasil distilasi tinggal sekitar 35 ml. Ujung kondensor dicuci dengan akuades, setelah dingin dititrasi dengan H2SO4 0,01 N hingga berwarna merah muda. Langkah tersebut dilakukan pula tanpa sampel tanah sebagai blanko. f. Pengukuran kadar fosfat (PO43-). Sebanyak 2 g sampel tanah yang telah diayak dengan saringan berdiameter 0,5 mm dimasukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml yang telah diisi 2 g pasir kuwarsa. Ditambahkan 6 ml HNO3 pekat, dipanaskan dan digojok pelahan-lahan dalam apparatus digesti elektris pada suhu < 80oC. Setelah gas NO2 menguap sempurna dan dingin, ditambahkan 6 ml HClO4 pekat dan suhu dinaikkan hingga 120oC, serta digojok hingga diperoleh larutan jernih. Dinginkan dan tambahkan 1 ml HCl pekat, lalu dipanaskan 30 menit dan dinginkan lagi. Kemudian leher labu Kjeldahl dicuci dengan air dan disaring ke dalam labu volumetri 100 ml, ditambahkan akuades hingga tanda batas dan digojok pelahan-lahan. Sebanyak 1 ml larutan

112

dipipetkan ke dalam tabung gradasi 20 ml, ditambahkan 5 ml HNO3 2N dan akuades hingga mencapai 15 ml. Ditambahkan 2 ml molibdat-vanadat dan akuades hingga 20 ml, serta digojok dan dibiarkan selama 20 menit. Kemudian absorbansi diukur dengan AAS pada panjang gelombang 420 mµ. Proses di atas lakukan pula terhadap larutan fosfat standard (P: 20 ppm; 250 ppm). g. Pengukuran kadar logam berat (Fe, Cd, Cr, dan Pb). Sampel tanah sebanyak 5 g diberi 3 ml 20% (v/v) hidrogen peroksida dan dibiarkan selama sejam, lalu diekstrak dengan 75 ml 0,5 M asam hidroklorat selama dua jam pada suhu 90oC. Larutan disaring dan ditambahkan asam hidroklorat hingga mencapai volume 100 ml, selanjutnya dianalisis dengan spektrofotometer AAS.

5. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya Dalam penelitian ini, batas terluar ekosistem mangrove adalah jarak 100 m ke arah luar dari titik terluar habitat yang masih ditumbuhi satu atau lebih tumbuhan mangrove mayor. Seluruh lahan yang terletak di dalam garis batas tersebut dinyatakan sebagai kawasan di dalam ekosistem mangrove; sedangkan lahan yang terletak di luar garis batas tersebut dinyatakan sebagai kawasan di luar atau di sekitar ekosistem mangrove. Pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove adalah pemanfaatan yang dilakukan oleh penduduk setempat atau masyarakat lain secara langsung di dalam ekosistem

113

mangrove, baik dengan tetap mempertahankan kondisi asli ekosistem atau dengan mengubahnya dalam bentuk baru. Sedangkan penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove adalah bentuk-bentuk konversi lahan alami ke bentuk antropogenik di luar batas ekosistem mangrove. Kegiatan koleksi data dalam penelitian ini mencakup pengamatan (survei) lapangan, wawancara (in-depth interview), serta kajian peta topografi dan citra satelit. Pengamatan langsung dilakukan dengan menjelajahi seluruh area, baik dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan bermotor dan perahu. Wawancara dilakukan dengan sekurang-kurangnya 10 orang penduduk dan/atau aparat pemerintah setempat pada setiap lokasi. Di samping itu dilakukan pula kajian pustaka terhadap peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Data hasil penelitian ditabulasikan dalam satu kesatuan dan dipaparkan secara dekriptif kualitatif.

G. Teknik Analisis Data 1. Keanekaragaman spesies dan sebaran tumbuhan mangrove, dijelaskan secara deskriptif. 2. Komposisi dan struktur, serta diagram profil vegetasi mangrove; komposisi dan struktur dijelaskan secara deskriptif dalam bentuk nilai penting. Nilai penting merupakan penjumlahan nilai penutupan dan frekuensi relatif yang dibagi dua (Odum, 1971; Barbour dkk., 1987); stratifikasi diagram profil vegetasi ditentukan berdasarkan modus tinggi kanopi, kemudian dibuat

114

jangkauan tertentu yang tidak bertumpang tindih dengan strata di bawah atau di atasnya. 3. Keanekaragaman genetik dan kekerabatan populasi Sonneratia alba berdasarkan pola pita isozim. Tingkat kesamaan genetik S. alba dari keenam lokasi penelitian ditentukan dengan indeks similaritas Jaccard, berdasarkan hadir tidaknya pita isozim. Dendrogram hubungan kekerabatan dibuat dengan koefisien asosiasi, adapun pengelompokannya dengan UPGMA (Unweighted Pair Group Method using Averages) (Sneath dan Sokal, 1973). 4. Parameter lingkungan, dijelaskan secara deskriptif. Untuk mengetahui kemungkinan telah terjadinya pencemaran lingkungan oleh logam berat dan unsur nutrien (i.e. eutrofikasi), maka data dianalisis dengan membandingkan kandungannya dengan ketentuan dalam Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri dan PP 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas untuk kelas I, yakni air dengan kualitas terbaik. Hal ini dilakukan mengingat peraturan yang secara khusus dibuat untuk menerangkan kandungan logam berat dan nutrien yang diperkenankan dalam tanah sedimen tidak ada. Dari perbandingan tersebut diharapkan dapat diketahui ada tidaknya pencemaran logam berat dan nutrien pada sedimen lingkungan mangrove. Adapun karakter fisika-kimia lainnya dipaparkan secara deskriptif.

115

5. Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya, dijelaskan secara deskriptif.

H. Definisi Oprerasional Batasan operasional yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Keanekaragaman spesies adalah keanekaragaman spesies tumbuhan mangrove kelompok mayor, minor atau asosiasi di setiap lokasi penelitian. 2. Sebaran (distribusi) adalah penyebaran spesies tumbuhan mangrove antara satu lokasi dengan lokasi lain. 3. Komposisi vegetasi adalah berbagai spesies tumbuhan mangrove yang terdapat di dalam suatu lokasi. 4. Struktur vegetasi adalah nilai penutupan suatu spesies tumbuhan pada suatu lokasi, berdasarkan stratanya, yakni (i) pohon, (ii) semak dan anak pohon, serta (iii) herba, bibit semak dan bibit pohon. 5. Frekuensi adalah kekerapan suatu spesies tumbuhan hadir pada seluruh kuadrat. Frekuensi relatif adalah persentase kehadiran suatu spesies tumbuhan dalam seluruh kuadrat. 6. Nilai penutupan adalah persentase penutupan kanopi tumbuhan apabila diproyeksikan ke permukaan tanah. 7. Nilai penting adalah rata-rata frekuensi relatif dan nilai penutupan 8. Diagram profil vegetasi adalah proyeksi vertikal dan horizontal tumbuhan mangrove mulai dari tepi pantai atau muara ke arah daratan.

116

9. Mangrove adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan sub-tropis yang didominasi oleh pohon dan semak tumbuhan bunga (Angiospermae) terestrial yang dapat menginvasi dan tumbuh di lingkungan air laut. 10. Jawa adalah salah satu pulau di kepulauan Indonesia, dengan jumlah penghuni paling padat, sekitar 60% peduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta penduduk Indonesia tinggal, sehingga tuntutan pemenuhan kebutuhan lahan sangat tinggi, demikian pula tingkat perubahan ekosistem alami menjadi ekosistem antropogenik. 11. Dataran lumpur pasang surut (tidal flat) adalah kawasan pasang surut di tepi pantai dengan gelombang laut lemah atau terlindung, sehingga menjadi tempat mengumpulnya sedimen tanah/lumpur yang dibawa aliran sungai. 12. Gumuk pasir (sand dunes) adalah kumpulan pasir lembut yang membentuk dataran luas bergelombang di tepi pantai; terjadi akibat dorongan angin laut terhadap massa pasir yang tersuspensi dalam air laut. 13. Abrasi adalah proses pengikisan dataran pantai oleh gelombang laut; sering terjadi karena perubahan arus laut akibat reklamasi atau hilangnya vegetasi mangrove. 14. Akresi adalah proses bertambahnya daratan akibat tingginya laju sedimentasi. 15. Isozim adalah Isozim adalah enzim-enzim yang memiliki molekul aktif dan struktur kimia yang berbeda tetapi mengkatalis reaksi kimia yang sama. 16. Restorasi adalah tindakan untuk mengembalikan sesuatu ke kondisi semula; kreasi adalah tindakan untuk membuat, menemukan atau menghasilkan sesuatu.

117

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Rona Lingkungan 1. Lingkungan Fisik-Kimia (Abiotik) a) Letak, Luas, dan Batas Wilayah Propinsi Jawa Tengah secara geografis terletak antara 5o40’ - 8o30’LS dan antara 108o30’ - 111o30’ BT, mencakup kawasan seluas 32.548,20 km² (1,7% dari luas Indonesia). Secara administrasi Jawa Tengah berbatasan dengan tiga propinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Batas wilayah di sebelah utara adalah Laut Jawa, sebelah timur Propinsi Jawa Timur, sebelah selatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Samudera Hindia, serta sebelah barat Propinsi Jawa Barat. Propinsi Jawa Tengah terbagi dalam 35 kabupaten/kota, yakni 29 kabupaten dan 6 kota, serta 352 kecamatan dan 8.538 desa/kelurahan. Sebanyak 17 kabupaten/kota terletak di kawasan pesisir pantai (Bappedal, 2003) (Gambar 22).

b) Topografi Jawa Tengah memiliki wilayah dataran dan pegunungan, dengan ketinggian bervariasi, antara 0 m dpl. di tepian pantai hingga 3.311 m dpl. di puncak Gunung Slamet. Dari 32.548,20 km² luasannya, kawasan yang terletak pada ketinggian 0-100 m dpl. seluas 53,3%; 100-500 m dpl. seluas 27,4%; 5001.000 m dpl. seluas 14,7% dan ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. seluas 4,6%.

117

118

Wilayah ini memiliki sungai, waduk dan perairan umum (Bappedal, 2003) (Gambar 23.).

c) Geologi dan Fisiografi Pulau Jawa mulai terbentuk pada masa miocene, sekitar 60 juta tahun yang lalu. Sekitar 250 km ke arah selatan pantai selatan terdapat palung Jawa dengan kedalaman sekitar 10 km, yang merupakan bagian dari lempeng Indo-Australia. Lempeng ini bergerak ke utara dengan kecepatan sekitar 6 cm/tahun, sehingga menyebabkan terdesaknya lava dari perut bumi dan keluar dalam bentuk material volkanik, serta menyebabkan terjadinya gempa bumi secara periodik. Tanah Jawa didominasi batuan volkanik. Di samping itu terdapat pula tanah sedimentasi (alluvial) dan karst. Propinsi Jawa Tengah dapat dibedakan dalam empat kawasan fisiografi utama, yaitu dataran alluvial di utara, lembah dan perbukitan di utara, pegunungan berapi di tengah, serta dataran tinggi dan lembah di selatan (Whitten dkk., 2000) (Gambar 24-25). Sebagaimana Jawa pada umumnya, pantai utara dan selatan Jawa Tengah memiliki kondisi fisiografi yang berbeda. Pantai selatan memiliki pantai berpasir yang sambung-menyambung dari timur ke barat hampir tanpa putus, dengan sejumlah gumuk pasir, dan terdapat sejumlah kecil dataran lumpur di muara sungai yang ditumbuhi mangrove. Arus laut di kawasan ini mengarah dari timur ke barat sehingga muara sungai umumnya mengarah ke barat dan membentuk tanggul pasir di mulut muara. Pada musim hujan, tanggul tersebut terbuka karena pelimpahan banjir. Sebagian kawasan di pantai selatan memiliki batas berupa

119

dinding karang, terutama dari bukit karst/gamping, misalnya Kebumen. Rawarawa di balik pantai jarang terbentuk. Beberapa tempat bersifat lebih basah daripada pantai utara. Kegiatan perikanan di kawasan ini tidak terlalu aktif, karena besarnya gelombang laut dan terbatasnya jumlah teluk yang dapat dilabuhi kapal, misalnya Cilacap. Di Pulau Nusakambangan masih terdapat hutan primer dan sekunder yang berbatasan langsung dengan pantai (Steenis, 1965). Di pantai selatan Jawa Tengah, ekosistem mangrove terbentuk pada laguna di muara sungai yang terlindung dari ombak, seperti di Segara Anakan Cilacap (Whitten dkk., 2000). Segara Anakan merupakan ekosistem mangrove yang sangat menarik karena keadaan geomorfologinya mendukung terbentuknya ekosistem yang dinamis (Sukardjo, 1985). Sedimentasi yang tinggi oleh sungai Citanduy, Cimeneng/Cikonde, dan sungai-sungai lain menyebabkan terbentuk daratan baru yang didominasi tumbuhan pioner Avicennia dan Sonneratia, sedangkan Rhizopora menempati bagian-bagian tepi yang airnya tetap mengalir (Sasaki dan Sunarto, 1994). Pantai utara Jawa Tengah berbatasan dengan Laut Jawa yang dangkal. Pantai ini kebanyakan berupa lumpur atau tanah lempung yang ditumbuhi mangrove, pantai terbuka yang berpasir jarang dijumpai, gumuk pasir hampir tidak ada. Pantai berkarang dan kadang-kadang bergamping/karst hanya dijumpai di sebagian kecil tempat, seperti ujung Jepara dan bagian timur Rembang. Kebanyakan pantai utara terletak di daerah bayang-bayang hujan dan mengalami masa kekeringan lebih lama daripada umumnya pulau Jawa. Semua pelabuhan penting terletak di pantai utara, misalnya Semarang, Juwana, dan Tegal. Vegetasi

120

hutan primer dan sekunder hampir tidak ada sama, karena telah diubah menjadi lahan budidaya seperti tambak dan sawah (Steenis, 1965). Di pantai utara Jawa Tengah, ekosistem mangrove yang cukup luas pernah terbentuk dari Brebes s.d. Jepara, serta cekungan antara Pati dan Rembang (Whitten dkk., 2000).

d) Tanah Tanah Jawa didominasi batuan volkanik yang kaya mineral sehingga sangat subur. Di samping itu terdapat pula tanah sedimen sebagai hasil erosi, dan tanah gamping/karst yang merupakan hasil pengangkatan koral dari dasar laut. Tanah sedimen alluvial yang luas terdapat di pantai utara dan terus bertambah luas hingga sekarang akibat tingginya laju erosi (Whitten dkk., 2000). Tanah di Jawa Tengah dapat datar, berbukit-bukit hingga pegunungan, umumnya subur, sehingga banyak ditinggali penduduk, dengan budaya yang kaya sejak dahulu kala (Bappedal, 2003). Di daerah beriklim basah dengan curah hujan tinggi, seperti kawasan dataran tinggi Rogojembangan di tengah-tengah Jawa Tengah, tanah selalu tersiram air, sehingga mineral secara pelahan-lahan terlindih dari tanah, menghasilkan tanah lempung yang asam, mengandung kaolin dan aluminium, serta tidak dapat mengikat mineral. Kesuburan tanah di kawasan ini sangat tergantung suplai humus dan seresah dari vegetasi yang tumbuh di atasnya. Kebanyakan tanah di pegunungan cenderung kurang subur, namun karena mengikat kelembaban, mineral, bahan organik, dan fosfor maka berpotensi untuk diolah, kecuali tanah gamping di pegunungan karst seperti pegunungan Sewu dan

121

Kendeng utara. Di daerah yang beriklim lebih kering, selama musim kemarau terjadi penguapan air dari dalam tanah, sehingga mineral terlarut terangkat ke permukaan tanah dan mengkristal. Hal ini menyebabkan kehilangan nutrien di daerah kering lebih rendah daripada di daerah basah. Di dataran alluvial, formasi tanah tidak banyak tergantung iklim karena batas air tanah sangat tinggi dan hampir selalu jenuh air. Tanah subur maupun tidak subur dapat mengalami erosi apabila vegetasi penutupnya dibuka, sehingga pengelolaan vegetasi penutup dan topsoil tanah organik sangat penting dalam manajemen konservasi tanah (Whitten dkk., 2000).

e) Iklim Iklim di Jawa dipengaruhi osilasi massa udara pada zona konvergensi inter-tropis. Panas yang tinggi di daerah tropis menyebabkan tekanan udara menjadi rendah sehingga udara terangkat ke atas dan udara dari belahan bumi utara dan selatan menuju kawasan ini. Udara yang terangkat ke atas selanjutnya mengalami kondensasi dan membentuk awan yang turun sebagai hujan, sehingga kawasan ini memiliki curah hujan tinggi (Steenis, 1972). Variasi udara di permukaan laut sangat kecil, tetapi pemanasan global sejak tahun 1970-an menyebabkan adanya variasi udara permukaan laut yang cukup signifikan antara perairan Indonesia dan Pasifik yang menyebabkan gejala alam ENSO (Whitten dkk., 2000). Keadaan iklim Jawa termasuk tropis basah dengan curah hujan terjadi sepanjang tahun. Propinsi Jawa Tengah bertipe iklim Aw, dengan suhu rata-rata antara 19-28oC. Lokasi yang terletak di kawasan pantai memiliki suhu rata-rata

122 yang lebih tinggi, yaitu berkisar antara 21-27oC. Kelembaban udara bervariasi antara 74-95% (Bappedal, 2003) (Gambar 26-29).

f) Hidrologi Daerah aliran sungai di Jawa umumnya pendek (30-70 km), sempit dan berbukit-bukit, dengan luas kurang dari 250 km2, namun terdapat pula sungai yang cukup besar dengan daerah aliran sungai yang cukup luas, misalnya Bengawan Solo. Di Jawa Tengah terdapat sekurang-kurangnya 9 daerah aliran sungai, yaitu: Citanduy (3.380 km2), Pemali (1.100 km2), Serayu (3.700 km2), Bodri (800 km2), Progo (2.380 km2), Tuntang (2.160 km2), Serang (3.860 km2), Juwana (1.380 km2), dan Bengawan Solo (15.400 km2). Beberapa daerah aliran sungai merupakan kawasan lahan kritis yang memerlukan perhatian lebih besar, khususnya dalam pembangunan dan pengelolaan tepian sungai dan dataran tinggi. Permasalahan hidrologi lainnya adalah adanya perbedaan antara batas administratif dan batas daerah aliran sungai, sehingga pemantauan polusi dan pengelolaan lahan menjadi sangat kompleks. Sejarah panjang tanah Jawa sebagai penghasil beras, menyebabkan sejumlah besar sumberdaya tanah dan air dikelola untuk tujuan ini, sehingga hampir tidak ada lagi sungai dalam kondisi alami (Whitten dkk., 2000) (Gambar 30-31). Di Jawa Tengah terdapat beberapa bendungan dan danau yang cukup besar. Danau alami terluas adalah Rawa Pening, sedangkan beberapa bendungan yang cukup besar adalah Gajah Mungkur, Kedung Ombo, Wadaslintang, dan Sempor. Penggunaan lahan sangat mempengaruhi kondisi bendungan, jaringan

123

irigasi, sumber air minum, stasiun pembangkit listrik, dan tanggul penahan banjir. Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, kawasan dataran tinggi perlu dikonservasi untuk melindungi suplai air, tidak hanya dengan membangun bendungan untuk memperbaiki aliran air dan mencegah erosi, tetapi juga dengan memperbaiki kondisi vegetasi penutup. Mengingat beragamnya kondisi morfologi tanah dan geologi di Jawa Tengah, maka setiap model hidrologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing lokasi (Whitten dkk., 2000).

g) Penggunaan Lahan Propinsi Jawa Tengah memiliki lahan seluas 3.254.412 ha, terdiri dari lahan pertanian (1.766.778 ha), hutan (711.908 ha), permukiman (574.6.20 ha), tambak/waduk/rawa (42.951 ha), padang rumput (3.098 ha), lahan tidak diusahakan (2.633 ha), dan lain-lain (152.424 ha). Perubahan penggunaan lahan, misalnya dari hutan menjadi persawahan, dan dari sawah menjadi lahan permukiman atau industri dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan, sehingga terbentuk lahan kritis. Lahan kritis terluas terdapat di Cilacap (87.966 ha), diiikuti Kabupaten Semarang (73.331 ha) dan Brebes (69.002 ha). Lahan sangat kritis terluas terdapat di Wonogiri (6.181 ha), diikuti Blora (5.172 ha) dan Banjarnegara (3.978 ha) (Bappedal, 2003). (Gambar 32.).

2. Lingkungan Biotik Lingkungan biotik mencakup seluruh bentuk kehidupan, termasuk manusia. Mengingat lingkungan manusia sangat spesifik, maka dalam ilmu

124

lingkungan yang dimaksud lingkungan biotik umumnya hanya menyangkut tumbuhan dan hewan.

a) Tumbuhan (Flora) Di Jawa terdapat lebih dari 6.500 spesies tumbuhan baik liar ataupun budidaya, di antaranya lebih dari 4.500 spesies tumbuhan asli, serta 325 spesies tumbuhan endemik, termasuk 217 spesies anggrek endemik. Jumlah spesies introduksi terus meningkat, yaitu dari 153 spesies (1909), 300 spesies (1963), menjadi 413 spesies (1965). Spesies introduksi paling penting adalah katela pohon (Manihot esculenta) dan jagung (Zea mays), sedangkan gulma introduksi paling mengganggu antara lain edeng gondok (Eichhornia crassipes), kirinyu (Chromolaema odorata), tembelekan (Lantana camara), dan ilalang (Imperata cylindrica) (Steenis, 1965; Whitten dkk., 2000). Keanekaragaman spesies tumbuhan dari barat ke timur menunjukkan perbedaan. Jawa Barat dan Banten memiliki spesies tumbuhan asli paling banyak (3.882), diikuti Jawa Tengah (2.851) dan Jawa Timur (2.717). Di Jawa Barat dan Banten banyak ditemukan spesies tumbuhan yang tidak dijumpai di kedua lokasi lain, sebaliknya Jawa Tengah sebagai daerah peralihan memiliki paling sedikit spesies asli yang hanya dijumpai di lokasi tersebut. Jawa Barat dan Banten cenderung lebih basah, terutama pada kawasan pegunungan di pantai selatan, sedangkan Jawa Timur cenderung kering. Tutupan hutan di Jawa Tengah sangat sedikit dengan tingkat kerusakan sangat tinggi (Steenis, 1965; Whitten dkk., 2000). Keanekaragaman spesies tumbuhan dari pantai utara ke pantai selatan juga menunjukkan perbedaan. Pantai selatan umumnya berupa pasir yang sambung-

125

menyambung, hanya dipisahkan beberapa bukit karang yang terjal dan muara sungai yang kadang-kadang ditumbuhi mangrove. Pantai utara umumnya dangkal berlumpur, beberapa bagian ditumbuhi mangrove yang lebat, serta hampir tidak ada pantai berpasir yang cukup luas atau gumuk pasir. Di belakang ekosistem mangrove pada masa lalu dijumpai rawa air tawar (rawa burit), namun pada saat ini telah diubah menjadi sawah padi. Secara umum pantai utara lebih kering daripada pantai selatan karena terletak di daerah bayang-bayang hujan. Di pantai utara terdapat 4 spesies tumbuhan khas pantai sedangkan di selatan 16 spesies, sebaliknya terdapat 23 spesies tumbuhan mangrove yang sebarannya terbatas di pantai utara, sedangkan di pantai selatan hanya terdapat 1 spesies (Steenis, 1965; Whitten dkk., 2000). Propinsi Jawa Tengah merupakan kawasan peralihan ekologi (ekoton) antara lingkungan Jawa Timur yang cenderung kering dan gersang dengan Jawa Barat yang basah dan dingin; sehingga kawasan ini ditumbuhi spesies-spesies khas Jawa Timur, namun tidak ditemukan di Jawa Barat dan sebaliknya. Casuarina junghuhniana Miq. (cemara gunung) yang banyak tumbuh di Gunung Lawu dan gunung-gunung di Jawa Timur, secara alami tidak tumbuh di gununggunung sebelah baratnya. Demikian pula Altingia excelsa (rasamala), secara alami hanya tumbuh di Gunung Slamet dan pegunungan di sebelah barat, seperti di Nusakambangan, Jawa Barat dan Banten (Steenis, 1972). Propinsi Jawa Tengah masih menyimpan berbagai spesies tumbuhan khas yang kini keberadaannya mulai langka. Salah satu faktor penyebab kepunahan adalah perubahan habitat, sehingga biota dan jaring-jaring makanannya tidak

126

dapat beradaptasi, akibatnya mati atau bermigrasi. Spesies tumbuhan Jawa Tengah yang kini mulai langka antara lain kerning jawa/plalar (Dipterocarpus littoralis) di Segara Anakan dan Nusakambangan, dewa daru yang terdiri dari dua spesies, yaitu Cleistocalic macrophyla dan Fraguea elliptica di Karimunjawa, serta purwoceng (Pimpinella alpina) di dataran tinggi Dieng. Beberapa spesies tumbuhan lainnya, kini populasinya mulai menyusut, seperti suren (Toona sureni), aren (Arenga pinnata), kawis (Foremia elephantum), dan lain-lain (Bappedal, 2003).

b) Hewan (Hewan) Sebagaimana tumbuhan, hewan Jawa terkenal beragam dengan tingkat endemisitas tinggi, namun untuk spesies invertebrata informasinya relatif masih terbatas. Mammalia darat asli Jawa terdiri dari 137 spesies, sedangkan mammalia laut yang dapat ditemukan di sekitar pantai mencakup 18 spesies paus dan 10 spesies lumba-lumba. Di samping itu terdapat pula mammalia yang megah seperti harimau (Panthera tigris sondaicus), macan tutul (Panthera pardus), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus verrucosus), banteng (Bos javanicus), badak (Rhinoceros sondaicus), rusa (Axis kuhlii), dan owa (Hylobates moloch). Di Jawa Tengah terdapat beberapa mammalia endemik seperti bajing besar (Pentaurista elegans), tikus gunung (Maxomys bartelsi) dan kera surili (Prebystis comata). Burung di Jawa berjumlah sekitar 430 spesies, 340 spesies di antaranya merupakan burung penetap, sedang sisanya burung migran. Burung endemik berjumlah sekitar 30 spesies, antara lain gelatik (Padda oryzivora) dan elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Reptilia dan amfibia ditemukan pada berbagai habitat.

127

Terdapat 87 spesies ular, 42 kadal, 8 kura-kura air tawar, dan 36 katak. Dari jumlah tersebut 6 reptil dan 11 amfibi merupakan spesies endemik, misalnya ular Bungurus javanicus. Ikan air tawar berjumlah sekitar 132 spesies, 60% di antaranya endemik. Ikan asli Jawa relatif sedikit karena hilangnya habitat hutan, pencemaran lingkungan, sedimentasi, serta pembangunan bendungan yang menyebabkan terputusnya jalur migrasi dan hilangnya variasi musiman di lingkungan air. Ikan besar yang terdapat di Jawa antara lain lele besar (Bagarius yarrelli) (± 2 m) dan sidat (Anguilla sp.) (> 2,5 m) (Whitten dkk., 2000). Spesies yang telah didomestikasi antara lain banteng, domba, kambing kacang, ayam kampung, dan anjing tengger. Spesies introduksi yang menguntungkan terutama kerbau (Bubalus bubalis), adapun yang tidak menguntungkan antara lain bekicot (Achatina fulica) dan siput emas (Pomacea canaliculatus) (Whitten dkk., 2000). Spesies hewan Jawa Tengah yang kini telah punah atau mulai langka antara lain harimau, pesut Segara Anakan (Orcoella brevirostris), lumba-lumba dan ikan paus. Burung-burung yang mulai langka antara lain elang jawa (Spizaetus bartelsii), spesies elang lain (Falconidae), bangau (Egretta sp.), raja udang (Halcyon chloris) dan lain-lain. Adapun hewan laut yang mulai langka mencakup berbagai spesies penyu, seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelis imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan lain-lain; berbegai spesies moluska, seperti triton (Chanos tritonis), kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus (Nautilus pompilius), batu laga (Turbo marmoratus), lola (Trockus niloticus), kina pasir (Hippopus hippopus), kina besar (Tridacna trocea),

128

kina sisik (Tridacna squamosa), kina raksasa (Tridacna gigas), kina selatan (Tridacna derasa), dan lain-lain (Bappedal, 2003). Berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang keberadaannya mulai sulit ditemukan, kini menjadi tumbuhan atau hewan khas kabupaten/kota, dengan harapan tumbuhan kesadaran bersama untuk melindungi dan menjamin kelestariannya (Tabel 5). Tabel 5. Tumbuhan dan hewan khas pada setiap kabupaten/kota seluruh di Propinsi Jawa Tengah (Bappedal, 2003).
Tumbuhan No. Kabupaten/kota 1 2 3 1 Kota Semarang Asam (Tamarindus indica) Soga kuning (Peltophorum pteocarpum) 2 3 4 5 Kab. Semarang Kota Salatiga Kab. Kendal Kab. Demak Suren (Toona sureni) Kantil (Michelia champaca) Hewan 4 Kuntul besar (Egretta alba) Blekok (Bulbuleus ibis) Jalak putih (Strurnus melanopterus)

Duku (Lansium domesticum) Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis) Kendal (Cordia obliqua) Monyet (Macaca ira) Belimbing (Averhoa bilimbi) Udang (Penaeus sp.) Deruk jawa (Streptopelia bitorquata) Kedondong (Sapondia dulcis) Melati (Jasminum sambac) Melati gambir (Jasminum multiflorum) Melati (Jasminum pubescens) Gambir (Uncaria gambir) Delima (Punica granatum) Bawang merah (Allium asacalonicum) Puter (Streptopelia chinensis) Kutilang (Pygnonotus aurigaster) Kutilang emas (Pygnonotus melanicterus) Prenjak (Orthotomus sepium)

6 7 8 9

Kab. Grobogan Kab. Batang Kab. Pekalongan Kota Pekalongan

10 Kab. Pemalang 11 Kab. Tegal 12 Kota Tegal 13 Kab. Brebes

Kenanga (Cananga odorata) Walet sapi (Collocalia esculenta) Mencawak (Varanus salvator) Jalak suren (Strurnus contra) Jalak putih (Strurnus melanopterus)

berlanjut

129

lanjutan
1 2 14 Kab. Kudus 15 Kab. Jepara 3 4 Jambu bol (Eugenia jambos) Cucak ijo (Pygnonotus sp.) Durian (Durio zibethinus) Dewa daru (Cleistocalic macrophyla) Siwalan (Borassus flabelliter) Jati (Tectona grandis) Kawis (Foremia elephantum) Pepaya (Carica sp) Puspa (Schima wallichii) Purwoceng (Pimpinella alpina) Manggis (Garcina mangostana) Kepel (Stelechocarpus burahol) Pala (Myristica fragrans) Kesemek (Diospyros kaki) Sawo kecik (Manilkara kauki) Mundu (Garcinia dulcis) Melati (Jasminum sambac) Mengkudu (Morinda citrifolia) Mete (Anacardium occidentale) Mangga (Mangifera indica) Patra menggala Nilam (Pogostemon sp.) Wijaya kusuma (Pisonia sylvestris) Kerning jawa/plalar (Dipterocarpus littoralis) Elang laut (Halianthus leucogaster) Bandeng (Chanos chanos) Gelatik (Padda oryzavora) Ayam alas (Gallus varius) Merak (Pavo muticus) Ayam kedu (Gallus sp.) Burung hantu jawa (Otus angelinae) Elang jawa (Spizaetus bartelsii) Gentolang Pelatuk trasi (Dinipium javanense) Emprit kaji (Lonchura moja) Branjangan (Mirarfra javanica) Ulung (Accipiter sp.) Perkutut (Geopelia striata) Trucuk (Pygnonotus goaivier) Gelatik (Padda oryzivora) Uncal loreng (Maeropygia unchall) Jalak suren (Strurnus contra) Walet (Collocalia esculenta) Puter (Streptopelia chinensis) Kacer (Copsychos saularis) Pesut (Orcoella brevirostris) Penyu (Chelovia mydas) Kangkareng (Anthracocerus sp.)

16 18 17 19 20

Kab. Pati Kab. Blora Kab. Rembang

Kab. Temanggung Aren (Arenga pinnata) Kab. Wonosobo

21 22

Kab. Banjarnegara Nagasari (Mesua ferrea) Kab. Purworejo

23 Kab. Magelang 24 Kota Magelang 25 Kab. Boyolali 26 Kota Surakarta 27 Kab. Sragen 28 Kab. Klaten 29 Kab. Sukoharjo

30 Kab. Karanganyar Jeruk keprok (Citrus nobilis) Jalak gading (Strurnus sp.) 31 Kab. Wonogiri 32 Kab. Kebumen 33 Kab. Purbalingga 34 Kab. Banyumas 35 Kab. Cilacap

130

3. Lingkungan Sosial-Ekonomi (Kultur) a) Jumlah dan Kepadatan Penduduk Penduduk asli Jawa Tengah adalah suku Jawa. Bahasa Jawa dipertuturkan oleh kurang lebih 97% penduduknya. Jumlah penduduk Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2002 sebanyak 31.691.866 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 15.787.143 jiwa (49,81%) dan perempuan 15.904.723 jiwa (50,19%), dengan rasio jenis kelamin 99,26, dengan kepadatan 973,69 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk pada periode 1990-2000 sebesar 0,84%, sedangkan antara 2001-2002 sebesar 1,98%. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Kabupaten Brebes sebanyak 1.728.808 jiwa (5,45%) dengan kepadatan 1.025 jiwa/km2, dan jumlah penduduk terkecil di Kota Magelang, sebanyak 116.498 jiwa (0,37%), dengan kepadatan 6.362 jiwa/km2 (Bappedal, 2003) (Gambar 33-34).

b) Komposisi Penduduk Menurut Agama Penduduk Jawa Tengah beragama Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Katolik, dengan proporsi penduduk Islam mencapai 93%.

c) Komposisi Penduduk Menurut Umur Jumlah penduduk usia kerja (15-54 tahun) di Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2002 sebanyak 15.892.588 orang, terdiri dari laki-laki 9.514.816 orang (59,87%) dan perempuan 6.377.772 orang (40,13%). Jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 14.230.276 orang, terdiri dari laki-laki 8.614.571 (60,54%) dan perempuan 5.615.705 (39,46%). Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK)

131

sebanyak 71,70%, terdiri dari laki-laki 87,68% dan perempuan 56,37%. Jumlah penganguran di Propinsi Jawa Tengah sebanyak 984.234 orang (6,25%) dari jumlah penduduk usia kerja, terdiri dari laki-laki 567.608 orang (57,67%) dan perempuan 416.626 orang (42,33%) Laju pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 1998 minus 11,74%, namun pada tahun 2000 mengalami kenaikan menjadi sebesar 3,36% (Bappedal, 2003). Laju pertumbuhan penduduk mencapai sekitar 0,45 % atau berkembang dari 30.924.164 jiwa (2000) menjadi 31.063.818 jiwa (2001), dan 31.691.866 jiwa (2002). Angka kelahiran sebanyak 2,314 per wanita, angka kematian ibu sebanyak 3,42 per seribu, sedang angka kematian bayi sebanyak 48 per seribu. Umur harapan hidup 65,5 tahun (Bappedal, 2003).

d) Komposisi Penduduk Menurut Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikannya, pada tahun 2002 jumlah penduduk tamat SD ke bawah sebesar 74,27%, SLTP 10,77%, SLTA 12,73%, dan perguruan tinggi 2,23%. Jumlah penganggur tahun 2001 sebanyak 1.662.312 orang; kualitas tenaga kerja masih relatif rendah, sebanyak 76,49% tenaga kerja berpendidikan SD ke bawah, 9,82% berpendidikan SLTP, dan 11,31% berpendidikan SLTA (Bappedal, 2003).

e) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Berdasarkan pekerjaannya, penduduk yang bergiat di sektor pertanian sebanyak 39,10%, diikuti sektor perdagangan (19,17%), industri pengolahan

132

(16,32%), dan jasa (14,51%), sedangkan sisanya bekerja di sektor konstruksi, listrik, gas dan air, pertambangan, angkutan, komunikasi dan keuangan (Bappedal, 2003).

f) Sarana Pendidikan dan Kesehatan Sarana pendidikan dan kesehatan mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan tingkat kesejahteraannya, pada tahun 2002, dari jumlah rumah tangga sebanyak 7.876.988 KK, jumlah keluarga pra-sejahtera sebanyak 23.701 KK (39,53%), dan jumlah keluarga sejahtera I (KS-I) sebanyak 1.670.199 KK (21,20%). Adapun jumlah KS-II, KS-III, dan KS-III plus berturut-turut sebanyak 1.649.274 KK (20,9%), 1.177.606 KK (14,95%), dan 266.209 KK (3,38%). Berdasarkan pendapatan per kapitanya masih terdapat 7.845.984 orang miskin (Bappedal, 2003).

g) Budaya dan Adat Istiadat Masyarakat Propinsi Jawa Tengah memegang peranan penting dalam sejarah dan perkembangan sosial bangsa Indonesia. Pada masa lalu, di wilayah ini pernah berdiri kerajaan-kerajaan besar Hindu-Budha yang kekuasaannya hingga pulaupulau di luar Jawa. Kerajaan Islam pertama berdiri pada tahun 1511 di Demak, dan kemudian menyebar ke seluruh pulau Jawa. Pada saat ini Demak hanya sebuah kota kecil, namun kejayaannya di masa lalu masih dihargai masyarakat. Di kota ini terdapat peninggalan sejarah berupa Masjid Agung dengan arsitektur campuran Hindu-Islam, dan digunakan untuk beribadah oleh para peziarah dari

133

seluruh Jawa. Kerajaan Mataram, yang terdiri dari Surakarta (Solo) dan Yogyakarta merupakan penerus Kerajaan Demak serta menjadi tempat lahirnya budaya Jawa saat ini. Pewaris kedua istana ini masih menjadi rujukan dalam budaya dan tradisi Jawa yang mengakar kuat. Kemerdekaan Indonesia selama lebih dari 50 tahun, yang menghapus kekuasaan administrasi pemerintahan kedua kerajaan ini, tidak menghilangkan pengaruhnnya terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat Jawa. Upacara dan perayaan keraton masih menunjukkan kebesarannya hingga kini (Koentjaraningrat, 1985).

B. Deskripsi Area Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 20 lokasi di pantai utara dan pantai selatan Jawa Tengah, termasuk laguna Segara Anakan, yang tercakup dalam delapan kabupaten. Penelitian di pantai utara Jawa Tengah meliputi Kabupaten Demak, Jepara, Pati, dan Rembang; sedangkan di pantai selatan Jawa Tengah mencakup Kabupaten Cilacap, Kebumen, dan Purworejo. Lokasi penelitian di Kabupaten Purworejo berbatasan langsung dengan Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Batas-batas administratif dan jumlah penduduk di setiap kecamatan pada kedelapan kabupaten tersebut disajikan pada Lampiran 2. (Gambar 35-42; Plate 18). Kecamatan-kecamatan di pesisir pantai seringkali memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi daripada rata-rata kepadatan penduduk di seluruh kabupaten, baik di pantai utara maupun selatan Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat aktivitas manusia di kawasan pantai. Bahkan di beberapa kabupaten, kecamatan yang terletak di kawasan pantai sekaligus

134

merupakan ibukota kabupaten, misalnya Jepara, Rembang, Cilacap, dan Wates (Kulonprogo). Kecamatan-kecamatan di kawasan pantai yang kepadatan penduduknya relatif lebih rendah daripada kepadatan rata-rata kabupaten, dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain sangat luasnya: (i) lahan tambak dan sawah (Demak), (ii) lahan berpasir dan kurang subur (Purworejo), (iii) bukit karst/gamping (Kebumen), dan (iv) kawasan mangrove (Segara Anakan, Cilacap). Kepadatan penduduk di kawasan pantai yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata kabupaten, dapat pula disebabkan luasnya kawasan hutan di kecamatan pedalaman, misalnya di kabupaten Pati, Rembang, dan Kulonprogo. Secara kualitatif berdasarkan citra satelit, yang diperkuat peta topografi, dan tinjauan lapangan, lokasi penelitian yang terluas terletak di Wulan dan Segara Anakan (Motean dan Muara Dua) (Tabel 6.).

135

Tabel 6. Luas kawasan mangrove area penelitian. Luas area mangrove 2001 (km2) 35-40 1-2 1-2 1-2 1-2 1-2 3-4 1-2 3-4 1-2 2-3 3-4 4-5 2-3 2-3 2-3 8-9 > 50 Perubahan luas daratan antara 1963-1965 s.d. 2001 (km2) (+) ± 20 (-) 1 (+) 2-3 (+) 8-9 (+) ± 40

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Nama lokasi Wulan Sigrogol Serang Bulak Telukawur Tayu Juwana Pecangakan Pasar Banggi Lasem Bogowonto Cakrayasan Lukulo Cingcinggguling Ijo Bengawan Serayu Tritih Motean

20. Muara Dua Keterangan: (+) = akresi/penambahan luas daratan; (-) abrasi/pengurangan luas dataran. Sumber: Peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001.

136

C. Keanekaragaman Spesies dan Sebaran Tumbuhan Mangrove 1. Keanekaragaman Spesies Tumbuhan Mangrove Dari 20 lokasi yang diamati dalam penelitian ini, ditemukan 55 spesies tumbuhan mangrove yang terdiri mangrove mayor (17), mangrove minor (12), dan tumbuhan asosiasi (26). Sebagian besar tumbuhan tersebut berhabitus pohon (32), diikuti berhabitus semak (13), dan herba (10). Secara taksonomi tumbuhan tersebut tergolong dalam 27 familia, familia dengan jumlah spesies terbanyak adalah Rhizophoraceae (9), diikuti Avicenniaceae, Sonneratiaceae, Meliaceae, Verbenaceae, Cyperaceae, dan Gramineae, masing-masing dengan tiga spesies (Tabel 7). Gambar morfologi keanekaragaman spesies tumbuhan mangrove mayor, minor, dan sebagian tumbuhan asosiasi disajikan pada Lampiran 5 (Gambar 82-130). Jumlah spesies tumbuhan mangrove mayor, minor, dan asosiasi paling banyak ditemukan di Wulan (35) yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, diikuti Motean dan Muara Dua (masing-masing 29) yang terletak di Segara Anakan, pantai selatan Jawa Tengah. Urutan selanjutnya adalah Bogowonto (19), Pasar Banggi (18), Tritih (17), Sigrogol (15), Juwana dan Ijo (masing-masing 14), Cakrayasan (12), Lasem dan Serayu (masing-masing 11), Bulak, Telukawur, Cingcingguling dan Bengawan (masing-masing 9), Pecangakan (8), Serang (6), serta Tayu (5) (Tabel 7).

137

Tabel 7. Keragaman spesies tumbuhan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
PantaiUtara Pasar Bangi Pecangakan Cakrayasan PantaiSelatan Cingcingguling

Bengawan

Nama Spesies

Familia Sigrogol Habitus Serang Wulan Bulak

Muara Dua + + + + + + + + + + + + + -

Bogowonto

Telukawur

Juwana

Motean

1 Mangrove mayor 1. Avicennia alba 2. Avicennia marina 3. Avicennia officinalis 4. Bruguiera cylindrica 5. Bruguiera gymnorrhiza 6. Bruguiera parviflora 7. Bruguiera sexangula 8. Ceriops decandra 9. Ceriops tagal 10. Lumnitzera littorea 11. Nypa fruticans 12. Rhizophora apiculata 13. Rhizophora mucronata 14. Rhizophora stylosa 15. Sonneratia alba 16. Sonneratia caseolaris 17. Sonneratia ovata

2 Avicenniaceae Avicenniaceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Combretaceae Araceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae Sonneratiaceae Sonneratiaceae

3 p p p p p p p p p p p p p p p p p

4 + + + + + + + + + + + + + -

5 + + + + + + -

6 + + + -

7 + + + -

8 + + + + -

9 + + -

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 12 11 5 5 5 1 2 2 4 2 12 5 16 1 15 4 1

berlanjut

Jumlah

Lukulo

Serayu

Lasem

Tritih

Tayu

Ijo

138

lanjutan
1 Mangrove minor 18. Acrostichum aureum 19. Acrostichum speciosum 20. Aegiceras corniculatum 21. Aegiceras floridum 22. Excoecaria agallocha 23. Heritiera littoralis 24. Osbornia octodonta 25. Pemphis acidula 26. Scyphiphora hydrophyllacea 27. Xylocarpus granatum 28. Xylocarpus moluccensis 29. Xylocarpus rumphii 2 Pteridaceae Pteridaceae Lythraceae Lythraceae Euphorbiaceae Sterculiaceae Myrtaceae Lythraceae Rubiaceae Meliaceae Meliaceae Meliaceae 3 s s p p p p s s s p p p 4 + + + + + 5 + + 6 7 + + 8 + 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + 11 + 4 + 7 - 1 + 6 + 2 - 1 - 1 + 3 + 2 + 2 + 2

berlanjut

139

lanjutan
1 Tumbuhan asosiasi 30. Acanthus ilicifolius 31. Barringtonia asiatica 32. Calophyllum inophyllum 33. Calotropis gigantea 34. Cerbera manghas 35. Cynodon dactylon 36. Clerodendrum inerme 37. Cyperus sp. 38. Derris trifoliata 39. Ficus microcarpa 40. Fimbristylis ferruginea 41. Finlaysonia maritima 42. Hibiscus tiliaceus 43. Ipomoea pescaprae 44. Pandanus tectorius 45. Paspalum spp 46. Pongamia pinnata 47. Phragmites karka 48. Scaevolia taccada 49. Scirpus sp 50. Sesuvium portulacastrum 51. Spinifex littoreus 52. Stachytarpheta jamaicensis 53. Terminalia catappa 54. Thespresia populnea 55. Vitex ovata Jumlah 2 Acanthaceae Lecythideceae Guttiferae Asclepiadaceae Apocynaceae Gramineae Verbenaceae Cyperaceae Leguminosae Moraceae Cyperaceae Asclepiadaceae Malvaceae Convolvulaceae Pandanaceae Gramineae Leguminosae Gramineae Goodeniaceae Cyperaceae Aizoaceae Gramineae Verbenaceae Combretaceae Malvaceae Verbenaceae 27 3 s p p s p h s h s p h s p h s h p h s h h h h p p s 4 + + + + + + + + + + + + + + + + + 35 5 6 7 + + + + 9 8 + + + + 9 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 + + - - - + - + - + + - + - - - - - - - - + - - + + - - - - - 8 18 + + + + + + + 11 + + + + + + + + + + + + + + 19 + + + + + + + + + 12 + + + + + + + + + + + + 13 - + - + + + - - - - + + - - - + + + + + + - - + - - - - - - + + - - 9 14 + + - - - + - - - - + + - + - + + + + - + - - - - - - - + - + + - - 9 11 + + + + + + 17 + + - - + + + + - + + - + + - + + - - - - - - - - + + - - - - - - 29 29 16 1 7 13 2 3 3 3 15 1 3 3 11 10 7 3 3 4 1 5 9 7 5 11 1 1 + - - + + - - - - + - - + - + + - - + - - - - + - + - - - 15 6 + + - - - + - - + - - + + + - + - - - - - - - - + - - + + - - + - - - 5 14

Keterangan: “+”hadir; “-“ tidak hadir. p = pohon, s = semak, h = herba/rumput.

140

Luas kawasan mangrove sangat menentukan keanekaragaman spesies tumbuhan di dalamnya. Area yang luas memungkinkan adanya ruang yang cukup untuk tumbuh dan mengurangi kompetisi antar spesies dalam memperebutkan ruang, unsur nutrien, dan cahaya matahari. Area yang luas juga memungkinkan menyebarnya aktivitas manusia dalam memanfaatkan kawasan mangrove, sehingga disturbansi terhadap ekosistem ini dapat teredam. Apabila di suatu lokasi terjadi kerusakan vegetasi, misalnya akibat pembabatan hutan, maka pada saat yang sama di tempat lain sedang terjadi penyembuhan (restorasi), sehingga pertumbuhan dan keanekaragaman mangrove dapat dipertahankan. Kawasan mangrove yang luas juga memungkinkan terjadinya pertukaran genetik di dalam populasi secara luas. Banyaknya individu anggota populasi memungkinkan terbentuknya kombinasi gen-gen baru, yang diperlukan sebagai tanggapan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Pada kawasan mangrove yang luas, kemungkinan untuk menerima sumber biji/propagul dari kawasan mangrove lain juga besar, sebagai penyuplai sumber genetik baru. Adanya mutasi di dalam populasi dan masukan gen baru dari luar populasi memungkinkan tingginya daya adaptasi tumbuhan mangrove, sehingga pada kawasan mangrove yang luas keberadaan dan kelestarian suatu spesies lebih terjaga. Pada masa lalu Segara Anakan dikenal sebagai lokasi mangrove paling kaya dan paling luas di pulau Jawa, namun seiring dengan berjalannya waktu luasannya mulai menyusut, terutama akibat penebangan hutan dan sedimentasi berlebih dari sungai Citanduy, Cimeneng/ Cikonde, dan lain-lain. Sedimentasi menyebabkan naiknya dasar laguna dan menyempitnya luasan laguna, serta

141

cenderung berubahnya menjadi ekosistem daratan (ECI, 1994; Suara Pembaruan, 09/04/2002). Sebaliknya pada masa lalu Wulan hanyalah sebuah kanal yang dibuat pada awal abad ke-19 untuk mengeringkan banjir pada musim hujan yang selalu menggenangi kawasan di selatan Gunung Muria (Pati, Demak, dan Kudus). Oleh karena itu, berkebalikan dengan kawasan mangrove di Segara Anakan yang menyusut akibat sedimentasi, di Wulan sedimentasi menyebabkan akresi pantai yang memungkinkan terus meluasnya kawasan mangrove ke arah laut. Besarnya jumlah spesies di Wulan dibandingkan di Segara Anakan (Motean dan Muara Dua), lebih disumbangkan oleh tumbuhan asosiasi, bukan oleh tumbuhan mangrove mayor dan minor. Hal ini kemungkinan disebabkan Wulan terletak di pesisir pantai sedangkan Segara Anakan terletak di dalam laguna. Tumbuhan asosiasi umumnya merupakan tumbuhan pantai. Tumbuhan ini merupakan bentuk peralihan (ekoton) antara formasi hutan pantai dan ekosistem mangrove, sehingga tumbuh pada tepian ekosistem mangrove yang berbatasan dengan daratan pantai. Keterbatasan jumlah spesies mangrove di Segara Anakan juga disebabkan posisi geografinya yang khas. Secara geografi kawasan ini telah terisolasi dalam jangka panjang, mengingat besarnya ombak laut selatan yang menghambat datangnya biji dari lokasi mangrove lain, serta tidak adanya kawasan mangrove yang cukup luas di sekitarnya. Kawasan mangrove cukup luas yang paling dekat dengan Segara Anakan terletak di TN Alas Purwo (Teluk Grajakan), di ujung timur Pulau Jawa, dan di TN Ujung Kulon, di ujung barat Pulau Jawa. Adapun kawasan mangrove Wulan, merupakan bagian dari kawasan mangrove yang

142

sangat luas di pantai utara Jawa. Kawasan ini terletak pada area antara Jepara hingga Teluk Banten, pada masa lalu merupakan ekosistem mangrove yang bersambung terus menerus tanpa putus, sehingga suplai tumbuhan baru dari ekosistem mangrove di sekitarnya lebih terjamin (Whitten dkk., 2000). Sedikitnya jumlah spesies mangrove di luar kawasan Wulan dan Segara Anakan, disebabkan besarnya pengaruh antropogenik yang mengubah habitat mangrove untuk kepentingan lain, sehingga luasan ekosistem ini terbatas. Di pantai utara Jawa Tengah, habitat mangrove banyak dikonversi menjadi lahan tambak dan sawah, sedangkan di pantai selatan biasanya dikonversi menjadi sawah. Di pantai selatan keterbatasan luasan mangrove dapat pula merupakan akibat alamiah, mengingat hanya kawasan laguna yang sangat sempit di muara sungai yang dapat ditumbuhi mangrove. Keanekaragaman tumbuhan mangrove yang tinggi juga dapat disebabkan pemeliharaan oleh manusia. Secara nyata hal ini dapat diamati di Pasar Banggi, salah satu kawasan yang tingkat keperdulian masyarakat (kelompok tani-nelayan) terhadap mangrove paling tinggi dibandingkan kawasan lain yang diteliti. Di kawasan ini, pemerintah membentuk kelompok-kelompok tani yang masingmasing “menguasai” luasan mangrove tertentu. Kelompok ini diperbolehkan memanfaatkan kayu dan hasil lain dari kawasan mangrove dengan tetap menjaga kelestariannya. Pengikutsertaan masyarakat ini tampaknya berhasil dalam memelihara kelestarian ekosistem mangrove setempat.

143

2. Sebaran Lokasi Pertumbuhan Dalam penelitian ini spesies tumbuhan mangrove mayor dengan sebaran lokasi tumbuh yang paling luas adalah R. mucronata (16 lokasi), diikuti S. alba (15), N. fruticans (12), A. alba (11) dan A. marina (11). Spesies mangrove minor paling luas sebarannya adalah Acrostichum spp. (11). Tumbuhan asosiasi mangrove yang paling luas sebarannya adalah A. ilicifolius (16), diikuti Derris trifoliata (15), Calotropis gigantea (13), H. tiliaceus (11), T. catappa (11), dan I. pes-caprae (10); sedangkan spesies-spesies lainnya ditemukan kurang dari 10 lokasi (Tabel 7.). Luasnya sebaran tumbuhan tergantung pada faktor lingkungan abiotik, biotik, dan budaya masyarakat. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam beradaptasi terhadap faktor biotik (kompetisi dan herbivori) dan faktor lingkungan abiotik, sehingga sebaran setiap spesies tidak selalu sama. Tumbuhan mangrove memilih habitat di kawasan pantai sebagai strategi untuk memenangkan kompetisi dengan tumbuhan darat pada umumnya, serta untuk menghindari herbivori dari hama dan penyakit yang biasa menyerang tumbuhan darat. Pada dasarnya tumbuhan mangrove dapat hidup pada perairan tawar yang jauh dari pantai. Dalam penelitian ini penanaman S. alba di Solo yang ditujukan bagi penyediaan ekstrak daun pada pengujian isozim menunjukkan bahwa tumbuhan ini mampu tumbuh dengan baik selama dilakukan perawatan, terutama untuk menjaga ketersediaan air serta memberantas hama dan penyakit yang menyerang. Di Kebun Raya Bogor terdapat beberapa koleksi tumbuhan mangrove yang telah ditanam selama lebih dari 100 tahun (Ng dan Sivasothi, 2001).

144

Sebaran spesies tumbuhan mangrove juga terkait dengan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan (faktor abiotik). Tumbuhan mangrove umumnya memiliki bentuk morfologi dan mekanisme fisiologi tertentu untuk beradaptasi terhadap lingkungan mangrove. Bentuk adaptasi ini umumnya terkait dengan adaptasi terhadap garam, adaptasi sistem reproduksi (biji), dan adaptasi terhadap tanah yang gembur dan bersifat anoksik (anaerob). Spesies mangrove mampu tumbuh pada lingkungan dengan salinitas rendah hingga tinggi. Kemampuan ini disebabkan adanya mekanisme ultrafiltrasi pada akar untuk mencegah masuknya garam, adanya sistem penyimpanan garam dan adanya sistem ekskresi pada daun untuk membuang garam yang terlanjur masuk ke jaringan tubuh. Mekanisme terakhir ini menyebabkan kebanyakan daun tumbuhan mangrove berasa asin, misalnya daun A. ilicifolius. Biji/propagul beberapa spesies tertentu seperti Rhizophora spp. umumnya telah tumbuh sejak masih menempel pada batang induknya (vivipari), sedang pada beberapa spesies lainnya belum tumbuh (kriptovivipari), seperti N. fruticans. Biji umumnya dapat mengapung dan tersebar pada kawasan yang luas.Tumbuhan mangrove juga memiliki sistem perakaran yang khas untuk beradaptasi terhadap tanah lumpur yang lembut dan anaerob, berupa akar napas (pneumatofora) yang bentuknya beragam tergantung spesiesnya. Pneumatofora dapat berbentuk penyangga (Rhizophora spp.), pensil (Avicennia spp., Sonneratia spp.), lutut (Xylocarpus spp.), dan banir/papan (Bruguiera spp.) (Lampiran 8; Gambar 140-143). Bentuk-bentuk adaptasi di atas tidak dimiliki tumbuhan darat pada umumnya, sehingga kebanyakan tumbuhan darat tidak dapat tumbuh di lingkungan mangrove. Sejumlah kecil tumbuhan darat

145

yang mampu tumbuh di daerah ekoton antara lingkungan mangrove dan darat dikenal sebagai tumbuhan asosiasi mangrove, yang umumnya berupa tumbuhan pantai. Secara kultural, kehidupan masyarakat dapat mempengaruhi keberadaan tumbuhan mangrove di suatu lokasi. Masyarakat pantai utara yang

mengembangkan pertambakan dan pertanian, serta masyarakat pantai selatan yang mengembangkan pertanian, tentunya memiliki persepsi berbeda terhadap ekosistem mangrove dibandingkan dengan masyarakat Kampung Laut di Segara Anakan, yang secara subsisten menggantungkan mata pencahariannya pada ekosistem mangrove. Masyarakat petani dan petambak umumnya cenderung mengkonversi ekosistem mangrove, sedangkan masyarakat Kampung Laut cenderung mempertahankan eksistensi eksositem ini. Sehingga jumlah spesies mangrove di Segara Anakan (29) lebih tinggi dari tempat-tempat lain, kecuali Wulan (35), suatu kawasan akresi mangrove yang sedang bertumbuh. Kebutuhan masyarakat terhadap spesies tertentu juga dapat mempengaruhi keberadaannya, seperti kebutuhan terhadap N. fruticans. Dalam penelitian ini R. mucronata memiliki daerah penyebaran paling luas (16 lokasi). Sebaran ini jauh lebih luas dari dua kerabat dekatnya, yaitu R. apiculata (5) dan R. stylosa (1). Hal ini boleh jadi disebabkan bentuk biji R. mucronata jauh lebih besar dengan cadangan makanan lebih banyak, sehingga memiliki kesempatan hidup lebih tinggi. S. alba tersebar di 15 lokasi, jauh lebih luas daripada kedua kerabat dekatnya, yaitu S. caseolaris (4) dan S. ovata (1). Hal ini kemungkinan juga disebabkan sistem penyebaran bijinya, ukuran biji buah S.

146

alba lebih besar daripada ukuran biji buah S. caseolaris dan S. ovata, sehingga memiliki kemungkinan tumbuh lebih tinggi. S. alba memiliki sebaran merata baik di pantai utara maupun selatan, sedangkan R. mucronata sebarannya lebih merata di pantai utara daripada pantai selatan. Hal ini disebabkan S. alba mampu tumbuh pada lingkungan bertanah pasir maupun lumpur, sedangkan R. mucronata cenderung hanya tumbuh pada lingkungan bertanah lumpur yang terus tergenang (becek). Pantai utara umumnya didominasi lumpur sedangkan pantai selatan banyak dijumpai pasir. Sebaran A. alba (12 lokasi) dan A. marina (11) tersebar lebih luas daripada A. officinalis (5). Mengingat ketiganya merupakan satu genus yang pada dasarnya sama-sama dapat tumbuh pada lokasi yang sama, maka perbedaan ini kemungkinan juga disebabkan perbedaan kemampuan biji dalam menyebar. A. alba memiliki ukuran buah lebih besar dengan cadangan makanan lebih banyak dari dua kerabatnya tersebut, sehingga memiliki kemungkinan tumbuh lebih besar. Adapun keberhasilan N. fruticans (12) untuk tumbuh pada lokasi yang luas, selain disebabkan kemampuannya untuk berkembangbiak secara vegetatif dan membentuk massa yang rapat, juga disebabkan pemeliharaan oleh manusia, seperti di Cingcingguling, Ijo, Serayu, Segara Anakan, dan Wulan. Pemeliharaan ini ditujukan untuk memperkuat tanggul sungai, sumber pangan dari buah, dan atap bangunan dari daunnya. Aktivitas antropogenik dapat menyebabkan rusaknya ekosistem mangrove secara permanen. Di pantai selatan Jawa Tengah, antara muara Sungai Bogowonto dan laguna Segara Anakan, habitat reliks tumbuhan mangrove hanya tidak

147

dijumpai di muara Sungai Wawar, Purworejo. Kawasan muara tersebut mengandung pasir bijih besi cukup tinggi dan dikeruk untuk keperluan bahan baku industri, sehingga ekosistem muara di kawasan tersebut rusak, termasuk musnahnya sisa-sisa vegetasi mangrove. Tanpa campur tangan manusia tampaknya akan sulit mengembalikan mangrove di kawasan ini. Di muara Serayu, aktivitas pertanian dan penambangan pasir besi menyebabkan jumlah spesies tumbuhan mangrove sangat sedikit (11), dibandingan luas kawasan muara tersebut.

D. Komposisi, Struktur Vegetasi, dan Profil Vegetasi Mangrove 1. Komposisi dan Struktur Vegetasi Dalam penelitian ini, tidak semua spesies yang dijumpai di area penelitian tercakup dalam analisis vegetasi, mengingat metode yang digunakan adalah belt transect, sehingga kawasan yang dicakup relatif terbatas. Dalam penelitian yang dilakukan pada lokasi dan waktu yang sama dengan metode survai (penjelajahan) ditemukan 55 spesies (Tabel 7.). Nilai frekuensi relatif, nilai penutupan, dan nilai penting setiap spesies untuk setiap strata habitus disajikan secara berturut-turut pada Tabel 8-10. Gambar struktur vegetasi mangrove pada beberapa lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 6 (Gambar 131-136).

148

Tabel 8. Frekuensi relatif spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
PantaiUtara Pasar Bangi Pecangakan Cakrayasan Bogowonto Telukawur Kategori Nama Spesies PantaiSelatan Cingcingguling Muara Dua Bengawan Rata-rata 24

Sigrogol

Juwana

Motean

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Strata habitus pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,61 0,78 0,50 0,22 0,28 0,22 0,11 0,56 0,17 2. Sonneratia spp. MAY 0,33 0,06 0,17 0 0,17 0 0,33 0 0,11 3. Rhizophora spp. MAY 0,83 0,17 0,33 0,44 0,50 0,56 0,11 0,39 0,83 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,11 0 0 0 0 0 0,11 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Strata habitus anak pohon dan semak Anak pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,67 0,67 0,50 0,33 0,33 0,28 0,17 0,56 0,17 2. Sonneratia spp. MAY 0,33 0 0,22 0 0,17 0 0,33 0 0,17 3. Rhizophora spp. MAY 0,83 0,33 0,33 0,33 0,39 0,39 0,17 0,39 0,78 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,17 0 0 0 0 0 0,28 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0

12

13 14

15

16

17

18 19

20

21 22

0,44 0 0 0 0 0,17 0 0 0,33 0,22 0,17 4,78 0,239 0,06 0,78 0,28 0,17 0 0,06 0,39 0,17 0,22 0,22 0,11 3,63 0,182 0,61 0 0 0 0 0,33 0,17 0 0,94 0,28 0,33 6,82 0,341 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,11 0,006 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,72 0,56 1,39 0,070 0 0,28 0 0 0,56 0,33 0,33 0,50 0 0,17 0,11 2,28 0,114 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 0,06 0,12 0,006 0 0 0 0 0 0 0 0 0,11 0,06 0,05 0,22 0,011

0,56 0 0 0 0 0,17 0 0 0,39 0,33 0,33 5,46 0,273 0,11 0,83 0,33 0,28 0 0 0,50 0,06 0,33 0,33 0,33 4,32 0,216 0,79 0,17 0 0 0 0,39 0,22 0 0,83 0,28 0,28 6,90 0,345 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,17 0,009 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,83 0,79 1,90 0,095 0 0,33 0 0 0,56 0,33 0,33 0,56 0 0,17 0,11 2,39 0,120 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 0,06 0,12 0,006 0 0 0 0 0 0 0 0 0,22 0,06 0,11 0,39 0,020

berlanjut

Jumlah 23

Lukulo

Serayu

Serang

Wulan

Lasem

Bulak

Tritih

Tayu

Ijo

149

lanjutan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Semak 9. Acanthus ilicifolius ASO 0,50 0,28 0 0 0 0,22 0,22 0,28 0,17 10. Acrostichum spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 11. Derris trifoliata ASO 0,39 0,17 0 0 0 0,22 0,28 0 0 12. Pandanus tectorius ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Calotropis gigantea ASO 0,28 0,22 0,22 0,28 0,33 0 0,22 0 0,06 Strata habitus bibit pohon, bibit semak, dan herba Bibit pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,78 0,72 0,56 0,44 0,39 0,28 0,17 0,72 0,22 2. Sonneratia spp. MAY 0,39 0 0,28 0 0,17 0 0,33 0 0 3. Rhizophora spp. MAY 0,89 0,44 0,39 0,50 0,50 0,56 0,28 0,44 1,00 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,17 0 0 0 0 0 0,28 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Bibit semak 9. Acanthus ilicifolius *) ASO 0,50 0,28 0 0 0 0,22 0,22 0,28 0,17 10. Acrostichum spp.*) MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 11. Derris trifoliata *) ASO 0,44 0,17 0 0 0 0,22 0,28 0 0 12. Pandanus tectorius *) ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Calotropis gigantea ASO 0,28 0,17 0,22 0,28 0,33 0 0,22 0 0,06 Herba 14. Ipomoea pescaprae ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15. Sesuvium portulacastrum ASO 0,17 0,11 0 0 0,17 0,17 0,11 0,17 0,17 0 0,22 0,33 0 16. Rumput (Gramineae) **) ASO 0,28 0 0,22 0,17 0 0 0,17 0 0 0,22 0,22 0 0 0,17 17. Rumput liar lainnya laut selatan)ASO 0 0 0,11 0 0,11 0,17 0,11 18. Teki (Cyperaceae) laut selatan*)ASO 0,22 0 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 0,28 0,33 0,28 0,11 0 0,28 0,33 0,39 0,33 0,56 0,72 5,28 0,264 0 0,17 0,11 0 0 0 0 0 0,11 0,22 0,17 0,84 0,042 0,11 0,33 0,17 0 0,11 0,22 0,28 0,17 0,22 0,28 0,33 3,28 0,164 0,11 0 0,33 0,28 0 0 0 0 0 0 0 0,72 0,036 0 0,17 0,22 0 0,33 0 0 0,33 0 0 0 2,66 0,133

0,56 0 0 0 0 0,17 0 0 0,50 0,39 0,33 6,23 0 0,89 0,33 0,33 0 0 0,50 0,06 0,33 0,33 0,39 4,33 0,79 0,17 0 0 0 0,56 0,33 0 0,94 0,39 0,44 8,62 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,83 0,61 1,72 0 0,33 0 0 0,56 0,33 0,33 0,56 0 0,17 0,11 2,39 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 0,06 0,12 0 0 0 0 0 0 0 0 0,22 0,06 0,11 0,39 0,28 0,33 0,28 0,11 0 0,28 0,33 0,39 0,33 0,56 0,72 5,28 0 0,17 0,11 0 0 0 0 0 0,11 0,22 0,17 0,84 0,11 0,33 0,06 0 0,11 0,22 0,28 0,17 0,22 0,28 0,33 3,22 0,11 0 0,28 0,28 0 0 0 0 0 0 0 0,67 0 0,11 0,22 0 0,28 0 0 0,17 0 0 0 2,34 0 0 0 0,33 0,06 0,22 0,22 0,11 0 0 0 0,94 0,22 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1,29 0,33 0,89 0,67 1,00 0 0 0 0,33 0 0 0 4,44 0 0 0 0 0,22 0,28 0,33 0 0,33 0 0 1,94 0 0 0,11 0 0 0 0,11 0 0 0,17 0,17 1,28

0,312 0,217 0,431 0,009 0,086 0,120 0,006 0,020 0,264 0,042 0,161 0,034 0,117 0,047 0,065 0,222 0,097 0,064

150

Tabel 9. Nilai penutupan spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
PantaiUtara Pasar Bangi Pecangakan Cakrayasan Bogowonto Telukawur Kategori Nama Spesies PantaiSelatan Cingcingguling Muara Dua Bengawan Rata-rata 24 0,041 0,034 0,076 0,002 0,021 0,023 0,001 0,205

Sigrogol

Juwana

Motean

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Strata habitus pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,28 0,59 0,32 0,07 0,16 0,08 0,03 0,45 0,01 2. Sonneratia spp. MAY 0,05 0,01 0,03 0 0,01 0 0,05 0 0,01 3. Rhizophora spp. MAY 0,18 0,03 0,03 0,27 0,33 0,10 0,01 0,05 0,83 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,01 0 0 0 0 0 0,05 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Strata habitus anak pohon dan semak Anak pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,13 0,10 0,03 0,05 0,02 0,04 0,03 0,12 0,03 2. Sonneratia spp. MAY 0,05 0 0,04 0 0,03 0 0,08 0 0 3. Rhizophora spp. MAY 0,18 0,06 0,05 0,05 0,12 0,18 0,04 0,07 0,12 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,03 0 0 0 0 0 0,06 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0

12

13 14

15

16

17

18

19

20

21

22

0,05 0 0 0 0 0,02 0 0 0,03 0,10 0,05 2,24 0,112 0,05 0,41 0,08 0,08 0 0,01 0,14 0,03 0,02 0,04 0,03 1,05 0,053 0,40 0 0 0 0 0,17 0,03 0 0,92 0,06 0,08 3,49 0,175 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,01 0,0005 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,24 0,13 0,42 0,021 0 0,06 0 0 0,36 0,16 0,07 0,33 0 0,06 0,02 1,06 0,053 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,01 0,01 0,02 0,001 0 0 0 0 0 0 0 0 0,02 0,01 0,01 0,04 0,002

0,08 0 0 0 0 0,02 0 0 0,06 0,05 0,05 0,81 0,01 0,16 0,06 0,03 0 0 0,06 0,005 0,05 0,05 0,05 0,67 0,13 0,06 0 0 0 0,16 0,04 0 0,13 0,06 0,06 1,51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,03 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,21 0,15 0,42 0 0,05 0 0 0,11 0,06 0,06 0,12 0 0,03 0,02 0,45 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,01 0,01 0,02 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 0,01 0,02 4,03

Jumlah 23

Lukulo

Serang

Serayu

Wulan

Lasem

Bulak

Tritih

Tayu

Ijo

berlanjut

151

lanjutan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Semak 9. Acanthus ilicifolius ASO 0,15 0,08 0 0 0 0,06 0,04 0,05 0,03 0,06 0,06 0,06 10. Acrostichum spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0,005 0 0,02 0,04 11. Derris trifoliata ASO 0,18 0,07 0 0 0 0,07 0,08 0 0 0,02 0,13 0,04 12. Pandanus tectorius ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,02 0 0,06 13. Calotropis gigantea ASO 0,005 0,04 0,04 0,05 0,06 0 0,04 0 0,01 0 0,0050,04 Strata habitus bibit pohon, bibit semak, dan herba Bibit pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,19 0,14 0,10 0,08 0,08 0,07 0,03 0,14 0,04 0,08 0 0 2. Sonneratia spp. MAY 0,07 0 0,05 0 0,04 0 0,10 0 0 0 0,27 0,07 3. Rhizophora spp. MAY 0,18 0,09 0,07 0,15 0,10 0,11 0,06 0,08 0,35 0,12 0,03 0 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,05 0 0 0 0 0 0 0 0 0,08 0 0 0 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,12 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Bibit semak 9. Acanthus ilicifolius *) ASO 0,12 0,08 0 0 0 0,06 0,04 0,05 0,03 0,06 0,06 0,06 10. Acrostichum spp.*) MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,02 0,04 11. Derris trifoliata *) ASO 0,13 0,07 0 0 0 0,07 0,08 0 0 0,02 0,13 0,04 12. Pandanus tectorius *) ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,02 0 0,06 13. Calotropis gigantea ASO 0,05 0,03 0,03 0,05 0,07 0 0,01 0 0 0 0,01 0,04 Herba 14. Ipomoea pescaprae ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15. Sesuvium portulacastrum ASO 0,03 0,02 0 0 0,04 0,04 0,02 0,04 0,03 0,05 0 16. Rumput (Gramineae) **) ASO 0,17 0 0,08 0,05 0 0 0,04 0,07 0 0,12 0,33 0,43 0 0 17. Rumput liar lainnya laut selatan)ASO 0 0,08 0 0 0,09 0,08 0 0 0,04 0 0 0,04 18. Teki (Cyperaceae) laut selatan*)ASO 0,04 0 0 0 0,02 0 0,02 0,03 0,02 0 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 0,076 0,008 0,050 0,007 0,015 0,01 0 0,08 0,10 0,11 0,12 0,22 0,29 1,52 0 0 0 0 0 0,03 0,04 0,03 0,16 0 0,03 0,06 0,07 0,04 0,06 0,07 0,08 1,00 0,06 0 0 0 0 0 0 0 0,14 0 0,005 0 0 0,005 0 0 0 0,30

0 0 0,03 0 0,06 0 0 0,09 0 0 0,08 0,06 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,14 0,08 0,08 0 0 0 0 0 0 0 0 0,01 0 0,08 0,10 0 0 0 0 0 0,03 0,06 0,07 0,06 0 0 0 0 0,04 0 0

0 0,01 0 0 0 0,14 0 0 0,11 0 0,04 0 0,02

0,13 0,10 0,08 1,29 0,08 0,08 0,10 1,02 0,30 0,10 0,11 1,99 0 0 0 0,05 0 0,16 0,12 0,36 0 0,04 0,03 0,63 0 0,01 0,01 0,02 0,06 0,01 0,03 0,10 0,12 0,22 0,29 1,49 0,03 0,04 0,03 0,16 0,06 0,07 0,08 0,95 0 0 0 0,14 0 0 0 0,35

0,065 0,051 0,099 0,003 0,018 0,032 0,001 0,005 0,075 0,008 0,048 0,007 0,018

0,08 0,01 0,06 0,06 0,02 0 0 0 0 0 0,65 0 0 0 0,06 0 0,06 0,06 0,06 0 0 0 0 0,04 0

0 0 0 0,23 0,012 0 0 0 0,27 0,014 0 0 0 2,00 0,100 0,06 0 0 0,53 0,027 0 0,10 0,10 0,41 0,021

152

Tabel 10. Nilai penting spesies tumbuhan mangrove strata habitus pohon, strata habitus semak dan anak pohon, serta strata habitus herba, bibit semak, dan bibit pohon di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
PantaiUtara Pasar Bangi Pecangakan Cakrayasan Bogowonto Telukawur Kategori Nama Spesies PantaiSelatan Cingcingguling Muara Dua Bengawan Rata-rata 24 0,186 0,113 0,235 0,003 0,046 0,085 0,004 0,007 0,163 0,126 0,213 0,005 0,058 0,004 0,004 0,013

Sigrogol

Juwana

Motean

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Strata habitus pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,45 0,69 0,41 0,15 0,22 0,15 0,07 0,51 0,09 2. Sonneratia spp. MAY 0,19 0,04 0,1 0 0,09 0 0,08 0 0,06 3. Rhizophora spp. MAY 0,51 0,1 0,18 0,36 0,42 0,33 0,06 0,22 0,83 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,06 0 0 0 0 0 0,08 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Strata habitus anak pohon dan semak Anak pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,40 0,39 0,37 0,19 0,18 0,16 0,10 0,34 0,10 2. Sonneratia spp. MAY 0,19 0 0,13 0 0,10 0 0,21 0 0,09 3. Rhizophora spp. MAY 0,52 0,20 0,19 0,19 0,26 0,29 0,11 0,23 0,45 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,10 0 0 0 0 0 0,17 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0

12

13 14

15

16

17

18

19

20

21

22

0,42 0 0 0 0 0,1 0 0 0,18 0,16 0,11 3,71 0,06 0,6 0,18 0,13 0 0,04 0,27 0,1 0,12 0,13 0,07 2,26 0,33 0 0 0 0 0,25 0,1 0 0,63 0,17 0,21 4,70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,06 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,48 0,35 0,91 0 0,17 0 0 0,46 0,25 0,2 0,42 0 0,12 0,07 1,69 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,04 0,04 0,08 0 0 0 0 0 0 0 0 0,07 0,04 0,03 0,14

0,32 0 0 0 0 0,10 0 0 0,23 0,19 0,19 3,26 0,06 0,50 0,20 0,16 0 0 0,28 0,03 0,19 0,19 0,19 2,52 0,46 0,12 0 0 0 0,28 0,13 0 0,48 0,17 0,17 4,25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,52 0,47 1,16 0 0,19 0 0 0,34 0,20 0,19 0,34 0 0,10 0,07 0,08 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,04 0,04 0,08 0 0 0 0 0 0 0 0 0,14 0,04 0,07 0,25

Jumlah 23

Lukulo

Serang

Serayu

Wulan

Lasem

Bulak

Tritih

Tayu

Ijo

berlanjut

153

lanjutan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Semak 9. Acanthus ilicifolius ASO 0,33 0,18 0 0 0 0,14 0,18 0,17 0,10 10. Acrostichum spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0,03 11. Derris trifoliata ASO 0,29 0,12 0 0 0 0,15 0,18 0 0 12. Pandanus tectorius ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Calotropis gigantea ASO 0,14 0,13 0,13 0,17 0,2 0 0,13 0 0,04 Strata habitus bibit pohon, bibit semak, dan herba Bibit pohon 1. Avicennia spp. MAY 0,49 0,43 0,33 0,26 0,24 0,18 0,10 0,43 0,13 2. Sonneratia spp. MAY 0,23 0 0,17 0 0,11 0 0,22 0 0 3. Rhizophora spp. MAY 0,54 0,27 0,23 0,33 0,30 0,34 0,17 0,26 0,68 4. Excoecaria agallocha MIN 0 0 0 0 0 0 0,11 0 0 0 0 0 0,18 0 0 0 0 5. Aegiceras corniculatum MIN 0 6. Nypa fruticans MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7. Xylocarpus spp. MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8. Bruguiera spp. MAY 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Bibit semak 9. Acanthus ilicifolius *) ASO 0,31 0,18 0 0 0 0,14 0,13 0,17 0,1 10. Acrostichum spp.*) MIN 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11. Derris trifoliata *) ASO 0,29 0,12 0 0 0 0,15 0,18 0 0 12. Pandanus tectorius *) ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13. Calotropis gigantea ASO 0,17 0,10 0,13 0,17 0,20 0,12 0 0 Herba 14. Ipomoea pescaprae ASO 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15. Sesuvium portulacastrum ASO 0,10 0,07 0 0 0,11 0,11 0,07 0,11 0,10 0 0,13 0,20 0 16. Rumput (Gramineae) **) ASO 0,23 0 0,15 0,11 0 ASO 0 0,13 0 0 0,16 0,15 0 0 0,11 17. Rumput liar lainnya laut selatan) 0 0 0,07 0 0,07 0,10 0,07 18. Teki (Cyperaceae) laut selatan*) ASO 0,13 0 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 0,175 0,026 0,109 0,022 0,075 0,17 0,20 0,17 0,06 0 0,18 0,22 0,25 0,23 0,39 0,52 3,49 0 0,10 0,08 0 0 0 0 0 0,07 0,13 0,10 0,51 0,07 0,23 0,11 0 0,07 0,14 0,18 0,11 0,14 0,18 0,21 2,18 0,07 0 0,20 0,17 0 0 0 0 0 0 0 0,44 0 0,09 0,13 0 0,17 0 0 0,17 0 0 0 1,50

0,32 0 0 0 0 0,1 0 0 0,32 0,25 0,21 3,79 0 0,58 0,20 0,20 0 0 0,30 0,04 0,21 0,21 0,25 2,72 0,46 0,1 0 0 0 0,32 0,20 0,62 0,25 0,28 1,15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,50 0,37 1,05 0 0,23 0 0 0,35 0,21 0,21 0,35 0 0,11 0,07 1,53 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,04 0,04 0,08 0 0 0 0 0 0 0 0 0,14 0,04 0,07 0,25 0,17 0,20 0,17 0,06 0 0,18 0,22 0,25 0,23 0,39 0,51 3,41 0 0,20 0,08 0 0 0 0 0 0,07 0,13 0,1 0,58 0,07 0,23 0,05 0 0,07 0,14 0,18 0,11 0,14 0,18 0,21 2,12 0,07 0 0,17 0,17 0 0 0 0 0 0 0 0,41 0 0,06 0,13 0 0,16 0 0 0,10 0 0 0 0,57 0 0 0 0,21 0,04 0,14 0,14 0,07 0 0 0 0,60 0,14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,81 0,23 0,61 0,55 0,83 0 0 0 0,20 0 0 0 3,24 0 0 0 0 0,14 0,17 0,20 0 0,20 0 0 1,26 0 0 0,08 0 0 0 0,08 0 0 0,14 0,14 0,88

0,190 0,136 0,058 0,006 0,053 0,077 0,004 0,013 0,171 0,029 0,106 0,021 0,029 0,030 0,041 0,162 0,063 0,044

154

Keterangan: MAY = mayor, MIN = minor, ASO = asosiasi *) Umumnya berkembangbiak secara vegetatif, sedangkan perkembangbiakan secara generatif cenderung kurang berarti. **) Rumput (Gramineae) meliputi: Cynodon dactylon, Paspalum spp., Phragmites karka; Spinifex littoreus laut selatan) Rumput liar lain: belum teridentifikasi. laut selatan*) Teki (Cyperaceae) meliputi: Cyperus spp., Fimbristylis ferruginea; Scirpus spp.

155

Dalam analisis vegetasi tumbuhan berhabitus pohon yang tercakup sebanyak 8 spesies, semak 5 spesies, adapun herba 5 spesies/kelompok spesies. Kedelapan tumbuhan berhabitus pohon tersebut adalah Avicennia spp., Sonneratia spp., Rhizophora spp., Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, N. fruticans, Xylocarpus spp., dan Bruguiera spp. Kelima tumbuhan berhabitus semak tersebut adalah A. ilicifolius, Acrostichum spp., D. trifoliata, Pandanus tectorius, dan C. gigantea. Adapun kelima tumbuhan berhabitus herba tersebut adalah Ipomoea pes-caprae, Sesuvium portulacastrum, kelompok rumput, rumput liar lain (belum teridentifikasi), serta kelompok teki. Kelompok rumput (Gramineae) meliputi: Cynodon dactylon, Paspalum spp., Phragmites karka; Spinifex littoreus, sedangkan kelompok teki (Cyperaceae) meliputi: Cyperus spp., Fimbristylis ferruginea; Scirpus spp. Tidak semua spesies yang tercakup dalam analisis vegetasi memiliki nilai penting cukup besar, beberapa di antaranya memiliki nilai penting sangat rendah karena penyebarannya yang terbatas dan/atau nilai penutupannya yang kecil, sehingga pengaruhnya terhadap ekosistem relatif dapat diabaikan. Pada habitat yang terfragmentasi, kebanyakan spesies berada pada populasi yang memiliki ciri-ciri tersendiri, mereka dihubungkan oleh migrasi. Lingkungan memperlihatkan dinamika tertentu akibat disturbansi dan suksesi komunitas tumbuhan (Stacey dan Taper, 1992; Crawley, 1997). Selama perubahan kondisi ekologi ini, lokasi boleh jadi kurang sesuai untuk spesies tertentu, sebaliknya sangat cocok bagi spesies pendatang. Dalam kondisi ini banyak komunitas berada dalam suatu kesetimbangan antara pemunahan populasi lokal

156

dan pemantapan populasi baru, yakni mereka tinggal di metapopulasi (Hanski dan Gilpin, 1997).

a) Strata Pohon Dalam penelitian ini nilai penting paling besar ditemukan pada Rhizophora spp. (0,235), disusul Avicennia spp. (0,186) dan Sonneratia spp. (0,113). Ketiga spesies ini merupakan tumbuhan mangrove mayor yang biasa mendominasi kawasan mangrove. Dalam penelitian ini penyebaran ketiganya cukup merata, baik di pantai utara maupun selatan. Nilai penting terbesar berikutnya adalah N. fruticans (0,085), diikuti A. corniculatum (0,046) dan Bruguiera spp. (0,007). N. fruticans memiliki nilai penting cukup tinggi karena mampu membentuk tegakan murni melalui perkembangbiakan vegetatif yang mendominasi tempat-tempat tertentu pada batas antara ekosistem laut dan tawar. Vegetasi ini membentuk massa yang dominan di Cingcingguling, Ijo, Bengawan, dan Serayu. Ketiadaan atau sedikitnya spesies tumbuhan mangrove lain akibat penebangan oleh penduduk, serta pemeliharaan N. fruticans untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti sebagai penahan tanah dari abrasi serta untuk dipanen buah dan daunnya, boleh jadi menyebabkan kesuksesan tumbuhan ini dibandingkan tumbuhan mangrove lain di kawasan tersebut. Dua spesies yang memiliki nilai penting paling kecil adalah E. agallocha (0,003) dan Xylocarpus spp. (0,004). Keduanya memiliki distribusi sangat terbatas. E. agallocha hanya ditemukan di Juwana, sedangkan Xylocarpus spp. hanya ditemukan di Motean dan Muara Dua, keduanya di Segara Anakan.

157

b) Strata Semak dan Anak Pohon Semak dan anak pohon memiliki habitus dan strata yang cenderung serupa, sehingga memiliki peran ekologi yang diperkirakan sama. Dalam penelitian ini anak pohon yang memiliki nilai penting tinggi merupakan genus yang sama dengan pohon, yaitu Rhizophora spp. (0,213), Avicennia spp. (0,163) dan Sonneratia spp. (0,126). Hal ini sangat wajar mengingat hanya pohon-pohon yang telah mapan yang mampu beregenerasi melahirkan keturunan dengan jumlah melimpah, meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya suplai baru dari luar kawasan. Dalam penelitian ini rata-rata nilai penting anak pohon tidak berbeda jauh dengan rata-rata nilai penting pohon, sehingga diperkirakan kelestarian spesies pohon akan bertahan dalam jangka waktu lama, selama kondisi lingkungan tidak mengalami perubahan yang drastis. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa di dalam ekosistem tersebut terjadi disturbansi, tegakan tidak atau belum mencapai klimaks, sehingga memberi kesempatan tumbuhnya tumbuhan muda. Pada kondisi klimaks biasanya bibit pohon akan mulai mati pada saat mencapai umur anak pohon, mengingat pada kondisi ini terjadi kompetisi dengan tumbuhan dewasa, khususnya untuk memperebutkan ruang dan cahaya matahari. Adapun dalam kondisi masih berupa bibit, tumbuhan biasanya masih dapat bertahan karena adanya sisa-sisa cadangan makanan dari biji dan ruang yang cukup, meskipun dengan cahaya matahari yang terbatas karena berada di bawah naungan pepohonan. Semak dengan rata-rata nilai penting paling tinggi dimiliki oleh A. ilicifolius (0,175), diikuti oleh D. trifoliata (0,109). Kedua tumbuhan ini dapat

158

berkembangbiak secara vegetatif membentuk massa lebat yang menghambat pertumbuhan spesies lain. Pada kawasan terbuka akibat penebangan hutan, sebagaimana banyak terjadi di Segara Anakan, keduanya dapat tumbuh lebat dan mendominasi kawasan tersebut. Hal ini merupakan langkah awal proses suksesi sekunder. Keduanya juga tumbuh pada tanah akresi yang baru terbentuk, sebagai langkah awal proses suksesi primer, misalnya di Segara Anakan dan Wulan. Semak lain memiliki nilai penting sebagai berikut: C. gigantea (0,075), Acrostichum spp. (0,026), dan P. tectorius (0,022). P. tectorius merupakan bagian dari formasi hutan pantai yang umumnya ditemukan pada kawasan berpasir dan kering. Adapun C. gigantea merupakan tumbuhan dataran kering dengan penyebaran sangat luas, termasuk di kawasan pedalaman pulau Jawa. Kemampuan keduanya beradaptasi terhadap salinitas dan kekeringan menyebabkan mampu tumbuh sebagai tumbuhan asosiasi mangrove. Keduanya sering ditemukan pada pematang tambak yang keras dan kering. Sebaliknya Acrostichum spp., sebagai tumbuhan mangrove minor, hanya mampu tumbuh pada tanah mangrove yang becek (water logged).

c) Strata Herba, Bibit Pohon dan Bibit Semak Herba memiliki habitus serupa dengan bibit pohon dan bibit semak, sehingga secara ekologi diperkirakan memiliki peranan yang sama pula. Besarnya nilai penting bibit pohon, tidak berbeda jauh dengan nilai penting anak pohon dan pohon. Avicennia spp. (0,190), Sonneratia spp. (0,136), dan Rhizophora spp. (0,058) memiliki nilai penting yang cukup tinggi, sehingga dalam jangka panjang

159

diperkirankan kelestariannya akan terjaga. Nilai penting bibit Rhizophora spp. yang lebih kecil dari kedua genus lainnya disebabkan bentuk kanopi bibit pohon ini relatif lurus ke atas, dengan proyeksi ke permukaan tanah lebih sempit sehingga nilai penutupan lebih kecil untuk jumlah individu bibit yang sama. Strata bibit pohon lainnya yang memiliki nilai penting cukup tinggi adalah N. fruticans (0,077). Hal ini terjadi karena tumbuhan tersebut mampu berkembangbiak secara vegetatif membentuk tegakan murni, di samping mampu pula berkembang biak secara generatif. Besarnya nilai penting bibit semak hampir sama dengan nilai penting semak. Hal ini boleh jadi disebabkan hampir semua tumbuhan semak yang ada dapat berkembangbiak secara vegetatif. Dari lima spesies semak tersebut, hanya C. gigantea yang tidak dapat berkembangbiak secara vegetatif. Sebaliknya Acrostichum spp. dan D. trifoliata perkembangbiakan secara vegetatif jauh lebih maju daripada perkembangbiakan secara generatif. Dalam penelitian ini kelompok herba yang memiliki nilai penting terbesar adalah rumput (rata-rata keseluruhan 0,162), diikuti rumput liar lain (rata-rata keseluruhan 0,063), dan teki (rata-rata keseluruhan 0,044). Adapun dua spesies sisanya adalan I. pes-caprae (0,030) dan Sessuvium portulacastrum (0,041). Kelima spesies/kelompok spesies tersebut memiliki penyebaran yang relatif merata, baik di pantai utara maupun selatan, kecuali I. pes-caprae yang dalam penelitian ini hanya dijumpai di pantai selatan. Spesies ini merupakan bagian dari formasi hutan pantai yang umumnya hanya tumbuh di kawasan pantai berpasir yang kering, sehingga tidak dijumpai di lokasi penelitian di pantai utara yang

160

umumnya berupa kawasan pantai didominasi lumpur. Penelitian Suranto dkk. (2000) menunjukkan bahwa di pantai utara Tuban yang berpasir dan kering terdapat komunitas tumbuhan I. pes-caprae. Secara umum strata pohon yang sekaligus memiliki strata anak pohon dan bibit pohon, serta strata semak yang sekaligus memiliki strata bibit semak, apabila diperbandingkan dalam satu spesies yang sama maka nilai pentingnya cenderung tetap. Kondisi ini merupakan sinergi dari banyak faktor mulai dari faktor biotik, abiotik, dan sosial budaya masyarakat yang telah mapan, sehingga diperkirakan kelestarian tumbuhan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa dalam jangka panjang akan lestari.

2. Diagram Profil Vegetasi Dalam penelitian ini, tidak semua spesies yang dijumpai di area penelitian tercakup dalam diagram profil vegetasi, mengingat metode yang digunakan adalah belt transect, sehingga kawasan yang dicakup relatif terbatas, serta hanya dilakukan (0-60 m) di sekitar bibir pantai atau bibir muara sungai. Dalam penelitian ini ditemukan delapan spesies pohon dan semak yang memberi bentuk pada profil vegetasi, tediri dari tujuh spesies berhabitus pohon, termasuk satu palem, dan satu spesies berhabitus semak. Sebanyak lima spesies tergolong dalam kategori tumbuhan mangrove mayor, dan tiga tumbuhan mangrove minor (Tabel 11). Adapun gambar profil vegetasi dari keduapuluh lokasi penelitian disajikan pada Gambar 15. Dalam penelitian ini hanya ditunjukkan satu dari tiga gambar untuk setiap lokasi mengingat keterbatasan halaman.

161

Tabel 11. Kenekaragaman spesies tumbuhan yang memberi bentuk diagram profil vegetasi. Nama spesies 1. Avicennia spp. 2. Sonneratia spp. 3. Rhizophora spp. 4. Excoecaria agallocha 5. Aegiceras corniculatum 6. Nypa fruticans 7. Xylocarpus spp. 8. Bruguiera spp. Habitus Pohon Pohon Pohon Pohon Semak Pohon/palem Pohon Pohon Kategori Mayor Mayor Mayor Minor Minor Mayor Minor Mayor

162

berlanjut

163 lanjutan

berlanjut

164 lanjutan

berlanjut

165 lanjutan

berlanjut

166 lanjutan

167 Gambar 15. Diagram vertikal dan horizontal profil vegetasi di 20 lokasi di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A. Wulan, B. Sigrogol, C. Serang, D. Bulak, E. Telukawur, F. Tayu, G. Juwana, H. Pecangakan, I. Pasar Bangi, J. Lasem, K. Bogowonto, L. Cakrayasan, M. Lukulo, N. Cincingguling, O. Ijo, P. Bengawan, Q. Serayu, R. Tritih, S. Motean, T. Muara Dua; 1. Avicennia spp., 2. Sonneratia spp., 3. Rhizophora spp., 4. Excoecaria agallocha, 5. Aegiceras, 6. Nypa fruticans, 7 (-), 8. Xylocarpus spp., 9. Bruguiera spp.; Sumbu panjang: x = 60 m, sumbu pendek: y = 10 m, sumbu tegak: z = 20 m.

168

a) Diagram Horizontal (Preferensi Habitat; Zonasi) Kedelapan spesies yang ditemukan dalam penelitian ini mengindikasikan adanya variasi yang luas pada habitat mangrove di Jawa Tengah. Tumbuhan mangrove tersebut tidak sepenuhnya membentuk zonasi berdasarkan toleransinya terhadap periode penggenangan dan salinitas, sebagaimana pendapat umum yang dipegang banyak peneliti (e.g. de Haan dalam Steenis, 1958). Dalam penelitian ini, mangrove dijumpai tumbuh baik pada tepian garis pantai (marine environment) maupun tepian bibir muara sungai (riverine environment). Oleh karena itu bagian terdepan dari vegetasi mangrove (0-60 m dari bibir pantai atau bibir muara sungai) tidak selalu didominasi tiga besar tumbuhan mangrove mayor, yakni Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp., namun dapat pula berisi N. fruticans yang secara tradisional dinyatakan sebagai tumbuhan rawa burit (back swamp), yang biasa tumbuh di garis belakang ekosistem mangrove, berbatasan dengan perairan tawar dan daratan (Tomlison, 1986; Steenis, 1958; 1965). Pada lingkungan yang cocok, terdapat pasir dan lempung, N. fruticans dapat menjadi tumbuhan utama pada tepi sungai atau laguna (Ng dan Sivasothi, 2001). Pada beberapa lokasi penelitian tumbuhan ini ditemukan tumbuh pada perbatasan dengan area persawahan, yang pada masa lalu diperkirakan merupakan area rawa burit. Di Cingcingguling dan Serayu, tumbuhan ini ditemukan baik pada bibir muara sungai yang terpengaruh langsung oleh arus pasang surut, maupun pada area persawahan yang jauh dari pantai dan relatif tidak terpengarung arus pasang-surut karena adanya tanggul-tanggul buatan. Tumbuhan ini membentuk kantung-kantung yang rimbun di antara persawahan yang ditanami padi. Tidak

169

terbentuknya zonasi, diperkirakan merupakan akibat dari besarnya pengaruh antropogenik, sehingga tumbuhan mangrove tidak lagi dapat tumbuh secara alami, tetapi keberadaannya menjadi bagian dari kultur yang dikembangkan masyarakat, seperti pantai utara Jawa dengan intensitas kegiatan manusia yang tinggi; atau sekurang-kurangnya merupakan bentuk adaptasi terhadap aktivitas manusia, seperti Segara Anakan dengan intensitas kegiatan manusia lebih rendah. Meskipun demikian, Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp., baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, hampir selalu dijumpai dalam plot penelitian. Hal ini wajar mengingat ketiganya merupakan tumbuhan mangrove mayor yang selalu berada di garis terdepan berhadapan dengan garis pantai atau muara sungai, serta terkena pengaruh fluktuasi arus pasang surut yang menyebabkan variasi genangan dan salinitas. Berbeda halnya dengan Bruguiera spp., meskipun termasuk tumbuhan mangrove mayor, tetapi umumnya hanya dijumpai pada arah daratan yang cenderung lebih kering, bahkan di belakang tanggul-tanggul buatan maupun alami, dengan fluktuasi pasang surut yang lebih rendah, tanah demikian kadar garamnya cenderung tinggi karena adanya penguapan. Dalam penelitian ini Bruguiera spp. hanya ditemukan di Muara Dua dan Tritih, yang terletak di kawasan laguna Segara Anakan. Suatu kawasan mangrove yang sedang mengalami suksesi menuju ekosistem daratan akibat tingginya laju sedimentasi. Di Tritih, yang merupakan ekosistem mangrove buatan, spesies ini ditanam pada pematang jalan yang pada akhirnya menjadi sarang kepiting lumpur (Thalassina anomala) akibat kurangnya perawatan. Sarang kepiting ini berupa gundukan-gundukan tanah dengan tinggi 1-1,8 m.

170

Sonneratia spp. dan Rhizophora spp. dapat ditemukan di pantai utara maupun selatan, namun preferensi Sonneratia spp. terhadap tanah berpasir menyebabkannya tersebar luas di pantai selatan, sedangkan preferensi Rhizophora spp. terhadap tanah berlumpur menyebabkannya tersebar luas di pantai utara. Hal ini sejalan dengan kenyataan umum bahwa pantai selatan Jawa didominasi pasir, sedangkan pantai utara didominasi lumpur (Steenis, 1958; 1965; Whitten dkk., 2000). Secara umum, Avicennia dan Sonneratia dapat hidup dengan baik pada tanah berpasir, sedangkan Rhizophora lebih menyukai lumpur lembut yang kaya humus, adapun Bruguiera menyukai tanah lempung yang mengandung sedikit bahan organik (Ng dan Sivasothi, 2001). Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, dan Xylocarpus spp. merupakan tumbuhan mangrove minor, umumnya tumbuh pada arah daratan, jauh dari fluktuasi genangan pasang-surut, namun dalam penelitian ini dapat dijumpai pada barisan terdepan, berbatasan langsung dengan bibir pantai atau muara sungai. Hal ini merupakan akibat terjadinya pengeringan area mangrove, baik secara sengaja maupun secara alami. Pengeringan area mangrove secara buatan umumnya terkait dengan pembuatan tambak atau sawah. Tumbuhan mangrove dapat menginvasi pematang/tanggul atau bahkan sengaja ditanam di tempat tersebut untuk memperkuatnya, misalnya E. agallocha di Juwana. Spesies-spesies ini juga dapat tumbuh pada tanah yang mengering karena naiknya permukaan tanah akibat sedimentasi pada musim banjir atau pada gundukan-gundukan tanah yang dibuat kepiting lumpur, misalnya Xylocarpus spp. dan A. corniculatum di Segara Anakan.

171

b) Diagram Vertikal (Stratifikasi Kanopi) Dalam penelitian ini secara keseluruhan dapat ditemukan empat strata kanopi, dengan pohon tertinggi sekitar 18 m, namun pada masing-masing lokasi umumnya hanya memiliki dua strata kanopi. Penentuan jumlah strata seringkali lebih merupakan keputusan pribadi peneliti daripada kriteria yang obyektif (Grubb dkk., 1963). Dalam penelitian ini, stratifikasi ditentukan berdasarkan modus tinggi kanopi. Di lapangan tinggi strata sangat terkait dengan spesies dan umur pohon. Setiap spesies memiliki tinggi maksimum yang berbeda-beda, selanjutnya mengingat jumlah spesies pohon yang hadir sangat terbatas, maka seringkali perbedaan ketinggian strata lebih disebabkan umur pohon daripada spesies pohon. Dalam hal ini kanopi spesies yang sama terletak pada strata yang berbeda (Baker dan Wilson, 2000). Dalam penelitian ini, strata pertama terdiri dari pohon dan semak dengan tinggi 2-6 m, strata berikutnya hanya berupa pohon, yakni strata kedua 7-10 m, strata ketiga 11-14 m, dan strata keempat 15-18 m. Tingkat kerusakan vegetasi atau sebaliknya tingkat kelestarian dan pemeliharaan vegetasi mangrove mempengaruhi jumlah strata yang terbentuk, di samping faktor-faktor lingkungan fisik, seperti jenis tanah dan iklim. Wulan (Gambar 15A) merupakan lokasi dengan jumlah strata kanopi paling banyak, keempat strata di atas semuanya hadir, dengan spesies tumbuhan Avicennia spp. dan sebagian kecil Rhizophora spp. Panjang vegetasi ini mencapai lebih dari 60 m dari bibir muara sungai. Kawasan yang diteliti merupakan bekas tambak yang ditinggalkan dan mengalami regenerasi mangrove kembali, sehingga terdapat pohon dari yang berusia paling muda hingga pohon tua yang pada masa

172

lalu disisakan sebagai naungan dan penahan tanggul. Pada lokasi yang dulunya merupakan badan tambak, pepohonan telah mencapai strata pertama dan kedua. Pepohonan ini diperkirakan tumbuh secara bersamaan pada saat tambak tersebut ditinggalkan sehingga memiliki ketinggian yang relatif sama. Tambak yang ditinggalkan merupakan fenomena umum di pantai utara Jawa akibat perubahan kondisi hidrologi, edafik (tanah belerang asam), penyakit, dan pencemaran lingkungan. Sigrogol (Gambar 15B) memiliki sejumlah kecil mangrove yang hampir mencapai kondisi klimaks. Panjang vegetasi ini mencapai sekitar 60 m dari bibir muara sungai. Tumbuhan mangrove di area ini hanya terdiri dari Avicennia spp. dan berhasil tumbuh hingga usia tua karena menjadi penyangga tanggul-tanggul di bibir muara sungai dan pantai. Pepohonan yang ada hampir semuanya berada pada strata ketiga. Hal ini menimbulkan dugaan adanya kesengajaan pada saat penanamannya dahulu, namun berdasarkan letak pancang batang pohon di tanah yang cenderung tidak membentuk pola tertentu, maka pepohonan ini kemungkinan tumbuh secara alamiah namun dijaga kelestariannya dan terpelihara. Kondisi pepohonan yang mendekati klimaks, menyebabkan lantai hutan relatif bersih dari herba, semak, maupun anak pohon, karena adanya kompetisi yang kuat dari tumbuhan dewasa dalam hal ruang, cahaya matahari, dan unsur nutrien. Serang (Gambar 15C) memiliki vegetasi mangrove dalam kondisi muda. Vegetasi ini secara monokultur tersusun atas Avicennia spp., dengan dua strata, yakni strata pertama dan kedua. Panjang vegetasi ini hanya sekitar 30 m dari bibir pantai, lahan selanjutnya merupakan area pertambakan ikan bandeng. Area

173

kosong di antara kanopi ditumbuhi bibit Avicennia, sedangkan area kosong ke arah darat merupakan tambak ikan. Bulak (Gambar 15E) memiliki vegetasi mangrove monokultur Rhizophora spp. yang tersusun atas satu strata, yakni strata kedua. Vegetasi ini tumbuh rapat dengan jarak yang relatif teratur. Hal ini merupakan hasil restorasi sejak beberapa tahun sebelumnya untuk menahan laju abrasi. Rapatnya penanaman tumbuhan ini menyebabkan hampir tidak ada celah kanopi di antara pepohonan, namun panjang vegetasi ini hanya sekitar 20 m dari bibir pantai, lahan selanjutnya ke arah darat merupakan tambak udang. Terdapat beberapa individu Avicennia spp., yang tumbuh kerdil di pematang-pematang tambak. Telukawur (Gambar 15E) memiliki vegetasi dengan dua strata, yaitu strata pertama dan kedua. Tumbuhan yang hadir adalah Avicennia spp., Rhizophora spp., dan A. corniculata. Mengingat penampakannya yang teratur, Rhizophora spp. kemungkinan merupakan hasil penanaman, sedangkan Avicennia spp. dan A. corniculata tumbuh secara liar. Pada arah laut terdapat area tanpa kanopi yang merupakan bekas tambak dan selalu becek, sedangnya pada arah daratan terdapat area kosong di sela-sela A. corniculata yang didominasi rerumputan. Area ini merupakan tanah daratan yang kering. Muara sungai Tayu (Gambar 15F) yang langsung berhadapan dengan laut Jawa memiliki vegetasi mangrove dalam jumlah sangat terbatas. Di sepanjang pantai Tayu vegetasi mangrove hampir sepenuhnya dibersihkan dari tepian pantai. Masyarakan tidak terlalu peduli dengan kelestariannya, mengingat secara fisik abrasi pantai tidak mengancam kawasan ini, bahkan kawasan pantai timur Tayu

174

merupakan area pengendapan lumpur dari banyak sungai kecil. Vegetasi mangrove di tempat ini tebalnya hanya sekitar 10-20 m, didominasi oleh Avicennia spp. dan Rhizophora spp. Pertumbuhannya juga masih sangat muda, bahkan hanya terdiri dari strata pertama saja. Area ke arah daratan telah diubah menjadi tambak ikan. Sama halnya dengan Tayu, vegetasi mangrove di Juwana (Gambar 15G), sangat terbatas, umumnya hanya terletak di tepi sungai Juwana dengan tebal hanya sekitar 10 m, didominasi oleh Avicennia spp. dan Sonneratia spp. Pertumbuhannya juga masih sangat muda, hanya terdiri dari strata pertama saja. Area ke arah daratan telah diubah menjadi tambak ikan. Kondisi dan penggunaan lahan di Juwana dan Tayu relatif sama mengingat kedua kawasan pesisir pantai ini letaknya bersambungan. Pecangakan (Gambar 15H) memiliki area mangrove yang agak luas di bibir muara sungai yang sekaligus berhadapan langsung dengan laut Jawa. Diagram profil vegetasinya didominasi oleh Avicennia spp. secara monokultur. Hal ini terjadi karena adanya upaya penanaman mangrove untuk menjebak lumpur dan memperluas area mangrove ke arah laut yang selanjutnya dapat diubah menjadi tambak ikan. Tebal vegetasi ini sekitar 30 m, dengan dua strata, yaitu pertama dan kedua. Pasar Banggi (Gambar 15-I) merupakan kawasan pantai yang relatif jauh dari aliran sungai besar. Ke arah laut kawasan ini bertanahkan pasir putih sisa-sisa hancuran koral, sedangkan ke arah daratan bertanahkan lumpur dari aliran permukaan. Kawasan ini memiliki area mangrove yang dikelola oleh masyarakat

175

dan pemerintah setempat sehingga relatif terjaga dari kehancuran. Tumbuhan yang hadir meliputi Avicennia spp., Sonneratia spp. dan Rhizophora spp. Tumbuhan terakhir ini relatif dominan karena merupakan hasil restorasi beberapa tahun sebelumnya, sehingga cenderung rapat dan teratur, baik jarak tanam maupun ketinggiannya. Di arah laut yang bertanah pasir tumbuh Sonneratia spp., sedangkan Avicennia spp. terdapat di arah daratan. Diagram profil vegetasi memiliki dua strata yaitu strata pertama dan kedua, dengan tebal vegetasi sekitar 40-50 m. lahan tanpa vegetasi di arah daratan merupakan area tambak garam. Rapatnya penanaman Rhizophora spp. menyebabkan hampir tidak ada celah kanopi di antara pepohonan. Lasem (Gambar 15-J) menyisakan vegetasi mangrove yang agak baik di sepanjang tepian sungai-sungai kecil. Vegetasi ini didominasi oleh Rhizophora spp. yang merupakan hasil penanaman untuk memperkuat tepian sungai kecil tersebut, sehingga cenderung memiliki penampilan seragam. Diagram profil vegetasi menunjukkan hanya terdapat strata pertama saja. Area mangrove ini memanjang mengikuti garis tanggul sungai. Area kosong di antara kanopi merupakan bagian tepian sungai yang tidak bervegetasi. Bogowonto (Gambar 15K) memiliki vegetasi mangrove yang secara alamiah didominasi oleh Sonneratia spp. Hal ini merupakan akibat dari tanahnya yang berpasir-lempung. Di samping itu terdapat pula Nypa fruticans yang tumbuh alami dan sejumlah kecil Rhizophora spp. yang merupakan hasil introduksi. Diagram profil hutan menunjukkan adanya dua strata, yaitu strata pertama dan kedua. Vegetasi ini cukup panjang karena mengikuti sungai kecil di dalamnya.

176

Kuatnya angin dari laut selatan, tampaknya menyebabkan pepohonan dewasa di lingkungan ini relatif pendek. Lahan tanpa kanopi di dalam diagram profil didominasi rerumputan. Kawasan mangrove ini merupakan area merumput ternak kerbau penduduk setempat. Cakrayasan (Gambar 15L) menyisakan sedikit sekali vegetasi mangrove, dengan panjang hanya sekitar 10 m. Sama halnya dengan Bogowonto, vegetasi ini secara alamiah didominasi oleh Sonneratia spp., mengingat tipe tanahnya yang berpasir-lempung. Diagram profil vegetasi menunjukkan adanya strata pertama saja. Area tanpa pohon pada arah ke daratan merupakan padang gembalaan ternak penduduk, yang pada musim hujan kadang-kadang ditanami padi. Lukulo (Gambar 15M) hampir tidak menyisakan lagi vegetasi mangrove. Kawasan mangrove yang ada hanya menyisakan beberapa batang pohon Sonneratia spp., dikelilingi dataran rumput yang menjadi area penggembalaan sapi penduduk. Upaya restorasi ekosistem mangrove beberapa tahun sebelumnya di kawasan ini dengan menanam beberapa spesies mangrove tidak berhasil, kemungkinan karena perumputan oleh ternak, di samping kesalahan pemilihan spesies yang ditanam. Cingcingguling (Gambar 15N) hanya menyisakan N. fruticans sebagai penyusun vegetasi mangrove. Palem ini tumbuh secara monokultur membentuk tegakan murni karena mampu berkembangbiak secara vegetatif dengan membentuk rhizhoma. Vegetasi ini hanya mencakup strata pertama saja. Panjang vegetasi sekitar 30-40 m. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan baik terhadap kondisi perairan tawar sehingga ditemukan sebagai kantung-kantung mangrove di

177

antara lahan persawahan. Lahan tanpa penutupan kanopi pada diagram profil merupakan sawah. Ijo (Gambar 15-O) memiliki lingkungan mangrove dengan spesies tumbuhan lebih bervariasi, pada diagram profil tercakup Avicennia spp., Rhizophora spp., dan N. fruticans. Pada arah bibir sungai terdapat dominasi Rhizophora spp., sedangkan pada arah daratan terdapat dominasi N. fruticans. Vegetasi didominasi tumbuhan muda dengan strata pertama saja. Panjang vegetasi sekitar 30 m. Area tanpa penutupan kanopi pohon merupakan lahan kosong/terbuka atau lahan tegalan yang dibiarkan merana, pada beberapa tempat ditumbuhi Achantus ilicifolius.. Bengawan (Gambar 15P) memiliki habitat mangrove dengan dominasi Sonneratia spp. dan N. fruticans. Pada arah arah bibir sungai terdapat dominasi Sonneratia spp. sedangkan pada arah daratan terdapat dominasi N. fruticans. Vegetasi ini hanya terdiri dari strata pertama saja, dengan panjang vegetasi sekitar 30 m. Sama halnya dengan Ijo, area tanpa penutupan kanopi pohon merupakan lahan kosong/terbuka atau lahan tegalan yang tidak dikelola secara intensif. Serayu (Gambar 15Q) memiliki habitat mangrove yang hanya ditumbuhi Sonneratia spp. dan N. fruticans. Palem ini cenderung tumbuh secara monokultur dan mendominasi area, namun pada tempat-tempat tertentu terdapat Sonneratia spp. yang tumbuh menjulang ke atas. Panjang vegetasi hanya sekitar 20-30 m, dengan dua strata, yaitu strata pertama dan kedua. Lahan tanpa penutupan kanopi pada diagram profil merupakan sawah.

178

Tritih (Gambar 15R) merupakan area wisata mangrove buatan, yang pada akhirnya cenderung dibiarkan tumbuh alami. Jajaran pepohonanya yang rapat dan teratur menunjukkan bahwa tegakan ini merupakan hasil campur tangan manusia. Kawasan yang berbatasan dengan bibir laguna didominasi Avicennia spp. yang sebagian tumbuh secara alami, sedang area pada arah daratan didominasi oleh Rhizophora spp. yang merupakan hasil penanaman. Pada tanggul-tanggul yang semula dibuat untuk mengatur drainase dan jalan pengunjung ditanam Bruguiera spp. Sebagian tanggul ini sering dibongkar kepiting lumput untuk bersarang. Diagram profil menunjukkan adanya dua strata, yaitu strata pertama dan kedua, dengan panjang 60 m, memenuhi seluruh plot. Area kosong tanpa penutupan vegetasi umumnya merupakan tanggul buatan. Motean (Gambar 15S) dan Muara Dua (Gambar 15T) sama-sama merupakan vegetasi mangrove yang pernah mengalami kerusakan berat akibat penebangan hutan. Spesies mangrove yang hadir adalah Avicennia spp., Sonneratia spp., Rhizophora spp. dan A. corniculata. Di Motehan yang berdekatan dengan pulau Nusakambangan terdapat pula Bruguiera spp. Keberadaan A. corniculata cukup menyolok mengingat kawasan ini sedang dalam tahapan suksesi sekunder. Area kosong tanpa penutupan vegetasi pohon atau semak, pada kenyataannya didominasi A. ilicifolius.

c) Pengaruh Antropogenik Diagram profil vegetasi secara vertikal dan horizontal menunjukkan tingginya pengaruh antropogenik terhadap kawasan mangrove di pesisir Propinsi

179

Jawa Tengah. Dari 20 lokasi penelitian, hampir tidak ditemukan lagi lokasi dengan pepohonan dalam kondisi klimaks, yakni ekosistem yang didominasi oleh tumbuh-tumbuhan berusia tua, kebanyakan berada dalam tahapan suksesi sekunder, dengan dominasi pohon-pohon muda, setelah kerusakan hutan yang umumnya disebabkan oleh penebangan hutan. Gambar-gambar diagram profil vegetasi menunjukkan tingginya dominasi tumbuhan muda (tinggi < 10 m), serta cukup banyak ditemukan anak pohon (è < 10 cm). Diagram profil dengan kondisi mendekati klimaks, hanya ditemukan di Sigrogol. Kawasan ini merupakan tepian sungai yang dijaga kelestariannya oleh penduduk untuk melindungi tebing sungai dari erosi akibat gelombang laut. Diagram profil vegetasi menunjukkan adanya ruang-ruang kosong di antara kanopi. Area kosong ini dapat berisikan tumbuhan dengan strata herba, bibit (seedling) pohon dan bibit semak, namun dapat pula berupa lahan yang betul-betul kosong tanpa vegetasi (Jw: bera). Sedangkan area kosong pada arah menuju daratan umumnya merupakan lahan yang telah dikonversi untuk kegunaan lain seperti sawah dan tambak. Secara ekologi, celah di antara kanopi tumbuhan yang satu dengan lainnya (canopy gap), sangat penting untuk mengelola keanekaragaman hayati di habitat tersebut. Celah kanopi tersebut memberi kesempatan bagi sinar matahari untuk mencapai lantai hutan, sehingga memungkinkan pertumbuhan bibit dan anakan pohon. Bibit pohon umumnya masih dapat bertahan hidup pada kondisi ternaungi oleh pohon dewasa, karena masih adanya persediaan makanan dari hipokotil, namun anakan pohon akan mati tanpa adanya celah kanopi, karena kalah dalam berkompetisi dengan pohon

180

dewasa untuk mendapatkan sinar matahari. Dalam kasus tertentu area kosong tersebut didominasi semak yang membentuk massa sangat rapat, sehingga dapat menghambat regenerasi bibit dan anakan pohon, semak ini tidak terekam dalam diagram profil karena ukuran batangnya yang kecil (è < 5 cm). Semak A. ilicifolius di Segara Anakan dan dan D. trifoliata di Wulan, hampir sepenuhnya menutupi area kosong di antara kanopi pepohonan, baik ruang-ruang kosong ini akibat pembabatan pepohonan maupun sedimentasi dan akresi yang menyebabkan terbentuknya tanah timbul. Di Wulan dan Bogowonto, D. trifoliata dapat merambat hingga di atas kanopi, bersaing untuk merebutkan sinar matahari. Kehadiran semak dalam suksesi sekunder maupun primer merupakan keniscayaan, sehubungan tersedianya sinar matahari yang cukup dan terbukanya lantai hutan. Semak umumnya dapat memenangkan kompetisi terhadap strata herba karena memiliki habitus yang lebih kuat dan lebih tinggi. Semak juga dapat mengalahkan bibit pohon yang masih berada dalam strata herba dalam memperebutkan ruang, namun dengan adanya sisa-sisa pohon tua atau adanya bibit dan anakan pohon yang selamat hingga mencapai usia dewasa, maka akan terbentuk naungan dan – pada tumbuhan tertentu – allelopati. Ketersediaan bibit yang cukup dan kemenangan pohon dewasa dalam berkompetisi dengan semak, akan memungkinkan terbentuknya ekosistem klimaks. Namun, di lokasi penelitian hal ini sulit terjadi mengingat tingginya intensitas penebangan pohon, sehingga pepohonan hampir selalu dalam kondisi muda.

181

E. Keanekaragaman Genetik Sonneratia alba 1. Keanekaragaman Genetik dan Kekerabatan Sonneratia alba Pengujian keanekaragaman genetik dengan isozim esterase secara keseluruhan memunculkan 9 pita, yaitu pada nilai Rf (retardantion factor) 0,04, 0,11, 0,16, 0,21, 0,29, 0,33, 0,37, 0,41, dan 0,45. Kesembilan pita tersebut membentuk 12 variasi pola pita isozim (genotipe) (Gambar 16A), sedangkan isozim peroksidase memunculkan 6 pita, yaitu pada nilai Rf 0,09, 0,20, 0,29, 0,33, 0,37, dan 0,47. Keenam pita tersebut membentuk 11 variasi genotipe (Gambar 16B). Intepretasi pola pita esterase dan peroksidase secara berturut-turut disajikan pada Gambar 17 dan 18. Dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita esterase menunjukkan adanya 13 kelompok, masing-masing mewakili genotipe yang berbeda. Kelompok ke-13 merupakan individu S. alba yang tidak memunculkan pita esterase; kecuali kelompok ke-13, semua individu menyatu pada tingkat kesamaan 67% (Gambar 19). Adapun dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita peroksidase menunjukkan adanya 12 kelompok, masingmasing mewakili genotipe yang berbeda. Kelompok ke-12 merupakan kumpulan individu S. alba yang tidak memunculkan pita peroksidase; kecuali kelompok ke12, semua individu mengumpul pada tingkat kesamaan 66% (Gambar 20). Pemilihan populasi S. alba untuk mewakili spesies tumbuhan mangrove yang diuji keanekaragaman genetiknya, didasarkan kenyataan bahwa S. alba merupakan salah satu spesies yang paling luas penyebarannya, yakni ditemukan pada 15 lokasi dari 20 lokasi penelitian, dengan penyebaran yang relatif merata

182

baik dipantai utara maupun selatan Jawa Tengah (Tabel 11.), sehingga berpotensi untuk restorasi ekosistem mangrove yang rusak. Di samping itu, secara morfologi, S. alba dan dua kerabat dekatnya S. caseolaris dan S. ovata memiliki bentuk morfologi yang sangat mirip, dengan sifat-sifat yang tumpang tindih sehingga sering merancukan dalam identifikasi. Secara genetik (reproduksi) ketiga spesies ini dapat berkawin dan menghasilkan keturunan yang fertil. Hal ini tampaknya semakin menyulitkan identifikasi secara morfologi, karena terbentuknya sifat-sifat antara. Di sisi lain, dalam populasi S. alba sendiri terdapat variasi bentuk daun yang cukup beragam. Secara ekologi, eksperimen penanaman bibit S. alba yang berasal dari laguna Segara Anakan ke muara Bogowonto, umumnya gagal beradaptasi dengan genangan dan mati, sedangkan bibit lokal dari Bogowonto sendiri dapat tumbuh dengan baik. Esterase dan peroksidase banyak digunakan dalam studi keanekaragaman genetik tumbuhan karena penyebarannya sangat luas. Peroksidase merupakan enzim yang mengandung heme yang menggunakan H2O2 dalam oksidasi satuelektron dari substrat organik (Howes dkk., 1999). Peroksidase mempengaruhi berbagai proses fisiologi pada tumbuhan, seperti pertumbuhan sel, biosintesis lignin dan suberin, metabolisme auksin, daya tahan terhadap penyakit dan penyembuhan luka (Gross, 1977; Gaspar, 1982; Espelie dkk., 1986; Kennedy dkk., 1996). Enzim esterase dan peroksidase cenderung tahan terhadap gel SDSPAGE yang digunakan dalam elektroforesis. Enzim yang terurai oleh SDS dengan segera dapat kembali ke bentuk asli, sehingga aktivitasnya tetap dapat terdeteksi dalam elektroforesis (Rothe, 1994).

183

A

B

Gambar 16. Variasi genotipe S. alba di pantai utara dan selatan Jawa Tengah: A. berdasarkan pita isozim esterase; B. berdasarkan pita isozim peroksidase.

A

B

C

D

E

F

Gambar 17. Pita isozim esterase S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A = Wulan (WUL), B = Juwana (JUW), C = Pasar Banggi (PAS), D = Bogowonto (BOG), E = Motean (MOT), F = Muara Dua (MUA).

184

A

B

C

D

E

F

Gambar 18. Pita isozim peroksidase S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Keterangan: A = Wulan (WUL), B = Juwana (JUW), C = Pasar Banggi (PAS), D = Bogowonto (BOG), E = Motean (MOT), F = Muara Dua (MUA).

185

Gambar 19. Dendrogram hubungan kekerabatan S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah berdasarkan pita isozim esterase. Keterangan: WUL = Wulan, JUW = Juwana, PAS = Pasar Banggi, BOG = Bogowonto, MOT = Motehan, MUA = Muara Dua. Pada kelompok VII = pita isozim tidak muncul.

186

Gambar 20. Dendrogram hubungan kekerabatan S. alba dari pantai utara dan selatan Jawa Tengah berdasarkan pita isozim peroksidase. Keterangan: WUL = Wulan, JUW = Juwana, PAS = Pasar Banggi, BOG = Bogowonto, MOT = Motehan, MUA = Muara Dua. Pada kelompok VII = pita isozim tidak muncul.

187

a) Pola Pita Esterase Berdasarkan pola pita (genotipe) isozim esterase, populasi S. alba dengan keanekaragaman genetik tertinggi dijumpai pada sampel dari Motean (6 genotipe), disusul Muara Dua dan Juwana (masing-masing 5), Wulan (4), serta Pasar Banggi dan Bogowonto (masing-masing 3). Di samping itu, terdapat pula sampel yang tidak menunjukkan aktivitas pita isozim esterase, yaitu Pasar Banggi (3 individu) dan Bogowonto (1). Penyebaran genotipe antar lokasi sangat bervariasi. Dalam penelitian ini tidak ada genotipe yang dijumpai pada semua lokasi. Genotipe yang paling sering dijumpai adalah a dan c (masing-masing 5 lokasi), disusul genotipe f (4), genotipe j (3), genotipe b dan g (masing-masing 2), serta genotipe d, e, h, i, k, dan l (masing-masing 1). Genotipe a ditemukan pada semua lokasi kecuali di Bogowonto. Genotipe c dijumpai di semua lokasi kecuali di Pasar Banggi. Genotipe f dijumpai di semua lokasi kecuali Wulan dan Bogowonto. Genotipe j dijumpai di Bogowonto (10 individu), Motean (1) dan Muara Dua (5). Genotipe b dijumpai di Wulan (1) dan Motean (2). Adapun genotipe-genotipe khas yang hanya dijumpai pada satu lokasi, sebagai berikut: genotipe d hanya dijumpai di Wulan (3), genotipe e hanya dijumpai di Juwana (1), genotipe i hanya dijumpai di Pasar Banggi (10), genotipe h hanya dijumpai di Juwana (2), genotipe k hanya dijumpai di Bogowonto (2), dan genotipe l hanya dijumpai di Motean (1). Adanya genotipe yang dijumpai pada banyak lokasi, seperti genotipe a dan c (masing-masing 5 lokasi), serta genotipe f (4), menunjukkan adanya pembagian materi genetik tertentu secara merata pada S. alba. Hal ini wajar mengingat

188

mereka tergolong dalam spesies yang sama. Menurut Wang dkk. (2000), pola isozim pada kebanyakan sistem enzim tidak terpengaruh oleh perbedaan lingkungan dan banyak di antaranya yang secara ontogeni stabil. Adapun genotipe j yang hanya dijumpai di pantai selatan saja, mengindikasikan masih adanya pertukaran genetik antar lokasi yang relatif berdekatan tersebut, meskipun terdapat ombak besar laut selatan. Sedangkan banyaknya genotipe yang hanya dijumpai pada satu lokasi, Pasar Banggi, yakni enam genotipe (d, e, h, i, k, l) menunjukkan adanya variasi kondisi lingkungan lokal yang tinggi. Hal ini direspon secara secara genetik dalam bentuk adaptasi terhadap kondisi lokal. Salah satu penyebab sedikitnya variasi genetik dalam penelitian ini kemungkinan karena ukuran populasi S. alba yang tersisa pada setiap lokasi relatif kecil. Menurut Sokal dan Oden (1978), pada populasi kecil dengan luas area terbatas, akan terjadi peningkatan inbreeding dan penurunan arus gen, namun di sisi lain tingkat diferensiasi melalui seleksi atau hanyutan genetik lebih tinggi sebagai respon terhadap kondisi lokal. Menurut Fitzpatrick (2002) isolasi dapat meningkatkan perbedaan genetik di antara populasi. Terbatasnya luasan habitat menyebabkan populasi yang tumbuh relatif kecil, sehingga lebih retan terhadap perubahan lingkungan (Menges, 1991; Holsinger, 2000). Sementara itu terbatasnya ukuran populasi dapat mengurangi keberhasilan penyerbukan (Groom, 1998; Richards dkk, 1999; Lennartsson, 2002). Bibit dari populasi yang ukurannya kecil mengalami penurunan kemampuan perkecambahan dan ketahanan hidup (Newman dan Pilson, 1997). Dalam jangka panjang kelestarian populasi ini dapat terancam karena

189

menurunkannya kualitas habitat akibatnya tekanan manusia dan penurunan kesuburan tanah (Kleijn dan Verbeek, 2000; Garbutt dan Sparks, 2002; Blomqvist dkk., 2003). Dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita esterase, menyatukan ke 120 individu S. alba dari enam lokasi dalam 13 kelompok; kelompok XIII merupakan kelompok spesies yang tidak memberikan pita dengan pewarnaan esterase. Kelompok I terdiri dari 38 individu yang didominasi dari Wulan, Juwana, Motean, dan Muara Dua dengan komposisi yang seimbang. Kelompok II terdiri dari lima individu dari Wulan, Motean, dan Muara Dua. Kelompok III terdiri dari 16 individu yang didominasi dari Bogowonto dan Muara Dua. Kelompok IV terdiri dari tiga individu dari Wulan. Kelompok V berisi dua individu dari Juwana. Kelompok VI berisi 16 individu dari Juwana, Pasar Banggi, Motean, dan Muara Dua. Kelompok VII berisi empat individu dari Juwana dan Motean. Kelompok VIII berisi tiga individu dari Juwana dan Motean. Kelompok IX berisi 10 individu dari Pasar Banggi. Kelompok X berisi 17 individu yang didominasi dari Juwana. Kelompok XI berisi dua individu dari Bogowonto. Kelompok XII berisi satu individu dari Motean. Kelompok XIII berisi tiga individu dari Pasar Banggi (Gambar 19). Perhitungan indeks similaritas Jaccard menunjukkan bahwa kelompok I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, X menyatu pada nilai 0,89, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik dengan isozim esterase hingga 89%. Kemudian gabungan kelompok tersebut menyatu dengan kelompok XII pada nilai 0,78, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik hingga 78%.

190

Di sisi lain kelompok IX dan XI menyatu pada nilai 0,78, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik hingga 78%. Selanjutnya kedua gabungan kelompok tersebut menyatu pada nilai 0,67, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik hingga 67%. Kelompok XIII berdiri sendiri mengingat anggota-anggotanya tidak memiliki pita esterase. Tingginya tingkat kesamaan genetik pada penelitian ini wajar, mengingat pada spesies yang sama umumnya memiliki tingkat keanekaragaman sekitar 60% atau lebih. Hasil di atas menunjukkan bahwa individu dari lokasi yang sama umumnya memiliki keanekaragaman genetik yang cenderung sama pula, sebagaimana tampak pada kelompok IV, V, IX, XI, dan XIII. Hal ini wajar mengingat pertukaran genetik di dalam satu populasi umumnya lebih intensif daripada dengan populasi lain. Meskipun demikian pada setiap lokasi umumnya terdapat lebih dari satu komposisi genotipe, bahkan terdapat genotipe yang penyebarannya sangat luas, misalnya pada kelompok I, III, dan VI. Kelompok I yang anggotanya berasal dari lokasi yang relatif lebih beragam dibandingkan kelompok-kelompok lainnya menunjukkan bahwa di antara populasi S. alba terdapat individu-individu dengan komposisi genetik sama yang tersebar secara luas. Hal ini terjadi karena mereka masih satu spesies, sehingga cenderung berbagi sifat-sifat yang sama. Meskipun demikian terdapat pula individu-individu yang penyebarannya terbatas, seperti kelompok IV, V, IX, XI, XII, dan XIII. Individu demikian boleh jadi terbentuk sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan setempat. Keunikan genetik ini sangat diperlukan dalam proses evolusi untuk menjaga keanekaragaman genetik di dalam populasi.

191

Individu dengan komposisi genetik yang khusus ini dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk bertahan terhadap perubahan lingkungan (adaptasi). Tidak terdeteksinya pita isozim esterase pada kelompok XIII juga membuktikan adanya keunikan genetik, terdapat individu-individu yang dapat bertahan hidup tanpa mensintesis enzim esterase, meskipun enzim ini sangat luas penyebarannya dan diperlukan dalam metabolisme tubuh seperti dalam degradasi lemak. Namun tidak menutup kemungkinan, ketidakmunculan pita ini disebabkan oleh kekurangsempurnaan pelaksanaan teknik laboratorium.

b) Pola Pita Peroksidase Berdasarkan pola pita (genotipe) peroksidase, populasi S. alba dengan keanekaragaman genetik tertinggi dijumpai pada sampel dari Pasar Banggi (8 genotipe). Pada lokasi lain hanya dijumpai 3 genotipe (Wulan dan Juwana) atau hanya 2 genotipe (Bogowonto, Motean, dan Muara Dua). Di samping itu, terdapat pula sampel yang tidak menunjukkan aktivitas pita isozim peroksidase, yaitu Pasar Banggi dan Bogowonto (masing-masing 1 individu). Penyebaran genotipe antar lokasi sangat bervariasi. Dalam penelitian ini tidak terdapat genotipe yang dijumpai pada semua lokasi. Genotipe e dan k ditemukan pada empat lokasi yang sama, yaitu Pasar Banggi (masing-masing 1 dan 2 individu), Bogowonto (11, 8), Motean (16, 4) dan Muara Dua (13, 7). Genotipe b ditemukan pada tiga lokasi, yaitu Wulan (8 individu), Juwana (11), dan Pasar Banggi (4). Genotipe a ditemukan pada dua lokasi, yaitu Wulan (14) dan Juwana (9). Genotipe c ditemukan pada dua lokasi,

192

yaitu Wulan (2) dan Juwana (3). Adapun genotipe khas, yakni genotipe yang hanya dijumpai pada satu lokasi, dalam penelitian ini hanya terdapat di Pasar Banggi, yaitu: genotipe d, f, g, h, i, j secara berturut-turut masing-masing sebanyak 1, 1, 3, 1, 2, 2 individu. Dalam penelitian ini, genotipe dari pantai utara umumnya memiliki kemiripan dengan sesama mereka, demikian pula genotipe dari pantai selatan umumnya memiliki kemiripan dengan sesamanya, kecuali beberapa genotipe dari Pasar Banggi yang dapat dijumpai di pantai selatan dan utara. Genotipe a, b, c hanya dijumpai di pantai utara baik pada dua atau tiga lokasi. Sebaliknya genotipe e dan k hanya ditemukan pada ketiga lokasi di pantai selatan, kecuali sejumlah kecil di Pasar Banggi, masing-masing secara berturut-turut diwakili 1 dan 2 individu. Hal ini menunjukkan intensitas pertukaran materi genetik (propagul) antar sesama populasi dari pantai utara, dan antar sesama populasi dari pantai selatan relatif tinggi, sebaliknya pertukaran genetik antara populasi dari pantai utara dengan pantai selatan relatif terbatas. Hal ini merupakan keniscayaan akibat adanya barier alam yang menyebabkan isolasi geografi. Tingginya genotipe khas di Pasar Banggi (6 genotipe), kemungkinan disebabkan lokasi tersebut merupakan area mangrove terluas yang terletak di bagian paling timur habitat mangrove di pantai utara Jawa Tengah, bertetangga dengan habitat mangrove yang cukup luas di delta Bengawan Solo, sehingga menjadi penerima pertama biji dari arah timur. Kedua habitat mangrove ini dipisahkan oleh pantai karst Tuban, Lamongan, dan Gresik yang cukup panjang. Di samping itu sebagai lokasi yang dikelola tidak tertutup kemungkinan adanya

193

penanaman secara sengaja S. alba dari lokasi lain dengan materi genetik yang berbeda, serta adanya kemungkinan hibridisasi dengan kerabat dekatnya S. caseolaris dan S. ovata. Dalam penelitian ini, di Pasar Banggi selain S. alba terdapat pula S. caseolaris, sedangkan di Lasem yang terletak tidak jauh di sebelah timurnya ditemukan S. ovata, satu-satunya sampel yang tercatat dari 20 lokasi di pantai utara dan selatan Jawa Tengah. Pengujian dengan isozim peroksidase menunjukkan adanya 12 kelompok, kelompok XII berisi dua individu yang tidak menghasilkan pola pita isozim peroksidase. Kelompok I berisi 16 individu dari Wulan dan Juwana. Kelompok II berisi 23 individu dari Wulan, Juwana, dan Pasar Banggi. Kelompok III berisi 6 individu dari Wulan dan Juwana. Kelompok IV berisi satu individu dari Pasar Banggi. Kelompok V berisi 41 individu yang umumnya berasal dari pantai selatan, yaitu Bogowonto, Motean, dan Muara Dua. Kelompok VI berisi satu individu dari Pasar Banggi. Kelompok VII berisi lima individu dari Pasar Banggi. Kelompok VIII berisi satu individu dari Pasar Banggi. Kelompok IX berisi dua individu dari Pasar Banggi. Kelompok X berisi dua individu dari Pasar Banggi. Kelompok XI berisi 21 individu, terutama dari Bogowonto, Motean, dan Muara Dua. Kelompok XII berisi dua individu dari Pasar Banggi dan Bogowonto (Gambar 20). Perhitungan indeks similaritas Jaccard menunjukkan bahwa kelompok I, II, III, IV, V, VI, VII, IX, dan X menyatu pada nilai 0,83, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik dengan isozim peroksidase hingga 83%. Di sisi lain kelompok VIII dan XI menyatu pula pada nilai 0,83, artinya

194

kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik hingga 83%. Selanjutnya keduanya bergabung pada nilai 0,66, artinya kelompok tersebut memiliki tingkat kesamaan genetik hingga 66%. Kelompok XII berdiri sendiri mengingat anggotaanggotanya tidak memiliki pita peroksidase. Sama halnya dengan isozim esterase, pada dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita peroksidase ini individu-individu dari lokasi yang sama atau lokasi yang berdekatan cenderung memiliki komposisi genetik yang serupa, sebagaimana kelompok I, II, dan III yang didominasi oleh individuindividu dari pantai utara, serta kelompok V dan XI didominasi oleh individuindividu dari pantai selatan. Hal ini wajar mengingat populasi dari lokasi yang sama atau bertetangga memiliki kemungkinan bertukar materi genetik secara lebih intensif. Meskipun demikian terdapat pula sejumlah individu dari lokasi yang berjauhan, namun menyatu dalam satu kelompok, misalnya sejumlah kecil individu dari pantai utara yang menyatu dengan kelompok V dan XI yang didominasi oleh individu-individu dari pantai selatan. Hal ini menunjukkan bahwa individu-individu S. alba masih berbagi kesamaan sifat genotipe meskipun lokasi tumbuhnya berjauhan. Hal ini wajar mengingat mereka masih tergolong dalam satu spesies. Pada pola pita isozim peroksidase ini, keunikan genetik disumbangkan oleh kelompok IV, VI, dan VII yang masing-masing hanya beranggotakan satu individu, serta kelompok IX, X, dan XIII yang masing-masing hanya beranggotakan dua individu.

195

Kenyataan bahwa eksperimen penanaman bibit S. alba dari Segara Anakan ke Bogowonto yang menemui kegagalan, tidak berhasil dideteksi dalam penelitian ini. Hal ini kemungkinan disebabkan gen-gen yang menyandi pertahanan individu terhadap genangan, secara metabolisme kurang atau tidak terkait dengan sintesis enzim esterase maupun peroksidase, sehingga dengan kedua enzim ini sulit dibedakan adanya perbedaan komposisi genetik yang cukup antara populasi dari Segara Anakan dengan Bogowonto. Pada pengujian dengan isozim esterase terbukti bahwa individu-individu dari Bogowonto umumnya bergabung dengan individu-individu dari Motean dan Muara Dua (Segara Anakan), sebagaimana tampak pada kelompok III dan X. Begitu pula pada pengujian dengan isozim peroksidase, individu-individu dari Bogowonto umumnya bergabung dengan individu-individu dari Motean dan Muara Dua, sebagaimana tampak pada kelompok V dan XI.

2. Struktur Genetik dan Restorasi Habitat a) Struktur Genetik Populasi Dalam hipotesis biodiversitas alfa dinyatakan bahwa keanekaragaman ekosistem yang tinggi akan menyebabkan kestabilan ekosistem, karena keanekaragaman yang tinggi menyebabkan produktivitas dan penyimpanan nutrien lebih tinggi (Tilman, 1999). Populasi dengan keanekaragaman genetik tinggi dapat lebih mempengaruhi ekosistem (Heywood, 1995). Faktor utama yang mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan adalah sebaran geografi (32%), bentuk hidup (25%), dan sistem perkawinan (17%) (Hamrick dkk, (1979;, 1991).

196

Kemampuan penyebaran bibit merupakan salah satu karakteristik utama untuk merespon fragmentasi habitat (Bawa dkk., 1991; Vankat dkk., 1991; Fore dkk., 1992). Pola penyebaran bibit sangat berpengaruh terhadap ekologi, genetika, dan sebaran geografi suatu spesies (Van der Pijl, 1969; Sauer, 1988; Dingle, 1996). Salah satu bentuk perubahan lanskap alami oleh aktivitas manusia adalah fragmentasi habitat utuh menjadi beberapa kelompok kecil, terpencar-pencar, dan terisolasi (Barrett dan Kohn, 1991; Fenster dan Dudash, 1994; Fore dan Guttman, 1996, 1999). Hilangnya habitat alami akibat aktivitas manusia merupakan faktor utama yang menyebabkan kepunahan spesies (Sih dkk., 2000). Fragmentasi menyebabkan jarak di antara populasi semakin jauh, sehingga menghambat migrasi antar populasi, dan meningkatkan terjadinya isolasi (Fahrig dan Merriam, 1994). Terbatasnya arus gen dari luar populasi dapat meningkatkan diferensiasi genetik antar populasi (Dickinson dan Antonovics, 1973; Fore dan Guttman, 1992; Rhodes dan Chesser, 1994; Husband dan Barrett, 1996). Diferensiasi genetik antar populasi menurunkan kemungkinan terjadinya restorasi

keanekaragaman genetik secara alami dari populasi di sekitarnya (Ellstrand, 1992; Newman dan Tallmon, 2001; Hewitt dan Kellman, 2002). Keragaman genetik sangat penting untuk ketahanan spesies dalam jangka panjang, karena mempengaruhi kemampuan spesies dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan (e.g. Westemeier dkk., 1998; Knapp dan Connors, 1999; Keller dan Waller, 2002).

197

b) Restorasi dan Struktur Genetik Populasi Struktur genetik di dalam dan di antara populasi penting dalam restorasi ekosistem yang rusak (Brown, 1989; Ceska dkk., 1997). Ketiadaan pengetahuan struktur genetik populasi asli sebelum disturbansi merupakan masalah serius dalam restorasi ekosistem, serta untuk memelihara keanekaragaman dan mengurangi perubahan genetik pasca disturbansi (Young dkk., 1996; Fore dan Guttman, 1999). Prakiraan keanekaragaman manajemen genetik menjadi landasan

penyususnan

rancangan

restorasi

untuk

meningkatkan

keberhasilannya, misalnya dalam pemilihan bibit (Hamrick dan Godt. 1989; Brown dan Briggs, 1991; Holsinger dan Gottlieb, 1991). Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman pada aras ekosistem juga mempengaruhi keanekaragaman pada aras genetik (molekular), misalnya: fragmentasi, perumputan dan penyiangan, dekomposisi nutrien, peracunan tanah, perubahan temperatur global, dan aspek kehutanan (Linhart dan Grant, 1996; Tilman, 1999). Informasi tentang variasi genetik pada tingkat spesies di dalam ekosistem membantu penentuan strategi pembibitan, serta manajemen dan konservasi genetik (Auler dkk., 2002). Pada populasi yang direstorasi, ketahanan jangka panjang dapat ditentukan melalui pemilihan benih lokal atau non lokal, sumber tunggal atau banyak, varietas alami atau dibudidayakan, serta daya adaptasi dan daya kompetisi bibit pada lingkungan baru. Perkawinan antara sesama individu dari lokasi yang sama dapat menurunkan daya tahan karena tekanan inbreeding, sebaliknya perkawinan silang antar populasi yang berbeda juga dapat menurunkan daya tahan karena tekanan outbreeding (Fenster dan

198

Dudash, 1994; Gustafson dkk, 2001). Pemahaman yang lebih baik mengenai interaksi antar daya tahan, persamaan dan keanekaragaman genetik, serta daya saing suatu spesies tumbuhan akan bermanfaat untuk memelihara ekosistem yang masih ada dan merestorasi ekosistem yang terganggu (Gustafson dkk., 2002). Perbedaan daya saing antar populasi dapat mempengaruhi struktur genetik populasi (Aarssen dan Turkington, 1985; Turkington, 1994). Dalam proyek restorasi sebaiknya bibit tumbuhan yang digunakan berasal dari lingkungan yang serupa dengan kondisi habitat yang direstorasi, karena bibit introduksi dengan daya kompetisi yang lebih kuat dapat mendesak sisa-sisa tumbuhan asli (Etterson dan Shaw, 2001). Di sisi lain perkawinan antara populasi bibit introduksi dengan bibit asli yang secara genetik sangat berbeda, dapat menyebabkan terjadinya tekanan outbreeding yang mempengaruhi keberhasilan restorasi. Populasi kemungkinan memerlukan waktu hingga beberapa generasi untuk menyembuhkan diri akibat perkawinan silang tersebut (Emlen, 1991). Sebaliknya pada spesies yang betul-betul langka untuk meningkatkan keanekaragaman genetik serta melindungi dan merestorasi populasi tersebut sering kali diperlukan tekanan outbreeding (Gerard dkk, 1995; Byers, 1998). Tekanan outbreeding akibat perkawinan silang sangat mungkin terjadi apabila dua populasi dari lokasi berbeda disatukan (Montalvo dan Ellstrand, 2001).

c) Manajemen Konservasi Kajian genetika sangat penting dalam konservasi tumbuhan, yaitu (i) untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi ancaman yang membahayakan kelestarian

199

spesies; dan (ii) untuk mendisain program restorasi (Vrijenhoek, 1994). Keanekaragaman genetik merupakan wadah untuk adaptasi dan evolusi, sehingga pemeliharaan variasi genetik sangat penting dalam konservasi biodiversitas (Thomas dkk., 1999). Prakiraan tingkat dan distribusi keanekaragaman genetik dalam spesies tumbuhan dapat digunakan sebagai panduan dalam manajemen spesies dengan sebaran terbatas (Hamrick dkk, 1991). Tumbuhan dengan distribusinya terbatas cenderung memiliki lebih sedikit variasi isozim

dibandingkan dengan spesies yang distribusinya luas (Hamrick dan Godt, 1989; Hamrick dkk., 1992). Meskipun, sebaran geografi tidak selalu mempengaruhi struktur genetik suatu spesies (Soltis dan Soltis, 1991; Lewis dan Crawford, 1995). Sasaran utama konservasi adalah memelihara biodiversitas dengan menjaga keberadaan spesies asli di dalam ekosistem selama mungkin (Harrison dkk., 1984; Falk, 1992). Mengingat besarnya penurunan daya tahan spesies pada habitat yang mengalami degradasi dan fragmentasi, maka perlu dilakukan upaya untuk melindungi habitat dari kerusakan, memperlambat hilangnya habitat dan fragmentasi, serta melestarikan dan memperkaya biodiversitas (Noss dkk., 1997). Pada program konservasi, pengetahuan mengenai distribusi keanekaragaman genetik merupakan panduan dalam pengelolaan sumberdaya genetik yang penting (Barrett dan Kohn, 1991). Konservasi genetik dapat dilakukan secara in situ dan ex situ. Konservasi in situ dilakukan untuk mengembalikan potensi evolusi suatu populasi termasuk pengayaan dan pembentukan populasi baru bersama-sama dengan manajemen ekologi. Konservasi ex situ mencakup pembentukan koleksi

200

yang mengandung keanekaragaman genetik paling tinggi. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila struktur genetik spesies dan populasi telah diketahui (Machon dkk., 2001).

F. Parameter Lingkungan 1. Karakter Fisika-Kimia Dalam penelitian ini, pengamatan karakter lingkungan fisika-kimia mencakup: salinitas air, temperatur (air dan sedimen), pH (air dan sedimen), DO air, dan karakter tanah. Data pengamatan selengkapnya tersaji pada Tabel 12.

a) Suhu Dalam penelitian ini suhu air berkisar antara 26,0oC (Telukawur) s.d. 37,6oC (Lasem), dengan rata-rata 30,95oC (Tabel 12). Variasi suhu ini umumnya disebabkan perbedaan waktu pengukuran, mengingat intensitas paparan sinar matahari sangat tergantung waktu. Upaya untuk mempersempit kisaran waktu pengukuran sulit dilakukan, mengingat pengukuran dilakukan secara simultan dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Pengukuran di Telukawur dilakukan sekitar jam 09.00-10.00 wib, saat matahari masih condong di timur, sedangkan pengukuran di Lasem dilakukan sekitar jam 13.00-14.00 wib, saat matahari di atas kepala. Suhu air dapat pula dipengaruhi oleh arus air, penutupan kanopi vegetasi, dan lain-lain, namun dalam penelitian ini faktor intensitas sinar matahari yang terpapar langsung di lingkungan mangrove lebih berpengaruh terhadap besarnya suhu air.

201 Tabel 12. Hasil pengukuran karakter fisika-kimia pada kawasan ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Lokasi Wulan Sigrogol Serang Bulak Telukawur Tayu Juwana Pecangakan Pasar Banggi Lasem Bogowonto Cakrayasan Lukulo Cingcingguling Ijo Bengawan Serayu Tritih Motean Muara Dua Rata-rata Suhu (oC) Air Sed 30,8 29,0 33,5 30,8 32,5 30,7 27,7 25,6 26,0 25,3 31,4 27,4 29,1 28,7 28,7 25,9 35,2 31,6 37,6 36,0 31,6 31,4 30,0 29,5 32,7 32,3 30,8 30,6 28,6 28,9 28,8 28,9 31,3 30,9 31,6 31,8 30,8 30,5 30,2 30,1 30,945 29,795 pH Air Sed 8,29 8,13 8,21 8,01 8,14 8,04 8,22 8,08 8,13 7,96 7,21 6,19 7,78 7,54 8,00 7,91 8,16 7,88 8,12 7,91 6,98 6,72 7,17 6,81 7,52 7,13 7,24 7,04 6,94 6,93 6,95 6,94 7,34 6,97 6,97 6,94 6,95 6,94 6,94 6,85 7,563 7,346 DO air (mg/L) 6,40 6,10 5,52 5,00 7,26 20,00 12,70 10,76 7,68 8,62 6,62 10,14 8,23 9,75 7,43 11,27 9,19 16,55 4,65 2,84 8,836 Salinitas air (%) 4,5 3,5 3,9 3,9 4,1 3,9 3,9 3,8 4,0 4,1 0,4 3,4 0,6 2,5 2,9 3,1 0,5 2,1 0,9 0,4 2,82 Tanah Sedimen Warna kelabu-merah kelabu kelabu kelabu-putih kelabu-merah kelabu-merah kelabu-merah kelabu kelabu-putih kelabu kelabu kelabu-merah hitam-merah hitam-merah merah kelabu-merah kelabu-merah kelabu kelabu kelabu -

Tipe Lempung-lumpur Lempung-lumpur Lempung-lumpur Lempung-pasir putih Lempung Lempung-lumpur Lempung-lumpur Lempung-lumpur Lempung-pasir putih Lempung-lumpur Lempung-pasir Lempung-lumpur Lempung-pasir Lempung-pasir Lempung-pasir Lempung-lumpur Lempung-pasir Lumpur Lumpur Lumpur -

Tekstur becek becek becek padat padat becek becek becek padat becek padat becek padat padat padat padat padat becek becek becek -

202

Suhu sedimen umumnya sedikit lebih rendah daripada suhu air, hal ini terjadi karena tanah sedimen terlindung oleh badan air di atasnya, tidak terpapar langsung sinar matahari, dan letaknya lebih dalam. Dalam penelitian ini suhu sedimen tertinggi dan terendah terukur pada lokasi yang sama dengan suhu air tertinggi dan terendah di atas. Suhu sedimen terendah dijumpai di Telukawur (25,3oC), sedang suhu tertinggi di Lasem (36,0oC), adapun suhu rata-rata adalah 29,795oC) (Tabel 12).

b) Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman (pH) air bervariasi antara 6,94 (Ijo dan Muara Dua) s.d. 8,29 (Wulan), dengan rata-rata 7,56. Adapun pH sedimen bervariasi antara 6,19 (Tayu) s.d. 8,13 (Wulan), dengan rata-rata 7,35 (Tabel 12). Variasi pH ini dapat disebabkan oleh kadar bahan organik dan mineral pada tanah sedimen, serta kandungan mineral dari air laut. Kadar bahan organik yang tinggi biasanya menyebabkan pH rendah karena terbentuknya asam humat, sedangkan kandungan mineral yang tinggi umumnya berpengaruh menaikkan pH. Konsentrasi bahan organik yang tinggi dapat disumbangkan oleh sisa-sisa tumbuhan di dalam lingkungan mangrove (autochtonous), seperti sisa-sisa daun, batang, dan akar yang mati, serta dapat pula disumbangkan dari daerah aliran sungai (allochtonous) melalui aliran permukaan. Bahan organik dapat pula disumbangkan oleh fitoplankton dari laut, namun jumlahnya relatif terbatas. Adapun mineral dapat disumbangkan dari kawasan hulu singai, sebagai aktivitas kebumian maupun aktivitas antropogenik, seperti pertanian dan pertambangan.

203

Mineral dapat pula disumbangkan dari laut, sebagaimana kadar kalsium yang tinggi akibat pelapukan cangkan moluska dan terumbu karang. Hal ini menjelaskan tingginya pH air dan sedimen di Wulan dan pantai utara pada umumnya dibandingkan di Segara Anakan dan pantai selatan pada umumnya. Kawasan pantai utara yang diteliti umumnya tanpa ekosistem mangrove yang cukup luas, akibat konversi menjadi tambak dan penggunaan lain, sehingga produktivitas primer seperti sisa-sisa tumbuhan relatif sedikit. Sebaliknya aliran permukaan dari daratan sekitarnya yang membawa serta partikel-partikel tanah relatif tinggi. Rendahnya produksi serasah dan tingginya masukan mineral menyebabkan kawasan ini memiliki pH yang cenderung tinggi. Di samping itu terdapat pula beberapa terumbu karang yang cukup luas, seperti di lepas pantai Jepara, Juwana (Pati), dan Rembang yang diperkirakan menyumbangkan mineral seperti kalsium untuk meningkatkan pH. Kawasan Segara Anakan memiliki ekosistem mangrove yang cukup luas dengan produktivitas primer berupa serasah relatif tinggi. Namun kawasan ini juga mengalami pelumpuran yang sangat intensif dari daerah aliran sungai di sekitarnya yang membawa serta berbagai unsur mineral, terutama Sungai Citanduy, Cimeneng/Cikonde dan lain-lain. Dekomposisi bahan organik dapat menghasilkan asam humat yang dapat menurunkan pH tanah. Di tempat-tempat lain di pantai selatan, daerah ekosistem mangrove relatif terbatas, tetapi telah mapan di tempat tersebut dalam jangka waktu lama, sehingga akumulasi serasah cukup tinggi untuk membentuk asam humat. Di samping itu masukan unsur mineral dari laut yang dapat menurunkan pH relatif rendah karena terbentuknya

204

laguna di muara-muara sungai (selanjutnya periksa pembahasan tentang bahan organik tumbuhan/BOT).

c) Kadar DO Air Tingkat oksigen terlarut (DO) air sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada saat pengukuran. Dalam penelitian ini DO air berkisar antara 2,84 mg/L (Muara Dua) s.d. 20,00 mg/L (Tayu), dengan rata-rata 8,836 mg/L (Tabel 12). Pengukuran di Muara Dua dilakukan di dalam lingkungan ekosistem mangrove, hembusan angin dan gerakan arus air relatif terbatas, sehingga air dalam kondisi tenang. Pada kondisi ini masukan oksigen dari udara ke dalam air relatif terbatas. Sedangkan pengukuran DO air di Tayu dilakukan di tepi pantai pada saat gelombang laut cukup tinggi, yang memungkinkan masuknya udara ke dalam air, sehingga DO yang terukur juga cukup tinggi. Oksigen terlarut sangat penting dalam fotosintesis, respirasi serta dekomposisi serasah, sehingga dapat mempengaruhi komposisi spesies, distribusi dan pertumbuhan mangrove. Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan tanah, keanekaragaman tumbuhan dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen terlarut harian tertinggi terjadi pada siang hari dan terendah pada malam hari.

d) Salinitas Air Salintitas air bervariasi antara 0,4% (Muara Dua) s.d. 4,5% (Wulan), dengan rata-rata 2,82% (Tabel 12). Tingkat salinitas ini sangat dipengaruhi kondisi lingkungan saat pengukuran. Muara Dua merupakan lokasi yang terletak

205

di tengah-tengah laguna Segara Anakan yang cenderung berair tawar, dengan salinitas relatif rendah. Sedangkan pengukuran di Wulan dilakukan pada mulut muara sungai yang berhubungan langsung dengan laut yang salinitasnya tinggi. Pengukuran salinitas pada lokasi lain yang terletak di pesisir pantai atau pada kolam-kolam jebakan air yang tertinggal akibat surutnya air laut juga cenderung menghasilkan nilai salinitas yang tinggi akibat penguapan, seperti di Lasem dan Telukawur (masing-masing 4,1%), serta Pasar Banggi (4,0%).

e) Tipe, Warna, dan Tekstur Tanah Sedimen Tipe tanah sedimen berkisar antara lempung, lempung-lumpur, lempungpasir, lempung-pasir putih, dan lumpur (Tabel 12). Hal ini tergantung sumber sedimen tanah tersebut, yaitu aliran permukaan dari daerah aliran sungai dan aliran air laut. Kawasan mangrove yang daerah aliran sungainya berhulu di gunung-gunung berapi dijumpai pasir dan pasir besi, seperti Bogowonto, Lukulo dan Serayu. Sedangkan kawasan mangrove yang berbatasan dengan ekosistem terumbu karang, biasanya ditemukan pasir putih (hancuran koral dan cangkan moluska), seperti Bulak dan Pasar Banggi. Warna sedimen tanah bervariasi antara kelabu, merah, kelabu-merah, hitam-merah dan hitam-putih (Tabel 12). Warna tanah tergantung asal usul dan proses biogeokimia yang tengah berlangsung di dalamnya. Tanah akresi yang baru terbentuk umumnya berwarna merah sampai kelabu-merah, seperti Wulan dan Ijo. Sedangkan tanah yang sudah lama terbentuk berwarna kelabu sampai hitam, seperti Segara Anakan. Tanah pada kawasan mangrove yang berbatasan dengan

206

terumbu karang di lepas pantai, sering bercampur pasir putih seperti Bulak dan Pasar Banggi. Tanah berwarna merah dapat pula disebabkan kandungan Fe yang tinggi, sedangkan tanah berwarna kelabu yang sudah mapan biasanya mengandung H2S yang tinggi. Tipe tanah dan proses biogeokimia di dalamnya bersinergi membentuk warna tanah. Tekstur tanah bervariasi antara becek (hampir selalu tergenang) s.d. padat (kering) (Tabel 12). Hal ini sangat dipengaruhi kondisi fisiografi pantai setempat. Garis pantai yang meninggi karena akumulasi pasir yang didorong ke arah daratan oleh gelombang laut dan angin, biasanya memiliki kawasan mangrove yang lebih kering dengan tanah relatif padat, seperti Bulak, Telukawur, dan Lukulo. Sedangkan kawasan mangrove yang memiliki garis pantai landai tanpa akumulasi pasir, umumnya memiliki lahan mangrove yang becek karena hampir selalu tergenang, seperti Wulan, Sigrogol, Serang, dan Segara Anakan (Muara Dua, Motean, dan Tritih). Menurut Rao (1994) tekstur tanah ditentukan persentase pasir, debu, dan lempung. Pada tanah yang mengandung lempung partikel-partikel tanah menyatu membentuk agregat. Stabilitas agregat tanah yang mengandung lempung tergantung kandungan bahan organik dan kondisi alami mikrobia yang menyatukan partikel-partikel tanah. Tekstur tanah sangat mempengaruhi keberhasilan hidup tumbuhan dan mikrobia.

2. Logam Berat Fe, Pb, Cd, dan Cr Hasil penelitian kadar Fe, Cd, Cr, dan Pb di lingkungan mangrove pantai utara dan selatan Jawa Tengah disajikan pada Tabel 13.

207

Tabel 13. Kadar logam berat Fe, Cd, Cr, dan Pb di lingkungan mangrove pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Lokasi 1. Wulan 2. Sigrogol 3. Serang 4. Bulak 5. Telukawur 6. Tayu 7. Juwana 8. Pecangakan 9. Pasar Banggi 10. Lasem 11. Bogowonto 12. Cakrayasan 13. Lukulo 14. Cingcingguling 15. Ijo 16. Bengawan 17. Serayu 18. Tritih 19. Motean 20. Muara Dua Rata-rata Kadar logam berat (mg/100 gr) Fe Cd Cr Pb 235,000 0,1447 1,1001 1,8268 255,746 0,1228 0,7234 1,5064 217,958 0,1122 0,6687 1,3434 42,682 0,3270 0,7325 2,0854 277,646 0,1155 1,3037 1,0455 232,672 0,0662 1,0333 1,1411 216,196 0,1133 1,3006 1,9393 234,976 0,0780 1,1335 1,7257 139,648 0,1268 1,0576 1,6807 176,396 0,0679 1,3188 1,9168 274,506 0,1245 0,6627 1,2816 277,896 0,1167 0,7811 1,3884 282,098 0,1189 3,0808 1,2085 240,288 0,0847 0,7599 0,7026 210,230 0,0942 0,3498 1,0568 208,602 0,1840 0,3042 0,8937 227,632 0,1021 0,7629 2,1304 253,962 0,1105 1,8383 0,8994 262,074 0,1223 1,2520 1,2254 250,842 0,0976 1,0029 0,7813 225,853 0,1215 1,0583 1,3885

a) Kadar Logam Besi (Fe) Kadar Fe bervariasi antara 42,682 mg/100g (Bulak) s.d. 282,098 mg/100g (Lukulo), dengan rata-rata 225,853 mg/100g (Tabel 13.). Sebagai pembanding dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep-

51/MENLH/10/1995 ditetapkan baku mutu untuk Fe sebesar 5-10 mg/L (50-100 mg/100 ml). Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP 82/2001 untuk kelas I ditetapkan kadar Fe sebesar 0,3 mg/L (3 mg/100 ml). Fe tidak termasuk logam berat berbahaya dalam kriteria US. EPA (Novotny, 1995).

208

Tingginya kadar Fe dapat disebabkan tipe/jenis tanah dan proses biogeokimia di dalamnya. Oleh karena itu, pada lingkungan mangrove, tingginya kadar Fe tidak selalu identik dengan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh proses-proses antropogenik. Pengamatan di pantai selatan menunjukkan tingginya kadar Fe dapat disebabkan tipe tanah pasirnya mengandung bijih besi, misalnya Bogowonto, Cakrayasan, Lukulo, dan Serayu. Muara Serayu merupakan salah satu sumber bijih besi untuk pabrik semen di Cilacap. Kawasan Segara Anakan tidak memiliki tipe tanah berpasir besi dan memiliki kandungan Fe pada kadar di sekitar rata-rata. Hal ini kemungkinan akibat proses biogeokimia di dalamnya. Kadar Fe di atas rata-rata juga terukur di Wulan, Sigrogol, Telukawur, Tayu, dan Pecangakan. Fe memiliki peranan penting pada lingkungan mangrove. Bersama dengan belerang, elemen ini dapat membentuk kompleks pirit (FeS2) yang dapat menurunkan pH tanah. Kondisi asam ini terjadi berdasarkan empat kemungkinan, yaitu (Dent, 1980): • Fe teroksidasi semua dan terbentuk Fe3+ FeS2 + 15/4 O2 + ½ H2O à Fe3+ + 2 SO42- + H+ • Pelepasan ion Fe2+ FeS2 + 7/2 O2 + H2O à Fe2+ + 2 SO42- + 2 H+ • Fe teroksidasi semua dan terbentuk besi (III) hidroksida FeS2 + 15/4 O2 + 7/2H2O à Fe(OH)3 + 2 SO42- + 4 H+ • Pembentukan jarosit: FeS2 + 15/4 O2 + 5/2 H2O + 1/3 K+ à 1/3 KFe3(SO4)2(OH)6 + 4/3 SO42- + 3 H+ Proses di atas secara langsung maupun tidak dapat mempengaruhi kadar Fe dalam sedimen.

209

b) Bahan Pencemar Cd, Cr, dan Pb Kawasan mangrove merupakan daerah peralihan (ekoton) antara lingkungan darat dan laut, sehingga bahan pencemar dari darat, pantai, maupun laut dapat terakumulasi di kawasan ini dan mempengaruhi kehidupan mangrove. Pb, Cd, dan Cr merupakan jenis-jenis logam berat pencemar lingkungan yang banyak dihasilkan dari aktivitas manusia. Sumber utama limbah Pb adalah gas buang kendaraan bermotor dan industri, serta sisa-sisa baterai. Limbah Cr umumnya berasal dari industri perkulitan, sedangkan limbah Cd banyak digunakan dalam industri yang membutuhkan bahan warna, seperti tekstil. Bahanbahan tersebut sangat berbahaya karena mengganggu metabolisme tubuh, hingga dapat menimbulkan kangker karena menghasilkan radikal bebas yang berlebihan, serta dapat mengganggu sistem syaraf akibat impuls yang ditimbulkan ion-ion logam berat. Hal ini tampak pada kasus pencemaran logam berat di Teluk Minamata, Jepang dan Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Bahan-bahan pencemar tersebut semakin berbahaya karena dapat terakumulasi pada makhluk hidup yang terpapar dan mengalami biomagnifikasi pada tingkatan trofik rantai makanan yang lebih tinggi. Bahan pencemar ini sangat berbahaya bagi manusia karena manusia menempati tingkatan trofik paling tinggi dalam jaring-jaring makanan, akibatnya kemungkinan akumulasi logam berat pada tubuh manusia sangat tinggi. Menurut Koyama dkk. (2000), kadar logam berat yang tinggi pada mamalia dan burung laut, misalnya Cd, dapat diperoleh dari cumi-cumi yang menjadi mangsanya. Cumi-cumi sendiri mendapatkan logam berat dari air dan bahan makanan. Kadar logam berat pada cumi-cumi liar

210

umumnya lebih rendah dari kadar di dalam air laut, namun sama tingginya dengan kadar di dalam tubuh mangsanya. Menurut Rai dkk. (1981), semakin tinggi kadar logam berat pada perairan, maka semakin tinggi pula kadar logam berat yang terakumulasi dalam tubuh biota akuatik. Dalam penelitian ini, kawasan mangrove yang mendapatkan aliran permukaan dari daerah permukiman padat dan industri umumnya memiliki tingkat pencemaran logam berat lebih tinggi daripada kawasan mangrove yang mendapatkan aliran permukaan dari daerah aliran sungai yang lebih alami. Meskipun telah jamak diketahui bahwa pelapukan bantuan dan aktivitas gunung berapi di hulu sungai juga merupakan salah satu sumber utama logam berat. Menurut Shriadah (1999), variasi tingkat logam berat di lingkungan mangrove secara umum dipengaruhi oleh: (i) kandungan bahan organik; (ii) adanya vegetasi mangrove yang baik; dan (iii) masukan antropogenik. Selanjutnya menurut Luque dkk. (1995), area yang tidak dipengaruhi pasang surut atau terekspos langsung ke laut mengandung bahan pencemar logam berat lebih rendah, sementara itu lapisan sedimen yang lebih dalam mengandung bahan pencemar lebih tinggi. Hal ini boleh jadi karena terjadinya akumulasi logam berat pada lapisan rhizosfer akar.

1) Kadar Kadmium (Cd) Kadar Cd bervariasi antara 0,0662 mg/100g (Tayu) s.d. 0,3270 mg/100g (Bulak) dengan rata-rata 0,1215 mg/100g (Tabel 13.). Dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 baku mutu untuk Cd tidak ditetapkan. Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP

211

82/2001 untuk kelas I ditetapkan kadar Cd sebesar 0,1 mg/L (1 mg/100 ml). Meskipun dalam Kepmen LH tidak ditetapkan ambang batas amannya, Cd merupakan salah satu logam berat yang sangat berbahaya bagi hidupan. Pantai Tayu terletak jauh dari kawasan permukiman padat dan tidak terdapat industri besar yang cukup berarti, sehingga kadar Cd terukur relatif rendah. Sebaliknya Bulak memiliki sungai-sungai kecil yang menjadi tempat pembuangan limbah beberapa industri rumah tangga dan kawasan pertanian, sehingga kadar Cd terukur relatif tinggi. Cd merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena dapat mempengaruhi sistem pembuluh darah, serta terakumulasi dalam tubuh, khususnya di hati dan ginjal, dengan membentuk ikatan dengan protein-protein yang ada didalamnya, sehingga pengaruhnya dapat bersifat jangka panjang. Pada kadar rendah logam ini dapat menyebabkan gangguan terhadap paru-paru, emfisema pada hati dan gagal ginjal yang kronis (Suhendrayatna, 2001). Jumlah normal kadar Cd di dalam tanah kurang dari 1 ppm, tetapi di kawasan pertambangan dapat mencapai 1700 ppm (Fairbridge dan Finkl, 1994). Cd lebih mudah diakumulasi oleh tumbuhan daripada ion logam berat lainnya seperti Pb (Barchan dkk., 1998). Logam berat ini bersama-sama dengan Pb dan Hg dikenal sebagai tiga jenis logam berat dengan tingkat bahaya paling tinggi terhadap kesehatan manusia (Widle dan Benemann, 1993). Menurut FAO/WHO, konsumsi Cd per minggu yang dapat ditoleransi manusia adalah 400-500 µg per orang atau 7 µg per kg berat badan (Barchan dkk., 1998).

212

2) Kadar Kromium (Cr) Kadar Cr bervariasi antara 0,3042 mg/100g (Bengawan) s.d. 3,0808 (Lukulo), dengan rata-rata 1,0583 mg/100g (Tabel 13.). Sebagai pembanding dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep-

51/MENLH/10/1995 ditetapkan baku mutu untuk Cr sebesar 0,1-0,5 mg/L (1-5 mg/100 ml). Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP 82/2001 untuk kelas I ditetapkan kadar Cr(VI) sebesar 0,05 mg/L (0,5 mg/100 ml). Bengawan merupakan sungai dengan aliran pendek dan tidak melewati kawasan permukiman padat atau industri. Sebaliknya Lukulo memiliki daerah aliran sungai cukup luas dan melewati kawasan permukiman padat dan industri, misalnya kota Kebumen. Cr merupakan logam berbahaya di permukaan bumi dan dijumpai dalam kondisi oksida antara Cr(II) sampai Cr(VI), tetapi hanya Cr(III) dan Cr(VI) yang memiliki kesamaan sifat biologi. Cr(III) merupakan bentuk yang umum dijumpai di alam, bahkan dalam tubuh makhluk hidup Cr selalu bervalensi tiga. Cr(VI) merupakan salah satu materi organik pengoksida tinggi, sehingga dapat memperpendek umur sel dan organel-organel di dalamnya. Sifat racun Cr(III) jauh lebih rendah dibandingkan dengan Cr(VI) (Suhendrayatna, 2001). Pada bahan makanan dan tumbuhan mobilitas Cr relatif rendah (Fairbridge dan Finkl, 1994; Barchan dkk., 1998). Konsumsi harian Cr yang diperkenankan pada manusia adalah di bawah 100 µg. Konsumsi ini kebanyakan berasal dari makanan, sedang dari air dan udara sangat sedikit (Barchan dkk., 1998).

213

3) Kadar Timbal (Pb) Kadar Pb bervariasi antara 0,7026 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 2,1304 mg/100g (Serayu) dengan rata-rata 1,3885 mg/100g (Tabel 13.). Sebagai pembanding dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep51/MENLH/10/1995 ditetapkan baku mutu untuk Pb sebesar 0,01-1 mg/L (0,1-10 mg/100 ml). Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP 82/2001 untuk kelas I ditetapkan kadar Pb sebesar 0,03 mg/L (0,3 mg/100 ml). Cingcingguling merupakan sungai yang relatif kecil, alirannya pendek, dan daerah aliran sungainya sempit. Sungai ini juga tidak melewati kawasan permukiman padat atau kawasan industri, sehingga dalam penelitian ini kadar bahan pencemar Pb paling rendah. Sebaliknya Serayu merupakan sungai yang besar, panjang dan daerah aliran sungainya luas. Sungai ini juga menjadi tempat pembuangan limbah dari kawasan permukiman padat dan industri, termasuk limbah dari kota Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo yang padat kendaraan bermotor. Hal ini menyebabkan kadar Pb pada muara Serayu sangat tinggi. Menurut Shriadah (1999), konsentrasi Pb yang tinggi dapat disumbangkan oleh tumpahan minyak, buangan limbah kendaraan bermotor, baterai dan terutama pembakaran minyak yang mengandung Pb untuk meningkatkan angka oktannya. Mengingat penggunaannya yang luas dalam dunia industri dan perdagangan, siklus biogeokimia Pb lebih rumit daripada kebanyakan logam berat lain. Produksi limbah Pb sekitar 20 kali lebih tinggi dibandingkan laju peruraiannya, sehingga sejumlah besar Pb antropogenik terakumulasi di biosfer, dan menjadi pencemar utama (Cao dkk., 2003). Sumber utama limbah Pb adalah

214

komponen gugus alkil-Pb yang digunakan sebagai bahan tambahan bensin, untuk menaikkan nilai oktan agar mudah dibakar. Umumnya Pb masuk ke tubuh melalui makanan dan minuman (Widle dan Benemann, 1993). Pb beracun terhadap seluruh aspek kehidupan, seperti sistem saraf, hemetologis, hemetotoksis, dan ginjal. Menurut WHO toleransi konsumsi mingguan Pb pada orang dewasa adalah 50 µg/kg berat badan, sedang pada bayi atau anak 25 µg/kg berat badan (Barchan dkk., 1998). Mobilitas Pb di tanah dan tumbuhan cenderung lambat, kadar normal pada tumbuhan berkisar antara 0,5-3 ppm (Fairbridge dan Finkl, 1994). Pb yang sangat beracun ini dapat ditemukan pada setiap benda mati maupun sistem biologi. Dalam ekosistem akuatik, Pb terutama dihasilkan dari aktivitas antropogenik. Pb mencapai kawasan mangrove melalui aliran sungai, deposisi dari atmosfer, pelindihan tanah, dan rembesan air tanah. Ketersediaan oksigen di badan air dan reaktivitas antara Pb dengan partikel-partikel oksida yang tinggi menyebabkan terjadinya absorbsi dan akumulasi Pb dari badan air ke dalam sedimen tanah secara terus-menerus. Pb mengalami remobilisasi pada sedimentwater interface, saat pelarutan partikel-partikel redoks yang sensitif di badan air. Pb dapat diserap dari air anoksik melalui presipitasi dengan sulfida atau FeS, tetapi penyerapan Pb tidak dapat terjadi selama aktivitas produk ionik melampaui kelarutan PbS (Taillefert dkk., 2000).

c) Fitoremediasi Pencemaran logam berat dapat diatasi dengan perlakuan kimia, namun proses remediasi ini seringkali sangat mahal dan tidak berlaku spesifik untuk

215

logam berat tertentu, karena adanya kompetisi antar ion. Beberapa jenis perlakuan kimia tidak dapat diterapkan secara murah dalam skala luas. Di sisi lain, perlakuan biologi berpotensi untuk mengambil logam berat beracun secara sangat selektif dan fleksibel, karena dapat digunakan secara in situ atau ex situ tergantung bentuk bioreaktornya. Kebanyakan proses ini menggunakan

mikroorganisme yang secara alamiah berperan penting dalam siklus biogeokimia logam berat tersebut (Lloyd dan Lovley, 2001). Ekosistem mangrove merupakan barier biogeokimia terhadap bahan pencemar logam berat dalam sedimen tanah. Tumbuhan mangrove sebagaimana beberapa spesies bakteri dapat bertindak sebagai pengeliminasi logam berat. Peran ini pada tumbuhan dikenal sebagai fitoremediasi, sedangkan pada bakteri dikenal sebagai bioremediasi. Tumbuhan dapat mengeliminasi logam berat melalui beberapa cara, seperti (i) fitostabilisasi: tumbuhan menstabilkan limbah di dalam tanah; (ii) fitostimulasi: akar tumbuhan menstimulasi penghancuran limbah dengan bantuan bakteri rhizosfer; (iii) fitodegradasi: tumbuhan mendegradasi limbah; (iv) fitoekstraksi: jaringan tumbuhan, terutama daun mengakumulasi limbah; (v) fitovolatilisasi: limbah diubah menjadi senyawa yang mudah menguap; serta (vi) rhizofiltrasi: akar menyerap limbah dari air (Kompas, 31/08/2004). Tumbuhan mangrove dapat menyerap logam berat dan menyimpannya dalam jaringan tubuh, seperti daun, batang dan akar, sehingga dapat mengurangi tingkat pencemaran di tanah sedimen dan air. Namun berbeda dengan bakteri yang dapat mengubah tingkat oksidasi dan ordinasi logam berat menjadi kurang

216

berbahaya, pada fitoremediasi sebagian logam berat yang diserap tetap dalam kondisi membahayakan manusia, sehingga kayu atau panenan lain dari tumbuhan tersebut harus diperlakukan secara khusus karena tetap mengandung zat beracun, meskipun tingkat peracunan ini umumnya terbatas karena logam berat yang tertahan di lapisan akar umumnya tidak berada dalam kondisi dapat diserap makhluk hidup, dengan kata lain bioavailabilitasnya rendah. Tumbuhan mangrove mampu mengalirkan oksigen melalui akar ke dalam sedimen tanah untuk mengatasi kondisi anaerob pada sedimen tersebut, kemudian dengan bantuan bakteri tertentu menghasilkan lapisan rhizosfer yang mengandung oksigen dan mampu memfiksasi logam berat dalam bentuk nonbioavailable. Di samping itu, sistem perakaran tumbuhan mangrove yang besar dan luas dapat menahan dan memantapkan sedimen tanah, sehingga mencegah tersebarnya bahan pencemar ke area yang lebih luas dan memungkinkan remobilisasi bahan pencemar secara fisik. Terserap dan tertahannya logam berat oleh lapisan rhizosfer di sekitar akar menyebabkan terjadinya penurunan tajam konsentrasi logam berat pada permukaan atas lapisan sedimen dan mencegah perpindahan ke perairan pantai disekitarnya. Logam berat di lapisan rhizosfer ini umumnya dalam bentuk kimia yang sulit diserap akar tumbuhan (Lacerda dkk., 1993). Proses remediasi terjadi karena tumbuhan dapat melepaskan senyawa kelat, seperti protein dan glukosida, yang berfungsi mengikat logam dan dikumpulkan di jaringan tubuh. Sistem fitoremediasi berbiaya murah, efektif, dan dapat dikerjakan secara in situ, tetapi memerlukan waktu lama dan pemeliharaan terhadap tumbuhan yang digunakan (Stomp dkk., 1993; Schnoor dkk., 1995;

217

Jones dkk., 2000). Kemajuan pemahaman pengaruh logam berat terhadap makhluk hidup dan potensi untuk mengatur aktivitasnya menggunakan biologi molekuler, membuka cakrawala pengembangan proses bioremediasi logam berat yang lebih baru atau diperkaya (Lloyd dan Lovley, 2001). Perpaduan proses fitoremediasi yang memiliki keterbatasan-keterbatasan di atas dengan proses bioremediasi yang diperkaya di lapisan rhizosfer tanah, di masa depan diharapkan dapat menjadi sarana pengeliminasi logam berat di lingkungan secara efektif dan efisien.

3. Unsur Nutrien Parameter nutrien yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), dan fosfat (PO43-). Parameter-parameter di atas, merupakan beberapa parameter yang memiliki karakteristik khas untuk lingkungan mangrove. Data pengamatan selengkapnya tersaji pada Tabel 14.

218

Tabel 14. Hasil pengukuran unsur nutrien pada kawasan ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Unsur hara/nutrien Lokasi 1. Wulan 2. Sigrogol 3. Serang 4. Bulak 5. Telukawur 6. Tayu 7. Juwana 8. Pecangakan 9. Pasar Banggi 10. Lasem 11. Bogowonto 12. Cakrayasan 13. Lukulo 14. Cingcingguling 15. Ijo 16. Bengawan 17. Serayu 18. Tritih 19. Motean 20. Muara Dua Rata-rata BOT (%) 8,308 12,355 10,337 15,361 11,738 11,435 13,068 9,194 11,010 13,523 9,986 11,203 11,080 9,160 14,564 11,136 9,766 10,403 10,148 11,429 11,260 NO3(mg/100gr) 0,354 0,438 0,412 0,671 0,512 0,477 0,414 0,379 0,405 0,425 0,565 0,361 0,354 0,327 0,391 0,459 0,366 0,333 0,396 0,408 0,4224 NH4+ (mg/100gr) 0,174 0,316 0,223 0,401 0,251 0,203 0,328 0,235 0,308 0,345 0,304 0,340 0,215 0,263 0,409 0,365 0,267 0,240 0,230 0,276 0,2847 PO4 3(mg/100gr) 4,86 6,68 6,02 8,05 7,36 7,44 7,79 6,07 7,13 7,87 6,26 7,15 6,71 4,73 8,39 6,96 5,73 6,99 6,77 7,06 6,80

a) Bahan Organik Total (BOT) Bahan organik total sering kali diartikan sebagai bahan organik karbon, karena karbon merupakan unsur utama penyusun makhluk hidup. Unsur karbon merupakan kerangka dasar (backbone) semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup. Kadar bahan organik dalam sedimen tanah mangrove berasal dari

219

produktivitas primer setempat yang sebagian besar disumbangkan oleh tumbuhan mangrove (autochthonous) dan masukan yang terbawa oleh aliran aliran permukaan dari daerah aliran sungai yang bermuara padanya (allochthonous). Oleh karena itu kelebatan vegetasi mangrove maupun hutan-hutan di sepanjang daerah aliran sungai, serta kegiatan antropogenik dapat mempengaruhi kadar bahan organik total di lingkungan mangrove. Bahan organik total sangat penting dalam menentukan derajat keasaman (pH) tanah sedimen, namun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu pH tanah. Menurut Rao (1994) kadar bahan organik sangat menentukan stabilitas tanah yang mengandung lempung, karena bahan organik beserta kondisi alami mikrobia dapat menyatukan partikelpartikel tanah menjadi suatu agregat. Tekstur tanah sangat mempengaruhi keberhasilan hidup tumbuhan dan mikrobia. Dalam penelitian ini BOT tertinggi dijumpai di Bulak (15,361%), sedangkan terendah di Wulan (8,308%), adapun rata-ratanya adalah 11,260%. Bahan organik bukan merupakan bahan pencemar sehingga tidak diatur dalam Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair maupun PP 82/2001 tentang Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas. Rendahnya BOT di Wulan kemungkinan disebabkan tanahnya merupakan tanah akresi yang umurnya relatif masih muda, dengan vegetasi mangrove yang relatif masih muda pula, sehingga akumulasi serasah relatif terbatas. Adapun tingginya BOT di Bulak karena pengambilan sampel tanah dilakukan pada tempat-tempat cekung, tempat mengumpulnya serasah dan air saat laut surut, sehingga memiliki akumulasi bahan organik yang cukup tinggi. Pada lingkungan mangrove yang vegetasinya

220

relatif lebih mapan, namun masih mengalami akresi lumpur, seperti Segara Anakan dan sekitarnya, kadar BOT berada pada kisaran rata-rata, yakni sebesar 10,403% (Tritih), 10,148% (Motean), dan 11,429% (Muara Dua). Penelitian Sudarmadji (2000) di kawasan mangrove Taman Nasional Baluran menunjukkan kadar bahan organik karbon berkisar antara 18,98-36,36% Siklus biogeokimia karbon di lingkungan banyak dibantu oleh makhluk hidup, yang melakukan transformasi kimia dan penyimpanan. Karbon di dalam tanah terdiri dari dua komponen, yaitu karbon organik yang umumnya terletak hingga kedalaman 1 m dari permukaan tanah, serta karbon inorganik (> 1 m). Karbon di dalam tanah jumlahnya 3,3 kali lebih banyak daripada di atmosfer, sedangkan karbon pada biomassa tumbuhan 4,0 kali lebih banyak daripada di atmosfer (Lal, 1999). Tanah merupakan tempat penyimpanan utama karbon dan berperan penting dalam pengaturan siklusnya. Namun penyimpanan karbon di atmosfer terus meningkat setiap tahun, kebanyakan dalam bentuk CO2. Kegiatan antropogenik merupakan faktor utama yang menyebabkan perubahan siklus karbon di lingkungan. Penyebab utama peningkatan ini adalah (i) pembakaran bahan bakar fosil, (ii) aktivitas pabrik semen, serta (iii) deforestasi, penggunaan lahan, dan pengolahan tanah (Subramanian dan Verma, 2000). Faktor lingkungan fisik dan biotik pada ekosistem mangrove dapat mempengaruhi dinamika karbon organik dalam sedimen, misalnya terjadinya sinergi antara periode genangan (fisik) dengan konsumsi detritus oleh invertebrata bentos (biotik) (Lee, 1995; Bouillon dkk., 2003).

221

Kemampuan hutan untuk menyimpan dan mensekuestrasi karbon, menjadi perhatian dunia sehubungan dengan upaya mitigasi efek rumah kaca. Pembukaan ekosistem mangrove diyakini turut menyumbangkan emisi CO2 dan CH4 ke atmosfer mengingat ekosistem ini kaya akan bahan organik, baik yang terkumpul sebagai autochthonous dari lingkungan mangrove itu sendiri maupun sebagai allochthonous dari kawasan sungai dan laut di sekitarnya, sehingga harus dilakukan dengan manajemen yang tepat.

b) Kadar Nitrat (NO3-) dan Ammonium (NH4+) Dalam penelitian ini unsur nitrogen yang diamati dalam sedimen hanya NO3- dan NH4+, mengingat hanya keduanya yang dapat diserap langsung tumbuhan dan produsen primer lainnya. Adapun NO2- biasanya hanya terdapat dalam jumlah kecil pada tanah yang teraerasi dengan baik (Schroth dkk., 2003). Nitrogen sangat penting bagi kehidupan, karena menjadi komponen utama dalam (i) klorofil, pigmen hijau produsen primer yang menyerap sinar matahari selama fotosintesis, (ii) asam amino, kerangka dasar protein, dan (iii) material genetik, termasuk asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA). Nitrogen merupakan unsur keempat yang paling banyak dijumpai pada jaringan tubuh makhluk hidup, setelah oksigen, karbon, dan hidrogen (Hauxwell dkk., 2001). Kebanyakan nutrien penting yang dibutuhkan tumbuhan dan produsen primer lainnya diperoleh dari pelapukan batuan, kecuali nitrogen yang tersedia melimpah sebagai gas dinitrogen (N2), yakni 78% penyusun udara. Nitrogen alami dapat bersumber dari fiksasi oleh bakteri, mineralisasi bahan organik tanah, dan

222

deposisi dari udara, sedangkan sumber nitrogen antropogenik antara lain: pupuk dan limbah peternakan, pembakaran bahan organik atau bahan bakar fosil, dan dekomposisi bahan organik (Vitousek dkk., 1997; Nasholm dkk., 2000; Hauxwell dkk., 2001). Adapun kehilangan nitrogen di alam dapat disebabkan pelindihan nitrat, volatilisasi, dan denitrifikasi (Schroth dkk., 2003). Kebanyakan tumbuhan tidak dapat menggunakan N2 secara langsung, karena tidak mampu memecahkan ikatan dinitrogen tersebut. Energi kilat dapat mematahkan ikatan N2, serta menghasilkan NO2 -, NO3 -, dan NH4+. Organisme pemfiksasi nitrogen, sepertti mikorhiza, bakteri bintil akar dan cyanobacteria, dapat mengubah N2 menjadi NH4+, dan selanjutnya dioksidasi oleh bakteri tanah menjadi NO2- dan NO3-, melalui proses nitrifikasi. Terdapat pula proses reduksi NO3- menjadi NO2-, yang hanya terjadi pada kondisi aerob. Tumbuhan dapat menyerap NO3-, dan mengubahnya menjadi NH4+ sebelum digunakan dalam sintesis protein (Herbert, 1999; Hauxwell dkk., 2001; Silver dkk., 2001). Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi nitrogen inorganik, terutama NO3 - dan NH4+, di perairan pantai adalah masukan nutrien dari daratan/sungai dan kondisi fisika-kimia di permukaan sedimen (sedimen-water interface). Perubahan nutrien ini sangat ditentukan oleh laju sedimentasi, dekomposisi detritus, dan transportasi nutrien dari dan ke badan air oleh inhewan. Laju ammonifikasi (pelepasan NH4+ dari bahan organik), nitrifikasi (oksidasi NH4+ menjadi NO3-) dan denitrifikasi (reduksi NO3- menjadi N2 dan N2O) dapat diestimasi dari perubahan NO3 - dan NH4+ di permukaan sedimen (Jensen dkk., 1990).

223 Dalam penelitian ini, kadar NO3- bervariasi antara 0,327 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 0,671 mg/100g (Bulak), dengan rata-rata 0,4224 mg/100g. Kadar NH4+ bervariasi antara 0,174 mg/100g (Wulan) s.d. 0,409 mg/100g (Ijo) dengan rata-rata 0,2847 mg/100g. Sebagai pembanding dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 ditetapkan baku mutu untuk NO3- sebesar 20-30 mg/L (200-300 mg/100mL); sedangkan untuk NH3 (NH4+) sebesar 1-5 mg/L (10-50 mg/100mL). Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP 82/2001 untuk kelas I, ditetapkan kadar NO3sebesar 10 mg/L (100 mg/100mL); sedangkan untuk NH3 (NH4+) sebesar 0,5 mg/L (5 mg/100mL). Angka hasil penelitian di atas relatif rendah dan tidak terlalu berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya. Hasil di atas berbeda dengan anggapan umum bahwa kawasan di sekitar lahan pertanian intensif akan cenderung memiliki kandungan unsur-unsur nutrien kimia inorganik, seperti NO3- dan NH4+, yang relatif lebih tinggi karena adanya sumbangan pupuk dari lahan pertanian. Dalam penelitian ini, kawasan mangrove Cingcingguling yang dikelilingi area pertanian intensif (sawah) ternyata memiliki kadar NO3-, paling rendah daripada lokasi lainnya. Sebaliknya pada proses pengambilan data secara berurutan (simultan) di Ijo yang daerah aliran sungainya juga mencakup area pertanian ternyata kandungan NH4+ paling tinggi. Hal ini kemungkinan dikarenakan jumlah pupuk kimia yang ditebarkan di lahan pertanian dan selanjutnya terbawa ke kawasan mangrove tidak cukup besar, sehingga kadar NO3- dan NH4+, di kawasan tersebut lebih tergantung pada proses biogeokimia secara umum daripada sumbangan input nutrien dari lahan pertanian. Meskipun

224 demikian tingginya kadar NO3- di Bulak yang merupakan area pertambakan dibandingkan kawasan lain, kemungkinan disumbangkan oleh kegiatan

pemupukan tambak, mengingat tidak adanya sumber antropogenik lain yang cukup besar. Adapun rendahnya kadar NH4+ di Wulan dapat pula disebabkan sedimen tanah akresinya didominasi material lempung. Muatan listrik pada permukaan jenis tanah ini dapat berikatan dengan NH4+ membentuk koloid, sehingga keberadaannya tidak terdeteksi, meskipun pada akhirnya nutrien ini dapat pula dilepaskan kembali (Herbert, 1999).

c) Kadar Fosfat (PO43-) Unsur fosfor yang diteliti hanya senyawa PO43-, mengingat hanya senyawa ini yang berada dalam keadaan tersedia bagi tumbuhan dan produsen primer lainnya. Fosfor merupakan komponen penting dalam DNA, suatu molekul hereditas, ditemukan pula dalam adenosin trifosfat (ATP), suatu molekul pemindah dan penyimpan energi, fosfor juga diperlukan dalam berbagai reaksi enzimatis (Marschner, 1995; Hauxwell dkk. 2001). Hampir semua fosfor alami di dalam tanah berasal dari pelapukan mineral primer, terutama apatite (Mott, 1988). Pengukuran kandungan fosfor di dalam tanah sangat penting, mengingat sifatnya yang sangat immobil, sehingga pengambilan sampel pada kedalaman yang berbeda dan/atau pada lokasi yang berbeda dapat menghasilkan kandungan fosfor yang jauh berbeda (Schroth dkk., 2003). Untuk itu dalam penelitian ini digunakan teknik pengambilan sampel komposit, dengan mencampur hingga homogen sampel tanah dari beberapa titik.

225 Dalam penelitian ini kadar PO43- bervariasi antara 4,73 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 8,39 mg/100g (Ijo) dengan rata-rata 6,80 mg/100g. Dalam Baku Mutu Limbah Cair menurut Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 baku mutu untuk PO43- tidak ditetapkan. Adapun dalam Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas menurut PP 82/2001 untuk kelas I ditetapkan kadar PO43sebesar 0,2 mg/L (2 mg/100mL), sehingga kadar fosfat di lokasi penelitian semuanya berada di atas ambang yang diperkenankan. Tingginya kadar PO43- ini terjadi karena adanya suplai dari laut, sebagaimana diketahui PO43- bukan merupakan faktor pembatas pada lingkungan perairan laut, dan ketersediaannya di laut sangat melimpah. Kadar PO43- di Cingcingguling merupakan yang terendah, yaitu 4,73 mg/100g. Hal ini kemungkinan disebabkan daerah aliran sungai tersebut sebagian berhulu di Pegunungan Gombong yang merupakan pegunungan karst (gamping), sehingga memiliki sedimen yang kaya kalsium karbonat (CaCO3). Senyawa PO43dapat berikatan dengan CaCO3, sehingga keberadaannya tidak terukur dalam pengujian di laboratorium. Bentuk senyawa kompleks ini juga kurang dapat diserap tumbuhan, sehingga unsur fosfor menjadi faktor pembatas pertumbuhan (Mott, 1988; Hauxwell dkk. 2001). Hal yang sama kemungkinan juga terjadi di Wulan, yang memiliki kadar PO43hampir sama rendahnya dengan

Cingcingguling, yaitu 4,86 mg/100g. Sebagian kawasan hulu daerah aliran sungai ini adalah Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan pegunungan karst. Rendahnya kadar PO43- di Wulan dapat pula disebabkan karena sedimennya bersifat lempung (clay). Kawasan karst disusun oleh batuan gamping, yang di

226

sela-selanya terdapat tanah lempung dengan jumlah yang beragam antar lokasi. Menurut Mott (1988) tanah lempung, kalsium, dan aluminium dapat berikatan dengan fosfor. Kadar PO43- yang paling tinggi ditemukan di Ijo (8,39 mg/100g), diikuti Bulak (8,05 mg/100g). Ijo merupakan sungai yang melewati lahan pertanian sawah cukup luas, sehingga diperkirakan terdapat masukan pupuk inorganik fosfat dari kawasan tersebut. Adapun Bulak merupakan kawasan pantai yang dikelilingi area tambak cukup luas pada sisi yang mengarah ke laut, serta lahan pertanian sawah pada sisi yang mengarah ke daratan. Limpahan pupuk yang digunakan untuk menyuburkan sawah dan tambak ini kemungkinan menjadi penyebab tingginya kadar fosfat.

G. Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove dan Penggunaan Lahan di Sekitarnya, serta Upaya Restorasinya Jenis-jenis pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah sangat bervariasi, antara lain sebagai: tambak ikan/udang, pemasangan jaring apung (karamba) dan area penangkapan ikan secara langsung; sumber kayu bakar dan arang, kayu bangunan; bahan pangan; pakan ternak; bahan obat; bahan baku industri; serta sebagai kawasan pariwisata dan pendidikan (Tabel 15.). Jenis-jenis penggunaan lahan di sekitar ekosistem tersebut juga sangat bervariasi, antara lain sebagai lahan untuk tambak (udang/ikan, garam), pertanian (sawah, tegalan, ladang penggembalaan), permukiman (rural, urban), pelabuhan (besar; kecil/dermaga ikan dan tempat

227

pelelangan ikan/TPI), jalan negara dan propinsi, serta kawasan industri (Tabel 16.). Jenis-jenis pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya sangat terkait dengan luasan lahan, dan dalam skala tertentu telah menyebabkan kerusakan ekosistem mangrove, sehingga diperlukan upaya restorasi. Kegiatan restorasi dilakukan hampir di seluruh lokasi, dengan inisiatif, intensitas pelaksanaan, dan tingkat keberhasilan yang sangat beragam (Tabel 17.). Gambar beberapa kasus pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya, serta upaya restorasinya disajikan pada Lampiran 9 (Gambar 144-161).

228

Tabel 15. Pemanfaatan langsung di dalam ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Perikanan Kayu Kayu bakar & arang Sosial

Jaring apung

Lokasi Tambak

Bahan industri laut selatan)

Tangkap langsung

Pakan ternak **)

Bahan pangan *)

Kayu bangunan

Bahan obat

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

Wulan Sigrogol Serang Bulak Telukawur Tayu Juwana Pecangakan Pasar Banggi Lasem Bogowonto Cakrayasan Lukulo Cingcingguling Ijo Bengawan Serayu Tritih

ü • • • • • • • • • • • • • • • • • ü ü

ü • • • • • • • • • • • • • • • • • ü ü

ü ü ü • • • ü ü • • • • • • • • ü ü ü

ü • ü • • • • ü ü • • • • • • • • ü ü ü

ü • • • • • • ü ü • • • • • • • • ü ü ü

ü 1) ü 1) ü 1) • • ü 1) • ü 1) ü 1) • • • • • ü 2) • • ü 3) ü 3) ü 3)

• • • • • • • • ü ü ü ü ü ü ü • ü • • •

• • • • • • • • • • ü • • • • • • • ü ü

• • • • • • • • • • • • • • • • ü 1) ü 2) ü 3) ü 3)

ü • • ü • • ü • ü • • • • • ü • • ü ü ü

• • ü ü • • • ü • ü • • • • • • ü ü ü

19. Motean 20. Muara Dua

Keterangan: ü = hadir, • = tidak hadir *) Bahan pangan dari tumbuhan yang kadang-kadang masih dijual di pasar: 1) buah Avicennia, 2) buah Nypa fruticans, 3) berbagai spesies tetapi tidak dijual di pasar, seperti buah Nypa fruticans, buah Sonneratia, propagul Rhizophora. **) Pakan ternak umumnya mencakup: daun/ranting Rhizophora, Sonneratia, Avicennia, dan rumput-rumputan (Gramineae). ***) Jenis bahan baku industri: 1) pasir bijih besi; 2) lempung campuran semen; 3) kepala shuttlecock dari pneumatofora Sonneratia.

Pendidikan •

Pariwisata

229

Tabel 16. Penggunaan lahan di sekitar (di luar tegakan) ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Tambak Pertanian Pengembangan/ Bangunan Permukiman Pelabuhan Kecil/ Dermaga ikan & TPI Jalan negara/ propinsi • • • • • ü • ü ü ü ü • • • ü ü ü ü • •

Udang/ ikan

Lokasi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

Wulan Sigrogol Serang Bulak Telukawur Tayu Juwana Pecangakan Pasar Banggi Lasem Bogowonto Cakrayasan Lukulo Cingcingguling Ijo Bengawan Serayu Tritih Motean

ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü ü • ü • • ü ü ü

• • • • • • • ü ü ü • • • • • • • • •

ü ü ü • • • • • • • • • • ü • ü ü ü • •

• • • • • • • • • • ü ü ü • ü ü ü • • •

• • • • • • • • • • ü ü ü • • • • • • •

ü ü ü ü • • • ü • • ü ü ü ü ü ü ü • ü ü

• • • • ü ü ü • ü ü • • • • • • • ü • •

• • • • • • ü • • • • • • • • • • ü • •

ü • • • • ü ü ü ü ü ü ü • • ü • ü ü • •

• • ü • •

• Keterangan: ü = hadir, • = tidak hadir 20. Muara Dua

Industri besar • • • • • • • • • • • • • • •

Pastoral

Tegalan

Garam

Sawah

Urban

Rural

Besar

230

Tabel 17. Kegiatan restorasi ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Lokasi 1 1. Wulan 2. Sigrogol 3. Serang 4. Bulak 5. Telukawur 6. Tayu 7. Juwana 8. Pecangakan Restorasi 2 ü ü • ü ü • • ü Inisiatif 3 Pemerintah Masyarakat Pemerintah, Univ. Pemerintah, Univ. Masyarakat Masyarakat Perkiraan Spesies utama yang luas ditanam 4 5 5-10 ha Rhizophora spp. • • • ± 1 ha Avicennia spp. 1-2 ha Rhizophora spp. • • ± 1 ha Rhizophora spp. • < 1 ha 1-2 ha Exoecaria agallocha Sonneratia spp. Avicennia spp. • • • • • • • • • • Tujuan 6 Menjaga stabilitas garis pantai Memperluas area mangrove Menjaga stabilitas tebing sungai dan garis pantai Menjaga stabilitas garis pantai Membangun kawasan wisata dan pendidikan Menjaga stabilitas garis pantai Menjaga stabilitas tebing sungai Memperluas area mangrove. Menjaga stabilitas garis pantai Menahan hempasan gelombang laut Memperluas area mangrove. Menjaga kawasan sekitarnya dari sedimentasi Membangun kawasan wisata dan pendidikan Menahan hempasan gelombang laut Menyediakan suplai kayu masyarakat Menjaga stabilitas tebing sungai dan pantai Tingkat *) keberhasilan 7 ++ ++ +++ + + ++

9. Pasar Banggi

ü

Pemerintah, masyarakat

15-20 ha Rhizophora spp.

++++

10. Lasem

ü

Masyarakat

± 1 ha

Rhizophora spp.

++

berlanjut

231

lanjutan
1 11. Bogowonto 2 ü 3 4 Pemerintah, 1-2 ha Univ., Masyarakat Pemerintah ± 1 ha Pemerintah ± 1 ha Masyarakat < 1 ha Masyarakat < 1 ha Pemerintah ± 10 ha (Perhutani) 5 Rhizophora spp., • Sonneratia spp. • Rhizophora spp. Rhizophora spp. Nypa fruticans Nypa fruticans Rhizophora spp. • • • • • • 6 Mengembalikan fungsi ekosistem yang hampir hilang Menjaga warisan ekosistem mangrove satusatunya di Yogyakarta Mengembalikan fungsi ekosistem yang hampir hilang Mengembalikan fungsi ekosistem yang hampir hilang Menjaga stabilitas tebing sungai Menyediakan suplai bahan pangan Menjaga stabilitas tebing sungai Menyediakan suplai bahan pangan Membangun area wisata alam dan pendidikan Menjaga keanekaragaman hayati Membangun kawasan konservasi ex situ Mengembalikan fungsi ekosistem yang rusak Menjaga keanekaragaman hayati Menyediakan suplai kayu masyarakat Menyediakan suplai bahan pangan Menyediakan sarana pendidikan dan wisata 7 +

12. Cakrayasan 13. Lukulo 14. Cingcingguling 15. Ijo 16. Bengawan 17. Serayu 18. Tritih

ü ü ü ü • • ü

+ ++ +++

• • • ü 19. Motean Pemerintah ± 5 ha Rhizophora spp. • + (BPKSA) • • • • ü 20. Muara Dua sda sda sda sda sda Keterangan: ü = hadir, • = tidak hadir; *) ++++ = sangat berhasil, +++ = berhasil, ++ = sedang, + = hampir gagal, - = gagal atau tidak ada restorasi.

232

1. Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove Nilai ekonomi kawasan mangrove yang dihasilkan dari peran ekologi dan produk panennya sering diabaikan sehingga kawasan ini banyak diubah menjadi kawasan pertanian, pertambakan ikan, tambak garam, kehutanan, dan infrastruktur (Ronnback, 1999). Dalam penelitian ini, tidak ada satupun dari ke-20 lokasi yang diteliti telah ditetapkan sebagai kawasan lindung, sehingga aktivitas manusia di dalamnya relatif tinggi.

a) Perikanan Di Wulan dan Segara Anakan, sebagian vegetasi mangrove ditebang untuk tambak ikan/udang. Hampir semua tambak tersebut menggunakan sistem tambak intensif, hampir tidak ada yang melakukannya dengan sistem empang parit (tambak tumpang sari). Pada tambak intensif, semua tumbuhan mangrove dibersihkan, sisa-sisa tumbuhan mangrove hanya di tepian tambak, khususnya yang berbatasan dengan sungai untuk mencegah abrasi, sedangkan pada sistem empang parit luasan tambak dan luasan vegetasi mangrove yang disisakan relatif sama (Hartina, 1996; Anonim. 1997), sehingga tetap memungkinkan tumbuhnya vegetasi mangrove. Sama halnya dengan tambak, jaring apung/karamba juga dikembangkan secara luas di kedua lokasi tersebut. Jaring apung ini sekaligus digunakan untuk menangkap anakan biota laut yang menggunakan lingkungan mangrove untuk berkembangbiak, seperti udang dan ikan bandeng, sehingga dalam sudut pandang konservasi jaring apung dapat mengganggu suplai bibit ke perairan laut demersal

233

di tepi pantai. Perikanan tangkap merupakan produk mangrove yang bernilai ekonomi paling tinggi (Hamilton dkk., 1989). Perikanan tangkap juga dilakukan di dalam kawasan mangrove, khususnya pada kawasan yang memiliki perairan luas seperti Wulan dan Segara Anakan. Di tempat-tempat lain sebenarnya juga terjadi penangkapan langsung, tetapi jumlahnya relatif terbatas, mengingat terbatasnya luasan ekosistem mangrove. Perikanan tangkap langsung di kawasan mangrove yang memberi dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat secara luas terjadi di Segara Anakan, jenis-jenis yang ditangkap beragam dari udang, ikan, kerang, hingga kepiting. Hasil tangkapan ini banyak dijual di pasar-pasar kota Cilacap. Di samping itu, jenis-jenis ini juga menjadi sumber protein utama masyarakat Kampung Laut yang tinggal di dalam kawasan tersebut. Ikan yang menggunakan mangrove sebagai habitat tetap relatif terbatas, namun sejumlah besar ikan dan spesies laut menggunakan mangrove sebagai tempat berkembangbiak dan membesarkan anak. Ikan-ikan ini banyak ditangkap nelayan di tepian pantai maupun di lepas pantai dengan nilai ekonomi tinggi. Mangrove merupakan area pembibitan yang penting bagi udang dan kepiting komersial. Di selat Malaka, sekitar 49% ikan demersal, serta di keseluruhan Asia Tenggara sekitar 30% ikan dan hampir 100% udang secara langsung terkait dengan lingkungan mangrove. Kepiting mangrove merupakan salah satu produk ekonomi terpenting lingkungan mangrove, termasuk Scylla serrata yang berharga mahal. Mangrove juga menjadi habitat sejumlah besar spesies kerang, karena tersedianya cukup bahan organik yang diperlukan hewan penyaring ini (Ronnback, 1999).

234

Keterkaitan mangrove dengan produktivitas perikanan telah banyak dilaporkan (e.g. Primavera, 1995). Kawasan mangrove sangat diperlukan untuk perikanan pantai di daerah tropis. Habitat ini merupakan tempat persembunyian utama dan tempat mencari makan berbagai ikan dan kerang komersial yang penting. Pembabatan ekosistem mangrove, dapat menyebabkan hancurnya perikanan pantai secara permanen, sehingga terdapat perhatian besar untuk membentuk ekosistem mangrove (Bashan dkk., 1998). Pembabatan ekosistem mangrove selalu diikuti penurunan hasil tangkapan ikan dan udang pada perairan pantai di sekitarnya (Martosubroto dan Naamin, 1977), termasuk pembabatan mangrove untuk pertambakan. Oleh karena itu perlu adanya manajemen yang terintegrasi antara pengelola ekosistem mangrove dan perikanan, sehingga terbuka kesempatan untuk melakukan budidaya tambak secara berkelanjutan (Kairo dkk., 2001).

b) Kayu Pembabatan pepohonan merupakan penyumbang utama kerusakan ekosistem mangrove di dalam kawasan hutan, sebagaimana kawasan ekosistem mangrove Segara Anakan. Penebangan kayu ditujukan untuk bahan baku pembuatan arang, kayu bakar, dan bahan bangunan. Penebangan pohon untuk pembuatan arang hanya dilakukan di Segara Anakan, namun penebangan untuk tujuan kayu bakar lebih luas cakupan lokasinya. Sedangkan penggunaan kayu mangrove untuk bangunan rumah dalam jumlah besar juga hanya ditemukan di Segara Anakan, meskipun dalam jumlah terbatas juga dilakukan di Wulan,

235

Pecangakan dan Pasar Banggi. Jenis pohon yang ditebang untuk pembuatan arang umumnya Rhizophora spp. karena memiliki kalori yang cukup tinggi, sedangkan untuk kayu bakar hampir semua pohon digunakan. Adapun untuk bahan bangunan, selain digunakan Rhizophora spp., digunakan pula Sonneratia spp. dan Bruguiera spp., sedangkan daun N. fruticans untuk atap rumah masih dijumpai di Wulan. Penebangan hutan hingga tingkat yang tidak memungkinkan

penyembuhan secara alami merupakan ancaman serius ekosistem mangrove (Hasmonel dkk., 2000). Pembabatan ekosistem mangrove menyebabkan abrasi di Bulak dan Telukawur, hingga menghapus beberapa kawasan dari peta. Sebaliknya pengelolaan ekosistem mangrove yang baik di sekitar Pasar Banggi menyebabkan kawasan tersebut aman dari abrasi dan badai. Badai tsunami merupakan salah satu bencana alam paling merusak di kawasan pantai.

c) Bahan Pangan Kawasan mangrove sebagai sumber protein hewani telah dikenal luas sejak lama, tetapi sebagai sumber protein dan bahan makanan nabati relatif belum banyak dikenal. Dalam penelitian ini, banyak lokasi yang masyarakatnya memanfaatkan tumbuhan mangrove untuk bahan makanan, namun kuantitas dan kualitasnya relatif terbatas. Beberapa jenis bahan pangan dari tumbuhan mangrove masih dapat dijumpai di pasar. Buah Avicennia spp. biasa dimakan sebagai sayuran di kawasan pantai utara Jawa Tengah, bahkan masih dijual di pasaran, misalnya di Wulan dan Pasar Banggi. Sedangkan buah N. fruticans banyak dikonsumsi di kawasan pantai selatan, khususnya di Cingcingguling dan Ijo,

236

bahkan kadang-kadang dijual sebagai buah tangan untuk wisatawan, sebagaimana di kawasan wisata pantai Lohgending, Ayah, Kebumen yang terletak di muara sungai Ijo. Adapun di Segara Anakan, buah N. fruticans, buah Sonneratia spp., dan propagul Rhizophora spp. masih dikonsumsi penduduk namun tidak diperdagangkan. Pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai bahan pangan di lokasi penelitian ini, jauh lebih rendah daripada potensi yang ada. Di seluruh dunia, pada dasarnya tumbuhan mangrove menyediakan banyak bahan makanan.

Buah/hipokotil Bruguiera spp., Sonneratia caseolaris, dan Terminallia catapa mengandung pati dan dapat menjadi sumber karbohidrat. Daun muda Acrostichum aureum, Avicennia marina, dan Pluchea indica, hipokotil B. gymnorrhiza dan B. sexangula, serta buah, biji, dan seedling A. marina, A. officinalis, B. sexangula dapat dijadikan sayuran. Ekstraks galih kayu Avicennia alba dan A. officinalis dapat digunakan sebagai tonik; buah Rhizophora spp. dan Sonneratia caseolaris secara berturut-turut dapat dijadikan tuak dan sari buah. Nira bunga N. fruticans dapat diolah menjadi gula merah dan tuak, karena kandungan sukrosanya yang tinggi. Nipah juga dapat menghasilkan minyak goreng, daunnya untuk kertas rokok, dan abunya untuk sumber garam (Bandaranayake, 1998). Rendahnya pemanfaatan tumbuhan mangrove di lokasi penelitian sebagai bahan pangan, selain disebabkan karena rasa, warna, dan penampilannya, diduga karena adanya kesan bahwa bahan makanan tersebut hanya layak dikonsumsi orang miskin atau pada masa paceklik, serta kemudahan mendapatkan uang dari tangkapan biota laut untuk ditukar dengan beras dan bahan pangan lainnya.

237

d) Bahan Pakan Ternak Pakan ternak dari tumbuhan mangrove umumnya mencakup daun/ranting Rhizophora, Sonneratia, Avicennia, serta jenis rumput-rumputan (Gramineae). Hal ini dilakukan baik di pantai utara maupun selatan. Di pantai selatan, kawasan yang sering tergenang banjir di musim hujan atau dikenal dengan nama bonorowo, biasa digunakan sebagai lokasi penggembalaan ternak, baik sapi maupun kerbau, seperti di Bogowonto dan Lukulo. Di Bogowonto dan sekitarnya yang kawasan bonorowo-nya cukup luas dan sering tergenang, masyarakat banyak memelihara ternak kerbau yang relatif tahan terhadap rerumputan basah di area penggembalaan; rerumputan dari kawasan ini merupakan pakan utama hewan ternak tersebut. Di Lukulo yang kawasan bonorowo-nya lebih sempit dan cenderung kering, masyarakat umumnya memelihara sapi; rerumputan dari kawasan tersebut hanya menyumbangkan sebagian kecil dari komposisi pakan ternak. Di Segara Anakan pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai pakan ternak sangat terbatas, karena budaya beternak tidak dilakukan masyarakat Kampung Laut. Di pantai utara, pemanfaatan kawasan mangrove untuk pengembangan peternakan relatif kurang berkembang. Hal ini antara lain di sebabkan kawasan pertanian terletak jauh dari dari habitatnya mangrove di tepian pantai. Berbeda dengan pantai selatan yang kawasan mangrove dan lahan pertanian hanya dipisahkan tanggul-tanggul, di pantai utara kedua kawasan ini umumnya dipisahkan area pertambakan yang cukup luas, misalnya di sepanjang pesisir Kabupaten Jepara dan Demak. Orientasi masyarakat di pantai utara cenderung ke arah penangkapan ikan di laut atau budidaya perairan payau, sedangkan di pantai

238

selatan ke arah budidaya pertanian, mengingat ombak lautnya yang besar dan kurang sesuai untuk perahu nelayan tradisional.

e) Bahan Obat Secara tradisional, kandungan bioaktif tumbuhan mangrove banyak digunakan sebagai bahan obat, yang mencakup anti-helmintik, anti mikrobia, anti virus, anti jamur; kanker, tumor; diare, pendarahan; analgesik, inflamasi, disinfektan; serta anti oksidan dan astringen. Di samping itu digunakan pula sebagai racun yang mencakup moluskisida, insektisida, racun ikan, dan spermisida. Bangsa Arab merupakan bangsa yang pertama-tama menyusun farmakope yang sangat baik mengenai berbagai spesies mangrove, sehingga Linnaeus menamai salah satu spesies mangrove paling penting dan penyebarannya paling luas berdasarkan nama Ibnu Sina (Avicennia; 980-1036), seorang dokter dan filosof Arab paling dihormati dan termashur (Bandaranayake, 1998). Dalam penelitian ini, pemanfaatan tumbuhan mangrove sebagai bahan obat masih sangat terbatas. Obat-obatan tradisional Jawa umumnya bersumberkan tumbuhan darat, sangat jarang digunakan spesimen mangrove atau laut. Dalam kajian dari berbagai pustaka, Bandaranayake (1998) hanya menemukan penggunaan Pluchea indica di Jawa sebagai tumbuhan obat. Daun dan akar tumbuhan ini digunakan sebagai astringen dan antipiretik, serta digunakan sebagai diaforetik pada demam. Daun segar digunakan sebagai tapal melawan lemah daya dan borok.

239

Pengetahuan manfaat obat tumbuhan mangrove umumnya diperoleh masyarakat setempat dari masyarakat luar yang mencari tumbuhan tersebut, bukan sebagai pengetahuan tradisional warisan nenek moyang masyarakat setempat. Dalam pengobatan tradisional masyarakat Segara Anakan, yang merupakan keturunan prajurit Kerajaan Mataram, digunakan tumbuhan darat sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya. Meskipun demikian di Bogowonto dan Segara Anakan masyarakat mengetahui potensi obat beberapa tumbuhan mangrove, seperti buah (biji) Acanthus ilicifolius yang berpotensi untuk pengobatan hepatitis. Menurut Bandaranayake (1998), tumbuhan ini berperan sebagai afrodisiak, asma, pembersih darah (buah), diabetes, diuretik, dispepsia, hepatitis, lepra (buah, daun, akar), neuralgia, paralisis, cacingan, rematik, penyakit kulit, gigitan ular, dan sakit perut (kulit kayu, buah, daun). Kurang berkembangnya pemanfaatan tumbuhan mangrove dalam

farmakope Jawa, yang juga menjadi pegangan masyarakat pantai dalam pengobatan tradisional, diduga terkait dengan kuatnya kultur Jawa pedalaman yang dikembangkan raja-raja Mataram, yang mendasarkan kekuasaannya pada budaya pertanian, sehingga kawasan pantai dan laut dijadikan halaman belakang yang kurang diperhatikan serta potensinya kurang dikembangkan. Potensi tumbuhan mangrove sebagai bahan obat sangat besar, pada saat ini kandungan metabolit sekunder tumbuhan mangrove mulai banyak terungkap. Tumbuhan ini kaya akan steroid, triterpen, saponin, flavonoid, alkaloid, dan tannin (Bandaranayake, 1995). Kajian kandungan kimia tumbuhan mangrove sangat penting karena merupakan jenis hutan yang paling mudah tumbuh dan dapat

240

tumbuh pada lingkungan marjinal, sehingga diperkirakan menghasilkan berbagai metabolit sekunder yang khas untuk beradaptasi. Kandungan kimia tumbuhan mangrove sangat berpotensi sebagai sumber senyawa baru agrokimia dan senyawa bernilai obat (Bandaranayake, 1998). Perkembangan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat sebagai penyuplai bahan baku, sehingga memacu upaya perlindungan ekosistem mangrove.

f) Bahan Baku Industri Pemanfaatan kawasan mangrove sebagai sumber bahan baku industri dapat berasal dari hidupan liar setempat maupun bahan galian C. Kawasan mangrove di muara Serayu merupakan tempat penambangan pasir besi, sedangkan di Kecamatan Kawunganten, Cilacap yang membawahi Segara Anakan terdapat penambangan lempung untuk bahan baku semen. Dalam penelitian ini, satusatunya bahan baku industri dari tumbuhan mangrove yang memberi kontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat adalah pemanfaatan pneumatofora Sonneratia spp. untuk pembuatan kepala shuttlecock di sekitar Segara Anakan. Hidupan liar lainnya yang menjadi bahan baku industri umumnya terkait dengan perikanan. Potensi tumbuhan mangrove sebagai bahan baku industri sebenarnya cukup luas. Menurut Walsh (1977) pneumatofora Sonneratia alba dan S. caseolaris, dapat digunakan untuk sol sepatu. Kayu berbagai jenis tumbuhan mangrove, seperti Heritiera spp. dan Rhizophora spp. dapat digunakan untuk menghasilkan pulp. Menurut Field (1995) beberapa tumbuhan mangrove lainnya

241

juga berpotensi sebagai bahan baku industri, misalnya pneumatofora B. gymnorrhiza dan B. sexangula dapat menghasilkan parfum dan rempah-rempah. Ekstrak Acanthus spp. dan Xylocarpus spp. dapat menghasilkan penguat rambut, ekstrak S. caseolaris untuk losion kulit, ekstrak Excoecaria agallocha untuk afrodisiak, ekstrak Avicennia spp. untuk pembuatan sabun, ekstrak kulit kayu B. gymnorrhiza, B. sexangula, dan Ceriops tagal untuk lem. Pengembangan potensi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan pada akhirnya turut mendorong upaya pelestarian ekosistem mangrove.

g) Pariwisata dan Pendidikan Penggunaan kawasan mangrove sebagai lokasi wisata telah dikembangkan sejak lama. Tritih merupakan lokasi wisata yang dibangun Perhutani pada pertengahan tahun 1970-an untuk tujuan konservasi dan pendidikan ekosistem mangrove, namun fasilitas ini kini telah terbengkalai. Salah satu kawasan mangrove alami yang berpotensi untuk ekowisata adalah Segara Anakan, mengingat kelengkapan atraksi alam dan sarana akomodasinya yang memadahi. Di kawasan ini terdapat fasilitas kapal penyeberangan yang sekaligus merupakan kapal wisata, terdapat pula perahu-perahu nelayan yang berukuran lebih kecil dan dapat disewa untuk mengelilingi kawasan, serta terdapat sarana penginapan yang mudah dijangkau di kota Cilacap. Dalam jumlah terbatas, arus turis ke kawasan mangrove juga teramati di Wulan, Bulak, Juwana, Pasar Banggi, dan Ijo. Kawasan Pasar Banggi sangat potensial sebagai lokasi wisata karena areanya

242

cukup luas, dikelola dan diawasi masyarakat sehingga cukup lestari, serta letaknya strategis di tepi jalan negara pantai utara. Kawasan mangrove dapat menjadi lokasi pendidikan konservasi. Dalam penelitian ini, beberapa lokasi telah dikunjungi para pelajar dan mahasiswa untuk tujuan pendidikan, seperti Bulak, Telukawur dan Pasar Banggi yang banyak digunakan penelitian mahasisiwa Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Bogowonto banyak didatangi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Institut Pertanian ‘Instiper’ Yogyakarta. Segara Anakan banyak diteliti mahasiswa UGM Yogyakarta, Universitas Jenderal Sudirman (UNSOED) Purwokerto dan lain-lain. Adapun mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta antara lain menggunakan mangrove di Pasar Banggi dan Segara Anakan untuk praktikum dan penelitian.

2. Penggunaan Lahan di Sekitar Ekosistem Mangrove Dalam penelitian ini, penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, meliputi pertambakan (udang/ikan, garam), pertanian (sawah, tegalan, ladang penggembalaan/ pastoral), pemukiman (rural, urban), pelabuhan (besar; kecil/dermaga ikan dan tempat pelelangan ikan/TPI), jalan negara dan propinsi, serta kawasan industri. Tata guna lahan sangat terkait dengan kelestarian ekosistem mangrove. Perubahan lahan mangrove ke pertambakan ikan merupakan penyebab utama kerusakan ekosistem ini. Di samping itu terdapat pula kerusakan akibat penebangan kayu, pembangunan kawasan industri dan pemukiman (Pagiola, 2001).

243

a) Pertambakan Jenis penggunaan lahan yang paling sering ditemui di sekitar ekosistem mangrove adalah pertambakan ikan/udang, baik di pantai utara maupun di pantai selatan, di samping itu terdapat pula tambak garam yang hanya ditemukan di pantai utara. Tambak ikan atau udang banyak ditemukan di pantai utara dan selatan Jawa Tengah, meskipun dalam skala besar hanya dijumpai di pantai utara. Tambak tidak ditemukan di Cingcingguling, Bengawan dan Serayu karena lahan disekitarnya digunakan penduduk untuk bertanam padi sawah yang menghasilkan panen lebih stabil dan kepastian harganya lebih terjamin. Konversi kawasan mangrove menjadi lahan tambak ikan dan udang merupakan penyebab utama rusaknya ekosistem mangrove. Nilai ekonomi udang yang tinggi menjadikannya mata dagangan penting di dunia. Keberhasilan teknik budidaya udang pada tahun 1970-an mendorong upaya pertambakan udang secara modern dalam skala luas. Di Indonesia pembuatan tambak udang pada awalnya di mulai di pantai utara Jawa. Hal ini mendorong perusakan ekosistem mangrove secara besar-besaran antara pertengahan tahun 1970-1990-an. Pembuatan tambak di sekitar muara sungai dan dataran pantai utara Jawa menyebabkan perubahan vegetasi muara secara nyata. Ekosistem mangrove hanya tersisa pada tempat-tempat tertentu yang sangat terisolasi atau ditanam di tepi tambak yang berbatasan dengan pantai atau sungai untuk mencegah abrasi. Di sepanjang pantai utara, tambak ikan dikelola secara intensif hingga jauh ke arah daratan. Hampir semua pantai yang mengalami sedimentasi membentuk

244

dataran lumpur dan memiliki ekosistem mangrove diubah menjadi area tambak. Secara intensif hal ini berlangsung antara lain di pantai Demak, Pati, dan Rembang, meskipun beberapa area tambak tampaknya tidak lagi produktif akibat perubahan kondisi hidrologi, edafit (tanah belerang asam), penyakit dan pencemaran lingkungan, misalnya di Pati, puluhan hektar tambak beserta sarana produksinya dibiarkan rusak tidak terurus. Di pantai selatan terdapat pula upaya mengubah lahan mangrove menjadi tambak. Dalam jumlah terbatas hal ini dijumpai di muara Sungai Lokulo, Cakrayasan, Bogowonto, dan Ijo, sedang dalam skala besar dilakukan di Segara Anakan. Usaha pertam-bakan ini sering gagal karena adanya akumulasi pirit yang beracun (tanah belerang asam) dan tidak adanya kepastian hukum atas tanah yang digunakan (Yudho, 1988). Ekosistem mangrove berperan penting dalam mendukung usaha

pertambakan ikan/udang. Vegetasi mangrove yang subur dapat mencegah erosi, menjaga area dari banjir, badai dan bencana alam lain, sehingga tidak diperlukan biaya tinggi untuk membangun infrastruktur tambak, misalnya pembuatan sabuk hijau mangrove di sepanjang tepian pantai dan tebing muara sungai pada kawasan pertambakan di pantai utara Jawa. Di sisi lain mangrove juga dapat mengurangi tingkat polusi secara alamiah, sehingga mencegah jatuhnya usaha tambak intensif akibat limbah cair yang dihasilkannya, seperti tingginya kadar nitrogen dan fosfor (Ronnback, 1999). Nilai ekonomis tambak tergantung daya dukung lingkungan mangrove di sekitarnya, namun nilai ini jarang dihitung dalam biaya produksi. Tambak garam dalam skala luas hanya dijumpai di Pecangakan, Pasar Banggi dan Lasem, kesemuanya di Kabupaten Rembang, kabupaten penghasil

245

garam terbesar di Propinsi Jawa Tengah (Kompas, 03/03/2003). Pada musim kemarau saat ketersediaan air melimpah dan intensitas sinar matahari lebih rendah, tambak-tambak garam ini banyak yang diubah menjadi tambak ikan bandeng. Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak ikan merupakan tekanan utama terhadap kelestarian ekosistem mangrove di dunia, sehingga harus dikendalikan dan dikelola dengan baik.

b) Pertanian Konversi ekosistem mangrove menjadi lahan pertanian pangan umumnya kurang berhasil, seperti yang dilaksanakan di Kecamatan Kawunganten, Cilacap sejak jaman kolonial. Upaya ini dilakukan dengan mengubah arah aliran air sungai, sehingga sedimentasi mengumpul pada area tertentu yang akhirnya menjadi daratan, selanjutnya untuk mengurangi tingkat salinitas, dilakukan penggelontoran secara teratur tanah tersebut dengan air tawar untuk mendesak keluarnya kandungan garam dari dalam sedimen. Upaya ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kecenderungan berubahnya ekosistem mangrove di Segara Anakan menjadi ekosistem daratan, namun upaya ini pada akhirnya berhenti dengan sendirinya akibat sulitnya menemukan varietas padi dengan produktivitas tinggi untuk lahan tersebut, serta menyebabkan ketidakpastian penghasilan nelayan akibat berkurangnya luasan laguna (Winarno dan Setyawan, 2003; ECI, 1975). Usaha untuk mengubah kawasan mangrove menjadi area pertanian pangan (sawah) sering kali berhasil pada lokasi yang berbatasan langsung dengan

246

ekosistem air tawar, misalnya di Serayu, Bengawan, dan Cingcingguling yang terletak di pantai selatan, serta Wulan, Sigrogol, dan Serang di pantai utara. Sawah-sawah tersebut umumnya dapat dipisahkan dengan ekosistem mangrove atau area tambak yang berair asin dengan bendungan atau tanggul. Di pantai utara, dengan ketinggian lahan persawahan sangat rendah dan luas, biasanya sungaisungai dilengkapi dengan bendung gerak untuk mencegah membanjirnya air laut pada saat pasang. Sedangkan di pantai selatan, dengan aliran keluar masuknya air pasang terbatas hanya di sungai-sungai besar, maka biasanya dibuat tanggul di sepanjang garis sempadan sungai tersebut, seperti di Cingcingguling. Pada masa lalu tanggul-tanggul ini diperkuat dengan vegetasi N. fruticans yang memiliki batang bawah tanah (rhizoma) sangat kuat, namun pada saat ini perannya digantikan batu gunung, beton tetrapod, dan tanggul yang diperkeras, meskipun biaya pemeliharaan vegetasi tersebut lebih murah dan daya tahan tanggulnya tidak kalah dengan bangunan penahan. Berbeda dengan konversi ke area pertambakan yang menjadi penyebab utama kerusakan mangrove di pantai utara Jawa, maka di pantai selatan Jawa konversi ke lahan sawah diperkirakan merupakan penyebab utama berkurangnya area mangrove dan rawa burit/belakang (back swamp). Selain pertanian sawah basah terdapat pula pertanian tegalan kering di sekitar ekosistem mangrove, misalnya di Bogowonto, Cakrayasan, Lukulo, Bengawan, dan Serayu. Terutama pada tempat-tempat yang sedikit lebih tinggi dari lahan mangrove sehingga cenderung bertanah kering. Area ini banyak ditanami sayuran dan palawija, namun pada musim hujan tetap ditanami padi. Ladang penggembalaan (pastoral) ditemukan di Bogowonto, Cakrayasan, dan

247

Lukulo, terutama pada lahan kering yang tidak dapat diolah karena terlalu asin dan berpasir, sehingga tidak cocok untuk tumbuhan budidaya. Kegiatan pertanian dapat menyebabkan hilangnya area mangrove karena dikonversi menjadi sawah atau tegalan. Kegiatan penggembalaan juga dapat mengganggu kelangsungan ekosistem mangrove karena perumputan terhadap bibit-bibit mangrove. Kegiatan pertanian intensif juga dapat menyebabkan eutrofikasi apabila penggunaan pupuk kimia dilakukan secara berlebihan.

c) Kawasan Pengembangan dan Bangunan Kawasan pantai merupakan sumber yang kaya akan pangan, energi, dan mineral, sehingga menjadi sumber mata pencaharian utama banyak masyarakat. Kawasan pantai juga menjadi sumberdaya biologi dan menjaga kelestarian lingkungan. Namun, pembangunan ekonomi, pertambahan penduduk yang cepat dan migrasi dari kawasan pedalaman menyebabkan peningkatan terkanan terhadap kawasan pantai. Pada saat ini, sejumlah besar kawasan pantai khususnya di dunia ketiga mengalami penurunan produktivitas dan peran ekologinya mulai jatuh. Oleh karena itu pengelolaan kawasan pantai harus dilakukan lebih baik dengan mengintegrasikan keseluruhan rencana pembangunan mulai dari tingkat nasional hingga lokal (Pappas dkk., 1994.) Kawasan mangrove tidak lepas dari tekanan kepadatan penduduk, hingga area mangrove yang sering diasumsikan dengan lokasi terpencil, pada kenyataannya tetap menjadi salah satu lokasi dengan jumlah penduduk cukup padat. Kawasan pemukiman dengan tingkat kepadatan rendah (rural) dengan mudah dapat ditemukan di semua lokasi penelitian, termasuk di Segara Anakan

248

yang terletak di tengah-tengah laguna dan dikelilingi ekosistem mangrove. Beberapa area mangrove bahkan terletak di dekat kawasan pemukiman padat (urban), seperti Cilacap, Jepara, Juwana (Pati), serta Rembang dan Lasem (Rembang). Aktivitas pemukiman secara nyata dapat mempengaruhi kawasan mangrove karena limbah yang dihasilkannya, serta adanya aktivitas kehidupan sehari-hari. Kawasan mangrove juga sering terletak di dekat pelabuhan, baik pelabuhan besar maupun kecil (dermaga ikan atau tempat pelelangan ikan/TPI). Dalam penelitian ini pelabuhan samudera yang cukup besar terdapat di Cilacap, beberapa kilometer dari lokasi penelitian Tritih, sedangkan pelabuhan ikan yang cukup besar terdapat di Juwana, pelabuhan ikan kedua terbesar di Propinsi Jawa Tengah. Adapun pelabuhan kecil/TPI ditemukan pada hampir semua lokasi penelitian lainnya. Kegiatan pelabuhan dapat menghasilkan limbah seperti sisasisa bahan bakar, di samping itu arus gelombang air laut yang disebabkan pergerakan kapal dapat menghambat pemantapan dan pertumbuhan bibit mangrove. Jalan negara dan jalan propinsi yang merupakan kelas jalan dengan kepadatan lalu lintas tertinggi dalam sistem transportasi di Indonesia, dapat dijumpai pada hampir semua lokasi yang diteliti, kecuali di Motean dan Muara Dua yang terletak di tengah-tengah laguna Segara Anakan. Hal ini menunjukkan besarnya arus barang dan manusia di lokasi-lokasi penelitian. Kegiatan transportasi ini juga menghasilkan bahan pencemar logam berat, khususnya Pb, yang dapat mengganggu kehidupan mangrove.

249

Industri besar dalam penelitian ini hanya dijumpai di Cilacap. Kota ini merupakan kota pelabuhan terbesar di pantai selatan Jawa dan telah dikembangkan sejak jaman kolonial, sehingga sejak lama telah menjadi tempat manusia beraktivitas. Di kota ini terdapat pula instalasi pengilangan minyak mentah dan industri semen yang cukup besar. Aktivitas pelabuhan, pengilangan minyak, industri semen, dan kawasan perumahan secara kontinu menghasilkan bahan pencemar yang dapat mengganggu kehidupan di kawasan mangrove. Pada saat-saat tertentu aktivitas kapal tangker dapat mengalami kecelakaan, sehingga menumpahkan limbah minyak dalam jumlah cukup besar dan dapat mematikan mangrove secara massal. Industri semen yang mengambil tanah liat di Kawunganten dan tanah karst (gamping) di Nusakambangan dapat meningkatkan sedimentasi, sehingga memperparah laju sedimentasi di Segara Anakan. Debu dari pabrik semen dapat menutupi stomata dan lentisel tumbuhan mangrove, sehingga mengganggu fotosintesis dan respirasi. Limbah domestik seperti sampah padat dapat mengganggu perakaran mangrove dan pertumbuhan bibit mangrove.

3. Kerusakan Ekosistem Mangrove dan Upaya Restorasinya Jenis-jenis pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove dan penggunaan lahan di sekitarnya merupakan proses antropogenik yang secara nyata mempengaruhi kelestarian ekosistem mangrove di Jawa Tengah. Beberapa aktivitas yang mempengaruhi kehidupan mangrove secara luas adalah: konversi habitat ke pertambakan (ikan/udang dan garam), penebangan pohon secara berlebih untuk diambil kayunya, sedimentasi, dan pencemaran lingkungan.

250

Lemahnya pemahaman mengenai nilai khas dari jasa ekologi dan produk panennya, menyebabkan ekosistem mangrove sering kurang dihargai dan cenderung dikonversi ke penggunaan lain. Penilaian yang rendah juga merupakan akibat sulitnya menerapkan standar moneter pada faktor-faktor yang terkait dengan peran ekologi dan produk panen ekosistem mangrove. Hal ini memerlukan pengetahuan yang mendalam dan holistik (Bandaranayake, 1998; Ronnback, 1999). Pembuatan tambak merupakan ancaman utama terhadap kelestarian ekosistem mangrove dunia (Hamilton dkk., 1989; Primavera, 1998). Di Jawa budidaya tambak, khususnya ikan bandeng (Chanos chanos), memiliki sejarah panjang dan telah dilakukan sejak 500 tahun yang lalu (Schuster, 1952), namun penemuan teknologi pertambakan udang pada tahun 1970-an telah mengubah orientasi tambak tradisional yang lebih ramah lingkungan menjadi tambak modern yang sarat dengan bahan kimia, seperti antibiotik, makanan tambahan, dan pupuk kimia. Keuntungan besar dari tambak udang telah menyebabkan dikonversinya hampir semua ekosistem mangrove di pantai utara Jawa Tengah menjadi lahan tambak. Ironisnya, produktivitas tambak sangat tergantung pada kondisi ekosistem mangrove di sekitarnya, yang menjadi penyuplai bibit, pakan, air bersih dan lain-lain (Hamilton dan Snedaker, 1984; Larsson dkk., 1994; Beveridge dkk., 1997). Kini banyak tambak yang tidak produktif lagi karena akumulasi bahan kimia, pirit, penyakit, perubahan pola hidrologi, dan pencemaran lingkungan. Tambak yang gagal ini banyak dijumpai di pantai utara Demak, Jepara, Pati dan Rembang, serta Segara Anakan. Masa produktif tambak ikan/udang yang dikelola

251

secara intensif atau semi intensif umumnya hanya sekitar 5-10 tahun (Gujja and Finger-Stich, 1996), dan sekitar 70% tambak yang semula produktif pada akhirnya akan ditinggalkan (Stevenson, 1997). Penebangan pohon menjadi ancaman serius terhadap kelestarian ekosistem mangrove, karena tidak hanya menyebabkan hilangnya pepohonan yang ditebang namun juga mengubah iklim mikro sehingga mengganggu kehidupan ekosistem secara keseluruhan. Penebangan pepohonan mangrove secara intensif di Segara Anakan menyebabkan berubahnya penampakan vegetasi kawasan tersebut dari hutan berpohon menjadi semak-semak belukar yang didominasi A. ilicifolius yang secara ekonomi kurang menguntungkan. Penebangan pohon untuk berbagai keperluan, termasuk untuk pembukaan tambak juga ditemukan di Wulan dan Pecangakan. Sedimentasi dibutuhkan untuk pemantapan ekosistem mangrove, namun sedimentasi yang berlebih dapat mengubah ekosistem ini menjadi ekosistem darat. Di Segara Anakan sedimentasi merupakan masalah utama yang mengancam kelestarian laguna dan ekosistem mangrove. Sifat laguna Segara Anakan yang tertutup, muara sungai tidak langsung terhubung dengan laut bebas, menyebabkan sejumlah besar sedimen didepositkan dalam laguna. Setiap tahun sungai Citanduy dan Cimeneng/ Cikonde masing-masing mengangkut 5 juta m3 dan 770.000 m3 sedimen, sebanyak 740.000 m3 dan 260.000 m3 di antaranya diendapkan di Segara Anakan (ECI, 1994). Pelumpuran ini menyebabkan menjoroknya daratan sejauh 17-30 m per tahun, sehingga dalam jangka panjang akan mengubah ekosistem mangrove menjadi ekosistem daratan, dengan jenis komponen biotik (tumbuhan

252

dan hewan) yang berbeda (Tjitrosoepomo, 1981), sehingga tidak hanya mempengaruhi ekosistem alami, namun juga mempengaruhi kultur masyarakat. Hal ini sudah terbukti dengan perubahan konstruksi rumah penduduk Kampung Laut, yakni dari rumah panggung di atas permukaan laut menjadi rumah tembok di daratan. Perubahan ekosistem ini mendorong penduduk untuk mengubah mata pencaharian dari nelayan menjadi petani (Brotosusilo, 1988). Sebaliknya sedimentasi di kawasan pantai utara Jawa Tengah, seperti Wulan, Juwana, dan Pecangakan menyebabkan bertambahnya luasan area mangrove secara terus menerus ke arah laut. Sedimentasi di pantai utara Jawa, tampaknya tidak banyak mempengaruhi ekosistem mangrove walaupun sangat merugikan perekonomian (Anonim, 2001a). Pencemaran lingkungan dapat menjadi ancaman serius terhadap ekosistem mangrove. Sebagai kawasan peralihan dari darat ke laut, maka semua jenis bahan pencemar dari kedua lokasi tersebut dapat terakumulasi di kawasan mangrove. Dalam penelitian ini, bahan pencemar yang secara kasat mata mudah dijumpai dan mempengaruhi ekosistem mangrove adalah minyak bumi dan sampah domestik padat. Pencemaran minyak bumi ditemukan di Segara Anakan akibat aktivitas pengilangan minyak dan pelabuhan besar Cilacap serta tumpahan dari kecelakaan kapal tangker. Sampah domestik padat dapat dijumpai di semua lokasi penelitian. Sampah ini dapat mengganggu pertumbuhan bibit mangrove sehingga menghambat regenerasi dan menggagalkan upaya restorasi, seperti di Lukulo, Cakrayasan, dan Pasar Banggi.

253

Munculnya kesadaran akan pentingnya konservasi ekosistem mangrove, meskipun tidak selalu dengan tujuan dan intensitas pemahaman yang sama telah memunculkan upaya-upaya restorasi (rehabilitasi) ekosistem ini (Tabel 17.). Tujuan utama restorasi mangrove adalah mengelola struktur, fungsi, dan prosesproses ekologi di dalamnya, serta mencegah kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut dari ekosistem ini (Anonim, 2001b). Restorasi diperlukan apabila ekosistem yang rusak tidak dapat memperbaharui diri dan melaksanakan fungsinya secara normal, karena homeostasisnya secara permanen terhenti (Stevenson dkk., 1999; Morrison, 1990). Dalam restorasi mangrove kadangkadang hanya fungsi tertentu yang ingin dikembalikan, karena telah terjadi perubahan faktor edafik dan keanekaragaman jenis (Lewis, 1990, 1992). Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya keanekaragaman hayati landskap,

mempertahankan suplai produksi sumberdaya alam, terutama perikanan dan kayu, melindungi kawasan pantai, dan fungsi sosial budaya (Ronnback dkk., 1999). Di Wulan, kegiatan restorasi ditujukan terutama untuk memperluas area mangrove. Tumbuhan mangrove dapat memantapkan garis pantai dan mendorong terbentuknya daratan, menguatkan tanggul-tanggul lumpur, mengurangi

hembusan angin, mengurangi energi gelombang laut dan air pasang. Penanaman tumbuhan mangrove relatif lebih murah dan tidak kalah efektif, bagian atas tumbuhan mangrove dapat memecahkan gelombang dan menahan sedimen sehingga memantapkan garis pantai (Broom dkk., 1981). Hal ini dapat mengurangi laju sedimentasi pada kolam pelabuhan, maupun kawasan pantai yang menjadi lokasi wisata (Bandaranayake, 1998).

254

Di Sigrogol penanaman tumbuhan mangrove terutama untuk menjaga tebing sungai dari abrasi, sehingga dapat menjaga kelancaran lalu lintas perahu nelayan. Di Bulak dan Telukawur restorasi terutama ditujukan untuk menjaga stabilitas garis pantai, mengingat beberapa tahun sebelumnya kawasan ini terkena abrasi yang cukup luas. Penanaman Rhizophora spp. di Bulak pada akhirnya juga menyediakan kawasan pendidikan dan wisata bagi masyarakat. Di Tayu aktivitas reboisasi hampir tidak ada, bahkan terdapat sejumlah besar area mangrove di tepian pantai yang dibersihkan untuk diambil kayunya dan dibuat tambak. Pesisir Tayu merupakan akresi dari sungai-sungai kecil dan sungai Juwana, sehingga relatif tidak terdapat ancaman abrasi terhadap pantai yang gundul. Di Juwana aktivitas reboisasi sangat terbatas pada tepian sungai Juwana, mengingat kawasan ini sangat sesuai untuk pertambakan bandeng sehingga hampir tidak ada lahan yang disisakan kecuali untuk tambak. Tipisnya vegetasi mangrove di tebing sungai dan tepian garis pantai menyebabkan alur pelayaran di sungai ini harus sering dikeruk mengingat tingginya sedimentasi. Di Pecangakan, reboisasi ditujukan untuk memperluas area mangrove, menjaga stabilitas garis pantai, dan menahan gelombang laut. Tanah yang terbentuk sekitar 3-5 tahun sejak penanaman mangrove tersebut akan dibuka untuk tambak, yang sebelumnya telah ditanami pula area mud flat di arah laut, sehingga kegiatan ini secara terusmenerus menyebabkan garis pantai mengarah ke laut, cara demikian menyebabkan tanah yang terbentuk sangat rendah sehingga rawan terhadap penggenangan pada saat pasang purnama atau pasang perbani, mengingat permukaan laut dapat naik hingga 1-2 m di atas pasang harian.

255

Restorasi mangrove di Pasar Banggi merupakan yang paling berhasil di antara lokasi-lokasi yang diteliti. Restorasi di kawasan ini juga memiliki tujuan yang lebih beragam, yakni memperluas area mangrove, menahan hempasan gelombang laut, mengurangi sedimentasi, membangun kawasan wisata dan pendidikan, serta menyediakan suplai kayu bagi masyarakat. Tujuan yang beragam ini sangat didukung oleh masyarakat setempat yang diikutsertakan dalam manajemen pengelolaan, mereka diberi hak untuk mengambil panen dari kawasan tanpa merusak, serta diikutsertakan dalam program restorasi secara berkala sebagai penyedia bibit mangrove. Tujuan yang beragam ini juga didukung lokasinya yang strategis di tepian jalan negara sehingga memudahkan akses ke kawasan. Kawasan ini merupakan area akresi tidal flat, namun terdapat pelabuhan perikanan yang cukup besar, sehingga adanya area mangrove diharapkan dapat mengurangi sedimentasi. Di Lasem, restorasi terutama ditujukan untuk menjaga tebing sungai dan memantapkan garis pantai. Di pantai selatan Jawa Tengah, upaya restorasi ekosistem mangrove relatif terbatas, mengingat terbatasnya luasan mangrove, serta peran sosial ekonomi, ekologi, dan sosial budayanya, kecuali di Segara Anakan. Kegiatan restorasi di kawasan ini terutama ditujukan untuk menghadirkan kembali ekosistem mangrove yang hampir hilang. Di Bogowonto, restorasi juga ditujukan untuk

menyelamatkan satu-satunya warisan ekosistem mangrove di Yogyakarta. Di Cakrayasan dan Lukulo restorasi ditujukan untuk mengembalikan ekosistem mangrove yang hilang, namun kegiatan ini relatif kurang berhasil. Beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah perumputan oleh hewan ternak, penutupan

256

oleh sampah, kesalahan pemilihan spesies bibit, dan tiadanya pemeliharaan yang cukup berarti. Di antara Cakrayasan dan Lukulo terdapat muara sungai Wawar yang telah musnah ekosistem mangrovenya. Hal ini mengindikasikan

kemungkinan hilangnya ekosistem mangrove sepenuhnya di Cakrayasan dan Lukulo, mengingat kondisi lingkungan biotik, abiotik, dan kultur masyarakatnya yang tidak berbeda jauh. Di Cingcingguling dan Ijo aktivitas restorasi ditujukan untuk menjaga stabilitas tanggul pada tebing sungai dan menyediakan suplai pangan berupa N. fruticans. Aktivitas ditujukan untuk membangun kawasan wisata alam dan pendidikan, serta menjaga keanekaragaman hayati ekosistem mangrove, termasuk konservasi ex situ beberapa burung dari kawasan mangrove Segara Anakan. Di Motean dan Segara Anakan, keduanya di laguna Segara Anakan, aktivitas restorasi ditujukan untuk mengembalikan fungsi ekosistem yang rusak, menjaga keanekaragaman hayati (misalnya tempat untuk berbiak, mencari makan dan membesarkan anak berbagai hewan), menyediakan suplai kayu masyarakat, menyediakan suplai bahan pangan, menjaga nilai budaya, menyediakan sarana pendidikan dan wisata. Bagi masyarakat Kampung Laut, mangrove di sekitarnya tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian, namun telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat, mengingat mereka telah tinggal selama ratusan tahun. Upaya restorasi ekosistem mangrove untuk menghidupkan kembali fungsi semula, dengan menghadirkan (penanaman) bibit-bibit mangrove mayor, seperti Rhizophora, Sonneratia, dan Avicennia, telah dilakukan, baik oleh pemerintah,

257

perhutani, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat awam. Dalam skala besar, kegiatan ini antara lain pernah atau sedang dilakukan di Wulan, Pasar Banggi, Bogowonto, Cakrayasan, Lukulo dan Segara Anakan. Keberhasilan upaya restorasi terkait banyak faktor, baik faktor biotik, abiotik maupun budaya masyarakat setempat. Kegagalan penanaman S. alba di Bogowonto antara lain disebabkan kesalahan pemilihan spesies bibit, yakni bibit yang diambil dari Segara Anakan ternyata tidak dapat bertahan terhadap genangan di Bogowonto, di samping akibat perumputan oleh kerbau (Bos bubalis). Kegagalan restorasi mangrove di Cakrayasan dan Lukulo antara lain disebabkan karena timbunan sampah domestik pada bibit, sehingga mengakibatkan kematian bibit tersebut. Keberhasilan restorasi mangrove di Pasar Banggi dengan penanaman R. mucronata, antara lain dikarenakan peran aktif masyarakat setempat yang diikutsertakan dalam pengelolaan mangrove tersebut.

H. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Pantai Utara dan Selatan Jawa; Studi Kasus Pesisir Rembang dan Segara Abakan Cilacap 1. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang a) Diskripsi Lokasi Wilayah Kabupaten Rembang, secara geografis terletak pada koordinat 110º15'-111º40' BT dan 6º40'-6º55' LS. Adapun batas administrasinya, di sebelah utara berupa Laut Jawa, sebelah timur adalah Kabupaten Tuban, sebelah selatan adalah Kabupaten Blora, sebelah barat adalah Kabupaten Pati. Asal nama Rembang belum dapat dibuktikan dengan tepat, karena tidak adanya bukti-bukti

258

tertulis. Salah satu cerita rakyat menuturkan bahwa nama Rembang berasal dari “ngrembang” yang berarti membabat tebu (Kompas, 03/03/2003; Darmawan dkk., 2003). Kabupaten Rembang terdiri dari 14 kecamatan dan 294 desa, dengan jumlah penduduk 565.860 jiwa. Kabupaten Rembang tergolong daerah "minus". Dari total luas wilayah 101.408 ha, sebanyak 34% (34.968 ha) berupa tanah tegalan, 29% (29.044 ha) berupa sawah, 28% (23.625 ha) berupa hutan, 8% (8.500 ha) tanah pekarangan dan sisanya berupa padang rumput dan tambak. Sedang curah hujan rata-rata 1.500 mL per tahun (Kompas, 12/10/2002). Kabupaten Rembang sangat strategis, terletak pada jalur jalan pantai utara yang berbatasan dan menjadi pintu gerbang ke Jawa Timur. Bentangan pantai sepanjang 65 km dari Kecamatan Kaliori di barat hingga Kecamatan Sarang di timur merupakan kekayaan alam yang dimanfaatkan penduduk sebagai sumber mata pencaharian. Kawasan ini merupakan penghasil produk kelautan, baik berupa ikan tangkapan dari laut, ikan dan udang dari pertambakan, maupun pertambakan garam (Kompas, 03/03/2003). Pesisir Kabupaten Rembang dibedakan atas kawasan pantai berlumpur di bagian barat, dan kawasan pantai berbatu gamping/karst di bagian timur. Kawasan pantai berlumpur merupakan habitat mangrove, mencakup Kecamatan Kaliori, Rembang, dan Lasem. Kawasan pesisir Kabupaten Rembang dipengaruhi beberapa sungai yang umumnya berhulu di Pegunungan Kendeng. Mengingat jarak alirannya yang pendek, sebagian besar sungai-sungai ini merupakan sungai kecil yang kering atau alirannya tidak mencapai laut pada musim kemarau. Beberapa sungai yang alirannya cukup besar dan berair sepanjang tahun adalah Sungai Delok, Sungai

259

Anyar, dan Sungai Lasem. Pada musim hujan, sungai-sungai besar ini dapat meluap dan menyebabkan banjir di baberapa tempat, seperti di Kaliori dan Lasem. Secara umum bentuk pola aliran sungai-sungai ini bersifat sub paralel (memanjang dari selatan ke utara), pola aliran dendrito paralel (di bagian kaki dataran bergelombang), dan pola aliran sub radier (berasal dari jajaran pegunungan) (Darmawan dkk., 2003).

b) Keanekaragaman tumbuhan mangrove di pesisir Kabupaten Rembang Pesisir utara Kabupaten Rembang, secara geomorfologi terbagi dalam dua bentangan yang sangat berbeda. Pada kaki Gunung Lasem ke arah timur terbentuk dataran bergelombang yang tersusun atas batu kapur dan berbatasan langsung dengan laut Jawa, di antara kaki perbukitan kapur tersebut terbentuk pantai-pantai berpasir, khususnya pantai pasir putih akibat pelapukan koral di laut. Pada kawasan ini terdapat beberapa sungai kecil yang umumnya berhulu di Pegunungan Kendeng, sehingga jarak alirannya cukup pendek, sebagian besar sungai-sungai ini mengering atau alirannya tidak mencapai laut pada musim kemarau. Sebaliknya kawasan di sebelah barat Gunung Lasem merupakan dataran lumpur/aluvial (tidal flat) sebagai akibat sedimentasi dari beberapa sungai yang alirannya cukup besar dan berair sepanjang tahun, seperti Sungai Delok, Sungai Anyar, dan Sungai Lasem. Pada musim hujan, sungai-sungai besar ini dapat meluap dan menyebabkan banjir. Oleh karena itu, tumbuhan mangrove hanya terkonsentrasi di sisi barat Gunung Lasem.

260

Di pesisir kabupaten Rembang, yang mencakup Pecangakan, Pasar Banggi, dan Lasem, ditemukan 24 spesies tumbuhan mangrove, terdiri dari 12 spesies mangrove mayor, 2 spesies mangrove minor, dan 10 spesies tumbuhan asosiasi mangrove. Spesies yang paling umum dijumpai adalah Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia. Tumbuhan mangrove di pesisir Lasem didomimasi oleh Rhizophora, di Pecangakan didominasi Avicennia, sedangkan di Pasar Bangi didominasi oleh Rhizophora, dengan beberapa tegakan Sonneratia di arah laut. Semua ekosistem mangrove di ketiga lokasi tersebut sangat terpengaruh kegiatan manusia, dan umumnya merupakan hasil penanaman program rehabilitasi dan restorasi, baik oleh pemerintah kabupaten, maupun masyarakat setempat. Ekosistem mangrove di kawasan ini, tinggal berupa segaris mangrove di tepi laut (mangrove fringe). Di Pasar Bangi lebarnya dapat mencapai 100-300 m, sedangkan di kedua lokasi lainnya, Pecangakan dan Lasem, umumnya kurang dari 100 m, bahkan sebagian hanya berupa sejumput kecil mangrove yang memisahkan laut dengan area pertambakan masyarakat. Spesies Rhizophora dan Avicennia merupakan tumbuhan yang sering dipilih untuk restorasi dan rehabilitasi mangrove. Proyek rehabilitasi hutan mangrove yang didanai pemerintah kabupaten hampir selalu memilih Rhizophora, seperti di Pasar Bangi. Adapun spesies Avicennia biasa dipilih petambak untuk ditanam ditepian pantai untuk menjaga hempasan ombak laut. Pemilihan Rhizophora tampaknya terkait dengan bentuk perakarannya yang khas, sehingga secara awam diidentikkan dengan mangrove (bakau). Tumbuhan ini cenderung membutuhkan area yang luas untuk pertumbuhannya. Sedangkan pemilihan

261

Avicennia untuk restorasi oleh masyarakat tampaknya terkait dengan ukurannya yang relatif lebih kecil sehingga untuk pertumbuhan optimal tidak memerlukan ruangan yang luas dan tidak memakan ruang untuk tambak, misalnya di Pecangakan. Di pesisir Rembang, Sonneratia hampir tidak pernah dipilih untuk program restorasi, tampaknya pertumbuhannya yang cenderung lebih lambat, mencegahnya untuk terpilih. Di samping itu, pemilihan spesies tumbuhan mangrove untuk restorasi juga sangat terkait dengan ketersediaan propagul dan kultur masyarakat. Di Pasar Bangi, spesies Rhizophora yang dipilih adalah Rhizophora stylosa (bakau putih) yang memang lebih mudah dijumpai dan pada awal program restorasi tahun 1980-an merupakan spesies yang ditanam, sedangkan di Pecangakan dipilih Avicennia, karena tersebar luas.

c) Ancaman Kerusakan Ekosistem Mangrove di pesisir Kabupaten Rembang Secara umum, terdapat banyak faktor yang menyebabkan rusaknya ekosistem mangrove di pulau Jawa. Dalam tulisan ini akan diketengahkan beberapa faktor yang menjadi penyumbang terbesar kerusakan ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Rembang, antara lain: pertambakan, penebangan pepohonan, reklamasi dan sedimentasi, serta pencemaran lingkungan.

1) Pertambakan Konversi ekosistem mangrove menjadi areal pertambakan merupakan faktor utama yang menyebabkan hilangnya hutan mangrove dunia, tidak terkecuali di pesisir Kabupaten Rembang. Di kawasan ini tambak merupakan

262

pemandangan umum, baik tambak untuk akuakultur udang dan bandeng maupun tambak garam. Pada musim penghujan, tambak garam yang bersalinitas tinggi ini biasanya juga diubah menjadi tambak bandeng, sehingga kawasan ini menjadi pemasok bandeng budidaya terbesar di Jawa Tengah setelah kabupaten tetangga baratnya, Pati. Di sisi lain kawasan pesisir Rembang juga merupakan penghasil garam terbesar di Jawa Tengah. Pertambakan ditemukan sepanjang pantai mulai dari Pecangakan hingga Lasem. Tambak-tambak ikan dan udang di kawasan ini dikelola secara intensif hingga jauh ke arah daratan. Hampir semua pantai yang mengalami sedimentasi membentuk dataran lumpur dan memiliki ekosistem mangrove diubah menjadi areal tambak, meskipun beberapa areal tambak yang jauh dari bibir pantai tampaknya tidak lagi produktif akibat perubahan kondisi hidrologi, edafit (tanah sulfat asam), penyakit dan pencemaran lingkungan, sehingga tambak beserta sarana produksinya dibiarkan rusak tidak terurus. Pertambakan rakyat ini secara nyata terkait dengan keberadaan mangrove di sekitarnya. Akibat pembuatan tambak, pada saat ini di pesisir Kabupaten Rembang tidak lagi tersisa ekosistem mangrove yang masih alami. Ekosistem mangrove yang ada merupakan ekosistem buatan yang diupayakan oleh pemerintah, masyarakat, dan para pihak lain. Terdapat berbagai macam tujuan penanaman mangrove, di kawasan ini umumnya untuk menjaga stabilitas garis pantai, sedang fungsi ekologi akan mengikuti dengan sendirinya. Pemerintah Kabupaten Rembang berupaya merestorasi ekosistem

mangrove, khususnya di Pasar Bangi, yang termasuk kecamatan kota dan

263

berpenduduk padat. Tujuan kegiatan ini selain untuk menjaga garis pantai dari abrasi dan badai, yang tak kalah pentingnya adalah untuk menjaga salah satu identitas lanskap kabupaten ini, yakni ekosistem mangrove. Upaya ini telah menarik hidupan alami, seperti burung-burung dan benih ikan (khususnya nener), sehingga pada akhirnya juga berfungsi untuk konservasi biologi. Adapun upaya penanaman mangrove oleh para petani tambak biasanya secara khusus ditujukan untuk menjaga garis pantai dan menjebak lumpur, apabila lumpur yang terjebak sudah cukup tinggi, area ini biasanya diubah menjadi tambak, dengan terlebih dahulu menanami mangrove di arah laut. Hal ini antara lain dijumpai di Pecangakan, dimana sejumlah tumbuhan mangrove di muara sungai dibabat untuk tambak, setelah area baru mangrove di arah laut mulai tumbuh subur dan berumur sekitar dua tahun.

2) Penebangan Vegetasi Mangrove Pembukaan lahan untuk tambak udang memiliki andil besar bagi kerusakan mangrove di luar hutan, sedangkan penebangan secara tidak lestari merupakan penyebab utama kerusakan mangrove di dalam hutan (Suara Pembaruan, 11/08/2002). Di pesisir kabupaten Rembang, dapat dikatakan tidak ada lagi hutan alami mangrove, meskipun demikian tumbuhan mangrove hasil restorasi di Pasar Banggi sudah menyerupai hutan kembali mengingat usianya sudah lebih dari 15 tahun, waktu yang diperlukan ekositem mangrove yang rusak untuk menyembuhkan diri sebagaimana kondisi asli. Ekosistem mangrove di kawasan ini relatif terjaga mengingat adanya perhatian serius dari pemerintah

264

kabupaten dan kelompok-kelompok tani yang memiliki hak mengelolanya, yakni terdapat kesepakatan bahwa setiap luasan hutan yang dibuka harus didahului dengan penanaman mangrove hingga kondisi mapan pada dataran lumpur dan pasir di arah laut. Namun kawasan ini tidak bebas sama sekali dari ancaman penebangan, terdapat pencurian kayu untuk bangunan rumah maupun kayu bakar, meskipun demikian besarnya peran kelompok tani dapat meminimalkan ancaman tersebut. Salah satu kawasan yang dibabat sisa-sisa ekosistem mangrove untuk pertambakan dapat dijumpai di Pecangakan, Kaliori.

3) Reklamasi dan Sedimentasi Reklamasi. Reklamasi pantai untuk kepentingan industri dan pelabuhan telah banyak dilakukan di pantai utara Jawa. Di Kabupaten Rembang, reklamasi kawasan pantai untuk kegiatan usaha relatif masih terbatas. Salah satu rencana reklamasi pantai yang tampaknya akan berdampak serius adalah rencana pembangunan pelabuhan, khususnya untuk pendaratan perahu nelayan di pusat kota Rembang yang tidak jauh dari kawasan mangrove Pasar Bangi. Dermaga pelabuhan ikan direncanakan jauh menjorok di tengah laut, untuk menghindari kawasan mangrove yang dangkal dan berlumpur, namun aktivitas pelabuhan ikan yang besar dengan segala hiruk-pikuk perahu, manusia, dan sarana lainnya diyakini akan berdampak pada ekosistem mangrove. Besarnya volume kedatangan perahu nelayan dapat menimbulkan riak di laut sehingga menghambat pemantapan bibit baru dan menggerus lumpur yang ada, di samping itu hiruk-

265

pikuk manusia dipastikan akan menghasilkan limbah yang dapat mencemari ekosistem mangrove. Kabar terakhir menyatakan rencana pembangunan pelabuhan ikan tersebut ditunda untuk waktu yang tidak diketahui, meskipun pemancangan tiang-tiang dermaga telah dilakukan. Tampaknya terjadi kesalahan dalam perencanaan. Kawasan di sekitar rencana lokasi pelabuhan ikan, merupakan kawasan akresi lumpur dari daratan dan pasir putih dari laut, sehingga umur kolam pelabuhan diperkirakan akan pendek dan pemaksaan pembuatan pelabuhan ikan di kawasan ini diyakini berbiaya mahal mengingat harus dilakukan pengerukan sedimen secara periodik, akibatnya tidak veasible. Kesombongan para penentu kebijakan tampaknya telah menyia-nyiakan dana pajak dari masyarakat, akibat memaksakan diri untuk membuat pelabuhan ikan di kawasan tersebut. Sedimentasi. Sedimentasi merupakan faktor dinamis yang dapat mendorong terbentuknya ekosistem mangrove, namun sedimentasi dalam skala besar dan luas dapat merusak ekosistem mangrove karena rusaknya akar nafas dan berubahnya kawasan rawa menjadi daratan sebagaimana terjadi di Segara Anakan. Sedimentasi di pesisir Kabupaten Rembang, memungkinkan terus bertambah luasnya daratan ke arah laut, dan memungkinkan pertumbuhan ekosistem mangrove. Namun sesuai dengan pola masyarakat yang terus membuka tambak ke arah laut mengikuti arah pertumbuhan mangrove, maka pada dasarnya perluasan daratan yang terjadi tidak menyebabkan bertambah luasnya ekosistem mangrove, kecuali di Pasar Bangi, yang hutan mangrovenya cenderung lebih sulit dibuka untuk tambak karena adanya campur tangan kelompok-kelompok tani pengelola

266

yang berusaha mempertahankannya. Sebaliknya perluasan tambak ke arah laut menyebabkan tambak-tambak lama menjadi terletak jauh dari bibir pantai dan terjadi perubahan pola hidrologi, air tidak lagi dapat menggenangi tambak pada saat pasang surut harian, akibat buruknya manajemen drainase. Kawasan tambak ini pada akhirnya banyak yang dipusokan akibat tingginya biaya operasional untuk tetap mempertahankannya, sehingga tidak lagi ekonomis.

4) Pencemaran Lingkungan Pencemaran yang terjadi baik di laut maupun di daratan dapat mencapai kawasan mangrove, karena habitat ini merupakan ekoton antara laut dan daratan. Bahan pencemar seperti minyak, sampah, dan limbah industri dapat menutupi akar mangrove sehingga mengurangi kemampuan respirasi dan osmoregulasi tumbuhan mangrove, dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Di pesisir pantai Rembang bahan pencemar yang umum dijumpai di kawasan mangrove adalah sampah domestik, seperti lembaran plastik, kantung plastik, sisa-sisa tali dan jaring, botol, kaleng dan lain-lain. Namun secara khas di pesisir Pasar Bangi, terdapat Ulva yang dapat mengapung dan menutupi bibit mangrove sehingga mengganggu upaya restorasi (Gambar 160).

d) Restorasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang Ekosistem mangrove di Jawa mengalami penurunan sangat drastis, akibat tingginya tekanan pertambahan penduduk yang berimplikasi pada besarnya kegiatan pertambakan, penebangan hutan, reklamasi dan sedimentasi, serta

267

pencemaran lingkungan, sehingga perlu dilakukan restorasi untuk mengembalikan karakteristik dan fungsi ekosistem ini. Hutan mangrove yang rusak dapat melakukan penyembuhan sendiri melalui suksesi sekunder dalam periode 15-30 tahun, dengan syarat sistem hidrologi pasang-surut tidak berubah, dan tersedia biji (propagul) atau bibit. Namun tindakan sengaja dengan restorasi buatan seringkali diperlukan untuk memastikan berhasilnya proses penyembuhan alami tersebut. Di Jawa, sejarah restorasi ekosistem mangrove tidak banyak dicatat, namun berbagai individu dan lembaga, baik pemerintah maupun swasta, diyakini terlibat dalam kegiatan ini meskipun jumlahnya relatif terbatas. Salah satu contoh restorasi hutan mangrove yang dilakukan secara kontinyu dan cukup berhasil adalah penanaman Rhizophora, di sepanjang pesisir Pasar Bangi, Rembang. Pada tahun 1980-an, pemerintah setempat bersama para pihak melakukan restorasi ekosistem mangrove pada area dengan panjang sekitar 3000 m, dan lebar antara 100-300 m. Pada saat ini tegakan yang terbentuk sudah dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai penahan gelombang laut, angin dan mencegah pantai dari abrasi. Untuk menjaga kelestarian tumbuhan ini, masyarakat setempat diikutsertakan dalam kelompok-kelompok tani yang memiliki hak memanen ekosistem yang ada, dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Salah satu kegiatan terkait konservasi yang cukup berhasil adalah pembibitan Rhizophora, untuk memenuhi kebutuhan bibit proyek-proyek rehabilitasi hutan bakau di Jawa. Kawasan ini merupakan salah satu salah pusat pembibitan Rhizophora, terbesar di Jawa. Pantai utara Rembang merupakan tidal flat bagi sungai-sungai di sekitarnya, seperti Sungai Delok, Sungai Anyar, dan

268

Sungai Lasem, sehingga memungkikan terus berlanjutnya perluasan ekosistem mangrove ke arah laut. Suatu tindakan yang hingga saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah setempat. Pada akhirnya lokasi ini bernilai konservasi karena menarik berbagai hidupan liar yang megah, khususnya spesies-spesies burung air. Di samping itu terdapat pula nilai edukasi dan turisme, dimana sering disinggahi pelancong di jalur pantura dan menjadi lokasi praktikum dan penelitian mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Diponegoro Semarang, dan lain-lain. Di Jawa, kegagalan restorasi mangrove dapat disebabkan oleh kesalahan pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe tanah, pemilihan spesies, penggembalaan hewan ternah, sampah, kelemahan manajemen, dan ketiadaan partisipasi masyarakat. Di pesisir Pasar Bangi, Rembang, pengikutsertaan kelimpok-kelompok tani dalam manajemen pengelolaan mangrove sangat menentukan keberhasilan restorasi mangrove di kawasan ini, mengingat selain mendapatkan manfaat ekologi seperti perlindungan garis pantai dan terjaganya biodiversitas ikan, masyarakat setempat mendapatkan nilai ekonomi secara langsung, berupa produk kayu mangrove Rhizophora, dan bibit Rhizophora yang dijual untuk kepentingan program-program restorasi, baik yang diadakan Pemerintah Kabupaten Rembang, maupun kabupaten dan propinsi lain di Jawa. Sampah, seperti lembaran plastik, kantung plastik, tali dan lain-lain menutupi area penanaman sehingga anakan mangrove tidak dapat tumbuh sempurna, bahkan sebagian besar seedling yang perakarannya masih lemah ikut terhanyut ke laut. Di pantai utara Jawa, di sepanjang muara-muara sungai di

269

Demak, Jepara, Pati, dan Rembang, kematian seedling akibat “terjerat” sampah domestik merupakan kejadian umum. Secara unik di pesisir Pasar Bangi “penjeratan” ini juga dilakukan oleh sejenis algae lembaran, Ulva, Spesies ini hidup mengapung di tepi pantai dangkal terbuka, yang juga merupakan lokasi yang umum didatangi propagul alami mangrove, dan dipilih dalam program restorasi dan rehabilitasi. Pada saat air pasang, Ulva akan terangkat ke atas, dan ketika air surut akan tersangkut, melekat, dan mati pada bibit mangrove, sehingga menghambat pertumbuhan dan mematikan bibit tersebut. Kondisi ini menyebabkan kerugian yang cukup berarti pada program rehabilitasi bakau di tepi pantai Pasar Banggi. Di Segara Anakan, kegagalan restorasi akibat sampah, kurang teramati mengingat luasnya area mangrove tersebut. Ancaman terbesar ekosistem mangrove di kawasan ini adalah sedimentasi.

5) Penutup Kerusakan ekosistem mangrove, yang berdampak luas terhadap kondisi lingkungan hidup, merupakan keadaan yang dapat diperbaiki. Hal ini memerlukan kepedulian yang tinggi dari semua pihak (stakeholders), serta bimbingan teknis dan manajemen yang kuat. Hutan mangrove di Pasar Bangi merupakan salah satu contoh keberhasilan proyek restorasi mangrove. Pada tahun 1980-an pantai di kawasan ini terabrasi akibat kerusakan terumbu karang dan pembabatan hutan mangrove. Pembuatan tanggul pemecah ombak dan penanaman mangrove terbukti dapat mengurangi efek abrasi, bahkan dapat menjebak lumpur dari daratan dan

270

pasir putih dari laut untuk memperluas kawasan pantai. Pada saat ini Rhizophora yang ditanam telah mapan, sehingga memungkinkan hadirnya berbagai hidupan liar sebagaimana kawasan mangrove alami, baik tumbuhan, hewan, maupun mikrobia. Kawasan ini patut dibanggakan oleh pemerintah kabupaten, masyarakat, dan para pihak yang terkait dengan upaya pelestariannya.

2. Permasalahan Ekosistem Mangrove di Segara Anakan a) Deskripsi lokasi Laguna Segara Anakan merupakan pertemuan muara sungai Citanduy, Cimeneng/Cikonde, Cibereum, Palindukan, serta beberapa sungai kecil lain yang dilindungi Pulau Nusakambangan dari gelombang laut selatan (Moeljono, 1982). Kawasan ini berair payau karena terhubung dengan laut melalui kanal barat (Plawangan) dan timur (Kembang Kuning). Kondisi itu sangat potensial bagi pertumbuhan hutan mangrove, serta menjadi daerah pemijahan, asuhan, dan mencari pakan berbagai spesies ikan, udang, kepiting, kerang, dan biota lain (Suara Pembaruan, 25/08/2002; Haroen, 2002). Sehingga Segara Anakan sangat bernilai untuk mendukung perikanan di dalam laguna itu sendiri, dan di laut lepas pantai, serta merupakan sisa-sisa terakhir hutan mangrove terluas di pulau Jawa (Schweithelm, 1988; Amin dan Hariati, 1988). Kini, sekitar 13.500 jiwa menempati tiga desa di Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap yang dikenal sebagai Kampung Laut, yaitu: Desa Ujung Alang meliputi: Motean, Klaces, dan Mangunjaya; Ujung Gagak meliputi: Cibereum, Karanganyar, Karangsari, Karangmulyo, dan Palindukan;

271

serta Desa Panikel meliputi: Kalibener, Bugel, Muaradua, dan Panikel (Suara Pembaruan, 09/04/2002; 25/08/2002; Nurwanto, 2001), serta satu desa Majingklak di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis. Akibat sedimentasi, Lempong Pucung (Suara Hidayatullah, 05/1999) dan Klaces (Kompas, 21/12/2002) praktis menyatu dengan pulau Nusakambangan, sehingga orang luar dengan leluasa dapat masuk ke pulau tersebut tanpa meminta izin kepada pihak berwenang karena dengan berjalan kaki, terlebih pada musim kemarau, sudah dapat memasukinya.

b) Keanekaragaman Hayati Ekosistem Mangrove Segara Anakan Segara Anakan merupakan barier yang mencegah masuknya manusia ke kawasan Nusakambangan, sehingga pulau yang luasnya sekitar 12.106,43 ha ini menjadi salah satu warisan terakhir ekosistem hutan pantai dan hutan tropis dataran rendah di Jawa (Akar, 2001), serta terdapat upaya untuk mendirikan Pusat Riset Ekosistem Tropis di Cilacap (Kompas, 16/11/2002). Hutan Nusakambangan berperan dalam pengaturan tata lingkungan di sekitarnya, mencegah erosi, dan merupakan habitat berbagai spesies fauna langka, antara lain macan kumbang (Panthera pardus), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), ular sanca (Python sp.), dan berbagai spesies burung seperti rangkong (Buceros sp.). Di pulau ini telah berdiri empat kawasan konservasi alam kecil, yaitu Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat (928 ha), CA Nusakambangan Timur (277 ha), CA Wijayakusuma (1 ha), dan CA Karangbolong (0,5 ha) yang telah ditetapkan statusnya sejak jaman penjajahan Belanda (Sinar Harapan, 11/01/2003).

272

Hutan mangrove Segara Anakan di sebelah utara Nusakambangan merupakan ekosistem mangrove terluas di Jawa. Di Segara Anakan terdapat 27 spesies tumbuhan mangrove, terdiri dari 13 spesies mayor, 8 spesies minor, dan 6 spesies tumbuhan asosiasi (Setyawan dkk., 2002). Spesies pohon mangrove yang mudah ditemukan adalah Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, and Aegiceras corniculatum, sedangkan Avicennia, Sonneratia banyak dijumpai sebagai tumbuhan pioner daerah akresi (Soeroyo dan Soemodihardjo, 1990; Soemodihardjo dkk., 1988). Avicennia tumbuh pada endapan tanah yang lebih lembek daripada Sonneratia (Harjosuwarno, 1978). Selama beberapa tahun hutan ini mengalami kerusakan terbukti adanya dominasi tumbuhan muda berupa pohon-pohon kecil yang membentuk semak dengan tinggi sekitar 5 m, sedangkan pohon-pohon besar telah ditebang dan banyak dijual sebagai kayu bakar (Harjosuwarno, 1978; Soemodihardjo dkk., 1988). Tempat-tempat tebuka bekas penebangan didominasi Derris trifoliata, Finlaysonia maritima, dan Acanthus illicifolius yang berkompetisi dengan sedling pohon mangrove (Soemodihardjo dkk., 1988). Ekosistem mangrove juga kaya berbagai fauna. Laguna Segara Anakan menyediakan habitat bagi sekitar 85 spesies burung, fauna akuatik, rusa, monyet dan berbagai Mammalia kecil lainnya (Segara Anakan, 1998). Nontji (1987) melaporkan bahwa kurang lebih 80 spesies Crustaceae dan 65 spesies Mollusca hidup pada ekosistem mangrove di Indonesia. Menurut Haroen (2002), tanaman dan serasah mangrove menjadi habitat berbagai fauna akuatik yang berasosiasi dengan ekosistem tersebut. Ekosistem ini berfungsi sebagai tempat untuk bertelur,

273

memelihara larva, dan tempat pakan berbagai spesies akuatik, khususnya udang Penaeidae dan ikan bandeng. Di perairan Segara Anakan, selain hidup ribuan spesies biota, hidup pula satwa langka yang dilindungi dan terancam punah, yaitu lumba-lumba khas yang disebut wersut (Orcaella sp.), kerabat dekat pesut sungai Mahakam dan lumbalumba sungai Irrawaddy di Myanmar. Populasi satwa tersebut semakin menurun akibat perubahan habitat alami, seperti pembuatan dermaga, pembabatan hutan mangrove, lalu lintas air yang semakin ramai, kurangnya sumber pakan, pencemaran lingkungan, dan pendangkalan (Sinar Harapan, 11/01/2003). Burung bangau (Ciconia episcopus) dan bangau tong-tong (Myceteria cinerea) masih ditemukan di hutan mangrove Segara Anakan. Unggas yang semakin langka ini termasuk binatang dilindungi, namun penangkapan burung masih terus berlangsung, baik ditangkap hidup-hidup untuk dijual di pasar burung, ataupun dibunuh untuk dimakan dagingnya. Pemburuan liar ini dapat mengancam kelestarian kehidupan bangau tersebut. Padahal upaya penangkaran seperti dilakukan Perhutani di Wana Wisata Hutan Mangrove Tritih Kulon, Cilacap masih jauh dari berhasil (Suara Pembaruan, 25/11/2001; Segara Anakan, 1998). Di samping itu, area ini juga menjadi tempat perlindungan burung migran dari Asia, antara lain trinil (Tringa stagnita), grajakan (Numentus), dan cerek (Charadrius javanicum) (Nurwanto, 2001).

274

c) Kerusakan Ekosistem Mangrove Segara Anakan Indikasi kerusakan ekosistem hutan mangrove secara sederhana dapat diukur dari penurunan luasannya. Penurunan luas terjadi oleh karena memang secara fisik tidak memungkinkan lagi berkembangnya tumbuhan mangrove, misalnya akibat sedimentasi yang tinggi dan abrasi, atau perubahan fisik lahan akibat intervensi manusia (Buana Katulistiwa, 2002). Luas hutan mangrove Segara Anakan terus berkurang. Pada saat ini luasnya diperkirakan tinggal 1.800 ha (Republika, 24/03/2001) atau bahkan tinggal 1.125 ha (Pikiran Rakyat, 01/05/2002), sedangkan pada tahun 1942 masih 22.512 ha (Suara Pembaruan, 25/08/2002). Di sisi lain luas laguna Segara Anakan juga terus menyusut. Pada tahun 1903 luasnya 6.450 ha, dan pada tahun 2000 diperkirakan luasnya tingga 600 ha (Gambar 21.) (ECI, 1994). Citra satelit pada bulan September 2002 menunjukkan luasnya tinggal 550 ha (Kompas, 21/12/2002). Sedimentasi tidak hanya mempersempit luas laguna, namun juga membuatnya dangkal, pada tahun 1903 kedalaman laguna mencapai 30-40 m, namun pada tahun 2002 umumnya tinggal 0,5-1 m (Pikiran Rakyat, 07/09/2002; Suara Pembaruan, 09/04/2002). Sedimentasi merupakan masalah utama yang mengancam kelestarian laguna dan hutan mangrove Segara Anakan. Di samping itu terdapat pula ancaman lain seperti penebangan hutan, pertambakan, serta berkembangnya desadesa yang membutuhkan sarana dan prasarana kehidupan (Dudley, 2000), hingga muncul usulan untuk membatasi jumlah penduduk Segara Anakan (Suara Merdeka, 04/07/2001). Jumlah ideal penduduk pada kawasan pemukiman berkisar 80-150 jiwa/ha (Suara Merdeka, 26/05/2001).

275

Gambar 21. Penurunan luas laguna Segara Anakan 1903-2000 (ECI, 1994).

Sedimentasi merupakan syarat utama terbentuknya ekosistem mangrove, di samping perlindungan dari ombak, masukan air tawar, aliran air pasang surut,

276

dan suhu yang hangat (Walsh, 1974). Namun sedimentasi di Segara Anakan secara serius mengancam eksistensi kawasan mangrove. Sifat lagunanya yang tertutup, yakni muara sungai tidak langsung terhubung dengan laut bebas, menyebabkan sejumlah besar sedimen didepositkan dalam laguna. Sungai Citanduy membawa sejumlah besar lumpur erosi dari daerah hulu dan diendapkan di dalam laguna (Wirjodarmodjo dkk., 1978). Setiap tahun sungai Citanduy dan Cimeneng/Cikonde masing-masing mengangkut 5 juta m3 dan 770.000 m3 sedimen, dimana 740.000 m3 dan 260.000 m3 di antaranya diendapkan di Segara Anakan (ECI, 1994). Pelumpuran ini menyebabkan menjoroknya daratan antara 17-30 m per tahun. Tanpa upaya yang berarti untuk mengatasinya, dalam jangka panjang ekosistem mangrove akan berubah menjadi ekosistem daratan, dengan struktur dan komposisi biota (flora dan fauna) yang berbeda (Tjitrosoepomo, 1981). Sehingga tidak hanya mempengaruhi komunitas alami dan habitatnya, namun juga mempengaruhi kultur masyarakat Kampung Laut (Hardoyo, 1982). Hal ini sudah terbukti dengan perubahan konstruksi rumah penduduk, rumah-rumah penduduk yang sebagian besar nelayan semula merupakan rumah panggung di atas permukaan laut, namun kini sebagian besar sudah berubah menjadi rumah tembok di daratan (Pikiran Rakyat, 22/01/2001). Sedimentasi menyebabkan berbagai permasalahan, seperti turunnya pendapatan nelayan yang merupakan pekerjaan sebagian besar penduduk (7087,5%, tahun 1987), diubahnya area mangrove menjadi areal pertanian, munculnya konflik kepentingan antara penduduk setempat dengan Perhutani

277

mengenai penggunaan tanah timbul, dan terancamnya Segara Anakan sebagai tempat pembibitan perikanan lepas pantai (Brotosusilo, 1988; Budihardjo, 1988). Bertambahnya daratan juga menimbulkan sengketa antara Perhutani yang ingin mempertahankannya sebagai hutan dan pemerintah daerah yang ingin mengubahnya menjadi lahan budidaya (Yudho, 1988). Perubahan ekosistem perairan menjadi daratan mendorong penduduk untuk mengubah mata pencaharian dari nelayan menjadi petani (Brotosusilo, 1988), termasuk merambah hutan untuk mengambil kayu dan dijual sebagai kayu bakar atau arang. Meskipun mereka menyadari hal ini akan menurunkan produktivitas ikan dan udang (Republika, 24/03/2001). Pada tahun 2002 saja, untuk merestorasi hutan mangrove seluas 202,5 ha yang rusak akibat penebangan dan pertambakan, serta memelihara 700 ha hutan yang terancam rusak, diperlukan 470.575 berbagai spesies bibit mangrove (Pikiran Rakyat, 03/08/2002). Pada masa lalu banyak digunakan Bruguiera gymnorrhiza dan Rhizophora mucronata sebagai pohon penghijauan (Haditenojo dan Abbas, 1982; Moeljono, 1982). Kebanyakan peneliti meyakini adanya hubungan positif antara besarnya hasil tangkapan ikan, udang dan biota laut komersial lainnya dengan kondisi ekosistem mangrove di wilayah pesisir, dimana semakin luas hutan mangrove maka semakin banyak udang yang tertangkap (Kompas, 18/04/2002; Sukartika, 1980). Hal ini dikarenakan ekosistem mangrove dapat menangkap bahan organik sehingga memiliki produktivitas tinggi sebagai sumber pakan ikan, perairan mangrove yang keruh dapat menurunkan jarak pandang predator, serta keanekaragaman struktur dan relung habitat mangrove menyediakan ruang yang

278

luas untuk beragam spesies. Jumlah hasil tangkapan perikanan komersial juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geografi lokasi penangkapan, luas penutupan mangrove, luas wilayah pesisir, panjang garis pantai, luas area pasang surut, karakter sungai, dan masukan bahan organik (Haroen, 2002). Kerusakan hutan mangrove menyebabkan merosotnya nilai potensi ekonomi Segara Anakan, karena berkurangnya tempat pemijahan udang, ikan dan biota lain yang bernilai ekonomi tinggi. Nilai total ekonomi ekosistem mangrove Segara Anakan sebesar Rp. 140.880.427.700 per tahun atau Rp. 8.188.980 per hektar per tahun, sebagian besar berupa sumberdaya alam perairan (Paryono dkk., 1999). Penelitian pada tahun 1999-2000 menunjukkan 8% ikan dan 34% udang yang ditangkap nelayan di perairan pantai Cilacap dan Ciamis menetas dan dibesarkan di Segara Anakan, angka ini senilai Rp. 62 milyar per tahun (Dudley, 2000). Rusaknya lingkungan di Segara Anakan mengancam nasib sekitar 22.000 nelayan (Pikiran Rakyat, 01/05/2002). Sedimentasi tidak hanya menimbulkan kerugian material namun juga menyebabkan kematian akibat bencana banjir (Kompas, 30/10/2001). Faktor utama penyebab banjir adalah melimpahnya curah hujan, hingga tidak dapat diserap tanah dan tidak dapat ditampung sungai-sungai (Buana Katulistiwa, 2002). Sedimentasi menyebabkan laguna Segara Anakan menyempit, dangkal, dan menaikkan dasar sungai terutama di kawasan muara, sehingga daya tampungnya berkurang. Akibatnya dataran di sepanjang tepian sungai-sungai yang bermuara di Segara Anakan menjadi langganan bajir rutin setiap musim hujan (Suara Pembaruan, 26/05/2002; Mitra Bisnis, 11/2001; Kompas, 30/10/2001; ).

279

Kepadatan penduduk di daerah aliran sungai (DAS) menyebabkan besarnya permintaan akan sumberdaya, sehingga ekosistem alami diubah menjadi lahan pemukiman, pertanian, usaha, jalan dan lain-lain, akibatnya terjadi penurunan kemampuan tanah dalam menyerap air. Kegiatan yang paling serius menyebabkan terjadinya banjir adalah penggundulan hutan, baik oleh pencuri kayu dan perambah hutan ataupun oleh aparat Perhutani dengan dalih penjarangan tanaman. Hal ini terbukti pada kasus banjir besar pada bulan Oktober 2000 di Cilacap (Buana Katulistiwa, 2002; Kompas, 21/03/01). Penyudetan sungai Citanduy dan Cimeneng/Cikonde diperkirakan dapat mengurangi banjir di Kecamatan Kawunganten, Sidareja, dan Patimuan, Kabupaten Cilacap, serta di Kecamatan Kalipucang, Padaherang, dan Lakbok, Kabupaten Ciamis (Suara Pembaruan, 06/07/2002; 26/05/2002; Mitra Bisnis, 11/2001).

d) Upaya Konservasi Ekosistem Mangrove Segara Anakan Upaya untuk mempertahankan eksistensi ekosistem mangrove Segara Anakan telah dan sedang dilakukan dengan berbagai cara, antara lain upaya penyudetan sungai Citanduy untuk mencegah pelumpuran yang berlebih ke dalam laguna, restorasi tumbuhan mangrove dan penghijauan di daerah aliran sungai, serta pengerukan sedimen.

1) Penyudetan Sungai Citanduy Sungai Citanduy berasal dari mata air di Gunung Cakrabuana (1.921 m dpl), dengan luas daerah aliran sungai sekitar 279.830 ha, dimana hampir 70%

280

berbukit-bukit. Jumlah penduduk kawasan ini lebih dari 2 juta jiwa dengan kepadatan 704 orang per km2 DAS Citanduy hulu, semakin kritis dengan semakin sedikitnya lahan berhutan dan intensifnya eksploitasi lahan. Kawasan ini mencakup enam kabupaten, yakni Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Kuningan, dan Cilacap, sehingga harus dikelola secara adil dimana setiap wilayah memiliki hak dan kewajiban, serta integratif untuk mengakomodasi kemungkinan konflik kepentingan antar wilayah. Di Jawa Barat, Citanduy hulu merupakan salah satu daerah aliran sungai yang mendapat prioritas untuk ditangani karena tingginya tingkat erosi, sedimentasi, dan sampah. Sedimentasi dari Citanduy merupakan penyebab utama atau 70% penyempitan laguna Segara Anakan, tingkat erosinya mencapai 19,15 mm/tahun (Kompas, 25/01/2001). Untuk mengurangi laju sedimentasi, serta menyelamatkan laguna dan ekosistem mangrove Segara Anakan, pada tahun 1996 Pemerintah Indonesia dengan dana hutang dari Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank; ADB) menggelar proyek konservasi dan pembangunan Segara Anakan (SACDP) selama lima tahun (1997-2002). Pekerjaan ini terdiri dari tiga komponen. Komponen A meliputi: penyudetan sungai Citanduy kurang lebih 3 km, penyudetan sungai Cimeneng kurang lebih 8 km, pengerukan Segara Anakan sekitar 600 ha, dan normalisasi sungai di DAS Segara Anakan kurang lebih 20 km. Komponen B berupa pembangunan desa yang meliputi: rehabilitasi hutan mangrove rakyat seluas 1125 ha, pengelolaan hutan mangrove rakyat seluas 5.000 ha, pembuatan percontohan akuakultur seluas 20 ha, perbaikan prasarana desa (jalan, air minum, kantor desa, dan lain-lain), konservasi tanah dan pengendalian

281

erosi seluas 5.000 ha di DAS Cimeneng. Komponen C berupa pelaksanaan dan pengawasan proyek yang meliputi: pengelolaan administrasi dan program pembangunan desa, pelaksanaan dan pengawasan program di laguna Segara Anakan, persiapan dan administrasi pelatihan dan kepedulian masyarakat, orthophoto, survey kepemilikan tanah, dan pembuatan foto udara (Pikiran Rakyat, 20/11/2002; Akar, 2001). ADB menyediakan 60% kebutuhan dana, sebesar US$ 76.89 juta, sedangkan pemerintah Indonesia menyediakan sisanya (ADB News Release, 1996).

(a) Sejarah Penyudetan Sejarah pengelolaan laguna Segara Anakan dapat dirujuk dari studi de Haan pada tahun 1865 yang menyatakan perlunya menciptakan sebuah reservasi hutan mangrove untuk menjamin ketersediaan kayu bagi penduduk Segara Anakan. Studi lebih lanjut menunjukkan sedimentasi yang tinggi di laguna berpotensi mengubah ekosistem mangrove menjadi ekosistem terestrial, sehingga masyarakat harus berganti profesi dari nelayan menjadi petani. Hal ini menginspirasi Blommenstain untuk mengubah tanah timbul menjadi areal pertanian. Bahkan untuk mempercepat sedimentasi, pada tahun 1972 PT Indah Karya menyarankan pelurusan aliran sungai Citanduy ke laguna Segara Anakan melalui kanal Nusawulung. Namun pada tahun 1975, ECI memberi rekomendasi bahwa reklamasi laguna menyebabkan ketidakpastian penghidupan nelayan, sebaliknya menyarankan peningkatan usaha nelayan tradisional menjadi nelayan modern, dengan mengembangkan laguna sebagai sumber pemijahan biota akuatik.

282

Tetapi lembaga ini juga melaporkan adanya percepatan sedimentasi di laguna melebihi perkiraan semula (Pikiran Rakyat, 20/11/2002; ECI, 1975). Kajian ECI ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana pengembangan DAS Citanduy secara integral dengan tujuan mengendalikan banjir, irigasi pertanian, serta konservasi daerah hulu dan hilir Segara Anakan. Pada tahun 1979, ECI melakukan studi kelayakan irigasi Citanduy hilir, diikuti pelaksanaan konstruksi irigasi Sidareja-Cihaur pada tahun 1982 yang diperluas pada tahun 1993. Pada tahun 1980, LIPI melakukan penelitian ekologi ekosistem Segara Anakan, beserta beberapa aspek lainnya dengan memfokuskan pada manajemen sumber daya kelautan (Pikiran Rakyat, 20/11/2002). Hasil kajian menarik perhatian ADB antara lain dengan membiayai proyek pemantauan dan rencana penggunaan optimal periode 1981-1985. Kegiatan yang dianggap layak adalah pengerukan sedimen, serta pembentukan area pertanian dengan menaikkan daratan dan meningkatkan pembilasan (Ludwig, 1985). Pada tahun 1987 kembali ADB membiayai studi rencana pekerjaan umum (ECI, 1987) yang hasilnya menarik minat pemerintah Amerika Serikat untuk membiayai studi rencana manajemen terpadu Segara Anakan oleh ICLARM (International Center for Living Aquatic Resources Management) yang diselesaikan pada 1988 (Pikiran Rakyat, 20/11/2002). Berdasarkan studi ECI pada tahun 1994, Departemen Pekerjaan Umum dan ADB mengusulkan beberapa alternatif pengelolaan laguna Segara Anakan, diantaranya adalah tidak melakukan tindakan apapun, mengeruk sedimen, membangun pintu gerak atau bendungan di kanal barat, dan membangun sudetan

283

sungai Citanduy (Pikiran Rakyat, 20/11/2002; ECI, 1994). Usul penyudetan sungai Citanduy semakin mengkristal dengan adanya pertemuan antara Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Kehakiman dengan ADB, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah setempat yang menyepakati perlunya upaya penyelamatan Segara Anakan. Sasaran adalah upaya konservasi areal seluas 12.000 ha meliputi laguna (1.800 ha), hutan mangrove (5.200 ha), dan tanah daratan (5.000 ha). Fokus pekerjaan meliputi: penanganan penyebab sedimentasi pada daerah aliran sungai dengan metode agroteknik, yaitu perbaikan lahan, penghijauan, dan pengaturan sedimentasi, pengalihan sedimen yang masuk ke laguna sebelum agroteknik efektif, pengerukan sedimen di laguna, dan penanganan aspek sosial. Hasilnya pada tahun 1995-1997 dilakukan pengerukan sedimen untuk menjamin tempat tumbuh vegetasi mangrove dan mencegah penyempitan laguna (Pikiran Rakyat, 20/11/2002). Selanjutnya pada tahun 1996, pemerintah dan ADB sepakat menggelar proyek konservasi dan pembangunan Segara Anakan selama lima tahun dengan rencana kerja sebagaimana telah disebutkan di atas, dimana upaya penyudetan sungai Citanduy menjadi masalah paling kontroversial (Pikiran Rakyat, 20/11/2002; Berita KAI, 14/08/2002; Akar, 2001). Setelah uji kelayakan, pemerintah dalam hal ini Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) tampaknya bermaksud segera

melaksanakan proyek tersebut. Sungai Citanduy yang bermuara di Segara Anakan, dekat ujung barat Pulau Nusakambangan, di wilayah Kabupaten Cilacap, akan dibuatkan kanal sejauh 3 km ke laut selatan, sehingga alirannya langsung

284

masuk ke perairan laut Nusawere di sebelah timur Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Program ini mendapat tantangan warga Pangandaran, yang umumnya hidup sebagai nelayan dan pelaku pariwisata. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk mencabut persetujuan yang pernah diberikan kepada pemerintah pusat terhadap proyek penyudetan tersebut (Media Indonesia, 29/08/2002; Mitra Bisnis, 11/2001). Kegiatan proyek ini menimbulkan keragu-raguan di kalangan masyarakat Pangandaran, karena khawatir nutrien yang dibawa sungai Citanduy akan langsung terbuang ke laut, terjadi perubahan salinitas di Segara Anakan yang mengganggu keanekaragaman hayati dan memusnahkan tempat pemijahan berbagai spesies biota laut, bertumpuknya lumpur dan sampah di pantai Pangandaran, serta terjadinya banjir di daratan rendah pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau (Pikiran Rakyat, 20/11/2002; Mitra Bisnis, 11/2001). Sebelumnya permasalahan hilangnya nutrien dan berubahnya salinitas telah disinggung dalam laporan ECI (1994) yang menjadi dasar ADB membiayai proyek penyudetan ini. Laporan tersebut meyakinkan bahwa penyudetan tidak akan mempengaruhi daur nutrien pada ekosistem mangrove, suatu hal yang menimbulkan pertanyaan mengingat daur nutrien pada ekosistem mangrove sangat dipengaruhi masukan dari sungai dan laut. Selanjutnya laporan tersebut mengakui kemungkinan terjadinya peningkatan salinitas hingga tiga kali lipat, sehingga biota akuatik tertentu diperkirakan tidak akan bertahan hidup. Namun dari segi akuakultur, hal ini dapat di atasi dengan didatangkannya spesies bernilai

285

ekonomi yang tahan salinitas dari luar, misalnya dengan membuat tambak udang (Pudjiastuti dan Siregar, 2002).

(b) Potensi Konflik Akibat Penyudetan Permasalahan lingkungan merupakan salah satu problem besar yang akan muncul dalam penerapan otonomi daerah, terutama apabila otonomi diartikan secara sempit. Lingkungan hidup sebagai ruang interaksi antara sesama makhluk hidup dan dengan makhluk tidak hidup, tidak mengenal batas wilayah. Kasus penyudetan sungai Citanduy merupakan konflik lingkungan terbesar yang muncul pada awal penerapan otonomi daerah, yang implikasinya dapat menimbulkan benih-benih perselisihan menuju krisis sosial. Di satu sisi pemerintah Kabupaten Cilacap bermaksud melakukan penyudetan untuk menyelamatkan Segara Anakan dari pendangkalan akibat sedimentasi sungai Citanduy yang utamanya berasal dari Kabupaten Ciamis. Di sisi lain upaya ini mendapat tantangan keras dari anggota DPRD Ciamis, warga dan LSM, karena dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap lingkungan pantai Pangandaran. Menanggapi keberatan ini Pemerintah Kabupaten Cilacap mengancam akan membendung sungai tersebut di daerah Plawangan, ujung barat Nusakambangan yaitu tempat bertemunya perairan Segara Anakan dengan laut selatan (Pikiran Rakyat, 17/05/2000). Jika penyudetan ini direalisasikan diduga banyak nelayan dan pelaku wisata Pangandaran yang menderita dan sebaliknya penduduk Segara Anakan akan menikmati panen berlimpah dari hasil perikanan. Penyelesaian konflik lingkungan memerlukan

286

pemahaman yang mendalam secara keilmuan dan kemampuan analisis secara holistik (Media Indonesia, 09/06/2000). Benturan antara dua atau lebih wilayah akibat persoalan lingkungan harus diselesaikan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip keadilan. Suatu wilayah yang menjadi biang pencemaran di wilayah lain tidak dapat menutup mata atas kerugian yang ditimbulkannya. Saling mengancam antara para elite politik tidak menyelesaikan masalah, bahkan dapat menimbulkan persoalan baru yang melibatkan masyarakat banyak. Otonomi daerah bukan sarana untuk membentuk tirani baru, namun suatu keberkahan sehingga perlu dipahami semangat di belakang kelahirannya. Para politisi tidak dapat menganggap ringan potensi berkembangnya konflik, karena dampaknya sangat dekat dengan persoalan disintegrasi bangsa (Media Indonesia, 09/06/2000). Upaya konservasi dan pengembangan Segara Anakan secara integratif sebagaimana direncanakan harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tidak menggunakan pendekatan proyek sebagaimana umum dilakukan pada masa lalu. Konsep tersebut perlu dipadukan antara Kabupaten Ciamis dan Cilacap sehingga tidak mewariskan masalah bagi pemerintahan selanjutnya (Republika,

16/01/2002). Kajian teknis dan sosialisasi rencana harus diberikan secara jujur dan terbuka agar masyarakat dapat mempelajari dan mengantisipasi berbagai dampak yang dapat timbul, sehingga persetujuan masyarakat bukan merupakan hasil penggiringan opini, namun merupakan pemahaman atas kekurangan, kelebihan dan konsekuensi yang harus ditanggung apabila penyudetan dilaksanakan atau dibatalkan (Sinar Harapan, 11/03/2002; Republika, 16/01/2002). Pelaksanaan

287

penyudetan sungai Citanduy tanpa melibatkan kesertaan masyarakat dapat memunculkan gejolak yang pada akhirnya membuat proyek menjadi mubasir (Republika, 16/01/2002). Tarik ulur upaya penyudetan menyebabkan rencana yang sedianya dilaksanakan pada tahun anggaran 1999/2000 ditunda dan dikaji ulang, khususnya oleh pemerintah Kabupaten Ciamis. Sebelumnya pihak proyek Citanduy telah bekerja sama dengan para pakar untuk meneliti segala kemungkinan yang dapat terjadi sebagai dampak penyudetan. Namun tingginya tantangan atas penyudetan tersebut menyebabkan pengkajian yang melibatkan para pakar itu harus dilaksanakan kembali. Kaji ulang dilakukan oleh tim gabungan perguruan tinggi, di antaranya dari Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Galuh. Dengan kaji ulang diharapkan dapat diperoleh hasil yang obyektif dan komprehensif, termasuk kemungkinan ditemukannya alternatif baru agar sedimen dari sungai Citanduy yang masuk ke perairan Segara Anakan dapat ditekan (Suara Merdeka, 14/08/2002; Suara Pembaruan, 26/05/2002; Kompas, 11/05/2001; Pikiran Rakyat, 22/01/2001). Para pakar berkesimpulan bahwa penanganan sedimentasi di Segara Anakan dengan atau tanpa penyudetan sungai Citanduy sama-sama mengandung risiko, namun penanganan dengan penyudetan memiliki risiko lebih kecil daripada tanpa penyudetan. Berdasarkan hasil kaji ulang yang pembahasan finalnya telah dilaksanakan di Depkimpraswil (24/8/2001), maka diputuskan untuk melanjutkan upaya penyudetan sungai Citanduy. Untuk itu pemerintah dan ADB sepakat memperpanjang proyek hingga tahun 2004, selanjutnya hal ini menunggu "lampu

288

hijau" dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Ciamis (Suara Merdeka, 14/08/2002; Mitra Bisnis, 11/2001).

(c) Terbentuknya Ekosistem Baru Penyudetan sungai Citanduy dengan memindahkan muaranya dari laguna Segara Anakan langsung ke laut selatan dapat mengakibatkan terjadinya pelumpuran, pengeruhan, dan penumpukan sampah di kawasan pantai, serta menimbulkan banjir di sepanjang tepi kanal sudetan. Di samping itu memungkinkan terbentuknya ekosistem baru menggantikan ekosistem lama khususnya terumbu karang yang banyak dijumpai di sepanjang pantai, khususnya di CA Pananjung, Pangandaran. Dampak ekologis terbentuknya ekosistem baru ini sulit diprediksi dan diperkirakan akan memunculkan permasalahan sosial baru pula (Suara Pembaruan, 25/08/2002; Sinar Harapan, 11/03/2002;

Republika, 16/01/2002; Mitra Bisnis, 11/2001). Perubahan pola aliran sungai menyebabkan arus balik ombak dan arus pasang surut laut selatan, lambat laun dapat menyebabkan pendangkalan di muara barat Segara Anakan dan memungkinkan bersatunya Pulau Jawa dengan Nusakambangan. Tertutupnya kanal barat di Plawangan ini dapat menyebabkan sedimen dari sungai Cibeureum, Palindukan, dan sungai-sungai lain yang tidak disudet dan tetap bermuara di Segara Anakan akan tertahan dan tertimbun di dalam laguna, sehingga tetap menjadi ancama eksistensi Segara Anakan. Di samping itu gundulnya bukit-bukit di Nusakambangan akibat masuknya pendatang turut menyumbang peningkatkan sedimentasi (Pikiran Rakyat, 23/11/2000).

289

(d) Potensi Sedimentasi dari Nusakambangan Sampai tahun 1980-an, Nusakambangan masih merupakan kawasan yang benar-benar tertutup. Akan tetapi sejalan dengan upaya pemanfaatan potensi alamnya, berbagai aktivitas mulai dilakukan. Penambangan batu kapur untuk keperluan pabrik semen diduga menjadi katalis utama masuknya manusia ke kawasan ini (Kompas, 24/02/2001). Pemukim pertama didatangkan pada tahun 1997, sebagai buruh tani oleh sebuah proyek penanaman pisang cavendish yang gagal, yakni 400 KK dari Banjarpatoman, Ciamis. Selanjutnya masuk pendatang lain hingga jumlahnya mencapai sekitar 900 KK (Kompas, 29/05/2001; 24/02/2001; Akar, 2001). Akibatnya sekitar 1.000 ha hutan lindung rusak parah karena pencurian kayu atau dikoversi menjadi ladang, di luar kerusakan akibat penambangan batu kapur (Suara Merdeka, 08/05/2000; Kompas, 09/08/2000; 29/05/2001; 22/06/2002). Para pendatang seringkali menanami lahan miring tanpa pembuatan teras, sehingga menyebabkan terjadinya erosi. Penertiban pendatang pernah dilakukan pada bulan Januari-Pebruari 2001, namun pada bulan Juni 2001 mereka kembali datang (Suara Merdeka, 16/06/2001a,b; Akar, 2001), bahkan kembali mencapai sekitar 300 KK pada awal tahun 2002 (Suara Merdeka, 28/03/2002). Kehadiran pendatang yang cenderung dibiarkan mendorong penduduk asli ikut menjamah hutan Nusakambangan, terlebih sedimentasi telah menyatukan kampung mereka dengan pulau tersebut seperti di Lempong Pucung (Suara Hidayatullah, 05/1999) dan Klaces (Kompas, 21/12/2002). Sehingga semakin meningkatkan sedimentasi dari sisi selatan laguna Segara Anakan.

290

(e) Jaminan Terhentinya Sedimentasi Hingga kini tidak ada jaminan bahwa pelumpuran di Segara Anakan akan terhenti setelah muara sungai Citanduy dan Cimeneng dialihkan ke laut selatan, mengingat tingginya arus degradasi hutan Nusakambangan dan adanya pelumpuran dari sungai-sungai kecil lain, meskipun tidak sebesar kedua sungai tersebut (Republika, 16/01/2002). Di samping itu sudetan dapat patah oleh proses geologi yang belum ditelaah, sehingga tidak menyelesaikan masalah bahkan sebaliknya menimbulkan permasalahan baru, seperti terhentinya pasokan air tawar di Majingklak, terputusnya transportasi air sungai dari Kalipucang-Majingklak, dan terjadinya perebutan lahan bekas hutan mangrove (Sinar Harapan, 11/01/2003). Dalam hal ini alasan penolakan masyarakat, LSM, dan DPRD Ciamis memiliki pembenaran yang kuat. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri yang pernah menjadi tim konsultan pada proyek konservasi dan pembangunan Segara Anakan juga berpendapat penyudetan tersebut kurang tepat karena hanya mengalihkan permasalahan lama ke permasalahan baru. Proyek sudetan tidak akan efektif, kecuali secara teknis tidak berdampak negatif pada ekosistem (Suara Pembaruan, 25/08/2002). Akan tetapi pada bulan Juli 2002 pejabat Depkimpraswil kembali menetapkan jadwal rencana penyudetan sungai Citanduy yang akan dimulai pada bulan September 2002, dengan alasan pembebasan tanah dan kekhawatiran terhadap dampak negatif proyek tersebut telah dapat diatasi (Suara Pembaruan, 06/07/2002). Namun sebulan kemudian

291

ribuan nelayan dan warga Pangandaran kembali menyatakan keberatannya dengan mendatangi kantor Gubernur Jawa Barat (Media Indonesia, 29/08/2002). Penyelamatan Segara Anakan merupakan komitmen nasional (Kompas, 05/10/2002). Dalam Rakorbangnas 22 Oktober 2002 dinyatakan bahwa permasalahan sudetan sungai Citanduy dan pendangkalan Segara Anakan masih terus diupayakan untuk diselesaikan bersama antara Pemerintah Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Pemerintah Pusat c.q. Depkimpraswil, sehingga babak akhir kelanjutan penyudetan ini masih ditunggu-tunggu. Banyaknya kepentingan yang turut ambil bagian tampaknya menjadi penyebab tertunda-tundanya rencana penyudetan tersebut (Suara Merdeka, 14/08/2002).

(f) Hambatan Lain Di samping tekanan masyarakat Ciamis, terutama Pangandaran untuk membatalkan penyudetan sungai Citanduy, Cimeneng/Cikonde, dan sungai-sungai di sekitarnya, upaya ini juga mendapat hambatan dari para pemilik jaring apung dan pemilik tanah pendatang yang meminta harga ganti jauh di atas nilai jual obyek pajak (NJOP) (Pikiran Rakyat, 12/03/2002; 01/05/2002; Sinar Harapan, 01/05/2002). Misalnya seorang pengusaha yang menguasai tanah seluas 125 ha meminta agar seluruh tanahnya dibebaskan dengan harga jauh di atas NJOP, sedangkan proyek hanya memerlukan 25 ha tanahnya (Mitra Bisnis, 11/2001). Berlarut-larutnya upaya penyudetan sungai ini menyebabkan ADB selaku lembaga donor mengancam untuk menarik pinjamannya (Pikiran Rakyat, 12/03/2002), sebaliknya pemerintah Indonesia tetap diwajibkan membayar biaya

292

komitmen atas janji hutang tersebut (Jawa Pos, 22/10/2002). Proyek konservasi lingkungan demikian selayaknya didanai dengan hibah bukannya dana hutang (Suara Pembaruan, 25/08/2002; Media Indonesia, 29/08/2002), sebagaimana jargon hutang ditukar lingkungan (environtmental debt swap).

2) Penghijauan dan Pengerukan Penyudetan sungai Citanduy bukan merupakan satu-satunya cara untuk mengurangi pelumpuran di Segara Anakan. Pembenahan lingkungan daerah aliran sungai, penghijauan, dan pengerukan sedimen secara rutin diharapkan dapat mengurangi laju sedimentasi (Koran Tempo, 06/06/2002; Suara Pembaruan, 25/08/2002; Media Indonesia, 29/08/2002). Namun dalam prakteknya

penghijauan sulit dilaksanakan, mengingat kawasan hulu sungai-sungai yang bermuara di Segara Anakan umumnya merupakan tanah milik pribadi. Para petani yang kebanyakan juga miskin, menanaminya dengan tanaman pangan yang lebih cepat dipanen dari pada tanaman tahunan yang lebih bernilai konservasi (Akar, 2001). Di sisi lain tanpa pembenahan dan penghijauan di daerah aliran sungai, maka upaya pengeruhan sedimen dapat dipastikan tidak efektif, mengingat tidak diputusnya sumber pelumpuran. Sebagai jalan pintas yang segera dapat dilihat hasilnya adalah dibuatnya kanal penyudetan. Adapun upaya pembenahan dan penghijauan harus tetap dilakukan. Untuk kawasan sempadan sungai sebenarnya telah dibuat aturan perlindungan, yakni Keppres No. 20 Tahun 1990, yang menyatakan bahwa di sepanjang sungai besar harus dibuat sabuk hijau (green belt) selebar 100 m di

293

sebelah kanan sungai dan 60 m di sebelah kiri sungai yang harus ditanami aneka spesies pohon (Suara Pembaruan, 25/08/2002). Namun luasan ini tampaknya terlalu sempit untuk daerah aliran sungai Citanduy dan sungai-sungai lain yang bermuara di Segara Anakan. Di kawasan Segara Anakan, jalur hijau yang mutlak harus dilindungi terdiri dari sempadan laguna seluas 101,64 ha, sempadan sungai seluas 2.095 ha, sempadan pantai Nusakambangan seluas 5.674,08 ha, hutan mangrove seluas 2.769,11 ha, dan hujan tropis dataran rendah di Nusakambangan seluas 9.939,30 ha (suara Merdeka, 26/05/2001).

e) Penutup Upaya penyudetan sungai Citanduy bagaikan buah simalakama, disudet ataupun tidak masing-masing memiliki kerugian dan kelebihan, meskipun secara umum-dari segi konservasi ekosistem mangrove-tampaknya upaya penyudetan lebih memberikan harapan bagi perpanjangan umur ekosistem tersebut. Mengingat tanpa penyudetan hilangnya laguna dan menciutnya ekosistem mangrove di Segara Anakan merupakan sebuah kepastian dan tinggal menunggu waktu. Sebenarnya dalam kultur masyarakat Ciamis selatan terdapat pembenaran atas upaya penyudetan sungai ini, dimana petuah leluhur (uga kawasen) menyatakan bahwa kelak kawasan Lakbok, Ciamis dan sekitarnya akan subur makmur dan sejahtera, apabila sungai-sungainya sudah bermuara ke selatan (Pikiran Rakyat, 11/10/2002). Namun pendekatan kultural tampaknya diabaikan pelaksana proyek, yang lebih mementingkan aspek teknis. Pelibatan masyarakat dan pihak-pihak terkait (stakeholders) dalam perencanaan, dapat menghasilkan

294

proyek yang lebih sesuai dengan kepentingan masyarakat, karena masyarakat yang membiayai, memanfaatkan dan menanggung risiko apabila terjadi kegagalan (Suara Publik, 2002). Sebagai suatu tata lingkungan, kawasan laguna, hutan mangrove Segara Anakan, dan hutan Nusakambangan perlu dikelola secara terpadu, baik dalam aras manajemen konservasi maupun administrasi antar pemerintah daerah, masyarakat maupun pihak-pihak terkait lainnya, sehingga terjadi keselarasan dalam upaya perlindungan, penelitian dan pemanfaatannya.

295

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Di pantai utara dan selatan Jawa tengah ditemukan tumbuhan mangrove sebanyak 55 spesies (27 familia), terdiri dari mangrove mayor (17), minor (12), dan tumbuhan asosiasi (26), dengan bentuk habitus pohon (32), semak (13), dan herba (10). Tumbuhan mangrove mayor dengan lokasi sebaran paling luas adalah Rhizophora mucronata (16), diikuti Sonneratia alba (15), Nypa fruticans (12), Avicennia alba (11) dan Avicennia marina (11). Tumbuhan mangrove minor paling luas lokasi sebarannya adalah Acrostichum aureum (11). Tumbuhan asosiasi mangrove yang lokasi sebarannya paling luas adalah Acanthus ilicifolius (16), Derris trifoliata (15), Calotropis gigantea (13), Hibiscus tiliaceus (11), Terminalia catappa (11), dan Ipomoea pescaprae (10). Sedangkan spesies-spesies lainnya ditemukan kurang dari 10 lokasi. Lokasi dengan keanekaragaman spesies paling banyak adalah Wulan (35), diikuti Motean dan Muara Dua (masing-masing 29), Bogowonto (19), Pasar Banggi (18), Tritih (17), Sigrogol (15), Juwana dan Ijo (masing-masing 14), Cakrayasan (12), Lasem dan Serang (masing-masing 11), Bulak, Telukawur, Cingcingguling dan Bengawan (masing-masing 9), Pecangakan (8), Serang (6), dan Tayu (5). 2. Secara umum strata pohon yang sekaligus memiliki strata anak pohon dan bibit pohon, serta strata semak yang sekaligus memiliki strata bibit semak, apabila diperbandingkan dalam satu spesies yang sama maka nilai pentingnya 257

296

cenderung tetap. Pada tiga besar tumbuhan mangrove mayor, yaitu Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp. nilai penting pada strata pohon secara berturut-turut adalah 0,190, 0,136, dan 0,058; strata anak pohon 0,163, 0,126, dan 0,213, strata bibit pohon 0,186, 0,113, dan 0,235. Oleh karenanya kelestarian tumbuhan mangrove di Jawa Tengah diperkirakan akan terjamin, meskipun dalam kondisi disturbansi, selama tidak terjadi perubahan-perubahan lingkungan secara besar-besaran dalam skala luas. Data ini sekaligus menunjukkan tingginya pengaruh antropogenik, yang menyebabkan

disturbansi ekosistem, sehingga tegakan tidak mencapai klimaks, dengan nilai penting tumbuhan muda relatif tinggi. Diagram profil vegetasi secara vertikal dan horizontal menunjukkan tingginya pengaruh antropogenik, vegetasi didominasi tumbuhan muda, yang hanya memiliki (1)-2-(3-4) strata kanopi. Disturbansi oleh aktivitas manusia menyebabkan sebagian besar vegetasi dalam kondisi suksesi sekunder, dan hampir tidak ada yang berada dalam kondisi klimaks. Area yang tercakup di dalam belt transect yang digunakan untuk menyusun diagram tersebut seringkali terdapat celah kanopi, tanah kosong akibat penebangan, atau bahkan tanah yang telah diubah menjadi kegunaan lain, terutama sawah dan tambak. Adanya resisitensi tumbuhan muda untuk terus bertahan, pada lingkungan yang mengalami disturbansi ini memberikan harapan akan tetap lestarinya tumbuhan mangrove di Jawa Tengah, namun apabila terjadi perubahan lingkungan secara besar-besaran dalam skala luas, boleh jadi lingkungan ini akan sepenuhnya rusak.

297

3. Pengujian keanekaragaman genetik S. alba dengan isozim esterase secara keseluruhan memunculkan 9 pita, dengan 12 variasi genotipe, sedangkan isozim peroksidase memunculkan 6 pita, dengan 11 variasi genotipe. Dendrogram hubungan kekerabatan berdasarkan pola pita esterase

menunjukkan adanya 13 kelompok, yang menyatu pada tingkat kesamaan 67% (kecuali kelompok ke-13 yang tidak memunculkan pita esterase). Adapun dendrogram berdasarkan pola pita peroksidase menunjukkan adanya 12 kelompok, yang juga menyatu pada tingkat kesamaan 66% (kecuali kelompok ke-12 yang tidak memunculkan pita peroksidase). Individu S. alba dari lokasi yang sama atau berdekatan umumnya memiliki keanekaragaman genetik yang cenderung sama, mengingat pertukaran genetik di dalam satu populasi atau di antara populasi yang berdekatan umumnya lebih tinggi daripada dengan populasi lain, sehingga populasi S. alba dari pantai utara memiliki kesamaan genetik yang lebih tinggi di antara sesamanya dibandingkan dengan populasi dari pantai selatan, begitu pula sebaliknya populasi dari pantai selatan memiliki kesamaan genetik yang lebih tinggi di antara sesamanya dibandingkan dengan populasi dari pantai utara. 4. Parameter/karakter lingkungan yang diamati adalah: a. Parameter/karakter lingkungan fisika-kimia: Suhu air berkisar antara 26,0oC (Telukawur) s.d. 37,6oC (Lasem), dengan rata-rata 30,95oC. Derajat keasaman (pH) air bervariasi antara 6,94 (Ijo dan Muara Dua) s.d. 8,29 (Wulan), dengan rata-rata 7,56. Adapun pH sedimen bervariasi antara 6,19 (Tayu) s.d. 8,13 (Wulan), dengan rata-rata 7,35. Kadar DO air berkisar antara 2,84 mg/L

298

(Muara Dua) s.d. 20,00 mg/L (Tayu), dengan rata-rata 8,836 mg/L. Salinititas air bervariasi antara 0,4% (Muara Dua) s.d. 4,5% (Wulan), dengan rata-rata 2,82%. Tipe tanah sedimen berkisar antara lempung, lempung-lumpur, lempung-pasir, lempung-pasir putih, dan lumpur. Warna sedimen tanah bervariasi antara merah, kelabu, kelabu-merah, hitam-merah dan hitam-putih. Tekstur tanah bervariasi antara becek dan padat. b. Parameter logam berat: Kadar Fe pada lingkungan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah bervariasi antara 42,682 mg/100g (Bulak) s.d. 282,098 mg/100g (Lukulo), dengan rata-rata 225,853 mg/100g. Kadar Cd bervariasi antara 0,0662 mg/100g (Tayu) s.d. 0,3270 mg/100g (Bulak) dengan rata-rata 0,1215 mg/100g. Kadar Cr bervariasi antara 0,3042 mg/100g (Bengawan) s.d. 3,0808 (Lukulo), dengan rata-rata 1,0583 mg/100g. Kadar Pb bervariasi 0,7026 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 2,1304 mg/100g (Serayu) dengan rata-rata 1,3885 mg/100g. Kadar tersebut relatif tinggi, namun masih pada kisaran baku mutu yang diperkenankan. c. Parameter unsur nutrient: Kadar bahan organik total bervariasi antara 8,308% (Wulan) s.d. 15,361% (Bulak), adapun rata-ratanya adalah 11,260%. Kadar NO3- bervariasi antara 0,327 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 0,671 mg/100g (Bulak), dengan rata-rata 0,4224 mg/100g. Kadar NH4+ bervariasi antara 0,276 mg/100g (Wulan) s.d. 0,409 mg/100g (Ijo), dengan rata-rata 0,2847 mg/100g. Kadar PO43- bervariasi antara 4,73 mg/100g (Cingcingguling) s.d. 8,39 mg/100g (Ijo) dengan rata-rata 6,80 mg/100g. Hal ini mengindikasikan belum adanya eutrofikasi pada sedimen tanah di lingkungan mangrove Jawa Tengah.

299

Kadar nitrogen masih berada jauh di bawah kisaran baku mutu limbah cair, sedangkan kadar fosfat yang tinggi merupakan konsekuensi dari keberadaan mangrove di lingkungan laut. 5. Pemanfaatan langsung dalam ekosistem mangrove, mencakup perikanan, kayu, bahan pangan, pakan ternak, bahan obat, bahan baku industri, serta pariwisata dan pendidikan. Adapun penggunaan lahan di sekitar ekosistem mangrove, mencakup dan perikanan/tambak, Kegiatan pertanian, antropogenik serta kawasan telah

pengembangan

bangunan.

tersebut

menurunkan peran ekologi, ekonomi dan sosial budaya ekosistem mangrove, oleh karena itu perlu dilakukan restorasi. Upaya restorasi yang cukup berhasil terjadi di Pasar Banggi, keberhasilan ini tampaknya karena pengikutsertaan masyarakat dalam manajemennya. Kegiatan restorasi yang gagal terjadi di Cakrayasan dan Lukulo; penyebab utama kegagalan ini tampaknya adalah kesalahan pemilihan bibit dan tiadanya pemeliharaan yang cukup berarti

B. Implikasi Kawasan mangrove di Jawa Tengah memiliki peran sosial ekonomi, sosial budaya, dan peran ekologi yang sangat mempengaruhi kondisi lingkungan pesisir pantai propinsi ini. Kawasan ini sangat dipengaruhi aktivitas manusia, baik secara langsung di dalam ekosistem tersebut maupun dari luar ekosistem. Oleh karena itu kelestarian ekosistem mangrove sangat ditentukan kemampuan dalam mengelola kawasan secara keseluruhan, baik di daerah hulu maupun daerah pesisir pantai sekitarnya; termasuk manajemen untuk menyeimbangkan kebutuhan akan

300

sumberdaya ini dengan upaya konservasi, sehingga ketersediaannya tetap terjaga secara terus menerus dalam jangka panjang.

C. Saran 1. Perlu upaya pelestarian ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Propinsi Jawa Tengah, antara lain dengan mengendalikan laju konversi lahan khususnya dalam pembuatan tambak ikan/udang dan sawah; menyeimbangkan antara upaya restorasi/rehabilitasi dan kreasi lahan mangrove dengan laju penebangan hutan/vegetasi dan konversi ke penggunaan lain; mengendalikan laju sedimentasi dengan memperbaiki kondisi lingkungan di daerah aliran sungai (seperti penghijauan dan pembuatan struktur pencegah erosi, dam, terasering) dan pengaturan drainase (seperti pengerukan laguna dan badan sungai), mengatur reklamasi pantai agar tidak berdampak negatif terhadap ekosistem mangrove di sekitarnya; mengendalikan dampak pencemaran lingkungan, baik dari sampah domestik, pupuk agrokimia, logam berat, minyak bumi, dan lain-lain. 2. Perlu upaya lanjutan untuk memanfaatkan tumbuhan mangrove dengan sentuhan teknologi, antara lain dengan kajian biokimia bahan aktif tumbuhan ini untuk menemukan senyawa-senyawa kimia baru sehingga meningkatkan penggunaannya dari obat tradisional menjadi obat modern dan untuk tujuan bahan baku industri; rekayasa bioteknologi tumbuhan dan mikroorganisme mangrove untuk meningkatkan kemampuannya sebagai pengolah limbah (fitoremediasi dan bioremediasi), dan lain-lain.

301

3. Perlu upaya penyusun dan penegakan peraturan yang kuat, dalam hal tata guna lahan mangrove, termasuk kepemilikan dan potensi pemanfaatannya; Perlu upaya peningkatan peran serta para pihak secara lebih luas dalam rencana dan operasional pengelolaan ekosistem mangrove, serta dalam kampanye pelestariaannya.

302

DAFTAR PUSTAKA

Aarssen, L.W. and R. Turkington. 1985 Biotic specialization between neighbouring genotypes in Lolium perenne and Trifolium repens from a permanent pasture. Journal of Ecology 73: 605-614. Acquaah, G. 1992. Practical Protein Electrophoresis for Genetic Research. Portland, OR.: Dioscorides Press.. ADB News Release. 1996. ADB lends US$ 45.6 million to Indonesia to save Java ecosystem. ADB News Release No. 119/96, 17 Oktober 1996. Adriano, D.C., 1986. Trace Element in the Terrestrial Environment. New York: Springer. Aitken, S.N. and W.J. Libby. 1994. Evolution of the pygmy-forest edaphic subspecies of Pinus contorta acros an ecological staircase. Evolution 48: 1009-1019. Akar. 2001. Konflik di Segara Anakan: kelalaian pemerintah Orde Baru, tantangan bagi pemerintah sekarang. Akar 2 (1): www. arupa.or.id/publications/akar2-1/konflik_di_segara_anakan. htm Aksornkoae, S. 1986. Mangrove ecosystem general background. In: Training Course on Life History of Selected Species of Flora and Fauna in Mangrove Ecosystems. Bangkok: UNDP/UNESCO Regional Project. Aksornkoae, S. 1993. Ecology and Management of Mangroves. Bangkok: International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Aksornkoae, S. 1996. Reforestation in mangrove forests in Thailand, A case study in Pattani Province. In Field, C.D. (ed.) Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems. Alcazar, M.D., C. Egea, A. Espin, and E. Cadela. 1995. Peroxidase isozymes in the defense response of Capsicum annum to Phytophtora capsici. Physiology of Plant 94: 736-742. Amin, E.M. dan T. Hariati. 1988 The capture fisheries of Segara Anakan, Indonesia. ASEAN/US Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988. Anonim. 1991. Application social forestry strategy by using silvofishery system for supporting national food production. Bandung: Perum Perhutani Unit III West Java.

303

Anonim. 1997. Empang parit di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Kehutanan Indonesia 6: 31-34. Anonim. 2001a. Mangroves, Multi-Species Recovery Plan for South Florida. southeast.fws.gov/vbpdfs/commun/mn.pdf. Anonim. 2001b. Shoreline stabilization and storm protection. In: Wetland Values and Function. Gland: The Ramsar Bureau. Antonovics, J. 1971. The effect of heterogenous on the genetic of natural populations. American Scientist 59: 593-599. APHA. 1969. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater. New York: APHA (American Public Health Association). Armbruster, W.S., and K.E. Schwaegerle. 1996. Causes of covariation of phenotypic traits among populations. Journal of Evolutionary Biology 9: 261-276. Arulsekar, S. and D.E. Parfitt. 1986. Isozyme analysis procedures for stone fruits, almond, grape, walnut, pistachio and fig. Horticulture Science 21 (4): 928933. Ashton, P.S., and P. Hall. 1992. Comparisons of structure among mixed dipterocarp forests of north-western Borneo. Journal of Ecology 80: 459481. Auler, N.M.F., M. Sedrez dos Reis, M.P. Guerra, and R.O. Nodari. 2002. The genetics and conservation of Araucaria angustifolia: I. Genetic structure and diversity of natural populations by means of non-adaptive variation in the state of Santa Catarina, Brazil. Genetics and Molecular Biology, 25 (3): 329-338. Aumeeruddy, Y. 1994. Local Representations and Management of Agroforests on the Periphery of Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Indonesia, People and Plants Working Paper 3. Paris: UNESCO. Backer, C.A. and R.C. Bakhuizen van den Brink, Jr. 1963. Flora of Java. Vol. I. Groningen: P.Noordhoff Backer, C.A. and R.C. Bakhuizen van den Brink, Jr. 1965. Flora of Java. Vol. II. Groningen: P.Noordhoff Backer, C.A. and R.C. Bakhuizen van den Brink, Jr. 1968. Flora of Java. Vol. III. Groningen: P.Noordhoff

304

Baker, P.J. and J.S. Wilson. 2000. A quantitative technique for the identification of canopy stratifikasi in tropical and temperate forests. Forest Ecology and Management 127: 77-86 Bandaranayake, W.M. 1995. Survey of mangrove plants from Northern Australia for phytochemical constituents and UV-absorbing compounds. Current Topics in Phytochemistry (Life Science Advances) 14: 69-78. Bandaranayake, W.M. 1998. Traditional and medicinal uses of mangroves. Mangrove and Salt Marshes 2: 133-148. Bappedal. 2003. Status Lingkungan Hidup Daerah Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003; Buku I Laporan Utama. Semarang: Badan Pengelolaan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPPEDAL) Propinsi Jawa Tengah. Barbour, M.G., J.H. Burk, and W.D. Pitts. 1987. Terrestrial Plant Ecology. Second edition. Menlo Park CA.: The Benjamin Cummings Pub. Co. Inc. Barchan, V.S.H., E.F. Kovnatsky, and M.S. Smetannikova. 1998. Water, Air, and Soil Pollution 103: 173-195. Barrett, S.C.H. and J.R. Kohn. 1991. Genetic and evolutionary consequences of small population size in plants: implications for conservation. In: Falk D.A. and K.H. Holsinger (ed.). Genetics and Conservation of Rare Plants. Oxford: Oxford University Press. Bashan, Y., M.E. Puente, D.D. Myrold, and G. Toledo. 1998. In vitro transfer of fixed nitrogen from diazotrophic lamentous cyanobacteria to black mangrove seedlings. FEMS Microbiology Ecology 26: 165-170. Bawa, K., B. Schaal, O.T. Solbrig, S. Stearns, A. Templeton, and G. Vida. 1991. Biodiversity from the gene to the species. In Solbrig, O.T. (ed.). From Genes to Ecosystem: a Research Agenda for Biodiversity. Paris: International Union of Biological Sciences. BDP (Biodiversity in Development Project). 2001. Strategic Approach for Integrating Biodiversity in Development Cooperation. Brussels: European Commission and IUCN, UK/Switzerland. Beer, S.C., J. Grofeda, T.D. Philips, J.P. Murphy, and M.E. Sorrels. 1993. Assesment of genetic variation in Avena sterilis using morphological traits, isozyme and RFLPs. Crop Science 33: 1386-1393. Bennett, E.L. and C.J. Reynolds. 1993. The value of mangrove area in Sarawak. Biodiversity Conservation 2: 359-375. Berita KAI. 14/8/2002. Proyek Sudetan Citanduy Masih Kontroversi.

305

Beveridge, M.C.M., M.J. Phillips, and D.J. Macintosh. 1997. Aquaculture and the environment: the supply of and demand for environmental goods and services by Asian aquaculture and the implications for sustainability. Aquaculture Research 28: 797-807. Bhattacharyya, B. and R.M. Johry. 1998. Flowering Plants, Taxonomy and Phylogeny. New Delhi: Narosa Publishing House. Bilos, C., J.C. Colombo, C.N. Skorupka, and M.J. Rodriguez-Presa. 2001. Sources, distribution and variability of airborne trace metals in La Plata City area, Argentina. Environmental Pollution 111: 149-158 Birkeland, C. 1983. Influences of Topography of Nearby Land Masses in Combination with Local Water Movement Patterns on the nature of Nearshore Marine Communities, Productivity and Processes in Island Marine Ecosystem. Dunedine: UNESCO Report in Marine Science No. 27. Blasco, F. 1992. Outlines of ecology, botany and forestry of the mangals of the Indian subcontinent. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier. Blaudez, D., Botton, B., Chalot, M., 2000. Cadmium uptake and subcellular compartmentation in the ectomycorrhizal fungus Paxillus involutus. Microbiology of the U.K. 146: 1109-1117. Blomqvist, M.M., P. Vos, P.G.L. Klinkhamer, and W.J. ter Keurs. 2003. Declining plant species richness of grassland ditch banks-a problem of colonization or extinction? Biology Conservation 109: 391-406. Blust, R., Kockelbergh, E., Baillieul, M., 1992. Effect of salinity on the uptake of cadmium by the brine shrimp Artemia franciscana. Marine Ecology Progress Series 84: 245-254. Bouillon, S., F. Dahdouh-Guebas, A.V.V.S. Rao, N. Koedam, dan F. Dehairs. 2003. Sources of organic carbon in mangrove sediments: variability and possible ecological implications. Hydrobiologia 00: 1-7. (article in press). Broom, S.W., E.D. Seneca, and W.W. Woodhouse, Jr. 1981. Planting marsh grasses for erosion control. North Carolina: North Carolina University Sea Grant Program. Brotosusilo, A. 1988. Social change in Segara Anakan-Cilacap, Indonesia. ASEAN/US Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988 Brown A.H.D., and J.D. Briggs. 1991. Sampling strategies for genetic variation in ex situ collections of endangered plant species. In: Falk D.A. and K.H.

306

Holsinger (ed.). Genetics and Conservation of Rare Plants. Oxford: Oxford University Press. Brown, A. D. H. 1990. The role of isozyme studies in molecular systematics. Australian Systematics of Botany 3: 39 - 46. Brown, A.D.H. 1989. Genetic characterization of plant mating system. In: Brown, A.H.D., M.T. Clegg, A.L. Kahler, and B.S. Weir (eds.). Population Genetics and Germplasm Resources in Crop Improvement. Sunderland, MA: Sinauer Associates. Brown, S. 2002. Measuring carbon in forests: current status and future challenges. Environmental Pollution 116: 363–372. Buana Katulistiwa. 2002. Beberapa Indikasi Terjadinya Degradasi Lingkungan Hidup dan Kegiatan Masyarakat sebagai Faktor Pendorongnya di Indonesia. Depok: Buana Katulistiwa - NGO for Spatial Information, Jawa Barat, Indonesia Budihardjo. 1988. Economic analysis of existing income sources of Kampung Laut, Segara Anakan-Cilacap, Indonesia. ASEAN/US Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988. Bunt, J.S., K.G. Boto, and G. Boto. 1979. A survey method for estimating potential levels of mangrove forest primary production. Marine Biology 52: 123-128. Burdige, D.J. 2001. Dissolved organic matter in Cheaseapeake Bay sediment pore water. Organic Geochemistry 32: 487-505. Burns, K.A., S. Codi, R.J.P. Swannell, and N.C. Duke. 1999. Assessing the petroleum hydrocarbon degradation potential of endogenous tropical marine wetland microorganisms: Flask experiments. Mangroves and Salt Marshes 3: 67-83. Burns, K.A., S.D. Garrity, D. Jorissen, J. MacPherson, and M. Stoelting. 1994 The Galeta oil spill. II: Unexpected persistence of oil trapped in mangrove sediments. Estuarine Coastal and Shelf Science 38: 349-364. Butlin, R.K. and T. Tregenza. 1998. Levels of genetic polymorphism: marker loci versus quantitative traits. Phillosophy Transaction Royal Society of London B 353: 187-198. Byers, D. L. 1998. Effect of cross proximity on progeny fitness in a rare and a common species of Eupatorium (Asteraceae). American Journal of Botany 85: 644-653.

307

Callaway J.C, and J.B. Zedler. 1998. Tidal wetland sedimentation impacts: floodcaused bare zones sustained by trampling and high salinities. ASLO/ESA Joint Conference on the Land-Water Interface. St. Louis, June 1998. Cao X, L.Q. Ma, M. Chen, D.W. Hardison, W.G. Harris. 2003. Lead transformation and distribution in the soils of shooting ranges in Florida, USA. The Science of the Total Environment 307: 179-189. Caro, T.M. and Laurenson, M.K. (1994) Ecological and genetic factors in conservation: a cautionary tale. Science 263: 485-486 Caughley, G. 1994. Directions in conservation biology. Journal of Animal Ecology 63: 215-244. Ceska, J.F., J.M. Affolter, and J.C. Hamrick. 1997. Developing a sampling strategy for Baptisia arachnifera based on allozyme diversity. Conservation Biology 11: 1133-1139. Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein: J.Cramer Verlag. Chapman, V.J. 1992. Wet coastal formations of Indo Malesia and Papua-New Guinea. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal Ecosystems. Amsterdam: Elsevier. Choudhury, J.K. 1996. Mangrove forest management. Mangrove Rehabilitation and Management Project in Sulawesi. Jakarta: Asia Development Bank. Chowdhury, R.A., and I. Ahmed. 1994. History of forest management. In Hussain Z. and G. Acharya (ed.). Mangroves of the Sundarbans, Vol. 2: Bangladesh. Gland, Switzerland: IUCN Wetlands Program. Clark, D.A. dan D.B. Clark. 1991. The impact of physical damage on canopy tree regeneration in tropical rain forests. Journal of Ecology 79: 447-457. Clark, R. J. 1996. Coastal Zone Management Hand Book. Boca Raton: CRC Lewis Publishers. Clough, B.F. 1992. Primary productivity and growth of mangrove forests. In Robertson, A.I. and D.M. Alongi (ed.). Coastal and Estuarine Studies: Tropical Mangrove Ecosystems. Washington DC.: American Geophysical Union. Cohen, T., S.S. Que-Hee, and R.F. Ambrose. 2001. Trace metals in fish and invertebrates of three California Coastal Wedlands. Marine Pollution Bulletin 42 (3): 224-232. Cole, J.J., B.L. Peirls, N.F. Caraco, and M.L. Pace. 1993. Nitrogen loading of rivers as a human driven process. In: McDonnell, M.J. and S.T.A. Pickett

308

(eds.) Humans as Components of Ecosystems: The Ecology of Subtle Human Effects and Populated Areas. New York: Springer-Verlag. Comps, B., D. Gömöry, J. Letouzey, B. Thiebaut, and J. Petit, 2001. Diverging trends between heterozygosity and allelic richness during postglacial colonization in European beech. Genetics, 157: 389-97 Cooperrider, A. 1991. Conservation of biodiversity of western rangelands. In Hudson, W.E. (ed.). Landscape Linkages and Biodiversity. Washington, D.C.: Island Press. Coulter, S.C., C.M. Duarte, S.T. Mai, H.T. Nguyen, T.H. Hoang, H.G. Le, and N.G. Phan. 2001. Retrospective estimates of net leaf production in Kandelia candel mangrove forests. Marine Ecology Progress Series 221: 117-124. Crawford, D.J. 1983. Phylogenetic and systematic inferences from electrophoretic studies. In Tanksley S.D. and T.J. Orton (ed.). Isozymes in Plant Genetics and Breeding, Part A. New York: Elsevier. Crawford, D.J. 1989. Enzyme electrophoresis and plant systematics. In Soltis, D.E. and P.S. Soltis (ed.). Isozymes in Plant Biology. Portland, OR.: Dioscorides Press. Crawford, D.J. 1990. Plant Molecular Systematics, Macromolecular Approaces. New York: John Wiley and Sons. Crawley, M.J. 1997. Plant Ecology. Oxford: Blackwell Science. Dahdouh-Guebas, F., C. Mathenge, J.G. Kairo, and N. Koedam. 2000. Utilization of mangrove wood products around Mida Creek (Kenya) among subsistence and commercial users. Economic Botany 54: 513-527. Dahuri, R., J. Rais, S.P. Ginting, dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: Pradnya Paramita. Darmawan, A., S.K. Purba, dan Hermawan. 2003. Pemetaan Geologi Teknik Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Bandung: DGTL Davis, T.A.W. and P.W. Richards. 1933. Vegetation of Moraballi Creek, British Guiana: an ecological study of a limited area of tropical rain forest. Part I. Journal of Ecology 21: 350-384. Dent, D.L 1980. Acid sulphate soils: morphology and prediction. Journal of Soil Science 37: 97-99.

309

Dephut (Departemen Kehutanan). 1994. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi (RTR) Daerah Pantai. Jakarta: Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan. Dickinson, H. and J. Antonovics. 1973. Theoretical considerations of sympatric divergence. American Naturalist 107: 256-274. Dingle, H. 1996. Migration: the biology of life on the move. New York: Oxford University Press. Djohan, Tj. S. 1999. Mangrove distribution at the lagoon in the southern coast of Yogyakarta. Seminar Nasional Biologi XVI, Konggres Perhimpunan Biologi Indonesia XII, FMIPA ITB Bandung, 25-27 Juli 2000. Downing, J.A., M. McClain, R. Twilley, J.M. Melack, J. Elser, N.N. Rabalais, W.M. Lewis, R.E. Turner, J. Corredor, D. Soto, A. Yanez-Arancibia, J.A. Kopaska, and R.W. Howarth. 1999. The impact of accelerating land-use change on the N-Cycle of tropical aquatic ecosystems: Current conditions and projected changes. Biogeochemistry 46: 109-148. Dubayah, R., J.B. Blair, J.L. Bufton, D.B. Clark, J. Jaja, R. Knox, S. Luthcke, S. Prince and J. Weishampel. 1997. The vegetation canopy lidar mission, Land Satellite Information in the Next Decade II: Sources and Applications. ASPRS Proceedings: 100-112. Dudley, R.G. 2000. Segara Anakan Fisheries Management Plant. Cilacap: Segara Anakan Conservation and Development Project. ECI (Engineering Consultant Inc.). 1975. The Citanduy River Basin Development Project Segara Anakan. Denver: Banjan. ECI. 1994. Segara Anakan Conservation and Development Project. Jakarta: Asian Development Bank. Ellison, A.M. and E.J. Farnsworth. 1996. Anthropogenic disturbance of Caribbean mangrove ecosystems: past impacts, present trends, and future predictions. Biotropica 24: 549-565. Ellstrand, N.C. and D.R. Elam. 1993. Population genetic consequences of small population size: implications for plant conservation. Annual Review of Ecology and Systematics. 24: 217-242 Ellstrand, N.C., R. Whitkus, and L.H. Rieseberg. 1996. Distribution of spontaneous plant hybrids. Proceedings of the National Academy of Sciences 93: 5090–5093. Emlen, J.M. 1991. Heterosis and outbreeding depression: a multilocus model and an application to salmon production. Fisheries Research 12: 187-212.

310

Espelie, K.E., V.R. Franceschi, and P.E. Kolattukudy. 1986. Immunocytochemical localization and time course of appearance of an anionic peroxidase associated with tuberization in potato. Archives on Biochemistry and Biophysics 240: 539-545. Etterson, J.R. and R.G. Shaw, 2001 Constraint to adaptive evolution in response to global warming. Science 294: 151-154. Euwise, W. 1980. Pengantar Ekologi Tropis. Jakarta: Djambatan. Fahey, T.J., J.J. Battles, and G.F. Wilson. 1998. Responses of early successional hardwood forests to changes in nutrient availability. Ecology Monograph 68 (2): 183-212. Fahey, T.J., J.J. Battles, and G.F. Wilson. 1998. Responses of early successional hardwood forests to changes in nutrient availability. Ecology Monograph 68 (2): 183-212. Fahrig, E. and G. Merriam. 1994. Conservation of fragmented populations. Conservation Biology 8: 50-59. Fairbridge, R.W. and C.W. Finkl Jr. 1994. The Encyclopedia of Soil Science Part 1. New York: Dowden, Hutchinson and Ross Inc. Falk, D.A. 1992. From conservation biology to conservation practice: strategies for protecting plant diversity. In Fiedler P.L. and S. K. Jain [eds.]. Conservation Biology: Theory and Practice of Nature Conservation and Management. New York: Chapman and Hall. FAO. 1982. Management and Utilization of Mangrove in Asia and the Pacific. Rome: FAO Environment Paper 3. FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and Indonesia. Rome: FAO Environment Paper. FAO. 1994. Mangrove Forest Management Guidelines. Rome: FAO Forestry Paper. Fenster CB, MR Dudash, 1994 Genetic considerations for plant population restoration and conservation. In Bowles, M.L., and C.J. Whelan (eds.). Restoration of Endangered Species. Cambridge: Cambridge University Press. Field, C. 1995. Journeys Amongst Mangroves; International Society for Mangrove Ecosystems, Okinawa, Japan. Hong Kong: South China Printing Co.

311

Field, C. 1996. Restoration of mangrove Ecosystems. Okinawa: International Tropical Timber Organization and International Society for Mangrove Ecosystems. Finzi, A.C and C.D. Canham. 2000. Sapling growth in response to light and nitrogen availability in a southern New England forest. Forest Ecology and Management 131: 153-165. Fitzgerald, W.J. 1997. Silvofisheries-an environmentally sensitive integrated mangrove forest and aquaculture system. Aquaculture Asia 2 (3): 9-17. Fitzpatrick, B.M. 2002. Molecular correlates of reproductive isolation. Evolution 56 (1): 191-198. Fore, S.A. and S.I. Guttman, 1992 Genetic structure after forest fragmentation: a landscape ecology perspective of Acer saccharum. Canadian Journal of Botany 70: 1659-1668. Fore, S.A. and S.I. Guttman. 1996. Spatial and temporal genetic structure of Asclepias verticillata L. (whorled milkweed) among prairie patches in a forested landscape. Canadian Journal of Botany 74: 1289-1297. Fore, S.A. and S.I. Guttman. 1999. Genetic structure of Helianthus occidentalis (Asteraceae) in a preserve with fragmented habitat. American Journal of Botany 86 (7): 988-995. Fore, S.A., R.J. Hickey, J.L. Vankat, and S. I. Guttman. 1992. The effect of forest fragmentation on genetic diversity and structure: a landscape ecology perspective. Canadian Journal of Botany 70: 1659-1668. Fujimoto, K., A. Imaya, R. Tabuchi, S. Kuramoto, H. Utsugi, and T. Murofushi. 1999. Belowground carbon storage of Micronesian mangrove forests. Ecological Research 14: 409-413. Furukawa, K., E. Wolanski, and H. Mueller. 1997. Currents and sediment transpor in mangrove forests. Estuary and Coastal Shelf Science 44: 301-310. Garbutt, R.A. and T.H. Sparks. 2002. Changes in the botanical diversity of a species rich ancient hedgerow between two surveys (1971-1998). Biological Conservation 106: 273-278. Gaspar, T., C. Penel, T. Thorpe, and H. Greppin. 1986. Peroxidases 1970-1980: A Survey of their Biochemical and Physiologic Roles in Higher Plants. Geneva, Switzerland: University of Geneva Press. Gerard, J., B. Oostermeijer, R.G.M. Altenburg, and H.C.M. den Nijs. 1995. Effects of outcrossing distance and selfing on fitness components in the

312

rare Gentiana pneumonanthe Neerlandica 44: 257–268.

(Gentianaceae).

Acta

Botanica

Giesen, W. 1991. Checklist of Indonesian Fresh Water Aquatic Herbs. PHPA/AWB Sumatra Wetland Project Report No. 27. Jakarta: Asian Wetland Bureau-Indonesia. Giesen, W. 1993. Indonesian mangroves: an update on remaining area and main management issues. International Seminar on Coastal Zone Mangement of Small Island Ecosystem, Ambon, 7-10 April 1993. Godt, M.J.W. and J.L. Hamarick. 1993. Genetic diversity and population structure in Tradescantia hirsuticaulis (Commelinaceae). American Journal of Botany 80: 959-966. Goldman, R.C., and Horne, 1983. Lymnology. New York: McGraw Hill Book Co. Gomez, E.G. 1988. Overview of environmental problems in the East Asian seas region. Ambio 17:166-169. Gornall, R.J. 1997. Practical aspects of the species concept in plants. In Claridge, M.F., H. A. Dawah and M.R. Wilson (eds.). Species: the Units of Biodiversity. London: Chapman & Hall. Groom, M.J. 1998.-Allee effects limit population viability of an annual plant. American Naturalist 151: 487-496. Groombridge, B. 1992. Global Diversity: Status of Earth’s Living Resources. London: Chapman and Hall. Gross, G.G. 1977. Biosynthesis of lignin and related monomers. Recent Advanced in Phytochemistry 11: 141-184. Grubb, P.J., J.R. Lloyd, T.D. Pennington, and T.C. Whitmore. 1963. A comparison of montane and lower rain forest in Ecuador. I. The forest structure, physiognomy and floristics. Journal of Ecology 51: 567-601. Guarino, L., A. Jarvis, R.J. Hijmans, and N. Maxted. 2002. Geographic information systems (GIS) and the Conservation and use of plant genetic resources. In Engels, J.M.M, V. Ramanatha-Rao, A.H.D. Brown, and M.T. Jackson (ed.) Managing Plant Genetic Diversity. Cali-Colombia: IPGRI Gujja, B. and A. Finger-Stich, 1996. What price prawn? Shrimp aquaculture’s impact in Asia. Environment 38: 12-39. Gustafson, D.J. 2001. Characterizing three restored Andropogon gerardii Vitman (big bluestem) populations established with Illinois and Nebraska seed: established plants and their offspring. In Bernstein, N.P. and L.J.

313

Ostrander (eds.). Proceedings of the 17th North American prairie conference. Seeds for the future; roots of the past. Mason City: North Iowa Area Community College. Gustafson, D.J., D.J. Gibson, and D.L. Nickrent. 2002. Genetic diversity and competitive abilities of Dalea purpurea (Fabaceae) from remnant and restored grasslands. International Journal of Plant Science 163 (6): 979990. Hadianto. 1998. Geological data processing activities in the directorate of environmental geologi for anticipated develop-ment in large urban areas. The DCGM Phase III Coordinator's Meeting, Bangkok, Thailand, January 12-14, 1998. Haditenojo, P.S. dan T.S. Abbas. 1982. Pengalaman pengelolaan hutan mangrove di Cilacap. Seminar II Ekosistem Mangrove, Baturraden, 3-5 Agustus 1982. Hamilton, L. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove Area Management. Honolulu: Environment and Policy Institute, East-West Center. Hamilton, L., J. Dixon, and G. Miller. 1989. Mangroves: an undervalued resource of the land and the sea. Ocean Yearbook 8: 254-288. Hamrick, J.L. and M.J.W. Godt. 1989. Allozyme diversity in plant species. In: Brown, A.H.D., M.T. Clegg, A.L. Kahler, and B.S. Weir (eds.). Plant Population Genetics, Breeding, and Genetic Resources. Sunderland, MA.: Sinauer Associates. Hamrick, J.L., M.J.W. Godt, and S.L. Sherman-Broyles. 1992. Factors influencing levels of genetic diversity in woody plant species. New Forests 6: 95-124. Hamrick, J.L., M.J.W. Godt, D.A. Murawski, and M.D. Loveless. 1991. Correlations between species traits and allozyme diversity: implications for conservation biology. In: Falk D.A. and K.H. Holsinger (ed.). Genetics and Conservation of Rare Plants. Oxford: Oxford University Press. Hanski, I., and M.E. Gilpin. 1997. Metapopulation Biology: Ecology, Genetics, and Evolution. San Diego, CA: Academic Press. Hardoyo, S.R. 1982. The Kampung Laut of the Segara Anakan: A study of socioeconomic problems. In Bird, E.C.F., A. Soegiarto, and K. A. Soegiarto (eds.). Workshop on Coastal Resources Management in the Cilacap Region. Jakarta: Indonesian Institute of Sciences and the United Nations University.

314

Harjosuwarno, S. 1978. Aspek sosial ekonomi hutan mangrove Cilacap. Seminar I Ekosistem Mangrove Jakarta 27 Pebruari – 1 Maret 1978. Haroen, Z.A. 2002. Konsiderasi Komunitas dalam Perlindungan dan Rehabilitasi Mangrove; Suatu Filosofi. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Harrison, J., K. Miller, and J. McNeely. 1984. The world coverage of protected areas: development goals and environmental needs. In McNeely, J.A. and K.R. Miller (eds.). National Parks, Conservation and Development: the Role of Protected Areas in Sustaining Society. Washington, D.C.: Smithsonian Institution. Hartina. 1996. Evaluasi Usaha Tumpang Sari Empang Parit di RPH Cemara, BKPH Indramayu, KPH Indramayu. [Tesis]. Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM. Hasmonel, M.W., Purwaningdyah, dan R. Nurhayati. 2000. Reklamasi Pantai dalam Hubungannya dengan Pendaftaran Tanah (Studi Kasus di Pantai Utara Jakarta). Jakarta: Universitas Terbuka. Hauxwell, J., C. Jacoby, T.K. Frazer, and J. Stevely. 2001. Nutriens and Florida’s Coastal Waters: The Links between People, Increased Nutriens, and Changes to Coastal Aquatic Systems. Gainesville FL.: Florida Sea Grant, University of Florida. Herbert, R.A. 1999. Nitrogen cycling in coastal marine ecosystems. FEMS Microbiology Reviews 23: 563-590. Heugens, E.H.W., Hendriks, J.A., Dekker, T., Van Straalen, N.M., Admiraal, W., 2001. A review of the effects of multiple stressors on aquatic organisms and analysis of uncertainty factors for use in risk assessment. Critical Review on Toxicology 31: 247-284. Hewitt, N. and M. Kellman. 2002. Tree seed dispersal among forest fragments: II. Dispersal abilities and biogeographical controls. Journal of Biogeography 29: 351-363. Heywood, V.H. 1995. Global Biodiversity Assessment. Cambridge: Cambridge University Press. Hidayat, A. 1978. Methods of Soil Chemical Analysis. Bogor: Japan International Cooperation Agency (JICA). Holsinger, K.E. 2000. Demography and extinction in small populations. In: Young, A.G. and G.M. Clarke. (eds). Genetics, Demography and Viability of Fragmented Populations. Cambridge: Cambridge University Press.

315

Holsinger, K.E. and L.D. Gottlieb, 1991 Conservation of rare and endangered plants: principles and prospects. In: Falk D.A. and K.H. Holsinger (ed.). Genetics and Conservation of Rare Plants. Oxford: Oxford University Press. Hong, P.N. and H.T. San. 1993. Mangroves of Vietnam. Bangkok: International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Houghton, R.A., 1999. The annual net flux of carbon to the atmosphere from changes in land use 1850–1990. Tellus 50B: 298–313. Houghton, R.A., and J.L. Hackler. 2001. Carbon Flux to the Atmosphere from Land-Use Changes: 1850-1990. Oak Ridge TN: Carbon Dioxide Information Analysis Center, Oak Ridge National Laboratory. Howarth, R.W. 1998. An assessment of human influences on fluxes of nitrogen from the terrestrial landscape to the estuaries and continental shelves of the North Atlantic Ocean. Nutrient Cycling in Agroecosystems 52: 213-223. Howarth, R.W., and 15 others. 1996. Regional nitrogen budgets and riverine N and P fluxes for the drainages to the North Atlantic Ocean: Natural and human influences. Biogeochemistry 35: 75-139. Howe, C.P., G.F. Claride, R. Hughes, and Zuwendra. 1992. Manual of Guideline for Scoping EIA in Indonesia Wetland, second edition. PHPA/AWB Sumatra Wetland Project No.6B. Jakarta: Directorat General of Forest Protection and Nature Conservation-Asian Wetland Bureau Indonesia. Howes, B.D., C.B. Schiødt, K.G. Welinder, M.P. Marzocchi, J.G. Ma, J. Zhang, J.A. Shelnutt, and G. Smulevich. 1999. The Quantum mixed-spin heme state of barley peroxidase: a paradigm for class III peroxidases. Biophysics Journal: 478-492. Husband B.C. and S.C.H. Barrett. 1996. A metapopulation perspective in plant population biology. Journal of Ecology 84: 461-469. Hussein, M.Z. 1995. Silviculture of mangroves. Unasylva 46: 36-42. Indriani, F.C., L. Soetopo, Sudjindro, dan A.N. Sugiharto. 2002. Keragaman genetic plasma nutfah kenaf (Hibisus cannabinus L.) dan beberapa spesies yang sekerabat berdasarkan analisis isozim. Biosain 2 (1): 29-39. IPIECA. 1993. Biological Impact of Oil Pollution: Mangroves. IPIECA Report No. 4. London: International Petroleum Industry Environmental Conservation Association. Jackson, B.P., Lasier, P.J., Miller, W.P., Winger, P.W., 2000. Effects of calcium, magnesium, and sodium on alleviating cadmium toxicity to Hyalella

316

azteca. Bulletin of Environmental Contamination & Toxicology 64: 279286. Jawa Pos, 22/10/2002. Indonesia Dapat Kolaps. Jayatissa, L.P., F. Dahdouh-Guebas, and N. Koedam. 2002. A review of the floral composition and distribution of mangroves in Sri Lanka. Botanical Journal of the Linnean Society 138: 29-43. Jensen, H.M., E. Lomstein, and J. Sorensen. 1990. Benthic NH4+ and NO3 - flux following sedimentation of a spring phytoplankton bloom in Aarhus, Denmark. Marine Ecology 61: 87-96. Jickells, T.D. 1998. Nutrien biogeochemistry of the coastal zone. Science 281: 217-222. Jimenez, J.A., R. Martinez, and L. Encarnocion. 1985. Massive tree mortality in Puerto Rican mangroves forests. Caribbian Journal of Science 21: 75-78. Jones, G.B., P. Mercurio, and F. Olivier. 2000. Zinc in fish, crabs, oysters, and mangrove flora and fauna from Cleveland Bay. Marine Pollution Bulletin 41 (7-12): 345-352. Kairo, J.G., F. Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001. Restoration and management of mangrove systems — a lesson for and from the East African region. South African Journal of Botany 67: 383-389. Karp, A., O. Seberg and M. Buiatti. 1996. Molecular techniques in the assessment of botanical diversity. Annals of Botany 78: 146-149. Kartawinata. K. 1979. Status Pengetahuan Hutan Bakau di Indonesia. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Jakarta: MAP LON LIPI. Kasuba, V., Rozgaj, R., 2000. Biological effects of cadmium. Periodicals in Biology 102: 365-371. Keller, L.F. and D.M. Waller. 2002. Inbreeding effects in wild populations. Trends in Ecology and Evolution 17 (5): 230-241. Kennedy, K., C. Biles, B.Bruton, and J. Zhang. 1996. Peroxidase activity and isozymes of cantaloupe tissue. Abstracts from the 85th Technical Meeting, Oklahoma State University-OKC, 8 November, 1996. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-51/MENLH/10/1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri. Khoon, G.W. and O.J. Eong. 1995. The use of demographic studies in mangrove silviculture. Hydrobiologia 295: 255-261.

317

Kim, K.-W., J.-H. Myung, J.S. Ahn, and H.-T. Chon. 1998. Heavy metal contamination in dusts and stream sediments in the Taejon area, Korea. Journal of Geochemical Exploration 64: 409–419. Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of Mangroves in Indonesia; Bali & Lombok. Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan International Cooperation Agency. Kleijn D. and M. Verbeek. 2000. Factors affecting the species composition of arable field boundary vegetation. Journal of Applied Ecology 37: 256-266. Knapp, E.E. and P.G. Connors. 1999. Genetic consequences of a single-founder population bottleneck in Trifolium amoenum (Fabaceae). American Journal of Botany 86: 124-130. Knobloch, I.W. 1972. Intergeneric hybridization in flowering plants. Taxon 21: 97–103. Knox, G.A. and T. Miyabara. 1984. Coastal Zone Resource Development and Conservation in South East Asia, with special Refference to Indonesia. Jakarta: UNESCO. Kobe, R.K., S.W. Pacala, J.A. Silander Jr., and C.D. Canham. 1995. Juvenile tree survivorship as a component of shade tolerance. Ecology Applied 5 (2): 517-532. Koentjaraningrat. 1985. Javanese Culture. Singapore: Oxford University Press. Kompas. 03/03/2003. Kabupaten Rembang. Kompas. 05/10/2002. Penyelamatan Segara Anakan, Komitmen Nasional. Kompas. 09/08/2000. 600 Kubik Kayu Nusakambangan Disita. Kompas. 11/05/2001, Dikaji Ulang, Proyek Konservasi Segara Anakan Kompas. 12/10/2002. Waduk Banyukuwung Kering Total. Kompas. 16/11/2002. Cilacap, Pusat Riset Ekosistem Tropis. Kompas. 18/04/2002. Mangrove Hancur, Perikanan Terancam. Kompas. 21/03/01. Hutan Jati Cilacap Dijarah Massa. Kompas. 21/12/2002. Nusakambangan Menyatu dengan Kampung Klaces. Kompas. 22/06/2002. Hutan Nusakambangan Menjadi Incaran Pencuri.

318

Kompas. 24/02/2001. Nusa Kambangan, Pulau Wisata atau Pusat Judi. Kompas. 25/01/2001. DAS Citanduy Hulu Semakin Kritis. Kompas. 29/05/2001. Penduduk Liar Ancam Konservasi Air Nusakambangan. Kompas. 30/10/2001. Banjir Melanda Berbagai Daerah; Di Cilacap Tiga Orang Tewas Kompas. 31/08/2004. Cara Alternatif untuk Mengolah Limbah Padat yang Mengandung Merkuri dan Arsen; Merujuk Kasus Buyat. Koran Tempo, 6/6/2002. Penyedotan Citanduy Sebaiknya Diurungkan. Koyama, J., N. Nanamori, and S. Segawa. 2000. Bioaccumulation of waterborne and dietary cadmium by oval squid, Sepioteuthis lessoniana, and its distribution among organs. Marine Pollution Bulletin 40 (11): 961-967. Kusmana, C. dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Lacerda, L.D., C.E. Carvalho, K.F. Tanizaki, A.R.C. Ovalle, and C.E. Rezende. 1993. The biogeochemistry and trace metals distribution of mangrove rhizospheres. Biotropica 25: 252-257. Lal, R. 1999. World soils and the greenhouse effect. Global Climate Change Newsletter, IGBP 37: 4-5. Lallier-Verges, E., B.P. Perrussel, J.R. Disnar, and F. Baltzer. 1998. Relationships between environmental conditions and the diagenetic evolution of organic matter derived from higher plants in a modern mangrove swamp system (Guadeloupe, French West Indies). Organic Geochemistry 29: 1663-1686. Lam, P.K.S., Yu, K.N., Ng, K.P., Chong, W.K., 1997. Cadmium uptake and depuration in the soft tissues of Brotia hainanensis (Gastropoda: Prosobranchia: Thiaridae): a dynamic model. Chemosphere 35: 24492461. Larsson, J., C. Folke, and N. Kautsky, 1994. Ecological limitations and appropriation of ecosystem support by shrimp farming in Colombia. Environmental Management 18: 663-676. Latham, R.E. 1992. Co-occurring tree species change rank in seedling performance with resources varied experimentally. Ecology 73: 21292144. Lawrence, G.H.M. 1951. Taxonomi of Vascular Plants. New York: Joh Wiley & Sons.

319

Lee, S.Y., 1995. Mangrove outwelling: a review. Hydrobiologia 295: 203-212. Lennartsson, T. 2002. Extinction thresholds and disrupted plant-pollinator interactions in fragmented plant populations. Ecology 83: 3060-3072. Levin, L.A., D.F. Boesch, A. Covich, C. Dahm, C. Erseus, K.C. Ewel, R.T. Kneib, A. Moldenke, M.A. Palmer, P. Snelgrove, D. Strayer, and J.M. Weslawski. 2001. The function of marine critical transition zones and the importance of sediment biodiversity. Ecosystems 4: 430-451 Lewis, P.O. and D.J. Crawford. 1995. Pleistocene refugium endemics exhibit greater allozymic diversity than widespread congeners in the genus Polygonella (Polygonaceae). American Journal of Botany 82: 141-149. Lewis, R.R. 1990a. Creation and restoration of coastal wetlands in Puerto Rico and the US Virgin Islands. In Kusler J.A. and M.E. Kentula (ed.) Wetland Creation and Resto-ration: The Status of Science, Vol. I: Regional Reviews. Washington: Island Press. Lewis, R.R. 1990b. Wetlands restoration/creation/ enhancement terminology: suggestions for standardization. In Kusler, J.A. and M.E. Kentula (eds.) Wetland Creation and Restoration: The Status of the Science, Vol. I: Regional Reviews. Washington: Island Press. Lewis, R.R. 1992. Coastal habitat restoration as a fishery management tool. In Stroud, R.H. (ed.) Stemming the Tide of Coastal Fish Habitat Loss; Proceedings of a Symposium on Conservation of Coastal Fish Habitat, Baltimore, MD, USA, March 7-9 1991. National Coalition for Marine Conservation, Inc., Savannah, Georgia, USA. Li, X, Z. Shen, O.W.H. Wai, and Y. Li. 2000. Chemical partitioning of heavy metal contaminants in sediments of the Pearl River Estuary. Chemical Speciation and Bioavailability 12 (1): 17-25. Libang Kompas. 2001. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jilid I. Jakarta: Penerbit Buku Kompas Libang Kompas. 2002. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jilid II. Jakarta: Penerbit Buku Kompas Libang Kompas. 2003. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jilid III. Jakarta: Penerbit Buku Kompas Libang Kompas. 2004. Profil Daerah Kabupaten dan Kota. Jilid IV. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

320

Ligtvoet, W., R.H. Hughes, and S. Wulffraat. 1996. Recreating mangrove forest near Jakarta, Conserving biodiversity in an urban environment. Land and Water International 84: 8-11. Linhart, Y.B. and M.C. Grant. 1996. Evolutionary significance of local genetic differentiation in plants. Annual Review of Ecology and Systematics 27: 237-277. Lisitzyn, A.P. 1999. The continental–ocean boundary as a marginal filter in the world oceans. Environment 59: 69-103. Lloyd, J.R. and D.R. Lovley. 2001. Microbial detoxification of metals and radionuclides. Current Opinion in Biotechnology 12: 248–253. Lorenzon, S., Francese, M., Ferrero, E.A., 2000. Heavy metral toxicity and differential effects on the hyperglycemic stress response in the shrimp Palaemon elegans. Archives in Environmental Contamination & Toxicology 39: 167-176. Lovelock, C. 1993. Field Guide to the Mangroves of Queensland. Queensland: Australian Institute of Marine Science. www.aims.gov.au Ludwig, E.H.F., 1985. Final Report of Consult Phase I Report Segara Anakan. Bandung: Segara Anakan Environtmental Monitoring and Optimal Use Planning Project, IHE-ARD. Lugo A.E. and S.C. Snedaker. 1974. The ecology of mangroves. Annual Review of Ecology and Systematics 5: 39-63. Luque, C.J., E.M. Castellanos, J.M. Castillo, M. Gonzalez, M.C. GonzalezVilches, and M.E. Figueroa. 1995. Distribucion de metales pesados en sedimentos de las Marismas del Odiel (Huelva, SO. Espana). Cuaternario y Geomorfología 12 (3-4): 77-85. Machon, N., J.M. Guillon, G. Dobigny, S. Le Cadre, and J. Moret. 2001. Genetic variation in the horsetail Equisetum variegatum Schleich., an endangered species in the Parisian region. Biodiversity and Conservation 10: 15431554. MacNae, W. 1968. A general account of the fauna and flora of mangrove swamps and forests in the Indo-West-Pacific region. Advances in Marine Biology 6: 73-270. MacNae, W. 1968. A general account of the fauna and flora of mangrove swamps and forests in the Indo-West-Pacific region. Advances in Marine Biology 6: 73-270.

321

Manassrisuksi, K., M. Weir, and Y.A. Hussin. 2001. Assesment of mangrove rehabilitation programme using remote sensing and GIS: a case study of Amphur Khlung, Chantaburi Province, Eastern Thailand. 22nd Asian Conference on Remote Sensisng, Singapore 5-9 November 2001. Marius, C. 1977. Propositions pour une classification française des sols de mangroves tropicales. Cah. ORSTOM 15 (1): 89-102. Marschner, H. 1995. Mineral Nutrition of Hinger Plants. London: Academic Press. Martosubroto, P. and M. Naamin. 1977. Relationship between tidal forests (mangroves) and commercial shrimp production in Indonesia. Marine Research Indonesia 18: 81-86. Martoyo, I.D. 2000. Taman Nasional Karimunjawa, potensi dan hambatan pembentukan kawasan konservasi biodiversitas di Propinsi Jawa Tengah. Dalam Setyawan, A.D. dan Sutarno (ed.). Menuju Taman Nasional Gunung Lawu. Prosiding Semi-loka Nasional Konservasi Biodiversitas untuk Perlindungan dan Penyelamatan Plasma Nutfah di Pulau Jawa, Surakarta 17-20 Juli 2000. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA UNS. Matsui, N., 1998. Estimated stocks of organic carbon in mangrove roots and sediments in Hinchinbrook Channel, Australia. Mangroves and Salt Marshes 2: 199-204. Max, K.N., S.K Mouchaty, and K.E. Schwaegerle. 1999. Allozyme and morphological variation in two subspecies of Dryas octopetala (Rosaceae) in Alaska. American Journal of Botany 86 (11): 1637-1644. Mayr, E. 1992 A local flora and the biological species concept. American Journal of Botany 79: 222-238. McDonald, B.A. and J.M. McDermont. 1993. Population genetics of plant pathogenic fungi. BioScience 43 (5): 311-319. McNaughton, S.J., 1993. Biodiversity and function of grazing ecosystems. In Schulze, E.D. and H.A. Mooney (eds.). Biodiversity and Ecosystem Function. Berlin: Springer Verlag. McPhaden, M.J. 1999. Genesis and evolution of the 1997-1998 El-Nino. Science 283: 950-954. Media Indonesia. 09/06/2000. Otonomi Daerah dan Konflik Lingkungan Media Indonesia. 29/08/2002. Pemprov Jabar Cari Solusi Soal sungai Citanduy.

322

Menges, E.S. 1991. The application of minimum viable population theory to plants. In: Falk D.A. and K.H. Holsinger (eds.). Genetics and Conservation of Rare Plants. Oxford: Oxford University Press. Micales, J.A. and M.R. Bonde. 1995. Isozymes: methods and applications. In Singh, R.P. and U.S. Singh. Molecular Methods in Plant Pathology. Boca Raton: CRC Press-Lewis Publishers. Miller, K.R. 1999. International wilderness provides ecological services for sustainable living. International Journal of Wilderness 5 (3): 35-39. Mitra Bisnis. 11/2001. Segara Anakan Perlu Segera Diselamatkan, Sudetan Sungai Citanduy Salah satu Solusinya MoE (Minister of Environment). 1997a. National Strategy for Mangrove Management in Indonesia. Volume 1 (strategy and action plan). Jakarta: Office of the Minister of Environment, Departement of Forestry, Indonesian Institute of Science, Department of Home Affairs and The Mangrove Foundation. MoE (Minister of Environment). 1997b. National Strategy for Mangrove Management in Indonesia. Volume 2 (mangrove in Indonesia current status). Jakarta: Office of the Minister of Environment, Departement of Forestry, Indonesian Institute of Science, Department of Home Affairs and The Mangrove Foundation. Moeljono, H.S. Pemilihan jenis pada rehabilitasi hutan payau Cilacap. Duta Rimba 8 (52): 12-15. Montalvo, A.M. and N.C. Ellstrand. 2001. Nonlocal transplantation and outbreeding depression in the subshrub Lotus scoparius (Fabaceae). American Journal of Botany 88 (2): 258-269. Morrison, D. 1990. Landscape restoration in response to previous disturbance. In: Turner, M.G. (ed.) Landscape Heterogeneity and Disturbance. New York: Springer-Verlag. Mott, C.J.B. 1988. Surface chemistry of soil particles. In Wild, A. (ed.) Russell’s Soil Conditions and Plant Growth. Harlow: Longman. Murphy, J. And T.D. Philips. 1993. Isozyme variation in cultivated oats and its progenitor species Avena sterilis. Crop Science 33: 1366-1372. Nair, S.P., Robinson, W.E., 2001. Histidine-rich glycoprotein in the blood of the bivalve Mytilus edulis: role in cadmium speciation and cadmium transfer to the kidney. Aquatic Toxicology 52: 133-142.

323

Nasholm, T., K. Huss-Danell, and P. Hogberg. 2000. Uptake of organic nitrogen in the field by four agriculturally important plant species. Ecology 81: 1155-1161. Newell, S.Y., J.W. Fell, A. Statzell-Tallman, C. Miller, and R. Cefalu. 1984. Carbon and nitrogen dynamics in decomposing leaves of three coastal marine vascular plants of the subtropics. Aquatic Botany 19: 183-192. Newman D. and D.A. Tallmon. 2001. Experimental evidence for beneficial fitness effects of gene flow in recently isolated populations. Conservation Biology 15: 1054-1063. Newman, D. and D. Pilson, 1997 Increased probability of extinction due to decreased genetic effective population size: experimental populations of Clarkia pulchella. Evolution 51: 354-362. Ng, P.K.L. and N. Sivasothi (ed.). 2001. A Guide to Mangroves of Singapore. Volume 1: The Ecosystem and Plant Diversity and Volume 2: Animal Diversity. Singapore: The Singapore Science Centre. Nixon, S.W, and 15 others. 1996. The fate of nitrogen and phosphorus at the landsea margin of the North Atlantic Ocean. Biogeochemistry 35: 141-180. Nixon, S.W. 1995. Coastal marine eutrophication: a definition, social causes, and future concerns. Ophelia 41: 199-219 Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Jakarta: Penerbit Djambatan. Noss, R.F., M.A. O’Connell, and D. Murphy. 1997. The Science of Conservation Planning: Habitat Conservation under the Endangered Species Act. Covelo, CA.: Island Press. Novotny, V. 1995. Diffuse sources of pollution by toxic metals and impact on receiving waters. In Allan R., U. Forstner, and W. Salmons (ed.). Heavy Metals. Berlin: Springer. Nurwanto, Y.A. 2001. Keanekaragaman Vegetasi Hutan Mangrove di Segara Anakan Cilacap. [Tesis]. Surakarta: Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana UNS. Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology, An Ecological Approach. 3rd edition. New York: Harper Collins College Publishers. Odum, E.P., 1971. Fundamental of Ecology. 3rd edition. Philadelphia: W.B. Sounders Co.

324

Oliver, C.D. 1978. The development of northern red oak in mixed stands in central New England. Yale University School of Forestry and Environmental Studies Bulletin 91: 63. Ong, J.E. 2002. The hidden costs of mangrove services: use of mangroves for shrimp aquaculture. International Science Round Table for the Media, Bali Indonesia, 4 June 2002. Joint event of ICSU, IGBP, IHDP, WCRP, DIVERSITAS and START. Ong, J.E., 1995. The ecology of mangrove conservation and management. Hydrobiologia 295: 343-351. Ong, J.E., W.K. Gong, C.H. Wong, and G. Dhanarajan. 1984. Contribution of aquatic productivity in managed mangrove ecosystem in Malaysia. In Soepadmo, E., A.N. Rao, and D.J. Macintosh (eds.). Proceeding UNESCO: Asian Symposium on Mangrove Environment, Resources, and Management. University of Malaya. Kuala Lumpur, Malaysia: 209-215. Opdam, P., R. Foppen, R. Reunan, and A. Schotman. 1994. The landscape ecological approach in bird conservation: integrating the metapopulation concept into spatial planning. Ibis 137: S139–S146. Pacala, S.W., C.D. Canham, J. Saponara, J.A. Silander, R.K. Kobe, and E. Ribbens, 1996. Forest models defined by field measurements II. Estimation, error analysis, and dynamics. Ecology Monograph 66 (1): 144. Pagiola, S. 2001. Land Use Change in Indonesia. In: Indonesia: Environment and Natural Resource Management in a Time of Transition. Jakarta: Environment Department, World Bank. Paijmans, K. 1970. An analysis of four tropical rain forest sites in New Guinea. Journal of Ecology 58: 77-101. Pappas, E., J. Post, and C.G. Lundin. 1994. Coastal Zone Management and Environmental Assessment. In Environmental Assessment Sourcebook Updates. Washington, D.C.: The World Bank Paryono, T.J., T. Kusumastanto, R. Dahuri dan D. G. Bengen. 1999. Kajian ekonomi pengelolaan tambak di kawasan mangrove Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pesisir & Lautan 2 (3): 8-16. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas I. Philp, R.B., 2001. Effects of experimental manipulation of pH and salinity in Cd2+ uptake by the sponge Microciona prolifera and on sponge cell

325

aggregation induced by Ca2+ and Cd2+. Archives in Environmental Contamination & Toxicology 41: 282-288. Pierce, L.C. and J.L. Brewbaker. 1973. Application of isozyme analysis in horticultural science. Horticulture Science 8 (1): 17-22. Pikiran Rakyat. 01/05/2002. Kawasan Segara Anakan dan Hutan Mangrove Rusak Mafia Tanah Hambat Penyudetan Citanduy. Pikiran Rakyat. 03/08/2002. Perlu 470.000 Bibit Mangrove. Pikiran Rakyat. 07/09/2002. Melihat Segara Anakan yang Nyaris Rusak Total: Pangandaran Menolak, Karanganyar Ancam Bendung Citanduy. Pikiran Rakyat. 11/10/2002. Menyelamatkan Segara Anakan Citanduy Tak Perlu Disudet. Pikiran Rakyat. 12/03/2002. Soal Pembebasan Tanah Segara Anakan. Pikiran Rakyat. 17/05/2000. Penyudetan sungai Citanduy. Pikiran Rakyat. 20/11/2002. Di Balik Pro-Kontra Sudetan Citanduy Pikiran Rakyat. 22/01/2001. Dekan Fisip Unigal: Jangan Hanya Konsultasi Publik Proses Kajiulang Citanduy Harus Bersifat Teknis. Pikiran Rakyat. 23/11/2000. Disudet, Ekosistem Bisa Rusak, Akan Terjadi Pendangkalan di “Oulet” Segara Anakan Pinto, E., T.C.S. Sigaud-Kutner, M.A.S. Leitao, O.K. Okamoto, D. Morse, and P. Colepicolo. 2003. Review: Heavy metal–induced oxidative stress in algae. Journal of Phycology 39: 1008–1018. Polii, B., L.A.J. Waworuntu, V.A. Kumurur, M.T. Lasut, dan H. Simanjuntak. 2001. Status pencemaran logam & sianida di perairan Teluk Buyat dan sekitarnya, Propinsi Sulawesi Utara, tahun 1999. Ekoton 1 (1): 16-23. Prange, J.A. and W.C. Dennison. 2000. Physiological responses of five seagrass species to trace metals. Marine Pollution Bulletin 41 (7-12): 327-336. Prawirowardoyo, S., A. Rosmarham, Dj. Shiddieq, M.S. Hidayat, dan M. Ma’shum. 1987. Prosedur Analisa Kimia Tanah. Yogyakarta: FMIPA UGM. Primavera, J.H. 1993. A critical review of shrimp pond culture in the Philippines. reviews in fisheries. Science 1 (2): 151-201

326

Primavera, J.H. 1995. Mangroves and brackish water pond culture in the Philippines. Hydrobiologia 295: 303-309. Primavera, J.H. and R.F. Agbayani. 1996. Comparative strategies in community based mangrove rehabilitation programs in the Philippines. Proceedings of the ECOTONE V Regional Seminar: Community Participation In Conservation, Sustainable Use and Rehabilitation of Mangroves In Southeast Asia. Ho Chi Minh City, Vietnam, 8-12 January, 1996. Mangrove Ecosystem Research Centre (MERC), and Vietnam National University. Primavera, J.H., 1998. Tropical shrimp farming and its sustainability. In: de Silva, S. (ed.), Tropical Mariculture. London: Academic Press. Pudjiastuti, S. and P.R. Siregar. 2002. The Citanduy River Diversion Project some critical thoughts. In Good Governance or Bad Mangement; An Overview of the ADB's Decision Making Processes and Policies. Bangkok: Focus on the Global South, Chulalongkorn University, Bangkok. Purps, D.M. and J.W. Kadereit. 1998. RAPD evidences for a sister group relationship of the presumed progenitor-derivative species pair Senecio nebrodensis and S. viscosus (Asteraceae). Plant Sistematics and Evolution 211: 57-70. Rai, L.L., J.P. Gaur and H.D. Kumar, 1981. Phycology and heavy metal pollution. In Biological Review of The Phycology Society. London: Cambridge University Press. Rakorbangnas. 2002. Notulensi Persidangan Hari Kedua Selasa, 22 Oktober 2002. Jakarta: Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tumbuhan. Edisi kedua. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Ray, C.C. and R.G. McCormick. 1994. Coastal marine protected areas, a moving target. Proceeding from the International Workshop on Coastal Marine Protected Areas and Biosphere Reserves. Canberra: ANCA/UNESCO. Republika. 15/07/2002. Kawasan Pantai Sidoarjo Akan Ditanami 20.000 Pohon Mangrove. Republika. 23/07/2002. Mengejutkan. Kajian Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove

Republika. 24/03/2001. Hutan Mangrove di Cilacap Menyusut.

327

Republika. 16/01/2002. Sudetan Citanduy: Menghitung Dampak Mengurai Harapan Rhodes, O.E. and R.K. Chesser. 1994. Genetic concepts for habitat conservation: the transfer and maintenance of genetic variation. Landscape and Urban Planning 28: 55-62. Rice, D.L. and K.R. Tenore. 1981. Dynamics of carbon and nitrogen during the decomposition of detritus derived from estuarine macrophytes. Estuary and Coastal Shelf Science 13: 681-690. Richards, A. 1999. Plant Breeding Systems, 2nd ed. London: Chapman and Hall. Richards, P.W. 1996. The Tropical Rain Forest. Cambridge: Cambridge University Pr. Riesenberg, L.H., S.D. Soltis and P.S. Soltis. 1988. Genetic variations in Helianthus annus and H. bolanderi. Biochemical Systematics and Ecology 4: 393-399. Robertson, A.I.. 1988. Decomposition of mangrove leaf litter in tropical Australia. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 116: 235-247. Ronnback, P. 1999. The ecological basis for economic value of seafood production supported by mangrove ecosystems. Ecological Economics 29: 235-252 Ronnback, P., M. Troell, N. Kautsky, JH. Primavera. 1999. Distribution pattern of shrimps and fish among Avicennia and Rhizophora microhabitats in the Pagbilao mangroves, Philippines. Estuarine Coastal Shelf Science 48: 223-234. Rothe, G.M. 1994. Electrophoresis of Enzymes, Laboratory Methods. Berlin: Springer Verlag. Ruitenbeek, J.H. 1998. Mangrove Management: An Economic Ana-lysis of Management Options with a Focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. EMDI Environmental Reports 8. Jakarta: Environmental Management Development in Indonesia Project (EMDI). Saenger, P., E.J. Hegerl, and J.D.S Davie. 1983. Global status of mangrove ecosystems. The Environmentalist 3: 1-88. Also cited as: IUCN. 1983. Global Status of Mangrove Ecosystems. Gland: International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources. Sasaki, Y. and H. Sunarto. 1994. Mangrove forest of Segara Anakan lagoon. In Takashima, F. and K. Soewardi (eds.) Ecological Assessment for Management Planning of Segara Anakan Lagoon, Cilacap, Central Java.

328

Tokyo: NODAI Center for International Program, Tokyo University of Agriculture and JSPS-DGHE Program. Sauer, J. D. 1988. Plant migration: the dynamics of geographic patterning in seed plant species. Berkeley, CA.: University of California Press. Schlesinger, W.H. 1991. Biogeochemistry: An Analysis of Global Change. New York: Academic Press. Schnoor, J.L., L.A. Licht, S.C. McCutcheon, N.L. Wolfe, and L.H. Carreira. 1995. Phytoremediation of organic and nutrient contaminants. Environmental Science and Technology 29: 318A–323A. Schroth, G., J. Lehmann, and E. Barrios. 2003. Soil nutrient availability and acidity. In Schroth, G. and F.L. Sinclair. (eds.). Trees, Crops and Soil Fertility. New York: CAB International. Schuster, W.H., 1952. Fish culture in the brackish water ponds of Java. IPFC Special Publication 1: 1-143. Schweithelm, J. 1988. Watershed land use and coastal sedimentation: the Citanduy/Segara Anakan system. ASEAN/US Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988. Segara Anakan. 1998. Introduction of the official home page of the Segara Anakan Conservation and Development Project (SACDP), Directorate General for Regional Development, Ministry of Home Affairs, the Republic of Indonesia http://members.tripod.com/~sacdp/intro.html Semesi, A.K. 1998. Mangrove management and utilization in eastern Africa. Ambio 27: 620-626. Setyawan, A.D. 2002. Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan Tawar dan Perairan Laut. Enviro 2 (1): 25-40. Setyawan, A.D., A. Susilowati, dan Wiryanto. 2002. Habitat reliks vegetasi mangrove di pantai selatan Jawa. Biodiversitas 3 (2): 242-256. Setyawan, A.D., K. Winarno, dan P.C. Purnama. 2003. REVIEW: Ekosistem mangrove di Jawa: 1. Kondisi terkini. Biodiversitas 4 (2): 130-142. Setyawan, A.D., K. Winarno, dan P.C. Purnama. 2004. REVIEW: Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi. Biodiversitas 5 (2): 105-118. Shields, W.M. 1993. The natural and unnatural history of inbreeding and outbreeding. In Thornhill, N.W. (ed.). The Natural History of Inbreeding and Outbreeding. Chicago: University of Chicago Press.

329

Shriadah, M.M.A. 1999. Heavy metals in mangrove sediments of the United Arab Emirates shoreline (Arabian Gulf). Water, Air, and Soil Pollution 116: 523-534, 1999. Sih, A., B.G. Jonsson, and G. Luikart. 2000. Habitat loss: ecological, evolutionary and genetic consequences. Trends in Ecology and Evolution 15: 132-134. Silver, W.L., D.J. Herman, and M.K. Forestone. 2001. Dissimilatory nitrate reduction to ammonium in upland tropical forest soil. Ecology 82: 24102416. Silvius, M.J., A.P.J.M. Steeman, E.T. Berczy, E. Djuharsa, and A.W. Taufik. 1987. The Indonesian Wetland Inventory. A Preliminary Compilation of Existing Information on Wetlands of Indonesia, Vol. I and II. Bogor: PHPA, AWB/INTERWADER, EDWIN. Sinar Harapan. 01/05/2002. Akibat Sedimentasi, Segara Anakan Menyempit. Sinar Harapan. 11/01/2003. Mendesak, Konservasi Ekosistem Nusakambangan. Smith, A.P. 1973. Stratification of temperate and tropical forests. American Naturalist 107: 671-683. Smith, S.V. 1984. Phosphorus versus nitrogen limitation in the marine environment. Limnology and Oceanography 29: 1149-1160 Sneath, P.H.A and R.R. Sokal. 1973. Numerical Taxonomy. San Francisco: W.H. Freeman and Co. SNM (Strategi Nasional Mangrove). 2003. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Indonesia (Draft Revisi); Buku II: Mangrove di Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Soemodihardjo, S and S. Ishemat. 1989. Country Report: Indonesia, The Status of Mangrove Forests in Indonesia. Symposium on Mangrove Management. Bogor: Biotrop Special Publication No 37. Soemodihardjo, S. and L. Sumardjani. 1994. Re-afforestation of mangrove forests in Indonesia. Proceeding of the Workshop on ITTO Project. Bangkok, 1820 April 1994. Soemodihardjo, S., Suroyo, Suyarso. 1988. The mangroves of Segara Anakan: An assessment of their condition and prospects. ASEAN/US Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988.

330

Soenarko. 2002. Kebijakan KIMPRASWIL dalam Rangka Percepatan Pembangunan Kelautan dan Perikanan. Rapat Koordinasi Nasional Departemen Kelautan dan Perikanan Tahun 2002, Jakarta, 30 Mei 2002. Soeroyo dan S. Soemodihardjo. 1990. Tumbuhan gulma dan semai alami di hutan mangrove Segara Anakan, Cilacap. Seminar IV Ekosistem Mangrove, Bandar Lampung, 7-9 Agustus 1990. Sokal, R.R. and D.E. Wartenburg. 1983. A test of spatial auto-correlation analysis using an isolation-by-distance model. Genetics 105: 219-237. Sokal, R.R. and N.L. Oden. 1978. Spatial autocorrelation in biology. 1. Methodology. Biological Journal of the Linnean Society 10: 199-249. Soltis, D.E. and P.S. Soltis. 1989. Polyploidy, breeding systems, and genetic differentiation in homosporous pteridophytes. In Soltis, D.E. and P.S. Soltis (ed.). Isozymes in Plant Biology. Portland, OR.: Dioscorides Press. Spalding, M., F. Blasco, and C. Field. 1997. World Mangrove Atlas. Okinawa: International Society for Mangrove Ecosystems. Spaninks, F. and P. van Beukering. 1997. Economic Valuation of Mangrove Ecosystems: Potential and Limitations. CREED Working Paper No 14, July 1997. London and Amsterdam: International Institute for Environment and Development, and Institute for Environmental Studies. Stacey P.B. and M. Taper. 1992. Environmental variation and the persistence of small populations. Ecological Applications 2: 18-29. Steenis, C.G.G..J. van. 1958. Ecology of mangroves. In: Flora Malesiana. Djakarta: Noordhoff-Kollf. Steenis, C.G.G..J. van. 1965. Concise plant-geography of Java. In: Backer, C.A. and R.C. Bakhuizen van den Brink, Jr. 1965. Flora of Java. Vol. II. Groningen: P.Noordhoff Steenis, C.G.G..J. van. 1972. The Mountain Flora of Java. Leiden: E.J. Brill. Steinke, T.D., A. Rajh, and A.J. Holland. 1993b. The feeding behaviour of the red mangrove crab Sesarma meinerti De Man, 1887 (Crustacea: Decapoda: Grapsidae) and its effect on the degradation of mangrove leaf litter. South Africa Journal of Marine Science 13: 151-160. Steinke, T.D., A.J. Holland, and Y. Singh. 1993a. Leaching losses during decomposition of mangrove leaf litter. South Africa Journal of Botany 59: 21-25.

331

Stevenson, N.J., 1997. Disused shrimp ponds: options for redevelopment of mangroves. Coastal Management 25: 425-435. Stevenson, N.J., R.R. Lewis, and P.R. Burbridge. 1999. Disused shrimp ponds and mangrove rehabilitation. In Streever, W. (ed.). An International Perspective on Wetland Rehabilitation. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Stomp, A.M., K.H. Han, and M.P. Gordon. 1993. Genetic improvement of tree species for remediation of hazardous wastes. In Vitro Cell. Development Biology 29P: 227–232. Storelli, M.M., A. Storelli, and G.O. Marcotrigiano. 2001. Heavy metals in the aquatic environment of the Southern Andriatic Sea, Italy; Macroalgae, sediments and benthic species. Environment International 26: 505-509. Suara Hidayatullah. 5/1999. Kampung "Pensiun" di Nusakambangan. Suara Merdeka. 04/07/2001. Penduduk Segara Anakan Harus Dibatasi. Suara Merdeka. 08/05/2000. Polres Kejar Pencuri Kayu Nusakambangan. Suara Merdeka. 09/04/2003. Kampanye Tanam Bakau di Telukawur. Suara Merdeka. 14/08/2002. Pro Kontra Sudetan Citanduy; Tertunda akibat Banyak Kepentingan. Suara Merdeka. 16/06/2001a. Hutan Mangrove Dimodifikasi dengan Kayu Putih. Suara Merdeka. 16/06/2001b. Penduduk Liar Rambah Nusakambangan Lagi. Suara Merdeka. 26/05/2001. Segara Anakan Ditetapkan sebagai Kawasan Lindung. Suara Merdeka. 28/03/2002. Penduduk Liar di Nusakambangan Marak Lagi. Suara Pembaruan. 03/03/2002. Pengelolaan Pesisir Harus Libatkan Warga Lokal Suara Pembaruan. 06/07/2002. Proyek Sudetan Citanduy Dimulai September 2002. Suara Pembaruan. 09/04/2002. Segara Anakan Kian Dangkal. Suara Pembaruan. 11/08/2002. Mengkhawatirkan. Pendangkalan dan Abrasi di Jawa

Suara Pembaruan. 19/04/2003. 25.000 Batang Mangrove Ditanam di Segara Anakan

332

Suara Pembaruan. 25/08/2002. Sudetan Laguna Segara Anakan Tak Efektif . Suara Pembaruan. 25/11/2001. Bangau Segara Anakan Kian Langka Suara Pembaruan. 26/5/2002. Segara Anakan yang Terus Menyusut. Suara Publik, 2002. Training Workshop Pelibatan Stakeholders da-lam Proses Pengambilan Keputusan Pembangunan Prasarana Sumberdaya Air; Melibatkan Stakeholder, Menggeser Paradigama Lama. Jakarta: LP3ES. Subramanian, V. and A. Verma. 2000. Energy and the carbon cycle. TERI Information Monitor on Environmental Science (TIMES) 5 (2): 91-103. Sudarmadji. 2000. Vegetation Structure and Edaphic factors of Mangrove Forest at Baluran National Park, East Java Indonesia. [Dissertation]. Los Banos: University of the Philippines at Los Banos (UPLB). Suhendrayatna. 2001. Bioremoval logam berat dengan menggunakan mikroorganisme: suatu kajian kepustakaan. Seminar on-Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. Sinergy Forum - PPI Tokyo Institute of Technology, 1-14 Februari 2001 Sukardjo, S., 1985. Laguna dan vegetasi mangrove. Oseana 10 (4): 128-137 Sukartika, B. 1980. Intensifikasi tumpangsari tambak di Cilacap. Kertas Kerja pada Lokakarya Pengalaman dengan Agroforestry di Jawa. Yogyakarta: UGM. Suranto, Sajidan, Harliyono, K. Winarno, dan S.E. Hariningsih. 2000. Studi variasi populasi Ipomoea pes-caprae (L.) Sweet di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. BioSMART 2 (1): 28-33. Suranto. 1991. Studies of Population Variations in Species of Ranunculus. [Thesis]. Hobart: Departement of Plant Science University of Tasmania. Suzuki, N., Koizumi, N., Sano, H., 2001. Screening of cadmium-responsive genes in Arabidopsis thaliana. Plant Cell Environment 24: 1177-1188. Taillefert, M., C.P. Lienemann, J.F. Gaillard, and D. Perret. 2000. Speciation, reactivity, and cycling of Fe and Pb in a meromictic lake. Geochimica et Cosmochimica Acta 64 (2): 169–183. Tan, K.H. 1996. Soil Sampling, Preparation and Analysis. New York: Marcel Dekker, Inc. Tanaka, S., 1992. Bali Environment the Sustainable Mangrove Forest. Jakarta: Development of Sustainable Mangrove Management Project.

333

Tanksely, S. D. 1983. Molecular markers in plant breeding. Plant Molecular Biology Report 1: 3-8. Terchunian, A., V. Klemas, A. Alvarez, B. Vasconez, and L. Guerrero. 1986. Mangrove mapping in Ecuador: The impact of shrimp pond construction. Environmental Management 10: 345-350 Thom, B.G. 1967. Mangrove ecology and deltaic geomorphology: Tabasco, Mexico. Journal of Ecology 55: 301-343 Thomas, B.R., S.E. Macdonald, M. Hicks, D.L. Adams, dan R.B. Hodgetts. 1999. Effects of reforestation methods on genetic diversity of lodgepole pine: an assessment using microsatellite and randomly amplified polymorphic DNA markers. Theoritical and Applied Genetics 98: 793-801. Thompson, J.N. 1996. Evolutionary ecology and the conservation of biodiversity. Trends in Ecology and Evolution 11: 300–303. Tilman, D. 1999. Diversity and production in European grasslands. Science 286: 1099-1100. Tjitrosoepomo, G. 1981. Pembangunan wilayah pantai Cilacap. Panel Discussion on Urban and Rural Planning in Semarang, Central Java. Semarang: Pemprop. Jawa Tengah. Tomlison, P.B. 1986. The Botany of Mangrove. London: Cambridge University Press. Treuren, R. van, R. Bulsma, W. van Velden, and N.J. Ouborg. 1991. The significance of genetic erotionin the process of extiction. 1. Genetic differentiation in Salvia pratensis and Scabiosa columbaria in relation to population size. Heredity 66: 181-189. Turkington, R, 1994 Effect of propagule source on competitive ability of pasture grass: spatial dynamics of six grasses in simulated swards. Canadian Journal of Botany 72: 111-121. Twilley, R.R., R.H. Chen, and T. Hargis. 1992. Carbon sinks in mangrove forests and their implications to the carbon budget of tropical coastal ecosystems. Water, Air and Soil Pollution 64: 265-288. US. Army Map Services. 1963-1965. Sheets Map of Java. Washington, D.C.: Corps of Engineers. Van der Pijl, L. 1969. Principles of dispersal in higher plants. Springer-Verlag, Berlin, Germany.

334

Vanderyighelen, D. and T. Kunneke. 1997. Introduction to Information Management Through Geographic Information Systems and Remote Sensing. New York: ETAP. Vankat, J.L., J. Wu, and S.A. Fore. 1991. Old-growth by design: applying the concepts of landscape ecology. In Henderson D. and L.D. Hedrick (eds.). Restoration of Old Growth Forests in the Interior Highlands of Arkansas and Oklahoma. Arkansas: Ouachita National Forest and Winrock International Institute for Agricultural Development, AR. Vitousek, P.M., H.A. Mooney, J. Lubchenco, and J.M. Melillo. 1997. Human domination of earth's ecosystems. Science 277: 494-499. Vitousek, P.M., J. Aber, R.W. Howarth, G.E. Likens, P.A. Matson, D.W. Schindler, W.H. Schlesinger, and G.D. Tilman. 1997. Human alteration of the global nitrogen cycle: causes and consequences. Ecological Applications 7: 737-750. Vrijenhoek, R.C. 1994. Genetic diversity and fitness in small populations. In: Loeschcke, V., J. Tomiuk, and S.K. Jain (eds.). Conservation Genetics. Sunderland, MA.: Sinauer Associates. Wainwright, S.J., 1984. Adaptation of Plant to Flooding with Salt Water. New York: Academic Press Inc. Walsh, G.E. 1974. Mangroves: A review. In Reinhold, R.J. and W.H. Queen (eds.). Ecology of Halophytes. New York: Academic Press. Walsh, G.E. 1977. Exploitation of Mangal. In: Chapman, V.J. (ed), Ecosystems of the World. New York: Elsevier Scientific. Walters, M.B., and P.B. Reich, 1997. Growth of Acer Saccharum seedlings in deeply shaded understories of northern Wisconsin: effects of nitrogen and water. Canadian Journal of Forest Research 27: 237-247. Wang, X.R., A.E. Szmidt, and N.H. Nghia, 2000. The phylogenetic position of the endemic flat-needle pine Pinus krempfii (Pinacea) from Vietnam, based on PCR-RFLP analysis of chloroplast DNA. Plant Systematics and Evolution 220: 21-36 Watson, J.G. 1928. Mangrove forests of the Malay Peninsula. Kulala Lumpur: Malaysian Forest Records No. 6 Weeden, N.F. and J.F. Wendel. 1989. Genetic and plant isozymes. In Soltis, D.E. and P.S. Soltis (eds.). Isozymes in Plant Biology. Portland, OR.: Dioscorides Press.

335

Westemeier, R.L., J.D. Brawn, S.A. Simpson, T.L. Esker, R.W. Jansen, J.W. Walk, E.L. Kershner, J.L. Bouzat, and K.N. Paige. 1998. Tracking the long-term decline and recovery of an isolated population. Science 282: 1695-1698. Whitmore, T.C. 1985. Tropical Rain Forests of the Far East. Oxford: Clarendon Press. Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja, and S. Afiff. 2000. Ecology of Java and Bali. Singapore: Periplus. Widle, E.W. and J.R. Benemann. 1993. Biotechnology Advanced 11: 781-812. Wilson, E.O. 1988. The current state of biological diversity. In Wilson, E.O. and F.M. Peter (eds.). Biodiversity. Washington, D.C.: National Academy Press. Winarno, K. dan A.D. Setyawan. 2003. REVIEW: Penyudetan Sungai Citanduy, Buah Simalakama Konservasi Ekosistem Mangrove Segara Anakan. Biodiversitas 4 (1): 63-72. Wirjodarmodjo, H., Soeroso, dan B. Soekartiko. 1978. Pengelolaan hutan payau Cilacap. Seminar I Ekosistem Mangrove Jakarta 27 Pebruari – 1 Maret 1978. Wirjodarmodjo. H., S.D. Soeroso, dan S. Bambang. 1979. Pengelolaan hutan payau Cilacap. Prosiding Seminar Ekosistem Hutan Mangrove. Jakarta: Lembaga Oseanologi Nasional LIPI. Worm, B., H.K. Lotze, and U. Sommer. 2000. Coastal food web structure, carbon storage, and nitrogen retention regulated by consumer pressure and nutrien loading. Limnology and Oceanography 45 (2): 339-349. Wosten, J.H.M., P. de Willigen, N.H. Tri, T.V. Lien, and S.V. Smith. 2003. Nutrien dynamics in mangrove areas of the Red River Estuary in Vietnam. Estuary and Coastal Shelf Science 57: 65-72. Young, A., T. Boyle, and T. Brown. 1996 The population genetic consequences of habitat fragmentation for plants. Trends in Ecology and Evolution 11: 413418. Young, A.G., and A.H.D. Brown. 1996. Comparative population genetic structure of the rare woodland shrub Daviesia suaveolens and its common congener D. mimosoides. Conservation Biology 10: 1220–1228. Yudho, W. 1988. Local environment awareness and attitudes toward coastal resources management in Segara Anakan-Cilacap, Indonesia. ASEAN/US

336

Technical Workshop on Integrated Tropical Coastal Zone Management, Singapore, 28-31 October 1988.

337

LAMPIRAN

338

Lampiran 1. Diskripsi lokasi penelitian.

Gambar 22. Sebaran lokasi penelitian berdasarkan letak dan batas peta administratif kabupaten di Propinsi Jawa Tengah.

339

Gambar 23. Tipe topografi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 24. Tipe geologi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

340

Gambar 25. Tipe fisiografi pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 26. Tipe iklim Schmidt-Ferguson pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

341

Gambar 27. Tipe agroklimat pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 28. Curah hujan tahunan di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

342

Gambar 29. Jumlah bulan kering di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 30. Daerah aliran sungai (DAS) pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

343

Gambar 31. Tipe permukaan air tanah pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 32. Tipe penggunaan lahan pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

344

Gambar 33. Sebaran kepadatan penduduk di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

Gambar 34. Sebaran pemukiman penduduk di pulau Jawa (Whitten dkk., 2000).

345

Lampiran 2. Batas administratif dan data kependudukan di setiap kecamatan pada kedelapan kabupaten yang menjadi lokasi penelitian.

Gambar 35 (Plate 1). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Demak

Gambar 36 (Plate 2). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Jepara

346

Gambar 37 (Plate 3). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Pati

Gambar 38 (Plate 4). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Rembang

347

Gambar 39 (Plate 5). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Kulonprogo

Gambar 40 (Plate 6). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Purworejo

348

Gambar 41 (Plate 7). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Kebumen.

Gambar 42 (Plate 8). Batas wilayah dan data demografi Kabupaten Cilacap.

349

Lampiran 3. Bentuk lanskap dan penutupan vegetasi/lahan pada setiap lokasi penelitian berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001.

Gambar 43. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Wulan, Demak berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

350

Gambar 44. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Sigrogol/Lobang (Babalan), Demak berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

351

Gambar 45. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Serang (Kedung), Demak berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

352

Gambar 46. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di Bulak, Jepara berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

353

Gambar 47. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di Telukawur, Jepara berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

354

Gambar 48. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di pesisir pantai Tayu, Pati berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

355

Gambar 49. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Juwana, Pati berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2 .

356

Gambar 50. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di pesisir pantai Pecangakan, Pati berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

357

Gambar 51. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di pesisir pantai Pasar Banggi, Rembang berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

358

Gambar 52. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di pesisir pantai Lasem, Rembang berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

359

Gambar 53. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Bogowonto, perbatasan Purworejo dengan Kulonprogo berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

360

Gambar 54. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Cakrayasan, Purworejo berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

361

Gambar 55. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Wawar, Purworejo berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2. (tidak terdapat ekosistem mengrove).

362

Gambar 56. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Lukulo, Kebumen berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

363

Gambar 57. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Cingcingguling, Kebumen berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

364

Gambar 58. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Ijo (Pantai Lohgending, Ayah), Kebumen berdasarkan peta topografi tahun 19631965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

365

Gambar 59. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Bengawan, Cilacap berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

366

Gambar 60. Bentuk landskap dan penutupan vegetasi/lahan di muara Sungai Serayu, Cilacap berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2.

367

18 20

19

Gambar 61. Bentuk lanskap dan penutupan vegetasi/lahan di laguna Segara Anakan, Cilacap berdasarkan peta topografi tahun 1963-1965 dan citra satelit Landsat 7 TM periode Juli-September 2001. Kotak = 1 km2. No. 18 = Tritih, 19 = Motean, 20 = Muara Dua.

368

Lampiran 4. Penampakan fisiografi dan fisiognomi setiap lokasi penelitian.

Gambar 62. Lokasi penelitian Wulan

Gambar 63. Lokasi penelitian Sigrogol

Gambar 64. Lokasi penelitian Serang

Gambar 65. Lokasi penelitian Bulak

Gambar 66. Lokasi penelitian Telukawur

Gambar 67. Lokasi penelitian Tayu

369

Gambar 68. Lokasi penelitian Juwana

Gambar 69. Lokasi penelitian Pecangakan

Gambar 70. Lokasi penelitian Pasar Banggi Gambar 71. Lokasi penelitian Lasem

Gambar 72. Lokasi penelitian Bogowonto

Gambar 73. Lokasi penelitian Cakrayasan

Gambar 74. Lokasi penelitian Lukulo

Gambar 75. Lokasi penelitian Cingcinggguling

370

Gambar 76. Lokasi penelitian Ijo

Gambar 77. Lokasi penelitian Bengawan

Gambar 78. Lokasi penelitian Serayu

Gambar 79. Lokasi penelitian Tritih

Gambar 80. Lokasi penelitian Motean

Gambar 81. Lokasi penelitian Muara Dua

371

Lampiran 5. Keanekaragaman spesies tumbuhan mangrove mayor, minor, dan sebagian tumbuhan asosiasi yang ditemukan di lokasi penelitian (sebagian gambar bersumber dari Kitamura dkk., 1997) Mangrove mayor

Gambar 82. Avicennia alba

Gambar 83. Avicennia marina

Gambar 84. Avicennia officinalis

Gambar 85. Sonneratia alba

Gambar 86. Sonneratia caseolaris

Gambar 87. Sonneratia ovata

Gambar 88. Bruguiera cylindrica

Gambar 89. Bruguiera gymnorrhiza

Gambar 90. Bruguiera parviflora

372

Gambar 91. Bruguiera sexangula

Gambar 92. Ceriops decandra

Gambar 93. Ceriops tagal

Gambar 94. Lumnitzera littorea

Gambar 95. Nypa fruticans

Gambar 96. Rhizophora apiculata

Gambar 97. Rhizophora mucronata

Gambar 98. Rhizophora stylosa

373

Mangrove minor

Gambar 99. Acrostichum aureum

Gambar 100. Acrostichum speciosum

Gambar 101. Aegiceras corniculatum

Gambar 102. Aegiceras floridum

Gambar 103. Excoecaria agallocha

Gambar 104. Heritiera littoralis

Gambar 105. Osbornia octodonta

Gambar 106. Pemphis acidula

374

Gambar 107. Scyphiphora hydrophyllacea

Gambar 108. Xylocarpus granatum

Gambar 109. Xylocarpus moluccensis Tumbuhan asosiasi

Gambar 110. Xylocarpus rumphii

Gambar 111. Acanthus ilicifolius

Gambar 112. Barringtonia asiatica

Gambar 113. Calophyllum inophyllum

Gambar 114. Calotropis gigantea

375

Gambar 115. Cerbera manghas

Gambar 116. Clerodendrum inerme

Gambar 117. Derris trifoliata

Gambar 118. Finlaysonia maritima

Gambar 119. Hibiscus tiliaceus

Gambar 120. Ipomoea pes-caprae

Gambar 121. Pandanus tectorius

Gambar 122. Pongamia pinnata

376

Gambar 123. Scaevolia taccada

Gambar 124. Sesuvium portulacastrum

Gambar 125. Spinifex littoreus

Gambar 126. Stachytarpheta jamaicensis

Gambar 127. Terminalia catappa

Gambar 128. Thespresia populnea

Gambar 129. Vitex ovata

Gambar 130. Cyperaceae

377

Lampiran 6. Struktur vegetasi mangrove pada beberapa lokasi penelitian.

Gambar 131. Strata bibit Rhizophora Gambar 132. Strata bibit Avicennia di di Pasar Banggi Wulan

Gambar 133. Strata pohon Rhizophora Gambar 134. Strata pohon Rhizophora di Pasar Banggi di Bulak

Gambar 135. Strata Sonneratia di Wulan

anak pohon Gambar 136. Dominasi semak-semak A. ilicifolius pada lahan terbuka

378

Lampiran 7. Keanekaragaman bentuk morfologi daun S. alba.

Gambar 137. Daun S. Gambar 138. Daun S. Gambar 139. Daun S. alba dari Wulan alba dari Juwana alba dari Segara Anakan (Motean dan Muara Dua)

Lampiran 8. Bentuk morfologi akar napas (pneumatofora) tumbuhan mangrove

Gambar 140. Rhizophora

Akar

penyangga Gambar 141. Akar pensil Sonneratia

Gambar 142. Akar lutut Bruguiera

Gambar 143. Xylocarpus

Akar

papan/banir

379

Lampiran 9. Pemanfaatan Langsung di dalam Ekosistem Mangrove dan Penggunaan Lahan di sekitarnya, serta Upaya Restorasinya.

Gambar 144. Tambak ikan bandeng di Gambar 145. Tambak garam di Pasar Juwana Banggi

Gambar 146. Jaring apung di Wulan

Gambar 147. Perahu nelayan di Segara Anakan

Gambar 148. Penebangan kayu dan Gambar 149. Penebangan kayu dan konversi ke pertambakan di Pecangakan konversi ke pertambakan di Wulan

380

Gambar 150. Pemanenan kayu bakar di Gambar 151. Penggembalaan ternak di Wulan Lukulo

Gambar 152. Buah A. sebagai bahan obat hepatitis

ilicifolius Gambar 153. Gumuk pasir sebagai bahan baku semen

Gambar 154. Potensi ekowisata di Gambar 155. Potensi pendidikan di Pasar Banggi Bogowonto

Gambar 156. Sawah di sekitar ekosistem mangrove di Cingcingguling

Gambar 157. Pelabuhan ikan di Juwana

381

Gambar 158. Sampah domestik di Gambar 159. Tipikal pemukiman di Wulan Segara Anakan

A

B

Gambar 160. Hambatan pertumbuhan bibit Rhizophora di Pasar Bangi oleh: A. sampah plastik, B. rumput laut Ulva.

A

B

Gambar 161. Papan penunjuk restorasi ekosistem mangrove. A. Pasar Banggi (2002, berhasil); B. Lukulo (2000, gagal)

382

Lampiran 10. Pedoman Wawancara 1. Apakah yang Saudara ketahui tentang keanekaragaman hayati (biodiversitas), ekosistem, konservasi, kerusakan lingkungan, mangrove/bakau, restorasi/r ehabilitasi? 2. Jelaskan jenis-jenis manfaat yang dapat diperoleh secara langsung dari dalam ekosistem mangrove di lingkungan Saudara? 3. Jelaskan jenis-jenis penggunaan lahan yang dilakukan masyarakat luas di sekitar ekosistem mangrove di lingkungan Saudara? 4. Jelaskan kondisi mangrove di lingkungan Saudara pada masa lalu, beserta jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang tinggal, kondisi dan luas vegetasi penbutup, peran dan daya dukungnya terhadap kehidupan masyarakat seharihari? 5. Jelaskan perubahan kondisi ekosistem mangrove di lingkungan Saudara, beserta proses terjadinya kerusakan lingkungan mangrove yang ada? 6. Jelaskan upaya restorasi ekosistem mangrove di lingkungan Saudara? Sebutkan pula penggerak/pendana, perkiraan luas, spesies utama yang ditanam, dan tujuannya? 7. Jelaskan peran serta masyarakat dan aturan adat atau desa di lingkungan Saudara yang mendukung upaya pelestarian ekosistem mangrove?

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->