Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri dari 13.000 pulau. Ditinjau dari segi pengembangan dan pembangunan wilayah Indonesia terdapat masalah pemerataan pengembangan wilayah di luar Jawa yang bersifat memerangi keterbelakangan pembangunan di berbagai bidang.

Pengembangan wilayah pantai sudah selayaknya memperhatikan aspek geologi pada saat pengambilan keputusan, sehingga dampak negatif dapat ditekan sekecil mungkin. Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (PPGL) mempunyai tugas dan fungsi melakukan kegiatan penelitian di wilayah perairan Indonesia. Salah satu dari tugas tersebut adalah program inventarisasi pemanfaatan geoogi wilayah pantai. Untuk Tahun Anggaran 1998/1999 Proyek Penyelidikan Geologi Wilayah Pantai PPGL telah mengusulkan dan memilih perairan sekitar P. Karimun Besar, Kepulauan Riau, Propinsi Riau. Penyelidikan geologi wilayah perairan P. Karimun Besar adalah kelanjutan dari penyelidikan geologi wilayah pantai yang telah diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Geologi Kelautan. Penyelidikan ini dilaksanakan guna memberikan informasi data dasar dalam menunjang pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatan potensi wilayah pantai, terutama yang erat kaitannya dengan pertumbuhan nasional. P. Karimun Besar merupakan kepulauan yang dekat letaknya dengan

negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia dan termasuk kawasan pengembangan SIJORI (Singapura - Johor (Malaysia) - Riau). Oleh karena itu kegiatan inventarisasi ini sangat penting artinya untuk menilai kemampuan kawasan pantai ini dari segi kepariwisataan dan beragam aspek geologi yang dapat menunjang dalam pengembangan wilayah sesuai dengan tata ruang. 1

1.2 Maksud dan Tujuan Maksud penyelidikan yaitu untuk menginventarisasi data dasar mengenai geologi dan beberapa aspek oseanografi baik pengukuran langsung maupun sekunder. Sedangkan tujuan kegiatan inventarisasi kawasan pantai P.

Karimun Besar dan sekitarnya adalah untuk mendata kemungkinan potensi sumberdaya mineral dan potensi geologi lainnya sebagai sumbang saran dalam pengembangan wilayah pesisir pantai yang diarahkan pada peningkatan pariwisata yang mampu menggalakkan kegiatan ekonomi dan sektor lainnya, seperti : peningkatan pendapatan masyarakat setempat, kesempatan berusaha, penambahan lapangan pekerjaan dan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah dan negara . 1.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah Perairan P. Karimun Besar termasuk daerah pengembangan kawasan Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau, Propinsi Riau. Secara geografis terletak pada koordinat 00o55'00 - 01o 10' 00 LU dan 103o 15' 00 - 103o 35' 00 BT (Gambar 1). Daerah penyelidikan dibatasi oleh di sebelah utara dengan wilayah Malaysia, sebelah barat P. Sumatra, sebelah timur Selat Durian dan sebelah selatan P. Kundur . Lokasi daerah penyelidikan dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan darat dari Pekanbaru ke pelabuhan laut Tanjung Buton disambung dengan pelayaran laut regular ke Selat Panjang kemudian terus ke Tanjung Balai Karimun. Pencapaian antar desa dan pulau di sekitar perairan daerah penyelidikan relatif mudah dijangkau, oleh karena adanya infrastruktur berupa jalan darat dan pelabuhan laut beserta prasarananya, yakni kendaraan bermotor dan kapal laut.

1.4 Luas, Skala Peta, dan Rencana Waktu Penyelidikan Daerah penyelidikan mempunyai luas lebih kurang 300' km atau 1013.8 km
2 2

dengan panjang garis pantai 100 km. Peta kerja memakai skala 1:50.000. Pelaksanaan penyelidikan lapangan direncanakan mulai minggu pertama 2

bulan Juni 1998 sampai dengan minggu ke-empat bulan Juni 1998 selama kurang lebih 24 hari kerja.

Gambar 1. Peta lokasi daerah selidikan

BAB II GEOLOGI REGIONAL

2.1 Sebaran Batuan Keadaan geologi P. Karimun tidak dapat dipisahkan dengan geologi P. Kundur dibagian selatannya, maka pembahasan geologinya selalu dikaitkan antar keduanya. Berdasarkan peta Geologi (Cameron, et. al, 1992)

stratigrafi daerah Karimun - Kundur secara umum dapat dibedakan menjadi dua kelompok batuan, yaitu: batuan berumur Pra-Tersier dan Kuarter.

2.1.1 BATUAN PRA-TERSIER

Batuan Pra-Tersier yang dijumpai di daerah ini berupa batuan sedimen/metasedimen dan batuan intrusif. Sebagian besar batuan sedimen yang ditemukan di daerah ini telah berubah menjadi metasedimen, seperti serpih hornfels dan batupasir hornfels.

a. Batuan Sedimen/Metasedimen

Batuan sedimen/metasedimen Pra-Tersier yang terdapat di Lembar Bengkalis dan Siak Sri Indrapura (Cameron, et. al., 1982) diwakili olah formasi Malarco, Formasi Papan dan Formasi Bintang.

Formasi Malarco terdapat di P. Karimun, terdiri dari serpih hornfels, batupasir, rijang (?), konglomerat (?), batugamping dan batuan gunungapi riodasitik berumur Karbon (?) - Trias Akhir. Formasi ini memperlihatkan kemiripan litologi dengan Formasi Papan di P. Kundur. Hanya saja dalam Formasi Malarco berkembang batuan volkanik riodasitik. Raadshoven dan Swart

(1942), Gobbert (1973) dan Haile et. al (1977) memperkirakan bahwa formasi ini setara dengan Kelompok Raub (Cameron et. al, 1982).

Formasi Papan, yang terdapat di P. Kundur, tersusun atas serpih, batupasir dan konglomerat kuarsa yang menjadi hornfels pada kontak denga granit dan berumur Trias Tengah - Trias Akhir. Formasi ini sangat mirip dengan Formasi Kualu yang terletak di Pematang Siantar, Formasi Bangka, serta Formasi Semanggol di Malaysia barat laut. jika korelasi ini benar, maka Formasi Papan merupakan bagian dari Kelompok Peusangan yang berumur Perm Akhir - Tria Akhir.

Formasi Bintang merupakan batuan Pra-Tersier yang tersingkap di P. Sanglar Besar (di sebelah tenggara P. Kundur) dan terdiri atas serpih, batupasir, konglomerat dan bongkah konglomerat alas. bagian bawah formasi ini berumur Rhaetian (Trias Akhir) dan bagian atasnya berumur Jura.

b. Batuan intrusif

Batuan intrusif banyak dijumpai di kepulauan ini, terdiri dari granit dan gabro. Granit dapat dibedakan menjadi Granit Karimun, Granit Kundur, dan Granit Tak Terpisahkan. Sedangkan gabro hanya ditemukan dalam Komplek Merak.

Granit

Kundur berwarna abu-abu, umumnya berukuran kasar

dengan megakristal ortoklas/mikrolin. Granit ini dijumpai di bagian tengah P. Kundur dan P. Kanipaan, sedangkan Granit Karimun berwarna merah muda dan jarang ditemukan megakristal muskovit dan K-Felspar, ditemukan di P. Karimun Kecil. Kedua granit ini 5

diperkirakan berumur Trias Tengah - Trias Akhir. Cameron et. al., 1982 menyatakan Granit Karimun memperlihatkan kemiripan dengan granit jalur Timur (Trengganu dan Belitung), terletak di bagian timur Bentong-Raub Suture, sedangkan Granit Kundur mirip granit pada Jalur utama (Kinta Valley dan Bangka). Granit Tak Terpisahkan terdapat di P. Rabi, P. tulang dan P. parit dan hubungannya dengan kedua granit terdahulu tidak dapat dipastikan. Germeeraad (1941) memperkirakan granit tak

terpisahkan ini adalah granit porfiritik yang teralterasi dan merupakan roof pendant (batuan lebih tua yang terdapat di bagian atas tubuh batolit dari Granit Karimun. Komplek Merak terdiri atas metagabro hornblenda, amfibolit dan sekis hornblenda dan diperkirakn berumur lebih tua dari Granit Kundur, Granit karimun, dan Granit Tak Terpisahkan. Komplek Merak ini dijumpai di P. Merak, P. Tulang, P. Tembelas bagian selatan dan Tanjung Melolo di bagian barat P. Karimun. Komplek ini diperkirakan merupakan indikasi adanya Bentong - Raub Suture yang diperkirakan berumur Trias Tengah - Trias Akhir.

2.

KUARTER Aluvium pada daerah selidikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Endapan Permukaan Tua dan Endapan Permukaan Muda. Endapan Permukaan Tua tersebar luas di P. Kundur, P. Karimun dan pulau-pulau sekitarnya. Endapan ini terdiri atas lempung, lanau, kerikil lempungan, sisa-sisa tumbuhan dan pasir granit. Satuan ini merupakan endapan fluviatil dan berumur Plistosen Atas. Endapan Permukaan Muda terletak tidak selaras di atas Endapan Permukaan Tua terdiri atas lempung, lanau, kerikil licin, sisa-sisa tumbuhan rawa, gambut, dan terumbu koral. Satuan ini diendapkan di lingkungan inner sublitoral dan berumur Holosen 6

2.2 Struktur Geologi Pengamatan foto udara menunjukkan adanya struktur berarah baratlaut - tenggara pada singkapan Formasi Papan dan Formasi Malarco. Komplek Merak yang merupakan dismembered ophiolite dari Bentong - Raub Suture, memperlihatkan kelurusan berarah Timur Tenggara di antara P. Karimun dan P. Kundur. Kedua arah di atas merupakan struktur Pra-Tersier yang terlihat paling jelas di daerah ini. Penyusupan kerak samudera ke arah timur di bawah Zona Benioff pada Zaman karbon menyebabkan terjadinya volkanisme felsik, pluton granit dan sedimentasi endapan flysch (Formasi Malarco di P. Karimun). Belum diketahui secara pasti kapan tumbukan terjadi, tetapi Bentong - Raub Suture telah ada sebelum terbentuknya granit Main Range di Malaysia barat pada Trias Tengah/Akhir. Berdasarkan penelitian Hamilton (1979), granit ini mempunyai kandungan strontium tinggi. Sebelum dan selama pembentukan pluton ini, Formasi Papan dan formasi yang seumur diendapkan di cekungan yang terletak di sebelah barat. Timah primer ditemukan pada urat kuarsa dan greisen yang berdekatan dengan kontak antara granit dan Formasi Papan. Urat-urat ini berarah 105o dengan kemiringan hampir tegak. Tidak ada laporan mengenai keberadaan timah di Formasi Malarco. Tetapi Cameron et. al., memperkirakan adanya potensi timah placer di sepanjang margin granit

Gambar 2. Peta geologi daerah daerah P. Karimun Besar dan sekitarnya

BAB III METODA PENYELIDIKAN


Metoda penyelidikan meliputi penentuan posisi, pengamatan oseanografi (pasang surut, gelombang dan arus), deskriptif geologi (karakteristik pantai dan percontohan sedimen) dan analisa laboratorium. 3.1 Penentuan Posisi Operasional lapangan menggunakan kapal motor yang dilengkapi dengan penuntun arah (kompas). Penentuan posisi data geologi dan geofisika dilakukan dengan menggunakan perangkat "global positioning system (GPS)" jenis MAGELLAN GPS 31001. Alat ini bekerja dengan dukungan Satelit, setelah diaktifkan dan diprogram maka akan terlihat posisi titik-titik koordinat dalam bentuk lintang dan bujur geografis atau bidang proyeksi (UTM) yang dapat disimpan atau langsung dibaca pada layar monitor. Alat penunjang penentu posisi selain perangkat MAGELLAN yaitu: satu unit electric distance meter Sokhisa RED2L, prisma Sokhisa, baterai charger EDM CDC15, calculator Casio PB700, statif, rambu ukur, theodolit Sokhisa TM10E dan TS20A, levelling instrumen Wild/NA2, dan radio komunikasi. 3.2 Oseanografi Dalam penyelidikan oceanografi faktor angin, gelombang dan arus merupakan gejala alam yang saling terkait, terutama dalam proses erosi dan akrasi terhadap aspek geologi (batuan dan struktur). Metoda penyelidikan yang dilakukan meliputi pengukuran pasang surut, dan analisis dari data angin sekunder untuk prediksi arus permukaan, perubahan garis pantai dan pergerakan sedimen. Pengukuran pasang surut menggunakan periode pengamatan jangka pendek (15 hari) yang dilakukan secara simultan. Pencatatan naik turun permukaan air laut dilakukan secara manual dengan interval waktu selang 30 menit dan di plot pada kertas milimiter blok. Penentuan konstanta harmonik 9

dan tipe pasang surut dipakai pendekatan Metoda Admiralty (1946) yang pengolahan datanya dibantu oleh program perangkat lunak LOTUS 123. Untuk arus permukaan, perubahan garis pantai dan pergerakan sedimen dilakukan prediksi energi fluks gelombang berdasarkan pemisahan frekuensi data angin tahunan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jakarta. Dengan menggunakan pendekatan yang diusulkan oleh SMB (Svertdrup, Munk dan Bretschneider, 1952). Kecepatan angin lebih dari 10 knots (19 Km/jam) dianggap dapat membangkitkan gelombang. Dari prosentasi frekuensi data angin terpilih, kemudian tinggi dan periode gelombang diprediksi dengan menggunakan kurva karakteristik gelombang untuk perairan dangkal (5 feet). Hasil prediksi kemudian disebandingkan dengan diskriptif kualitatif, khususnya terhadap aspek geologi yang salah satunya resistensi batuan, apakah erosi dan akrasi tersebut sesuai atau tidak di lapangan. Alat penunjang pengukuran oseanografi ini yaitu: rambu ukur, theodolit, stopwatch dan alat tulis menulis. 3.3 Geofisika Metoda penelitian geofisika yang digunakan ialah pemeruman. Posisi koordinat data pemeruman dibaca dalam selang waktu 2 menit kemudian didigit dan diplot ke dalam peta kerja skala peta 1:50.000. Data diambil secara terpadu dengan maksud dan tujuan antara lain: Data kedalaman laut sebagai bahan pembuatan peta batimetri guna mengetahui keadaan morfologi dan kemantapan lereng dasar laut. Data kedalaman laut sebagai pengontrol pengambilan contoh sedimen.

Pemeruman dilakukan dengan menggunakan perangkat Raytheon DE719, bekerja dengan prinsip pengiriman pulsa energi gelombang suara dari permukaan laut melalui transmitting transducer secara vertikal ke dasar laut. kenudian gelombang suara akan dipantulkan dari dasar laut dan diterima oleh receiver transducer. Gelombang suara yang diterima akan ditransformasikan menjadi pulsa energi listrik ke receiver. Sinyal-sinyal 10

tersebut diperkuat dan direkam pada recorder dalam bentuk grafis maupun digital dengan sapuan terkecil pada kertas selebar 200 mm dengan antara kedalaman 0 - 80 m. 3.4 Geologi Metoda penelitian geologi selain deskriptif karakteristik pantai, geologi teknik dan pengambilan percontohan sedimen dilakukan pula pengamatan dan atau kompilasi untuk pembuatan peta-peta evaluasi wilayah. 3.4.1 Karakteristik Pantai Karakteristik Pantai dilakukan secara deskriptif kualitatif menggunakan metoda seperti diusulkan oleh Doland, dkk (1975) yaitu berdasarkan gabungan geologi, relief, karakteristik garis pantai dan proses dominan dengan beberapa modifikasi pada legenda dan skala peta. Pengeplotan data dipandu oleh alat penentu posisi MAGELLAN GPS 31001 dan orientasi lapangan dengan menggunakan peta dasar skala 1: 50.000. 3.4.2 Pengambilan contoh Pengambilan contoh sedimen hanya akan menggunakan

pemercontoh comot ("grab sampler). Diambil pula contoh sedimen pantai dan batuan sebagai data penunjang dalam inventarisasi potensi sumberdaya mineral. Nomenklatur sedimen diklasifikasikan menurut "diagram segitiga Folk" (1980). Sedangkan untuk proses pengendapan dilakukan dari penafsiran besar butir berdasarkan pendekatan statistika (kurva frekuensi kumulatif, kurva frekuensi

(histogram), modus (kesukaan butir untuk mengendap) dan moment. Peralatan penunjang pengambilan contoh sedimen dan deskriptif geologi yaitu: pemercontoh comot, tambang nilon 100 meter, palu geologi, kompas geologi, loupe pembesar 1x10 dan 1x20, kantong plastik dan alat tulis menulis.

11

3.4.3 Geologi Teknik Metoda geoteknik yang dilakukan adalah pengambilan contoh tanah atau sedimen dengan mengunakan alat Shelby Tube. Contoh tanah yang diperoleh kemudian dianalisa berdasarkan kadar air tanah, batas cair/plastis, dan konsolidasi tanah. Analisis kadar air tanah

kegunaannya untuk menentukan kadar air tanah yaitu merupakan perbandingan berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah yang dinyatakan dalam prosen (%). Analisis ini digunakan untuk juga untuk analisis konsolidasi dimana sebelum dan sesudah analisis konsolidasi harus diketahui kadar air tanahnya. Analisis batas cair/plastis adalah analisis untuk mengetahui keadaan tanah dalam batas cair atau plastis. Analisis konsolidasi untuk menentukan sifat pemampatan suatu jenis tanah yaitu sifat-sifat perubahan isi dan proses keluarnya air dari dalam tanah yang diakibatkan adanya perubahan tekanan vertikal pada tanah tersebut. Metoda yang dipakai adalah Metoda Terzaghi (1948), yaitu suatu metoda teoritis yang didasarkan atas beberapa penyerdehanaan tertentu, untuk menentukan distribusi kelebihan tekanan hidrostatis pada suatu lapisan, yang berkonsolidasi setelah dibebani atau derajat konsolidasi (U) berupa persamaan diferensiasi yang jawabannya dapat dipakai untuk menentukan besarnya

konsolidasi. Peralatan yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah ini yaitu : Shelby Tube, cangkul, sekop, pisau pemotong, pita ukur, dan alat tulis. 3.5 Analisa Labolatorium Diawali oleh pemerian contoh sedimen secara visual, kemudian preparasi untuk berbagai keperluan analisis, antara lain: besar butir sedimen, mineral berat, dan analisis mekanika tanah.

12

BAB IV HASIL PENYELIDIKAN

4.1 Lingkungan Pantai

Lingkungan pantai yang akan dibahas berikut ini meliputi : topografi dan aliran sungai, tata guna lahan dan vegetasi, pemukiman dan transportasi, serta karakteristik pantai.

4.1.1 Topografi dan Aliran Sungai Bentukan morfologi suatu daerah selidikan dikenal sebagai

bentang alam atau topografi sangat dipengaruhi oleh batuan pembentuknya. Berdasarkan pengamatan pada peta topografi, wilayah P. Karimun Besar dapat dibagi menjadi dua bentukan bentang alam, yaitu bentuk bentang alam dataran rendah dan perbukitan terjal. Bentuk bentang alam dataran rendah mempunyai luas sekitar 70% dari daerah selidikan yang tersebar hampir di seluruh bagian P. Karimun kecuali di bagian utara. Berdasarkan peta geologi, dataran ini tersusun oleh aluvium berupa Endapan Aluvium Tua yang terdiri atas lempung, lanau, kerikil lempungan, sisa-sisa tumbuhan dan pasir granit. Pada umumnya wilayah pantai P. Karimun dataran rendah ini. Bentang alam perbukitan terjal hanya terdapat di bagian utara P. Karimun Besar dan P. Karimun Kecil, sekitar 30% dari luas keseluruhan. Menurut peta geologi bentukan ini merupakan batuan granit yang dikenal sebagai Granit Karimun berwarna merah muda. Disekitar perbukitan terjal ini banyak dijumpai penambangan batuan granit oleh beberapa perusahaan, baik yang dikelola oleh BUMN terletak pada

13

ataupun perusahaan swasta. Aliran sungai di daerah selidikan dipengaruhi oleh jenis batuan yang dilewatinya. Jika sungai melewati daerah dengan batuan penyusun batuan beku maka sungainya tidak terlalu lebar dan berkelok-kelok (meander). Sedangkan jika aliran sungai melalui dataran rendah, dimana batuan penyusunnya aluvial maka aliran sungai bermeander. Terdapat air terjun yang tidak begitu besar yaitu di daerah Pongkar, bagian barat daerah selidikan, yang dijadikan obyek wisata oleh masyarakat setempat

4.1.2 Tata Guna Lahan dan Vegetasi Berdasarkan peta Rupa Bumi Indonesia (Bakosurtanal, 1992) dan pengecekan lapangan, penggunaan lahan di daerah penyelidikan adalah sebagai berikut (Gambar 3.) :

Kawasan pertanian lahan kering Daerah pertanian lahan kering terdapat di pedataran bergelombang, pada jenis tanah alluvial atau soil hasil pelapukan granit. Status

hara tanah yang dievaluasi secara umum dengan penafsiran sifat-sifat kimia tanah yang dianalisis dari sampel komposite lapisan atas (0 - 30 cm) dan 30 - 60 cm. dari analisis tersebut didapatkn data sebagai berikut : Reaksi tanah di areal pertanian lahan kering pada lapisan 0 - 30 cm dan 30 - 60 cm, sangat masam (pH 3.5 - 4.0).

Kandungan C-organik pada lapisan 0 - 30 cm rendah sampai sedang, pada 30 - 60 cm., sangat rendah P2O5 total pada kedua lapisan bervariasi dari rendah sampai

sedang. Kandungan K2O total rendah sampai sedang (6 - 23 mg/100g) 14

Nilai kejenuhan basa (KB) sangat rendah (1 - 3%). Secara garis besar daerah pertanian lahan kering ditumbuhi

komunitas hutan dan komunitas kebun karet. Dari beberapa sampel pengamatan diketahui beberapa jenis pohon telah tumbuh di lokasi ini seperti : petai, nangka, kelapa, mangga, rambutan, sawo dan lain lain. Luas daerah ini ditafsirkan sekitar 30 % dari total area yang berada di pesisir pantai.

Hutan lindung Hutan lindung menempati areal sekitar 10 % dari total penyebaran di daerah penyelidikan. Hutan ini menempati daerah sekitar G. Jantan dan G. Betina serta di daerah Karimun anak. dengan dominasi tanaman hutan primer seperti kandis hutan, jambu monyet, kayu tulang, membulan, teratai dan lain-lain.

Kawasan Resapan Air Kawasan resapan air menempati lereng-lereng perbukitan disebelah utara daerah penyelidikan, yang menempati sekitar 30 % dari total area. Kawasan ini meropakan reservoar terbuka, tersusun oleh litologi pasir hingga lanau. kawasan ini berfungsi sebagai resapan air hujan, yang akan diteruskan menuju bawah permukaan, sehingga akan akan muncul sebagai air tanah atau mata air di daerah yang lebih rendah. Kawasan ini sangat penting untuk dijaga kelestariannya, dengan jalan reboisasi hutan.

Hutan Bakau Hutan bakau melampar luas disepanjang pantai timur dan selatan daerah penyelidikan, sekitar 30% dari seluruh total daerah

penyelidikan. Hutan ini berfungsi baik untuk menahan abrasi gelombang laut , menahan sedimentasi laut dari daratan serta 15

menjaga intrusi air laut terhadap muka air tanah. Dari hasil observasi terhadap komunitas mangrove yang terdapat di stasiun-stasiun pengamatan terdapat sekitar 15 jenis pohon bakau yang tergolong dalam 9 famili. Jenis-jenis pohon bakau yang dijumpai adalah sebagai berikut : Rhizophoraceae, Tancang, Tinggi, Meliaceae, Belah hulu, Sonneratiaceae, Bogem, Comretaceae, Teruntum, Euphorbiaceae, dan lain-lain. Pengamatan terhadap mangrove yang terletak disebelah barat P. Karimun dan utara P. Parit, menunjukkan bahwa kondisi

hutan bakau masih relatif baik dengan dominasi vegetasi jenis Sonneratia alba, Rhizophora apiculata dan Xylocarpus granatum. Secara umum diameter pohon berkisar 5 - 20 cm, dengan ketinggian maksimum sekitar 15 meter. Ketebalan hutan mangrove dari tepi perairan ke arah daratan cukup variatif, dapat mencapai ketebalan 150 meter. ketebalan hutan bakau kurang dari 150 meter terutama ditemukan di lokasi-lokasi yang telah dibuka untuk pemukiman. Dibelakang mangrove, tumbuhan jenis-jenis vegetasi yang merupakan asosiasi vegetasi pantai dan vegetasi darat. Jenis-jenis vegetasi bakau, belah hulu dan buta-buta berasosiasi dengan jenis-jenis waru laut, pandan laut dan pakis laut.

Kawasan Industri Terpadu Kawasan industri terpadu terdapat di bagian barat laut daerah selidikan yaitu daerah Teluk Semamal, Teluk Paku, Teluk Semamal, P. Asam, dan P. Mudu. Industri yang ada antara lain : PT. Karimun Granit, pertambangan granit yang dilengkapi pelabuhan bongkar muat batu granit.

PT. Riau Timas, penambangan granit dan pelabuhan bongkar muat. PT. Pratama Riau di P. Asam, penambangan pasir darat beserta pelabuhan bongkar muatnya. PT. Karimun Indojaya Corporation, pelabuhan dan galangan kapal 16

untuk reparasi kapal dalam negeri serta pembuatan kapal baru baik sipil ataupun militer. Frekuensi lalu lintas kapal yang melalui Selat Malaka menuju Laut Cina Selatan sangatlah padat, setiap bulannya rata-rata sekitar 4220 untuk kapal berbendera nasional dan 2270 untuk kapal berbendera asing sehingga keberadaan pelabuhan alternatif tersebut sangat penting.

Kawasan Pariwisata Kawasan pariwisata yang ada meliputi daerah-daerah : Tanjung Melolo sampai Tanjung Jepun di bagian barat daya, merupakan daerah wisata teluk dengan pantai berpasir putih. Di daerah wisata ini dikenal dengan nama Pantai Pelawan. Daerah Tanjungbalai, daerah di sekitar pelabuhan laut, tempat jalur keluar dan masuk ke P. Karimun Besar. Daerah Pongkar, di bagian timur laut daerah selidikan, terdapat tempat wisata Air Terjun Pongkar.

4.1.3 Pemukiman dan Transportasi Secara keseluruhan luas wilayah Kecamatan Karimun adalah 1.627 km2, yang terdiri dari 275 km2 luas wilayah daratan dan 1.352 km2 lautan. Secara administratif pemerintahan Kecamatan

wilayah

Karimun terbagi atas 5 wilayah desa dan 3 kelurahan.

Keseluruhannya merupakan desa dan kelurahan pantai, dengan status perkembangan sebagai desa dan kelurahan swasembada. Pusat pemerintahan Kecamatan Karimun ini adalah Tanjung Balai Karimun sehingga pemukiman masyarakat terakumulasi pada kota ini.

17

Gambar 3. Peta tata guna lahan daerah P. Karimun Besar dan sekitarnya

18

Menurut catatan pada tahun 1990 jumlah penduduk di Kecamatan Karimun adalah 66.359 jiwa atau 12.722 KK sehingga angka kepadatan penduduk adalah 241 jiwa/km2 (Bappeda dan Kantor

Statistik Kab. Kepulauan Riau, 1991). Sebaran desa-desa lain terdapat di sepanjang jalan raya yang mengelilingi P. Karimun dan biasanya berada di dataran rendah dan dekat dengan pantai, seperti Desa Meral di sebelah barat, merupakan kota dengan pelabuhan laut nelayan, Desa Teluk Uma dan Pongkar di sebelah timur. Semakin ke arah utara makin jarang terdapat pemukiman.

Sarana transportasi yang tersedia berupa jalan beraspal mengelilingi P. Karimun terawat dengan baik tetapi masih kurang adanya papanpapan penunjuk arah tujuan. Jalan ini juga digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang menambang granit untuk mengirimkan hasilnya ke pelabuhan. Angkutan umum seperti bus, taksi, motor ojek, dan angkutan kota jumlahnya sekitar 200 buah. Tidak semua angkutan umum melalui daerah di sekeliling P. Karimun terutama di daerah utara sangat jarang kendaraan umum, hanya ada 3 bus dan 3 buah taksi yang rutenya berakhir di Teluk Paku, keadaan ini menyulitkan masyarakat setempat untuk bepergian ke ibukota kecamatan atau desa-desa lainnya.

4.1.4 Karakteristik Pantai Karakteristik pantai daerah P. Karimun Besar dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu pantai berpasir, pantai berbakau, dan pantai bertebing (Gambar 4). Pantai Berpasir Pantai berpasir dicirikan oleh pantai yang ditutupi oleh pasir dengan sudut kelerengan landai. Bagian berm pantai jenis ini umumnya ditumbuhi oleh vegetasi pantai. Sedimen pantai berupa pasir 19

berwarna kuning sampai kuning kecoklatan, berukuran halus hingga kasar, terpilah sedang sampai baik dan tersusun oleh kuarsa (70%90%), fragmen batuan ( 5%- 10%), cangkang (5%- 10%) dan mineral hitam (1%-5%). Batuan di daerah ini disusun oleh satuan batuan Granit Karimun berwarna merah muda dan jarang ditemukan megakristal muskovit dan K-Feldspar, serta batuan metasedimen yang diwakili oleh Formasi Malarco, Formasi Papan, dan Formasi Bintang. Pantai jenis ini dijumpai di daerah berelief sedang hingga tinggi, yaitu P. Karimun Anak, daera Pedas hingga Pelambung, dan daerah Pangke. pantai berpasir secara umum mengalami perubahan positif, yaitu garis pantai menuju ke arah laut. Hal ini disebabkan rejim arus laut sejajar pantai yang dominan berasal dari angin barat yang membawa sedimen untuk diendapkan di sekitar pantai. Fenomena ini memperkuat tafsiran bahwa penyebaran pantai berpasir banyak ditemukan pada pantai yang berada di sebelah barat daerah selidikan.

Gambar 4. Peta karakteristik pantai daerah P. Karimun Besar 20

Pantai Bertebing Pantai bertebing mempunyai karakter batuan penyusun granit dan metasedimen dengan tingkat konsolidasi dan resistensi yang sangat tinggi, pada tempat-tempat tertentu membentuk tanjung. Morfologi berelief tinggi dan dibeberapa tempat ditemukan jatuhan batuan akibat pengaruh abrasi. Pantai jenis ini relatif stabil, kalaupun terjadi perubahan garis pantai ke arah dataran lebih banyak disebabkan karena aktifitas pertambangan bahan galian golongan C yang tumbuh subur di daerah ini. Pantai Berbakau Pantai berbakau banyak dijumpai di sebelah timur dan selatan daerah selidikan, yaitu di sekitar P. Parit, P. Tulang dan P. Lumut serta sebagian kecil di sebelah barat P. Karimun Besar. Penyebaran pantai berbakau dikontrol oleh morfologi rawa dan endapan pantai, yang berelief rendah. Pantai jenis ini cenderung mengalami abrasi. Hal ini disebabkan oleh penebangan bakau serta sifat alami sedimen pantai yang belum terkonsolidasi.

4.2 Oseanografi

A.

Dinamika Proses Pantai Daerah selidikan secara geografis merupakan daerah pesisir pantai Pulau Karimun Besar yang berhadapan dengan Selat Malaka. Kondisi pantainya umumnya menunjukan suatu proses yang berlangsung secara alami sejalan dengan siklus musim di daerah tersebut. Di

bagian selatan daerah selidikan merupakan kawasan pelabuhan bongkar muat dan penyeberangan (ferry) yang dipusatkan di Tanjung Balai, sedangkan di bagian barat merupakan kawasan wisata yang telah berkembang. Daya tarik lingkungan pantai di daerah selidikan ini 21

ditunjang oleh beberapa faktor antara lain keadaan morfologi pantai yang tersusun atas endapan pasir hampir di sepanjang pantai daerah selidikan. Sedangkan pengaruh proses oseanografi di beberapa tempat cukup besar walaupun kawasan ini merupakan perairan semi tertutup terutama di bagian barat daerah selidikan. Pengaruh

komponen arus pasang surut relatif berpengaruh pada perairan tertutup seperti di Selat Gelam, demikian pula pola komponen arus sepanjang pantai yang ditimbulkan oleh energi gelombang. Berdasarkan hasil penyelidikan ini ada beberapa lingkungan pantai yang mengalami proses erosi musiman seperti yang dijumpai di bagian timur daerah penyelidikan. Sedangkan proses sedimentasi umumnya terdapat di bagian barat dan timur daerah selidikan yang mana proses sedimentasi ini sangat berkaitan dengan energi gelombang pasang. Endapan pasir tersebut di beberapa lokasi sangat menguntungkan terutama untuk melindungi pantai dari energi

gelombang dan sebagai penunjang obyek wisata pantai. Namun untuk kawasan alur pelayaran endapan pasir/lumpur telah mempersempit manuver kapal mendekati pelabuhan. Kondisi ini sangat mengganggu aktifitas pelayaran terutama pada saat keluar masuk kapal-kapal penyeberangan (ferry). Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas telah dilakukan pemetaan kedalaman (sounding) dan analisis parameter oseanografi.

B.

Analisis Perubahan Lingkungan Pantai Berdasarkan hasil penyelidikan, kawasan lingkungan pantai telah banyak mengalami perubahan sejalan dengan aktifitas manusia di kawasan tersebut. Aktifitas ini berupa pengambilan bahan galian golongan C yang umumnya telah merusak kawasan lingkungan pantai. Jika di lihat dari hasil analisis energi gelombang total menunjukan bahwa secara umum kawasan pantai Pulau Karimun Besar, relatif kecil mengalami perubahan garis pantai yang

diakibatkan oleh energi gelombang, kondisi ini ditunjukan oleh nilai 22

energi fluks yang relatif kecil (Gambar 5). Abrasi pantai diperkirakan berlangsung hanya pada saat-saat air pasang maksimum yang diperkuat oleh kondisi klimatologi daerah setempat. Lingkungan pantai yang cenderung mengalami proses abrasi yang relatif besar adalah kawasan pantai Tanjung Sebatak, sedangkan yang mengalami proses sedimentasi terbesar yaitu bagian utara Tanjung Melolo, kawasan pantai Pongkar dan Sungai Ayam. Hasil analisis data angin selama 5 tahun menunjukan bahwa komponen angin dari arah Selatan (S) dan Timur laut (NE) lebih

dominan membangkitkan energi gelombang serta mempengaruhi siklus sedimentasi dan abrasi di kawasan tersebut (Tabel 1). Sedangkan arah pergerakan sedimen permukaan sepanjang pantai cenderung ke arah Barat laut dari Pelabuhan TanjungBalai Karimun (Gambar 6).

4.3 Geofisika Penyelidikan geofisika yang dilakukan ialah pemeruman (sounding) untuk mengetahui kedalaman dasar laut. Pemeruman dilakukan di sekitar perairan P. Karimun Besar. Hasil pemeruman diproses dengan komputer dan hasil akhir berupa peta kedalaman dasar laut atau yang disebut dengan peta batimetri. Kedalaman laut yang terukur berkisar antara 5 - 30 m. Daerah perairan yang mempunyai kedalaman laut 5 m biasanya tidak begitu jauh dari garis pantai. Sedangkan daerah dengan kedalaman laut 20 m sampai 30 m terdapat di sebelah barat dan timur perairan P. Karimun Besar, di mana sebelah barat berbatasan dengan Selat Malaka sedang di sebelah timur dengan Selat Durian. Morfologi dasar laut umumnya landai kecuali di sebelah selatan P. Karimun Besar, daerah Selat Gelam, mempunyai morfologi yang sedikit terjal dicirikan dengan adanya kontur-kontur batimetri yang rapat (Gambar 7).

23

Gambar 5. Kurva energi fluks gelombang total perairan pantai Tanjung Balai Karimun

24

Gambar 6. Peta Pergerakan Sedimen Permukaan Daerah Perairan Karimun Besar dan sekitarnya

25

Peta batimetri tersebut dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi bagi penyelenggara objek wisata di daerah-daerah mana saja yang aman atau berbahaya untuk kegiatan berenang atau menyelam setelah dipadukan dengan data-data lain seperti data arus, gelombang, angin, dan parameter lainnya. 4.4 Geologi 4.4.1 Citra Satelit Citra satelit adalah gambaran permukaan bumi yang difoto dengan menggunakan satelit. Satelit yang digunakan disini adalah Satelit Landsat 5TM 1997. Hasil pemotretan tersebut berupa citra yang

kemudian diolah sehingga menjadi data digital. Data digital ini bisa berbentuk berwarna atau hitam putih sesuai dengan Band yang digunakan. Band adalah panjang gelombang sinar pantul dari permukaan bumi akibat terkena sinar matahari yang kemudian direkam oleh satelit. Dengan menggabungkan atau memisahkan Band dapat ditafsirkan perbedaan-perbedaan citra untuk berbagai sungai,

permukaan bumi, seperti perbedaan ketinggian, vegetasi,

laut, danau, danau buatan, kejernihan air, kampung, dan lain-lain. Hasil pengolahan data digital untuk P. Karimun Besar dan sekitarnya menunjukkan bahwa terlihat adanya citra yang dapat ditafsirkan sebagai pola arus berarah barat daya-timur laut di sekitar Selat Gelam. Gambaran citra bagian utara P. Karimun Besar tidak dapat terlihat dengan jelas karena tertutup oleh awan yang ditandai dengan citra berwarna abu-abu (Gambar 8). Dengan cara yang sama, citra tersebut dapat diklasifikasikan menjadi mangrove, lahan terbuka akibat galian, kejernihan air laut, dan lokasi air tawar. Mangrove biasanya berada di pesisir pantai ditunjukkan dengan citra berwarna gelap. Lahan terbuka akibat galian biasanya ditunjukkan dengan citra terang. Setelah dicek di lapangan, lahan terbuka ini ternyata akibat lahan-lahan terbuka penambangan granit dan bekas-bekas galian yang ditinggalkannya dalam proses reklamasi 26

Gambar 7. Peta batimetri daerah Perairan Karimun Besar

27

serta lahan-lahan pertanian rakyat.

Air laut yang jernih ditandai

dengan citra berwarna gelap karena air laut ini menyerap sinar matahari. Pada beberapa bagian air laut ini ditandai berwarna terang akibat adanya kandungan sedimen suspensi di dalamnya. Lokasi akumulasi air tawar dapat ditafsirkan dari citra berwarna gelap di daerah daratan (Gambar 9).

4.4.2 Pengambilan Contoh Sedimen Dasar Laut Pengambilan contoh sedimen dasar laut menggunakan alat yang disebut Grab Sampler berukuran kecil. Contoh yang diperoleh

berjumlah 33 contoh yang kemudian di analisa berdasarkan besar butirnya (Gambar 10). SEBARAN SEDIMEN Berdasarkan hasil analisis besar butir, secara tekstural sedimen

permukaan dasar laut di daerah perairan P. Karimun Besar, Riau, dapat dibagi menjadi 9 satuan sedimen : Lanau, Lanau Pasiran,

Lumpur Pasiran sedikit Kerikilan, Pasir sedikit Kerikilan, Pasir Lumpuran sedikit Kerikilan , Kerikil Pasiran, Pasir, Lumpur Kerikilan, dan Kerikil. Sebaran masing-masing satuan sedimen tersebut disajikan pada peta sebaran sedimen permukaan dasar laut (Gambar 11). Lanau Sebaran satuan sedimen ini menempati perairan sebelah timur dan barat daya P. Karimun Besar pada kedalaman yang dangkal di

pinggiran pantai hingga lebih dari 14 m pada daerah lepas pantai. Secara megaskopik, sedimen ini berwarna abu-abu pucat (olive gray 5Y 4/2) hingga abu-abu kecoklatan (grayish brown 2,5 Y 5/2), mengandung serat-serat kayu berukuran halus berwarna hitam. Satuan sedimen ini tersusun oleh fraksi lanau berkisar antara 92,8 % 98,8 %, pasir antara 0,1 % - 1,6 %, dan lempung antara 1,1 % - 6,7 %.

28

Lanau pasiran Sebaran satuan sedimen ini menempati perairan sekitar pantai antara Tg. Bulukasap dan Telukama pada kedalaman < 10 m. Secara megaskopik sedimen ini berwarna abu-abu kecoklatan (grayish brown 2,5Y 5/2), mengandung fragmen cangkang moluska antara 20 % - 45 %. Satuan ini tersusun oleh fraksi lanau berkisar antara 60,0 % - 81 %, pasir antara 17,3 % - 38,4 %, dan lempung antara 1,0 % - 1,6 %. Lumpur pasiran sedikit kerikilan Satuan sedimen ini terdapat di perairan lepas pantai sebelah timur Tg. Rambut. Sebarannya tidak begitu luas pada kedalaman kurang dari 10 m. Secara megaskopik sedimen ini berwarna coklat keabu-abuan (dark grayish brown 2,5Y 4/2). Fraksi pasirnya terdiri dari kuarsa, mineral hitam, fragmen batuan, bentuk butir menyudut tanggung membundar, mengandung sedikit sekali fragmen cangkang moluska. Satuan sedimen ini tersusun oleh fraksi lumpur (lanau dan lempung) 55,7 %, pasir 44,1 % , dan kerikil 0,2 %. Pasir sedikit kerikilan Sebaran satuan sedimen ini terdapat di perairan lepas pantai sebelah timur Tg. Rambut, perairan sekitar pantai utara P. Parit, dan perairan utara P. Merak. Di sebelah timur Tg. Rambut, sebaran sedimen ini menempati perairan yang dangkal pada kedalaman 1 m hingga 7 m yang diduga merupakan bentuk morfologi gosong pasir pasir bawah laut yang memanjang dengan arah hampir utara - selatan. Secara megaskopik sedimen ini berwarna abu-abu terang ( light gray 5Y 7/2), terdiri dari kuarsa berkisar antara 50 % - 90 %, mineral hitam antara 5 % - 6 %, bentuk butir menyudut - membundar tanggung, terpilah sedang - buruk, mengandung fragmen cangkang moluska berkisar antara 4 % - 45 %. Satuan sedimen ini tersusun oleh fraksi pasir berkisar antara 89 % - 98,9 % dan kerikil antara 1,1 % - 11 %.

29

Gambar 8. Pola arus permukaan perairan P. Karimun Besar dan sekitarnya pada bulan Juni berdasarkan atas penafsiran data citra landsat tm th. 1997

30

Gambar 9. Klasifikasi tak terselia daerah P. Karimun Besar dan sekitanya berdasarkan atas data citra Landsat 5 TM tahun 1997

31

Pasir lumpuran sedikit kerikilan Sebaran satuan sedimen ini menempati perairan selatan P. Karimun Besar mulai dari daerah dangkal sekitar pantai hingga kedalaman lebih dari 15 m pada daerah lepas pantai. Secara

megaskopik,sedimen ini berwarna abu-abu pucat ( olive gray 5Y 4/2), setempat kandungan kuarsanya hingga mencapai 75 % berupa fraksi pasir dan kerikil,mineral hitam kurang dari 5 %, terpilah sangat buruk, bentuk butir menyudut - membundar tanggung, fragmen cangkang moluska dijumpai lebih dari 25 %, setempat terdapat fragmen kayu berwarna hitam dengan prosentase kurang dari 6 %.Satuan sedimen ini tersusun oleh fraksi pasir berkisar antara 48,4 % - 71,4 %, lumpur (lanau + lempung) antara 28,6 % - 48,9 %, dan kerikil antara 0,1 % 4,1 %.

Kerikil pasiran Sebaran satuan sedimen ini menempati perairan sekitar P. Merak dan perairan pantai utara P. Parit. Sedimen ini tersusun oleh fraksi kerikil berkisar antara 31,6 % - 92,3 % dan pasir antara 7,7 % - 68,4 %. Secara megaskopik, sedimen ini terdiri dari kuarsa dengan prosentase > 90 %, mineral hitam dan fragmen cangkang moluska umumnya kurang dari 5 %, terpilah buruk - sangat buruk, bentuk butir menyudut - membundar tanggung. Fraksi kerikil terdiri dari kuarsa dan fragmen pecahan kuarsit berwarna abu-abu terang hingga berwarna hitam. Fraksi pasir berwarna abu-abu pucat ( light olive gray 5Y 6/2) dan terdiri dari kuarsa sebagai penyusun utama.

Pasir Sebaran satuan sedimen ini terdapat di selatan P. Merak. Sedimen

ini tersusun oleh 100 % fraksi pasir, berwarna abu-abu pucat (light olive gray 5Y 6/2). Terdiri dari kuarsa lebih dari 90 %, mineral hitam 5 %, bentuk butir menyudut -menyudut tanggung, terpilah baik, fragmen 32

cangkang moluska lebih besar dari 5 %.

Kerikil Satuan sedimen ini terdapat secara lokal di utara Tg. Busung, P. Parit, tersusun oleh lebih dari 95 % fraksi kerikil dan fraksi pasir lebih dari 5 %. Secara megaskopik, sedimen ini berwarna abu-abu pucat (olive gray 5Y 5/2), terpilah sangat buruk, terdiri dari kuarsa 70 %, mineral hitam 15 %, dan lumpur 15%, bentuk butir menyudut tanggung membundar.

Lumpur kerikilan Satuan sedimen ini terdapat secara lokal di bagian tenggara P. Merak, tersusun oleh lumpur (lanau + lempung) 50 %, kerikil 28,6 %, dan pasir 21,3 %. Secara megaskopik sedimen ini berwarna abu-abu

pucat (olive gray 5Y 5/2), terdiri dari campuran lumpur, kerikil dan pasir, terpilah sangat buruk, fraksi pasir dan kerikil didominasi oleh kuarsa, terdapat fragmen kuarsit brukuran kerikil, sedikit sekali mineral hitam, bentuk butir menyudut - membundar tanggung. Secara keseluruhan, sedimen permukaan dasar laut di bagian timur P. Karimun Besar ini relatif homogen berupa endapan lanau dan lanau pasiran dimana komposisi fraksi lanau merupakan fraksi sedimen yang dominan sebagai penyusun sedimen tersebut, kecuali di perairan lepas pantai timur laut Tg. Rambut dimana terdapat daerah dangkal hngga kedalaman kurang dari 1 m yang merupakan morfologi gosong pasir bawah laut yang tersusun oleh endapan pasir sedikit kerikian. Lain halnya di bagian selatan pulau tersebut , yaitu di perairan Selat Gelam, sedimen permukaan dasar laut di perairan ini jauh lebih

bervariasi, dimana fraksi pasir dan kerikil lebih banyak dijumpai, bahkan fraksi-fraksi sedimen tersebut setempat merupakan fraksi sedimen sebagai penyusun utama seperti dalam satuan pasir 33

lumpuran sedikit kerikilan, pasir, pasir sedikit kerikilan, kerikil pasiran. Fraksi pasir dan kerikil dalam satuan-satuan sedimen tersebut

didominasi oleh mineral kuarsa, terutama dalam satuan pasir, kerikil pasiran, dan kerikil, kandungan kuarsanya lebuh dari 90 %. Tingginya kandungan kuarsa dalam satuan-satuan sedimen tersebut merupakan potensi sumberdaya mineral yang bisa digali industri ataupun sebagai material konstruksi. baik untuk bahan

MINERAL BERAT Untuk analisis mineral berat dari 33 contoh sedimen yang diperoleh, dipilih 11 contoh sedimen yang dianggap mewakili. Pemisahan mineral berat dilakukan dari fraksi 3 phi (pasir sangat halus) dari setiap contoh sedimen dengan menggunakan cairan Bromoform ( Bj = 2,87). Hasil pemisahan dan perhitungan

prosentase mineral berat dalam setiap contoh sedimen yang dianalisis disajikan dalam Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa pasir lumpuran sedikit

kerikilan umumnya memiliki kandungan mineral berat yang lebih tinggi dibanding satuan sedimen lainnya, yaitu KRN-28, KRN-31, dan KRN33 masing-masing kandungan mineral beratnya adalah 0,1 %, 0,068 %, dan 0,794 %. Prosentase 0,794 % tersebut merupakan kandungan mineral berat tertinggi yang diperoleh dari daerah selidikan yaitu terletak dekat pantai Tanjungbalai. Perolehan kandungan mineral berat dari satuan-satuan sedimen lainnya adalah sebagai berikiut : lanau pasiran (KRN-14) 0,017 %, lumpur pasiran sedikit

kerikilankandungan (KRN-04) 0,017 %, pasir sedikit kerikilan (KRN05) 0,087 %, lumpur kerikilan (KRN-24) 0,029 %, pasir (KRN-25) 0,013 %, kerikil pasiran (KRN-26) 0,111 %. Peta prosentase mineral berat dalam sedimen permukaan dasar laut disajikan pada Gambar 12. Mineral berat yang terdapat dalam sedimen permukaan dasar laut di 34

daerah selidikan berkisar antara 0,017 % - 0,794 %. Mineral berat hampir dijumpai dalam sebagian besar satuan sedimen. Tidak terdapatnya mineral berat dalam satuan kerikil dan lanau disebabkan karena sangat kecilnya fraksi sedimen 3 phi dalam satuan sedimen tersebut, sehingga tidak dilakukan analisis.

4.4.3 Geologi Teknik Pembuatan sumur uji rencananya akan dilakukan pada daerah pesisir pantai di kawasan pantai Tanjung Balai Karimun. Tetapi karena situasi yang tidak memungkinkan pada saat itu, maka pembuatan sumur uji tidak dilakukan sebagai gantinya dilakukan percontohan tanah dengan menggunakan Shelby Tube. Percontohan tanah atau sedimen yang diambil dengan Shelby Tube dilakukan dari singkapan batuan yang terletak di sekitar pantai sebelah timur Pelabuhan Tanjungbalai, yaitu pada koordinat

005920,9 LU dan 1032624,7 BT (Gambar 10). Singkapan batuan tersebut merupakan tebing curam pinggir pantai (cliff) dengan tinggi tebing 11 meter. Berdasarkan pengamatan lapangan, tebing tersebut merupakan singkapan batuan yang mengalami abrasi dan terdiri dari selang-seling antara lapisan lempung dan pasir. Proses abrasi yang terjadi disebabkan oleh sifat fisik batuan yang lunak dari lapisan lempung dan rapuh dari lapisan pasir. Percontohan dilakukan dengan memasukan tabung besi secara vertikal ke dalam lapisan lempung dan pasir setebal 20 cm.

Sebanyak 4 contoh diperoleh dengan metode tersebut, yaitu SBK-01 diperoleh dari kedalaman 9,4 - 9,6 meter dari lapisan lempung, SBK02 pada kedalaman 10,65 - 10,85 meter dari lapisan lempung, SBK-03 pada kedalaman 1,0 - 1,2 meter dari lapisan pasir, dan SBK-04 pada kedalaman 7,5 - 7,7 meter dari lapisan pasir. Kedalaman yang dihitung adalah dari puncak bukit dengan ketinggian 11 meter.

35

Keempat contoh sedimen tersebut masing-masing di analisa menurut Batas Konsistensi Attenberg yang meliputi analisis kadar air tanah dan batas cair/plastis serta Test Konsolodasi. Untuk Contoh SBK-03 dan SBK-04 tidak dilakukan analisis Batas Konsistensi Attenberg karena ukuran butirnya telah melebihi 0.4 mm ayakan (sieve) pada analisis besar butir. Pemerian litologi dan perhitungan Batas Konsistensi Attenberg dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil pengamatan megaskopis dan analisis kadar air tanah serta batas cair/plastis menunjukkan bahwa lapisan tanah di lokasi tersebut terdiri atas lapisan lempung dan pasir lempungan. Menurut Batas Konsistensi Attenberg, dari kedalaman 9,4 m sampai 9,6 m lapisan tanahnya bersifat kenyal (stiff) dan pada kedalaman 10,65 m sampai 10,85 m bersifat keras (hard).

Hasil Test Konsolidasi dapat dilihat pada Lampiran Hasil Test Konsolidasi untuk nilai kompresibilitas (mv), permeabilitas (k), dan nilai koefisien konsolidasi (Cv). Untuk contoh SBK-01 dan SBK-02 konsolidasi tanahnya bertumpu pada lempung sedangkan contoh SBK-03 dan SBK-03 bertumpu pada pasir lempungan. Grafik konsolidasi menunjukkan bahwa pada contoh SBK-01 dan SBK-02 mempunyai tingkat konsolidasi cenderung relatif lebih lamban dan penurunannya seragam atau tidak teratur. Sedangkan contoh SBK-03 dan SBK-04 mempunyai tingkat konsolidasi relatif lebih cepat dan penurunannya tidak seragam atau tidakteratur. Hasil kedua analisis tersebut di atas mempunyai kaitan yang erat dengan peletakkan pondasi dangkal guna perencanaan

pembangunan. Jika ingin membuat bangunan pada lapisan lempung ini, harus dipertimbangkan mengenai tipe pondasinya karena pada lapisan lempung ini tingkat konsolidasinya cenderung sangat lamban, teratur, dan merata karena sifat plastis dan mengembang (swelling) yang merupakan ciri lempung, juga perlu diperhitungkan unsur-unsur

36

organik yang terkandung didalamnya. Sedangkan pada lapisan pasir lempungan cenderung akan terjadi pelesakan karena tingkat

kerapatannya.

Untuk lebih lengkapnya perlu dilakukan test yang

lainnya seperti SPT (Standard Penetration Test), uji permeabilitas, perolehan tanah asli (undisturb sample), dan analisis mekanika tanah lebih lanjut.

Gambar 10. Lokasi Percontohan sedimen daerah perairan P. Karimun Besar dan sekitarnya

37

Gambar 11. Peta sebaran sediment permukaan dasar laut daerah perairan Karimun Besar dan sekitarnya

38

Gambar 12. Peta kandungan mineral berat daerah perairan Karimun Besar dan sekitarnya

39

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Secara keseluruhan luas wilayah Kecamatan Karimun adalah 1.627 km2, yang terdiri dari 275 km2 luas wilayah daratan dan 1.352 km2 wilayah lautan. Secara administratif pemerintahan Kecamatan Karimun terbagi atas 5 wilayah desa dan 3 kelurahan. Pusat pemerintahan Kecamatan Karimun adalah TanjungBalai Karimun. Menurut catatan pada tahun 1990 jumlah penduduk di Kecamatan Karimun adalah 66.359 jiwa atau 12.722 KK sehingga angka kepadatan penduduk adalah 241 jiwa/km2. Sarana

transportasi yang tersedia berupa jalan beraspal cukup memadai. Jalan raya tersebut mengelilingi P. Karimun dan terawat dengan baik. Angkutan t yang tersedia adalah bus, taksi, motor ojek dan angkutan kota.

Wilayah P. Karimun Besar dapat dibagi menjadi dua bentukan bentang alam, yaitu bentuk bentang alam dataran rendah dan perbukitan terjal.

Penggunaan lahan daerah penyelidikan adalah untuk kawasan pertanian lahan kering, hutan lindung, kawasan resapan air, hutan bakau, kawasan industri terpadu, dan kawasan pariwisata.

Karakteristik pantai daerah P. Karimun Besar dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu pantai berpasir, pantai berbakau, dan pantai bertebing.

Secara umum kawasan pantai Pulau Karimun Besar, relatif kecil mengalami perubahan garis pantai yang diakibatkan oleh energi gelombang, kondisi ini ditunjukan oleh nilai energi fluks yang relatif kecil.

40

Abrasi pantai diperkirakan berlangsung hanya pada saat-saat air pasang maksimum yang diperkuat oleh kondisi klimatologi daerah setempat. Lingkungan pantai yang cenderung mengalami proses abrasi yang relatif besar adalah kawasan pantai Tanjung Sebatak, sedangkan yang mengalami proses sedimentasi terbesar yaitu bagian utara Tanjung Melolo, kawasan pantai Pongkar dan Sungai Ayam.

Analisis data angin selama 5 tahun menunjukan bahwa komponen angin dari arah selatan (S) dan timur laut (NE) lebih dominan membangkitkan energi gelombang serta mempengaruhi siklus sedimentasi dan abrasi di kawasan tersebut. Sedangkan arah pergerakan sedimen permukaan sepanjang pantai cenderung ke arah barat laut dari Pelabuhan Tanjung Balai Karimun.

Kedalaman laut yang terukur berkisar antara 5 - 30 m. Morfologi dasar laut umumnya landai kecuali di sebelah selatan P. Karimun Besar, daerah Selat Gelam, mempunyai morfologi yang sedikit terjal dicirikan dengan adanya kontur-kontur batimetri yang rapat.

Pengolahan data digital P. Karimun Besar dan sekitarnya menunjukkan bahwa adanya citra yang dapat ditafsirkan sebagai pola arus berarah barat daya-timur laut di sekitar Selat Gelam, kawasan mangrove, daerah galian, kejernihan air laut, dan genangan air tawar. Gambaran citra bagian utara P. Karimun Besar tidak dapat terlihat dengan jelas karena tertutup oleh awan yang ditandai dengan citra berwarna putih.

Secara keseluruhan, sedimen permukaan dasar laut di bagian timur P. Karimun Besar ini relatif homogen berupa endapan lanau dan lanau pasiran dimana komposisi fraksi lanau merupakan fraksi sedimen yang dominan sebagai penyusun sedimen tersebut, kecuali di perairan lepas 41

pantai

timur laut Tg. Rambut dimana terdapat daerah dangkal hingga

kedalaman kurang dari 1 m yang merupakan morfologi gosong pasir bawah laut yang tersusun oleh endapan pasir sedikit kerikian.

Di perairan Selat Gelam,

sedimen permukaan dasar lautnya jauh lebih

bervariasi, dimana fraksi pasir dan kerikil lebih banyak dijumpai, bahkan fraksi-fraksi sedimen tersebut setempat merupakan fraksi sedimen sebagai penyusun utama seperti dalam satuan pasir lumpuran sedikit kerikilan, pasir, pasir sedikit kerikilan, kerikil pasiran. Fraksi pasir dan kerikil dalam satuansatuan sedimen tersebut didominasi oleh mineral kuarsa, terutama dalam satuan pasir, kerikil pasiran, dan kerikil, kandungan kuarsanya lebih dari 90 %. Tingginya kandungan kuarsa dalam satuan-satuan sedimen tersebut

merupakan potensi sumberdaya mineral yang bisa digali baik untuk bahan industri ataupun sebagai material konstruksi. Mineral berat yang terdapat dalam sedimen permukaan dasar laut di daerah selidikan berkisar antara 0,017 % - 0,794 %. Mineral berat hampir dijumpai dalam sebagian besar satuan sedimen.

Lapisan tanah pada lokasi pengambilan contoh Shelby Tube terdiri atas lapisan lempung dan pasir lempungan. Lapisan tanah pada kedalaman 9,4 m sampai 9,6 m bersifat kenyal (stiff) dan pada kedalaman 10,65 m sampai 10,85 m bersifat keras (hard). Grafik konsolidasi menunjukkan bahwa pada contoh SBK-01 dan SBK-02 mempunyai tingkat konsolidasi cenderung relatif lebih lamban dan penurunannya seragam atau teratur. Sedangkan contoh SBK-03 dan SBK-04 mempunyai tingkat konsolidasi relatif lebih cepat dan penurunannya tidak seragam atau tidak teratur.

42

5.2. Saran Peranan kegiatan terpadu industri perkapalan yang terletak daerah Semamal, Teluk Paku dan Teluk Setimbul yang dikelola oleh PT. Karimun Indojaya Corporation meliputi kegiatan pembuatan kapal-kapal baru baik untuk sipil ataupun militer dan reparasi kapal dalam negeri perlu terus ditingkatkan karena : Terletak pada topografi yang relatif landai dengan kemiringan 2 - 3% dan pada daerah teluk sehingga merupakan daerah aman. Terhalang oleh dua pulau yaitu P. Mudu di bagian selatan dan P. Asam di bagian utara, sekitar 2 mil laut dari P. Karimun Besar, gelombang yang datang tidak terlalu besar. Kedalaman laut lebih kurang 30 m dengan bentuk batimetri sederhana membentang sejajar dengan garis pantai P. Karimun Besar. Sebagai pelabuhan alternatif dan dapat bersaing dengan pelabuhan Singapura. sehingga

Jika P. Karimun Besar hendak dijadikan obyek pariwisata terdapat beberapa hal yang harus di benahi, yaitu: Papan penunjuk arah perjalanan masih harus ditambah. Sarana angkutan umum terutama menuju daerah wisata perlu ditambah. Pembangunan infrastruktur di daerah-daerah wisata. Kerjasama antar pemerintah daerah setempat dan masyarakat perlu ditingkatkan.

43

DAFTAR PUSTAKA

Cameron, N.R., Ghazali, S.A. and Thompson, S.J., Geologi Lembar Bengkalis dan Siak Sri Indrapura-Tanjungpinang, Sumatra, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, 1982. Folk, R.L., Petrology of Sedimentary Rocks, Hemphitl Publishing Company, Austin, Texas, 1980. Subarkah, Imam, Teknik Pondasi Suatu Ikhtisar Praktis, Idea Dharma, Bandung, 1996. Terzaghi, Karl, Ralph, B. Peck, Soil Mechanics in Engineering Practice, John Wiley and Sons, Inc., USA, 1948. Shirley, L.H., Ir., Penuntun Praktis Geoteknik dan Mekanika Tanah, Nova, Bandung, 1987.

44