Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH INDUSTRI ASAM ASETAT

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Proses Industri Kimia 1 Dosen : Ir. Emmanuela MW

Disusun oleh: Kelompok III Diani Din Pertiwi Miman Munandar Nora Zahara Rifky Rachmansyah Kelas: 3A-TKPB (101424009) (101424022) (101424024) (101424026)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Era perdagangan bebas yang dilaksanakan di sebagian besar negara-negara

berkembang dan maju akan menimbulkan persaingan di berbagai sektor industri. Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut dalam kesepakatan itu sedang berusaha memacu perkembangan berbagai industri baik sektor hulu maupun hilir. Pembangunan industri ditujukan untuk memperkokoh struktur ekonomi nasional dengan keterkaitan yang kuat antar sektor, meningkatkan daya tahan perekonomian nasional, memperluas lapangan kerja, meminimalisir ketergantungan akan dana luar negeri dan impor melalui peningkatan produksi ekspor sekaligus mendorong berkembangnya berbagai bidang pembangunan lainnya. Pemerintah dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani perkembangan sektor industri dalam negeri. Bidang industri yang banyak menarik perhatian adalah pengembangan dan pembangunan industri kimia dasar. Industri ini sangat penting peranannya mengingat negara kita masih mengimpor sebagian besar bahan kimia tersebut dikarenakan produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tidak mencukupi. Asam asetat merupakan salah satu bahan kimia yang diimpor oleh Indonesia dari beberapa negara. Selama beberapa kurun waktu terakhir, kebutuhan asam asetat cenderung mengalami kenaikan mengingat penggunaannya yang luas antara lain untuk keperluan rumah tangga dan juga digunakan oleh industri yang memproduksi berbagai jenis ester dan zat-zat warna propanon. Pertimbangan kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, di samping untuk mengurangi pengeluaran devisa negara dengan mengimpor terus-menerus maka dianggap layak untuk mendirikan pabrik asam asetat ini di Indonesia sebagai salah satu aset yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan pasar.

Pendirian pabrik asam asetat dengan penggunaan proses dan teknologi yang lebih baik dari sebelumnya diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam bidang perindustrian di Indonesia. Tampil lebih baik adalah komitmen dasar yang harus selalu diperhatikan agar dapat selalu lebih maju kedepan, selain tentunya tidak lepas dari tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik yang ada. Diharapkan cita-cita untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dapat semakin dekat kita capai dan raih melalui pengembangan industri-industri dalam negeri yang dikelola secara baik melalui pendirian pabrik-pabrik yang baru.

1.2

Tujuan Penyusunan Adapun tujuan yang ingin kami capai dalam penyusunan makalah ini yaitu

sebagai berikut: 1) Mengetahui sejarah pembuatan asam asetat 2) Mengetahui bahan baku utama dan penunjang dalam pembuatan asam asetat 3) Mengetahui sifat dan karakteristik bahan baku serta produk 4) Mengetahui beberapa proses produksi dari asam asetat skala industri 5) Mengetahui bahaya asam asetat di industri 6) Mengetahui manfaat serta aplikasinya

1.3

Rumusan dan Pembatasan Masalah Dari latar belakang yang telah kami kemukakan di atas, maka kami merumuskan beberapa masalah yang perlu dibahas, di antaranya yaitu: 1) Bagaimana sejarah pembuatan asam asetat? 2) Apa saja bahan baku utama dan penunjang dalam pembuatan asam asetat? 3) Apa saja sifat dan karakteristik bahan baku serta produk? 4) Bagaimana proses produksi asam asetat? 5) Apa saja bahaya asam asetat di industri? Agar dalam makalah ini tidak terjadi perluasan masalah, maka kami membatasi dan menekankan permasalahannya mengenai asam asetat di industri.

1.4

Manfaat Penyusunan Dalam setiap permasalahan yang dihadapi, termasuk permasalahan di atas,

pasti akan terkandung beberapa hikmah yang dapat kita petik. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

1.5

Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini, metode penelitian yang digunakan untuk

mengumpulkan data dan keterangan dalam permasalahan ini adalah dengan metode pustaka, yakni mempelajari masalah dengan bersumberkan pada litelatur, teori, buku, dan internet.

1.6

Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari empat bab, diantaranya: BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini, kami menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan penyusunan, rumusan dan pembatasan masalah, , manfaat penyusunan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II KAJIAN TEORI Pada bab ini kami memaparkan teori tentang sistem air pendingin. BAB III PEMBAHASAN Pada bab ini kami membahas dan menjawab rumusan masalah yang ada. BAB IV PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Sejarah dan Perkembangan Asam Asetat Asam asetat yang lebih sering dikenal sebagai asam cuka merupakan salah satu golongan asam karboksilat yang telah dikenal sejak lama dari zaman dahulu dan masih banyak digunakan sampai saat ini. Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastos menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam membentuk berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris, yaitu suatu zat hijau campuran dari garam-garam tembaga dan mengandung tembaga (II) asetat. Bangsa Romawi menghasilkan sapa, sebuah sirup yang amat manis, dengan mendidihkan anggur yang sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat manis yang disebut juga gula timbal dan gula Saturnus. Akhirnya hal ini berlanjut kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat Romawi. Pada zaman dahulu asam setat telah dapat dibuat dengan proses yang secara ilmiah disebut Proses Orkana. Ini adalah proses pertama yang digunakan oleh Schutzenbach dengan melakukan oksidasi pada minuman yang berisi alkohol menggunakan oksigen dari udara memanfaatkan bantuan bakter-bakteri. Eksperimen ini mengawali pembuatan asam asetat pada zaman sekarang dengan menggunakan proses destilasi kayu kering dengan menggunakan katalis H2SO4. Proses inilah yang nantinya akan menghasilkan asam asetat biasa yang disebut dengan asam cuka kayu (wood acetic acid). Ilmu yang lebih sempurna untuk proses pembuatan asam asetat di antaranya adalah Oksidasi Asetaldehid yang dilakukan pada kondisi tekanan 15 atmosfir (15 atm) dan temperatur 200oC dengan adanya penambahan katalis. Proses lain yaitu Oksidasi Butana. Proses ini dilakukan pada tekanan 3,5 atmosfir (3,5 atm) dan temperatur 120 oC. Proses ini juga menggunakan bantuan katalis dan berlangsung dalam fase gas.

Proses lain yaitu Oksidasi Etana. Proses ini merupakan proses yang cukup baru dikembangkan dalam proses pembuatan asam asetat. Proses ini mereaksikan etana dengan oksigen pada reaktor multitubular pada 1-50 bar dan temperatur 150-500oC dengan penambahan katalis. Selain itu, asam asetat juga dpat dibuat melalui proses karbonilasi metanol yang pertama kali diaplikasikan pada tahun 1963 dengan proses BASF dan proses Mosanto pada tahun 1968.

2.2

Pengertian Asam Asetat Asam asetat telah diketahui manusia selama berabad-abad. Kemungkinan besar

bahwa itu ditemukan tidak sengaja selama proses pembuatan anggur. Ketika proses fermentasi adalah jus buah dibiarkan terlalu lama, anggur spontan bentuk cuka, encer bentuk asam asetat. Akibatnya, asam asetat namanya berasal dari acetum kata Latin yang berarti cuka. Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16,7C. Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.

2.3

Industri Asam Asetat Industri asam asetat merupakan salah satu industri kimia yang berprospek di

Indonesia. Kebutuhan asam asetat di dalam negeri terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan oleh industri penggunanya. Berdasarkan pada penggunaan asam asetat Indonesia sampai tahun 2000, industri PTA ( Purified Terepthalic Acid ) merupakan pengkonsumsi asam asetat terbesar yaitu sekitar 59,1 % dari 139.242 ton total asam asetat yang dikonsumsi ( PT CIC, Indochemical 330, hal 20 ). Konsumsi industri PTA pada tahun 2005 diproyeksikan mencapai kurang lebih 54,1 % dari 194.025 ton total konsumsi asam asetat di Indonesia. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati. Konsumsi asam asetat menurut sektor industri dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1.2. Total Konsumsi Asam Asetat di Indonesia 1996 2000
Konsumsi Asam Asetat ( ton ) Konsumen 1996 Industri PTA Industri Ethyl Acetat Industri Benang Karet Industri Asam Cuka Industri Tekstil Industri industri lain Total
( Sumber : PT CIC, Indochemical 330, hal 20 )

1997 45.538 4.172 1.558 2.931 11.274 7.331 72.804

1998 58.915 4.402 1.457 2.868 18.925 8.056 94.623

1999 76.065 5.125 2.133 2.796 23.988 19.560 129.667

2000 82.294 23.912 2.286 2.920 24.367 3.463 139.242

240721 4.950 2.276 2.445 9.780 3.827 47.999

2.4 2.4.1

Bahan Baku Asam Asetat Asetaldehid Rumus Senyawa : C2H4O Sifat-sifat : Massa molar Penampilan Densitas Titik lebur Titik didih Tekanan uap Mudah terbakar Toksik Eksplosif dalam udara 4-5% Larut dalam air, alcohol, toluene, xylen, terpentin, aceton, nafta Toleran 100ppm dalam udara Dipasaran dengan label teknis 94% : 44,05 g mol1 : cairan tak berwarna, berbau tajam buah-buahan : 0,788 g cm3 : 123,5 C : 20,2 C : 740 mmHg (20oC)

2.4.2

Oksigen Rumus Senyawa : O2 Sifat-sifat :

Penampilan Densitas Titik lebur Titik didih Tekanan uap Viskositas Bahaya kesehatan Bahaya fisik panas Larut dalam alcohol

: tak berwarna, tak berbau : 1,309 g/L (25oC) : -218,79oC : -183 C : 760 mmHg (-183oC) : 0,02075 cP (25oC) : tidak ada efek signifikan : wadah bisa pecah atau meledakjika terkena

2.4.3

Methanol Rumus senyawa : CH3 OH Sifat-sifat :

Berat molekul Titik didih pada 1 atm

: 32,042 gr/gmol : 64,7 C : 239,43 C : 79,9 atm : 250,7864 gr/cc : 1,11 gr/cm3 : 127,2 mmHg : (cair, 25C=0,541 cp) (uap,25C = 0,00968 cp) : -39.869 kal/gmol : -57.130 kal/gmol : (cair, 25C = 0,6054 kal/hC) (uap, 25C =

Titik beku pada 1 atm : -97,7 C Temperatur kritis Tekanan kritis Densitas (250 C) Specific gravity Tekanan uap (250 C) Viskositas Gf (cair, 25C) Hf (cair, 25C) Specific Heat 0,3274 kal/hC) Konduktivitas termal kal/hmC) Tegangan muka : (dalam air, 20 C = 22,6 dyne/cm) Kelarutan dalam air Larut sempurna : (cair, 25C = 163,5 kal/hmC) (uap, 25C = 12,1

2.4.4

Karbon Monoksida Rumus senyawa : CO Sifat-sifat :

Berat molekul Densitas pada STP Temperatur kritis Tekanan kritis Volume kritis

: 28,01 gr/gmol : 1,250 gr/cm3 : -140,23 C : 34,529 atm : 93,06 cm3

Specific Heat ( volume konstan, 1 atm ) : (-100C = 5,01 kal/molC); (100C = 4,97 kal/molC); (0C = 5,03 kal/molC) Specific Heat ( tekanan konstan, 1 atm ) (-100C = 7,01 kal/molC); (100C = 6,97 kal/molC); (0C = 7,05 kal/mol C) Enthropy ( 1 atm ) (-100 C = 48,831 kal/molC); (100C = 46,656 kal/molC); (0C = 43,457 kal/molC) Enthalpy ( 1 atm ) (-100C = 4529,8 kal/molC); (100C = 3831,8 kal/molC); (0C = 3130,6 kal/mol C)

2.5 2.5.1

Katalis Pembuatan Asam Asetat Kalium Permanganat Rumus molekul :KMnO4 Sifat-sifat : Berbentuk padatan Penampilan Berat molekul Kepadatan Warna Titik lebur : tak berbau : 158,034 g/mol : 2,703 gr/cm3 : keunguan : 270oC

Larut dalam air, methanol, aceton Sebagian larut dalam air dingin, air panas

2.5.2

Mangan Asetat Rumus molekul : Mn(CH3COO)2.4H2O Sifat-sifat :

Berbentuk Kristal padat Penampilan Berat molekul Kepadatan : tak berbau : 245,1 g/mol : 2,703 gr/cm3

10

Warna Berat jenis Titik lebur

: merah : 1,589 g/cm3 (tetrahidrat) : 80oC (tetrahidrat)

Larut dalam air, methanol, aceton Sebagian larut dalam air dingin, air panas

2.5.3

Silica Oksida Rumus molekul : SiO2 Sifat-sifat :

Berat Molekul Bentuk Densitas Titik lebur Titik didih Kelarutan dalam air

: 60.08 g/mol : Kristal transparan : 2.680 g/cm3 : 1600-1725oC : 2230oC : 0.079 g/L

2.5.4

Rhodium (III) Klorida Rumus molekul : RhCl3 Sifat-sifat :

Berat molekul Bentuk Densitas Titik lebur Titik didih Kelarutan dalam air

: 209.26 g/mol : padatan berwarna merah gelap, deliquescent : 5.38 g/cm3 : 450oC : 717oC : tidak larut

Larut dalam OH-, aqua regia, dan sianida

11

2.6

Sifat Produk (Asam Asetat) Rumus molekul Berat molekul Titik leleh pada 1 atm Titik didih pada 1 atm Densitas dan fasa Specific Gravity Penampilan Keasaman (pKa) Temperatur kritis ( cair ) Tekanan kritis ( cair ) Volume kritis ( cair ) Titik nyala Batas min explosive Batas max explosive pH Surface Tension 27,6 dyne/cm) Viskositas cp) Specific Heat Panas pelarutan dalam air ( 18 C ) : 0,487 kal/grC : 6,3 kal/gr : (20C, udara = 1,22 cp); (110 C = 0,42 : CH3COOH : 60,053 gr/gmol : 16,6C : 117,9C : 1.049 g cm3(cairan), 1.266 g cm3 : 1,051 gr/cm3 : cairan tak berwarna (Kristal) : 4,76 pada 25oC

Koefisien ekspansi ( 20 C ) : 1,07 x 10-3 : 594,45K : 57,1 atm : 2,85 cc/ gr : 39oC : 4% : 19% pada 93oC : 2,9 :(20C udara = 22,2 dyne/cm), (75 C, udara =

Keasaman Atom hidrogen (H) pada gugus karboksil (COOH) dalam asam karboksilat seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pKa=4.8. Basa

12

konjugasinya adalah asetat (CH3COO). Sebuah larutan 1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki pH sekitar 2.4.

Dimer siklis

Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hidrogen. Struktur kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul-molekul asam asetat berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen.[3] Dimer juga dapat dideteksi pada uap bersuhu 120 C. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni.[4] Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.066.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154157 J mol1 K1.[5] Sifat dimerisasi ini juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya. Sebagai Pelarut Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2, sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar lainnya seperti air,

13

kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia. Reaksi-reaksi kimia Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Logam asetat juga dapat diperoleh dengan reaksi asam asetat dengan suatu basa yang cocok. Contoh yang terkenal adalah reaksi soda kue (Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hapir semua garam asetat larut dengan baik dalam air. Salah satu pengecualian adalah kromium (II) asetat. Contoh reaksi pembentukan garam asetat: Mg(s) + 2 CH3COOH(aq) (CH3COO)2Mg(aq) + H2(g) NaHCO3(s) + CH3COOH(aq) CH3COONa(aq) + CO2(g) + H2O(l) Aluminium merupakan logam yang tahan terhadap korosi karena dapat membentuk lapisan aluminium oksida yang melindungi permukaannya. Karena itu, biasanya asam asetat diangkut dengan tangki-tangki aluminium.

Dua reaksi organik tipikal dari asam asetat Asam asetat mengalami reaksi-reaksi asam karboksilat, misalnya menghasilkan garam asetat bila bereaksi dengan alkali, menghasilkan logam etanoat bila bereaksi dengan logam, dan menghasilkan logam etanoat, air dan karbondioksida bila bereaksi dengan garam karbonat atau bikarbonat. Reaksi organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah pembentukan etanol melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil klorida atau anhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik.

14

Anhidrida asetat dibentuk melalui kondensasi dua molekul asam asetat. Ester dari asam asetat dapat diperoleh melalui reaksi esterifikasi Fischer, dan juga pembentukan amida. Pada suhu 440 C, asam asetat terurai menjadi metana dan karbon dioksida, atau ketena dan air. Deteksi Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu, garam-garam dari asam asetat bereaksi dengan larutan besi(III) klorida, yang menghasilkan warna merah pekat yang hilang bila larutan diasamkan. Garam-garam asetat bila dipanaskan dengan arsenik trioksida (AsO3) membentuk kakodil oksida ((CH3)2As-O-As(CH3)2), yang mudah dikenali dengan baunya yang tidak menyenangkan.

2.7

Penamaan Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa ini, dan

merupakan nama yang paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini berasal dari kata Latin acetum, yang berarti cuka. Nama sistematis dari senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air membentuk kristal mirip es pada 16.7 C, sedikit di bawah suhu ruang. Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3C(=O). Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).

15

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Macam-macam Peoses Pembuatan Asam Asetat Ada beberapa teknik yang digunakan dalam pembuatan asam asetat,

diantaranya ialah; karbonilasi methanol, sintesis gas metan, oksidasi asetaldehida, oksidasi etilena, oksidasi alkana, oksidatif fermentasi, dan anaerob fermentasi. Karbonilisasi methanol merupakan teknik yang umum digunakan dalam produksi industry asam asetat dan menjadi teknik penghasil asam asetat lebih dari 65% dari kapasitas global. Dari asam asetat yang diproduksi oleh industri kimia, 75%

diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Sisanya dihasilkan melalui metode-metode alternatif.

3.1.1

Karbonilisasi methanol Kebanyakan asam asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi

ini, metanol dan karbon monoksida bereaksi menghasilkan asam asetat CH3OH + CO CH3COOH Proses ini melibatkan iodometana sebagai zat antara, dimana reaksi itu sendiri terjadi dalam tiga tahap dengan katalis logam kompleks pada tahap kedua. (1) CH3OH + HI CH3I + H2O (2) CH3I + CO CH3COI (3) CH3COI + H2O CH3COOH + HI Karbonilasi metanol sejak lama merupakan metode paling menjanjikan dalam produksi asam asetat karena baik metanol maupun karbon monoksida merupakan bahan mentah komoditi. Proses karbonilisasi pertama yang melibatkan perubahan metanol menjadi asam asetat dikomersialisasikan pada tahun 1960 oleh BASF. Pada metode BASF ini digunakan katalis kobalt dengan promotor iodida dalam tekanan yang sangat tinggi (600 atm) dan suhu tinggi (230oC) menghasilkan asam asetat

16

dengan tingkat selektivitas mencapai 90%. Pada tahun 1968, ditemukan katalis kompleks Rhodium, cis[Rh(CO)2I2] yang dapat beroperasi dengan optimal pada tekanan rendah tanpa produk sampingan. Pabrik pertama yang menggunakan katalis tersebut adalah perusahan kimia AS Monsanto pada tahun 1970, dan metode karbonilasi metanol berkatalis Rhodium dinamakan proses Monsanto dan menjadi metode produksi asam asetat paling dominan. Proses Monsanto berjalan pada tekanan 30-60 atm dan temperatur 150-200C. Proses ini memberikan selektivitas yakni lebih besar dari 99%. Pada era 1990'an, perusahan petrokimia British Petroleum mengkomersialisasi katalis Cativa ([Ir(CO)2I2]) yang didukung oleh ruthenium. Proses Monsanto dapat digantikan dengan proses Cativa, yang merupakan proses serupa menggunakan katalis iridium. Proses Cativa sekarang lebih banyak digunakan karena lebih ekonomis dan ramah lingkungan, sehingga menggantikan proses Monsanto. Proses ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan proses Monsanto dan proses Cativa. Adapun kelebihan atau kekurangan dari kedua proses tersebut sebagai berikut:

1. Proses Monsanto Metode ini pertama kali dikembangkan oleh pabrik Perusahaan Monsanto di Texas City. Keunggulan dari metode ini ialah dapat dijalankan pada tekanan yang rendah. Bahan dasar dari pembuatan asam asetat menggunakan metode ini ialah methanol. Prinsip pembuatannya ialah methanol direaksikan dengan gas CO2 mengahsilkan asam asetat difasilitasi katalis rhodium. Sebelumnya pembuatan asam asetat dengan teknik BASF dapat dilakukan dengan menggunakan katalis iodinepromoted kobalt, namun kurang efektiv dalam hal biaya karena katalis ini bekerja pada tekanan tinggi yakni sekitar 7.500 lb/in2. Sedangkan katalis rhodium

17

bekerja pada tekanan antara 200 - 1800 lb/in2. Katalis rhodium menghasilkan asam asetat sampai 99 % sedangkan katalis iodinepromoted kobalt hanya sekitar 90 % saja. Mekanisme kerja proses monsanto berjalan dengan beberapa tahap, 1. Siklus katalitik konversi metanol menjadi metiliodida CH3OH + HI CH3I + H2O

2. Penambahan katalis Rh (I) kompleks (d8 segi empat planar) ke dalam metil iodida menghasilkan struktur baru koordinat 6 alkil rhodium (III) kompleks (d6). CH3I + [Rhkompleks] Mekanisme Reaksi Katalis Katalis Carbonylation terdiri dari dua komponen utama yaitu rhodium kompleks yang larut dan iodida promotor. Hampir setiap sumber Rh dan I- akan bekerja dalam reaksi ini karena akan dikonversi menjadi katalis [Rh (CO)2I2]- di bawah kondisi reaksi. Struktur katalis [Rh(CO)2I2]- dapat dilihat seperti gambar berikut.

Katalis ini sangat aktif sehingga akan memberikan reaksi dan distribusi produk yang baik. Skema pembuatan dalam pabrik dapat dilihat seperti pada gambar berikut:

18

Proses yang terjadi ialah; pertama methanol dimasukkan dalam tangki reaktor dan direaksikan dengan HI. Peran iodida adalah hanya untuk mempromosikan konversi methanol menjadi metil iodide:

Setelah metil iodida telah terbentuk maka diteruskan ke reaktor katalis. Siklus katalitik dimulai dengan penambahan oksidatif metil iodida ke dalam [Rh(CO)2I2]sehingga terbentuk kompleks [MeRh(CO)I3]- (Gambar 2). Kemudian dengan cepat CO pindah berikatan dengan CH3 membentuk kompleks seperti pada gambar 3 pada diagram reaksi berikut. Setelah itu direaksikan dengan karbon monoksida, dimana gas CO berkoordinasi sebagai ligan dalam kompleks Rh, menjadi rhodium-alkil kemudian membentuk ikatan menjadi kompleks asil-rhodium (III) (Gambar 4). Dengan terbentuknya kompleks pada gambar 4 maka gugus CH3COI mudah lepas. Kompleks ini kemudian direduksi menghasilkan asetil iodide dan katalis rhodium yang terpisah.

19

Ditangki ini bekerja suhu 1500C-2000C dan tekanan 30 atm- 60 atm. Asetil iodida yang terbentuk kemudian dihidrolisis dengan H2O menghasilkan CH3COOH dan HI.

Dimana HI yang terbentuk dapat digunakan lagi untuk mengkonversi methanol menjadi MeI yang akan masuk dalam proses reaksi.dan melanjutkan siklus. Sedangkan asam asetat yang dihasilkan masuk dalam tangki pemurinian untuk dipisahkan dari pengotor yang mungkin ada seperti asam propionate. Pemurnian dilaskukan dengan cara destilasi. Mekanisme reaksinya dapat dilihat pada gambar berikut:

20

Kelebihan dan kekurangan dari proses Monsanto Keuntungan dari Proses Monsanto:

Proses ini memiliki efisiensi yang tinggi hingga mencapai 100%, semua atom dalam reaktan akan menjadi produk.

Energy yang dibutuhkan dalam seluruh proses kurang, terutama untuk pemisahan dan pemurnian produk.

Memiliki hasil tinggi, sekitar 98% berdasarkan metanol (90% didasarkan pada karbon monoksida).

Menggunakan metanol, sebuah bahan baku lebih murah daripada sebelumnya nafta / butana.

Meskipun metanol biasanya dibuat dari gas sintesis, yang dihasilkan dari minyak, juga dapat dihasilkan dari biomassa (kayu), limbah kota dan limbah.

21

Ini akhirnya dapat menyebabkan proses yang tidak lagi tergantung pada minyak.

Reaksi sangat cepat, dan katalis memiliki umur panjang.

Kekurangan dari Proses Monsanto ialah:


Rhodium logam sangat mahal - lebih mahal daripada emas Rhodium dan bentuk garam iodida larut seperti RHI3, sehingga air konten dalam tangki reaksi harus tetap relatif tinggi untuk mencegah hal ini. Langkah terakhir distilasi diperlukan untuk menghapus air, menambah biaya dan permintaan energi. Setiap terjadi hujan menghapus katalis, yang harus kembali dan kembali ke reaktor utama.

Rhodium juga mengkatalisis reaksi-reaksi samping seperti: CO + H2O CO2 + H2

Hal ini mengurangi tekanan parsial karbon monoksida, sehingga campuran harus dibuang dari tanki reaksi dan diganti dengan lebih banyak karbon monoksida.

2. Proses Cativa Proses Cativa adalah metode lain untuk produksi asam asetat oleh carbonylation dari metanol . Teknologi ini mirip dengan proses Monsanto hanya berbeda dalam penggunaan katalis. Proses ini didasarkan pada iridium yang mengandung katalis seperti kompleks Ir[(CO)2I2]. Proses ini pertama kali dikembangkan oleh BP Chemicals dan lisensi oleh BP Plc. Pada awalnya kajian Monsanto telah menunjukkan bahwa iridium kurang aktif dari rhodium untuk proses carbonylation metanol. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa katalis iridium bisa dipromosikan dengan bantuan ruthenium. Kombinasi ini menghasilkan sebuah katalis yang lebih unggul

22

daripada sistem berbasis rhodium. Penggunaan iridium memungkinkan penggunaan air lebih sedikit dalam campuran reaksi. Dengan demikian dapat mengurangi jumlah kolom pengeringan yang diperlukan, mengurangi produk samping dan menekan gas air reaksi bergeser . Selain itu, proses ini memungkinkan loading katalis yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan proses Monsanto, proses Cativa menghasilkan asam propionat sangat kecil dalam produk. Struktur katalis kompleks Ir[(CO)2I2] dapat dilihat seperti gambar beriktut:

Proses reaksi dalam tangki dapat digambarkan dalam diagram berikut ini:

23

Pertama methanol direaksikan dengan asam iodide menghasilkan Metil Iodida. Setelah itu, metal iodida masuk dalam tangki reaktor bereaksi sengan katalis kompleks iridium (gambar 1) membentuk [Ir(CO)2I3CH3]- (gambar 2), setelah terbentuk struktur ini dengan cepat direaksikan dengan gas CO sehingga I- akan keluar dari kompleks digantikan CO sehingga terbentuk kompleks baru [Ir(CO)3I] (gambar 3), struktuir ini kurang stabil sehingga untuk menstabilkan CO di mutasi berikatan dengan CH3 (gambar 4). Gugus CH3CO pada kompleks mudah lepas, sehingga dengan adanya ion I- di sekitar kompleks menyebabkan gugus CH3CO lepas dari kompleks dan bereaksi dengan I- membentuk CH3COI. Senyawa CH3COI ini kemudian dihidrolisis

menghasilkan asam asetat (CH3COOH) dan asam halida (HI). Dimana HI yang terbentuk ini ditarik lagi masuk dalam siklus bereaksi dengan methanol membentuk Metil Iodida yang akan bereaksi lagi dengan katalis. Asam asetat yang terbentuk belum murni. Untuk memisahkan asam asetat dari pengotor maka dilakukan destilasi. Mekanisme pembuatan asam asetat dalam pabrik dengan proses Cativa dapat dipresentasikan seperti berikut ini.

24

Kelebihan proses Cativa: Seperti proses Monsanto, reaksi secara teoritis mencapai 100% efisien. Penggunaan iridium / iodida sebagai katalisator memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan rhodium / iodide diantaranya:

Lebih ekonomis, penggunaan Iridium biaya yang digunakan hanya sekitar seperlima dari rhodium

Proses ini lebih cepat dan lebih efektif, dan hanya membutuhkan katalis dalam jumlah sedikit.

Iridium bahkan lebih selektif terhadap metanol, yang meningkatkan hasil secara keseluruhan dan mengurangi produk samping, sehingga biaya pemurnian yang lebih rendah dan mengurangi limbah.

Iridium kompleks lebih larut dalam campuran reaksi daripada kompleks rhodium. Ini berarti bahwa katalis tidak hilang oleh hujan dan tidak harus sering diganti. Kadar air dalam tangki reaksi juga dapat dikurangi, sehingga mempercepat proses dan mengurangi energi yang dibutuhkan pada tahap penyulingan dan pemurnian. Karbonilasi methanol merupakan teknik yang utama digunakan dalam industry

pembuatan asam asetat.

Teknik ini dikembangkan pada tahun 1913, BASF

menemukan bahwa metanol dapat carbonylated untuk asam asetat. BASF memulai carbonylation pabrik metanol pertama pada tahun 1960 menggunakan iodida kobalt sebagai katalis. Sintesis berlangsung di sekitar 250oC dan pada tekanan sampai 10.000 psi. Pada tahun 1970-an, Monsanto mengembangkan system katalis rhodium / iodide dan disempurnakan pada tahun 1986 oleh BP Chemicals dengan menggunakan katalis iridium dengan bantuan ruthenium yang dikembangkan lebih lanjut proses. rhodiumkatalis metanol proses carbonylation sangat selektif dan beroperasi di bawah tekanan reaksi ringan (sekitar 500 psi). Sistem katalis iridium memiliki aktivitas lebih tinggi

25

dibandingkan dengan proses rhodium, dimana produk hasil samping lebih sedikit dan mampu beroperasi kadar air yang rendah (kurang dari 5% untuk Cativa dibandingkan dengan 14-15% Proses Monsanto). Semua faktor ini menggabungkan untuk memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka dengan biaya modal yang relatif rendah.

Tahun 1980-an, Celanese mengembangkan teknologi AO eksklusif Plus (Asam Pengoptimalan Plus), yang dapat meningkatkan proses Monsanto. Teknologi AO Plus ini dapat meningkatkan stabilitas katalis rhodium dengan menambahkan iodida anorganik (terutama litium iodida) dalam konsentrasi tinggi, yang memungkinkan penurunan drastis konsentrasi air (kira-kira 4-5% air) dalam reactor. Proses penggunaan carbonylation metanol masih berlanjut. Chiyoda baru-baru

ini mengembangkan proses asam asetat, Acetica, yang menggunakan katalis heterogen didukung sistem dan reaktor kolom gelembung. Dilaporkan bahwa sistem katalis yang didukung ini menghasilkan produktivitas yang tinggi, peningkatan aktivitas rhodium, dan menghasilkan asam asetat lebih dari 99% dari metanol. Proses Acetica dapat dioperasikan pada kadar air yang rendah dalam kisaran 3-8 wt% dari cairan reaktor. Dalam reaktor kosentrasi hidrogen iodida diperkecil sehingga kurang korosif.

Penggunaan reaktor kolom gelembung mengurangi kebutuhan tekanan tinggi yang diperlukan dengan mengaduk segel tangki reaktor. Fitur ini memungkinkan kemurnian karbon monoksida karena tekanan rendah operasi dapat ditingkatkan (sampai dengan 900 psi) untuk mempertahankan tekanan parsial karbon monoksida. Dalam kebutuhan konsumsi, asam asetat diproduksi melalui teknik fermentasi. Karena lebih aman dari segi kesehatan. Teknik ini sudah diketahui sejak dahulu kala dalam pembuatan bir dari buah anggur.

26

3.1.2 Oksidasi Asetaldehid Sebelum komersialisasi proses Monsanto, kebanyakan asam asetat diproduksi melalui oksidasi asetaldehida. Namun, metode manufaktur ini masih yang paling penting, meskipun tidak sekompetitif dengan metode karbonilisasi metanol. Dalam produksi asetaldehida dapat dihasilkan melalui oksidasi dari butana atau nafta ringan, atau hidrasi dari etilena. Ketika butana atau cahaya nafta dipanaskan dengan udara di hadapan berbagai logam ion, termasuk mangan, kobalt dan kromium; peroksida bentuk dan kemudian membusuk untuk menghasilkan asam asetat sesuai dengan persamaan kimia: 2C4H10 + 5O2 4CH3COOH + 2H2O Dalam reaksi ini dijalankan pada suhu dan tekanan yang tinggi namun tetap menjaga butana dalam keadaan cair. Tipikal kondisi reaksinya ialah pada temperature 150C dan tekanan 55 atm. Produk sampingan mungkin juga terbentuk termasuk butanone, etil asetat, asam format, dan asam propionat. Produk sampingan ini juga bernilai komersial, dan kondisi-kondisi reaksi dapat diubah untuk menghasilkan lebih banyak dari mereka jika ini bermanfaat secara ekonomis. Namun, pemisahan asam asetat dari produk tersebut dapat menambah biaya proses. Di bawah kondisi yang sama dan menggunakan sejenis katalis sebagai digunakan untuk oksidasi butana, asetaldehida dapat dioksidasi oleh oksigen di udara untuk menghasilkan asam asetat 2CH3CHO + O2 2CH3COOH Dengan menggunakan katalis modern, reaksi ini dapat menghasilkan asam asetat lebih besar dari 95%. Produk sampingan utama adalah etil asetat, asam format dan formaldehida, yang semuanya memilki titik didih yang lebih rendah dari asam asetat sehingga dapat dipisahkan dengan teknik destilasi.

3.1.3

Sintesis gas metan Asam asetat disintesis dari metana melalui dua tahap. Tahap pertama, gas

metan, bromina dalam bentuk hidrogen bromida (40 wt% HBr/H2O) dan oksigen direaksikan dengan menggunakan katalis Ru/SiO2 menghasilkan CH3Br dan CO.

27

Tahap kedua CH3Br dan CO direaksikan lagi dengan H2O dengan bantuan katalis RhCl3 menghasilkan asam asetat dan asam bromide. Mekanisme reaksinya dapat ditunjukkan:

3.1.4 Oksidasi Alkana Dalam metode ini asam asetat dibuat dari etilena dengan melalui proses Wacker menghasilkan asetaldehida dan kemudian dioksidasi seperti dalam metode oksidasi asetaldehida menghasilkan asam asetat. Teknik ini dikembangkan oleh perusahaan kimia Showa Denko yang membuka pabrik etilen oksidasi di Oita, Jepang, pada tahun 1997. Proses ini dikatalisis oleh paladium didukung katalis logam pada heteropoly asam seperti asam tungstosilicic.

3.1.5 Elektrolisis Etanol (Elektrosintesis) Elektro oksidasi etanol menjadi asam asetat menggunakan kawat elektroda platinum dan media asam. Platinum (Pt) dikenal sebagai logam inert dan katalis yang kuat untuk reaksi elektrokimia pada umumnya. Banyak komponen yang dapat teradsorpsi pada permukaan adsorpsi Pt dan hidrogen. Mekanisme reaksinya ialah:

28

3.1.6 Proses Destilasi Kayu Kering Proses ini menggunakan serbuk kayu sebagai bahan baku. Perlakuan awal yaitu serbuk kayu dikeringkan kemudian dilanjutkan dengan proses destilasi. Asam asetat yang dihasilkan dengan proses ini adalah sebesar 10%, sedikit aseton, methanol, dan bagian yang terbanyak adalah tar. Pengambilan asam asetat pada destilat dilakukan dengan menggunakan bantuan kalsium asetat dan katalis asam sulfat (H2SO4), baru kemudian dilanjutkan dengan proses destilasi. Reaksi : (CH3COO)2Ca + H2SO4 2CH3COOH + CaSO4

3.1.7 Fermentasi Fermentasi merupakan proses mikrobiologi yang dikendalikan oleh manusia untuk memperoleh produk yang berguna, dimana terjadi pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerob. Peruraian dari kompleks menjadi sederhana dengan bantuan mikroorganisme sehingga menghasilkan energi. (Perry, 1999) Berdasarkan Silcox dan Lee, proses fermentasi yang baik adalah: 1. Mikroorganisme dapat membentuk produk yang diinginkan 2. Organisme ini harus berpropagasi secara cepat dan dapat mempertahankan keseragaman biologis, sehingga memberikan yield yang dapat diprediksi. 3. Raw material sebagai substrat ekonomis 4. Yieldnya dapat diterima 5. Fermentasi cepat 6. Produk mudah diambil dan dimurnikan

Asam asetat memiliki beberapa nama antara lain asam etanoat, vinegar (mengandung minimal 4 gram asam asetat per 100 larutan), atau asam cuka. Asam asetat merupakan senyawa organik yang mengandung gugus asam karboksilat. Rumus

29

molekul dari asam asetat adalah C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Peran biologis asam asetat ditemukan oleh ahli biokimia Konrad Emil Bloch di pertengahan 1900-an. Ia menemukan bahwa asam asetat adalah prekursor utama dalam produksi kolesterol tubuh. Asam asetat diubah menjadi kolesterol dalam hati melalui serangkaian reaksi kimia 36. Bloch mampu menggunakan metode penandaan radioaktif untuk menentukan karbon dari asam asetat dimasukkan ke kolesterol. Penelitian ini penting untuk pemahaman kita tentang metabolisme kolesterol dan perannya dalam penyakit jantung. Asam asetat telah lama dikenal oleh bangsa Romawi dan Yunani dengan proses pembuatan yang masih sangat sederhana, yaitu melalui oksidasi alkohol yang terdapat dalam anggur yang ditempatkan dalam tong atau dibiarkan pada udara terbuka. Produksi secara komersial dimulai pada akhir abad ke-19 dengan proses oksidasi langsung hidrokarbon fase cair. Pada tahun 1911, produksi asam asetat melalui oksidasi asetaldehid mulai beroperasi di Jerman. Proses karbonilasi methanol pertama kali diaplikasikan pada tahun 1963 dengan proses BASF, kemudian proses Monsanto mulai diperkenalkan pada tahun 1968. Asam asetat diproduksi secara fermentasi melalui beberapa cara : Fermentasi Aerob Fermentasi Anaerob

Fermentasi Aerob
Acetobacter aceti C6H12O6 2 C2H5OH 2 CH3COOH + H2O + 116 kal

glukosa

etanol

cuka asam

Fermentasi Anaerob Clostridium thermoaceticum C6H12O6 glukosa

3 CH3COOH

asam asetat

30

3.1.7.1 Bahan Baku dalam proses fermentasi pembuatan asam asetat : Berbagai produk hasil pertanian yang mengandung gula yang tinggi dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi cuka, misalnya, buah-buahan, kentang, biji-bijian, bahan yang mengandung cukup banyak gula, atau alcohol 1. Bakteri Asam Asetat Golongan bakteri yang mengoksidasi etanol menjadi asam asetat diklasifikasikan menjadi 2 genera yaitu: Gluconobacter Mengoksidasi etanol menjadi asam asetat. Acetobacter Mengoksidasi asam asetat lebih lanjut menjadi O2 dan H2O. Bakteri asam asetat mempunyai kemampuan membentuk asam dari alkohol secara oksidasi diekspresikan ke dalam medium.Bakteri ini termasuk bakteri gram negatif yang bergerak lambat dengan flagella peritrik,memiliki toleransi terhadap asam yang tinggi,dan aktivitas peptolitik yang rendah. Fermentasi asam asetat dilakukan oleh bakteri asam asetat terhadap larutan yamg mengandung alkohol. Bakteri asam asetat tersebut termasuk dalam famili Pseudomonadaceae yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Sel berbentuk batang pendek atau bola Bakteri gram negatif Sel bergerak dan tidak bergerak Tidak mempunyai endospora Tidak bersifat patogen Bersifat aerob Energi diperoleh dari oksidasi etanol menjadi asam asetat Mampu hidup dalam air, padatan, daun, buah, dan lain-lain.

31

Bakteri asam asetat digolongkan menjadi peroksidan jika mampu menumpuk asetat. Contoh peroksidan:Acetobacter acetii dan Acetobacter pasterinum Acetobacter acetii merupakan bakteri gram negatif yang bergerak menggunakan peritrich flagella,merupakan bakteri aerob obligat,tidak membentuk endospora dan dapat tumbuh dimana-mana.

Proses fermentasi pembuatan asam asetat atau vinegar : 1) Fermentasi secara Aerob Aceto Bacteri C6H12O6 + 2C2H5OH (Glukosa) (Etanol) 2CH3COOH + H2O +116 kal Asam cuka

a. Metoda lambat (Slow Methods) - Biasanya untuk bahan baku berupa buah-buahan. - Etanol tidak banyak bergerak atau mengalir karena proses dilakukan pada suatu tangki batch. - Memasukan jus buah, yeast, dan bakteri vinegar ke dalam tangki - Sebagian jus buah terfermentasi menjadi etanol (11-13% alkohol) setelah beberapa hari. - Fermentasi etanol menjadi asam asetat terjadi pada permukaan tangki. - Bakteri vinegar di permukaan larutan yang membentuk lapisan agar-agar tipis mengubah etanol menjadi asam asetat atau vinegar(asetifikasi). - Proses ini memerlukan temperatur 21- 29 oC. - Jatuhnya lapisan tipis agar-agar dari bakteri vinegar akan memperlambat asetifikasi. Permasalahan ini bisa dicegahdengan memasang lapisan yang dapat mengapungkan lapisan tipis agar-agar dari bakteri vinegar.

32

Kelebihan Metoda lambat (Slow Methods) : -Proses sangat sederhana

Kekurangan Metoda lambat (Slow Methods) : 1) Proses relative lama,berminggu-minggu atau berbulan-bulan. 2) Jatuhnya lapisan tipis agar-agar dari bakteri vinegar akan memperlambat asetifikasi.

b. Metoda cepat (Quick Methods) atau German process - Biasanya untuk bahan baku berupa etanol cair. - Bahan baku untuk basis 1 ton asam asetat(100%) :

Alkohol(95 %) sebanyak 1.950 lb Sedikit nutrisi Udara sebanyak 11.000 lb

- Etanol mengalami perpindahan selama proses. - Proses fermentasi terjadi di dalam tangki pembentukan (Frings generator) yang terbuat dari kayu atau besi. - Bagian-bagian dari tangki pembentukan : a) Bagian atas, tempat alkohol dimasukkan b) Bagian tengah, terdapat bahan isian (berupa:kayu, tongkol jagung, rottan) di bagian ini untuk memperluas bidang kontak rektan (etanol dan oksigen). Bahan isian mulamula disiram dengan larutan vinegar yang mengandung bakteri asetat sehingga dipermukaan bahan isian akan tumbuh bakteri asetat. c) Bagian bawah,digunakan sebagai tempat mengumpulkan produk vinegar. Mendistribusikan campuran etanol cair (10,5 %), vinegar(1 %), dan nutrisi

melalui bagian atas tangki dengan alat sparger - Campuran mengalir turun melalui bahan isian dengan sangat lambat - Udara dialirkan secara countercurrent melalui bagian bawah tangki

33

Panas yang timbul akibat reaksi oksidasi diambil dengan pendingin. Pendingin

dipasang pada aliran recycle cairan campuran(yang mengandung vinegar,etanol, dan air) dari bagian bawah tangki. Temperatur operasi dipertahankan pada rentang suhu 30-35 oC. Produk yang terkumpul di bagian bawah tangki mengandung asam asetat

optimum sebesar 10- 10,5 %. Sebagian produk direcycle dan sebagian yang lain di keluarkan dari tangki. - Bakteri asetat akan berhenti memproduksi asam asetat jika kadar asam asetat telah mencapai 12-14 %. Bahan baku 2.500 gal dengan produk 10,5 % asam asetat memerlukan waktu

proses 8-10 hari.

Kelebihan Metoda cepat (Quick Methods) atau German process : 1) Biaya proses rendah, relatif sederhana dan kemudahan dalam

mengontrol. 2) Konsentrasi produk asam asetat besar. 3) Tangki proses membutuhkan sedikit tempat peletakannya. 4) Penguapan sedikit.

Kekurangan Metoda cepat (Quick Methods) atau German process : 1) Waktu tinggal terlalu lama bila dibandingkan Metoda Perendaman (Submerged Method). 2) Pembersihan tangki cukup sulit.

c. Metoda Perendaman (Submerged Method) Umpan yang mengandung 8-12 % etanoldiinokulasi dengan Acetobacter

acetigenum. - Temperatur proses dipertahankan pada rentang suhu 24-29 oC. Bakteri tumbuh di dalam suspensi antara gelembung udara dan cairan yang

difermentasi.

34

- Umpan dimasukkan melewati bagian atas tangki. Udara didistribusikan dalam cairan yang difermentasi sehingga membentuk

gelembung- gelembung gas.Udara keluar tangki melewati pipa pengeluaran di bagian atas tangki. - Temperatur proses dipertahankan dengan menggunakan koil pendingin stainless steel yang terpasang di dalam tangki. - Defoamer yang terpasang di bagian atas tangki membersihkan busa yang terbentuk dengan sistem mekanik.

Kelebihan Metoda Perendaman (Submerged Method): a) Hampir disemua bagian tangki terjadi fermentasi. b) Kontak antar reaktan dan bakteri semakin besar.

Kekurangan Metoda Perendaman (Submerged Method): a) Biaya operasi relatif mahal.

2) Fermentasi secara Anaerob Clostridium thermoaceticum C6H12O6 glukosa CH3OOH + Q asam asetat

- Menggunakan bakteri Clostridium thermoaceticum. - Mampu mengubah gula menjadi asam asetat. - Temperatur proses sekitar 45- 65 oC; pH 2-5. - Memerlukan nutrisi yang mengandung karbon, nitrogen dan senyawa anorganik.

Kelebihan proses anaerob : a) Mengubah gula menjadi sama asetat dengan satu langkah. b) Bakteri tumbuh dengan baik pada temperatur 60 oC.Perbedaan temperatur yang besar antara suhu media dengan suhu air pendingin memudahkan dalam pembuangan panas.

35

c) Kontaminasi dengan organisme yang membutuhkan bisa diminimalisasi karena bekerja pada kondisi anaerob. d) Organisme yang hanya dapat hidup dalam kondisi mendekati pH netral akan mati karena operasi fermentasi dilakukan pada kondisi asam pH 4,5.

Kekurangan proses anaerob : a) Konsentrasi asam asetat lebih rendah dibandingkan dengan proses aerob. b) Biaya proses lebih mahal dibandingkan dengan proses aerob.

Pemurnian Distilasi/penyulingan Dari distilasi bertingkat akan dihasilkan beberapa jenis asam asetat :

Asam asetat glasial(99,5%) Asam asetat teknis(80%)

Secara komersial kadar asam asetat sebesar 6,28,30,36,60,70,dan 80 %

Pengendalian Fermentasi Dalam proses pembuatan cuka, ada beberapa langkah pengendalian fermentasi yang perlu dilakukan sehingga hasil fermentasi yang berupa vinegar sesuai yang diinginkan. a) Pada saat fermentasi alkohol, nutrisi yang dibutuhkan oleh khamir untuk melakukan fermentasi harus dipenuhi. Selain gula dan sebagian merupakan padatan cider, substansi yang dinyatakan oleh keasaman dan abu sangat diperlukan oleh khamir. Demikian pula dengan kebutuhan mineral dalam abu yang penting untuk pertumbuhan mikroba. b) Suhu 75 80oF merupakan suhu yang sesuai yang harus dipertahankan selama fermentasi alkohol. Pada suhu mendekati 100oF fermentasi menjadi terhambat dan berhenti pada suhu 105oF. c) Fermentasi alkohol harus dilakukan dalam kemasan, sehingga sari buah tidak terkena udara secara berlebihan. Suatu tong diletakkan secara horizontal dengan lubang tong ditutup kapas atau perangkap udara. Untuk sejumlah kecil

36

dapat digunakan botol besar yang mulutnya disumbat dengan kapas.Kemasan jangan ditutup rapat,sebab dapat meledak. Peristiwa ini terjadi karena adanya tekanan dari gas yang dihasilkan. d) Untuk mencegah pertumbuhan organisme yang tidak dikehendaki ialah dengan menambahkan cuka yang kuat yang belum dipasteurisasikan kedalam sari buah yang diperoleh sesudah fermentasi alkohol selesai. Penambahan cuka tersebut dimaksudkan sebagai inokulasi yang penuh dengan bakteri asam cuka pada sari buah beralkohol tersebut. e) Sesudah fermentasi asetat berjalan sempurna, cuka tidak boleh kontak dengan udara, sebab cuka dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi karbondioksida dan air, sehingga kadar asam menurun agak lebih cepat sampai pada suatu kondisi yang tidak diinginkan. Untuk mengatasi hal ini cuka harus ditempatkan dalam kemasan yang tertutup rapat dengan isi yang penuh. f) Fermentasi asam asetat terjadi sangat cepat, bila cider mengandung 6 8 % alkohol, tetapi 12 % alkohol masih dapat ditolerir. Kegiatan fermentasi berjalan lambat bila alkohol yang ada hanya 1 2 %. Selama kegiatan fermentasi, dihasilkan panas yang cukup untuk menaikkan suhu generator (metode cepat). Aktivitas fermentasi akan terus berlangsung pada suhu antara 68 96oF.

3.2

Kegunaan Asam Asetat Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai

senyawa kimia. Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil. Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena

37

tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Juga sebagai pengatur keasaman pada industry makanan dan pelunak air. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil. Pada industri tekstil, terutama industri pencelupan kain dimana asam asetat berfungsi sebagai pengatur pH. Dan pada industri benang karet, sebagai bahan penggumpal (co-agulant) ketika latex dikeluarkan dari extruder. Dalam industri farmasi asam asetat digunakan untuk untuk pembuatan obat-obatan (aspirin). Cuka banyak digunakan dalam industri pengolahan pangan, industri farmasi dan industri kimia.

Pada industri makanan: 1. Sebagai bahan pembangkit flavor asam dan pengawet. 2. Sebagai bahan penyedap rasa (edible vinegar).

Cuka banyak digunakan dalam industry: 1. Memproduksi asam alifatis terpenting. 2. Bahan warna (indigo) dan parfum. 3. Bahan dasar pembuatan anhidrat yang sangat diperlukan untuk asetilasi, terutama dalam pembuatan selulosa asetat.

Dalam industri farmasi cuka /asam asetat digunakan untuk untuk pembuatan obat-obatan (aspirin).

Beberapa negara di benua Amerika dan Eropa menggunakan sari buah dari berbagai jenis buah-buahan sebagai bahan bakunya.Di Jepang,cuka diproduksi dengan menggunakan bahan baku beras yang telah mengalami sakarifikasi.Di Indonesia,nira

38

aren sering digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk membuat cuka lahang,yaitu sejenis cuka yang dibuat secara tradisional melalui proses fermentasi spontan.

3.3

Bahaya Asam Asetat Asam asetat pekat bersifat korosif dan karena itu harus digunakan dengan

penuh hati-hati. Asam asetat dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan mata permanen, serta iritasi pada membran mukosa. Asam asetat pekat juga dapat terbakar di laboratorium, namun dengan sulit. Ia menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 39C (102F), dan dapat membentuk campuran yang mudah meledak di udara (ambang ledakan: 5.4%-16%). Larutan asam asetat dengan konsentrasi lebih dari 25% harus ditangani di lemari asam karena uapnya yang korosif dan berbau. Asam asetat encer, seperti pada cuka, tidak berbahaya. Namun konsumsi asam asetat yang lebih pekat adalah berbahaya bagi manusia maupun hewan. Hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan, dan perubahan yang mematikan pada keasaman darah.

39

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Asam asetat ( asam etanoat, asam cuka, Asam metanakarboksilat, Asetil hidroksida Hidrogen asetat ) adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan, yang berupa cairan jernih tidak berwarna, berbau tajam, dan berasa asam. Asam asetat memiliki rumus empiris C2H4O2 . Rumus molekulnya seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Prinsip pembuatan asam asetat, diantaranya ialah; karbonilasi methanol, sintesis gas metan, oksidasi asetaldehida, oksidasi etilena, oksidasi alkana, oksidatif fermentasi, dan anaerob fermentasi. Dalam pabrik pembuatan asam asetat lebih sering menggunakan metode karbonilasi methanol. Katalis Carbonylation terdiri dari dua komponen utama yaitu rhodium kompleks yang larut dan iodida promotor. Reaksi pembentukan isopropil asetat adalah reaksi orde dua.

4.2

Saran Proses Produksi asam asetat sebaiknya dilakukan pada tekanan besar dan suhu rendah. Industri asam asetat akan lebih baik jika menggunakan reactor CSTR.

40

DAFTAR PUSTAKA

Jones Jone H., The Cativa Process For The Manufacture Plant Of Acetic Acid Iridium Catalyst Improves Productivity In An Established Industrial Process. BP Chemicals Ltd., Hull Research &Technology Centre, Salt End, Hull HU12 8DS, U.K Li Xuebing and Enrique Iglesia. The Synthesis of Acetic Acid from Ethane, Ethene, or Ethanol on Mo-V-Nb Oxide. Department of Chemical Engineering, University of California, Berkeley, CA 94720, USA Roth J. F. The Production of Acetic Acid Rhodium Catalysed Carbonylation Of Methanol. Monsanto Co., St. Louis, Missouri Shakhashiri. 2008. Acetic Acid & Acetic Anhydride. General Chemistry. http://raz2305ans.multiply.com/journal/item/4 http://www.scribd.com/doc/55515855/Sintesis-asam-asetat-SMAK-bogor http://www.scribd.com/doc/51773495/PIK-Pembuatan-Asam-Asetat http://kimiadotcom.wordpress.com/2008/08/22/asam-asetat/ http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org /wiki/Acetic_acid http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.icis.com/v 2/chemicals/9074780/acetic-acid/process.html http://arenlovesu.blogspot.com/2010/04/asam-asetat.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/11706/1/09E02253.pdf http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat http://www.scribd.com/doc/31542834/Sintesis-Asam-Asetat

41