Anda di halaman 1dari 21

LANDASAN TEORI INERSIA UTERI

A. Pengertian Distosia kelainan tenaga/his adalah his tidak normal dalam kekuatan / sifatnya menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan macet (Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo, 1993). Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba (1998) dalam persalinan diperlukan his normal yang mempunyai sifat : 1. 2. 3. Kontraksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim. Fundal dominan, menjalar ke seluruh otot rahim Kekuatannya seperti memeras isi rahim

4. Otot rahim yang telah berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim.

Jenis-jenis kelainan his menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1993) : 1. His Hipotonik

His hipotonik disebut juga inersia uteri yaitu his yang tidak normal, fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dulu daripada bagian lain. Kelainan terletak pada kontraksinya yang singkat dan jarang. Selama ketuban utuh umumnya tidak berbahaya bagi ibu dan janin. Hisnya bersifat lemah, pendek, dan jarang dari his normal. Inersia uteri dibagi menjadi 2, yaitu : a. Inersia uteri primer

Bila sejak awal kekuatannya sudah lemah dan persalinan berlangsung lama dan terjadi pada kala I fase laten. b. Inersia uteri sekunder

Timbul setelah berlangsung his kuat untuk waktu yang lama dan terjadi pada kala I fase aktif. His pernah cukup kuat tetapi kemudian melemah. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan. Pada bagian terendah terdapat kaput, dan mungkin ketuban telah pecah. Dewasa ini persalinan tidak dibiarkan berlangsung sedemikian lama sehingga dapat menimbulkan kelelahan otot uterus, maka inersia uteri sekunder ini jarang ditemukan. Kecuali pada wanita yang tidak diberi pengawasan baik waktu persalinan.

2.

His Hipertonik

His hipertonik disebut juga tetania uteri yaitu his yang terlalu kuat. Sifat hisnya normal, tonus otot diluar his yang biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan berlangsung cepat (<3 jam disebut partus presipitatus). Partus presipitatus dapat mengakibatkan kemungkinan : a. b. c. Terjadi persalinan tidak pada tempatnya Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan. Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan dan inversio uteri.

Tetania uteri juga menyebabkan asfeksia intra uterine sampai kematian janin dalam rahim. Bahaya bagi ibu adalah terjadinya perlukan yang luas pada jalan lahir, khususnya serviks uteri, vagina dan perineum. Bahaya bagi bayi adalah terjadi perdarahan dalam tengkorak karena mengalami tekanan kuat dalam waktu singkat.

3.

His Yang Tidak Terkordinasi

Adalah his yang berubah-ubah. His jenis ini disebut Ancoordinat Hypertonic Urine Contraction. Tonus otot meningkat diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi. Tidak adanya kordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. B. Etiologi

Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1992) penyebab inersia uteri yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. Inersia uteri sering dijumpai pada multigravida. Faktor herediter Faktor emosi dan ketakutan Salah pimpinan persalinan

6. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus, seperti pada kelainan letak janin atau pada disproporsi sefalopelvik 7. 8. 9. Kelainan uterus, seperti uterus bikornis unikolis Salah pemberian obat-obatan, oksitosin dan obat penenang Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion

10. Kehamilan postmatur

C. Diagnosa Menurut Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo (1992) diagnosis inersia uteri paling sulit dalam masa laten sehingga diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk membuat diagnosis bawah persalinan sudah mulai. Untuk pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks, yaitu pendataran atau pembukaan. Kesalahan yang sering terjadi pada inersia uteri adalah mengobati pasien padahal persalinan belum dimulai (False Labour).

D. Komplikasi Yang Mungkin Terjadi Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat terhadap ibu dan janin yaitu infeksi, kehabisan tenaga dan dehidrasi. (Buku Obstetri Fisiologi, UNPAD, 1983).

E.

Penanganan

Menurut Prf. Dr. Sarwono Prawirohardjo penanganan atau penatalaksanaan inersia uteri adalah : 1. Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunnya bagian terbawah janin dan keadaan janin. 2. Bila kepala sudah masuk PAP, anjurkan pasien untuk jalan-jalan.

3. Buat rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan misalnya pada letak kepala : a. Berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dextrose 5%, dimulai dengan 12 tetes permenit, dinaikkan 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit. Tujuan pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka. b. Pemberian okstisosin tidak usah terus menerus. Bila tidak memperkuat his setelah pemberian oksitosin beberapa lama hentikan dulu dan anjurkan ibu untuk istirahat. Pada malam hari berikan obat penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya diulang lagi pemberian oksitosin drips. c. Bila inersia uteri diserati disproporsi sefalopelvis maka sebaiknya dilakukan seksio sesaria.

d. Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah, dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi tidak ada gunanya memberikan oksitosin drips. Sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obstetrik lainnya (Ekstrasi vakum, forcep dan seksio sesaria).

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono Prawirohardjo, Prof.Dr.dr, 1992, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta

Bagus, Ida Gde Manuaba, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, Jakarta ; EGC

Sastrowinoto, Sulaiman, 1993, Obstetri Fisiologi, Fakultas Kedokteran UNPAD, Bandung

Inersia Uteri Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan dalam 24 jam, tanpa menimbulkan kerusakan yang berlebih pada ibu dan anak. Distosia secara harfiah didefinisikan sebagai persalinan sulit yang ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat. Sebab-sebab distosia dapat dibagi dalam 3 golongan besar : 1. Kelainan tenaga (atau kelainan his). His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya dapat menyebabkan bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat diatasi, sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan. 2. Kelainan janin. Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan dalam letak atau bentuk janin. 3. Kelainan jalan lahir. Kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetannya. Ad 1. Distosia karena kelainan tenaga (his) Distosia karena kelainan tenaga (his) adalah his yang tidak normal, baik kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancaran persalinan. Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida, khususnya pada primigravida tua. Pada multipara lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Satu sebab yang penting dalam kelainan his, khususnya inersia uteri, ialah apabila bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus misalnya pada kelainan letak janin atau disproporsi sefalopelvik. Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda maupun hidramnion juga dapat merupakan penyebab dari inersia uteri yang murni. Jenis-jenis kelainan his : Inersia uteri Disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap menonjol. Kelainanya terletak dalam hal kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa. Inersia uteri dibagi atas 2 keadaan : 1). Inersia uteri primer. Kelemahan his timbu;l sejak permulaan persalinan. 2). Inersia uteri skunder. Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat, teratur dan dalam waktu yang lama.

Diagnosis inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder lebih mudah. Inersia uteri menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibatnya terhadap ibu dan janin Penanganan : Periksa keadaan serviks, presentasi dan posisi janin, turunya bagian terbawah janin dan keadaan panggul. Kemudian buat rencana untuk menentukan sika dan tindakan yang akan dikerjakan, misalnya pada letak kepala. 1) Berikan oksitosin drips 5-10 satuan dalam 500 cc dekstrosa 5 % dimulai dengan 12 tetes per menit, dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes per menit. Maksud pemberian oksitosin adalah supaya serviks dapat membuka. 2) Pemberian oksistosin tidak usah terus menerus, sebab bila tidak memperkuat his setelah pemberian lama, hentikan dulu dan ibu dianjurkan istirahat. 3) Bila inersia disertai dengan disproporsi sefalopelvis maka sebaiknya dilakukan seksio sesarea. 4) Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri skunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan 181 jam pada multi, tidak ada gunanya memberikan oksitosin drips; sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obtetrik lainnya (ekstraksi vakum atau forcep, atau seksio sesarea)

Inersia Uteri

A. Pengertian Inersia uteri adalah kelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar (www.yahoo.com). Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu teregang misalnya akibat hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia, grandemultipara atau primipara, serta para penderita dengan keadaan emosi kurang baik. Dapat terjadi pada kala pembukaan serviks, fase laten atau fase aktif maupun pada kala pengeluaran insersia uteri di bagi atas 2 kekuatan. 1. Insersia uteri primer Terjadi pada permulaan fase laten, sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.

2. Insersia uteri sekunder Terjadi pada fase aktif kala I dan kala II, permulaan his, baik kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan/kelainan.

B. Etiologi Menurut Rustam Mochtar (1998) sebab-sebab inersia uteri adalah : 1. Kelainan his sering dijumpai pada primipara 2. Faktor herediter, emosi dan ketakutan 3. Salah pimpinan persalinan dan obat-obat penenang 4. Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah rahim, ini dijumpai pada kesalahan-kesalahan letak janin dan disproporsi sevalopelvik 5. Kelainan uterus, misalnya uterus bikornis unikolis 6. Kehamilan postmatur (postdatism) 7. Penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia

8. Uterus yang terlalu teregang misalnya hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia

C. Komplikasi yang mungkin terjadi Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan akan berlangsung lama dengan akibat-akibat terhadap ibu dan janin (infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dll)

D. Diagnosis Untuk mendiagnosa inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk sampai kepada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit, tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi (his) yang kuat dan lama, maka diagnosis inersia uteri sekunder akan lebih mudah.

F. Penanganan Penanganan inersia uteri dengan : 1. Keadaan umum penderita harus diperbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan 2. Penderita dipersiapkan menghadapi persalinan dan dijelaskan tentang kemungkinankemungkinan yang ada. 3. Pada inersia primer, setelah dipastikan penderita masuk dalam persalinan, evaluasi kemajuan persalinan 12 jam, kemudian dengan periksa dalam. Jika pembukaan kurang dari 3 cm. porsio tebal lebih dari 1 cm, penderita diistirahatkan, berikan sedativa sehingga pasien dapat tidur, mungkin masih dalam false labour. Jika setelah 12 jam berikutnya tetap ada his tanpa ada kemajuan persalinan, ketuban dipecahkan dan his tanpa ada kemajuan persalinan, ketuban dipecahkan dan his diperbaiki dengan infus pitosin, perlu diingat bahwa persalinan harus diselesaikan dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah agar prognosis janin tetap baik. 4. Pada inersia uteri sekunder, dalam fase aktif, harus segera dilakukan : a. Penilaian cermat apakah ada disproporsi sevalopelvik dengan pelvimentri klinik atau radiologi. Bila CPD maka persalinan segera diakhiri dengan sectio cesarea b. Bila tidak ada CPD, ketuban dipecahkan dan diberi pitocin infus c. Bila kemajuan persalinan kembali 2 jam setelah his baik. Bila tidak ada kemajuan, persalinan diakhiri dengan sectio cesarea d. Pada akhir kala I atau pada kala II bila syarat ekstraksi vakum atau cunam dipenuhi, maka persalinan dapat segera diakhiri dengan bantuan alat tersebut.

Hampir 50% kelainan his pada fase aktif disebabkan atau dihubungkan dengan adanya CPD, sisanya disebabkan oleh faktor lain seperti kelainan posisi janin, pemberian obat sedativa atau relaksan terhadap otot uterus dan sebagainya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar. Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. AKI di Indonesia menurut SDKI 2002-2003 adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Persalinan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya power yaitu kekuatan his dan daya mengejan, passage (jalan lahir), passenger, psikis dan penolong. Kekuatan his yang ada pada ibu tidak selalu menghasilkan his yang adekuat, tetapi dapat juga timbul kelainan his. Kelainan his dapat berupa his yang terlampau kuat (tetania uteri) atau his yang lebih lemah, singkat dan jarang yang disebut dengan inersia uteri. Diagnosis pada inersia uteri memerlukan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Inersia uteri dapat menyebabkan persalinan berlangsung lama dan menimbulkan bahaya baik terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan penilaian yang seksama untuk menentukan sikap yang harus diambil. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian dan penanganan yang serius agar tidak menimbulkan komplikasi baik pada ibu maupun pada janin 1.2 1.2.1 Tujuan Tujuan Umum

Mahasiswa mendapat pengalaman yang nyata dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan inersia melalui pendekatan manajemen kebidanan 1.2.2 Tujuan Khusus

Diharapkan mahasiswa mampu ; 1) 2) 3) 4) 5) 6) Melakukan pengkajian pada ibu bersalin dengan inersia uteri Menentukan diagnosa Menentukan diagnosa atau masalah potensial Menentukan kebutuhan segera ibu bersalin dengan inersia uteri Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh pada ibu bersalin dengan inersia uteri Melaksanakan perencanaan pada ibu bersalin dengan inersia uteri

7)

Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan

1.3

Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam asuhan kebidanan ini pada Ny S G1P0000 42 minggu/ T/H/Intrauteri/Presentasi Belakang Kepala/Inpartu Kala I FaseAktif dengan Inersia Uteri di Ruang Sakinah RS Muhammadiyah Lamongan 1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, studi buku catatan perkembangan pasien dan studi kepustakaan 1.5 Pelaksanaan

Penyusunan laporan ini berdasarkan pelaksanaan praktek mulai tanggal 13 Agustus 2007 s/d 19 Agustus 2007 di Ruang Sakinah RS Muhammadiyah Lamongan 1.6 Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup, Metode Penulisan, Pelaksanaan, Sistematika Penulisan BAB II Tinjauan Pustaka

BAB III Tinjauan Kasus terdiri dari pengkajian, interpretasi data dasar, identifikasi masalah potensial, identifkasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi BAB IV Penutup terdiri dari kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR PERSALINAN 2.1.1 Pengertian Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang viable dari dalam rahim kedunia luar baik melalui jalan lahir maupun jalan lain (Prawiroharjo, 2005). Persalinan Normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap, setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi baik. 2.1.2 Sebab- Sebab Terjadinya Persalinan 1. Teori Penurunan Hormon

1-2 minggu sebelum partus terjadi penurunan kadar hormone estrogen dan progesterone. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun. 2. Teori Oksitosin

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior. Penurunan hormone progesterone akibat tuanya kehamilan akan meningkatkan oksitosin, sehingga persalinan dapat dimulai. 3. Teori Prostaglandin

Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan. 4. Teori Plasenta Menjadi Tua

Plasenta menjadi tua dengan tuanya kehamilan, villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesterone menurun dan menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim 5. Teori Distensi Rahim

Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemia otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter. Rahim akan berkontraksi untuk mengeluarkan isi rahim

2.1.3

Kala Persalinan

Kala I ( Kala Pembukaan) Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu : a. Fase Laten Dimulai sejak awal kontraksi, menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap b. Pembukaan serviks < 4 cm Berlangsung < 8 jam Fase Aktif Frekwensi dan lama kontraksi meningkat Pembukaan dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm per jam Berlangsung < 6 jam

Kala II (Kala Pengeluaran) Kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5-2 jam dan multipara rata-rata -1 jam. Tanda dan Gejala Kala II : Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum Perineum menonjol Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka Peningkatan pengeluaran lendir dan darah

Diagnosis Kala II Pembukaan serviks telah lengkap Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina Kala III ( Kala Pengeluaran Uri) Kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Tanda-tanda lepasnya plasenta : Kala IV Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah kelahiran itu. Setelah lahirnya plasenta, periksa : 2.1.4 2.1.5 a. Kelengkapan plasenta dan selaput ketuban Perkiraan kehilangan darah Periksa perineum dari perdarahan aktif Evaluasi kondisi ibu Tanda-Tanda Inpartu His teratur, frekwensi minimal 2x dalam 10 menit Penipisan dan pembukaan serviks Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah Faktor-faktor yang berpengaruh dalam persalinan Power Perubahan bentuk dan tinggi fundus Tali pusat memanjang Semburan darah tiba-tiba.

Yaitu kekuatan pendorong yang terdiri dari kekuatan his dan daya mengejan Kekuatan His His adekuat pada fase laten bila : Frekwensi minimal 2 kali dalam 10 menit Intensitas kuat Lama >20 detik

His adekuat pada fase aktif bila : His teratur, frekwensi minimal 2 kali dalam 10 menit

Intensitas kuat, uterus mengeras pada waktu kontraksi, sehingga tidak didapatkan cekungan bila dilakukan penekanan dengan jari Lama >40 detik

Daya mengejan Kekuatan mengejan ditentukan oleh : b. c. d. Ada tidaknya reflek mengejan Otot abdomen dan diafragma Sisten cardiorespirasi Passage (Jalan lahir) Tulang dan sendi Jalan lahir lunak terdiri dari ligament, otot dan jaringan Keadaan sekitar jalan lahir Passanger Janin meliputi ukuran kepala, sikap, letak, presentasi, posisi Kedudukan janin Ketuban dan plasenta Psikis Ibu

Kondisi psikologis ibu akan sangat membantu dalam proses persalinan e. Penolong

Kemampuan dan ketrampilan penolong dalam memimpin persalinan 2.1.6 Kala I a. Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi Ruangan hangat dan bersih, sirkulasi baik terlindung dari tiupan angin Penerangan yang cukup Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong Rencana Asuhan

b.

Menyiapkan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat yang dibutuhkan

c. Menjaga privasi ibu antara lain menggunakan penutup atau tirai, tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin ibu d. Memberikan dukungan emosional Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga atau teman

dekat -

Mendengarkan keluhan ibu

Memberikan penjelasan tentang kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi dan prosedur yang akan dilaksanakan e. Membantu pengaturan aktivitas dan posisi ibu Posisi sesuai dengan keinginan ibu, jika ingin ditempat tidur anjurkan untuk miring kekiri Sarankan untuk berjalan jika kepala telah engaged Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya

f. Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his : ibu diminta untuk menarik nafas panjang, tahan sebentar, kemudian dilepaskan dengan cara meniup sewaktu ada his g. Memberikan cukup cairan dan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi h. i. j. Mempertahankan kandung kemih tetap kosong Melakukan perawatan fisik ibu : menjaga kebersihan dan kenyamanan Membolehkan ibu untuk mandi Menganjurkan ibu membasuh sekitar kemaluannya seusai buang air kecil/besar Menggunakan partograf untuk memantau persalinan yang terdiri ; Pembukaan servik dan penurunan kepala janin setiap 4 jam Kontraksi uterus Tekanan darah dan suhu badan Nadi Produksi urin, aseton dan protein Denyut Jantung Janin setiap 30 menit setiap 4 jam setiap 30 menit setiap 2 sampai 4 jam setiap 30 menit

k.

Menyiapkan rujukan apabila didapati salah satu atau lebih penyulit : -Riwayat bedah sesar -Perdarahan pervagina -Ikterus -Anemia berat -Persalinan kurang bulan Ketuban pecah dengan meconium -Ketuban pecah lama -Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan -Tanda/gejala infeksi -Preeklamsi/hipertensi dalam kehamilan -TFU 40 cm/ lebih -Syok -Presentasi majemuk -Tali usat menumbung -Gawat janin -Kehamilan gemelli

Kala II a. Mengamati tanda dan gejala kala II

b. Persiapan penolong persalinan : cuci tangan , mengenakan sarung tangan dan perlengkapan pelindung pribadi c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Memastikan kelengkapan peralatan dan bahan Menganjurkan keluarga untuk mendampingi dan terlibat dalam asuhan ibu Menjelaskan proses kelahiran dan kemajuan persalinan pada ibu dan keluarga Menjaga kebersihan ibu Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi Bila ada darah, lendir atau cairan ketuban segera bersihkan Membantu ibu memilih posisi yang nyaman saat meneran Menganjurkan ibu untuk istirahat diantara his Memberikan ibu cukup minum untuk mencegah dehidrasi Mempertahankan agar kandung kemih tetap kosong Memimpin persalinan Persiapan kelahiran, melahirkan kepala, bahu, badan

m. Mengeringkan bayi dan menghangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh n. Kala III a. b. c. Memberikan oksitosin 10 IU IM pada paha kanan bagian luar sepertiga bagian atas . Melakukan penegangan tali pusat terkendali Massase fundus uteri Melakukan pemantauan : Nadi tiap 30 menit Frekwensi dan lama kontraksi tiap 30 menit DJJ tiap selesai meneran Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah Apakah ada presentasi majemuk Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir Adanya kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelumnya

Kala IV a. b. c. d. Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban Memperkirakan kehilangan darah Memeriksa perineum dari perdarahan aktif Melakukan penjahitan pada robekan

e. Menganjurkan ibu untuk minum untuk mencegah dehidrasi dan menawarkan ibu makanan yang disukai f. g. Membersihkan perineum ibu dan mengenakan ibu pakaian yang bersih Meningkatkan hubungan ibu dan bayi

h. Memantau keadaan umum ibu ; tekanan darah, nadi, tinggi fundus uteri, kontraksi, kandung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit dalam 1 jam dan tiap 30 menit dalam 1 jam kedua i. j. k. Memantau temperature ibu satu kali tiap jam selama dua jam pertama pasca persalinan Melakukan rangsang taktil uterus untuk memastikan kontraksi uterus baik. Mengajarkan ibu atau anggota keluarga tentang : Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi

Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi

2.2 INERSIA UTERI 2.2.1 Pengertian

His yang sifatnya lebih lemah, lebih singkat, dan lebih jarang dibandingkan his yang normal ( Mochtar, 1998). 2.2.2 Klasifikasi

Inersia dibagi atas : 1) Inersia uteri primer

Kelemahan his timbul sejak dari permulaan persalinan. Kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa. Keadaan umum penderita baik dan rasa nyeri tidak seberapa. Hal ini harus dibedakan dengan his pendahuluan yang juga lemah dan kadang-kadang menjadi hilang (false labour) 2) Inersia uteri Sekunder

Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat teratur dan dalam waktu yang lama. Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, pada bagian terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah. 2.2.3 Etiologi

Kelainan his ditemukan pada : Multigravida.

Bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus misalnya kelainan letak janin, atau disproporsi sefalopelvik. 2.2.4 Peregangan rahim yang berlebihan ; pada kehamilan ganda dan hidramnion Gangguan pembentukan uterus pada masa embrional misalnya uterus bikornis Pada sebagian kasus penyebab inersia uteri tidak diketahui Diagnosis

Diagnosis inersia membutuhkan pengalaman dan pengawasan yang teliti terhadap persalinan. Pada fase laten diagnosis akan lebih sulit tetapi bila sebelumnya telah ada kontraksi yang kuat dan lama maka diagnosis inersia uteri sekunder akan lebih mudah. 2.2.5 Penanganan

Periksa keadaan serviks, presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul.

1)

Bila inersia disertai disproporsi sefalopelvik sebaiknya dilakukan Sectio Caesarea

2) Apabila tidak ada disproporsi sefalopelvik atau disproporsi sefalopelvik ringan dapat diambil sikap : jalan. Perbaiki keadaan umum penderita, kandung kemih dikosongkan. Bila kepala aatau bokong janin sudah masuk kedalam panggul penderita disuruh berjalan-

Atau berikan oksitosin 5-10 IU dalam 500 cc dekstrosa 5% diberikan secara inus intravena dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit, dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes permenit Pemberian oksitosin sebaiknya diberikan beberapa jam saja, kalau ternyata tidak ada kemajuan pemberian dihentikan, supaya penderita beristirahat, kemudian dicoba lagi untuk beberapa jam; kalau masih tidak ada kemajuan lebih baik dilakukan sectio caesarea. 3) Bila semula his kuat tetapi kemudian terjadi inersia uteri sekunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih 24 jam pada primi dan 18 jam pada multi, sebaiknya partus segera diselesaikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan indikasi obsbstetrik lainnya (ekstraksi vakum atau forsep atau SC). DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2004, Asuhan Persalinan Normal, Depkes RI, Jakarta Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. EGC. Jakarta Pritchard, Mac Donald, 1984, Obstetri William, Airlangga UniversityPress, Surabaya. Wiknjosastro, Hanifa. dkk. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono prawirohardjo. Jakarta.