Anda di halaman 1dari 15

BAB I

KASUS BEN
Pada 1990-an, Bon Tolong Richmond Sistem Kesehatan telah membentuk hubungan kontrak dengan perusahaan asuransi setiap perawatan kesehatan di pusat Virginia. Sistem's St Mary's Hospital telah mencari, di samping reputasi yang sangat baik untuk berbelas kasih dan layanan berkualitas tinggi, untuk menjadi salah satu penyedia biaya lebih rendah untuk pusat Virginia.. Meskipun perusahaan asuransi di awal dekade kontrak dengan semua rumah sakit daerah untuk ganti rugi dan produk PPO, banyak berusaha untuk mengendalikan biaya dengan membatasi enrollees HMO mereka ke rumah sakit yang dipilih.. Penyedia menerima penggantian yang lebih rendah istilah-istilah dalam pertukaran peningkatan volume pasien ke fasilitas mereka.. Risiko keuangan yang terkait dengan ganti rugi dan produk PPO ditanggung, sebagian besar, oleh individu atau bisnis dikelola sendiri.. Asuransi di bawah produk HMO mengasumsikan risiko finansial dan imbalan Bon fasilitas Tolong mempertahankan struktur biaya 25-40 persen lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain rumah sakit, karena dua alasan: keprihatinan untuk biaya perawatan kesehatan di masyarakat, khususnya untuk out-of-saku biaya pasien, dan karena seperti strategi bisnis memungkinkan organisasi untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar. Hal ini memungkinkan untuk lebih rendah biaya per unit dan garis bawah yang dapat diterima. Bon Tolong itu, sebenarnya, yang lebih disukai penyedia rencana kesehatan untuk produk HMO mereka. Yang "menang-menang" lebih bisnis Bon Tolong diarahkan ke rumah sakit untuk biaya yang lebih rendah untuk asuransi Dilema untuk rencana kesehatan pada pertengahan hingga akhir 1990-an adalah bagaimana meningkatkan bisnis mereka. Pilihan yang cukup sederhana: baik bergabung dengan atau membeli bersaing rencana, atau "terbuka" jaringan HMO mereka yang terbatas menyerupai PPO mereka konsumen produk yang memberikan pilihan yang lebih besar dari penyedia. Beberapa rencana melakukan keduanya.

Penggabungan Kesehatan AS dan Aetna menyebabkan perubahan signifikan dalam pasar Richmond. Ketika Aetna kemudian memperoleh Virginia pusat bisnis Prudential dan NYLCare, upaya-upaya lebih lanjut untuk mengurangi pembayaran, sejalan dengan kontrak capitated Prudential, menjadi penting untuk negosiasi. Yang "baru Aetna" melanjutkan untuk memungkinkan pasien untuk menggunakan dikecualikan sebelumnya rumah sakit-namun tetap membayar tarif Tolong Bon didasarkan atas dasar susunan jaringan yang terbatas, meskipun kontrak secara khusus meminta pembayaran lebih tinggi dalam hal perubahan jaringan yang diterapkan. Awalnya, tidak Aetna Bon Tolong sebarkan ke perubahan dalam jaringan penyedia layanan dan setelah itu menolak untuk melakukan pembayaran penyesuaian. Kegagalan untuk menyesuaikan pembayaran selama 18 bulan sebelumnya dan penyangkalan klaim rutin menghasilkan beberapa juta dolar untuk pembayaran kekurangan Bon Tolong. Tolong Bon setempat chief executive mendirikan sebuah strategi internal tim yang terdiri dari perawatan yang dikelola, keuangan, administrasi rumah sakit, dan sponsor anggota tim senior. Tanggung jawab kelompok ini adalah untuk menghasilkan data yang memungkinkan tim untuk memahami dampak potensial berbagai skenario, menetapkan parameter negosiasi, dan mengevaluasi dari beberapa perspektif tanggung jawab dan konsekuensi untuk Bon Tolong untuk kontrak ini. Sistem lokal juga bekerja dengan staf perusahaan untuk menetapkan pendekatan dan penerimaan dari setiap keputusan akhir. Tim manajemen memutuskan bahwa apakah Bon Tolong kehilangan kontrak atau setuju untuk sebuah struktur penetapan harga baru, risiko signifikan yang terlihat. Jika Bon Tolong gagal mempertahankan bisnis Aetna, yang mewakili 8 persen dari pendapatan, kehilangan pendapatan akan menempatkan kebutuhan peningkatan modal dan kenaikan upah dalam bahaya. Tapi untuk setuju dengan diskon yang signifikan dalam bisnis saat ini ke titik yang diperlukan oleh Aetna akan mempengaruhi pengelolaan sumber daya untuk sistem lokal. Dalam setahun, Bon Tolong bisa berharap rencana kesehatan besar lainnya untuk mengejar struktur tarif yang sama. Selain kenaikan gaji karyawan terdahulu dan penggantian peralatan, Bon Tolong mungkin bisa menghadapi keputusan tentang tingkat dan kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien.

Mendahulukan Karyawan
Forrest King nyaris tak mempercayai kejadian itu. Puluhan karyawan Federal Express menyambutnya dengan sorak sorai meriah ketika ia dan istrinya melangkah keluar dari pesawat Boeing 747 yang mereka sewa. King datang ke Memphis bersama sejumlah karyawan Flying Tiger lainnya, perusahaan yang baru saja dibeli oleh Federal Express. Dia datang ke Memphis untuk menjajagi apakah perlu dilakukan relokasi perusahaan. Sambutan itu, lengkap dengan karpet merah dan panitia penyambutan, termasuk oleh walikota Memphis dan CEO FedEx, merupakan perkenalan pertama King dengan perusahaan yang luar biasa ini.

Kata King, "Menurut pendapat saya, jika sebuah perusahaan mengambil alih perusahaan kita, mereka tidak wajib mempekerjakan kita. Tetapi, mereka semua - dan hal itu dikomunikasikan melalui memo dan kemudian video ditawari pekerjaan."

Gaya manajemen CEO FedEx, Fred Smith, yang berbunyi "karyawan dulu" dapat dirangkum dengan satu slogan FedEx: "Karyawan, Pelayanan, Keuntungan" atau PSP "People, Service, Profit". "Perhatikan karyawanmu; maka mereka pun akan memberikan layanan yang tak tercela yang dituntut oleh para pelanggan kita, yang akan memberi kita imbalan berupa keuntungan, yang kita perlukan untuk menjamin masa depan kita."

Dan FedEx memang memperhatikan karyawan mereka. Ketika program Zapmail ditutup pada tahun 1986, 1300 karyawan yang bekerja di departemen itu mendapat prioritas pertama untuk melamar pekerjaan yang ditawarkan dalam perusahaan. Karyawan yang tidak mendapatkan kedudukan dengan gaji yang sama dengan gaji sebelumnya dapat mengambil pekerjaan yang lebih rendah dan tetap memperoleh gaji sebesar gaji sebelumnya sampai selama 15 bulan, atau sampai mereka memperoleh pekerjaan lain yang gajinya lebih tinggi.

Dan ketika FedEx menghentikan sebagian besar layanannya di Eropa dan mengurangi angkatan kerjanya di Eropa dari 9200 menjadi 2600 orang, FedEx menerima pujian, antara lain dari The

London Times yang memuji cara mereka memberhentikan karyawan mereka. Misalnya, FedEx memasang iklan satu halaman penuh di sejumlah surat kabar, menghimbau agar ada pihak yang mau mempekerjakan mantan karyawan FedEx. Di Belgia saja, 80 perusahaan menanggapi iklan itu dan menawarkan 600 lowongan kerja.

Karyawan FedEx memang bersatu pada masa-masa sulit. - Robert Levering, Nilton Moskowitz, dan Michael Katz (diadaptasi dari: A Cup of Chicken Soup for the Soul at Work - Jack Canfield, dkk.)

Etika terhadap komunitas masyarakat Tindakan Kejahatan Korporasi PT. Lapindo Brantas (Terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup di Sidoarjo, Jawa Timur)
Telah satu bulan lebih sejak terjadinya kebocoran gas di areal eksplorasi gas PT. Lapindo Brantas (Lapindo) di Desa Ronokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Kebocoran gas tersebut berupa semburan asap putih dari rekahan tanah, membumbung tinggi sekitar 10 meter. Semburan gas tersebut disertai keluarnya cairan lumpur dan meluber ke lahan warga. tak kurang 10 pabrik harus tutup, 90 hektar sawah dan pemukiman penduduk tak bisa digunakan dan ditempati lagi, demikian juga dengan tambak-tambak bandeng, belum lagi jalan tol Surabaya-Gempol yang harus ditutup karena semua tergenang lumpur panas. Perusahaan terkesan lebih mengutamakan penyelamatan asset-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan dan social yang ditimbulkan. Namun Lapindo Brantas akhirnya sepakat untuk membayarkan tuntutan ganti rugi kepada warga korban banjir Lumpur Porong, Sidoarjo. Lapindo akan membayar Rp2,5 juta per meter persegi untuk tanah pekarangan beserta bangunan rumah, dan Rp120.000 per meter persegi untuk sawah yang terendam lumpur.

Etika terhadap buruh dan pekerja BenQ, Kasus Pailit Dalam Ekonomi Global
Merjer bisnis telepon genggam perusahaan BenQ dan Siemens menjadi BenQ-Mobile awalnya bagai angin harapan, terutama bagi para pekerja pabrik di Jerman. Namun karena penjualan tidak menunjang dan banyak produk yang dipulangkan oleh pembelinya karena bermasalah, akibatnya dua pabrik BenQ, di Meksiko dan Taiwan, terpaksa ditutup. Karena itu BenQ melakukan restrukturisasi dan mem-PHK sejumlah pekerja.Hal ini sangat merugikan pihak buruh dan karyawan. Para pekerja merasa hanya dijadikan bahan mainan perusahaan yang tidak serius.

Etika Bisnis, Membangun Kepedulian dalam Lingkungan Perusahaan dan Masyarakat


Saat ini, mungkin ada sebagian masyarakat yang belum mengenali apa itu etika dalam berbisnis. Bisa jadi masyarakat beranggapan bahwa berbisnis tidak perlu menggunakan etika, karena urusan etika hanya berlaku di masyarakat yang memiliki kultur budaya yang kuat. Ataupun etika hanya menjadi wilayah pribadi seseorang. Tetapi pada kenyataannya etika tetap saja masih berlaku dan banyak diterapkan di masyarakat itu sendiri. Bagaimana dengan di lingkungan perusahaan? Perusahaan juga sebuah organisasi yang memiliki struktur yang cukup jelas dalam pengelolaannya. Ada banyak interaksi antar pribadi maupun institusi yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu kecenderungan untuk terjadinya konflik dan terbukanya penyelewengan sangat mungkin terjadi. Baik dalam tataran manajemen ataupun personal dalam setiap team maupun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar. Untuk itu etika ternyata diperlukan sebagai kontrol akan kebijakan, demi kepentingan perusahaan itu sendiri. Namun apakah etika itu sendiri dapat teraplikasi dan dirasakan oleh pihak-pihak yang wajib mendapatkannya? Pada prakteknya banyak perusahaan yang mengesampingkan etika demi tercapainya keuntungan yang berlipat ganda. Lebih mengedepankan kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga menggeser prioritas perusahaan dalam membangun kepedulian di masyarakat. Kecenderungan itu memunculkan manipulasi dan penyelewengan untuk lebih mengarah pada tercapainya kepentingan perusahaan. Praktek penyimpangan ini terjadi tidak hanya di perusahaan di Indonesia, namun terjadi pula kasus-kasus penting di luar negeri. Contoh kasus di dalam negeri, kita diingatkan oleh Freeport dengan perusakan lingkungan. Masyarakat dengan mata kepala sendiri menyaksikan tanah airnya dikeruk habis. Sehingga dampak dari hadirnya Freeport mendekatkan masyarakat dari keterbelakangan. Kalaupun masyarakat menerima ganti rugi, itu hanyalah peredam sesaat, karena yang terjadi justru masyarakat tidak banyak belajar dari usahanya sendiri. Masyarakat terlena dengan ganti rugi tiap tahunnya, padahal dampak jangka panjangnya sungguh luar biasa. Masyarakat akan semakin terpuruk dari segi mental dan kebudayaannya akan terkikis. Juga dalam beberapa tahun ini, tentunya kita masih disegarkan oleh kasus lumpur Lapindo. Kita tahu berapa hektar tanah yang terendam lumpur, sehingga membuat masyarakat harus meninggalkan rumahnya. Mungkin bisa

jadi ada unsur kesengajaan di dalamnya. Demi peningkatan profit yang tinggi, ada hal yang perlu dikorbankan, tentunya tidak lain masyarakat itu sendiri. Kita juga masih ingat akan kasus Teluk Buyat yang menyebabkan tercemarnya lingkungan tersebut. Yang cukup menghebohkan mungkin kasus Marsinah, seorang buruh yang memperjuangkan hak-haknya, tetapi mengalami peristiwa tragis yang membuat nyawanya melayang. Semua itu terjadi karena tidak diterapkannya etika dalam berbisnis. Di dalam etika itu sendiri terkandung penghargaan, penghormatan, tanggungjawab moral dan sosial terhadap manusia dan alam. Kalau kita melihat lebih jauh tentunya ada dua kepentingan, baik dari perusahaan dan masyarakat yang perlu diselaraskan. Di dalamnya terkandung juga hak dan kewajiban yang harus terpenuhi. Coba mari kita renungkan bersama, bukankah tidak diterapkannya etika dalam berbisnis justru akan menjadi bumerang bagi perusahaan tersebut? Mungkin akan banyak biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan kasus serta citra perusahaan di masyarakat luas semakin miring. Hal ini justru akan sangat merugikan perusahaan itu sendiri. Belum lagi kasus yang terjadi di luar negeri. Sebagai contoh adalah kasus asuransi Prudential di Amerika. Belum lagi skandal Enron ,Tycon, Worldcom dsb. Banyaknya kasus yang terjadi membuat masyarakat berpikir dan mulai menerapkan etika dalam berbisnis. Apalagi sekarang masyarakat mulai membicarakan CSR (Corporate Social Responsibility). Apa itu? Dalam artikel yang ditulis oleh Chairil Siregar disebutkan CSR merupakan program yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan undang-undang pasal 74 Perseroan Terbatas. Tentunya dengan adanya undang-undang ini, industri maupun korporasi wajib melaksanakannya, tetapi kewajiban ini bukan merupakan beban yang memberatkan. Salah satu contoh yaitu komitmen Goodyear dalam membangun masyarakat madani, ekonomi, pendidikan, kesehatan jasmani, juga kesehatan sosial. Kepedulian ini sebagai wujud nyata peran serta perusahaan di tengah masyarakat. Perlu diingat pembangunan suatu negara bukan hanya tanggungjawab pemerintah dan industri saja tetapi setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan kualitas hidup masyarakat.

BAB II

Kasus Enron Beberapa waktu yang lalu muncul beberapa kasus kebangkrutan perusahaan di Amerika Serikat yang menghebohkan kalangan dunia usaha yaitu kasus Enron, Worldcom & Tyco gate. Hal tersebut terjadi karena terdapat pelanggaran etika dalam berbisnis (unethical business practices), padahal Amerika termasuk negara yang sangat mengagungkan prinsip GCG dan etika bisnis. Penyebab kebangkrutan beberapa perusahaan tersebut, karena diabaikannya etika bisnis serta prinsip GCG, terutama prinsip keterbukaan, pengungkapan dan prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan perusahaan. Implementasi GCG memang tidak bisa hanya mengandalkan kepercayaan terhadap manusia sebagai pelaku bisnis dengan mengesampingkan etika. Seperti kita ketahui, sebagus apapun sistem yang berlaku di perusahaan, apabila manusia sebagai pelaksana sistem berperilaku menyimpang dan melanggar etika bisnis maka dapat menimbulkan fraud yang sangat merugikan perusahaan. Beberapa saat setelah krisis ekonomi melanda negeri kita sekitar tahun 1997 yang lalu, banyak terdapat bank-bank yang berguguran alias ditutup usahanya, sehingga termasuk kategori Bank Beku Operasi, Bank Belu Kegiatan Usaha dan Bank dalam Likuidasi. Salah satu penyebab kebangkrutan bank-bank tersebut karena perbankan Indonesia pada saat itu belum menerapkan prinsip-prinsip GCG serta etika bisnis secara konsisten. Semoga kasus kebangkrutan perusahaan di Amerika serikat serta perbankan di Indonesia tersebut, dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk diambil hikmahnya, sehingga dalam pengelolaan perusahaan tetap berpedoman pada etika bisnis yang baik serta menerapkan prinsip GCG.

Pemilihan Ketua Muhammadiyah, 13 Formatur Independen


Malang - 13 orang formatur Pengurus Pusat Muhammadiyah yang dipilih muktamirin, Selasa (05/07/2005) kemarin, dalam menentukan seorang ketua umum tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun baik itu PWM, Ortom, maupun tokoh Muhammadiyah sekalipun. Hal tersebut disampaikan Haedar Nashir saat ditemui wartawan di Hotel University Inn UMM Jalan Raya Tlogomas Malang, Rabu (6/7/2005). Haedar Nashir yang saat ini masih tercatat sebagai Sekretaris PP Muhammadiyah ini beralasan, mereka, baik itu Ortom, PWM maupun muktamirin sudah mendapatkan misi, visi dan menyalurkan aspirasi selama muktamar berlangsung. "Karena untuk memilih seorang ketua umum, mekanisme yang akan dipakai nantinya, adalah proses demokratis. Bisa melalui penyampaian aspirasi yang dilakukan satu-persatu oleh ke-13 formatur, bisa juga langsung menunjuk nama atau dipilih melalui voting," jelas Haedar. Mengapa harus menggunakan mekanisme demikian, menurut Haedar hal itu berdasarkan argumentasi masingmasing orang dalam formatur untuk kepentingan Muhammadiyah ke depan. Memilih calon Ketua Umum PP Muhammadiyah yang bukan merupakan pemilik suara terbanyak tidak melanggar kode etika, ke-13 formatur PP Muhammadiyah mempunyai kesempatan yang sama untuk mengemban amanat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ke-13 anggota PP ini diberi mandat oleh muktamirin untuk memilih ketua, dan hasil pilihan tersebut dibawa ke sidang pleno untuk disahkan. "Siapapun yang dipilih jadi ketua akan memposisikan diri dan diposisikan sebagai pimpinan kolektif, saya pikir ke-13 orang itu siap semuanya kalau diberi amanat," kata Haedar. Menurutnya, yang dicalonkan menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah tidak selalu yang memiliki jumlah suara terbanyak, meskipun kita tidak memilih yang terbanyak itu tidak melanggar etika. Mengenai isu akan dilakukan demo oleh bebarapa Pimpinan Wilayah (PWM) muhammadiyah, serta Organisasi otonom (ortom), menurut Haedar hal tersebut merupakan sebuah tekanan yang tidak perlu dilakukan. "Mereka harusnya tidak perlu memberi pressure (tekanan) dari luar kepada kita. Saya yakin ke-13 orang sudah mempunyai visi dan misi, kalau itu dilakukan bisa terjadi muktamar di luar muktamar," tandas Haedar. (san/)

Bukan Service Honda Tidak Memuaskan Tetapi Memang Tidak Ada Service
Jakarta - Dealer resmi Honda yang berada di Jl Tole Iskandar Kmp Sida Mukti saya kenal cukup baik dalam segi hal pelayanan jasa service motor. Tetapi, bertolak belakang dalam pelayanan jasa pembayaran angsuran FIF.

Karyawan yang melayani jasa pembayaran angsuran FIF memang kurang ada etika dalam pelayanan. Semenjak saya masuk dan berdiri di depan meja pembayaran pun karyawan ini tidak menegur. Bahkan, mempersilahkan saya untuk duduk.

Tapi, saya berfikir positif saja. Mungkin dia sedang sibuk menghitung uang sehingga tidak menyadari keberadaan saya. Kemudian saya duduk dan bertanya, "pembayaran angsuran FIF di sini kan, Mas?"

Kembali saya mendapatkan acuhan dari karyawan ini yang tak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya saya mengeluarkan kartu pembayaran dan akhirnya karyawan tersebut berbicara setelah saya mengira mungkin dia bisu dan tuli. "Bawa bukti pembayaran terakhir gak?" Kemudian saya jawab, "tidak, Mas, saya kira cukup bawa kartunya saja".

Kemudian dia beranjak ke arah telepon dan kembali dengan menuliskan kwitansi pembayaran dan menyebutkan nominal yang saya harus bayar. Akhirnya saya pun mengeluarkan uang untuk membayar.

Nah, pada saat inilah puncak kekesalan saya pada karyawan ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia memberikan kwitansi tersebut beserta uang kembaliannya dan disusul dengan mengembalikan kartu FIF saya yang dilakukan seperti membagikan kartu remi.

Dengan perasaan yang dongkol saya mengucapkan terima kasih karyawan tersebut pun tidah membalas ucapan terakhir saya. Itulah yang membuat saya menulis judul surat pembaca ini, "tidak ada service sama sekali". Terima kasih.

Kasus manipulasi laporan keuangan


Manipulasi laporan keuangan PT KAI Dalam kasus tersebut, terdeteksi adanya kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi. Skandal Enron, Worldcom dan perusahaan-perusahaan besar di AS Worldcom terlibat rekayasa laporan keuangan milyaran dollar AS. Dalam pembukuannya Worldcom mengumumkan laba sebesar USD 3,8 milyar antara Januari 2001 dan Maret 2002. Hal itu bisa terjadi karena rekayasa akuntansi. Penipuan ini telah menenggelamkan kepercayaan investor terhadap korporasi AS dan menyebabkan harga saham dunia menurun serentak di akhir Juni 2002. Dalam

perkembangannya, Scott Sullifan (CFO) dituduh telah melakukan tindakan kriminal di bidang keuangan dengan kemungkinan hukuman 10 tahun penjara. Pada saat itu, para investor memilih untuk menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di bursa saham.

Kasus Penarikan Produk Obat Anti-Nyamuk HIT


Pada hari Rabu, 7 Juni 2006, obat anti-nyamuk HIT yang diproduksi oleh PT Megarsari Makmur dinyatakan akan ditarik dari peredaran karena penggunaan zat aktif Propoxur dan Diklorvos yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan terhadap manusia, sementara yang di pabrik akan dimusnahkan. Sebelumnya Departemen Pertanian, dalam hal ini Komisi Pestisida, telah melakukan inspeksi mendadak di pabrik HIT dan menemukan penggunaan pestisida yang menganggu kesehatan manusia seperti keracunan terhadap darah, gangguan syaraf, gangguan pernapasan, gangguan terhadap sel pada tubuh, kanker hati dan kanker lambung.

HIT yang promosinya sebagai obat anti-nyamuk ampuh dan murah ternyata sangat berbahaya karena bukan hanya menggunakan Propoxur tetapi juga Diklorvos (zat turunan Chlorine yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia). Obat antinyamuk HIT yang dinyatakan berbahaya yaitu jenis HIT 2,1 A (jenis semprot) dan HIT 17 L (cair isi ulang). Selain itu, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan melaporkan PT Megarsari Makmur ke Kepolisian Metropolitan Jakarta Raya pada tanggal 11 Juni 2006. Korbannya yaitu seorang pembantu rumah tangga yang mengalami pusing, mual dan muntah akibat keracunan, setelah menghirup udara yang baru saja disemprotkan obat anti-nyamuk HIT. Masalah lain kemudian muncul. Timbul miskomunikasi antara Departemen Pertanian (Deptan), Departemen Kesehatan (Depkes), dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Menurut UU, registrasi harus dilakukan di Depkes karena hal tersebut menjadi kewenangan Menteri Kesehatan. Namun menurut Keppres Pendirian BPOM, registrasi ini menjadi tanggung jawab BPOM.

Namun Kepala BPOM periode sebelumnya sempat mengungkapkan, semua obat nyamuk harus terdaftar (teregistrasi) di Depkes dan tidak lagi diawasi oleh BPOM.

Ternyata pada kenyataanya, selama ini izin produksi obat anti-nyamuk dikeluarkan oleh Deptan. Deptan akan memberikan izin atas rekomendasi Komisi Pestisida. Jadi jelas terjadi tumpang tindih tugas dan kewenangan di antara instansi-instansi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://insidewinme.blogspot.com/2008/02/kasus-obat-nyamuk-hit.html http://absa.blog.binusian.org/2009/12/30/kasus-etika-bisnis-perusahaan/ http://muhariefeffendi.wordpress.com/2007/11/07/menghindarkan-kebangkrutan-perusahaan-melaluiimplementasi-gcg-etika-bisnis/ http://insidewinme.blogspot.com/2007/12/kasus-etika-bisnis-perusahaan.html

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://findarticles.com/p/articles/ mi_qa3859/is_200109/ai_n8962614/
http://www.krakatau-it.co.id/Artikel/Renungan/Mendahulukan_Karyawan/

http://insidewinme.blogspot.com/2007/12/kasus-etika-bisnis-perusahaan.html http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=14239 http://suarapembaca.detik.com/read/2010/03/03/113311/1310099/283/bukan-service-hondatidak-memuaskan-tetapi-memang-tidak-ada-service