Anda di halaman 1dari 2

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan suaka perikanan yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan

Gubemur Provinsi Sumatera Selatan dan atau Surat Keputusan Bupati OKI dan MUBA tidak berfungsi baik sebagai kawasan pemasok peremajaan (rekrutmen) ikan bagi kawasan penangkapan di sekitarnya. Penetapan kawasan suaka umumnya tidak dilandasi hasil kajian ilmiah yang memadai. Banyak kawasan suaka yang tidak sesuai sebagai habitat pemijahan ikan, habitat asuhan maupun pembesaran. Beberapa kawasan suaka tidak mempunyai saluran penghubung dengan kawasan penangkapan sehingga konektivitas ekologisnya terputus (Kartamihardja dkk, 2010).

Perairan sungai dan rawa banjirannya (river and its floodplain) adalah salah satu tipe perairan umum daratan yang unik dan memiliki keanekaragaman hayati ikan dan produktivitas perikanan yang tinggi, namun juga merupakan kawasan ekosistem yang sangat rentan sehingga kelestariannya sering terancam (Tockner & Stanford, 2002, Welcomme, 1985).

Degradasi perairan sungai dan rawa banjiran sangat erat kaitannya dengan kecepatan penurunan keanekaragaman hayati perairan tawar sebagai akibat dan degradasi habitat, invasi spesies dan pencemaran. Dalam hal ini, peningkatan jumlah penduduk akan merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap degradasi daerah riparian, intensifikasi siklus hidrologi, peningkatan masuknya cemaran dan masuknya spesies eksotik (Husnah, 2008).

Sungai Musi dan rawa banjirannya merupakan tepian sungai yang sepanjang musim penghujan merupakan kawasan luapan air. Perairan ini berperan sangat penting dalam penyediaan komoditas dan jasa lingkungan, termasuk perikanan sehingga areal ini menjadi kantong ikan tangkapan. Memasuki musim kemarau, kawasan sungai dan rawa banjirannya mulai surut dan fungsinya berubah menjadi sawah lebak. Pada waktu tersebut, sebagian jenis ikan akan berkumpul di lebung-Iebung dan jenis ikan lainnya masuk ke aliran sungai (Kartamihardja et aI, 2008).

Dewasa ini, sebagian besar kawasan suaka perikanan sebagai penindungan daerah pemijahan, asuhan dan pembesaran ikan sudah tidak berfungsi lagi (Sarnita et aI., 2000). Hal ini disebabkan penetapan kawasan suaka tersebut tidak didasarkan atas hasil kajian ilmiah yang memadai tentang proses-proses ekolegis yang terjadi sehingga banyak kawasan suaka yang tidak efektif dalam meningkatkan rekruitmen sumberdaya ikan alaminya.

Keberadaan kawasan suaka produksi ikan di perairan sungai dan rawa banjirannya menunjukkan peran yang sang at penting bagi kelangsungan produktivitas perikanan. Berdasarkan hasil kajian laju tangkap (catch rate) ikan di beberapa desa nelayan di perairan sungai di Sumatera Selatan, Jambi dan Kalimantan Barat menunjukkan secara nyata bahwa laju tangkap ikan di kawasan perairan sungai yang mempunyai suaka perikanan ada/ah lebih

tinggi dari faju tangkap ikan di kawasan perairan sungai yang tidak mempunyai suaka perikanan (Thomas et a/., 2003).

Beberapa kriteria ekologis dalam penetapan suaka produksi ikan agar suaka tersebut berfungsi efektif adalah sebagai berikut (Kartamihardja dan Satria, 2000): Kawasan suaka harus memenuhi kriteria limnologis yang sesuai sebagai habitat

pemijahan, asuhan, pemakanan dan atau pembesaran ikan; Kawasan suaka harus mempunyai konektivitas ekologis atau saluran penghubung

dengan kawasan penangkapan di sekitamya; Terdapat pembagian zonasi; yang meliputi zona inti, penyangga dan zona ekonomi Ada regulasi sebagai perangkat pengelolaan sumberdaya ikan yang dapat berasal dari

kearifan lokal atau peraturan yang berasal dari kesepakatan masyarakat lokal dan ditetapkan secara formal oleh pemerintah. Dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap aspek biologi reproduksi ikan dan aspek

limnologis kawasan suaka untuk adaptasi pengelolaannya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Nomor 18 Tahun 2005, obyek Ielang lebak lebung adalah semua jenis ikan dan biota perairan lainnya yang terdapat dalam areal Lebak Lebung Umum, dan Lebung Waris yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa setelah mendapat persetujuan Badan Pembangunan Desa dan disahkan oleh Bupati. Masa berlaku lelang adalah satu tahun terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember pada tahun yang sama.