Anda di halaman 1dari 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori A. Ekstraksi 1.Pengertian Ekstraksi Ekstraksi adalah penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ekstraksi dengan pelarut tertentu dalam mengekstraksinya. Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut. 2. Jenis-jenis ekstraksi Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah ekstraksi secara panas dengan cara refluks dan penyulingan uap air dan ekstraksi secara dingin dengan cara maserasi, perkolasi dan alat soxhlet.
(Dirjen POM, 1986)

3. Cara-cara ekstraksi a. Ekstraksi secara soxhletasi Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya ekstraksi secara berkesinambungan. Cairan penyari dipanaskan sampai mendidih. Uap penyari akan naik melalui pipa samping, kemudian diembunkan lagi oleh pendingin tegak. Cairan penyari turun untuk menyari zat aktif dalam simplisia. Selanjutnya bila cairan penyari mencapai sifon, maka seluruh cairan akan turun ke labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian seterusnya sampai zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari seluruhnya yang ditandai jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon. b. Ekstraksi secara perkolasi Perkolasi dilakukan dengan cara dibasahkan 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok, menggunakan 2,5 bagian sampai 5 bagian cairan penyari dimasukkan dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator, ditambahkan cairan penyari. Perkolator ditutup dibiarkan selama 24 II-1

Biodiesel jam, kemudian kran dibuka dengan kecepatan 1 ml permenit, sehingga simplisia tetap terendam. Filtrat dipindahkan ke dalam bejana, ditutup dan dibiarkan selama 2 hari pada tempat terlindung dari cahaya. c. Ekstraksi secara maserasi Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan 10 bagian simplisia dengan derajat yang cocok ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan penyari 75 bagian, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari, terlindung dari cahaya sambil diaduk sekali-kali setiap hari lalu diperas dan ampasnya dimaserasi kembali dengan cairan penyari. Penyarian diakhiri setelah pelarut tidak berwarna lagi, lalu dipindahkan ke dalam bejana tertutup, dibiarkan pada tempat yang tidak bercahaya, setelah dua hari lalu endapan dipisahkan. d. Ekstraksi secara refluks Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi berkesinambungan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak, lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap, uap tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya. Ekstraksi ini biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam. e. Ekstraksi secara penyulingan Penyulingan dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih yang tinggi pada tekanan udara normal, yang pada pemanasan biasanya terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, maka penyari dilakukan dengan penyulingan.
(Harbone, 1987; Dirjen POM, 1986)

B. Biodiesel Biodiesel didefinisikan sebagai metil ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan atau lemak hewan dan memenuhi kualitas untuk digunakan sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel (Vicente et al., 2006). Sedangkan menurut Darnoko et al., (2000), biodiesel merupakan monoalkil ester yang dihasilkan dari minyak alami terbarukan. Metil ester atau etil ester merupakan senyawa yang relatif stabil, berwujud cair pada temperatur ruang (titik leleh antara 4-180C), titik didih rendah dan tidak korosif. Metil ester lebih stabil secara pirolitik dalam proses distilasi fraksional dan lebih ekonomis sehingga lebih disukai daripada etil ester LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II - 2

Biodiesel (Sonntag, 1982). Spesifikasi biodiesel menurut Standar Nasional Indonesia tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel II.1.1. Biodiesel dapat diproduksi dari minyak nabati maupun lemak hewan, namun minyak nabati lebih umum digunakan sebagai bahan baku. Minyak nabati tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar karena berat molekul dan viskositas lebih besar dari minyak diesel atau solar, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tidak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran. Selain itu, molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak yang menyebabkan angka setana minyak nabati lebih rendah daripada metil ester. Tabel II.1.1 Spesifikasi Biodiesel

Sumber : SNI Biodiesel no. 04-7182-2006

Keuntungan pemakaian biodiesel dibandingkan dengan petrodiesel (BBM) diantaranya adalah bahan baku dapat diperbaharui (renewable), cetane number tinggi, biodegradable, dapat digunakan pada semua mesin tanpa harus modifikasi, berfungsi sebagai pelumas sekaligus membersihkan injector, serta dapat mengurangi emisi karbon dioksida, partikulat berbahaya, dan sulfur oksida. Tabel II.1.2 menunjukkan perbandingan antara biodiesel dan petrodiesel. LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 3

Biodiesel Tabel II.1.2 Perbandingan Petrodiesel dan Biodiesel

Sumber: Pakpahan, 2001

Dibandingkan dengan solar, biodiesel memiliki kelebihan diantaranya (Hambali, 2007) : 1. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) 2. Cetane number lebih tinggi sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan minyak kasar 3. Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin 4. Dapat terurai (biodegradable) 5. Renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui 6. Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal

Bahan bakar diesel yang sering disebut solar (light oil) merupakan suatu campuran hidrokarbon yang didapat dari penyulingan minyak mentah pada temperature 2000C-3400C. Minyak solar yang sering digunakan adalah hidrokarbon rantai lurus (hetadecene (C16H34)) dan alpha-methilnapthalene. Bahan bakar yang sebaiknya digunakan dalam motor diesel LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II - 4

Biodiesel adalah jenis bahan bakar yang dapat segera terbakar (sendiri) yaitu yang dapat memberikan periode persyaratan pembakaran rendah. Bahan bakar motor diesel juga mempunyai sifatsifat yang mempengaruhi prestasi. Sifat-sifat bahan bakar diesel yang mempengaruhi prestasi dari motor diesel antara lain: penguapan(volality), residu karbon, viskositas, belerang, abu dan endapan, titik nyala, titik tuang, sifat korosi, mutu nyala dan cetane number. Berikut akan dijelaskan mengenai sifat-sifat dari bahan bakar diesel yang berpengaruh tersebut : Penguapan(Volality) Penguapan dari bahan bakar diesel diukur dengan 90% suhu penyulingan. Ini adalah suhu dengan 90% dari contoh minyak yang telah disuling, semakin rendah suhu ini maka semakin tinggi penguapannya. Residu karbon Residu karbon adalah karbon yang tertinggal setelah penguapan dan pembakaran habis. Bahan yang diuapkan dari minyak, diperbolehkan residu karbon maksimum 0,10%. Viskositas Viskositas minyak dinyatakan oleh jumlah detik yang digunakan oleh volume tertentu dari minyak untuk mengalir melalui lubang dengan diameter kecil tertentu, semakin rendah jumlah detiknya berarti semakin rendah viskositasnya. Belerang Belerang dalam bahan bakar terbakar bersama minyak dan menghasilkan gas yang sangat korosif yang diembunkan oleh dinding-dinding silinder, terutama ketika mesin beroperasi dengan beban ringan dan suhu silinder menurun. Kandungan belerang dalam bahan bakar tidak boleh melebihi 0,5 %-1,5%. Abu dan endapan Abu dan endapan dalam bahan bakar adalah sumber dari bahan mengeras yang mengakibatkan keausan mesin. Kandungan abu maksimal yang diijinkan adalah 0,01% dan endapan 0,05%. Titik nyala

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 5

Biodiesel Titik nyala merupakan suhu yang paling rendah yang harus dicapai dalam pemanasan minyak untuk menimbulkan uap terbakar sesaat ketika disinggungkan dengan suatu nyala api. Titik nyala minimum untuk bahan bakar diesel adalah 150 0F. Titik Tuang Titik tuang adalah suhu minyak mulai membeku/berhenti mengalir. Titik tuang maksimum untuk bahan bakar diesel adalah 0 0F. Sifat korosif Bahan bakar minyak tidak boleh mengandung bahan yang bersifat korosif dan tidak boleh mengandung asam basa. Mutu penyalaan Nama ini menyatakan kemampuan bahan bakar untuk menyala ketika diinjeksikan ke dalam pengisian udara tekan dalam silinder mesin diesel. Suatu bahan bakar dengan mutu penyalaan yang baik akan siap menyala, dengan sedikit keterlambatan penyalaan. Bahan bakar dengan mutu penyalaan yang buruk akan menyala dengan sangat terlambat. Mutu penyalaan adalah salah satu sifat yang paling penting dari bahan bakar diesel untuk dipergunakan dalam mesin kecepatan tinggi. Mutu penyalaan bahan bakar tidak hanya menentukan mudahnya penyalaan dan penstarteran ketika mesin dalam keadaan dingin tetapi juga jenis pembakaran yang diperoleh dari bahan bakar. Bahan bakar dengan mutu penyalaan yang baik akan memberikan mutu operasi mesin yang lebih halus, tidak bising, terutama akan menonjol pada beban ringan. Bilangan Cetana(Cetane Number). Mutu penyalaan yang diukur dengan indeks yang disebut Cetana. Mesin diesel memerlukan Bilangan cetana sekitar 50. Bilangan cetana bahan bakar adalah persen volume dari cetana dalam campuran cetana dan alpha-metyl naphthalene mempunyai mutu penyalaan yang sama dan bahan bakar yang diuji. Cetana mempunyai mutu penyalaaan yang sangat baik dan alpha-metyl naphthalene mempunyai mutu penyalaaan yang buruk. Bilangan cetana 48 berarti bahan bakar cetana dengan campuran yang terdiri atas 48% cetana dan 52% alpha-metyl naphthalene.

Hambatan dalam pengembangan serta komersialisasi biodiesel adalah biaya produksi yang tinggi serta viskositas dan bilangan asam bahan baku yang tinggi. Oleh karena itu,

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 6

Biodiesel penggunaan minyak nabati secara langsung di dalam mesin diesel umumnya memerlukan modifikasi pada mesin, misalnya penambahan pemanas bahan bakar sebelum sistem pompa dan injektor bahan bakar untuk menurunkan nilai viskositas. Viskositas yang tinggi dapat menyebabkan atomisasi bahan bakar rendah dan berkorelasi langsung dengan kualitas pembakaran, daya mesin, dan emisi gas buang, sedangkan bilangan asam yang tinggi menyebabkan korosi pada mesin pembakaran. Menurut Sudradjat (2006), teknologi proses biodiesel yang dilakukan harus dapat menurunkan keasaman biodiesel, terutama minyak nabati yang mempunyai asam lemak tidak jenuh tinggi karena akan mudah teroksidasi.

C. Proses Produksi Biodiesel Secara umum, biodiesel diproduksi melalui proses transesterifikasi minyak atau lemak yang menghasilkan metil ester/monoalkil ester dan gliserol sebagai produk samping. Minyak yang memiliki keasaman tinggi kurang sesuai diproses langsung melalui transesterifikasi karena akan terjadi penyabunan (Gubitz, 1999). Menurut Canakci dan Gerpen (2001), konversi menjadi metil ester dapat dilakukan dengan esterifikasi menggunakan katalis asam, dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi berkatalis basa untuk mengkonversi sisa trigliserida. Proses dua tahap ini dikenal dengan istilah esterifikasitransesterifikasi (estrans). 1. Esterifikasi Esterifikasi adalah reaksi antara metanol dengan asam lemak bebas membentuk metil ester menggunakan katalis asam. Katalis asam yang sering digunakan adalah asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl). Reaksi esterifikasi tidak hanya mengkonversi asam lemak bebas menjadi metil ester tetapi juga menjadi trigliserida walaupun dengan kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan katalis basa (Freedman et al., 1998). Faktor yang mempengaruhi reaksi esterifikasi adalah jumlah pereaksi, waktu reaksi, suhu, konsentrasi katalis dan kandungan air pada minyak. Metil ester hasil reaksi esterifikasi harus bebas air dan sisa katalis sebelum reaksi transesterifikasi (Ozgul dan Turkay, 2002).

Gambar 1 Mekanisme Esterifikasi

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 7

Biodiesel 2. Transesterifikasi Transesterifikasi adalah reaksi ester untuk menghasilkan ester baru yang mengalami penukaran posisi asam lemak (Swern, 1982). Reaksi transesterifikasi bersifat reversible, sehingga dibutuhkan alkohol berlebih untuk menggeser kesetimbangan ke arah kanan (produk) (Ma et al., 1999). Metanol paling banyak digunakan dibandingkan dengan etanol karena harga lebih murah dan secara fisikomia memiliki keuntungan yaitu bersifat polar dan memiliki rantai paling pendek.

Gambar 2 Mekanisme Transesterifikasi Transesterifikasi berkatalis antara trigliserida dan metanol melalui pembentukan berturut-turut digliserida dan monogliserida menghasilkan metil ester pada setiap tahapan (Mao, Konar, dan Boocoock, 2004). Reaksi transesterifikasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kondisi yang berasal dari minyak, seperti kandungan air dan asam lemak bebas. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang tidak berasal dari minyak meliputi suhu reaksi, waktu reaksi, kecepatan pengadukan, rasio molar metanol, dan jenis katalis (Freedman et al., 1984). Kandungan air dan asam lemak bebas pada minyak dapat berpengaruh terhadap pembentukan sabun selama reaksi, menurunkan efisiensi katalis, meningkatkan viskositas dan menyebabkan kesulitan dalam pemisahan gliserol. Kadar asam lemak bebas terbaik dalam reaksi transesterifikasi adalah kurang dari 0,5 %. Menurut Noureddini dan Zhu (1997), suhu reaksi berpengaruh terhadap kecepatan reaksi. Semakin meningkat suhu reaksi, maka waktu reaksi akan berlangsung lebih singkat. Transesterifikasi akan berlangsung lebih cepat apabila suhu dinaikkan mendekati titik didih metanol (68oC) (Freedman et al., 1984). Kecepatan pengadukan berfungsi untuk meningkatkan frekuensi kontak pada pencampuran antara minyak, alkohol dan katalis. Hal ini disebabkan fasa minyak dan alkohol tidak dapat bercampur secara sempurna, sehingga kecepatan pengadukan yang sesuai dapat meningkatkan kecepatan konversi (Noureddini dan Zhu, 1997). Rasio molar transesterifikasi sangat dipengaruhi oleh jenis katalis yang LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 8

Biodiesel digunakan. Stoikiometri transesterifikasi memerlukan 3 mol alkohol dan 1 mol trigliserida untuk menghasilkan 3 mol metil ester dan 1 mol gliserol. Peningkatan rasio molar akan menghasilkan konversi ester yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat. Katalis merupakan bahan yang ditambahkan untuk mempercepat laju reaksi tanpa mempengaruhi produk dari reaksi, mengarahkan reaksi sesuai jalur reaksi tertentu dan mengurangi pembentukan produk samping untuk meningkatkan kemurnian produk yang dihasilkan (Kirk dan Othmer, 1964). Penentuan katalis merupakan faktor penting dalam transesterifikasi, karena kondisi reaksi dan kualitas metil ester yang dihasilkan bergantung pada katalis yang digunakan. Katalis transesterifikasi digolongkan dalam katalis basa, katalis asam, dan katalis enzim. Berdasarkan fasa yang dibentuk, ada dua jenis katalis yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen katalis mempunyai fase yang sama dengan reaktan, sedangkan katalis heterogen merupakan katalis yang memiliki fase berbeda dengan reaktan. Transesterifikasi menggunakan katalis basa akan berlangsung lebih cepat dan sempurna pada suhu rendah (Swern, 1982) dibandingkan dengan penggunaan katalis asam. Namun, apabila minyak memiliki kandungan asam lemak bebas tinggi, katalis asam lebih sesuai digunakan untuk menghindari terjadinya penyabunan (Freedman et al., 1984). Syarat transesterifikasi dengan katalis basa adalah minyak harus bersih, bebas air, dan netral secara substansial (Swern, 1982). Minyak dengan kandungan air kurang 0,1% dapat menghasilkan metil ester lebih dari 90% (Goff et al., 2004). Reaksi transesterifikasi dinyatakan gagal apabila terbentuk sabun yang mengurangi efektifitas katalis serta terbentuk gel yang menyulitkan pemisahan dan pengendapan gliserol. Kandungan asam lemak bebas dan air lebih dari 0.5% dan 0.3% dapat menurunkan rendemen transesterifikasi minyak. 3. Netralisasi Pada umumnya netralisasi dilakukan dengan cara kimia, fisika, fisikokimia dan esterifikasi. Netralisasi secara kimia adalah reaksi antara asam lemak bebas dalam minyak atau lemak dengan basa yang akan menghasilkan sabun. (Ketaren, 1986) Menurut Swern (1982), netralisasi bertujuan untuk menetralkan asam lemak bebas, mengurangi gum dan lendir yang masih tertinggal, memperbaiki rasa dan warna minyak atau lemak. Reaksi netralisasi dapat dilakukan dengan alkali, natrium karbonat, amonia atau menggunakan uap (deacidifikasi). Netralisasi

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 9

Biodiesel dengan NaOH banyak dilakukan dalam skala industri karena labih efisien dan lebih murah (Ketaren, 1986). Reaksi yang terjadi pada proses netralisasi ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Reaksi Netralisasi

Kotoran yang dibuang pada proses netralisasi adalah asam lemak bebas, fosfatida, zat warna, karbohidrat, protein, ion logam, zat padat, dan hasil samping oksidasi (Hendrix, 1990). Netralisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara basah. Cara kering dilakukan dengan mereaksikan basa pada suhu rendah dengan pengadukan, di daerah tropis biasanya pada suhu 30oC. Sedangkan cara basah dilakukan pada suhu tinggi (6065oC), dengan larutan basa encer dan pencucian.Penentuan konsentrasi larutan alkali yang digunakan didasarkan pada kandungan asam lemak bebas. Semakin tinggi kandungan asam lemak bebas semakin tinggi pula konsentrasi larutan alkali yang digunakan. Konsentrasi alkali yang terlalu tinggi menyebabkan trigliserida yang tersabunkan tinggi, sedangkan larutan yang terlalu lemah menyebabkan banyaknya emulsi sabun yang terbentuk sehingga menyulitkan pemisahan soap stock (Ketaren, 1986). Jumlah NaOH yang digunakan merupakan jumlah stoikiometri ditambah ekses sebanyak 5-10% tergantung pada minyak yang akan dinetralkan (Bernardini, 1983). Menurut Sonntag (1982), untuk minyak nabati dan lemak hewan dengan kandungan gum dan pigmen rendah dapat menggunakan ekses 0,1-0,2% b/b. Satuan konsentrasi NaOH dalam larutan adalah derajat Baume (oBe). Tabel II.1.5 menunjukkan konsentrasi NaOH dalam larutan berdasarkan oBe. Tabel II.1.3 Konsentrasi larutan NaOH untuk netralisasi

Netralisasi dilakukan pada suhu 60-65oC dengan konsentrasi larutan NaOH 10-20oBe (Thieme, 1986). Menurut Hendrix (1990), larutan NaOH yang digunakan adalah 12-30oBe LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II - 10

Biodiesel atau 12-20oBe pada suhu 20-40oC dilanjutkan pemanasan pada suhu 60-80oC untuk pemecahan emulsi sabun dan minyak. Kadar asam lemak bebas 1% digunakan larutan alkali dengan konsentrasi 8-12oBe, lebih besar dari satu persen sebesar 20oBe dan lebih besar dari enam persen digunakan alkali dengan konsentrasi lebih besar dari 20 oBe (Bernardini, 1983). Pemisahan soap stock dari minyak yang telah dinetralisasi dilakukan berdasarkan gravitasi. Efisiensi netralisasi dinyatakan dalam refining factor (RF) yaitu perbandingan kehilangan total minyak karena netralisasi dengan jumlah asam lemak bebas dalam minyak kasar. Rumus penentuan RF dapat dilihat pada persamaan berikut:

Semakin rendah nilai RF maka efisiensi netralisasi semakin tinggi. Konsentrasi NaOH yang digunakan mempengaruhi nilai RF. Semakin kental larutan, nilai RF semakin tinggi karena minyak netral yang tersabunkan semakin banyak. Pada reaksi netralisasi, air menjadi media reaksi penyabunan dan membentuk larutan sabun (emulsi dengan minyak). Faktor yang mempengaruhi rendemen netralisasi adalah emulsifikasi. Semakin encer larutan kaustik soda yang digunakan, semakin besar pula tendensi larutan sabun untuk membentuk emulsi dengan trigliserida.

D. Biji mahoni Penyebaran tanaman mahoni (Swietenia macrophylla King.) awalnya mulai dari Meksiko menuju ke selatan sampai dengan Brazil, sementara di Indonesia tanaman ini ditanam di Jawa, Sumatra (2500 ha) dan Sulawesi mulai dari tahun 1987 oleh Perum Perhutani yang total areal penanamannya mencapai 116.282 ha. Morfologi tanaman mahoni dapat dilihat pada Gambar 1.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 11

Biodiesel

Gambar 4 Tanaman Mahoni Mahoni diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dikotiledonae Ordo : Rutales Family : Meliaceae Sub Family : Swietenidae Genus : Swietenia Spesies : Swietenia macrophylla King.

Swietenia terdiri dari tiga jenis yaitu Swietenia macrophylla King.Swietenia humilis Zucc. dan Swietenia mahagoni (L.) Jacq. Pengenalan taksonomi dapat diamati melalui perbedaan-perbedaan fisik dari ketiga jenis tersebut (Mayhew & Newton 1998). Pohon mahoni ketika dewasa mencapai tinggi antara 30-35 m dan diameter mencapai lebih dari 1,5 m dbh. Kulit bewarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi coklat tua, menggelembung dan mengelupas setelah tua. Daun majemuk dengan tata daun alternate dan menyirip. Buahnya umumnya berbentuk kapsul, kalau masih muda bewarna hijau kemudian kemerahan dan setelah tua menjadi bewarna cokelat abu-abu. Buahnya bercuping lima, panjangnya mencapai 22 cm (Gambar 2). Bagian luar buah mengeras seperti kayu, berbentuk kolom dengan 5 sudut yang memanjang menuju ujung. Jika buah sudah tua kulit buahnya akan pecah sendiri mulai dari pangkal. Biji-bijinya akan terbang tertiup angin dengan bantuan sayap. Umumnya setiap buah terdapat 35-45 biji (Gambar 3).

Gambar 5 Buah mahoni

Gambar 6 Buah mahoni yang telah pecah II - 12

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

Biodiesel Biji mahoni terbungkus oleh kulit luarnya yang berbentuk pipih bewarna hitam atau kecokelatan di bagian atasnya yang memanjang berbentuk sayap, panjangnya mencapai 7,515 cm. Jumlah bijinya 1.800-2.500 butir per kg sementara persentase kecambah benih segar mencapai 60-90%. Bentuk morfologi biji mahoni dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 7 Bji mahoni Pembentukan bunga sampai buah masak diperlukan waktu 9-12 bulan. Masa berbunga dan berbuah terjadi setiap tahun mulai umur 10-15 tahun. Pembungaan terjadi ketika pohon menggugurkan daunnya atau pada saat daun baru mulai muncul sesaat sebelum musim hujan. Di Indonesia musim bunga terjadi pada bulan September-Oktober dan berbuah antara Juni-Agustus (Joker 2001).

II.2 Aplikasi Industri PENGOLAHAN BIJI MAHONI (Switenia macrophylla King). SEBAGAI BAHAN BAKU ALTERNATIF BIODIESEL Aditia Kusumo Putra Departemen hasil hutan, Fakultas Kehutanan , Institut Pertanian Bogor

Bahan bakar fosil adalah sumber energi dengan konsumsi yang terbesar untuk saat ini diseluruh dunia jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Biodiesel merupakan salah satu produk teknologi pemanfaatan energi biomassa yang menggunakan minyak dari tanaman untuk dikonversikan menjadi ester yang diharapkan dapat menggantikan solar sebagai bahan dasar mesin diesel. Sekarang ini pemanfaatan bahan baku terbesar untuk bidoesel adalah minyak kelapa sawit yang juga merupakan bahan baku pangan. Oleh karena itu diperlukan alternative bahan baku seperti minyak dari biji mahoni yang merupakan tanaman kehutanan. Pembuatan minyak mahoni melalui pengepresan biji yang telah dijemur selama 2 dan 4 hari dengan perlakuan pencacahan dan tanpa pencacahan. Pada penjemuran selama 2 hari dihasilkan rendemen rata-rata minyak dari biji yang tidak dicacah LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II - 13

Biodiesel dan dicacah masing-masing sebesar 363,42 g dan 401,79 g, rendemen rata-rata kedua perlakuan selama 2 hari sebesar 382,605 g (38,26%). Sementara pada penjemuran selama 4 hari dihasilkan rendemen rata-rata minyak dari biji yang tidak dicacah dan dicacah masingmasing sebesar 430,79 g dan 344,07 g, rendemen rata-rata kedua perlakuan selama 4 hari sebesar 387,435 g (38,74%). Setelah itu dilakukan proses transesterifikasi untuk mengkonversi minyak nabati (trigliserida) menjadi biodiesel (metil ester) melalui reaksi dengan metanol dan KOH sebagai katalis. Rendemen biodiesel yang dihasilkan dari minyak mahoni berkisar antara 73,51-95,34%. Pengujian kualitas biodiesel menunjukkan bilangan asam, gliserol total dan kadar ester telah sesuai dengan SNI-04-7182-2006. Kualitas biodiesel yang terbaik diperoleh dari penjemuran selama 4 hari dengan perlakuan pencacahan.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI DAN NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II - 14