Anda di halaman 1dari 16

SINUS

4 Sinus (1) Sinus frontalis ostiumnya terletak di meatus nasi medius. (2) Sinus maksilaris (yang paling besar) ostiumnya di meatus nasi medius. (3) Sinus ethmoidalis: anterior ostiumnya di meatus nasi medius, posterior: meatus nasi superior (4) Sinus sfenoidalis ostiumnya di meatus nasi superior. Kompleks osteomeatal: di meatus medius, terdapat daerah rumit dan sempit. Terdiri dari infundibulum etmoid, resesus frontales, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya, serta ostium sinus maksilla. Fungsi sinus - air conditioning - penahan suhu - keseimbangan kepala - resonansi suara - peredam perubahan tekanan udara - produksi mukus Sinusitis radang mukosa sinus paranasal. mengenai beberapa sinus multisinusitis, mengenai semua sinus pansinusitis paling sering ditemukan sinusitis maksila, karena: - sinus terbesar - letak ostium lebih tinggi drainase hanya tergantung dari silia - dasar berupa akar gigi - letak ostium di sekitar hiatus semilunaris Etiologi - rinogen (obstruksi ostium sinus) - dentogen (infeksi gigi molar M1, M2, M3 atas serta premolar P1 dan P2) - infeksi tenggorok (tonsillitis, infeksi faring, adenoiditis) Faktor predisposisi - Obstruksi mekanik (deviasi septum, benda asing di hidung, polip, tumor - rinitis kronis, rinitis alergi - lingkungan berpolusi, udara dingin serta kering perubahan pada mukosa dan kerusakan silia Komplikasi 1. Orbita : Peradangan atau reaksi edem yang ringan - Selulitis orbita - Abses subperiosteal, Abses Orbita 2. Mukokel (kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus) erosi tulang deformitas wajah, proptosis atau enopthalmus, diplopia. nyeri pada wajah, sakit kepala. 1

Klasifikasi, Gejala, Terapi Akut Waktu 0-3 minggu Patologi Penyumbatan kompleks osteomeatal oleh infeksi, obstruksi mekanis, alergi. Mukosa reversibel Anamnesis Hidung buntu Nyeri di daerah siuns Nyeri alih Maksilla: kelopak mata, gigi, dahi, depan telinga Etmoid: pangkal hidung, kantus medius, bola mata, pelipis Frontal: dahi, kepala Sfenoid: verteks, oksipital, belakang bola mata, mastoid Demam, lesu, ingus kental, berbau, Px Fisik Bengkak daerah muka/pipi/ kelopak mata Mukosa konka edema Hiperemi, postnasal drip transiluminasi (+) waters: perselubungan, air fluid level Terapi Antibiotik Dekongestan lokal tetes hidung Analgetik

Sub akut 3 minggu 3 bulan =

kronis > 3 bulan Silia rusak perubahan mukosa hidung ireversibel, kerusakan silia

Sama sinusitis akut, tapi Sekret di hidung, post tanda-tanda radang nasal drip akutnya mereda Rasa tidak nyaman, gatal di tenggorok Pendengaran terganggu Nyeri kepala Gangguan di mata Batuk Gejala saluran cerna akibat mukopus tertelan

Sama sinusitis akut, tapi Tidak seberat sinusitis tanda-tanda radang akut akutnya mereda Bengkak wajah (-) Sekret kental purulen Post nasal drip

Antibiotika spektrum luas Dekongestan lokal tetes hidung, Analgetik Antihistamin, mukolitik Diatermi, Pungsi irigasi

Antibiotik, Dekongestan lokal, Analgetik Diatermi pungsi dan irigasi sinus operasi radikal: CWL, BSEF

TULI
Atresia liang telinga Serumen OE Osteoma Sumbatan tuba Otitis Media Otosklerosis Timpanosklerosis Dislokasi tulang Pre natal? Perinatal? Postnatal? Mekanik Akustik Aminoglikosid Eritromisin loop diuretic salisilat antimalaria antitumor Sensorik metabolik neural mekanik

TELINGA LUAR KONDUKTIF TELINGA TENGAH

Rinne (-) Weber: Lateralisasi ke sakit Tes Garputala Rinne (+) Weber: Lateralisasi ke sehat

Kongenital KOKLEA Labirintitis Trauma


Rekrutmen (+)

TULI

PERSEPTIF

Intoksikasi obat Sudden deafness

Audiometri Presbiakusis
decay (+)

RETRO KOKLEA (Otak) CAMPURAN

Neuroma akustik Tumor sudut pons serebellum Cedera otak Perdarahan otak

PRINSIP PENATALAKSANAAN - sesuai etiologi - penatalaksanaan seringkali sulit - lebih ke arah pencegahan (alat pelindung, pindah tempat, cegah infeksi, dll) - untuk tuli koklea pemasangan implant koklea - pada presbiakusis pemasangan hearing aid - ototoksik hentikan obat 3

Tinnitus keluhan perasaan mendengar bunyi tanpa ada rangsangan bunyi dari luar Dibagi: - Objektif: pemeriksa dapat mendengar dengan auskultasi dll. Sifat vibratorik, transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler sekitar telinga - Subjektif: non vibratorik proses iritatif/ degenerasi traktus auditorik 1. Nada rendah + tuli konduksi sumbatan liang telinga (serumen, tumor, tuba katar, otitis media, dll) 2. Nada rendah berpulsasi, tuli konduksi (-) gejala dini tumor glomus jugulare 3. tinitus objektif seirama denyut nadi gangguan vaskular 4. nada tinggi tuli sensorineural, intoksikasi obat 5. nada tinggi/rendah (bergemuruh/ berdengung) + tuli sensorineural + vertigohipertensi endolimfatik 6. bilateral intoksikasi obat, presbiakusis, trauma bising, penyakit sistemik lain Anamnesis - kualitas tinnitus - kuantitas tinnitus - vertigo? - Gangguan pendengaran? - Gejala neurologik lain? - Unilateral/ bilateral? - Lama serangan (patologik bila >5 menit) Terapi 1. elektrofisiologik: alat bantu dengar, tinitus masker 2. psikologik medikamentosa: transquilizer, antidepresan sedatif, neurotonik, vitamin

DIAGNOSIS Penumpukan Serumen

ETIOLOGI

GEJALA Gangguan pendengaran, rasa tertekan

Otitis Eksterna Sirkumskripta (bisul) (di kulit 1/3 luar liang telinga) Otitis Eksterna difus (di 2/3 dalam liang telinga) Otomikosis

S Aureus, S Albus

Pseudomonas, S Albus, E Coli

Rasa nyeri hebat (pada penekanan perikondrium atau membuka mulut), gangguan pendengaran Sda + sekret berbau

TERAPI Keluarkan! Cair: kapas yang dililitkan Padat: pengait Irigasi Abses insisi Polymixin B, basitrasin salep. Asam asetat 2-5% Tampon mengandung antibiotik Antibiotik sistemik

Jamur Aspergillus, Candida Infeksi jamur tak diobati, trauma berulang, benda asing, penggunaan hearing aid Penglupasan kulit . penumpukan deskuamasi Akbat kolesteatosis yang tidak ditanggulangi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga Infeksi pada orangtua dengan DM (Pseudomonas Aeruginosa)

Otitis eksterna kronis

Rasa gatal dan penuh di Bersihkan dengan larutan liang telinga asam asetat 2-5% Anti jamur topikal Liang telinga Operasi rekonstruksi menyempit Sikatriks

Kolesteatosis/ Keratosis

Kolesteatoma eksterna

Rasa penuh Kurang pendengaran Kulit terkelupas (mirip serumen) Nyeri hebat

Bersihkan

Bersihkan periodik Tetes telinga alkohol, H2O2 Operasi pada kasus berat

Otitis Eksterna Maligna

Gatal, nyeri hebat bertambah, sekret banyak Liang telinga bengkak tertutup jaringan granulasi, paresis/paralisis fasial

- antibiotik dosis tinggi - debridemen radikal

Otitis media peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid Klasifikasi OTITIS MEDIA

OTITIS MEDIA SUPURATIF Otitis Media Supuratif Akut (OMA) Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)

OTITIS MEDIA NON SUPURATIF Otitis Media Serosa Akut (barotrauma) Otitis Media Serosa Kronis (glue ear)

Patogenesis

Perubahan tekanan udara tiba-tiba Alergi, Infeksi Sumbatan (Sekret, tampon, tumor)

Sembuh/normal

Gangguan tuba

EFUSI
Tekanan negative telinga tengah infeksi OME

OMA

Sembuh

OME

OMSK

OMA
Etiologi: Streptococcus hemoliticus, S aureus, PneumococcusHemofilus influenza, E coli, Pseudomonas aerugenosa Perjalanan penyakit Stadium Patologi Oklusi Tekanan berkurang, Efusi (+) Hiperemi Pembuluh darah melebar Sekret eksudat/serosa

Gejala/Tanda Membrane timpani normal/keruh Membrane timpani hiperemi, edema

Supurasi

Sel epitel superf hancur eksudat purulen

Perforasi

Membrane timpani rupture Membrane timpani perlahan kembali normal

Resolusi

Membrane timpani boomban, demam, nyeri telinga sangat hebat, nadi meningkat Nanah keluar. Tidak gelisah lagi, demam berkurang Sekret berkurang kering. Gejala (-)

Terapi Dekongestan, HCl efedrin 0,5% Dekongestan, HCl efedrin 0,5%, antibiotic (ampisilin, eritromisin), analgetik antibiotic, analgetik, miringotomi

Cuci telinga H2O2 3%, antibiotic Antibiotik

OMSK
peradangan kronis telinga tengah dan mastoid berlangsung lebih dari 2 bulan membran timpani perforasi sekret purulen hilang timbul (encer atau kental, bening atau berupa nanah) Etiologi 1. Lingkungan 2. Genetik 3. Otitis media sebelumnya. 4. Infeksi 5. Autoimun 6. Alergi 7. Gangguan fungsi tuba eustachius. Faktor penyebab perforasi membran timpani menetap: - Infeksi menetap pada telinga tengah mastoid produksi sekret berlanjut. - obstruksi tuba eustachius berlanjut mengurangi penutupan spontan. - penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel kolesteatom.

Klasifikasi Jenis Benigna - tipe tenang Gejala/Tanda perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. Terapi tidak perlu pengobatan, jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga waktu mandi, dilarang berenang, segera berobat bila menderita ISNA. Bila mungkin = operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) Membersihkan liang telinga dan kavum timpani. Pemberian antibiotika (topical + sistemik) Operasi 1.Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy) 2.Mastoidektomi radikal 3.Mastoidektomi radikal dengan modifikasi 4.Miringoplasti 5.Timpanoplasti 6.Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach tympanoplasty)

- tipe aktif

Maligna

Terdapat sekret pada telinga (bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen) tuli konduktif campuran, otalgia, vertigo Perforasi marginal atau atik sekret berupa mukus berkurang, tuli konduktif berat campuran. otalgia, vertigo + kolesteatom (kantong retraksi bertumpuknya keratin) - Abses atau fistel retroaurikular - Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani bisa keluar darah. - Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom) Foto rontgen mastoid gambaran kolesteatom.

Komplikasi A. Komplikasi ditelinga tengah : 1. Perforasi persisten 2. Erosi tulang pendengaran 3. Paralisis nervus fasial B. Komplikasi telinga dalam 1. Fistel labirin 2. Labirinitis supuratif 3. Tuli saraf ( sensorineural) C. Komplikasi ekstradural 1. Abses ekstradural 2. Trombosis sinus lateralis 3. Petrositis D. Komplikasi ke susunan saraf pusat

1. Meningitis 2. Abses otak 3. Hindrosefalus otitis

OME
Etiologi bakteri, imunologis, alergi, virus, disfungsi tuba eustachi, obstruksi nasofaring, dll Faktor predisposisi - terganggunya fungsi tuba eustachius - Adenoid hipertropi - Adenoitis - Sumbing palatum (cleft palate) - Tumor di nasofaring - Barotrauma - Sinusitis - Rhinitis - Defisiensi imunologik atau metabolic Patogenesis gangguan fungsi tuba perbedaan tekanan hidrostatik transudat/ plasma keluar dari pembuluh darah Serosa Gejala klinis - pendengaran berkurang - rasa penuh pada telinga - rasa tersumbat pada telinga - suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda (diplacusis binauralis) - kadang terasa ada cairan yang bergerak dalam telinga saat posisi kepala berubah. - Rasa sedikit nyeri dalam telinga - Tinitus atau vertigo ringan - Otoskopi: membran timpani retraksi, kadang tampak gelembung udara Terapi - Pengobatan diarahkan untuk memperbaiki ventilasi normal telinga tengah. - banyak bisa sembuh sendiri dengan mengobati faktor predisposisi - Jika OME menetap dan mulai bergejala, maka pengobatan medis mulai diindikasikan: 1. Antihistamin atau dekongestan 2. Mukolitik. 3. Antibiotika (karena sering diikuti OMA) dosis profilaksis 4. Kortikosteroid. - Anak dengan OME persisten bilateral dan yang menderita kehilangan pendengaran selama lebih dari 3 bulan patut dipertimbangkan untuk dilakukan intervensi pembedahan. pilihan yang di anjurkan adalah miringotomi dan pemasangan tabung ventilasi (Grommet)

KOLESTEATOM
kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. Patogenesis 1. Teori Invaginasi timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. 2. Teori Imigrasi terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. 3. Teori Metaplasi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. 4. Teori Implantasi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi, setelah blust injury, pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman, yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi, kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Erosi tulang melalui dua mekanisme. 1. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. 2. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. Klasifikasi a.Kolesteatom Kongenital membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. ditemukan pada daerah petrosus mastoid, cerebellopontin angle, anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii, dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. b. Kolesteatoma Akuisital 1. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani, akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. 2. Kolestetoma Akuisital Sekunder terbentuk setelah perforasi membran timpani. Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani Gejala Klinis Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip), yang berasal dari telinga

10

tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Pendengaran berkurang Perasaan penuh Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi.

Penatalaksanaan a. Terapi Medikamentosa b. Terapi pembedahan Prosedur pembedahan meliputi: Canal Wall Down Procedure (CWD) Canal Wall Up Procedure (CWU) Trancanal Anterior Atticotomi Bondy Modified Radical Procedure Komplikasi Tuli Konduksi Tuli sensorineural Kehilangan pendengaran total Paralisis fasialis Fistula labyrinthin abses periosteal, trombosis sinus lateral dan abses intrakranial Komplikasi ke SSP Meningitis, Abses otak, hidrosefalus otitis

11

NON INFEKSI

VASOMOTOR MEDIKAMENTOSA

RINITIS RINITIS SIMPLEKS AKUT INFEKSI INFLUENZA

RINITIS HIPERTROFI KRONIS RINITIS SIKA R. ATROFI/ OZAENA RINITIS SPESIFIK

R. difteri R. sifilis R. tuberkulosa R. jamur

12

RINITIS ALERGI Etiologi Reaksi alergi pada pasien atopi Hipersensitivitas tipe I Klasifikasi Rinitis Alergika Rinitis alergi intermitten (kadang-kadang). < 4 hari/minggu atau < 4 minggu. Rinitis alergi persisten (menetap). Gejalanya > 4 hari/minggu atau > 4 minggu. Rinitis alergi ringan. Tidak mengganggu aktivitas harian Rinitis alergi sedang & berat. Mengganggu aktivitas harian. Anamnesis Bersin patologis (berulang lebih 5 kali setiap serangan) Rinore Gangguan hidung. Hidung gatal dan rasa tersumbat. Mata gatal dan mengeluarkan air mata (lakrimasi). Allergic shiner. Perasaan anak bahwa ada bayangan gelap di daerah bawah mata akibat stasis vena sekunder. Stasis vena ini disebabkan obstruksi hidung. Allergic salute. Perilaku anak suka menggosok-gosok hidungnya akibat rasa gatal. Allergic crease. garis melintang 1/3 bawah dorsum nasi akibat menggosok hidung. Alergen terperinci Hirupan (dws): debu rumah, tungau, jamur, bulu binatang Makanan (anak): susu, telur, ikan laut, coklat Riwayat alergi dalam keluarga Bahan iritan pada tempat kerja Pemeriksaan Fisik Lakrimasi berlebihan, sklera dan konjungtiva yang merah, daerah gelap periorbita (mata biru alergi), pembengkakan sedang sampai nyata dari konka nasalis yang berwarna kepucatan keunguan, sekret hidung encer jernih, keriput lateral pada krista hidung, gambaran allergic salute, lipatan hidung transversal, lipatan infraorbita Dennie-Morgan Pemeriksaan Penunjang eosinofil meninggi dlm sekret hidung dan darah tepi, peningkatan kadar serum IgE. Sitologi hidung banyak eosinofil (menunjukkan alergi inhalan), basofil 5 sel/lap (menunjukkan alergi ingestan), dan sel PMN (menunjukkan infeksi bakteri). radio immunosorbent test (RAST) & enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) Uji kulit. Penatalaksanaan 1. Menghindari alergen penyebab Terapi simptomatik dengan obat-obatan Antihistamin oral, dekongestan (dapat diberikan tunggal atau kombinasi dengan antihistamin H1 lokal atau peroral), Kortikosteroid (sistemik atau intranasal) 2. Injeksi alergen, imunoterapi, atau hiposensitisasi Bila cara-cara konservatif tidak berhasil, maka injeksi alergen dapat diindikasikan. penyuntikkan alergen penyebab bertahap menginduksi toleransi penderita alergi. 3. Penatalaksanaan komplikasi atau faktor-faktor yang memperburuk 4. Terapi bedah Pembedahan biasa dilakukan pada polip hidung dan sinusitis berkaitan dengan faktor infeksi jika terapi obat-obatan.

13

Komplikasi Otitis media, Disfungsi tuba eustachius, Sinusitis akut, Sinusitis kronik RINITIS VASOMOTOR dan RINITIS MEDIKAMENTOSA Vasomotor Medikamentosa Penyebab Ketidakseimbangan saraf simpatis & Pemakaian vasokonstriktor topikal (tetes parasimpatis (otonom) hidung/semprot hidung) dalam waktu - Obat-obatan yang menekan kerja lama dan berlebihan sumbatan menetap simpatis - Faktor fisik: asap rokok, udara dingin, bau yang merangsang - Faktor endokrin - Faktor psikis Gejala Klinis Hidung tersumbat bergantian kiri dan Hidung tersumbat terus menerus dan kanan (tergantung posisi) berair Rinore (mukus/serosa) RA: edema konka, sekret hidung Bersin jarang, tidak ada gatal berlebihan Gejala memburuk pada pagi waktu Pengujian dengan adrenalin: edema konka bangun tidur tidak berkurang RA: edema mukosa hidung, konka merah tua/gelap/pucat Terapi - hindari penyebab - Hentikan obat - simptomatis (dekongestan oral, - kortikosteroid diatermi, kauterisasi konka, - dekongestan oral kortikosteroid topikal) - Operasi (bedah beku, elektrokauter, konkatomi inferior) - Neurektomi n. Vidianus

RINITIS SIMPLEKS, SIKA, HIPERTROFI, ATROFI (OZAENA) Simpleks Sika Hipertrofi Sebab virus Lingkungan Infeksi berulang di berdebu, panas, hidung/ sinus kering, orangtua, Lanjutan rinitis anemia, alkohol, gizi alergi/ vasomotor buruk Gejala hidung kering, panas Iritasi, rasa kering di Sumbatan hidung &gatal, bersin hidung Sekret banyak (muko berulang, hidung Epistaksis (kadang2) purulen), nyeri kepala tersumbat, ingus Konka hipertrofi, encer (kental bila berbenjol2 ditutupi infeksi sekunder mukosa hipertrofi oleh bakteri) Sekrer mukopurulen demam, nyeri kepala Terapi Istirahat Tergantung Sesuai penyebab Analgeti antipiretik, penyebab, obat cuci Kauterisasi konka dekongestan hidung

Ozaena Klebsiella ozaena, def Fe, vitamin A, sinusitis kronis, kelainan hormon, peny kolagen Nafas berbau (yang mencium orang lain, pasien tidak), hiposmia/anosmia, ingus kental hijau, krusta hijau, hidung tersumbat, sakit kepala Antibiotik, obat cuci hidung, operasi

14

RHINITIS DIFTERI, SIFILIS, TB Difteri Penyebab Corynebacterium difteria Gejala Demam, toksemia, limfadenitis, paralisis Ingus bercampur darah Pseudomembran putih, krusta coklat di nares dan cavum nasi Terapi Isolasi ADS, penisilin (lokal/IM)

Sifilis T Pallidum Sama dgn rinitis akut lain. Bercak pada mukosa, gumma/ ulkus Sekret mukopurulen berbau + krusta, perforasi septum/ hidung pelana Penisilin, obat cuci hidung

TB M Tuberculosis Hidung tersumbat, Sekret mukopurulen, krusta BTA (+)

Obat anti TB Obat cuci hidung

HIDUNG BEDARAHAN
suatu gejala, bukan penyakit Perdarahan dari : Rongga hidung, Jaringan sekitar: Sinus paranasalis, nasofaring PENATALAKSANAAN 1. Menghentikan perdarahan a. Bersihkan bekuan darah b. Tekan / jepit ala nasi 5 10 mnt u/ perdarahan pleksus kiesselbach c. Pemberian vasokonstriktor + lokal anastesi (lidokain epidril 1%) d. Kaustik (Triclor acetic acid 100%, Nitrat argenti 20-30%, elektrokauter e. Pemasangan tampon anterior f. Pemasangan tampon posterior tampon Bellocq (perdarahan posterior dan nasofaring, Bila dg tampon anterior tidak teratasi : g. Ligasi arteri( a. ethmoidalis anterior, a. ethmoidalis posterior, a. karotis eksterna, a. maxillaris interna) 2. Mencegah komplikasi a. Infus b.Transfusi darah bila Hb < 8% c. Antibiotika d.Obat-obat hemostatika 3. Mencegah berulangnya epistaksis Mencari penyebab terapi yg sesuai kausa KOMPLIKASI - Komplikasi epistaksis :Hipotensi, hipoksia, anemia, aspirasi pneumonia - Komplikasi kauterisasi : Sinekia, perforasi septum - Komplikasi pemasangan tampon : Sinekia, rinosinusitis, sindrom syok toksik, Perforasi septum, tuba eustachius tersumbat, aritmia (overdosis kokain atau lidokain ) - Komplikasi embolisasi : Perdarahan hematom, nyeri wajah, hipersensitivitas, paralisis fasialis, infark miokard. - Komplikasi ligasi arteri : kebas pada wajah, sinusitis, sinekia, infark miokard.

15

ETIOLOGI LOKAL TRAUMA Mengeluarkan ingus tll kuat Bersin-bersin Mengorek hidung Benda asing Rinitis Sinus paranasalis Granuloma spesifik Hemangioma Angiofibroma nasofaring Ca nasofaring Herediter hemoraging telengectasis

INFEKSI

NEOPLASMA

KONGENITAL

SISTEMIK

Kardiovaskular (HT, Kelainan pembuluh darah, Nefritis kronis, sirosis hepatic) Kelainan darah (Hemofilia, Trombositopenia, leukemia) Infeksi (DHF, tifoid, morbili) perubahan tekanan atmosfir (coison disease) Gangguan endokrin (hamil, menopause)

SUMBER & LOKASI PERDARAHAN A. ethmoid ant A. ethmoid post POSTERIOR a. sphenopalatina hidung bawah Hidung atas

Plexus Kieselbach

ANTERIOR

16