Anda di halaman 1dari 33

Makalah Hakikat Masyarakat

|| Kategori : filsafat pendidikan, hakikat masyarakat Judul : Makalah Hakikat Masyarakat

Isi : DAFTAR ISI, BAB I : PENDAHULUAN, BAB II : PEMBAHASAN HAKIKAT MASYARAKAT, A. PENGERTIAN MASYARAKAT DAN STRUKTUR SOSIAL, B. PANDANGAN FILOSOFIS TENTANG HAKIKAT MASYARAKAT, 1. Teori Atomistic, 2. Teori Organisme, 3. Teori Integralistik, C. HUBUNGAN MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN, BAB III : PENUTUP, KESIMPULAN, DAFTAR PUSTAKA.

Rangkuman : Masyarakat adalah suatu perwujudan kehidupan bersama manusia. Dalam masyarakat berlangsung proses kehidupan sosial, proses antar hubungan dan antar aksi. Dengan demikian masyarakat dapat diartikan sebagai wadah atau medan tempat berlangsungnya antar aksi warga masyarakat itu. Untuk mengerti bentuk dan sifat masyarakat dalam mekanismenya ada ilmu masyarakat (sosiologi) agar lebih baik apabila ia mengenal masyarakat dimana ia menjadi bagian daripadanya, karena tiap-tiap pribadi tidak saja menjadi warga masyarakat secara pasif. A. PENGERTIAN MASYARAKAT DAN STRUKTUR SOSIAL Prof. Robert W. Richey dalam bukunya : Planning for Teaching an Introduction to Education membuat batasan masyarakat. Istilah masyarakat dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berpikir dan bertindak yang relatif. Berdasarkan pengertian ini, maka pengertian masyarakat (relatif) luas wilayahnya, dan meliputi (relatif) banyak anggota atau warganya. Oleh karena jumlahnya yang relatif besar, akan terjadi pula masyarakat di dalam masyarakat tersebut. Ada bermacam-macam faktor yang menyebabkan terbentuknya masyarakat dimaksud. Terjadilah pembedaan-pembedaan yang dikenal dengan istilah masyarakat kota, masyarakat desa, masyarakat pendalaman, ada pula masyarakat atas, masyarakat bawah, dan sebagainya. Dengan pembedaan seperti ini, secara implisit dapat dimengerti apa dasar daripada penamaan atau penggolongan itu. Kota besar misalnya, yang warganya jauh lebih banyak jumlahnya daripada di desa, antar warga masyarakat dan lebih banyak variasinya. Dengan kata lain, disana lebih heterogen. Kenyataan menunjukkan bahwa di kota-kota besar hidup manusia dari segala tingkat. Dari pejabat-pejabat tinggi negara, pengusaha-pengusaha besar, kaum cerdik pandai, sampai buruh-buruh kecil. Jarak sosial diantara mereka sedemikian rupa, sehingga terbentuklah apa yang dikenal sebagai kelas sosial. Secara umum kelas sosial di dalam masyarakat ini terbagi atas : kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). B. PANDANGAN FILOSOFIS TENTANG HAKIKAT MANUSIA Sejarah perkembangan masyarakat adalah sejarah adanya manusia dan peradaban. Jadi, manusia adalah subyek di dalam masyarakat dan masyarakat pasti dihubungkan dengan fungsi dan kedudukan manusia di dalam masyarakat.

Teori-teori tentang hakikat masyarakat yang berkembang dan dianut dunia pada umumnya adalah :

Kamis, 17 Desember 2009

PENGERTIAN MASYARAKAT
PENGERTIAN MASYARAKAT Prof.M.M Djojodiguno berpendapat tentang masyarakat adalah suatu kebulatan dari pada segala perkembangan dalam hidup bersama antara manusia dengan manusia. R.Linton berpendapat bahwa Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama,sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas tertentu. MAKNA MASYARAKAT Oleh M.J Herskovist : Masyarakat adalah kelompok individu yang di organisasikan dan menguikuti satu cara hidup tertentu. Oleh hasan Shadily : Masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia dengan atau karena sendirinya,bertalian secara golongan dan mempuntai pengaruh kebatinan satu sama lain. Syarat-syarat dari masyarakat : - Harus ada pengumpulan manusia , dan harus banyak,bukan pengumpulan binatang. - Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu - Adanya aturan UU yang mengatur mereka untuk menuju kepentingan dan tujuan bersama.

Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara pelbagai individu. Dari segi pelaksanaan, ia bermaksud sesuatu yang dibuat atau tidak dibuat - oleh kumpulan orang itu. Masyarakat merupakan subjek utama dalam pengkajian sains sosial. Oleh kerana sesebuah masyarakat yang inginkan kestabilan memerlukan ahli-ahli yang sanggup menolong antara satu sama lain, maka ia perlu kepada nilai-nilai murni seperti kerakyatan, hak dan etika. Ini merupakan perkara asas untuk mencapai keadilan. Jika nilai-nilai ini gagal dipatuhi, orang akan mengatakan sesebuah masyarakat tersebut sebagai tidak adil dan musibah akan berlaku.

Perkataan society datang daripada bahasa Latin societas, "perhubungan baik dengan orang lain". Perkataan societas diambil dari socius yang bererti "teman", maka makna masyarakat itu adalah berkait rapat dengan apa yang dikatakan sosial. Ini bermakna telah tersirat dalam kata masyarakat bahawa ahli-ahlinya mempunyai kepentingan dan matlamat yang sama. Maka, masyarakat selalu digunakan untuk menggambarkan rakyat sesebuah negara. Walaupun setiap masyarakat itu berbeza, namun cara ia musnah adalah selalunya sama: penipuan, pencurian, keganasan, peperangan dan juga kadangkala penghapusan etnik jika perasaan perkauman itu timbul. Masyarakat yang baru akan muncul daripada sesiapa yang masih bersama, ataupun daripada sesiapa yang tinggal.

Pengertian Masyarakat, Unsur Dan Kriteria Masyarakat Dalam Kehidupan Sosial Antar Manusia
Tue, 10/06/2008 - 10:34pm godam64

Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat. A. Arti Definisi / Pengertian Masyarakat Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia. 1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. 2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi. 3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. 4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.

B. Faktor-Faktor / Unsur-Unsur Masyarakat Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini : 1. Berangotakan minimal dua orang. 2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan. 3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat. 4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat. C. Ciri / Kriteria Masyarakat Yang Baik Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpolan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat. 1. Ada sistem tindakan utama. 2. Saling setia pada sistem tindakan utama. 3. Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota. 4. Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia. Dapatkan artikel tulisan mengenai ilmu pengetahuan sosiologi di situs organisasi.org ini. Terima kasih.

Penterjemah: Abu Ahmad _____ Yang dimaksud dengan unsur disini adalah dasar-dasar utama yang diatasnya tegak suatu masyarakat, yang berarti bagian terpenting atau unsur asasi dalam sesuatu [1] karena setiap sesuatu pasti memiliki unsur dan bagian terpenting yang dengannya memiliki keistimewaan dan perbedaan dari yang lainnya serta memiliki nilai yang tinggi. Seperti halnya rumah, pasti memiliki unsur-unsur utama yang saling mendukung dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya seperti jendela, tiang, atap dan pintu serta bagian-bagian lainnya, yang kesemuanya itu harus ada, karena jika tidak, maka akan hilang bobot dan nilai rumah tersebut dan manfaatnyapun akan berkurang bahkan tidak bisa memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Begitu pula dengan maysrakat muslim pasti memiliki unsur-unsur penting ynng menjadikannya memiliki keistimewaan tersendiri dari masyarakt lainnya, jika hilang salah satunya maka boleh jadi eksistensinya (keberadaannya) seperti tidak ada (tidak dianggap), tidak memiliki bobot dan

tidak bisa memberikan pengaruh ditengah umat dan masyarakat lainnya. Dan pada pembahasan akan kami jabarkan beberapa unsur utama tegaknya masyarakat muslim, yaitu sebegai berikut : 1. Akidah Yaitu akidah yang merasuk dalam lubuk hati umat dan tegak di dalamnya, yang menjadi petunjuk jalan dalam setiap langkah dan gerak mereka dalam berbagai sisi kehidupannya; ekonomi, politik, sosial dan lainnya yang biasa dihadapi oleh setiap umat. Akidah yang menggerakkan mujtama muslim dan menjadi ciri khas tersendiri, sebagaimana juga menjadi titik awal tegaknya masyarakat Islam. Akidah yang bukan hanya sekedar ucapan dua kalimat syahadat tidak tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah tapi juga mencakup sagala hal yang harus dipenuhi dan dipegang erat; seperti undang-undang, syariat, hubungan antara mereka dengan Tuhannya dan hubungan dengan makhluk lainnya, atau sebagai landasan hidup umat. Karena itu kalimat la ilaha illallah mencakup pada penolakan akan tunduk dan beribadah pada sultan selain Allah, hukum selain hukum-Nya, peritah selain perintah-Nya, undang-undang selain undang-undang-Nya, syariat selain syariat-Nya dan juga penolakan untuk loyal kepada seipapun kecuali kepada-Nya dan cinta kepada siapapun kecuali kepada-Nya, [2]. Allah SWT dalam hakikat yang menyeluruh- adalah yang berhak disembah oleh hamba-hamba-Nya dan ditaati apa yang diperintahkan dan dijauhi apa yang dilarang, bertawakkal kepada-Nya dan memohon pertolongan kepada-nya, merasakan akan keagungan, kebesaran, dan keangkuhan-Nya hingga melahirkan sosok individu yang memiliki ciri khas tersendiri, akhlak yang mulia yang tidak akan pernah rela beribadah, tunduk dan taat kepada siapapun kecuali kepada Allah, dan tidak taat kecuali kepada syariat dan undang-undang yang diturunkan oleh-Nya, yaitu Al-Quran. Perlu diingat bahwa manusia tidak akan mampu memahami Al-Quran Al-karim dan isyaratisyarat yang terdapat di dalamnya kecuali setelah mengambil dari sumber yang pertama dimana Al-Quran diturunkan yaitu Rasulullah saw, inilah yang dimaksud dengan kalimat syahadat dari rukun Islam yang pertama yaitu Bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah maksudnya adalah tidaklah menyembah dan mentaati segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya kecuali terhadap sesuatu yang telah disyariatkan dan diwahyukan Allah melalui lisan Rasulullah saw[3] dua kalimat tersebut harus diiringi dengan beriman kepada keduanya, mengucapkan dengan beriman kepada yang ghaib, memiliki fenomena yang ghaib seperti beriman kepada Allah, para Malaikat, kitab-kitab, para rasul dan hari akhir serta takdir baik dan buruknya- atau yang biasa kita dengar dengan rukun iman yang enam [4] Dan akidah ini tentunya memberikan pengaruh dan hasil yang tidak bisa dipungkir lagi bagi umat islam sehingga dia dapat mengambil manfaat darinya, yaitu A. Ikatan Iman (ukhuwah Islamiyyah) Telah disebutkan sebelumnya bahwa manusia dalam Islam, sebagian mereka dengan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dalam iman, dan keduanya tidak bisa dipisahkan, mereka seakan seperti satu tubuh jika salah satunya mengalami sakit maka yang lainnya akan ikut merasakan kepedihannya, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah saw :

Muslim dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara Sebagaimana akidah juga tidak hanya sekedar menghubungkan antara ikatan individu dengan individu lainnya, dalam tempat yang tertentu, namun juga mempererat tali hubungan antara masyarakat dengan masyarakat lainnya, dan antara negara dengan negara lainnya yang kesemuanya adalah satu dan berada dalam ikatan yang satu yaitu iman, mereka diikat dengan ikatan ukhuwah yaitu ikatan yang paling kuat dan erat antara kaum muslimin melebihi ikatan hubungan karena nasab (keturunan), iklim, ras dan ikatan lainnya. B. Hukum-hukum Islam Dan diantara hasil yang dicapai dari akidah Islamiah adalah teraplikasinya hukum-hukum Islam dalam keyakinan, ibadah, muamalah, sangsi-sangsi dan undang-undang. Antara hukum dan akidah memiliki hubungan yang erat dan saling berdampingan. Bahwa akidah Islam yang diyakini oleh manusia tidak akan memberikan pengaruh dalam jiwanya, keluarganya bahkan masyarakatnya jika tidak merealisasikan -disampingnya- hukum-hukum yang telah disyariatkan. Sebagaimana hukum yang terdapat dalam ibadah atau syariah atau muamalah tidak akan membuahkan ganjaran dan ridla Allah jika tidak memiliki akidah Islam atau bersumber dari akidah Islam yang benar, keduanya merupakan satu kesatuan yang terdapat dalam jasad manusia bahkan jasad suatu mujtama dan negara yang menginginkan kemenangan hidup di dunia dan di akhirat. Jadi akidah bukanlah ibadah ruhiyah saja, dan juga bukan hanya sekedar ucapan melalui lisan tapi merupakan ibadah dan amal. Sebagaimana hukum bukan sekedar system yang mengatur kehidupan duniawi saja tetapi mencakup kehidupan dunia dan akhirat dan untuk menggapai keduanya tersebut harus dengan akidah Islam yang murni. Amal ibadah yang mencakup segala sisi kehidupan juga mencakup hukum-hukum Islam yang dari keduanya diharuskan adanya iman yang terpatri dalam lubuh hati agar dapat memberikan pengaruh dalam diri setiap umat dan masyarakat. Imam Hasan berkata [5] : Sesungguhnya iman bukan hanya hiasan lidah dan angan-anagan belaka namun apa yang diikrarkan dalam hati dan diaplikasikan dalam amal (perbuatan) [6] C. Umat yang istimewa, peradaban dan tsaqofah yang maju. Sebelumnya telah disebutkan bahwa masyarakat Islam seharusnya menjadi umat yang maju yang memandang ilmu yang diturunkan oleh Allah melalui nabi Muhammad saw, yaitu AlQuran Al-Karim. Dimana perintah pertama yang diturunkan Allah adalah membaca sebagai sarana menuju kemajuan dan ketinggian, dan menuntut ilmu guna meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun semua itu juga harus bersumber dari akidah Islam dan manhaj yang lurus, karena banyak sekali ilmu pada saat ini seperti yang banyak kita saksikan- yang tidak bersumber dari manhaj yang benar sehingga menghasilkan peradaban dan tsaqofah yang jauh dari akidah Islam, lalu jauh dari rahmat dan ridla Allah SWT.

2. Syiar-syiar dan Ibadah Unsur kedua yang menjadi tonggak berdirinya masyarakat Islam adalah Syiar-syiar dan ibadah yang telah Allah wajibkan atas umat Islam, agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah dan berharap mendapatkan ganjaran dan ridla-Nya, dan merupakan pengejewantahan dari keimanan dan keyakinan saat berjumpa dengan Allah dan saat berada dihari hisab. Syiar dan ibadah yang Allah wajibkan adalah empat perkara yang tampak dalam rukun Islam setelah mengucapkan dua kaliamat syahadat- dan sendi-sendi bangunan yang kokoh [7], seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw : Islam itu dibangun atas lima ; Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa ramadhan dan pergi haji jika mampu. (HR. Bukhari dan Muslim) Menegakkan ibadah, menjalani dan mentaati syiar-syiarnya serta mengagungkannya merupakan dalil akan kuatnya akidah yang tepatri dalam hati dan dada [8] sebagaimana Allah berfirman : () Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (Al-Hajj : 32) Sesungguhnya diwajibkannya syiar-syiar ini dan ibadah-ibadah tersebut dan dijelaskan secara gamblang melalui lisan Rasulullah saw tata-cara, aturan-aturan dan waktu-waktunya dan disamakan pada seluruh umat manusia agar tidak terpecah andangan dan pemahaman mereka dan menjadi saran auntuk menyatukan hati dan ruh serta perasaan dengan adanya satu tujuan dan maksud. [9] Demikianlah model mujtama muslim seperti yang diungkapkan oleh Sayyid Qutb- mujtam yang terbentuk pada keyakinan dan pandangan setiap individunya sebagaimana yang terbentuk dalam syiar dan ibadah-ibadah mereka [10] karena itu keajaiban beribadah- memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan persatuan kaum muslimin, selain -disanabanyak memiliki nilai-nilai yang lain, sebagaimana juga dapat mengokohkan persatuan umat Islam dan tangguh; seperti satu arahnya kiblat dalam sholat- dapat menyatukan dan mempertemukan ikatan hati umat setiap harinya sebanyak lima kali yang ditujukan pada satu arah sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kesatuan perasaan dan hati umat Islah bahwa mereka memiliki ikatan hati dengan umat islam yang lainnyaIbadah selain sebagai sarana persatuan umat juga menjadikan seorang muslim dalam naungan umat Islam [11] 3. Ideology dan Konsep

Yaitu Ideologi dan konsep yang membentuk mujtama muslim dan memformat akal setiap umatnya, mengarahkan sastra dan seninya, kebudayaan dan komunikasinya, dan pendidikan dan pengajarannya [12] dan yang memberikan keuniversalan, kematangan dan keseimbangan dalam meluruskan setiap perkara dan pandangannya pada setiap hubungan dan interaksi. Karena itu, diantara tugas dan risalah para rasul setelah akidah- adalah mengarahkan mereka pada ideology dan konsep yang benar dari pandangan dan ideology yang menyimpang dan jauh dari agama mereka. Tidak ada satu umat ataupun masyarakat sepanjang zaman, tempat dan negara kecuali memiliki ideology dan konsep yang menguasai segala urusan dan sistemnya baik sosial, ekonomi dan politik-, dan membawanya pada kemajuan jika lurus akan sendi dan manhajnya- atau pada kejumudan dan kemunduran jika menyimpang dari sendi-sendi dan manhaj yang benar-. Dua perkara diatas memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk pandangan dan prilaku suatu komunitas. Anggota masyarakat sebagai bagian darinya- memiliki hubungan yang erat dalam membentuk ideology dan konsep yang baik dan benar sehingga dapat memberikan pengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Perlu diingat bahwa, Islam dalam usaha meluruskan ideologi dan konsep yang menyimpang di berbagai komunitas, ideology dan konsep, pada berbagai jenis kelamin, warna kulit dan etnis, berada diposisi pertengahan, dimana Islam secara langsung tidak melarang akan adat dan taklid yang sudah mengakar dalam setiap komunitas namun yang diinginkan adalah mengarahkannya ke tempat yang lurus secara bertahap sehingga tidak terlalu tergesa-gesa, berlebih-lebihan terhadap perubahan ideology tersebut. 4. Akhlak, Etika dan Adat Diantara unsur yang mengakkan mujtama Islam adalah Akhlak dan etika. akhlak sebagai bagian yang utama dari setiap mujtamayang sudah diakui oleh fitrah dan akal, dan mengarahkan setiap individu dan jamaah [13], sebagaimana adat dan etika, bagian dari akhlak dan bahkan pendamping dari akhlak itu sendiri. Akhlak adalah kata jama dari khuluk dan khulku yang bararti agama, tabiat dan perangai [14] seperti yang difirmankan Allah : () Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia (Al-Qalam : 4) Khuluk dan khulku merupakan dua kata yang digunakan bersamaan, seperti ungkapan: Fulan baik akhlak dan prilakunya, berarti baik batin dan dzahirnya, jadi maksud dari khuluk adalah batinnya, sementara khulku berarti dzahirnya, karena dalam diri manusia terdiri dari jasad yang disebut dengan bashar (panca indra) dan ruh yang disebut dangan bashirah (hati), keduanya memiliki sifat dan tabiat; baik sifat buruk atau terpuji, jiwa yang dibarengi dengan hati lebih

mulia nilainya daripada jasad yang hanya terdiri dari panca indra, karena itulah Allah memuliakannya dengan menisbahkannya dengan ciptaan-Nya, Allah berfirman : () . Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Maka jika Aku sempurnakan dan Aku tiupkan Ruh dari-Ku maka bersimpuh dan bersujudlah untuknya. (Shad : 71-72) Allah mengingatkan bahwa jasad dinisbahkan pada tanah dan ruh pada Tuhan semesta alam. Khuluk juga- merupakan bagian dari gerakan reflek yang keluar dari jiwa manusia secara mudah dan cepat tanpa perlu berfikir dan menuggu, jika gerakan itu baik secara akal dan syariat maka disebut dengan akhlak yang baik, dan jika gerakan itu buruk secara akal dan syariat maka disebut dengan akhlak tercela [15] Dalam hadits disebutkan : Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya kecuali akhlak yang baik (HR. Ahmad) Orang beriman yang sempurna keimannya adalah yang baik akhlaknya (HR. Turmudzi). Islam terdiri dari tiga komponen; Akidah, syariah dan akhlak, akidah adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, Syariah adalah pengikat hubungan antara manusia dengan Tuhannya sementara akhlak perekat yang memperkokoh hubungan hingga menjadi lebih eratIslam juga mempererat hubungan antara akidah dan akhlak, keduanya merupakan hakikat yang tidak bisa dipisahkan, dan keduanya memiliki hubungan yang mendalam hingga mencapai kesatuan yang begitu kokoh. Akidah merupakan sarana pembentukan akhlak dan akhlak harus bersumber dan bersandar pada akidah yang benar, tidaklah berguna orang yang berakhlak baik tapi tidak berakidah akidah Islam-, begitupun akidah yang terpatri dalam hati seseorang tidak akan memiliki pengaruh dalam jiwanya jika tidak memiliki akhlak terpuji. [16] Adapun yang menguatkan adanya hubungan antara akidah dan akhlak adalah ayat-ayat Al-Quran al-karim yang menjelaskan bahwa iman dan akhlak memiliki hubungan yang erat dan menjadikan perbuatan yang keluar dari keimanan yang benar dan layak harus ditingkatkan. Maka prilaku dan tindak tanduk seorang muslim mesti berasal dari akar yang kuat dengan akhlak ilahiyah, sementara iman dan islam dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan dan saling memberikan pengaruh pada pembentukan akhlak yang terpuji terhadap setiap masyarakat Islam. Ayat-ayat Al-Quran dalam berbagai tempatnya, banyak berbicara tentang akhlak dan meletakkan kaidah-kaidah, pembatas-pembatas dan arahan terhadap prilaku dan akhlak secara individu dan orang banyak, dalam bentuk perintah dan larangan, motivasi dan peringatan.

Perlu diingat juga bahwa ayat-ayat Al-Quran tidak meninggalkan sedikitpun akan keutamaan akhlak, dan memberikan janji pahala bagi siapa yang memiliki sifat yang baik dan terpuji; didunia dan akhirat, serta memberikan ganjaran surga yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata, dan di dengar oleh telinga dan dibayangkan oleh hati, atau tidak pernah dirasakan sama sekali sebelumnya. Sebagaimana juga Al-Quran memperingatkan bagi siapa yang bersifat dan beraklak tidak terpuji dan melanggar perbuatan yang telah perintahkan untuk dijauhi dan mengancamnya dengan tempat kembali yang sangat pedih dan penuh azab. [17] Kumpulan akhlak dan perbuatan yang terpuji atau tercela yang Al-Quran motivasi dan peringatkan terhadap kaum muslimin mencakup berbagai sisi kehidupan; baik dalam muamalah, prilaku, etika yang menyangkut hubungan mereka dengan Allah, dan hubungan dengan masyarakat lainnya. Sementara itu akhlak yang disebut merupakan sifat yang termaktub dalam asmaul husna yang keseluruhannya diperintahkan kepada manusia untuk melatih mereka terhadap akhlak tersebut. Sebagaimana akhlak juga merupakan manifestasi dalam ucapan dan perbuatan Rasulullah saw sebagai tauladan seluruh umat, karena akhlaknya adalah merupakan praktek dari Al-Quran, seperti yang pernah diungkapkan oleh Aisyah dalam atsarnya : Akhlaknya adalah Al-Quran

Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu wahai Muhammad dan berpalinglah dari orang-orang musyrik!.(QS Al-Hijr/15:94). Inilah perintah Allah SWT yang mengakhiri masa dakwah sirriyah (secara rahasia) sekaligus sebagai deklarasi dakwah terbuka pada tataran publik (jahriyah) untuk meninggalkan penyembahan berhala dan menumpas segala kebathilan ideologi yang telah jauh mendominasi akal masyarakat kala itu. Rasululllah s.a.w. naik ke bukit Shafa. Dengan suara lantang beliau berseru ya shabhah!. Seruan ini familiar di kalangan masyarakat Arab sebagai warning kedatangan serangan dari pihak luar. Tidak seorangpun yang lalai. Kawan dan lawan, semuanya bergegas berkumpul di hadapan manusia agung, Muhammad s.a.w.. Beliau berkata:Wahai Bani Abdul Muthalib! Wahai Bani Kaab! Jika ku katakan kepada kalian bahwa di belakang bukit ini ada pasukan berkuda yang hendak menyerang kalian, apakah kalian percaya?. Secara aklamasi mereka menjawab, Ya, kami percaya wahai Muhammad! Sungguh kami tidak pernah mendapatimu berdusta walau sekali saja. Baik! jika demikian, maka ketahuilah sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan untuk kalian tentang adanya adzab yang berat. Pernyataan tersebut segera disambut oleh Abu Lahab dengan arogan, celaka kau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk

mengatakan itu kau kumpulkan kami di tempat ini?!. Melalui Jibril alaihissalam Allah SWT menegaskan kebenaran risalahNya : Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya pasti binasa (QS Al-Masad/111:1) Cuplikan narasi sejarah ini menjelaskan pandangan hidup Islam Islamic worldview (altashawwur al-Islmy). Yaitu, persepsi seorang muslim dan masyarakat nya yang khas tentang yang wujud, dimulai dari konsep tauhid (syahadat) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia yang berorientasi pada Allah s.w.t semata. Sebab syahadat adalah pernyataan moral yang mendorong kita untuk melaksanakannya dalam kehidupan ini secara menyeluruh dan integral. Inilah keyakinan asasi yang terpatri kokoh dalam hati yang dengannya kita memberi makna bagi kehidupan dan alam semesta. Pandangan ini menjadi titik tolak peradaban universal yang kontra paganisme dan rasialisme etnik, tidak tersekat oleh kekerdilan suku, ras, masyarakat, budaya ataupun batas-batas geografis, sebagaimana universalitas Islam yang difirmankan oleh Allah SWT : Dan tidalah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta!( QS AlQalam/68 : 52). Alif lm r. (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu Muhammad supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.(Ibrahim/14:1). Oleh karena itu potret masyarakat muslim, tidak boleh tidak, harus sesuai dengan karakteristik dasar Islam itu sendiri; Rabbniyah (Allah Oriented pada dimensi sumber ajaran dan tujuan); insniyah-lamiyah (universal dan kompatibel dengan aspek kemanusiaan pragmatis); al-adl al-muthlaq (berkeadilan, anti tirani dan kezaliman apa dan siapapun); altawzun bayna al-fard wa al-jamah (keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial); tsabt wa al-tathawwur (kombinasi serasi antara perkara konservatif dan kemajuan zaman). Sirah Nabawiyah : Cermin Membangun Karakter Masyarakat Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Dengan demikian, karakter masyarakat berarti yang membedakan kita dengan masyarakat lain pada aspek-aspek tersebut. Karakter sebuah masyarakat terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian mereka terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter masyarakat merupakan hasil interaksi totalitas masyarakat tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang dimilikinya. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar bersama. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif bagi alam semesta, rahmatan lilalamin. Dari sini kita menyadari pentingnya bercermin pada sejarah, terlebih sirah nabawiyah (sejarah kenabian). Rekonstruksi dan reaktualisasi pemaknaan sejarah kenabian menjadi cermin penting dalam menata ulang bangunan karakter dan kepribadian masyarakat kita yang semakin hari semakin pudar.

Ketika dakwah Rasulullah s.a.w. tak lagi terbendung dengan berbagai strategi perlawanan dan rekayasa opini publik masyarakat Arab masa itu, ditawarkan beberapa pilihan yang menggiurkan kepada Rasulullah .s.a.w.; harta, tahta dan wanita. Bahkan sampai pada opsi kompromi teologis dengan secara bergantian menyembah tuhan masing-masing. Semuanya ditolak!. Beliau dengan tegar menyatakan konsisten menjalankan ajarannya di jalur kultural dengan menata ulang visi ketuhanan masyarakat Arab, visi kemanusiaan, visi tentang hidup dan visi tentang alam tercipta yang telah terkontaminasi sedemikian jauh oleh virus-virus paganisme dan rasialisme etnik masyarakat Arab lalu mengisinya dengan tauhid sebagaimana grand design dakwah para Nabi sebelumnya. Al-Imam Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai proses altakhliyah qabla al-tahliyah; pengosongan diri dari segala hal yang kontradiktif dengan nilai-nilai luhur Islam sebelum berfesona dengannya. Di sini kita belajar untuk menjadi masyarakat yang kritis (critical society), bukan saja sebagai individu. Kita dituntut secara massif untuk mengkonservasi nilai-nilai fundamental keimanan, ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an kita di tengah serbuan pasar ideologi kontemporer yang destruktif atas kemanusiaan sejagad. Dalam konteks ini, barangkali, kita perlu melakukan perlawanan bersama atas berbagai varian neo kolonialisme dan imperialisme global yang menggerogoti organ vital kepribadian masyarakat kita; izzah sebagai masyarakat muslim! Inilah inti ajaran tauhid, melawan tirani (thagut) dan reorientasi penghambaan (ubudiyah) hanya kepada Allah s.w.t. (tauhid). Visi kehidupan tauhidik ini berlawanan secara diametral dengan paganisme kekinian yang mengeksploitasi kemanusiaan kita. Visi ini berimplikasi lebih jauh pada potret dan orientasi masyarakat muslim yang universal dan kosmopolitan. Dalam struktur kepribadian masyarakat kita, manusia tidak lagi dipandang berdasarkan paradigma etnik dan religio-kultural. Tidak pula dipilah berdasarkan sosiogeografisnya. Satu-satunya parameter yang kompatibel dengan semangat tauhid ialah ketaqwaan yang aktual dalam tataran kehidupan pribadi, sosial serta berimplikasi positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Hai manusia, Sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat/49:13). Wajah masyarakat muslim yang kosmopolitan dan universal ditegakkan atas prinsip-prinsip moral yang menjadi konsensus bersama bagi segenap komunitas yang berada di teritorial Islam. Dalam hal ini, sekali lagi, dalam konteks kemanusiaan Rasulullah s.a.w. tidak membeda-bedakan muslim-non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihatlah klausal-klausal yang tertera pada Piagam Madinah (mtsq al-Madnah), yang menurut para pakar sejarah dan tata negara merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernikpernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia. Rasulullah s.a.w. menegaskan kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Keadilan meletakkan manusia sejajar, tanpa memandang status dan jabatan. Sabda beliau,Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian ialah perilaku mereka yang hanya menjatuhkan hukuman terhadap pencuri (koruptor) dari kalangan masyarakat lemah dan tidak memberikan sangsi apa-apa terhadap

pencuri (koruptor) dari kalangan elit. Demi Allah, jika Fathimah anaknya Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya.(HR Bukhari & Muslim). Pada tataran relasi antar-manusia dengan ragam keyakinan yang bebeda, Al-Quran Al-Karim mengajarkan kita untuk tidak menjadi masyarakat yang kerdil dan tertutup sebagaimana doktrin rasialisme kaum zionis the people of God (syabullh al-mukhtr). Rasulullah bersabda Ketauilah barang siapa yang menzhalimi non Muslim yang telah melakukan perjanjian atau meremehkannya, membebaninya di luar batas kemampuan, mengambil sesuatu tanpa kerelaannya, maka aku menjadi musuhnya di hari kiamat. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi). Bahkan dalam tataran keyakinan sekalipun, Islam tak pernah menerapkan paksaan dan intimidasi teologis sebagaimana fakta sejarah abad Pertengahan. Islam mengajarkan toleransi yang luhur atas dasar tanggungjawab di hadapan Allah s.w.t. Islam samasekali tidak membenarkan model ritual dan keyakinan mereka, namun mereka dapat menunaikannya secara aman. Tidak ada teror atas simbol keagamaan dan ritual tersebut. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tak kan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS Al-Baqarah/2:256). Juga FirmanNya,Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. AlAnam/6:108). Katakanlah: Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.(Al-Kafirun/109:1-6) Prinsip-prinsip keadilan dan apresiasi yang tinggi terhadap fakta pluralitas masyarakat telah menjadikan masyarakat profetik Madinah tampil melampaui zamannya yang sarat dengan tribalisme Arab. Ini pula yang berimplikasi pada kohesivitas antar kelompok dan individu, terlebih sesama kaum beriman sebagaimana dicontohkan dalam catatan mukht (persaudaraan) kaum Muhajirin dan Anshar. Kohesivitas individu dan sosial generasi awal (salaf) di masa Rasulullah s.a.w yang sangat kokoh merupakan pantulan frekuensi dan basis spiritual yang sama di antara mereka. Modal spiritual (quwwah rhiyah) ini pula yang dicatat oleh sejarah dalam membangun awal peradaban Islam yang agung. Peradaban dengan visi Uluhiyah yang sangat kental. Pembangunan dua masjid; Quba dan Nabawi menjadi saksi sejarah kokohnya basis spiritual tersebut. sesungguh- nya masjid yang didirikan atas dasar taqwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS Al-Taubah/9:108) karena itulah mereka dipuji Allah s.w.t., Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS AlTaubah/9:100) Terakhir, masyarakat muslim adalah masyarakat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Dengan penalaran yang lain dapat dijelaskan bahwa, ajaran Islam yang didakwahkan oleh

Rasulullah s.a.w. telah mengevakuasi manusia dari keterpurukan fase mitologi menuju fase bermartabat yang berbasis ilmu dan pengetahuan. Dari perspektif ini kita memahami dengan baik bahwa arpresiasi dan pujian sebagai Ulul Albab (Lihat Q.S. Ali/3 : 190-191) dapat diraih tatkala segala potensi akal dan spiritual yang kita miliki didedikasikan untuk memahami ayatayat atau tanda keagungan Allah s.w.t., bukan untuk dimitoskan, apalagi disembah. Wahyu pertama Iqra memberikan landasan kokoh terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam sejarah panjang peradaban Islam kemudian. Cermati pula kisah ahlu shuffah yang setia menimba ilmu setiap saat kepada Rasulullah s.a.w. Di sini kita memahami masyarakat muslim ialah masyarakat dengan etos ilmu yang tinggi. Akankah kita menjadi potret ideal masyarakat muslim yang berkarakter itu? Semoga saja! Kertas kerja ini mencirikan sifat-sifat umum masyarakat Islam yang mengakari kemusliman mereka. Bahkan kehilangan sifat-sifat ini akan mencacatkan radiasi keabsahan Islam pada seseorang individu dan seluruh masyarakatnya. 1. Masyarakat yang dibina atas akidah Tauhid Allah SWT mengutuskan para rasul untuk membebaskan manusia daripada syirik iaitu menyembah Tuhan selain Allah. Tauhid menjadi intipati utama dakwah para rasul khususnya para rasul yang tergolong sebagai Ulul Azmi. Misalnya, Nabi Ibrahim AS berdakwah kepada kaumnya (Raja Namrud), begitu Nabi Nuh AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS sehinggalah Nabi Muhammad SAW. Misi Rasulullah SAW di Mekah selama 13 tahun adalah membebaskan masyarakat Arab Jahiliah daripada perbuatan syirik. Ayat-ayat Makiyyah menyeru kepada mengesakan Allah. Dalam Surah al-Kafirun misalnya menegaskan bahawa orang-orang yang beriman amat berbeza dengan orang kafir. Sifat utama orang beriman adalah beriman kepada Allah, para malaikat, kitab, para rasul, hari kiamat, qodho dan qodar. Mereka membuang segala perbuatan yang menyerupai orang-orang kafir. Percaya dan yakin bahawa peranan mereka adalah sebagai hamba dan khalifah Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan rasul. Tauhid juga bermaksud orang-orang beriman meletakkan Allah dan Rasulullah SAW sebagai matlamat utama melebihi perkara lain. Seperti sifat Abu Bakar As-Siddiq kala dipukul kafir Quraisy tetapi masih bertanyakan Rasulullah SAW apabila tersedar daripada pengsan. Ini menunjukkan kasih dan cintanya kepada Rasulullah SAW melebihi dirinya sendiri. Masyarakat Islam juga adalah masyarakat yang teguh serta sanggup menggadaikan nyawa demi keyakinan terhadap Allah dan rasul seperti keluarga Yasir dan Sumayyah yang meningga dunia di tangan musuh serta keteguhan Bilal bin Rabah mempertahankan akidahnya walaupun disiksa oleh Abu Jahal. Masyarakat Islam berteraskan akidah telah dimodelkan oleh para sahabat baginda SAW yang mula mula memeluk Islam. Mereka sanggup dimusuhi saudara kerana memilih Islam, mereka memilih untuk hidup melarat dan miskin serta berjuang harta dan nyawa demi Islam, pasukan Muhajirin sanggup meninggalkan kampung halaman serta keluarga yang dicintai termasuk Zainab, Puteri sulung Rasulullah SAW. Beliau tinggalkan suaminya Abu Al- Ash yang masih musyrik kerana menyahut seruan Allah membuka tapak baru di Madinah.

Masyarakat berteraskan akidah yang benar hanya akan menggunakan al-Quran dan sunnah sebagai panduan hidup. Selain keduanya, mereka akan menolak. Bahkan prinsip akidah Islam yang tegas tidak akan membenarkan umatnya bertoleransi dengan agama lain apatah lagi merayakan hari-hari kebesaran mereka. Kisah-kisah pejuang Islam sepanjang zaman yang teguh mempertahankan akidah boleh menjadi tauladan kepada umat Islam sekarang seperti perjuangan Badiuzzaman Said Nursi, Hassan al-Banna, Syed Qutb, Tok Kenali dan lain-lain. 1.2 Masyarakat Yang Benar Kesan daripada akidah Tauhid yang mendokongi iman adalah ibadah, amal, akhlak dan sikap yang ikhlas dan benar. Dr Wahbah az-Zuhaili dalam bukunya Akhlak Muslim menjelaskan bahawa sifat benar hanya terdapat pada orang mukmin. Firman Allah Taala bermaksud; Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orangorang yang benar Surah at-Taubah;119 Allah juga menyebut dalam surah al-Ahzab ayat 35 tentang sifat orang beriman bermaksud; Lelaki-lelaki yang benar dan perempuan-perempuan yang benar. Sebaliknya, mereka yang beriman tetapi tidak berkelakuan as-Siddiq atau benar, Allah menyifatkan mereka sebagai al-mukazzibin (penipu). Sifat penipu atau tidak amanah termasuk sebagai sifat munafik. Dalam surah as-Soff menyebutkan; Wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengata sesuatu yang tidak kamu laksanakan? Perbuatan tidak amanah sangat besar dosanya di sisi Allah. Daripada diri mukmin yang benar dan bersih, akan melahirkan keluarga dan ahli masyarakat yang baik. Tauladan ini boleh diambil daripada kisah-kisah para solihin yang telah melahirkan generasi gemilang kerana mengamalkan Islam (bersih) dalam kehidupan. Contohnya, Maryam, ibu Nabi Isa AS. Seorang wanita yang suci dan bersih dan mengabdikan diri kepada Allah SWT. Keturunan seorang soleh bernama Imron, anak saudara Zakaria dan Yahya AS. Daripada generasi anbiyai ini lahirlah Nabi Isa AS. Kisah para ulama masa kini, ibubapa mereka adalah orang-orang yang benar dan bersih. Contoh lain, kisah Badiuzzaman Said Nursi, bapanya seorang yang warak dan hanya memberi makanan yang halal kepada anak-anak termasuk binatang ternakannya juga dipastikan makan rumput yang halal. Manakala Ibu Said Nursi hanya menyusukan anak-anaknya dalam keadaan bersih dan berwudhuk . Begitu juga para imam seperti Imam Syafie, Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ghazali, semuanya lahir daripada kehidupan yang mengamalkan kebenaran Islam. Masyarakat Islam juga benar dalam tindakan, percakapan dan pemikiran. Hanya bercakap perkara-perkara yang baik dan benar. Tidak berlaku zalim seperti mengamalkan rasuah, memakan harta anak yatim, mengabaikan tanggungjawab dan 1001 perkara yang bertentangan dengan kebenaran. Hadis Rasulullah SAW bermaksud; Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya. Justeru, masyarakat Islam yang mengambil siri tauladan Islam bermakna menjadikan kebenaran sebagai rujukan kehidupannya. Manakala selainnya adalah kesesatan. 1.3 Masyarakat yang dikukuhkan dengan persaudaran (ukhwah)

Allah SWT menciptakan manusia daripada tubuh yang satu iaitu Nabi Adam AS. Justeru, percaturan fitrah manusia seperti bentuk fizikal, naluri dan perasaan, kecenderungan adalah sama sahaja. Malah, Allah telah berfirman yang bermaksud Allah tidak menilai seseorang itu berdasarkan keturunan, bangsa, warna kulit tetapi hanya sifat taqwa. Justeru, kebersamaan itulah yang mengikat manusia untuk tunduk kepada Allah SWT sebagai Pencipta dan Tuhan sekalian alam. Sesiapa yang beriman kepada Allah SWT maka ia telah disatukan dalam persaudaraan Islam. Malah baginda SAW pernah mengatakan bahawa orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggotanya sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Tauladan dipetik daripada peristiwa hijrah yang telah menyatukan kaum Muhajirin dan Ansar di Madinah. Umat Islam di zaman Rasulullah SAW bersatu mempertahankan akidah. Berkongsi pemilikan harta bahkan jiwa demi memuliakan anjuran ukhwah. Misalnya, kisah di Medan Uhud menyaksikan tentera Islam berkorban untuk sahabat-sahabat mereka minuman. Masing-masing menolak kerana mendahulukan sahabat. Akhirnya, semua mereka mati syahid. Ini bertepatan dengan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud; Tidak masuk syurga seseorang yang membiarkan saudaranya lapar walaupun dia seorang ahli ibadah. . Punca kekuatan Islam boleh tersebar ke pelusuk dunia timur dan barat adalah kesatuan diri dan akidah. Umat Islam sujud pada kiblat yang sama, menikmati al-Quran dan Sunnah (panduan hidup) yang sama serta rasa cinta kepada Allah dan rasul yang sama Apabila kesatuan itu pecah, maka hancurlah kekuatan Islam, ini boleh diiktibari daripada sejarah khalifah Islam. Tatkala umat Islam berpecah kepada firqoh (kumpulan) fahaman seperti Syiah, Ahl Sunnah, Khawarij dan Muktazilah, musuh terutama orang munafik dan Yahudi senang melaga-lagakan sehingga tercetusnya peperangan yang mengorbankan ramai pemimpin Islam seperti Saidina Ali RA, Saidina Uthman RA, Saidina Hussien RA dan ramai lagi. Begitu juga apa yang berlaku saat keruntuhan Khalifah Uthmaniyyah di Turki. Sultan Abdul Hamid II telah diselewengkan oleh orang-orang kanannya mengakibatkan sistem khalifah Islam hancur digantikan sistem sekular yang mengharamkan agama. Kini, apabila kuasa barat Eropah menakluk sebahagian dunia, mereka telah memisahkan negaranegara Islam kepada negara dan bangsa melalui dasar pecah dan perintah. Oleh itu, wujudlah jurang perbezaan berdasarkan geografi, bahasa, warna kulit walaupun masing-masing adalah Muslim. Malang lagi, semua mereka disatukan dengan penonjolan budaya barat (hegemoni) yang jauh bertentangan dengan Islam. Oleh itu, umat Islam tidak lagi berasa sensitive kepada keadaan yang berlaku di negara Islam lain kerana sikap taksub terhadap bangsa dan negara sendiri. Jelaslah bahwa, apabila rasa ukhwah hilang dari jiwa umat Islam, maka mereka menjadi umat yang lemah, mundur, kecewa dan pesimis terhadap saudaranya sendiri. 1.4 Masyarakat Yang mementingkan ilmu pengetahuan Ilmu adalah perkara pertama yang diajarkan Allah SWT kepada Nabi Adam AS. Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah:31 bermaksud: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama

benda seluruhnya. Daripada ayat yang berikutnya, Nabi Adam AS telah mengajarkan pula kepada malaikat (al-Baqarah: 33). Ini membuktikan Allah SWT menaikkan taraf manusia berbanding para makluk lain termasuk malaikat hanya dengan akal fikiran yakni ilmu pengetahuan. Bahkan ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi, wahyu pertama yang diberikan kepada baginda SAW adalah Iqra iaitu membaca. Malaikat Jibril AS sendiri yang menjadi guru kepada Rasulullah SAW. Manusia, secara umumnya menjadi kuat apabila menguasai ilmu pengetahuan. Tamaduntamadun awal manusia iaitu Yunani, Rom, Parsi, Cina dan India masyhur kerana penguasaan ilmu pengetahuan meliputi falsafah, teknologi dan kemahiran. Bangsa Rom menjadi hebat kerana pengetahuan mereka terhadap ilmu binaan, bangsa Parsi terkenal dengan kecerdikan mereka di medan peperangan, bangsa Cina agung dengan budaya perniagaan, perubatan dan teknologi (kertas), bangsa Yunani dan India pula terkenal dengan falsafah. Justeru, kala Allah SWT memunculkan Islam, maka seiring itu jugalah Dia membentangkan ilmu pengetahuan yang berlunaskan syariat yang semuanya terkandung dalam al-Quran dan Sunnah. Peradaban Islam pasca negara Islam Madinah menyaksikan umat Islam paling unggul apatah lagi ketika itu, bangsa Eropah mengalami zaman gelap. Ketika itu lahirlah tokoh-tokoh pemikir dan ilmuan Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Baitutah, Ibnu Kathir dan ramai lagi termasuk empat imam fikah iaitu Imam Malik, Imam Syafie, Imam Abu Hanifah dan Imam Hanbali. Bahkan, ilmu-ilmu Islam sentiasa berkoleborasi dengan zaman sehingga ia tidak pernah berhenti memartabatkan manusia. Justeru, umat Islam adalah umat yang paling unggul sekiranya mereka memahami martabat ilmu. Sebaliknya, jika mereka tidak menguasi ilmu, mereka menjadi umat yang mundur, lemah, dan menjadi mangsa keadaan. Ia sangat bertentangan dengan apa yang dialami oleh umat Islam di era Rasulullah SAW, para sahabat dan tabiin. Contoh-contoh keruntuhan umat Islam akibat tidak menguasai ilmu pengetahuan boleh dilihat pada masa kini. Umat Islam lebih banyak menjadi pengguna daripada pengeluar, lebih ramai menjadi hamba daripada tuan, lebih rela menjadi pengikut dan pelaksana daripada ketua dan pengusaha. Jika keadaan ini berterusan, adalah mustahil masyarakat Islam boleh bangkit menegakkan kemasyuran tamadun Islam sebelumnya. Perbezaan di antara orang yang berilmu dengan orang jahil itu amat ketara. Ini telah disebutkan di dalam al-Quran.Firman Allah Taala bermaksud; Adakah sama orang-orang yang mengetahui-ilmu- dan orang-orang yang tidak mengetahuijahil- Surah az-Zumar; 39 1.5 Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bertoleransi Salah satu ciri Islam adalah memudahkan umatnya. Sabda Rasulullah SAW: bermaksud; Sesungguhnya agama itu mudah. Mudah yang dimaksudkan ialah Islam melorongkan hak yang boleh memenuhi fitrah kemanusiaan manusia. Contohnya, Islam membenarkan perkahwinan di antara lelaki dan wanita

dengat syarat yang mudah, Islam membenarkan umatnya menjadi kaya dengan jalan usaha yang benar. Islam memudahkan umatnya yang bermusafir bahkan seluruh hukum Islam (yang tidak berkait dengan akidah) boleh disesuaikan mengikut keadaan zaman dan persekitaran. Hari ini, apabila negara-negara Islam diserapi pengaruh penjajahan terutama Barat (Eropah) dan berlangsung lebih daripada 500 tahun, Islam masih kukuh dan meresapi jiwa penganutnya sehingga di abad 21, Islam menjadi satu tamadun yang paling ampuh melawan tamadun Barat yang mulai dihakis kerosakan. Malahan, umat barat mulai takut dengan budaya Islam yang mula menyerapi warga Eropah hingga menyingkirkan budaya sekular yang menjadi pegangan barat. Misalnya, di Belanda, filem Fitna yang dihasilkan bagi tujuan memburukkan Islam dengan mengaitkan keganasan kepada Islam adalah interpretasi daripada kebimbangan mereka terhadap asakan pengaruh Islam. Justeru, umat Islam tidak boleh lagi bersikap statik dengan hanya selesa pada kebudayaan yang ada. Sebaliknya, cuba memahami Islam dalam sudut yang luas dan syumul. Hafiz Firdaus, seorang intelektual Islam di Malaysia menggagaskan supaya umat Islam melihat Islam seperti menaiki sebuah kapal terbang. Di tempat yang tinggi, kita dapat melihat bucu-bucu Islam dari pelbagai sisi. Keadaan umat Islam di negara Eropah tidak sama dengan keadaan umat Islam di Timur Tengah atau Asia dan Eropah. Perbezaan budaya dan cara berfikir di kalangan umat Islam yang dipisahkan dalam kala geografi ini tidak menjadikan Islam itu berpecah-pecah tetapi lebih uniknya, ia bertoleransi dan melambangkan keistimewaan Islam yang meraikan semua budaya dan bangsa. 2. SIFAT2 ORANG MUKMIN DALAM SURAH AL-MUKMINUN Allah SWT telah menyebut dengan khusus keistimewaan sifat orang Mukmin yang meletakkan mereka di martabat yang mulia dan beruntung dalam surah al-Mukminun ayat 1- 10 iaitu; 1. Orang yang khusyuk dalam solat 2. Orang yang menjauhkan diri daripada perbuatan yang tidak berguna (maksiat dan lagho) 3. Orang yang menunaikan zakat 4. Orang yang menjaga kemaluannya kecuali kepada isteri 5. Orang yang memelihara amanah, janji dan tanggungjawabnya 6. Orang yang menjaga sembahyang PENUTUP Hari ini umat Islam berhadapan dengan arus globalisasi yang mencerap ke seluruh dunia Islam timur dan barat. Tidak ada kaedah yang dapat menghalang ombak kemasukannya. Oleh itu, umat Islam mempunyai beberapa pilihan untuk menangani fenomena ini antaranya ialah dengan bersikap dingin terhadap pengaruh global. Kelompok ini boleh melarikan diri ke suatu penjuru yang asing daripada dunia semasa serta mempraktikkan cara Islam yang tradisional, mandiri dan terpinggir daripada masyarakat. Kaedah sebaliknya adalah menjadi seorang yang terbuka untuk menerima pengaruh global dan memperagakan budaya barat sebagai norma baharu yang diakui dunia. Walaubagaimanapun, kaedah ini akan sedikit sebanyak menyinggungkan keabsahan Islam yang diketahu amat berbeza daripada fahaman barat sekular-.

Namun, cara yang paling baik adalah bersikap seorang reformis yang tidak terburu-buru untuk menolak atau menerima pengaruh global. Malahan, cuba menyesuaikan sumber wahyu dan keunggulan akal bagi berinteraksi dengan globalisasi. Sewajarnya, masyarakat Muslim yang mempunyai asas dan sifat yang digariskan ini tidak akan rapuh dengan apa jua serangan ideologi semasa. Berbekalkan keyakinan, ketundukan, kefahaman, kepercayaan dan keutuhan pada dasar Islam; al-Quran dan Sunnah, masyarakat Islam akan menjadi lebih padu kepada dunia yang rosak. Mereka bahkan adalah rujukan dan pedoman kepada bangsa-bangsa musyrikin yang kosong kerohaniannya. RUJUKAN 1. Ihsan Kasim Salih-2003- Said Nursi Pemikir dan Sufi Besar Abad 20. Jakarta;Penerbit PT. 2. Khalid Muhammad Khalid-1994- Sepuluh Hari Berkesan Dalam Kehidupan Rasulullah SAW. Kuala Lumpur; Pustaka Syuhada. 3. Mahmud Hamdi Zaqzuq-2001- Reposisi Islam di Era Globalisasi. Yogyakarta; LKIS. 4. Tafsir Pimpinan Rahman, JAKIM -19835. Wahbah Zuhaili -2002- Akhlaqul Muslim Alaqoh bilmujtama. Damsyik; Darul Fikir, 6. Yusuf al-Qaradawi -1997-Imej Masyarakat Muslim Yang dicita-citakan. Kuala Lumpur; Penerbitan Salafi. PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT FUNGSI DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT PENGEMBANGAN MASYARAKAT MELALUI PENDIDIKAN SECARA SISTEMIK Pendekatan sistemik terbadap pengembangan melalui pendidikan adalah pendekatan di mana masyarakat tradisional sebagai input dan pendidikan sebagai suatu lembaga pendidikan masyarakat sebagai pelaksana proses pengembangan dan masyarakat yang dicita-citakan sebagai outputnya yang dicita-citakan. Menurut Ki Hajar Dewantoro ada tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Dari ketetapan MPR No. 1!/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara kita mengetahui bahwa pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, pemerintah dan masyarakat.

Dari dua penjelasan tersebut di atas maka bentuk pendidikan dibagi menjadi tiga bentuk yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal (Undang-Undang nomor 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pelaksanaan ketiga bentuk pendidikan adalah lembaga pemerintah, lembaga keluarga, lembaga keagamaan dan lembaga pendidikan lain. Lembaga keluarga menyelenggarakan pendidikan informal, lembaga pemerintah, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan yang lain menyelenggarakan pendidikan formal maupun pendidikan nonfonnal. Bentuk-bentuk pendidikan nonformal cukup banyak jenisnya, seperti berbagai macam kursus kcterampilan yang mempersiapkan tenaga terampil. Seperti kursus menjahit, kursus komputer, kursus montir, kursus bahasa-bahasa asing dan sebagainya. Bentuk pendidikan formal yang bejalan ini terdiri dari empat jenjang yaitu SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Menurut Undang Undang Nomor : 2/1989, tentang jenjang pendidikan dibagi menjadi tiga jenjang yaitu Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi. Pendidikan Dasar terdiri dari Sekolah Dasar dan Sekolab Menengah Tingkat Pertama. Proses pendidikan dari tiga bentuk pendidikan itu dipengaruhi oleh sistem politik dan ekonomi. (Muhammad Dimyati, 1988 p, 163). Dengan adanya bermacam-macam jenis politik dan bermacam-macam kondisi ekonomi maka arah proses pendidikan akan bermacam-macam untuk masing-masing bentuk pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga, pemerintah, lembaga keagamaan dan lembaga-lembaga non-agama. PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT Sebagian besar masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai peranan kunci dalam mencapai tujuan sosial Pemerintah bersama orang tua telah menyediakan anggaran pendidikan yang diperlukan sceara besar-besaran untuk kemajuan sosial dan pembangunan bangsa, untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional yang berupa nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan seperti rasa hormat kepada orang tua, kepada pemimpin kewajiban untuk mematuhi hukum-hukum dan norma-norma yang berlaku, jiwa patriotisme dan sebagainya. Pendidikan juga diharapkan untuk memupuk rasa takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kemajuan-kemajuan dan pembangunan politik, ekonomi, sosial dan pertahanan keamanan. Pendek kata pendidikan dapat diharapkan untuk mengembangkan wawasan anak terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan secara tepat dan benar, sehingga membawa kemajuan pada individu masyarakat dan negara untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Berbicara tentang fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat ada bermacam-macam pendapat, di bawah ini disajikan tiga pendapat tentang fungsi pendidikan dalam masyarakat. Wuradji (1988) menyatakan bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai fungsifungsi sebagai berikut: (1) Fungsi sosialisasi, (2) Fungsi kontrol sosial, (3) Fungsi pelestarian budaya Masyarakat, (4) Fungsi latihan dan pengembangan tenaga kerja, (5) Fungsi seleksi dan alokasi, (6) Fungsi pendidikan dan perubahan sosial, (7) Fungsi reproduksi budaya, (8) Fungsi difusi kultural, (9) Fungsi peningkatan sosial, dan (10) Fungsi modifikasi sosial. ( Wuradji, 1988, p. 31-42).

Jeane H. Ballantine (1983) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut: (1) fungsi sosialisasi, (2) fungsi seleksi, latihan dan alokasi, (3) fungsi inovasi dan perubahan sosial, (4) fungsi pengembangan pribadi dan sosial (Jeanne H. Ballantine, 1983, p. 57). Meta Spencer dan Alec Inkeles (1982) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut: (1) memindahkan nilai-nilai budaya, (2) nilai-nilai pengajaran, (3) peningkatan mobilitas sosial, (4) fungsi stratifikasi, (5) latihan jabatan, (6) mengembangkan dan memantapkan hubungan hubungan sosial (7) membentuk semangat kebangsaan, (8) pengasuh bayi. Dari tiga pendapat tersebut di atas, tidak ada perbedaan tetapi saling melengkapi antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lain. 1) Fungsi Sosialisasi. Di dalam masyarakat pra industri, generasi baru belajar mengikuti pola perilaku generasi sebelumnya tidak melalui lembaga-lembaga sekolah seperti sekarang ini. Pada masyarakat pra industri tersebut anak belajar dengan jalan mengikuti atau melibatkan diri dalam aktivitas orangorang yang telah lebih dewasa. Anak-anak mengamati apa yang mereka lakukan, kemudian menirunya dan anak-anak belajar dengan berbuat atau melakukan sesuatu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang telah dewasa. Untuk keperluan tersebut anak-anak belajar bahasa atau simbol-simbol yang berlaku pada generasi tua, menyesuai kan diri dengan nilai-nilai yang berlaku, mengikuti pandangannya dan memperoleh keterampilan-keterampilan tertentu yang semuanya diperoleh lewat budaya masyarakatnya. Di dalam situasi seperti itu semua orang dewasa adalah guru, tempat di mana anak-anak meniru, mengikuti dan berbuat seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih dewasa. Mulai dari permulaan, anak-anak telah dibiasakan berbuat sebagaimana dilakukan oleh generasi yang lebih tua. Hal itu merupakan bagian dari perjuangan hidupnya. Segala sesuatu yang dipelajari adalah berguna dan berefek langsung bagi kehidupannya sehari-hari. Hal ini semua bisa terjadi oleh karena budaya yang berlaku di dalam masyarakat, di mana anak menjadi anggotanya, adalah bersifat stabil, tidak berubah dan waktu ke waktu, dan statis. Dengan semakin majunya masyarakat, pola budaya menjadi lebih kompleks dan memiliki diferensiasi antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain, antara yang dianut oleh individu yang satu dengan individu yang lain. Dengan perkataan lain masyarakat tersebut telah mengalami perubahan-perubahan sosial. Ketentuan-ketentuan untuk berubah ini sebagaimana telah disinggung di halaman-halaman situs web ini sebelumnya, mengakibatkan terjadinya setiap transmisi budaya dan satu generasi ke generasi berikutnya selalu menjumpai permasalahanpermasalahan. Di dalam suatu masyarakat sekolah telah melembaga demikian kuat, maka sekolah menjadi sangat diperlukan bagi upaya menciptakan/melahirkan nilai-nilai budaya baru (cultural reproduction). Dengan berdasarkan pada proses reproduksi budaya tersebut, upaya mendidik anak-anak untuk mencintai dan menghormati tatanan lembaga sosial dan tradisi yang sudah mapan adalah menjadi tugas dari sekolah. Termasuk di dalam lembaga-lembaga sosial tersebut diantaranya adalah

keluarga, lembaga keagamaan, lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga ekonomi. Di dalam permulaan masa-masa pendidikannya, merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan dan pengembangan pengadopsian nilai-nilai ini. Masa-rnasa pembentukan dan pembangunan upaya pengadopsian ini dilakukan sebelum anak-anak mampu memiliki kemampuan kritik dan evaluasi secara rasional. Sekolah-sekolah menjanjikan kepada anak-anak gambaran tentang apa yang dicita-citakan oleh lembaga-lembaga sosialnya. Anak-anak didorong, dibimbing dan diarahkan untuk mengikuti pola-pola prilaku orang-orang dewasa melalui cara-cara ritual tertentu, melalui drama, tarian, nyanyian dan sebagainya, yang semuanya itu merupakan ujud nyata dari budaya masyarakat yang berlaku. Melalui cara-cara seperti itu anak. anak dibiasakan untuk berlaku sopan terhadap orang tua, hormat dan patuh terhadap norma-norma yang berlaku. Lembaga-lembaga agama mengajarkan bagaimana penganutnya berbakti kepada Tuhannya berdasarkan tata cara tertentu. Lembaga-lembaga pemerintahan mengajarkan bagaimana anak kelak apabila telah menjadi warga negara penuh, memenuhi kewajiban-kewajiban negara, memiliki jiwa patriotik dan memiliki kesadaran berwarga negara. Semua ajaran dan pembiasaan tersebut pada permulaannya berlangsung melalui proses emosional, bukan proses kognitif. Dalam proses belajar untuk mengikuti pola acuan bagi tatanan masyarakat yang telah mapan dan melembaga, anak-anak belajar untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai tradisional di mana institusi tradisional tersebut dibangun. Keseluruhan proses di mana anak-anak belajar mengikuti pola-pola dan nilai-nilai budaya yang berlaku tersebut dinamakan proses sosialisasi. Proses sosialisasi tersebut harus beijalan dengan wajar dan mulus oleh karena kita semua mengetahui betapa pentingnya masa-masa permulaan proses sosialisasi. Orang tua dan keluarga berharap sekolah dapat melaksanakan proses sosialisasi tersebut dengan baik. Dalam lembaga-lembaga ini guru-guru di sekolah dipandang sebagai model dan dianggap dapat mengemban amanat orang tua (keluarga dan masyarakat) agar anak-anak- memahami dan kemudian mengadopsi nilainilai budaya masyarakatnya. Willard Waller dalam hubungan ini menganggap sekolah, terutama di daerah-daerah pedesaan sebagai museum yang menyimpan tentang nilai-nilai kebajikan (mnuseum of virture) (Pardius and Parelius, 1978; p. 24). Dengan anggapan tersebut, masyarakat menginginkan sekolah beserta staf pengajarnya harus mampu mengajarkan nilainilai kebajikan dari masyarakatnya (the old viture), atau keseluruhan nilai-nilai yang diyakini dan menjadi anutan dan pandangan masyarakatnya. Untuk memberikan pendidikan mengenai kedisiplinan, rasa hormat dan patuh kepada pemimpin, kemauan kerja keras, kehidupan bernegara dan kehidupan demokrasi, menghormati, nilai-nilai perjuangan bangsa, rasa keadilan dan persamaan, aturan-aturan hukum dan perundang-undangan dan sebagainya, kiranya lembaga utama yang paling berkompeten adalah lembaga pendidikan. Sekolah mengemban tugas untuk melaksanakan upaya-upaya mengalihkan nilai-nilai budaya masyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang menjadi way of life masyarakat dan bangsanya. Untuk memenuhi fungsi dan tugasnya tersebut sekolah menetapkan program dan kurikulum pendidikan, beserta metode dan tekniknya secara paedagogis, agar proses transmisi nilai-nilai tersebut berjalan lancar dan mulus.

Dalam hubungannya dengan transmisi nilai-nilai, terdapat beragam budaya antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, dan antara negara yang satu dengan negara yang lain. Sebagai contoh sekolah-sekolah keguruan di Uni Soviet dan Amerika. Di Uni Soviet guru-guru harus mengajarkan rasa solidaritas dan rasa tanggung jawab untuk menyatu dengan kelompoknya dengan mengembangkan sistem kompetisi di antara mereka. Sementara di Amerika Serikat guru harus mengembangkan kemampuan untuk hidup mandiri dan kemampuan bersaing dengan melakukan upaya-upaya kompetisi penuh di antara siswa-siswa. 2) Fungsi kontrol sosial Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat harus juga berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan mekanisme kontrol sosial. Durheim menjelaskan bahwa petididikan moral dapat dipergunakan untuk menahan atau mengurangi sifat-sifat egoisme pada anak-anak menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat yang integral di mana anak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial. (Jeane H. Bellatine, 1983, p.8). Melalui pendidikan semacam ini individu mengadopsi nilai-nilai sosial dan melakukan interaksi nilai-niiai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari Selanjutnya sebagai individu sebagai anggota masyarakat ia juga dituntut untuk memberi dukungan dan berusaha untuk mempertahankan tatanan sosial yang berlaku. Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan dan mengembangkan tatanantatanan sosial serta kontrol sosial mempergunakan program-program asimilasi dan nilai-nilai subgrup beraneka ragam, ke dalam nilai-nilai yang dominan yang memiliki dan menjadi pola anutan bagi sebagiai masyarakat. Sekolah berfungsi untuk mempersatukan nilai-nilai dan pandangan hidup etnik yang beraneka ragam menjadi satu pandangan yang dapat diterima seluruh etnik. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sekolah berfungsi sebagai alat pemersatu dan segala aliran dan pandangan hidup yang dianut oleh para siswa. Sebagai contoh sekolah di Indonesia, sekolah harus menanamkan nilai-nilai Pancasila yang dianut oleh bangsa dan negara Indonesia kepada anakanak di sekolah. 3) Fungsi pelestarian budaya masyarakat. Sekolah di samping mempunyai tugas untuk mempersatu budaya-budaya etnik yang beraneka ragam juga harus melestanikan nilai-nilai budaya daerah yang masih layak dipertahankan seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya. Fungsi sekolah berkaitan dengan konservasi nilai-nilai budaya daerah ini ada dua fungsi sekolah yaitu pertama sekolah digunakan sebagai salah satu lembaga masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional masyarakat dari suatu masyarakat pada suatu daerah tertentu umpama sekolah di Jawa Tengah, digunakan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa Tengah, sekolah di Jawa Barat untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Sunda, sekolah di Sumatera Barat untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Minangkabau dan sebagainya dan

kedua sekolah mempunyai tugas untuk mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dengan mempersatukan nilai-nilai yang ada yang beragam demi kepentingan nasional. Untuk memenuhi dua tuntutan itu maka perlu disusun kurikulum yang baku yang berlaku untuk semua daerah dan kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi dan nilai-nilai daerah tertentu. Oleh karena itu sekolah harus menanamkan nilai-nilai yang dapat menjadikan anak itu menjadi yang mencintai daerahnya dan mencintai bangsa dan tanah airnya. 4) Fungsi seleksi, latihan dan pengembangan tenaga kerja. Jika kita amati apa yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, maka di sana akan terjadi tiga kegiatan yaitu kegiatan, latihan untuk suatu jabatan dan pengembangan tenaga kerja tertentu. Proses seleksi ini terjadi di segala bidang baik mau masuk sekolah maupun mau masuk pada jabatan tertentu. Untuk masuk sekolah tertentu harus mengikuti ujian tertentu, untuk masuk suatu jabatan tertentu harus mengikuti testing kecakapan tertentu. Sebagai contoh untuk dapat masuk pada suatu sekolah menengah tertentu harus menyerahkan nllai EBTA Murni (NEM). Dan nilai NEM yang masuk dipilih nilai NEM yang tinggi dari nilai tertentu sampai nilai yang terendah. Jika bukan nilai yang menjadi persyaratan yang ketat tetapi biaya sekolah yang tak terjangkau untuk masuk sekolah tertentu. Oleh karena itu anak yang nilainya rendah dan ekonominya lemah tidak kebagian sekolah yang mutunya tinggi. Demikian pula untuk memangku jabatan pada pekerjaan tertentu, mereka yang diharuskan mengikuti seleksi dengan berbagai cara yang tujuannya untuk memperoleh tenaga kerja yang cakap dan terampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya. Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk latihan dan pengembangan tenaga kerja mempunyai dua hal. Pertama sekolah digunakan untuk menyiapkan tenaga kera profesional dalam bidang spesialisasi tertentu. Untuk memenuhi ini berbagai bidang studi dibuka untuk menyiapkan tenaga ahli dan terampil dan berkemampuan yang tinggi dalam bidangnya. Kedua dapat digunakan untuk memotivasi para pekerja agar memiliki tanggung jawab terhadap kanier dan pekerjaan yang dipangkunya. Sekolah mengajarkan bagaimanan menjadi seorang yang akan memangku jabatan tertentu, patuh terhadap pimpinan, rasa tanggung jawab akan tugas, disiplin mengerjakan tugas sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Sekolah juga mendidik agar seseorang dapat menghargai harkat dan martabat manusia, memperlakukan manusia sebagai manusia, dengan memperhatikan segala bakat yang dimilikinya demi keberhasilan dalam tugasnya. Sekolah mempunyai fungsi pengajaran, latihan dan pendidikan. Fungsi pengajaran untuk menyiapkan tenaga yang cakap dalam bidang keahlian yang ditekuninya. Fungsi latihan untuk mendapatkan tenaga yang terampil sesuai dengan bidangnya, sedang fungsi pendidikan untuk menyiapkan seorang pribadi yang baik untuk menjadi seorang pekerja sesuai dengan bidangnya. Jadi fungsi pendidikan ini merupakan pengembangan pribadi sosial.

5) Fungsi pendidikan dan perubahan sosial. Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial mempunyai fungsi (1) melakukan reproduksi budaya, (2) difusi budaya, (3) mengembangkan analisis kultural terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional, (4) melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional, dan (5) melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang telah ketinggalan. Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pada sekolahsekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi. Pada masa-masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru, seperti orientasi ekonomi, orientasi kemandirian, mekanisme kompetisi sehat, sikap kerja keras, kesadaran akan kehidupan keluarga kecil, di mana nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usahausaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya. Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya (cultural diffission). Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut bukan hanya menyebarkan penemuanpenemuan dan informasi-informasi baru tetapi juga menanamkan sikap-sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan. Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka meningkatkan kemampuan analisis kritis berperan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia. Pendidikan dalam era abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan. Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari ketergantungan dan kebiasaan berlindung pada orang lain, terutama pada mereka yang berkuasa. Pendidikan ini terutama diarahkan untuk mempenoleh kemerdekaan politik, sosial dan ekonomi, seperti yang diajukan oleh Paulo Friere. Dalam banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju, pendidikan orang dewasa telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga masalah kemampuan kritis ini telah berlangsung dengan sangat intensif. Pendidikan semacam itu telah berhasil membuka mata masyarakat terutama didaerah pedesaan dalam penerapan teknologi maju dan penyebaran penemuan baru lainnya.

Pengaruh dan upaya pengembangan berpikir kritis dapat memberikan modifikasi (perubahan) hierarki sosial ekonomi. Oleh karena itu pengembangan berpikir knitis bukan saja efektif dalam pengembangan pnibadi seperti sikap berpikir kritis, juga berpengaruh terhadap penghargaan masyarakat akan nilai-nilai manusiawi, perjuangan ke arah persamaan hak-hak baik politik, sosial maupun ekonomi. Bila dalam masyarakat tradisional lembaga-lembaga ekonomi dan sosial didominasi oleh kaum bangsawan dan golongan elite yang berkuasa, maka dengan semakin pesatnya proses modernisasi tatanan-tatanan sosial ekonomi dan politik tersebut diatur dengan pertimbangan dan penalaran-penalaran yang rasional. Oleh karena itu timbullah lembaga-lembaga ekonomi, sosial dan politik yang berasaskan keadilan, pemerataan dan persamaan. Adanya strata sosial dapat terjadi sepanjang diperoleh melalui cara-cara objektif dan keterbukaan, misalnya dalam bentuk mobilitas vertikal yang kompetitif. 6) Fungsi Sekolah dalam Masyarakat DI muka telah dibicarakan tentang adanya tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal disebut juga sekolah. Oleh karena itu sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tetapi masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu (1) sebagai partner masyarakat dan (2) sebagai penghasil tenaga kerja. Sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi oleh corak pengalaman seseorang di dalam lingkungan masyarakat. Pengalarnan pada berbagai kelompok masyarakat, jenis bacaan, tontonan serta aktivitas-aktivitas lainnya dalam masyarakat dapat mempengaruhi fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah. Sekolah juga berkepentingan terhadap perubahan lingkungan seseorang di dalam masyarakat. Perubahan lingkungan itu antara lain dapat dilakukan melalui fungsi layanan bimbingan, penyediaan forum komunikasi antara sekolah dengan lembaga sosial lain dalam masyarakat. Sebaliknya partisipasi sadar seseorang untuk selalu belajar dari lingkungan masyarakat, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh tugas-tugas belajar serta pengarahan belajar yang dilaksanakan di sekolah. Fungsi sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi pula oleh sedikit banyaknya serta fungsional tidaknya pendayagunaan sumber-sumber belajar di masyarakat. Kekayaan sumber belajar dalam masyarakat seperti adanya orang-orang sumber, perpustakaan, museum, surat kabar, majalah dan sebagainya dapat digunakan oleh sekolah dalam menunaikan fungsi pendidikan. Sebagai produser kebutuhan pendidikan masyarakat sekolah dan masyarakat memiliki ikatan hubungan rasional di antara keduanya. Pertama, adanya kesesuaian antara fungsi pendidikan yang dimainkan oleh sekolah dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Kedua, ketepatan sasaran atau target pendidikan yang ditangani oleh lembaga persekolahan akan ditentukan pula o!eh kejelasan perumusan kontrak antara sekolah selaku pelayan dengan masyarakat selaku pemesan. Ketiga, keberhasilan penunaian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat sebagian akan dipengaruhi oleh ikatan objektif di antara keduanya. Ikatan objektif ini dapat berupa perhatian, penghargaan dan tunjangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan objektif lainnya yang memberikan makna penting eksistensi dan produk sekolahan.

FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM


Disediakan Oleh Ustaz Haji Mohammad Haji Shafie Pengetua Sekolah Menengah Agama Wilayah Persekutuan Pendahuluan Agama Islam atau 'Din AI Islam" secara langsung membawa erti sebagai suatu cara hidup yang mencukupi semua bidang. Asas penting dalam cara hidup mengikut agama Islam ialah iman, Islam dan ihsan. Manakala jalan untuk mencapai kesempurnaan ketiga asas ini terletak pula kepada akal, fikiran dan ilmu pengetahuan. Lantaran itu pendidikan dan ilmu pengetahuan tidaklah merupakan sesuatu yang terasing dari Islam malahan ia merupakan sebahagian dari Islam itu sendiri. Jika kita lihat kepada masyarakat Melayu pula, orang Melayu rata-rata tidak tahu membaca dan menulis sebelum kedatangan Islam tetapi bersama-sama dengan kedatangan Islam, ia membawa kontek pendidikan, Pembelajaran dan pelajaran dan bersama-sama itu pula ia berjaya meletakkan nilai tertentu di kalangan orang Melayu yang memeluk Islam. Konsep Islam "Islam" yang bererti "Penyerahan diri kepada kehendak-kehendak Tuhan Yang Maha Esa" merupakan peringkat terakhir dan manifestasi yang paling sempuma dari agama Allah yang satu yang disampaikan kepada manusia melalui "utusan-utusan" Allah dari semasa ke semasa hinggalah kepada zaman Pesuruh Nya yang terakhir, yaitu Nabi Besar Muhammad (s.a.w.). Islam bertujuan membimbing manusia kepada suatu cara hidup yang benarbenar memenuhi tuntutan-tuntutan irtsani yang 'compler' itu ...dari yang paling basic kepada yang paling tinggi, dari yang bersifat kebendaan kepada yang bersifat rohanir dari yang bersifat perseorangan kepada yang bersifat kolektif ...supaya kesejahteraan atau salam dalam erti yang sebenar-sebenamya dapat di nikmati oleh insan secara perseorangan dan secara bermasyarakat. Islam adalah suatu sistem kehidupan yang bersifat menyeluruh (all-ambracing) dan dalam hal ini istilah "agama", sebagaimana yang difaham di Barat khasnya dan dikalangan orang-orang yang berpendidikan modem amnya, tidak dapat dipakai untuk memahami Islam tanpa merusakkan sifatnya yang sebenar. Agama (atau religion) biasanya ditakrifkan sebagai suatu sistem kepercayaankepercayaan dan ritus ("system of beliefs and rituals) yang merupakan urusan perseorangan yang amat private sifatnya. Islam sebagaimana yang.digarisi oleh Program Hidupnya, yaitu syariah menuntun bukan saja perhubungan manusia dengan Tuhan (hubungan vertikal), tetapi perhubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal) yang mengangkut soal-soal kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kesenian. Islam tidak mengakui adanya pertentangan, atau pemisahan menonjol, antara hidup kerohanian dan hidup keduniaan. la tidak membatasi dirinya semata-mata pada mensucikan kehidupan rohani dan kehidupan moral manusia dalam arti yang terbatas dari perkataan tersebut. la memberikan ajaran-ajaran yang bertujuan merubah bukan saja kehidupan perseorangan manusia, tetapi juga susunan masyarakat manusia, kepada bentuk-bentuk yang sehat selaras dengan status manusia sebagai hamba Allah; dengan fungsi manusia seb;1gai ..wakil" {KhaliEah; Inggeris .'Vicegerent") Allah di muka bumi

yang harus memakmurkan dan memajukan alam ini sebagai suatu amanah kuddus {sacred trust); dan dengan tujuan hidup manusia, iaitu mencari keredaan Tuhan di dunia dan di akhirat. Dengan erti lain Islam adalah sa tu perutusan (message) Allah untuk semua umat manusia yang bersifat universal. Walau pun Islam bersifat universal, ia juga meletakkan syarat-syarat bagi bangkitnya dan tertubuhnya sebuah "masyarakat" Islam atau "ummah" dengan andaian bahawa sepanjang sejarah manusia akan selalu ada masyarakat-masyarakat ugama-ugama lain yang berdampingan dengannya. Ummah ini bermaksud untuk menjadi saksi terhadap perlaksanaan perutusan Tuhan (Q.2: 143) terutama mengenai perlaksanaan ibadah dan amanah. Untuk mengatur umat dalam kehidupan sosial, al Quran dan Sunnah memberi peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman yang disusun oleh ahli-ahli fiqah dan diberi nama "syariah" atau undang-undang Islam. Undang-undang ini disusun di bawah lima kategori besar:1. 2. 3. 4. Kepercayaan yang merangkumi enam rukun iman. Akhlak (adab) yang mengatur soal tatasusila perhubungan dan ketinggian moral. Peribadatan kepada Allah "ibadat" yang dirangkumi dalam rukun Islam yang lima. "Muammalat" yang berkaitan dengan tugas-tugas individu dalam masyarakat dan meliputi perjanjian, keamanan, perkongsian dalam perniagaan, undang civil, jenayah, kekeluargaan dan sebagainya. 5. Hukuman "uqubat" yang berkenaan dengan pencurian, perzinaan, saksi palsu, tuduhan dan lain-Iain. Jadi syariat itu luas sekali merangkumi soal-soal akidah dan akhlak tetapi sebahagian besar orang-orang Islam sendiri belum merialisasikan hal ini. Ada menganggap syariat itu merujuk kepada "Mahkamah Syariah" atau hanya kepada nikah kahwin, mati hidup atau hukum kerana berkhalwat sahaja.
1. Pendidikan Islam:

Apakah pula hubungan antara "Pendidikan" dan "Islam", Dalam hal ini biarlah kita meninjau sedikit tentang apakah fungsi pendidikan itu sendiri. Ahli-ahli sejarah pendidikan ada menyebut bahawa fungsinya:. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan di sini berkaitan dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri. Menangkap ikan, bertani, mengatur masyarakat dan lain-lain adalah peranan-peranan yang harus tetap diajarkan kepada generasi muda, sekalipun tidak bererti harus memakai alat-alat (tools) yang sama dari generasi kegenerasi. Sebab kekalnya masyarakat atau peradaban. 2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi muda. Menangkap ikan dan ilmunya. Oahulu dengan memakai kail, tombak, atau mungkin membaling ikan dengan batu. Sekarang orang menangkap ikan dengan kapal, tidak pakai kail. Ikan di laut dihirup masuk ke perut kapal, di situ diproses dalam kilang, dan sebelum kapal berlabuh di pantai semuanya sudah menjadi ikan dalam tin. Siap untuk dijual, malah harganyapun sudah tercetak di kilang itu. Tetapi peranan menangkap ikan tetap itu juga. Begitu jugalah perbandingan antara dukun yang

mengobati segala penyakit dengan asap atau dengan ludah, dan doktor moden yang menggunakan television untuk melihat dekat jantung sisakit dan menggunakan segala alat-alat moden untuk mengubati patientnya. Fungsinya tetap itu juga tidak berubah, hanya alatnya yang berlainan. Dukun zaman dulu serba boleh, doktor zaman sekarang mengutamakan 'specialist' yang mendalam, tetapi tujuannya untuk mengubati orang juga. 3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban. Dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan kesatuan (integration) suatu masyarakat tidak akan terpelihara yang akhirnya berakhir dengan kehancuran masyarakat tersebut. Ini telah dibuktikan oleh sejarah peradaban. Ambil sahaja satu nilai sebagai misal, iaitu kejujuran. Kalau di dalam suatu masyarakat kejujuran ini tidak ada, maka masyarakat itu tidak bpleh wujud. Kalau setiap orang dalam kelompok mengatakan sesuatu lain dari yang ingin ia perbuat, maka tentu di situ tidak akan ada hubungan sosial yang membawa kepada terciptanya kelompok hidup. Persoalan yang mungkin timbul di sini adalah, dari mana datangnya nilai-nilai itu? Dengan kata lain siapakah yang menciptakan nilai-nilai itu? Nilai-nilai Islam: Jadi barangkali dengan hur~ian di atas jelaslah bagi kita apa dia fungsi pendidikan itu. Juga dari situ akan jelas bagi kita apa dia perbedaan pendidikan pada umumnya dengan pendidikan Islam. Mungkin perbedaan tidak nampak pada dua fungsi pertama, iaitu penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan-peranan masa hadapan dan pemindahan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan peranan-peranan tersebut. Perbedaan mungkin akan ketara sekali pada fungsi ketiga, iaitu pemindahan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi muda. Perbedaan ini akan menyangkut persoalan nilai mana yang akan dipindahkan? Apa sumbersumber nilai-nilai itu? Dalam Islam ada lima macam sumber nilai yang di akui, iaitu Al-Quran, dan Sunnah Nabi, itulah yang asal. Kemudian datang sumber ketiga iaitu Qiyas, f!.rtinya membanding~.n masalah yang disebutkar, oleh Al-Quran atau Sunnah dengan masalah yang dihadapi oleh umat Islam pada masa tertentu, tetapi nas yang tegas dalam Al-Quran tidak ada. Di sini digunakan Qiyas. Kemudian sumber keempat adalah kemaslahatan umum pada suatu ketika yang difikirkan patut menutut kacamata Islam. Sedang sumber kelima adalah kesepakatan dan lima' ulamak-ulamak dan ahli-ahli fikir Islam pada suatu ketika yang dianggap sesuai dengan sumber dasar iaitu Al-Quran dan Sunnah. Barangkali pendidikan yang bukan Islam hanya menggunakan dua sumber terakhir ,iaitu kemaslahatan umum yang berdasar pada nilai-nilai dan adat kebiasaan masyarakat tertentu dan hasil pemikiran dan penelitian ahli-ahli dan pemimpin-pemimpin pada zaman tertentu. Sudah barang tentu hasil-hasil pemikiran itu ada juga terpengaruh oleh berbagai agama di samping yang betul-betul hasil pemikiran manusia sahaja.

Jadi jelaslah bagi kita lima sumber nilai-nilai dalam Islam yang sekali gus juga memberi definasi tentang nilai itu. Nilai-nilai inilah yang diusahakan oleh pendidikan Islam untuk memindahkannya dari satu generasi kepada generasi yang lain. Sehingga umat menjadi kekal .dan kokoh memikul tanggungjawab sebagai pembawa amanah ukhalifah" di atas bumi ini. Fungsi Asas Pendidikan Islam Tetapi di samping itu ada lagi fungsi keempat bagi pendidikan Islam yang membezakannya dari pendidikan lain, iaitu mendidik anak didiknya beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat. Fungsi keempat inilah yang menautkan tiga fungsi sebelumnya dan menjiwai segala pelaksanaannya. Ertinya pendidikan Islam menyiapkan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan, dan memindahkan nilai-nilai yang diselaraskan dan diwarnai oleh fungsi keempat ini. Inilah fungsi-fungsi pendidikan Islam, sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah s.a. w .dan sahabat-sahabatnya. Ulamak-ulamak dan pemikir-pemikir Islam sesudah beliau dan sahabatsahabatnya menjalankan fungsi-fungsi ini dalam menyebarkan agama Islam keseluruh dunia yang sekarang ini menempati ruang antara Morocco di pinggir lautan Atlantik sampai Indonesia di sebelah Timur di pantai lautan Teduh (Pasifik) dan meliputi tidak kurang dari lapan ratus juta jiwa manusia. Tujuan Pendidikan Islam Islam menganggap manusia sebagai berada dalam keadaan "fitrah" yakni keadaan suci bersih terutama di segi keinsanan. Jadi tujuan pendidikan Islam ialah untuk menimbulkan keadaan yang dapat membantu manusia dalam melaksanakan kehidupannya sebagai khalifah dan hamba Tuhan atau dengan erti lain manusia diberi amanat untuk mengembangkan sifat Tuhan di muka bumi sehingga berjaya membentuk satu tamadun Ilahi yang 'muqaddas' yang berbeza daripada tamadun duniawi yang 'profane' yang 'secular' atau yang tidak diasaskan atas kehendak Tuhan. Tamadun yang membawa manusia mengenali kebenaran dalam erti kata yang sebenarnya. Kebenaran yang di selimuti oleh "hikmat" (Q.2: 269), dan dapat melihat secara objektif dan standard. Tamadun suci tidak mungkin lahir jika keadaan sekeliling pendidikan itu sendiri masih kabur dan kotor. Nilai yang disemaikan tidak tepat clan gila -lahir dari bijak pandai yang kegilaan lantaran tidak ada padoman -kerana tidak berdasarkan kepada '.tajalli" penglahiran sifat-sifat Tuhan itu sendiri. Dalam hal ini pendidikan Islam berkehendakkan satu keadaan yang sesuai diwujudkan di sekolah-sekolah, baik di segi berpakaian, pergaulan, pembelajaran dan sebagainya. Ertinya dalam satu suasana tidak boleh bercampur dua nilai yang tidak sehaluan. Satu perkara penting yang harus diingat mengenai pendidikan moral yang dikehen.daki Islam bukanlah semata-mata dengan mempelajari dan mengetahui mengenai moral, Aspek tingkah laku (effektif) lebih penting dari kognitif, sepertimana mengetahui mengenai teori muzik tidak serta merta menjadikan seseorang itu ahli muzik. Mengetahui kejujuran atau kebenaran itu sebagai sifat-sifat yang baik tidaklah menjadikan seseorang itu berani dan jujur. Institusi pendidikan

Islam perlu menyediakan suasana yang boleh menyediakan pengenalan "celik akal" (insight) yang benar-benar bernilai kepada murid-murid, dalam maksud lain kehidupan bermoral itu sendiri perlu dihayati. Tatasusila Masyarakat Islam: Saya telah menerangkan mengenai pendidikan Islam serta tujuannya sekali. Secara tidak langsung tuan-tuan telah pun dibentangkan dengan nilai yang perlu, ditimbul dan diamalkan dalam masyarakat Islam. Namun untuk lebih memahami lagi mengenai tatasusila Islam perlulah kita memahami prinsip keugamaan dan falsafah Islam itu sendiri. Prinsip-prinsip utama seperti:1. 2. 3. 4. Maksud dan tujuan penciptaan alam. Keadaan sifat-sifat Tuhan Keadaan amanah manusia sebagai khalifah dan hamba "Abd". Perjanjian "mithaq" antara Tuhan dan umat manusia.

Mengikut ajaran Islam, Tuhan menciptakan manusia untuk menyembah kepadanya. "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka menyembah kepadaku". (Q.S1: 56). "ltulah Dia Allah, Tuhanmu. Tidak Tuhan kecuali pencipta segala sesuatu, oleh sebab itu sembahlah Dia" (Q.6: 103). Harus ditekankan di sini, pertama sekali bahawa "menyembah" dalam dua ayat AI-Quran di atas itu tidak dimaksudkan sebagai upacara sembahyang yang biasa kita fahami. Jauh lebih luas dari itu. Sekarang kita lihat bahagian kedua, iaitu sifat-sifat tuhan. Berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam a.s., dalam hal ini umat manusia, Tuhan berfirman dalam AI-Quran: ".. Aku telah membentuknya dan menghembuskan kepadanya roh Kami " (Q. 15:29). Ini bermakna, antara lain, bahawa Tuhan kami memberi manusia beberapa potensi atau kebolehan berkenaan sifat-sifat Tuhan. Sifat-sifat Tuhan ini disebut dalam AI-Quran dengan nama-nama yang indah (AI-Asmaa AI-Husna) I yang menggambarkan Tuhan sebagai "Yang Maha Pengasih" (AI-Rahman), "Yang Maha Penyayang" (AI-Rahim), "Yang Maha Suci" (AIQuddus), "Yang Maha Berkuasa" (AI-Qawiy), "Yang Maha Mencipta" (AI-Khaliq), "Yang Memiliki Segala Kekuasaan" (Malikul Mulk), "Raja Yang Teragong" (AI-Malik) dan lain-Iain lagi. Pendeknya berjumlah 99 semuanya. Menyembah dalam pengertiannya yang umum, bermakna mengembangkan dan melaksanakan sifat-sifat ini pada manusia mengikut perintah .dan petunjuk Tuhan. Misalnya Tuhan memerintah manusia menjalankan upacara sembahyang kepadanya. Dengan berbuat demikian, manusia menjadi lebih suci, jadi ia telah meniru sifat Tuhan dalam kesucian. Juga Tuhan adalah Maha Pengasih, tetapi la memerintah manusia supaya bersifat pengasih kepada jirannya jika mengharapkan Tuhan bersifat pengasih kepadanya. Tuhan Maha Mengetahui, tetapi Dia memerintah manusia selalu mencari dan menambah pengetahuan

dan berdoa agar Tuhan menolongnya: "Hai Tuhanku, tambahkan ilmuku" (Q.20: 114). Juga Yang Memiliki Segala Kekuasaan, tetapi diberiNya kekuasaan politik kepada manusia di atas bumi. Dan begitulah seterusnya. Dalam falsafah Islam, sifat-sifat Tuhan hanya dapat diberi kepada manusia dalam bentuk dan cara yang terbatas, sebab kalau tidak demikian maka manusia akan menjadi Tuhan atau mengaku diri sebagai Tuhan. Tetapi yang penting diterangkan di sini bahawa sifat-sifat yang diberikan kepada manusia itu harus dianggap sebagai amanah, tanggung-jawab yang sangat besar. Jadi di sini mulailah jelas bagi kita bagaimana potensi-potensi manusia yang banyak digunakan dalam psikologi mempunyai kaitan dengan tujuan keja-dian alam jagat (AI-Kaun), sembahyang, dalam erti yang luas, kepada Tuhan, dan kaitannya itu semua dengan sifat keterbatasan dan amanah, tanggungjawab yang besar . Dari sini jelas pula bahawa "beribadat" dalam erti yang luas adalah mengembangkan sifat Tuhan yang diberikan kepada manusia dan itulah tujuan kejadian alam ini. Untuk melaksanakan ibadat dan menolong manusia beribadat kepada Tuhan dengan cara lebih baik, maka manusia diberi kekuasaan (salah satu sifat Tuhan) di atas bumi dan mencari rezeki dari situ. "Dan Kami memberi kamu (manusia) kekuasaan di atas bumi dan memberi kamu penghidupan di situ" (Q. 7: 10). Dalam ayat lain: "Tidakkah kamu lihat Allah menjadikan apa-apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi memberi khidmat kepadamu dan telah mengutamakan kamu di luar dan di dalam (Q. 31: 20). Juga: "Dan Dia telah menjadikan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi memberi khdimat kepadamu. Itu semuanya dariNya". (Q. 2:29). Tetapi kerana "maka manusia paling banyak hanya menjadi khalifah di atas bumi" Dialah yang telah meletakkan kamu sebagai kahlifah di atas dunia dan meletakkan sebahagian mu di atas yang lain, supaya la boleh men8uji kamu dengan apa yang telah la berikan kepadamu." (Q.6 : 166). Semua ini bermakna bahawa amanah itu sekurang-kurangnya ada dua macam: yang pertama kebolehan manusia mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada dirinya, dan yang kedua berkenaan dengan cara pengurusan sumber-sumber yang ada di bumi. Dengan ini konsep "beribadat" diperkaya lagi dengan mengandungi makna baru, iaitu pengurusan yang sesuai terhadap amanah. Jadi ..beribadat" yang pada pengertian asalnya bererti pengembangan potensi-potensi, yakni sifat-sifat Tuhan, pada diri manusia sekarang bertambah luas dan mengandungi juga pengertian mengurus dengan betul amanah yang dipikul itu. Sebab amanah ini telah diajukan kepada langit, bumi dan gunung, tetapi enggan memikulnya. Lalu diterima oleh manusia. Tetapi rupanya manusia bersifat aniaya dan bodoh (Q. 33: 72).

Ini menunjukkan bahawa manusia telah menyalahgunakan amanah itu oleh sebab sombong dan bongkak, dan menyangka ia tahu segala-galanya dan .dengan menjalankan kekuasaan yang tidak adil kepada orang-orang dan makhluk lain atau memperalat mereka. Sejarah tamadun manusia penuh dengan kisah dan trajedi yang menggambarkan bagaimana berbagai tamadun dan masyarakat telah hilang dan hancur sebab mereka menyalah gunakan kekuasaan, kekayaan, ilmu, kerajaan, dan lain-Iain lagi yang semuanya adalah sifat-sifat Tuhan yang diamaI1ahkan Tuhan kepada manusia agar manusia dapat menyembah Tuhan dengan lebih baik. Sesungguhnya sistem moral -akhlak -dalam Islam berhubung dengan sistem keper-cayaan, ibadat, muamalat dan sebagainya. la mempunyai kaitan dengan tujuan kejadian alam dan perkembangan sifat-sifat Tuhan pada manusia. Inilah perbezaan pendidikan moral (tatasusila) dalam Islam dengan pendidikan moral yang kita pinjam dari Barat, yang memisahkan moral itu dari kekuasaan Allah. Saya telah menjelaskan bahawa Islam itu satu cara hidup. Panduan seluruh aspek pengajaran yang dibawa oleh Rasulullah itu dengan sendiri sudah merangkumi segala norma-norma dan nilai-nilai yang membentuk individu, komuniti dan masyarakat.Berhubung dengan pandangan Islam mengenai pembentukan akhlak atau tatasusila perhubungan, maka adalah mudah diterangkan jika kita memahami ugama Islam itu sendiri seperti yang, dengan ringkas telah diterangkan di atas. Dalam Al-Quran terdapat dua ciri besar: 1. Bidang akhlak yang berhubung dengan makrifat atau teori. . 2. Bidang akhlak yang berhubung suluk atau praktik. Bahagian pertama merangkumi sebanyak 763 ayat AI-Quran dan bahagian kedua 741 ayat, keseluruhannya mengambil kira 1/4 daripada seluruh jumlah ayat-ayat Al-Quran. Adalah terlalu luas untuk diperkatakan tentang tajuk ini di masa yang begini terhad. Rasulullah sendiri dalam banyak Sabdanya mengatakan ugama itu adalah "akhlak yang baik".Hal ini telah diulang beberapa kali. Di tempat lain Rasulullah pernah bersabda bermaksud bahawa ugama itu diasaskan kepada iman, Islam dan ikhsan. Para ulamak Islam menyarankan bahawa ikhsan ini merangkumi semua aspek kelakuan manusia baik berupa hubungan Tuhan, dengan ciri sendiri, dengan masyarakat, mau pun dengan makhluk-makhluk lain. Saya percaya penghayatan kepada sifat Allah seperti yang telah diterangkan di 3tas adalah ciri dan norma penting pembentukan nilai tatasusila masyarakat Islam. Dipetik daripada : Himpunan kertas kerja Krusus Dakwah dan Kepimpinan bagi guru-guru (bukan guru agama ) Sekolah Menenengah dan Rendah 1984 Terbitan: Kementerian Pelajaran Malaysia Kuala Lumpur