Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH MANAJEMEN SUMBER DAYA PETERNAKAN

Program Pengembangan Peternakan Kerbau di Kawasan Semi Arid

NAMA NIM SEMESTER PRODI

: I MADE ADI SUDARMA : 1211010006 : I (SATU) : ILMU PETERNAKAN

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Sebagian besar lahan yang ada di Indonesia berupa lahan kering. Lahan kering biasa

didefinisikan sebagai dataran tinggi yang lahan pertaniannya lebih banyak menggantungkan diri pada curah hujan. Lahan kering mempunyai potensi yang cukup luas untuk dikembangkan, dengan luas yang mencapai 52,5 juta ha (Haryati, 2002) untuk seluruh indonesia maka pengembangan sangat perlu dilakukan. Nusa Tenggara Timur memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sentra peternakan nasional berbasis lahan kering. Pengembangan peternakan berbasis lahan kering di daerah beriklim kering seperti NTT juga bisa dijadikan model pembangunan peternakan di masa mendatang. Model ini akan efektif menekan angka kemiskinan dan pengangguran serta mengurangi ketergantungan terhadap ternak impor dan mendorong kemandirian pangan nasional. Ternak kerbau memiliki potensi untuk dikembangkan di daerah lahan kering selain ternak sapi untuk menunjang produksi daging sapi di Indonesia umumnya maupun di NTT khususnya. Ternak kerbau merupakan ternak ruminansia yang mampu memanfaatkan tanaman rerumputan sebagai makanan utamanya untuk menghasilkan daging yang sangat dibuthkan oleh manusia. Pengelolaan ternak kerbau didaerah lahan kering sangat penting untuk diperhatikan agar dapat dioptimalkan potensi yang dimiliki oleh ternak kerbau demi kepentingan hidup manusia. Adapun teknik teknik dan program yang perlu di perhatikan dalam menunjang pengembangan ternak kerbau dilahan kering perlu dikaji lebih lanjut agar diperloleh suatu sistematika pemeliharaan yang jelas dan terpadu sehingga dapat dimanfaatkan oleh peternak di daerah lahan kering. B. Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui pola pemeliharaan ternak kerbau dilahan kering yang paling efisien dilakukan dan dapat dipraktekkan oleh peternak di daerah lahan kering.

C. Metode Pengambilan Data Metode pangambilan data yang digunakan yaitu metode pengumpulan data dari berbagai sumber yang dijadikan referensi dalam pembuatan makalah ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

LAHAN KERING Lahan kering umumnya terdapat didataran tinggi (daerah pegunungan) yang ditandai dengan

topografinya yang bergelombang dan merupakan daerah penerima dan peresap air hujan yang kemudian dialirkan kedataran rendah, baik melalui permukaan tanah (sungai) maupun melalui jaringan bumi air tanah. Jadi lahan kering didefinisikan sebagai dataran tinggi yang lahan pertaniannya lebih banyak menggantungkan diri pada curah hujan. Lahan kering diterjemahkan dari kata upland yang menunjukkan kepada gambaran daerah atas (Hasnudi dan Saleh, 2006, dalam www.MichaelRiwuKaho.blogspot.com). Hingga saat ini takrif pengertian lahan kering di Indonesia belum disepakati benar. Di dalam bahasa Inggris banyak istilah-istilah yng dipadankan dengan lahan kering seperti upland, dryland dan unirrigated land, yang menyiratkan penggunan pertanian tadah hujan. Istilah upland farming, dryland farming dan rainfed farming dua istilah terakhir yang digunakan untuk pertanian di daerah bercurah hujan terbatas. Penertian upland mengandung arti lahan atasan yang merupakan lawan kata bawahan (lowland) yang terkait dengan kondisi drainase (Tejoyuwono, 1989) dalam Suwardji (2003). Sedangkan istilah unirrigated land biasanya digunakan untuk teknik pertanian yang tidak memiliki fasilitas irigasi. Namun pengertian lahan tidak beririgasi tidak memisahkan pengusahaan lahan dengan system sawah tadah hujan. Untuk menghilangkan kerancuan pengertian lahan kering dengan istilah pertanian lahan kering Tejoyuwono (1989) dalam Suwardji (2003) menyarankan beberapa pengertian sebagai berikut:

untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi disebut dengan Daerah Kering.

untuk lahan dengan draenase alamiah lancar dan bukan merupakan daerah dataran banjir, rawa, lahan dengan air tanah dangkal, atau lahan basah alamiah lain istilahnya lahan atasan atau Upland.

untuk lahan pertanian yang diusahakan tanpa penggenangan, istilahnya lahan kering. Kesepakatan pengertian lahan kering dalam seminar nasional pengembangan wilayah lahan

kering ke 3 di Lampung : (upland dan rainfed) adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air

irigasi (Suwardji, 2003)). Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl). Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan tadah hujan, tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput, dan padang alang-alang. Lahan kering mempunyai potensi yang cukup luas untuk dikembangkan, dengan luas yang mencapai 52,5 juta ha (Haryati, 2002) untuk seluruh indonesia maka pengembangan sangat perlu dilakukan. Menurut Simposium Nasional tentang Lahan Kering di Malang (1991) penggunaan lahan untuk lahan kering berturut adalah sebagai berikut: hutan rakyat, perkebunan, tegalan, tanah yang sedang tidak diusahakan, ladang danpadang rumput. Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sentra peternakan nasional berbasis lahan kering. Pengembangan peternakan berbasis lahan kering di daerah beriklim kering seperti NTT juga bisa dijadikan model pembangunan peternakan di masa mendatang. Model ini akan efektif menekan angka kemiskinan dan pengangguran serta mengurangi ketergantungan terhadap ternak impor dan mendorong kemandirian pangan nasional. Hal itu terungkap dalam seminar dan lokakarya nasional Pengembangan Industri Peternakan Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Lahan Kering Menuju Kemandirian Pangan Nasional yang digelar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang bersama harian Suara Pembaruan (SP) di Kupang, NTT, Jumat (2/12). Seminar yang dipandu Pemimpin Redaksi SP dan Investor Daily Primus Dorimulu itu menghadirkan pembicara Rektor Undana Frans Umbu Datta, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Ketua Komite Tetap Agribisnis Peternakan Kadin Indonesia Juan Permata Adoe, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementan Bess Tiesnamurti. Lahan kering di NTT dapat dimanfaatkan sebagai areal untuk penanaman hijauan makanan ternak disamping sebagai areal tanaman pertanian, sehingga potensi pembangunan peternakan yang diharapkan untuk mengembalikan NTT sebagai gudang ternak seperti yang dicanangkan oleh Gubernur NTT, dapat berjalan sesuai rencana. Pembangunan peternakan di NTT terhambat karena ketersediaan pakan yang kurang memadai akibat adanya lahan tidur dan lahan kering yang tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat petani peternak sebagai lahan yang berdayaguna baik untuk peternakan maupun pertanian. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan kering di NTT dan mengurangi resiko kegagalan agar sector peternakan di NTT tetap bertahan dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani peternak. Hal ini dapat dilakukan dengan manajemen dan tekhnologi yang mampu mengatasi permasalahan adanya lahan kering di

NTT sebagai salah satu faktor kurangnya ketersedian pakan bagi ternak. Jika pengelolaan lahan kering tepat dan sejauh mungkin mencegah dan mengurangi kerusakan dan dapat menjamin kelestariannya akan membawa manfaat besar untuk mendukung usaha di sector peternakan yang berkelanjutan dan juga dapat mendukung usaha pertanian. B. TERNAK KERBAU Ternak kerbau memegang peranan yang sangat penting bagi status sosial budaya

masyarakat pedesaan di Propinsi Jambi. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak kerbau maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta

banyak dan berderajat tinggi. Sehingga ternak kerbau dimanfaatkan pada acara-acara tertentu sebagai simbol kebesaran seperti acara perkawinan yang dikenal dengan sebutan potong kerbau, yang dilaksanakan secara adat setempat. Perkembangan populasi ternak ruminansia secara nasional mengalami penurunan sebesar 4,1% per tahun (Kusnadi, 2006). Begitu juga dengan ternak sapi dan kerbau di Propinsi Jambi mengalami penurunan yang cukup tinggi (Dinas Peternakan Propinsi Jambi, 2006). Dengan permintaan daging yang semakin meningkat, diperlukan upaya untuk meningkatkan populasi. Sebaiknya Pemerintah mencari langkah-langkah terobosan sehingga mencapai keseimbangan antara produksi dan permintaan. Hingga saat ini Propinsi Jambi masih mendatangkan ternak potong dari daerah lain, mencapai 25.654 ekor per tahun (Dinas Peternakan Propinsi Jambi, 2005). Dalam periode yang sama produksi daging telah naik rata-rata 9,2% per tahun. Dalam pada itu telah terjadi pergeseran produksi daging, dimana sumbangan daging sapi menurun dari 23,52% menjadi 21,96%. Penurunan daging sapi disubstitusikan oleh daging unggas yaitu Peternakan, 2005).

mengalami peningkatan dari 56,58% menjadi 60,73% (Direktorat Jendral Dengan peningkatan permintaan akan daging secara langsung produksi ternak sebagai penghasil daging. harus

diikuti oleh peningkatan

Dwiyanto dan Subandrio (1995), melaporkan sistem pemeliharaan ternak kerbau umumnya masih tradisional dengan yang rendah, terbatasnya penguasaan pengetahuan lahan peternak yang kurang ekonomis, kualitas pakan

tentang reproduksi dan belum diterapkan

teknologi tepat guna. Masalah utama untuk meningkatkan populasi adalah melalui pengontrolan

pengeluaran dan pemotongan betina produktif di tingkat lapangan. Saat ini pengeluaran dan pemotongan kerbau betina produktif sulit dikendalikan karena adanya penawaran dan

permintaan. Padahal salah satu cara untuk mempercepat peningkatan populasi dengan dropping sapi bibit yang diawasi secara berkesinambungan seperti yang telah dilakukan

International Fund for Agricultural Develovmen (IFAD) pada tahun 1980-an, yang dianggap berhasil dalam upaya peningkatan populasi ternak sapi di Jambi. Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan sebenarnya ternak kerbau dapat diintegrasikan dengan perkebunanan kelapa sawit dan karet, pada tanaman berusia di atas 6 tahun. Banyak keuntungan apabila ternak kerbau diintegrasikan dengan perkebunan sawit dan karet, memanfaatkan rumput yang tumbuh di antara tanaman utama sebagai pakan dan dijadikan tenaga kerja untuk alat transportasi tandan buah segar (TBS) sawit. Sebenarnya kemampuan ternak kerbau untuk mengkonsumsi pakan lebih baik dari ternak sapi. Devendra (1985) mengemukakan bahwa kerbau mampunyai kemampuan lebih baik memanfaatkan hijauan yang berkualitas rendah dari pada sapi. Reproduksi ternak kerbau Keberhasilan pemeliharaan ternak kerbau dapat diukur dengan kemampuan ternak untuk menghasilkan anak dalam periode tertentu, dimana semakin pendek jarak kelahiran ternak kerbau maka reproduksi ternak semakin baik. Untuk ternak kerbau di Propinsi Jambi, menurut beberapa laporan jarak kelahiran adalah 18-24 bulan. Gambar 3 (kasus di Desa Mersam) memperlihatkan bahwa anak yang diperkirakan berumur 1,5 tahun masih menyusui dengan induknya, hal ini mengindikasikan

reproduksi ternak kerbau di tingkat petani masih lambat sebagai mana yang dilaporkan oleh Putu (1992). Beberapa masalah pengembangan ternak kerbau di Indonesia antara lain adalah pemasaran daging kerbau, pertumbuhan yang lambat, calving interval yang panjang dan

program seleksi bibit yang belum terarah. Untuk merubah pola pemeliharaan lepas ke arah pengkajian sosial budaya petani sistem semi teknologi intensif baru diperlukan seperti IB,

untuk memasukan

teknologi pakan musim kemarau, seleksi bibit dan teknologi lainnya. C. PARAMETER PRODUKSI DAN PRODUKTIFITAS TERNAK KERBAU Kerbau (Bubalus bubalis Linn.) adalah ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam penyediaan daging. Kerbau merupakan ternak asli daerah panas dan lembab, khususnya daerah belahan utara tropika (Deptan, 2008). Kerbau ditinjau dari habitatnya, digolongkan dalam dua tipe, yaitu: swamp bufallo dan river bufallo. Swamp buffalo (kerbau rawa) tipe habitatnya adalah area daerah rawa yang tempat berkubangnya di lumpur, sedangkan river buffalo (kerbau sungai) menetap di daerah basah dan lebih suka berenang di sungai atau kolam yang dasarnya

keras. Kerbau sungai umumnya tipe kerbau penghasil susu, sedangkan kerbau rawa merupakan tipe penghasil daging (Fahimuddin, 1975). Indonesia mempunyai berbagai bangsa kerbau yang karena lama terpisah dari tempat asalnya kemudian beradaptasi dengan lingkungan setempat dan diberi nama sesuai dengan nama tempat seperti Kerbau Pampangan (Pampangan/Sumsel), Kerbau Binanga (Tapsel/Sumut), Kerbau rawa (di Sumatera dan Kalimantan), Kerbau Benuang (Bengkulu), Kerbau Belang Tana Toraja (Sulsel), Kerbau Sumbawa (NTB), Kerbau Sumba (NTT), Kerbau Moa (Maluku) dan lain-lain yang sebenarnya termasuk dalam bangsa kerbau lumpur (swamp buffalo) (Talib, 2008). Kerbau rawa banyak terdapat di daerah Asia Tenggara. Kerbau ini tampak lebih liar dibandingkan dengan kerbau tipe sungai. Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa kerbau rawa merupakan kerbau yang berbadan pendek, besar, bertanduk panjang, memiliki konformasi tubuh yang berat dan padat, dan biasanya berwarna abu-abu dengan warna yang lebih cerah pada bagian kaki. Warna yang lebih terang dan menyerupai garis kalung juga terdapat di bawah dagu dan leher. Kerbau rawa tidak pernah berwarna coklat atau abu-abu coklat sebagaimana kerbau sungai (Mason, 1974). Ciri-ciri dari bagian muka adalah dahi datar, muka pendek, moncong lebar dan terdapat bercak putih di sekitar mata. Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa kerbau rawa jantan memiliki bobot dewasa 500 kg dan kerbau betina 400 kg dengan tinggi pundak jantan dan betina adalah 135 dan 130 cm. Menurut Chantalakhana (1981), kerbau rawa dewasa di Indonesia memiliki tinggi rata-rata 127-130 cm untuk kerbau jantan dan 124-125 cm untuk kerbau betina. Kerbau rawa mempunyai kemampuan berenang jauh serta menyelam cukup dalam di dalam air. Cara kerbau dewasa berenang adalah kedua kaki belakangnya bertumpu di tanah dan mendorong tubuhnya ke depan, sementara kaki depannya digunakan untuk mengayuh atau mendayung. Hal ini kemungkinan merupakan salah satu penyebab kedua kaki depan kerbau rawa punya perototan yang lebih kekar dibandingkan kaki belakang (Dilaga, 1987). Produktivitas Ternak Produktivitas ternak ditinjau dari dinamika populasi diartikan sebagai perkembangan populasi ternak dalam periode waktu tertentu (umumnya satu tahun) dan sering dinyatakan dalam persentase (%), apabila dibandingkan dengan populasi ternak secara keseluruhan (Basuki, 1998). Produktivitas kerbau rawa di Indonesia pada umumnya rendah yang disebabkan oleh beberapa kendala, antara lain: peranan kerbau pada sistem usaha tani tradisional, pengusahaan lahan yang kurang ekonomis, kurangnya modal, sangat terbatasnya bibit unggul, kualitas pakan yang rendah, kurangnya pengetahuan petani terhadap produksi kerbau. Kendala-kendala tersebut dapat diminimalisasi dengan program jangka panjang terutama dalam bidang reproduksi dan

pemuliaan ternak kerbau (Dwiyanto dan Subandryo, 1995). Produktivitas

ternak

potong

dipengaruhi oleh struktur populasi ternak, natural increase (angka pertambahan alami), angka panen (calf crop), mortalitas sesudah lepas sapih dan masa aktivitas reproduksi (melahirkan) bagi induk (Basuki, 1998). Reproduksi Daya reproduksi didefinisikan sebagai kemampuan seekor ternak untuk menghasilkan anak selama hidupnya. Daya reproduksi kelompok ternak yang tinggi disertai dengan pengelolaan ternak yang baik akan menghasilkan efisiensi produksi yang tinggi pula. Laju peningkatan populasi ternak akan menjadi lebih cepat bila efisiensi reproduksinya lebih baik dan rendahnya angka gangguan reproduksi. Tinggi rendahnya ditentukan oleh lima hal, yaitu: efisiensi reproduksi sekelompok ternak

l) angka kebuntingan (conception rate), 2) jarak antar

melahirkan (calving interval), 3) jarak waktu antara melahirkan sampai bunting kembali (service period), 4) angka perkawinan per kebuntingan (service per conception), dan 5) angka kelahiran (calving rate) (Hardjopranjoto, 1995). Efisiensi proses reproduksi pada water buffalo berhubungan erat dengan jumlah faktor yang dikontrol oleh heriditas dan lingkungan. Kendala reproduksi diantaranya adalah lambatnya angka pertumbuhan, keterlambatan pubertas, musim kawin, tingginya umur beranak pertama, panjangnya calving interval, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah utama dari beternak kerbau (Fahimuddin, 1975). Menurut Cockrill (1974), kerbau rawa mampu menghasilkan anak 10-15 ekor selama hidupnya dan dapat hidup sampai 25 tahun. Pubertas Pubertas atau dewasa kelamin dapat didefinisikan sebagai umur atau waktu organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan terjadi. Pubertas tidak menandakan kapasitas reproduksi yang normal dan sempurna yang masih akan tercapai kemudian. Pubertas pada hewan jantan ditandai dengan kemampuan hewan untuk berkopulasi dan menghasilkan sperma di samping perubahan-perubahan kelamin sekunder lain, sedangkan pada hewan betina ditandai dengan terjadinya estrus dan ovulasi. Estrus dan ovulasi pertama disertai oleh kenaikan ukuran dan berat organ reproduksi secara cepat (Toelihere, 1981). Pubertas terjadi karena dipengaruhi oleh faktor hewannya diantaranya, yaitu: umur, bobot badan, ras dan genetik. Beberapa faktor yang juga sangat berpengaruh ialah faktor lingkungan yaitu: suhu musim dan iklim. Faktor lain yang mempunyai pengaruh besar terutama nutrisi dan pakan. Pubertas lebih awal akan menguntungkan karena dapat mengurangi masa tidak produktif dan memperpanjang masa hidup produktif ternak. Peningkatan genetik dapat terjadi lebih

cepat karena interval generasi berkurang, bila dilakukan seleksi dengan baik dan program seleksi yang efektif (Tomaszewska et al., l99l). Hasil dari penelitian yang dilakukan di

Kalimantan Selatan oleh Lendhanie (2005) mengatakan bahwa umur melahirkan pertama pada kerbau rawa yaitu 3-4 tahun sehingga diperkirakan konsepsi pertama terjadi pada umur 2-3 tahun meskipun umur pubertas kerbau rawa tidak diketahui dengan pasti. Umur konsepsi pertama ini dapat dijadikan patokan sebagai umur dewasa kelamin dengan asumsi lama kebuntingan selama 12 bulan. Siklus Berahi dan Lama Berahi Berahi adalah saat hewan betina bersedia menerima pejantan untuk kopulasi. Jarak antara berahi yang satu sampai pada berahi berikutnya disebut satu siklus berahi, jika berahi yang pertama tidak menghasilkan kebuntingan maka berahi yang pertama itu akan disusul dengan berahi kedua (Partodihardjo, 1980). Lama berahi berkisar antara waktu penerimaan pertama sampai penolakan terakhir (McDonald, 1977). Menurut Mongkopunya (1980) lama berahi kerbau rawa adalah 32 jam. Kerbau rawa Thailand memiliki siklus berahi 2l hari, sedangkan di Philipina siklus berahi kerbau rawa selama 20 hari (Guzman, 1980). Gejala berahi tidak muncul disebabkan oleh temperatur yang tinggi pada kondisi arid dan semiarid serta lama berahi menjadi pendek (dari 11,9 jam menjadi 6,1 jam) (Cockrill, 1974). Umur Kawin Pertama Hewan-hewan betina muda tidak boleh dikawinkan sampai pertumbuhan badannya memungkinkan (dewasa kelamin dan dewasa tubuh) untuk suatu kebuntingan dan kelahiran normal. Hal ini karena dewasa kelamin terjadi sebelum dewasa tubuh tercapai (Toelihere, 1981). Umur kerbau betina pada konsepsi pertama ber-beda-beda tergantung pada manajemen

pemeliharaan, penggunaan pakan, dan genetik. Umur kawin pertama kerbau rawa di Malaysia adalah rata-rata 28 bulan atau 2,3 tahun (Fahimuddin, 1975). Menurut hasil penelitian Lendhanie (2005), ternak kerbau betina di Kalimantan Selatan baru berahi pertama setelah berumur 3 tahun atau lebih lama dibanding sapi. Service per Conception (S/C) Service per conception adalah penilaian atau perhitungan jumlah perkawinan (service) inseminasi buatan (IB) atau kawin alam yang dibutuhkan oleh seekor betina sampai terjadinya kebuntingan. Nilai S/C yang normal adalah 1,6-2,0. Nilai S/C makin rendah maka makin tinggi kesuburan hewan betina dalam kelompok tersebut, tetapi sebaliknya makin tinggi nilai S/C, maka makin rendah kesuburan hewan betina dalam kelompok tersebut (Toelihere, l98l). Betina dara yang beranak pertama selalu membutuhkan service per conception yang lebih tinggi daripada betina yang lebih tua (Fahimuddin, I975).

Angka Kebuntingan Angka kebuntingan atau conception rate (CR) adalah persentase sapi betina yang bunting

pada inseminasi atau kawin pertama baik pada sapi dara maupun pada sapi

laktasi.

Angka

kebuntingan (CR) ditentukan oleh tiga faktor yaitu kesuburan pejantan, kesuburan betina dan teknik inseminasi. Angka kebuntingan ditentukan berdasarkan hasil diagnosa palpasi per rektal pada 40-60 hari setelah inseminasi (Toelihere, 1981) dan dihitung berdasarkan persamaan berikut:

Menurut Fahimuddin (1975), conception rate dipengaruhi oleh musim kawin, umur pejantan dan betina, tingkat nutrisi, dan lain-lain. Nilai CR menurut Cockrill (1974) adalah 63% dan CR untuk sapi lebih tinggi daripada kerbau. Lama Bunting Periode kebuntingan diukur sebagai jumlah hari antara waktu kawin sampai kelahiran anak karena ketepatan waktu fertilisasi tidak diketahui. Faktor yang mempengaruhi lama kebuntingan adalah jenis kelamin keturunan umur induk dan yang lebih luas yaitu musim kelahiran dan kondisi lingkungan. Kebuntingan anak jenis kelamin jantan pada spesies mamalia umumnya sedikit lebih lama daripada betina dan kebuntingan bunting pertama selalu lebih singkat daripada

selanjutnya (Fahimuddin, 1975). Lama bunting adalah suatu aspek yang

mempengaruhi selang kelahiran. Menurut Guzman (1980), kerbau rawa memiliki lama bunting berkisar antara 320-325 hari, Mongkopunya (1980) menyatakan bahwa lama bunting kerbau rawa adalah 336 hari, dan menurut Toelihere (1981), rata-rata periode kebuntingan adalah 310-315 hari dan selanjutnya dikatakan bahwa perbedaan lama kebuntingan bisa disebabkan oleh manajemen, pakan dan iklim lingkungan. Calf Crop Calf crop adalah persentase jumlah anak yang dilahirkan hidup dalam satu tahun dari seluruh induk yang diteliti dan jika diinginkan angka calf crop yang tinggi maka harus

diperhatikan waktu dan lama berahi, ketepatan saat kawin, nutrisi dan pengawasan penyakit (Talib, I988). Rata-rata calf crop kerbau di Indonesia sangat rendah yaitu 33%. Berahi setelah Melahirkan Fase kelahiran atau partus akan terjadi apabila masa kebuntingan telah mencukupi. Organ reproduksi, terutama uterus akan mengalami proses penyembuhan setelah peristiwa kelahiran yaitu kembali keukuran semula pada saat tidak bunting. Proses ini disebut dengan istilah involusi

uterus. Berahi kembali akan terjadi setelah involusi uterus selesai. Proses berahi setalah melahirkan pada tiap individu berbedabeda bergantung kepada lamanya proses involusi uterus. Guzman (1980) menyatakan bahwa pada kerbau rawa berahi kembali setelah melahirkan adalah 35 hari. Kerbau seperti halnya dengan sapi bahwa apabila dalam pengelolaan pasca melahirkan induk dihadapkan pada pakan yang kurang, lingkungan yang tidak serasi, sanitasi kandang yang kurang baik atau kondisi lain yang tidak mendukung maka pada induk akan terjadi gangguan dalam proses reproduksi selanjutnya (Hardjopranjoto, 1991). Interval Dikawinkan Pertama setelah Beranak Interval perkawinan setelah beranak menentukan panjang interval kelahiran. Interval dikawinkan pertama setelah beranak adalah interval dari induk par-tus/beranak sampai kawin kembali (service periode) dan lamanya bergantung pada estrus postpartum dan konsepsi aktual yang membutuhkan perkawinan satu kali, dua kali, atau lebih. Berahi postpartum merupakan komponen dasar dari service period yang sangat bervariasi baik dari faktor fisik maupun psikologi sehingga menun-jukkan besarnya variasi berdasarkan keturunan atau tipe dan lingkungan (Fahimuddin, 1975). Kerbau akan kembali estrus 40 hari setelah beranak berdasarkan National Research Council (1981). Selang Beranak (Calving Interval) Selang beranak adalah jangka waktu dari saat induk beranak hingga saat beranak berikutnya. Calving interval dipengaruhi oleh daya reproduksi dan ditentukan oleh lamanya masa kosong serta angka perkawinan per kebuntingan. Siklus reproduksi akan diulang kembali sampai pada kebuntingan berikutnya setelah kerbau mengalami berahi kembali dan melahirkan. Panjang calving interval sangat bervariasi pada kerbau rawa bergantung kepada semua

karakteristik reproduksi. Menurut Guzman (1980), selang kelahiran kerbau rawa berkisar antara l-3 tahun atau rata-rata 1,5 tahun. Calving interval lebih banyak diatur oleh faktor nongenetik yaitu ada kesem-patan menurunkannya dengan efisiensi manajemen pemeliharaan dan

pemberian pakan yang tepat (Fahimuddin, 1975). Parameter Tubuh Informasi tentang ukuran tubuh kerbau hanya terdapat sedikit dibandingkan dengan ternak sapi yang lebih populer, padahal ukuran tubuh ini penting dalam manajemen produksi ternak. Pengukuran parameter tubuh sering digunakan untuk estimasi produksi, misalnya untuk

pendugaan bobot badan (Saleh, 1982). Parameter tubuh yang diukur meliputi panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, dan tinggi pinggul. Bobot badan pada umumnya mempunyai hubungan positif dengan semua ukuran linear tubuh. Ukuran-ukuran tubuh ternak dapat berbeda satu sama lainnya secara bebas, korelasinya dapat disebut positif apabila peningkatan

satu sifat penyebab sifat lain juga meningkat. Menurut Diwyanto (1982), komponen tubuh yang berhubungan erat dengan bobot badan adalah lingkar dada dan panjang badan. Williamson dan Payne (1986), pemakaian ukuran lingkar dada panjang badan dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat. Nilai korelasi tertinggi diperoleh dari lingkar dada dibandingkan dengan ukuran tubuh lainnya (Aisiyah, 2000), oleh karena itu, lingkar dada dapat digunakan sebagai kriteria seleksi dan memilih calon bibit.

D.

KETERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TEKNOLOGI TERNAK KERBAU Teknologi perbibitan Pada kondisi riil yang ada saat ini ternyata usaha pembibitan peternakan masih menghadapi

berbagai masalah dan tantangan antara lain beluim tercukupinya kebutuhan bibit ternak, baik kuantitas maupun kualitas. Guna mengatasi aksi perbibitan masalah tersebut, pemerintah melalui program

berupaya meningkatkan kinerja sekaligus menstimuler kelompok peternak meningkatnya

pembibit potensial untuk lebih meningkatkan partisipasinya. Dengan semakin kebutuhan

kerbau potong untuk menghasilkan daging maka diperlukan bibit yang tepat

dan teknologi reproduksi. Kualitas kerbau bisa ditingkatkan melalui seleksi induk, perkawinan alami dan inseminasi buatan. Pemilihan kualitas donor dan sperma pejantan unggul akan memberikan kualitas anak yang memiliki sifat-sifat unggul, baik dari induk betina maupun pejantannya. Teknologi pakan Pakan merupakan faktor utama dalam menentukan produktivitas ternak, disamping

potensi genetik dan lingkungan. Kebutuhan zat gizi disesuaikan dengan status fisiologis ternak serta tingkat produksi yang diharapkan. Pertumbuhan berat badan akan lebih tinggi dan maksimal

bila pakan yang diberikan merupakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Pemilihan hijauan pakan dan konsentrat dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan, mudah dan murah untuk memperolehnya, dengan syarat sesuai kebutuhan dasar zat gizi ternak yang dipelihara. Pemberian hijauan pakan berkualitas rendah (al. Jerami padi, pucuk tebu,daun jagung, daun ubi kayu) berkisar 40- 45% dan hijauan pakan berkualiatas sedang sampai tinggi rumput (al. Rumput raja,

gajah, lamtorogung, daun gamal, glirisidae) adalah 55-60%, sedangkan sisanya berupa

konsentrat. Konsentrat dibuat dari berbagai bahan yaitu dedak padi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung tulang, onggok jagung, garam dapur dan (1981) melaporkan, pemberian bungkil premix. HENDRATNO et al.

kedelai sebanyak 1,75 kg/ekor/hari pada kerbau

jantan umur 2,5-3,0 tahun (bobot 170-225 kg) memberikan pertumbuhan sebesar 0,75 kg/

ekor/hari, sedangkan pemberian dedak 1, 2 dan 4 kg/ekor/hari menghasilkan pertumbuhan sebesar 0,21 kg/ekor/hari; 0,70 kg/ekor/hari dan 0,78 kg/ekor/hari. Teknologi produksi Seperti halnya ternak sapi, hal penting yang perlu mendapat perhatian dalam

pengembangan usaha ternak kerbau adalah manajemen pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi lokasi pengembangan. Dengan metode LEISA (Low External Input Sustainable

Agriculture) atau sistem integrasi tanaman ternak (SIPT), dimana potensi sumberdaya pakan yang baik dan murah direkayasa dan dimanfaatkan sawit dengan ternak sapi, secara optimal. Misalnya integrasi

integrasi padi dengan ternak sapi atau ternak lainnya dengan

perkebunan coklat dan kopi. Model tersebut dapat diaplikasikan untuk ternak kerbau. Percontohan sistem integrasi padi ternak (SIPT) cukup direspon petani karena dapat meningkatkan produksi dan produktivitas padi serta pendapatan petani. Selain itu, kotoran ternak yang sudah diolah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada tanaman padi atau tanaman lainnya. Di Bengkulu, sapi dipelihara diperkebuan sawit (SISKA), dimana pakan rumput diganti dengan pelepah daun yang dicincang, sedangkan pengganti konsentrat menggunakan lumpur sawit dan bungkil inti sawit yang difermentasi (Ferlawit) hingga kandungan mencapai 24%. Pertumbuhan bobot sapi cukup baik (0,582 kg/ekor/hari) dengan pakan komersial proteinnya konversi

pakan 7,04 dibanding pakan 11,36).

(pertambahanbobot 0,354 kg/ekor/hari dan konversi

Selanjutnya integrasi ternak domba dengan perkebunan karet yang memanfaatkan hijauan sebagai sumber pakan dengan waktu pengembalaan 6-8 jam/hari menghasilkan laju

pertumbuhan sebesar 30-40 g/hari (DAUD dan YUSUF, 1983). BRATFORD dan BERGER (1990) memprediksi bahwa populasi ternak domba yang dipelihara diperkebunan akan berlipat ganda dalam waktu 2-4 tahun atau meningkat 10 kali lipat dalam waktu 6-17 tahun. Pengendalian penyakit Penyakit kerbau secara umum disebabkan oleh mengatasi penyakit akibat virus virus, bakteri, dan parasit. Untuk

dapat dilakukan melalui vaksinasi, penyakit bakteri Salah satu teknologi

dengan antibiotik dan penyakit parasit dengan pemberantasan parasit.

Balitvet untuk pengendalian penyakit Enterotoksemia pada sapi dan kerbau adalah dengan Closvak Multi (merupakan vaksin in-aktif). Vaksinasi pertama dilakukan pada pedet umur 35 bulan, vaksinasi kedua sebulan kemudian, dan selanjutnya diulangi setiap 12 bulan.

Teknologi pascapanen Penanganan ternak sebelum dipotong perlu dilakukan karena dapat mempengaruhi warna

daging (ternak diistirahatkan dan dipuasakan selama 12 jam dengan pemberian air minum secara berlebihan). Dalam rangka memper-tahankan mutu dan memperpanjang daya

simpan daging dapat digunakan larutan asam (TRIYANTINI dan SIRAIT, 1998). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa daging yang disimpan pada suhu kamar mengalami pembusukan pada jam ke-25 dan pembusukan sempurna pada jam ke-37. Penyimpanan pada suhu 0-8 0 C menyebabkan terjadinya pembu-sukan pada hari ke-22. dan melalui prosses pembekuan ternyata daging masih tetap segar pada hari ke-30. Teknologi biogas Kotoran ternak berupa feses dan urin dapat diolah menjadi biogas dan pupuk organik. Biogas adalah energi alternatif hasil proses dekomposisi bahan organik secara anaerob oleh mikroorganisme terutama bekteri metan (ANONIMUS, 2006). Gas yang hasilkan

diantaranya adalah metan (CH 4 ) dan karbon dioksida (CO 2 ). Efisensi penggunaan biogas mencapai 30-40%, lebih tinggi dibandingkan dengan kayu bakar (20-30%). Berdasarkan hasil penelitian, satu ekor sapi atau kerbau berbobot 454 kg dapat memproduksi feses dan urin sebanyak 30 kg/hari, sedangkan setiap 1 kg feses dapat menghasilkan biogas sebanyak 60 liter. Proses dekomposisi hingga diperoleh gas dengan kedalam 2 m dan diameter 3 m. berlangsung Digester dalam wadah dengan pencerna (digester) lubang pemasukan

dihubungkan

limbah dan tempat penampungan limbah hasil sampingan (sludge).

BAB III PEMBAHASAN

A.

LAHAN KERING DI NTT Upaya untuk mengembangkan peternakan di daerah NTT adalah untuk memenuhi

permintaan akan produk-produk dalam negeri misalnya daging. Sebagaimana diketahui bahwa pemenuhan akan kebutuhan daging dalam negeri sebagian masih berasal dari luar. Upaya tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah pedesaan, memantapkan pendapatan petani kecil dan meningkatkan lapangan kerja didalam maupun luar usaha tani. Peningkatan pendapatan dalam sector peternakan dapat tercapai apabila ternak-ternak yang dihasilkan mempunyai produktivitas yang tinggi sebagaimana yang berlaku dipasaran atau dengan kata lain untuk mendapatkan harga jual yang tinggi maka produksi ternak harus optimal. Provinsi NTT memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan peternakan. Namun di provinsi NTT beriklim kering (Semi arid) yang dipengaruhi oleh Angin muson. Kondisi wilayah Nusa Tenggara Timur hanya memiliki dua musim, yaitu musim penghujan sangat pendek yang terjadi antara bulan Desember sampai bulan April, sedangkan musim kemarau panjang dan kering terjadi pada bulan Mei sampai bulan Nopember. Keadaan demikian, berakibat jumlah pakan untuk ternak akan tersedia dalam jumlah yang banyak serta memiliki kualitas yang baik pada musim hujan saja, sedangkan pada musim kemarau jumlah pakan yang tersedia sangatlah sedikit dengan kualitas yang rendah. Hal ini diperparah lagi dengan system pemeliharaan ternak yang masih ekstensif, serta kurangnya sumber daya manusia untuk memanfaatkan lahan kering di NTT sebagai tempat tersedianya hijauan makanan bagi ternak. Akibatnya tidak dapat memenuhi kebutuhan pakan bagi ternak sehingga produksi yang diharapkan tidak optimal dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi. Oleh karena itu perlu adanya sumber daya manusia yang berwawasan IPTEK untuk meningkatan potensi peternakan di NTT terutama pada lahan kering. Lahan kering yang ada di NTT, banyak dibiarkan begitu saja, tanpa ada yang mengelolanya. Lahan yang dibiarkan begitu saja akan berpengaruh terhadap menurunya unsur-unsur hara pada tanah tersebut. Hal demikian disebabkan karena rendahnya inisiatif dan tingkat kemalasan manusia untuk mengelolanya menjadi lahan yang berdaya guna. Dan juga banyak masyarakat NTT yang selalu berharap bahwa segala kebutuhan ternak terutama pakan disediakan oleh alam tanpa berpikir untuk mengelolanya sendiri. Apabila lahan kering yang ada digunakan sebagai lahan peternakan khususnya untuk lahan pananaman HMT, maka lahan tersebut dapat membawa keuntungan bagi

petani peternak secara maksimal. Dengan adanya pemanfaatan lahan kering sebagai lahan penanaman HMT, tidak hanya membawa keuntungan bagi petani peternak namun dapat juga mengembalikan unsur-unsur hara pada tanah tersebut. Selain itu kondisi iklim suatu daerah sangat berpengaruh terhadap suatu lahan atau areal tertentu serta produksi, baik produksi peternakan maupun pertanian. Wilayah NTT beriklim kering yang dipengaruhi oleh angin musim. Periode musim kemarau lebih panjang, yaitu 7 bulan (Mei sampai dengan Nopember) sedangkan musim hujan hanya 5 bulan (Desember sampai dengan April). Curah hujan propinsi Nusa Tenggara Timur berkisar antara 697 2.737 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap tahun antara 44 sampai 61 hari. Suhu udara rata-rata 27,6C, maksimum rata-rata 29 C dan suhu minimum rata-rata 26,1C (Sumber : Buku Prov. NTT Dalam Angka, Tahun 2007 BPS Prov. NTT). Kelembaban nisbi terendah terjadi pada musim Timur Tenggara (63-76%) yaitu bulan Juni sampai Nopember dan kelembaban tertinggi pada musim Barat Daya (82-88%) yaitu Desember sampai bulan Mei. Kondisi NTT yang musim kemaraunya lebih panjang ini menyebabkan rendahnya produksi hasil peternakan. Produksi peternakan sangat di pengaruhi oleh musim kemarau dimana pada musim kemarau hijauan maknan ternak tidak cukup tersedia di alam. Hal tersebut dapat juga berpengaruh pada ketersediaan air untuk hijauan makanan ternak, sebab air yang selalu ada dalam jumlah optimal sangat mendukung terhadap pertumbuhan, produktifitas, kualitas dan rutinitas hijauan makanan ternak. Selain itu air sangat penting dalam proses pembentukkan zat pengurai unsur hara di dalam tanah, khususnya pada lahan kering. Kekurangan pakan hijauan pada musim kemarau dapat menyebabkan terjadinya penurunan bobot badan ternak, penundaan lama birahi pada ternak betina, mudah terkena penyakit dan tingkat kematian tinggi terutama pada ternak yang baru dilahirkan dan ternak yang masih menyusui (lihat gmbr pada lampiran). Adapula hal-hal lain yang terkait dengan lahan kering di NTT antara lain topografi dan keadaan tanah (lihat gambar pada lampiran). Apabila dilihat dari topografinya, maka wilayah NTT dapat dibagi atas 5 bagian besar, yaitu : Agak berombak dengan kemiringan 3-16 %. Agak bergelombang dengan kemiringan 17-26 %. Bergelombang dengan kemiringan 27-50 %. Berbukuti-bukit bergunung dengan kemiringan lebih besar dari 50 %. Dataran banjir dengan kemiringan 0-30 %. Keadaan topografi yang demikian mempunyai pengaruh pula terhadap pola pengembangan peternakan. Tanah dengan kemiringan yang tinggi diperlukan upaya khusus dalam pengelolaannya.

Sebab topografi tanah sangat berpengaruh terhadap kesuburan, efisiensi produksi, pengelolaan, komunikasi/transportasi, pengairan dan penggunaan alat-alat mekanisasi dan pemupukan. Keadaan tanah di NTT banyak yang berbatu-batu, sehingga sangat sulit digunakan sebagai lahan penanaman HMT. Namun hal ini dapat dimudahkan apabila didukung oleh sumber daya manusia untuk mengolahnya. Sehingga lahan yang berbatu-batu tersebut dapat digunakan sebagai areal penanaman hijauan makanan ternak. B. MEMANAJEMEN LAHAN KERING UNTUK PENGEMBANGAN PETERNAKAN Pemanfatatan lahan kering di daerah NTT memang sangat diharapkan oleh semua pihak, khususnya pemanfaatan di bidang pertanian peternakan. Sukses dan tidaknya usaha pengembangan sistem peternakan di lahan kering seperti NTT sangat dipengaruhi oleh kontribusi dari manusia dan sumber daya ternak itu sendiri, tanpa mengabaikan pakan bagi ternak. Hal utama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sumber daya manusia. Upaya-upaya dalam meningkatkan sumber daya manusia adalah konsekuensi yang baik, karena dengan demikian dapat membuka cara pemikiran yang cenderung memanfaatkan ternak tanpa memikirkan populasinya kedepan. Sumber daya yang dimaksud yaitu dengan menjalani pendidikan, sehingga dengan pendidikan dapat membuka wawasan dan cara berpikir yang bermanfaat. Selain itu juga dapat mengembangkan teknologi-teknologi baru yang mampu memperbaharui sistem peternakan lahan kering menjadi lebih optimal. Manusia perlu memanfaatkan lahan kering untuk digunakan sebagai sumber pakan bagi ternak. Misalnya pada musim hujan, manusia dapat memanfaatkan semaksimal mungkin pakan yang ada, memasuki musim peralihan menuju musim kemarau, pakan berupa hijauan dapat dibuat pakan awetan guna menjaga ketersediaan pakan dimusim kemarau, selain itu, juga pada musim peralihan ke musim panas, diharapkan dapat memanfaatkan lahan kering untuk menanam kembali berbagai jenis hijauan yang berpotensi tahan terhadap kekeringan. Apabila kebutuhan pakan ternak terjamin maka ternak tersebut dapat berkembang dan berproduksi dengan maksimal. Masyarakat juga perlu membatasi pemotongan ternak dalam skala besar dan untuk meningkatkan populasi ternak perlu melihat keadaan ternak yang ideal sebelum dipastikan untuk dilakukan pemotongan. Masyarakat juga perlu meninjau kembali budaya yang selama ini diaplikasikan, yang menyebabkan banyak ternak yang dibunuh, misalnya upacaraupacara adat, upacara kematian. Dan juga butuh peran pemerintah NTT untuk memberikan dukungan bagi petani peternak dalam mengembangkan usahanya, berupa modal, pendidikan serta penerapan tekhonologi baik tekhnologi pakan maupun tekhnologi untuk manajemen. Selain itu dengan keadaan topografi lahan di NTT yang kurang mamadai maka peran masyarakat adalah melakukan terasering (lihat gmbr pda lampiran). Dengan adanya terasering maka tanaman yang ada

pada lahan tersebut dapat tumbuh subur tanpa adanya pengikisan pada musim hujan. Sehingga pupuk yang kita berikan untuk kesuburan tanaman tersebut dapat bermanfaat dan tidak terbuang sissia oleh air hujan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pakan pada lahan kering yaitu, penerapan prinsip-prinsip rangeland managemen yang bertumpu pada upaya pengendalian vegetasi, pengendalian ternak dan pengendalian kesuburan tanah. Hal-hal yang dilakukan dalam penerapan prinsip diatas antara lain: Mengelola lahan kering yang ada dengan pemanfaatan SDM yang berwawasan IPTEK. Dengan adanya IPTEK yang ada, kita mengelola lahan kering tersebut menjadi lahan yang berdaya guna. Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media tumbuh optimum bagi tanaman. Dengan lahan kering yang ada diolah secara baik, sehingga dapat menjamin perkembangan sistem perakaran yang sempurna, menjamin peningkatan aviabilitas zat-zat, memperbaiki aerasi dan kelembaban tanah, memperbaiki kelestarian serta kesuburan tanah dan persediaan air. Selain itu perlu melakukan pemberantasan invasi tumbuh-tumbuhan pengganggu (gulma). Tentunya pada lahan kering yang baru diolah menjadi lahan HMT, biasanya ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan pengganggu yang dapat menghambat pertumbuhan dari HMT itu sendiri. Semak-semak yang mengganggu harus diberantas karena dapat mengurangi kapasitas tampung padang penggembalaan. Tumbuhan pengganggu tersebut dapat diberantas dengan jalan menyabit dan menggunakan herbisida selektif. Mengintroduksi rumput unggul, leguminosa, dan jagung, pada lahan kering yang telah diolah. Tindakan ini diperlukan guna mengatasi diskontinyutas suplai pakan bermutu sepanjang tahun, meningkatkan daya dukung pasture, memperbaiki status kesuburan tanah lewat simbiosa mutualisme antara akar legume dan bakteri rhyzobium guna memfiksasi N bebas dari udara, mengontrol gulma dan meningkatkan biodiversitas. Legum yang cocok untuk disebar di padang rumput adalah legume-legume yang mudah membentuk simbiosa dengan bakteri rhyzobium dan memiliki daya presistensi yang tinggi. Penanaman pada lahan kering yang telah diolah. Waktu penanaman hijauan makanan ternak yang paling baik adalah pada awal sampai pertengahan musim hujan agar pada musim kemarau berikutnya, akar tanaman hijauan makanan ternak tersebut diharapkan sudah cukup kuat untuk menahan kekeringan. Bibit yang dapat ditanam berupa stek batang, cuplikan rumpun dan biji. Untuk rumput-rumputan cara menanamnya adalah dengan menancapkan separuh dari stek batang kedalam tanah dengan posisi tegak miring, dengan jarak tanam 1x1 m. Hal penting yang harus diperhatikan sewaktu menanam stek batang adalah mata tunas tidak terbalik. Jika terbalik, akan mempengaruhi atau

mengahambat pertumbuhan tanaman. Sementara, bila akan menanam cuplikan rumpun, pada tanah yang akan ditanami rumput gajah atau rumput raja harus dibuat lubang tanam terlebih dahulu sedalam 30 cm. Penanaman rumput gajah atau rumput raja pada tanah yang miring tidak membutuhkan pengolahan tanah terlebih dahulu. Namun, cukup dibuatkan lubanglubang tanam yang sesuai dengan kontur tanahnya sehingga sekaligus dapat berfungsi sebagai penahanan erosi. Jarak tanam rumput gajah atau rumput raja di lahan miring adalah 100x50 cm. Penanaman pohon-pohon sebagai pakan pelengkap Pada padang penggembalaan di lahan kering diperlukan juga penyediaan naungan dan pakan pelengkap misalnya: telah dibuktikan bahwa produksi Axonopus compressus dibawah naungan pohon-pohon 20% lebih tinggi dan kandungan proteinnya lebih tinggi pula. Sehingga dengan adanya pepohonan dapat menyerap air hujan pada musim penghujan lewat perakaran, dan dapat membantu menjaga kelembaban tanah tersebut. Selain untuk naungan dan menjaga kelembaban tanah dapat juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pohon-pohon yang perlu ditanam seperti Leucaena leucocephala (lamtoro), Sesbania grandiflora (turi),Tamarindus indicus (asam) dan Acacia leucocephloea (pilang) menghasilkan daun-daunan dengan kombinasi yang baik sekali untuk pakan ternak. Sebab daun-daun dari pohon diatas mengandung protein yang cukup tinggi, misalnya lamtoro kandungan proteinnya 36,80% dan turi kandungan proteinnya 46,62%. Bila jenis-jenis ini dipangkas pada saat yang tepat, daundaunan tersebut juga akan dihasilkan dalam musim kering. Pengendalian ternak Salah satu bagian yang menyebabkan kerusakan lahan adalah sistem pengembalaan ternak secara bebas. Berdasarkan hasil penafsiran citra satelit Landsat tahun 2003, luas lahan kritis di NTT mencapai sekitar 2.1 juta ha. Oleh karena itu, selain berupaya untuk menegakan aturan tentang tata ruang maka dipikirkan juga upaya untuk mengendalikan perumputan. Keutamaan dari pengendalian ternak adalah meciptakan ruang padang penggembalaan yang berimbangan diantara pencapaian produksi ternak dengan aspek sustainbability(keberlanjutan) dari pengunaan sumberdaya savana. Hal ini dapat dicapai dengan mengatur keseimbangan antara jumlah ternak dengan kemampuan lahan sehingga akan didapat tekanan penggembalaan yang optimum, membatasi daya jejah dan selektivitas penggembalaan. Pengendalian ternak dapat dilakukan melalui pengaturan stocking rate, pengaturan pola penggembalaan dan pengaturan distribusi ternak. Pengendalian kesuburan tanah Untuk meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering hal yang paling utama adalah sumber air. Suplai air diberikan untuk pertumbuhan tanaman terutama pada tanaman di lahan

kering. Sumber air dapat berasal dari sumber air alami atau sumber air buatan. Bila air merupakan suatu factor pembatas dalam pembinaan padang rumput, maka pembuatan damdam, tangki-tangki tanah dan waduk-waduk dapat merintis perbaikan setempat. Selain air, pilihan pengendalian kesuburan tanah dengan pupuk buatan dapat dilakukan dari pemanfaatan feses ternak. Pemberian pupuk kandang maupun kompos akan sangat bermanfaat bagi kondisi fisik tanah, karena akan memperbaiki struktur tanah. Di samping itu dapat pula diberikan pupuk anorganik seperti KCl, SP 36 dan Urea, disesuaikan dengan jenis tanah setempat. Pada lahan kering yang telah diolah sebagai lahan HMT akan ditumbuhi tumbuhan pengganggu (gulma), dapat diberantas dengan jalan menyabit dan menggunakan herbisida

selektif. Selain itu perbaikan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan pola-pola seperti agroforestri sehingga serasah yang dihasilkan dapat membantu menaikkan tingkat kesuburan tanah. Upaya penyebaran leguminosa yang dapat mengikat N bebas dari udara juga merupakan cara biologis yang masuk akal (reasonable). Karena Nitrogen diperlukan oleh semua jenis-jenis rumput dan tidak dapat dipenuhi dengan jalan pemupukkan saja, maka perlu dipertimbangkan untuk menyebar biji-biji Stylosanthes gracilis(leguminosa) lewat udara. Karena bijinya sangat halus dan ringan maka perlu dibutirkan dengan tanah. Melakukan peremajaan. Padang penggembalaan permanen yang mundur atau terlantar di daerah iklim sedang biasanya diremajakan dengan jalan pembajakkan dan pembenihan baru dengan spesies rumput dan leguminosa yang unggul. Salah satu metoda yang tercepat di daerah-daerah tropika adalah mengganti rumput-rumput yang berproduksi rendah dengan spesies serta varietas rumput dan leguminosa yang lebih baik dan unggul. Penggunaan bajak harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan bahaya erosi oleh hujan dan oleh angin. Metode lain yang kurang drastik dalam hal mempersiapkan persemaian adalah dengan jalan membajak jalur berjarak lebar, tempat biji disebarkan atau menggunakan alat penabur benih langsung pada padang penggembalaan bersangkutan. Keputusan menanam suatu jenis hijauan makanan ternak yang unggul perlu pertimbangan jenis yang sesuai dengan alam setempat dan sistem penyajian yang akan dilakukan. Faktor penentu dalam usaha pengembanan hijauan makanan ternak dan faktor yang perlu diperhatikan adalah: curah hujan, jenis tanah dan ketinggian di atas permukaan laut. Pakan awetan Penyediaan pakan awetan dalam bentuk hay, silase, tanaman makanan ternak atau standing hay adalah salah satu cara untuk meringankan tekanan penggembalaan terhadap padang rumput selama musim kemarau. Untuk menjamin ketersediaan HMT selama musim

kemarau yang panjang terutama pada lahan kering, dapat diterapkan tekhnologi pengolahan pakan seperti pembuatan silase dan hay. Hay Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumput-rumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air 20-30%. Prinsip dari pengeringan yaitu menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan dalam arti dapat

menghentikan/menghambat aktifitas dari tumbuhan itu sendiri dan enzim dari mikrobia yang terdapat didalarnnya dan menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan Pembuatan hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak menganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memiliki daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kadar air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas (Subur, 2006). Di NTT limbah pertanian terutama jerami padi banyak diolah menjadi hay karena hasilnya berlimpah, tidak perlu menanam khusus tinggal mengumpulkan saja sehingga penggunaannya menjadi sangat popular, meskipun rendah nutrisinya. Silase Silase adalah proses pengawetan makanan yang dilakukan pada sebuah silo pada kondisi anaerob atau dengan kata lain silase adalah proses fermentasi yang dilakukan untuk mengawetkan hijauan makanan ternak dalam keadaan basah atau lembab. Tujuan pembutan silase adalah untuk mengantisipasi kekurangan hijauam makan pada musim kemarau dengan kualitas yang baik. Misalnya pada musim hujan, manusia dapat memanfaatkan semaksimal mungkin pakan yang ada, memasuki musim peralihan menuju musim kemarau, pakan berupa hijauan dapat dibuat silase guna menjaga ketersediaan pakan dimusim kemarau, selain itu juga pada musim peralihan ke musim panas, diharapakan dapat memanfaatkan lahan kering untuk menanam kembali berbagai jenis hijauan yang berpotensi tahan terhadap kekeringan. Selain itu system peternakan semi ekstensif dimana ternak dikandangkan dan digembalakan di padang penggembalaan juga dapat dilaksanakan. Padang pengembalaan (rumput sampai pohon) dapat tersedia dengan kualitas yang baik selama musim hujan walaupun berada pada lahan kritis. Di NTT mempunyai lahan yang cukup luas dan belum termanfaatkan sehingga dapat dijadikan sebagai padang penggembalaan.

C.

POTENSI TERNAK KERBAU DI LAHAN KERING Secara nasional peranan ternak kerbau cukup signifikan dalam menunjang program

swasembada daging sapi tahun 2010, baik dilihat dari jumlah populasinya sebesar 2,2 juta ekor (sekitar 20% dari populasi sapi potong), maupun kontribusinya dalam produksi daging yaitu sebesar 39.503 ton atau 15% dari sapi potong. Sementara itu, kontribusi kerbau sebagai penghasil daging adalah sebesar 13,9% dari daging sapi di Kalsel (ROHAENI et al., 2008). Perkembangan ternak ini sangat lamban di NTT, salah satunya disebabkan oleh sulitnya penyediaan pakan hijauan pada saat kemarau panjang yang mengakibatkan kurang baik sehingga itu serta pemanfaatan produktivitasnya teknologi pengolahan menurun (SURYANA, kondisi 2007). ternak

Disamping

dan penyimpanan pakan belum banyak Menurut TARMUDJI (2003),

dilakukan peternak (SURYANA dan SABRAN, 2005).

tantangan yang dihadapi dalam pembangunan peternakan ruminansia besar adalah produktivitas dan reproduktivitas ternak yang masih rendah, serangan penyakit reproduksi dan produksi, skala usaha kecil dan tersebar, kurangnya jumlah peternak yang masih rendah, teknik budidaya yang dan masih kualitas pakan, keterampilan sosial

tradisional, populasi

hambatan ternak

ekonomi dan berbagai kendala lainnya yang menyebabkan

menurun.

Produktivitas atau out put dari suatu wilayah dipengaruhi oleh komposisi ternak berdasarkan umur, jenis kelamin, kelahiran, kematian dan lamanya (SUMADI, 2001). POLA PEMELIHARAAN KERBAU Kerbau mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi petani, yakni ternak dalam masa pembiakan

sebagai tabungan hidup, menunjang status sosial, sumber tenaga kerja, penghasil daging, susu dan pupuk (Diwyanto dan Subandriyo, 1995; Mahardika, 1996). Menurut Yusdja et al. (2003), populasi kerbau sebagai penghasil daging relatif lambat, sehingga produktivitasnya perbaikan mutu genetik

rendah. Perbaikan produktivitas kerbau yang dapat dilakukan adalah melalui intensifikasi inseminasi buatan.

Dalam rangka upaya meningkatkan produktivitas usaha ternak diperlukan adanya ketersediaan piranti-piranti pendukung seperti teknologi siap pakai dan mempunyai tingkat kelayakan yang memadai untuk mendukung proses produksi, dengan berpijak pada sumber daya ternak yang ada, dan peternak sebagai objek yang harus ditingkatkan keterampilannya (Isbandi dan Priyanto, 2004). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa, kerbau memiliki kemampuan daya memanfaatkan rumput berkualitas

cerna terhadap serat kasar yang tinggi dan mampu

rendah serta menghasilkan berat karkas yang relatif tinggi dibandingkan sapi-sapi lokal, sehingga kerbau sangat potensial untuk produksi daging (Siregar, 2004). Pendapat lain pakan dengan kandungan protein

menyebutkan

bahwa

kerbau

mampu memanfaatkan

rendah dan serat kasar tinggi secara lebih efisien dan mengubahnya menjadi produk daging dan susu yang berkualitas tinggi (Moran, 1978), serta tingkat resiko penyakit dan parasit relatif rendah (Baliarti dan Ngadiono, 2006). kasar yang Menurut Sudirman dan Imran (2006), kerbau tinggi dan mampu memanfaatkan tinggi rumput

memiliki daya cerna serat berkualitas

rendah untuk menghasilkan daging. Bobot karkasnya lebih kerbau sangat di potensial

dibandingkan

sapi-sapi lokal sehingga Sistem antara lain

untuk produksi daging.

pemeliharaan mereka

kerbau

lahan kering/tegalan yang dilakukan petani/peternak

memelihara ternaknya dikandangkan seadanya dan pakan diberikan

sesekali tanpa memperhatikan pakan tambahan atau konsentrat. Namun demikian, ternak kerbau mempunyai daya adaptasi yang baik dengan baik walaupun masih lamban. Triwulanningsih (2008) menyatakan bahwa kerbau mempunyai daya adaptasi yang dapat hidup dan bertahan serta berproduksi

sangat tinggi. Kerbau dapat berkembang di daerah beriklim kering seperti di Nusa Tengara Barat dan Nusa Tenggara Timur, maupun pada lahan pertanian subur seperti di Pulau Jawa, lahan rawa di Kalimantan dan daerah pantai dari mulai Asahan sampai Sumatera Selatan. Pengaruh tidak langsung terjadi pada ketersediaan hijauan pakan ternak, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Menurut Keman (1986), temperatur sangat dipengaruhi oleh

ketinggian tempat dari permukaan air laut, semakin tinggi permukaan maka semakin rendah suhu udaranya. Daya tahan terhadap suhu panas lebih rendah, karena kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tendah. Zona comfort untuk kerbau berkisar antara 15,5-21 0 C, dengan curah hujan 500-2000 mm/tahun. Laporan lain menyebutkan bahwa zona yang paling ideal bagi ternak kerbau untuk hidup dan berkembang biak yaitu pada kisaran temperatur 16-24 0 C, dengan batas toleransi 27,6 0 C (Markvichitr, 2006). Untuk lebih meningkatkan potensi dan peranan ternak kerbau, Direktorat Jenderal

Peternakan (2008), memberikan batasan operasionalisasi pengembangan usaha ternak kerbau yang dapat dilakukan yaitu: Pola pembinaan kelompok Pembentukan Pola kawasan dan pengembangan kelompok diharapkan sebagai sarana

pembelajaran, sebagai unit produksi, wadah kerjasama dan unit usaha.

Kawasan

khusus

pengembangan

ternak kerbau,

mempermudah

pelayanan

dan

pemasaran, sebagai sentra pengembangan agribisnis, pembinaan dan pengembangan kelembagaan. Pola bergulir Dengan model Bantuan Langsung Masyarakat pada saatnya harus digulirkan

kepada anggota/kelompok lain. Pola kemitraan Usaha kemitraan didefinisikan sebagai kerjasama antara usaha kecil dan menengah pengembangan usaha

atau dengan usaha besar, disertai pembinaan dan dengan memperhatikan menguntungkan. kemitraan prinsip saling

memerlukan, saling memperkuat dan saling dalam Hermawan et al. (1998) prinsip

Menurut

Widyahartono

ditandai dan

oleh adanya azas kesejajaran kedudukan mitra, azas saling azas saling menguntungkan yang merupakan persetujuan antara

membutuhkan

dua atau lebih perusahaan untuk saling berbagi biaya, resiko dan manfaat. Menurut Makka (2005), pola kemitraan usaha bidang peternakan yang dapat dilaksanakan meliputi: 1) pola inti - plasma, yaitu hubungan kelompok dengan perusahaan, di mana perusahaan bertindak sebagai inti dan kelompok sebagai plasma, 2) pola sub kontrak adalah hubungan kelompok dengan perusahaan, dan kelompok memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan, 3) pola dagang umum yaitu hubungan kelompok dengan perusahaan, memasarkan

hasil produksi kelompok atau sebaliknya kelompok memasok kebutuhan perusahaan, 4) pola keagenan adalah hubungan kemitraan, dimana kelompok diberi hak khusus untuk memasarkan, dan 5) pola kerjasama operasional agribisnis (KOA), kelompok menyediakan sedangkan perusahaan hanya menyediakan modal atau sarana lainnya. Jamal (2008) mengemukakan bahwa yang paling layak diterapkan dalam strategi pengembangan ternak kerbau adalah dengan menerapkan pola pemeliharaan semi intensif, yaitu menyediakan padang penggembalaan terbatas dengan memanfaatkan lahan tidak produktif, sarana produksi,

ternak dilepas pada siang hari dan sore/malam hari dikandangkan. Untuk menambah pakan yang dikonsumsi selama di padang penggembalaan, peternak bersedia memberikan pakan

tambahan (feed supplement) secara kontinyu tersedia di dalam kandang. Selanjutnya untuk mengubah perilaku peternak dari yang semula hanya melepaskan ternaknya di padang penggembalaan, mereka bersedia mengawasi ternaknya secara baik dan teratur. Strategi konservasi hijauan pakan ternak dapat diartikan sebagai upaya yang dapat menjamin ketersediaan pakan ternak ruminansia, terutama difokuskan pada pemberiannya selama musim kemarau (Nggobe, 2007).

Pada musim kemarau kekurangan pakan merupakan suatu kendala dalam meningkatkan produktivitas ternak kerbau. Upaya konservasi hijauan pakan ternak (HPT) merupakan upaya untuk memenuhi sebagian kebutuhan pakan selama musim kemarau. Namun yang perlu diperhatikan adalah jenis hijauan perlu diseleksi berdasarkan kebutuhan dan ketahanan

terhadap kekeringan (Nggobe, dikembangkan

2007). Sehingga diperoleh HPT yang lebih cocok dan dapat

selanjutnya. Misalnya HPT yang cocok dengan salah satu tanaman palawija

adalah tanaman pakan yang tidak berkompetisi dengan tanaman utama, baik dalam penggunaan unsur hara maupun cahaya matahari. Berdasarkan hasil penelitian Ratuwaloe dan Marandi dalam Nggobe (2007), menunjukkan bahwa kualitas rumput lebih baik pada kombinasi rumput+legum+jagung daripada rumput tanpa maupun dengan penggunaan pupuk. Salah satu jenis legum yang tahan terhadap kekeringan, dapat hidup dibawah naungan dan lahan yang tergenang serta memiliki pertumbuhan yang cepat Centrosema pubescens. Menurut Prawiradiputra et al. (2006), jenis rumput dan leguminosa yang cocok hidup pada setiap zona berbeda antara satu dengan lainnya, baik sebagai hijauan potongan maupun hijauan padang penggembalaan. Pada zona dataran sedang (200-700 di atas permukaan laut), yaitu rumput Pangola, Benggala dan Signal grass, sedangkan leguminosa adalah jenis Centrocema, Stylosanthes, Siratro dan Desmodium. Tanaman HPT yang dapat ditanam secara campuran. Ketersediaan hijauan sangat tergantung pada alam terutama pada pemeliharaan ternak yang dilakukan secara tradisional. Hijauan merupakan bahan pakan yang sangat mutlak diperlukan baik secara kuantitatif atau kualitatif sepanjang tahun dalam sistem dan sangat disukai ternak adalah

produksi ternak ruminansia.

Kualitas nutrien hijauan bagi kerbau tidak terlepas dari jenis ditanam, sehingga akan mencerminkan

rumput apa yang digunakan dan di jenis lahan apa

kecukupan, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. untuk menjaga kelangsungan serta ketersediaan

Namun untuk lebih optimalnya dan yang baik, perlu dilakukan

hijauan

beberapa upaya (Rohaeni et al., 2008), antara lain : Perlu dilakukan upaya penanaman hijauan lokal penggembalaan sehingga populasinya lebih besar Perlu diinformasikan kepada petani mengenai pentingnya rotasi padang yang telah adaptif pada padang

penggembalaan Sosialisasi pemanfaatan limbah pertanian untuk mengatasi kesulitan pakan pada musim kemarau atau musin hujan yang panjang Perlunya pembinaan kelompok bagi petani peternak kerbau, khususnya yang berada di daerah yang sangat terpencil.

Sumber makanan ternak kerbau tergantung pada sistem usahatani di suatu daerah. Daerah yang mempunyai usahatani sawah, sumber pakan kerbau berasal dari hasil ikutan

pertanian yang potensial. Sebaliknya bagi daerah yang mempunyai sistem usahatani lahan kering atau tegalan, pakan kerbau masih bergantung pada rumput alam dan sebagai kecil dari pemanfaatan limbah pertanian. Sebagian besar petani/peternak kerbau di Kalsel belum

secara optimal memanfaatkan limbah pertanian untuk pakan ternak kerbau, sehingga di beberapa daerah masih dijumpai limbah pertanian yang terbuang. dengan sistem usahatani Selain itu, perlu

dipertimbangkan kesesuaian (Ibrahim, 2003). Pemberian pakan

yang dilakukan petani setempat

dan

legum

menunjukkan peningkatan dan berdampak pada tahun. Wirdahayati dan

peningkatan populasi ternak yang dipelihara petani selama dua

Bamualim (2008), melaporkan bahwa pemberian pakan pada induk kerbau menyusui dengan komposisi daun gamal dan dedak halus secara signifikan dapat meningkatkan bobot badan induk. Kebutuhan. PEMANFATAAN LIMBAH PERTANIAN Pemanfatan limbah pertanian sebagai bahan pakan kerbau masih belum banyak dilakukan peternak kerbau di lahan kering karerna pemeliharaan kerbau belum seintensif pemeliharaan sapi. Selain itu, para peternak dalam memelihara kerbaunya masih bergantung kepada lahan

penggembalaan yang ada di sekitar kandang. Meskipun potensi limbah pertanian yang ada di Kalsel melimpah, namun pemanfaatannya belum optimal. Limbah pertanian seperti jerami padi sawah, dan jagung mendukuki peringkat terbanyak sebagai tanaman pertanian dilahan kering. Hal ini menunjukkan bahwa potensi limbah pertanian masih dapat diandalkan sebagai sumber pakan ternak kerbau, selain hijauan

pakan utama dari rumput-rumputan. Di sisi lain, pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami untuk ternak ruminansia rendahnya tingkat kecernaan terkendala sehingga dengan kemampuan rendahnya kandungan protein kasar dan mengkonsumsinya pun masih rendah.

Pemanfaatan limbah pertanian untuk ternak ruminansia rata-rata sebesar 60-70%, dengan kadar protein kasar, bahan kering dan TDN yang berbeda-beda. hubungannya dengan kandungan Hal ini sangat erat

serat kasar limbah dan tingkat daya cerna. Semakin tinggi

kandungan serat kasar, maka semakin rendah tingkat daya cernanya. Pemberian pakan tambahan pada kerbau di musim pemulihan kondisi ternak yang kemarau sangat membantu dalam

kekurangan pakan. Pakan tambahan yang memiliki kualitas

nutrien baik, seperti legum pohon (turi, gamal, lamtoro, dll.), tersedia cukup banyak dan dapat diperoleh di sekitar lokasi peternakan. Selain lebih murah, tanaman legum pohon ini dapat bertahan didup dan bahkan tetap berproduksi dalam musim kemarau dengan perlakuan

manajemen pemotongan yang teratur (Nulik et al., 2004 dalam Nggobe, 2007). D. INOVASI TEKNOLOGI UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU Perbibitan kerbau di Indonesia diarahkan pada kerbau Lumpur penghasil daging, karena daging kerbau dapat mensubstitusi kebutuhan daging sapi. Revitalisasi peternakan kerbau harus dilakukan karena di beberapa daerah tertentu di NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan, daging kerbau lebih disukai dan populer dibandingkan daging sapi. Kontribusi daging sapi dalam memasok kebutuhan daging nasional sekitar 23% dan sekitar 2,5% diantaranya berasal dari daging kerbau, berarti 10% dari total produksi daging sapi berasal dari kerbau (DIWYANTO dan

HANDIWIRAWAN, 2006). Disamping itu pada beberapa daerah spesifik kerbau digunakan sebagai penghasil susu karena preferensi masyarakat setempat.

Perkembangan ternak kerbau relatif lebih lambat dari pada sapi sebagai akibat dari kurangnya perhatian dari pemerintah dan tingkat reproduksi yang lebih rendah, karena

kesulitan mendeteksi ternak betina yang birahi, masa kebuntingan yang relatif lebih lama (11 bulan) dibanding sapi (9 bulan) dan interval kelahiran yang lebih panjang. Namun demikian kerbau memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dengan pakan yang berkualitas rendah dibanding sapi. Berdasarkan data populasi ternak kerbau di Indonesia tidak mengalami

peningkatan sementara jumlah pemotongan meningkat terus maka sudah saatnya penelitian dan pengembangan kerbau di Indonesia mendapat perhatian yang lebih serius.

Penurunan produktivitas kerbau diduga karena adanya pengurasan pejantan, akibat pejantan yang baik selalu terjual ke pasar, sehingga pejantan yang tertinggal adalah pejantan muda yang harus melayani induk-induk yang memang dilarang dipotong.

Kerbau sebagai sumber protein hewani (daging) dapat mencapai rata-rata pertambahan bobot badan sebesar 0,73 kg/ekor/hari (DITJENNAK, salah 2005). satu Namun kendala demikian

kebutuhan bibit kerbau yang bagus saat ini menjadi

terhambatnya

perkembangan kerbau di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari bobot badan yang semakin rendah, banyaknya kerbau albino di beberapa daerah seperti di Banten dan Jawa Barat serta banyaknya kerbau lumpur yang bertanduk menggantung (TRIWULANNINGSIH et al., 2005). Padahal harga kerbau albino sering lebih rendah dibandingkan kerbau normal, tetapi

karena kelangkaan pejantan yang berkualitas, maka kerbau albino maupun pejantan muda terus digunakan untuk melayani betina yang ada. AGRO-EKOSISTEM Daya adaptasi kerbau sangat tinggi, sebagaimana terlihat dari penyebaran kerbau

yang luas. Secara visual perkembangan kerbau di Indonesia menyebar di segala agroekosistem yang ada. Kerbau berkembang di daerah iklim kering di NTT dan NTB, lahan pertanian subur di Pulau Jawa, lahan rawa di Kalimantan dan daerah pantai dari Asahan sampai Sumatera Selatan. Kerbau juga berkembang di daerah pegunungan di Tapanuli Utara, Tengger dan sebagainya sampai dataran rendah di pinggir laut seperti di Banten, Tegal, Bengkulu (Kabupaten

Muko-Muko) dan Brebes. Bahkan tanpa diurus, di Cagar Alam Baluran populasi kerbau mengalahkan perkembangan Banteng. Dari segi etnik dan agama juga tidak ada penghalang. Kerbau begitu tinggi nilainya bagi budaya masyarakat Minang, Batak, Toraja dan beberapa suku lain di Dengan NTB dan NTT.

demikian pengembangan usaha peternakan kerbau dan wilayah agribisnis kerbau

sangat luas hampir meliputi seluruh agrosistem dan sosio-budaya yang ada. Sarana dan prasarana dalam sistem agribisnis kerbau masih tertinggal jauh karena melainkan masih dalam proses hewan kerbau, rumah potong kerbau, toko

memang produksi belum masuk pada era usaha komersial produksi bercorak Zero input. Belum ada pasar

peternakan kerbau dan sebagainya yang dibutuhkan oleh suatu sistem agribisnis kerbau. Sistem produksi masih berada pada sistem tradisional yang lebih mengarah pada Zero cost bukan pada efisiensi usaha. Di sini terlihat pasar. Dengan bahwa usaha produksi belum berorientasi pada penghasil

demikian potensi kerbau belum dapat dimaksimalkan sebagai

daging, susu, kulit dan kompos sebagaimana yang diharapkan oleh perkembangan pasar dan sumbangan kerbau dalam membangun pertanian yang berkesinambungan dalam

mensejahterakan rakyat. Baik hijauan maupun sisa hasil pertanian seperti jerami padi, jerami jagung yang dihasilkan di daerah tropis basah seperti kebanyakan daerah Indonesia, memiliki sifat kemampuan menggunakan pakan

kandungan serat kasar yang tinggi. Kerbau memiliki

berserat tinggi karena memiliki bakteri rumen spesifik. Hal ini memungkinkan daya saing dan keberlanjutan usaha karena penyediaan pakan akan lebih mudah. Hijauan berproduksi tinggi seperti rumput Gajah dan rumput Raja dapat digunakan dengan baik, sehingga keberlanjutan dari segi keterbatasan lahan usaha dapat diatasi. Tanaman alang-alang kalau dengan

manajemen yang baik dapat dijadikan pastura bagi peternakan kerbau. Demikian pula jerami

padi yang berlimpah apalagi dengan teknologi fermentasi kerbau. Hampir seluruh agroekosistem yang ada di Indonesia usaha peternakan dan wilayah

menjadi

pakan

potensial

bagi

berpotensi

untuk

pengembangan

agribisnis kerbau. Pola pengembangan usahatani dan

wilayah agribisnis kerbau sangat cocok dengan usahatani ramah lingkungan. Keberadaan sumberdaya manusia baik sebagai konsumen berpotensi besar karena tidak ada hambatan Yang menjadi problem tentunya adalah pengetahuan dan

selera, budaya maupun agama.

ketrampilan baik masalah teknis maupun masalah manajemen (managerial skill). INOVASI TEKNOLOGI Ternak kerbau dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu Kerbau Lumpur

(Swamp Buffalo) dimana populasinya tersebar di Asia Tenggara, dan Kerbau Sungai (Riverine buffalo) yang terkonsentrasi di sekitar India, Pakistan, Afrika Utara, Italia dan Bulgaria. Jumlah kromosom di antara kedua jenis kerbau berbeda yaitu sebanyak 48 kromosom pada kerbau lumpur dan 50 kromosom pada kerbau sungai. Sebagian besar kerbau di Indonesia adalah Kerbau Lumpur dan hanya beberapa ratus ekor kerbau sungai dijumpai di Sumatera Utara. Kerbau Lumpur dijumpai mempunyai variasi yang cukup besar pada berat badan maupun warna kulit, sehingga dikenal dengan bermacam nama seperti kerbau Jawa, Aceh, Toraja, Kalang, Moa dan lain sebagainya. Kerbau Sungai dijumpai di Medan-Sumatera Utara sebanyak sekitar 1400 ekor pada tahun 2004, dan diperkirakan populasinya tidak meningkat karena intensitas perkawinan

inbreeding yang tinggi dan kurangnya perhatian pemerintah untuk meningkatkan produksi ternak kerbau. Usaha untuk memasukkan darah baru belum memungkinkan sehubungan dengan upaya pencegahan penyakit. Namun karena keragaman kerbau lumpur di Indonesia yang cukup besar ini memungkinkan untuk dapat memilih kerbau terbaik dari suatu wilayah tertentu yang dapat dikawinkan dengan kerbau dari wilayah yang lain (outbreeding). Salah satu kelebihan kerbau yang selama ini dipercayai adalah kemampuannya untuk mencerna pakan yang mengandung serat kasar tinggi. Antara lain kerbau mampu mencerna jerami padi yang tersedia melimpah saat musim panen dan dapat disimpan sebagai cadangan pakan di musim kemarau. Dewasa ini, seiring dengan semakin berkembangnya diterapkan teknologi, pada telah ternak, tersedia seperti

banyak pilihan teknologi reproduksi yang dapat

intensifikasi kawin alam (INKA), inseminasi buatan (IB), fertilisasi in vitro (FIV), transfer

embrio (TE), clonning, transfer gen, dan lain-lain. Pemilihan teknologi reproduksi yang akan diterapkan efektivitas harus dan memperhatikan yang kondisi obyektif peternak, karena hal ini terkait dengan

efisiensi

ditimbulkan akibat penerapan teknologi tersebut. Melihat dan INKA

kond77isi obyektif peternakan tradisional kita, maka untuk saat ini teknologi IB

adalah pilihan yang tepat dibandingkan dengan teknologi reproduksi lain. Penerapan teknologi reproduksi yang lebih mutakhir belum mendesak karena di samping tingkat

keberhasilan yang masih rendah pada tingkat lapang, juga memerlukan tambahan biaya yang besar. Sinkronisasi (penyerentakan) estrus merupakan salah satu teknologi reproduksi yang

sering diterapkan untuk mendukung keberhasilan program IB. Dengan teknologi ini sekelompok ternak yang memperoleh perlakuan khusus akan memperlihatkan gejala-gejala waktu relatif serentak sekitar dua hari setelah perlakuan. Sekelompok ternak betina yang estrus serentak akan memudahkan pelaksanaan IB yang pada akhirnya akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen peternakan secara estrus dalam

keseluruhan. Penerapan teknologi sinkronisasi estrus dan IB secara simultan terhadap ternak dalam jumlah banyak akan meningkatkan efisiensi peternakan. Hal ini karena dalam

waktu bersamaan peternak akan memiliki sekelompok ternak bunting, melahirkan, dan umur anak yang relatif seragam, sehingga memudahkan dalam proses pemeliharaan.

Dengan demikian peternak juga dapat mengatur waktu yang tepat kapan melakukan proses perkawinan, terkait dengan permintaan pasar dan musim dimana ketersediaan pakan hijauan yang cukup saat melahirkan dan menyusui anaknya, sehingga diharapkan angka kematian

pedet dapat dikurangi. Mahyuddin et al. (1995) melaporkan pada penelitiannya yang menggunakan bobot kerbau Lumpur bahwa pada kelompok kerbau yang diberi konsentrat 1% dari

badan, dibandingkan tanpa konsentrat dan rumput Gajah diberikan ad libitum pada selama delapan minggu, kemudian diberi prostaglandin (PGF 2) untuk

kedua kelompok

sinkronisasi estrus dan diinseminasi setelah 72 jam estrus. Ternyata pada kelompok kerbau yang hanya diberi rumput Gajah tanpa konsentrat hanya 50% yang menunjukkan aktivitas diberi konsentrat 100% memberikan profil

ovarinya, sementara pada kelompok yang

progesteron yang menandakan adanya aktifitas ovari. Untuk memperoleh keturunan dengan jenis kelamin yang diinginkan dapat dilakukan

melalui perkawinan menggunakan semen hasil pemisahan sel spermatozoa pembawa kromosom penentu jenis kelamin (sexing spermatozoa). Dengan sexing, rasio spermatozoa pembawa

kromosom X (betina) dan Y (jantan) yang awalnya 50:50 dapat dirubah menjadi sekitar

70:30 atau bahkan lebih. Pemisahan secara sederhana didasarkan pada perbedaan antara spermatozoa pembawa Y kromosom X dan Y. Ukuran spermatozoa kromosom

ukuran pembawa X. Hal induk

kromosom pokok kerbau yang

lebih kecil dibandingkan dengan spermatozoa pembawa rendahnya angka kelahiran kerbau

yang menyebabkan

adalah

kondisi

yang kurang prima, karena kualitas pakan

yang rendah dan serangan parasit hari, saat pejantan

tinggi, kecuali itu estrus lebih banyak terjadi pada malam

mungkin tidak berada pada kandang yang sama. Umur pertama kali dikawinkan dan umur mencapai bobot potong optimal yang lama, disebabkan kualitas nutrisi yang rendah dengan sistem pemeliharaan yang tradisional, yang hanya memberikan rumput alam tanpa memberikan obat cacing (Siregar et al.,1997). Di Kalimantan Selatan, dikenal kerbau Kalang yang berfungsi hanya sebagai tabungan dan umumnya mencari makan di sungai dan kalau malam hari naik ke kalang. Di sini ada kendala, kalau musim hujan pakan relatif lebih sulit, menyebabkan kematian pada anak kerbau. Bila musim karena kering, banjir pakan sehingga relatif lebih banyak banyak. pernah

Penyebab kematian kerbau umumnya penyakit bakteri dan parasiter dan kecelakaan karena tidak dapat keluar dari lubang tempatnya berkubang. Sementara itu performans produksi dan reproduksi pada kerbau Kalang telah diamati oleh Putu et al.(1995), seperti tertera pada Tabel 2. Dikatakan bahwa peternakan kerbau Kalang masih perlu ditingkatkan secara massal untuk memanfaatkan agroekosistem rawa yang ada, sehingga memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan penduduk di sekitarnya. Pada sesudah melahirkan lamanya involusi Tabel 2 tersebut terlihat bahwa perkawinan dan

antara 149 sampai 171 hari, hal ini terjadi karena lamanya penyapihan uterus setelah melahirkan yang mungkin

akibat kualitas pakan yang

tersedia, akibatnya jarak beranak menjadi panjang, yaitu sekitar 16 bulan. Oleh sebab itu sistem perkawinan disesuaikan dengan musim di suatu lokasi, dimana pakan melimpah dan anak tidak kekurangan susu induk, sehingga kematian dini dapat dihindari. ALTERNATIF PENGEMBANGAN Selama ini, usaha peternakan kerbau masih menguntungkan, terbukti dengan tetap

dipeliharanya kerbau sebagai tabungan dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan besar. Di Bengkulu, ternak kerbau dipelihara ekstensif dan nyaris tidak tersentuh teknologi (zero input). Umumnya peternak sudah berpengalaman lama dalam pemeliharaan

ternak kerbaunya karena merupakan usaha keluarga yang turun temurun. Disamping itu usaha ini mampu menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan usaha tani lainnya. Kerbau dapat memanfaatkan pakan/serat kasar lebih baik dari pada sapi dan pupuknya sangat diharapkan untuk usaha pertanian lain serta biogas untuk keluarga petani.

Dengan

beternak

kerbau

dapat memanfatkan sumber tenaga kerja keluarga

atau waktu senggangnya bagi usaha produktif yang akan dapat menunjang usaha penyediaan lapangan kerja. Peternakan kerbau rakyat masih mempunyai fungsi sosial yang amat

penting, karena itu pengembangannya perlu mendapat lebih banyak perhatian. Misalnya melalui perbaikan buatan. manajemen Sistem perkawinan; baik melalui perkawinan alam maupun

inseminasi

pemeliharaan/ perkadangan per kelompok dengan beberapa

pejantan yang bagus mutu genetiknya dengan perbandingan betina : jantan (20:1) atau dengan inseminasi buatan (200:1), sistem perkawinan yang teratur, sehingga diperoleh anak pada setiap bulan sekitar 200 ekor per kelompok, sehingga tiap tahun dapat

diharapkan anak lepas sapih sekitar 175 x 12 = 2100 ekor (asumsi kematian anak 9 - 10%). Pengadaan pejantan unggul dalam satu wilayah/kelompok peternak kerbau pada lokasi yang strategis, sehingga mudah dijangkau oleh semua peternak dalam kelompok ternak

tersebut. Kalau perkawinan secara alam, maka pejantan digilir minimum per dua bulan untuk setiap kelompok. Apabila usaha ini diikuti dengan sistem pemberian pakan yang bagus, maka kematian anak dapat dikurangi lagi. Misalnya dengan metode penanaman jagung (5 butir per lubang, pada umur sekitar 2 bulan diambil yang 3 batang penanaman Glirisidia di sepanjang pematang sawah/kebun. Pemberian sudah dilayukan sebelumnya (10% dari hijauan) sangat untuk daun ternaknya) Glirisidia proteinnya dan yang dan

tinggi

dapat mempertahankan

kebuntingan,

karena

fungsi corpus luteum untuk memproduksi

progesteron dapat dipertahankan, PENDEKATAN KEGIATAN Beberapa pendekatan untuk mengatasi berbagai masalah usaha peternakan kerbau

maka diperlukan berbagai kegiatan yang saling terkait dan mendukung antar berbagai instansi maupun disiplin ilmu antara lain adalah: 1. Penyuluhan pada petani peternak, tentang bagaimana cara beternak kerbau yang baik. Di lokasi padat ternak kerbau dibuat suatu demplot yang melibatkan semua pihak (pemerintah, swasta, peternak kerbau). 2. Penyediaan fasilitas permodalan atau kredit dari Bank untuk pengembangan usaha

beternak kerbau. Peternak yang sudah biasa memelihara ternak kerbau layak diberikan fasilitas kredit usaha peternakannya yang sekaligus penghasilan yang lebih berarti bagi rakyat setempat. akan merupakan prasyarat sumber yang

Disarankan

mudah, terutama bagi peternak kecil yang mampu melaksanakan breeding program dalam rangka Rural Credit Program antara lain: (1) Jangka untuk waktu breeding kredit 5

sampai 8 tahun, (2) Kredit diberikan untuk 5

ekor

kerbau

maupun

untuk ternak kerja, (3) Peternak diharuskan menanam

pakan

ternak,

sehingga

kekuatiran tiadanya hijauan pada musim kemarau dapat dihindari (dapat dikaitkan dengan tanaman pangan lainnya, seperti jagung, sayuran dsb.). 3. Pelaksanaan dengan usaha pengembangan pertanian lain usaha peternakan (tanaman pangan haruslah atau dibuat terintegrasi sehingga

perkebunan),

pupuknya dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian tersebut dan limbah pertanian dapat dimanfaatkan oleh kerbau, seperti jerami padi yang tersedia melimpah saat panen. tanaman Pada perkebunan kopi yang umumnya dapat digunakan ditanam sebagai Glirisidia salah satu sebagai sumber

pelindung,

daunnya

protein untuk kerbau. 4. Sistem perkawinan diatur dengan menggunakan pejantan unggul, sehingga setiap

15 bulan dapat dihasilkan anak kerbau yang sehat. MODEL PENGEMBANGAN Adapun model pengembangan peternakan kerbau, antara lain dari cara pemeliharaannya yang selama ini extensive sebaiknya sudah harus dirubah menjadi semi intensive, dengan sedikit sentuhan teknologi dan tatalaksana pemeliharaan serta pengendalian penyakit, maka diharapkan usaha peternakan kerbau menjadi dari tujuan peternak lebih menguntungkan. Hal ini tercermin

memelihara kerbau adalah untuk menyimpan uang (saving). Peternak

sudah sangat berpengalaman dalam memelihara kerbau, karena sudah merupakan usaha turun temurun. Diharapkan pemeliharaan kerbau dapat terintegrasi dengan kegiatan pertanian yang lain Kerbau jantan yang akan dijual sebaiknya digemukan terlebih dahulu baru dijual. Sebagai contoh suatu perusahaan penggemukan kerbau di Sukabumi, dimana kerbau berasal dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Rata-rata bobot badan awal 282 kg dan setelah dipelihara selama 83 hari dengan pemberian pakan jerami padi dan diberi

probiotik, bobot badannya meningkat menjadi rata-rata 400 kg, berarti pertambahan obot badan per hari sekitar 1,42 kg; ini suatu bukti bahwa untuk kerbau yang berasal dari daerah dimana pakan sulit, setelah dipelihara intensif dapat lebih menguntungkan dibanding sapi. Analisis Cash Flow Tabel 3 ini adalah suatu contoh model analisa usaha inovasi teknologi perbibitan dan penggemukan sapi potong di Kalimantan Barat yang acuan dapat dijadikan

bagi pengembangan kerbau. Usaha penggemukan bergulir setiap 3 bulan, sehingga

peternak mendapat dana segar setiap 3 bulan, disamping itu usaha pembibitan terus dijalankan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Lahan kering di NTT sangat penting untuk dikembangkan karena menyimpan potensi yang begitu besar untuk diolah dan dimanfaatkan demi kepentingan khalayak ramai 2. Pengembangan peternakan khususnya ternak kerbau memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangakan di daerah lahan kering dengan memanfaatkan sumber-sumber daya local yang ada 3. Pengelolaan ternak kerbau di daerah lahan kering penting untuk mengintroduksi teknologi-teknologi yang sudah ada agar dapat mengoptimalisasi potensi yang dimiliki ternak kerbau untuk kepentingan manusia. SARAN Dibutuhkan pengkajian lebih lanjut dari referensi referensi terkait untuk mencari prospek pemeliharaan ternak kerbau yang terbaik di daerah lahan kering

DAFTAR PUSTAKA

Aisiyah, N. 2000. Studi Ukuran Tubuh Sapi Madura Di Desa Samaran, Kecamatan Tambelayan, Kabupaten Sampang, Madura. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Basuki, P. 1998. Dasar Llmu Ternak Potong Dan Kerja. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. BRADFORD, G.E. Dan Y.M. BERGER. 1990. Breeding Strategies For Small Ruminants In Arid And Aemi Arid Areas. In E.F. THOMSON And F.S THOMSON (Eds). Increasing Small Ruminants Productivity In Semi Arid Ares. Elsevier. 95-109. Chantalakhana, C . 1981. A Scope On Buffalo Breeding. Buffalo Buletin. 4(4):224- 242. CHATALAKHANA, C. 1994. Swamp Buffalo Development In The Past Three Improvement Of

Decades And Sustainable Production Beyond 2000. Long Them The

Buffalo Proceeding Of The Fors ABA Congress BPRADEC. Bangkok.

Cockrill, W. 1974. The Husbandry And Health Of The Domestic Buffalo: The Buffalo Of Indonesia. Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome. DAUD, M.J. Dan M.K.M. YUSUF. 1983. Supple-Mentation With Selected Feedstuffs For Sheep Grazing Under Rubber Plantations. Proceedings Of The 7th Annual Converence Of Malaysian : 199 205. Departemen Pertanian. 2008. Road Map Perbibitan Ternak. Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta. Dilaga, S. H. 1987. Suplemensi Kalsium Dan Fosfor Pada Kerbau Rawa Kalimantan Tengah Yang Mendapat Ransum Padi Hiang (Oryza Sativa Forma Spontanea). Tesis. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. Diwyanto, K. 1982. Pengamatan Fenotip Domba Priangan Serta Hubungan Antara Beberapa Ukuran Tubuh Dengan Bobot Badan. Tesis. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Dwiyanto, K. Dan Subandryo, 1995. Peningkatan Mutu Genetik Kerbau Lokal Di Indonesia. Lokakarya Nasional Pengembangan Ternak Kerbau Di Indonesia, Bogor. Proc. Penelitian Peternakan, Puslitbangnak-Bogor : 156 160. Fahimuddin, M. 1975. Domestic Water Buffalo. Oxford And IBH Publishing. Co. G G Joupath, New Delhi. Guzman, M. R. 1980. An Overview Of Recent Development In Buffalo Research And Management In Asia. Dalam: Buffalo Production For Small Farms. ASPAC, Taipei. HARDJOPRANOTO, S. 1982. Kasus-Kasus Infertilitas Pada Kerbau Lumpur Di Jawa Timur. Proc. Seminar Penelitian Peternakan, Puslitbangnak-Bogor. Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press, Surabaya. Hasinah, H. Dan Handiwirawan. 2006. Keragaman Ganetik Ternak Kerbau Di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan, Bogor. HENDRATNO, OBST. L., SUKARYONO, Z. ABIDIN, R. BAHARUDDIN Dan J.M. Seminar

1981. Penggunaan Dedak Dibandingkan Dengan Bungkil Kedelai Sebagai Yang Diberi Makan Rumput Lapangan.

Konsentrat Pada Kerbau

Lendhanie, U. U. 2005. Karakteristik Reproduksi Kerbau Rawa Dalam Kondisi Lingkungan Peternakan Rakyat. Kalimantan Selatan. Bioscientiae. Vol. 2 No 1. Januari:43-48. Mason, I. L. 1974. Species, Types And Breeds. Dalam: Cockrill, W. R. (Editor). The Husbandry And Health Of Domestic Buffalo. Food And Agriculture Organization Of The United Nations, Rome. Mongkopunya, K. 1980. Reproductive Failures In Swamp Buffaloes In Thailand. Dalam: Buffalo Production For Small Farms. ASPAC, Taipei. National Research Council, 1981. The Water Buffalo: New Prospects For An Underutilized Animal. National Academy Press, Washington, D. C. Parakkasi, A. 1997. Ilmu Nutrisi Dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia, Jakarta.

Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Kedokteran Veteriner Institut Pertanian Bogor. Mutiara, Jakarta. Saleh, A. R. 1982. Korelasi Antara Bobot Badan, Lingkar Dada Lebar Dada Tinggi Pundak, Panjang Badan, Dan Dalam Dada Pada Sapi Ongole Di Pulau Sumba. Media Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sosroamidjojo, M. S. Dan Soeradji. 1990. Peternakan Umum. CV Yasaguna, Jakarta. TRIYANTINI Dan C.H. SIRAIT. 1988. Larutan Asam Untuk Memperpanjang Masa Simpan Daging Sapi, 1988 : 246-251. Proceeding Pertemuan Ilmiah Ruminansia, Bogor 8-10 Nevember