Anda di halaman 1dari 2

KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJABERDASARKAN SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIAA.

RUMUSAN MASALAH Kita amati, sampai saat ini nasib buruh di Indonesia masih cenderung memprihatinkansehingga tidak jarang berujung pada aksi demonstrasi dan mogok kerja guna memperjuangkanhak dan kesejahteraan mereka. Buruh, orang yang menjual tenaga dan kemampuannya, yangdimaksudkan di sini yaitu buruh secara luas baik itu buruh kasar yang cenderung menggunakantenaga otot dalam bekerja, maupun buruh profesional yang lebih menggunakan otaknya.Dewasa ini, keprihatinan tersebut memang jarang dirasakan oleh buruh profesional.Sebaliknya, penderitaan masih sering dialami buruh kasar akibat kebijakan pemerintah yang jauhdari pro-buruh. Seperti keputusan pemberlakuan ACFTA di awal tahun ini oleh pemerintahan SBY-Boediono yang mengakibatkan banyaknya penutupan usaha lokal akibat kalah bersaing denganproduk murah China, yang berarti pemberhentian kerja ratusan ribu buruh Indonesia. Hal inisemakin diperparah dengan adanya perlakuan yang tidak adil dari pihak perusahaan. Lebih-lebihdengan yang dialami buruh kasar perempuan, yang dengan jenis kelaminnya itu menjadi sangatrentan dijadikan obyek eksploitasi. Bukan hanya buruh kasar, buruh profesional pun kerapmerasakan adanya ketidakadilan gender yang diciptakan perusahaan dan lingkungan kerja. B. PEMBAHASAN Yang orang banyak pahami, istilah gender hanya sebagai pembedaan atas dasar jenis kelamin,padahal sesungguhnya gender merupakan pembedaan fungsi dan tanggung jawab sosial yangdibuat oleh masyarakat suatu tempat, sehingga sifatnya tidak universal. Hanya saja sudah sejaklama masyarakat kita terbiasa membedakan gender sebagai laki-laki dan perempuan. Sehinggakonsep kesetaraan gender yang saya maksudkan adalah mengenai kesamaan hak-hak sebagaipekerja, kesempatan untuk berpartisipasi, serta menikmati hasil kerja yang sama antara laki-lakidan perempuan.Kesenjangan gender yang terjadi di negeri ini tidak terlepas dari budaya yang sudah lamaberlangsung di masyarakat yakni ideologi patriarki. Namun, setelah sejak lama bangsa kitamengadopsi budaya ladies f irst dari barat mengakibatkan dimensi idealistis keadilan yang kitaketahui bersifat operasional pun akhirnya bergeser, sehingga keadilan gender dikedepankan,ketimpangan pun terasa sudah banyak berkurang.Bagaimanapun kesenjangan gender dalam dunia kerja telah menodai idealisme Pancasila diIndonesia khususnya sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, di luar juga bertentangandengan norma hukum lainnya seperti pada UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 dan 2.

Menyadari universalitas Pancasila, berarti kita telah membuang waktu 65 tahun sejakPancasila ditetapkan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945. Mau sampai kapan? C . KESIMPULAN

Menilik pembahasan di atas, sesungguhnya tidak semua diskriminasi adalah negatif.Perempuan pun membutuhkan pembedaan perlakuan dari lingkungan kerja sebagai bentukpengakuan atas kodratnya sebagai perempuan seperti cuti kerja saat hamil. Hal ini biasa dikenalsebagai diskriminatif positif, yang tidak lain merupakan efek positif gender. Sedangkan kesamaanperlakuan yang diusahakan adalah dalam hal perekrutan, seleksi, penempatan kerja, penggajian,kompensasi, kondisi pekerjaan, mutasi, PHK, jabatan dan kenaikan jabatan.Merunut pada 3 dimensi yang dimiliki secara struktural oleh Pancasila, tentu kitamengharapkan agar hakikat nilai keadilan yang terkandung dalam sila kelima tidak mewujudhanya sebatas pada dimensi idealistis. Lebih dari itu, idealisme keadilan ini harusnya bisadiwujudkan secara praksis ke dalam hal yang lebih konkrit dan reformatif, dimensi idealistis, salahsatunya adalah keadilan gender dalam dunia kerja. Tentunya melalui pelaksanaan dimensinormatif yang dengan segala norma hukumnya mampu mengendalikan kondisi agar pembedaanperlakuan yang berkembang senantiasa mengalir dalam jiwa keadilan. Oleh karena itu,pemerintah dan DPR sudah seharusnya lebih giat dalam menggodok dan mengembangkan UUtentang kesetaraan gender secara berkelanjutan agar emansipasi yang pernah diperjuangkanRaden Ajeng Kartini bisa tercipta seutuhnya di negeri ini.Meski begitu, hal ini bukan berarti upaya penyetaraan gender hanya menjadi gawe daripemerintah bersama Pancasila, sebagai norma tertib hukum tertinggi di Indonesia. Agar tidakmenjadi sia-sia, dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat Indonesia terlebihpihak perusahaan selaku subyek hukum dalam mengonversikan keabstrakan cita-cita keadilanke bentuk yang lebih realistis. Dalam hal ini, tentu perempuan Indonesia mengharapkan kerjakeras dari pemerintah untuk juga giat melakukan kegiatan sosialisasi agar masyarakat bisamengapresiasi UU yang berlaku.Sebenarnya ketidakadilan gender di dunia kerja masih a g ak bisa kita syukuri karena demokrasisudah jauh lebih hidup di negeri kita saat ini, sehingga memperbolehkan mereka untukmemperjuangkan apa yang menjadi hak-haknya. Tidak seperti apa yang dialami buruhperempuan dulu yang cenderung hanya bisa nrimo atas kebijakan si bos, demi bisa menikmati sesuap nasi bersama anaknya sepulang menjalankan kerja yang dibumbui ketidakadilan.