Anda di halaman 1dari 28

FRANZ MAGNIS-SUSENO

Oleh JURGEN HABERMAN

ALIRAN BESAR FILSAFAT


Aliran pemikiran Kritis Gaya pemikiran Fenomenologis Gaya pemikiran analitis

TUJUAN PEMIKIRAN KRITIS


Tujuan dari Teori Kritis menurut Habermas adalah untuk mengarahkan perkembangan politik, ilmu pengetahuan, masyarakat dan kebudayaan dan yang terutama adalah membentuk sebuah masyarakat yang komunikatif.

ALIRAN JURGEN HABERMAS (JH)


Aliran JH merupakan aliran pemikiran kritik yang merupakan lanjutan dari pemikiran Karl Marx yang mengarah pada hubungan sosial yang nyata (dialektika). JH dalam aliran kritis terarah pada aliran kritis sejarah bahwa yang memiliki kekuatan dipandang sebagai emansipatoris (bukan teori positif).

Filosof tidak mencari kesamaan dari setiap penomena yang terjadi tetapi mencari perbedaan. Filosof mencoba mengkritisi setiap segala sesuatu yang menjadi topik permasalahan

KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN

Ilmu empiris-analitis, seperti ilmuilmu alam. Ilmu-ilmu historis-hermeneutis seperti ilmu sejarah. Ilmu-ilmu tindakan.

JH memperdalam pikiran dengan menggunakan model psikoanalisa. Contoh: si pasien mengingat-ingat kembali sejarah hidupnya, dengan segala kemiringan, trauma, dan penindasan psikis, dan dengan demikian menjadi bebas dari penguasaan yang tak sadar dimana trauma itu bekerja turs tanpa disadari.

Bahasa (Simbol)

Alat (Pekerjaan)

Keluarga (Interaksi)

KONSEP PEMIKIRAN
Imanuel Kant Hegel Max Weber Marcuse Karl Marx Freud Adorno dan Horkheimer Jurgen Habermas

Imanuel Kant
Seorang pemikir yang mempertanyakan the conditions of possibility dari pengetahuan kita sendiri. Misalnya: untuk mengetahuai Allah, kebebasan, kekekalan jiwa lalu merumuskan secara ontologism. Kant tidak ingin mempersoalkan semua itu, melainkan mengarahkan diri dari rasio kita sendiri yang menjadi alat untuk menyelidiki perkara-perkara metafisis tadi.

Hegel
Hegel mengkritik epistemology Kant. Rasio bukanlah kesadaran lengkap yang bebas dalam rintangan dalam sejarah umat manusia dan alam, melainkan merupakan proses menjadi semakin sadar justru dalam rintangan itu, dalam pandangan Hegel, sama dengan kesadaran rasional kita akan sesuatu muncul justru setelah kita merefleksikan rintangan-rintangan itu dan karena munculnya kesadaran itu kita dapat membebaskan diri dari rintangan-rintangan itu untuk menjadi semakin rasional. Hegel digambarkan dalam suatu model yang termasyur yaitu dialektika Tuan dan Budak. Bagi Hegel kesadaran itu timbul melalui rintangan-rintangan yiatu dnegan cara menegasi atau mengingkari rintangan-rintangan

Max Weber
Rasionalisme menurut Max Weber tidak hanya merupakan suatu proses jangka panjang dari perubahan struktur-struktur sosial, melainkan sekaligus juga merupakan rasionalsasi menurut pengertian Freud: motif yang sebenarnya, yakni untuk mempertahankan kekuasaan yang secara obyektif sudah ketinggalan zaman, disembunyikan dibalik dalih mengenai imperatif teknis. Dalih ini hanya dimungkinkan oleh kenyataan bahwa rasionalitas pengaturan, suatu rasionalitas kekuasaan.

Marcuse
Dalam pandangan Marcuse tentang penindasan yang secara obyektif berlebihan itu terletak dalam intensifikasi penundukan individu di bawah aparat produksi dan distribusi yang dasyat, waktu senggang yang tidak bersifat pribadi lagi, berbaurnya karya sosial yang konstruktif dan yang destruktif sehingga hampir2 tak dapat dibedakan lagi satu sama lain.

Marcuse
Akan tetapi yang merupakan paradox adalah bahwa penindasan itu bisa menghilang dari kesadaran penduduk, oleh karena legitimasi kekuasaan memperoleh ciri baru: yakni kekuasaan dapat menunjukkan kepada terus meningkatnya produktivitas dan penguasaan alam, yang juga memungkinkan kehidupan individu semakin nyaman.

Karl Marx
Dalam pandangan Marx, kontradiksi dalam masyarakat itu mencerminkan pula pertengangan kepentingan antara kaum kapitalis dan kelas buruh, atau kaum proletariat. Kelas kapitalis ingin melestarikan kekuasaannya dan kaum proletariat ingin membebaskan diri dari penindasan dengan cara menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Manakala kontradiksi semakin menghebat, perjuangan kelas proletariat umtuk mengemansipasi diri melalui revolusi sosial tak ada dapat dicegah lagi.

Karl Marx
Marx membuka kesadaran akan adanya mekanisme-mekanisme obyektif hubungan penindasan dan menunjukkan cara pemecahannya, kritik dalam arti Marxian juga berarti teori dengan tujuan emansipatoris. Dengan menyingkapkan kenyataan sejarah dan masayarakat lewat analisisnya, Marx tidak sekedar melukiskan masyakarat, melainkan juga hendak membebaskannya. kritik teori dan praxis emansipasitoris ini lah kritik dalam Marxian.

Karl Marx
Marx mengkritik 2 (dua) hal pada Hegel: Bahwa ia (Hegel) memutarbalikkan subjek dan objek. Padahal kenyataan adalah kebalikan. Hegel mau mengatasi egoisme dalam masyarakat modern melalui negara sebagai penertib, hal mana berarti bahwa kesosialan (anti egois) tidak masuk kembali ke dalam manusia, melainkan hanya dipaksakan dari luar keadaannya oleh negara, padahal yang perlu adalah mengembalikan kesosialan manusia sendiri.

PANDANGAN KARL MARX


Masyarakat Kelas Sosio-ekonomis

Institusionalisasi

Kekuatan Politik

Produksi Kapitalis

Kekuasaan Tradisional

Freud
Kritik Freudian tidak lain dari pembebasan individu dan masyarakat dari irrasionalitas menjadi rasionalitas, dari ketidaksadaran menjadi kesadaran.

Horkheimer
Teori kritik memiliki 4 karakter yaitu: Teori kritis bersifat historis, teori ini diperkembangkan berdasarkan situasi masyarakat yang konkret dan berpijak di atasnya. Teori Kritis disusun dalam kesadaran akan keterlibatan histosris para pemikirnya. Teori ini juga bersifat kritis terhadap dirinya sendiri. Maksudnya, teori kritis menyadari risiko bahwa setiap teori sangat mungkin jatuh ke dalam salah satu bentuk ideologi. Sebagai akibat metode dialektisnya, memiliki kecurigaan kritis terhadap masyarakat aktual. Teori ini dapat dihubungkan dengan kritik-ideologi Marx yang bermaksud menelanjangi kedok ideologis yang dipakai untuk menutup-nutupi manipulasi, ketimpangan dan kontradiksi di dalam masyarakat. Teori kritis itu merupakan teori dengan maksud praktis, yaitu teori yang tidak memisahkan dirinya dari praxis.

Adorno & Horkheimer


Adanya 3 pengandaian dasar yang membuat teori tradisional menjadi ideologi dalam arti yang ketat.
1. Teori tradisional mengandaikan bahwa pengetahuan manusia tidak menyejarah atau ahistoris dan karena teori-teorinya yang dihasilkan juga ahistoris dan sosial. Dengan cara ini mengklaim dirinya mandiri, mencukupi dirinya dan terlepas dari konteks kaitan masyarakat sehari-hari. Hirkheimer mengkritik pengandaian dari teori tradisional yang berpendapat bahwa jika konsep teori semacam itu diterapkan pada kenyataan sosial kemasyarakatan, maka teori menjadi bersifat ideologis dan menjadi status quo di masyarakat yang pada dasarnya menindas. 2. Dengan anggapan bahwa teori itu bersifat netral, teori tradisional berdiam diri terhadap masyarakat yang menjadi obyeknya dan membenarkan keadaan tanpa mempertanyakannya. Dengan cara ini teori tradisional berlaku sebagai ideologi yang melestarikan kenyataan itu. 3. Dengan memisahkan diri dari praxis, teori tradisional mengejar teori demi teori dan karenanya tidak memikirkan implikasi praktis dari teori itu. Dengan jalan ini pula, teori tradisional tidak bertujuan mengubah keadaan, malah melestarikan status quo masyarakat.

Adorno & Horkheimer


Jika teori tradisional itu dikritik sebagai ideologi, teori macam apakah yang seharusnya dianut? Di dalam manisfestonya, Horkheimer berpendapat bahwa seharusnya teori-teori mengenai masyarakat tidak bersifat netral, ahistoris dan lepas dari praxis, melainkan sebaliknya, bersifat kritis.

Jurgen Habermas
Habermas mengeksplorasikan pandangan kritis epistemologis dari transendentalisme Kant, idealisme Hegel, materialism Marx, dan Positivisme Comte dan Mach sebagai kesudahan epistemologis.

Kritikan J. Habermas
Lalu, Habermas mengkritik matrealisme Marx. Ia menjelaskan bahwa masyarakat pada hakikatnya komunikatif, dan yang menetukan perubahan sosial bukanlah semata mata perkembangan kekuatan produksi atau teknologi, melainkan proses belajar dalam dimensi praktis-etis.

Teori Kritis Habermas dibangun persis di ujung kebuntuan Teori Kritis awal. Bagi Habermas, kegagalan tersebut disebabkan oleh pengertian praxis yang dianut oleh pendahulunya. Para pendahulunya hanya melihat praxis dalam arti tunggal yaitu kerja dan melupakan dimensi lain dari praxis yaitu komunikasi.

Paradigma komunikasi menempati pusat pemikiran Habermas dalam usahanya melakukan perubahan sosial. Dalam bahasanya Kant, komunikasi merupakan imperatif kategoris yang meminggirkan sentralitas subyek. Karena paradigma komunikasi dengan sendirinya berarti mengedepankan adanya hubungan intersubjektif, maka, tujuan dari komunikasi ini menurut Habermas adalah untuk menciptakan suatu konsensus/kesepakatan yang bebas dari dominasi dan paksaan.

Jurgen Habermas dengan Teori Kritisnya menawarkan pemahaman baru yang dikembangkan lewat masyarakat kritis emansipatoris. Semua pemikirannya sangat terlihat mengerucut pada keinginannya untuk menempatkan modernitas sebagai realitas empiris yang harusnya dapat memberdayakan kehidupan masyarakat, dan bukan sebaliknya. Untuk mencapai tujuannya perlu membentuk masyarakat yang merdeka, independen, dan bebas dalam menentukan tujuan hidupnya sendiri, masyarakat harus melakukan komunikasi baik verbal maupun non-verbal (communication action) agar dicapai apa yang sebenarnya disebut kesadaran kolektif, yaitu dalam bentuk kesepakatan atau konsensus.

DAFTAR PUSTAKA
Budi, H.F. 2004. Kritik Ideologi: Menyikapi Kepentingan Pengetahuan Bersama J. Habermas. Buku Baik, Yogyakarta Magnis Franz, Suseno SJ. 1991. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta. Magniz Franz, Suseno SJ. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Kanisius, Yogyakarta.