Anda di halaman 1dari 18

PERANAN PUSKESMAS DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU, BAYI DAN BALITA DI INDONESIA

I. PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang meliputi indikator angka harapan hidup, angka kematian, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat. Angka kematian meliputi angka kematian bayi, angka kematian balita, dan angka kematian ibu. (Departemen Kesehatan, 2009). Puskesmas diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Sesuai dengan salah satu tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals), yaitu untuk menurunkan jumlah kematian anak dan meningkatkan kesehatan maternal maka puskesmas bertanggung jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan wajib yang tertuang dalam enam upaya kesehatan wajib, yaitu upaya Promosi Kesehatan, upaya Kesehatan Lingkungan, upaya Kesehatan Ibu Anak serta Keluarga Berencana, upaya perbaikan Gizi
1

Masyarakat, upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan upaya pengobatan. Dimana point ke tiga dari upaya kesehatan wajib ini merupakan tindak lanjut dari tujuan pembangunan milenium. Dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Tahun 2007 didapatkan Angka Kematian Ibu (AKI) untuk periode lima tahun (2003-2007) adalah sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk Angka Kematian Bayi (AKB), dengan menggunakan hasil survei yang sama dan periode yang sama, didapatkan hasil 34 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan untuk Angka Kematian Balita (AKABA), adalah sebesar 44 per 1.000 kelahiran hidup (Depkes, 2009). Sedangkan perbandingan AKI, AKB, dan AKABA di Indonesia dengan negara-negara Asia pada tahun 2004, Indonesia menempati urutan ketiga untuk Angka Kematian Ibu (AKI) (307 per 100.000 kelahiran hidup), setelah India yang menempati urutan pertama (540 per 100.000 kelahiran hidup) dan Kamboja menempati urutan kedua (437 per 100.000 kelahiran hidup). Untuk Angka Kematian Balita (AKABA) Indonesia menempati urutan ke empat (46 per 1.000 kelahiran hidup), setelah Kamboja di urutan pertama (124 per 1.000 kelahiran hidup), kemudian India di urutan kedua (85 per 1.000 kelahiran hidup) dan Vietnam di urutan ke tiga (67 per 1.000 kelahiran hidup). Untuk Angka Kematian Bayi (AKB) Indonesia menempati urutan ke tiga (35 per 1.000 kelahiran hidup) setelah Kamboja di urutan pertama (95 per 1.000 kelahiran hidup) dan India di urutan ke dua (62 per 1.000 kelahiran hidup) (The World Bank, 2007). Melihat angka yang bisa dibilang cukup memprihatinkan ini, maka diperlukan optimalisasi peran pelayanan kesehatan di tingkat pertama yaitu puskesmas. Puskesmas memegang peranan penting dalam usaha untuk menurunkan AKI, AKB, AKABA di Indonesia. Melalui program-program pokoknya diharapkan Puskesmas sebagai pelayanan strata pertama dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN), bisa menerapkan pelayanan kesehatan secara komperhensif (menyeluruh) yang meliputi usaha promotif, prventif, rehabilitatif, dan kuratif, secara terpadu dan berkesinambungan.

II. PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Indonesia mulai dikembangkan sejak dicanangkannya Pembangunan Jangka Panjang (PJP) yang pertama tahun 1971. Puskesmas mulai di rintis di beberapa provinsi, dan kemudian berkembang hingga kabupaten kota, sesuai dengan tujuan awal pembentukkan puskesmas adalah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang sebagian besar tinggal di pedesaan. Sesuai dengan peraturan Mendagri No.5/74, Puskesmas secara administratif berada dibawah administrasi Pemerintah Daerah Kabupaten (Bupati selaku kepala daerah), tetapi secara medis teknis mendapat pembinaan dari Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Provinsi. Kebijakan yang menyangkut pembagian wewenang antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dapat ditelusuri mulai tahun 2000 ketika UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah secara resmi dilaksanakan. UU ini kemudian diperjelas dengan terbitnya PP 25/2000 tentang pembagian wewenang antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota menyebutkan kewenangan Pemerintah di bidang kesehatan meliputi antara lain surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah penyakit menular dan kejadian luar biasa. Setelah terbitnya revisi UU 22/1999 oleh UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka kewenangan pemerintahan tersebut direvisi dan diperjelas dengan terbitnya PP Nomor 38 tahun 2007 yang menetapkan kesehatan sebagai salah satu dari 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan. Terdapat hubungan yang secara khusus menjelaskan bahwa urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasana, serta kepegawaian. Di dalam Pasal 14 UU No. 32 tahun 2004 telah menetapkan secara eksplisit 14 bidang berskala kabupaten/kota, termasuk di dalamnya bidang kesehatan (point e) yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. Agar urusan kesehatan dan urusan pemerintahan lain dilaksanakan dengan benar, Pemerintah kemudian menerbitkan

Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal disebutkan bahwa urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga negara yang penyelenggaraannya diwajibkan oleh peraturan perundangundangan kepada daerah untuk perlindungan hak konstitusional, kepentingan nasional, kesejahteraan masyarakat, serta ketentraman dan ketertiban umum dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta pemenuhan komitmen nasional yang berhubungan dengan perjanjian dan konvensi internasional. Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Indikator SPM adalah tolak ukur prestasi kuantitatif dan kualitatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi dalam pencapaian suatu SPM tertentu, berupa masukan, proses, hasil dan/atau manfaat pelayanan. Pelayanan dasar adalah jenis pelayanan publik yang mendasar dan mutlak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Lebih lanjut, Pasal 2 PP 65 tahun 2005 menyebutkan bahwa SPM disusun dan diterapkan dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang berkaitan dengan pelayanan dasar sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 4 ayat (1) PP No. 65 tahun 2005 menugaskan Menteri/pimpinan lembaga pemerintah non departemen menyusun SPM sesuai dengan urusan wajib sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2). Sebagai penjabarannya, untuk mendukung penerapan SPM, Menteri yang besangkutan menyusun petunjuk teknis yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri (Pasal 8 ayat 1), dan pemerintahan daerah harus menerapkan SPM sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri (Pasal 9 ayat 1). Pada saat PP ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan SPM dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam PP ini (Pasal 20). Sebelum PP No. 65 tahun 2005 ini dikeluarkan, Departemen Kesehatan secara pro aktif telah menyikapi kebutuhan akan Standar Pelayanan Minimal di Bidang Kesehatan dengan menetapkan Standar Pelayanan

Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003. Bahkan Depkes juga telah mengeluarkan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten Kota (Keputusan Menkes No. 1091/Menkes/SK/X/2004) Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan meliputi 9 urusan wajib, 31 jenis pelayanan, dan 54 indikator kinerja. Kebijakan ini telah disosialisasikan secara luas keseluruh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, dan telah diimplementasikan di beberapa daerah (Darmawan, 2009). Dengan peraturan dan keputusan-keputusan tersebut diatas, maka

puskesmas adalah suatu unit penyelenggara kesehatan pada strata pertama, yang sifat pelayanan kesehatannya bersifat komperhensif, menyeluruh, dan

berkesinambungan. Termasuk dalam mengatasi masalah masalah kesehatan yang terjadi dalam masyarakat. Apalagi dalam pembangunan kesehatan nasional, bertujuan untuk mendapatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Indonesia masih harus menghadapi berbagai masalah kesehatan, seperti masih tingginya AKI, AKB, dan AKABA yang merupakan salah satu indikator penentu derajat kesehatan masyarakat selain angka harapan hidup, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat. Dan dalam pelaksanaannya, puskesmas memiliki programprogram wajib yang telah disesuaikan dengan SPM, yang telah ditentukan oleh pemerintah sebelumnya. Sehingga percepatan pencapaian target Tujuan

Pembangunan Millenium 2015 bisa tercapai, yang salah satunya adalah menurunkan angka kematian anak dan maternal.

III. DATA KASUS KEMATIAN IBU, BAYI DAN BALITA

Kecendrungan Nasional dan Angka Kematian Ibu 1991-2025 (Alisjahbana, 2010)

Angka Kematian Ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Alisjahbana, 2010).

Kecenderungan dan Proyeksi Angka Kematian Anak Balita, Bayi dan Neonatal, tahun 1991-2015 (Alisjahbana, 2010)

Kesehatan anak Indonesia terus membaik yang ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian balita, bayi maupun neonatal. Angka kematian balita menurun dari 97 pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI). Begitu pula dengan angka kematian bayi menurun dari 68 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada periode yang sama. Angka kematian neonatal juga menurun walaupun relatif lebih lambat, yaitu dari 32 menjadi 19 kematian per 1.000 kelahiran hidup (Alisjahbana,2010)

IV. PELAKSANAAN DAN IMPLEMENTASI PROGRAM Puskesmas dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatannya memiliki program kesehatan dasar yang wajib ada dalam setiap program upaya kesehatan yang dilakukan. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi, Pemberantasan Penyakit Menular (imunisasi), dan Pengobatan Dasar. Terdapat point Kesehatan Ibu dan Anak dalam program pokok wajib puskesmas, yang memiliki tujuan untuk menurunkan kematian (mortality), dan kejadian sakit di kalangan ibu. Kegiatan program ini ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu selama kehamilan, pada saat bersalin dan saat ibu menyusui. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencegahan sedini mungkin berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Program ini juga memiliki sasaran terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak sampai umur 5 tahun. Kelompok-kelompok masyarakat ini merupakan sasaran primer program. Sasaran sekunder adalah dukun bersalin dan kader kesehatan. Ruang lingkup kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah kegiatan program lain ( misalnya kegiatan imunisasi merupakan kegiatan pokok P2M) yang dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk program P2M (ibu hamil dan anak-anak) juga menjadi sasaran KIA. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah; memeriksa kesehatan ibu hamil (ANC), mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi dengan program gizi, memberikan nasehat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi karena kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan tambahan (vitamin dan garam yodium) Integrasi dengan program PKM (konselinga) dan Gizi, memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur (integrasi dengan program KB), merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan (integrasi program pengobatan), memberikan

pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas (integrasi dengan program perawatan kesehatan masyarakat), serta mengadakan latihan untuk dukun bersalin dan kader kesehatan Posyandu. Dengan adanya program-program pokok KIA ini, diharapkan bisa menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan balita, sehingga tujuan untuk mendapatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bisa terwujud (Alisjahbana, 2010). Selain melalui puskesmas pemerintah juga mengeluarkan program Jaminan Persalinan (JAMPERSAL). Dalam petunjuk teknis penggunaan dana alokasi khusus bidang kesehatan tahun anggaran 2011, kebijakan alokasi dana khusus tersebut adalah meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan jaminan persalinan di sarana kesehatan milik pemerintah dan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sedyaningsih, 2010). Dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millennium Development Goals (MDGs), pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan dalam keputusan menteri kesehatan Jaminan nomor:

1810/Menkes/SK/XII/2010

meluncurkan

kebijakan

Persalinan

(Jampersal) bagi ibu-ibu hamil. Sebagaimana telah di ketahui bersama dari beberapa pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta MDGs, yaitu menurunkan jumlah kematian ibu dan anak. Untuk mencapai tujuan tersebut maka di butuhkan suatu kebijakan salah satunya yang menjadi faktor yang penting adalah perlunya meningkatkan akses masyarakat terhadap persalinan yang sehat dengan cara memberikan kemudahan pembiayaan kepada seluruh ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan. Jaminan Persalinan ini diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemeriksaan nifas dan pelayanan KB oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan sehingga pada gilirannya dapat menekan angka kematian ibu dan bayi (Sedyaningsih, 2011). Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa peran puskesmas, dalam hal ini adalah berhasil untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita. Angka Kematian Ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100.000

kelahiran hidup pada tahun 2007. Sedangkan untuk perkembangan program kesehatan untuk meningkatkan Kesehatan anak Indonesia, bisa dikatakan terus membaik yang ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian balita, bayi

maupun neonatal. Angka kematian balita menurun dari 97 pada tahun 1991 menjadi 44 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI). Begitu pula dengan angka kematian bayi menurun dari 68 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada periode yang sama. Angka kematian neonatal juga menurun walaupun relatif lebih lambat, yaitu dari 32 menjadi 19 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Semakin diperkuat dengan dikeluarkan keputusan menteri kesehatan mengenai JAMPERSAL. JAMPERSAL bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dalam rangka percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan jaminan persalinan di sarana kesehatan milik pemerintah dan Angka Kematian Bayi (AKB).

10

V. TEMUAN DI MASYARAKAT

Dari Alisjahbana (2010), terdapat berbagai permasalahan yang ditemukan dalam masyarakat mengenai Angka Kematian Ibu. Diantaranya adalah terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas, terutama bagi penduduk miskin di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK). Penyediaan fasilitas Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Dasar (PONED), Posyandu dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk. Sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan optimal. Ditambah lagi, dengan kendala geografis, hambatan transportasi, dan faktor budaya. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah, kualitas dan persebarannya, terutama bidan. Petugas kesehatan di DTPK sering kali tidak memperoleh pelatihan yang memadai dan kadang-kadang kekurangan peralatan kesehatan, obat-obatan, dan persediaan darah yang diperlukan untuk menangani keadaan darurat persalinan. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu. Beberapa indikator sosial ekonomi seperti tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta determinan faktor lainnya dapat mempengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan serta berkontribusi pada angka kematian ibu di Indonesia. Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil. Persentase perempuan usia subur (15-45 tahun) yang mengalami kurang energi kronis masih cukup tinggi yaitu mencapai 13,6 persen. Rendahnya status gizi, selain meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu hamil juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi. Tingginya angka kematian ibu melahirkan dipengaruhi oleh usia ibu (terlalu tua, terlalu muda), tingginya angka aborsi, dan rendahnya angka pemakaian kontrasepsi. Pengukuran AKI masih belum tepat, karena sistem pencatatan penyebab kematian ibu masih belum adekuat.

11

Selain itu permasalahan yang muncul mengenai AKB, AKABA, dan AKNeonatal adalah; masih rendahnya cakupan imunisasi, anggaran untuk program imunisasi belum memadai. Belum optimalnya deteksi dini dan perawatan segera bagi balita sakit atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Sekitar 35 - 60 persen anak-anak tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak ketika sakit dan 40 persen tidak terlindung dari penyakit yang dapat dicegah. Tatakelola, pelatihan staf, pendanaan dan promosi MTBS di tingkat akar rumput masih perlu ditingkatkan. Masih terbatasnya upaya perbaikan gizi pada anak dan intervensi gizi yang cost-effective, layak, serta dapat diterapkan secara luas masih perlu dikembangkan. Masih rendahnya keterlibatan keluarga dalam kesehatan anak. Hanya sekitar 30 persen dari ibu menerapkan praktik kesehatan yang baik. Kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk perubahan perilaku perlu terus ditingkatkan. Masih rendahnya upaya pengendalian faktor risiko lingkungan. Faktor risiko kematian bayi dan anak sangat terkait dengan kesehatan lingkungan-air bersih, sanitasi dasar dan tingkat polusi dalam ruangan. Masih terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan. Masih terdapat sekitar 20 persen kelahiran tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang layak, dan kebanyakan bayi lahir di Indonesia berisiko tinggi. Disparitas angka kematian balita, bayi dan neonatal antar wilayah, antar status sosial dan ekonomi masih merupakan masalah. Angka kematian balita tertinggi di Provinsi Sulbar (96), sedangkan terendah di DI Yogyakarta (22). Angka kematian anak pada ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih tinggi daripada ibu yang berpendidikan tinggi. Angka kematian anak pada keluarga kaya lebih rendah jika dibandingkan pada keluarga miskin. Sebagian besar penyebab kematian balita, bayi dan neonatal dapat dicegah. Salah satu pencegahan yang efektif adalah pemberian imunisasi (Alisjahbana, 2010). Untuk Jaminan Persalinan, belum ada data yang valid untuk mendapatkan informasi mengenai keberhasilan dan keterjangkauan program ini ke masyarakat. Hal tersebut disebabkan karena belum dikerluarkannya laporan resmi tahunan mengenai program ini dikarenakan JAMPERSAL masih dalam tahap sosialisasi. Dan penjelasan mengenai kepastian untuk mendapatkan JAMPERSAL ini sudah

12

dilontarkan menteri kesehatan sendiri, Endang R.Sedyaningsih usai seminar sehari bertajuk 'Pencegahan Cacat Akibat Kusta' di kantor Kementerian Kesehatan, Sabtu 26 Februari 2011. Program persalinan gratis tersebut berdasarkan penuturan dari Menteri Kesehatan, terdiri dari dua paket. Pertama untuk biaya tiap persalinan, kedua, paket pemeriksaan. Akan tetapi uang itu tidak diberikan ke ibu hamilnya melainkan hanya dalam bentuk pelayanan saja melalui puskesmas. Untuk melaksanakan program yang menjadi bagian dari Jamkesmas ini, Kementerian Kesehatan mengalokasikan dana sekitar Rp 1 triliun dari dana Jamkesmas di tahun 2010 yang sebesar Rp 5,1 triliun. Alokasi dana itu sebagian besar akan dialihkan langsung ke daerah (TEMPO interaktif, 2011).

13

VI. EVALUASI PROGRAM

Kebijakan kesehatan anak di Indonesia difokuskan pada intervensiintervensi layanan kesehatan meliputi imunisasi, MTBS, gizi pada anak, penguatan peran keluarga, dan peningkatan akses layanan kesehatan, dengan penjelasan sebagai berikut; meningkatkan cakupan imunisasi campak, melalui penyediaan sumber daya yang memadai, dan memperjelas peran pemerintah pusat dan daerah dalam implementasi program imunisasi. Meningkatkan pelaksanaan strategi MTBS, antara lain; pelatihan MTBS bagi petugas kesehatan penguatan struktur manajemen di tingkat pusat dan daerah, menjamin ketersediaan obat esensial, pelaksanaan MTBS di tingkat keluarga dan masyarakat dan penyelenggaraan konseling bagi Ibu. Menangani permasalahan gizi pada anak yang difokuskan untuk menurunkan prevalensi stunting meliputi; peningkatan pemberian ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan, memantau tumbuh kembang anak,

memperkenalkan komunikasi untuk perubahan perilaku dan intervensi gizi mikro. Menerapkan strategi kesehatan anak pada tingkat keluarga, meliputi melindungi anak-anak di daerah endemis malaria dengan kelambu berinsektisida, memberikan imunisasi lengkap sebelum berusia satu tahun, mengenali anak sakit secara dini dan mencari perawatan pada fasilitas/tenaga kesehatan yang tepat dan cepat, memberikan lebih banyak makanan dan minuman, termasuk ASI, kepada anakanak sakit dan perawatan yang tepat di rumah kepada anak yang menderita infeksi. Meningkatkan upaya perubahan perilaku, melalui peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga. Meningkatkan pelayanan kesehatan neonatal dan ibu, meliputi penerapan strategi kelangsungan hidup untuk bayi baru lahir dan anak-anak, pelayanan emergensi obstetrik dan neonatal, pelati han bagi petugas kesehatan untuk mempromosikan praktik persalinan yang aman dan vaksinasi dan pemberian suplemen zat besi. Memperkuat dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melalui mempromosikan pelayanan kesehatan dasar dan revitalisasi Posyandu, peningkatan fasilitas kesehatan hingga menjadi PONED dan PONEK dan menjamin tersedianya biaya operasional kesehatan

14

untuk rumah sakit dan puskesmas. Meningkatkan mobilisasi partisipasi masyarakat melalui kegiatan posyandu yang meliputi pemantauan status gizi bayi dan balita melalui penimbangan bulanan, pemberian imunisasi lengkap dan layanan kesehatan lainnya. Meningkatkan advokasi kebijakan bagi daerah dengan tingkat pencapaian target kesehatan anak yang masih rendah, melalui pengalokasian sumber daya yang memadai, peningkatan penyediaan anggaran publik untuk kesehatan khususnya bagi masyarakat miskin pengembangan instrumen monitoring, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dan

pengembangan strategi dalam penyediaan tenaga kesehatan strategis di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan. Memadukan strategi lintas sektor untuk mempercepat pencapaian target penurunan angka kematian balita, bayi maupun neonatal (Alisjahbana, 2010). Untuk Jaminan Persalinan evalusinya terimpementasi dalam kegiatan pencatatan dan pelaporan pelaksanaan program secara rutin setiap bulan. Fasilitas kesehatan wajib melaporkan rekapitulasi pelaksanaan program kepada Dinkes Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola pada tanggal 5 (lima) setiap bulannya. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Kabupaten/Kota wajib melakukan rekapitulasi laporan dari seluruh laporan hasil pelaksanaan program di wilayah Kabupaten/Kota setempat dan melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Provinsi setiap tanggal 10 (sepuluh) setiap bulannya. Dinas Kesehatan Provinsi selaku Tim Pengelola Provinsi wajib melakukan rekapitulasi laporan hasil kegiatan dari setiap Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan melaporkannya kepada Pusat setiap tanggal 15 (lima belas) setiap bulannya. Kementerian Kesehatan/Tim Pengelola Pusat wajib melakukan rekapitulasi laporan dari setiap provinsi untuk menjadi laporan nasional setiap bulan/trimester/semester/tahun. Laporan umpan balik mengenai hasil laporan pelaksanaan program dilaksanakan secara berjenjang, yaitu Kementerian Kesehatan/Tim Pengelola Pusat akan melakukan analisis dan memberikan umpan balik kepada Dinas Kesehatan Provinsi/Tim Pengelola Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Provinsi/Tim Pengelola Provinsi memberikan umpan balik ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan seterusnya (Sedyaningsih, 2011).

15

VII. PERBANDINGAN PELAKSANAAN PROGRAM DENGAN NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG LAINNYA

Tahun 2005 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 wanita per tahunnya meninggal saat hamil dan saat melahirkan per-tahunnya. Di Asia Selatan kemungkinan wanita meninggal karena kehamilan dan persalinan adalah 1 : 18, di Afrika 1 : 14, sedangkan di Amerika Utara 1 : 6336 (Prawirohardjo, 2002). Dari data tersebut bisa di simpulkan bahwa negara-negara maju seperti Amerika memiliki sistem pelayanan dengan kualitas yang baik, sehingga Angka Kematian Ibu di Amerika bahkan negara-negara maju lain bisa ditekan serendah mungkin. Selain itu tingkat pendidikan dari warga negara di suatu negara bisa menentukan kesadaran akan kesehatan ibu. Seperti kita ketahui bersama, negara maju selain sistem pelayanan kesehatannya yang baik, juga pendidikan yang maju. Sri Lanka dengan komitmen pemerintah yang kuat, perbaikan sistem pelayanan kesehatan, dan pelayanan keluarga berencana keluarga yang baik telah memberi kontribusi dalam menyelamatkan ibu. Diantaranya tingkat keberhasilan itu meliputi tingkat penggunaan kontrasepsi pada wanita yang menikah adalah 62% (dibandingkan dengan tahun 1978 yang hanya sebesar 32%), 94% persalinan di sarana pelayanan kesehatan, dan lebih dari 90% penduduknya mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Jumlah kematian akibat kehamilan dan persalinan menurun drastis dalam waktu tujuh tahun yaitu dari 520 menjadi 250 kasus di tahun 1997. Selain itu Upaya kemitraan untuk meningkatkan keselamatan ibu , meliputi kemitraan dengan wanita sekitar, kemitraan dengan masyarakat dan dukun bersalin, kemitraan dengan bidan, dan kemitraan dengan penentu kebijakan yang berlangsung di Warmi, Bolivia juga memberikan andil untuk menurunkan angka kematian ibu akibat kehamilan dan proses persalinan di negara tersebut. Dari data yang diperoleh di daerah Warmi, Bolivia tersebut memiliki AKI yang tinggi yaitu 1.400 per 100.000 kelahiran hidup. hasil dari proyek yang dilakukan selama 3 tahun, pada akhir tahun ketiganya di tahun1993, didapatkan hasil prevalensi penggunaa alat kontrasepsi dan pemakaian kit persalinan meningkat dari 0% menjadi 27%. Pelayanan antenatal meningkat dari 45% menjadi 77%.

16

Dengan hasil yang cukup menggembirakan tersebut sudah pasti memiliki potensi untuk menurunkan Angka Kematian Ibu, dan Angka Kematian Neonatus (Outlook, 1999). Dari penjelasan diatas bisa didapatkana kesimpulan bahwa, akses pelayanan kesehatan yang mudah untuk diakses, serta program-program kesehatan yang disusun dengan baik, serta keterlibatan dari berbagai sektor, baik keluarga, masyarakat, praktisi kesehatan, dan pemerintah, semuanya memiliki peranan penting dalam menurunkan angka kematian. Seperti di Indonesia, Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan strata pertama, dengan program-program pokok wajibnya sudah ideal untuk menurunkan angka kematian, baik ibu, bayi, dan Balita. Di buktikan dengan data statistik yang menunjukkan kecenderungan penurunan dari angka kematian tersebut. Selain itu dengan program Jaminan Persalinan yang dikeluarkan pemerintah, juga memperkuat peranan puskesmas untuk memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan mempercepat penurunan angka kematian ibu, bayi, dan Balita.

17

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Pusat data dan informasi, Jakarta. Sedyaningsih, E.R., 2010. Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2011 . Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1810/Menkes/SK/XII/2010. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. Sedyaningsih, E.R., 2011. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.631/MENKES/PER/III/2011. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. The World Bank, 2007. Kajian Pengeluaran Publik Indonesia : Memaksimalkan Peluang Baru. Kajian Penegluaran Publik Indonesia 2007. The World Bank Office, Jakarta. Darmawan, S.E., 2009. Tinjauan Kebijakan Terkait Pengelolaan Posyandu Sebagai Masukkan dalam Perumusan Peran dan Tanggung Jawab Departemen Kesehatan dalam Pengelolaan Posyansdu. Departemen AKK FKMUI, Jakarta. Alisjahbana, A.S., 2010. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia 2010. Kementrian Perencanaan dan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Jakarta. TEMPO Interaktif, 2011. Program Jaminan Persalinan Sudah Bisa Dimanfaatkan. TEMPO interaktif, Edisi : 26 Februari 2011, 17.45 WIB. www.tempo.co/hg/kesra/2011/02/26/brk,20110226-316207,id.html. (Diakses tanggal 23 September 2011). Prawiroharjo, S., 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ed. 8., Yayasan Bina Pustaka, Jakarta. Jacqueline, S., 1999. Edisi Khusus : Keselamatan Ibu. Program for Appropriate Technology in Health. OutLook, Vol. 16; Edisis Khusus. Seattle

18